بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

FIKIH PRAKTIS PUASA ASYURA

1. Sejarah Puasa Asyura

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma, beliau berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَدِمَ الْمَدِينَةَ فَوَجَدَ الْيَهُودَ صِيَامًا يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَا هَذَا الْيَوْمُ الَّذِى تَصُومُونَهُ ». فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ أَنْجَى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَقَوْمَهُ وَغَرَّقَ فِرْعَوْنَ وَقَوْمَهُ فَصَامَهُ مُوسَى شُكْرًا فَنَحْنُ نَصُومُهُ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « فَنَحْنُ أَحَقُّ وَأَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ ». فَصَامَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ.

“Ketika tiba di Madinah, Rasulullah ﷺ mendapati orang-orang Yahudi melakukan Puasa Asyura. Kemudian Rasulullah ﷺ bertanya: ” Hari apa ini sehingga kalian berpuasa?”
Orang-orang Yahudi tersebut menjawab: ”Ini hari agung. Pada hari ini Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya dan menenggelamkan Firaun dan bala tentaranya. Lalu Musa berpuasa pada hari ini dalam rangka bersyukur (kepada Allah). Maka kami pun mengikuti beliau berpuasa pada hari ini.”
Rasulullah ﷺ lantas berkata: ” Kami (kaum Muslimin) seharusnya lebih berhak dan lebih utama mengikuti Musa daripada kalian.”
Lalu setelah itu Rasulullah ﷺ memerintahkan kaum Muslimin untuk berpuasa.” [HR. Muslim no. 1130]

2. Keutamaan Puasa Asyura

Berkaitan dengan keutamaannya, Rasulullah ﷺ bersabda:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ المُحَرَّمِ.

“Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadan adalah puasa pada bulan Allah – Muharam.” [HR. Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi dan Ahmad]

Di hadis lainnya beliau ﷺ menjelaskan:

صِيَامُ يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ، أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِيْ قَبْلَهُ.

“Puasa hari Asyura, aku berharap kepada Allah semoga dapat menghapuskan dosa setahun lalu.” [HR. Muslim]

3. Hukum Puasa Asyura

Pada awalnya Puasa Asyura hukumnya wajib. Setelah diwajibkannya puasa Ramadan, hukumnya menjadi Sunnah. Dari ’Aisyah radhiyallahu ’anha beliau berkata:

كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِى الْجَاهِلِيَّةِ ، وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُهُ ، فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ ، فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ تَرَكَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ ، فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ ، وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ

”Di zaman Jahiliyah dahulu, orang Quraisy biasa melakukan puasa Asyura. Rasulullah ﷺ juga melakukan puasa tersebut. Tatkala tiba di Madinah, beliau melakukan puasa tersebut dan memerintahkan yang lain untuk melakukannya. Namun tatkala puasa Ramadan diwajibkan, beliau ﷺ meninggalkan puasa Asyura.
(Lalu beliau ﷺ mengatakan:) “Barang siapa yang mau, silakan berpuasa. Barang siapa yang mau, silakan meninggalkannya (tidak berpuasa).” [HR. Bukhari no. 2002 dan Muslim no. 1125]

Rasulullah ﷺ bersabda:

هَذَا يَوْمُ عَاشُوْرَاءَ، وَلَمْ يَكْتُبِ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، وَأَنَا صَائِمٌ، فَمَنْ شَاءَ فَلْيَصُمْ، وَمَنْ شَاءَ فَلْيُفْطِرْ.

“Sekarang hari Asyura. Allah tidak mewajibkan puasanya bagi kalian, namun aku berpuasa. Barang siapa yang ingin, silakan ia berpuasa. Dan siapa yang ingin, ia boleh berbuka (tidak puasa).” [HR. al-Bukhari & Muslim]

4. Tata Cara Puasa Asyura

Ibnul Qayyim dan Ibnu Hajar al-‘Asqolani rahimahumallah menyebutkan, bahwa caranya terbagi menjadi tiga:
– Pertama: Berpuasa pada hari Asyura saja, yakni hari kesepuluh.
– Kedua: Berpuasa pada hari Asyura dan sehari sebelumnya, yakni hari kesembilan dan kesepuluh.
– Ketiga: Berpuasa pada hari Asyura, ditambah dengan sehari sebelumnya dan sehari setelahnya, yakni pada hari kesembilan, kesepuluh, dan kesebelas.

