MENGAPA NABI MUHAMMAD ﷺ MEMILIKI SEMBILAN ISTRI?

MENGAPA NABI MUHAMMAD MEMILIKI SEMBILAN ISTRI?

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

?? MENGAPA NABI MUHAMMAD ﷺ MEMILIKI SEMBILAN ISTRI?

Nabi Muhammad ﷺ menikah dengan sembilan wanita. Ada beberapa pelajaran yang dapat kita petik dari poligami beliau ﷺ ini. Pertama, beliau ﷺ tidak menikahi wanita-wanita yang masih gadis, padahal beliau mampu untuk melakukannya. Gadis yang beliau ﷺ nikahi hanya satu orang saja (Aisyah). Sebagian istri beliau ﷺ adalah janda-janda yang telah memiliki anak, seperti Ummu Salamah, Khodijah, dan yang lainnya adalah janda seperti Hafshah, Zainab, dll. Tujuan beliau ﷺ menikahi Ummahatul Mukminin tersebut bukan untuk mencari kepuasan. Kalau tujuannya mencari kepuasan, pastilah beliau ﷺ menikahi para gadis.

Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan beliau ﷺ menikahi banyak wanita, agar sunnah-sunnah yang tidak tampak kecuali di rumah, bisa diriwayatkan secara utuh. Istri-istri beliau ﷺ berperan dalam meriwayatkan sunnah-sunnah beliau ﷺ saat di rumah, dan para sahabat meriwayatkan sunnah-sunnah beliau ﷺ ketika di luar rumah. Seandainya beliau ﷺ hanya beristrikan empat wanita, dua, atau satu saja, maka sunnah-sunnah beliau ﷺ di rumah hanya disandarkan pada orang yang sangat sedikit. Sehingga Allah perintahkan beliau ﷺ untuk menikahi sembilan perempuan, agar riwayat-riwayat tersebut disandarkan kepada orang yang banyak (sehingga menguatkan riwayatk tersebut).

Tujuan lainnya adalah menundukkan hati kabilah-kabilah besar, agar mereka memeluk Islam. Seperti pernikahan beliau ﷺ dengan Zainab binti Jahsyi  Shofiyyah binti Huyay bin Akhtab radhiallahu ‘anha, kemudian masuklah segolongan orang Yahudi ke dalam Islam. Demikian juga pernikahan beliau ﷺ dengan Zainab binti Jahsy radhiallahu ‘anha yang menjadikan kabilah dari Zainab ini masuk Islam. Juga pernikahan beliau ﷺ dengan anak Abu Bakar dan Umar, yakni Aisyah dan Hafshah radhiallahu ‘anhum, sehingga hubungan beliau ﷺ semakin dekat dengan dua sahabatnya ini, layaknya menteri-menteri beliau.

Jadi Allah memerintahkan beliau ﷺ menikahi banyak wanita memiliki hikmah dan pelajaran yang banyak, baik hikmah tersebut kita ketahui atau hikmah itu Allah simpan dalam ilmu-Nya saja. Dan hal ini termasuk kekhususan bagi beliau ﷺ.

Di antara kekhususan lain bagi beliau ﷺ adalah, bisa jadi beliau ﷺ melewati dua atau tiga hari dalam keadaan berpuasa. Beliau ﷺ berbuka ketika Maghrib, lalu melanjutkan puasanya di esok hari atau bahkan sampai lusa. Pada saat para sahabat mengetahui hal ini, mereka pun merasa khawatir dengan kondisi beliau ﷺ, beliau ﷺ menjawab “Aku berbeda dengan kalian. Saat aku tertidur Rabb ku memberiku makan dan minum.” Kekhususan lain bagi beliau ﷺ adalah ketika beliau wafat di hari Senin, beliau ﷺ baru dimakamkan di hari Rabu. Jasad beliau ﷺ sama sekali tidak berubah. Berbeda dengan orang lain jika mengalami hal serupa tanpa diberikan formalin, dan keadaan kota Madinah yang sangat panas, keadaan fisik beliau ﷺ tidak berubah sama sekali.

Dengan demikian kita bisa mengetahui keistimewaan yang diberikan Allah kepada Nabi ﷺ dalam kekuatan fisik beliau ﷺ, kekhususan boleh menikahi sembilan wanita, bahkan kekhususan setelah wafatnya beliau ﷺ.
? Sumber dari ceramah Syaikh Muhammad al-Arifi: https://youtu.be/wzhYWuRD6GE

 

https://kisahmuslim.com/3438-mengapa-nabi-muhammad-mempunyai-9-istri.html

 

 

KETIKA ISLAM BERJAYA

KETIKA ISLAM BERJAYA

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

??? KETIKA ISLAM BERJAYA

✍? Ustadz Abu Sa’ad Muhammad Nurhuda, rohimahulloh

? Ketika Kita Berjaya…

Surat dari Kaisar Romawi kepada Mu’awiyah: “Kami mengetahui apa yang terjadi antara kalian dengan Ali bin Abi Tholib. Dan menurut kami, kalian-lah yang lebih berhak menjadi khalifah dibanding dia (Ali bin Abi Thalib). Kalau kamu mau, akan kami kirimkan pasukan untuk membawakan kepadamu kepala Ali bin Abi Thalib.”

Mu’awiyah menjawab surat tersebut: Dari Muawiyah kepada Heraklius (Hiroql): “Apa urusanmu ikut campur urusan dua saudara yang sedang berselisih? Kalau kamu tidak diam, akan aku kirimkan pasukan kepadamu, pasukan, yang mana bagian terdepan berada di tempatmu dan yang terakhir berada ditempatku ini, yang akan memenggal kepalamu dan membawakannya kepadaku, dan akan aku serahkan ke Ali.”

? Ketika Kita Berjaya…

Khalid bin Walid mengirim surat kepada Kaisar Persia: “Peluklah agama Islam, maka kalian akan selamat. Atau akan aku kirimkan kepadamu pemuda yang cinta kematian sebagaimana kalian yang cinta dunia.”

Ketika membaca surat tersebut, Kaisar Persia menyurati Raja Cina dan memohon bantuan darinya. Maka Raja Cina menjawab surat tersebut: “Wahai Kaisar, aku tak sanggup menghadapi kaum yang andaikata mereka ingin memindahkan gunung, maka akan dipindah gunung tersebut.”

? Ketika Kita Berjaya…

Di era pemerintahan Utsmaniyyah (Othoman), ketika kapal-kapal Utsmaniyyah melintasi pelabuhan Eropa, gereja-gereja berhenti membunyikan lonceng mereka, karena takut dengan kaum Muslimin. Mereka takut kota mereka ditaklukkan kaum Muslimin.

? Ketika Kita Berjaya…

Dikisahkan pada zaman dahulu, seorang pendeta Italia berdiri di salah satu lapangan, di sebuah kota di sana. Dalam pidatonya ia mengatakan: “Sangat disayangkan, kami melihat pemuda kaum Nasrani mulai meniru kaum Muslimin Arab dalam gaya berpakaian mereka, gaya hidup mereka, dan cara berpikir mereka. Sampai-sampai bila ada yang ingin berbangga di hadapan pasangannya, ia mengatakan kepada pasangannya “uhibbuki” dengan menggunakan bahasa Arab. Dia ingin menunjukkan kepada pasangannya, betapa gaulnya ia, dan betapa terpelajarnya dirinya, karena mampu berbicara bahasa Arab”.

? Ketika Kita Berjaya…

Pada era pemerintahan Utsmaniyyah, di depan setiap rumah terdapat dua palu, palu kecil dan palu besar. Ketika diketuk palu yang besar, semua yang di dalam rumah mengerti, bahwa yang mengetuk adalah seorang lelaki. Maka salah seorang lelaki pula-lah yang membukakan pintu. Dan ketika diketuk palu yang kecil, semua yang di dalam rumah mengerti, bahwa yang mengetuk adalah seorang wanita. Maka salah seorang wanitalah yang membukakan pintu. Dan ketika di dalam rumah ada yang sakit, digantung bunga merah, yang dengan itu para tamu mengetahui, kalau di dalamnya terdapat orang sakit, dan dengan itu tidak menimbulkan suara yang mengganggu orang sakit tersebut.

? Ketika Kita Berjaya…

Pada malam peperangan Haththin, di mana ketika itu kaum Muslimin merebut kembali Baitul Maqdis dan mengalahkan kaum Salibis, komandan perang Sholahuddin Al-Ayyubi berpatroli memeriksa kondisi kemah pasukannya. Ia mendengar di salah satu tenda, para pasukannya sedang Qiyamullail dan sholat malam, dan tenda lainnya sedang berdzikir kepada Allah, dan tenda lainnya sedang dipenuhi lantunan ayat suci Alquran. Sampai suatu saat ia melewati tenda, yang mana para pasukan di dalamnya sedang tertidur lelap, lalu ia mengatakan kepada orang-orang yang bersamanya: “Melalui pasukan ini kita akan kalah…!

? Yaa Allah, kembalikanlah kejayaan Islam…

?Sumber: BBG Al-ilmuCom

➖➖➖

 

KEUTAMAAN UTSMAN BIN AFFAN

KEUTAMAAN UTSMAN BIN AFFAN

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

? ? ?KEUTAMAAN UTSMAN BIN AFFAN  ? ? ?

“Orang yang paling penyayang di antara umatku adalah Abu Bakar, yang paling tegas dalam menegakkan agama Allah adalah Umar, yang paling pemalu adalah Utsman, yang paling mengetahui tentang halal dan haram adalah Muadz bin Jabal, yang paling hafal tentang Alquran adalah Ubay (bin Ka’ab), dan yang paling mengetahui ilmu waris adalah Zaid bin Tsabit. Setiap umat memunyai seorang yang terpercaya, dan orang yang terpercaya di kalangan umatku adalah Abu Ubaidah bin al-Jarrah.” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya 3:184)

———————————————————————————–

Utsman bin Affan, Khalifah Rasyid yang ketiga. Ia dianggap sosok paling kontroversial dibanding tiga Khalifah Rasyid yang lain. Mengapa dianggap kontroversial? Karena ia dituduh seorang yang nepotisme, mengedepankan nasab dalam politiknya, bukan kapasitas dan kapabilitas. Tentu saja hal itu tuduhan yang keji terhadap Dzu Nurain, pemiliki dua cahaya. Orang yang dinikahkan Rasulullah ﷺ dengan dua orang putrinya.

Pada kesempatan kali ini penulis tidak sedang menanggapi tuduhan-tuduhan terhadap beliau. Penulis akan memaparkan keutamaan-keutamaan beliau yang bersumber dari ucapan Rasulullah ﷺ. Tujuannya agar kita berhati-hati dan mawas diri ketika mendengar hal-hal negatif tentang Utsman, dan agar kita lebih bisa mengontrol lisan kita, dan berprasangka baik di hati kita.

? Nasab dan Sifat Fisikinya

Beliau adalah Utsman bin Affan bin Abi al-Ash bin Umayyah bin Abdu asy-Syam bin Abdu Manaf bin Qushai bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luwai bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin an-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’addu bin Adnan (ath-Thabaqat al-Kubra, 3: 53).

Amirul Mukminin, Dzu Nurain, telah berhijrah dua kali, dan suami dari dua orang putri Rasulullah ﷺ. Ibunya bernama Arwa binti Kuraiz bin Rabiah bin Hubaib bin Abdu asy-Syams dan neneknya bernama Ummu Hakim, Bidha binti Abdul Muthalib, bibi Rasulullah ﷺ. Dari sisi nasab, orang Quraisy satu ini memiliki kekerabatan yang sangat dekat dengan Nabi ﷺ. Selain sebagai keponakan Rasulullah ﷺ, Utsman juga menjadi menantu Rasulullah ﷺ dengan menikahi dua orang putri beliau ﷺ. Dengan keutamaan ini saja, sulit bagi seseorang untuk mencelanya, kecuali bagi mereka yang memiliki kedengkian di hatinya. Seorang tokoh di masyarakat kita saja akan mencarikan orang yang terbaik menjadi suami anaknya, apalagi Rasulullah ﷺ. Tentulah beliau akan memilih orang yang terbaik untuk menjadi suami putrinya.

Utsman bin Affan termasuk di antara sepuluh orang sahabat yang dijamin masuk Surga. Beliau juga menjadi enam orang anggota Syura, dan salah seorang Khalifah Al-Mahdiyin, yang diperintahkan untuk mengikuti sunahnya.

Utsman adalah seorang yang rupawan, lembut, memunyai janggut yang lebat, berperawakan sedang, memunyai tulang persendirian yang besar, berbahu bidang, rambutnya lebat, dan bentuk mulutnya bagus.

Az-Zuhri mengatakan: “Beliau berwajah rupawan, bentuk mulut bagus, berbahu bidang, berdahi lebar, dan memunyai telapak kaki yang lebar.”

Amirul Mukminin Utsman bin Affan terkenal dengan akhlaknya yang mulia, sangat pemalu, dermawan, dan terhormat. Terlalu panjang untuk mengisahkan kedermawanan beliau pada kesempatan yang sempit ini. Untuk kehidupan Akhirat, menolong orang lain, dan berderma, seolah-olah hartanya seringan buah-buah kapuk yang terpecah, lalu kapuknya terhembus angin yang kencang.

