Posts

,

APA SAJA YANG TERMASUK PERHIASAN WANITA MUSLIMAH?

APA SAJA YANG TERMASUK PERHIASAN WANITA MUSLIMAH?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
APA SAJA YANG TERMASUK PERHIASAN WANITA MUSLIMAH?
 
Pertanyaan:
Bila seorang Muslimah menutup auratnya, maka perhiasan tidak terlihat. Yang saya tanyakan, kapan dan bagaimana cara seorang Muslimah memakai perhiasan yang dibenarkan oleh ajaran agama Allah Azza wa Jalla. Terima kasih
 
Jawaban:
Perhiasan di dalam bahasa Arab lazim disebut dengan istilah zinah. Cakupan pengertian perhiasaan TIDAK terbatas pada barang-barang yang dipakai. Akan tetapi juga mencakup SEGALA PERBUATAN UNTUK MEMPERINDAH DIRI. Mengenakan perhiasan termasuk masalah duniawi, sehingga hukum asalnya semua boleh, kecuali yang dilarang.
 
Bagi wanita Muslimah, PERHIASAN YANG DIBENARKAN adalah sebagai berikut:
 
• Mencuci rambut, meminyaki dan menyisirnya.
• Membersihkan gigi dengan siwak atau sikat gigi.
• Mengenakan pakaian indah di hadapan suami. Adapun di hadapan orang lain, ia mengenakan pakaian yang menutupi aurat, bermodel biasa, dan tidak menarik perhatian.
• Memakai minyak wangi pada tubuh atau pakaiannya untuk suaminya. Tapi ia tidak boleh memakai wewangian pada waktu keluar rumah, berkabung, dan dalam kondisi ihram.
• Bercelak mata, namun tidak boleh dilakukan ketika sedang menjalani masa berkabung.
• Menyemir rambut dengan selain warna hitam, tanpa menyerupai atau meniru gaya orang-orang kafir atau fasi.
• Menggunakan inai pada kuku.
• Memakai kosmetik, namun hanya boleh ditampakkan pada orang yang diizinkan oleh Allah Azza wa Jalla dan bahan-bahannya tidak membahayakan. Banyak keterangan yang menyatakan, bahwa sebagian bahan-bahan kosmetika mengandung unsur yang berbahaya. Jika demikian kenyataannya, maka harus dihindari.
• Mengenakan perhiasan dari emas dan perak, seperti cincin, gelang tangan, anting, dan kalung. Juga boleh memakai gelang kaki untuk suaminya di rumah. Tapi itu dilarang untuk ditampakkan kepada laki-laki yang bukan mahram, dan tidak boleh menghentakkan kakinya di depan laki-laki. Wallahu a’lam. [Lihat Shahih Fiqih Sunnah 3/52-70 dan lain-lainnya]
 
 
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XIV/1431H/2010M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
 
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#perhiasan, #wanita, #perempuan, #muslimah, #hiasan, #gelang, #kalung #emasperak #aurat, #menutupaurat, #muka, #wajahparfum, #minyakwangi, #wewangian, #zinah, #zina,
,

DOA MEMOHON AGAR DAPAT MEMANDANG WAJAH ALLAH

DOA MEMOHON AGAR DAPAT MEMANDANG WAJAH ALLAH

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#DoaZikir

DOA MEMOHON AGAR DAPAT MEMANDANG WAJAH ALLAH

Ibnu Qayyim Al Jauziyyah dalam kitab beliau “Ighaatsatul lahafaan” [Hal. 70-71 dan hal. 79 (Mawaaridul amaan, cet. Daar Ibnil Jauzi, Ad Dammaam, 1415 H)] menjelaskan, bahwa kenikmatan tertinggi di Akhirat ini (melihat wajah Allah ta’ala) adalah balasan yang Allah ta’ala berikan kepada orang yang merasakan kenikmatan tertinggi di dunia, yaitu kesempurnaan dan kemanisan iman, kecintaan yang sempurna dan kerinduan untuk bertemu dengan-Nya, serta perasaan tenang dan bahagia ketika mendekatkan diri dan berzikir kepada-Nya. Beliau menjelaskan hal ini berdasarkan lafal doa Rasulullah ﷺ dalam sebuah hadis yang shahih:

أَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ

AS-ALUKA LADZDZATAN NAZHOR ILAA WAJHIK, WASY-SYAUQO ILAA LIQOO’IK

Artinya:
Aku memohon kepada-Mu (ya Allah), kenikmatan memandang wajah-Mu (di Akhirat nanti), dan aku memohon kepada-Mu kerinduan untuk bertemu dengan-Mu (sewaktu di dunia). [HR An Nasa-i dalam “As Sunan” (3/54 dan 3/55), Imam Ahmad dalam “Al Musnad” (4/264), Ibnu Hibban dalam “Shahihnya” (no. 1971) dan Al Hakim dalam “Al Mustadrak” (no. 1900), dishahihkan oleh Ibnu Hibban, Al Hakim, disepakati oleh Adz Dzahabi dan Syaikh Al Albani dalam “
Zhilaalul Jannah Fii Takhriijis Sunnah” (no. 424)].

,

JANGAN JADI PENGEMIS

JANGAN JADI PENGEMIS

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#MutiaraSunnah, #DakwahSunnah

JANGAN JADI PENGEMIS

Islam sendiri memerintahkan pada kita untuk bekerja keras, dan meminta-minta alias pengemis adalah suatu pekerjaan yang hina. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasul ﷺ bersabda:

لأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ أَحَدًا ، فَيُعْطِيَهُ أَوْ يَمْنَعَهُ

“Lebih baik seseorang bekerja dengan mengumpulkan seikat kayu bakar di punggungnya, dibanding dengan seseorang yang meminta-minta (mengemis), lantas ada yang memberi atau enggan memberi sesuatu padanya.” [HR. Bukhari no. 2074]

Bekerja keras dengan menggunakan tangan, itu adalah salah satu pekerjaan terbaik. Bahkan inilah cara kerja para nabi ‘alaihimush sholaatu wa salaam. Dari Al Miqdam, dari Rasul ﷺ, beliau bersabda:

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ ، وَإِنَّ نَبِىَّ اللَّهِ دَاوُدَ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

“Tidak ada seseorang memakan suatu makanan yang lebih baik dari makanan hasil kerja keras tangannya sendiri. Dan Nabi Daud ‘alaihis salam makan dari hasil kerja keras tangannya.” [HR. Bukhari no. 2072]

Ingatlah ancaman ini!
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasul ﷺ bersabda:

مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ حَتَّى يَأْتِىَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِى وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ

“Jika seseorang meminta-minta (mengemis) pada manusia, ia akan datang pada Hari Kiamat tanpa memiliki sekerat daging di wajahnya.” [HR. Bukhari no. 1474 dan Muslim no. 1040]

Semoga Allah menjauhkan kita dari hal demikian.

 

Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah

Sumber: https://rumaysho.com/1938-jangan-jadi-pengemis.html

,

BERWAJAH CERIALAH

BERWAJAH CERIALAH

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#AdabAkhlak

BERWAJAH CERIALAH

Di antara bentuk akhlak mulia yang diajarkan dalam Islam adalah bermuka manis di hadapan orang lain. Bahkan hal ini dikatakan oleh Syaikh Musthofa Al ‘Adawi menunjukkan sifat tawadhu’ seseorang. Namun sedikit di antara kita yang mau memerhatikan akhlak mulia ini. Padahal di antara cara untuk menarik hati orang lain pada dakwah adalah dengan akhlak mulia.

