Posts

, ,

BERILAH 70 UZUR UNTUK SAUDARAMU

BERILAH 70 UZUR UNTUK SAUDARAMU
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
BERILAH 70 UZUR UNTUK SAUDARAMU
 
Ja’far bin Muhammad rahimahullah berkata:
“Apabila sampai kepadamu dari saudaramu sesuatu yang kamu ingkari, maka berilah ia sebuah uzur sampai 70 uzur. Bila kamu tidak mendapatkan uzur, maka katakanlah: “Barangkali ia mempunyai uzur yang aku tidak ketahui.” [HR Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman no 8344]
 
Abdullah bin Muhammad bin Munazil berkata:
“Mukmin adalah yang selalu memberi uzur kepada saudaranya, sedangkan munafik adalah yang selalu mencari kesalahan saudaranya.” [HR Abu Abrirrahman As Sulami dalam Adab Ash Shuhbah]
 
Umar bin al Khathab berkata:
“Janganlah kamu berburuk sangka dari kata-kata yang tidak baik yang keluar dari mulut saudaramu, sementara kamu masih bisa menemukan makna lain yang baik.”
 
Sering kali kita mengucapkan kata-kata yang tak baik,
Atau tak enak di telinga,
Terkadang membuat hati kita pilu,
Atau berburuk sangka padanya.
 
Namun seorang Mukmin selalu memberi uzur kepada saudaranya seraya berucap:
Barangkali dia bercanda,
Barangkali dia tak bermaksud menyakiti,
Barangkali dia ingin membahagiakan temannya,
 Dan sejuta uzur lainnya.
 
Saudaraku,
Manusia adalah tempat kesalahan, sebagaimana orang lain berbuat salah,
Kita pun banyak kesalahan,
Barangkali lebih banyak lagi,
Bila kita suka orang lain berbaik sangka kepada kita,
Tidakkah kita suka untuk tidak berburuk sangka kepada dia?
 
Barakallahu fiikum.
 
Penulis: Ustadz Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#berilah70udzur, #berilah70uzur, #untuksaudaramu, #udzur, #uzur #adabislami, #akhlakmulia, #akhlaqmulia #adabakhlak #alasan #nasihatulama #petuahulama
,

TERNYATA CICILAN 0% MASIH BERMASALAH

TERNYATA CICILAN 0% MASIH BERMASALAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#NgeRIBAnget, #SayNoToRiba

TERNYATA CICILAN 0% MASIH BERMASALAH

Apa yang dimaksud cicilan 0%?

Contohnya adalah beli HP dengan harga Rp 2,4 juta dan jika dengan kartu kredit cicilan 0% diubah menjadi cicilan menjadi Rp 400 ribu dibayar enam kali. Apa memang masih termasuk riba?

Ternyata kalau ditelusuri, tetap ada denda untuk transaksi krediti cicilan 0%. Jika melewati jatuh tempo lalu telat membayar, tetap dikenai denda. Namun kalau membayar tepat waktu, cicilan 0% akan tetap jadi 0%.

Hal seperti ini BERMASALAH karena adanya akad menyetujui transaksi riba.

Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid menyatakan, bahwa tetap TIDAK DIBOlehkan mengikuti transaksi kredit yang ada dendanya ketika telat bayar, walaupun pembeli bertekad untuk melunasi angsurannya tepat waktu. Ada dua alasan terlarangnya:

  • Ini sama saja menyetujui syarat riba, itu haram.
  • Bisa jadi ia tetap terjatuh dalam riba karena telat saat punya uzur, yaitu karena lupa, sakit, atau pergi safar. (Dinukil dari Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, 101384)

Dan perlu dipahami, bahwa denda ketika ada keterlembatan pembayaran termasuk riba jahiliyah dan disepakati haramnya.

