Posts

, ,

KAPAN WAKTUNYA MENGUCAPKAN INSYAALLAH DAN KAPAN TIDAK?

KAPAN WAKTUNYA MENGUCAPKAN INSYAALLAH DAN KAPAN TIDAK?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#AkidahTauhid, #AdabAkhlak, #FatwaUlama

KAPAN WAKTUNYA MENGUCAPKAN INSYAALLAH DAN KAPAN TIDAK?

Insyaallah artinya jika Allah menghendaki. Kita diperintahkan untuk mengucapkan kalimat ini ketika BERNIAT KUAT akan melakukan suatu aktivitas, karena semua yang terjadi di dunia ini terjadi atas kehendak Allah ta’ala. Sudah sepantasnya kita sebagai makhluk lemah yang tak memiliki daya ini menyandarkan seluruh perbuatan kepada kehendak Allah (ucapan insyaallah). Perintah Allah ta’ala:

وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَٰلِكَ غَدًا إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّه

“Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, kecuali (dengan menyebut): “Insya Allah”. (QS. Al Kahfi 24-25)

Ibnu Katsir menjelaskan ayat di atas dalam tafsir beliau:

هذا إرشاد من الله تعالى لرسول الله صلى الله عليه وسلم إلى الأدب فيما إذا عزم على شيء ليفعله في المستقبل أن يرد ذلك إلى مشيئة الله عز وجل علام الغيوب الذي يعلم ما كان وما يكون وما لم يكن لو كان كيف يكون

Inilah petunjuk Allah ta’ala kepada Rasulullah ﷺ tentang adab, tatkala beliau BERKEINGINAN KUAT akan sesuatu, dan PASTI akan melakukan perbuatan tersebut di waktu mendatang, maka hendaknya diikuti dengan ucapan insyaallah. Karena Dia-lah Dzat yang mengetahui perkara gaib, mengetahui segala sesuatu yang telah terjadi, segala sesuatu yang akan terjadi, segala sesuatu yang tidak terjadi, dan bagaimana sesuatu yang tidak terjadi tersebut seandainya terjadi. (Tafsir Ibn Katsir)

Syaikh Ibnu Utsaimin menjelaskan saat pembahasan hadis Nabi ﷺ:

 لأعطين الراية غدا رجلا يحبه الله ورسوله

“Sungguh aku akan memberikan bendera ini besok kepada seseorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya. (HR. Bukhari 2768 Muslim 4431)

وفي هذا الحديث: دليل على أنه يجوز للإنسان أن يقول: لأفعلن كذا في المستقبل وإن لم يقل: إن شاء الله ولكن يجب أن نعلم الفرق بين شخص يخبر عما في نفسه وشخص يخبر أنه سيفعل يعني يريد الفعل أما الأول فلا بأس أن يقول: سأفعل بدون إن شاء الله لأنه إنما يخبر عما في نفسه وأما الثاني الذي يريد أنه يفعل أي يوقع الفعل فعلا فهذا لا يقل إلا مقيدا بالمشيئة قال تعالى { ولا تقولن لشيء إني فاعل ذلك غدا إلا أن يشاء الله }

Hadis ini merupakan dalil diperbolehkan bagi seseorang mengucapkan “Saya akan melakukan suatu pekerjaan nanti” tanpa ucapan insyallah. Akan tetapi wajib kita ketahui perbedaan antara orang yang hanya mengabarkan tentang keinginan yang ada pada dirinya, dengan orang yang mengabarkan, bahwa dia bertekad untuk melakukan sesuatu. Orang jenis pertama tidak mengapa bila ia mengucapkan “Saya akan melakukannya” tanpa ucapan insyaallah, karena ia hanyalah mengabarkan keinginan yang ada pada dirinya. Adapun orang jenis kedua BERTEKAD akan melakukannya, bahwasanya perbuatan tersebut BENAR-BENAR AKAN TEREALISASI. Maka hendaknya ia tidak mengatakannya, kecuali diiringi ucapan insyaallah. Karena Allah ta’ala berfirman:

وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَٰلِكَ غَدًا إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّه

“Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, kecuali (dengan menyebut): “Insya Allah”. (QS. Al Kahfi 24-25). (Syarh Riyadhush Shaalihin)

Pada kesempatan lain beliau menjelaskan:

إن الذي يقول سآتيك غدا له نيتان النية الأولى أن يقول هذا جازما بالفعل فهذا لا يقوله إلا أن يقول إن شاء الله لأنه لا يدري أيأتي عليه الغد أو لا ولا يدري هل إذا أتى عليه الغد يكون قادرا على الإتيان إليه أو لا ولا يدري إذا كان قادرا يحول بينه وبينه مانع أو لا النية الثانية إذا قال سأفعل يريد أن يخبر عما في قلبه من الجزم دون أن يقصد الفعل فهذا لا بأس به لأنه يتكلم عن شيء حاضر مثل لو قيل لك هل ستسافر مكة قلت نعم سأسافر تريد أن تخبر عما في قلبك من الجزم هذا شيء حاضر حاصل أما إن أردت الفعل أنك ستفعل يعني سيقع منك هذا فهذا لا تقل فيه سأفعل إلا مقرونا بمشيئة الله

Seseorang yang mengatakan: “Saya akan mengunjungimu besok”, kalimat ini memiliki dua niat:

Pertama, seseorang yang mengucapkannya berniat kuat untuk melakukannya. Jika demikian, maka tidak boleh mengatakan kalimat tersebut, kecuali diiringi dengan ucapan insyaallah. Karena dia tidaklah tahu, apakah hari esok masih bisa ia jumpai ataukah tidak?  Jika dia bisa berjumpa hari esok, apakah ia punya kekuatan untuk merealisasikan niatnya ataukah tidak? Jika dia punya kekuatan, apakah dia bisa berusaha menyingkirkan rintangan lainnya ataukah tidak?

Kedua, seseorang yang mengucapkan kalimat “Saya akan melakukannya nanti” hanya mengabarkan tentang keinginan hatinya saja, tanpa bermaksud melakukannya. Jika demikian, tidaklah mengapa mengucapkannya tanpa ucapan insyaallah. Karena dia berbicara sesuatu yang terlintas. Seperti misalnya ada yang bertanya kepadamu: “Apakah nanti engkau ingin pergi ke Mekah?” Lalu engkau jawab: “Ya, nanti aku pergi”. Yang engkau maksudkan hanyalah mengabarkan keinginan yang ada dalam hatimu. Inilah sesuatu yang muncul.

Adapun jika engkau benar-benar ingin melakukannya, maka JANGANLAH mengatakan nanti saya akan melakukannya, kecuali diiringi dengan ucapan insyaallah.

Lalu bolehkah mengucapkan insyallah pada perbuatan yang telah terjadi?

Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz rahimahullah:

هل يجوز قول: (إن شاء الله) على عمل قدتم

سمعت بعض الناس يقول: إذا فعلت عملا كالصلاة أو الصوم أو أي عمل في الدين أو الدنيا وسئلت: هل صليت أو صمت لا تقل: إن شاء الله، بل قل: نعم؟ لأنك عملت فعلا. فما رأيكم؟

هذا فيه تفصيل، أما في العبادات فلا مانع أن يقول: إن شاء الله صليت، إن شاء الله صمت؛ لأنه لا يدري هل كملها وقبلت منه أم لا. وكان المؤمنون يستثنون في إيمانهم وفي صومهم؛ لأنهم لا يدرون هل أكملوا أم لا، فيقول الواحد منهم: صمت إن شاء الله، ويقول: أنا مؤمن إن شاء الله.