Lihatlah bagaimana akhlak mulia ini diwasiatkan oleh Lukman pada anaknya:

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong), dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” [QS. Lukman: 18]

Ibnu Katsir menjelaskan mengenai ayat tersebut:

“Janganlah palingkan wajahmu dari orang lain ketika engkau berbicara dengannya, atau diajak bicara. Muliakanlah lawan bicaramu, dan jangan bersifat sombong. Bersikap lemah lembutlah, dan  berwajah cerialah di hadapan orang lain” [Tafsir Alquran Al ‘Azhim, 11: 56]

Dari Abu Dzar, Nabi ﷺ bersabda:

لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ

“Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun juga, walau engkau bertemu saudaramu dengan wajah berseri.” [HR. Muslim no. 2626]

Silakan di-share, semoga bermanfaat.

 

Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/rumaysho/posts/10154487130761213:0

, ,

USAPLAH BEKAS TIDUR DI WAJAH KETIKA KITA BANGUN TIDUR

USAPLAH BEKAS TIDUR DI WAJAH KETIKA KITA BANGUN TIDUR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ  

#MutiaraSunnah, #AdabAkhlak

USAPLAH BEKAS TIDUR DI WAJAH KETIKA KITA BANGUN TIDUR

Wujud mencintai Nabi ﷺ adalah berusaha melestarikan ajaran beliau ﷺ di setiap keadaan. Untuk itu para ulama menekankan, sebisa mungkin setiap Muslim menyesuaikan diri dengan Sunah beliau ﷺ dalam setiap aktivitasnya. 24 jam sesuai Sunah, mulai bangun tidur hingga tidur kembali.

Seperti inilah yang pernah dipesankan Sufyan at-Tsauri – ulama Tabi’ Tabiin (Wafat 161 H):

ان استطعت الا تحك رأسك الا بأثر فافعل

Jika kamu mampu tidak menggaruk kepala kecuali ada dalilnya, lakukanlah. [Al-Jami’ li Akhlak ar-Rawi, 1/142].

Di antara beberapa sunah Nabi ﷺ ketika bangun tidur adalah mengusap bekas tidur di wajah.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menceritakan, bahwa beliau pernah menginap di rumah bibinya, Maimunah radhiyallahu ‘anha, salah satu istri Nabi ﷺ. Kata Ibnu Abbas:

حَتَّى إِذَا انْتَصَفَ اللَّيْلُ اسْتَيْقَظَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَجَلَسَ يَمْسَحُ النَّوْمَ عَنْ وَجْهِهِ بِيَدِهِ

Kemudian ketika sudah masuk pertengahan malam, Rasulullah ﷺ bangun, kemudian beliau duduk, lalu mengusap bekas kantuk yang ada di wajahnya dengan tangannya. [HR. Ahmad 2201, Bukhari 183, Nasai 1631, dan yang lainnya].

 

Penulis: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/24137-adab-setelah-bangun-tidur.html

,

HUKUM MENUTUP MUKA BAGI WANITA (CADAR)

HUKUM MENUTUP MUKA BAGI WANITA (CADAR)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#MuslimahSholihah

HUKUM MENUTUP MUKA BAGI WANITA (CADAR)

Oleh: Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani

Pertanyaan:

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani ditanya: “Bagaimana hukum wanita menutup muka (cadar) ?”

Jawaban:

Kami tidak mengetahui ada seorang pun dari sahabat yang mewajibkan hal itu. Tetapi lebih utama dan lebih mulia bagi wanita untuk menutup wajah. Adapun mewajibkan sesuatu harus berdasarkan hukum yang jelas dalam syariat. Tidak boleh mewajibkan sesuatu yang tidak diwajibkan Allah.

Oleh karena itu saya telah membuat satu pasal khusus dalam kitab ‘Hijabul Mar’aatul Muslimah’, untuk membantah orang yang menganggap bahwa menutup wajah wanita adalah bid’ah. Saya telah jelaskan bahwa hal ini (menutup wajah) adalah lebih utama bagi wanita.

Hadis Ibnu Abbas menjelaskan bahwa wajah dan kedua telapak tangan bukan termasuk aurat, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam ‘Al-Mushannaf’.

Pendapat kami adalah bahwa hal ini bukanlah hal yang baru. Para ulama dari kalangan ‘As Salafus Shalih’ dan para ahli tafsir seperti Ibnu Jarir Ath-Thabari dan lain-lain mengatakan bahwa wajah bukan termasuk aurat tetapi menutupnya lebih utama.

Sebagian dari mereka berdalil tentang wajibnya menutup wajah bagi wanita dengan kaidah.

“Artinya: Mencegah kerusakan didahulukan daripada mengambil kemanfaatan”

Tanggapan saya:

Memang kaidah ini bukan bid’ah tapi sesuatu yang berdasarkan syariat. Sedangkan orang yang pertama menerima syariat adalah Rasulullah ﷺ. Kemudian orang-orang yang menerima syariat ini dari beliau ﷺ adalah para sahabat. Para Sahabat tentu sudah memahami kaidah ini, walaupun mereka belum menyusunnya dengan tingkatan ilmu Ushul Fiqih seperti di atas.

Telah kami sebutkan dalam kitab ‘Hijaab Al-Mar’aatul Muslimah’ kisah seorang wanita ‘Khats’amiyyah’ yang dipandangi oleh Fadhl bin ‘Abbas ketika Fadhl sedang dibonceng oleh Nabi ﷺ, dan wanita itu pun melihat Fadhl. Ia adalah seorang yang tampan dan wanita itu pun seorang yang cantik. Kecantikan wanita ini tidak mungkin bisa diketahui, jika wanita itu menutup wajahnya dan Rasulullah ﷺ ketika itu memalingkan wajah Fadhl ke arah lain. Yang demikian ini menunjukkan, bahwa wanita tadi membuka wajahnya.

Sebagian mereka mengatakan, bahwa wanita tadi dalam keadaan berihram, sehingga boleh baginya membuka wajah. Padahal tidak ada tanda-tanda sedikit pun bahwa wanita tadi sedang berihram. Dan saya telah mentarjih (menguatkan) dalam kitab tersebut, bahwa wanita itu berada dalam kondisi setelah melempar jumrah, yaitu setelah ‘Tahallul’ awal.

Dan seandainya benar wanita tadi memang benar sedang berihram, mengapa Rasulullah ﷺ tidak menerapkan kaidah di atas, yaitu kaidah mencegah kerusakan?!

Kemudian kami katakan, bahwa pandangan seorang lelaki terhadap wajah wanita, tidak ada bedanya dengan pandangan seorang wanita terhadap wajah lelaki, dari segi syariat dan dari segi tabiat manusia. Oleh sebab itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Artinya: Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: ‘Hendaknya mereka menahan pandangannya” [An-Nuur : 30]
Maksudnya dari (memandang) wanita.
Dan Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Artinya: Dan katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya” [An-Nuur : 31]
Maksudnya yaitu jangan memandangi seorang laki-laki.
 
Kedua ayat di atas mengandung hukum yang sama. Ayat pertama memerintahkan menundukkan pandangan dari wajah wanita, dan ayat kedua memerintahkan menundukkan pandangan dari wajah pria.
Sebagaimana kita tahu pada ayat kedua tidak memerintahkan seorang laki-laki untuk menutup. Demikian pula ayat pertama tidak memerintahkan seorang wanita untuk menutup wajah.
 
Kedua ayat di atas secara jelas mengatakan, bahwa di zaman Rasulullah ﷺ, ada sesuatu yang biasa terbuka dan bisa dilihat, yaitu wajah. Maka Allah, Sang Pembuat Syariat dan Yang Maha Bijaksana memerintahkan kepada kedua jenis menusia (laki-laki dan perempuan) untuk menundukkan pandangan masing-masing.
 