??– Penduduk Surga Yang Hidup di Bumi

Dari Abu Musa al-Asy’ari bahwa Rasulullah ﷺ masuk ke sebuah kebun dan memerintahkanku untuk menjaga pintu kebun tersebut. Kemudian datang seorang lelaki untuk masuk, beliau bersabda: “Izinkan dia masuk, kemudian beritakan kepadanya bahwa ia masuk Surga.” Ternyata laki-laki tersebut adalah Abu Bakar. Setelah itu datang laki-laki lain meminta diizinkan masuk, beliau bersabda: “Izinkan dia masuk, kemudian beritakan kepadanya bahwa ia masuk Surga.” Ternyata lelaki itu adalah Umar bin al-Khattab. Lalu datang lagi seorang lelaki meminta diizinkan masuk, beliau terdiam sejenak lalu bersabda: “Izinkan ia masuk, kemudian beritakan kepadanya, bahwa ia masuk Surga disertai dengan cobaan yang menimpanya.” Ternyata lelaki tersebut adalah Utsman bin Affan.

??– Kedudukan Utsman Dibanding Umat Islam Lainnya

Muadz bin Jabal radhiallahu ‘anhu berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya aku melihat, bahwa aku di letakkan di sebuah daun timbangan dan umatku diletakkan di sisi daun timbangan lainnya. Ternyata aku lebih berat dari mereka. Kemudian diletakkan Abu Bakar di satu daun timbangan dan umatku diletakkan di sisi yang lainnya, ternyata Abu Bakar lebih berat dari umatku. Setelah itu diletakkan Umar di sebuah daun timbangan dan umatku diletakkan di sisi yang lainnya, ternyata dia lebih berat dari mereka. Lalu diletakkan Utsman di sebuah daun timbangan dan umatku diletakkan di sisi lainnya, ternyata dia lebih berat dari mereka.” (al-Ma’rifatu wa at-Tarikh, 3: 357).

Hadis yang serupa juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari jalur Umar bin al-Khattab.

Hadis ini menunjukkan kedudukan Abu Bakar, Umar, dan Utsman dibandingkan seluruh umat Nabi Muhammad ﷺ yang lain. Seandainya orang-orang terbaik dari umat ini dikumpulkan, lalu ditimbang dengan salah seorang dari tiga sahabat Nabi ini, niscaya timbangan mereka lebih berat dibanding seluruh orang-orang terbaik tersebut.

??– Kabar Tentang Kekhalifahan dan Orang-orang Yang Akan Memberontaknya

Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, ia berkata: Rasulullah ﷺ pernah mengutus seseorang untuk memanggil Utsman. Ketika Utsman sudah datang, Rasulullah ﷺ menyambut kedatangannya. Setelah kami melihat Rasulullah ﷺ menyambutnya, maka salah seorang dari kami menyambut kedatangan yang lain. Dan ucapan terakhir yang disampaikan Rasulullah ﷺ sambil menepuk pundak Utsman adalah:

“Wahai Utsman, mudah-mudahan Allah akan memakaikanmu sebuah pakaian (mengamanahimu jabatan khalifah). Dan jika orang-orang munafik ingin melepaskan pakaian tersebut, janganlah engkau lepaskan, sampai engkau bertemu denganku (meninggal).” Beliau mengulangi ucapan ini tiga kali. (HR. Ahmad).

Dan akhirnya perjumpaan yang disabdakan Rasulullah ﷺ pun terjadi. Dari Abdullah bin Umar bahwa Utsman bin Affan berbicara di hadapan khalayak: “Aku berjumpa dengan Nabi ﷺ di dalam mimpi, lalu beliau mengatakan: ‘Wahai Utsman, berbukalah bersama kami’.” Maka pada pagi harinya beliau berpuasa dan di hari itulah beliau terbunuh. (HR. Hakim dalam Mustadrak, 3: 103).

Katsir bin ash-Shalat mendatangi Utsman bin Affan dan berkata: “Amirul Mukminin, keluarlah dan duduklah di teras depan, agar masyarakat melihatmu. Jika engkau lakukan itu, masyarakat akan membelamu. Utsman tertawa lalu berkata: ‘Wahai Katsir, semalam aku bermimpi seakan-akan aku berjumpa dengan Nabi Allah, Abu Bakar, dan Umar, lalu beliau bersabda: ‘Kembalilah, karena besok engkau akan berbuka bersama kami’. Kemudian Utsman berkata: ‘Demi Allah, tidaklah matahari terbenam esok hari, kecuali aku sudah menjadi penghuni Akhirat’.” (Ibnu Saad dalam ath-Thabaqat, 3: 75).

Demikianlah sedikit cuplikkan tentang keutamaan Utsman bin Affan yang mungkin tertutupi oleh orang-orang yang lebih senang memerhatikan aib-aibnya. Padahal aib itu sendiri adalah fitnah yang dituduhkan kepadanya. Semoga Allah meridhai Utsman bin Affan dan memasukkannya ke dalam Surga yang penuh kedamaian.

 

Sumber: al-Bidayah wa an-Nihayah

Ditulis oleh Nurfitri Hadi

[Artikel www.KisahMuslim.com]

 

Sumber://kisahmuslim.com/4066-keutamaan-utsman-bin-affan.html

 

KEUTAMAAN ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ

KEUTAMAAN ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

☘ ? ☘ KEUTAMAAN ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ ☘ ? ☘

Abu Bakar ash-Shiddiq adalah sahabat Rasulullah ﷺ yang paling mulia. Bahkan dikatakan ia adalah manusia termulia setelah para nabi dan rasul. Keutamannya adalah sesuatu yang melegenda. Hal itu diketahui oleh kalangan awam sekalipun. Membaca kisah perjalanan hidupnya seakan-akan kita merasa hidup di dunia hayal. Apa benar ada orang seperti ini pernah menginjakkan kaki di bumi? Apalagi di zaman kita saat ini, memang manusia teladan sudah sulit terlestari.

Namun seiring pergantian masa dan perjalanan hidup manusia, ada segelintir orang atau kelompok yang mulai mencoba mengritik perjalanan hidup Abu Bakar ash-Shiddiq, setelah Allah dan Rasul-Nya memuji pribadinya. Allah meridhainya dan menjanjikan Surga untuknya, radhiallahu ‘anhu.

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka, dan mereka pun ridha kepada Allah. Dan Allah menyediakan bagi mereka Surga-Surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100)

Kritik tersebut mulai berpengaruh pada jiwa-jiwa yang mudah tertipu, kepada hati yang lalai, dan kepada pribadi-pribadi yang memiliki hasad kepada generasi pertama.

Kali ini kita tidak sedang menceritakan kepribadian Abu Bakar secara utuh, karena hal itu sulit diceritakan di tulisan yang singkat ini. Tulisan ini akan menyuplikkan sebagian teks-teks syariat yang menjelaskan tentang kemuliaan Abu Bakar.

? Nasab dan Karakter Fisiknya

Nama Abu Bakar adalah Abdullah bin Utsman at-Taimi, namun kun-yahnya (Abu Bakar) lebih populer dari nama aslinya sendiri. Ia adalah Abdullah bin Utsman bin Amir bin Amr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Ta-im bin Murrah bin Ka’ab bin Luai bin Ghalib bin Fihr al-Qurasyi at-Taimi. Bertemu nasabnya dengan Nabi ﷺ pada kakeknya Murrah bin Ka’ab bin Luai.