Catatan Penting:

Pertama: Tentang cara pertama, telah dibolehkan oleh sebagian ulama. Namun cara tersebut mengandung unsur tasyabbuh (menyerupai) dengan puasanya orang-orang Yahudi. Maka sebelum meninggal dunia, Rasulullah ﷺ sangat ingin untuk berpuasa sehari sebelumnya, untuk menyelisihi orang-orang Yahudi yang hanya puasa pada hari ke-10 saja.

Nabi ﷺ bersabda:

فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ صُمْناَ الْيَوْمَ التَّاسِعَ.

“Apabila tiba tahun depan, insyaAllah kita akan berpuasa pada hari kesembilan.”
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Belum sampai tahun berikutnya, Rasulullah ﷺ telah wafat terlebih dahulu.” [HR. Muslim]

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu mengatakan:

صُوْمُوْا التَّاسِعَ وِالْعَاشِرَ، وَخَالِفُوْا الْيَهُوْدَ.

“Berpuasalah kalian pada hari kesembilan dan kesepuluh, selisihilah orang-orang Yahudi.” [Hadis Sahih riwayat at-Tirmidzi dan Abu Dawud)

Kedua: Tentang cara ketiga yang berdasar kepada hadis Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu dengan lafal:

صُوْمُوْا يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ وَخَالِفُوْا فِيْهِ اْليَهُوْدَ، صُوْمُوْا قَبْلَهُ يَوْمًا وَ بَعْدَهُ يَوْمًا.

“Puasalah pada hari Asyura, dan selisilah orang-orang Yahudi dengan berpuasa sehari sebelumnya dan sehari setelahnya,” maka riwayat ini setelah diteliti ternyata derajatnya lemah. Syaikh al-Albani berkomentar tentang riwayat di atas: Dha’if (lemah). (Dha’if al-Jami ash-Shoghir, no. 3506, Hijab al-Mar’ah ash-Sholihah, hlm. 89]

Dengan menggabungkan antara beberapa riwayat di atas dapat disimpulkan, bahwa cara yang terbaik adalah berpuasa pada dua hari, yakni pada hari kesembilan dan dan kesepuluh Muharam. Allahu a’lam.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

إن قيل لم كان عاشوراء يكفر سنة ويوم عرفة يكفر سنتين؟ قيل فيه وجهان:
أحدهما: أن يوم عرفة في شهر حرام وقبله شهر حرام وبعده شهر حرام بخلاف عاشوراء.
الثاني: أن صوم يوم عرفة من خصائص شرعنا بخلاف عاشوراء فضوعف ببركات المصطفى صلى الله عليه وسلم والله

“Jika ada yang berkata, mengapa hari Asyura menghapus kesalahan setahun, sementara puasa Arafah menghapus kesalahan dua tahun?
Maka dijawab bahwa ada dua sisi alasan:
• Pertama: Hari Arafah dilakukan di bulan haram, bulan sebelumnya juga termasuk bulan haram, dan setelahnya juga termasuk bulan haram. Berbeda halnya dengan puasa Asyura.
• Kedua: Bahwa berpuasa di hari Arafah termasuk kekhususan syariat kita (umat Islam). Berbeda halnya dengan Asyura, sehingga keutamaannya dilipatgandakan dengan sebab keberkahan Rasulullah ﷺ.” [Badaai’ al fawaaid: 4/ 211]

 

Sumber: ICC DAMMAM KSA dan sumber lainnya

 

══════

 

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat! Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp:
+61 405 133 434 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: https://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Twitter: @NasihatSalaf
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat