Posts

,

SALAFI ATAU SELFIE?

SALAFI ATAU SELFIE?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

SALAFI ATAU SELFIE?
Ketika di lubuk terdalam hatimu ada cuitan:
“Wah, sungguh cantik jika memakai gamis ini.”
“Anggun rasanya setelah memakai jenis cadar ini.”
“wah, banyak yang muji bagus ketika makai jubah ini.”
 
Sunggu saat itu engkau telah terperdaya.
Karena biasamu dan tak tergerak rasa kagum dalam pandangan Adam, itulah keindahan dari kecantikan yang hakiki.

 

 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

#muslimah, #wanita, #perempuan, #Hijab, #Jilbab, #Niqah, #niqob, #kerudung, #tabarruj, #tabarruj, #,Salafi, #Salafi atau Selfie #dandan #berdandan #hias #berhias #menampakkanperhiasan

, , ,

BOLEHKAH MENYEDEKAHKAN BUSANA/ SEPATU YANG TIDAK SYARI?

BOLEHKAH MENYEDEKAHKAN BUSANA/ SEPATU YANG TIDAK SYARI?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#WanitaSholihah
#FatwaUlama

BOLEHKAH MENYEDEKAHKAN BUSANA/ SEPATU YANG TIDAK SYARI?

Jika seorang Muslimah memiliki busana yang tidak syari, bolehkah ia menyedekahkannya kepada wanita yang lain?
Fatwa Islamweb [Asuhan Syaikh Abdullah Al Faqih]

 

Pertanyaan:
Wahai Syaikhuna Al Fadhil, saya sedang bingung dalam menghadapi satu persoalan. Sudah beberapa bulan ini saya mengganti pakaian-pakaian saya. Saya tidak lagi memakai celana panjang, dan tidak lagi menggunakan busana muslimah yang mengundang fitnah. Saya berusaha untuk memerhatikan syarat-syarat hijab yang syari. Pertanyaan saya, saya memiliki banyak pakaian lama yang saya tinggalkan tersebut. Bolehkah saya sedekahkan kepada orang yang saya anggap fakir, ataupun teman yang tidak fakir? Namun warna pakaian tersebut bisa menimbulkan fitnah. Bolehkan saya memberikannya kepada wanita yang masih suka ber-tabarruj (membuka aurat)? Dan ada pula sepatu, yang beberapa ada yang ber-hak tinggi. Dan saya tahu sekali, bahwa orang yang saya berikan tersebut akan memakainya di luar rumah. Demikian juga halnya pakaian-pakaian. Bolehkah saya memberikan ini semua kepadanya? Dan bolehkan saya memberikah khimar yang hanya menutupi kepala, dan warnanya juga dapat menimbulkan fitnah? Karena saya tidak akan pernah memakainya lagi, sedangkan saya tahu pasti, bahwa orang yang saya berikan nanti akan lebih sering memakainya.

Dan bolehkah saya memberikan saudara saya celana panjang untuk dipakai di luar rumah? Dan bolehkah saya membeli hadiah berupa gaun misalnya, atau hal lain, kepada siapa saja yang akan saya berikan, sedangkan saya tahu bahwa mereka tidak punya perhatian terhadap hukum syariat. Bahkan terkadang mereka ber-tabarruj. Apakah makna dari larangan membantu dalam bermaksiat? Lalu jika ini semua tidak diperbolehkan, apakah saya buang saja semua pakaian dan sepatu ini? Sedangkan saya tahu, ada orang yang bisa mengambil manfaat darinya.

Semoga Allah memberikan Anda derajat yang tinggi di Surga, dan sebelumnya saya ucapkan terima kasih banyak atas jawabannya.

Jawaban:

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله، وصحبه، أما بعد:

Alhamdulillah, Allah telah memberi Anda hidayah untuk menjaga kehormatan Anda, dan memberi Anda hidayah untuk berhijab syari. Dan saya berharap semoga Allah menyempurnakan nikmat-Nya atas Anda.

Dan telah kami jelaskan dalam Fatwa nomor 48924 dan nomor 36082, bahwasanya tidak boleh bersedekah pakaian kepada wanita yang diketahui akan menggunakannya untuk ber-tabarruj. Dan ini termasuk perbuatan membantu dalam berbuat dosa. Dan hadiah itu sama hukumnya sebagaimana sedekah dalam hal ini. Oleh karena ini, mungkin sebaiknya pakaian tersebut Anda gunakan saja untuk berhias di hadapan suami Anda, atau Anda berikan kepada wanita yang diketahui akan hanya memakainya di rumahnya (baik ia miskin ataupun kaya), bukan kepada wanita yang akan memakainya di luar rumah dan ber-tabarruj dengannya.

Dan telah kami jelaskan pada Fatwa nomor 104449, bolehnya memakai high-heels dengan beberapa syarat [http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=104449]. Silakan lihat penjelasan pada fatwa tersebut. Oleh karena itu boleh menghadiahkannya, jika keadaannya sesuai dengan yang disyaratkan.

Jika khimar yang Anda miliki tersebut warnanya dapat menimbulkan fitnah, maka tidak boleh memakainya. Karena di antara syarat hijab yang syari adalah bukan untuk berhias / memercantik diri. Sebagaimana telah kami jelaskan pada Fatwa nomor 6745.

