Posts

,

APAKAH SUJUD SAHWI HANYA DISYARIATKAN KETIKA SHALAT FARDHU SAJA?

APAKAH SUJUD SAHWI HANYA DISYARIATKAN KETIKA SHALAT FARDHU SAJA?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 

#SifatSholatNabi

APAKAH SUJUD SAHWI HANYA DISYARIATKAN KETIKA SHALAT FARDHU SAJA?

Sahwi secara bahasa bermakna lupa atau lalai. [Lisanul ‘Arob, Muhammad bin Makrom binn Manzhur Al Afriqi Al Mishri, 14/406, Dar Shodir]. Sujud Sahwi secara istilah adalah sujud yang dilakukan di akhir shalat atau setelah shalat, untuk menutupi cacat dalam shalat, karena meninggalkan sesuatu yang diperintahkan, atau mengerjakan sesuatu yang dilarang dengan tidak sengaja. [Shahih Fiqh Sunnah, Syaikh Abu Malik, 1/459, Al Maktabah At Taufiqiyah]

Sujud Sahwi ketika shalat sunnah sama halnya dengan shalat wajib, yaitu sama-sama disyariatkan. Karena dalam hadis yang membicarakan Sujud Sahwi menyebutkan umumnya shalat, tidak membatasi pada shalat wajib saja.

Asy Syaukani rahimahullah menjelaskan: “Sebagaimana dikatakan dalam hadis ‘Abdurrahman bin ‘Auf:

إذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ

“Jika salah seorang di antara kalian ragu-ragu dalam shalatnya.” Hadis ini menunjukkan, bahwa Sujud Sahwi itu disyariatkan pula dalam shalat sunnah, sebagaimana disyariatkan dalam shalat wajib (karena lafal dalam hadis ini umum). Inilah yang dipilih oleh Jumhur (Mayoritas) Ulama yang dulu dan sekarang. Karena untuk menambal kekurangan dalam shalat, dan untuk menghinakan setan, juga terdapat dalam shalat sunnah, sebagaimana terdapat dalam shalat wajib.” [Nailul Author, Muhammad bin ‘Ali Asy Syaukani, 3/144, Idarotuth Thoba’ah Al Muniirah]

 

Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah
 
Sumber:
,

JIKA LUPA MELAKUKAN SUJUD SAHWI, APAKAH SHALATNYA MESTI DIULANGI?

JIKA LUPA MELAKUKAN SUJUD SAHWI, APAKAH SHALATNYA MESTI DIULANGI?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 

#SifatSholatNabi

JIKA LUPA MELAKUKAN SUJUD SAHWI, APAKAH SHALATNYA MESTI DIULANGI?

Sahwi secara bahasa bermakna lupa atau lalai.[Lisanul ‘Arob, Muhammad bin Makrom binn Manzhur Al Afriqi Al Mishri, 14/406, Dar Shodir]. Sujud Sahwi secara istilah adalah sujud yang dilakukan di akhir shalat atau setelah shalat, untuk menutupi cacat dalam shalat, karena meninggalkan sesuatu yang diperintahkan, atau mengerjakan sesuatu yang dilarang dengan tidak sengaja.[Shahih Fiqh Sunnah, Syaikh Abu Malik, 1/459, Al Maktabah At Taufiqiyah]

Mengenai masalah lupa melakukan Sujud Sahwi, kita dapat bagi menjadi dua keadaan:

Keadaan Pertama: Jika Sujud Sahwi yang ditinggalkan sudah lama waktunya, namun wudhunya belum batal.

Dalam keadaan seperti ini, menurut pendapat yang lebih kuat, selama wudhunya masih ada, maka shalatnya tadi masih tetap teranggap dan ia melakukan Sujud Sahwi ketika ia ingat, meskipun waktunya sudah lama. Inilah pendapat Imam Malik, pendapat yang terdahulu dari Imam Asy Syafi’i, Yahya bin Sa’id Al Anshori, Al Laits, Al Auza’i, Ibnu Hazm dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah [Namun Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengkhususkan jika memang Sujud Sahwinya terletak sesudah salam, inilah yang beliau bolehkan. Lihat Majmu’ Al Fatawa, 23/32]. [Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/466]

Di antara alasan pendapat di atas adalah:

Pertama: Karena jika kita mengatakan, bahwa kalau sudah lama ia meninggalkan Sujud Sahwi, maka ini sebenarnya sulit dijadikan standar. Nabi ﷺ sendiri pernah dalam lupa, sehingga hanya mengerjakan dua atau tiga rakaat. Setelah itu malah beliau ﷺ ngobrol-ngobrol, lalu keluar dari masjid, terus masuk ke dalam rumah. Lalu setelah itu ada yang mengingatkan. Lantas beliau ﷺ pun mengerjakan rakaat yang kurang tadi. Setelah itu beliau ﷺ melakukan Sujud Sahwi. Ini menunjukkan bahwa beliau ﷺ melakukan Sujud Sahwi dalam waktu yang lama. Artinya waktu yang lama tidak bisa dijadikan.

Kedua: Orang yang lupa, selama wudhunya masih ada, diperintahkan untuk menyempurnakan shalatnya dan diperintahkan untuk Sujud Sahwi. Meskipun lama waktunya, Sujud Sahwi tetap diwajibkan. Hal ini berdasarkan keumuman sabda Nabi ﷺ:

مَنْ نَسِىَ صَلاَةً أَوْ نَامَ عَنْهَا فَكَفَّارَتُهَا أَنْ يُصَلِّيَهَا إِذَا ذَكَرَهَا

“Barang siapa yang lupa mengerjakan shalat atau ketiduran, maka kafarahnya (penebusnya) adalah hendaklah ia shalat ketika ia ingat.” (HR. Muslim no. 684)

Keadaan Kedua: Jika Sujud Sahwinya ditinggalkan dan wudhunya batal

Untuk keadaan kedua ini, berarti shalatnya batal. Hal ini berdasarkan kesepakatan para ulama. Orang seperti berarti harus mengulangi shalatnya. Kecuali jika Sujud Sahwi yang ditinggalkan adalah Sujud Sahwi sesudah salam dikarenakan kelebihan mengerjakan rakaat, maka ia boleh melaksanakan Sujud Sahwi setelah ia berwudhu kembali. [Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/466]

Jika Lupa Berulang Kali dalam Shalat

Jika seseorang lupa berulang kali dalam shalat, apakah ia harus berulang kali melakukan Sujud Sahwi? Jawabannya, hal ini tidak diperlukan.

Ulama Syafi’iyah, ‘Abdul Karim Ar Rofi’i rahimahullah mengatakan: “Jika lupa berulang kali dalam shalat, maka cukup dengan Sujud Sahwi (dua kali sujud) di akhir shalat.” [Fathul ‘Aziz Syarh Al Wajiz, Abul Qosim Abdul Karim bin Muhammad Ar Rofi’i, 4/172, Darul Fikr]

 

Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah
Sumber: [Rumaysho.com]

 

Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah
 
Sumber:
, , ,

APA YANG HARUS DILAKUKAN KETIKA KITA MENEMUI KONDISI BERIKUT?

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

APA YANG HARUS DILAKUKAN KETIKA KITA MENEMUI KONDISI BERIKUT?

>> Jawaban dari Banyak Masalah Penting Yang Munking Pernah Kita Alami dalam Kehidupan Sehari-hari

Tulisan ini disadur dari risalah “Maadza Taf’alu Fil Haalaati At-Taliyah” karya Syaikh Muhammad Sholeh al-Munajid. Temukan jawaban untuk kasus-kasus penting, yang mungkin pernah kita alami dalam kehidupan sehari-hari.

Menghilangkan Penghalang Air Wudhu

>> Ketika seseorang berwudhu, ternyata di salah satu anggota wudhu ada bagian yang tertutupi benda tertentu, (misalnya cat untuk kuku), sehingga menghalangi air terkena bagian kulit. Apakah berusaha membersihkan benda semacam ini bisa menyebabkan wudhu seseorang terputus?

Jawaban:

Usaha membersihkan benda penghalang wudhu semacam ini, tidaklah menyebabkan wudhu terputus, menurut pendapat yang lebih kuat. Sehingga tidak perlu mengulangi wudhu dari awal. Meskipun anggota wudhu sebelumnya sudah kering. Sebagai contoh: seseorang berwudhu dengan sempurna. Giliran mencuci kaki, ternyata ada cat di kuku yang belum dibersihkan. Kemudian dia berusaha membersihkannya. Dalam kondisi semacam ini, dia tidak perlu mengulangi wudhu dari awal, tapi cukup mencuci kaki, setelah membersihkan bekas cat, meskipun wajah dan tangan sudah kering.

Penjelasannya:

Melakukan kegiatan di tengah-tengah wudhu hukumnya dibagi menjadi dua:

  1. Melakukan kegiatan yang berhubungan dengan kegiatan berwudhunya, seperti mengambil air, menyalakan pompa air, pindah dari satu kran ke kran yang lain, membersihkan benda najis di bagian anggota wudhu, atau membersihkan sesuatu yang menghalangi air dari anggota wudhu. Semua kegiatan ini TIDAK memutus wudhu, sehingga tidak perlu mengulangi wudhu dari awal, meskipun anggota wudhu sebelumnya telah kering.
  2. Melakukan kegiatan yang tidak ada hubungannya dengan wudhu, seperti membersihkan najis di pakaian, makan, minum, menolong orang, mengobrol, baik langsung maupun lewat telepon, atau yang lainnya. Kegiatan semacam ini, jika dilakukan di tengah-tengah wudhu, dan mengakibatkan anggota wudhu sebelumnya kering, maka wudhunya harus diulangi dari awal.

Demikian penjelasan dari Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin [Majmu’ Fatawa Ibn Utsaimin, 11/146]

Darah Ketika Keguguran

>> Apabila seorang wanita mengalami keguguran, kemudian keluar darah, apa yang harus dilakukan?

Jawaban:

Kondisi semacam ini dikembalikan kepada jenis darah yang keluar, apakah darah nifas ataukah darah istihadhah. Para ulama memberikan batasan: “Darah yang keluar setelah wanita melahirkan karena keguguran, dan janin sudah berbentuk manusia, maka dihukumi darah nifas. Namun jika darah ini keluar, sementara janin yang keguguran baru sebatas segumpal darah atau daging, maka tidak dihukumi nifas.” [Al-Mughni, 1/392).

Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin mengatakan:

Ketika janin yang keguguran belum berbentuk manusia, maka dalam keadaan ini darah yang keluar adalah darah istihadhah. Wanita ini disyariatkan untuk berwudhu setiap hendak melaksanakan shalat, setelah masuk waktu shalat, dan boleh langsung melaksanakannya. Adapun jika janin yang keguguran sudah berbentuk makhluk (manusia), atau sudah berada pada tahap pembentukan salah satu anggota badan, seperti tangan, kaki, atau kepala, maka darah yang keluar ketika persalinan dihukumi darah nifas.

Jika ada yang mengatakan: Proses persalinan ini dilakukan di rumah sakit, sementara para tim medis langsung mengambilnya dan mengamankannya, sehingga orang tuanya tidak tahu. Lalu apa yang harus dilakukan? Syaikh Utsaimin menjawab: Para pakar telah menyebutkan, bahwa batas waktu minimal, di mana bisa kelihatan pembentukan salah satu anggota badan adalah 81 hari usia kehamilan. [Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin, 4/292]

Komentar Syaikh Muhammad Munajid:

Namun selayaknya, masalah semacam ini dikonsultasikan kepada para dokter. Kemudian disesuai dengan prediksi dokter, sehingga dia bisa mendapatkan informasi yang lebih valid tentang janinnya.

Darah Yang Keluar Sebelum Melahirkan

>> Apa hukum darah yang keluar sebelum melahirkan?

Jawaban:

Tentang darah yang keluar beberapa saat sebelum melahirkan dirinci menjadi dua:

  1. Jika keluarnya darah tersebut disertai dengan sakitnya kontraksi karena proses pembukaan, maka darah adalah darah nifas.
  2. Jika keluarnya darah tersebut TIDAK disertai dengan kontraksi, maka darah itu bukan nifas, tetapi istihadhah.

Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin menerangkan bahwa Syaikhul Islam Ibn Taimiyah mengatakan:

Darah yang dilihat wanita ketika mulai berkontraksi, maka statusnya adalah darah nifas. Yang dimaksud kontraksi adalah proses pembukaan yang meruapakan tahapan proses melahirkan. Jika tidak disertai semacam ini, maka bukan nifas. [Majmu’ Fatawa Syaikh Ibn Utsaimin, 4/328]

Ketika Tidak Bisa Khusyu Dalam Shalat

>> Apa yang harus dilakukan, ketika kita merasa mendapat gangguan dari setan, terlintas pikiran yang mengganggu konsentrasi shalat, sehingga menyebabkan kita tidak bisa khusyu dalam shalat?

Jawaban:

Kasus semacam ini pernah dialami oleh salah seorang sahabat, yaitu Utsman bin Abil ‘Ash radhiallahu ‘anhu. Beliau datang kepada Nabi ﷺ mengadukan gangguan yang dia alami ketika shalat. Kemudian beliau ﷺ bersabda:

ذاك شيطان يقال له خنزب فإذا أحسسته فتعوذ بالله منه واتفل على يسارك ثلاثاً

“Itu adalah setan, namanya Khinzib. Jika kamu merasa diganggu, mintalah perlilndungan kepada Allah dari gangguannya, dan meludahlah ke kiri tiga kali.”

Kata Utsman: Akupun melakukannya, kemudian Allah menghilangkan gangguan itu dariku. [HR. Muslim no. 2203]

Pelajaran Hadis:

  1. Dalam hadis di atas, Nabi ﷺ mengajarkan kepada kita dua cara untuk menghilangkan gangguan setan dalam shalat:
  2. Memohon perlindungan kepada Allah, dengan membaca Ta’awudz (a-‘udzu billahi minas syaithanir rajiim). Bacaan ini dilafalkan, BUKAN dibatin. Dan ini hukumnya dibolehkan dan TIDAK membatalkan shalat.
  3. Meludah ringan ke kiri. Bentuknya dengan meniupkan udara yang mengandung sedikit air ludah. Ini dibolehkan, dengan syarat tidak mengganggu orang yang berada di sebelah kirinya, dan tidak mengotori masjid.

Allahu a’lam

Azan Subuh Terdengar Ketika Shalat Witir

>> Ketika sedang melaksanakan shalat Witir, tiba-tiba di tengah shalat terdengar azan Subuh. Bolehkah kita melanjutkan shalat Witir?

 

Jawaban:

Ketika seseorang mendengar azan Subuh, sementara dia sedang shalat Witir, maka dia sempurnakan shalat Witirnya, dan semacam ini dibolehkan. [Fatawa Islamiyah Syaikh Ibn Utsaimin, 1:346]

Permasalahan semacam ini sebenarnya termasuk dalam pembahasan waktu shalat Witir. Ulama berselisih pendapat, apakah berakhirnya waktu shalat Witir itu sampai terbit fajar ataukah sampai selesainya shalat Subuh. Mayoritas Ulama berpendapat, waktu berakhirnya shalat Witir adalah sampai terbit fajar. Meskipun banyak ulama lainnya yang membolehkan shalat Witir setelah azan Subuh, bagi yang berhalangan, sehingga tidak bisa melaksanakannya sebelum Subuh. [Mausu’ah Fiqhiyah Muyassarah]

Belum Ashar Tetapi Shalat Maghrib Sudah Dimulai

>> Ketika seseorang belum sempat melaksanakan shalat Ashar karena alasan yang dibenarkan, kemudian di datang ke masjid, dan ternyata shalat Maghrib telah dimulai, apa yang harus dilakukan?

Jawaban:

Syaikhul Islam Ibn Taimiyah rahimahullah mengatakan:

Dia disyariatkan untuk melaksanakan shalat Maghrib berjamaah bersama imam, kemudian shalat Ashar. Ini berdasarkan kesepakatan ulama. Apakah orang ini harus mengulangi shalat Maghribnya, setelah mengerjakan shalat Ashar? Dalam hal ini ada dua pendapat:

  1. Dia harus mengulangi Maghribnya. Ini adalah pendapat Ibn Umar, Imam Abu Hanifah, Imam Malik, dan pendapat yang masyhur dari Imam Ahmad.
  2. Tidak perlu mengulangi Maghribnya. Ini adalah pendapat Ibn Abbas, Imam Syafi’i, dan pendapat kedua Imam Ahmad.

Pendapat kedua lebih kuat. Karena Allah tidaklah mewajibkan seorang hamba untuk melaksanakan shalat wajib dua kali, jika sikapnya ini disebabkan adanya uzur, diperbolehkan. [Majmu’ Fatawa Ibn Taimiyah, 22:106]

Makmum TidakMengetahui Apakah Imam Musafir atau Mukim

>> Ketika seorang musafir hendak mengikuti shalat jamaah, sementara dia tidak tahu apakah imamnya itu musafir ataukah penduduk asli, kemudian si musafir ini mengikuti shalat jamaah menjadi makmum, apakah dia niatkan untuk qashar ataukah niat sebagaimana shalatnya orang mukim, empat rakaat?

Jawaban:

Yang lebih kuat, hendaknya dia melihat ciri imamnya, sehingga bisa memerkirakan, apakah dia musafir ataukah mukim. Kemudian dia mengambil sikap sebagaimana dugaan kuat yang dia ketahui. Dalilnya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Ibn Abbas, bahwa beliau ditanya: Mengapa musafir shalatnya diqashar ketika sendirian dan empat rakaat ketika menjadi makmum orang yang mukim? Beliau menjawab: “Itu adalah sunnah Abul Qasim (Nabi Muhammad ﷺ).” Hadis ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir dalam ta’liq beliau untuk musnad Imam Ahmad.

Catatan:

Seorang musafir menjadi makmum masbuk, ketinggalan dua rakaat, dan dia berniat qashar, karena beranggapan imamnya seorang musafir, padahal imamnya bukan musafir. Setelah salam bersama imam, dia mendapat info, bahwa imam bukan musafir. Maka dia harus menambahi dua rakaat lagi untuk menyempurnakan shalatnya dan Sujud Sahwi setelah salam. Demikian keterangan Imam an-Nawawi dalam al-Majmu’, 4:356. Syaikh Muhammad al-Munajid menambahkan: Pembicaraan yang dilakukan orang ini di sela-sela shalatnya (setelah salam di rakaat kedua), tidaklah menyebabkan shalatnya putus. Namun dia dibolehkan melanjutkan dan menyempurnakan shalatnya, tanpa harus memulai dari awal. Selama pembicaraan itu bertujuan untuk kepentingan shalatnya.

Bolehnya Melakukan Gerakan Ringan di Luar Shalat, Bila Ada Kebutuhan Mendesak

>> Ketika di tengah shalat, tiba-tiba ada orang yang mengetuk pintu. Atau ada seorang ibu yang shalat, sementara bayinya melakukan tindakan yang berbahaya, apa yang harus dilakukan?

Jawaban:

Dibolehkan bagi orang yang shalat untuk melakukan gerakan ringan, karena suatu kebutuhan yang mendesak, dengan syarat, tidak mengubah arah Kiblatnya. Seperti membukakan pintu yang berada di arah Kiblat.

Dalilnya adalah hadis yang diriwayatkan Abu Daud, dari A’isyah radhiallahu ‘anha, beliau mengatakan:

Rasulullah ﷺ pernah shalat, sementara pintu rumah terkunci. Kemudian saya datang, dan saya minta agar dibukakan. Beliau ﷺ pun berjalan dan membukakan pintu, lalu beliau kembali lagi ke tempat shalatnya. Disebutkan bahwa pintu rumah beliau berada di arah Kiblat. [HR. Abu Daud no. 922 dan dishahihkan al-Albani]

Demikian pula seorang ibu yang sedang shalat, dan dia melihat anaknya melakukan hal yang membahayakan, maka dia dibolehkan untuk melakukan gerakan ringan ke kanan, ke kiri, ke depan, atau belakang. Dan ini tidak merusak shalatnya. Termasuk dalam hal ini adalah orang yang shalat, tiba-tiba sarungnya mau lepas, maka dia dibolehkan untuk melakukan gerakan dalam rangka mengencangkan sarungnya. Bahkan dalam kondisi tertentu yang sangat mendesak, syariat membolehkan melakukan gerakan yang banyak, meskipun menyebabkan Kiblatnya berubah. Sebagaimana disebutkan dalam hadis dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Bunuhlah dua hewan yang hitam (meskipun) ketika sedang shalat, yaitu ular dan kalajegking.” [HR. Abu Daud no. 921 dan dishahihkan al-Albani]

Cara Menjawab Salam Ketika Shalat

>> Bagaimana cara menjawab salam ketika shalat?