Ibunya adalah Ummu al-Khair, Salma binti Shakhr bin Amir bin Ka’ab bin Sa’ad bin Ta-im. Dengan demikian ayah dan ibu Abu Bakar berasal dari bani Ta-im.

Ummul Mukminin, Aisyah radhiallahu ‘anha menuturkan sifat fisik ayahnya: “Ia seorang yang berkulit putih, kurus, tipis kedua pelipisnya, kecil pinggangnya, wajahnya selalu berkeringat, hitam matanya, dahinya lebar, tidak bisa bersaja’, dan selalu mewarnai jenggotnya dengan memakai inai atau katam (Thabaqat Ibnu Sa’ad, 1: 188).

Adapun akhlak Abu Bakar, ia adalah seorang yang terkenal dengan kebaikan, keberanian, sangat kuat pendiriannya, mampu berpikir tenang dalam keadaan genting sekalipun, penyabar yang memiliki tekad yang kuat, dalam pemahamannya, paling mengerti garis keturunan Arab, orang yang bertawakal dengan janji-janji Allah, wara’ dan jauh dari kerancuan pemikiran, zuhud, dan lemah lembut. Ia juga tidak pernah melakukan akhlak-akhlak tercela pada masa jahiliyah, semoga Allah meridhainya.

Sebagaimana yang telah masyhur, ia adalah termasuk orang yang pertama memeluk Islam.

? Keutamaan Abu Bakar

? – Orang yang Rasulullah ﷺ Percaya Untuk Menemaninya Berhijrah ke Madinah

إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا

“Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad), maka sesungguhnya Allah telah menolongnya, (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah), sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita”. (QS. At-Taubah: 40)

Dalam perjalanan hijrah ini, Abu Bakar menjaga, melayani, dan memuliakan Rasulullah ﷺ. Ia memersilakan Rasul ﷺ untuk beristirahat, sementara dirinya menjaganya seolah-olah tidak merasakan letih dan butuh untuk istirahat.

Anas bin Malik meriwayatkan dari Abu Bakar, Abu Bakar mengatakan: “Ketika berada di dalam gua, aku berkata kepada Rasulullah ﷺ: ‘Sekiranya orang-orang musyrik ini melihat ke bawah kaki mereka pastilah kita akan terlihat’. Rasulullah ﷺ menjawab: ‘Bagaimana pendapatmu wahai Abu Bakar, dengan dua orang manusia, sementara Allah menjadi yang ketiga (maksudnya Allah bersama dua orang tersebut)’. Rasulullah ﷺ menenangkan hati Abu Bakar, di saat-saat mereka dikepung oleh orang-orang musyrikin Mekah yang ingin menangkap mereka.

? – Sebagai Sahabat Nabi ﷺ yang Paling Dalam Ilmunya

Abu Said al-Khudri mengatakan: “Suatu ketika, Rasulullah ﷺ berkhutbah di hadapan para sahabatnya dengan mengatakan: ‘Sesungguhnya Allah telah menyuruh seorang hamba untuk memilih dunia atau memilih ganjaran pahala dan apa yang ada di sisi-Nya, dan hamba tersebut memilih apa yang ada di sisi Allah’.

Kata Abu Sa’id, “(Mendengar hal itu), Abu Bakar menangis. Kami heran, mengapa ia menangis, padahal Rasulullah ﷺ hanya menceritakan seorang hamba yang memilih kebaikan. Akhirnya kami ketahui, bahwa hamba tersebut tidak lain adalah Rasulullah ﷺ sendiri. Abu Bakar-lah yang paling mengerti, serta berilmu di antara kami. Kemudian Rasulullah ﷺ melanjutkan khutbahnya:

“Sesungguhnya, orang yang paling besar jasanya dalam persahabatan dan kerelaan mengeluarkan hartanya adalah Abu Bakar. Andai saja aku diperbolehkan memilih kekasih selain Rabbku, pasti aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai kekasih. Namun cukuplah persaudaraan se-Islam dan kecintaan karenanya.”

? – Kedudukan Abu Bakar di Sisi Rasulullah ﷺ

Dari Amr bin Ash, Rasulullah ﷺ pernah mengutusku dalam Perang Dzatu as-Salasil. Saat itu aku menemui Rasulullah ﷺ dan bertanya kepadanya: “Siapakah orang yang paling Anda cintai?” Rasulullah ﷺ menjawab: “Aisyah.” Kemudian kutanyakan lagi: “Dari kalangan laki-laki?” Rasulullah ﷺ menjawab: “Bapaknya (Abu Bakar).”

? – Saat Masih Hidup di Dunia, Abu Bakar Sudah Dipastikan Masuk Surga

Abu Musa al-Asy’ari mengisahkan, suatu hari dia berwudhu di rumahnya, lalu keluar menemani Rasulullah ﷺ. Abu Musa berangkat ke masjid dan bertanya di mana Nabi ﷺ, dijawab bahwa Nabi ﷺ keluar untuk suatu keperluan. Kata Abu Musa: “Aku pun segera pergi berusaha menyusulnya sambil bertanya-tanya, hingga akhirnya beliau masuk ke sebuah kebun yang teradapat sumur yang dinamai sumur Aris. Aku duduk di depan pintu kebun, hingga beliau menunaikan keperluannya.

Setelah itu aku masuk ke kebun dan beliau sedang duduk-duduk di atas sumur tersebut sambil menyingkap kedua betisnya dan menjulur-julurkan kedua kakinya ke dalam sumur. Aku mengucapkan salam kepada beliau, lalu kembali berjaga di depan pintu sambil bergumam: “Hari ini aku harus menjadi penjaga pintu Rasulullah ﷺ.” Tak lama kemudian datanglah seseorang ingin masuk ke kebun, kutanyakan: “Siapa itu?” Dia menjawab: “Abu Bakar.” Lalu kujawab: “Tunggu sebentar.” Aku datang menemui Rasulullah ﷺ dan bertanya padanya: “Wahai Rasulullah, ada Abu Bakar datang dan meminta izin masuk.” Rasulullah ﷺ menjawab: “Persilakan dia masuk, dan beritahukan padanya, bahwa dia adalah penghuni Surga.”

⤵️ Penutup

Demikianlah Abu Bakar ash-Shiddiq dengan keutamaan-keutamaan yang ada padanya. Sebuah keistimewaan yang mungkin tidak pernah terlintas di benak kita, dijamin Surga, menjadi kekasih Rasul ﷺ, orang kecintaan Rasulullah ﷺ, dan sahabat dekatnya. Lalu bagaimana bisa di hari ini ada orang yang merendahkan kedudukan beliau, setelah Allah dan Rasul-Nya memuliakan dia?

Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjauhkan kita dari sifat buruk yang merendahkan wali-Nya, menjadi musuh orang yang Dia cintai. Semoga Allah meridhai Abu Bakar ash-Shiddiq.