Secara khusus mengenai anak gadis yang Anda sebutkan, yaitu yang biasa memakai busana yang lebih parah dari busana yang ingin Anda berikan, maka bukanlah kebaikan, jika Anda memberikan pakaian Anda tersebut, karena diketahui, bahwa ia akan bermaksiat kepada Allah dengannya. Bahkan wajib untuk mengingkari perbuatannya tersebut. Jika ia tetap ngeyel, maka tinggalkan ia, dan jangan berikan hal-hal yang membantunya melakukan hal yang haram. Walaupun itu lebih ringan haramnya daripada yang ia biasa lakukan.

Dan tidak boleh memberikan celana panjang kepada saudari Anda, kecuali ia akan memakai pakaian luar yang menutupi celana panjang tersebut. Silakan lihat Fatwa nomor 251707.

Dan maksud dari larangan membantu dalam maksiat sudah jelas, tidak perlu diperinci lagi. Dan dalam kasus Anda ini, tidak membantu dalam maksiat adalah dengan tidak memberikan pakaian yang tidak syari tersebut dan tidak mengenalkannya dengan model pakaian tersebut, atau semacamnya.

Dan kami tidak menyarankan Anda membuang pakaian-pakaian Anda tersebut, namun hendaknya dipakai di rumah, atau berikan kepada wanita yang akan hanya memakainya di rumahnya.

Wallahu a’lam.

Sumber: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=265363

Catatan redaksi:
Saudari kita yang hijabnya belum syari mungkin memang sedang dalam proses menuju hijab syari, kita maklumi dan terus kita ajari dan dakwahkan mereka hingga mereka mau berhijab syari. Suatu sikap yang salah jika saudari yang sedang proses tersebut malah kita berikan hijab yang tidak syari.

Penerjemah: Yulian Purnama
Sumber: https://muslimah.or.id/6385-bolehkan-menyedekahkan-busana-yang-tidak-syari.html

,

APAKAH TABARRUJ DAN BAGAIMANA HUKUMNYA?

APAKAH TABARRUJ DAN BAGAIMANA HUKUMNYA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah

APAKAH TABARRUJ DAN BAGAIMANA HUKUMNYA?

Makna Tabarruj

Tabarruj adalah apabila perempuan menampakkan perhiasan atau kecantikannya, dan hal-hal yang indah dari dirinya kepada laki-laki yang bukan mahramnya. Jadi perempuan yang ber-tabarruj adalah perempuan yang menampakkan wajahnya. Sehingga bila ada perempuan yang menampakkan atau memerlihatkan kecantikan wajah dan lehernya, maka dikatakan perempuan itu ber-tabarruj. (Lihat Lisanul Arab Oleh Ibnu Manzhur: 3/33).

Tabarruj adalah perkara haram, sebagaimana yang ditunjukkan oleh dalil-dalil dari Alquran dan Sunnah Rasulullah ﷺ.

Dan juga kaum Muslimin sepakat tentang haramnya Tabarruj, sebagaimana yang dinukil oleh Al-’Allamah Ash-Shon’any dalam Hasyiyah Minhatul Ghoffar ‘Ala Dhau`in Nahar 4/2011, 2012. Lihat: kitab Hirasyatul Fadhilah hal.92 (cet.ke 7).

Berikut ini dalil-dalil yang menunjukkan tentang haramnya tabarruj:

Satu: Allah Rabbul ‘Izzah berfirman dalam surah Al-Ahzab ayat 33:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu, dan janganlah kamu bertabarruj dengan tabarruj orang-orang Jahiliyah yang dahulu”.

Berkata Imam Al-Qurtuby tentang ayat ini: “Ayat ini adalah perintah untuk tetap berdiam/tinggal di rumah. Dan sekalipun yang diperintah dalam ayat ini adalah para istri nabi ﷺ, namun secara makna termasuk pula selain dari istri-istri nabi”. (Lihat Tafsir Al-Qurthuby: 14/179 ).

Berkata Mujahid tentang makna “Tabarrujal Jahiliyah”: “Perempuan yang keluar dan berjalan di depan laki-laki, maka itulah yang dimaksud dengan “Tabarrujal Jahiliyah”.(Lihat Tafsir Ibnu Katsir: 3/482 dan Ahkamul Qur`an Oleh Al-Jashshas: 3/360).

Berkata Muqatil Bin Hayyan tentang makna “Tabarrujal Jahiliyah”: “Tabarruj adalah perempuan yang melepaskan Khimar (tutup kepala) dari kepalanya sehingga terlihat kalung, anting-anting dan lehernya”. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir: 3/482-483).

Dan Qatadah berkata dalam menafsirkan ayat “Dan janganlah kamu bertabarruj dengan tabarruj orang-orang Jahiliyah yang dahulu”: “Perempuan yang berjalan dengan bergoyang dan bergaya. Maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala melarang perempuan mealakukan itu”. (Lihat Ahkamul Qur`an  Oleh Al-Jashshas: 3/360 dan Fathul Bayan: 7/391).

Adapun makna tabarruj dalam Tafsir Al-Alusi 21/8 yakni: “Perempuan yang menampakkan perhiasan dan kecantikannya, yang seharusnya tidak dinampakkan”.

Sementara Abu Ubaidah dalam menafsirkan makna Tabarruj: ” Perempuan yang menampakkan kecantikan yang dapat membangkitkan syahwat laki-laki, maka itulah yang dimaksud Tabarruj“. (Lihat: Tafsir Ibnu Katsir: 3/33 ).

Dua: Firman Allah Ta’ala:

وَالْقَوَاعِدُ مِنَ النِّسَاءِ اللَّاتِي لَا يَرْجُونَ نِكَاحًا فَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَنْ يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ وَأَنْ يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَهُنَّ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung), yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) untuk tabarruj dengan (menampakkan) perhiasan. Dan menjaga kehormatan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. An-Nur: 60)

Maksud dari “Tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka”, yaitu pakaian yang zahir yang menutupi muka dan telapak tangan. Demikian dalam kitab Hirasyatul Fadhilah hal.54 (cet.ke 7).

Kalau para perempuan tua dengan kreteria yang tersebut dalam ayat tidak boleh ber-tabarruj, apalagi para perempuan yang masih muda. Wallahul Musta’an.

Tiga: Firman Allah Jalla wa ‘Ala:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ ءَابَائِهِنَّ أَوْ ءَابَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya. Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak memunyai keinginan (terhadap wanita), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung”.(QS. An-Nur: 31)

Empat: Hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu riwayat Imam Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda:

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُوْنَ بِهَا النَّاسُ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيْلَاتٌ مَائِلَاتٌ رُؤْوْسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيْحَهَا وَإِنَّ رِيْحَهَا لَيُوْجَدُ مِنْ مَسِيْرَةِ كَذَا وَكَذَا.

“Dua golongan dari penduduk Neraka yang saya belum pernah melihatnya sebelumnya: Kaum yang memunyai cambuk-cambuk seperti ekor-ekor sapi untuk memukul manusia dengannya, dan para perempuan yang berpakaian tapi telanjang, berjalan berlenggak lenggok, kepala mereka seperti punuk onta. Mereka tidaklah masuk Surga, dan tidak (pula) menhirup baunya, padahal baunya dihirup dari jarak begini dan begini”.

Berkata Imam An-Nawawy dalam Syarah Muslim (14/110) dalam menjelaskan makna “Berpakaian tapi telanjang”, yaitu mereka berpakaian, tetapi hanya menutup sebagian badannya, dan menampakkan sebagian yang lain, untuk memerlihatkan kecantikan dirinya. Atau memakai pakaian tipis sehingga menampakkan kulit badannya”.

Dan Syaikh Bin Bazz Rahimahullah dalam Majmu‘ah Ar-Rosa`il Fil Hijab Wa Ash-Shufur hal.52: “Dalam Hadis ini ada ancaman yang sangat keras bagi yang melakukan perbuatan tabarruj, membuka wajah dan memakai pakaian yang tipis. Ini terbukti dari ancaman Rasulullah ﷺ terhadap pelakunya, bahwa mereka diharamkan masuk Surga”.

Tabarruj termasuk Dosa Besar

Imam Adz-Dzahaby rahimahullah menggolongkan tabarruj termasuk dari dosa-dosa besar. Beliau berkata dalam kitab Al-Kaba`ir hal. 146-147: “Termasuk perbuatan-perbuatan yang menyebabkan terlaknatnya seorang perempuan, bila ia menampakkan perhiasan emas dan permata yang berada di bawah cadarnya, memakai wangi-wangian bila keluar rumah dan yang lainnya. Semuanya itu termasuk dari tabarruj yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala membencinya, dan membenci pula pelakunya di dunia dan di Akhirat. Dan perbuatan inilah yang banyak dilakukan oleh kaum perempuan, sehinga Nabi ﷺ bersabda tentang para perempuan, bahwa: “Aku menengok ke dalam Neraka, maka aku melihat kebanyakan penghuninya adalah perempuan”. Dan bersabda Nabi ﷺ:

مَا تَرَكْتُ بِعْدِيْ فِتْنَةً هِيَ أَضَرُّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ.

“Saya tidaklah meninggalkan suatu fitnah setelahku yang paling berbahaya atas kaum lelaki, daripada fitnah perempuan”.

Dan dari bahaya fitnah perempuan terhadap laki-laki, yakni keluarnya perempuan dari rumah-rumah mereka dalam keadaan ber-tabarruj, karena hal itu dapat menjadi sebab bangkitnya syahwat laki-laki, dan terkadang hal itu membawa kepada perbuatan yang tidak senonoh. (Lihat: Al-Mufashshol Fii Ahkamil Mar`ah: 3/416).

 

Dari uraian di atas, telah jelas bahwa tabarruj yang dilarang adalah tabarruj yang dilakukan bila keluar rumah. Adapun bila perempuan tersebut berhias di rumahnya dan menampakkan perhiasan dan kecantikan kepada suaminya, maka hal ini tidak mengapa, dan tidak berdosa, bahkan agama memerintahkan hal tersebut.

Akibat-Akibat Yang Ditimbulkan dari Fitnah Ikhtilath dan Tabarruj

Ikhtilath adalah jalan dan sarana yang mengantar kepada segala bentuk perzinahan, yakni zina menyentuh, melihat dan mendengar. Dan zina yang paling keji adalah zina kemaluan, yang mana Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengancam pelakunya dalam surah Al-Furqan ayat 68-69 dan surah Al-Isra` ayat 32. (Lihat: Ahkamun Nisa` 4/357).

