Posts

, ,

ORANG YANG RUTIN SHALAT LIMA WAKTU IBARAT ORANG YANG MANDI DI SUNGAI

Orang Yang Rutin Shalat Lima Waktu Ibarat Orang Yang Mandi Di Sungai
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
ORANG YANG RUTIN SHALAT LIMA WAKTU IBARAT ORANG YANG MANDI DI SUNGAI
 
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
 
أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ ، يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا ، مَا تَقُولُ ذَلِكَ يُبْقِى مِنْ دَرَنِهِ » . قَالُوا لاَ يُبْقِى مِنْ دَرَنِهِ شَيْئًا . قَالَ « فَذَلِكَ مِثْلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ ، يَمْحُو اللَّهُ بِهَا الْخَطَايَا »
 
“Tahukah kalian, seandainya ada sebuah sungai di dekat pintu salah seorang di antara kalian, lalu ia mandi dari air sungai itu setiap hari lima kali, apakah akan tersisa kotorannya walau sedikit?” Para sahabat menjawab, “Tidak akan tersisa sedikit pun kotorannya.” Beliau berkata, “Maka begitulah perumpamaan shalat lima waktu. Dengannya Allah menghapuskan dosa.” [HR. Bukhari no. 528 dan Muslim no. 667]
 
Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu:
 
مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ كَمَثَلِ نَهَرٍ جَارٍ غَمْرٍ عَلَى بَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ ». قَالَ قَالَ الْحَسَنُ وَمَا يُبْقِى ذَلِكَ مِنَ الدَّرَنِ
 
“Permisalan shalat yang lima waktu itu seperti sebuah sungai yang mengalir melimpah di dekat pintu rumah salah seorang di antara kalian. Ia mandi dari air sungai itu setiap hari lima kali.” Al Hasan berkata: “Tentu tidak tersisa kotoran sedikit pun (di badannya).” [HR. Muslim no. 668]
 
 
 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

#rutinshalatlimawaktu #rutinshalat5waktu #sepertimandidisungaikali #ibaratmandidikalisungai #Allahhapuskandosanya #tidaktersisakotoransedikitpun #sifatsholatNabi #sholat #shalat #salat #solat

,

BAGAIMANA POSISI TANGAN DAN JARIMU TATKALA TASYAHUD?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
 
BAGAIMANA POSISI TANGAN DAN JARIMU TATKALA TASYAHUD?
 
Hadis Wail bin Hujr radhiyallahu ‘anhu yang menyebutkan sifat duduk Tasyahud ini, di antaranya:
 
وَحَدَّ مِرْفَقَهُ الْأَيْمَنَ عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى، وَقَبَضَ ثِنْتَيْنِ وَحَلَقَ، وَرَأَيْتُهُ يَقُوْلُ هَكَذَا
 
“Beliau meletakkan ujung siku beliau yang kanan di atas paha kanan. Dua jari beliau lipat/genggam (kelingking dan jari manis) dan beliau membentuk lingkaran (dengan dua jari beliau – yaitu jari tengah dan ibu jari – pen). Aku melihat beliau melakukan seperti ini.” Bisyr ibnul Mufadhdhal (seorang rawi yang meriwayatkan hadis ini mencontohkan) mengisyaratkan jari telunjuk (meluruskannya seperti menunjuk), sedangkan jari tengah dan ibu jari membentuk lingkaran. [HR . Abu Daud no. 726, 957, dinyatakan sahih dalam Shahih Abi Dawud]
 
 
 
Sumber: [Dakwahsunnah.com]

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

 

#sifatsholatNabi #sifatshalatNabi #tatacara #carasalatNabi #posisitangandanjariketikatasyahud #bagaimanatangandanjariwaktuTasyahud #dudukTasyahud #shalat #sholat #salat #solat #salat #tasyahud #tasyahhud

, ,

GERHANA TIDAK TERLIHAT BERARTI TIDAK ADA SHALAT GERHANA

GERHANA TIDAK TERLIHAT BERARTI TIDAK ADA SHALAT GERHANA
GERHANA TIDAK TERLIHAT BERARTI TIDAK ADA SHALAT GERHANA
 
Karena shalat gerhana ini dikaitkan dengan PENGLIHATAN, BUKAN berdasarkan HISAB hisab atau hasil perkiraan ILMU FALAK atau ASTRONOMI. Nabi ﷺ bersabda:
 
فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَافْزَعُوا إِلَى الصَّلاَةِ
“Jika kalian melihat gerhana tersebut (matahari atau bulan) , maka bersegeralah untuk melaksanakan shalat.” [HR. Bukhari no. 1047]
 
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin pernah ditanya, “Apa hukum jika gerhana matahari tertutup awam mendung, namun sudah dinyatakan di berbagai surat kabar sebelum itu, bahwa nanti akan terjadi gerhana dengan izin Allah, pada jam sekian dan sekian. Apakah shala gerhana tetap dilaksanakan walau tidak terlihat gerhana?”
 