Jawaban:

Dari Shuhaib bin Sinan radhiallahu ‘anhu, beliau mengatakan: “Saya melewati Nabi ﷺ ketika beliau sedang shalat. Kemudian saya mengucapkan salam kepada beliau dan beliau menjawabnya dengan isyarat.” [HR. Abu Daud no. 925 dan dishahihkan al-Albani)

Bagaimana Cara Isyaratnya?

Disebutkan dalam beberapa riwayat, di antaranya dari Ibn Umar radhiallahu ‘anhuma, beliau mengatakan: Rasulullah ﷺ pernah berangkat menuju masjid Quba untuk melaksanakan shalat. Kemudian datanglah sekelompok masyarakat Anshar dan mengucapkan salam kepada beliau ﷺ, ketika beliau sedang shalat. Ibn Umar bertanya kepada Bilal: “Bagaimana yang kamu lihat ketika Nabi ﷺ menjawab orang Anshar yang mengucapkan salam kepada beliau, sementara beliau ﷺ sedang shalat?” Bilal menjawab: “Beliau ﷺ berisyarat seperti ini.” Bilal membuka telapak tangannya. Salah seorang perawi yang bernama Ja’far bin ‘Aun membuka telapak tangannya, di mana bagian telapak tangan mengarah ke bawah dan bagaian punggung mengarah ke atas. [HR. Abu Daud no. 927 dan dishahihkan al-Albani]

>> Supaya Tidak Malu, Bagaimana Cara Meninggalkan Tempat Shalat Ketika Berhadats?

Jika ada orang yang berhadats ketika shalat jamaah, apa yang harus dia lakukan untuk bisa meninggalkan tempat, tanpa menimbulkan rasa malu?

Jawaban:

Hendaknya dia pegang hidungnya, kemudian keluar. Dalil tentang hal ini adalah hadis dari A’isyah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا أَحْدَثَ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ فَلْيَأْخُذْ بِأَنْفِهِ ثُمَّ لِيَنْصَرِفْ

“Apabila kalian berhadats ketika shalat jamaah, maka hendaknya dia pegang hidungnya kemudian dia meninggalkan tempat.” [HR. Abu Daud no. 1114 dan dishahihkan al-Albani)

Imam at-Thibi mengatakan: Adanya perintah memegang hidung ketika batal shalatnya, agar dikira dia mimisan. Dan ini tidak termasuk berbohong, namun sebatas menutupi keadaan dengan perbuatan. Tindakan semacam ini mendapatkan keringanan, agar setan tidak menggodanya untuk tidak melaksanakan jamaah karena malu dengan jamaah lainya. [Lihat Mirqatul Mafatih, 3: 18]

Syaikh Muhammad Munajid memberika komentar:

Semacam ini termasuk tauriyah yang dibolehkan, dan tindakan menutupi diri dengan bentuk yang terpuji, dalam rangka menghilangkan rasa malu. Sehingga orang yang melihatnya menyangka, kalau dia keluar disebabkan mimisan di hidungnya. Disamping itu, manfaat lain dari petunjuk Nabi ﷺ ini adalah untuk menghilangkan godaan setan, dengan tetap berada di shaf atau melanjutkan jamaah, sementara dia berhadats. Ini merupakan tindakan yang tidak Allah ridhai. Betapa tidak, padahal Nabi ﷺ mensyariatkan untuk pergi.

Meski Sudah Shalat, Tetap Diperintahkan Shalat Lagi. Kenapa?

>> Seseorang telah melaksanakan shalat di suatu masjid, kemudian dia berangkat menuju masjid yang lain untuk acara kegiatan tertentu, seperti kajian atau yang lainnya. Sesampainya di masjid kedua, ternyata shalat belum selesai. Apa yang harus dia lakukan?

Jawaban:

Hendaknya dia masuk masjid dan langsung ikut shalat berjamaah, dan dia niatkan sebagai shalat sunnah. Shalat ini boleh dilakukan, meskipun dilakukan di waktu-waktu yang terlarang untuk shalat. Dalilnya adalah hadis dari Yazid bin Aswad radhiallahu ‘anhu, beliau mengatakan:

Aku ikut haji bersama Nabi ﷺ. Kemudian aku shalat Subuh bersama beliau ﷺ di Masjid Khaif. Setelah selesai shalat, beliau ﷺ berbalik. Tiba-tiba ada dua orang duduk di belakang yang tidak ikut shalat bersama beliau ﷺ. Beliau ﷺ bersabda: “Suruh dua orang itu ke sini.” Keduanya pun disuruh menghadap Nabi ﷺ, sementara badannya gemetaran (karena takut). Beliau ﷺ bertanya: “Apa yang menghalangimu, sehingga tidak shalat jamaah bersama kami?” Mereka menjawab: Wahai Rasulullah, kami tadi sudah shalat di jalan. Kemudian beliau ﷺ bersabda: “Jangan kamu lakukan itu. Jika kalian telah shalat di jalan, kemudian kalian singgah di masjid yang sedang dilaksanakan jamaah, ikutlah shalat bersama mereka. Sesungguhnya shalat yang kedua ini menjadi shalat sunnah bagi kalian.” [HR. Turmudzi no. 219 dan dishahihkan al-Albani]

Syaikh Muhammad Munajid mengatakan:

Dalam hadis di atas disebutkan, bahwa kedua orang tersebut datang ke masjid setelah melaksanakan shalat Subuh. Dan ini termasuk waktu terlarang. Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam al-Muwatha’, dari Mihjan radhiallahu ‘anhu, bahwa beliau berada di majelis Nabi ﷺ. Tiba-tiba azan dikumandangkan. Rasulullah ﷺ pun melaksanakan shalat bersama jamaah, sementara Mihjan tetap berada di tempat duduknya dan tidak ikut shalat berjamaah. Rasulullah ﷺ bertanya: “Apa yang menghalangimu untuk ikut shalat jamaah? Bukankah kamu seorang Muslim?” Mihjan menjawab: “Betul, wahai Rasulullah, akan tetapi saya sudah shalat di rumahku.” Nabi ﷺ bersabda: “Jika kamu datang (di masjid), shalatlah berjamaah bersama masyarakat. Meskipun kamu sudah shalat.” [Al-Muwatha’, 1:130 dan dishahihkan al-Albani]

Ketika Hendak Shalat, Tapi Tidak Tahu Arah Kiblat

>> Jika dalam suatu tempat kita tidak tahu arah Kiblat, apa yang harus dilakukan?

Jawaban:

Yang harus dilakukan ketika orang hendak shalat, sementara dia tidak tahu Kiblat adalah:

Ibn Qudamah [Al-Mughni dengan as-Syarhul Kabir, 1: 490] mengatakan:

Orang yang tidak tahu arah Kiblat, maka dia wajib bertanya jika memungkinkan. Jika tidak, maka dia boleh berijtihad (berusaha mencari berdasarkan indikator tertentu), jika dia mampu melakukannya. Jika dia tidak mampu (sementara dia rombongan), maka dia mengikuti orang yang layak untuk diikuti dalam masalah ini. Jika tidak ada yang bisa diikuti (karena sama-sama tidak tahu), maka bertaqwalah kepada Allah semampunya, dan dia boleh shalat (ke arah yang dia yakini sebagai Kiblat) dan shalatnya sah (meskipun bisa jadi Kiblatnya salah). Akan tetapi bagi orang yang memungkinkan untuk mencari arah Kiblat, namun dia santai dan tidak berusaha mencarinya, kemudian langsung shalat, maka shalatnya batal dan wajib diulangi, karena orang ini dianggap meremehkan (arah Kiblat).

Jika Masing-Masing Anggota Rombongan Anggota Berbeda Pendapat dalam Menentukan Arah Kiblat

>> Jika dalam rombongan masing-masing anggota berbeda pendapat dalam menentukan arah Kiblat, bagaimana solusinya?

Jawaban:

Ulama berselisih pendapat tentang bolehnya mengikuti anggota rombongan yang lain. Apakah sah shalat salah satu anggota rombongan yang bermakmum di belakang anggota rombongan yang lain, sementara keduanya berbeda pendapat dalam menentukan arah Kiblat? Namun jika ada di antara mereka yang sama sekali tidak memahami Kiblat, maka dia harus memilih salah satu anggota rombongan yang paling bisa dipercaya dalam menentukan arah Kiblat, kemudian dia ikuti. [Al-Mughni dengan as-Syarhul Kabir, 1:473]

Jika ada orang yang shalat berjamaah, kemudian di tengah-tengah shalat mereka sadar bahwa arah Kiblatnya keliru, maka mereka harus bersama-sama mengubah arah Kiblat TANPA membatalkan shalat. Demikian pula, untuk orang yang shalat sendirian. Jika di tengah shalat, dia diberi tahu bahwa arah Kiblatnya salah, maka wajib untuk langsung mengubah arah, tanpa membatalkan shalat, kemudian langsung melanjutkannya.

Dalilnya adalah hadis Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, beliau mengatakan:

Dulu Rasulullah ﷺ shalat menghadap ke Baitul Maqdis (Palestina). Kemudian turun firman Allah:

قد نرى تقلب وجهك في السماء فلنولينك قبلة ترضاها فولِّ وجهك شطر المسجد الحرام

“Kami telah mengetahui bolak-balik wajahmu yang menengadahkan ke langit. Sungguh Kami akan mengubah arah Kiblat ke arah yang kamu inginkan. Karena itu, hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram.” [QS. Al-Baqarah: 144]

Setelah itu ada seseorang yang mendatangi Bani Salamah. Ketika itu mereka sedang shalat Subuh pada posisi sedang rukuk di rakaat kedua, kemudian orang ini berteriak: “Ketahuilah, arah Kiblat telah dipindah (ke Baitullah).” Kemudian jamaah ini memutar diri mereka ke arah Kiblat dalam posisi sebagaimana sebelumnya (rukuk). [HR. Muslim, no. 527]

Jika Makmum Ketinggalan Beberapa Gerakan Imam

>> Seorang wanita yang shalat berjamaah di balik tabir, sehingga tidak bisa melihat gerakan makmum lelaki, sementara suara imam tidak terdengar karena sebab tertentu, atau makmum ngantuk, sehingga ketinggalan beberapa gerakan imam, apa yang harus dilakukan?

Jawaban:

Dalam kondisi semacam ini, yang harus dilakukan makmum adalah melakukan rukun yang ketinggalan, hingga bisa mengejar imam. Ada beberapa keadaan, yang bisa dibawa dalam permasalahan ini:

Pertama: Imam membaca Ayat Sajdah, kemudian takbir. Makmum yang tidak melihat mengira imam Sujud Tilawah. Padahal aslinya imam rukuk. Setelah itu imam membaca: “sami’allahu liman hamidah”, sehingga makmum tadi tidak sempat melaksanakan rukuk bersama imam. Untuk kasus semacam ini, makmum tersebut harus langsung melaksanakan rukuk, i’tidal, hingga bisa menyusul imam. Karena mereka menyelisihi imam di luar kesengajaan.

Kedua, orang yang memerlama sujud agar bisa lebih banyak berdoa, sehingga dia ketinggalan rukun setelahnya bersama imam, Mayoritas Ulama berpendapat: Orang yang ketinggalan dua rukun berturut-turut bersama imam dengan sengaja dan tanpa uzur yang dibenarkan, maka shalatnya batal. [Kasyaful Qana’, 1: 467]

Dalil yang menunjukkan wajibnya mengikuti imam adalah sabda Nabi ﷺ:

إنما جعل الإمام ليؤتم به، فلا تختلفوا عليه، فإن ركع فاركعوا، وإذا قال سمع الله لمن حمده، فقولوا: ربنا لك الحمد، وإذا سجد فاسجدوا، وإذا صلّى جالساً فصلوا جلوساً أجمعون

“Sesungguhnya imam ditunjuk untuk diikuti. Karena itu janganlah kalian menyelisihinya. Jika dia rukuk, maka rukuklah kalian. Jika dia mengucapkan: Sami’allahu liman hamidah, maka ucapkanlah: Robbanaa lakal hamdu. Jika dia sujud, maka sujudlah. Jika dia shalat sambil duduk, maka shalatlah kalian semua sambil duduk.” [HR. Bukhari, no. 689]

Tiba-Tiba Imam Teringat Dia Belum Bersuci

>> Ketika shalat jamaah sedang berlangsung, tiba-tiba imam teringat, bahwa dia belum bersuci, apa yang dilakukan?

Jawaban:

Ada tiga cara yang bisa dilakukan imam:

  • Pertama, dia membatalkan shalat, keluar dari jamaah, dan menunjuk salah seorang di belakangnya untuk menggantikan posisinya sebagai imam hingga shalat selesai. Sebagaimana terdapat riwayat dari Umar, Ali, Alqamah, dan Atha’. Di antaranya adalah riwayat dari Umar bin Khatab radhiallahu ‘anhu, bahwa setelah beliau ditikam Abdullah bin Saba’, umar memegang tangan Abdurrahman bin Auf, dan menyuruhnya untuk menggantikan posisinya. Hadis ini diriwayatkan Bukhari (7/60). Tindakan Umar ini dilakukan di depan para sahabat, dan tidak ada satu pun yang mengingkarinya, sehingga dihukumi sebagai kesepakatan mereka.
  • Kedua, imam membatalkan shalat dan tidak menunjuk pengganti. Kemudian masing-masing makmum shalat sendiri-sendiri. Ini adalah pendapat Imam as-Syafi’i.
  • Ketiga, imam menyuruh makmum untuk tetap diam di tempat (tidak membatalkan shalat). Kemudian imam bersuci, lalu kembali ke tempat semula dan melanjutkan shalat jamaah. Ini berdasarkan hadis dari Abu Bakrah radhiallahu ‘anhu, beliau mengatakan:

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم، دخل في صلاة الفجر فأومأ بيده أن مكانكم ثم جاء ورأسه يقطر فصلى بهم

Bahwa Rasulullah ﷺ mengimami sahabat shalat Subuh. Tiba-tiba beliau ﷺ berisyarat kepada para sahabat agar tetap berada di tempatnya. (Kemudian beliau pergi), lalu beliau kembali, sementara kepalanya meneteskan air, dan beliau shalat jamaah bersama mereka. [HR. Abu Daud no. 233 dan dishahihkan al-Albani]

Imam Abu Daud membuat judul bab untuk hadis ini:

باب فى الجنب يصلى بالقوم وهو ناس

Bab, Orang Junub Mengimami Shalat Jamaah Karena Lupa. [Sunan Abu Daud, 1/93]

Dalam Syarh Abu Daud, Imam al-Khatabi mengatakan:

Dalam hadis ini terdapat dalil, bahwa jika ada imam yang shalat dalam keadaan junub, sementara makmum tidak tahu bahwa imam junub, maka shalatnya tetap dilanjutkan dan tidak wajib diulangi. Sedangkan imam wajib mengulangi shalatnya. [Ma’alimus Sunan, 1/78]

Jikat Makmum Melihat Aurat Imam Terbuka Ketika Shalat

>> Makmum melihat aurat imam terbuka dari belakang ketika shalat, baik karena bajunya robek atau terlalu ketat sehingga tertarik. Apa yang harus dilakukan makmum?

Ada dua cara yang bisa dilakukan makmum:

  • Pertama, dia maju kemudian membenahi pakaian imam atau menutupinya dengan kain yang lain. Cara pertama ini jika memungkinkan untuk dilakukan.
  • Kedua, membatalkan shalatnya dan keluar dari jamaah, kemudian mengingatkan imam. Misalnya dengan mengatakan: tutup aurat kita atau semacamnya.

Makmum yang mengetahui aurat imam terbuka tidak boleh diam saja dan tetap melanjutkan shalat. Karena dia mengetahui, bahwa shalatnya imam tidak sah (dengan terbukanya aurat, pen), sehingga bermakmum di belakangnya juga tidak sah. [Demikian keterangan dari Fatwa Syaikh Ibn Baz secara lisan]

Jika Imam Lupa Salah Satu Ayat yang Dia Baca

>> Jika imam lupa salah satu ayat yang dia baca, sementara tidak ada satu pun makmum yang mengingatkannya, apa yang harus dilakukan?

Jawaban:

Jika ayat yang kelupaan itu selain al-Fatihah, maka imam bisa melakukan beberapa pilihan:

  1. Berhenti membaca dan langsung rukuk
  2. Membaca ayat atau surat yang lain

Akan tetapi jika yang kelupaan adalah bacaan al-Fatihah, maka wajib dibaca semuanya, dan tidak boleh ada yang salah atau lupa. Karena membaca al-Fatihah merupakan rukun shalat. [Fatwa Ibnu Baz dalam Fatawa Islamiyah no. 396]

Bagaimana Jika Makmum Lupa Membaca Al-Fatihah?

>> Bagaimana jika makmum lupa membaca al-Fatihah, atau salah dalam membaca al-Fatihah? Padahal tidak mungkin ada yang mengingatkan.

Shalatnya makmum tetap sah, selama dia berjamaah bersama imam yang shalatnya sah. Dalilnya adalah hadis Abu Bakrah radhiallahu ‘anhu, yang ikut bergabung ke dalam jamaah ketika Nabi ﷺ sedang rukuk, dan dia (Abu Bakrah – pent) tidak membaca al-Fatihah. Kemudian Nabi ﷺ bersabda kepadanya:

زادك الله حرصاً ولا تعد

“Semoga Allah menambahkan semangatmu, dan jangan diulangi” [HR. Bukhari, no. 750]

Maksud beliau ﷺ adalah, jangan diulangi sikap buru-buru, karena Abu Bakrah datang sambil berlari untuk mengejar rukuknya imam.

Berdasarkan hadis ini, jika makmum lupa membaca al-Fatihah, atau tidak bisa membacanya, atau dia mulai ikut shalat jamaah ketika imam sedang rukuk, maka dalam kondisi ini shalatnya sah, dan tidak perlu diulangi. Karena dia tidak tahu, atau lupa. Ini merupakan pendapat Mayoritas Ulama. [Fatwa Syaikh Ibn Baz dalam Fatawa Islamiyah, 1/263]

Lupa Membaca: Subhana Rabbiyal Adziim Ketika Rukuk

>> Jika ada orang yang shalat melakukan I’tidal, setelah berdiri dia ingat, bahwa dia belum membaca: Subhana rabbiyal adziim ketika rukuk. Apa yang harus dilakukan?

Jawaban:

Orang ini tidak boleh kembali rukuk, karena kesempatan membaca doa rukuk telah berlalu dengan dia mulai i’tidal. Jika dia tetap kembali rukuk dengan sengaja, maka shalatnya batal, karena dia dianggap menambahi rukun shalat, yaitu rukuk dua kali dalam satu rakaat. Jika dia kembali rukuk karena lupa, maka salatnya tidak batal.

Selanjutnya, dalam kondisi lupa membaca doa rukuk, hendaknya dia melakukan Sujud Sahwi, jika dia salat sendirian atau menjadi Imam. Karena membaca doa rukuk hukumnya wajib, dan bisa ditutupi dengan Sujud Sahwi jika kelupaan.

Adapun jika dia sebagai makmum, maka kewajiban itu gugur, ketika dia lupa membacanya. Sehingga tidak perlu Sujud Sahwi. [Al-Mughni dengan as-Syarh al-Kabir, 1/679]

Ketika Makmum yang Masbuk Berdiri untuk Menyempurnakan Rakaat yang Ketinggalan, Tiba-Tiba Imam Sujud Sahwi Setelah Salam

>> Jika imam salam, kemudian makmum yang masbuk berdiri untuk menyempurnakan rakaat yang ketinggalan, tiba-tiba imam Sujud Sahwi setelah salam. Apa yang harus dilakukan makmum tersebut?

Jawaban:

Ada dua pilihan yang bisa dia lakukan, sesuai kondisinya:

  1. Jika makmum belum berdiri sempurna, maka dia kembali dan ikut Sujud Sahwi bersama imam.
  2. Jika dia sudah berdiri sempurna, maka dia tidak perlu kembali dan dilanjutkan menyelesaikan shalatnya. Kemudian setelah selesai salam, dia Sujud Sahwi. [Al-Mughni dengan as-Syarh al-Kabir, 1/697]

Bagaimana Cara Mengingatkan Imam Ketika Dia Lupa dan Meninggalkan Salah Satu Rukun Shalat?

>> Jika imam lupa dalam bentuk meninggalkan sujud kedua, kemudian para makmum mengingatkan dengan membaca tasbih, Subhanallah, namun imam tidak paham di mana letak kesalahannya, lalu imam malah berdiri ke rakaat berikutnya, karena mengira itu yang benar, apa yang harus dilakukan makmum?

Jawaban:

Para ulama memberikan keterangan terkait dengan cara memahamkan imam. Di antaranya adalah dengan mengeraskan bacaan untuk rukun yang ditinggalkan. Misalnya makmum mengeraskan bacaan: ‘subhana rabbiyal a’la‘ jika yang ditinggalkan adalah sujud, atau ‘rabbighfirlii….‘ jika yang ditinggalkan adalah duduk di antara dua sujud, dst.  [Al-Mughni dengan as-Syarh al-Kabir, 1/707]

 

***

Disusun oleh Ustadz Ammi Nur Baits

[Muslimah.or.id]

Sumber:

https://Muslimah.or.id/2019-apa-yang-harus-anda-lakukan-ketika-kondisi-berikut-bagian-1.html

https://Muslimah.or.id/2161-apa-yang-harus-anda-lakukan-ketika-kondisi-berikut-bagian-2.html

https://Muslimah.or.id/2420-apa-yang-harus-anda-lakukan-dalam-kondisi-berikut-bagian-3.html

https://Muslimah.or.id/2631-apa-yang-harus-anda-lakukan-dalam-kondisi-berikut-bagian-4.html

,

BAGAIMANA JIKA LUPUT DARI MENGERJAKAN RAWATIB ZUHUR?

BAGAIMANA JIKA LUPUT DARI MENGERJAKAN RAWATIB ZUHUR?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

BAGAIMANA JIKA LUPUT DARI MENGERJAKAN RAWATIB ZUHUR?

Kalau luput dari shalat empat rakaat sebelum Zuhur, maka boleh mengerjakannya ketika selesai melaksanakan shalat Zuhur. Dalilnya adalah:

Aisyah mengatakan, bahwa jika Nabi ﷺ luput dari mengerjakan empat rakaat sebelum (Qabliyah) Zuhur, beliau ﷺ mengerjakannya sesudah melaksanakan shalat Zuhur (yaitu setelah badiyah Zuhur, -pen.). [HR. Tirmidzi, no. 426; Ibnu Majah, no. 1158]

Bagaimana jika luput dari dua rakaat Bada (Badiyah) Zuhur?

Boleh meng-qadha shalat ini setelah shalat Ashar sebelum matahari menguning. Namun hendaknya hal ini tidak dijadikan kebiasaan. Dalam Shahih Bukhari Muslim diceritakan, bahwa Nabi ﷺ pernah disibukkan dengan masuk Islamnya beberapa orang dari kaum Abdul Qoys. Lalu beliau ﷺ luput dari shalat dua rakaat bada Zuhur, dan meng-qadhanya setelah shalat Ashar.

 

Sumber: https://rumaysho.com/13091-shalat-rawatib-di-waktu-Zuhur.html

,

JUMAT INI, CATATAN MALAIKAT MENUNGGUMU DI PINTU-PINTU MASJID

JUMAT INI, CATATAN MALAIKAT MENUNGGUMU DI PINTU-PINTU MASJID

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MutiaraSunnah #SifatSholatNabi

JUMAT INI, CATATAN MALAIKAT MENUNGGUMU DI PINTU-PINTU MASJID
>> Jangan Lewatkan Kesempatan Mulia Ini

Rasulullah ﷺ bersabda:

إذا كان يومُ الجمعةِ كان على كلِّ بابٍ من أبوابِ المسجدِ الملائكة يكتبون الأولَ فالأولَ، فإذا جلس الإمامُ طوَوُا الصحفَ وجاؤوا يستمعون الذكرَ.

“Apabila Jumat tiba, maka akan ada para malaikat di setiap pintu-pintu masjid. Mereka akan mencatat orang yang pertama kali datang, lalu berikutnya, dan berikutnya, sampai apabila imam telah duduk di mimbarnya, mereka pun melipat catatan-catatan tersebut. Lantas mereka pun datang dan ikut mendengarkan khutbah.” [HR Bukhari 3211]

, ,

TUJUH KAIDAH DALAM MENAGIH UTANG

TUJUH KAIDAH DALAM MENAGIH UTANG

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#FikihJualBeli
#AdabAkhlak

TUJUH KAIDAH DALAM MENAGIH UTANG

Oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Islam tidak pernah menyia-nyiakan amal hamba. Sampai pun sekadar memberikan bantuan yang ringan bagi orang lain. Termasuk memberikan utang kepada orang lain, yang itu pasti dikembalikan. Padahal kita tahu, dalam memberikan utang untuk tempo pendek, tidak ada harta kita yang berkurang, selain karena pengaruh propaganda orang kafir, penurunan nilai mata uang (time value of money).

Namun umumnya orang yang memberi utang, merasa cemas ketika uangnya yang berada di tangan orang lain. Dan Allah yang Maha Pemurah tidak menyia-nyiakan kebaikan hamba, sekalipun yang dia koribuankan hanya perasaaan dan kecemasan, karena menyerahkan uang kepada orang lain. Allah gantikan ini dengan pahala.

Dalam hadis, dari Ibn Mas’ud, Nabi ﷺ bersabda:

كل قرض صدقة

“Setiap mengutangi orang lain adalah sedekah.” [HR. Thabrani dengan sanad Hasan, al-Baihaqi, dan dishahihkan al-Albani]

Kemudian, dari Abu Umamah, Nabi ﷺ bersabda: “Ada seseorang yang masuk Surga, kemudian dia melihat ada tulisan di pintunya:

الصدقة بعشر أمثالها والقرض بثمانية عشر

“Sedekah itu nilainya sepuluh kalinya, dan utang nilainya 18 kali.” [HR. Thabrani, al-Baihaqi dan dishahihkan al-Albani dalam Shahih Targhib]

Juga dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَقْرَضَ اللَّهَ مَرَّتَيْنِ، كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ أحدهما لو تصدق به

Siapa yang memberi utang dua kali karena Allah, maka dia mendapat pahala seperti sedekah dengannya sekali. [HR. Ibnu Hibban 5040 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth].

Terlebih lagi ketika orang yang berutang mengalami kesulitan, kemudian dia memberikan penundaan pembayaran. Rasulullah ﷺ janjikan pahala yang besar. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا أَوْ وَضَعَ لَهُ، أَظَلَّهُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لا ظِلَّ إِلا ظِلُّهُ

Barang siapa yang memberi waktu tunda pelunasan bagi orang yang kesusahan membayar utang atau membebaskannya, maka Allah akan menaunginya dalam naungan (Arsy)-Nya pada hari Kiamat, yang tidak ada naungan selain naungan (Arsy)-Nya. [HR. Ahmad, 2/359, Muslim 3006,  dan Turmudzi 1306, dan dishahihkan al-Albani].

Beberapa Aturan dalam Menagih Utang

Islam memberikan aturan dalam masalah utang-piutang, agar orang yang memberikan utang (kreditur) tidak terjebak dalam kesalahan dan dosa besar, yang akan membuat amalnya sia-sia. Dosa itu adalah dosa riba dan kezaliman. Karena umumnya riba dan tindakan kezaliman, terjadi dalam masalah utang piutang.

Kaidah Pertama

Islam menyarankan agar dilakukan pencatatan dalam transaksi utang piutang. Terlebih ketika tingkat kepercayaanya kurang sempurna. Semua ini dalam rangka menghendari sengketa di belakang. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ وَلْيَكْتُبْ بَيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah[179] tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. [QS. al-Baqarah: 282]

Dalam tafsir as-Sa’di dinyatakan:

الأمر بكتابة جميع عقود المداينات إما وجوبا وإما استحبابا لشدة الحاجة إلى كتابتها، لأنها بدون الكتابة يدخلها من الغلط والنسيان والمنازعة والمشاجرة شر عظيم

Perintah untuk mencatat semua transaksi utang piutang, bisa hukumnya wajib, dan bisa hukumnya sunah. Mengingat beratnya kebutuhan untuk mencatatnya. Karena jika tanpa dicatat, rentan tercampur dengan bahaya besar, kesalahan, lupa, sengketa dan pertikaian. [Tafsir as-Sa’di, hlm. 118].

Kaidah Kedua

Allah memerintahkan kepada orang yang memberikan utang, agar memberi penundaan waktu pembayaran, ketika orang yang berutang mengalami kesulitan pelunasan.

وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Jika (orang yang berutang itu) dalam kesulitan, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan  menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu  mengetahui. [QS. al-Baqarah: 280]

Al-Hafidz Ibnu Katsir mengatakan:

يأمر تعالى بالصبر على المعسر الذي لا يجد وفاء، فقال: { وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَة } لا كما كان أهل الجاهلية يقول أحدهم لمدينه إذا حل عليه الدين: إما أن تقضي وإما أن تربي ثم يندب إلى الوضع عنه، ويعد على ذلك الخير والثواب الجزيل

Allah perintahkan kepada orang yang memberi utang untuk bersabar terhadap orang yang kesulitan, yang tidak mampu melunasi utangnya. ”Jika (orang yang berutang itu) dalam kesulitan, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan.” Tidak seperti tradisi jahiliyah, mereka mengancam orang yang berutang kepadanya, ketika jatuh tempo pelunasan telah habis: ’Kamu lunasi utang, atau ada tambahan pembayaran (riba).’ Kemudian Allah menganjurkan untuk menggugurkan utangnya, dan Allah menjanjikan kebaikan dan pahala yang besar baginya [Tafsir Ibnu Katsir, 1/717].

Rasulullah ﷺ menjanjikan baginya pahala sedekah selama masa penundaan. Beliau ﷺ bersabda:

مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا كَانَ لَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ صَدَقَةٌ، وَمَنْ أَنْظَرَهُ بَعْدَ حِلِّهِ كَانَ لَهُ مِثْلُهُ، فِي كُلِّ يَوْمٍ صَدَقَةٌ

Siapa yang memberi tunda orang yang kesulitan, maka dia mendapatkan pahala sedekah setiap harinya. Dan siapa yang memberi tunda kepadanya setelah jatuh tempo, maka dia mendapat pahala sedekah seperti utang yang diberikan setiap harinya. [HR. Ahmad 23046, Ibnu Majah 2418 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth].

Kaidah Ketiga

Memberikan utang termasuk transaksi sosial, amal saleh yang berpahala. Karena itu, orang yang memberi utang dilarang mengambil keuntungan karena utang yang diberikan, apapun bentuknya, selama utang belum dilunasi.

Sahabat Fudhalah bin Ubaid radhiallahu ‘anhu mengatakan:

كل قرض جر منفعة فهو ربا

“Setiap piutang yang memberikan keuntungan, maka (keuntungan) itu adalah riba.”

Keuntungan yang dimaksud dalam riwayat di atas mencakup semua bentuk keuntungan, bahkan sampai bentuk keuntungan pelayanan. Dari Abdullah bin Sallam radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan:

إِذَا كَانَ لَكَ عَلَى رَجُلٍ حَقٌّ، فَأَهْدَى إِلَيْكَ حِمْلَ تِبْنٍ، أَوْ حِمْلَ شَعِيرٍ، أَوْ حِمْلَ قَتٍّ، فَلاَ تَأْخُذْهُ فَإِنَّهُ رِبًا

“Apabila kamu mengutangi orang lain, kemudian orang yang diutangi memberikan fasilitas kepadamu dengan membawakan jerami, gandum, atau pakan ternak, maka janganlah menerimanya, karena itu riba.” [HR. Bukhari 3814].

Kemudian, diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu:

إذا أقرض أحدكم قرضا فأهدى له أو حمله على الدابة فلا يركبها ولا يقبله

“Apabila kalian mengutangkan sesuatu kepada orang lain, kemudian (orang yang berutang) memberi hadiah kepada yang mengutangi, atau memberi layanan berupa naik kendaraannya (dengan gratis), janganlah menaikinya dan jangan menerimanya.” [HR. Ibnu Majah 2432]

Keempat

Terkait nilai penurunan mata uang

Orang yang memberi utang, hendaknya siap menerima risiko penurunan nilai mata uang. Karena ulama sepakat, orang yang memberi utang hanya berhak meminta pengembalian sebesar uang yang dia berikan, tanpa memerhatikan keadaan penurunan nilai mata uang.

Dalam Mursyid al-Hairan – kitab mumalah Madzhab Hanafi – dinyatakan:

وإن استقرض شيئا من المكيلات والموزونات والمسكوكات من الذهب والفضة فرخصت أسعارها أو غلت فعليه رد مثلها ولا عبرة برخصها أو غلائها

Apabila orang berutang sesuatu berupa barang yang ditakar, atau ditimbang atau emas perak yang dicetak, kemudian harganya mengalami penurunan atau kenaikan, maka dia wajib mengembalikan utangnya sama seperti yang dia pinjam. Tanpa memerhitungkan penurunan maupun kenaikan harga. [Mursyid al-Hairan ila Ma’rifah Ahwalil Insan fil Muamalat ’ala Madzhabi Abu hanifah an-Nu’man, keterangan no. 805].

Ibnu Abidin mengatakan semisal:

إنه لا يلزم لمن وجب له نوعٌ منها سواه بالإجماع

Tidak ada kewajiban bagi orang yang memiliki utang selain yang sama dengannya, dengan sepakat ulama. [Tanbih ar-Ruqud ’ala Masail an-Nuqud, hlm. 64]

Demikian keterangan dalam Madzhab Hanafi. Keterangan yang sama juga disampaikan dalam Madzhab Syafiiyah.

As-Syairazi mengatakan:

ويجب على المستقرِض ردُّ المثل فيما له مثل؛ لأن مقتضى القرض: رد المثل

Wajib bagi orang yang berutang untuk mengembalikan yang semisal, untuk harta yang ada padanannya. Karena konsekuensi utang adalah mengembalikan dengan yang semisal. [al-Muhadzab, 2/81].

Kemudian, keterangan dalam Madzhab Hambali, kita simpulkan dari penjelasan Ibnu Qudamah:

 

الْمُسْتَقْرِضَ يَرُدُّ الْمِثْلَ فِي الْمِثْلِيَّاتِ، سَوَاءٌ رَخُصَ سِعْرُهُ أَوْ غَلَا، أَوْ كَانَ بِحَالِهِ

Orang yang berutang wajib mengembalikan yang semisal, untuk barang yang memiliki padanan. Baik harganya turun maupun naik atau sesuai keadaan awal. [al-Mughni, 4/244].

Di tempat lain, beliau mengatakan, bahwa itu sepakat ulama:

ويجب رد المثل في المكيل والموزون. لا نعلم فيه خلافا. قال ابن المنذر: أجمع كل من نحفظ عنه من أهل العلم، على أن من أسلف سلفا، مما يجوز أن يسلف، فرد عليه مثله، أن ذلك جائز وأن للمسلف أخذ ذلك

Wajib mengembalikan yang semisal untuk barang yang ditakar maupun ditimbang. Kami tidak mengetahui adanya perselisihan dalam masalah ini.

Ibnul Mundzir mengatakan:

”Semua ulama yang kami ketahui, mereka sepakat, bahwa orang yang berutang sesuatu yang halal, kemudian dia mengembalikan dengan semisal, maka hukumnya boleh dan bagi pemberi utang, bisa menerimanya.” [al-Mughni, 4/239].

Kelima

Apabila uang yang dulu tidak berlaku

Utang dengan uang masa silam, kemudian masyarakat tidak lagi memberlakukannya, dengan apapun sebabnya, maka yang wajib dilakukan adalah mengembalikan dengan mata uang yang senilai dengan mata uang yang tidak berlaku itu, atau dengan emas atau perak. Karena untuk mengembalikan yang semisal (al-Mitsl) tidak memungkinkan, sehingga dikembalikan dalam bentuk nilai (al-Qimah).

Ibnu Qudamah mengatakan:

وَإِنْ كَانَ الْقَرْضُ فُلُوسًا أو مكسرة فَحَرَّمَهَا السُّلْطَانُ، وَتُرِكَتْ الْمُعَامَلَةُ بِهَا، كَانَ لِلْمُقْرِضِ قِيمَتُهَا، وَلَمْ يَلْزَمْهُ قَبُولُهَا، سَوَاءٌ كَانَتْ قَائِمَةً فِي يَدِهِ أَوْ اسْتَهْلَكَهَا ؛ لِأَنَّهَا تَعَيَّبَتْ فِي مِلْكِهِ

Apabila utang dalam bentuk uang kertas atau uang logam, kemudian pemerintah menariknya dan tidak lagi menggunakan jenis uang ini, maka orang mengutangi berhak mendapat uang yang senilai. Dan dia tidak harus menerima uang kuno itu, baik uang yang diutangkan itu masih ada di tangan, maupun sudah rusak. Karena tidak memungkinkan untuk memilikinya. [al-Mughni, 4/244].

Kemudian beliau menegaskan:

يقومها كم تساوي يوم أخذها؟ ثم يعطيه، وسواء نقصت قيمتها قليلا أو كثيرا

Dia tentukan berapa nilai uang ketika dia mengambilnya. Kemudian dia berikan uang itu. Baik nilainya turun sedikit maupun banyak. [al-Mughni, 4/244].

Sebagai ilustrasi, pada 1991 si A memberi utang 50 ribu bergambar Presiden Oribua. Pada 2011 si B melunasi dengan uang 50 ribu bergambar I Gusti Ngurah Rai. Karena uang kuno, tidak berlaku. Meskipun nilai 50 ribu dari 1991 hingga 2011 mengalami penurunan yang sangat tajam.

Keenam

Pembayaran utang dalam bentuk yang lain

Dibolehkan menerima pembayaran utang dalam bentuk yang lain, misalnya utang uang dibayar emas, atau utang Rupiah dibayar Dollar, atau semacamnya dengan syarat:

 

  • Kesepakatan beda jenis pembayaran ini tidak dilakukan pada saat utang, namun baru disepakati pada saat pelunasan.
  • Menggunakan standar harga waktu pelunasan, dan bukan harga waktu utang.

[Fatwa Dar al-Ifta’ Yordan: http://aliftaa.jo/Question.aspx?QuestionId=2032#.VAfLYdeSz6d]

Keterangan di atas, berdasarkan keputusan Majma’ al-Fiqhi al-Islami no. 75 (6/7], yang menyatakan:

 يجوز أن يتفق الدائن والمدين يوم السداد – لا قبله – على أداء الدين بعملة مغايرة لعملة الدين، إذا كان ذلك بسعر صرفها يوم السداد

 Boleh dilakukan kesepakatan antara kreditur dan debitur pada waktu pelunasan – bukan pada waktu sebelumnya – untuk pelunasan utang dengan mata uang yang beribueda dengan mata uang ketika utang. Jika standar harga sesuai harga tukar uang itu, waktu pelunasan.

Dalil bolehnya hal ini adalah hadis dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa beliau menjual onta di Baqi’ dengan Dinar, dan mengambil pembayarannya dengan Dirham. Kemudian beliau mengatakan:

 أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ: إِنِّي أَبِيعُ الْإِبِلَ بِالْبَقِيعِ بِالدَّنَانِيرِ وَآخُذُ الدَّرَاهِمَ، قَالَ: «لَا بَأْسَ أَنْ تَأْخُذَ بِسِعْرِ يَوْمِهَا مَا لَمْ تَفْتَرِقَا، وَبَيْنَكُمَا شَيْءٌ»

 Aku mendatangi Nabi ﷺ dan kusampaikan: ”Saya menjual onta di Baqi’ dengan Dinar secara kredit dan aku menerima pembayarannya dengan Dirham. Beliau ﷺ bersabda:

”Tidak masalah kamu mengambil dengan harga hari pembayaran, selama kalian tidak berpisah, sementara masih ada urusan jual beli yang belum selesai.” [HR. Ahmad 5555, Nasai 4582, Abu Daud 3354, dan yang lainnya].

Sebagai ilustrasi:

Misal, pada 1991 harga emas 25 ribu/gr. Tahun 2014 harga emas 400 ribu/gr. Pada 1991, uang Rp 1 juta mendapat 40 gr emas, sedangkan pada 2014, hanya mendapat 2,5 gr.

Pada 1991 si A utang 1 juta ke si B. Selanjutnya mereka berpisah lama. Tahun 2014, mereka ketemu dan si B meminta utang si A dilunasi dengan emas. Ada beberapa kasus di sini:

  • Poin A: Si B menuntut agar utang si A dibayar dengan 40 gr emas.
  • Poin B: Si B menuntut agar utang si A dibayar dengan uang senilai 40 gr emas, sekitar 16 juta.
  • Poin C: Si B menuntut agar utang si A dibayar dengan 2,5 gr emas.
  • Poin D: Si B menuntut agar utang si A dibayar dengan uang senilai 2,5 gr emas, sehingga nilainya tetap 1 juta.

Dari keempat kasus di atas, untuk kasus Poin A dan Poin B statusnya TERLARANG, karena termasuk riba dalam utang piutang. Dan ini tidak memenuhi syarat kedua seperti yang disebutkan dalam fatwa di atas, meskipun pada 1991, mereka tidak pernah melakukan kesepakatan ini.

Sementara kasus Poin C dan Poin D ini yang BENAR, memenuhi kedua syarat yang disebutkan dalam fatwa di atas.

Secara sederhana, si B mengalami kerugian, karena nilai 1 juta dulu dan sekarang jauh berbeda. Namun sekali lagi, inilah konsekuensi utang piutang. Pemberi utang mendapatkan pahala, karena membantu orang lain. Di sisi lain, dia harus siap dengan konsekuensi penurunan nilai mata uang.

Ketujuh

Kelebihan dalam pelunasan utang

Dibolehkan adanya kelebihan dalam pelunasan utang dengan syarat:

  1. Tidak ada kesepakatan di awal
  2. Dilakukan murni atas inisiatif orang yang berutang
  3. Bukan tradisi masyarakat setempat

Dalilnya hadis dari Abu Rafi’ radhiallahu ‘anhu, beliau menceritakan:

 أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم اسْتَسْلَفَ من رَجُلٍ بَكْرًا، فَقَدِمَتْ عليه إِبِلٌ من إِبِلِ الصَّدَقَةِ، فَأَمَرَ أَبَا رَافِعٍ أَنْ يَقْضِيَ الرَّجُلَ بَكْرَهُ، فَرَجَعَ إليه أبو رَافِعٍ، فقال: لم أَجِدْ فيها إلا خِيَارًا رَبَاعِيًا، فقال: أَعْطِهِ إِيَّاهُ إِنَّ خِيَارَ الناس أَحْسَنُهُمْ قَضَاءً

 Pada suatu saat Rasulullah ﷺ berutang seekor anak unta dari seseorang. Lalu datanglah kepada Nabi ﷺ unta-unta zakat. Maka beliau ﷺ memerintahkan Abu Raafi’ untuk mengganti anak unta yang beliau ﷺ utang dari orang tersebut. Tak selang beberapa saat, Abu Raafi’ kembali menemui beliau ﷺ dan berkata: “Aku hanya mendapatkan unta yang telah genap berumur  enam tahun.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya: “Berikanlah unta itu kepadanya, karena sebaik-baik manusia adalah orang yang paling baik pada saat melunasi piutangnya.” [Muttafaqun ‘alaih]

Akan tetapi, jika keberadaan tambahan ini diberikan karena ada kesepakatan di awal, atau permintaan pihak yang mengutangi (kreditor), atau karena masyarakat setempat memiliki kebiasaan bahwa setiap utang harus bayar lebih, maka tambahan semacam ini terhitung riba.

Demikian beberapa kaidah terkait penagihan utang. Semoga Allah menjadikan kita Muslim yang selalu menyesuaikan diri dengan aturan syariat.

 

Sumber:

http://pengusahamuslim.com/4201-7-kaidah-dalam-menagih-utang-bagian-01.html

http://pengusahamuslim.com/4205-7-kaidah-dalam-menagih-utang-bagian-02-selesai.html

, , ,

BAGAIMANA CARA QADHA SHALAT WITIR DI WAKTU DHUHA ESOK HARINYA?

BAGAIMANA CARA QADHA SHALAT WITIR DI WAKTU DHUHA ESOK HARINYA?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi
#FatwaUlama

BAGAIMANA CARA QADHA SHALAT WITIR DI WAKTU DHUHA  ESOK HARINYA?

Pertanyaan:

إذا نمت عن صلاة الوتر ولم أؤدها في الليل فهل أقضيها وفي أي وقت؟

Jika saya ketiduran (kelewatan)  shalat Witir, dan saya tidak menunaikannya di malam itu, kapan boleh saya meng-qadhanya?

السنة قضاؤها ضحى بعد ارتفاع الشمس وقبل وقوفها، شفعاً لا وتراً، فإذا كانت عادتك الإيتار بثلاث ركعات في الليل فنمت عنها أو نسيتها شرع لك أن تصليها نهاراً أربع ركعات في تسليمتين، وإذا كان عادتك الإيتار بخمس ركعات في الليل فنمت عنها أو نسيتها شرع لك أن تصلي ست ركعات في النهار في ثلاث تسليمات، وهكذا الحكم فيما هو أكثر من ذلك، لما ثبت عن عائشة رضي الله عنها قالت: (كان رسول الله، صلى الله عليه وسلم إذا شغل عن صلاته بالليل بنومٍ أو مرض صلى من النهار اثنتي عشرة ركعة) رواه مسلم في صحيحه.

وكان وتره صلى الله عليه وسلم، في الغالب إحدى عشرة ركعة، والسنة أن يصلي القضاء شفعاً ركعتين ركعتين لهذا الحديث الشريف ولقوله صلى الله عليه وسلم: ((صلاة الليل والنهار مثنى مثنى)) أخرجه أحمد وأهل السنن بإسنادٍ صحيح وأصله في الصحيحين من حديث ابن عمر رضي الله عنهما لكن بدون ذكر النهار وهذه الزيادة ثابتة عند من ذكرنا آنفاً وهم أحمد وأهل السنن. والله ولي التوفيق.

Jawaban:

Yang sunnah diqadha (esok harinya) waktu Dhuha, ketika matahari telah meninggi, dan sebelum berhenti ( menjelang masuk waktu Zuhur) dengan jumlah rakaat genap, bukan ganjil.

  • Jika kebiasaan engkau shalat Witir ganjil tiga rakaat pada malam hari, kemudian engkau tertidur atau terlupa, maka disyariatkan bagimu (qadha) shalat siang hari, empat rakaat dalam dua kali salam (dua rakaat-dua rakaat).
  • Jika kebiasaan engkau shalat ganjil lima rakaat malam hari, kemudian engkau tertidur atau terlupa, maka disyariatkan bagimu (qadha) shalat siang hari enam rakaat, dalam tiga kali salam (dua rakaat-dua rakaat).

Demikianlah hukumnya dan umumnya seperti itu, sebagaimana riwayat dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, ia berkata:

“Dahulu jika Rasulullah ﷺ terluput dari shalat malam (termasuk Witir) karena ketiduran atau sakit, maka ia shalat (qadha) pada (besok) siang (Dhuha) 12 rakaat” [HR. Muslim]

Kebanyakan jumlah shalat Witir Rasulullah ﷺ adalah 11 rakaat, dan termasuk sunnah meng-qadhanya dengan rakaat yang genap, dengan cara dua rakaat-dua rakaat (salam setiap dua rakaat), sebagaimana dalam hadis yang mulia, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Shalat malam dan siang itu dua rakaat-dua rakaat” [HR. Ahmad]

Dan hadis Shahih dari Ibnu Umar, akan tetapi tanpa penyebutan kata “siang”. Ini adalah tambahan dari apa yang kami baru saja sebutkan.

Wallahu waliyyut taufiq

Sumber: http://www.binbaz.org.sa/mat/4532

 

Penulis: dr Raehanul Bahraen

[Artikel www.muslimafiyah.com]

Sumber: https://muslimafiyah.com/mengqadha-shalat-witir-besok-di-waktu-dhuha.html

,

BAGAIMANA CARA QADHA SHALAT TAHAJUD?

BAGAIMANA CARA QADHA SHALAT TAHAJUD?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

BAGAIMANA CARA QADHA SHALAT TAHAJUD?

Pertanyaan:

Bagaimana tata cara mengqadha shalat Tahajud di waktu Dhuha? Bagaimana niatnya dan berapa rakaat?

Jawaban:

Bismillah, was sholatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Bagi orang yang memiliki kebiasaan Tahajud, kemudian tidak sempat mengerjakannya karena sebab tertentu, dianjurkan untuk menqadhanya. Waktunya adalah antara Subuh sampai menjelang Zuhur. Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ:

من نام عن حزبه أو عن شيء منه فقرأه فيما بين صلاة الفجر وصلاة الظهر كتب له كأنما قرأه من الليل

“Siapa saja yang ketiduran, sehingga tidak melaksanakan kebiasaan shalat malamnya, kemudian dia baca (mengerjakannya) di antara shalat Subuh dan shalat Zuhur, maka dia dicatat seperti orang yang melaksanakan shalat Tahajud di malam hari.” [HR. Muslim, Nasa’i, Abu Daud, dan Ibnu Majah]

Penulis kitab Aunul Ma’bud mengatakan: “Hadis ini menunjukkan disyariatkannya melakukan amal saleh di malam hari. Dan menunjukkan disyariatkannya mengqadha amalan tersebut jika tidak sempat melaksanakannya, karena ketiduran atau uzur lainnya. Siapa saja yang melaksanakan qadha amal ini di antara shalat Subuh dan shalat Zuhur, maka dia seperti melaksanakannya di malam hari.” (Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud, 4:139)

Jumlah Rakaat Shalat Tahajud

Jumlah rakaatnya sama dengan jumlah rakaat shalat Tahajud, ditambah satu (digenapkan). Misalnya seseorang memiliki kebiasaan Tahajud 11 rakaat, maka nanti diganti di waktu Dhuha sebanyak 12 rakaat. Barang siapa yang memiliki kebiasaan Tahajud 3 rakaat, maka diganti di waktu Dhuha sebanyak 4 rakaat, dan seterusnya. Berdasarkan hadis riwayat Aisyah radhiallahu ‘anha; beliau mengatakan:

كان رسول الله إذا عمل عملاً اثبته، وكان إذا نام من الليل أو مرض، صلّى من النهار ثنتي عشرة ركعة

“Apabila Rasulullah ﷺ melakukan satu amalan, beliau melakukannya dengan istiqamah. Dan apabila beliau ketiduran di malam hari atau karena sakit, maka beliau shalat 12 rakaat di siang hari.” (Hr. Muslim dan Ibnu Hibban)

Nabi ﷺ melaksanakan shalat qadha 12 rakaat, karena beliau ﷺ memiliki kebiasaan shalat malam sebanyak 11 rakaat. Allahu a’lam.

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).

Sumber: https://konsultasisyariah.com/7581-qadhashalat-Tahajud.html

,

TRAGEDI JAJAN DI RESTORAN LUPA BAWA UANG

TRAGEDI JAJAN DI RESTORAN LUPA BAWA UANG

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

TRAGEDI JAJAN DI RESTORAN LUPA BAWA UANG

Sobat, malu dan bingung bercampur menjadi satu, hanya gara-gara hal sepele, yaitu lupa. Coba bayangkan. Suatu hari Anda dengan penuh percaya diri makan di restoran. Setelah menyantap hidangan yang Anda pesan, ternyata Anda lupa bawa uang, atau lupa kalau uang Anda ternyata sudah habis.

Kira kira apa yang akan Anda lakukan? Dan bagaimana perasaan Anda?

Sobat! Seberat apapun rasa malu dan kebingungan Anda, maka sadarilah cepat atau lambat, Anda pasti menghadapi kondisi yang serupa, bahkan lebih dahsyat.

Anda tidak percaya? Atau Anda merasa bahwa kartu ATM, atau bisa juga kartu kredit selalu melekat pada diri Anda? Dan bisa pula Anda berkilah, bahwa Anda bisa saja menggadaikan kendaraan atau jam tangan atau HP Anda yang bernilai mahal.

Namun tahukah Anda, bahwa solusi itu suatu saat tidak mungkin dapat Anda lakukan. Yaitu ketika Anda mengira, bahwa Anda masih punya umur panjang, dan mampu membelanjakan harta kekayaan Anda, namun ternyata Anda dikejutkan dengan hadirnya malaikat pencabut nyawa.

Pada kondisi ini yang tersisa hanyalah penyesalan yang tiada penawarnya. Allah ta’ala berfirman:

وَأَنفِقُوا مِن مَّا رَزَقْنَاكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ الصَّالِحِينَ {10} وَلَن يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاء أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu, sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu. Lalu ia berkata: Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh? Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang, apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al Munafiqun 10-11)

Saat itulah Anda benar-benar menyadari, bahwa hanyalah kasih sayang Allah dan ampunan-Nya, yang dapat menyelamatkan diri Anda. Karena itu sebelum terlambat, bersimpuhlah di hadapan Allah ta’ala, agar kelak Dia berkanan menyayangi dan mengampuni Anda. Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah,” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut, dan janganlah kamu merasa sedih. Dan bergembiralah kamu dengan (memeroleh) Surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.(Fusshilat 30)

Ya Allah, karuniakan keteguhan hati kepada hamba-Mu ini, hingga akhir hayat nanti. Aamiin.

Penulis: Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

, , ,

KELUAR DARAH HAID SAAT BERHUBUNGAN BADAN

KELUAR DARAH HAID SAAT BERHUBUNGAN BADAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah

#FatwaUlama

KELUAR DARAH HAID SAAT BERHUBUNGAN BADAN

Pertanyaan:

Apa yang harus dilakukan suami saya, agar ia dapat bertaubat kepada Allah. Kami pernah bersetubuh. Kemudian usai berhubungan badan, nampak permulaan darah haid telah keluar.

Jawaban Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjaid hafidzahullah:

Alhamdulillah,

Bila seorang laki-laki berhubungan badan dengan istrinya, sementara ia tidak tahu, bahwa istrinya tersebut mengalami haid, maka tidak ada dosa baginya.

Terdapat hadis dari Abu dzar Al Ghifari berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ عَنْ أُمَّتِي الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ

“Sesungguhnya Allah memaafkan umatku kesalahan (yang tidak disengaja), lupa, dan bila mereka dipaksa melakukan perbuatan dosa.” (HR. Ibnu Majah no. 2033 dan dinilai Shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah n0. 1662)

Akan tetapi wajib bagi istri menjelaskan keadaan dirinya kepada suaminya. Hendaknya si istri memberitahu kepada suami, bahwa darah haid telah keluar. Karena terkadang seorang laki-laki tidak mengetahui hal ini, kemudian ia pun menggauli istrinya, sementara si istri dalam keadaan haid. Padahal perbuatan ini haram secara syariat. Jika kondisi demikian, maka si istri telah berdosa (karena tahu sedang haid, dan tidak memberitahu suaminya -pen). Darah haid sesuatu yang dikenal di kalangan wanita. Kapan pun darah tersebut keluar, maka ia disebut wanita haid.

Adapun jika kejadian di atas terjadi tanpa sepengetahuan kedua pihak, maka tidak ada dosa bagi kedunya. Karena ketidaktahuan dan ketidaksengajaan.

Sumber: islamqa.info

Di fatwa lain beliau menjelaskan:

Barang siapa yang menyetubuhi istrinya, sementara dia tidak tahu, bahwa istrinya tersebut sedang haid, demikian pula si istri juga tidak tahu, bahwa dirinya sedang haid, maka tidak ada dosa bagi kedunya. Dikarenakan keduanya tidak menyengaja melakukan jimak saat haid. Allah Ta’ala berfirman:

وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَٰكِنْ مَا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ ۚ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu bersalah padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al Ahzab:5)

An Nawawi berkata:

فإن كان ناسيا أو جاهلا بوجود الحيض ، أو جاهلا بتحريمه ، أو مكرها : فلا إثم عليه ولا كفارة ، وإن وطئها عامدا ، عالما بالحيض والتحريم ، مختارا ، فقد ارتكب معصية كبيرة ، وتجب عليه التوبة

“Bila seorang suami lupa, atau tidak tahu keberadaan darah haid, atau tidak tahu hukum haram (jimak ketika haid), atau dipaksa (orang lain untuk berbuat haram), maka tidak ada dosa baginya, dan tidak ada kafarah. Adapun bila seorang suami menggauli istrinya dengan sengaja, dalam kondisi tahu bahwa istrinya haid, dan tahu hukumnya haram, tidak ada paksaan orang lain, maka sungguh dia telah telah melakukan kemaksiatan yang besar dosanya. Wajib baginya untuk bertaubat kepada Allah.” (Syarh Muslim)

Sumber: islamqa.info

Pertanyaaan:

Saya seorang pemuda 26 tahun dan alhamdulillah saya telah menikah sejak dua bulan yang lalu. Setelah menikmati malam pertama selama empat hari, istri saya mengalami haid. Oleh karena itu saya tidak menggaulinya, sampailah hari di mana istri saya berkata kepadaku, bahwa haid telah berhenti, dan ia tidak lagi melihat darah sejak dua hari sebelumnya. Akupun bertanya padanya, apakah emang sudah pasti haid telah berhenti? Istri saya menjawab: ‘Iya benar.’Berdasakan hal ini, saya pun menggaulinya. Akan tetapi saya mendapati sedikit darah di dzakar saya. Karena itu saya berhenti menyetubuhinya dan mandi. Dan saya pun menanyakan padanya, dia pun meyakinkanku, bahwa ia tidak tahu menahu soal darah itu, dan tidak melihat darah sejak kemarinnya.

Saya mengharap bantuan penjelasan. Jika saya telah melakukan perbuatan dosa, apa kafarah bagi saya? Apakah istri saya juga berdosa, dan wajib membayar kafarah atau tidak? Syukraan atas waktu yang diberikan.

Jawaban Syaikh Khalid bin Suud Al-Bulihud:

Alhamdulillah,

Haram bagi seorang suami menggauli kemaluan istrinya yang sedang haid. Berdasarkan firman Allah Ta’ala:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ ۖ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ ۖ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ يَطْهُرْنَ ۖ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

“Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: “Haid itu adalah suatu kotoran”. Oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. Al Baqarah: 222)

Sunnah Ash Shahihah telah menjelaskan tafsir ayat di atas tentang larangan mendekat istri yang haid, maksudnya adalah khusus melakukan hubungan badan di kemaluan.

Para ulama telah sepakat keharaman perbuatan tersebut. Barang siapa yang menyetubuhi istrinya yang sedang haid dengan sengaja, dalam keadaan tahu (istri sedang haid dan tahu hukumnya haram), maka dia telah berdosa. Wajib baginya bertaubat dan memohon ampun dari dosa besar ini.

Para ulama pakar Fikih berselisih pendapat tentang kewajiban kafarah bagi suami. Imam Ahmad berpendapat, wajib bagi suami bersedekah satu Dinar atau separuh Dinar. Berdasarkan hadis yang diriwayatkan Ahlussunan dari Ibnu Abbas dari Nabi ﷺ, bahwa beliau pernah menggauli istri beliau yang sedang haid, kemudian beliau bersedekah satu atau setengah Dinar dan dalam lafal Tirmidzi dinyatakan:

إذا كان دماً أحمر فدينار وإن كان دماً أصفر فنصف دينار

“Jika darah haidnya berwarna merah, bersedekah satu Dinar. Jika darah haidnya berwarna kuning, bersedekah setengah Dinar.”

Mayoritas ulama berpendapat tidak ada kewajiban membayar kafarah dan mencukupkan untuk bertaubat. Karena dalil (ayat di atas) hanya menyebutkan larangan jimak ketika haid, dan tidak menyebutkan kafarah.

Adapun hadis Ibnu Abbas di atas adalah hadis yang ma’lul menurut para imam Ahli Hadis (Hadis Ma’lul adalah salah satu jenis hadis lemah karena di dalamnya terdapat cacat baik dari sisi sanad ataupun matan hadis-pen). Maka hadis ini tidak boleh dinilai sebagai hadis marfu’, yang sampai kepada Nabi ﷺ. Inilah pendapat yang benar. Karena hukum asalnya seseorang terlepas dari tanggungan dan tidak menyibukkannya dengan sesuatu, kecuali dengan dalil yang selamat dari perbincangan ulama (dalil Shahih).

Dan yang nampak dari penjelasan Anda di atas, bahwa engkau termasuk orang yang diberi uzur (dimaafkan) atas perbuatanmu. Karena perbuatan tersebut Anda lakukan karena kesalahan (tanpa disengaja) dan ketidaktahuan akan kondisi istri Anda. Anda tidak berdosa dan tidak ada kewajiban apapun insyaallah. Karena Allah memaafkan orang yang bersalah (tanpa sengaja) dan tidak tahu.

Demikian pula istri Anda, telah melakukan kesalahan tanpa sengaja, yaitu tergesa-gesa suci, sebelum melihat tanda suci berupa keluarnya Qashshatul Baidha (Cairan putih) atau keringnya rahim. Istri Anda diberi uzur (dimaafkan) insyaallah, karena ia tidak sengaja melakukannya. Bahkan hal ini terjadi karena ketidaktahuan dan sedikitnya pengetahuannya.

Diperbolehkan bagi seorang suami menikmati seluruh tubuh istrinya yang sedang haid, selain pada kemaluan, menurut pendapat mayoritas ulama pakar Fikih. Berdasarkan perbuatan Nabi ﷺ terhadap istri-istri beliau radhiyallahu’anhunna, sebagaimana yang ditetapkan dalam Sunnah Shahihah.

وأخزى الله من يذكرهن بسوء في الدنيا ويوم يقوم الأشهاد.والله أعلم وصلى الله على محمد وآله وصحبه وسلم.

“Semoga Allah menghinakan orang-orang yang menyebut istri-istri Nabi dengan keburukan di dunia dan di Hari Kiamat. Wallahua’lam. Dan semoga shalawat dan salam tercurah bagi Muhammad, keluarga beliau dan para sahabat“.

 

Sumber: saaid.net

 

****

Diterjemahkan oleh Tim Penerjemah Wanitasalihah.com

Artikel wanitasalihah.com

Sumber: http://wanitasalihah.com/keluar-darah-haid-saat-berhubungan-badan/