Ikhtilath dan Tabarruj menyebabkan perkelahian dan peperangan di antara kaum Muslimin. Hal ini disebabkan karena dalam ikhtilath terjadi kedengakian dan kebencian,  serta permusuhan di antara laki-laki, karena memerebutkan perempuan. Atau sebaliknya terjadi kedengkian, kebencian dan permusuhan antara perempuan, karena memerebutkan laki-laki. (Lihat: Ahkamun Nisa` 4/355-357).

Ikhtilath dan Tabarruj menyebabkan perempuan tidak punya harga diri, sebab ketika bercampur dengan laki-laki, maka perempuan tersebut dapat dipandang dan dilihat oleh laki-laki, sekedar untuk dinikmati. Ibarat boneka yang hanya dilihat dari kecantikan raut muka dan keindahannya. (Lihat Majmu‘ah Ar-Rosa`il Fil Hijab Wa Ash-Shufur oleh Lajnah Da`imah hal. 119).

Ikthilath dan Tabarruj menyebabkan hilangnya rasa malu pada diri perempuan, yang mana hal itu adalah ciri keimanan dalam dirinya. Karena ketika terjadi ikhtilath dan tabarruj, maka perempuan tidak lagi memunyai rasa malu dalam menampakkan auratnya. (Lihat Risalatul Hijab oleh Syeikh Al-’Utsaimin hal. 65).

Ikhtilath dan Tabarruj menyebabkan ketundukan dan keterikatan pria yang sangat besar terhadap perempuan yang dia kenal dan dilihatnya. Dan hal inilah yang menyebabkan kerusakan besar pada diri laki-laki, sampai membawanya kepada perbuatan yang kadang tergolong kedalam kesyirikan. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا تَرَكْتُ بِعْدِيْ فِتْنَةً هِيَ أَضَرُّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ.

“Saya tidaklah meninggalkan suatu fitnah setelahku yang paling berbahaya atas kaum lelaki, daripada fitnah perempuan”.

Perbuatan ikhtilath dan tabarruj adalah perbuatan yang menyerupai perilaku orang-orang kafir dari Yahudi dan Nasrani, karena hal itu adalah kebiasaan-kebiasaan mereka. Sedangkan Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ.

“Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk dari golongan mereka”.

(Lihat perkataan sekelompok ulama dalam kitab Majmu’ Rosa`il  hal. 52).

 

 

Penulis: Al-Ustadz Abul Fadhl Shobaruddin Bin Arif hafizhahulla

Sumber:

Majalah An-Nashihah Vol.5 (www.an-nashihah.com)

 

,

APAKAH IKHTILATH DAN BAGAIMANA HUKUMNYA?

APAKAH IKHTILATH DAN BAGAIMANA HUKUMNYA?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah

APAKAH IKHTILATH DAN BAGAIMANA HUKUMNYA?

Makna Ikhtilath

Makna ikhtilath secara bahasa adalah bercampurnya sesuatu dengan sesuatu yang lain (Lihat: Lisanul ‘Arab 9/161-162).

 

Adapun maknanya secara syari, yaitu percampurbauran antara laki-laki dan perempuan yang tidak ada hubungan mahram pada tempat. (Lihat: Al-Mufashshol Fii Ahkamil Mar`ah: 3/421 dan Al-Mar`atul Muslimah Baina Ijtihadil Fuqoha` wa Mumarosat Al-Muslimin hal. 111).

Hukum Ikhtilath

Hukum ikhtilath adalah haram berdasarkan dalil-dalil sebagai berikut:

Satu: Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam surah Al-Ahzab ayat 33:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu”.

Berkata Imam Al-Qurthuby dalam menafsirakan ayat ini: “Makna ayat ini adalah perintah untuk tetap berdiam atau tinggal di rumah, walaupun yang diperintah dalam ayat ini adalah para istri Nabi ﷺ, namun secara makna masuk pula selain dari istri-istri beliau ﷺ“. (Lihat Tafsirul Qurthuby: 4/179).

 

Dan Ibnu Katsir berkata tentang makna ayat ini: “Tinggallah kalian di rumah-rumah kalian. Janganlah kalian keluar, kecuali bila ada keperluan”.

Dua: Firman Allah ‘Azza Wa Jalla dalam surah Al-Isra` ayat 32:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا

“Dan janganlah kalian mendekati zina”.

Larangan dalam ayat ini dengan konteks “Jangan kalian mendekati” menunjukkan, bahwa Alquran telah mengharamkan zina, begitu pula pendahuluan-pendahuluan yang dapat mengantar kepada perbuatan zina, serta sebab-sebabnya secara keseluruhan seperti melihat, ikhtilath, berkhalwat, tabarruj dan lain-lain”. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 3/39).

Tiga: Hadis Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma yang dikeluarkan oleh Abu Daud dengan sanad yang Hasan dari seluruh jalan-jalannya, Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا تَمْنَعُوْا نِسَائَكُمُ الْمَسَاجِدَ وَبُيُوْتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ

“Janganlah kalian melarang para perempuan kalian (untuk menghadiri) masjid, dan rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka”.

Dan dengan lafazh yang lain yang diriwayatkan oleh Imam Bukhary dan Imam Muslim dari hadis Ibnu ‘Umar pula, Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا تَمْنَعُوا إِمَاءَ اللهِ مَسَاجِدَ اللهِ.

“Janganlah kalian melarang hamba-hamba Allah yang perempuan (untuk menghadiri) masjid-masjid Allah.

Hadis ini menjelaskan tentang tidak wajibnya perempuan menghadiri sholat jamaah bersama laki-laki di masjid. Ini berarti boleh bagi perempuan untuk menghadiri sholat jamaah di masjid, akan tetapi rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka. Dan para ulama fuqaha` sepakat tentang tidak wajibnya hal tersebut. Dan sebagian dari mereka memakruhkan untuk perempuan muda. Adapun untuk perempuan yang telah tua, maka mereka membolehkannya. Dan yang rojih adalah hukumnya boleh. (Lihat: Al-Mufashshol Fii Ahkamil Mar`ah: 3/424).

Berkata Imam An-Nawawy dalam Syarah Shohih Muslim (2/83): “Ini menunjukkan bolehnya perempuan ke masjid untuk menghadiri sholat jamaah, tentunya bila memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh syariat. Di antaranya tidak keluar dengan menggunakan wangi-wangian, tidak berpakaian yang menyolok, dan termasuk di dalamnya tidak bercampur atau ikhtilath dengan laki-laki yang bukan mahramnya”.

Empat: Hadis Aisyah radhiyallahu ‘anha yang dikeluarkan oleh Imam Bukhary, beliau berkata:

اسْتَأْذَنْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ فِي الْجِهَادِ فَقَالَ: جِهَادُكُنَّ الْحَجُّ.

“Saya meminta izin kepada Nabi ﷺ untuk berjihad, maka Rasulullah ﷺ bersabda: Jihad kalian adalah berhaji”.

Berkata Ibnu Baththal dalam Syarahnya, sebagaimana yang dinukil oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bary (6/75-76): “Hadis ini menjelaskan, bahwa jihad tidak diwajibkan bagi perempuan. Hal ini disebabkan, karena perempuan apabila berjihad, maka tidak akan mampu menjaga dirinya, dan juga akan terjadi percampur bauran antara laki-laki dan perempuan”.

Lima: Hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang dikeluarkan oleh Imam Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda:

خَيْرُ صُفُوْفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا وَخَيْرُ صُفُوْفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّه‍َا أَوَّلُهَا.

“Sebaik-baik shafff laki-laki adalah yang paling depan, dan sejelek-jeleknya adalah yang paling belakang. Dan sebaik-baik shaff perempuan adalah yang paling belakang, dan sejelek-jeleknya adalah yang paling awal”.

Berkata Imam An-Nawawy dalam Syarah Shohih Muslim: “Bahwa sesungguhnya shaff perempuan yang paling baik adalah yang paling belakang, dan shaff laki-laki yang paling baik adalah yang paling awalnya. Hal ini dikarenakan agar keadaan shaff perempuan dan shaff laki-laki saling menjauh, sehingga tidak terjadi ikhtilath, dan saling memandang satu dengan yang lainnya”.

Berkata Ash-Shon’any dalam Subulus Salam: “Dalam hadis ini menjelaskan sebab sunnahnya shafff perempuan berada di belakang shafff laki-laki, agar supaya keadaan tempat perempuan dan laki-laki dalam sholat saling menjauh, sehingga tidak terjadi ikhtilath di antara mereka”.

Berkata Asy-Syaukany dalam Nailul Authar (3/189): “Penyebab kebaikan shafff perempuan berada di belakang shafff laki-laki adalah karena tidak terjadi iktilath antara mereka”.

Enam: Hadis Aisyah radhiyallahu ‘anha yang dikeluarkan oleh Imam Bukhary, beliau berkata:

إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّيْ الصُّبْحَ بِغَلَسٍ فَيَنْصَرِفْنَ نِسَاءُ الْمُؤْمِنِيْنَ لَا يُعْرَفْنَ مِنْ الْغَلَسِ أَوْ لَا يَعْرِفُ بَعْضُهُنَّ بَعْضًا.

“Sesungguhnya Rasulullah ﷺ sholat Subuh pada saat masih gelap. Maka para perempuan kaum mukminin kembali, dan mereka tidak dikenali karena gelap, atau sebagian mereka tidak mengenal sebagian yang lain”.

Hadis ini menjelaskan disunnahkannya bagi perempuan keluar dari masjid lebih dahulu daripada laki-laki ketika selesai shalat jamaah, agar supaya tidak terjadi ikhtilath, saling pandang memandang atau hal-hal yang tidak dibenarkan oleh syariat.

Hal serupa dijelaskan pula dalam hadis Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha riwayat Imam Bukhary, beliau berkata:

أَنَّ النِّسَاءَ فِيْ عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ كُنَّ إِذَا سَلَّمْنَ مِنَ الْمَكْتُوْبَةِ قُمْنَ وَثَبَتَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَمَنْ صَلَّى مِنَ الرِّجَالِ مَا شَاءَ اللهُ فَإِذَا قَامَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ قَامَ الرِّجَالُ.

“Sesungguhnya para perempuan di zaman Rasulullah ﷺ, bila mereka salam dari sholat wajib, maka mereka berdiri dan Rasulullah ﷺ dan orang yang sholat bersama beliau dari kalangan laki-laki tetap di tempat mereka, selama waktu yang diinginkan oleh Allah. Bila Rasulullah ﷺ berdiri, maka para lelaki juga berdiri”.