Syaikh rahimahullah menjawab:
“TIDAK BOLEH berpatokan pada berbagai berita yang tersebar atau berpatokan semata-mata dengan berita dari para astronom. Jika langit itu mendung, maka tidak ada shalat gerhana karena Nabi ﷺ mengaitkan hukum dengan penglihatan (rukyat). Nabi ﷺ bersabda, “Jika kalian melihat terjadinya gerhana, maka segeralah shalat.” Suatu hal yang mungkin, Allah menyembunyikan penglihatan gerhana pada satu daerah, lalu menampakkannya pada daerah lain. Ada hikmah di balik itu semua.” [Sumber: Saaid.Net]
 
Sehingga jika ada yang shalat gerhana padahal cuma melihat di TV atau berpatokan pada berita saja, nyatanya di daerahnya sendiri tidak nampak gerhana karena tertutup mendung, maka ia telah KELIRU.
 
Hanya Allah yang memberi taufik.
 
#fatwaulama #sifatsholatnabi #shalat #sholat #salat #solat #Khusuf #Kusuf #gerhanabulan #gerhanamatahari #penglihatan #bukanastronomiilmufalak #tertutupmendung #hujan
, ,

BACAAN ITIDAL DALAM SHALAT

BACAAN ITIDAL DALAM SHALAT
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
BACAAN ITIDAL DALAM SHALAT
 
1. Ada banyak model bacaan Itidal yang diajarkan dalam Islam. Sikap yang tepat dalam hal ini adalah berusaha menghafal semua doa itu dan dibaca secara bergantian. Misalnya ketika Itidal shalat Asar baca lafal A, Itidal shalat Maghrib baca lafal B, dst.
 
2. Orang yang shalat hanya boleh membaca doa Itidal setelah dia berdiri sempurna.
 
3. Dibolehkan mengulang-ulang bacaan Itidal, meskipun lebih dari tiga kali, sesuai dengan panjangnya Itidal.
 
4. Orang yang shalat harus membaca bacaan Itidal meskipun hanya sekali. Karena para ulama menilai bahwa bacaan Itidal hukumnya wajib.
 
5. Berikut macam-macam bacaan Itidal:
 
Pertama:
رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ atau رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ
 
Robbanaa lakal hamdu atau Robbanaa wa lakal hamdu (ada tambahan huruf “wa”) [HR. Bukhari dan Ahmad]
 
Kedua:
اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ atau اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ
 
Allahumma Robbanaa lakal hamdu atau Allahumma Robbanaa wa lakal hamdu (yang kedua ada tambahan huruf “wa”). [HR. Ahmad dan Bukhari]
 
Keterangan:
Nabi ﷺ bersabda: Jika imam mengucapkan, ‘Sami’allahu liman hamidah’ maka ucapkanlah: Allahumma Robbana lakal hamdu. Sesungguhnya siapa yang ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka dosa-dosanya yang telah lewat akan diampuni. [HR. Bukhari dan Muslim]
 
Ketiga:
 
رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءَ السَّمَوَاتِ وَمِلْءَ الْأَرْضِ وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ
 
Robbanaaa lakal hamdu mil-as-samaawaati wa mil-al-ardhi wa mil-a maa syik-ta min syai-im ba’du [HR. Muslim dan Abu Awanah]
 
Keempat:
 
رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءَ السَّمَوَاتِ وَمِلْءَ الْأَرْضِ وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ أَهْلَ الثَّنَاءِ وَالْمَجْدِ، لا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ
 
Robbanaaa lakal hamdu mil-as-samaawaati wa mil-al-ardhi wa mil-a maa syik-ta min syai-im ba’du, ahlas-tsanaa-i wal majdi, laa maani’a limaa a’thaita wa laa mu’thiya limaa mana’ta wa laa yan-fa’u dzal jaddi min-kal jaddu. [HR. Muslim, Nasai, Ibn Hibban]
 
Kelima:
 
لِرَبِّيَ الْحَمْدُ لِرَبِّيَ الْحَمْدُ …
 
Li robbiyal hamdu… Li robbiyal hamdu…
 
Bacaan ini diulang-ulang oleh Nabi ﷺ ketika beliau shalat malam. Sehingga panjang Itidal beliau hampir sama dengan berdiri saat membaca surat Al-Baqarah. [HR. Abu Daud, Nasai, dan dishahihkan Al-Albani]
 
Keenam:
 
رَبَّنَا وَلَكَ الحَمْدُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ مُبَارَكًا عَلَيْهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى
 
Robbanaa wa lakal hamdu hamdan katsiiron thoyyiban mubaarokan fiihi mubaarokan ‘alaihi kamaa yuhibbu robbunaa wa yardhoo
 
Keterangan:
Ada sahabat yang membaca ini ketika Itidal. Selesai shalat, Nabi ﷺ bertanya: “Siapa yang tadi membaca doa Itidal tersebut?” Salah seorang sahabat mengaku. Nabi ﷺ bersabda: “Sasya melihat ada 30 lebih malaikat yang berebut mengambil bacaan ini, siapa di antara mereka yang paling cepat mencatatnya.” [HR. Bukhari, Muslim, dan yang lainnya]
 
 
 
Website: Dakwahsunnah.com
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#sifatsholatNabi #shifatsholatNabi #sholat #shalat #salat #solat #tatacara #cara #doazikir #dzikir #bacaan #bacaanitidaldalamshalat #itidal
, , ,

CARA MENGHILANGKAN GANGGUAN AGAR KHUSYUK DALAM SHALAT

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
CARA MENGHILANGKAN GANGGUAN AGAR KHUSYUK DALAM SHALAT
>> Itu adalah setan. Namanya Khinzib
Di dalam shalat terkadang berseliweran pikiran-pikiran sehingga mengurangi konsentrasi shalat. Apakah yang harus dilakukan untuk mendapatkan shalat yang khusyuk, dan menghilangkan pikiran-pikiran yang mengganggu tersebut?
 
Kasus semacam ini pernah dialami oleh salah seorang sahabat, yaitu Utsman bin Abil ‘Ash radhiallahu ‘anhu. Beliau datang kepada Nabi ﷺ mengadukan gangguan yang dia alami ketika shalat. Kemudian beliau ﷺ bersabda:
 
ذاك شيطان يقال له خنزب فإذا أحسسته فتعوذ بالله منه واتفل على يسارك ثلاثاً
 
“Itu adalah setan. Namanya Khinzib. Jika kamu merasa diganggu, mintalah perlindungan kepada Allah dari gangguannya dan meludahlah ke kiri tiga kali.”
 
Kata Utsman, “Aku pun melakukannya, kemudian Allah menghilangkan gangguan itu dariku.” [HR. Muslim, no. 2203]
 
Pelajaran Hadis:
 
Dalam hadis di atas Nabi ﷺ mengajarkan kepada kita dua cara untuk menghilangkan gangguan setan dalam shalat:
 
1. Memohon perlindungan kepada Allah dengan membaca ta’awudz (A’udzu billahi minas syaithanir rajim). Bacaan ini dilafalkan, bukan di batin. Ini hukumnya diperbolehkan dan tidak membatalkan shalat.
2. Meludah ringan ke kiri dengan cara meniupkan udara yang mengandung sedikit air ludah. Ini diperbolehkan, dengan syarat tidak mengganggu orang yang berada di sebelah kirinya dan tidak mengotori masjid.
 
Allahu a’lam.
 
Disadur dari “Madza Taf’alu fi Halatit Taliyah” karya Syekh Muhammad bin Shaleh Al-Munajjid.
 
Penulis: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)
#doa zikir, #adab akhlak, #sifat Sholat Nabi, #sholat, #shalat, #salat, #solat, #gangguan, #diganggu, #Khinzib, #setan Khinzib, #meludah tiga kali, #meludah 3 x, #ke arah kiri, #meludah ke kiri tiga kali #agarshalatkhusyuk #tipstipsshalatkhusyu
,

PAHALA SHALAT DI MAKKAH 100.000 KALI

PAHALA SHALAT DI MAKKAH 100.000 KALI
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
PAHALA SHALAT DI MAKKAH 100.000 KALI
>> Apakah hal itu berlaku di Masjidil Haram saja, ataukah di seluruh Makkah?
 
Tanah Haram (Makkah dan Madinah) adalah tempat yang mulia. Di antara kemuliaannya adalah akan dilipatgandakan pahala shalat di masjid di tanah tersebut. Khusus untuk Tanah Haram di Makkah kita ketahui, bahwa pahala shalat di Masjidil Haram adalah 100.000 kali dari shalat di masjid lainnya.
 
Dari Jabir, Nabi ﷺ bersabda:
 
صَلاَةٌ فِى مَسْجِدِى أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ وَصَلاَةٌ فِى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ
 
“Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama daripada 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Haram. Shalat di Masjidil Haram lebih utama daripada 100.000 shalat di masjid lainnya.” [HR. Ahmad 3/343 dan Ibnu Majah no. 1406, dari Jabir bin ‘Abdillah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih. Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1173]
 
Namun apakah hal itu berlaku di Masjidil Haram saja, ataukah di seluruh Makkah?
 
Komisi Fatwa di Kerajaan Saudi Arabia, Al Lajnah Ad Daimah ditanya:
“Apakah pahala shalat di seluruh tempat di Makkah berlipat-lipat sama dengan shalat di Masjidil Haram itu sendiri? Lalu apakah berbuat maksiat juga akan dilipatgandakan dosanya sebagaimana pada kebaikan?
 
Para ulama yang duduk di komisi tersebut menjawab:
 
Dalam masalah ini, ada silang pendapat antara para ulama. Pendapat terkuat, berlipatnya pahala berlaku umum di seluruh Tanah Haram (di seluruh Makkah). Karena dalam Alquran dan As Sunnah, seluruh tempat di Makkah disebut dengan Masjidil Haram.
 
Sedangkan mengenai maksiat, tidaklah dilipatgandakan dosanya secara jumlah, baik di Tanah Haram atau selainnya. Dosa itu dilipatgandakan dilihat dari maksiat yang dilakukan (kaifiyah), berbeda-beda antara dosa. Ada dosa yang amat berat, ada yang balasannya keras karena dilakukan di waktu dan tempat tertentu, seperti dilakukan di bulan Ramadan, di Tanah Haram yang mulia, di Madinah Al Munawwaroh dan semacamnya. Karena Allah taala berfirman:
 
مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَى إِلَّا مِثْلَهَا
 
“Barang siapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya. Dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat, maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya” [QS. Al An’am: 160]. Dan juga banyak hadis yang Shahih yang menerangkan hal ini.
 
Wabillahit taufiq. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
 
[Fatwa Al Lajnah Ad Daimah no. 6267, pertanyaan keempat. Yang menandatangani fatwa ini: Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz selaku ketua, Syaikh ‘Abdurrozaq ‘Afifi selaku wakil ketua, Syaikh ‘Abdullah bin Ghudayan dan Syaikh ‘Abdullah bin Qu’ud selaku anggota].
 
 
***
 
Dari sini, meskipun kita shalat di masjid lainnya di Makkah, atau wanita Muslimah menunaikan shalat di hotelnya selama itu masih di Makkah (Tanah Haram), maka akan dilipatgandakan pahala demikian.
 
Semoga Allah memudahkan kita menginjakkan kaki kita di Tanah Haram yang mulia. Allahumma yassir wa a’in.
 
 
 
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
[www.rumaysho.com]
 

 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

 

#HaditsTentangPahalaShalatDiMasjidilHaram #PahalaSholatDiMasjidNabawi #HadisKeutamaanShalatDiMasjidilHaram #KeutamaanMasjidilHaramDanMasjidNabawi #PahalaShalatDiMasjidNabawiDanMasjidilHaram #sifatsholatNabi #tatacara #seratusribu #100000 #pahalashalat #Makkah #Mekah #Mekkah #Mecca #MasjidilHaram #MasjidNabawi #keutamaan #fadhilah

,

KOREKSI SHALAT KITA

KOREKSI SHALAT KITA
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
KOREKSI SHALAT KITA
 
Rasulullah ﷺ bersabda:
 
إنَّ الرجلَ ليُصلِّي ستِّينَ سنةً و ما تُقبَلُ له صلاةٌ ، لعله يتمُّ الركوعَ ، ولا يتمُّ السُّجودَ ، ويتمُّ السجودَ ولا يتمُّ الركوعَ .
 
“Sesungguhnya benar-benar ada seseorang yang telah mengerjakan shalat selama enam puluh tahun namun tidak ada yang diterima shalatnya. Mungkin dia telah menyempurnakan ruku akan tetapi TIDAK menyempunakan sujud. Atau sebaliknya, dia telah menyempurnakan sujud, akan tetapi TIDAK menyempurnakan ruku.” [Shahih At Targhib, 529, hasan oleh al Albani]
 
#sifatsholatNabi, #sholat, #shalat, #salat, #solat, #shalat60tahuntidakditerima, #60tahun, #perbaikishalat, #betulkanshalat, #koreksishalat #shalatselamaenampuluhtahun #tidakadayangditerimashalatnya
,

25 DERAJAT SHALAT SUNNAHMU JIKA

25 DERAJAT SHALAT SUNNAHMU JIKA
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
25 DERAJAT SHALAT SUNNAHMU JIKA
 
Rasulullah ﷺ bersabda:
 
صَلُّوا أَيُّهَا النَّاسُ فِي بُيُوتِكُمْ، فَإِنَّ أَفْضَلَ الصَّلاَةِ صَلاَةُ المَرْءِ فِي بَيْتِهِ إِلَّا المَكْتُوبَةَ
 
“Wahai umat manusia, shalatlah kalian di rumah kalian. Karena sebaik-baik shalat seseorang adalah shalat yang dilakukan di rumahnya, KECUALI shalat wajib.” [HR. Bukhari 731, Muslim 781]
 
Begitu utama serta besarnya pahala dan derajat shalat sunnah yang dikerjakan seseorang di rumahnya, bahkan hingga pun dibandingkan jika ia mengerjakannya di masjid. Dimana Rasulullah ﷺ sebutkan hingga 25 derajat lebih baik jika engkau kerjakan demikian. Beliau ﷺ bersabda:
 
صلاة الرجل تطوعًا حيث لا يراه الناس تعدل صلاته على أعين الناس خمسًا وعشرين درجة
 
“Shalat sunnah yang dikerjakan seseorang di tempat yang tidak dilihat orang lain, senilai 25 kali derajat shalat sunnah yang dia kerjakan di tengah banyak orang.” [HR. Abu Ya’la, Shahih Al-Jami 7269]
 
Selain itu, memperbanyak shalat sunnah dan amalan-amalan sunnah lainnya adalah salah satu jalan termudah jalan untuk meraih kecintaan Allah ﷻ .Dan jika Allah mencintai kita, maka Allah akan beri petunjuk pada pendengaran kita, penglihatan kita, kaki dan tangan kita, serta doa kita pun akan dikabulkan.
 
Dari Abu Hurairah, Nabi ﷺ bersabda:
 
إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِى وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِى بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ
 
“Allah taala berfirman: Barang siapa memerangi wali (kekasih)-Ku, maka Aku akan memeranginya. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan wajib yang Ku-cintai. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan-amalan sunnah, sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan:
• Memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar,
• Memberi petunjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat,
• Memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang,
• Memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan.
• Jika ia memohon(berdoa) sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya.
• Dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya.” [HR. Bukhari 2506]
 
Mari kita perbanyak shalat sunnah kita di rumah. Semoga kita termasuk orang-orang yang dicintai oleh-Nya.
 
 
 
Penyusun | Abdullah bin Suyitno (عبدالله بن صيتن)
 Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

 

 

#sifatsholatNabi #sholat #shalat #solat #salat #keutamaan #fadhilah #keutamaanshalatsunnahdirumah #shalatfardhudmasjidberjamaah #manfaat #25derajat

,

MENGAPA KEDUDUKAN SHALAT ASHAR SANGAT PENTING?

MENGAPA KEDUDUKAN SHALAT ASHAR SANGAT PENTING?
 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
MENGAPA KEDUDUKAN SHALAT ASHAR SANGAT PENTING?
>> Jangan remehkan shalat Ashar
 
Entah karena menyibukkan diri dengan urusan dunia, seperti karena sekolah, kuliah, pekerjaan, atau hanya karena pergi main seperti nonton film atau sepak bola, sebagian kaum Muslimin seringkali menunda-nunda melaksanakan shalat Ashar hingga waktunya hampir habis, atau bahkan tidak mengerjakan shalat Ashar sama sekali. Tentu saja hal ini bertentangan dengan perintah syariat untuk menjaga pelaksanaan semua shalat wajib, termasuk shalat Ashar, sesuai dengan waktunya masing-masing. Bahkan terdapat ancaman khusus bagi mereka yang sengaja meninggalkan shalat Ashar. Tulisan ini disarikan dari kitab Shahih Fiqh Sunnah, jilid 1 hal. 241-242.
 
Perintah Allah Taala untuk Menjaga Shalat Ashar
 
Allah taala berfirman:
 
حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ
 
“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat Wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.” [QS. Al-Baqarah (2): 238]
 
Menurut pendapat yang paling tepat, yang dimaksud dengan “Shalat Wustha” dalam ayat di atas adalah shalat Ashar. Hal ini berdasarkan hadis Nabi ﷺ ketika terjadi perang Ahzab:
 
شَغَلُونَا عَنِ الصَّلَاةِ الْوُسْطَى، صَلَاةِ الْعَصْرِ
 
“Mereka (kaum kafir Quraisy, pent.) telah menyibukkan kita dari shalat Wustha, (yaitu) shalat Ashar.” [HR. Bukhari no. 2931 dan Muslim no. 627. Lafal hadis ini milik Muslim]
 
Dalam ayat di atas, setelah Allah taala memerintahkan untuk menjaga semua shalat wajib secara umum (termasuk di dalamnya yaitu shalat Ashar), maka Allah taala kemudian menyebutkan perintah untuk menjaga shalat Ashar secara khusus. Apabila seseorang dapat menjaga shalat wajibnya, maka dia akan mampu untuk menjaga seluruh bentuk ibadahnya kepada Allah taala. [Taisir Karimir Rahman, hal. 106; karya Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah]
 
Balasan bagi Orang yang Menjaga Shalat Ashar
 
Terdapat hadis khusus yang menyebutkan pahala bagi orang yang menjaga shalat Ashar, yaitu mendapatkan pahala dua kali lipat, dan tidak akan masuk ke Neraka. Abu Bashrah al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu menceritakan, “Rasulullah ﷺ shalat Ashar bersama kami di daerah Makhmash. Kemudian beliau ﷺ bersabda:
 
«إِنَّ هَذِهِ الصَّلَاةَ عُرِضَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَضَيَّعُوهَا، فَمَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا كَانَ لَهُ أَجْرُهُ مَرَّتَيْنِ، وَلَا صَلَاةَ بَعْدَهَا حَتَّى يَطْلُعَ الشَّاهِدُ» ، وَالشَّاهِدُ: النَّجْمُ.
 
‘Sesungguhnya shalat ini (shalat Ashar) pernah diwajibkan kepada umat sebelum kalian, namun mereka menyia-nyiakannya. Barang siapa yang menjaga shalat ini, maka baginya pahala dua kali lipat. Dan tidak ada shalat setelahnya sampai terbitnya Syahid (yaitu bintang).’” [HR. Muslim no. 830]
 
Rasulullah ﷺ bersabda:
 
«لَنْ يَلِجَ النَّارَ أَحَدٌ صَلَّى قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ، وَقَبْلَ غُرُوبِهَا»
 
“Tidak akan masuk Neraka seorang pun yang mengerjakan shalat sebelum matahari terbit (yakni shalat Subuh, pent.) dan sebelum matahari terbenam (yakni shalat Ashar, pent.).” [HR. Muslim no. 634]
 
Ancaman bagi Orang yang Meninggalkan Shalat Ashar
 
Di antara dalil yang menunjukkan pentingnya kedudukan shalat Ashar adalah ancaman, bahwa barang siapa yang meninggalkannya, maka terhapuslah pahala amal yang telah dikerjakannya di hari tersebut. Rasulullah ﷺ bersabda:
 
مَنْ تَرَكَ صَلاَةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ
 
“Barang siapa yang meninggalkan shalat Ashar, maka terhapuslah amalannya.” [HR. Bukhari no. 553, An-Nasa’i 1/83 dan Ahmad 5/349]
 
Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata:
“Yang tampak dari hadis ini – dan Allah lebih mengetahui tentang maksud Rasul-Nya- adalah bahwa, yang dimaksud ‘Meninggalkan’ ada dua kondisi:
 
Pertama: Meninggalkan shalat secara keseluruhan, tidak melaksanakan shalat sama sekali. Maka hal ini menyebabkan terhapusnya seluruh amal.
 
Kedua: Meninggalkan shalat tertentu di hari tertentu. Maka hal ini menyebabkan terhapusnya amal di hari tersebut. Terhapusnya amal secara keseluruhan adalah sebagai balasan karena meninggalkannya secara keseluruhan, dan terhapusnya amal tertentu adalah sebagai balasan karena meninggalkan perbuatan tertentu.” [Ash-Shalah wa Hukmu Taarikiha hal. 43-44]
 
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
 
«الَّذِي تَفُوتُهُ صَلَاةُ الْعَصْرِ، كَأَنَّمَا وُتِرَ أَهْلَهُ وَمَالَهُ»
 
“Orang yang terlewat (tidak mengerjakan) shalat Ashar, seolah-olah dia telah kehilangan keluarga dan hartanya.” [HR. Bukhari no. 552 dan Muslim no. 200, 626]
 
Ketika seseorang kehilangan keluarga dan hartanya, maka dia tidak lagi memiliki keluarga dan harta. Maka ini adalah perumpamaan tentang terhapusnya amal seseorang karena meninggalkan shalat Ashar.
 
Ancaman bagi Orang yang Menunda-nunda Pelaksanaan Shalat Ashar sampai Waktunya Hampir Habis
 
Apabila seseorang mengerjakan shalat Ashar di akhir waktu karena berada dalam kondisi darurat tertentu, maka shalatnya tetap sah, meskipun dia hanya mendapatkan satu rakaat shalat Ashar sebelum waktunya habis. Rasulullah ﷺ bersabda:
 
وَمَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الْعَصْرِ قَبْلَ أَنْ تَغْرُبَ الشَّمْسُ، فَقَدْ أَدْرَكَ الْعَصْرَ
 
“Barang siapa yang mendapati satu rakaat shalat Ashar sebelum matahari terbenam, maka dia telah mendapatkan shalat Ashar.” [HR. Bukhari no. 579 dan Muslim no. 163, 608]
 
Akan tetapi yang menjadi masalah adalah ketika seseorang sengaja menunda-nunda pelaksanaan shalat Ashar sampai waktunya hampis habis, tanpa ada ‘uzur tertentu yang dibenarkan oleh syariat. Atau bahkan hal ini telah menjadi kebiasaannya sehari-hari karena memang meremehkan shalat Ashar. Maka hal ini mirip dengan ciri-ciri orang munafik yang disebutkan oleh Nabi ﷺ dalam sabdanya:
 
«تِلْكَ صَلَاةُ الْمُنَافِقِ، يَجْلِسُ يَرْقُبُ الشَّمْسَ حَتَّى إِذَا كَانَتْ بَيْنَ قَرْنَيِ الشَّيْطَانِ، قَامَ فَنَقَرَهَا أَرْبَعًا، لَا يَذْكُرُ اللهَ فِيهَا إِلَّا قَلِيلًا»
 
“Itulah shalatnya orang munafik, (yaitu) duduk mengamati matahari hingga ketika matahari berada di antara dua tanduk setan (yaitu ketika hampir tenggelam, pent.), dia pun berdiri (untuk mengerjakan shalat Ashar) empat rakaat (secara cepat) seperti patukan ayam. Dia tidak berzikir untuk mengingat Allah, kecuali hanya sedikit saja.” [HR. Muslim no. 622]
 
Dari penjelasan di atas jelaslah bagi kita betapa berbahayanya meninggalkan shalat Ashar atau sengaja menunda-nunda pelaksanaannya hingga hampir di akhir waktunya. Oleh karena itu hendaklah seorang Muslim memerhatikan sungguh-sungguh masalah ini. Misalnya seorang pegawai yang akan pulang ke rumah di sore hari, hendaklah dia memerhatikan, apakah mungkin akan terjebak macet di perjalanan sehingga tiba di rumah ketika sudah Maghrib. Dalam kondisi seperti ini, sebaiknya dia menunaikan shalat Ashar terlebih dahulu sebelum pulang dari kantor. Atau ketika ada suatu acara atau pertemuan di sore hari, hendaknya dipastikan bahwa dia sudah menunaikan shalat Ashar.
 
Semoga tulisan ini menjadi pengingat (terutama) bagi penulis sendiri, dan kaum Muslimin secara umum.
 
 
Penulis: dr. M. Saifudin Hakim, MSc.
[Artikel Muslim.Or.Id]
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

#sifatsholatnabi, #sholat, #shalat, #solat, #salat, #tatacara, #cara, #alasan, #Wustha, #Wustho, #keutamaan, #fadhilah, #fadilah, #pentingnyashalatAshar, #tanduksetan, #shalatorangmunafik

,

MENELADANI PARA SAHABAT NABI DALAM MELURUSKAN DAN MERAPATKAN SHAF SHALAT

MENELADANI PARA SAHABAT NABI DALAM MELURUSKAN DAN MERAPATKAN SHAF SHALAT
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
SEMPURNANYA SHALAT ITU SESUAI RAPAT DAN LURUSNYA SHAF
 
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,
 
Terdapat beberapa riwayat yang menyebutkan anjuran Nabi ﷺ kepada para sahabat untuk merapatkan shaf. Di antaranya:
 
1. Hadis dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ memerintahkan makmumnya:
أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ وَتَرَاصُّوا
 
”Luruskan shaf kalian dan rapatkan.” [HR. Bukhari 719]
 
2. Juga dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ mengucapkan:
 
سوُّوا صُفُوفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصَفِّ مِنْ تَماَمِ الصَّلَاةِ
 
”Luruskan shaf kalian, karena meluruskan shaf bagian dari kesempurnaan shalat.” [HR. Muslim 433]
 
3. Hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ memerintahkan:
 
أقيموا الصَفِّ فِي الصَّلَاةِ فَإِنَّ إِقَامَةَ الصَفِّ مِنْ حُسْنِ الصَّلَاةِ
 
Luruskan shaf dalam shalat, karena meluruskan shaf bagian dari kesempurnaan shalat. [HR. Muslim 435]
 
4. Hadis dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ memerintahkan:
 
اِسْتَوُّوا وَلَا تَـخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ
 
Luruskan, dan jangan berselisih (dalam lurusnya shaf), sehingga hati kalian menjadi berselisih.
 
Kata Ibnu Mas’ud, Rasulullah ﷺ memerintahkan di atas, sambil mengusap pundak-pundak makmum. [HR. Muslim 122]
 
5. Hadis dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ memerintahkan:
 
أَقِيمُوا الصُّفُوفَ وَحَاذُوا بَيْنَ الْمَنَاكِبِ وَسُدُّوا الْخَلَلَ وَلِينُوا بِأَيْدِي إِخْوَانِكُمْ وَلَا تَذَرُوا فُرُجَاتٍ لِلشَّيْطَانِ
 
”Luruskan shaf, rapatkan pundak, dan tutup celah, perlunak pundak kalian untuk saudaranya, dan jangan tinggalkan celah untuk setan.” [HR. Abu Daud 666 dan dishahihkan al-Albani]
 
Makna: “Perlunak pundak kalian untuk saudaranya” adalah hendaknya dia mempemudah setiap orang yang masuk shaf, dengan berusaha agar pundaknya tidak mengganggu orang lain.
 
6. Hadis Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ memerintahkan:
 
أَتِـمُّوْا الصَّفَّ الـمُقَدَّمَ، ثُمَّ الَّذِي يَلِيْهِ
 
“Penuhi shaf depan, kemudian shaf berikutnya…” [HR. Abu Daud 671 dan dishahihkan al-Albani]
 
Dan masih terdapat beberapa riwayat lainnya, yang itu semua menunjukkan betapa besar perhatian Nabi ﷺ terhadap kesempurnaan shalat jamaah, yang meliputi lurus dan rapatnya shaf, terpenuhinya shaf terdepan, tidak boleh ada yang berbeda, tidak mengganggu sesama jamaah, dst.
 
Apa Hukum Merapatkan dan Meluruskan Shaf dalam Shalat Berjamaah?
 
Jumhur Ulama (Mayoritas) berpandangan, bahwa hukum meluruskan shaf adalah sunnah. Sedangkan Ibnu Hazm, Imam Bukhari, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Asy Syaukani menganggap meluruskan shaf itu wajib. Dalil kalangan yang mewajibkan adalah berdasarkan riwayat An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
 
لَتُسَوُّنَّ صُفُوفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللَّهُ بَيْنَ وُجُوهِكُمْ
 
“Hendaknya kalian meluruskan shaf kalian, atau tidak Allah akan membuat wajah kalian berselisih.” [HR. Bukhari no. 717 dan Muslim no. 436]
 
Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Tidak lurusnya shaf akan menimbulkan permusuhan dan kebencian, serta membuat hati kalian berselisih.” [Syarh Muslim, 4: 157]
 
Dalil dari hadis Anas bin Malik:
 
عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ فَإِنِّى أَرَاكُمْ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِى » . وَكَانَ أَحَدُنَا يُلْزِقُ مَنْكِبَهُ بِمَنْكِبِ صَاحِبِهِ وَقَدَمَهُ بِقَدَمِهِ
 
“Dari Anas, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: ”Luruskanlah shaf kalian. Aku melihat kalian dari belakang punggungku.” Lantas salah seorang di antara kami melekatkan pundaknya pada pundak temannya, lalu kakinya pada kaki temannya.” [HR. Bukhari no. 725]
 
 
Sumber:
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#sifatsholatNabi, #sholat, #shalat, #solat, #salat, #tatacara, #cara, #rapatkan, #luruskan, #merapatkan, #meluruskan, #saff, #shaff, #sof, #shoff, #barisan, #jamaah, #berjamaah, #hukum #dalildalil, #perintah, #anjuran, #menganjurkan