Ibnu Katsir menyatakan, bahwa jangan seperti orang jahiliyah yang akan berkata kepada pihak yang berutang (debitor) ketika sudah jatuh tempo: “Lunasilah! Kalau tidak, utangmu akan dibungakan.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2:287)

Karena sikap yang tepat untuk menyikapi orang yang telat dalam melunasi utang sebagai disebutkan dalam ayat:

وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan jika (orang yang berutang itu) berada dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia lapang. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 280)

Berarti kalau transaksi cicilan 0% tidak dikenakan denda ketika telat membayar, bisa selamat dari riba. Wallahu a’lam.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

Sumber: https://rumaysho.com/16124-cicilan-0-masih-bermasalah.html

, , ,

SOLUSI AGAR WANITA HAID BISA BACA ALQURAN

SOLUSI AGAR WANITA HAID BISA BACA ALQURAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah
#AdabMembacaAlquran

SOLUSI AGAR WANITA HAID BISA BACA ALQURAN

Ramadan adalah kesempatan yang baik untuk membaca Alquran. Namun setiap wanita pasti tidak penuh menjalankan puasa. Ada satu waktu ia mengalami haid. Ketika mengalami haid tersebut, ia tentu terhalang untuk membaca Alquran, sehingga waktunya berkurang untuk mengkhatamkan Alquran selama Ramadan.

Berikut ada solusi yang baik untuk para wanita ketika menghadapi masalah ini.

1- Membaca Mushaf saat haid, namun tidak menyentuhnya secara langsung

Membaca masih dibolehkan bagi wanita yang berhadats. Yang tidak dibolehkan adalah menyentuh langsung saat berhadats. Dalil yang menunjukkan larangan untuk menyentuhnya adalah ayat:

لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ

“Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan” [QS. Al Waqi’ah: 79]

Nabi ﷺ bersabda:

لاَ تَمُسُّ القُرْآن إِلاَّ وَأَنْتَ طَاهِرٌ

“Tidak boleh menyentuh Alquran, kecuali engkau dalam keadaan suci.” [HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya, beliau mengatakan bahwa sanad hadis ini Shahih]. Dalam keadaan suci di sini bisa berarti suci dari hadats besar dan hadats kecil. Haid dan nifas termasuk dalam hadats besar.

Jika dilarang menyentuh Alquran dalam keadaan haid, lalu bagaimana dengan membaca?

Solusinya dijelaskan oleh Syaikh Ibnu Baz rahimahullah di mana beliau berkata:

“Diperbolehkan bagi wanita haid dan nifas untuk membaca Alquran menurut pendapat ulama yang paling kuat. Alasannya, karena tidak ada dalil yang melarang hal ini. Namun seharusnya membaca Alquran tersebut tidak sampai menyentuh Mushaf Alquran. Kalau memang mau menyentuh Alquran, maka seharusnya dengan menggunakan pembatas seperti kain yang suci dan semacamnya (bisa juga dengan sarung tangan, pen). Demikian pula untuk menulis Alquran di kertas ketika hajat (dibutuhkan), maka diperbolehkan, dengan menggunakan pembatas seperti kain tadi.” [Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 10: 209-210]

Adapun hadis yang menyebutkan:

لا تقرأ الحائض ولا الجنب شيئاً من القرآن

“Tidak boleh membaca Alquran sedikit pun juga bagi wanita haid dan orang yang junub.” Imam Ahmad telah membicarakan hadis ini sebagaimana anaknya menanyakannya pada beliau, lalu dinukil oleh Al ‘Aqili dalam Adh Dhu’afa’ (90), “Hadis ini BATIL. Isma’il bin ‘Iyas mengingkarinya.” Abu Hatim juga telah menyatakan hal yang sama, sebagaimana dinukil oleh anaknya dalam Al ‘Ilal (1/49). Begitu pula Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Fatawanya (21/460), “Hadis ini adalah hadis dho’if sebagaimana kesepakatan para ulama pakar hadis.”

Ibnu Taimiyah mengatakan: “Hadis di atas tidak diketahui sanadnya sampai Nabi ﷺ. Hadis ini sama sekali tidak disampaikan oleh Ibnu ‘Umar, tidak pula Nafi’, tidak pula dari Musa bin ‘Uqbah, yang di mana sudah sangat ma’ruf banyak hadis dinukil dari mereka. Para wanita di masa Nabi ﷺ juga sudah seringkali mengalami haid. Seandainya terlarangnya membaca Alquran bagi wanita haid atau nifas sebagaimana larangan shalat dan puasa bagi mereka, maka tentu saja Nabi ﷺ akan menerangkan hal ini pada umatnya. Begitu pula para istri Nabi ﷺ mengetahuinya dari beliau. Tentu saja hal ini akan dinukil di tengah-tengah manusia (para sahabat). Ketika tidak ada satu pun yang menukil larangan ini dari Nabi ﷺ, maka tentu saja membaca Alquran bagi mereka tidak bisa dikatakan haram. Karena senyatanya, beliau ﷺ tidak melarang hal ini. Jika Nabi ﷺ sendiri tidak melarangnya, padahal begitu sering ada kasus haid di masa itu, maka tentu saja hal ini tidaklah diharamkan.” [Majmu’ Al Fatawa, 26: 191]

2- Membaca Alquran terjemahan

Kalau di atas disebut Mushaf, berarti seluruhnya berisi ayat Alquran tanpa ada terjemahan. Namun kalau yang dibaca adalah Alquran terjemahan, itu tidak termasuk Mushaf.

Imam Nawawi rahimahullah dalam Al Majmu’ mengatakan: “Jika kitab tafsir tersebut lebih banyak kajian tafsirnya daripada ayat Alqura,n sebagaimana umumnya kitab tafsir semacam itu, maka di sini ada beberapa pendapat ulama. Namun yang lebih tepat, kitab tafsir semacam itu TIDAK MENGAPA disentuh, karena tidak disebut Mushaf.”

Jika yang disentuh adalah Alquran terjemahan dalam bahasa non-Arab, maka itu tidak disebut Mushaf yang disyaratkan dalam hadis, mesti menyentuhnya dalam keadaan suci. Namun kitab atau buku seperti itu disebut tafsir, sebagaimana ditegaskan oleh ulama Malikiyah. Oleh karena itu, tidak mengapa menyentuh Alquran terjemahan seperti itu, karena hukumnya sama dengan menyentuh kitab tafsir. Akan tetapi, jika isi Alqurannya lebih banyak atau sama banyaknya dari kajian terjemahan, maka seharusnya tidak disentuh dalam keadaan berhadats.

Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

[Artikel Muslimah.Or.Id]

Sumber: https://muslimah.or.id/6153-solusi-bagi-wanita-haid-supaya-bisa-membaca-al-quran.html

, ,

BOLEHNYA MENGGUNAKAN PERSYARATAN DALAM HAJI/UMRAH

BOLEHNYA MENGGUNAKAN PERSYARATAN DALAM HAJI/UMRAH

بسم الله الرحمن الرحيم

#HajiUmrah

BOLEHNYA MENGGUNAKAN PERSYARATAN DALAM HAJI/UMRAH

Jika khawatir tidak dapat menyelesaikan haji/umrah karena sakit atau adanya penghalang lain, maka DIBOLEHKAN mengucapkan persyaratan dengan mengatakan:

اللَّهُمَّ مَحِلِّي حَيْثُ حَبَسْتَنِي

ALLAHUMMA MAHILLI HAITSU HABASTANI

Artinya:

Ya Allah, aku akan tahallul (berhenti) jika Engkau menahanku (bila tambah sakit dan tak sanggup meneruskannya -pent).

Dengan mengucapkan persyaratan ini, baik dalam umrah maupun ketika haji, jika seseorang terhalang untuk menyempurnakan manasiknya, maka dia diperbolehkan bertahallalul dan tidak wajib membayar dam (menyembelih seekor kambing).

[Lafal di Shohih Muslim, dalam kitab Haji bab “Bolehnya Menggunakan Persyaratan dalam Haji”]

 

Sumber: https://rumaysho.com/2654-tata-cara-pelaksanaan-umrah333.html

 

,

BAGAIMANA JIKA LUPUT DARI MENGERJAKAN RAWATIB ZUHUR?

BAGAIMANA JIKA LUPUT DARI MENGERJAKAN RAWATIB ZUHUR?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

BAGAIMANA JIKA LUPUT DARI MENGERJAKAN RAWATIB ZUHUR?

Kalau luput dari shalat empat rakaat sebelum Zuhur, maka boleh mengerjakannya ketika selesai melaksanakan shalat Zuhur. Dalilnya adalah:

Aisyah mengatakan, bahwa jika Nabi ﷺ luput dari mengerjakan empat rakaat sebelum (Qabliyah) Zuhur, beliau ﷺ mengerjakannya sesudah melaksanakan shalat Zuhur (yaitu setelah badiyah Zuhur, -pen.). [HR. Tirmidzi, no. 426; Ibnu Majah, no. 1158]

Bagaimana jika luput dari dua rakaat Bada (Badiyah) Zuhur?

Boleh meng-qadha shalat ini setelah shalat Ashar sebelum matahari menguning. Namun hendaknya hal ini tidak dijadikan kebiasaan. Dalam Shahih Bukhari Muslim diceritakan, bahwa Nabi ﷺ pernah disibukkan dengan masuk Islamnya beberapa orang dari kaum Abdul Qoys. Lalu beliau ﷺ luput dari shalat dua rakaat bada Zuhur, dan meng-qadhanya setelah shalat Ashar.

 

Sumber: https://rumaysho.com/13091-shalat-rawatib-di-waktu-Zuhur.html

, , ,

BAGAIMANA CARA QADHA SHALAT WITIR DI WAKTU DHUHA ESOK HARINYA?

BAGAIMANA CARA QADHA SHALAT WITIR DI WAKTU DHUHA ESOK HARINYA?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi
#FatwaUlama

BAGAIMANA CARA QADHA SHALAT WITIR DI WAKTU DHUHA  ESOK HARINYA?

Pertanyaan:

إذا نمت عن صلاة الوتر ولم أؤدها في الليل فهل أقضيها وفي أي وقت؟

Jika saya ketiduran (kelewatan)  shalat Witir, dan saya tidak menunaikannya di malam itu, kapan boleh saya meng-qadhanya?

السنة قضاؤها ضحى بعد ارتفاع الشمس وقبل وقوفها، شفعاً لا وتراً، فإذا كانت عادتك الإيتار بثلاث ركعات في الليل فنمت عنها أو نسيتها شرع لك أن تصليها نهاراً أربع ركعات في تسليمتين، وإذا كان عادتك الإيتار بخمس ركعات في الليل فنمت عنها أو نسيتها شرع لك أن تصلي ست ركعات في النهار في ثلاث تسليمات، وهكذا الحكم فيما هو أكثر من ذلك، لما ثبت عن عائشة رضي الله عنها قالت: (كان رسول الله، صلى الله عليه وسلم إذا شغل عن صلاته بالليل بنومٍ أو مرض صلى من النهار اثنتي عشرة ركعة) رواه مسلم في صحيحه.

وكان وتره صلى الله عليه وسلم، في الغالب إحدى عشرة ركعة، والسنة أن يصلي القضاء شفعاً ركعتين ركعتين لهذا الحديث الشريف ولقوله صلى الله عليه وسلم: ((صلاة الليل والنهار مثنى مثنى)) أخرجه أحمد وأهل السنن بإسنادٍ صحيح وأصله في الصحيحين من حديث ابن عمر رضي الله عنهما لكن بدون ذكر النهار وهذه الزيادة ثابتة عند من ذكرنا آنفاً وهم أحمد وأهل السنن. والله ولي التوفيق.

Jawaban:

Yang sunnah diqadha (esok harinya) waktu Dhuha, ketika matahari telah meninggi, dan sebelum berhenti ( menjelang masuk waktu Zuhur) dengan jumlah rakaat genap, bukan ganjil.

