Posts

, ,

GERHANA TIDAK TERLIHAT BERARTI TIDAK ADA SHALAT GERHANA

GERHANA TIDAK TERLIHAT BERARTI TIDAK ADA SHALAT GERHANA
GERHANA TIDAK TERLIHAT BERARTI TIDAK ADA SHALAT GERHANA
 
Karena shalat gerhana ini dikaitkan dengan PENGLIHATAN, BUKAN berdasarkan HISAB hisab atau hasil perkiraan ILMU FALAK atau ASTRONOMI. Nabi ﷺ bersabda:
 
فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَافْزَعُوا إِلَى الصَّلاَةِ
“Jika kalian melihat gerhana tersebut (matahari atau bulan) , maka bersegeralah untuk melaksanakan shalat.” [HR. Bukhari no. 1047]
 
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin pernah ditanya, “Apa hukum jika gerhana matahari tertutup awam mendung, namun sudah dinyatakan di berbagai surat kabar sebelum itu, bahwa nanti akan terjadi gerhana dengan izin Allah, pada jam sekian dan sekian. Apakah shala gerhana tetap dilaksanakan walau tidak terlihat gerhana?”
 
Syaikh rahimahullah menjawab:
“TIDAK BOLEH berpatokan pada berbagai berita yang tersebar atau berpatokan semata-mata dengan berita dari para astronom. Jika langit itu mendung, maka tidak ada shalat gerhana karena Nabi ﷺ mengaitkan hukum dengan penglihatan (rukyat). Nabi ﷺ bersabda, “Jika kalian melihat terjadinya gerhana, maka segeralah shalat.” Suatu hal yang mungkin, Allah menyembunyikan penglihatan gerhana pada satu daerah, lalu menampakkannya pada daerah lain. Ada hikmah di balik itu semua.” [Sumber: Saaid.Net]
 
Sehingga jika ada yang shalat gerhana padahal cuma melihat di TV atau berpatokan pada berita saja, nyatanya di daerahnya sendiri tidak nampak gerhana karena tertutup mendung, maka ia telah KELIRU.
 
Hanya Allah yang memberi taufik.
 
#fatwaulama #sifatsholatnabi #shalat #sholat #salat #solat #Khusuf #Kusuf #gerhanabulan #gerhanamatahari #penglihatan #bukanastronomiilmufalak #tertutupmendung #hujan

DARI KEAJAIBAN SEDEKAH

DARI KEAJAIBAN SEDEKAH

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#MutiaraSunnah

DARI KEAJAIBAN SEDEKAH

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

بَيْنَا رَجُلٌ بِفَلَاةٍ مِنَ الْأَرْضِ، فَسَمِعَ صَوْتًا فِي سَحَابَةٍ: اسْقِ حَدِيقَةَ فُلَانٍ، فَتَنَحَّى ذَلِكَ السَّحَابُ، فَأَفْرَغَ مَاءَهُ فِي حَرَّةٍ، فَإِذَا شَرْجَةٌ مِنْ تِلْكَ الشِّرَاجِ قَدِ اسْتَوْعَبَتْ ذَلِكَ الْمَاءَ كُلَّهُ، فَتَتَبَّعَ الْمَاءَ، فَإِذَا رَجُلٌ قَائِمٌ فِي حَدِيقَتِهِ يُحَوِّلُ الْمَاءَ بِمِسْحَاتِهِ، فَقَالَ لَهُ: يَا عَبْدَ اللهِ مَا اسْمُكَ؟ قَالَ: فُلَانٌ – لِلِاسْمِ الَّذِي سَمِعَ فِي السَّحَابَةِ – فَقَالَ لَهُ: يَا عَبْدَ اللهِ لِمَ تَسْأَلُنِي عَنِ اسْمِي؟ فَقَالَ: إِنِّي سَمِعْتُ صَوْتًا فِي السَّحَابِ الَّذِي هَذَا مَاؤُهُ يَقُولُ: اسْقِ حَدِيقَةَ فُلَانٍ، لِاسْمِكَ، فَمَا تَصْنَعُ فِيهَا؟ قَالَ: أَمَّا إِذْ قُلْتَ هَذَا، فَإِنِّي أَنْظُرُ إِلَى مَا يَخْرُجُ مِنْهَا، فَأَتَصَدَّقُ بِثُلُثِهِ، وَآكُلُ أَنَا وَعِيَالِي ثُلُثًا، وَأَرُدُّ فِيهَا ثُلُثَهُ

“Tatkala seorang lelaki berada di tanah lapang, dia mendengar suara di awan:

‘Berilah air ke kebun Fulan’. Maka awan itu menjauh, lalu menuangkan airnya suatu tanah yang memiliki batu hitam nan keras. Ternyata sebuah aliran air pada aliran-aliran (pada tanah tersebut) telah menampung seluruh air. (Lelaki tersebut) mengikuti air itu. Ternyata seorang berdiri di kebunnya memindahkan air tersebut dengan timba besi.

(Lelaki tersebut) berkata: ‘Wahai hamba Allah, siapakan namamu?’

Dia berkata: ‘Fulan’ sesuai nama yang dia dengan di awan.

Orang tersebut balik bertanya: ‘Kenapa engkau bertanya tentang namaku?’

(Orang pertama) menjawab: ‘Saya mendengar suara berkata di awan yang air ini turun darinya: ‘Beri aliran air untuk kebun Fulan’ dengan namamu. Apakah yang engkau lakukan pada kebunmu?’

Orang tersebut menjawab: ‘Karena engkau telah mengucapkan hal tersebut, maka sungguh saya melihat kepada hasil yang keluar dari (kebun ini). Saya sedekahkan sepertiganya, saya dan keluargaku memakan sepertiganya, dan saya kembalikan ke (kebun ini) sepertiganya. ” [Diriwayatkan oleh Muslim]

 

Penulis: Al-Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah

@dzulqarnainms

, , ,

DOA AGAR HUJAN BERHENTI: DOA AGAR HUJAN REDA DAN DIALIHKAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
#DoaZikir
 
DOA AGAR HUJAN BERHENTI: DOA AGAR HUJAN REDA DAN DIALIHKAN
, ,

APAKAH SETIAP BERDOA KITA HARUS SELALU MENGANGKAT TANGAN?

APAKAH SETIAP BERDOA KITA HARUS SELALU MENGANGKAT TANGAN?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi
#DoaZikir

APAKAH SETIAP BERDOA KITA HARUS SELALU MENGANGKAT TANGAN?

Inilah yang masih belum dipahami sebagian orang. Mereka menganggap, bahwa setiap berdoa harus mengangkat tangan, semacam ketika berdoa sesudah shalat. Untuk lebih jelas marilah kita melihat beberapa penjelasan berikut.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah pernah ditanyakan, “Bagaimanakah kaidah (dhobith) mengangkat tangan ketika berdoa?” [Liqo’at Al Bab Al Maftuh, 51/13, Asy Syabkah Al Islamiyah]. Beliau rahimahullah menjawab dengan rincian yang amat bagus: Mengangkat tangan ketika berdoa ada tiga keadaan:

Pertama: Ada dalil yang menunjukkan untuk mengangkat tangan
Kondisi ini menunjukkan dianjurkannya mengangkat tangan ketika berdoa. Contohnya adalah ketika berdoa meminta diturunkannya hujan. Jika seseorang meminta hujan pada khutbah Jumat atau khutbah shalat istisqo’, maka dia hendaknya mengangkat tangan. Contoh lainnya adalah mengangkat tangan ketika berdoa di Bukit Shofa dan Marwah, berdoa di Arofah, berdoa ketika melempar Jumroh Al Ula pada hari-hari Tasyriq dan juga Jumroh Al Wustho.

Oleh karena itu, ketika menunaikan haji ada enam tempat (yang dianjurkan) untuk mengangkat tangan (ketika berdoa) yaitu:

[1] Ketika berada di Shofa,
[2] Ketika berada di Marwah,
[3] Ketika berada di Arofah,
[4] Ketika berada di Muzdalifah setelah shalat Subuh,
[5] Di Jumroh Al Ula di hari-hari Tasyriq,
[6] Di Jumroh Al Wustho di hari-hari Tasyriq.

Kondisi semacam ini tidak diragukan lagi dianjurkan untuk mengangkat tangan ketika itu, karena adanya petunjuk dari Nabi ﷺ mengenai hal ini.

Kedua: Tidak ada dalil yang menunjukkan untuk mengangkat tangan
Contohnya adalah doa di dalam shalat. Nabi ﷺ biasa membaca doa Istiftah: Allahumma ba’id baini wa baina khothoyaya kama ba’adta bainal masyriqi wal maghribi …; juga membaca doa duduk di antara dua sujud: Robbighfirli; juga berdoa ketika tasyahud akhir; namun beliau ﷺ tidak mengangkat tangan pada semua kondisi ini. Begitu pula dalam khutbah Jumat, beliau ﷺ berdoa, namun beliau ﷺ tidak mengangkat kedua tangannya, kecuali jika meminta hujan (ketika khutbah tersebut). Barang siapa mengangkat tangan dalam kondisi-kondisi ini dan semacamnya, maka dia telah terjatuh dalam perkara yang diada-adakan dalam agama (alias bid’ah) dan melakukan semacam ini terlarang.
Ketiga: Tidak ada dalil yang menunjukkan mengangkat tangan ataupun tidak
Maka hukum asalnya adalah mengangkat tangan, karena ini termasuk adab dalam berdoa. Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ:

“Sesunguhnya Allah Maha Pemalu lagi Maha Mulia. Dia malu terhadap hamba-Nya, jika hamba tersebut menengadahkan tangan kepada-Nya , lalu kedua tangan tersebut kembali dalam keadaan hampa..” [HR. Abu Daud no. 1488 dan At Tirmidzi no. 3556. Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abi Daud mengatakan, bahwa hadis ini Shohih].

Nabi ﷺ juga pernah menceritakan seseorang yang menempuh perjalanan jauh dalam keadaan kusut dan penuh debu, lalu dia mengangkat kedua tangannya ke langit seraya mengatakan: “Wahai Rabbku! Wahai Rabbku!” Padahal makanannya itu haram, pakaiannya haram, dan dia dikenyangkan dari yang haram. Bagaimana mungkin doanya bisa dikabulkan? [HR. Muslim no. 1015]. Dalam hadis tadi, Nabi ﷺ menjadikan mengangkat kedua tangan sebagai sebab terkabulnya doa. Inilah pembagian keadaan dalam mengangkat tangan ketika berdoa.

Namun ketika keadaan kita mengangkat tangan, apakah setelah memanjatkan doa diperbolehkan mengusap wajah dengan kedua tangan? Yang lebih tepat adalah tidak mengusap wajah dengan kedua telapak tangan sehabis berdoa, karena hadis yang menjelaskan hal ini adalah hadis yang lemah (Dho’if), yang tidak dapat dijadikan hujjah (dalil). Apabila kita melihat seseorang membasuh wajahnya dengan kedua tangannya setelah selesai berdoa, maka hendaknya kita jelaskan padanya, bahwa yang termasuk petunjuk Nabi ﷺ adalah tidak mengusap wajah setelah selesai berdoa, karena hadis yang menjelaskan hal ini adalah hadis yang lemah (Dho’if).

Hukum Mengangkat Tangan untuk Berdoa Sesudah Shalat Fardhu

Pembahasan berikut adalah mengenai hukum mengangkat tangan untuk berdoa, sesudah shalat fardhu. Berdasarkan penjelasan di atas, kita telah mendapat pencerahan, bahwa memang mengangkat tangan ketika berdoa adalah salah satu sebab terkabulnya doa. Namun apakah ini berlaku dalam setiap kondisi? Sebagaimana penjelasan Syaikh Ibnu Utsaimin di atas, bahwa hal ini tidak berlaku pada setiap kondisi. Ada beberapa contoh dari Nabi ﷺ yang menunjukkan, bahwa beliau tidak mengangkat tangan ketika berdoa. Agar lebih jelas, mari kita perhatikan penjelasan Syaikh Ibnu Baz mengenai hukum mengangkat tangan ketika berdoa sesudah shalat. Beliau rahimahullah dalam Majmu’ Fatawanya (11/181) mengatakan:

Tidak disyariatkan untuk mengangkat kedua tangan (ketika berdoa) pada kondisi yang kita tidak temukan di masa Nabi ﷺ mengangkat tangan pada saat itu. Contohnya adalah berdoa ketika selesai shalat lima waktu, ketika duduk di antara dua sujud (membaca doa robbighfirli, pen) dan ketika berdoa sebelum salam, juga ketika khutbah Jumat atau shalat ‘Ied. Dalam kondisi seperti ini, hendaknya kita tidak mengangkat tangan (ketika berdoa), karena memang Nabi ﷺ tidak melakukan demikian. Padahal beliau ﷺ adalah suri tauladan kita dalam hal ini. Namun ketika meminta hujan pada saat khutbah Jumat atau khutbah ‘Ied, maka disyariatkan untuk mengangkat tangan, sebagaimana dilakukan oleh Nabi ﷺ.

Maka ingatlah kaidah yang disampaikan oleh beliau rahimahullah dalam Majmu’ Fatawanya (11/181) berikut:

“Kondisi yang menunjukkan, bahwa Nabi ﷺ tidak mengangkat tangan, maka tidak boleh bagi kita untuk mengangkat tangan. Karena perbuatan Nabi ﷺ termasuk sunnah. Begitu pula apa yang beliau tinggalkan juga termasuk sunnah.”

Bagaimana Jika Tetap Ingin Berdoa Sesudah Shalat Fardhu?

Ini dibolehkan, namun setelah berzikir, dan dengan catatan TIDAK dengan mengangkat tangan. Syaikh Ibnu Baz rahimahullah dalam Majmu’ Fatawanya (11/178) mengatakan:

“Begitu pula berdoa sesudah shalat lima waktu setelah selesai berzikir, maka tidak terlarang untuk berdoa ketika itu, karena terdapat hadis yang menunjukkan hal ini. Namun perlu diperhatikan, bahwa TIDAK perlu mengangkat tangan ketika itu. Alasannya, karena Nabi ﷺ tidak melakukan demikian. Wajib bagi setiap Muslim senantiasa untuk berpedoman pada Al-Kitab dan As-Sunnah dalam setiap keadaan, dan berhati-hati dalam menyelisihi keduanya. Wallahu waliyyut taufik.”

Mengangkat Tangan Untuk Berdoa Sesudah Shalat Sunnah

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah dalam Majmu’ Fatawanya (11/181) mengatakan:

Adapun shalat sunnah, maka aku tidak mengetahui adanya larangan mengangkat tangan ketika berdoa setelah selesai shalat. Hal ini berdasarkan keumuman dalil. Namun lebih baik berdoa sesudah selesai shalat sunnah tidak dirutinkan. Alasannya, karena tidak terdapat dalil yang menjelaskan, bahwa Nabi ﷺ melakukan hal ini. Seandainya beliau ﷺ melakukannya, maka hal tersebut akan dinukil kepada kita, karena kita ketahui, bahwa para sahabat –radhiyallahu ‘anhum jami’an- rajin untuk menukil setiap perkataan atau perbuatan beliau ﷺ, baik ketika bepergian atau tidak, atau kondisi lainnya.

Adapun hadis yang masyhur (sudah tersohor di tengah-tengah umat), bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Di dalam shalat, seharusnya engkau merendahkan diri dan khusyu’. Lalu hendaknya engkau mengangkat kedua tanganmu (sesudah shalat), lalu katakanlah: Wahai Rabbku! Wahai Rabbku!” Hadis ini adalah hadis yang Dho’if (lemah), sebagaimana hal ini dijelaskan oleh Ibnu Rajab dan ulama lainnya. Wallahu waliyyut taufiq.

Semoga Allah senantiasa memberikan pada kita ilmu yang bermanfaat, rezeki yang thoyib dan amalan yang diterima.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal hafizhahullahu ta’ala

Sumber: https://rumaysho.com/39-apakah-setiap-berdoa-harus-mengangkat-tangan.html

,

PANDUAN SHALAT JAMA’ DAN QASHAR

PANDUAN SHALAT JAMA’ DAN QASHAR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

PANDUAN SHALAT JAMA’ DAN QASHAR

Shalat Jama’ maksudnya melaksanakan dua shalat wajib dalam satu waktu. Seperti melakukan shalat Zuhur dan shalat Ashar di waktu Zuhur dan itu dinamakan Jama’ Taqdim, atau melakukannya di waktu Ashar dan dinamakan Jama’ Takhir. Dan melaksanakan shalat Magrib dan shalat Isya’ bersamaan di waktu Magrib atau melaksanakannya di waktu Isya’.

Jadi shalat yang boleh dijama’ adalah semua shalat fardhu, kecuali shalat Subuh. Shalat Subuh harus dilakukan pada waktunya, tidak boleh dijama’ dengan shalat Isya’ atau shalat Zuhur.

Sedangkan shalat Qashar maksudnya meringkas shalat yang empat rakaat menjadi dua rakaat. Seperti shalat Zuhur, Ashar dan Isya’. Sedangkan shalat Magrib dan shalat Subuh tidak bisa diqashar.

Shalat Jama’ dan Qashar merupakan keringanan yang diberikan Allah subhanahu wata’ala, sebagaimana firman-Nya:

“Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu mengqashar shalatmu” (QS. Annisa: 101).

Dan itu merupakan sedekah (pemberian) dari Allah subhanahu wata’ala  yang disuruh oleh Rasulullah ﷺ untuk menerimanya. [HR.Muslim]

Shalat Jama’ lebih umum daripada shalat Qashar, karena mengqashar shalat hanya boleh dilakukan oleh orang yang sedang bepergian (musafir). Sedangkan menjama’ shalat bukan saja hanya untuk orang musafir, tetapi boleh juga dilakukan orang yang sedang sakit, atau karena hujan lebat atau banjir, yang menyulitkan seorang Muslim untuk bolak- balik ke masjid. Dalam keadaan demikian, kita dibolehkan menjama’ shalat.

Ini berdasarkan hadis Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, bahwasanya Rasulullah ﷺ menjama’ shalat Zuhur dengan Ashar, dan shalat Maghrib dengan Isya’ di Madinah. Imam Muslim menambahkan: “Bukan karena takut, hujan dan musafir”.

Seorang musafir baru boleh memulai melaksanakan shalat Jama’ dan Qashar, apabila ia telah keluar dari kampung atau kota tempat tinggalnya. Ibnu Munzir mengatakan: “Saya tidak mengetahui Nabi menjama’ dan mengqashar shalatnya dalam musafir, kecuali setelah keluar dari Madinah”. Dan Anas menambahkan: “Saya shalat Zuhur bersama Rasulullah ﷺ di Madinah empat rakaat dan di Dzulhulaifah (sekarang Bir Ali berada di luar Madinah) dua rakaat. [HR. Bukhari Muslim]

Seorang yang menjama’ shalatnya karena musafir, tidak mesti harus mengqashar shalatnya; begitu juga sebaliknya. Karena boleh saja ia mengqashar shalatnya dengan tidak menjama’nya. Seperti melakukan shalat Zuhur dua rakaat di waktunya dan shalat Ashar dua rakaat di waktu Ashar.

Dan seperti ini lebih afdhal bagi mereka yang musafir, namun bukan dalam perjalanan. Seperti seorang yang berasal dari Surabaya bepergian ke Sulawesi. Selama ia di sana ia boleh mengqashar shalatnya dengan tidak menjama’nya, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi ﷺ ketika berada di Mina. Walaupun demikian, boleh-boleh saja dia menjama’ dan mengqashar shalatnya ketika ia musafir, seperti yang dilakukan oleh Nabi ﷺ ketika berada di Tabuk. Tetapi ketika dalam perjalanan, lebih afdhal menjama’ dan mengqashar shalat, karena yang demikian lebih ringan dan seperti yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ.

Menurut Jumhur (Mayoritas) Ulama’, seorang musafir yang SUDAH MENENTUKAN LAMA MUSAFIRNYA LEBIH DARI EMPAT HARI, maka ia tidak boleh mengqashar shalatnya. Tetapi kalau waktunya empat hari atau kurang, maka ia boleh mengqasharnya. Seperti yang dilakukan oleh Rasulullah  ﷺ ketika haji Wada’. Beliau ﷺ tinggal selama 4 hari di Mekkah dengan menjama’ dan mengqashar shalatnya.

Adapun seseorang yang belum menentukan berapa hari dia musafir, atau belum jelas kapan dia bisa kembali ke rumahnya, maka dibolehkan menjama’ dan mengqashar shalatnya. Inilah yang dipegang oleh Mayoritas Ulama, berdasarkan apa yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ. Ketika penaklukkan kota Mekkah, beliau ﷺ tinggal sampai sembilan belas hari, atau ketika Perang Tabuk sampai dua puluh hari, beliau ﷺ mengqashar shalatnya [HR. Abu Daud. Ini disebabkan karena ketidaktahuan kapan musafirnya berakhir. Sehingga seorang yang mengalami ketidakpastian jumlah hari dia musafir, boleh saja menjama’ dan mengqashar shalatnya [Fiqhussunah I/241].

Bagi orang yang melaksanakan Jama’ Taqdim, diharuskan untuk melaksanakan langsung shalat kedua, setelah selesai dari shalat pertama. Berbeda dengan Jama’ Ta’khir, tidak mesti Muwalah ( langsung berturut-turut). Karena waktu shalat kedua dilaksanakan pada waktunya. Seperti orang yang melaksanakan shalat Zuhur diwaktu Ashar, setelah selesai melakukan shalat Zuhur, boleh saja dia istirahat dulu, kemudian dilanjutkan dengan shalat Ashar. Walaupun demikian, melakukannya dengan cara berturut –turut lebih afdhal, karena itulah yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ.

Seorang musafir boleh berjamaah dengan Imam yang mukim (tidak musafir). Begitu juga ia boleh menjadi imam bagi makmum yang mukim. Kalau dia menjadi makmum pada imam yang mukim, maka ia harus mengikuti imam, dengan melakukan shalat Itmam (tidak mengqashar). Tetapi kalau dia menjadi Imam, maka boleh saja mengqashar shalatnya, dan makmum menyempurnakan rakaat shalatnya setelah imammya salam.

Dan sunah bagi musafir untuk TIDAK MELAKUKAN Shalat Sunah Rawatib (shalat sunah sesudah dan sebelum shalat wajib), kecuali Qobliyah Subuh, dan juga Shalat Witir dan Tahajjud, karena Rasulullah ﷺ  selalu melakukannya, baik dalam keadaan musafir atau mukim. Begitu juga shalat- shalat sunah yang ada penyebabnya, seperti shalat Tahiyatul Masjid, Shalat Gerhana, dan Shalat Janazah (maka boleh dilakukan – penj).

Wallahu a’lam bis Shawaab.

Referensi:
Fatawa As-Sholat, Syeikh Abd. Aziz bin Baz
Al-Wajiz fi Fiqh As-Sunnah wal kitab Al-Aziz, Abd. Adhim bin Badawi Al-Khalafi
http://abusalma.wordpress.com/2006/12/04/shalat-jama%E2%80%99-dan-qashar/

Untuk lengkapnya, silakan klik link berikut ini:

http://pepisusanti.blogspot.co.id/2013/02/panduan-shalat-jama-dan-qashar.html

,

FATWA MUI TENTANG UCAPAN SELAMAT NATAL

FATWA MUI TENTANG UCAPAN SELAMAT NATAL

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

#SelamatkanAkidahmu

FATWA MUI TENTANG UCAPAN SELAMAT NATAL

Natal, menjadi perayaan paling sakral dalam agama Nasrani. Menyampaikan ucapan selamat untuk Natal, berarti telah memasuki ranah prinsip agama non-Muslim. Ribuan fatwa ulama kontemporer melarangnya, meskipun ratusan komentar dari ‘Muslim Liberal’ datang menyanggah. Namun kita anggap fenomena ini hal yang wajar, karena kehadiran generasi ’Muslim Liberal’, tidak lepas dari konspirasi Barat untuk mengaburkan kaum Muslimin dari ajaran agamanya. Karena itu, SUNGGUH TIDAK BISA DIBENARKAN, ketika komentar para ’Muslim Liberal’ itu dijadikan rujukan.

Imam as-Syafii pernah menasihati:

رضا الناس غاية لا تدرك

“Kerelaan semua orang adalah cita-cita yang tidak mungkin bisa dicapai.”

Sekalipun MUI telah mengeluarkan fatwa ini sejak 1981, tarik-ulur dan hujan kritik tidak pernah berhenti. Tidak hanya dari masyarakat luar, juga dari anggota MUI sendiri. Beberapa anggota MUI yang terjangkiti ’Penyakit Liberal’ berusaha menganulir fatwa itu. Tapi apalah daya, fatwa itu sudah ditetapkan dan disebarkan. Menolak keabsahan fatwa itu, sama dengan membantah realita sejarah. Tapi apa boleh buat, jika MUI menetapkan fatwa harus menimbang pendapat semua orang, MUI tidak akan berfungsi dengan semestinya.

MUI (Majelis Ulama Indonesia) pada 1981, sebelum mengeluarkan fatwanya, terlebih dahulu mengemukakan dasar-dasar ajaran Islam, dengan disertai berbagai dalil baik dari Alquran maupun Hadis Nabi SAW (Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, red) sebagai berikut:

  • Bahwa umat Islam diperbolehkan untuk bekerja sama dan bergaul dengan umat agama-agama lain dalam masalah-masalah yang berhubungan dengan masalah keduniaan.
  • Bahwa umat Islam TIDAK BOLEH mencampur-adukkan agamanya dengan akidah dan peribadatan agama lain.
  • Bahwa umat Islam harus mengakui ke-Nabian dan ke-Rasulan Isa Almasih bin Maryam, sebagaimana pengakuan mereka kepada para Nabi dan Rasul yang lain.
  • Bahwa barang siapa berkeyakinan bahwa Tuhan itu lebih dari satu, Tuhan itu memunyai anak dan Isa Almasih itu anaknya, maka orang itu KAFIR dan MUSYRIK.
  • Bahwa Allah pada Hari Kiamat nanti akan menanyakan Isa, apakah dia pada waktu di dunia menyuruh kaumnya agar mereka mengakui Isa dan Ibunya (Maryam) sebagai Tuhan? Isa menjawab: Tidak.
  • Islam mengajarkan bahwa Allah SWT (Subhanahu wa Ta’ala, red) itu hanya satu.
  • Islam mengajarkan umatnya untuk menjauhkan diri dari hal-hal yang syubhat dan dari larangan Allah SWT (Subhanahu wa Ta’ala, red)serta untuk mendahulukan menolak kerusakan daripada menarik kemaslahatan.

Juga berdasarkan Kaidah Ushul Fikih

”Menolak kerusakan-kerusakan itu didahulukan daripada menarik kemaslahatan-kemaslahan (Jika tidak demikian, sangat mungkin mafasidnya yang diperoleh, sedangkan mushalihnya tidak dihasilkan)”.

Untuk kemudian MUI mengeluarkan fatwanya berisi:

  1. Perayaan Natal di Indonesia meskipun tujuannya merayakan dan menghormati Nabi Isa ‘alaihissalam, akan tetapi Natal itu tidak dapat dipisahkan dari soal-soal yang diterangkan di atas.
  2. Mengikuti upacara Natal bersama bagi umat Islam hukumnya HARAM.
  3. Agar umat Islam tidak terjerumus kepada syubhat dan larangan Allah Subhanahu Wata’ala, dianjurkan untuk TIDAK MENGIKUTI KEGIATAN-KEGIATAN PERAYAAN Natal.

Semoga Allah memberi petunjuk kepada kita di jalan yang lurus. Aamiin

 

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembinawww.KonsultasiSyariah.com)

 

Sumber: https://konsultasisyariah.com/21391-fatwa-mui-dan-sikap-ulama-terhadap-Natal.html

,

APA HUKUM DOA DAN ZIKIR SECARA BERJAMAAH?

APA HUKUM DOA DAN ZIKIR SECARA BERJAMAAH?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir

APA HUKUM DOA DAN ZIKIR SECARA BERJAMAAH?

Pertanyaan:

Sekarang banyak sekali kaum Muslimin berdoa dan zikir bersama, baik itu untuk keluarganya, kaum Muslimin, bahkan untuk pemimpin. Adakah secara sunnah yang benar, amalan-amalan tersebut?

Jawaban:

Berdoa bersama, kalau yang dimaksud adalah satu orang berdoa, sedangkan yang lain mengamini, maka ini ada dua keadaan:

Pertama:

Hal tersebut dilakukan pada amalan yang memang disyariatkan doa bersama, maka berdoa bersama dalam keadaan seperti ini disyariatkan, seperti di dalam shalat Al-Istisqa’ (minta hujan), dan Qunut.

Kedua:

Hal tersebut dilakukan pada amalan yang tidak ada dalilnya dilakukan doa bersama di dalamnya, seperti berdoa bersama setelah shalat fardhu, setelah majelis ilmu, setelah membaca Alquran dll, maka ini boleh, jika dilakukan kadang-kadang, dan tanpa kesengajaan. Namun kalau dilakukan terus-menerus maka menjadi bid’ah.

Imam Ahmad bin Hambal pernah ditanya:

يكره أن يجتمع القوم يدعون الله سبحانه وتعالى ويرفعون أيديهم؟

“Apakah diperbolehkan sekelompok orang berkumpul, berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dengan mengangkat tangan?”

Maka beliau mengatakan:

ما أكرهه للإخوان إذا لم يجتمعوا على عمد، إلا أن يكثروا

“Aku tidak melarangnya, jika mereka tidak berkumpul dengan sengaja, kecuali kalau terlalu sering.” (Diriwayatkan oleh Al-Marwazy di dalam Masail Imam Ahmad bin Hambal wa Ishaq bin Rahuyah 9/4879)

Berkata Al-Marwazy:

وإنما معنى أن لا يكثروا: يقول: أن لا يتخذونها عادة حتى يعرفوا به

“Dan makna “Jangan terlalu sering” adalah jangan menjadikannya sebagai kebiasaan, sehingga dikenal oleh manusia dengan amalan tersebut.” (Masail Imam Ahmad bin hambal wa Ishaq bin Rahuyah 9/4879).

Adapun zikir bersama, dipimpin oleh seseorang, kemudian yang lain mengikuti secara bersama-sama, maka ini termasuk bid’ah, TIDAK ADA DALILNYA dan TIDAK DIAMALKAN PARA SALAF. Bahkan mereka mengingkari zikir dengan cara seperti ini, sebagaimana dalam kisah Abdullah bin Mas’ud, ketika beliau mendatangi sekelompok orang di masjid yang sedang berzikir secara berjamaah, maka beliau mengatakan:

مَا هَذَا الَّذِي أَرَاكُمْ تَصْنَعُونَ ؟ … وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ ، مَا أَسْرَعَ هَلَكَتِكُمْ ، هَؤُلاَءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ صلى الله عليه وسلم مُتَوَافِرُونَ ، وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ ، وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْ ، وَالَّذِي نَفْسِي فِي يَدِهِ ، إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِيَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ ؟! أَوْ مُفْتَتِحُوا بَابَ ضَلاَلَةٍ ؟

“Apa yang kalian lakukan?! Celaka kalian wahai ummat Muhammad. Betapa cepatnya kebinasaan kalian. Para sahabat nabi kalian masih banyak, dan ini pakaian beliau juga belum rusak, perkakas beliau juga belum pecah. Demi Dzat yang jiwaku ada di tangannya, kalian ini berada di atas agama yang lebih baik dari agama Muhammad? Atau kalian sedang membuka pintu kesesatan? (Diriwayatkan oleh Ad-Darimy di dalam Sunannya no. 2o4, dan dishahihkan sanadnya oleh Syeikh Al-Al-Albany di dalam Ash-Shahihah 5/12)

Berkata Asy-Syathiby rahimahullah:

فإذا ندب الشرع مثلا إلى ذكر الله فالتزم قوم الاجتماع عليه على لسان واحد وبصوت أو في وقت معلوم مخصوص عن سائر الأوقات ـ لم يكن في ندب الشرع ما يدل على هذا التخصيص الملتزم بل فيه ما يدل على خلافه لأن التزام الأمور غير اللازمة شرعا شأنها أن تفهم التشريع وخصوصا مع من يقتدى به في مجامع الناس كالمساجد

“Jika syariat telah menganjurkan untuk zikrullah misalnya, kemudian sekelompok orang membiasakan diri mereka berkumpul untuknya (zikrullah) dengan satu lisan dan satu suara, atau pada waktu tertentu yang khusus, maka tidak ada di dalam anjuran syariat, yang menunjukkan pengkhususan ini. Justru di dalamnya ada hal yang menyelisihinya, karena membiasakan perkara yang tidak lazim secara syariat, akan dipahami bahwa itu adalah syariat, khususnya kalau dihadiri oleh orang yang dijadikan teladan di tempat-tempat berkumpulnya manusia seperti masjid-masjid.” (Al-I’tisham 2/190)

Wallahu a’lam.

Al-Ustadz Abdullah Roy, Lc hafizhahullah

 

Sumber:

tanyajawabagamaislam.blogspot.com

https://konsultasisyariah.com/805-apa-hukum-doa-dan-zikir-secara-berjamaah.html

 

,

JANGAN MINTA RUQYAH

JANGAN MINTA RUQYAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Dakwah_Tauhid

#DoaZikir

JANGAN MINTA RUQYAH

Hukum Meruqyah

Meruqyah orang yang sakit termasuk amal saleh, selama tidak mengandung perkara yang terlarang. Sahabat yang Mulia Jabir bin Abdullah radhiyallahu’anhuma berkata:

“Seseorang dari kami pernah disengat oleh kalajengking, dan ketika itu kami sedang bermajelis bersama Rasulullah ﷺ. Maka berkatalah seseorang: Wahai Rasulullah, bolehkah aku meruqyah? Beliau ﷺ bersabda:

مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَنْفَعَ أَخَاهُ فَلْيَفْعَلْ

Barang siapa di antara kalian yang mampu memberikan manfaat kepada saudaranya, maka hendaklah ia lakukan.” [HR. Muslim]

Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu’anha berkata:

“Bahwa Rasulullah ﷺ meruqyah dengan bacaan ini:

أَذْهِبِ الْبَاسَ رَبَّ النَّاسِ بِيَدِكَ الشِّفَاءُ لاَ كَاشِفَ لَهُ إِلاَّ أَنْتَ

“Adzhibil ba’sa Robban naasi, bi yadikasy syifaau, laa kaasyifa lahu illaa Anta”

Artinya:

Hilangkanlah penyakit ini wahai Rabb, di tangan-Mu kesembuhan. Tidak ada yang dapat menyembuhkannya, kecuali Engkau.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Hukum Minta Ruqyah

Adapun meminta ruqyah maka terbagi dua:

1. Meminta ruqyah untuk diri sendiri, hukumnya terbagi tiga:

Pertama: Meminta ruqyah yang mengandung syirik, maka hukumnya juga syirik dari beberapa sisi:

  1. a) Karena meridhoi kesyirikan adalah kesyirikan.
  1. b) Menggunakan jasa dukun dan memercayai ucapannya tentang perkara gaib.
  1. c) Tidak jarang pasien diperintahkan untuk melakukan syirik, seperti berdoa kepada selain Allah, menyembelih untuk selain Allah, mendekatkan diri kepada selain Allah, dengan sesajen dan lain-lain.

Kedua: Meminta ruqyah yang mengandung bid’ah dan maksiat, maka hukumnya haram.

Ketiga: Meminta ruqyah yang sesuai syariat, hukumnya makruh, karena Rasulullah ﷺ bersabda tentang 70.000 orang yang masuk Surga tanpa hisab dan azab:

هُمُ الَّذِينَ لاَ يَسْتَرْقُونَ، وَلاَ يَتَطَيَّرُونَ، وَلاَ يَكْتَوُونَ، وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Mereka adalah orang-orang yang tidak meminta ruqyah, tidak merasa takut sial, tidak melakukan pengobatan al-kayy (besi panas), dan senantiasa bertawakkal kepada Rabb mereka.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma]

Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Hasan rahimahullah berkata:

“Dan perbedaan antara orang yang meruqyah dan yang meminta ruqyah, bahwasannya orang yang meminta ruqyah adalah orang yang memohon, meminta suatu pemberian, seraya menoleh kepada selain Allah ta’ala dengan hatinya. Sedang orang yang meruqyah adalah orang yang berbuat baik (kepada yang diruqyah).” [Fathul Majid, hal. 67]

Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah berkata:

“Mereka tidak meminta ruqyah kepada siapa pun, karena:

a) Kuatnya penyandaran diri mereka kepada Allah ta’ala.

b) Mulianya jiwa mereka dari merendahkan diri kepada selain Allah ‘azza wa jalla.

c) Karena dalam perbuatan itu ada bentuk ketergantungan kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala.” [Al-Qoulul Mufid, 1/103]

2. Meminta ruqyah untuk orang lain, hukumnya terbagi dua:

Pertama: Meminta ruqyah yang terlarang untuk orang lain, yaitu ruqyah yang mengandung syirik, bid’ah atau maksiat, maka hukumnya juga terlarang sesuai perincian di atas.

Kedua: Meminta ruqyah yang sesuai syariat untuk orang lain adalah tolong menolong dalam kebaikan, selama orang yang meminta tersebut tidak bergantung kepada orang yang meruqyah, dan tetap bertawakkal kepada Allah ta’ala. Rasulullah ﷺ bersabda:

اسْتَرْقُوا لَهَا، فَإِنَّ بِهَا النَّظْرَةَ

“Mintakanlah ruqyah untuknya, karena sesungguhnya ia tertimpa penyakit ‘ain.” [HR. Al-Bukhari dari Ummu Salamah radhiyallahu’anha]

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber:

https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/711716028977882:0

 

PENJELASAN ULAMA TENTANG CARA MERUQYAH

PENJELASAN ULAMA TENTANG CARA MERUQYAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Dakwah_Tauhid

#Kajian_Sunnah

PENJELASAN ULAMA TENTANG CARA MERUQYAH

Meruqyah bukan sesuatu yang sulit, bukan pula sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh segelintir orang, tidak pula membutuhkan kemampuan khusus layaknya seorang dukun. Dan sampai saat ini kami belum pernah mendengar para ulama sejak masa Salaf sampai hari ini, yang mengadakan Pelatihan Ruqyah, tidak pula pelatihan ruqyah massal atau pelatihan ruqyah mandiri, seperti pelatihan-pelatihan yang ditekuni oleh sebagian orang hari ini.

Makna Ruqyah

Asy-Syaikhul ‘Allamah Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah berkata:

والرُّقْيَة: القراءة على المريض

“Ruqyah adalah bacaan untuk mengobati orang yang sakit.” [I’aanatul Mustafid, 1/150]

Inilah makna ruqyah yang dipahami ulama dari dalil-dalil syari, yaitu untuk pengobatan terhadap orang sakit. Kami belum mendapatkan para ulama mengajarkan Ruqyah Rumah, Ruqyah Brankas, Apalagi Ruqyah Langit untuk memindahkan hujan.

Beberapa Hadis Tentang Cara Meruqyah

Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu’anha berkata:

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا اشْتَكَى يَقْرَأُ عَلَى نَفْسِهِ بِالْمُعَوِّذَاتِ وَيَنْفُثُ فَلَمَّا اشْتَدَّ وَجَعُهُ كُنْتُ أَقْرَأُ عَلَيْهِ وَأَمْسَحُ عَنْهُ بِيَدِهِ رَجَاءَ بَرَكَتِهَا

“Bahwa Nabi ﷺ apabila sakit, beliau ﷺ membacakan untuk dirinya Al-Mu’awwidzaat (bacaan-bacaan untuk memohon perlindungan kepada Allah) dan meniup dengan sedikit ludah. Maka tatkala sakitnya semakin keras, akulah yang membacakan untuk beliau ﷺ dan aku mengusap diri beliau ﷺ dengan tangan beliau ﷺ sendiri karena mengharap (kepada Allah) adanya keberkahan tangan beliau ﷺ.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu’anha juga berkata berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا اشْتَكَى الْإِنْسَانُ الشَّيْءَ مِنْهُ، أَوْ كَانَتْ بِهِ قَرْحَةٌ أَوْ جُرْحٌ، قَالَ: النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِإِصْبَعِهِ هَكَذَا، وَوَضَعَ سُفْيَانُ سَبَّابَتَهُ بِالْأَرْضِ، ثُمَّ رَفَعَهَا بِسْمِ اللهِ، تُرْبَةُ أَرْضِنَا، بِرِيقَةِ بَعْضِنَا، لِيُشْفَى بِهِ سَقِيمُنَا، بِإِذْنِ رَبِّنَا

“Bahwa Rasulullah ﷺ, apabila seseorang merasakan suatu penyakit, bisul atau luka, maka beliau ﷺ menggunakan jarinya seperti ini –Sufyan (rawi hadis) meletakkan jari telunjuknya ke bumi- kemudian beliau mengangkatnya seraya membaca:

بِسْمِ اللهِ، تُرْبَةُ أَرْضِنَا، بِرِيقَةِ بَعْضِنَا، لِيُشْفَى بِهِ سَقِيمُنَا، بِإِذْنِ رَبِّنَا

Bismillaahi turbatu ardhina, bi riyqoti ba’dhina, liyusyfaa bihi saqiimuna, biidzni Robbinaa.

Artinya:

Dengan nama Allah, bahwa tanah bumi kami, disertai ludah sebagian kami, agar sembuh dengan sebab itu orang sakit kami, dengan izin Rabb kami.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim, dan ini lafaz Muslim]

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata:

وَمَعْنَى الْحَدِيثِ أَنَّهُ يَأْخُذُ مِنْ رِيقِ نَفْسِهِ عَلَى أُصْبُعِهِ السَّبَّابَةِ ثُمَّ يَضَعُهَا عَلَى التُّرَابِ فَيَعْلَقُ بِهَا مِنْهُ شَيْءٌ فَيَمْسَحُ بِهِ عَلَى الْمَوْضِعِ الْجَرِيحِ أَوِ الْعَلِيلِ وَيَقُولُ هَذَا الْكَلَامَ فِي حَالِ الْمَسْحِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

“Makna hadis: Beliau ﷺ membasahi jari telunjuknya dengan ludah beliau ﷺ sendiri, kemudian meletakkan jarinya di atas tanah, sehingga menempel sedikit debu tanah tersebut, lalu beliau ﷺ mengusap bagian tubuh orang yang terluka atau sakit dan membaca doa ini ketika mengusapnya. Wallaahu a’lam.” [Syarhu Muslim, 14/184]

Dari sahabat yang mulia Tsabit bin Qois bin Syammaas radhiyallahu’anhu, dari Rasulullah ﷺ:

أَنَّهُ دَخَلَ عَلَى ثَابِتِ بْنِ قَيْسٍ – قَالَ: أَحْمَدُ وَهُوَ مَرِيضٌ – فَقَالَ: «اكْشِفِ الْبَأْسَ رَبَّ النَّاسِ عَنْ ثَابِتِ بْنِ قَيْسِ بْنِ شَمَّاسٍ» ثُمَّ أَخَذَ تُرَابًا مِنْ بَطْحَانَ فَجَعَلَهُ فِي قَدَحٍ ثُمَّ نَفَثَ عَلَيْهِ بِمَاءٍ وَصَبَّهُ عَلَيْهِ

“Bahwa beliau ﷺ menjenguk Tsabit bin Qois – Ahmad berkata: Ketika itu Tsabit bin Qois dalam keadaan sakit- maka beliau ﷺ bersabda (membaca):

اكْشِفِ الْبَأْسَ رَبَّ النَّاسِ عَنْ ثَابِتِ بْنِ قَيْسِ بْنِ شَمَّاسٍ

Iksyifil ba’sa Robban naasi ‘an Tsabit bin Qois bin Syammaas.

Artinya:

Hilangkanlah penyakit wahai Rabb manusia, dari Tsabit bin Qois bin Syammaas.” Kemudian beliau ﷺ mengambil tanah dari Bathhaan (satu lembah di Madinah), meletakkannya dalam bejana, lalu beliau meniupnya dengan air dan menyiramkannya kepada Tsabit.” [HR. Abu Daud, lihat Fathul Baari, 10/208 dan Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 1/88 no. 16951]

Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata:

وقد ثبت عنه صلى الله عليه وسلم أنه رقى لثابت بن قيس بن شماس في ماء ثم صبه عليه

“Telah tsabit (diriwayatkan dengan sanad yang jayyid) dari Rasulullah ﷺ, bahwa beliau meruqyah Tsabit bin Qois bin Syammaas di air dan menyiramkan air tersebut kepadanya.” [Fatawa Nur ‘alad Darbi, 1/329]

Mengajari Tauhid dan Cara Meruqyah Diri Sendiri

Inilah tugas penting seorang yang meruqyah, yaitu mengajari kaum Muslimin untuk bertawakkal kepada Allah ta’ala dan memurnikan seluruh ibadah hanya kepada-Nya, serta memeringatkan bahaya kesyirikan, kebid’ahan dan kemaksiatan, kemudian mengajarinya doa-doa untuk meruqyah dirinya sendiri. Tidak boleh meminta ruqyah kepada orang lain, karena hal itu dapat mengurangi kesempurnaan tauhid, atau bahkan menghilangkan tauhid sama sekali.

Sahabat yang mulia Utsman bin Abil ‘Ash Ats-Tsaqofi radhiyallahu’anhu berkata:

أَنَّهُ شَكَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَجَعًا يَجِدُهُ فِى جَسَدِهِ مُنْذُ أَسْلَمَ. فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- ضَعْ يَدَكَ عَلَى الَّذِى تَأَلَّمَ مِنْ جَسَدِكَ وَقُلْ بِاسْمِ اللَّهِ. ثَلاَثًا. وَقُلْ سَبْعَ مَرَّاتٍ أَعُوذُ بِاللَّهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ

“Bahwa beliau pernah mengadu kepada Rasulullah ﷺ tentang rasa sakit di badannya, sejak masuk Islam. Maka Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya: Letakkan tanganmu di bagian tubuhmu yang sakit dan bacalah:

بِسْمِ اللَّهِ

“Bismillaah” (Dengan nama Allah) tiga kali.

Lalu baca sebanyak tujuh kali:

أَعُوذُ بِاللَّهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ

A’uudzu billaahi wa qudrotihi min syarri maa ajidu wa uhaadziru

Artinya:

Aku berlindung kepada Allah dan kemampuan-Nya, dari kejelekan yang aku dapati dan aku khawatirkan.” [HR. Muslim]

Penjelasan Ulama Tentang Cara Meruqyah

Disebutkan dalam Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah:

وهي تكون بالقراءة والنفث على المريض، سواء كان يرقي نفسه أو يرقيه غيره، ومنها قراءة القرآن في الماء للمريض وشربه إياه

“Cara meruqyah adalah dengan membaca dan meniup kepada orang yang sakit. Sama saja ketika ia meruqyah dirinya atau meruqyah orang lain. Dan di antara caranya adalah membaca Alquran di air untuk orang sakit dan meminumkan air tersebut kepadanya.” [Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 1/88 no. 16951]

Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata:

فالرقية تكون بالقرآن، وبالدعوات الطيبة على محل الألم، ينفث على محل الألم: في صدره، أو رأسه، أو يده، أو رجله

“Ruqyah dilakukan dengan membacakan Alquran dan doa-doa yang baik terhadap bagian tubuh yang sakit, seraya meniup bagian yang sakit tersebut, apakah di dadanya, kepalanya, tangannya atau kakinya.” [Fatawa Nur ‘alad Darb, 1/325]

Beliau rahimahullah juga berkata:

الرقية تكون على المريض بالنفث عليه، وتكون في ماء يشربه المريض أو يتروش به

“Meruqyah orang yang sakit adalah dengan meniupnya (setelah membaca), dan boleh juga dengan membaca pada air dan si sakit meminumnya atau mandi dengannya.” [Fatawa Nur ‘alad Darb, 1/329]

Beliau rahimahullah juga berkata:

ولا حرج في القراءة في الماء والزيت في علاج المريض والمسحور والمجنون، ولكن القراءة على المريض بالنفث عليه أولى وأفضل وأكمل

“Tidak mengapa membacakan ruqyah di air dan minyak untuk mengobati orang yang sakit, yang kena sihir atau yang gila. Akan tetapi membacakan langsung disertai tiupan kepada orang sakit tersebut lebih utama, lebih afdhal dan lebih sempurna.” [Majmu’ Al-Fatawa, 19/339]

Asy-Syaikh Mubarok bin Muhammad Al-Mili Al-Jazaairi rahimahullah berkata:

وصفة الرقية أن يقرأ القارئ على محل الألم أو على يديه للمسح بهما، أو في ماء ونحوه، وينفث أثر القراءة نفثاً خالياً من البزاق، وإنما هو نفس معه بلل من الريق

“Sifat ruqyah adalah seseorang membacakan ruqyah atas bagian tubuh yang sakit atau atas kedua tangannya, untuk kemudian mengusapkannya ke tubuh yang sakit, atau membaca di air dan yang semisalnya. Dan setelah membaca, langsung meniup ke tubuh yang sakit tanpa meludah, yang keluar hanyalah udara disertai sedikit ludah.” [Risalatusy Syirki wa Mazhohiruhu, hal. 248]

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber:

https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/710587755757376:0

http://sofyanruray.info/penjelasan-ulama-tentang-cara-meruqyah/

 

Link Terkait:

http://sofyanruray.info/bidah-yang-menjurus-syirik-dalam-metode-ruqyah-naruto/

http://sofyanruray.info/menyingkap-kejahilan-para-peruqyah/

http://sofyanruray.info/penjelasan-ulama-tentang-cara-meruqyah/

http://sofyanruray.info/peringatan-dari-ruqyah-syirik-dan-dukun-kerkedok-tokoh-agama/

http://sofyanruray.info/jangan-minta-ruqyah/

http://sofyanruray.info/sihir-pencegahan-dan-pengobatannya/

http://sofyanruray.info/penyakit-ain-sebab-pencegahan-dan-terapi/

http://sofyanruray.info/waspadai-dukun-mengaku-wali/

http://sofyanruray.info/larangan-mendatangi-dukun-dan-kewajiban-pemerintah/

 

DI ANTARA AJARAN AS-SUNNAH KETIKA TURUN HUJAN

DI ANTARA AJARAN AS-SUNNAH KETIKA TURUN HUJAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama

DI ANTARA AJARAN AS-SUNNAH KETIKA TURUN HUJAN

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata:

«من السنة إذا نزل المطر أن يخرج الإنسان شيئاً من بدنه ليصيبه المطر، وليس ذلك خاصًّا بالرأس»

“Termasuk bimbingan as-Sunnah jika hujan turun adalah seseorang mengeluarkan sedikit dari bagian badannya agar terkena air hujan, dan itu tidak khusus hanya untuk kepala saja.” [Majmu’ul Fatawa, jilid 16 hlm. 363].

Sumber || https://twitter.com/imamothaimeen/status/802245547654610944

Instagram, Twitter & Telegram Channel: @JakartaMengaji

Sumber: https://www.facebook.com/JakartaMengajiOfficial/photos/a.633889743458454.1073741828.633867766793985/670042819843146/?type=3&theater