Posts

,

KEWAJIBAN SHALAT BERJAMAAH DI MASJID

KEWAJIBAN SHALAT BERJAMAAH DI MASJID

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#SifatSholatNabi

KEWAJIBAN SHALAT BERJAMAAH DI MASJID

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

 لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِالصَّلاَةِ فَتُقَامَ، ثُمَّ أُخَالِفَ إِلَى مَنَازِلِ قَوْمٍ لاَ يَشْهَدُونَ الصَّلاَةَ، فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ

“Sungguh aku sangat berkeinginan untuk memerintah supaya shalat ditegakkan, lalu aku mendatangi rumah-rumah kaum yang tidak menghadiri shalat, kemudian aku bakar (rumah-rumah) mereka.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhary dan Muslim. Lafal hadis milik Al-Bukhary]

 

Penulis: Al-Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah

Sumber: @dzulqarnainms

,

APA BEDA ANTARA TAHAJUD DENGAN TARAWIH?

APA BEDA ANTARA TAHAJUD DENGAN TARAWIH?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

APA BEDA ANTARA TAHAJUD DENGAN TARAWIH?

Pertanyaan:
Apakah shalat Tarawih dengan shalat Tahajud itu sama? Dalam arti, kalau sudah shalat Tarawih tidak perlu melakukan shalat Tahajud? Terima kasih, Ustadz.

Jawaban:
Berikut ini adalah keterangan dari Syekh Hamid bin Abdillah Al-Ali:

“Di zaman Nabi ﷺ dan sahabat, keduanya dinamakan Qiyamul Lail. Pada waktu Ramadan juga dinamakan ‘Qiyamul Lail‘ atau ‘Qiyam Ramadan‘. Mereka melaksanakan shalat selama satu bulan di waktu awal malam sampai akhir malam. Sementara di luar Ramadan, Nabi ﷺ terkadang melaksanakan Qiyamul Lail di awal malam, di tengah malam, atau terkadang di akhir malam. Ketika Ramadan, beliau lebih rajin lagi dalam beribadah, melebihi rajinnya beliau di luar Ramadan.

Kemudian setelah itu, kaum Muslimin di generasi setelah beliau, melaksanakan shalat di awal malam, ketika Ramadan, karena ini keadaan yang paling mudah bagi mereka. Mereka melaksanakan shalat malam di sepuluh malam terakhir di penghujung malam, dalam rangka mencari pahala yang lebih banyak dan mendapatkan Lailatul Qadar, karena shalat di akhir malam itu lebih utama. Selanjutnya, mereka menyebut kegiatan shalat di awal malam setelah Isya dengan nama ‘shalat Tarawih’, dan mereka menyebut shalat sunah yang dikerjakan di akhir malam dengan nama ‘shalat Tahajud’. Semua itu, dalam bahasa Alquran, disebut ‘Tahajud‘ atau ‘Qiyamul Lail‘, dan TIDAK ADA perbedaan antara keduanya dalam bahasa Alquran.

Karena itu, jika ada orang yang ingin melaksanakan (Qiyamul Lail) selama Ramadan di akhir malam, maka ini lebih utama. Sebaliknya, jika ingin shalat (Qiyamul Lail) sepanjang Ramadan di awal malam, atau tengah malam, maka semua ini diperbolehkan.” [Diambil dari Al-Fatawa Al-Mukhtarah Thariqul Islam]

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).

 

Sumber: https://konsultasIsyariah.com/5901-Tahajud-dan-Tarawih.html

 

#SifatSholatNabi
#SeriPuasaRamadan

 

,

APABILA IMAM BERGANTI KETIKA SHALAT TARAWIH

APABILA IMAM BERGANTI KETIKA SHALAT WITIR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SeriPuasaRamadan
#SifatSholatNabi

APABILA IMAM BERGANTI KETIKA SHALAT TARAWIH

Pertanyaan:

Di masjid dekat rumah kami, imam yang pertama sholat delapan rakaat. Kemudian digantikan Witir oleh imam yang kedua. Setelah imam kedua selesai Witir, imam yang pertama menggenapkan sholat Tarawihnya menjadi 20 rakaat. Apakah boleh saya mengikuti imam pertama delapan rakaat, kemudian Witir dengan imam lain? Atau harus ikut mengikuti imam yang pertama?

Jawaban oleh Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah:

“Apabila di satu masjid memiliki dua imam, maka pada hakikatnya salah satu imam hanyalah wakil dari imam yang lain. Sehingga apabila imam pertama telah selesai, maka imam kedua adalah wakil imam yang pertama untuk meneruskan sholat. Maka hendaklah makmum terus mengikuti sampai imam kedua selesai, agar mendapat pahala sholat sepanjang malam.” [Lihat Majmu’ Fatawa wa Rosail Ibni ‘Utsaimin, 13/436]

, ,

KIAT-KIAT MERAIH AMPUNAN PADA WAKTU RAMADAN

KIAT-KIAT MERAIH AMPUNAN PADA WAKTU RAMADAN

بسم الله الرحمن الرحيم

#SifatPuasaNabi
#SeriPuasaRamadan

KIAT-KIAT MERAIH AMPUNAN PADA WAKTU RAMADAN

 

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله نبينا محمد و آله و صحبه ومن وله

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده و رسوله

قال الله تعالى في كتابه الكريم يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته و لا تموتن إلا و انتم مسلمون أما بعد

Ya ayuhal ikhwah,

Alhamdulillah, Ramadan mungkin tidak sampai seminggu lagi akan kita jelang.

Dan tentunya bagi seorang Mukmin, datangnya Ramadan memberikan angin (harapan) yang besar, karena seorang Mukmin itu, kata Rasulullah ﷺ, bergembira dengan ketaatan. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ سَرَّتْهُ حَسَنَاتُهُ وَسَاءَتْهُ سَيِّئَاتُهُ فَذَلِكُمْ الْمُؤْمِنُ

”Barang siapa yang merasa bergembira dengan amal kebaikan dia, dan merasa susah dengan amal keburukan dia, maka tandanya dia seorang Mukmin.” [HR. At Tirmidzi nomor 2165]

Seorang Mukmin dengan datangnya Ramadan, dia menaruh harapan kepada Allah ﷻ, untuk mendapatkan ampunan yang paling besar. Oleh karena itulah, ketika datang Ramadan, seorang Mukmin berada di antara dua keadaan:

  • a. Berharap ampunan
  • b. Khawatir tidak mendapatkan ampunan Allah ﷻ.

Kenapa khawatir?

Karena adanya hadis yang mengancam ketika telah selesai bulan Ramadan, dia tidak mendapatkan ampunan dari Allah ﷻ.

Dalam hadis riwayat Imam Ahmad, Rasulullah ﷺ bersabda:

 شَقِيَ عَبْدٌ

”Celaka seorang hamba.”

Dalam riwayat lain:

رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ

”Celaka seorang hamba (semoga terhina seorang hamba), masuk padanya Ramadan, kemudian dia keluar dari Ramadan, dalam keadaan tidak mendapatkan ampunan Allah ﷻ.” [HR. Tirmidzi nomor 3545]

Didoakan oleh Rasulullah ﷺ dengan kecelakaan.

Siapa?

Orang yang masuk Ramadan, kemudian ketika bulan Ramadan, dia tidak meraih ampunan dari Allah ﷻ. Ini yang membuat kita khawatir dan cemas.

Apakah nanti Ramadan ini kita termasuk orang yang diampuni dosanya atau tidak?

Maka dari itu, ya akhi aazakumullah, berdasarkan hadis ini, bahwa seorang Mukmin hendaknya bersungguh-sungguh untuk mendapatkan dan meraih ampunan Allah di saat Ramadan.

Ya akhi aazakumullah.

Sebetulnya meraih ampunan saat Ramadan tidaklah sulit, bagi mereka yang diberikan kemudahan oleh Allah ﷻ.

Kenapa?

Karena sebab-sebab untuk mendapatkan ampunan Ramadan itu sangatlah banyak.

Kiat agar kita bisa meraih ampunan di bulan Ramadan, yaitu:

[1] Tauhid dan Ikhlas

Tauhidullah dan mengikhlaskan amal ibadah kita kepada Allah ﷻ.

Sebab amalan tidak akan diterima oleh Allah, kecuali dengan dua syarat:

  • a. Ikhlas
  • b. Mutaba’atu Rasulullah ﷺ.

Allah ﷻ berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّين

”Dan tidaklah mereka diperintahkan, kecuali agar mereka beribadah hanya kepada Allah saja, dengan mengikhlaskan ibadah itu hanya kepada Allah.” [QS Al Bayyinah: 5]

Pahala tauhid sangat besar di sisi Allah ﷻ. Bahkan tidak ada amal yang paling berat dalam timbangan, bahkan tidak ada amalan yang merupakan sebab utama mendapatkan ampunan, kecuali dengan tauhidullahi jalla wa ‘ala.

Imam At Tirmidzi meriwayatkan sebuah Hadis Qudsi, bahwasanya Allah ﷻ berfirman:

يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لاَ تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

”Wahai anak Adam, jika kamu datang kepada-Ku dengan membawa dosa sepenuh bumi, kemudian kamu bertemu dengan-Ku (meninggal dunia) dalam keadaan kamu tidak memersekutukan Aku sedikit pun juga, maka Aku akan datang membawa ampunan dengan sepenuh bumi.” [HR. At Tirmirdzi nomor 3540]

Subhanallah. Orang yang meninggal dalam keadaan tidak menyekutukan Allah, walaupun dosanya sepenuh bumi kata Rasulullah ﷺ, maka Allah akan datang membawa ampunan sepenuh bumi. Tapi syaratnya satu, yaitu MENINGGAL DALAM KEADAAN TIDAK MEMERSEKUTUKAN ALLAH SEDIKIT PUN JUGA.