Berkata Asy-Syaukany dalam Nailul Authar (2/315): “Dalam hadis ini terdapat hal yang menjelaskan tentang dibencinya ikhtilath antara laki-laki dan perempuan dalam perjalanan, dan hal ini lebih terlarang lagi ketika ikhtilath terjadi dalam suatu tempat”.

Berkata Ibnu Qudamah dalam Al-Mughny (2/560): “Jika dalam jamaah sholat terdapat laki-laki dan perempuan, maka di sunnahkan bagi laki-laki untuk tidak meninggalkan tempat, sampai perempuan keluar meninggalkan jamaah. Sebab kalau tidak, maka hal ini dapat membawa pada ikhtilath“.

Tujuh: Hadis Jabir Bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma riwayat Imam Bukhary, beliau berkata:

قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْفِطْرِ فَصَلَّى فَبَدَأَ بِالصَّلَاةِ ثُمَّ خَطَبَ فَلَمَّا فَرَغَ نَزَلَ فَأَتَى النِّسَاءَ فَذَكَّرَهُنَّ.

“Rasulullah ﷺ berdiri pada hari Idul Fitri untuk sholat. Maka beliau ﷺ pun memulai dengan sholat, kemudian berkhutbah. Tatkala beliau ﷺ selesai, beliau ﷺ turun, lalu mendatangi para perempuan, kemudian memeringati (baca: menasihati) mereka”.

Berkata Al-Hafizh dalam Al-Fath (2/466): “Perkataan “Kemudian beliau ﷺ mendatangi para perempuan” menunjukkan, bahwa tempat perempuan terpisah dari tempat laki-laki, tidak dalam keadaan ikhtilath“.

Berkata Imam An-Nawawy dalam Syarah Shohih Muslim (2/535): “Hadis ini menjelaskan, bahwa perempuan-perempuan, apabila menghadiri sholat jamaah di mana jamaah tersebut dihadiri pula oleh laki-laki, maka tempat perempuan berpisah dari tempat laki-laki. Hal ini untuk menghindari fitnah, saling memandang dan berbicara”.

Beberapa Masalah Seputar Ikhtilath

1. Hukum belajar di sekolah-sekolah dan universitas yang terjadi ikhtilath di dalamnya.

Berkata Syaikh Ibnu Jibrin sebagaimana dalam Fatawa Fii An-Nazhor Wal Khalwat Wal Ikhtilath hal. 23: “Kami menasihatkan pada seorang Muslim yang ingin menyelamatkan dan menjauhkan dirinya dari sebab-sebab kerusakan dan fitnah, tidak ada keraguan, bahwa sesungguhnya ikhtilath di sekolah-sekolah adalah penyebab terjadinya kerusakan dan pengantar terjadinya perzinahan”.

Berkata Syaikh Al Utsaimin sebagaimana dalam kitab yang sama hal. 26: “Pendapat saya, sesungguhnya tidak boleh bagi setiap orang, baik laki-laki dan perempuan, untuk belajar di sekolah-sekolah yang terjadi ikhtilath di dalamnya, disebabkan karena bahaya besar akan mengancam kesucian dan akhlak mereka. Tidak ada keraguan, bahwa orang yang bagaimana pun sucinya dan memunyai akhlak yang tinggi, bagaimana pun bila di samping kursinya ada perempuan, terlebih lagi bila perempuannya canti, lalu menampakkan kecantikannya, maka sangat sedikit yang bisa selamat dari fitnah dan kerusakan. Oleh karena itu, segala yang membawa kepada kerusakan dan fitnah adalah haram”.

Berkata Syaikh Ibnu Bazz sebagaimana dalam kitab yang sama pula hal. 10: “Barang siapa yang mengatakan boleh Ikhtilath di sekolah-sekolah dan yang lainnya, dengan alasan bahwa perintah berhijab hanya khusus untuk istri-istri Rasulullah ﷺ, maka perkataan ini jauh dari petunjuk serta menyelisihi Alquran dan Sunnah yang telah menunjukkan hukum hijab berlaku umum, sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ

“Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka”.

Dan juga kita ketahui, bahwa Rasulullah ﷺ diutus oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk seluruh manusia tanpa kecuali, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قُلْ يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا

“Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua”.

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا

“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan”.

Dan para sahabat yang mereka adalah sebaik-baik manusia dalam keimanan dan takwa dan sebaik-baik zaman, di masanya ternyata masih di perintahkan untuk berhijab, demi kesucian hati-hati mereka. Maka tentu orang-orang yang setelah mereka lebih membutuhkan, dan lebih harus berhijab, untuk menucikan hati-hati mereka, karena mereka berada pada zaman fitnah dan kerusakan”.

2. Hukum Bekerja Di Tempat yang Terjadi Ikhtilath di Dalamnya

Berkata Syaikh Ibnu Utsaimin sebagaimana dalam Fatawa Fii An-Nazhor Wal Khalwat Wal Ikhtilat hal.44: “Pendapat saya, yakni tidak boleh Ikhtilath antara laki-laki dan perempuan, baik di instansi negeri maupun swasta, karena ikhtilath adalah penyebab terjadinya banyak kerusakan”.

Berkata para Ulama yang tergolong dalam Lajnah Daimah:: “Adapun hukum bekerja di tempat yang (terdapat) ikhtilath adalah haram, karena ikhtilath adalah penyebab kerusakan yang terjadi pada manusia”.