أما الشيء الذي لا يحتاج إلى ذكر المشيئة مثل أن يقول: بعت إن شاء الله- فهذا لا يحتاج إلى ذلك، أو يقول: تغديت أو تعشيت إن شاء الله، فهذا لا يحتاج أن يقول كلمة إن شاء الله؟ لأن هذه الأمور لا تحتاج إلى المشيئة في الخبر عنها؛ لأنها أمور عادية قد فعلها وانتهى منها، بخلاف أمور العبادات التي لا يدري هل وفاها أم بخسها حقها، فإذا قال: إن شاء الله فهو للتبرك باسمه سبحانه والحذر من دعوى شيء لم يكن قد أكمله ولا أداه حقه.

 

Pertanyaan:

Apakah diperbolehkan mengucapakn “insyaallah” atas perbuatan yang telah selesai dilakukan?

Aku mendengar sebagian orang mengatakan: “Jika engkau telah melakukan suatu amalan seperti shalat, puasa dan amalan lain yang diperintahkan agama atapun perbuatan yang menyangkut urusan dunia, lalu engkau ditanya, apakah engkau sudah shalat?  Apakah engkau sudah puasa?  Maka janganlah menjawab, “Insyaallah”. Tapi katakanlah, “Ya.” Karena engkau telah selesai melakukannya. Apa pendapat Anda?

Jawaban:

Permasalahan ini perlu di rinci. Mengucapkan insyallah pada masalah ibadah tidaklah dilarang seperti ucapan” Insyaallah saya telah shalat, insyaallah saya telah puasa.” Karena seseorang tidaklah tahu, apakah ibadahnya tersebut telah sempurna dan diterima Allah ataukah tidak. Orang-orang beriman terdahulu mengucapkan insyaallah pada keimanan mereka dan ibadah puasa mereka. Karena mereka tidak mengetahui, apakah mereka telah menyempurnakan ibadah tersebut ataukah tidak? Salah seorang diantara mereka mengatakan: “Saya telah puasa insyaallah.” Ada yang mengatakan: ”Saya beriman insyaallah.”

Adapun selain ibadah, tidak perlu ucapan insyaallah, seperti kalimat: “Saya telah membeli insyallah”, “Saya telah makan siang insyaallah”, “Saya telah makan malam insyaallah”, ini semua tidak perlu. Karena menyampaikan berita tentang perkara non-ibadah seperti di atas tidak butuh ucapan insyaallah ketika mengabarkan (kepada orang lain). Karena perkara tersebut telah lama berlalu, telah dikerjakan dan telah selesai.

Hal ini tentu berbeda dengan perkara ibadah, di mana seseorang tidaklah tahu, apakah dia telah menunaikannya dengan sempurna ataukah banyak kekurangannya? Maka ucapan insyaallah ini sebagai tabarruk (mengharapkan barakah) dengan nama Allah subhanah, dan berhati-hati dalam mengklaim sesuatu yang belum tentu sempurna dan ditunaikan kewajibannya.

Maraji’:

 

Penyusun: Ummu Fatimah

Sumber: http://wanitasalihah.com/kapan-harus-mengucapkan-insyaallah/

,

INSYAALLAH BUKANLAH SEKADAR KALIMAT PEMANIS BIBIR

INSYAALLAH BUKANLAH SEKADAR KALIMAT PEMANIS BIBIR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#AkidahTauhid

INSYAALLAH BUKANLAH SEKADAR KALIMAT PEMANIS BIBIR

>> Katakanlah “Insyaallah”! Mudah-Mudahan Allah Membantumu Melaksanakannya

Kasus Pertama

Di antara sebab turunnya Surat al Kahfi adalah ketika orang-orang Quraisy bertanya tiga pertanyaan titipan orang-orang Yahudi kepada Rasulullah ﷺ:

Pertama: Tanyakan tentang para pemuda yang pergi di masa lalu, apa yang mereka lakukan. Sesungguhnya mereka mengalami peristiwa yang menakjubkan.

Kedua: Tanyakan padanya tentang lelaki yang sering berkelana. Ia telah mengunjungi seluruh penjuru bumi.

Ketiga: Tanyakan padanya tentang apa itu ruh.

Rasulullah ﷺ pun menjawab: “Akan kujawab apa yang kamu tanyakan besok”. Namun apa yang terjadi? sampai 15 hari, jawaban tersebut tidaklah turun. Dan akhirnya turunlah Surat al Kahfi untuk mennjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, yang di antara ayatnya ada sebuah teguran kepada Rasulullah ﷺ untuk TIDAK memastikan sesuatu kecuali dengan kata insyaallah.

وَلاَتَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَدًاإِلآ أَن يَشَآءَ اللهُ

“Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu: ‘Sesungguhnya kau akan mengerjakan itu besok pagi’, kecuali (dengan menyebut), ‘Insyaallah’”. (QS. Al Kahfi: 24)

Ternyata kuncinya adalah ucapan “Insyaallah”.

Kasus Kedua

Kalau kita membuka-buka kembali Alquran, kita juga akan dapati sebuah kisah orang-orang Yahudi di zaman Nabi Musa, yang diperintahkan untuk menyembelih sapi betina, namun mereka ngeyel. Mereka terus bertanya-tanya model sapinya:

Kali pertama disuruh mereka bertanya:

قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّن لَّنَا مَاهِيَ

“Mohonkanlah kepada Rabb-mu untuk kami, agar dia menerangkan kepada kami, sapi betina apakah itu?” (QS. Al Baqarah: 68)

Setelah dijelaskan masih bertanya lagi:

قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّن لَّنَا مَالَوْنُهَا

”Mohonkanlah kepada Rabb-mu untuk kami, agar Dia menerangkan kepada kami apa warnanya”. (QS. Al Baqarah: 69)

Setelah dijelaskan, masih bertanya lagi, namun kali ini Bani Israil itu menambahkan kalimat, “insyaallah”

قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّن لَّنَا مَاهِيَ إِنَّ الْبَقَرَ تَشَابَهَ عَلَيْنَا وَإِنَّا إِن شَآءَ اللَّهُ لَمُهْتَدُونَ

”Mohonkanlah kepada Rabb-mu untuk kami, agar Dia menerangkan kepada kami, bagaimana hakikat sapi betina itu. Karena sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami, dan sesungguhnya kami insyaallah akan mendapat petunjuk” (QS. Al Baqarah: 70)

Barulah, mereka menyembelihnya

فَذَبَحُوهَا وَمَاكَادُوا يَفْعَلُونَ

”Kemudian mereka menyembelihnya, dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu.” (QS. Al Baqarah: 71)

Ternyata, kuncinya adalah kalimat “Insyaallah”.

Kasus Ketiga

Dalam hadis diriwayatkan kisah Ya’juj dan Ma’juj. Disebutkan kisah Ya’juj dan Ma’juj yang mencoba membongkar tembok yang telah dibuat oleh Dzulqarnain.

“Sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj membongkarnya setiap hari, sampai ketika mereka hampir melihat cahaya matahari. Pemimpin mereka berkata: ‘Kita pulang, kita teruskan besok’. Lalu Allah mengembalikannya lebih kuat dari sebelumnya. Ketika masa mereka telah tiba dan Allah ingin mengeluarkan mereka kepada manusia, mereka menggali. Ketika mereka hampir melihat cahaya matahari, pemimpin mereka berkata: ‘Kita pulang, kita teruskan besok insyaallah’. Mereka mengucapkan insyaallah. Mereka kembali ke tempat mereka menggali, mereka mendapatkan galian seperti kemarin. Akhirnya mereka berhasil menggali dan keluar kepada manusia”. (HR Ibnu Majah dan at Tirmidzi dishahihkan oleh Al Albani dalam Silsilah ash Shahihah)

Maka sekali lagi kita dapati bahwa kuncinya adalah kalimat ”Insyaallah”.

Kasus Keempat

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan juga oleh Bukhari, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

“Sulaiman bin Dawud berkata: ‘Sungguh aku akan menggilir sembilan puluh istriku pada malam ini. Masing-masing akan melahirkan satu pejuang yang akan berjuang di jalan Allah.’ Lalu sahabatnya berkata: ‘Ucapkan insyaallah!’, tetapi beliau tidak mengucapkannya. Akhirnya dia menggauli semua istrinya itu, dan tidak satu orang pun dari mereka hamil, kecuali satu istri saja yang melahirkan anak dengan wujud setengah manusia. Demi jiwa Muhammad yang berada di tangan-Nya, seandainya dia mengucapkan ‘insyaallah’, niscaya mereka semua akan (melahirkan) para pejuang yang berjuang di jalan Allah.”

Lagi, ternyata kuncinya adalah kalimat “Insyaallah”.

Kasus Kelima

Dalam Alquran yang mulia disebutkan tentang pemilik kebun yang bersumpah pasti akan memetik hasil kebun mereka pada pagi hari:

إِنَّا بَلَوْنَاهُمْ كَمَا بَلَوْنَا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ إِذْ أَقْسَمُوا لَيَصْرِمُنَّهَا مُصْبِحِينَ .وَلَا يَسْتَثْنُونَ .فَطَافَ عَلَيْهَا طَائِفٌ مِّن رَّبِّكَ وَهُمْ نَائِمُونَ.فَأَصْبَحَتْ كَالصَّرِيمِ

“Sesungguhnya Kami telah menguji mereka (musyrikin Mekah), sebagaimana Kami telah mennguji pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah, bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil)nya di pagi hari, tetapi mereka tidak menyisihkan (dengan mengucapkan, insyaallah). Lalu kebun itu ditimpa bencana yang datang dari Tuhanmu ketika mereka sedang tidur. Maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita” (QS. Al Qalam: 68)

Pada ayat “وَلَا يَسْتَثْنُونَ ” dalam Tafsir Al-Qurtubi: {اي ولم يقولوا إن شاء الله } yaitu mereka belum mengatakan insyaallah. Begitu juga di Tafsir Al Muyassar.

Sekali lagi, ternyata kuncinya adalah kalimat “Insyaallah”.

Maka, insyaallah bukanlah sekadar kalimat pemanis bibir. Dengan mengucapkan insyaallah, kita berharap kepada Allah, agar Dia menetapkan janji dan rencana amal saleh yang kita buat.

 

***

Penyusun: Irilaslogo

Sumber:

  • http://muslimah.or.id, dari status ustadz Amrullah Akadhinta
  • Anakku Sudah Tepatkah Pendidikannya? Karya Musthafa Al-Adawi
,

MENGUCAPKAN INSYA ALLAH BUKANLAH KARENA RAGU, AKAN TETAPI SEBAGAI HARAPAN, AGAR ALLAH MEWUJUDKAN KEINGINAN KITA

MENGUCAPKAN INSYA ALLAH BUKANLAH KARENA RAGU, AKAN TETAPI SEBAGAI HARAPAN, AGAR ALLAH MEWUJUDKAN KEINGINAN KITA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#AkidahTauhid

MENGUCAPKAN INSYA ALLAH BUKANLAH KARENA RAGU, AKAN TETAPI SEBAGAI HARAPAN, AGAR ALLAH MEWUJUDKAN KEINGINAN KITA

Dijelaskan Imam Ibnu Taimiyyah dalam Kitabul Iimaan:

“Orang ini mengatakan insya Allah bukan karena ia RAGU akan kehendak dan ambisinya tersebut. Hanya saja, pada perwujudan apa yang dikehendakinya dan di’azzamkannya tersebut, (maka ia menyandarkannya pada kehendak Allah ﷻ). Dia TAKUT apabila TIDAK mengucapkan insya Allah, maka (Allah) akan mengurangi hasratnya, dan (ia pun) tidak berhasil mendapatkan apa yang dikehendakinya.”

Beliau juga berkata:

“…Mengucapkan insya Allah, BUKANLAH karena RAGU tentang apa yang diharapkan atau dikehendaki, akan tetapi sebagai HARAPAN, agar Allah mewujudkan keinginannya tersebut…” [Kitaabul Iimaan, Edisi Indonesia: Al Iimaan, Pustaka Darul Falah]

Lihatlah dalam perkataan ini saja, sudah tercakup DUA UNSUR PENTING DALAM IBADAH: rasa harap dan rasa takut.

Bukankah jika dalam hati kita ketika mengucapkan perkataan ini, dan kuat rasa harap dan takut kita kepada Allah, akan berbuah sebagai amalan saleh yang tinggi nilainya!? (sebesar rasa takut dan harap kita ketika beramal!?)

Demikianlah, SATU UCAPAN orang yang berilmu dan menghadirkan hatinya, SANGAT JAUH dengan ucapan orang yang tidak tahu ilmunya, atau ucapannya orang yang lalai hatinya, meskipun ia tahu ilmunya.

Dibalik ucapan insya Allah pun terkandung tawakkal dan perwujudan keimanan terhadap qadha dan qadar-Nya!

Tidak hanya itu… ucapan insya Allah… juga merupakan perwujudan ilmu kita tentang TAWAKKAL kepada Allah, dan juga perwujudan ilmu kita akan keimanan kita terhadap qadha dan qadarNya!

Syaikhul Islaam berkata tentang firman Allah:

وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَٰلِكَ غَدًا . إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ

“Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: ‘Sesungguhnya aku akan pasti mengerjakan ini besok pagi…’ kecuali (dengan menyebut): ‘Insyaa Allah’ (jika Allah menghendaki)…” (al Kahfi 23-24)

إِنِّي فَاعِلٌ ذَٰلِكَ غَدًا

“Aku benar-benar akan mengerjakan yang demikian esok hari…” terkandung makna pengharapan dan pengabaran.

Pengharapannya itu KUAT dan PASTI (ada di hatinya). Adapun jika apa yang diharapkannya tersebut terjadi, maka itu karena Allah menghendakinya (terjadi)…

Dalam permintaannya ini, terkandung permintaan kepada Allah. Sedangkan tentang pengabaran, dia tidak mengabarkan, kecuali apa yang diketahui Allah. Oleh karenanya, siapa YANG MEMASTIKAN tanpa istisnaa’, maka dia seperti orang yang yakin terhadap Allah, namun kemudian Allah mendustakannya.

Maka seorang MUSLIM yang berhasrat akan sesuatu, yang ia sangat ingin dan mengharapkannya tanpa ada keraguan padanya, maka hendaklah ia (tetap) mengucapkan insya Allah, agar apa yang diharapkannya terwujud. Sebab hal tersebut sekali-kali tidak akan terjadi, kecuali dengan kehendak Allah. (Sehingga ucapan istisnaa’ ini) bukan karena keragu-raguan kehendaknya.

