Posts

,

RUGI JIKA TIDAK MENGUCAPKAN ZIKIR INI

RUGI JIKA TIDAK MENGUCAPKAN ZIKIR INI

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#DoaZikir

RUGI JIKA TIDAK MENGUCAPKAN ZIKIR INI

Rugi jika kita tidak mengucapkan zikir ini karena keutamaannya yang luar biasa. Pembahasannya dari Riyadhus Sholihin, Kitab Al-Adzkar karya Imam Nawawi. [Hadis no. 1409].

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

لأَنْ أَقُولَ : سُبْحَانَ اللهِ ؛ وَالحَمْدُ للهِ ؛ وَلاَ إلهَ إِلاَّ اللهُ ، وَاللهُ أكْبَرُ ، أَحَبُّ إلَيَّ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ

“Sungguh aku mengucapkan: ‘SUBHANALLAH WALHAMDU LILLAH WA LAA ILAHA ILLALLAH WALLAHU AKBAR

Artinya:

Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah. Tidak ada Sesembahan yang berhak disembah dengan benar selain Allah dan Allah Maha Besar,’ itu lebih aku cintai daripada hari-hari ketika matahari terbit.” [HR. Muslim, no. 2695]

Penjelasan:

  • Subhanallah berarti menyucikan Allah dari sifat-sifat yang tidak layak. Sedangkan Alhamdulillah berarti pujian bagi Allah dengan sifat-sifatnya yang sempurna.
  • Di antara bentuk zikir yang utama adalah mengucapkan: SUBHANALLAH WALHAMDU LILLAH WA LAA ILAHA ILLALLAH WALLAHU AKBAR.
  • Kesenangan dunia sebenarnya sedikit dan itu pun akan sirna.
  • Kesenangan Akhirat itu kekal abadi, tidak akan hilang dan tidak akan berganti.

 

Referensi:

Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:446.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

[Artikel Rumaysho.Com]

Sumber: https://rumaysho.com/16242-rugi-jika-tidak-mengucapkan-zikir-ini.html

,

PANDUAN RINGKAS SHALAT SUNNAH RAWATIB

PANDUAN RINGKAS SHALAT SUNNAH RAWATIB

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

PANDUAN RINGKAS SHALAT SUNNAH RAWATIB

Berikut ini adalah hadis-hadis yang menjelaskan jumlah shalat sunnah Rawatib beserta letak-letaknya:

  1. Dari Ummu Habibah istri Nabi ﷺ, beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يُصَلِّي لِلَّهِ كُلَّ يَوْمٍ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعًا غَيْرَ فَرِيضَةٍ إِلَّا بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

“Tidaklah seorang Muslim mendirikan shalat sunnah ikhlas karena Allah sebanyak dua belas rakaat selain shalat fardhu, melainkan Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di Surga.” (HR. Muslim no. 728)

Dan dalam riwayat At-Tirmizi dan An-Nasai, ditafsirkan ke-12 rakaat tersebut. Beliau ﷺ bersabda:

مَنْ ثَابَرَ عَلَى ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً مِنْ السُّنَّةِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ

“Barang siapa menjaga dalam mengerjakan shalat sunnah dua belas rakaat, maka Allah akan membangunkan rumah untuknya di Surga, yaitu empat rakaat sebelum Zuhur, dua rakaat setelah Zuhur, dua rakaat setelah Maghrib, dua rakaat setelah Isya` dan dua rakaat sebelum Subuh.” (HR. At-Tirmizi no. 379 dan An-Nasai no. 1772 dari AIsyah)

  1. Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radliallahu ‘anhu dia berkata:

حَفِظْتُ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ رَكَعَاتٍ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ فِي بَيْتِهِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ فِي بَيْتِهِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلَاةِ الصُّبْحِ

“Aku menghapal sesuatu dari Nabi ﷺ berupa shalat sunnat sepuluh rakaat, yaitu: dua rakaat sebelum shalat Zuhur, dua rakaat sesudahnya, dua rakaat sesudah shalat Maghrib di rumah beliau, dua rakaat sesudah shalat Isya’ di rumah beliau, dan dua rakaat sebelum shalat Subuh.” (HR. Al-Bukhari no. 937, 1165, 1173, 1180 dan Muslim no. 729)

Dalam sebuah riwayat keduanya: “Dua rakaat setelah Jumat.”

Dalam riwayat Muslim: “Adapun pada shalat Maghrib, Isya, dan Jumat, maka Nabi ﷺ mengerjakan shalat sunnahnya di rumah.”

  1. Dari Ibnu Umar dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

رَحِمَ اللَّهُ امْرَأً صَلَّى قَبْلَ الْعَصْرِ أَرْبَعًا

“Semoga Allah merahmati seseorang yang mengerjakan shalat (sunnah) empat rakaat sebelum Ashar.” (HR. Abu Daud no. 1271 dan At-Tirmizi no. 430)

  1. Hadis Ummu Habibah yang berbunyi:

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ حَافَظَ عَلَى أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَأَرْبَعٍ بَعْدَهَا حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ

Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa yang menjaga empat rakaat sebelum Zuhur dan empat rakaat setelahnya, maka Allah mengharamkannya dari Neraka”. [HR at-Tirmidzi, kitab ash-Shalat, no. 428; Ibnu Majah, kitab ash-Shalat, no. 428; Abu Dawud kitab ash-Shalat, Bab: al-Arba’ Qablal-Zhuhri wa Ba’daha, no. 1269; dan Ibnu Majah kitab ash-Shalat was-Sunnah fiha, Bab: Ma Ja`a fiman Shalla Qablal-Zhuhri Arba’an wa Ba’daha Arba’an, no. 1160. Dishahihkan Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah, 1/191]

  1. Hadis yang berbunyi:

أَرْبَعُ رَكَعَاتٍ قَبْل الظُّهْرِ يَعْدَلْنَ بِصَلاَةِ السَّجَرِ

Empat rakaat sebelum Zuhur menyamai shalat as-Sahar (menjelang terbit fajar). [HR Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya (2/15/2), dan dishahihkan Syaikh al-Albani dalam Silsilah Ahadits ash-Shahihah no. 1431. Lihat Silsilah (3/416)]

Dengan demikian, siapa saja yang menunaikan seluruh shalat sunnah Rawatib Zuhur, baik empat rakaat sebelum Zuhur maupun empat rakaat sesudahnya, maka ia telah melaksanakan sunnah. Namun yang muakkad (yang ditekankan), ialah empat rakaat sebelum Zuhur dan dua rakaat setelahnya, sebagaimana telah dirajihkan oleh Ibnul-Qayyim rahimahullah dan Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin. [Lihat pembahasan Majalah As-Sunnah, Edisi 05/Tahun XI/1428H/2007M, Rubrik Fiqh, halaman 49-52]

Maka dari sini kita bisa mengetahui, bahwa shalat sunnah Rawatib adalah:

  1. Dua rakaat sebelum Subuh, dan sunnahnya dikerjakan di rumah
  2. Dua rakaat sebelum Zuhur, dan bisa juga empat rakaat
  3. Dua rakaat setelah Zuhur, dan bisa juga empat rakaat
  4. Empat rakaat sebelum Ashar
  5. Dua rakaat setelah Jumat
  6. Dua rakaat setelah Maghrib, dan sunnahnya dikerjakan di rumah
  7. Dua rakaat setelah Isya, dan sunnahnya dikerjakan di rumah

Apakah shalat Rawatib empat rakaat dikerjakan dengan sekali salam atau dua kali salam?

As-Syaikh Muhammad bin Utsaimin rahimahullah berkata: “Sunnah Rawatib terdapat di dalamnya salam. Seseorang yang shalat rawatib empat rakaat, maka dengan dua salam, bukan satu salam, karena sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: “Shalat (sunnah) di waktu malam dan siang dikerjakan dua rakaat salam, dua rakaat salam”. (Majmu’ Fatawa As-Syaikh Al-Utsaimin 14/288)

Lalu apa hukum shalat sunnah setelah Subuh, sebelum Jumat, setelah Ashar, sebelum Maghrib, dan sebelum Isya?

Jawab:

Adapun dua rakaat sebelum Maghrib dan sebelum Isya, maka dia tetap disunnahkan dengan dalil umum:

Dari Abdullah bin Mughaffal Al Muzani dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ قَالَهَا ثَلَاثًا قَالَ فِي الثَّالِثَةِ لِمَنْ شَاءَ

“Di antara setiap dua azan (azan dan iqamah) itu ada shalat (sunnah).” Beliau ﷺ mengulanginya hingga tiga kali. Dan pada kali yang ketiga beliau ﷺ bersabda: “Bagi siapa saja yang mau mengerjakannya.” (HR. Al-Bukhari no. 588 dan Muslim no. 1384)

Adapun setelah Subuh dan Ashar, maka TIDAK ADA shalat sunnah Rawatib saat itu. Bahkan TERLARANG untuk shalat sunnah mutlak pada waktu itu, karena kedua waktu itu termasuk dari lima waktu terlarang.

Dari Ibnu ‘Abbas dia berkata:

شَهِدَ عِنْدِي رِجَالٌ مَرْضِيُّونَ وَأَرْضَاهُمْ عِنْدِي عُمَرُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصُّبْحِ حَتَّى تَشْرُقَ الشَّمْسُ وَبَعْدَ الْعَصْرِ حَتَّى تَغْرُبَ

“Orang-orang yang diridai memersaksikan kepadaku, dan di antara mereka yang paling aku ridai adalah ‘Umar, (mereka semua mengatakan) bahwa Nabi ﷺ melarang shalat setelah Subuh hingga matahari terbit, dan setelah ‘Ashar sampai matahari terbenam.” (HR. Al-Bukhari no. 547 dan Muslim no. 1367)

Adapun shalat sunnah sebelum Jumat, maka pendapat yang rajih adalah TIDAK DISUNNAHKAN.

Wallahu Ta’ala a’lam.

 

Sumber:

http://al-atsariyyah.com/pembahasan-lengkap-shalat-sunnah-Rawatib.html

https://almanhaj.or.id/3506-shalat-sunah-rawatib-zhuhur.html

 

 

Tautan kajian video:

Berapa Jumlah Bilangan Shalat Sunnah Rawatib? – Ustadz Dr. Khalid Basalamah, MA: https://youtu.be/-NFMKRMXFQU

Keutamaan Shalat Sunnah Rawatib – Ustadz Khalid Basalamah: https://youtu.be/asFV38G-CwY

Sholat Rawatib – Ustadz Firanda Andirja, MA: https://youtu.be/OejZ41XFFuw

,

KAPAN MULAI DAN BERAKHIRNYA WAKTU SHOLAT DHUHA? KAPAN WAKTU PALING AFDHALNYA?

KAPAN MULAI DAN BERAKHIRNYA WAKTU SHOLAT DHUHA? KAPAN WAKTU PALING AFDHALNYA?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi
#FatwaUlama

KAPAN MULAI DAN BERAKHIRNYA WAKTU SHOLAT DHUHA? KAPAN WAKTU PALING AFDHALNYA?

  • Cara Mudah Menentukan Batas Waktu Shalat Dhuha

Pertanyaan:

Alhamdulillah selama ini saya rutin menjalankan sholat Dhuha sebelum berangkat kerja. Setelah mandi pagi saya langsung wudhu dan segera menunaikan sholat Dhuha (sholat Dhuha yang saya laksanakan mulai dari jam 07.00 – 07.30), karena setelah jam tersebut saya harus segera berangkat ke kantor.

Suatu waktu saya dinasihati oleh seorang teman tentang waktu-waktu yang diharamkan untuk melaksanakan sholat, dan saya pun segera mencari info di internet. Ternyata dari info yang saya dapat “Jam 06.00 – 07.45 adalah WAKTU YANG DIHARAMKAN UNTUK SHOLAT”.

Yang ingin saya tanyakan:

Bagaimana dengan jadwal sholat Dhuha pada kalender Islam (kebanyakan), yang waktunya dimulai jam 06.18 ? Apakah sholat Dhuha tetap syah?

Bagaimana jika cuaca mendung ? Apa tidak masalah kita tetap sholat Dhuha sesuai jadwal sholat pada kalender? Mohon penjelasan segera lengkapnya

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Secara bahasa, “Dhuha” diambil dari kata Ad-Dhahwu [Arab: الضَّحْوُ] artinya siang hari yang mulai memanas. (Al-Ain, kata: ضحو). Allah berfirman:

وَأَنَّكَ لَا تَظْمَأُ فِيهَا وَلَا تَضْحَى

”Di Surga kamu tidak akan mengalami kehausan dan kepanasan karena sinar matahari” [QS. Thaha: 119].

Kaitannya dengan makna bahasa kata Dhuha pada ayat di atas, Allah menyebutkan kenikmatan ketika di Surga, salah satunya tidak kepanasan karena sinar matahari, yang itu diungkapkan dengan kata: [وَلَا تَضْحَى].

Sedangkan menurut ulama Ahli Fikih, Dhuha artinya:

ما بين ارتفاع الشمس إلى زوالها

”Waktu ketika matahari mulai meninggi sampai datangnya zawal (tergelincirnya matahari). [al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, 27/221].

Waktu Mulainya Shalat Dhuha

Sebelumnya kita awali dengan hadis tentang waktu larangan shalat. Terdapat hadis yang menyebutkan waktu larangan untuk shalat. Dari Uqbah bin Amir radhiallahu anhu dia berkata:

ثَلاَثُ سَاعَاتٍ كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَنْهَانَا أَنْ نُصَلِّيَ فِيْهِنَّ أَوْ أَنْ نَقْبُرَ فِيْهِنَّ مَوْتَانَا: حِيْنَ تَطْلُعُ الشَّمْسُ بَازِغَةً حَتَّى تَرْتَفِعَ، وَحِيْنَ يَقُوْمُ قَائِمُ الظَّهِيْرَةِ حَتَّى تَمِيْلَ الشَّمْسُ، وَحِيْنَ تَضَيَّف لِلْغُرُوْبِ حَتَّى تَغْرُبَ

“Ada tiga waktu di mana Nabi ﷺ melarang kami untuk melaksanakan shalat di tiga waktu tersebut, atau menguburkan jenazah kami:

[1] Ketika matahari terbit sampai tinggi,

[2] Ketika seseorang berdiri di tengah bayangannya sampai matahari tergelincir dan

[3] Ketika matahari miring hendak tenggelam, sampai benar-benar tenggelam.” [HR. Muslim no. 1926]

Pada hadis di atas, ada dua waktu yang mengapit waktu Dhuha:

[1] Ketika matahari terbit sampai tinggi

[2] Ketika seseorang berdiri di tengah bayangannya sampai matahari tergelincir

Ketika matahari sudah terbit, mulai kapan shalat Dhuha sudah boleh dilaksanakan? Apakah tepat setelah terbit, ataukah ditunggu sampai agak tinggi?

Ulama berbeda pendapat mengenai waktu mulainya shalat Dhuha. Sebagaian ulama Syafi’iyah berpendapat, bahwa waktu mulainya shalat Dhuha adalah tepat setelah terbitnya matahari. Namun dianjurkan untuk menundanya sampai matahari setinggi tombak. Pendapat ini diriwayatkan An Nawawi dalam kitab Ar-Raudhah.

Sebagian ulama Syafi’iyah lainnya berpendapat, bahwa shalat Dhuha dimulai ketika matahari sudah setinggi kurang lebih satu tombak. Pendapat ini ditegaskan oleh Ar Rofi’i dan Ibn Rif’ah.

Demikian yang menjadi pendapat Imam Abu Syuja’ dalam matan At-Taqrib, ketika beliau menjelaskan waktu-waktu yang terlarang untuk shalat. Hal yang sama juga menjadi pendapat Imam Al-Albani. Beliau ditanya tentang berapakah jarak satu tombak. Beliau menjawab: “Satu tombak adalah 2 meter menurut standar ukuran sekarang.” [Mausu’ah Fiqhiyah Muyassarah, 2/167]. Sebagian ulama’ menjelaskan, jika diukur dengan waktu, maka matahari pada posisi setinggi satu tombak kurang lebih 15 menit setelah terbit.

Waktu Akhir Shalat Dhuha

Batas akhir waktu shalat Dhuha adalah sebelum waktu larangan shalat, yaitu ketika bayangan tepat berada di atas benda, tidak condong ke Timur atau ke Barat. Untuk menentukan batas akhir waktu Dhuha, kita bisa perhatikan bayangan benda. Selama bayangan benda masih condong ke arah Barat, meskipun sedikit, berarti waktu Dhuha masih ada. Kemudian ketika bayangan benda lurus dengan bendanya, tidak condong ke Barat maupun ke Timur, waktu shalat Dhuha telah habis. Karena matahari persis berada di atas benda. Ada sebagian yang memberikan acuan, kurang lebih 15 menit sebelum masuk Zuhur.

Cara Mudah Menentukan Batas Waktu Shalat Dhuha

Saat ini banyak kalender yang dilengkapi jadwal shalat yang diterbitkan oleh Depag atau Tarjih Muhammadiyah, termasuk beberapa kampus Islam. Kita bisa perhatikan, waktu terbit matahari dan waktu Zuhur.

  • Batas Awal Waktu Dhuha: Waktu terbit matahari tambahkan 15 menit
  • Batas Akhir Waktu Dhuha: Waktu Zuhur kurangi 15 menit.

Waktu Dhuha Yang Paling Afdhal

Waktu yang paling utama untuk mengerjakan shalat Dhuha adalah ketika matahari sudah mulai panas (dekat dengan waktu berakhirnya Dhuha). Sebagaimana riwayat dari Al Qosim As Syaibani, bahwasanya Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu melihat beberapa orang melakukan shalat Dhuha, kemudian Zaid mengatakan: “Andaikan mereka tahu, bahwa shalat setelah waktu ini lebih utama. Sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda:

صَلَاةُ الْأَوَّابِينَ حِينَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ

”Shalat para Awwabin adalah ketika anak unta mulai kepanasan.” [HR. Muslim 748].

Awwabin artinya orang yang suka kembali pada aturan Allah.

Sebagian ulama mengatakan: “Shalat pada waktu ini dikaitkan dengan Awwabin, karena umumnya pada waktu tersebut, jiwa manusia condong untuk istirahat. Akan tetapi orang ini menggunakan waktu tersebut untuk melakukan ketaatan, dan menyibukkan diri dengan melakukan shalat. Meninggalkan keinginan hati menuju rida Penciptanya.” [Faidhul Qadir, 4/216]

Imam An-Nawawi mengatakan: Ulama madzhab kami (Syafi’iyah) mengatakan: “Waktu ketika matahari mulai panas adalah waktu yang paling utama untuk melaksanakan shalat Dhuha, meskipun dibolehkan shalat sejak terbit matahari, sampai menjelang tergelincirnya matahari. [Syarh Shahih Muslim, 6/30].

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits [Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com]

Sumber:  https://konsultasisyariah.com/21925-waktu-sholat-Dhuha.html

 

 

,

KEUTAMAAN SHALAT SUNNAH SEBELUM SUBUH (QOBLIYAH)

KEUTAMAAN SHALAT SUNNAH SEBELUM SUBUH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

KEUTAMAAN SHALAT SUNNAH SEBELUM SUBUH (QOBLIYAH)

Shalat sunnah Qobliyah Subuh atau shalat sunnah Fajar yaitu dua rakaat sebelum pelaksanaan shalat Subuh, adalah di antara shalat Rawatib. Yang dimaksud shalat Rawatib adalah shalat sunnah yang dirutinkan sebelum atau sesudah shalat wajib. Shalat yang satu ini punya keutamaan yang besar, sampai-sampai ketika safar pun, Nabi ﷺ terus menerus menjaganya. Bahkan ada keutamaan besar lainnya yang akan kita temukan.

Dalam Shahih Muslim telah disebutkan mengenai keutamaan shalat ini dalam beberapa hadis. Juga dijelaskan anjuran menjaganya. Begitu pula diterangkan mengenai ringkasnya Nabi ﷺ dalam melakukan shalat tersebut.

Shalat Sunnah Fajar dengan Dua Rakaat Ringan

Dalil yang menunjukkan, bahwa shalat sunnah Qobliyah Subuh atau shalat Sunnah Fajar dilakukan dengan rakaat yang ringan, adalah hadis dari Nafi’, dari Ibnu ‘Umar yang berkata bahwa Ummul Mukminin Hafshoh pernah mengabarkan:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا سَكَتَ الْمُؤَذِّنُ مِنَ الأَذَانِ لِصَلاَةِ الصُّبْحِ وَبَدَا الصُّبْحُ رَكَعَ رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ تُقَامَ الصَّلاَةُ

“Rasulullah ﷺ dahulu diam antara azannya muadzin hingga shalat Subuh. Sebelum shalat Subuh dimulai, beliau dahului dengan dua rakaat ringan.” (HR. Bukhari no. 618 dan Muslim no. 723).

Dalam lafal lain juga menunjukkan, bahwa Nabi ﷺ melaksanakan shalat Sunnah Fajar dengan rakaat yang ringan. Dari Ibnu ‘Umar, dari Hafshoh, ia mengatakan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا طَلَعَ الْفَجْرُ لاَ يُصَلِّى إِلاَّ رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ

“Ketika terbit fajar Subuh, Rasulullah ﷺ tidaklah shalat, kecuali dengan dua rakaat yang ringan” (HR. Muslim no. 723).

‘Aisyah juga mengatakan hal yang sama:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّى رَكْعَتَىِ الْفَجْرِ إِذَا سَمِعَ الأَذَانَ وَيُخَفِّفُهُمَا

“Rasulullah ﷺ setelah mendengar azan, beliau melaksanakan shalat sunnah dua rakaat ringan” (HR. Muslim no. 724).

Dalam lafal lainnya disebutkan, bahwa ‘Aisyah berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّى رَكْعَتَىِ الْفَجْرِ فَيُخَفِّفُ حَتَّى إِنِّى أَقُولُ هَلْ قَرَأَ فِيهِمَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ

“Rasulullah ﷺ dahulu shalat sunnah Fajar (Qobliyah Subuh) dengan diperingan. Sampai aku mengatakan, apakah beliau di dua rakaat tersebut membaca Al Fatihah?” (HR. Muslim no. 724).

Imam Nawawi menerangkan, bahwa hadis di atas hanya kalimat hiperbolis, yaitu cuma menunjukkan ringannya shalat Nabi ﷺ, dibanding dengan kebiasaan beliau yang biasa memanjangkan shalat malam dan shalat sunnah lainnya. [Lihat Syarh Shahih Muslim, 6: 4].

Dan sekali lagi, namanya ringan, juga bukan berarti tidak membaca surat sama sekali. Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Sebagian ulama Salaf mengatakan, tidak mengapa jika shalat sunnah Fajar tersebut dipanjangkan dan menunjukkan tidak haramnya, serta jika diperlama tidak menyelisihi anjuran memeringan shalat sunnah Fajar. Namun sebagian orang mengatakan, bahwa itu berarti Nabi ﷺ tidak membaca surat apa pun ketika itu, sebagaimana diceritakan dari Ath Thohawi dan Al Qodhi ‘Iyadh. Ini jelas keliru. Karena dalam hadis Shahih telah disebutkan, bahwa ketika shalat sunnah Qobliyah Subuh, Rasulullah ﷺ membaca surat Al Kafirun dan surat Al Ikhlas, setelah membaca Al Fatihah. Begitu pula hadis Shahih menyebutkan, bahwa tidak ada shalat bagi yang tidak membaca surat atau tidak ada shalat bagi yang tidak membaca Alquran, yaitu yang dimaksud adalah tidak sahnya.” [Syarh Shahih Muslim, 6: 3].

Rajin Menjaga Shalat Sunnah Qobliyah Subuh

Dan shalat sunnah Fajar inilah yang paling Nabi ﷺ jaga, dikatakan pula oleh ‘Aisyah:

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- لَمْ يَكُنْ عَلَى شَىْءٍ مِنَ النَّوَافِلِ أَشَدَّ مُعَاهَدَةً مِنْهُ عَلَى رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الصُّبْحِ

“Nabi ﷺ tidaklah menjaga shalat sunnah, yang lebih daripada menjaga shalat sunnah dua rakaat sebelum Subuh”  (HR. Muslim no. 724).

Dalam lafal lain disebutkan bahwa ‘Aisyah berkata:

مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى شَىْءٍ مِنَ النَّوَافِلِ أَسْرَعَ مِنْهُ إِلَى الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ

“Aku tidaklah pernah mendengar Rasulullah ﷺ mengerjakan shalat sunnah yang lebih semangat, dibanding dengan shalat sunnah dua rakaat sebelum Fajar” (HR. Muslim no. 724).

Dalil anjuran bacaan ketika shalat sunnah Qobliyah Subuh dijelaskan dalam hadis berikut:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَرَأَ فِى رَكْعَتَىِ الْفَجْرِ (قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ) وَ (قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ)

“Sesungguhnya Rasulullah ﷺ membaca ketika shalat sunnah Qobliyah Subuh, surat Al Kafirun dan surat Al Ikhlas” [HR. Muslim no. 726].

Keutamaannya: Lebih dari Dunia Seluruhnya

Adapun dalil yang menunjukkan keutamaan shalat sunnah Qobliyah Subuh adalah hadis dari ‘Aisyah, di mana Nabi ﷺ bersabda:

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

“Dua rakaat fajar (shalat sunnah Qobliyah Subuh), lebih baik daripada dunia dan seisinya.” [HR. Muslim no. 725]. Jika keutamaan shalat sunnah Fajar saja demikian adanya, bagaimana lagi dengan keutamaan shalat Subuh itu sendiri.

Dalam lafal lain: ‘Aisyah berkata, bahwa Nabi ﷺ berbicara mengenai dua rakaat ketika telah terbih fajar Subuh:

لَهُمَا أَحَبُّ إِلَىَّ مِنَ الدُّنْيَا جَمِيعًا

“Dua rakaat shalat sunnah Fajar lebih kucintai daripada dunia seluruhnya” [HR. Muslim no. 725].

Hadis terakhir di atas juga menunjukkan, bahwa shalat sunnah Fajar yang dimaksud adalah ketika telah terbit fajar Subuh. Karena sebagian orang keliru memahami shalat sunnah Fajar, dengan mereka maksudkan untuk dua rakaat ringan sebelum masuk fajar. Atau ada yang membedakan antara shalat sunnah Fajar dan shalat sunnah Qobliyah Subuh. Ini jelas KELIRU. Imam Nawawi mengatakan:

أَنَّ سُنَّة الصُّبْح لَا يَدْخُل وَقْتهَا إِلَّا بِطُلُوعِ الْفَجْر ، وَاسْتِحْبَاب تَقْدِيمهَا فِي أَوَّل طُلُوع الْفَجْر وَتَخْفِيفهَا ، وَهُوَ مَذْهَب مَالِك وَالشَّافِعِيّ وَالْجُمْهُور

“Shalat sunnah Subuh tidaklah dilakukan melainkan setelah terbit fajar Subuh. Dan dianjurkan shalat tersebut dilakukan di awal waktunya, dan dilakukan dengan diperingan. Demikian pendapat Imam Malik, Imam Syafi’i  dan jumhur (baca: mayoritas) ulama.” [Syarh Shahih Muslim, 6: 3].

Hanya Allah-lah yang memberi taufik.

 

Sumber: https://rumaysho.com/3301-keutamaan-shalat-sunnah-sebelum-Subuh.html

 

, ,

ENAM SYARAT TAUBAT

ENAM SYARAT TAUBAT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#FatwaUlama

ENAM SYARAT TAUBAT

Untuk mendapatkan ampunan atas dosa-dosa besar harus dengan bertaubat kepada Allah ‘azza wa jalla. Asy-Syaikhul ‘Allaamah Ibnu Baz rahimahullah berkata:

قال جمهور أهل العلم: إن أداء الفرائض وترك الكبائر يكفر السيئات الصغائر، أما الكبائر فلا يكفرها إلا التوبة إلى الله سبحانه وتعالى

“Jumhur ulama berkata: Sesungguhnya mengamalkan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan dosa-dosa besar dapat menghapus dosa-dosa kecil. Adapun dosa-dosa besar tidak dapat dihapus, kecuali dengan taubat kepada Allah subhanahu wa ta’ala.” [Fatawa Nur ‘alad Darb, 6/64]

Dan taubat yang benar adalah dengan memenuhi enam syarat taubat:
1. Ikhlas karena Allah ‘azza wa jalla.
2. Menyesali dosanya.
3. Meninggalkannya.
4. Bertekad tidak akan melakukannya lagi di masa yang akan datang.
5. Sebelum habis waktunya, yaitu sebelum datangnya kematian atau sebelum terbitnya matahari dari arah Barat.
6. Jika dosa itu adalah kesalahan kepada orang lain, maka harus meminta maaf atau mengembalikan haknya.

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/taawundakwah/posts/1919002844999184:0

,

RINGKASAN FIKIH PUASA RAMADAN

RINGKASAN FIKIH PUASA RAMADAN

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 

#Sifat_Puasa_Nabi

RINGKASAN FIKIH PUASA RAMADAN

Berikut ini adalah ringkasan Fikih Puasa Ramadan yang disarikan dari Mausu’ah Fiqhiyyah Duraris Saniyyah, kitab Ash Shiyam. Semoga menjadi bekal untuk menjalani ibadah puasa Ramadan.

Makna Puasa

Puasa dalam bahasa Arab disebut dengan Ash Shiyaam (الصيام) atau Ash Shaum (الصوم). Secara bahasa Ash Shiyam artinya adalah Al Imsaak (الإمساك) yaitu menahan diri. Sedangkan secara istilah, Ash Shiyaam artinya: beribadah kepada Allah Ta’ala, dengan menahan diri dari makan, minum dan pembatal puasa lainnya, dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari.

Hukum Puasa Ramadan

Puasa Ramadan hukumnya WAJIB berdasarkan firman Allah Ta’ala:

يا أيها الذين آمنوا كتب عليكم الصّيَام كما كُتب على الذين من قبلكم لعلّكم تتّقون

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kalian bertakwa.”  [QS. Al Baqarah: 183]

Dan juga karena puasa Ramadan adalah salah dari Rukun Islam yang lima. Nabi ﷺ bersabda:

بُني الإِسلام على خمس: شهادة أن لا إِله إِلا الله وأنّ محمّداً رسول الله، وإقام الصلاة، وإِيتاء الزكاة، والحجّ، وصوم رمضان

“Islam dibangun di atas lima rukun: Syahadat laa ilaaha illallah Muhammadur Rasulullah, menegakkan shalat, membayar zakat, haji dan puasa Ramadan” [HR. Bukhari – Muslim].

Keutamaan Puasa

  1. Puasa adalah ibadah yang tidak ada tandingannya. Rasulullah ﷺ bersabda kepada Abu Umamah Al Bahili:

عليك بالصيام فإنه لا مثل له

“Hendaknya engkau berpuasa, karena puasa itu ibadah yang tidak ada tandingannya.” [HR. Ahmad, An Nasa-i. Dishahihkan Al Albani dalam Shahih An Nasa-i)

  1. Allah ta’ala menyandarkan puasa kepada diri-Nya:

قال الله عز وجل: كل عمل ابن آدم له إلا الصوم، فإنه لي وأنا أجزي به

“Allah ‘azza wa jalla berfirman: Setiap amalan manusia itu bagi dirinya, kecuali puasa. Karena puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalas pahalanya” [HR. Bukhari – Muslim]

  1. Puasa menggabungkan tiga jenis kesabaran:
  • Sabar dalam melakukan ketaatan kepada Allah,
  • Sabar dalam menjauhi hal yang dilarang Allah dan
  • Sabar terhadap takdir Allah atas rasa lapar dan kesulitan yang ia rasakan selama puasa.
  1. Puasa akan memberikan syafaat di Hari Kiamat.

الصيام والقرآن يشفعان للعبد

“Puasa dan Alquran, keduanya akan memberi syafaat kelak di Hari Kiamat.” [HR. Ahmad, Thabrani, Al Hakim. Al Haitsami mengatakan: “Semua perawinya dijadikan hujjah dalam Ash Shahih“].

  1. Orang yang berpuasa akan diganjar dengan ampunan dan pahala yang besar.

Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang Muslim, laki-laki dan perempuan yang Mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” [QS. Al Ahzab: 35]

  1. Puasa adalah perisai dari api Neraka.

Rasulullah ﷺ bersabda:

الصيام جُنة

“Puasa adalah perisai” [HR. Bukhari – Muslim]

  1. Puasa adalah sebab masuk ke dalam Surga

Rasulullah ﷺ bersabda:

في الجنة ثمانية أبواب، فيها باب يسمى الريان، لا يدخله إلا الصائمون

“Di Surga ada delapan pintu, di antaranya ada pintu yang dinamakan Ar Rayyan. Tidak ada yang bisa memasukinya, kecuali orang-orang yang berpuasa.” [HR. Bukhari]

Hikmah Disyariatkannya Puasa

  1. Puasa adalah wasilah untuk mengokohkan ketakwaan kepada Allah.
  2. Puasa membuat orang merasakan nikmat dari Allah ta’ala.
  3. Mendidik manusia dalam mengendalikan keinginan dan sabar dalam menahan diri.
  4. Puasa menahan laju godaan setan.
  5. Puasa menimbulkan rasa iba dan sayang kepada kaum miskin.
  6. Puasa membersihkan badan dari elemen-elemen yang tidak baik dan membuat badan sehat.

Rukun Puasa

  1. Menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa
  2. Menepati rentang waktu puasa

Awal dan Akhir Ramadan (Bulan Puasa)

  • Wajib menentukan awal Ramadan dengan Ru’yatul Hilal. Bila hilal tidak terlihat, maka bulan Syaban digenapkan menjadi 30 hari. Para ulama ijma akan hal ini. Tidak ada khilaf di antara mereka.
  • Para ulama mensyaratkan minimal satu orang yang melihat hilal, untuk bisa menetapkan terlihatnya hilal Ramadan.
  • Jika ada seorang yang mengaku melihat hilal Ramadan sendirian, ulama khilaf. Jumhur Ulama mengatakan ia wajib berpuasa sendirian berdasarkan Ru’yah-nya. Pendapat ini dikuatkan oleh Ibnu Al Utsaimin. Sebagian ulama berpendapat ia wajib berpuasa bersama jamaah kaum Muslimin. Pendapat ini dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah dan Ibnu Baz.
  • Rukyah Hilal suatu negeri berlaku untuk seluruh negeri yang lain (Ittifaqul Mathali’), ataukah setiap negeri mengikuti Rukyah Hilal masing-masing di negerinya (Ikhtilaful Mathali’)? Para ulama khilaf dalam masalah ini. Jumhur Ulama berpendapat Rukyah Hilal suatu negeri, berlaku untuk seluruh negeri yang lain. Adapun Syafi’iyyah dan pendapat sebagian salaf, setiap negeri mengikuti Rukyah Hilal masing-masing. Pendapat kedua ini dikuatkan oleh Ash Shanani dan juga Ibnu Utsaimin.
  • Wajib menentukan akhir Ramadan dengan Ru’yatul Hilal. Bila hilal tidak terlihat, maka Ramadan digenapkan menjadi 30 hari. Para ulama ijma akan hal ini, tidak ada khilaf di antara mereka.
  • Jumhur Ulama mensyaratkan minimal dua orang yang melihat hilal untuk bisa menetapkan terlihatnya hilal Syawal.
  • Jika ada seorang yang mengaku melihat hilal Syawal sendirian, maka ia wajib berbuka bersama jamaah kaum Muslimin.
  • Jika hilal Syawal terlihat pada siang hari, maka kaum Muslimin ketika itu juga berbuka dan shalat ‘Ied, jika terjadi sebelum zawal (bergesernya mata hari dari garis tegak lurus).

Rentang Waktu Puasa

Puasa dimulai ketika sudah terbit Fajar Shadiq atau fajar yang kedua. Allah ta’ala berfirman:

فَالآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُواْ مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ

“Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu. Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” [QS. Al Baqarah: 187]

Yang dimaksud dengan Khaythul Abyadh di sini adalah Fajar Shadiq atau Fajar Kedua karena berwarna putih dan melintang di ufuk seperti benang. Adapun Fajar Kadzib atau Fajar Pertama itu bentuknya seperti Dzanabus Sirhan (ekor serigala). Nabi ﷺ bersabda:

الفجر فجران: فأما الفجر الذي يكون كذنب السرحان فلا يحل الصلاة ولا يحرم الطعام، وأما الفجر الذي يذهب مستطيلا في الأفق فإنه يحل الصلاة و يحرم الطعام

“Fajar itu ada dua:

  • Pertama, fajar yang bentuknya seperti ekor serigala. Maka ini tidak menghalalkan shalat (Subuh) dan tidak mengharamkan makan.
  • Kedua, fajar yang memanjang di ufuk. Ia menghalalkan shalat (Subuh) dan mengharamkan makan (mulai puasa)” [HR. Al Hakim, Al Baihaqi, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami’].

Puasa berakhir ketika terbenam matahari. Allah ta’ala berfirman:

ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

“Lalu sempurnakanlah puasa hingga malam.” [QS. Al Baqarah: 187]

Rasulullah ﷺ bersabda:

إذا أقبل الليل من هاهنا وأدبر النهار من هاهنا، وغربت الشمس، فقد أفطر الصائم

“Jika datang malam dari sini, dan telah pergi siang dari sini, dan terbenam matahari, maka orang yang berpuasa boleh berbuka.” [HR. Bukhari – Muslim]

Syarat Sah Puasa

  1. Islam
  2. Baligh
  3. Berakal
  4. Muqim (tidak sedang safar)
  5. Suci dari haid dan nifas
  6. Mampu berpuasa
  7. Niat

Sunnah-Sunnah Ketika Puasa

  1. Sunnah-sunnah terkait berbuka puasa
  • Disunnahkan menyegerakan berbuka
  • Berbuka puasa dengan beberapa butir ruthab (kurma segar). Jika tidak ada, maka dengan beberapa butir tamr (kurma kering). Jika tidak ada, maka dengan beberapa teguk air putih.
  • Berdoa ketika berbuka dengan doa yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ:

ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله

Dzahabazh zhomaa-u wabtallatil ‘uruuqu wa tsabatal ajru insyaa Allah

Artinya:

“Telah hilang rasa haus, telah basah tenggorokan, dan telah diraih pahala, insya Allah.” [HR. Abu Daud, An Nasa-i, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abi Daud).

  1. Sunnah-sunnah terkait makan sahur
  • Makan sahur hukumnya Sunnah Muakkadah. Dianggap sudah makan sahur, jika makan atau minum di waktu sahar, walaupun hanya sedikit. Dan di dalam makanan sahur itu terdapat keberkahan.
  • Disunnahkan mengakhirkan makan sahur mendekati waktu terbitnya fajar, pada waktu yang tidak dikhawatirkan datangnya waktu fajar, ketika masih makan sahur.
  • Disunnahkan makan sahur dengan tamr (kurma kering).
  1. Orang yang berpuasa wajib meninggalkan semua perbuatan yang diharamkan agama, dan dianjurkan untuk memerbanyak melakukan ketaatan seperti: bersedekah, membaca Alquran, shalat sunnah, berzikir, membantu orang lain, i’tikaf, menuntut ilmu agama, dll
  2. Membaca Alquran adalah amalan yang lebih dianjurkan untuk diperbanyak ketika Ramadan. Bahkan sebagian salaf tidak mengajarkan ilmu ketika Ramadan, agar bisa fokus memerbanyak membaca Alquran dan menadabburinya.

Orang-Orang Yang Dibolehkan Tidak Berpuasa

  1. Orang sakit yang bisa membahayakan dirinya jika berpuasa
  • Jumhur Ulama mengatakan, bahwa orang sakit yang boleh meninggalkan puasa, adalah yang jika berpuasa itu dikhawatirkan akan menimbulkan gangguan serius pada kesehatannya.
  • Adapun orang yang sakit ringan, yang jika berpuasa tidak ada pengaruhnya sama sekali, atau pengaruhnya kecil, seperti pilek, sakit kepala, maka ulama Empat Madzhab sepakat, orang yang demikian wajib tetap berpuasa, dan tidak boleh meninggalkan puasa.
  • Terkait adanya kewajiban qadha atau tidak, orang sakit dibagi menjadi dua macam:
  1. a) Orang yang sakitnya diperkirakan masih bisa sembuh, maka wajib meng-qadha, ketika sudah mampu untuk menjalankan puasa. Ulama ijma akan hal ini.
  2. b) Orang yang sakitnya diperkirakan tidak bisa sembuh, maka membayar fidyah kepada satu orang miskin untuk setiap hari yang ditinggalkan. Diqiyaskan dengan keadaan orang yang sudah tua renta, tidak mampu lagi berpuasa. Ini disepakati oleh madzhab fikih yang empat.
  3. Musafir
  • Orang yang bersafar boleh meninggalkan puasa Ramadan, baik perjalanannya sulit dan berat jika dilakukan dengan berpuasa, maupun perjalanannya ringan dan tidak berat jika dilakukan dengan berpuasa.
  • Namun jika orang yang bersafar itu berniat bermukim di tempat tujuan safarnya lebih dari 4 hari, maka tidak boleh meninggalkan puasa sejak ia sampai di tempat tujuannya.
  • Para ulama khilaf mengenai musafir yang perjalanannya ringan dan tidak berat jika dilakukan dengan berpuasa, semisal menggunakan pesawat atau kendaraan yang sangat nyaman, apakah lebih utama berpuasa ataukah tidak berpuasa. Yang lebih kuat, dan ini adalah pendapat Jumhur Ulama, lebih utama tetap berpuasa.
  • Orang yang hampir selalu bersafar setiap hari, seperti pilot, supir bus, supir truk, masinis, dan semacamnya, dibolehkan untuk tidak berpuasa selama bersafar, selama itu memiliki tempat tinggal untuk pulang dan menetap. Pendapat ini dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah dan Ibnu Al Utsaimin.
  1. Orang yang sudah tua renta
  • Orang yang sudah tua renta dan tidak lagi mampu untuk berpuasa, dibolehkan untuk tidak berpuasa Ramadan. Ulama ijma akan hal ini.
  • Wajib bagi mereka untuk membayar fidyah kepada satu orang miskin, untuk setiap hari yang ditinggalkan.
  1. Wanita hamil dan menyusui
  • Wanita hamil atau sedang menyusui boleh meninggalkan puasa Ramadan, baik karena ia khawatir terhadap kesehatan dirinya, maupun khawatir terhadap kesehatan si bayi.
  • Ulama berbeda pendapat mengenai apa kewajiban wanita hamil dan menyusui ketika meninggalkan puasa:
  1. a) Sebagian ulama berpendapat bagi mereka cukup membayar fidyah tanpa qadha. Ini dikuatkan oleh Syaikh Al Albani.
  2. b) Sebagian ulama berpendapat bagi mereka cukup meng-qadha tanpa fidyah. Ini dikuatkan oleh Syaikh Ibnu Baz, Syaikh Ibnu Al Utsaimin, Syaikh Shalih Al Fauzan, Al Lajnah Ad Daimah, juga pendapat Hanafiyah dan Malikiyah.
  3. c) Sebagian ulama madzhab juga berpendapat bagi mereka qadha dan fidyah, jika meninggalkan puasa karena khawatir akan kesehatan si bayi.
  • Yang lebih rajih –insya Allah– adalah pendapat kedua, bagi mereka wajib qadha saja tanpa fidyah.
  1. Orang yang memiliki sebab-sebab yang membolehkannya tidak berpuasa, di antaranya:
  • Orang yang pekerjaannya terasa berat. Orang yang demikian tetap wajib meniatkan diri berpuasa dan wajib berpuasa. Namun ketika tengah hari bekerja, lalu terasa sangat berat, hingga dikhawatirkan dapat membahayakan dirinya, boleh membatalkan puasa ketika itu, dan wajib meng-qadha-nya di luar Ramadan.
  • Orang yang sangat kelaparan dan kehausan, sehingga bisa membuatnya binasa. Orang yang demikian wajib berbuka dan meng-qadha-nya di hari lain.
  • Orang yang dipaksa untuk berbuka atau dimasukan makanan dan minuman secara paksa ke mulutnya. Orang yang demikian boleh berbuka dan meng-qadha-nya di hari lain, dan ia tidak berdosa karenanya.
  • Mujahid fi sabilillah yang sedang berperang di medan perang. Dibolehkan bagi mereka untuk meninggalkan berpuasa. Berdasarkan hadis:

إنكم قد دنوتم من عدوكم، والفطر أقوى لكم، فكانت رخصة

“Sesungguhnya musuh kalian telah mendekati kalian, maka berbuka itu lebih menguatkan kalian, dan hal itu merupakan rukhshah” [HR. Muslim).

Pembatal-Pembatal Puasa

  1. Makan dan minum dengan sengaja
  2. Keluar mani dengan sengaja
  3. Muntah dengan sengaja
  4. Keluarnya darah haid dan nifas
  5. Menjadi gila atau pingsan
  6. Riddah (murtad)
  7. Berniat untuk berbuka
  8. Merokok
  9. Jima (bersenggama) di tengah hari puasa. Selain membatalkan puasa dan wajib meng-qadha puasa, juga diwajibkan menunaikan kafarah membebaskan seorang budak. Jika tidak ada, maka puasa dua bulan berturut-turut. Jika tidak mampu, maka memberi makan 60 orang miskin.
  10. Hijamah (bekam) diperselisihkan apakah dapat membatalkan puasa atau tidak. Pendapat Jumhur Ulama, hijamah tidak membatalkan puasa. Sedangkan pendapat Hanabilah bekam dapat membatalkan puasa. Pendapat kedua ini dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah, Ibnu Baz dan Ibnu Al Utsaimin.
  11. Masalah donor darah merupakan turunan dari masalah bekam. Maka donor darah tidak membatalkan puasa dengan men-takhrij pendapat Jumhur Ulama, dan bisa membatalkan puasa dengan men-takhrij pendapat Hanabilah.
  12. Inhaler dan sejenisnya berupa aroma yang dimasukan melalui hidung, diperselisihkan apakah dapat membatalkan puasa atau tidak. Pendapat Jumhur Ulama ia dapat membatalkan puasa, sedangkan sebagian ulama Syafi’iyyah dan Malikiyyah mengatakan tidak membatalkan. Pendapat kedua ini juga dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah.

Yang Bukan Merupakan Pembatal Puasa Sehingga Dibolehkan Melakukannya

  1. Mengakhirkan mandi hingga terbit fajar, bagi orang yang junub atau wanita yang sudah bersih dari haid dan nifas. Puasanya tetap sah.
  2. Berkumur-kumur dan istinsyaq (menghirup air ke hidung)
  3. Mandi di tengah hari puasa atau mendinginkan diri dengan air
  4. Menyicipi makanan ketika ada kebutuhan, selama tidak masuk ke kerongkongan
  5. Bercumbu dan mencium istri, bagi orang yang mampu mengendalikan birahinya
  6. Memakai parfum dan wangi-wangian
  7. Menggunakan siwak atau sikat gigi
  8. Menggunakan celak
  9. Menggunakan tetes mata
  10. Menggunakan tetes telinga
  11. Makan dan minum 5 menit sebelum terbit fajar yang ditandai dengan azan Subuh, yang biasanya disebut dengan waktu Imsak. Karena batas awal rentang waktu puasa adalah ketika terbit fajar yang ditandai dengan azan Subuh.

Yang Dimakruhkan Ketika Puasa

  1. Terlalu dalam dan berlebihan dalam berkumur-kumur dan istinsyaq (menghirup air ke hidung).
  2. Puasa wishal, yaitu menyambung puasa selama dua hari tanpa diselingi makan atau minum sama sekali.
  3. Menyicipi makanan tanpa ada kebutuhan, walaupun tidak masuk ke kerongkongan.
  4. Bercumbu dan mencium istri, bagi orang yang tidak mampu mengendalikan birahinya.
  5. Bermalas-malasan dan terlalu banyak tidur tanpa ada kebutuhan.
  6. Berlebihan dan menghabiskan waktu dalam perkara mubah yang tidak bermanfaat.

Beberapa Kesalah-Pahaman dalam Ibadah Puasa

  1. Niat puasa tidak perlu dilafazkan, karena niat adalah amalan hati. Nabi ﷺ juga tidak pernah mengajarkan lafaz niat puasa. Menetapkan itikad di dalam hati bahwa esok hari akan berpuasa, ini sudah niat yang sah.
  2. Berpuasa namun tidak melaksanakan shalat fardhu adalah kesalahan fatal. Di antara juga perilaku sebagian orang yang makan sahur untuk berpuasa, namun tidak bangun shalat Subuh. Karena dinukil, bahwa para sahabat berijma tentang kafirnya orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja, sehingga tidak ada faidahnya jika ia berpuasa, jika statusnya kafir. Sebagian ulama berpendapat, orang yang meninggalkan shalat tidak sampai kafir, namun termasuk dosa besar, yang juga bisa membatalkan pahala puasa.
  3. Berbohong tidak membatalkan puasa. Namun bisa jadi membatalkan atau mengurangi pahala puasa, karena berbohong adalah perbuatan maksiat.
  4. Sebagian orang menahan diri melakukan perbuatan maksiat hingga datang waktu berbuka puasa. Padahal perbuatan maksiat tidak hanya terlarang dilakukan ketika berpuasa, bahkan terlarang juga setelah berbuka puasa dan juga terlarang dilakukan di luar Ramadan. Namun jika dilakukan ketika berpuasa, selain berdosa, juga dapat membatalkan pahala puasa, walaupun tidak membatalkan puasanya.
  5. Hadis “Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah” adalah hadis yang lemah. Tidur adalah perkara mubah (boleh) dan bukan ritual ibadah. Maka, sebagaimana perkara mubah yang lain, tidur dapat bernilai ibadah, jika diniatkan sebagai sarana penunjang ibadah. Misalnya, seseorang tidur karena khawatir tergoda untuk berbuka sebelum waktunya, atau tidur untuk mengistirahatkan tubuh agar kuat dalam beribadah. Sebaliknya, tidak setiap tidur orang berpuasa itu bernilai ibadah. Sebagai contoh, tidur karena malas, atau tidur karena kekenyangan setelah sahur. Keduanya tentu tidak bernilai ibadah, bahkan bisa dinilai sebagai tidur yang tercela. Maka, hendaknya seseorang menjadikan Ramadan sebagai kesempatan baik untuk memerbanyak amal kebaikan, bukan bermalas-malasan.
  6. Tidak ada hadis “Berbukalah dengan yang manis.“ Pernyataan yang tersebar di tengah masyarakat dengan bunyi demikian, bukanlah hadis Nabi ﷺ.
  7. Tidak tepat mendahulukan berbuka dengan makanan manis ketika tidak ada kurma. Lebih salah lagi jika mendahulukan makanan manis, padahal ada kurma. Yang sesuai sunnah Nabi ﷺ adalah mendahulukan berbuka dengan kurma. Jika tidak ada kurma, maka dengan air minum. Adapun makanan manis sebagai tambahan saja, sehingga tetap didapatkan faidah makanan manis, yaitu menguatkan fisik.

Wallahu ta’ala a’lam.

***

Diringkas dari Mausu’ah Fiqhiyyah Duraris Saniyyah, Kitab Ash Shiyam, ensiklopedi fikih yang disusun dibawah bimbingan Syaikh Alwi bin Abdil Qadir As Segaf, di alamat: http://www.dorar.net/enc/feqhia/1690, dengan beberapa tambahan dari penyusun.

 

Penyusun: Yulian Purnama

Sumber: https://Muslim.or.id/28133-ringkasan-fikih-puasa-Ramadan.html

,

PERHATIAN DAN SEMANGAT MELAKUKAN SHOLAT SUBUH

PERHATIAN DAN SEMANGAT MELAKUKAN SHOLAT SUBUH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Nasihat_Ulama

PERHATIAN DAN SEMANGAT MELAKUKAN SHOLAT SUBUH

Hati-Hati, Jangan Sampai Setan Mengencingi Telinga Kita

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:

حسب الرجل من الخيبة والشر أن ينام حتى يصبح وقد بال الشيطان في أذنه.

“Cukuplah sebagai kerugian dan keburukan, bagi seseorang dengan dia tidur hingga pagi hari, dalam keadaan setan telah mengencingi telinganya.”

Shahih, diriwayatkan oleh al-Marwazy dalam Qiyamul Lail no. 44

 

Sumber || https://twitter.com/Arafatbinhassan/status/735602131768643584

 

, ,

HUKUM MENINGGALKAN DAN MENANGGUHKAN SHOLAT SUBUH

HUKUM MENINGGALKAN DAN MENANGGUHKAN SHOLAT SUBUH

HUKUM MENINGGALKAN DAN MENANGGUHKAN SHOLAT SUBUH

Oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan:

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya:

Saya seorang pemuda yang bersemangat melaksanakan sholat, hanya saja saya sering pulang larut malam. Maka saya men-setting jam (wekker) pada jam tujuh pagi, yakni setelah terbitnya matahari. Lalu saya sholat, baru kemudian saya berangkat kuliah. Kadang-kadang pada Kamis atau Jumat, saya bangun lebih telat lagi, yaitu sekitar satu atau dua jam sebelum Zuhur, lalu saya sholat Subuh saat bangun tidur. Perlu diketahui pula, bahwa keseringan saya sholat di kamar asrama, padahal masjid asrama tidak jauh dari tempat tinggal saya. Pernah ada seseorang yang mengingatkan saya, karena hal itu tidak boleh. Saya berharap Syaikh bisa menjelaskan hukum tersebut. Jazakumullah khairan.

Jawaban:

Barang siapa yang sengaja men-setting jam wekker pada waktu setelah terbit matahari, sehingga tidak melaksanakan sholat Subuh pada waktunya, maka dianggap telah SENGAJA meninggalkannya. Maka ia KAFIR karena perbuatannya itu, menurut kesepakatan Ahlul Ilmi. Semoga Allah melepaskan kebiasannya sengaja meninggalkan sholat. Demikian juga orang yang sengaja menangguhkan sholat Subuh hingga menjelang Zuhur, kemudian sholat Subuh pada waktu Zuhur.

Adapun orang yang KETIDURAN, sehingga terlewatkan waktunya, maka itu tidak mengapa. Ia hanya wajib melaksanakannya saat terbangun dan tidak berdosa. Demikian juga jika ia ketiduran atau karena lupa. Adapun orang yang sengaja menangguhkannya hingga keluar waktunya, atau dengan sengaja men-setting jam hingga keluar waktunya, sehingga mengakibatkan ia tidak bangun pada waktu sholat, maka ia dianggap sengaja meninggalkan, dan berarti ia telah melakukan kemungkaran yang besar menurut semua ulama.

Akan Tetapi, Apakah Ia Menjadi Kafir Atau Tidak?

Mengenai ini ada perbedaan pendapat di antara ulama, jika ia tidak mengingkari kewajibannya. Jumhur Ulama berpendapat, bahwa itu tidak menjadikannya kafir dengan kekufuran besar tersebut. Sebagian Ahlul Ilmi berpendapat, bahwa ia menjadi kafir karena kekufuran yang besar tersebut. Demikian pendapat yang dinukil dari para sahabat Radhiyallahu Ajmain, Nabi ﷺ bersabda:

“Artinya: Sesungguhnya (pembatas) antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan sholat”. [Dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahihnya, kitab Al-Iman 82]

Dalam hadis lain Nabi ﷺ bersabda:

“Artinya: Perjanjian antara kita dengan mereka adalah sholat. Maka barang siapa yang meninggalkannya, berarti ia telah kafir”. [Dikeluarkan oleh Imam Ahmad 5/346 dan para penyusun kitab Sunan dengan isnad Shahih; At-Turmudzi 2621, An-Nasa’i 1/232, Ibnu Majah 1079]

Lain dari itu, meninggalkan sholat jamaah merupakan suatu kemungkaran. Ini tidak boleh dilakukan. Yang wajib bagi seorang mukallaf adalah melaksanakan sholat di masjid, berdasarkan riwayat dalam hadis Ibnu Ummi Maktum, bahwa seorang laki-laki buta berkata kepada Rasulullah ﷺ: “Wahai Rasulullah, tidak ada orang yang menuntunku pergi ke masjid”. Ia minta kepada Rasulullah ﷺ untuk memberikannya keringanan, agar bisa sholat di rumahnya. Maka beliau ﷺ mengizinkan. Namun ketika orang itu hendak beranjak, beliau ﷺ bertanya:

“Artinya: Apakah engkau mendengar seruan untuk sholat ? Ia menjawab: ‘Ya’. Beliau ﷺ berkata lagi: ‘Kalau begitu, penuhilah”. [Hadis Riwayat Muslim, kitab Al-Masajid 653]

Itu orang buta yang tidak ada penuntunnya. Namun demikian Nabi ﷺ tetap memerintahkannya untuk sholat di masjid. Maka orang yang sehat dan dapat melihat tentu lebih wajib lagi. Maksudnya, bahwa diwajibkan atas setiap Mukmin untuk sholat di masjid, dan tidak boleh meremehkannya dengan melaksanakan sholat di rumah jika masjidnya dekat.

Dalil lain tentang hal ini adalah sabda Nabi ﷺ:

“Artinya: Barang siapa yang mendengar adzan lalu ia tidak memenuhinya, maka tidak ada sholat baginya, kecuali karena uzur”. [Dikeluarkan oleh Ibnu Majah, kitab Al-Masajid 793, Ad-Daru Quthni 1/420,421 Ibnu Hibban 2064, Al-Hakim 1/246, dari Ibnu Abbas dengan isnad sesuai syarat Muslim]

Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu pernah ditanya tentang uzur ini, ia menjawab, “Takut atau sakit”

Pertanyaan:

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya:

Ada seorang pemuda multazim, Alhamdulillah, namun ia sering kelelahan karena pekerjaannya, sehingga ia tidak dapat melaksanakan sholat Subuh pada waktunya, karena sangat kelelahan dan kecapaian. Bagaimana hukumnya menurut Syaikh, tentang orang yang kondisinya seperti itu. Dan apa pula nasihat Syaikh untuknya ? Jazzkumullah khaiaran.

Jawaban:

Yang wajib baginya adalah meninggalkan pekerjaan yang menyebabkannya menangguhkan sholat Subuh, karena sebab musabab itu ada hukumnya. Jika ia tahu bahwa apabila ia tidak terlalu keras bekerja tentu ia bisa melaksanakan sholat Subuh pada waktunya, maka ia wajib untuk tidak memaksakan dirinya bekerja keras, agar ia bisa sholat Subuh pada waktunya bersama kaum muslimin.

[Dari Fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin yang ditanda tanganinya]

 

[Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, Penyusun Khalid Al-Juraisy, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penerjemah Musthofa Aini, Penerbit Darul Haq]

 

Sumber: https://almanhaj.or.id/621-hukum-meninggalkan-sholat-Subuh-dari-waktunya.html

 

, ,

UNTUK MENDAPATKAN KEUTAMAAN SHOLAT ISYRAQ, APAKAH HARUS TERUS DUDUK DI TEMPAT SHOLATNYA?

UNTUK MENDAPATKAN KEUTAMAAN SHOLAT ISYRAQ, APAKAH HARUS TERUS DUDUK DI TEMPAT SHOLATNYA?

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

UNTUK MENDAPATKAN KEUTAMAAN SHOLAT ISYRAQ, APAKAH HARUS TERUS DUDUK DI TEMPAT SHOLATNYA?

Bismillah, was sholatu was salamu ‘ala Rosulillah, amma ba’du,

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِى جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ ». قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ ».

Dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu, Nabi ﷺ bersabda: “Barang siapa yang sholat Subuh berjamaah, kemudian duduk berzikir sampai terbit matahari, kemudian sholat dua rakaat, maka dia mendapatkan pahala sebagaimana pahala haji dan umrah.” Nabi ﷺ menambahkan: “Sempurna..sempurna..sempurna…” (HR. At Turmudzi no.589 dan dihasankan oleh Syaikh Al Albani)

Syaikh Mukhtar As Sinqithi memberikan penjelasan hadis ini, bahwa keutamaan ini hanya dapat diraih jika terpenuhi beberapa persyaratan sebagai berikut:

Pertama, Sholat Subuh secara berjamaah. Sehingga tidak tercakup di dalamnya orang yang sholat sendirian. Zhahir kalimat jamaah di hadis ini, mencakup jamaah di masjid, jamaah di perjalanan, atau di rumah bagi yang tidak wajib jamaah di masjid karena uzur.

Kedua, duduk berzikir. Jika duduk tertidur, atau mengantuk, maka tidak mendapatkan fadhilah ini. Termasuk berzikir adalah membaca Alquran, beristighfar, membaca buku-buku agama, memberikan nasihat, diskusi masalah agama, atau amar ma’ruf nahi mungkar.

Ketiga, duduk di tempat sholatnya sampai terbit matahari. Tidak boleh pindah dari tempat sholatnya. Jika dia pindah untuk mengambil mushaf Alquran atau untuk kepentingan lainnya, maka tidak mendapatkan keutamaan ini. Karena keutamaan (untuk amalan ini) sangat besar, pahala haji dan umrah “Sempurna..sempurna..sempurna” sedangkan maksud (duduk di tempat sholatnya di sini) adalah dalam rangka Ar Ribath (menjaga ikatan satu amal dengan amal yang lain). Dan dalam riwayat yang lain Nabi ﷺ bersabda: “Kemudian duduk di tempat sholatnya.” Kalimat ini menunjukkan, bahwa dia tidak boleh meninggalkan tempat sholatnya. Dan sekali lagi, untuk mendapatkan fadhilah yang besar ini, orang harus memberikan banyak perhatian dan usaha yang keras, sehingga seorang hamba harus memaksakan dirinya untuk sebisa mungkin menyesuaikan amal ini sebagaimana teks hadis.

Keempat, sholat dua rakaat. Sholat ini dikenal dengan sholat Isyraq. Sholat ini dikerjakan setelah terbitnya matahari setinggi tombak. (Syarh Zaadul Mustaqni’ oleh Syaikh Syinqithi 3:68).

Apakah harus duduk ditempat sholatnya?

Penjelasan Syaikh As Sinqithi di atas menunjukkan dengan tegas, bahwa beliau memersyaratkan harus duduk di tempat sholatnya, dan tidak boleh geser atau berdiri sedikit pun. Beliau berdalil dengan tambahan riwayat: “…duduk di tempat sholatnya..” Namun sebenarnya ulama berselisih pendapat dalam memahami lafadz: “…Duduk di tempat sholatnya…”

Al Hafidz Ibn Rajab Al Hambali mengatakan: “Ada perbedaan dalam memahami lafadz ‘..tempat sholatnya..’. Apakah maksudnya itu tempat yang digunakan untuk sholat, ataukah masjid yang digunakan untuk sholat?” kemudian Ibn Rajab membawakan hadis riwayat Muslim yang menyebutkan, bahwa Nabi ﷺ tidak bangkit dari tempat sholat Subuh sampai terbit matahari.

Setelah membawakan dalil ini, Ibn Rajab berkomentar: “…dan diketahui bersama, bahwa Nabi ﷺ tidaklah duduk di tempat yang beliau gunakan untuk sholat. Karena setelah sholat (wajib), beliau berpaling dan menghadapkan wajahnya kepada para sahabat radhiallahu’anhum. (Fathul Bari Syarh Shahih Al Bukhari, Ibn Rajab 5:28).

Mula Ali Al Qori mengatakan: “…kemudian duduk berzikir… maksudnya adalah terus-menerus di tempatnya dan masjid (yang dia gunakan untuk sholat jamaah Subuh). Hal ini tidaklah (menunjukkan) terlarangnya berdiri untuk melakukan thawaf, belajar, atau mengikuti majelis pengajian, selama masih di dalam masjid. Bahkan andaikan orang itu pulang ke rumahnya sambil terus berzikir sampai terbit matahari, kemudian sholat dua rakaat, dia masih (mendapatkan fadhilah sebagaimana) dalam hadis ini.” (Mirqatul Mafatih, 4:57).

Keterangan Mula Ali Al Qori yang memasukkan orang yang pulang ke rumah selama berzikir ke dalam hadis ini, bisa dianggap kurang tepat. Karena zhahir hadis secara tegas menunjukkan harus duduk berzikir di dalam masjid. Sedangkan keterangan Ibn Rajab bolehnya berpindah tempat ketika berzikir selama masih di dalam masjid, lebih mendekati kebenaran. Mengingat tidak adanya persyaratan dalam hadis di atas yang menunjukkan tidak bolehnya bergeser dari tempat yang digunakan untuk sholat.

Akan tetapi, sebagai bentuk kehati-hatian dalam menjaga amal, maka ada baiknya jika mengikuti pendapatnya Syaikh As Sinqithy dengan tidak bergeser dari tempat sholatnya. Wallahu a’lam.

Bagaimana jika jamaah sholat Subuhnya di rumah atau di selain masjid?

Sebelumnya perlu ditegaskan bahwa hukum sholat berjamaah di masjid bagi laki-laki dewasa adalah wajib, kecuali jika ada uzur (berhalangan). Terlalu banyak dalil untuk menunjukkan wajibnya sholat jamaah di masjid bagi laki-laki. Sementara dalam hadis fadhilah sholat Isyraq di atas memersyaratkan harus berjamaah. Maka khusus untuk laki-laki dewasa, yang tidak memiliki uzur untuk meninggalkan jamaah, diharuskan melaksanakan sholat Subuh di masjid.

Syaikh Abdul Aziz Ibn Bazz ditanya tentang hadis fadhilah sholat Isyraq, apakah tinggal di rumah setelah sholat Subuh untuk membaca Alquran sampai terbit matahari kemudian sholat dua rakaat, dia mendapat pahala sebagaimana yang berzikir di masjid?

Asy-Syaikh Ibn Bazz menjawab:

“Amal ini memiliki banyak keutamaan dan pahala yang besar. Namun teks hadis yang ada menunjukkan, orang yang tinggal di rumah tidak mendapatkan pahala sebagaimana orang yang duduk di tempat sholatnya di masjid. Tetapi jika orang itu sholat Subuh di rumah karena sakit atau karena takut, kemudian duduk di tempat sholatnya sambil berzikir dan membaca Alquran sampai matahari meninggi, kemudian sholat dua rakaat, maka orang ini mendapatkan pahala sebagaimana yang disebutkan dalam hadis. Karena orang ini memiliki uzur untuk sholat di rumahnya. Demikian pula wanita. Jika seorang wanita sholat Subuh (di rumahnya), kemudian duduk berzikir di tempat sholat di dalam rumahnya sampai matahari meninggi, maka dia juga mendapat pahala sebagaimana yang dijanjikan dalam hadis-hadis itu, bahwa Allah ‘azza wa jalla menuliskan bagi orang yang melakukannya, pahala berhaji dan umrah yang sempurna (Majmu’ Fatawa wa Maqalat Syaikh Ibn Bazz, 11:218)

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)

 

Sumber: https://konsultasisyariah.com/10674-dalil-sholat-Isyraq.html