Berkata Syaikh Ibnu Bazz rahimahullah dalam kitab Musyarakatul Mar`ah Lir Rijal Fii Midan ‘Amal hal. 7: “Bekerjanya perempuan di tempat yang terdapat laki-laki di dalamnya adalah perkara yang sangat berbahaya. Dan di antara penyebab besar munculnya kerusakan, adalah disebabkan karena ikhtilath, yang mana hal itu merupakan jalan-jalan yang paling banyak menyebabkan terjadinya perzinahan”.

 

Penulis: Al-Ustadz Abul Fadhl Shobaruddin Bin Arif hafizhahullah

Sumber: http://an-nashihah.com/?p=329

, ,

APAKAH PEMBANTU PEREMPUAN HARUS BERHIJAB DARI MAJIKANNYA?

APAKAH PEMBANTU PEREMPUAN HARUS BERHIJAB DARI MAJIKANNYA?

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

APAKAH PEMBANTU PEREMPUAN HARUS BERHIJAB DARI MAJIKANNYA?

Fatwa Ulama Seputar Pembantu Rumah Tangga

Jawab:

Samahatusy Syaikh Abdul Aziz ibnu Abdillah ibnu Baz rahimahullah menjawab:

“Ya, pembantu wajib berhijab dari majikannya dan tidak boleh bertabarruj – memertontonkan perhiasannya- di hadapan tuannya. Majikannya pun haram untuk khalwat/berdua-duaan dengannya, berdasarkan keumuman dalil. Bila si pembantu tidak berhijab, bahkan bertabarruj, hal tersebut merupakan sebab yang membangkitkan fitnah. Demikian pula, khalwat majikannya dengannya, merupakan sebab setan akan menghias-hiasi si majikan untuk terfinah dengannya. Wallahul musta’an. (Al-Fatawa libni Baz, Kitab Ad-Da’wah, 2/226)

 

[Sumber: Majalah Asy Syariah no. 61/VI/1431 H/2010, hal. 94-95]

 

,

WANITA, SENJATA AMPUH PENGHANCUR BANGSA

WANITA, SENJATA AMPUH PENGHANCUR BANGSA

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Petuah_Ulama

WANITA, SENJATA AMPUH PENGHANCUR BANGSA

Al-‘Allamah Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah berkata:

ولهذا كان أعداؤنا- أعداء الإسلام- بل أعداء الله ورسوله من اليهود والنصارى والمشركين والشيوعيين وأشباههم وأذنابهم وأتباعهم كل هؤلاء – يحرصون غاية الحرص على أن يفتنوا المسلمين بالنساء، يدعون إلي التبرج، يدعون إلي اختلاط المرأة بالرجل، يدعون إلي التفسخ في الأخلاق، يدعون إلي ذلك بألسنتهم، وأقلامهم، وأعمالهم، – والعياذ بالله؛ لأنهم يعلمون أن الفتنة العظيمة التي ينسي بها الإنسان ربه ودينه إنما تكون في النساء

“Karena bahayanya godaan wanita, maka musuh-musuh kita, yaitu musuh-musuh Islam, bahkan musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya dari kalangan Yahudi, Nasrani, Musyrikin, Komunis dan yang semisal dan semodel dengan mereka, serta para pengikut mereka seluruhnya, benar-benar bersemangat untuk menjerumuskan kaum muslimin dalam bencana dengan senjata wanita:

  • Mereka menyerukan kaum wanita agar menampakkan kecantikan (tabarruj),
  • Mengajak campur baur antara laki-laki dan wanita,
  • Mengajak kepada kerendahan akhlak (pergaulan bebas),
  • Mereka mengajak kepada itu semua dengan lisan, tulisan dan perbuatan –hanya kepada Allah kita mohon perlindungan-,

Karena mereka mengetahui, bahwa godaan besar yang dapat membuat manusia lupa dengan Rabbnya dan agamanya, terdapat pada (godaan) kaum wanita.”

[Syarhu Riyadhis Shaalihin, 1/95]

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

✏ Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

CONTOH GAMBAR JILBAB YANG BENAR & KESALAHAN YANG SERING TERJADI

CONTOH GAMBAR JILBAB YANG BENAR & KESALAHAN YANG SERING TERJADI

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

CONTOH GAMBAR JILBAB YANG BENAR & KESALAHAN YANG SERING TERJADI
CONTOH GAMBAR JILBAB YANG BENAR & KESALAHAN YANG SERING TERJADI                    PEREMPUAN-YANG-TIDAK-BERJILBAB-DENGAN-JILBAB-SESUAI-ATURAN-SYARIAT                           Cara Memakai Jilbab Yang Baik 1

 

 

Kesalahan Dalam Cara Memakai Jilbab 3        Kesalahan Dalam Cara Memakai Jilbab 2          Kesalahan Dalam Cara Memakai Jilbab 1

PEREMPUAN YANG TIDAK BERJILBAB DENGAN JILBAB SESUAI ATURAN SYARIAT

PEREMPUAN YANG TIDAK BERJILBAB DENGAN JILBAB SESUAI ATURAN SYARIAT

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

PEREMPUAN YANG TIDAK BERJILBAB DENGAN JILBAB SESUAI ATURAN SYARIAT,

BUKAN HANYA RUSAK UNTUK DIRINYA SENDIRI,

AKAN TETAPI JUGA MERUSAK ORANG LAIN!!