Adapun hadis:
“Artinya: Wanita adalah aurat”
Tidak berlaku secara mutlak. Karena sangat mungkin seseorang boleh menampakkan auratnya di dalam shalat.[1]
 
Yang berpendapat, bahwa wajah wanita itu aurat adalah Minoritas Ulama. Sedangkan yang berpendapat bahwa wajah bukan aurat adalah Mayoritas Ulama (Jumhur). Hadis di atas yang berbunyi:
“Artinya: Wanita adalah aurat, jika ia keluar maka setan memerindahnya”, tidak bisa diartikan secara mutlak, karena ada kaidah yang berbunyi:
“Dalil umum yang mengandung banyak cabang hukum, di mana cabang-cabang hukum itu tidak bisa diamalkan berdasarkan dalil umum tersebutt, maka kita tidak boleh berhujah dengan dalil umum tersebut, untuk menentukan cabang-cabang hukum tadi”.

Misalnya: Orang-orang yang menganggap bahwa ‘bid’ah-bid’ah’ itu baik adalah berdasarkan dalil yang sifatnya umum. Contoh: Di negeri-negeri Islam seperti Mesir, Siria, Yordania dan lain-lain…. banyak orang yang membaca sholawat ketika memulai adzan. Mereka melakukan ini berdasarkan dalil yang sangat umum yaitu firman Allah:

“Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya” [Al-Ahzaab : 56]

Dan dalil-dalil lain yang menjelaskan keutamaan sholawat kepada Nabi ﷺ yang merupakan dalil-dalil umum (yang tidak bisa daijadikan hujjah dalam azan yang memakai sholawat, karena ia membutuhkan dalil khusus, wallahu a’lam, -pent-).

Mewajibkan wanita menutup wajah berdasarkan hadis: “Wanita adalah aurat”, adalah sama dengan kasus di atas. Karena wanita (Shahabiyah) ketika melaksanakan shalat, mereka umumnya membuka wajah. Demikian pula ketika mereka pulang dari masjid, sebagian mereka menutupi wajah, dan sebagian yang lain masih membuka wajah.

Jika demikian hadis di atas (wanita adalah aurat), tidak termasuk wajah dan telapak tangan. Prinsip ini tidak pernah bertentangan dengan praktik orang-orang salaf (para sahabat).

 

[Disalin dari kitab Majmu’ah Fatawa Al-Madina Al-Munawarah, Penulis Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa AlBani, Penerbit Pustaka At-Tauhid]

 

_________

Foote Note

[1]. Maksud beliau adalah bahwa orang yang berpendapat tentang wajibnya menutup wajah bagi wanita pun bersepakat tentang bolehnya wanita membuka wajahnya, yang menurut mereka adalah aurat, ketika shalat. Maka hal ini menunjukkan bahwa hadis di atas tidaklah berlaku secara mutlak [-pent]

 

Sumber: http://almanhaj.or.id/content/780/slash/0/hukum-menutup-muka-bagi-wanita-cadar/

AMAT DISAYANGKAN, BANYAK SEDEKAH HANYA UNTUK MEMERLANCAR REZEKI

AMAT DISAYANGKAN, BANYAK SEDEKAH HANYA UNTUK MEMERLANCAR REZEKI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#AkidahTauhid

AMAT DISAYANGKAN, BANYAK SEDEKAH HANYA UNTUK MEMERLANCAR REZEKI

Alhamdullillahilladzi hamdan katsiron thoyyiban mubaarokan fiih kamaa yuhibbu Robbunaa wa yardho. Allahumma sholli ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala aalihi wa shohbihi wa sallam.

Itulah yang sering kita lihat pada umat Islam saat ini. Mereka memang gemar melakukan puasa sunnah (yaitu puasa Senin-Kamis dan lainnya), namun semata-mata hanya untuk menyehatkan badan, sebagaimana saran dari beberapa kalangan. Ada juga yang gemar sekali bersedekah, namun dengan tujuan untuk memerlancar rezeki dan karir. Begitu pula ada yang rajin bangun di tengah malam untuk bertahajud, namun tujuannya hanyalah ingin menguatkan badan. Semua yang dilakukan memang suatu amalan yang baik. Tetapi niat di dalam hati senyatanya tidak ikhlash karena Allah, namun hanya ingin mendapatkan tujuan-tujuan duniawi semata. Kalau memang demikian, mereka bisa termasuk orang-orang yang tercela, sebagaimana disebutkan dalam ayat berikut.

Dengan amalan saleh hanya mengharap keuntungan dunia, sungguh akan sangat merugi. Allah ta’ala berfirman:

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ (15) أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآَخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (16)

“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna, dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memeroleh di Akhirat, kecuali Neraka, dan lenyaplah di Akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia, dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud [11] : 15-16)

Yang dimaksud dengan “Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia” yaitu, barang siapa yang menginginkan kenikmatan dunia dengan melakukan amalan Akhirat.

Yang dimaksud “Perhiasan dunia” adalah harta dan anak.

Mereka yang beramal seperti ini: “Niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna, dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan”. Maksudnya adalah mereka akan diberikan dunia yang mereka inginkan. Ini semua diberikan bukan karena mereka telah berbuat baik, namun semata-mata akan membuat terlena dan terjerumus dalam kebinasaan karena rusaknya amalan mereka. Dan juga mereka tidak akan pernah yubkhosuun, yaitu dunia yang diberikan kepada mereka tidak akan dikurangi. Ini berarti mereka akan diberikan dunia yang mereka cari seutuhnya (sempurna).

Dunia mungkin saja mereka peroleh. Dengan banyak melakukan amalan saleh, boleh jadi seseorang akan bertambah sehat, rezeki semakin lancar dan karir terus meningkat.  Dan itu senyatanya yang mereka peroleh dan Allah pun tidak akan mengurangi hal tersebut sesuai yang Dia tetapkan. Namun apa yang mereka peroleh di Akhirat?

Lihatlah firman Allah selanjutnya (yang artinya): “Itulah orang-orang yang tidak memeroleh di Akhirat, kecuali Neraka”. Inilah akibat orang yang hanya beribadah untuk mendapat tujuan dunia saja. Mereka memang di dunia akan mendapatkan apa yang mereka inginkan. Adapun di Akhirat, mereka tidak akan memeroleh pahala, karena mereka dalam beramal tidak menginginkan Akhirat. Ingatlah, balasan Akhirat hanya akan diperoleh oleh orang yang mengharapkannya. Allah ta’ala berfirman:

وَمَنْ أَرَادَ الْآَخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا

“Dan barang siapa yang menghendaki kehidupan Akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah Mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (QS. Al Israa’: 19)

Orang-orang seperti ini juga dikatakan: “Lenyaplah di Akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia, dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan”. Ini semua dikarenakan mereka dahulu di dunia beramal tidak ikhlas untuk mengharapkan wajah Allah, sehingga ketika di Akhirat, sia-sialah amalan mereka. (Lihat penjelasan ayat ini di I’aanatul Mustafid, 2/92-93)

Sungguh betapa banyak orang yang melaksanakan shalat malam, puasa sunnah dan banyak sedekah, namun itu semua dilakukan hanya bertujuan untuk menggapai kekayaan dunia, memerlancar rezeki, umur panjang, dan lain sebagainya.

Ibnu ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhu- menafsirkan surat Hud ayat 15-16. Beliau –radhiyallahu ‘anhu- mengatakan: “Sesungguhnya orang yang riya’, mereka hanya ingin memeroleh balasan kebaikan yang telah mereka lakukan, namun mereka minta segera dibalas di dunia.”

Ibnu ‘Abbas juga mengatakan: “Barang siapa yang melakukan amalan puasa, shalat atau shalat malam namun hanya ingin mengharapkan dunia, maka balasan dari Allah: “Allah akan memberikan baginya dunia yang dia cari-cari. Namun amalannya akan sia-sia (lenyap) di Akhirat nanti, karena mereka hanya ingin mencari dunia. Di Akhirat mereka juga akan termasuk orang-orang yang merugi”.” Perkataan yang sama dengan Ibnu ‘Abbas ini juga dikatakan oleh Mujahid, Adh Dhohak dan selainnya.

Qotadah mengatakan: “Barang siapa yang dunia adalah tujuannya, dunia yang selalu dia cari-cari dengan amalan salehnya, maka Allah akan memberikan kebaikan kepadanya di dunia. Namun ketika di Akhirat, dia tidak akan memeroleh kebaikan apa-apa sebagai balasan untuknya. Adapun seorang Mukmin yang ikhlash dalam beribadah (yang hanya ingin mengharapkan wajah Allah), dia akan mendapatkan balasan di dunia, juga dia akan mendapatkan balasan di Akhirat.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, tafsir surat Hud ayat 15-16)

Hanya Beramal untuk Menggapai Dunia, Tidak Akan Dapat Satu Bagian Pun di Akhirat

Kenapa seseorang beribadah dan beramal hanya ingin menggapai dunia? Jika seseorang beramal untuk mencari dunia, maka dia memang akan diberi. Jika shalat tahajud, puasa Senin-Kamis yang dia lakukan hanya ingin meraih dunia, maka dunia memang akan dia peroleh dan tidak akan dikurangi. Namun apa akibatnya di Akhirat? Sungguh di Akhirat dia akan sangat merugi. Dia tidak akan memeroleh balasan di Akhirat disebabkan amalannya, yang hanya ingin mencari-cari dunia.

Namun bagaimana dengan orang yang beramal dengan ikhlash, hanya ingin mengharap wajah Allah? Di Akhirat dia akan memeroleh pahala yang berlipat ganda.

Allah ta’ala berfirman:

مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الآخِرَةِ نزدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ

“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di Akhirat, akan Kami tambah keuntungan itu baginya. Dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia, dan tidak ada baginya suatu bahagian pun di Akhirat.” (QS. Asy Syuraa: 20)

Ibnu Katsir –rahimahullah- menafsirkan ayat di atas: “Barang siapa yang mencari keuntungan di Akhirat, maka Kami akan menambahkan keuntungan itu baginya, yaitu Kami akan kuatkan, beri nikmat padanya, karena tujuan Akhirat yang dia harapkan. Kami pun akan menambahkan nikmat padanya, dengan Kami balas setiap kebaikan dengan sepuluh kebaikan hingga 700 kali lipat, hingga kelipatan yang begitu banyak sesuai dengan kehendak Allah. … Namun jika yang ingin dicapai adalah dunia dan dia tidak punya keinginan menggapai Akhirat sama sekali, maka balasan Akhirat tidak akan Allah beri, dan dunia pun akan diberi sesuai dengan yang Allah kehendaki. Dan jika Allah kehendaki, dunia dan Akhirat sekaligus tidak akan dia peroleh. Orang seperti ini hanya merasa senang dengan keinginannya saja, namun barangkali Akhirat dan dunia akan lenyap seluruhnya dari dirinya.”

Ats Tsauri berkata, dari Mughiroh, dari Abul ‘Aliyah, dari Ubay bin Ka’ab -radhiyallahu ‘anhu-, beliau mengatakan:

بشر هذه الأمة بالسناء والرفعة والدين والتمكين في الأرض فمن عمل منهم عمل الآخرة للدنيا لم يكن له في الآخرة من نصيب

“Umat ini diberi kabar gembira dengan kemuliaan, kedudukan, agama dan kekuatan di muka bumi. Barang siapa dari umat ini yang melakukan amalan Akhirat untuk meraih dunia, maka di Akhirat dia tidak mendapatkan satu bagian pun.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya, Al Hakim dan Al Baihaqi. Al Hakim mengatakan sanadnya Shahih. Syaikh Al Albani menshahihkan hadis ini dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib)

Terdapat pula riwayat dalam Al Baihaqi, Rasulullah ﷺ bersabda:

بشر هذه الأمة بالتيسير والسناء والرفعة بالدين والتمكين في البلاد والنصر فمن عمل منهم بعمل الآخرة للدنيا فليس له في الآخرة من نصيب

“Umat ini diberi kabar gembira dengan kemudahan, kedudukan dan kemulian dengan agama dan kekuatan di muka bumi, juga akan diberi pertolongan. Barang siapa yang melakukan amalan Akhirat untuk mencari dunia, maka dia tidak akan memeroleh satu bagian pun di Akhirat.”

Tanda Seseorang Beramal Untuk Tujuan Dunia

Al Bukhari membawakan hadis dalam Bab “Siapa Yang Menjaga Diri dari Fitnah Harta”.

Dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-, Rasulullah ﷺ bersabda:

تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ ، وَالدِّرْهَمِ ، وَالْقَطِيفَةِ ، وَالْخَمِيصَةِ ، إِنْ أُعْطِىَ رَضِىَ ، وَإِنْ لَمْ يُعْطَ لَمْ يَرْضَ تَعِسَ وَانْتَكَسَ

“Celakalah hamba Dinar, Dirham, Qothifah dan Khomishoh. Jika diberi, dia pun rida. Namun jika tidak diberi, dia tidak rida. Dia akan celaka, dan akan kembali binasa.” (HR. Bukhari).  Qothifah adalah sejenis pakaian yang memiliki beludru. Sedangkan khomishoh adalah pakaian yang berwarna hitam dan memiliki bintik-bintik merah. (I’aanatul Mustafid, 2/93)

Kenapa dinamakan hamba Dinar, Dirham dan pakaian yang mewah? Karena mereka yang disebutkan dalam hadis tersebut beramal untuk menggapai harta-harta tadi, bukan untuk mengharap wajah Allah. Demikianlah sehingga mereka disebut hamba Dinar, Dirham dan seterusnya. Adapun orang yang beramal karena ingin mengharap wajah Allah semata, mereka itulah yang disebut hamba Allah (sejati).

Di antara tanda bahwa mereka beramal untuk menggapai harta-harta tadi, atau ingin menggapai dunia disebutkan dalam sabda Nabi ﷺ selanjutnya: “Jika diberi, dia pun rida. Namun jika tidak diberi, dia pun tidak rida (murka). Dia akan celaka dan kembali binasa”. Hal ini juga yang dikatakan kepada orang-orang munafik, sebagaimana dalam firman Allah:

وَمِنْهُمْ مَنْ يَلْمِزُكَ فِي الصَّدَقَاتِ فَإِنْ أُعْطُوا مِنْهَا رَضُوا وَإِنْ لَمْ يُعْطَوْا مِنْهَا إِذَا هُمْ يَسْخَطُونَ

“Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (distribusi) zakat; jika mereka diberi sebahagian dari padanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebahagian dari padanya, dengan serta merta mereka menjadi marah.” (QS. At Taubah: 58)

Itulah tanda seseorang dalam beramal hanya ingin menggapai tujuan dunia. Jika dia diberi kenikmatan dunia, dia rida. Namun, jika kenikmatan dunia tersebut tidak kunjung datang, dia akan murka dan marah. Dalam hatinya seraya berujar: “Sudah sebulan saya merutinkan shalat malam, namun rezeki dan usaha belum juga lancar.” Inilah tanda orang yang selalu berharap dunia dengan amalan salehnya.

Adapun seorang Mukmin, jika diberi nikmat, dia akan bersyukur. Sebaliknya, jika tidak diberi, dia pun akan selalu sabar. Karena orang Mukmin, dia akan beramal bukan untuk mencapai tujuan dunia. Sebagian mereka bahkan tidak menginginkan mendapatkan dunia sama sekali. Diceritakan bahwa sebagian sahabat tidak rida jika mendapatkan dunia sedikit pun. Mereka pun tidak mencari-cari dunia, karena yang selalu mereka harapkan adalah negeri Akhirat. Semua ini mereka lakukan untuk senantiasa komitmen dalam amalan mereka, agar selalu timbul rasa harap pada kehidupan Akhirat. Mereka sama sekali tidak menyukai untuk disegerakan balasan terhadap kebaikan yang mereka lakukan di dunia.

Akan tetapi, barang siapa diberi dunia tanpa ada rasa keinginan sebelumnya, dan tanpa ada rasa tamak terhadap dunia, maka dia boleh mengambilnya. Sebagaimana hal ini terdapat dalam hadis dari ‘Umar bin Khottob:

قَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُعْطِينِى الْعَطَاءَ فَأَقُولُ أَعْطِهِ أَفْقَرَ إِلَيْهِ مِنِّى. حَتَّى أَعْطَانِى مَرَّةً مَالاً فَقُلْتُ أَعْطِهِ أَفْقَرَ إِلَيْهِ مِنِّى. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « خُذْهُ وَمَا جَاءَكَ مِنْ هَذَا الْمَالِ وَأَنْتَ غَيْرُ مُشْرِفٍ وَلاَ سَائِلٍ فَخُذْهُ وَمَا لاَ فَلاَ تُتْبِعْهُ نَفْسَكَ ».

“Rasulullah ﷺ memberikan suatu pemberian padaku.” Umar lantas mengatakan: “Berikan saja pemberian tersebut pada orang yang lebih butuh (lebih miskin) dariku. Sampai beberapa kali, beliau tetap memberikan harta tersebut padaku.” Umar pun tetap mengatakan: “Berikan saja pada orang yang lebih butuh (lebih miskin) dariku.” Rasulullah ﷺ pun bersabda: “Ambillah harta tersebut dan harta yang semisal dengan ini, di mana engkau tidak merasa mulia dengannya, dan sebelumnya engkau pun tidak meminta-mintanya. Ambillah harta tersebut. Selain harta semacam itu (yang di mana engkau punya keinginan sebelumnya padanya), maka biarkanlah, dan janganlah hatimu bergantung padanya.”  (HR. Bukhari dan Muslim).

Sekali lagi, begitulah orang beriman. Jika dia diberi nikmat atau pun tidak, amalan salehnya tidak akan pernah berkurang. Karena orang Mukmin sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya ﷺ. Adapun orang yang selalu mengharap dunia dengan amalan salehnya, dia akan bersikap berbeda. Jika dia diberi nikmat, baru dia rida. Namun, jika dia tidak diberi, dia akan murka dan marah. Dia rida karena mendapat kenikmatan dunia. Sebaliknya, dia murka karena kenikmatan dunia yang tidak kunjung menghampirinya, padahal dia sudah gemar melakukan amalan saleh. Itulah sebabnya orang-orang seperti ini disebut hamba dunia, hamba Dinar, hamba Dirham dan hamba pakaian.

Beragamnya Niat dan Amalan Untuk Menggapai Dunia

Niat seseorang ketika beramal ada beberapa macam:

[Pertama] Jika niatnya adalah murni untuk mendapatkan dunia ketika dia beramal, dan sama sekali tidak punya keinginan mengharap wajah Allah dan kehidupan Akhirat. Maka orang semacam ini di Akhirat tidak akan mendapatkan satu bagian nikmat pun. Perlu diketahui pula, bahwa amalan semacam ini tidaklah muncul dari seorang Mukmin. Orang Mukmin walaupun lemah imannya, dia pasti selalu mengharapkan wajah Allah dan negeri Akhirat.

[Kedua] Jika niat seseorang adalah untuk mengharap wajah Allah dan untuk mendapatkan dunia sekaligus, entah niatnya untuk kedua-duanya sama atau mendekati, maka semacam ini akan mengurangi tauhid dan keikhlasannya. Amalannya dinilai memiliki kekurangan karena keikhlasannya tidak sempurna.

[Ketiga] Adapun jika seseorang telah beramal dengan ikhlas, hanya ingin mengharap wajah Allah semata, akan tetapi di balik itu dia mendapatkan upah atau hasil yang dia ambil untuk membantunya dalam beramal (semacam mujahid yang berjihad lalu mendapatkan harta rampasan perang, para pengajar dan pekerja yang menyokong agama yang mendapatkan upah dari negara setiap bulannya), maka tidak mengapa mengambil upah tersebut. Hal ini juga tidak mengurangi keimanan dan ketauhidannya, karena semula dia tidak beramal untuk mendapatkan dunia. Sejak awal dia sudah berniat untuk beramal saleh dan menyokong agama ini, sedangkan upah yang dia dapatkan adalah di balik itu semua, yang nantinya akan menolong dia dalam beramal dan beragama. (Lihat Al Qoulus Sadiid, 132-133)

Adapun amalan yang seseorang lakukan untuk mendapatkan balasan dunia ada dua macam:

[Pertama] Amalan yang tidak disebutkan di dalamnya balasan dunia. Namun seseorang melakukan amalan tersebut untuk mengharapkan balasan dunia, maka semacam ini tidak diperbolehkan bahkan termasuk kesyirikan.

Misalnya: Seseorang melaksanakan shalat Tahajud. Dia berniat dalam hatinya bahwa pasti dengan melakukan shalat malam ini, anaknya yang akan lahir nanti adalah laki-laki. Ini tidak dibolehkan, karena tidak ada satu dalil pun yang menyebutkan, bahwa dengan melakukan shalat Tahajud akan mendapatkan anak laki-laki.

[Kedua] Amalan yang disebutkan di dalamnya balasan dunia. Contohnya adalah silaturrahim dan berbakti kepada kedua orang tua. Semisal silaturrahim, Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barang siapa senang untuk dilapangkan rezeki dan dipanjangkan umurnya, maka jalinlah tali silaturrahim (hubungan antar kerabat).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jika seseorang melakukan amalan semacam ini, namun hanya ingin mengharapkan balasan dunia saja dan tidak mengharapkan balasan Akhirat, maka orang yang melakukannya telah terjatuh dalam kesyirikan. Namun jika dia melakukannya tetap mengharapkan balasan Akhirat dan dunia sekaligus, juga dia melakukannya dengan ikhlas, maka ini tidak mengapa dan balasan dunia adalah sebagai tambahan nikmat untuknya, karena syariat telah menunjukkan adanya balasan dunia dalam amalan ini.

Perbedaan dan Kesamaan Beramal untuk Meraih Dunia dengan Riya’

Syaikh Muhammad At Tamimi –rahimahullah- membawakan pembahasan ini dalam Kitab Tauhid pada Bab “Termasuk Kesyirikan, Seseorang Beribadah Untuk Mencari Dunia”. Beliau –rahimahullah- membawakannya setelah membahas riya’. Kenapa demikian?

Riya’ dan beribadah untuk mencari dunia. Keduanya sama-sama adalah amalan hati dan terlihat begitu samar, karena tidak nampak di hadapan orang banyak. Namun keduanya termasuk amalan kepada selain Allah ta’ala. Ini berarti keduanya termasuk kesyirikan yaitu syirik khofi (syirik yang samar).  Keduanya memiliki perbedaan. Riya’ adalah beramal agar dilihat oleh orang lain, dan ingin tenar dengan amalannya. Sedangkan beramal untuk tujuan dunia adalah banyak melakukan amalan seperti shalat, puasa, sedekah dan amalan saleh lainnya, dengan tujuan untuk mendapatkan balasan segera di dunia, semacam mendapat rezeki yang lancar dan lainnya.

Tetapi perlu diketahui, para ulama mengatakan, bahwa amalan seseorang untuk mencari dunia lebih nampak hasilnya daripada riya’. Alasannya, kalau seseorang melakukan amalan dengan riya’, maka jelas dia tidak mendapatkan apa-apa. Namun, untuk amalan yang kedua, dia akan peroleh kemanfaatan di dunia. Akan tetapi keduanya tetap saja termasuk amalan yang membuat seseorang merugi di hadapan Allah ta’ala. Keduanya sama-sama bernilai syirik dalam niat maupun tujuan. Jadi kedua amalan ini memiliki kesamaan dari satu sisi dan memiliki perbedaan dari sisi yang lain.

Kenapa Engkau Tidak Ikhlas Saja dalam Beramal?

Sebenarnya jika seseorang memurnikan amalannya hanya untuk mengharap wajah Allah dan ikhlas kepada-Nya, niscaya dunia pun akan menghampirinya, tanpa mesti dia cari-cari. Namun jika seseorang mencari-cari dunia, dan dunia yang selalu menjadi tujuannya dalam beramal, memang benar dia akan mendapatkan dunia, tetapi sekadar yang Allah takdirkan saja. Ingatlah ini!!

Semoga sabda Nabi ﷺ bisa menjadi renungan bagi kita semua:

مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِى قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِىَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهَ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ

“Barang siapa yang niatnya adalah untuk menggapai Akhirat, maka Allah akan memberikan kecukupan dalam hatinya, Dia akan menyatukan keinginannya yang tercerai berai. Dunia pun akan dia peroleh dan tunduk hina padanya. Barang siapa yang niatnya adalah untuk menggapai dunia, maka Allah akan menjadikan dia tidak pernah merasa cukup, akan mencerai beraikan keinginannya, dunia pun tidak dia peroleh kecuali yang telah ditetapkan baginya.” (HR. Tirmidzi no. 2465. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih. Lihat penjelasan hadis ini di Tuhfatul Ahwadzi, 7/139)

Marilah kita ikhlaskan selalu niat kita ketika kita beramal. Murnikanlah semua amalan hanya untuk menggapai rida Allah. Janganlah niatkan setiap amalanmu hanya untuk meraih kenikmatan dunia semata. Ikhlaskanlah amalan tersebut pada Allah, niscaya dunia juga akan engkau raih. Yakinlah hal ini …!!

Semoga Allah selalu memerbaiki akidah dan setiap amalan kaum Muslimin. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah kepada mereka ke jalan yang lurus.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala wa alihi wa shohbihi wa sallam.

 

Rujukan:

  • Al Qoulus Sadiid Syarh Kitab At Tauhid, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, Wizarotusy syu’un Al Islamiyyah wal Awqof wad Da’wah wal Irsyad-Al Mamlakah Al ‘Arobiyah As Su’udiyah.
  • I’aanatul Mustafid bi Syarhi Kitabit Tauhid, Saleh bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan.
  • At Tamhid li Syarhi Kitabit Tauhid, Saleh bin ‘Abdul Aziz Alu Syaikh, Daar At Tauhid.
  • Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Abul Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir Al Qurosyi Ad Dimasyqi, Tahqiq: Saami bin Muhammad Salamah, Dar Thobi’ah Lin Nasyr wat Tauzi’.
  • Tuhfatul Ahwadzi bi Syarhi Jaami’it Tirmidzi, Muhammad ‘Abdurrahman bin ‘Abdirrahim Al Mubarakfuriy Abul ‘Alaa, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, Beirut.

 

 

****

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

[Artikel https://rumaysho.com]

 

Sumber: https://rumaysho.com/641-amat-disayangkan-banyak-sedekah-hanya-untuk-memerlancar-rezeki.html

, ,

BISIKAN SETAN LEWAT TIGA IKATAN

BISIKAN SETAN LEWAT TIGA IKATAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir

BISIKAN SETAN LEWAT TIGA IKATAN

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

عَقِدَ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلاَثَ عُقَدٍ ، يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ ، فَإِنِ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ ، فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ ، فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ ، وَإِلاَّ أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلاَنَ

“Setan membuat tiga ikatan di tengkuk (leher bagian belakang) salah seorang dari kalian ketika tidur. Di setiap ikatan setan akan mengatakan: “Malam masih panjang, tidurlah!” Jika ia bangun lalu berzikir pada Allah, lepaslah satu ikatan. Kemudian jika dia berwudhu, lepas lagi satu ikatan. Kemudian jika dia mengerjakan shalat, lepaslah ikatan terakhir. Di pagi hari dia akan bersemangat dan bergembira. Jika tidak melakukan seperti ini, dia tidak ceria dan menjadi malas.” [HR. Bukhari no. 1142 dan Muslim no. 776]

Setan akan membuat ikatan di tengkuk manusia ketika ia tidur. Ikatan tersebut seperti sihir yang dijalankan oleh setan untuk menghalangi seseorang untuk bangun malam. Karena ikatan itu ada akhirnya setan terus membisikkan atau merayu supaya orang yang tidur tetap terus tidur, dengan mengatakan ‘Malam itu masih panjang’.

Lantas bagaimanakah solusinya untuk bisa lepas dari tiga ikatan setan yang terus merayu agar tidak bangun malam? Nabi ﷺ memberikan solusinya:

(1) Bangun tidur lalu berzikir pada Allah, kemudian
(2) Berwudhu, kemudian
(3) Mengerjakan shalat

Faidah dari berzikir pada Allah ketika bangun tidur, ini kembali pada faidah dari zikir secara umum. Sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qayyim, bahwa zikir dapat mengusir setan, mendatangkan kebahagiaan, mencerahkan wajah dan hati, menguatkan badan dan melapangkan rezeki. [Lihat mengenai Fawaid Zikir dalam Shahih Al Wabilush Shoyyib hal. 83-153].

Di antara zikir yang bisa dibaca setelah bangun tidur adalah zikir berikut ini:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرِ

ALHAMDULILLAAHILLADZIY AHYAANAA BA’DA MAA AMAATANAA WA ILAIHIN NUSYUUR

Artinya:

Segala puji bagi Allah, yang telah membangunkan kami setelah menidurkan kami dan kepada-Nya lah kami dibangkitkan. [HR. Bukhari no. 6325]

Atau bisa pula membaca zikir berikut:

 اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ عَافَانِيْ فِيْ جَسَدِيْ، وَرَدَّ عَلَيَّ رُوْحِيْ، وَأَذِنَ لِيْ بِذِكْرِهِ

ALHAMDULILLAAHILLADZIY ‘AAFAANIY FIY JASADIY, WA RODDA ‘ALAYYA RUUHIY, WA ADZINA LIY BIDZIKRIH

Artinya:

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kesehatan pada jasadku dan telah mengembalikan ruhku serta mengizinkanku untuk berzikir kepada-Nya]. [HR. Tirmidzi no. 3401. Hasan menurut Syaikh Al Albani]

Adapun shalat malam sendiri adalah kebiasaan yang baik bagi orang beriman, di mana waktu akhir malam adalah waktu dekatnya Allah pada hamba-Nya. Dari ‘Amr bin ‘Abasah, ia pernah mendengar Nabi ﷺ bersabda:

أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الرَّبُّ مِنَ الْعَبْدِ فِى جَوْفِ اللَّيْلِ الآخِرِ فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تَكُونَ مِمَّنْ يَذْكُرُ اللَّهَ فِى تِلْكَ السَّاعَةِ فَكُنْ

“Waktu yang seorang hamba dengan Allah adalah di tengah malam yang terakhir. Siapa yang mampu untuk menjadi bagian dari orang yang mengingat Allah pada waktu tersebut, maka lakukanlah.” [HR. Tirmidzi no. 3579. Shahih menurut Syaikh Al Albani].

Adapun orang yang tidak bangun Subuh, hakikatnya masih terikat dengan tiga ikatan tadi. Ia terus dibisikkan oleh setan, sehingga tidak bisa bangkit untuk bangun.

Apa Manfaat Bangun Subuh?

Disebutkan di akhir hadis, bahwa orang yang bangun dan terlepas darinya tiga ikatan setan, ia akan semangat dan fit di pagi harinya. Jika tiga ikatan tersebut tidaklah lepas, maka akan malas dan tidak sehat di pagi harinya.

Mari terus semangat bangun malam dan bangun Subuh. Semoga kita termasuk golongan yang mendapatkan kebaikan dan keberkahan yang banyak lewat doa Nabi ﷺ:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِى فِى بُكُورِهَا

“Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.” [HR. Abu Daud no. 2606, Tirmidzi no. 1212 dan Ibnu Majah no. 2236. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih]

Wallahu waliyyut taufiq.

 

Referensi:

  • Kunuz Riyadhis Sholihin, Rais Al Fariq: Prof. Dr. Hamad bin Nashir bin ‘Abdurrahman Al Ammar, terbitan Dar Kunuz Isybiliyaa, cetakan pertama, tahun 1430 H.
  • Shahih Al Wabilush Shoyyib, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan ke-11, tahun 1427 H.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/10045-keutamaan-bangun-Subuh.html

 

HUKUM PENGGUNAAN SMILEY DAN EMOTICON

HUKUM PENGGUNAAN SMILEY DAN EMOTICON

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#FatwaUlama

HUKUM PENGGUNAAN SMILEY DAN EMOTICON

Sebagian kita ketika chating pada Yahoo atau WhatsApp, begitu pula pada Facebook, memberikan Smiley atau Emoticon yang nampak kepala manusia tanpa badan. Apakah Smiley dan Emoticon ini dibolehkan?

Kita dapat ambil pelajaran dari perkataan Ibnu Qudamah berikut ini.

Ibnu Qudamah berkata: “Jika bagian kepala itu dipotong, maka hilanglah larangan. Ibnu ‘Abbas berkata:

الصُّورَةُ الرَّأْسُ ، فَإِذَا قُطِعَ الرَّأْسُ فَلِيس بِصُورَةٍ

“Disebut gambar (yang terlarang) adalah jika ada kepalanya. Namun jika kepalanya itu terpotong, maka itu bukanlah gambar (yang terlarang).” Perkataan ini diceritakan dari ‘Ikrimah.

Diriwayatkan pula dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

أَتَانِي جِبْرِيلُ ، فَقَالَ: أَتَيْتُك الْبَارِحَةَ ، فَلَمْ يَمْنَعْنِي أَنْ أَكُونَ دَخَلْت إلَّا أَنَّهُ كَانَ عَلَى الْبَابِ تَمَاثِيلُ ، وَكَانَ فِي الْبَيْتِ سِتْرٌ فِيهِ تَمَاثِيلُ ، وَكَانَ فِي الْبَيْتِ كَلْبٌ ، فَمُرْ بِرَأْسِ التِّمْثَالِ الَّذِي عَلَى الْبَابِ فَيُقْطَعُ ، فَيَصِيرُ كَهَيْئَةِ الشَّجَرَ ، وَمُرْ بِالسِّتْرِ فَلْتُقْطَعْ مِنْهُ وِسَادَتَانِ مَنْبُوذَتَانِ يُوطَآنِ ، وَمُرْ بِالْكَلْبِ فَلْيُخْرَجْ .

“Jibril pernah mendatangiku, lalu ia berkata: “Aku tadi malam hendak menemui engkau. Namun ada sesuatu yang merintangiku masuk, yaitu ada suatu gambar di pintu.” Dan ketika itu di rumahku, ada kain penutup yang bergambar (makhluk bernyawa). Di rumahku juga terdapat anjing.  Potonglah kepala dari gambar yang terdapat di pintu, maka bentuknya nanti sama seperti pepohonan. Untuk bantal atau sandaran pun demikian, yang ada gambarnya dipotong. Untuk anjing, maka usirlah dari rumah.” Rasululullah ﷺ lantas melakukan perintah dari Jibril.

Jika gambar tersebut dipotong lantas tidak nampak lagi bernyawa setelah dipotong, seperti yang terpotong adalah dada, perut, atau yang ada hanyalah kepala yang terpisah dari badan, maka tidak termasuk dalam larangan. Karena setelah dipotong, tidak nampak gambar (yang utuh). Terpotongnya bagian-bagian tadi statusnya sama seperti kepala yang terpotong.

Namun jika ketika dipotong masih teranggap bernyawa, seperti lengkap dengan mata, tangan, atau kaki, maka masih tetap terlarang.

Demikian pula jika di awal pembuatan gambar hanyalah ada badan tanpa kepala, kepala tanpa badan, atau  bentuknya tidak teranggap hidup dengan adanya kepala dan bagian lain dari badannya, maka tidak termasuk dalam larangan. Karena seperti itu bukanlah gambar sesuatu yang bernyawa.” (Lihat Al Mughni, 10: 201).

Dari penjelasan Ibnu Qudamah di atas, nampak bahwa hukum Smiley, Emoticon, dan ekspresi wajah TIDAKLAH MASALAH. Demikian pula yang dikatakan oleh guru kami, Syaikh Dr. Sa’ad Al Khotslan, “Yang nampak ekspresi wajah (face) dengan simbol seperti itu tidak mengapa. Hal ini karena gambar-gambar ekspresi wajah tersebut bukan gambar menurut syariat. Emoticon hanyalah sekedar simbol-simbol (rumus-rumus) yang dibuat untuk mengekspresikan perkataan.”

Namun tentu saja ekspresi wajah yang ditampilkan bukan yang memalukan dan merendahkan orang lain.

Semoga bermanfaat.

Referensi:

  • Al Mughni, Muwafaqquddin Abu Muhammad ‘Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Qudamah Al Maqdisi, terbitan Dar ‘Alamil Kutub, cetakan tahun 1432 H.
  • Website Syaikh Dr. Sa’da Al Khotslan: http://www.saad-alkthlan.com/text-875

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/6761-hukum-Smiley-dan-Emoticon.html

,

MENJAGA KEBERSIHAN ANAK [PARENTING NABAWI (2)]

MENJAGA KEBERSIHAN ANAK [PARENTING NABAWI (2)]

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah

#DakwahSunnah

MENJAGA KEBERSIHAN ANAK [PARENTING NABAWI (2)]

Kebersihan badan dan pakaian dari kotoran dan najis adalah sesuatu yang dituntut dalam Islam. Bahkan menjadi syarat untuk melakukan berbagai amalan ibadah utama seperti shalat.

Islam juga mensyariatkan penampilan terbaik, bersih, rapi, jauh dari kesan kumuh dan jorok.

Allah ta’ala memerintahkan hamba-Nya agar memerbagus penampilan saat pergi ke masjid. Allah ta’ala berfirman:

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ

“Wahai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid.” (QS. Al- A’raf: 31)

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat ini:

ولهذه الآية وما ورد في معناها من السنة يستحب التجمل عند الصلاة ولا سيما يوم الجمعة ويوم العيد والطيب لأنه من الزينة والسواك لأنه من تمام ذلك

“Berdasarkan ayat ini dan makna yang ditunjukkan oleh hadis-hadis Nabi ﷺ, dianjurkan bagi seseorang untuk memerindah diri (memerbagus penampilan), ketika shalat, terlebih bila di hari Jumat dan hari raya. Juga disunnahkan memakai wangi-wangian (bagi laki-laki), karena ini termasuk zinah (perhiasan) dan bersiwak, karena (dengan kebersihan gigi), penampilan semakin sempurna.”(Tafsir Ibnu Katsir)

Di ayat lain Allah ta’ala perintahkan:

وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ

“Dan pakaianmu bersihkanlah.” (QS. Al Muddatstsir: 4)

Ibnu Sirin berkata:

أي غسلها بالماء

“Yaitu mencuci pakaian dengan air.” (Tafsir Ibnu Kastir)

Ayat-ayat di atas menunjukkan, bahwa Islam sangat menekankan kebersihan, kerapian dan keindahan. Namun sangat disayangkan, sebagian orangtua melalaikan kebersihan anak-anaknya. Baju mereka dibiarkan kotor, wajah dan rambut dibiarkan berdebu, belum lagi ingus bersampur debu dibiarkan begitu saja tanpa diseka, mengundang lalat bertengger di atas hidungnya. Ditambah aroma tak sedap dari air liur anak yang tidak dibersihkan. Orang tua seperti ini tidak memerhatikan perintah Rasulullah ﷺ, yang menganjurkan kebersihan badan dan pakaian.

Berikut beberapa kisah yang mengajarkan kepada kita, agar menjaga kebersihan anak-anak:

  1. Rasulullah ﷺ yang digelari pemimpin seluruh anak Adam, beliau berkenan membersihkan ingus Usamah bin Zaid, dan membersihkan kotoran yang menempel di luka Usamah.

At Tirimidzi meriwayatkan dengan sanad hasan, bahwa ‘Aisyah radhiyallahu’anha berkata:

أراد رسول الله – صلى الله عليه وسلم – أن يمسح مخاط أسامة ، فقلت : دعني حتى أكون أنا التي أفعل . فقال : يا عائشة ، أحبيه ، فإني أحبه

“Saat Nabi bermaksud membersihkan ingus Usamah, saya (‘Aisyah) berkata: “Biar saya saja yang melakukannya.” Nabi berkata: “Wahai ’Aisyah, cintailah dia, karena aku pun mencintainya.”(HR. At Tirmidzi no. 3818)

Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dengan sanad yang Shahih Lighairihi, bahwa ‘Aisyah radhiyallahu’anha berkata:

عَثَرَ أُسَامَةُ بِعَتَبَةِ الْبَابِ فَشُجَّ فِي وَجْهِهِ ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( أَمِيطِي عَنْهُ الْأَذَى ) ، فَتَقَذَّرْتُهُ ، فَجَعَلَ يَمُصُّ عَنْهُ الدَّمَ وَيَمُجُّهُ عَنْ وَجْهِهِ ثُمَّ قَالَ : ( لَوْ كَانَ أُسَامَةُ جَارِيَةً لَحَلَّيْتُهُ وَكَسَوْتُهُ حَتَّى أُنَفِّقَهُ

“Ketika Usamah terbentur ambang pintu, wajahnya terluka. Lalu Rasulullah ﷺ berkata kepadaku: “Bersihkanlah lukanya.” Maka aku pun menyiapkannya. Lalu beliau menghisap darah yang keluar dari luka Usamah, kemudian meludah dan berkata: “Seandainya Usamah itu anak perempuan, pastilah aku akan memakaikan perhiasan dan pakaian yang indah, hingga ia menjadi terkenal.” (Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 12356, Ahmad 6/139, 222)

  1. Begitu pula yang dilakukan Fathimah, pemimpin para wanita di Surga, juga membersihkan dan memandikan anaknya.

Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata:

خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي طَائِفَةِ النَّهَارِ، لاَ يُكَلِّمُنِي وَلاَ أُكَلِّمُهُ، حَتَّى أَتَى سُوقَ بَنِي قَيْنُقَاعَ، فَجَلَسَ بِفِنَاءِ بَيْتِ فَاطِمَةَ، فَقَالَ «أَثَمَّ لُكَعُ، أَثَمَّ لُكَعُ» فَحَبَسَتْهُ شَيْئًا، فَظَنَنْتُ أَنَّهَا تُلْبِسُهُ سِخَابًا، أَوْ تُغَسِّلُهُ، فَجَاءَ يَشْتَدُّ حَتَّى عَانَقَهُ، وَقَبَّلَهُ وَقَالَ: «اللَّهُمَّ أَحْبِبْهُ وَأَحِبَّ مَنْ يُحِبُّهُ»

“Di satu siang yang terik Rasulullah ﷺ (bersama saya) berangkat menuju suatu tempat. Beliau ﷺ tidak berbicara padauk, dan aku pun tidak berbicara kepada beliau ﷺ. Hingga kami tiba di pasar Bani Qainuqa’. Setelah itu beliau ﷺ duduk di halaman rumah Fathimah dan berkata: “Di mana anak-anak (Hasan dan Husein)?

Terlihat fathimah menahan anaknya yang bergegas menemui Rasulullah ﷺ. Saya (Abu Hurairah) mengira, Fathimah telah memakaian kalung atau memandikan anaknya. Lalu Hasan bergegas menemui Rasulullah ﷺ dan Rasulullah ﷺ langsung memeluk dan menciumnya seraya bersabda: “ Ya Allah, cintailah anak ini, dan orang yang mencintainya.” (HR. Bukhari no 2122 dan Muslim no. 2422)

Semoga sedikit ulasan ini bermanfaat, agar kita para orangtua, terlebih ibu, selalu berusaha dengan segala keterbatasannya, untuk menghadirkan hati, meluruskan niat dan tujuan kita, dalam setiap interaksi dengan anak-nak. Momen-momen penuh pahala jangan dilewatkan begitu saja, seperti saat saat memandikan anak-anak, mencuci baju, menyetrika, menyisir rambut mereka, memakaikan pakaian, menabur bedak dan aktivitas lainnya.

Apa yang kita lakukan tersebut bukan semata-mata tuntutan profesionalitas seorang ibu, akan tetapi lebih dari itu, kita niatkan dalam rangka melaksanakan perintah Allah dan sunnah Rasulullah ﷺ.

Meskipun aktivitas di atas terlihat remeh dan sepele, namun jika kita niatkan dengan niat yang benar, niscaya akan berpahala besar dan melimpah. Wallahu waliyyuttaufiq.

 

****

Penyusun: Ummu Fatimah Abdul Mu’ti

Sumber:

Tarbiyatul Abna’ (terj), Syaikh Musthafa Al Adawi, Media Hidayah.

Tafsir Ibnu Katsir via Quran Android.

Artikel Wanitasalihah.Com

 

Sumber: http://wanitasalihah.com/parenting-nabawi-2-menjaga-kebersihan-anak/