PENGGUNAAN YANG BENAR tentang insya Allah, adalah sebagaimana dijelaskan al-Ustadz Firanda Andirja hafizhahullaahu ta’aala dalam tulisan berikut ini:

PENGGUNAAN KATA “INSYAA ALLAH” UNTUK TIGA FUNGSI YANG BENAR DAN SATU FUNGSI YANG SALAH

Penggunaan kata “Insyaa Allah” untuk tiga fungsi yang benar, dan satu fungsi yang salah:

(1) Untuk menekankan sebuah kepastian. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ dalam doa ziarah kubur:

“Dan kami insyaa Allah akan menyusul kalian, wahai penghuni kuburan”.

Dan tentunya kita semua pasti meninggal. Demikian juga firman Allah:

“Sesungguhnya kalian pasti akan memasuki Masjdil Haram insyaa Allah, dalam keadaan aman.” [QS Al-Fath: 27]

(2) Untuk menyatakan usaha/kesungguhan, akan tetapi keberhasilan pelaksanaannya di tangan Allah, seperti perkataan kita: “Bulan depan saya akan umroh, insyaa Allah”.

(3) Karena ada keraguan, akan tetapi masih ada keinginan.

(4) Yaitu SALAH penggunaan fungsi: Sebagai senjata untuk melarikan diri atau untuk menolak. Seperti perkataan seseorang tatkala diundang ke sebuah acara, lantas dalam hatinya ia tidak mau hadir, maka ia pun berkata: “Insyaa Allah”.

Atau tatkala diminta bantuan, lantas ia tidak berkenan, maka dengan mudah ia berlindung di balik kata “Insyaa Allah”.

Inilah fenomena yang menyedihkan tatkala perkataan “Insyaa Allah” yang seharusnya untuk menyatakan kesungguhan, malah digunakan untuk menolak [Sumber: https://firanda.com/index.php/artikel/status-facebook/267-penggunaan-kata-qinsyaa-allahq-untuk-3-fungsi-yang-benar-dan-1-fungsi-yang-salah]

Wallahu a’lam.

, , ,

INGIN JADI KEKASIH ALLAH?

INGIN JADI KEKASIH ALLAH?
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
#NasihatUlama
#TazkiyatunNufus

INGIN JADI KEKASIH ALLAH?

Bismillaah, alloohummaa sholli wa sallim a’laa Nabiyyinaa Muhammadin wa a’laa aalihi wa sohbihi ajma’in

وقفة مع آية ،،،

( إن الله يحب التوابين … )

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat.” [QS. Al Baqarah: 222]

قال شيخ الإسلام ابن تيمية:

“كل من تاب فهو حبيب الله”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

“Setiap yang bertaubat kepada Allah, maka ia layak disebut Habiibullah (Kekasih Allah).”

Sumber: [Jaami’urrosaail 1: 116]

[جامع الرسائل ١١٦/١]

 

Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin

 

,

SECERCAH HIDAYAH

SECERCAH HIDAYAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#KisahMuslim

#DakwahTauhid

SECERCAH HIDAYAH

Dari Abdul Wahid bin Zaid berkata:

“Ketika itu kami naik perahu, angin kencang berhembus menerpa perahu kami, sehingga kami terdampar di suatu pulau. Kami turun ke pulau itu, dan mendapati seorang laki-laki sedang  menyembah patung.

”Kami mendatanginya berkata kepadanya:

“Wahai seorang lelaki, siapa yang engkau sembah?

Maka ia menunjuk ke sebuah patung.

Maka kami berkata: ‘Di antara kami, para penumpang perahu ini tidak ada yang melakukan seperti yang kamu perbuat. Patung ini bukanlah Ilaah yang berhak untuk diibadahi.

Dia bertanya: ‘(Kalau demikian, pent), apa yang kalian sembah?

’Kami menjawab: ‘Kami menyembah Allah.’

Dia bertanya: ‘Siapakah Allah?’

Kami menjawab: ‘Dzat yang memiliki ‘Arsy di langit dan kekuasaan di muka bumi.’

Dia bertanya: ‘Bagaimana kamu bisa mengetahuinya?’

Kami jawab: “Telah mengutus kepada kami (Allah) Raja yang Maha Agung, Maha Pencipta Lagi Maha Mulia, seorang Rosul yang mulia. Maka rasul itulah yang menerangkan kepada kami tentang hal itu.’

Dia bertanya: ‘Apa yang dilakukan rasul itu?’

Kami menjawab:  ‘Beliau telah  menyampaikan risalah-Nya, kemudian Allah mencabut ruhnya.‘

Dia bertanya: ‘Apakah dia tidak meninggalkan sesuatu tanda kepada kalian?’

Kami menjawab: ‘Tentu’

Ia berkata: ‘Apa yang ia tinggalkan?’

Kami menjawab: ‘Dia meninggalkan Kitabullah untuk kami.

Dia berkata: ‘Coba kalian perlihatkan kitab Al Malik  (Kitabullah, pent) itu kepadaku! Maka seyogyanya kitab para raja itu adalah kitab yang sangat baik.

Kemudian kami memberikan mushaf kepadanya.

Dia berkata: ‘Alangkah bagusnya (mushaf) ini.’ Lalu kami membacakan sebuah surat dari Alquran  untuknya. Dan kami senantiasa membaca. Tiba-tiba ia menangis,dan kami membaca lagi, dan ia terus menangis, hingga kami selesai membaca surat itu.

Dan ia berkata: ‘Tidak pantas Dzat yang memiliki firman ini didurhakai.’

Kemudian ia masuk Islam dan kami ajari dia syariat-syariat Islam dan beberapa surat dari Alquran. Selanjutnya kami mengajaknya ikut serta dalam perahu.

Ketika kami berlayar dan malam mulai gelap, sementara kami semua beranjak menuju tempat tidur kami, tiba-tiba dia bertanya: ’Wahai kalian, apakah Dzat yang kalian beritahukan kepadaku itu  juga tidur apabila malam telah gelap?’

Kami menjawab: ‘Tidak wahai hamba Allah. Dia Hidup terus, Maha Agung tidak tidur’.

Dia berkata: ‘Seburuk buruk hamba adalah kalian. Kalian tidur, sementara Maula kalian tidak tidur,

Kemudian ia beranjak untuk mengerjakan ibadah dan meninggalkan kami.

Ketika kami sampai di negeri kami, aku berkata kepada teman-temanku: ‘Laki-laki ini baru saja memeluk Islam dan ia adalah orang asing di negeri ini ( sangat cepat jika kita membantunya -pent)

Lalu kami pun mengumpulkan beberapa Dirham dan kami berikan kepadanya.

Ia bertanya: ‘Apakah ini?’

Kami menjawab: ‘Belanjakanlah untuk kebutuhan kebutuhanmu’.

Dia berkata: ”Laa ilaaha illallah. Selama ini aku hidup di suatu pulau yang dikelilingi lautan, aku menyembah patung selain-Nya. Sekalipun demikian, Dia tidak pernah menyia-nyiakan aku …. Maka bagaimana mungkin  Dia (Allah) akan menelantarkanku, sementara aku mengenal-Nya?! ‘ Setelah itu dia pergi meninggalkan kami dan berusaha sendiri untuk (mencukupi ) dirinya.

Dan jadilah ia setelahnya termasuk Kibarush Sholihin sampai meninggalnya.

 

Sumber: At Tawwaabiin, Milik Ibnu Qudamah, 179.

Alih bahasa : Abul Fida Abdulloh As Silasafy

 

HARAMNYA MENGAKU-AKU SEBAGAI KETURUNAN AHLUL BAIT ( KETURUNAN NABI )

HARAMNYA MENGAKU-AKU SEBAGAI KETURUNAN AHLUL BAIT ( KETURUNAN NABI )

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid
#UntukYangMengakuHabib

HARAMNYA MENGAKU-AKU SEBAGAI KETURUNAN AHLUL BAIT ( KETURUNAN NABI )

  • Apakah Habib Itu Keturunan Nabi?
  • Apakah Keturunan Nabi itu Terjaga dari Kesalahan?

Mengaku Keturunan Rasulullah

Bagusnya nasab, itu bukan jaminan dia selamat. Tetapi hal itu tergantung dari amalannya, apakah amalannya sesuai dengan petunjuk NABI ﷺ atau malah menyelisihi NABI ﷺ.

Di kalangan kaum Muslimin, khususnya di negeri kita ini, sering kita mendengar bahwa ada seorang tokoh yang merupakan keturunan Nabi ﷺ dan dipanggillah tokoh tersebut dengan sebutan Habib.

Bahkan gelar ini mereka buktikan dengan skema nasab yang mereka miliki, yang bertemu dengan nasab Nabi ﷺ, atau dibuktikan dengan semacam ijazah atau sertifikat.

Ironisnya, gelar nasab ini seolah-olah menjadi kartu truf, yang akhirnya menjadi dalil halalnya segala perbuatan yang mereka lakukan, baik perbuatan yang telah jelas merupakan kemaksiatan, perbuatan bid’ah dalam agama, bahkan sampai kesyirikan.

Tidak boleh mengaku-ngaku bernasab kepada NABI ﷺ jika ternyata memang tidak ada hubungan nasab. Resikonya sangat berat, yaitu akan disiapkan tempat duduknya di NERAKA.

Lalu bagaimanakah sebenarnya sikap Ahlussunnah terhadap tokoh keturunan Nabi ﷺ atau yang disebut dengan golongan Ahlul Bait ? Berikut ini pembahasannya oleh Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd al-‘Abbad al-Badr hafizhahullah [Diterjemahkan dan disarikan dari kitab Fadhl Ahli al-Bait wa ‘Uluww Makaanatihim ‘Inda Ahli as-Sunnah wa al-Jamaah oleh Abdurrahman bin Thayyib as-Salafi. Sumber: Majalah Adz-Dzakiroh Vol. 8 No. 1 Edisi 43 Ramadhan-Syawal 1429 H. Kami hanya mengambil dua poin pembahasan dari tiga yang dibahas di sumber tersebut]:

Akidah Ahlussunnah Wal Jamaah Terhadap Ahlul Bait Secara Global

Akidah Ahlussunnah wal Jamaah adalah pertengahan antara ekstrim kanan dan ekstrim kiri, antara berlebihan dan meremehkan dalam segala perkara akidah.

Di antaranya adalah akidah mereka terhadap Ahlul Bait Nabi ﷺ. Mereka berloyalitas terhadap setiap Muslim dan Muslimah dari keturunan Abdul Muththalib, dan juga kepada para istri Rasul ﷺ semuanya.

Ahlus Sunnah mencintai mereka semua, memuji dan memosisikan mereka sesuai dengan kedudukan mereka secara adil dan objektif, bukan dengan hawa nafsu atau serampangan. Mereka mengakui keutamaan orang-orang yang telah Allah beri kemulian iman dan kemuliaan nasab.

 

Barang siapa yang termasuk dari Ahlul Bait dari kalangan sahabat Rasulullah ﷺ, maka mereka (Ahlussunnah) mencintainya karena keimanan, ketakwaan serta persahabatannya dengan Rasul ﷺ.

Adapun mereka (Ahlul Bait) selain dari kalangan sahabat, maka mereka mencintainya karena keimanan. ketakwaan, dan karena kekerabatannya dengan Rasul ﷺ.

Mereka berpendapat, bahwa kemuliaan nasab itu mengikut kepada kemuliaan iman. Barang siapa yang diberi oleh Allah kedua hal tersebut, maka Dia telah menggabungkan antara dua kebaikan.

Dan barang siapa yang tidak diberi taufik untuk beriman, maka tidak bermanfaat sedikit pun kemuliaan nasabnya. Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu”. (QS. Al-Hujurat: 13)

Nabi ﷺ bersabda dalam akhir hadis yang panjang yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya, No. 2699 dari Abu Hurairoh radliyallahu’anhu:

و من بطأ به عمله لم يسرع به نسبه

“Barang siapa yang diperlambat oleh amal perbuatannya, maka nasabnya tidak bisa memercepatnya”

Al Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah berkata seraya menjelaskan hadis di atas dalam kitab beliau Jami’ al ‘Ulum wa al-Hikam, hlm. 308: Maknanya, bahwa amal perbuatan itulah yang menjadikan seorang hamba sampai kepada derajat (yang tinggi) di Akhirat, sebagaimana firman Allah:

وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِّمَّا عَمِلُوا وَمَارَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

“Dan masing-masing orang memeroleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya” (QS. Al-An’am: 132)

Barang siapa yang lambat amal ibadahnya untuk sampai kepada kedudukan yang tinggi disisi Allah, maka nasabnya tidak bisa memercepatnya, untuk menyampaikannya kepada derajat tersebut. Sesungguhnya Allah menyediakan pahala sesuai dengan amal perbuatan, BUKAN karena nasab, sebagaimana firman Allah:

فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ فَلآ أَنسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍ وَلاَيَتَسَآءَلُونَ

“Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab antara  mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya”. (QS. Al-Mukminun: 101)

Dan Allah ta’ala telah memerintahkan untuk bersegera menuju ampunan dan rahmat-Nya dengan berbuat amal ibadah, sebagaimana firman-Nya:

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَاْلأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ { 133} الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّآءِ وَالضَّرَّآءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ {134

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. (QS. Ali ‘Imron: 133-134)

Dan firman-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ هُم مِّنْ خَشْيَةِ رَبِّهِم مُّشْفِقُونَ {57} وَالَّذِينَ هُم بِئَايَاتِ رَبِّهِمْ يُؤْمِنُونَ {58} وَالَّذِينَ هُم بِرَبِّهِمْ لاَيُشْرِكُونَ {59} وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَآءَاتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ {60} أُوْلَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ {61

“Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka. Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka. Dan orang-orang yang tidak memersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apapun). Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka, mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memerolehnya.” (QS. Al-Mukminun: 57-61)

Kemudian beliau (Imam Ibnu Rajab rahimahullah) menyebutkan dalil-dalil tentang anjuran untuk beramal saleh, dan bahwasanya hubungan dekat dengan Rasul ﷺ itu diperoleh dengan ketakwaan dan amal saleh. Lalu beliau menutup pembahasan tersebut dengan hadis ‘Amr bin al-‘Ash radliyallahu’ahu yang tercantum dalam Shahih Bukhori, No. 5990 dan Shahih Muslim, No. 215, beliau berkata: Yang menguatkan hal ini semua adalah apa yang tercantum dalam Shahih Bukhori dan Muslim dari ‘Amr bin al-‘Ash radliyallahu’anhu, bahwasanya dia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya keluarga Abu Fulan bukan termasuk wali-wali (orang terdekat) ku. Sesungguhnya waliku adalah Allah dan orang-orang yang saleh dari orang-orang yang beriman”.

Ini mengisyaratkan, bahwa kedekatan dengan Rasulullah ﷺ tidak bisa diraih dengan nasab, meskipun dia adalah kerabat beliau ﷺ. Akan tetapi, semuanya itu diraih dengan iman dan amal saleh [Jadi, mereka yang mengaku sebagai keturunan Rasul ﷺ tapi gemar berbuat kesyirikan, mengultuskan kuburan-kuburan wali yang tekah mati, mengadakan shalawat-shalawat bid’ah plus syirik (Burdah, Nariyah, Diba’, dll), rajin berbuat bid’ah (perayaan Maulid, haul, tahlilan), maka tidak bermanfaat pengakuan tersebut dan tidak perlu dihormati ataupun disegani, pen]. Barang siapa yang lebih sempurna keimanannya dan amal salehnya, maka dia lebih agung kedekatannya dengan beliau ﷺ, baik dia punya kekerabatan dengan beliau ﷺ atau tidak. Hal ini senada dengan apa yang diucapkan oleh seorang penyair:

  • Sungguh, tidaklah manusia itu (dimuliakan) melainkan dengan agamanya
  • Maka janganlah engkau meninggalkan ketakwaan, dan hanya bersandar kepada nasab
  • Sungguh, Islam telah mengangkat derajat Salman (al-Farisi) dari Persia
  • Dan kesyirikan menghinakan Abu Lahab, yang memiliki nasab (yang tinggi).

Hal ini berlainan dengan Ahli Bid’ah. Mereka berlebihan terhadap sebagian Ahlul Bait. Bersamaan itu pula mereka berbuat kasar/jahat terhadap mayoritas para sahabat radliyallahu’anhum.

Di antaranya contoh sikap berlebihan mereka terhadap 12 imam Ahlul Bait, yakni Ali, Hasan, Husain radliyallahu’anhum, dan 9 keturunan Husain, adalah apa yang tercantum dalam kitab al-Kafi oleh al-Kulaini [Tokoh ulama Syiah yang binasa pada tahun 329 H, yang dianggap seperti imam Bukhorinya Ahlussunnah, pen]… Bab: Bahwasanya Para Imam Tersebut Mengetahui Kapan Mereka Akan Mati dan Tidaklah Mereka Mati Melainkan Dengan Pilihan Mereka Sendiri, Bab: Bahwasanya Imam-Imam ‘alaihimussalam Mengetahui Apa Yang Telah Terjadi dan Apa yang Akan Terjadi, dan Tidak Ada Sesuatu pun yang Tersembunyi Bagi Mereka.

Dan sikap berlebihan ini pun dikatakan oleh tokoh kontemporer mereka, yaitu Khumaini dalam kitabnya al-Hukumah al-Islamiyah (hlm. 52 cetakan al-Maktabah al-Islamiyah al-Kubra, Teheran): Sesungguhnya di antara prinsip madzhab kita, bahwasanya imam-imam kita memiliki kedudukan yang tidak bisa digapai oleh malaikat yang dekat (dengan Allah), maupun Nabi yang diutus (oleh Allah).

Haramnya Mengaku-aku Sebagai Keturunan Ahlul Bait

Semulia-mulia nasab adalah nasab Nabi Muhammad ﷺ. Dan semulia-mulia penisbatan adalah kepada beliau ﷺ dan kepada Ahli Bait, jika penisbatan itu benar. Dan telah banyak di kalangan Arab maupun non Arab melakukan penisbatan kepada nasab ini.

Maka barang siapa yang termasuk Ahlul Bait dan dia adalah orang yang beriman, maka Allah telah menggabungkan antara kemuliaan iman dan nasab.

Barang siapa mengaku-ngaku termasuk dari nasab yang mulia ini, sedangkan ia bukan darinya, maka dia telah berbuat suatu yang diharamkan, dan dia telah mengaku-ngaku memiliki sesuatu yang bukan miliknya. Nabi ﷺ bersabda:

“Orang yang mengaku-ngaku dengan sesuatu yang tidak dia miliki, maka dia seperti pemakai dua pakaian kebohongan.” (HR. Muslim dalam Shahihnya, no. 2129 dari Hadis Aisyah radliyallahu’anha)

 

Disebutkan dalam hadis-hadis shahih tentang keharaman seseorang menisbatkan dirinya kepada selain nasabnya. Di antaranya adalah hadis Abu Dzar radliyallahu’anhu, bahwasanya ia mendengar Nabi ﷺ bersabda:

“Tidaklah seseorang menisbatkan kepada selain ayahnya, sedang dia mengetahui, melainkan dia telah kufur kepada Allah. Dan barang siapa yang mengaku-ngaku sebagai suatu kaum dan dia tidak ada hubungan nasab dengan mereka, maka hendaklah dia menyiapkan tempat duduknya di Neraka” [Maka berhati-hatilah mereka yang memakan harta kaum Muslimin dengan cara batil dengan mengaku-ngaku sebagai keturunan rasul ﷺ dan menjual akidah serta agama mereka. Na’udzubillahi mindzalik. pen] (HR. al-Bukhori, No. 3508 dan Muslim, No. 112)

Dan dalam Shahih al-Bukhori, No. 3509 dari hadis Watsilah bin al-Asqa’zia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

“Seungguhnya sebesar-besar kedustaan adalah penisbatan diri seseorang kepada selain ayahnya, atau mengaku bermimpi sesuatu yang tidak dia lihat, atau dia berkata atas nama Rasulullah ﷺ, apa yang tidak beliau ﷺ katakan” [Diringkaskan dari halaman 84-95].

 

Sumber:

Mengaku Keturunan Rasul

 

 

,

ALLAH MENYEDIAKAN PAHALA SESUAI DENGAN AMAL PERBUATAN, BUKAN KARENA NASAB

ALLAH MENYEDIAKAN PAHALA SESUAI DENGAN AMAL PERBUATAN, BUKAN KARENA NASAB

#DakwahTauhid

#UntukYangMengakuHabib

ALLAH MENYEDIAKAN PAHALA SESUAI DENGAN AMAL PERBUATAN, BUKAN KARENA NASAB

  • Apakah Habib Itu Keturunan Nabi?
  • Apakah Keturunan Nabi itu Terjaga dari Kesalahan?
  • Hubungan Dekat dengan Rasul ﷺ Itu Diperoleh dengan Ketakwaan dan Amal Saleh, Bukan dengan Nasab
  • Kemuliaan Nasab Mengikut Kepada Kemuliaan Iman

Kemuliaan nasab itu mengikut kepada kemuliaan iman. Barang siapa yang diberi oleh Allah kedua hal tersebut, maka dia telah menggabungkan antara dua kebaikan. Dan barang siapa yang tidak diberi taufik untuk beriman, maka tidak bermanfaat sedikit pun kemuliaan nasabnya. Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu”. (QS. Al-Hujurat: 13)

Nabi ﷺ bersabda dalam akhir hadis yang panjang yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya, No. 2699 dari Abu Hurairoh radliyallahu’anhu:

و من بطأ به عمله لم يسرع به نسبه

“Barang siapa yang diperlambat oleh amal perbuatannya, maka nasabnya tidak bisa memercepatnya”

Al Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah berkata seraya menjelaskan hadis di atas dalam kitab beliau Jami’ al ‘Ulum wa al-Hikam, hlm. 308: Maknanya, bahwa amal perbuatan itulah yang menjadikan seorang hamba sampai kepada derajat (yang tinggi) di akhirat, sebagaimana firman Allah:

وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِّمَّا عَمِلُوا وَمَارَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

“Dan masing-masing orang memeroleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya” (QS. Al-An’am: 132)

Barang siapa yang lambat amal ibadahnya untuk sampai kepada kedudukan yang tinggi di sisi Allah, maka nasabnya tidak bisa memercepatnya, untuk menyampaikannya kepada derajat tersebut. Sesungguhnya Allah menyediakan pahala sesuai dengan amal perbuatan, BUKAN karena nasab, sebagaimana firman Allah:

فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ فَلآ أَنسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍ وَلاَيَتَسَآءَلُونَ

“Apabila sangkakala ditiup, maka tidaklah ada lagi pertalian nasab antara  mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya”. (QS. Al-Mukminun: 101)

Dan Allah ta’ala telah memerintahkan untuk bersegera menuju ampunan dan rahmat-Nya dengan berbuat amal ibadah, sebagaimana firman-Nya:

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَاْلأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ { 133} الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّآءِ وَالضَّرَّآءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ {134

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada Surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. (QS. Ali ‘Imron: 133-134)

Dan firman-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ هُم مِّنْ خَشْيَةِ رَبِّهِم مُّشْفِقُونَ {57} وَالَّذِينَ هُم بِئَايَاتِ رَبِّهِمْ يُؤْمِنُونَ {58} وَالَّذِينَ هُم بِرَبِّهِمْ لاَيُشْرِكُونَ {59} وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَآءَاتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ {60} أُوْلَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ {61

“Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka. Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka. Dan orang-orang yang tidak memersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apapun). Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka, mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memerolehnya.” (QS. Al-Mukminun: 57-61)

Kemudian beliau (Imam Ibnu Rajab rahimahullah) menyebutkan dalil-dalil tentang anjuran untuk beramal saleh, dan bahwasanya hubungan dekat dengan Rasul ﷺ itu diperoleh dengan ketakwaan dan amal saleh. Lalu beliau menutup pembahasan tersebut dengan hadis ‘Amr bin al-‘Ash radliyallahu’ahu yang tercantum dalam Shahih Bukhori, No. 5990 dan Shahih Muslim, No. 215, beliau berkata: Yang menguatkan hal ini semua adalah apa yang tercantum dalam Shahih Bukhori dan Muslim dari ‘Amr bin al-‘Ash radliyallahu’anhu, bahwasanya dia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya keluarga Abu Fulan bukan termasuk wali-wali (orang terdekat)-ku. Sesungguhnya waliku adalah Allah dan orang-orang yang saleh dari orang-orang yang beriman”.

Ini mengisyaratkan, bahwa kedekatan dengan Rasulullah ﷺ tidak bisa diraih dengan nasab, meskipun dia adalah kerabat beliau ﷺ. Akan tetapi, semuanya itu diraih dengan iman dan amal saleh [2]. Barang siapa yang lebih sempurna keimanannya dan amal salehnya, maka dia lebih agung kedekatannya dengan beliau ﷺ, baik dia punya kekerabatan dengan beliau ﷺ atau tidak. Hal ini senada dengan apa yang diucapkan oleh seorang penyair:

  • Sungguh, tidaklah manusia itu (dimuliakan) melainkan dengan agamanya
  • Maka janganlah engkau meninggalkan ketakwaan, dan hanya bersandar kepada nasab
  • Sungguh, Islam telah mengangkat derajat Salman (al-Farisi) dari Persia
  • Dan kesyirikan menghinakan Abu Lahab, yang memiliki nasab (yang tinggi).

Sumber:

Mengaku Keturunan Rasul

 

 

 

DI ANTARA JANJI ALLAH DALAM ALQURAN

DI ANTARA JANJI ALLAH DALAM ALQURAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

DI ANTARA JANJI ALLAH DALAM ALQURAN

١. لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

1. “Jika kalian bersyukur, maka akan Aku tambahkan nikmat-Ku untuk kalian.” (QS. Ibrahim 7)

٢. فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ

2. “Ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku ingat kepada kalian.” (QS. Al-Baqarah 152)

٣. ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

3. “Berdoalah kepada-Ku, pasti Aku kabulkan untuk kalian.” (QS. Ghafir 60)

٤. مَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

4. “Tidaklah Allah mengazab (menghukum) mereka, sedang mereka (masih) memohon ampunan.” (QS. Al-Anfal 33)

Semoga Allah mudahkan kita mengamalkannya…

 

Penulis: Abdullah bin Suyitno (عبدالله بن صيتن)

,

STATUS NON-MUSLIM MENURUT ALQURAN, AL-HADIS DAN KESEPAKATAN ULAMA

STATUS NON-MUSLIM MENURUT ALQURAN, AL-HADIS DAN KESEPAKATAN ULAMA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

COBA PERIKSA, APAKAH ANDA MASIH MUSLIM ATAU SUDAH MURTAD?

  • Masih tidak percaya juga, kalau Nasrani dan Yahudi itu ORANG KAFIR?
  • Masih tetap tidak mau terima, kalau Nasrani dan Yahudi itu KEKAL DI NERAKA?
  • Mau tahu tidak, kenapa mereka digolongkan orang kafir?
  • Siapa saja yang tidak mengafirkan dan membenci orang kafir, maka ia BUKAN MUSLIM.
  • Siapa saja yang tidak meyakini kekafiran mereka, maka dia KAFIR dan MURTAD dari Islam.
  • Maha Baiknya Allah, senantiasa memberi nikmat dan rezeki kepada orang kafir, walau DIA telah dihina, dikhianati, dipersekutukan dan dianggap memiliki anak.

#Dakwah_Tauhid

#Kajian_Sunnah

STATUS NON-MUSLIM MENURUT ALQURAN, AL-HADIS DAN KESEPAKATAN ULAMA

Status Non-Muslim dalam Alquran

➡ Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ

“Sesungguhnya orang-orang kafir dari kalangan Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) dan orang-orang musyrik (akan masuk) Neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Mereka adalah seburuk-buruk makhluk.” [Al-Bayyinah: 6]

➡ Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman:

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِين قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلا إِلَهٌ وَاحِدٌ

“Sungguh telah kafir orang orang (Nasrani) yang mengatakan, bahwa Allah adalah satu dari yang tiga (Trinitas). Dan tidaklah Sesembahan itu kecuali Sesembahan yang satu (Allah subhaanahu wa ta’ala).” [Al-Maidah: 73]

➡ Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman:

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah adalah Al-Masih putra Maryam”, padahal Al-Masih (sendiri) berkata: “Wahai Bani Israel, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya orang yang memersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan atasnya Surga, dan tempatnya ialah Neraka. Tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.” [Al-Maidah: 72]

➡ Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman:

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا

“Dan mereka (orang-orang Nasrani) berkata: “(Allah) Yang Maha Penyayang memunyai anak.” Sesungguhnya (dengan perkataan itu), kamu telah mendatangkan suatu perkara yang sangat mungkar. Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi terbelah, serta gunung-gunung runtuh, karena mereka mendakwakan Allah Yang Maha Penyayang memunyai anak.” [Maryam: 88-91]

➡ Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman:

وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ

“Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putra Allah” dan orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putra Allah”. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka. Mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling?” [At-Taubah: 30]

Status Non-Muslim dalam Al-Hadis

➡ Rasulullah ﷺ menegaskan:

وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِى أَحَد مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِىٌّ وَلاَ نَصْرَانِىٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِى أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

“Demi (Allah) yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya. Tidaklah ada seorang pun dari umat ini yang pernah mendengarkan tentang aku, apakah ia seorang Yahudi atau Nasrani, kemudian ia mati sebelum beriman dengan ajaran yang aku bawa, kecuali ia termasuk penghuni Neraka.” [HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallaahu’anhu]

➡ Rasulullah ﷺ juga bersabda:

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: كَذَّبَنِي ابْنُ آدَمَ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ، وَشَتَمَنِي وَلَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ، فَأَمَّا تَكْذِيبُهُ إِيَّايَ فَزَعَمَ أَنِّي لاَ أَقْدِرُ أَنْ أُعِيدَهُ كَمَا كَانَ، وَأَمَّا شَتْمُهُ إِيَّايَ، فَقَوْلُهُ لِي وَلَدٌ، فَسُبْحَانِي أَنْ أَتَّخِذَ صَاحِبَةً أَوْ وَلَدًا

“Allah ta’ala berfirman: Anak Adam mendustakan Aku, padahal itu tidak patut baginya. Ia juga mencaci-Ku, padahal itu tidak patut baginya. Adapun pendustaannya kepada-Ku adalah ia menyangka, bahwa Aku tidak mampu menghidupkannya kembali seperti sebelumnya, sedangkan caciannya kepada-Ku adalah ia berkata bahwa Aku memiliki anak. Maha Suci Aku dari memiliki istri dan anak.” [HR. Al-Bukhari dari Ibnu Abbas radhiyallaahu’anhuma]

➡ Rasulullah ﷺ juga bersabda:

لَا أَحَدَ أَصْبَرُ عَلَى أَذًى يَسْمَعُهُ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، إِنَّهُ يُشْرَكُ بِهِ، وَيُجْعَلُ لَهُ الْوَلَدُ، ثُمَّ هُوَ يُعَافِيهِمْ وَيَرْزُقُهُمْ

“Tidak ada satu pun yang lebih sabar dari Allah ‘azza wa jalla atas ucapan jelek yang Ia dengarkan. Sungguh Dia dipersekutukan dan dianggap memiliki anak, kemudian Dia senantiasa memberi nikmat dan rezeki kepada mereka.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim, dan ini lafaz Muslim, dari Abu Musa Al-‘Asy’ari radhiyallahu’anhu]

Kesepakatan Ulama Islam atas Kafirnya Yahudi dan Nasrani, dan Murtadnya Orang yang Tidak Mengafirkan Mereka

➡ Al-Imam Ibnu Hazm rahimahullah berkata:

فَأَخْبَرَ تَعَالَى أََنَّهُمْ يَعْرِفُونَ صِدْقَهُ وَلا يُكَذِّبُونَهُ، وَهُمُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى، وَهُمْ كُفَّارٌ بِلا خِلاف مِنْ أَحَدٍ مِنَ الأُمَّةِ، وَمَنْ أَنْكَرْ كُفْرَهُمْ فَلا خِلافَ مِنْ أَحَدٍ مِنَ الأُمَّةِ فِي كُفْرِهِ وَخُرُوجِهِ عَنِ الإِسْلامِ

“Maka Allah ta’ala telah mengabarkan, bahwa mereka sebenarnya mengetahui kebenarannya, dan tidak mendustakannya. Mereka adalah Yahudi dan Nasrani, dan ulama tidak berbeda pendapat bahwa mereka adalah orang-orang kafir. Barang siapa yang tidak meyakini kekafiran mereka, maka ulama juga tidak berbeda pendapat, bahwa dia KAFIR dan MURTAD dari Islam.” [Al-Fishol, 3/237]

➡ Al-Imam Ibnu Hazm rahimahullah juga berkata:

وَاتَّفَقُوا عَلَى تَسْمِيَةِ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى كُفَّارًا

“Ulama sepakat atas penamaan Yahudi dan Nasrani sebagai orang-orang kafir.” [Maratibul Ijma’, hal. 202]

➡ Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

وَمَنْ لَمْ يُحَرِّمْ التَّدَيُّنَ – بَعْدَ مَبْعَثِهِ – بِدِينِ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى، بَلْ مَنْ لَمْ يُكَفِّرْهُمْ وَيُبْغِضْهُمْ فَلَيْسَ بِمُسْلِمِ بِاتِّفَاقِ الْمُسْلِمِينَ

“Setelah diutusnya Nabi ﷺ, maka siapa yang TIDAK MENGHARAMKAN agama Yahudi dan Nasrani, bahkan siapa yang tidak mengafirkan dan membenci mereka, maka ia BUKAN MUSLIM berdasarkan kesepakatan kaum Muslimin.” [Majmu’ Al-Fatawa, 27/464]

➡ Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga berkata:

فَإِنَّ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى كُفَّارٌ كُفْرًا مَعْلُومًا بِالاضْطِرَارِ مِنْ دِينِ الإِسْلامِ

“Sesungguhnya Yahudi dan Nasrani adalah orang-orang kafir yang diketahui secara pasti dari ajaran agama Islam.” [Majmu’ Al-Fatawa, 35/201]

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

 

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/photos/a.675509019265250.1073741855.286395654843257/723110967838388/?type=3&theater

 

, ,

BOLEHKAH MENJADI PETUGAS KEAMANAN TEMPAT IBADAH ORANG-ORANG KAFIR ATAU TEMPAT HIBURAN?

BOLEHKAH MENJADI PETUGAS KEAMANAN TEMPAT IBADAH ORANG-ORANG KAFIR ATAU TEMPAT HIBURAN?

بسم الله الرحمن الرحيم

#Dakwah_Tauhid
#Fatwa_Ulama

BOLEHKAH MENJADI PETUGAS KEAMANAN TEMPAT IBADAH ORANG-ORANG KAFIR ATAU TEMPAT HIBURAN?

Fatwa Himpunan Ulama Besar Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang Tergabung dalam Komite Tetap untuk Pembahasan Ilmiah dan Fatwa:

س: هل يجوز للمجند المسلم أو الجندي المسلم حراسة الكنيسة، أو البارات، أو دور السينما، أو دور اللهو: كالكازينوهات ومحلات بيع الخمور؟

ج: لا يجوز العمل في حراسة الكنائس ومحلات الخمور ودور اللهو من السينما ونحوها؛ لما في ذلك من الإعانة على الإثم، وقد نهى الله جل شأنه عن التعاون على الإثم فقال: { وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ } (سورة المائدة الآية  2)

Pertanyaan:

Apakah boleh seorang petugas keamanan Muslim atau seorang tentara Muslim bekerja sebagai satpam gereja, bar, bioskop atau tempat-tempat hiburan seperti kasino dan kafe-kafe khamar?

Jawaban:

TIDAK BOLEH bekerja sebagai petugas keamanan gereja, kafe-kafe khamar, tempat-tempat hiburan seperti bioskop dan sejenisnya. Karena hal itu termasuk bentuk tolong-menolong dalam dosa, sedang Allah Ta’ala telah melarang perbuatan tersebut dalam firman-Nya:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (Al-Maidah: 2)

[Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 14/481, no. 14334]

Pengecualian:

Sebagian ulama seperti Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan, bahwa petugas keamanan negara, yang digaji oleh negara, bukan oleh gereja atau tempat maksiat, seperti polisi dan tentara, maka dibolehkan menjaga keamanan orang-orang kafir Dzimmi, yaitu orang-orang kafir yang tinggal di negeri Islam dan tidak memberontak terhadap pemerintah Muslim , karena tugas tersebut bagian dari kewajiban pemerintah Muslim terhadap orang-orang kafir Dzimmi. Hal itu karena kaum Muslimin adalah orang-orang yang memegang teguh perjanjian, termasuk perjanjian Dzimmah terhadap orang-orang kafir, dan BUKAN karena orang-orang kafir itu mulia.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber:

https://www.facebook.com/taawundakwah/posts/1892788404287295:0

http://www.taawundakwah.com/petuah-ulama/bolehkah-menjadi-petugas-keamanan-tempat-ibadah-orang-orang-kafir-atau-tempat-hiburan/