 

? Berjilbablah dengan benar. Tubuh ditutup jilbab dan hati dihiasi akhlakul karimah. Tidak ada alasan memerbaiki hati dulu sebelum berjilbab. Yang benar adalah keduanya wajib dikerjaan bersamaan.

? Selamatkan dirimu dan keluargamu dari api Neraka. Mulailah dari sekarang sebelum terlambat. Sebelum ajal datang menjemput. Pikir dahulu pendapatan, sesal kemudian tiada guna. Berislam secara total [kaaffah] dan tidak setengah-setengah.

❤️Allah mencintai Anda. Allah meridhai Anda. Allah memberikan barokah kepada Anda.

?Carilah ridha Allah saja dan jangan takut hinaan manusia.

?Jangan terbalik, mencari ridha manusia padahal mendatangkan murka Allah.

❤️Anda bisa dengan pertolongan Allah.

?Mulailah dari sekarang‼️

?Mulailah dari sekarang‼️

?Mulailah dari sekarang‼️

?Sebelum terlambat‼️

?Sebelum menyesal‼️

?Mantapkan hatimu. Melangkahlah. Allah menolongmu. Allah membantumu. Allah bersamamu. Bismillah tawakkaltu ‘alallooh… ‼️

 

? “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang Mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

[ Alquran Surat 33 Al-Ahzaab Ayat 59]

Sumber:

http://www.kajianislam.net/2011/11/beginilah-gambar-perempuan-yang-kepalanya-ibarat-punuk-onta-yang-disebutkan-oleh-rasulullah-shallallahu-alaihi-wa-ala-alihi-wa-sallam-dalam-hadits-shahih-riwayat-imam-muslim-dan-lainnya-bahwasanya-mer/

 

BOLEHKAH PAKAI BEDAK BAGI WANITA MUSLIMAH?

BOLEHKAH PAKAI BEDAK BAGI WANITA MUSLIMAH?

BOLEHKAH PAKAI BEDAK BAGI WANITA MUSLIMAH?

Pertanyaan:

Bolehkah wanita muslimah menggunakan bedak di wajahnya?

Jawaban:

Boleh sekali. Boleh saja bagi wanita mengenakan bedak dan kosmetik di wajahnya, dengan tujuan untuk memercantik diri. Namun ingat, memercantik diri di sini hanya untuk suami, BUKAN untuk laki-laki lain, BUKAN untuk orang luar rumah, BUKAN untuk memercantik diri di luar rumah. Lihat sekali lagi tuntutan dalam ayat ini:

“Dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita.” (QS. An-Nur: 31).

Adapun dalil yang menunjukkan bahwa wanita boleh menggunakan bedak adalah hadis berikut ini:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

طِيبُ الرِّجَالِ مَا ظَهَرَ رِيحُهُ وَخَفِىَ لَوْنُهُ وَطِيبُ النِّسَاءِ مَا ظَهَرَ لَوْنُهُ وَخَفِىَ رِيحُهُ

“Sifat parfum laki-laki, baunya nampak, sedangkan warnanya tersembunyi. Adapun sifat parfum wanita, warnanya nampak namun, baunya tersembunyi.” (HR. Tirmidzi, no. 2787; An-Nasa’i, no. 5120. Ada seorang perawi yang majhul -tidak disebut namanya- dalam hadis ini, penguat hadis ini pun lemah menurut Al-Hafizh Abu Thahir. Namun Syaikh Musthafa Al-‘Adawi dalam Jami’ Ahkam An-Nisa’, 4: 417 menyatakan bahwa hadis ini Hasan Lighairihi, yaitu melihat jalur yang lain).

Kalau parfum laki-laki sangat jelas seperti yang dimaksud dalam hadis. Itulah yang kita temukan dalam parfum yang digunakan oleh para pria saat ini. Sedangkan parfum wanita adalah parfum yang tidak nampak baunya, namun warnanya nampak. Apa yang dimaksud kalau begitu? Kalau kita lihat dari keterangan Syaikh Abu Malik dalam Fiqh As-Sunnah li An-Nisa’, hlm 420, yang dimaksud adalah bedak. Karena bedak itu warnanya terlihat, baunya tidak.

Namun ada dua syarat yang dikemukakan oleh para ulama ketika wanita ingin berhias diri dengan bedak dan kosmetik:

1- Tidak bertujuan mengelabui orang.
2- Kosmetik yang digunakan tidak berbahaya bagi kulit.

Dua syarat di atas disebutkan oleh Syaikh Musthafa Al-‘Adawi 4: 418, juga difatwakan oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz (mufti Kerajaan Saudi Arabia di masa silam) dan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin (pakar fikih di adab ke-20). Lihat Fiqh As-Sunnah li An-Nisa’, hlm 420.

Referensi:

Fiqh As-Sunnah li An-Nisa’. Cetakan tahun 1422 H. Syaikh Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim. Penerbit Al-Maktabah At-Taufiqiyah.
Jami’ Ahkam An-Nisa’. Cetakan pertama, tahun 1419 H. Syaikh Musthafa Al-‘Adawi. Penerbit Dar Ibnu ‘Affan.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/14080-wanita-muslimah-dengan-bedaknya.html