EMPAT PERBEDAAN MASJID DAN MUSHOLLA

EMPAT PERBEDAAN MASJID DAN MUSHOLLA

EMPAT PERBEDAAN MASJID DAN MUSHOLLA

Apakah Disunahkan Sholat Tahiyyatul Masjid di Musholla?

 

Pertanyaan:
Jika ada bangunan “langgar” namun belum diwakafkan, terkadang di tempat tersebut digunakan untuk sholat jamaah Maghrib dan Isya, apakah sudah dihukumi sebagai masjid dan padanya hukum-hukum terkait masjid?

Jawaban:
Al-Lajnah Al-Iftaa’ Al-Urduniyyah berkata:

“Alhamdulillah, shalawat dan salam tercurah pada Sayyidina Rasulillah.

Setiap tempat di permukaan bumi yang seorang sah sholat di atasnya teranggap sebagai masjid. Nabi ﷺ bersabda:

وَجُعِلَتْ لِي الأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا

“Bumi ini dijadikan untukku sebagai masjid dan tempat yang suci” [HR. Al-Bukhari]

Namun masjid yang berlaku di dalamnya hukum-hukum fikih, adalah tempat yang diwakafkan untuk sholat, yaitu tempat yang diwakafkan dan disediakan khusus untuk sholat. Adapun definisi mushalla adalah tempat yang digunakan untuk sholat dan berdoa tanpa disyaratkan wakaf. Setiap tempat yang digunakan untuk sholat dan berdoa, baik statusnya wakaf atau bukan, disebut mushalla. Oleh karena itu, mushalla mencakup masjid dan selainnya. Setiap masjid adalah mushalla dan tidak setiap mushalla adalah masjid.

Terdapat perbedaan hukum fikih di antara keduanya:

[Pertama] Masjid adalah tempat yang diwakafkan untuk sholat, tidak sah melakukan transaksi jual-beli dan semisalnya di masjid. Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata:

الأظهر أن الملك في رقبة الموقوف ينتقل إلى الله تعالى، أي ينفك عن اختصاص لآدمي فلا يكون للواقف ولا للموقوف عليه

“Yang nampak bahwa kepemilikan tanah yang diwakafkan berpindah pada Allah ta’ala, maksudnya terlepas dari kepemilikan manusia, bukan lagi menjadi hak milik orang yang mewakafkan, maupun pihak yang menerima wakaf” [Minhaaj Ath-Thalibin, 1/70]

Sedangkan mushalla masih mungkin dimiliki oleh pihak tertentu sehingga diperbolehkan melakukan transaksi jual-beli dan sewa-menyewa di dalamnya, serta boleh pula memindahkan mushalla ke tempat yang lain.

[Kedua] Diharamkan bagi wanita junub dan haid menetap di masjid, dan sebaliknya diperbolehkan bagi mereka menetap di mushalla. Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata:

ويحرم بها – أي بالجنابة – ما حرم بالحدث، والمكث بالمسجد لا عبوره

“Menetap di masjid diharamkan bagi orang yang junub, namun diperbolehkan bagi orang yang berhadats atau seorang yang hanya sekedar lewat” [Minhaaj Ath-Thalibin, 1/21]

[Ketiga] Tidak sah melakukan I’tikaf dan sholat Tahiyyatul Masjid kecuali di masjid. Al-Khathiib Asy-Syirbiini rahimahullah berkata:

ولا يفتقر شيء من العبادات إلى مسجد إلا التحية والاعتكاف والطواف

“Seluruh ibadah tidak disyaratkan dilakukan di masjid, kecuali sholat Tahiyyatul masjid, I’tikaf dan Thawaf” [Mughniy Al-Muhtaaj, 5/329]

[Keempat] Diharamkan membangun lantai atau bangunan khusus di atas masjid. Disebutkan dalam Hasyiyah Ibni ‘Abidiin:

لو تمت المسجدية ثم أراد البناء – أي بناء بيت للإمام فوق المسجد – مُنع

“Seandainya pembangunan masjid telah sempurna, kemudian ia ingin menambah bangunan lain –seperti membangun rumah imam di atas masjid- maka hal itu terlarang” [Hasyiyah Ibni ‘Abidin, 3/371]

Sedangkan diperbolehkan melakukan hal itu di mushalla, karena mushalla bukan tempat wakaf, namun dengan tetap menjaga kebersihan dan kesucian tempat dari najis.