  • Jika kebiasaan engkau shalat Witir ganjil tiga rakaat pada malam hari, kemudian engkau tertidur atau terlupa, maka disyariatkan bagimu (qadha) shalat siang hari, empat rakaat dalam dua kali salam (dua rakaat-dua rakaat).
  • Jika kebiasaan engkau shalat ganjil lima rakaat malam hari, kemudian engkau tertidur atau terlupa, maka disyariatkan bagimu (qadha) shalat siang hari enam rakaat, dalam tiga kali salam (dua rakaat-dua rakaat).

Demikianlah hukumnya dan umumnya seperti itu, sebagaimana riwayat dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, ia berkata:

“Dahulu jika Rasulullah ﷺ terluput dari shalat malam (termasuk Witir) karena ketiduran atau sakit, maka ia shalat (qadha) pada (besok) siang (Dhuha) 12 rakaat” [HR. Muslim]

Kebanyakan jumlah shalat Witir Rasulullah ﷺ adalah 11 rakaat, dan termasuk sunnah meng-qadhanya dengan rakaat yang genap, dengan cara dua rakaat-dua rakaat (salam setiap dua rakaat), sebagaimana dalam hadis yang mulia, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Shalat malam dan siang itu dua rakaat-dua rakaat” [HR. Ahmad]

Dan hadis Shahih dari Ibnu Umar, akan tetapi tanpa penyebutan kata “siang”. Ini adalah tambahan dari apa yang kami baru saja sebutkan.

Wallahu waliyyut taufiq

Sumber: http://www.binbaz.org.sa/mat/4532

 

Penulis: dr Raehanul Bahraen

[Artikel www.muslimafiyah.com]

Sumber: https://muslimafiyah.com/mengqadha-shalat-witir-besok-di-waktu-dhuha.html

,

BAGAIMANA CARA QADHA SHALAT TAHAJUD?

BAGAIMANA CARA QADHA SHALAT TAHAJUD?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

BAGAIMANA CARA QADHA SHALAT TAHAJUD?

Pertanyaan:

Bagaimana tata cara mengqadha shalat Tahajud di waktu Dhuha? Bagaimana niatnya dan berapa rakaat?

Jawaban:

Bismillah, was sholatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Bagi orang yang memiliki kebiasaan Tahajud, kemudian tidak sempat mengerjakannya karena sebab tertentu, dianjurkan untuk menqadhanya. Waktunya adalah antara Subuh sampai menjelang Zuhur. Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ:

من نام عن حزبه أو عن شيء منه فقرأه فيما بين صلاة الفجر وصلاة الظهر كتب له كأنما قرأه من الليل

“Siapa saja yang ketiduran, sehingga tidak melaksanakan kebiasaan shalat malamnya, kemudian dia baca (mengerjakannya) di antara shalat Subuh dan shalat Zuhur, maka dia dicatat seperti orang yang melaksanakan shalat Tahajud di malam hari.” [HR. Muslim, Nasa’i, Abu Daud, dan Ibnu Majah]

Penulis kitab Aunul Ma’bud mengatakan: “Hadis ini menunjukkan disyariatkannya melakukan amal saleh di malam hari. Dan menunjukkan disyariatkannya mengqadha amalan tersebut jika tidak sempat melaksanakannya, karena ketiduran atau uzur lainnya. Siapa saja yang melaksanakan qadha amal ini di antara shalat Subuh dan shalat Zuhur, maka dia seperti melaksanakannya di malam hari.” (Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud, 4:139)

Jumlah Rakaat Shalat Tahajud

Jumlah rakaatnya sama dengan jumlah rakaat shalat Tahajud, ditambah satu (digenapkan). Misalnya seseorang memiliki kebiasaan Tahajud 11 rakaat, maka nanti diganti di waktu Dhuha sebanyak 12 rakaat. Barang siapa yang memiliki kebiasaan Tahajud 3 rakaat, maka diganti di waktu Dhuha sebanyak 4 rakaat, dan seterusnya. Berdasarkan hadis riwayat Aisyah radhiallahu ‘anha; beliau mengatakan:

كان رسول الله إذا عمل عملاً اثبته، وكان إذا نام من الليل أو مرض، صلّى من النهار ثنتي عشرة ركعة

“Apabila Rasulullah ﷺ melakukan satu amalan, beliau melakukannya dengan istiqamah. Dan apabila beliau ketiduran di malam hari atau karena sakit, maka beliau shalat 12 rakaat di siang hari.” (Hr. Muslim dan Ibnu Hibban)

Nabi ﷺ melaksanakan shalat qadha 12 rakaat, karena beliau ﷺ memiliki kebiasaan shalat malam sebanyak 11 rakaat. Allahu a’lam.

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).

Sumber: https://konsultasisyariah.com/7581-qadhashalat-Tahajud.html

,

RINCIAN HUKUM WANITA MENGONSUMSI OBAT PENCEGAH HAID

RINCIAN HUKUM WANITA MENGONSUMSI OBAT PENCEGAH HAID

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah

#FatwaUlama

RINCIAN HUKUM WANITA MENGONSUMSI OBAT PENCEGAH HAID

Fatwa Asy Syaikh Muhammad Shalih Al Utsaimin rahimahullah

Pertanyaan:

Fadhilatusy Syaikh, terkadang seorang wanita membawa obat-obatan untuk kebaikan dirinya. Dia mengonsumsi obat pencegah haid, agar bisa menjalankan ibadah umrah, puasa dan shalat di bulan Ramadan. Apa hukum perbuatan ini?

Jawaban:

Jika wanita tersebut mengonsumsi obat pencegah haid agar bisa shalat, puasa di bulan Ramadan, maka sebaiknya tidak mengonsumsinya. Karena ada kelongaran dalam perkara ini, walhamdulillah. Haid adalah suatu ketetapan yang Allah berikan kepada anak perempuan Adam, sebagaimana yang disabdakan Nabi ﷺ. Saya mendapat informasi dari dokter terpercaya dan jujur, bahwasanya obat-obatan seperti ini bisa menimbulkan efek samping yang membahayakan.

Adapun jika tujuan penggunaan obat pencegah haid agar bisa menjalankan ibadah umrah, maka ada keringanan di sana. Karena ibadah umrah bisa terlewatkan waktunya jika keluar haid tatkala ihram sebelum thawaf, dan mereka pulang sebelum thawaf. Maka dalam ibadah umrah terkadang diberi keringanan. Adapun dalam ibadah shalat, puasa, tilawah Alquran, maka tidak perlu mengonsumsinya. (Silsilah Al Liqa Asy Syahri 71)

Marja’: Tathbiiq Fatawa Ibn Utsaimin Lianduruwid

Diterjemahkan oleh Tim Penerjemah WanitaSalihah.Com

 

التفصيل في حكم استعمال المرأة لحبوب منع الدورة الشهرية

[السؤال : ]

يقول: فضيلة الشيخ، قد يحمل المرأة حبها للخير أن تستعمل بعض الموانع لمنع الدورة الشهرية لأجل العمرة أو لأجل صيام وصلاة رمضان فما حكم ذلك؟

الجواب :

أما من أجل صلاة رمضان أو صيام رمضان فلا تستعملها؛ لأن الأمر واسع والحمد لله، وهذا شيء كتبه الله على بنات آدم كما قال النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم، وهذه الحبوب بلغني من أطباء مخلصين صادقين أن فيها أضراراً عظيمة، وأما العمرة فهذه ربما يرخص فيها؛ لأن العمرة قد تفوت لو جاء الحيض من حين الإحرام قبل الطواف ورجعوا قبل أن تطوف، فالعمرة ربما يرخص فيها وأما من أجل الصيام والقيام وقراءة القرآن فلا .

المصدر: سلسلة اللقاء الشهري > اللقاء الشهري [71 ]

 

Sumber: http://wanitasalihah.com/rincian-hukum-wanita-mengkonsumsi-obat-pencegah-haid/

 

,

JIKA IMAM BATAL KETIKA SUJUD

JIKA IMAM BATAL KETIKA SUJUD

#SifatSholatNabi

JIKA IMAM BATAL KETIKA SUJUD

Pertanyaan:

Apa yang harus dilakukan imam, jika dia batal dalam posisi sujud? Makmum kan tidak melihat dia pergi.

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Ketika imam batal wudhu dalam posisi sujud, ada beberapa proses yang bisa dilakukan:

  1. Imam yang batal langsung bangkit diam-diam, tanpa membaca takbir intiqal, karena dia sudah batal.
  2. Kemudian dia tepuk salah satu jamaah yang berada di belakangnya untuk menggantikan dirinya jadi imam.
  3. Selanjutnya, imam yang baru ini bertakbir bangkit dari sujud, tetap di shaf pertama (posisi semula).
  4. Setelah berdiri, dia bisa maju menggantikan posisi imam, kemudian menyelesaikan shalat.

Imam Ibnu Utsaimin ditanya: ‘Apa yang harus dilakukan apabila imam batal wudhunya dalam posisi sujud?’

Jawab beliau:

العمل في هذه الحال أن ينصرف من الصلاة ، ويأمر أحد المأمومين الذين خلفه بتكميل الصلاة بالجماعة

Yang harus dia lakukan dalam kondisi ini, dia harus membatalkan shalat, lalu menyuruh salah satu makmum yang berada di belakangnya untuk melanjutkan shalat jamaah. (Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin, 15/154).

Jika imam lupa atau tidak tahu, sehingga tidak langsung membatalkan, namun dia bangkit dengan membaca takbir, padahal dia sudah batal, kemudian diikuti makmum, maka SHALAT MAKMUM TETAP SAH. Dalam dalam kasus ini ada udzur untuk makmum.

Dalam Ensiklopedi Fiqh dinyatakan:

وإذا حصل للإمام سبب الاستخلاف في ركوع أو سجود فإنه يستخلف، كما يستخلف في القيام وغيره، ويرفع بهم من السجود الخليفة بالتكبير  ويرفع الإمام رأسه بلا تكبير؛ لئلا يقتدوا به، ولا تبطل صلاة المأمومين إن رفعوا رءوسهم برفعه

Jika ada sebab yang mengharuskan imam harus diganti dalam posisi rukuk atau sujud, maka imam bisa langsung menunjuk pengganti, sebagaimana yang biasa dilakukan dalam posisi berdiri. Kemudian imam pengganti mengangkat kepalanya dari sujud dengan mengeraskan takbir intiqal. Sementara imam yang batal, tidak boleh membaca takbir ketika bangkit, agar makmum tidak mengikutinya. Meskipun shalat makmum tetap sah jika dia bangkit, karena mengikuti takbir imam. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 3/253).

Allahu a’lam.

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/24332-jika-imam-batal-ketika-sujud.html

, ,

HUKUM MEMEJAMKAN KEDUA MATA SAAT ZIKIR DAN DOA

HUKUM MEMEJAMKAN KEDUA MATA SAAT ZIKIR DAN DOA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#FatwaUlama

HUKUM MEMEJAMKAN KEDUA MATA SAAT ZIKIR DAN DOA

Pertanyaan:

Apa hukum memejamkan kedua mata di dalam shalat, saat membaca Alquran, dan ketika doa supaya bisa lebih khusyu’ ?

Jawaban:

Alhamdulillah wash shalatu was salamu ala Rasulillah, wa ala alihi wa shahbih, amma ba’du,

Terkadang seseorang lupa, bahwa di antara prinsip dalam beragama Islam adalah sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ وَيُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ إِلاَّ وَ قَدْ بُيِّنَ لَكُمْ

“Tidaklah tertinggal sesuatu pun yang mendekatkan ke Surga, dan menjauhkan dari Neraka, melainkan telah dijelaskan semuanya kepada kalian”(HR. At-Thabrani, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah) [Http://almanhaj.or.id/content/1963/slash/0/Hadits-hadits-tentang-kesempurnaan-Islam/]

Dan di sisi yang lain, terkadang seseorang ketika beribadah juga lupa bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

خير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم

“Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam” (HR. Muslim dalam Shahihnya dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma) [Http://Islamqa.info/ar/108382]

Akibatnya, terkadang ia berani ‘berkreasi’ sendiri dalam melakukan tata cara ibadah tertentu, tanpa ia sadari.

Pernahkah hal ini Anda lakukan?

Terkadang tanpa terasa, setelah menunaikan shalat, seseorang melanjutkan berzikir dengan memejamkan mata. Ia lakukan itu tanpa kesengajaan. Demikian pula, sebagian manusia ada yang berdoa sambil memejamkan matanya, dengan tujuan agar bisa berdoa dengan khusyu‘. Apakah kedua perkara itu dibenarkan?

Berikut Fatwa-Fatwa Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafizhahullah (no. 223681) menjelaskan hal itu.

Pertanyaan:

Bolehkah memejamkan kedua mata saat doa dan zikir?

Jawaban:

Alhamdulillah, TIDAK DIKENAL di dalam sunnah, bahwa Nabi ﷺ dahulu memejamkan kedua matanya dalam bentuk ibadah apapun juga, baik itu shalat, baca Alquran, zikir, doa, khutbah, atau selain itu. Telah berlalu jawaban atas pertanyaan no. 22174 yang menjelaskan, bahwa memejamkan kedua mata dalam shalat itu hukumnya makruh, kecuali jika ada keperluan, yaitu adanya perkara yang menyibukkan seseorang dalam shalatnya, berupa ukiran, hiasan, ornamen, gambar, lewatnya wanita, atau semisal itu. Namun jika tidak ada keperluan, tidaklah disayariatkan seseorang memejamkan kedua mata.

Hukum Memejamkan Kedua Mata Saat Berdoa dan Berzikir [-Pent]

(Berdasarkan dalil di atas), maka jika didapatkan sebab yang diperlukan untuk memejamkan kedua mata (saat berdoa dan berzikir), maka boleh (memejamkan mata), seperti ketika didapatkan sesuatu yang menyibukkan orang yang berdoa atau berzikir.

Adapun jika tidak didapatkan sebab yang diperlukan, maka meneladani Rasulullah ﷺ  -tanpa diragukan lagi- adalah lebih utama (afdhal).

Terkadang sebagian manusia memejamkan kedua matanya dengan alasan supaya khusyu’. Ini adalah perkara yang TIDAK DISYARIATKAN, dan ulama telah mengingkarinya.

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya: “Apa hukum memejamkan kedua mata di dalam shalat saat membaca Alquran dan ketika doa Qunut supaya bisa khusyu’ dalam shalat?”

Beliau menjawab: “Ulama telah menyebutkan, bahwa hukum memejamkan kedua mata di dalam shalat adalah makruh, kecuali jika ada sebab, semisal di hadapan seseorang yang sedang shalat ada sesuatu yang menyibukkannya atau cahaya yang terang, sangat menyilaukan kedua matanya, dalam keadaan itu boleh ia memejamkan kedua matanya, untuk menghindari bahaya tersebut. Adapun sangkaan sebagian manusia, bahwa jika memejamkan kedua matanya bisa lebih khusyu’ baginya di dalam shalatnya, saya khawatir ini termasuk TIPU DAYA SETAN untuk menjerumuskannya dalam perkara yang makruh, sedangkan ia tidak merasa. Dan apabila ia membiasakan dirinya baru bisa khusyu’ jika memejamkan kedua matanya, maka inilah biang keladi yang menjadikan dirinya merasa lebih khusyu’, jika memejamkan kedua mata, dibandingkan jika membuka kedua matanya” (Majmu’ Fatawa wa Rasail Al-‘Utsaimin 13/299).

Namun terkadang, tanpa disengaja, seseorang memejamkan mata begitu saja saat berdoa dan berzikir, maka hal ini tidaklah mengapa. Wallahu Ta’ala A’lam (Islamqa.info/ar/223681).

 

Penulis: Al-Ustadz Sa’id Abu Ukasyah hafizhahullah

Sumber: http://muslim.or.id/24270-hukum-memejamkan-kedua-mata-saat-zikir-dan-doa.html