Posts

,

DOA MOHON PERLINDUNGAN DARI TUJUH PERKARA

DOA MOHON PERLINDUNGAN DARI TUJUH PERKARA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir

DOA MOHON PERLINDUNGAN DARI TUJUH PERKARA

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Rasulullah ﷺ biasa membaca doa:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ

Allahumma inni a’udzu bika minal ‘ajzi, wal kasali, wal jubni, wal haromi, wal bukhl. Wa a’udzu bika min ‘adzabil qobri wa min fitnatil mahyaa wal mamaat.

Artinya:

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, sifat pengecut, pikun, dan sifat kikir (bakhil). Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian.” [HR. Bukhari no. 6367 dan Muslim no. 2706]

Nabi ﷺ berlindung dari tujuh perkara, yaitu:

  1. Kelemahan
  2. Kemalasan

Perbedaan antara lemah dan malas adalah, bahwa lemah itu tidak adanya kemampuan, sedangkan malas adalah enggannya jiwa melakukan kebaikan, dan kurang terdorong kepadanya, padahal mampu melakukannya. Kedua hal ini adalah penyakit yang membuat seseorang duduk dan meninggalkan kewajiban, sehingga terbuka baginya pintu-pintu keburukan.

  1. Sifat pengecut
  2. Kebakhilan (kekikiran)

Sifat pengecut terkait dengan jiwa, sedangkan sifat bakhil (pelit) terkait dengan harta. Siapa saja yang kehilangan keberanian untuk melawan hawa nafsu, was-was setan, melawan musuh, menghadapi lawan yang membela yang batil, maka dia adalah pengecut. Dan siapa saja yang tidak mau memberi kaum fakir dengan hartanya, mengeluarkan hartanya untuk para mujahid fii sabilillah, dan mengeluarkan pada jalur-jalur kebaikan, maka dia adalah orang yang bakhil. Dalam banyak ayat, Allah subhaanahu wa ta’ala memerintahkan berjihad dengan jiwa dan hartanya. Dan penyakit yang dapat menghalangi seseorang dari berjihad mengorbankan jiwa dan hartanya adalah penyakit pengecut dan bakhil.

Nabi ﷺ berlindung dari sifat pengecut dan bakhil, karena keduanya dapat menghalangi kewajiban, menghalangi dari memenuhi hak-hak Allah ta’ala, menghalangi dari mencegah kemungkaran, bersikap tegas kepada para pelaku maksiat. Di samping itu, dengan seseorang memiliki keberanian dan kekuatan, maka ibadah dapat sempurna, orang yang terzalimi dapat tertolong, jihad dapat dilakukan. Sedangkan dengan selamat dari kebakhilan, maka ia dapat memenuhi hak-hak harta, adanya keinginan untuk berinfak, bersikap dermawan, dan berakhlak mulia serta terhalang dari sifat tamak kepada apa yang tidak dimilikinya.

  1. Pikun

Yang dimaksud pikun adalah dikembalikan kepada usia yang paling buruk. Sebab mengapa beliau ﷺ berlindung darinya adalah, karena ketika sudah pikun terkadang ucapan menjadi ngelantur, akal dan ingatan menjadi kurang, panca indera menjadi lemah, dan lemah dari melakukan ketaatan, serta meremehkan sebagiannya. Cukuplah seseorang berlindung darinya, karena Allah menamai usia tersebut sebagai Ardzalul ‘Umur (Usia paling buruk).

  1. Siksa Kubur

Hadis di atas menunjukkan adanya siksa kubur, di samping adanya nikmat kubur dan fitnah(ujian)nya. Hadis lain yang menunjukkan adanya siksa kubur adalah hadis Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:

مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِحَائِطٍ مِنْ حِيطَانِ المَدِينَةِ، أَوْ مَكَّةَ، فَسَمِعَ صَوْتَ إِنْسَانَيْنِ يُعَذَّبَانِ فِي قُبُورِهِمَا، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يُعَذَّبَانِ، وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ» ثُمَّ قَالَ: «بَلَى، كَانَ أَحَدُهُمَا لاَ يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ، وَكَانَ الآخَرُ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ» . ثُمَّ دَعَا بِجَرِيدَةٍ، فَكَسَرَهَا كِسْرَتَيْنِ، فَوَضَعَ عَلَى كُلِّ قَبْرٍ مِنْهُمَا كِسْرَةً، فَقِيلَ لَهُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، لِمَ فَعَلْتَ هَذَا؟ قَالَ: «لَعَلَّهُ أَنْ يُخَفَّفَ عَنْهُمَا مَا لَمْ تَيْبَسَا» أَوْ: «إِلَى أَنْ يَيْبَسَا»

“Nabi ﷺ pernah melewati salah satu di antara kebun-kebun Madinah atau Mekkah, lalu beliau ﷺ mendengar suara dua orang yang diazab dalam kuburnya, kemudian Nabi ﷺ bersabda: “Keduanya sedang diazab, dan keduanya tidaklah diazab, menurut keduanya terhadap dosa besar.” Selanjutnya beliau ﷺ bersabda: “Bahkan sesungguhnya itu dosa besar. Adapun salah satunya, maka ia tidak menjaga diri dari kencingnya, sedangkan yang satu lagi berjalan kesana-kemari mengadu domba.” Kemudian beliau ﷺ meminta dibawakan pelepah kurma, lalu beliau ﷺ mematahkan menjadi dua bagian, dan meletakkan belahannya di masing-masing kubur itu, lalu beliau ﷺ ditanya: “Wahai Rasulullah, mengapa engkau lakukan hal itu?” Beliau ﷺ menjawab, “Mudah-mudahan azab keduanya diberi keringanan selama belahan itu belum kering,” atau bersabda: “Sampai kedua belahan kering.” [HR. Bukhari]

 

  1. Fitnah Hidup dan Mati (Bencana Kehidupan dan Kematian)

Fitnah hidup artinya cobaan dan hujian hidup, baik berupa fitnah syahwat dan fitnah syubhat, d imana kedua cobaan ini banyak yang membuat manusia tergelincir, lalai dari kewajibannya dan terbawa oleh arus fitnah yang menggiringnya kepada kebinasaan. Maka dalam doa ini kita berlindung, agar kita mampu menghadapi cobaan-cobaan itu dengan tetap bersabar menjalankan ketaatan kepada Allah, bersabar menjauhi maksiat, dan istiqamah di atas agama-Nya. Ini adalah cara untuk menghadapi fitnah syahwat. Adapun cara untuk menghadapi fitnah syubhat adalah dengan yakin di atas kebenaran dan teguh, tidak mudah berubah oleh situasi dan kondisi; berbekal ilmu syari.

Sedangkan fitnah mati, maka maksudnya ujian ketika di kubur, yaitu pertanyaan yang diajukan oleh malaikat Munkar dan Nakir yang akan menanyakan kepada seseorang tentang siapa Tuhannya, apa agamanya, dan siapa nabinya.

Wallahu a’lam.

Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.

Dinukil dari tulisan berjudul: “RASULULLAH BERDOA MOHON PERLINDUNGAN DARI HAL-HAL BERIKUT” yang ditulis oleh: Marwan Hadidi, S.Pd.I

[Artikel Muslim.Or.Id]

Sumber: https://muslim.or.id/22107-rasulullah-berdoa-mohon-perlindungan-dari-hal-hal-berikut.html

 

 

 

,

KEUTAMAAN LAA HAWLA WA LAA QUWWATA ILLA BILLAH

KEUTAMAAN LAA HAWLA WA LAA QUWWATA ILLA BILLAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama
#TazkiyatunNufus
#DakwahTauhid

KEUTAMAAN LAA HAWLA WA LAA QUWWATA ILLA BILLAH

Kalimat ini adalah kalimat yang ringkas namun sarat makna, dan memiliki keutamaan yang luar biasa. Kata Nabi ﷺ pada ‘Abdullah bin Qois:

يَا عَبْدَ اللَّهِ بْنَ قَيْسٍ قُلْ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ . فَإِنَّهَا كَنْزٌ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ

“Wahai ‘Abdullah bin Qois, katakanlah ‘Laa hawla wa laa quwwata illa billah’, karena ia merupakan simpanan pahala berharga di Surga.” [HR. Bukhari no. 7386]
Kalimat “Laa hawla wa laa quwwata illa billah” adalah kalimat yang berisi penyerahan diri dalam segala urusan kepada Allah ta’ala. Hamba tidaklah bisa berbuat apa-apa, dan tidak bisa menolak sesuatu, juga tidak bisa memiliki sesuatu, selain kehendak Allah.

Ada ulama yang menafsirkan kalimat tersebut: “Tidak ada kuasa bagi hamba untuk menolak kejelekan, dan tidak ada kekuatan untuk meraih kebaikan, selain dengan kuasa Allah.”

Ulama lain menafsirkan: “Tidak ada usaha, kekuatan dan upaya selain dengan kehendak Allah.”

Ibnu Mas’ud berkata:

لا حول عن معصية الله إلا بعصمته، ولا قوة على طاعته إلا بمعونته

“Tidak ada daya untuk menghindarkan diri dari maksiat, selain dengan perlindugan dari Allah. Tidak ada kekuatan untuk melaksanakan ketaatan, selain dengan pertolongan Allah.”

Imam Nawawi menyebutkan berbagai tafsiran di atas dalam Syarh Shahih Muslim dan beliau katakan: “Semua tafsiran tersebut hampir sama maknanya.” [Syarh Shahih Muslim, 17: 26-27]

Semoga lisan ini selalu diberi taufik oleh Allah untuk selalu basah dengan zikir kepada Allah.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/2530-keutamaan-laa-hawla-wa-laa-quwwata-illa-billah.html

, ,

TAUHID: DI ANTARA SEBAB AMPUNAN ALLAH

TAUHID: DI ANTARA SEBAB AMPUNAN ALLAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

NasihatUlama
#TazkiyatunNufus #DakwahTauhid

TAUHID: DI ANTARA SEBAB AMPUNAN ALLAH

Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah berkata:

قال بعض العارفين : من لم يكن ثمرة استغفاره تصحيح توبته فهو كاذب فى استغفاره

“Sebagian orang-orang yang berpengetahuan berkata: ‘Barang siapa yang istighfarnya tidak membuahkan perbaikan terhadap taubatnya, maka dia dusta dalam istighfarnya.” [Asbab al-Maghfirah, hal. 4]

وأفضل أنواع الإستغفار : أن يبدأ العبد بالثناء على ربه. , ثم يثنى بالإعتراف بذنبه, ثم يسأل الله المغفرة.

“Sebaik-baik bentuk istighfar adalah seorang hamba memulainya dengan sanjungan terhadap Rabb-nya, kemudian dilanjutkan dengan pengakuan atas dosa-dosanya, kemudian meminta kepada Allah maghfirah (ampunan).” [Asbab al-Maghfirah, hal. 5]

من أسباب المغفرة : التوحيد وهو السبب الأعظم فمن فقده فقد المغفرة .

“Di antara sebab maghfirah (ampunan) adalah Tauhid. Tauhid merupakan sebab terbesar. Barang siapa yang tauhid hilang darinya, maka dia telah kehilangan maghfirah.” [Asbab al-Maghfirah, hal. 6]

Qatadah rahimahullah berkata:

إن هذا القرآن يدلكم على دائكم ودوائكم فأما داؤكم فالذنوب،وأما دواؤكم فالإستغفار.

“Sesungguhnya Alquran ini menunjukkan kepada kalian, penyakit kalian dan obatnya. Adapun penyakit kalian adalah dosa. Adapun obatnya adalah istighfar.” [Asbab al-Maghfirah, hal. 5]

Penulis: Abdullah bin Suyitno (عبدالله بن صيتن)

Sumber: Instagram.com/ShahihFiqih

, ,

SEBAIK-BAIK BENTUK ISTIGHFAR

SEBAIK-BAIK BENTUK ISTIGHFAR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama
#TazkiyatunNufus

SEBAIK-BAIK BENTUK ISTIGHFAR
Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah berkata:

وأفضل أنواع الإستغفار : أن يبدأ العبد بالثناء على ربه. , ثم يثنى بالإعتراف بذنبه, ثم يسأل الله المغفرة.

“Sebaik-baik bentuk istighfar adalah seorang hamba memulainya dengan sanjungan terhadap Rabb-nya, kemudian dilanjutkan dengan pengakuan atas dosa-dosanya, kemudian meminta kepada Allah maghfirah (ampunan).” [Asbab al-Maghfirah, hal. 5]
Sumber: Instagram.com/ShahihFiqih

, ,

BAHAYA ORANG YANG ENGGAN MELUNASI UTANGNYA

BAHAYA ORANG YANG ENGGAN MELUNASI UTANGNYA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

BAHAYA ORANG YANG ENGGAN MELUNASI UTANGNYA

Alhamdulillahi robbil ‘alamin. Allahumma sholli ‘ala nabiyyina Muhammad, wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Keutamaan Orang yang Terbebas dari Utang

Dari Tsauban, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ فَارَقَ الرُّوحُ الْجَسَدَ وَهُوَ بَرِىءٌ مِنْ ثَلاَثٍ دَخَلَ الْجَنَّةَ مِنَ الْكِبْرِ وَالْغُلُولِ وَالدَّيْنِ

“Barang siapa yang ruhnya terpisah dari jasadnya dan dia terbebas dari tiga hal:

[1] Sombong,
[2] Ghulul (khianat), dan
[3] Utang, maka dia akan masuk Surga”. [HR. Ibnu Majah no. 2412. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih]. Ibnu Majah membawakan hadis ini pada Bab “Peringatan Keras Mengenai Utang.”

Mati Dalam Keadaan Masih Membawa Utang, Kebaikannya Sebagai Ganti

Dari Ibnu ‘Umar, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ دِينَارٌ أَوْ دِرْهَمٌ قُضِىَ مِنْ حَسَنَاتِهِ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ

“Barang siapa yang mati dalam keadaan masih memiliki utang satu Dinar atau satu Dirham, maka utang tersebut akan dilunasi dengan kebaikannya (di Hari Kiamat nanti), karena di sana (di Akhirat) tidak ada lagi Dinar dan Dirham.” [HR. Ibnu Majah no. 2414. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih]. Ibnu Majah juga membawakan hadis ini pada Bab “Peringatan Keras Mengenai Utang.”

Itulah keadaan orang yang mati dalam keadaan masih membawa utang dan belum juga dilunasi. Maka untuk membayarnya akan diambil dari pahala kebaikannya. Itulah yang terjadi ketika Hari Kiamat, karena di sana tidak ada lagi Dinar dan Dirham untuk melunasi utang tersebut.

Urusan Orang yang Berutang Masih Menggantung

Dari Abu Hurairah, Nabi ﷺ bersabda:

نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ

“Jiwa seorang Mukmin masih bergantung dengan utangnya, hingga dia melunasinya.” [HR. Tirmidzi no. 1078. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih, sebagaimana Shahih wa Dho’if Sunan At Tirmidzi]

Al ‘Iroqiy mengatakan: “Urusannya masih menggantung, tidak ada hukuman baginya, yaitu tidak bisa ditentukan, apakah dia selamat ataukah binasa, sampai dilihat bahwa utangnya tersebut lunas atau tidak.” [Tuhfatul Ahwadzi, 3/142]

Orang yang Berniat Tidak Mau Melunasi Utang Akan Dihukumi Sebagai Pencuri

Dari Shuhaib Al Khoir, Rasulullah ﷺ bersabda:

أَيُّمَا رَجُلٍ يَدَيَّنُ دَيْنًا وَهُوَ مُجْمِعٌ أَنْ لاَ يُوَفِّيَهُ إِيَّاهُ لَقِىَ اللَّهَ سَارِقًا

“Siapa saja yang berutang lalu berniat tidak mau melunasinya, maka dia akan bertemu Allah (pada Hari Kiamat) dalam status sebagai pencuri.” [HR. Ibnu Majah no. 2410. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Hasan Shahih]

Al Munawi mengatakan: “Orang seperti ini akan dikumpulkan bersama golongan pencuri dan akan diberi balasan sebagaimana mereka.” [Faidul Qodir, 3/181]

Ibnu Majah membawakan hadis di atas pada Bab “Barang Siapa Berutang Dan Berniat Tidak Ingin Melunasinya.”

Ibnu Majah juga membawakan riwayat lainnya. Dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ إِتْلاَفَهَا أَتْلَفَهُ اللَّهُ

“Barang siapa yang mengambil harta manusia dengan niat ingin menghancurkannya, maka Allah juga akan menghancurkan dirinya.” [HR. Bukhari no. 18 dan Ibnu Majah no. 2411]. Di antara maksud hadis ini adalah barang siapa yang mengambil harta manusia melalui jalan utang, lalu dia berniat tidak ingin mengembalikan utang tersebut, maka Allah pun akan menghancurkannya. Ya Allah, lindungilah kami dari banyak berutang dan enggan untuk melunasinya.

Masih Ada Utang, Enggan Dishalati

Dari Salamah bin Al Akwa’ radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

Kami duduk di sisi Nabi ﷺ. Lalu didatangkanlah satu jenazah. Lalu beliau ﷺ bertanya: “Apakah dia memiliki utang?” Mereka (para sahabat) menjawab: “Tidak ada.” Lalu beliau ﷺ mengatakan: “Apakah dia meninggalkan sesuatu?”. Lantas mereka (para sahabat) menjawab: “Tidak.” Lalu beliau ﷺ menyalati jenazah tersebut.

Kemudian didatangkanlah jenazah lainnya. Lalu para sahabat berkata: “Wahai Rasulullah shalatkanlah dia!” Lalu beliau ﷺ bertanya, “Apakah dia memiliki utang?” Mereka (para sahabat) menjawab: “Iya.” Lalu beliau ﷺ mengatakan: “Apakah dia meninggalkan sesuatu?” Lantas mereka (para sahabat) menjawab: “Ada, sebanyak 3 Dinar.” Lalu beliau ﷺ menyalati jenazah tersebut.

Kemudian didatangkan lagi jenazah ketiga, lalu para sahabat berkata: “Shalatkanlah dia!” Beliau ﷺ bertanya: “Apakah dia meningalkan sesuatu?” Mereka (para sahabat) menjawab: “Tidak ada.” Lalu beliau ﷺ bertanya: “Apakah dia memiliki utang?” Mereka menjawab: “Ada tiga Dinar.” Beliau ﷺ berkata: “Shalatkanlah sahabat kalian ini.” Lantas Abu Qotadah berkata: “Wahai Rasulullah, shalatkanlah dia. Biar aku saja yang menanggung utangnya.” Kemudian beliau ﷺ pun menyalatinya.” [HR. Bukhari no. 2289]

Dosa Utang Tidak Akan Terampuni Walaupun Mati Syahid

Dari ‘Abdillah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah ﷺ bersabda:

يُغْفَرُ لِلشَّهِيدِ كُلُّ ذَنْبٍ إِلاَّ الدَّيْنَ

“Semua dosa orang yang mati syahid akan diampuni kecuali utang.” [HR. Muslim no. 1886]

Oleh karena itu, seseorang hendaknya berpikir: “Mampukah saya melunasi utang tersebut dan mendesakkah saya berutang?” Karena ingatlah, utang pada manusia tidak bisa dilunasi hanya dengan istighfar.

Nabi ﷺ Sering Berlindung dari Berutang Ketika Shalat

Bukhari membawakan dalam  kitab Shahihnya pada Bab “Siapa Yang Berlindung Dari Utang”. Lalu beliau rahimahullah membawakan hadis dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

كَانَ يَدْعُو فِى الصَّلاَةِ وَيَقُولُ « اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ » . فَقَالَ لَهُ قَائِلٌ مَا أَكْثَرَ مَا تَسْتَعِيذُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مِنَ الْمَغْرَمِ قَالَ « إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا غَرِمَ حَدَّثَ فَكَذَبَ وَوَعَدَ فَأَخْلَفَ » .

“Nabi ﷺ biasa berdoa di akhir shalat (sebelum salam):

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ

ALLAHUMMA INNI A’UDZU BIKA MINAL MA’TSAMI WAL MAGHROM

Artinya:

Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari berbuat dosa dan banyak utang.”

Lalu ada yang berkata kepada beliau ﷺ: “Kenapa engkau sering meminta perlindungan adalah dalam masalah utang?” Lalu Rasulullah ﷺ bersabda: “Jika orang yang berutang berkata, dia akan sering berdusta. Jika dia berjanji, dia akan mengingkari.” [HR. Bukhari no. 2397]

Al Muhallab mengatakan: “Dalam hadis ini terdapat dalil tentang wajibnya memotong segala perantara yang menuju pada kemungkaran. Yang menunjukkan hal ini adalah doa Nabi ﷺ ketika berlindung dari utang dan utang sendiri dapat mengantarkan pada dusta.” [Syarh Ibnu Baththol, 12/37]

Adapun utang yang Nabi ﷺ berlindung darinya adalah tiga bentuk utang:

[1] Utang yang dibelanjakan untuk hal-hal yang dilarang oleh Allah dan dia tidak memiliki jalan keluar untuk melunasi utang tersebut.
[2] Berutang bukan pada hal yang terlarang, namun dia tidak memiliki cara untuk melunasinya. Orang seperti ini sama saja menghancurkan harta saudaranya.
[3] Berutang namun dia berniat tidak akan melunasinya. Orang seperti ini berarti telah bermaksiat kepada Rabbnya.

Orang-orang semacam inilah yang apabila berutang lalu berjanji ingin melunasinya, namun dia mengingkari janji tersebut. Dan orang-orang semacam inilah yang ketika berkata akan berdusta. [Syarh Ibnu Baththol, 12/38]

Itulah sikap jelek orang yang berutang, sering berbohong dan berdusta. Semoga kita dijauhkan dari sikap jelek ini.

Kenapa Nabi ﷺ sering berlindung dari utang ketika shalat?

Ibnul Qoyyim dalam Al Fawa’id (hal. 57, Darul Aqidah] mengatakan:

“Nabi ﷺ meminta perlindungan kepada Allah dari berbuat dosa dan banyak utang, karena banyak dosa akan mendatangkan kerugian di Akhirat, sedangkan banyak utang akan mendatangkan kerugian di dunia.”

Inilah doa yang seharusnya kita amalkan agar terlindung dari utang:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ

ALLAHUMMA INNI A’UDZU BIKA MINAL MA’TSAMI WAL MAGHROM

Artinya:

Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari berbuat dosa dan banyak utang.

Berbahagialah Orang yang Berniat Melunasi Utangnya

Ibnu Majah dalam sunannya membawakan dalam Bab “Siapa Saja Yang Memiliki Utang Dan Dia Berniat Melunasinya.” Lalu beliau membawakan hadis dari Ummul Mukminin Maimunah:

كَانَتْ تَدَّانُ دَيْنًا فَقَالَ لَهَا بَعْضُ أَهْلِهَا لاَ تَفْعَلِى وَأَنْكَرَ ذَلِكَ عَلَيْهَا قَالَتْ بَلَى إِنِّى سَمِعْتُ نَبِيِّى وَخَلِيلِى -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدَّانُ دَيْنًا يَعْلَمُ اللَّهُ مِنْهُ أَنَّهُ يُرِيدُ أَدَاءَهُ إِلاَّ أَدَّاهُ اللَّهُ عَنْهُ فِى الدُّنْيَا ».

Dulu Maimunah ingin berutang. Lalu di antara kerabatnya ada yang mengatakan: “Jangan kamu lakukan itu!” Sebagian kerabatnya ini mengingkari perbuatan Maimunah tersebut. Lalu Maimunah mengatakan: “Iya. Sesungguhnya aku mendengar Nabi dan kekasihku ﷺ bersabda: “Jika seorang Muslim memiliki utang, dan Allah mengetahui bahwa dia berniat ingin melunasi utang tersebut, maka Allah akan memudahkan baginya untuk melunasi utang tersebut di dunia”. [HR. Ibnu Majah no. 2399. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih kecuali kalimat fid dunya –di dunia-]

Dari hadis ini ada pelajaran yang sangat berharga, yaitu boleh saja kita berutang, namun harus berniat untuk mengembalikannya. Perhatikanlah perkataan Maimunah di atas.

Juga terdapat hadis dari ‘Abdullah bin Ja’far, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الدَّائِنِ حَتَّى يَقْضِىَ دَيْنَهُ مَا لَمْ يَكُنْ فِيمَا يَكْرَهُ اللَّهُ

“Allah akan bersama (memberi pertolongan pada) orang yang berutang (yang ingin melunasi utangnya), sampai dia melunasi utang tersebut, selama utang tersebut bukanlah sesuatu yang dilarang oleh Allah.” [HR. Ibnu Majah no. 2400. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih]

Sebaik-baik orang adalah yang paling baik dalam membayar utang. Ketika dia mampu, dia langsung melunasinya. Atau melunasi sebagiannya, jika dia tidak mampu melunasi seluruhnya. Sikap seperti inilah yang akan menimbulkan hubungan baik antara orang yang berutang dan yang memberi utangan.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ خِيَارَكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَاءً

“Sesungguhnya yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik dalam membayar utang.” [HR. Bukhari no. 2393]

Ya Allah, lindungilah kami dari berbuat dosa dan beratnya utang. Mudahkanlah kami untuk melunasinya.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shollallahu ‘ala nabiyyiina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

 

***

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

[Artikel https://rumaysho.com]

Sumber: https://rumaysho.com/187-bahaya-orang-yang-enggan-melunasi-utangnya.html

, ,

MOTOR KEMBALI, BENSIN ISI PENUH, APAKAH INI RIBA?

MOTOR KEMBALI, BENSIN ISI PENUH, APAKAH INI RIBA?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#UtangRiba
#FikihJualBeli

MOTOR KEMBALI, BENSIN ISI PENUH, APAKAH INI RIBA?

Ada ilustrasi berikut:

Contoh riba yang ‘kadang’ tidak kita sadari:
 
“Om, pinjem motornya ya…” tanya Pardi
“Ya, itu ambil aja sendiri di garasi, kuncinya ini. Tapi nanti bensinnya diisi penuh ya,” jawab Om Hadi.
Ribanya adalah tambahan pengembalian pinjaman berupa bensin.
Apa ini benar?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Mengambil keuntungan sekecil apapun dari transaksi utang piutang, dilarang dalam Islam. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Fudhalah bin Ubaid radhiyallahu ‘anhu:

كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً فَهُوَ رِبًا

“Semua utang yang menghasilkan manfaat, STATUSNYA RIBA” (HR. al-Baihaqi dengan sanadnya dalam al-Kubro)

Termasuk di antarannya tambahan yang dipersyaratkan ketika pelunasan utang.

Sahabat Abdullah bin Sallam radhiyallahu ‘anhu pernah menyampaikan nasihat kepada Abu Burdah, yang ketika itu baru tiba di Iraq. Dan di sana ada tradisi, siapa yang berutang maka ketika melunasi, dia harus membawa sekeranjang hadiah.

إِنَّكَ فِى أَرْضٍ الرِّبَا فِيهَا فَاشٍ وَإِنَّ مِنْ أَبْوَابِ الرِّبَا أَنَّ أَحَدَكُمْ يَقْرِضُ الْقَرْضَ إِلَى أَجْلٍ فَإِذَا بَلَغَ أَتَاهُ بِهِ وَبِسَلَّةٍ فِيهَا هَدِيَّةٌ فَاتَّقِ تِلْكَ السَّلَّةَ وَمَا فِيهَا

“Saat ini kamu berada di daerah, yang riba di sana tersebar luas. Di antara pintu riba adalah, jika kita memberikan utang kepada orang lain sampai waktu tertentu, jika jatuh tempo tiba, orang yang berutang membayarkan cicilan, dan membawa sekeranjang berisi buah-buahan sebagai hadiah. Hati-hatilah dengan keranjang tersebut dan isinya.” [HR. Baihaqi dalam Sunan Kubro]

Namun larangan hadiah ketika pelunasan ini berlaku, apabila transaksinya utang-piutang. Dan di antara konsekuensi dalam transaksi utang piutang (al-Qardh) adalah terjadinya perpindahan hak milik terhadap objek utang, dari pemberi utang ke penerima utang.

Berbeda dengan akad pinjam-meminjam (al-Ariyah), objek yang dipinjamkan tidak mengalami perpindahan kepemilikan. Sehingga peminjam tidak memiliki hak apapun terhadap barang itu, selain hak guna sementara, selama izin yang diberikan pihak yang meminjamkan.

Jika kita utang motor, maka kita berhak memiliki motor itu. Selanjutnya bisa kita jual, kita sewakan atau digadaikan untuk utang.

Lain halnya jika kita pinjam motor, lalu kita jual, atau kita sewakan atau digadaikan untuk utang, kita akan disebut orang yang tidak amanah. Karena motor ini bukan motor kita, tapi motor kawan kita. Kita hanya punya hak guna pakai selama masih diizinkan.

Karena itulah, benda habis pakai, hanya mungkin dilakukan akad utang. Meskipun ketika akad menyebutnya pinjam, namun hukumnya utang. Misalnya, makanan, uang, atau benda habis pakai lainnya.

As-Samarqandi dalam Tuhfatul Fuqaha’ mengatakan:

كل ما لا يمكن الانتفاع به إلا باستهلاكه، فهو قرض حقيقة، ولكن يسمى عارية مجازا، لانه لما رضي بالانتفاع به باستهلاكه ببدل، كان تمليكا له ببدل

Semua benda yang tidak mungkin bisa dimanfaatkan kecuali dengan menghabiskannya, maka hakikatnya hanya bisa diutangkan. Namun bisa disebut pinjam sebagai penggunaan majaz. Karena ketika pemilik merelakan untuk menggunakan barang itu melalui cara dihabiskan dengan mengganti, berarti terjadi perpindahan hak milik dengan mengganti. [Tuhfatul Fuqaha’, 3/178]

Al-Kasani menjelasakan dengan menyebutkan beberapa contoh:

وعلى هذا تخرج إعارة الدراهم والدنانير أنها تكون قرضا لا إعارة ; لأن الإعارة لما كانت تمليك المنفعة أو إباحة المنفعة على اختلاف الأصلين , ولا يمكن الانتفاع إلا باستهلاكها , ولا سبيل إلى ذلك إلا بالتصرف في العين لا في المنفعة

Berdasarkan penjelasan ini dipahami, bahwa meminjamkan Dinar atau Dirham, statusnya adalah utang dan bukan pinjam meminjam. Karena pinjam-meminjam hanya untuk benda yang bisa diberikan dalam bentuk perpindahan manfaat (hak pakai). Sementara Dinar Dirham tidak mungkin dimanfaatkan, kecuali dengan dihabiskan. Tidak ada cara lain untuk itu, selain menghabiskan bendanya, bukan mengambil hak gunanya.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan:

لو استعار حليا ليتجمل به صح ; لأنه يمكن الانتفاع به من غير استهلاك بالتجمل… وكذا إعارة كل ما لا يمكن الانتفاع به إلا باستهلاكه كالمكيلات والموزونات , يكون قرضا لا إعارة لما ذكرنا أن محل حكم الإعارة المنفعة لا بالعين

Jika ada yang meminjam perhiasan untuk dandan, statusnya sah sebagai pinjaman. Karena perhiasan mungkin dimanfaatkan tanpa harus dihabiskan ketika dandan… sementara meminjamkan benda yang tidak mungkin bisa dimanfaatkan kecuali dengan dihabiskan, seperti bahan makanan yang ditakar atau ditimbang, statusnya utang, bukan pinjam meminjam, sesuai apa yang kami sebutkan sebelumnya, bahwa posisi pinjam meminjam hanya hak guna, bukan menghabiskan bendanya. (Bada’I as-Shana’I, 8/374)

Pinjam Motor, Bukan Utang Motor

Karena itulah, ketika akadnya pinjam motor, lalu dikembalikan dalam waktu yang ditentukan dengan kondisi barang yang sama, TIDAK bisa disebut utang motor.

Sehingga ketika pengembalian dipenuhi bensinnya, bukan termasuk tambahan atas utang, sehingga TIDAK ada kaitannya dengan riba.

Allahu a’lam.

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/29437-motor-kembali-bensin-isi-penuh-ini-riba.html

,

PRESIDEN SUKARNO SAJA BANGGA TERHADAP DAKWAH TAUHID “WAHABI”

PRESIDEN SUKARNO SAJA BANGGA TERHADAP DAKWAH TAUHID WAHABI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid
#ManhajSalaf
PRESIDEN SUKARNO SAJA BANGGA TERHADAP DAKWAH TAUHID “WAHABI”
>> Presiden Sukarno Mendukung Gerakan Pemurnian Agama “Wahabisme”
>> Pesan Presiden RI. Pertama Ir. Sukarno “Agar Umat Islam Kembali Ke Manhaj Salaf”

Di buku yang berjudul “Di Bawah Bendera Revolusi” (yaitu kumpulan tulisan dan pidato-pidato beliau) jilid pertama, cetakan kedua,tahun 1963. pada halaman 390, beliau mengatakan sebagai berikut:

((” Tjobalah pembatja renungkan sebentar “Padang-pasir” dan “Wahabisme” itu. Kita mengetahui djasa Wahabisme jang terbesar: ia punja kemurnian, ia punja keaslian, – murni dan asli sebagai udara padang-pasir, kembali kepada asal, kembali kepada Allah dan Nabi, kembali kepada Islam di zamanja Muhammad!”

Kembali kepada kemurnian, tatkala Islam belum dihinggapi kekotorannya seribu satu tahajul dan seribu satu bid’ah.

Lemparkanlah djauh-djauh tahajul dan bid’ah itu, tjahkanlah segala barang sesuatu jang membawa kemusjrikan! ….”))

Berikut scan dari buku tersebut:

 

sukarno-mengagumi-wahabi

 

Buku yang berjudul “Dibawah Bendera Revolusi” (jilid pertama, cetakan kedua, tahun 1963, pada halaman 390) berikut sampul buku tersebut:

 

sampul-buku-sukarno-kagumi-wahabi

 

————

Nampak jelas bahwa presiden pertama RI. Ir. Sukarno sendiri menganggap, gerakan Wahabi adalah suatu gerakan “PEMURNI ISLAM”, gerakan yang menentang seribu satu Tahayul dan Bid’ah yang ada dalam Islam, dengan semboyan “Kembali kepada Allah dan kepada Nabi”

Mari wahai saudaraku, kita kembali kepada Alquran dan As Sunnah, kedua warisan Nabi Muhammad shallahu ‘alayhi wassalam, agar kita selamat dunia dan Akhirat.

Aamiin

Mujiarto Karuk

 

Sumber: http://firanda.com/index.php/artikel/wejangan/815-presiden-sukarno-mendukung-gerakan-pemurnian-agama-Wahabisme

,

SOLUSI DARI NABI BAGI YANG KEHILANGAN KEKHUSYUAN

SOLUSI DARI NABI BAGI YANG KEHILANGAN KEKHUSYUAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

SOLUSI DARI NABI BAGI YANG KEHILANGAN KEKHUSYUAN

Khusyu’ merupakan ruh dari ibadah shalat. Telah diketahui, bahwa pahala ibadah shalat yang dikerjakan seseorang hanyalah tercatat pada saat-saat dia khusyu saja.

Mengingat pentingnya perkara khusyu dalam shalat, maka Nabi Muhammad ﷺ pun tentu tidak akan membiarkan begitu saja umatnya terbawa oleh was-was yang dilemparkan oleh setan.

Oleh karenanya, di saat ada seseorang yang mengadu pada beliau ﷺ seraya berkata:

 إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ حَالَ بَيْنِي وَبَيْنَ صَلَاتِي وَقِرَاءَتِي يلبسها عَلَيَّ

“Sesungguhnya setan telah menghalangi antara aku dan shalat, serta bacaanku (dalam shalat), hingga membuat aku kacau.”

Nabi ﷺ pun memberikan solusi pada orang ini:

 ذَاكَ شَيْطَانٌ يُقَالُ لَهُ خَِنْزَبٌ فَإِذَا أَحْسَسْتَهُ فَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْهُ وَاتْفُلْ عَنْ يَسَارِكَ ثَلَاثًا

“Sesungguhnya itu ialah setan yang disebut dengan Khanzab. Apabila kau merasakan kehadirannya, maka mohonlah perlindungan kepada Allah dari gangguannya, serta meludah kecillah ke arah kirimu sebanyak tiga kali.” [HR. Muslim, no. 2203]

Makna menghalangi antara aku dan shalat serta bacaanku ialah: Setan mengacaukan dan menghalangiku dari nikmatnya shalat, juga mencegahku sampai pada kekhusyuan. [Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim, XIV/190]

Sehingga dari hadis ini kita dapatkan faidah, bahwa dianjurkan bagi yang terganggu shalatnya untuk melakukan dua hal:

  1. Berlindung diri kepada Allah, yakni dengan membaca: A-’udzu billaahi minasysyaithonirrojiim 

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم

  1. Setelah itu meludah kecil ke arah kiri sebanyak tiga kali.

Dan benar saja, manfaat dari pada dua hal ini benar-benar dirasakan oleh sahabat yang bertanya ini ketika shalatnya terganggu. Beliau menyatakan:

 فَفَعَلْتُ ذَلِكَ فَأَذْهَبَهُ اللَّهُ عَنِّي

“Aku pun melakukannya, hingga Allah menghilangkan gangguan itu dari shalatku.” [al-Hadits]

Wallahu a’lam wa huwa waliyyut taufiiq..

 

Penulis: Ustadz Pupus

Sumber: http://www.nasehatetam.com/read/82/solusi-dari-nabi-bagi-yang-kehilangan-kekhusyuan#sthash.Z0k2UtYP.dpuf

,

APA YANG DIBUTUHKAN OLEH DAKWAH SALAFIYYAH?

APA YANG DIBUTUHKAN OLEH DAKWAH SALAFIYYAH?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama
#ManhajSalaf

APA YANG DIBUTUHKAN OLEH DAKWAH SALAFIYYAH?

Berkata al Allamah Rabi’ al Madkhaliy hafidzahullah:

” السلفية تحتاج إلى عقلاء ، تحتاج إلى رحماء ، تحتاج إلى حكماء ، تحتاج قبل ذلك إلى علماء .
فإذا كانت هذه الأمور ليست موجودة في السلفيين ، فأين تكون السلفية ؟
تضيع – بارك الله فيكم – ” .

” مجموع كتب ورسائل وفتاوى الشيخ ربيع المدخلي: 14 / 90 ” .

“As Salafiyyah:

  • Membutuhkan kepada Uqola’ (Orang-orang yang berakal, cerdas);
  • Membutuhkan kepada Ruhama’ (Orang -orang memiliki rahmat, kasih sayang);
  • Membutuhkan kepada Hukama’ (Orang -orang yang bijak);
  • Dan sebelum itu semua, membutuhkan kepada Ulama’ (Orang -orang yang berilmu).

Maka, apabila perkara-perkara ini tidak ada pada Salafiyyin, lalu bagaimana akan terwujud dakwah Salafiyyah?
Maka akan hilang, sia-sia.

-Barokallahu fikum-

[Majmu’ Kutub Wa Rasail Wa Fatawa Asy Syaikh Rabi’ al Madkhaliy (14/90)]

,

BAHAYANYA BID’AH

BAHAYANYA BID'AH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#ManhajAkidah
#StopBidah

BAHAYANYA BID’AH

Dalam sebuah atsar (perkataan salaf) diceritakan, bahwa Iblis berkata: “Kubinasakan anak keturunan Adam dengan dosa, namun mereka membalas membinasakanku dengan istighfar dan ucapan la ilaha illallah.

Setelah kuketahui hal tersebut, maka kusebarkan di tengah-tengah mereka hawa nafsu (baca: bid’ah). Akhirnya mereka berbuat dosa, namun tidak mau bertaubat, karena mereka merasa sedang berbuat baik.” [Lihat Ajwaabul Kaafi: 58, 149-150, Al-I’tisham 2/62]

 

Sumber: https://almanhaj.or.id/1203-sisi-perbedaan-antara-bidah-dengan-maksiat.html