Melakukan sholat Jumat di mushalla hukumnya sah, namun yang lebih utama dilakukan di masjid. Pensyarah kitab Al-Minhaj berkata:

لأن إقامتها في المسجد ليست بشرط

“Karena melakukan sholat Jumat di masjid bukanlah syarat” [Syarh Al-Minhaaj, 2/238]. Wallahu ta’ala a’lam”

Berikut teks fatwanya:

الحمد لله، والصلاة والسلام على سيدنا رسول الله
كل بقعة من الأرض تصح الصلاة فيها تعد مسجداً؛ لقوله صلى الله عليه وسلم: (وَجُعِلَتْ لِي الأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا) رواه البخاري. لكن المسجد الذي تترتب عليه أحكام فقهية هو المكان الموقوف للصلاة، أي الذي وُقف وحُبس ليكون مخصصاً للصلاة.
وأما المصلى فهو موضع الصلاة والدعاء، ولا يشترط فيه أن يكون موقوفاً، بل يصح أن يكون موقوفاً وغيره، فالمصلى إذن يشمل المسجد وغير المسجد، فكل مسجد مصلى وليس كل مصلى مسجداً.

ويفارق المسجد المصلى في بعض الأحكام منها:

أولاً: المسجد – كما ذكرنا -: المكان الموقوف للصلاة؛ فلا يصح التصرف فيه ببيع ونحوه. قال الإمام النووي: ” الأظهر أن الملك في رقبة الموقوف ينتقل إلى الله تعالى، أي ينفك عن اختصاص لآدمي فلا يكون للواقف ولا للموقوف عليه ” “منهاج الطالبين (1/70)، أما المصلى فيصح كونه مملوكاً لشخص معين، ويصح بيعه أو تحويله إلى مكان آخر، ويصح كونه مستأجراً.

ثانياً: يحرم على الحائض والجنب اللبث في المسجد، بينما يصح لهما المكث في المصلى. قال الإمام النووي: “ويحرم بها – أي بالجنابة – ما حرم بالحدث، والمكث بالمسجد لا عبوره” “منهاج الطالبين” 1/ 12.

ثالثاً: الاعتكاف أو تحية المسجد لا يصحان إلا في المسجد. قال الخطيب الشربيني: “ولا يفتقر شيء من العبادات إلى مسجد إلا التحية والاعتكاف والطواف” “مغني المحتاج” (5/ 329.

رابعاً: يحرم اعتلاء المسجد ببناء أو طوابق. جاء في “حاشية ابن عابدين”: “لو تمت المسجدية ثم أراد البناء – أي بناء بيت للإمام فوق المسجد – مُنع” (3/ 371)، أما المصلى فيصح ذلك لأنه ليس بموقوف، مع مراعاة المحافظة على نظافة المصلى وتنزيهه عن النجاسة.

وتصح صلاة الجمعة في المصلى، والأفضل كونها في المسجد. قال الشيخ الجمل عن صلاة الجمعة: “لأن إقامتها في المسجد ليست بشرط” “حاشية الجمل على شرح المنهج” (2/ 238). والله تعالى أعلم.

Sumber: Fatawaa Lajnah Al-Iftaa’ Al-Urduniyyah no. 2064, tertanggal 12/06/2012

Asy-Syaikh Abdul Aziiz bin Baz rahimahullah berkata:

السنة لمن أتى مصلى العيد لصلاة العيد، أو الاستسقاء أن يجلس ولا يصلي تحية المسجد؛ لأن ذلك لم ينقل عن النبي صلى الله عليه وسلم ولا عن أصحابه رضي الله عنهم فيما نعلم إلا إذا كانت الصلاة في المسجد فإنه يصلي تحية المسجد؛ لعموم قول النبي صلى الله عليه وسلم: ((إذا دخل أحدكم المسجد فلا يجلس حتى يصلي ركعتين)) متفق على صحته.
والمشروع لمن جلس ينتظر صلاة العيد أن يكثر من التهليل والتكبير؛ لأن ذلك هو شعار ذلك اليوم، وهو السنة للجميع في المسجد وخارجه حتى تنتهي الخطبة. ومن اشتغل بقراءة القرآن فلا بأس، والله ولي التوفيق.