Sumber: al-Bidayah wa an-Nihayah

? Ditulis oleh Nurfitri Hadi
[Artikel www.KisahMuslim.com]

https://kisahmuslim.com/4058-keutamaan-abu-bakar-ash-shiddiq.html

 

┄┄┉┉✽̶»̶̥  ?? ? »̶̥✽̶┉┉┄┄

 

 

 

KEUTAMAAN UMAR BIN AL-KHATTAB

KEUTAMAAN UMAR BIN AL-KHATTAB

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

???KEUTAMAAN UMAR BIN AL-KHATTAB ???

Ia adalah seorang khalifah yang sangat terkenal. Perjalanan hidupnya adalah teladan yang diikuti, dan kepemimpinannya adalah sesuatu yang diimpikan. Banyak orang saat ini memimpikan, kiranya Umar hidup di zaman ini dan memimpin umat yang tengah kehilangan jati diri.

Ada beberapa gelintir orang yang tidak menyukai khalifah yang mulia ini. Mereka mengatakan al-Faruq telah mencuri haknya Ali. Menurut mereka, Ali bin Abi Thalib lebih layak dan lebih pantas dibanding Umar untuk menjadi khalifah pengganti Nabi. Berangkat dari klaim tersebut, mulailah mereka melucuti kemuliaan dan keutamaan Umar. Mereka buat berita-berita palsu demi rusaknya citra Amirul Mukminin Umar bin Khattab. Mereka puja orang yang memusuhinya, dan pembunuhnya pun digelari pahlawan bangsa.

Berikut ini adalah cuplikkan kabar-kabar ilahi yang bercerita tentang keutamaan, kemuliaan, dan kedudukan Umar bin Khattab, karena seperti itulah ia layak untuk diceritakan.

✅ Nasab dan Ciri Fisiknya

Ia adalah Umar bin al-Khattab bin Nufail bin Adi bin Abdul Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qurth bin Razah bin Adi bin Ka’ab bin Luai, Abu Hafsh al-Adawi. Ia dijuluki al-Faruq.

Ibunya bernama Hantamah binti Hisyam bin al-Mughirah. Ibunya adalah saudari tua dari Abu Jahal bin Hisyam.

Ia adalah seseorang yang berperawakan tinggi. Kepala bagian depannya plontos, selalu bekerja dengan kedua tangannya, matanya hitam, dan kulitnya kuning. Ada pula yang mengatakan kulitnya putih hingga kemerah-merahan. Giginya putih bersih dan mengkilat. Selalu mewarnai janggutnya dan merapikan rambutnya dengan inai (daun pacar) (Thabaqat Ibnu Saad, 3: 324).

Amirul Mukminin Umar bin Khattab adalah seorang yang sangat rendah hati dan sederhana, namun ketegasannya dalam permasalahan agama adalah ciri khas yang kental melekat padanya. Ia suka menambal bajunya dengan kulit, dan terkadang membawa ember di pundaknya, akan tetapi sama sekali tak menghilangkan ketinggian wibawanya. Kendaraannya adalah keledai tak berpelana, hingga membuat heran pastur Jerusalem saat berjumpa dengannya. Umar jarang tertawa dan bercanda, di cincinnya terdapat tulisan “Cukuplah kematian menjadi peringatan bagimu hai Umar.”

✅ Keistimewaan dan Keutamaannya

♥️ – Umar adalah Penduduk Surga Yang Berjalan di Muka Bumi

Diriwayatkan dari Said bin al-Musayyib bahwa Abu Hurairah berkata: ketika kami berada di sisi Rasulullah ﷺ, beliau ﷺ bersabda:

“Sewaktu tidur aku bermimpi, seolah-olah aku sedang berada di Surga. Kemudian aku melihat seorang wanita sedang berwudhu di sebuah istana (Surga). Maka aku pun bertanya: ‘Milik siapakah istana ini?’ Wanita-wanita yang ada di sana menjawab, ‘Milik Umar.’ Lalu aku teringat dengan kecemburuan Umar, aku pun menjauh (tidak memasuki) istana itu.” Umar radhiallahu ‘anhu menangis dan berkata: “Mana mungkin aku akan cemburu kepadamu wahai Rasulullah.”

Subhanallah! Kala Umar masih hidup di dunia bersama Rasulullah dan para sahabatnya, namun istana untuknya telah disiapkan di tanah Surga.

♥️ – Mulianya Islam dengan Perantara Umar

Dalam sebuah hadisnya Rasulullah ﷺ pernah mengabarkan betapa luasnya pengaruh Islam di masa Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu. Beliau ﷺ bersabda:

“Aku bermimpi sedang mengulurkan timba ke dalam sebuah sumur yang ditarik dengan penggerek. Datanglah Abu Bakar mengambil air dari sumur tersebut satu atau dua timba dan dia terlihat begitu lemah menarik timba tersebut, -semoga Allah Ta’ala mengampuninya-. Setelah itu datanglah Umar bin al-Khattab mengambil air sebanyak-banyaknya. Aku tidak pernah melihat seorang pemimpin Abqari (pemimpin yang begitu kuat) yang begitu gesit, sehingga setiap orang bisa minum sepuasnya dan juga memberikan minuman tersebut untuk onta-onta mereka.”

Abdullah bin Mas’ud mengatakan: “Kami menjadi kuat setelah Umar memeluk Islam.”

♥️ – Kesaksian Ali bin Abi Thalib Tentang Umar bin al-Khattab

Diriwayatkan dari Ibnu Mulaikah, dia pernah mendengar Abdullah bin Abbas berkata: “Umar radhiallahu ‘anhu ditidurkan di atas kasurnya (menjelang wafatnya), dan orang-orang yang berkumpul di sekitarnya mendoakan sebelum dipindahkan –ketika itu aku hadir di tengah orang-orang tersebut-. Aku terkejut tatkala seseorang memegang kedua pundakku dan ternyata ia adalah Ali bin Abi Thalib. Kemudian Ali berkata (memuji dan mendoakan Umar seperti orang-orang lainnya): “Engkau tidak pernah meninggalkan seseorang yang dapat menyamai dirimu dan apa yang telah engkau lakukan. Aku berharap bisa menjadi sepertimu tatkala menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala. Demi Allah, aku sangat yakin, bahwa Allah akan mengumpulkanmu bersama dua orang sahabatmu (Rasulullah dan Abu Bakar).

Aku sering mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

“Aku berangkat bersama Abu Bakar dan Umar, aku masuk bersama Abu Bakar dan Umar, dan aku keluar bersama Abu Bakar dan Umar.”

♥️ – Umar adalah Seorang yang Mendapat Ilham

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya di antara orang-orang sebelum kalian terdapat sejumlah manusia yang mendapat ilham. Apabila salah seorang umatku mendapakannya, maka Umarlah orangnya.”

Zakaria bin Abi Zaidah menambahkan dari Sa’ad dari Abi Salamah dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari Bani Israil ada yang diberikan ilham walaupun mereka bukan nabi. Jika salah seorang dari umatku mendapatkannya, maka Umarlah orangnya.”

♥️ – Wibawa Umar

Dari Aisyah, Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya setan lari ketakutan jika bertemu Umar.”

Rasulullah ﷺ bersabda: “Umatku yang paling penyayang adalah Abu Bakar dan yang paling tegas dalam menegakkan agama Allah adalah Umar.” (HR. Tirmidzi dalam al-Manaqib, hadits no. 3791)

Demikianlah di antara keutamaan Umar bin al-Khattab yang secara langsung diucapkan dan dilegitimasi oleh Nabi Muhammad ﷺ. Semoga Allah meridhai Umar bin al-Khattab.

Sumber: al-Bidayah wa an-Nihayah

? Ditulis oleh Nurfitri Hadi
[Artikel www.KisahMuslim.com]

Sumber: https://kisahmuslim.com/4061-keutamaan-umar-bin-al-khattab.html

 

┄┄┉┉✽̶»̶̥  ?? ? »̶̥✽̶┉┉┄┄

 

 

, ,

SEJARAH PUASA ASYURA

Sejarah Puasa Asyura

Sejarah Puasa Asyura

‘Asyura adalah hari kesepuluh pada bulan Muharrom [Syarah Shahih Muslim 8/12, Fathul Bari, Ibnu Hajar 4/671, Mukhtashor Shahih Muslim, al-Mundziri hal.163-Tahqiq al-Albani, al-Mughni 4/441, Subulus Salam, as-Shon’ani 2/671]. Dia adalah hari yang mulia, menyimpan sejarah yang mendalam, tak bisa dilupakan.

Ibnu Abbas berkata: “Nabi ﷺ tiba di Madinah dan dia mendapati orang-orang Yahudi sedang berpuasa A’syuro. Nabi ﷺ bertanya: “Puasa apa ini?” Mereka menjawab: “Hari ini adalah hari yang baik, hari di mana Allah telah menyelamatkan Bani Israil dari kejaran musuhnya. Maka Musa berpuasa sebagai rasa syukurnya kepada Allah. Dan kami-pun ikut berpuasa. Nabi ﷺ berkata: “Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian”. Akhirnya Nabi ﷺ berpuasa dan memerintahkan manusia untuk berpuasa [HR. Bukhari: 2004, Muslim: 1130].

Nabi ﷺ dalam berpuasa ‘Asyura mengalami empat fase [Lathoiful Ma’arif hal.102-107]:

Fase pertama: Beliau ﷺ berpuasa di Mekkah dan tidak memerintahkan manusia untuk berpuasa.

Aisyah menuturkan: “Dahulu orang Quraisy berpuasa A’syuro pada masa jahiliyyah. Dan Nabi ﷺ pun berpuasa ‘Asyura pada masa jahiliyyah. Tatkala beliau ﷺ hijrah ke Madinah, beliau ﷺ tetap puasa ‘Asyura dan memerintahkan manusia juga untuk berpuasa. Ketika puasa Ramadhon telah diwajibkan, beliau ﷺ berkata: “Bagi yang hendak puasa silakan, bagi yang tidak puasa, juga tidak mengapa” [HR. Bukhari: 2002, Muslim: 1125]

Fase kedua: Tatkala beliau ﷺ datang di Madinah dan mengetahui bahwa orang Yahudi puasa ‘Asyura, beliau ﷺ juga berpuasa dan memerintahkan manusia agar puasa, sebagaimana keterangan Ibnu Abbas di muka. Bahkan Rasulullah ﷺ menguatkan perintahnya dan sangat menganjurkan sekali, sampai-sampai para sahabat melatih anak-anak mereka untuk puasa ‘Asyura.

Fase ketiga: Setelah diturunkannya kewajiban puasa Ramadhon, beliau ﷺ tidak lagi memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa A’syuro, dan juga tidak melarang, dan membiarkan perkaranya menjadi sunnah [Bahkan para ulama telah sepakat bahwa puasa ‘Asyura sekarang hukumnya sunnah tidak wajib. Ijma’at Ibnu Abdil Barr 2/798, Abdullah Mubarak Al Saif, Shahih Targhib wa Tarhib, al-Albani 1/438, Tuhfatul Ahwadzi, Mubarak Fury 3/524, Aunul Ma’bud, Syaroful Haq Azhim Abadi 7/121], sebagaimana hadis Aisyah yang telah lalu.

Fase keempat: Pada akhir hayatnya, Nabi ﷺ bertekad untuk tidak hanya puasa pada hari A’syuro saja, namun juga menyertakan hari tanggal 9 A’syuro, agar berbeda dengan puasanya orang Yahudi.

Ibnu Abbas berkata: “Ketika Nabi ﷺ puasa A’syuro dan beliau juga memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa, para sahabat berkata: “Wahai Rasululloh, hari Asyura adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashoro!! Maka Rasululloh ﷺ berkata: “Kalau begitu, tahun depan Insya Allah, kita puasa bersama tanggal sembilannyajuga”. Ibnu Abbas berkata: “Belum sampai tahun depan, beliau ﷺ sudah wafat terlebih dahulu” [HR. Muslim: 113].

Di antara keutamaan puasa ‘Asyura adalah: Menghapus dosa satu tahun yang lalu. Rasululloh ﷺ bersabda:

صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

Puasa ‘Asyura, aku memohon kepada Allah, agar dapat menghapus dosa setahun yang lalu [HR. Muslim: 1162].

Imam an-Nawawi berkata: “Keutamaannya menghapus semua dosa-dosa kecil. Atau boleh dikatakan menghapus seluruh dosa kecuali dosa besar” [Majmu’ Syarah al-Muhadzzab, an-Nawawi 6/279].

Wallahu a’alam.

 

Penulis: Ustadz Syahrul Fatwa bin Luqman (Penulis Majalah Al Furqon Gresik)

Untuk lengkapnya:

https://muslim.or.id/23090-keutamaan-puasa-asyura-dan-sejarahnya.html

 

 

 

, , , , ,

SI MULIA HATI DAN SANG PENJAGA KEHORMATAN DIRI

Si Mulia dan Sang Penjaga Kehormatan Diri

Si Mulia dan Sang Penjaga Kehormatan Diri [Kisah Sa’ad bin ar Rabi’ Radhiyallahu anhu dan ‘Abdur Rahman Radhiyallahu anhu]

Dari Ibrahim bin Sa’d dari ayahnya dari kakeknya, ia berkata:

‘Abdur Rahman bin ‘Auf Radhiyallahu anhu berkata: “Ketika kami sampai ke Madinah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memersaudarakan aku dengan Sa’ad bin ar Rabi’ Radhiyallahu anhu.”

Maka Sa’ad bin ar Rabi’ Radhiyallahu anhu menawarkan: “Aku adalah orang Anshar yang paling banyak hartanya. Akan kuserahkan setengah hartaku untukmu. Dan coba lihat, wanita mana dari istriku yang engkau inginkan. Aku akan menceraikannnya. Bila telah selesai iddahnya, engkau bisa menikahinya”.

‘Abdur Rahman Radhiyallahu anhu menjawab: “Saya tidak menginginkannya. Apakah ada pasar tempat perdagangan ( di sini)?”.

Sa’ad Radhiyallahu anhu berkata: “Pasar Bani Qainuqa’”

Maka ‘Abdur Rahman Radhiyallahu anhu bergegas ke sana dan pulang membawa susu kering dan minyak samin. Ia terus menjalani aktivitas itu, sampai akhirnya terlihat muncul dengan aroma wewangian.

Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: “Apakah engkau baru menikah?”

Ia menjawab: “Benar”.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi: “Dengan siapa?”.

Ia menjawab: “Dengan seorang wanita Anshar”.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi: “Berapa banyak mahar yang engkau serahkan?”

Ia menjawab: “Emas sebesar biji kurma”.

Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan: “Selenggarakan walimah meski dengan seekor kambing” [HR. al Bukhari 2048].

Refleksi dari kisah di atas [Syaikh Husain bin ‘Audah al ‘Awayisyah Mu`akhâtur Rasul Baina Abdir Rahman bin ‘Auf]:

“Aku adalah orang Anshar yang paling banyak hartanya”.

Itulah informasi dari Sa’ad bin Ar Rabi’ Radhiyallahu anhu kepada saudara barunya, Abdur Rahman bin ‘Auf Radhiyallahu anhu. Sahabat yang mulia itu tidak berkata ‘Aku punya harta’ atau mengatakan ‘Hartaku sedikit’. Tidak mencari-cari alasan untuk menutup-nutupi seberapa banyak uang yang ia miliki. Begitu pula, tidak muncul dari lisannya ‘Utang-utangnya masih banyak’ guna menolak saudaranya dari kaum Muhajirin. Subhanallah

“Akan ku serahkan setengah hartaku untukmu”.

Sa’ad tidak sedang menawarkan beberapa keping Dirham atau Dinar saja!. Akan tetapi separuh dari harta miliknya! Alangkah menakjubkan jiwanya! Jiwa sahabat ini bukanlah jiwa orang kebanyakan yang sering kita kenal dan kita saksikan. Jiwa yang berhasil menggenggam perilaku suci yang bersumber dari Kitabullah. Jiwa yang sudah mengakar padanya ruh berkorban melalui tempaan pendidikan Nubuwwah.

Sungguh memrihatinkan hubungan kita dengan karib kerabat dan sanak saudara. Meski seiman, akan tetapi lantaran jauhnya kita dari agama, hubungan mesra seperti itu tidak terimajinasikan.

Sebuah tali persaudaraan yang berdasarkan agama, yang sanggup meluluhkan pertimbangan-pertimbangan matematis. Rahasianya, berpegang teguh dengan tali Allah Subhanahu wa Ta’ala mampu membersihkan hati, mengondisikannya selalu melihat Akhirat, menciptakan jiwa yang mementingkan kepentingan orang lain dan berani berkorban.

Apakah dengan itu, Sa’ad Radhiyallahu anhu sedang menyia-nyiakan hartanya? Jawabannya, sama sekali tidak! Justru pilihannya itu salah satu wahana yang baik untuk menginvestasikan apa yang ia miliki. Sebuah usaha investasi untuk perkampungan di Akhirat.

Coba sekarang saksikan, orang-orang yang memiliki uang jutaan, bahkan milyaran, bagaimana mereka memorak-porandakan kehidupan Akhirat mereka. Bila langkah-langkah mereka ditinjau melalui kacamata prinsip perdagangan, usaha mereka tidak menjanjikan. Justru malah membekukannya.

Jelasnya, orang yang memiliki nominal uang yang besar, apakah yang akan ia lakukan bersama keluarganya terhadap makanan, minuman, pakaian dan rumah? Apakah mereka akan memakai melebihi kebutuhannya? Siapakah yang memanfaatkan sisanya?

Anggap saja, seorang milyader memunyai sepuluh, seratus atau seribu mobi. Apakah ia akan mengendarai seluruhnya dalam perjalanan pulang perginya? Di siang hari, jika suguhan hidangan makan siangnya seratus ekor ayam bakar dan seratus ekor kambing daging lunak, berapa banyak yang akan ia telan? Bukankan ia hanya akan memakan sesuai dengan kebutuhannya dan meninggalkan sisanya?

Seandainya mereka membelanjakan harta mereka itu di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sudah tentu akan lebih baik bagi agama dan dunia mereka, sehingga kekayaan tetap melekat pada diri mereka di dunia dan Akhirat.

“Dan coba lihat, wanita mana dari istriku yang engkau inginkan. Aku akan menceraikannnya. Bila telah selesai iddahnya, engkau bisa menikahinya”.

Apakah mungkin ucapan di atas keluar dari mulut manusia? Apakah cerita ini pernah terjadi? Ya, ada manusia yang tubuhnya terdiri dari daging dan darah yang pernah mengucapkannya. Akan tetapi, ia hidup bersama nilai-nilai Kitabullah dan terdidik di bawah bimbingan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hidup dengan denyut ilmu, amal dan keikhlasan. Benar-benar merasa nikmat untuk menyelesaikan persoalan yang melilit saudaranya.

Orang-orang semisal Sa’ad Radhiyallahu anhu, bukan berarti tidak membutuhkan wanita. Orang-orang sekaliber mereka tentu tidak lupa dengan hadis: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang terbaik bagi keluarganya. Dan aku orang yang terbaik bagi keluargaku” [Ash Shahihah no. 285]. Kecintaan dan kesetiaan mereka kepada istri-istri tidak mampu mengalahkan cinta mereka kepada Allah.

Maka, cobalah orang-orang yang ingin mencarikan lelaki kaya bagi putrinya merenungi perkataan Sa’ad ini. Dengarlah perkataan Sa’ad ini, wahai orang tua yang menyampaikan alasan-alasan yang dibuat-buat untuk menolak lelaki yang berhasrat meminang putrinya, lantaran ia berasal dari status social rendah atau tidak punya apa-apa. Berbagai alasan yang sejatinya hanya kedustaan.

Sa’ad Radhiyallahu anhu menyerahkan harta dan istrinya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kapan kita menyisihkan harta kita bagi orang-orang miskin dan yang membutuhkan?!

‘Abdur Rahman Radhiyallahu anhu menjawab: “Saya tidak menginginkannya. Apakah ada pasar tempat perdagangan ( di sini)?”. Sa’ad Radhiyallahu anhu berkata: “Pasar Bani Qainuqa’”

‘Abdur Rahman bin ‘Auf Radhiyallahu anhu tidak memanfaatkan kesempatan yang ditawarkan oleh si baik hati. Tidak terbetik pada dirinya untuk berfikir: Mumpung saudaraku ini berharta banyak. Andai aku terima tawarannya itu, tetap saja tidak merugikannya”. Sahabat yang termasuk sepuluh orang yang diberi kabar gembira oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penghuni Surgaini ternyata enggan menerima tawaran tersebut. Ia menolaknya. Bagaimana mungkin akan menerima tawaran untuk mengambil istri Sa’ad?!. Yang keluar dari lisannya, justru pertanyaan tentang keberadaan pasar dan letaknya, untuk memulai perniagaan, sehingga dapat memenuhi kebutuhan pribadinya dan tetap dapat memelihara muru`ah (kehormatan)nya.