Maka dari itulah ya akhi, sebab yang paling besar untuk mendapat dan meraih ampunan di sisi Allah ketika Ramadan, yaitu yang terpenting adalah IKHLAS dan TAUHIDULLAH JALLA WA ‘ALA.

Mengikhlaskan ibadah puasa kita karena Allah, mengikhlaskan seluruh amal kita karena Allah. Oleh karenya Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

”Barang siapa yang berpuasa Ramadan karena keimanan dan mengharap pahala, dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” [HR. Bukhari nomor 2014]

Ini adalah syarat yang harus dipenuhi, agar kita mendapatkan ampunan dari Allah ﷻ dan ini merupakan syarat mutlak Tauhidullahi Jalla wa ‘ala (menauhidkan Allah ﷻ)

[2] Banyak Istighfar

Memerbanyak istighfar kepada Allah ﷻ.

Karena orang yang beristighfar dan memohon ampunan kepada Allah ﷻ dengan sungguh-sungguh, pasti akan Allah ampuni dia. Rasulullah ﷺ bersabda, Allah ﷻ berfirman:

يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ

”Wahai anak Adam! Seandainya dosa-dosamu setinggi langit, kemudian engkau minta ampunan kepada-Ku, Aku akan ampuni dosa-dosamu.” [HR. Tirmidzi nomor 3540]

Masya Allah.

Oleh karenanya Rasulullah ﷺ menganjurkan umatnya untuk banyak beristighfar. Kata Rasulullah ﷺ:

طُوبَى لِمَنْ وَجَدَ فِي صَحِيفَتِهِ اسْتِغْفَارًا كَثِيرًا

”Keberuntungan (pohon Thuba di dalam Jannah), bagi seseorang yang mendapatkan banyak istighfar di lembar catatan amalannya.” [HR. Ibnu Majah nomor 3818]

Dan ketika kita banyak istghfar, kita akan diberi keuntungan yang banyak oleh Allah ﷻ di dunia dan Akhirat.

Di dunia, orang yang banyak istighfar dibukakan pintu rezekinya. Allah ﷻ berfirman:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا(١٠)يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا(١١) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا( ١٢)

”Kata Nabi Nuh ‘alayhissalam: Aku berkata kepada kaumku, Wahai kaumku beristighfarlah kalian kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun. Niscaya Allah akan mengirimkan kepadamu hujan yang lebat, dan Allah akan memberikan kepadamu harta dan anak-anak, dan Allah akan menjadikan untuk kalian kebun-kebun dan sungai-sungai yang mengalir.” [QS Nuh: 10-12]

Dengan istighfar membuka pintu-pintu rezeki. Orang yang banyak istighfar, Allah akan bukakan pintu-pintu rezeki untuk dia. Bahkan dengan istighfar memberikan kekuatan badan, sebagaimana Allah berfirman:

 وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَىٰ قُوَّتِكُمْ

”Dan Allah akan tambahkan kekuatan di atas kekuatan kalian.” [QS Hud: 52]

Kata Syaikh Abdurahman As Sa’di:

“Ayat ini menunjukan, bahwa istighfar bisa memberikan kekuatan kepada tubuh.”

Oleh karenanya, banyaklah istighfar.

Setiap hari Rasulullah ﷺ beristighfar 100 kali, padahal Rasulullah ﷺ sudah diampuni dosanya yang telah lalu maupun yang akan datang. Sedangkan kita? Kita tidak ada jaminan, maka perbanyaklah istighfar kepada Allah ﷻ.

[3] Berdoa

Berdoa dan selalu berharap kepada Allah ﷻ. Karena bulan Ramadan adalah bulan yang berkah, kita memerbanyak berdoa dan berharap kepada Allah ﷻ.

Disebutkan di dalam hadis riwayat At Tirmidzi, Rasulullah ﷺ bersabda, Allah ta’ala berfirman:

يَا ابْنَ آدَمَ ، إنَّكَ مَا دَعَوْتَنِيْ وَرَجَوْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيْكَ وَلَا أُبَالِيْ

Hai anak Adam, sesungguhnya selama engkau masih berdoa dan berharap kepada-Ku, “Tuhan ampuni dosaku,” Aku tidak peduli bagaimana besar dosamu itu.

Allah mengatakan:

“Selama kamu, hai anak Adam, terus berdoa dan berharap kepada-Ku, Aku akan ampuni dosamu.”

Banyak berdoa dan berharap kepada Allah saja sudah mengugurkan dosa dan membuka pintu-pintu ampunan dari Allah (Maghfiratulminallah).

Oleh karena, itu di saat Ramadan, kita banyak berdoa kepada Allah ﷻ, terutama di waktu-waktu yang diijabah seperti:

  • √ Sepertiga malam terakhir
  • √ Akhir malam.
  • √ Antara azan dan iqamah.
  • √ Ketika sedang berpuasa.

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa ada tiga doa yang diijabah, di antaranya:

 دعوة الصّاءم

Doa orang yang sedang berpuasa.

Doa orang yang sedang berpuasa diijabah oleh Allah ﷻ.

[4] Bersungguh-Sungguh Menyempurnakan Puasa Kita

Kita berpuasa berusaha untuk sempurna. Bagaimana menyempurnakan puasa?

Kita betul-betul melaksanakan puasa seperti yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya ﷺ.

Banyak di antara kita yang berpuasa hanya sebatas menahan diri dari makan dan minum, sementara lisannya masih membicarakan orang lain (ghibah), telingganya masih mendengar hal-hal yang yang dibenci oleh Allah ﷻ, matanya masih melihat sesuatu yang dilarang oleh syariat kita. Rasulullah ﷺ bersabda:

لَيْسَ الصِّيَامِ مِنَ الْأَكْلِ الشَّرَابِ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ الّغْوِ وَالرَّفَتِ

”Bukanlah puasa itu sebatas menahan dari lapar dan haus, tetapi hakikat puasa itu menahan diri dari perbuatan yang sia-sia, dan ucapan-ucapan yang tidak layak (rafats).”

[HR Ibnu Majah dan Hakim, Syaikh Al Albani dalam Shohih At Targib wa At Tarhib nomor 1082 mengatakan bahwa hadis ini Shahih]

Bayangkan!

Ketika kita sedang berpuasa, perkara-perkara yang sia-sia saja harus ditinggalkan. Sementara kita, ketika sedang berpuasa, sering melakukan hal-hal yang sia-sia.

Seperti:

Ngabuburit (istilah Sunda), menghabiskan waktu menunggu waktu azan Maghrib, menghabiskan waktu dengan hal-hal yang tidak bermanfaat.

Sementara kata Rasulullah ﷺ, puasa itu hakikatnya menahan diri dari perkara yang tidak bermanfaat. Yang tidak bermanfaat saja kita disuruh untuk meninggalkannya, Subhanallah.

Ngabuburit yang paling bagus adalah dengan membaca Alquran atau duduk di majelis taklim.

Berapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan pahala. Kata Rasulullah ﷺ:

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ

“Betapa banyak orang yang berpuasa, namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut, kecuali rasa lapar dan dahaga.”

[HR Ath Thabraniy dalam Al Kabir dan sanadnya tidak mengapa. Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targib wa At Tarhib nomor 1084 mengatakan bahwa hadis ini Shahih Ligairihi –yaitu Shahih dilihat dari jalur lainnya]

Berpuasa itu ibadah. Tapi kita ini membutuhkan pertolongan Allah dalam ibadah. Allah ﷻ berfirman:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

”Hanya kepada Engkau kami beribadah, dan hanya kepada Engkau kami meminta pertolongan.” [QS Al Fathihah: 5]

Kata Syaikh Utsaimin, Allah menyebutkan setelah ibadah adalah meminta pertolongan.

Kenapa?

Karena ibadah itu berat. Kalau bukan karena pertolongan Allah, kita tidak bisa menyempurnakan dan merealisasikan ibadah kepada Allah ﷻ.

Maka kita harus minta kepada Allah:

  • √ Minta tolong kepada Allah, supaya dibantu dalam puasa kita,
  • √ Minta tolong kepada Allah, supaya bisa menyempurnakan puasa kita.

Untuk senantiasa di hari-hari ketika kita sedang berpuasa, kita bisa meninggalkan maksiat, kita bisa meninggalkan perkara-perkara yang tidak berguna.

Oleh karenanya Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

”Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta, dan terus menerus mengamalkannya, maka Allah tidak membutuhkan rasa lapar dan haus yang dia tahan.” [HR. Bukhari nomor 1903]

⇒Allah tidak membutuhkan puasa orang seperti ini.

Ini adalah sebab keempat datangnya ampunan ketika Ramadan, yaitu bersungguh-sungguh menyempurnakan puasa Ramadan.

[5] Bersungguh-Sungguh Menjaga Shalat Tarawih (Shalat Tahajjud ketika Ramadan)

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

”Barang siapa yang bangun pada waktu Ramadan karena keimanan dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” [HR. Bukhari 2014 dan Muslim 760]

Maksudnya bangun di waktu malam saat Ramadan.

Kalau di Indonesia, masjid-masjid penuh di awal Ramadan, hari ke-15 tambah maju, hari ke-20 tambah lagi, semakin dekat hari raya, kembali lagi seperti semula, orang-orang sudah tidak sabar ingin segera berhari raya.

Dahulu para Salafus Shalih, ketika Ramadan hendak selesai, mereka bertambah kesungguhannya di dalam ibadah. Sementara kita hanya bisa menghitung hari untuk Lebaran.

Kenapa?

  • √ Karena kita tidak menikmati lezatnya ibadah Ramadan.
  • √ Karena kita tidak merasakan lezatnya berpuasa.
  • √ Karena kita masih menganggap puasa adalah beban.
  • √ Karena kita menganggap Ramadan adalah beban.

Masya Allah.

Maka dari itulah, jaga baik-baik shalat Tarawih, terutama shalat Tarawih berjamaah bersama imam, sebagaimana Al Imam Ibnu Khuzaimah meriwayatkan di dalam Shahihnya dari hadis Abu Dzar radhiyallahu ta’ala ‘anhu. Abu Dzar berkata:

“Rasulullah ﷺ shalat Tarawih berjamaah pada malam ke-23 sampai sepertiga malam pertama, kemudian di malam ke-24 Rasulullah ﷺ tidak keluar. Di malam ke-25 Rasulullah ﷺ kembali shalat Tarawih berjamaah sampai pertengahan malam.”

Setelah selesai shalat Abu Dzar berkata:

“Wahai Rasulullah, masih tersisa malam, bagaimana kalau kita shalat kembali?”

Kemudian Rasulullah ﷺ berkata:

مَنْ قَامَ مَعَ اْلإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَة

”Barang siapa Qiyam bersama imam sampai selesai, maka akan dicatat untuknya shalat semalam penuh.” [HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, An Nasai’ dan lainya, lihat Al Ijabat Al Bahiyyah, 7]

Masya Allah.

Oleh karenanya jangan sia-siakan shalat berjamaah Tarawih di masjid bersama imam sampai selesai karena pahalanya besar di sisi Allah (sama dengan shalat semalam suntuk).

Masya Allah.

Shalat sunnah yang paling sering disebut oleh Allah ﷻ di dalam Alquran adalah shalat malam. Allah ﷻ sebutkan shalat malam di dalam Al Quranul Karim sekitar delapan kali.

Ketika Allah menyebutkan tentang orang bertakwa yang masuk Surga, ternyata karakter mereka, sifat mereka, amalan utama mereka adalah shalat malam. Allah ﷻ berfirman:

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ  آخِذِينَ مَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَٰلِكَ مُحْسِنِينَ  كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ  وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

”Sesungguhnya, orang-orang yang bertakwa di dalam Surga, dan mata air-mata air yang mengalir, mereka mengambil apa yang Allah berikan kepada mereka berupa kenikmatan, sesungguhnya dahulu mereka termasuk orang-orang yang berbuat Ihsan. Dahulu mereka sedikit tidur di waktu malam, dan di waktu sahur (akhir malam). Mereka beristighfar kepada Allah ﷻ.” [QS Adh Dhariyat: 15-18]

Oleh karenanya, kata Rasulullah ﷺ:

الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ الصِّيَامُ أَيْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ وَيَقُولُ الْقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ قَالَ فَيُشَفَّعَانِ

Puasa dan Alquran kelak pada Hari Kiamat akan memberikan syafaat bagi seorang hamba.

Puasa akan berkata:

”Wahai, Rabbku, aku telah menahannya dari makan pada siang hari dan nafsu syahwat. Karenanya, perkenankan aku untuk memberi syafaat kepadanya.”

Sedangkan Alquran berkata:

”Aku telah melarangnya dari tidur pada malam hari. Karenanya, perkenankan aku untuk memberi syafaat kepadanya.” [HR. Ahmad nomor 6337, Al Hakim, I/554, dari Abdullah bin ‘Amr]

Masya Allah.

Maka dari itulah, shalat malamlah, shalat malamlah. Rasulullah ﷺ bersabda:

عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّهُ دَأْبُ الصَّالِحِينَ قَبْلَكُمْ

”Hendaklah kalian shalat malam, karena ia adalah pembiasaan orang-orang saleh sebelum kalian.” [HR. At-Tirmidzi dalam kitab Da’awaat, bab Du’a’-un Nabiy (hadis nomor 3549]

  • Orang yang shalat malam, akan terlihat wajahnya bersinar dan bercahaya di waktu siang.
  • Orang yang selalu shalat malam, Allah akan berikan kekuatan di hatinya untuk selalu istiqamah.

Allah ﷻ berfirman:

إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلًا

”Sesungguhnya shalat malam itu lebih menguatkan hati, dan merupakan ibadah yang paling bagus (kata Allah ﷻ).” [QS Al Muzaammil: 6]

Apalagi kita yang hidup di zaman fitnah ini. Di zaman fitnah shalat malam lebih ditekankan lagi, sebagaimana Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan.

Suatu malam Rasulullah ﷺ bangun. Tiba-tiba kemudian beliau ﷺ mengucapkan, “La ilaha illallah,” dalam satu riwayat, “Subhanallah.”

مَاذَا أُنْزِلَ اللَّيْلَةَ مِنَ الْفِتْنَةِ، مَاذَا أُنْزِلَ مِنَ الْخَزَائِنِ مَنْ يُوقِظُ صَوَاحِبَ الْحُجُرَاتِ، يَا رُبَّ كَاسِيَةٍ فِي الدُّنْيَا عَارِيَةٍ فِي الآخِرَةِ

”Fitnah apa yang Allah turunkan malam ini? Dan perbendaharaan apa yang Allah turunkan di malam ini? Siapa yang mau membangunkan pemilik-pemilik kamar itu untuk shalat malam? Berapa banyak orang yang berpakaian di dunia, ternyata dia telanjang di kehidupan Akhirat.” [HR. Bukhari nomor 1126]

Kata Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah dalam Kitab Fathul Bari ketika menafsirkan hadis ini, beliau mengambil faidah apa?

Dalam hadis ini menunjukkan, bahwa di zaman yang penuh fitnah, kita sangat dianjurkan untuk banyak beribadah, terutama di waktu malam.

[6] Banyak Bersedekah

Rasulullah ﷺ paling dermawan pada waktu Ramadan.

Ibnu ‘Abbas berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم أَجْوَدَ النَّاسِ، وَأَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ جِبْرِيلُ ـ عَلَيْهِ السَّلاَمُ ـ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ،

”Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi pada waktu Ramadan, ketika bertemu dengan malaikat Jibril. Beliau bertemu dengan malaikat Jibril setiap malam Ramadan, kata Rasulullah ﷺ.” [HR. Bukhari nomor 3554]

Apakah antum tahu, kenapa Rasulullah ﷺ lebih banyak berinfak pada waktu Ramadan dibandingkan dengan bulan-bulan yang lain?

Padahal bulan mulia selain Ramadan ada empat bulan haram (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab). Empat bulan ini adalah bulan-bulan mulia, tetapi mengapa Rasulullah ﷺ lebih rajin berinfak pada saat Ramadan?

Al Hafizh Ibnu Rajab menyebutkan rahasia-rahasianya di dalam kitab Latha’iful Al Ma’arif.

Apa rahasianya? Di antaranya kata beliau:

√ Puasa adalah tameng dari api Neraka. Kata Rasulullah ﷺ:

الصَّوْمُ جُنَّةٌ يَجْتَنُّ بِهَا عَبْدِي مِنَ النَّارِ

”Puasa adalah tameng. Seorang hamba menamengi diri dengannya dari api Neraka.”

√ Sedekah adalah pemadam. Kata Rasulullah ﷺ:

الصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ

”Dan sedekah itu memadamkan dosa, sebagaimana air memadamkan api.” [HR. At Tirmidzi nomor 3973]

Berarti puasa adalah tameng dari api Neraka, sedangkan sedekah adalah pemadamnya.

Bila antum punya tameng tetapi tidak punya pemadam, maka kurang kuat. Atau sebaliknya, antum punya pemadam tetapi tidak punya tameng, masih bisa kena api Neraka.

Tetapi bila antum punya keduanya (tameng dan pemadamnya), maka itu menjadi kekuatan yang dahsyat untuk memadamkan api Neraka.

Apalagi jika sedekahnya sembunyi-sembunyi, karena kata Rasulullah ﷺ:

صَدَقَةُ السِّرِّ تُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ

”Sedekah yang sembunyi-sembunyi bisa memadamkan kemurkaan Allah ﷻ.” [HR. Thabrani]

Kemurkaan Allah akan padam dengan sedekah secara diam-diam. Bahkan kata para ulama, kalau orang yang disedekahkannya tidak tahu, itu lebih afdhal lagi. Sebagaimana dalam hadis Nabi ﷺ:

 سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: اَلْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللهِ ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْـمَسَاجِدِ ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ اِجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ ، فَقَالَ : إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

[HR. Bukhari nomor 660,1423,6479,6806 dan Muslim nomor 1031]

Jadi ada tujuh orang yang akan Allah beri naungan, di mana tidak ada naungan kecuali naungan Allah. Siapa di antaranya?

Di antaranya seseorang yang sedekah, lalu dia sembunyikan sedekahnya, sampai-sampai tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.

Dahulu, seorang Ahlul Bait yang bernama Zainul Abidin, ketika meninggal dunia dan dimandikan, ternyata pundaknya hitam. Lalu yang memandikan ini bertanya kepada istrinya:

“Kenapa pundak suamimu bisa hitam?”

Lalu istrinya berkata:

“Setiap malam suaminya itu memanggul gandum, lalu dia simpan gandum itu di depan rumah orang miskin.”

Dan orang miskin tersebut tidak tahu, siapa yang menyimpan gandum tersebut. Orang miskin tersebut baru tahu setelah Zainal Abidin meninggal dunia. Karena setelah itu, tidak ada yang mengirimi mereka gandum lagi.

Berbeda dengan kita, terkadang kita menulis infak yang kita berikan.

Misalnya, infak dari keluarga Fulan.

Tidak perlu kita beritahu, karena sedekah yang sembunyi-sembunyi itu yang besar pahalanya di sisi Allah ﷻ. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

صَدَقَةُ السِّرِّ تُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ

”Sedekah yang sembunyi-sembunyi bisa memadamkan kemurkaan Allah ﷻ.”

Makanya, pada waktu Ramadan ini kita perbanyak sedekah.  Masya Allah.

Wallahi antum. Sedekah satu butir kurma saja, di jalan Allah, Allah akan terima, kemudian Allah akan kembangbiakkan menjadi sebesar gunung. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ تَصَدَّقَ بِعَدْلِ تَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ، وَلاَ يَصْعَدُ إِلَى اللَّهِ إِلاَّ الطَّيِّبُ، فَإِنَّ اللَّهَ يَتَقَبَّلُهَا بِيَمِينِهِ، ثُمَّ يُرَبِّيهَا لِصَاحِبِهِ كَمَا يُرَبِّي أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ، حَتَّى تَكُونَ مِثْلَ الْجَبَلِ

”Barang siapa berinfak dengan separuh biji kurma dari penghasilan yang baik dan tidak ada yang naik kepada Allah kecuali amal yang baik, maka Allah menerimanya dengan tangan kanan-Nya, kemudian mengembangkannya untuk pelakunya, sebagaimana salah seorang di antara kalian merawat kuda piaraannya sehingga menjadi sebesar gunung.” [HR. Bukhari nomor 7430]

Kalau antum bisnis, modalnya 10.000 (sepuluh ribu), untungnya 10 juta, antum mau tidak?

Terkadang dalam dunia usaha ini mustahil. Tapi untuk mendapatkan pahala sedekah bisa. Buktinya Rasulullah ﷺ menyebutkan begitu.

Sebutir kurma, dikembangbiakkan oleh Allah ﷻ menjadi sebesar gunung, berapa persen Allah kembangbiakan?

Oleh karenanya, pada waktu Ramadan ini kita harus memerbanyak sedekah. Walaupun setiap hari antum sedekah hanya 200 Rupiah atau 500 Rupiah atau 1000 Rupiah, namun dengan keikhlasan, di mata Allah menjadi besar. In sya Allah

[7] Mencari Malam Lailatul Qadr

Malam Lailatul Qadr merupakan malam yang sangat mulia, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Allah ﷻ  mengatakan:

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

“Malam Lailatul Qadr lebih baik daripada seribu bulan.” [QS Al Qadr: 3]

Kata Rasulullah ﷺ:

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إَيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Siapa yang bangun di malam Lailatul Qadr karena iman dan berharap pahala, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.” [HR. Bukhari 2014 dan Muslim 760]

Maka marilah kita mencari malam Lailatul Qadr, karena beribadah di satu malam itu sama dengan beribadah selama 83 tahun lamanya.

Inilah amalan-amalan yang Rasulullah ﷺ sebutkan akan menggugurkan dosa. Dan ternyata amalan itu ada pada waktu Ramadan.

Tiga amalan:

  1. Puasa
  2. Sedekah
  3. Shalat malam

Tiga amalan ini seringkali Rasulullah ﷺ sebutkan keutamaannya, di antaranya hadis Mu’adz bin Jabbal. Kata Rasulullah ﷺ:

أَلاَ أَدُلُّكَ عَلَـى أَبْوَابِ الْـخَيْرِ ؟

“Hai Mu’adz, maukah aku tunjukkan kamu kepada pintu-pintu kebaikan?”

Kata Mu’adz, “Mau, wahai Rasulullah ﷺ”

Kata Rasulullah ﷺ:

 الصَّوْمُ جُنَّةٌ، وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْـخَطِيْئَةَ كَمَـا يُطْفِئُ الْـمَـاءُ النَّارَ، وَصَلاَةُ الرَّجُلِ فِـيْ جَوْفِ اللَّيْلِ

“Puasa itu tameng dan sedekah itu bisa memadamkan dosa, sebagaimana air memadamkan api, dan shalatnya seseorang di waktu malam.” [HR. Tirmidzi nomor 2616]

⇒ Ternyata tiga amalan ini adalah pintu-pintu kebaikan.

Maksudnya pintu-pintu kebaikan, artinya tiga amalan ini membuka pintu kebaikan yang banyak.

Dalam hadis yang lain Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ غُرْفًا يُرَى ظَاهِرُهَـا مِنْ بَاطِنِهَا وَبَاطِنِهَا مِنْ ظَاهِرِهَا، أَعَدَّهَا اللهُ تَعَالَى لِمَنْ أَطْعَمَ الطَّعَامَ، وَأَلاَنَ الْكَلاَمَ، وَأَدَامَ الصِّيَامَ، وَصَلَّى بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ.

“Sesungguhnya di dalam Surga terdapat kamar-kamar yang bagian luarnya terlihat dari dalam, dan bagian dalamnya terlihat dari luar. Allah ﷻ menyediakannya bagi orang yang suka memberi makan, melunakkan perkataan, senantiasa berpuasa, dan shalat malam pada saat manusia tidur.” [Shahihul Jaami’ush Shaghir nomor 2123]

Ternyata ketiga amalan ini ada pada waktu Ramadan.

Ini merupakan kesempatan emas. Ramadan merupakan bulan yang mudah sekali bagi kita untuk mendapatkan ampunan dari Allah ﷻ.

Semoga kita diberi ampunan oleh Allah ﷻ.

Lalu apa ustadz, tandanya orang yang mendapat ampunan Allah?

⇒Kalau secara fisik tidak ada cirinya.

Orang yang mendapat ampunan oleh Allah ﷻ, setelah Ramadan dia lebih bertakwa. Karena Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.” [QS Al Baqarah: 183]

Rupanya tujuan puasa itu takwa. Berarti orang yang puasanya tidak menimbulkan ketakwaan, puasanya menjadi tanda tanya besar. Berarti belum mendapatkan ampunan dari Allah ﷻ.

Tapi ketika puasa itu menimbulkan ketakwaan setelah Ramadan:

  • √ Semakin rajin shalat malam.
  • √ Semakin rajin sedekah.
  • √ Semakin takut kepada Allah ﷻ.
  • √ Semakin menjadi orang yang bergegas kepada kebaikan.

Itu tanda Allah ﷻ menerima ibadah kita.

Allah ﷻ berfirman:

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya Allah hanya menerima ibadah dari orang yang bertakwa saja.” [QS Al Ma’idah: 27]

Semoga Allah ﷻ memberikan kita ketakwaan hati.

Semoga Allah ﷻ menjadikan Ramadan ini bagi kita untuk mendapatkan ampunan dari Allah ﷻ dan memberikan kemudahan untuk menyempurnakan Ramadan. Aamiin Ya Rabbal’alamin.

  • Penulis Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc hafizahullah
  • Materi Tematik: “Meraih Ampunan Di Bulan Ramadan”

 

Sumber:

 

Download audio: bit.ly/BiAS-Tmk-AYBS-MeraihAmpunan-01

Sumber: https://youtu.be/po6W3TBbsqE

Download audio: bit.ly/BiAS-Tmk-AYBS-MeraihAmpunan-02

Sumber: https://youtu.be/po6W3TBbsqE

Download audio: bit.ly/BiAS-Tmk-AYBS-MeraihAmpunan-03

Sumber: https://youtu.be/po6W3TBbsqE

Download audio: bit.ly/BiAS-Tmk-AYBS-MeraihAmpunan-04

Sumber: https://youtu.be/po6W3TBbsqE

Download audio: bit.ly/BiAS-Tmk-AYBS-MeraihAmpunan-05

Sumber: https://youtu.be/po6W3TBbsqE

 

, ,

SALAH KAPRAH MENGENAI SHALAT ISTIKHARAH

SALAH KAPRAH MENGENAI SHALAT ISTIKHARAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

SALAH KAPRAH MENGENAI SHALAT ISTIKHARAH

Sebagian dari kita mungkin mengira, bahwa cara shalat istiharah, yaitu ketika ada pilihan yang sulit yang akan seseorang pilih dan tentukan, maka ia shalat Istikharah. Setelah itu ia menunggu semacam tanda atau wangsit semisal mimpi atau tanda-tanda tertentu yang menunjukkan pilihan keputusannya

Cari ini tidak tepat. Yang benar adalah:

1) Bertekad untuk melaksanakan pilihan tersebut, setelah melalui musyawarah dengan orang yang berilmu

Jadi bertekad dahulu baru shalat Istikharah. Sebagaimana dalam hadis:

ﺇِﺫَﺍ ﻫَﻢَّ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﺑِﺎﻷَﻣْﺮِ ﻓَﻠْﻴَﺮْﻛَﻊْ ﺭَﻛْﻌَﺘَﻴْﻦِ ﻣِﻦْ ﻏَﻴْﺮِ ﺍﻟْﻔَﺮِﻳﻀَﺔِ

“Jika kalian ingin bertekad melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua rakaat, selain shalat fardhu.” [HR. Bukhari, Ibnu Hibban, al-Baihaqi dan yang lainnya]

Sebagain ulama menjelaskan, shalat Istikharah dahulu baru musyawarah. Setelah musyawarah bisa diulangi shalat Istikharah, karena bisa dilakukan tiga kali. Istikharah adalah doa dan bisa diulang tiga kali

Ibnu Az Zubair mengatakan:

ﺇِﻧِّﻰ ﻣُﺴْﺘَﺨِﻴﺮٌ ﺭَﺑِّﻰ ﺛَﻼَﺛًﺎ ﺛُﻢَّ ﻋَﺎﺯِﻡٌ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻣْﺮِﻯ

“Aku melakukan Istikharah pada Rabbku sebanyak tiga kali, kemudian aku pun bertekad menjalankan urusanku tersebut.” [HR. Muslim]

2) Setelah bertekad, ia melakukan shalat Istikharah dua rakaat

Shalat Istikharah bisa dilakukan dalam bentuk shalat sendiri atau bisa dilakukan ketika shalat sunnah lainnya semisal shalat Tahiyatul Masjid, shalat Dhuha atau shalat Rawatib (niatnya digabung shalat Dhuha sekaligus shalat Istikharah)

3) Setelah shalat baru membaca doa Istikharah (ini pendapat terkuat, jadi tidak dibaca di dalam shalat) Teks Doa Istikharah

Teks doa istikharah ada dua:

Pertama:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِك وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ ، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ خَيْرٌ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى فَاقْدُرْهُ لِى وَيَسِّرْهُ لِى ثُمَّ بَارِكْ لِى فِيهِ ، وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ شَرٌّ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى فَاصْرِفْهُ عَنِّى وَاصْرِفْنِى عَنْهُ ، وَاقْدُرْ لِى الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِى

“Allahumma inni astakhii-ruka bi ‘ilmika, wa astaq-diruka bi qud-ratika, wa as-aluka min fadh-likal adziim, fa in-naka taq-diru wa laa aq-diru, wa ta’lamu wa laa a’lamu, wa anta ‘allaamul ghuyub. Allahumma in kunta ta’lamu anna hadzal amro khoiron lii fii diinii wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii faq-dur-hu lii, wa yas-sirhu lii, tsumma baarik lii fiihi. Wa in kunta ta’lamu anna hadzal amro syarrun lii fii diinii wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii, fash-rifhu ‘annii was-rifnii ‘anhu, waqdur lial khoiro haitsu kaana tsumma ardhi-nii bih”

Kedua, sama dengan atas hanya ada beberapa kalimat yang berbeda, yaitu:

Kalimat [دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى] diganti dengan [عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ]. Sehingga, Teks lengkapnya:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِك وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ ، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ خَيْرٌ لِى فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ فَاقْدُرْهُ لِى وَيَسِّرْهُ لِى ثُمَّ بَارِكْ لِى فِيهِ ، وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ شَرٌّ لِى فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ فَاصْرِفْهُ عَنِّى وَاصْرِفْنِى عَنْهُ ، وَاقْدُرْ لِى الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِى

Allahumma inni astakhii-ruka bi ‘ilmika, wa astaq-diruka bi qud-ratika, wa as-aluka min fadh-likal adziim, fa in-naka taq-diru wa laa aq-diru, wa ta’lamu wa laa a’lamu, wa anta ‘allaamul ghuyub. Allahumma in kunta ta’lamu anna hadzal amro khoiron lii fii ‘aajili amrii wa aajilih faq-dur-hu lii, wa yas-sirhu lii, tsumma baarik lii fiihi. Wa in kunta ta’lamu anna hadzal amro syarrun lii fii ‘aajili amrii wa aajilih, fash-rifhu ‘annii was-rifnii ‘anhu, waqdur lial khoiro haitsu kaana tsumma ardhi-nii bih.

4) Setelah selesai, maka ia jalankan keputusannya tersebut. Apapun hasilnya yang terjadi, itulah takdir terbaik Allah baginya. Jika akan berdampak buruk, bisa jadi Allah gagalkan. Jika baik, maka bisa jadi Allah permudah jalannya.

5) Bagi wanita yang sedang haid dan nifas, boleh hanya membaca doa Istikharah saja, karena tidak boleh shalat. Tim Fatwa Syabakah Islamiyah menjelaskan:

ﻓﻤﻦ ﺗﻌﺬﺭﺕ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻻﺳﺘﺨﺎﺭﺓ ﺑﺎﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻣﻌﺎً – ﻛﺎﻟﻤﺮﺃﺓ ﺍﻟﺤﺎﺋﺾ ﺃﻭ ﺍﻟﻨﻔﺴﺎﺀ – ﺃﺟﺰﺃﺗﻪ ﺍﻻﺳﺘﺨﺎﺭﺓ ﺑﺎﻟﺪﻋﺎﺀ ﻓﻘﻂ، ﻭﻫﺬﺍ ﻣﺬﻫﺐ ﺍﻟﺤﻨﻔﻴﺔ ﻭﺍﻟﻤﺎﻟﻜﻴﺔ ﻭﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻴﺔ

Orang yang mendapat uzur tidak bisa melakukan Istikharah dengan shalat dan doa bersama, seperti wanita haid atau nifas, maka sah saja jika ia melakukan Istikharah dengan doa saja. Ini merupakan pendapat Madzhab Hanafiyah, Malikiyah, dan Syafiiyah. [Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 16125]

Demikian, semoga bermanfaat.

 

Penyusun: dr Raehanul Bahraen

[Artikel www.muslimafiyah.com]

 

Sumber:

https://muslimafiyah.com/salah-kaprah-mengenai-shalat-Istikharah.html

 

, ,

TIPS MUDAH SHALAT KHUSYUK UNTUK MUSLIMAH

TIPS MUDAH SHALAT KHUSYUK UNTUK MUSLIMAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

TIPS MUDAH SHALAT KHUSYUK UNTUK MUSLIMAH

Khusyuk bisa bertambah dan berkurang, sesuai dengan seberapa besar faktor-faktor pemicunya dipraktikkan saat menjalankan shalat.

Jika Anda bermaksud menunaikan shalat selepas wudhu, dan Anda ingin khusyuk dalam mengerjakannya, maka Anda perlu memerhatikan hal-hal berikut ketika sebelum mengerjakan shalat:

  1. Bersiwak

Di antara amalan sunnah yang sangat dianjurkan adalah menyegarkan bau mulut dan membersihkan gigi dengan siwak saat wudhu, dan ketika hendak shalat. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Seandainya aku tidak (khawatir) memberatkan umatku, niscaya aku perintahkan mereka bersiwak setiap kali wudhu.” [Muttafaq ‘alaih]. Dalam riwayat lain, “Setiap hendak shalat.”

Perbuatan ini dapat membuat Anda lebih bersemangat, plus mengajari Anda memersiapkan diri dengan sebaik-baiknya, untuk berdiri di hadapan Allah. Selain itu, siwak merupakan media paling manjur guna mengusir kantuk, jika shalat dikerjakan selepas tidur, sehingga bisa membantu Anda berkonsentrasi pada apa yang Anda baca.

  1. Mengenakan Pakaian yang Bersih dan Rapi, Memakai Parfum (tidak boleh tercium laki-laki non-mahram) dan Menghindari Bau yang Kurang Sedap

Allah ta’ala berfirman:

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“Wahai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan…” [QS Al-A’raf 7 : 31].

  1. Menutup Aurat dengan Sempurna

Menutup aurat secara menyeluruh dapat memberi keleluasan memosisikan setiap organ di tempatnya saat shalat. Sebab, jika Anda tidak teliti menutup aurat, bisa jadi kerudung Anda jatuh atau hampir jatuh, sehingga Anda harus berulang kali sibuk membenarkannya.

Atau Anda terburu-buru menyelesaikan shalat, karena khawatir aurat Anda terbuka dengan menyembulnya sebagian rambut Anda. Sehingga Anda salam sebelum sempat berdoa (seusai membaca Tasyahud). Akankah ada kekhusyukan, dan mungkinkah muncul kehadiran hati, sementara Anda terlena dengan urusan lain?

  1. Menyingkirkan Segala yang Dapat Mengganggu Konsentrasi

Persiapan berikutnya, menyingkirkan segala yang dapat mengganggu konsentrasi, baik yang berada di hadapan Anda, atau Anda memakainya, atau menjadi alas sujud Anda. Caranya, Anda memilih tempat yang sunyi, tidak dipenuhi berbagai perabotan rumah tangga dan dekorasi.

  1. Memilih Tempat Bersuhu Sedang dan Menghindari Shalat di Ruangan yang Panas

Wahai saudariku, bila ingin tidur, menjamu tamu, pasti Anda mencari tempat yang suhu udaranya sedang atau nyaman bukan? Namun kenapa bila Anda hendak menunaikan shalat, terkadang Anda tidak begitu acuh mengerjakannya di tempat mana pun. Besar kemungkinan Anda menahan panasnya udara dan tidak mencari tempat sejuk untuk shalat, namun dengan mengorbankan kekhusyukan Anda.

  1. Menunaikan Shalat di Tempat yang Jauh dari Kebisingan dan Gaduh

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الْمُصَلِّي يُنَاجِي رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فَلْيَنْظُرْ مَا يُنَاجِيهِ وَلَا يَجْهَرْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ بِالْقُرْآنِ

“Sesungguhnya orang yang shalat itu berbisik-bisik (munajat) dengan Rabb-nya. Maka hendaknya ia memerhatikan apa yang ia bisikkan kepada-Nya, dan janganlah kalian saling mengeraskan  bacaan Alquran.” [Al-Albani berkata, “Diriwayatkan oleh Malik dan Bukhari dalam Khalqu Af’alil ‘Ibad, sanadnya shahih.” Shifatush Shalah, hal. 81]

Dalam hadis ini, Rasulullah ﷺ melarang mengeraskan bacaan Alquran, agar tidak mengganggu orang yang tengah shalat, dan demi menjaga kekhusyukannya.

Maka, bila Anda ingin shalat dengan kehadiran hati dan khusyuk, carilah tempat yang paling lengang di rumah Anda, dan jauhkan dari kegaduhan, kehadiran orang-orang dan pandangan mereka. Itu yang paling baik bagi wanita.

  1. Memersiapkan Shalat dengan Mengosongkan Hati atau Pikiran dari Semua Kesibukkan

Ketahuilah, hati itu disibukkan oleh berbagai macam urusan, ketakutan, kesedihan, kegembiraan, dan lainnya. Maka bila Anda ingin berkonsentrasi dalam shalat, mintalah perlindungan kepada Allah. Sebuah permintaan perlindungan yang muncul dari hati, bukan dari lidah saja.

  1. Menunggu Shalat

Menunggu shalat tidak harus dilakukan laki-laki di masjid saja, bisa juga dilakukan oleh para wanita di rumah.

Adapun jika jiwa Anda berontak dan enggan duduk menunggu shalat, sementara Anda tidak memiliki tugas yang menyibukkan, maka paksalah jiwa Anda ini untuk menunggu, dan lawanlah sampai ia mau menerima, walau dengan terpaksa. Sebab, jika hari ini jiwa Anda sudi menunggu dengan keadaan terpaksa, maka esok hari ia akan melakukannya secara sukarela, bahkan antusias.

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” [QSAl-Ankabut 29 : 69]

  1. Memerhatikan Kebutuhan Tubuh yang Mendesak dan Menyelesaikannya Sebelum Mulai Shalat

***

 

Disarikan dari buku “Tips Mudah Shalat Khusyuk untuk Muslimah” karya Dr. Ruqayyah binti Muhammad Al-Muharib

 

[Artikel Muslimah.or.id]

Sumber: https://Muslimah.or.id/8582-tips-mudah-shalat-khusyuk-untuk-Muslimah.html

,

PETUNJUK MENGERASKAN DAN MEMELANKAN SUARA DALAM SHALAT

PETUNJUK MENGERASKAN DAN MEMELANKAN SUARA DALAM SHALAT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

#SifatSholatNabi

PETUNJUK MENGERASKAN DAN MEMELANKAN SUARA DALAM SHALAT

  1. Imam dianjurkan membaca Al-Fatihah dan surat setelahnya dengan KERAS pada dua rakaat pertama shalat Maghrib, dua rakaat pertama shalat Isya, dan shalat Subuh. Demikian pula ketika Shalat Jumat, Shalat Id, Istisqa, dan Shalat Gerhana. [HR. Bukhari] Selain shalat di atas, bacaan Al-Fatihah dan surat DIBACA PELAN.
  2. Mengeraskan dan memelankan bacaan dalam shalat hukumnya sunah dan tidak wajib. Karena itu, jika ada orang yang mengimami shalat Isya, tapi bacaannya pelan, shalatnya tetap sah, dan makmum tidak perlu membubarkan diri.
  3. Untuk shalat malam, terkadang Nabi ﷺ mengeraskan dan terkadang memelankan bacaan. Kadang beliau ﷺ mengeraskan bacaan surat ketika Tahajud sampai didengar orang yang berada di luar rumah beliau. [HR. An-Nasai dan turmudzi]
  4. Beliau ﷺ pernah memerintahkan Abu Bakar untuk menaikkan suara bacaannya ketika shalat malam karena terlalu pelan. Sementara beliau ﷺ pernah memerintahkan Umar untuk memelankan suara bacaannya ketika shalat malam karena terlalu keras. [HR. Abu Daud, Hakim dan dishahihkan Ad-Dzahabi]
  5. Orang yang melakukan shalat wajib sendirian, disyariatkan memelankan bacaan, meskipun shalat yang dilakukan adalah shalat Maghrib atau Isya.
  6. Jika imam mengeraskan bacaannya, seperti ketika shalat Subuh atau dua rakaat pertama shalat Maghrib dan Isya, maka makmum cukup DIAM untuk mendengarkan bacaan imam. Makmum tidak membaca apapun, termasuk Al-Fatihah. Sekali lagi, ini jika imam mengeraskan bacaannya dan makmum mendengar bacaan imam. Dalilnya:

6a. Nabi ﷺ bersabda:

إنما جعل الإمام ليؤتم به فإذا كبر فكبروا وإذا قرأ فأنصتوا

Imam ditunjuk untuk diikuti. Jika dia bertakbir maka bertakbirlah, dan jika dia mengeraskan bacaannya maka diamlah. [HR. Muslim, Abu Daud dan yang lainnya]

6b. Nabi ﷺ juga bersabda:

من كان له إمام فقراءة الإمام له قراءة

Siapa yang shalat bersama imam, maka bacaan imam (yang dikeraskan) adalah bacaan baginya. [HR. Ahmad, Ad-Daruqutni, Ibn Abi Syaibah dan dishahihkan Al-Albani]

6c. Dinyatakan dalam sebuah riwayat, bahwa suatu ketika selesai shalat Subuh, Nabi ﷺ bertanya: “Adakah tadi yang membaca Alquran?” “Ya, saya wahai Rasulullah,” jawab salah satu sahabat. Abu Hurairah mengatakan: Setelah itu para sahabat tidak lagi membaca Alquran ketika Rasulullah ﷺ membaca Al-Fatihah dengan keras. [HR. Malik, Ahmad, Abu Daud, Al-Humaidi, dan dishahihkan Al-Albani]

6d. Tujuan dianjurkannya mengeraskan bacaan bagi imam adalah agar didengar makmum. Tujuan ini tidak tercapai jika masing-masing makmum turut membaca Al-Fatihah atau surat.

7. Membaca Alquran, baik ketika shalat atau di luar shalat, harus dilakukan dengan tartil. Sesuai dengan ilmu Tajwid. Berhenti di setiap ayat. Memerhatikan kaidah Waqaf. Allah berfirman:

وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا

“Bacalah Alquran dengan tartil.” [QS. Al-Muzammil: 4]

Ibnu katsir mengatakan: Maknanya adalah bacalah Alquran secara perlahan, karena itu akan sangat membantu memahami maknanya. [Tafsir Ibn Katsir, 8/250]

  1. Jika imam mengalami kesalahan dalam bacaan, karena rusaknya hapalan atau kesalahan cara membaca, maka makmum yang berada di sekitarnya harus mengingatkan. Suatu ketika Nabi ﷺ pernah lupa ketika membaca Alquran pada saat shalat. Seusai shalat, beliau ﷺ bertanya kepada Ubay bin Ka’ab (sahabat yang pandai Alquran): “Mengapa engkau tidak mengingatkan aku?” [HR. Abu Daud, Ibn Hibban, At-Thabrani dan dishahihkan Al-Albani].

Kesalahan terkait pelan dan kerasnya bacaan:

  1. Menggunakan speaker luar ketika mengimami shalat. Ini bisa jadi termasuk tindakan BERLEBIHAN, karena yang perlu mendengar suara imam hanya makmum yang berada di masjid, dan bukan semua orang.
  2. Suara imam yang terlalu pelan, padahal imam masih mampu untuk mengeraskan suaranya, sehingga banyak makmum tidak mendengarnya.
  3. Makmum mengeraskan bacaan ketika membaca Al-Fatihah atau surat, sehingga mengganggu makmum yang lain, atau bahkan mengganggu imam.
  4. Membaca Alquran terlalu cepat, sampai terkadang membuat huruf-hurufnya gandeng.

 

[Artikel www.CaraSholat.com]

Sumber: https://carasholat.com/285-bacaan-sholat-mengeraskan-dan-memelankan-suara-dalam-sholat.html

,

BEBERAPA CARA/ KAIFIYAT MELAKUKAN SHALAT TAHAJUD DAN WITIR

BEBERAPA CARA/ KAIFIYAT MELAKUKAN SHALAT TAHAJUD DAN WITIR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

#SifatSholatNabi

BEBERAPA CARA/ KAIFIYAT MELAKUKAN SHALAT TAHAJUD DAN WITIR

  1. Shalat tiga belas rakaat dibuka dengan dua rakaat ringan. Hal ini berdasarkan hadis Zaid bin Kholid Al-Juhany radhiyallahu ‘anhu riwayat Muslim, beliau berkata:

“Sungguh saya akan memerhatikan shalat Rasulullah ﷺ di malam hari, maka beliau shalat dua rakaat ringan. Kemudian beliau shalat dua rakaat panjang, panjang, panjang sekali, kemudian beliau shalat dua rakaat lebih pendek dari dua rakaat sebelumnya, kemudian beliau shalat dua rakaat, dan keduanya lebih pendek dari dua rakaat sebelumnya, kemudian beliau shalat dua rakaat dan keduanya lebih pendek dari dua rakaat sebelumnya, kemudian beliau shalat dua rakaat dan keduanya lebih pendek dari dua rakaat sebelumnya, kemudian beliau berwitir. Maka itu (jumlahnya) tiga belas rakaat.”

Dan dalam hadis ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha riwayat Muslim, beliau berkata: “Adalah Rasulullah ﷺ, apabila beliau berdiri di malam hari untuk shalat, maka beliau membuka shalatnya dengan dua rakaat yang ringan.”

  1. Shalat tiga belas rakaat, delapan rakaat di antaranya dilakukan dengan salam pada setiap dua rakaat, kemudian Witir lima rakaat, dengan satu kali Tasyahhud dan satu kali salam.

Hal ini berdasarkan hadis ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha Riwayat Muslim:

“Adalah Rasulullah ﷺ shalat di malam hari tiga belas rakaat. Beliau Witir darinya dengan lima (rakaat). Tidaklah beliau duduk pada sesuatu pun, kecuali hanya pada akhirnya.”

  1. Shalat sebelas rakaat dengan salam pada setiap dua rakaat. dan Witir dengan satu rakaat. Hal ini berdasarkan hadis ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha riwayat Muslim, beliau berkata:

“Rasulullah ﷺ shalat antara selesainya dari shalat Isya’ sampai shalat Fajr (shalat Subuh) sebelas rakaat. Beliau salam setiap dua rakaat, dan Witir dengan satu rakaat.”

  1. Shalat sebelas rakaat, tidak duduk kecuali pada rakaat kedelapan, kemudian Tasyahhud tanpa salam, lalu berdiri untuk rakaat kesembilan, kemudian salam. Lalu shalat dua rakaat lagi dalam keadaan duduk.

Hal tersebut diterangkan dalam hadis Sa’ad bin HIsyam bin ‘Amir riwayat Muslim, beliau bertanya kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha tentang bagaimana shalat Witir Rasulullah ﷺ, maka beliau menjelaskan:

“… Maka beliau bersiwak, berwudhu’ dan shalat sembilan rakaat. Beliau tidak duduk kecuali pada yang kedelapan, kemudian beliau berzikir kepada Allah, memuji-Nya dan berdoa kepada-Nya, lalu berdiri dan tidak salam. Kemudian beliau berdiri untuk kesembilan, lalu duduk, kemudian beliau berzikir kepada Allah, memuji-Nya dan berdoa kepada-Nya. Lalu beliau salam sengan (suara) salam yang beliau perdengarkan kepada kami, kemudian beliau shalat dua rakaat setelah salam dalam keadaan duduk. Maka itu sebelas rakaat wahai anakku. Ketika Nabi Allah ﷺ telah berumur dan beliau bertambah daging (Baca  bertambah berat), maka beliau Witir dengan tujuh (rakaat), dan berbuat pada yang dua rakaat seperti perbuatan beliau yang pertama. Maka itu adalah sembilam (rakaat) wahai anakku.”

  1. Shalat sembilan rakaat, tidak duduk kecuali pada rakaat keenam, kemudian Tasyahhud tanpa salam, lalu berdiri untuk rakaat ketujuh, kemudian salam. Lalu shalat dua rakaat lagi dalam keadaan duduk.

Hal ini di terangkan dalam hadis ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha di atas.

Berkata Syaikh Al-Albany: “Ini adalah beberapa kaifiyat yang Rasulullah ﷺ melakukannya pada shalat Lail dan Witir. Dan mungkin untuk ditambah dengan bentuk-bentuk yang lain, yaitu dengan mengurangi pada setiap bentuk yang tersebut, jumlah rakaat yang ia kehendaki, dan bahkan boleh baginya untuk membatasi dengan satu rakaat saja.”

Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla menyebutkan beberapa bentuk lain:

  1. Shalat tiga belas rakaat, yaitu salam pada setiap dua rakaat, dan Witir satu rakaat.
  2. Shalat delapan rakaat dengan salam pada setiap dua rakaat, kemudian ditambah Witir satu rakaat.
  3. Shalat enam rakaat dengan salam pada setiap dua rakaat, kemudian Witir satu rakaat.
  4. Shalat tujuh rakaat, tidak Tasyahhud kecuali pada yang keenam, kemudian berdiri sebelum salam untuk rakaat ketujuh, lalu duduk Tasyahhud dan salam.
  5. Shalat tujuh rakaat dan tidak duduk untuk Tasyahhud, kecuali di akhirnya.
  6. Shalat lima rakaat dan tidak duduk untuk Tasyahhud, kecuali di akhirnya.
  7. Shalat tiga rakaat, duduk Tasyahhud pada rakaat kedua dan salam, lalu Witir satu rakaat.
  8. Shalat tiga rakaat tidak duduk Tasyahhud dan salam, kecuali pada rakaat terakhir. [Tambahan dari penulis dan tidak tertera dalam Al-Muhalla]
  9. Shalat Witir satu rakaat.

Demikian beberapa kaifiyat yang disebutkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Shalatut Tarawih hal. 86-94 (Cet. Kedua) dan Qiyamu Ramadan hal. 27-30 dan Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla 3/42-48. Dan Syaikh Al-Albany juga menyebutkan kaifiyat lain, yaitu shalat sebelas rakaat: Empat rakaat sekaligus dengan sekali salam, kemudian empat rakaat dengan sekali salam, lalu tiga rakaat.

Sebagaimana dalam hadis ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha riwayat Al-Bukhary dan Muslim:

“Rasulullah ﷺ tidaklah menambah pada (bulan) Ramadan, dan tidak pula pada selain Ramadan, lebih dari sebelas rakaat. Beliau shalat empat (rakaat). Jangan kamu tanya tentang baiknya dan panjangnya. Kemudian beliau shalat empat (rakaat). Jangan kamu tanya tentang baiknya dan panjangnya. Kemudian beliau shalat tiga (rakaat)”.

Namun ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama tentang kaifiyat ini.

Pendapat Abu Hanifah, Ats-Tsaury dan Al-Hasan bin Hayy boleh melakukan Qiyamul Lail dua rakaat sekaligus, boleh empat rakaat sekaligus, boleh enam rakaat sekaligus, dan boleh delapan rakaat sekaligus, tidak salam kecuali di akhirnya. Kelihatannya pendapat ini yang dipegang oleh Syaikh Al-Albany, sehingga beliau menetapkan kaifiyat shalat sebelas rakaat: empat rakaat sekaligus dengan sekali salam, kemudian empat rakaat dengan sekali salam, lalu tiga rakaat dengan sekali salam.

Dan di sisi lain, Jumhur Ulama seperti Malik, Asy-Syafi’iy, Ahmad, Ishaq, Sufyan Ats-Tsaury, Ibnul Mubarak, Ibnu Abi Laila, Abu Yusuf, Muhammad bin Hasan, dan Ibnul Mundzir serta yang lainnya menghikayatkan pendapat ini dari Ibnu ‘Umar, ‘Ammar radhiyallahu ‘anhuma, Al-Hasan, Ibnu Sirin, Asy-Sya’by, An-Nakha’iy, Sa’id bin Jubair, Hammad dan Al-Auza’iy. Dan Ibnu ‘Abdil Barr berkata: “Ini adalah pendapat (ulama) Hijaz dan sebahagian (ulama) ‘Iraq.” Semuanya berpendapat, bahwa shalat malam itu adalah dua rakaat-dua rakaat, yaitu harus salam pada setiap dua rakaat. Ini pula pendapat yang dkuatkan oleh Syaikh Ibnu Baz beserta para Syaikh anggota Al-Lajnah Ad-Da`imah, dan juga pendapat Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dan lain-lainnya. Sehingga mereka semua menyalahkan orang yang memahami hadis ‘Aisyah di atas dengan kaifiyat shalat sebelas rakaat: Empat rakaat sekaligus dengan sekali salam, kemudian empat rakaat dengan sekali salam, lalu tiga rakaat. Dan menurut mereka pemahaman yang benar adalah, bahwa empat rakaat dalam hadis itu adalah dikerjakan dua rakaat dua rakaat.

Tarjih

Yang kuat dalam masalah ini adalah pendapat Jumhur Ulama berdasarkan hadis-hadis ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma riwayat Al-Bukhary dan Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Shalat malam dua (rakaat) dua (rakaat)”

Hadis ini adalah berita, namun bermakna perintah, yaitu perintah untuk melakukan shalat malam dua dua rakaat. Demikian keterangan Syaikh Ibnu Baz dalam Majmu’ Fatawa beliau 11/323-324.

[Baca pembahasan tentang masalah di atas dalam: Al-Istidzkar 2/95-98, 104-106, Fathul Bari 4/191-198, Fatawa Al-Lajnah Ad-Da`imah 7/199-200 dan Asy-Syarh Al-Mumti’ 4/18-20]

Dan juga para Ulama berselisih pendapat tentang dua rakaat setelah Witir pada kaifiyat nomer 4 dan nomer 5. Ada tiga pendapat di kalangan ulama:

  1. Sunnah dua rakaat setelah Witir. Ini pendapat Katsir bin Dhomrah dan Khalid bin Ma’dan. Dan Al-Hasan dan Abu Mijlaz melakukannya, sedangkan Ibnu Rajab menukil hal tersebut dari sebahagian orang-orang Hanbaliyah.
  2. Ada rukhshoh (keringanan) dalam hal tersebut dan bukan makruh. Ini adalah pendapat Al- Auza’iy, Ahmad dan Ibnul Mundzir.
  3. Hal tersebut Makruh. Ini pendapat Qais bin ‘Ubadah, Malik dan Asy-Syafi’iy.

Tarjih

Tentunya dalil-dalil yang menjelaskan tentang kaifiyat itu adalah hujjah yang harus diterima tentang disyariatkannya shalat dua rakaat setelah Witir. Berkata Ibnu Taimiyah: “Dan kebanyakan Ahli Fikih tidak mendengar tentang hadis ini (yaitu hadis tentang adanya dua rakaat setelah Witir di atas -pent.), kerena itu mereka mengingkarinya. Dan Ahmad dan selainnya mendengar (hadis) ini, dan mengetahui keshohihannya. Dan Ahmad memberi keringanan untuk melakukan dua rakaat ini, dan ia dalam keadaan duduk, sebagaimana yang dikerjakan oleh (Nabi) ﷺ. Maka siapa yang melakukan hal tersebut tidaklah diingkari. Akan tetapi bukanlah wajib menurut kesepakatan (para ulama), dan tidak dicela orang yang meniggalkannya….”

[Baca: Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah 23/92-94, Fathul Bari Ibnu Rajab 6/260-264 dan Al- Mughny 2/281]

 

Sumber: https://kaahil.wordpress.com/2012/04/02/terbaru-tata-cara-shalat-Tahajud-Witir-yang-benar-keutamaan-keajaiban-shalat-Lailshalat-malam-jumlah-rokaat-shalat-tahajjud-niat-shalat-Tahajud-waktu-utama-doabacaan-shola/

 

 

,

INI DALILNYA: SUDAH SHALAT LAIL, WALAUPUN WAKTU ISYA BELUM MASUK

INI DALILNYA: SUDAH SHALAT LAIL, WALAUPUN WAKTU ISYA BELUM MASUK

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

#SifatSholatNabi

INI DALILNYA: SUDAH SHALAT LAIL, WALAUPUN WAKTU ISYA BELUM MASUK

Awal waktu shalat lail adalah setelah shalat Isya, dan akhir waktunya adalah setelah terbit fajar kedua. Ini berdasarkan hadis Aisyah radhiallahu’anha, dia berkata:

“Rasulullah ﷺ biasa mengerjakan shalat sebelas rakaat pada waktu antara selesai shalat Isya sampai Subuh.” [HR. Muslim no. 736].

Juga berdasarkan hadis Ibnu Umar radhiallahu anhuma, dia berkata: Ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang shalat malam, maka Rasulullah ﷺ bersabda:

صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمْ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى

“Shalat malam itu dua rakaat dua rakaat. Jika salah seorang dari kalian khawatir akan masuk waktu Subuh, hendaklah dia shalat satu rakaat sebagai Witir (penutup) bagi shalat yang telah dilaksanakan sebelumnya.” [HR. Al-Bukhari no. 990 dan Muslim no. 749]

Karenanya Ibnu Nashr berkata dalam Mukhtashar Qiyam Al-Lail hal. 119: “Yang disepakati oleh para ulama adalah: Antara shalat Isya hingga terbitnya fajar (shadiq/kedua), adalah waktu untuk mengerjakan Witir.”

Karenanya, jika ada orang yang shalat Maghrib-Isya dengan Jama’ Taqdim, maka dia SUDAH BOLEH mengerjakan shalat lail, walaupun waktu Isya BELUM MASUK. Sebaliknya, walaupun sudah jam 10 malam, tapi jika dia belum shalat Isya, maka dia BELUM diperbolehkan Shalat Lail.

Hanya saja waktu yang paling ideal adalah dikerjakan selepas pertengahan malam, sebagaimana dalam hadis Abdullah bin Amr radhiallahu’anhuma, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ أَحَبَّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ وَأَحَبَّ الصَّلَاةِ إِلَى اللَّهِ صَلَاةُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ وَكَانَ يَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا

“Sesungguhnya puasa yang paling dicintai Allah adalah puasa Daud, sedangkan shalat yang paling disukai Allah adalah juga shalat Daud ‘alaihissalam. Beliau tidur hingga pertengahan malam, kemudian bangun (untuk shalat lail) selama sepertiga malam, lalu kembali tidur pada seperenamnya (sisa malam). Dan beliau berpuasa sehari dan berbuka sehari.” [HR. Al-Bukhari no. 1131]

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://kaahil.wordpress.com/2012/04/02/terbaru-tata-cara-sholat-Tahajud-Witir-yang-benar-keutamaan-keajaiban-sholat-lailsholat-malam-jumlah-rokaat-sholat-tahajjud-niat-sholat-Tahajud-waktu-utama-doabacaan-shola/

,

BAGAIMANA CARA DUDUK KETIKA TASYAHHUD?

BAGAIMANA CARA DUDUK KETIKA TASYAHHUD?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

BAGAIMANA CARA DUDUK KETIKA TASYAHHUD?

Ulama berbeda pendapat mengenai hal ini. Namun demikian, yang berikut ini adalah yang lebih rojih, insyaAllah:

Pendapat Madzhab Hanbali
Untuk sholat yang hanya ada satu Tasyahhud (seperti sholat Subuh dan sholat Jumat), maka duduknya adalah duduk iftirasy.
Ibnu Qudaamah berkata: “Dan tidaklah dilakukan duduk Tawarruk, kecuali pada sholat yang memiliki dua Tasyahhud, yaitu pada Tasyahhud yang kedua” [Al-Mughni 2/227]
Dalil Madzhab Hanbali adalah:
Hadis Aisyah radhiyallahu ‘anhaa, beliau berkata:

وَكَانَ يَقُولُ فِي كُلِّ رَكْعَتَيْنِ التَّحِيَّةَ وَكَانَ يَفْرِشُ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَيَنْصِبُ رِجْلَهُ الْيُمْنَى

“Adalah beliau (Rasulullah ﷺ ) mengucapkan Tahiyyat pada setiap dua rakaat, dan beliau menghamparkan kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya (duduk iftirasy, pent).” [HR. Muslim no 498]
Hadis Abdullah bin Az-Zubair:

كاَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا جَلَسَ فِيْ الرَّكْعَتَيْنِ افْتَرَشَ اْليُسْرَى، وَنَصَبَ اْليُمْنَى

“Adalah Rasulullah ﷺ jika duduk pada dua rakaat, beliau menghamparkan yang kiri, dan menegakkan yang kanan (duduk iftirasy, pent).” [HR. Ibnu Hibban no 1943]

Hadis Wail bin Hujr radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau berkata:

رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِيْنَ جَلَسَ فِيْ الصَّلاَةِ افْتَرَشَ رِجْلَهُ اْليُسْرَى وَنَصَبَ رِجْلَهُ اْليُمْنَى

“Aku melihat Rasulullah ﷺ ketika duduk dalam shalat, beliau menghamparkan kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya (duduk iftirasy, pent).” [HR. Ibnu Khuzaimah no 691]

Dalam lafal yang lain:

فَلَمَّا جَلَسَ يَعْنِي لِلتَّشَهُّدِ افْتَرَشَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُسْرَى يَعْنِي عَلَى فَخِذِهِ الْيُسْرَى وَنَصَبَ رِجْلَهُ الْيُمْنَى

“Maka tatkala beliau duduk untuk Tasyahhud, beliau menghamparkan kaki kirinya dan meletakkan tangan kirinya di atas pahanya, dan menegakkan kaki kanannya (duduk iftirasy, pent).” [HR. Tirmidzi no 292]

Dalam lafal yang lain:

وإذا جَلَسَ افْتَرَشَ

“Dan jika Nabi duduk (dalam sholat-pent) beliau beriftirasy.” [HR At-Thobrooni dalam Al-Mu’jam Al-Kabiir 22/33 no 78]

Sisi Pendalilan Madzhab Hanbali

Sisi pendalilan mereka adalah keumuman lafal-lafal hadis ini, dan semua lafal-lafal di atas termasuk lafal-lafal umum, seperti, “Ketika duduk”, “Jika duduk”, “Tatkala beliau duduk”

Dari pemaparan sederhana di atas maka penulis (al-ustadz Abu Abdil Muhsin Firanda Andirja) lebih condong pada pendapat Madzhab Hanabilah, bahwasanya sholat yang memiliki satu Tasyahhud saja, maka DUDUKNYA ADALAH IFTIRASY, karena keumuman hadis Wail bin Hujr. Dan inilah pendapat yang dikuatkan oleh Syaikh Bin Baaz [lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Daaimah 7/17-18 soal no 2232], Syaikh Albani [Ashl sifat sholaat An-Nabiy 3/829 dan Irwaaul Golil 2/23] dan Syaikh Al-Utsaimin [lihat Majmuu’ Fataawaa wa Rosaail Syaikh Al-‘Utsaimiin 14/159 no 784].

Bagaimanapun ini adalah permasalahan khilafiyah ijtihadiah yang kita harus toleransi terhadap orang yang menyelisihi kita. Sehingga tidak tepat menjadikan masalah ini sebagai masalah manhajiyah, yang jadi barometer seseorang Ahlus Sunnah ataukah bukan.
Hanya Allah yang beri taufik.
Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

 

Untuk lengkapnya: https://firanda.com/index.php/konsultasi/fiqh/55-cara-duduk-Tasyahhud-terakhir-sholat-Subuh