“Bagi seorang yang mendatangi mushalla untuk sholat ‘Ied atau mushalla untuk sholat Istisqaa, tidak disunahkan mengerjakan sholat Tahiyyatul Masjid. Hendaklah ia duduk, karena perbuatan tersebut tidak pernah dinukil dari Nabi ﷺ dan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum, sebatas apa yang kami ketahui. Kecuali jika sholat Ied tersebut dilakukan di masjid, maka hukumnya tetap disunahkan berdasarkan keumuman hadis Nabi ﷺ:

إذا دخل أحدكم المسجد فلا يجلس حتى يصلي ركعتين

“Jika salah seorang kalian memasuki masjid, janganlah ia duduk hingga melakukan sholat dua rakaat” -disepakati keshahihannya-

Disunahkan baginya untuk memerbanyak tahlil dan takbir saat menunggu ditegakannya sholat Ied, baik jamaah yang berada di dalam maupun di luar masjid, hingga selesai khutbah, karena itulah yang merupakan syi’ar di hari Ied. Barang siapa yang menyibukkan diri dengan membaca Alquran, ini pun diperbolehkan. Wallahu waliyyut taufiiq”

Sumber: Majmuu’ Fataawaa wa Maqaalaat Mutanawwi’ah jilid 13

Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah pernah ditanya:

هل هناك ركعتان تحية المسجد في مصلى العيد؟

“Apakah disyariatkan melakukan sholat Tahiyyatul Masjid di mushalla Ied?

Beliau rahimahullah menjawab:

طبعا هذا ليس مسجدا فليس له تحية مسجد

“Ini bukan masjid, sehingga tidak ada sholat Tahiyyatul Masjid di dalamnya”.

 

Diterjemahkan oleh Abul-Harits

http://abul-harits.blogspot.co.id/2014/01/4-perbedaan-masjid-dan-musholla-apakah.html

 

Yang berikut adalah “Tanya Jawab dengan Al Ustadz Abul Harits”

Pertanyaan:

Menurut saya, kalau kalau musholla itu berdiri di tanah wakaf dan dipergunakan setiap hari untuk sholat berjamaah, maka berhak untuk sholat Tahiyyatul Masjid di situ. wallahu a’llam

Jawaban al Ustadz Abul-Harits:

Anda benar. Musholla yang berdiri di atas tanah wakaf dan digunakan untuk shalat berjamaah, disunahkan shalat Tahiyyatul Masjid di dalamnya. Karena musholla tersebut telah berstatus masjid. Jadi perbedaan masjid dan musholla bukan bergantung pada besar kecilnya bangunan.

Seringkali, istilah musholla yang dimaksud oleh masyarakat kita adalah masjid yang berukuran kecil, ini KELIRU. Hal mendasar yang membedakan keduanya adalah TANAH WAKAF. Bangunan tanah wakaf yang didirikan untuk tempat shalat adalah masjid, meskipun berukuran kecil. Bangunan yang didirikan untuk tempat shalat tanpa ada tanah wakaf adalah musholla, meskipun berukuran besar. Contoh bangunan musholla yang sering kita jumpai: musholla di kantor, musholla di mall pusat perbelanjaan, musholla di sekolah, dan lainnya.