Itulah langkah yang ditempuh dan Allah memberikan barokah bagi usahanya. Pernikahan pun akhirnya bisa terlaksana. Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menolong siapa saja yang berazam untuk menikah demi menjaga kehormatan jiwanya. Rasulullah bersabda:

“Tiga orang, menjadi kewajiban Allah untuk membantu mereka: (di antaranya): Orang yang menikah guna mencari penjagaan diri…”.

Itulah potret jiwa yang terjaga, bersih lagi suci. Itulah gambaran jiwa yang bening lagi baik. Teladan dalam kemurahan, pengutamaan kepentingan orang lain yang membutuhkan, kerja keras dan tawakkal kepada Allah Ta’ala.

 

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun XI/1428H/2007M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]

_______

 

https://almanhaj.or.id/2608-si-mulia-hati-dan-sang-penjaga-kehormatan-diri.html

 

, ,

AL-HASAN BIN ALI TIDAK PUNYA KETURUNAN?

Al-Hasan bin Ali tidak punya keturunan?

Al-Hasan Bin Ali Tidak Punya Keturunan?

Asy-Syaikh rahimahullah menyebutkan bahwa Rafidhah menolak adanya keturunan Al-Hasan, karena mereka -semoga Allah membinasakan mereka- membenci Al-Hasan bin Ali radhiallahu anhu, karena beliau mengalah kepada Muawiah dalam masalah khilafah. Padahal itu beliau lakukan guna menjaga darah kaum Muslimin dan sebagai pengamalan dari sabda Rasulullah:

إِنَّ ابْنِي هَذَا سَيِّدٌ وَلَعَلَّ اللَّهَ وَسَيُصْلِحَ بِهِ بَيْنَ فِئَتَيْنِ عَظِيمَتَيْنِ مِنْ الْمُسْلِمِينَ

“Sesungguhnya anakku ini adalah Sayyid (Pemimpin) dan semoga Allah akan mendamaikan dua kelompok besar kaum Muslimin lewat tangannya.” Dari Abu Bakrah dalam riwayat Al-Bukhari no. 3746.

Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Katsir rahimahullah dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah: 8/16

Di antara ucapan mereka adalah bahwa Al-Hasan bin Ali tidak memunyai penerus keturunan. Bahwa keturunan beliau sudah tidak ada, dan bahwa tidak ada seorang pun dari penerus keturunannya yang laki-laki.

Ucapan ini tersebar di kalangan mereka dan mereka bersepakat di atasnya, sehingga tidak perlu untuk dibuktikan. Demikian komentar mereka. Di antara mereka ada yang meng-klaim bahwa … (tidak jelas maksudnya) semuanya sama seperti mereka. Mereka menggunakan ucapan ini untuk bisa sampai kepada tujuan mereka, yaitu membatasi ke’imam’an hanya pada anak keturunan Al-Husain [Dengan bukti bahwa semua imam mereka berasal dari anak keturunan Al-Husain bin Ali  radhiallahu anhu. Mulai dari Ali bin Al-Husain rahimahullah sampai pada imam mahdi khayalan mereka yang bernama Muhammad bin Al-Hasan Al-Askari, yang sebenarnya hakikat keberadaannya hanya merupakan khurafat belaka]. Dan di antara anak keturunannya adalah kedua belas imam itu. Dengannya mereka bertujuan untuk membatalkan ke’imam’an para ulama yang berdakwah dari kalangan anak keturunan Al-Hasan, bersamaan dengan keutamaan mereka, terpenuhinya syarat-syarat ke’imam’an pada mereka, orang-orang telah membaiat mereka, syahnya penisbatan keluarga mereka kepada Al-Hasan, dan tersebarnya ilmu mereka, di mana mereka semua telah mencapai derajat Mujtahid Mutlak. Maka semoga Allah membinasakan mereka atas kedustaan yang mereka ada-adakan tersebut.

Perhatikanlah mereka musuh-musuh Ahlul Bait yang mengganggu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan Fathimah, ketika mereka mengingkari nasab orang yang terbukti syah nasabnya secara pasti dari anak keturunan Al-Hasan radhiallahu anhu, dan kebenaran penisbatan keturunannya telah Mutawatir [Lihat apa yang ditulis oleh guru kami Al-Imam Al-Wadi’I rahimahullah dalam kitabnya Riyadh Al-Jannah hal. 64, di mana beliau menukil dari Allamah Yamah Muhammad bin Ismail Al-Amir Ash-Shan’ani dalam kitabnya Al-Masa`il Ats-Tsaman. Karena beliau menguatkan apa yang penulis rahimahullah sebutkan bahwa anak keturunan Al-Hasan masih ada sampai sekarang. LIhat juga Siyar A’lam An-Nubala`: 3/279]. Dan tidak tersembunyi dari setiap orang yang memunyai ilmu dalam masalah ini. Dan sungguh Nabi shallallahu alaihi wasallam telah menggolongkan perbuatan mencela nasab termasuk dari perbuatan-perbuatan jahiliah. Asy-Syaikh mengisyaratkan kepada hadis yang diriwayatkan oleh Muslim no. 934 dari Abu Malik Al-Asy’ari bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

أَرْبَعٌ فِي أُمَّتِي مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ لَا يَتْرُكُونَهُنَّ الْفَخْرُ فِي الْأَحْسَابِ وَالطَّعْنُ فِي الْأَنْسَابِ وَالْاسْتِسْقَاءُ بِالنُّجُومِ وَالنِّيَاحَةُ

“Ada empat perkara jahiliyah yang masih melekat pada umatku dan mereka belum meninggalkannya: Membanggakan kedudukan, mencela nasab (garis keturunan), meminta hujan dengan bintang-bintang, dan niyahah (meratapi mayit).”

Dan telah datang dalam sebuah riwayat yang menunjukkan bahwa Imam Mahdi itu berasal dari anak keturunan Al-Hasan radhiallahu anhu, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan selainnya [Hadisnya dalam riwayat Abu Daud no. 5462 dari jalan Abu Ishaq As-Sabi’i dari Ali bin Abi Thalib. Al-Mundziri berkata dalam ‘Aun Al-Ma’bud, “Ini sanad yang terputus, Abu Ishaq hanya pernah sekali melihat Ali.” Dan Al-Albani menyatakannya dha’if dalam Al-Misykah no. 5462].

 

[Diterjemah dari Risalah fi Ar-Radd ala Ar-Rafidhah hal. 78-79, dengan meringkas pada footnote terakhir]

 

 

http://al-atsariyyah.com/al-hasan-radhiallahu-anhu-tidak-memunyai-keturunan.html