Pertanyaan:

Kalau dasar yang membedakan itu tanah wakaf [sebagaimana di kampung kami], tapi niat awal diperuntukan untuk musholla, apakah bisa dialihkan fungsi ke masjid? Atau secara tersirat seperti masjid? Mohon pencerahan. Terima kasih

Jawaban al Ustadz Abul-Harits:

Musholla bisa dialihfungsikan sebagai masjid jika tanahnya diwakafkan. Jika dari awal memang tanahnya merupakan tanah wakaf, maka statusnya sudah masjid, meskipun dinamakan musholla oleh masyarakat. Wabillahittaufiq

Komentar:

Benar, status awal sudah tanah wakaf dan karena statusnya sudah MASJID [walau tanpa merubah kata MUSHOLLA ], artinya sudah bisa dipakai niat sholat Tahyatul Masjid atau kalau memungkinkan sholat Jumat.Terima kasih atas penjelasannya.

Pertanyaan:

Kalau tidak pernah dipakai Jumatan, sholat Lima Waktu jarang, azan tidak setiap waktu, apakah tetap disebut masjid, walaupun tanah wakaf.

Jawaban al Ustadz Abul-Harits:

Seandainya ada masjid agung yang terletak di komplek alun-alun kota, kemudian jarang didirikan shalat Jamaah 5 waktu dan shalat Jumat, statusnya tetap sebagai masjid, meskipun tidak dimakmurkan (sepi). Jadi alasan tersebut bukan merupakan kriteria masjid.

Masjid yang dipakai shalat Jumat sering diistilahkan dengan masjid Jami’. Namun bukan berarti masjid selain masjid jami’ tidak berstatus sebagai masjid. Mudah-mudahan bisa dipahami, Allahua’lam

Pertanyaan:

Saya tinggal di sebuah Komplek Pertokoan. Di Komplek tersebut ada Mushalla sekira 8 x 8 meter….. tak jauh dari komplek (sekitar 200m) ada sebuah masjid…. ketika shalat Lima waktu tiba….. tempat mana yang harus saya pilih… apakah saya mendirikan shalat berjamaah di Mushalla komplek atau ikut berjamaah di Masjid (dan mengabaikan Mushalla komplek). Mohon pencerahan, terima kasih

Jawaban al Ustadz Abul-Harits:

Anda boleh memilih shalat Jamaah di musholla atau di masjid. Namun yang lebih utama (afdhal), Anda shalat di masjid, karena masjid memiliki keutamaan khusus yang tidak dimiliki oleh musholla.

Jika ada pertimbangan lain, misalkan absennya Anda dari musholla komplek menimbulkan fitnah atau salah paham, maka lebih baik Anda shalat di musholla. Jika tidak ada kekhawatiran tersebut, Anda tetap shalat di masjid, Allahua’lam

Pertanyaan:

Di dalam cluster ada tanah fasum. Karena belum ada masjid, di perumahan dibangun mushola cukup 50-60 orang. Apakah bisa dibilang masjid tanah fasum?

Beberapa tahun kemudian developer membuat masjid di luar cluster buat Jumatan.

Apakah harus pindah? Apakah masih boleh jamaah di mushola? Adakah hadis yg menyebutkan sholat fardhu di masjid jami lebih utama daripada di masjid dalam cluster?

Mohon jawabannya yang segera, untuk pemahaman ke warga.

Jawaban al Ustadz Abul-Harits:

Kalau tanah fasum itu memang khusus disediakan untuk masjid, bukan hanya untuk sementara saja, maka musholla tersebut berstatus masjid. Namun kalo ke depannya akan dibangun masjid yang tetap, kemudian tanah fasum itu dialihkan untuk fungsi yang lain setelah dibangun masjid, maka bangunan untuk shalat itu hanya berstatus musholla.

Baik masjid maupun musholla, keduanya boleh dipakai untuk shalat jamaah lima waktu. Banyak faktor yang menjadikan shalat di salah satu masjid lebih utama dari masjid yang lain, di antaranya bacaan quran imam, jumlah jamaah shalat, jauh dekatnya, dihidupkannya sunah-sunah nabi di masjid tersebut dan faktor lainnya. Shalat berjamaah di masjid jami’ tidak lebih utama dibandingkan shalat di masjid lain. Namun shalat di masjid (baik masjid jami’ atau bukan) lebih utama dari shalat di muholla. Keutamaan suatu masjid berbeda-beda dilihat dari beberapa faktor yang saya sebutkan tadi.

 

Allahua’lam

 

1 reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *