Posts

,

DOA MEMOHON PANJANG UMUR DAN BANYAK HARTA

DOA MEMOHON PANJANG UMUR DAN BANYAK HARTA
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
 
DOA MEMOHON PANJANG UMUR DAN BANYAK HARTA
 
Di antara doa Nabi ﷺ pada Anas radhiyallaahu ‘anhu adalah:
 
اللَّهُمَّ ارْزُقْهُ مَالًا، وَوَلَدًا، وَبَارِكْ لَهُ
 
“Ya Allah, tambahkanlah rezeki padanya berupa harta dan anak, serta berkahilah dia dengan nikmat tersebut.” [HR. Bukhari no. 1982 dan Muslim no. 660]
 
Dalam riwayat lainnya disebutkan, bahwa Nabi ﷺ mendoakan Anas radhiyallaahu ‘anhu dengan doa:
 
اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ ، وَبَارِكْ لَهُ فِيمَا أَعْطَيْتَهُ
 
“Ya Allah, perbanyaklah harta dan anaknya, serta berkahilah apa yang Engkau karuniakan padanya.” [HR. Bukhari no. 6334 dan Muslim no. 2480]
 
Dalam doa di atas terdapat dalil bolehnya meminta pada Allah banyak harta dan banyak, anak serta keberkahan dalam harta dan anak. Dan di sini terdapat anjuran untuk mendoakan hal dunia, namun disertai dengan mendoakan keberkahan di dalamnya. Yang namanya berkah adalah bertambahnya kebaikan dan kebaikan tersebut tetap terus ada. Harta dan anak bisa jadi berfaidah, jika dimanfaatkan dalam kebaikan.
 
Dalam buku Ad Du’a minal Kitab was Sunnah, Syaikh Sa’id bin Wahf Al Qohthoni hafizhohullah menyusun doa yang amat bagus sebagai berikut:
 
اللَّهُمَّ أكْثِرْ مَالِي، وَوَلَدِي، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أعْطَيْتَنِي وَأطِلْ حَيَاتِي عَلَى طَاعَتِكَ، وَأحْسِنْ عَمَلِي وَاغْفِرْ لِي
 
ALLOHUMMA AK-TSIR MAALII WA WALADII, WA BAARIK LII FIIMAA A’THOITANII WA ATHIL HAYAATII ‘ALA THO’ATIK WA AHSIN ‘AMALII WAGH-FIR LII
 
Artinya:
Ya Allah perbanyaklah harta dan anakku, serta berkahilah karunia yang Engkau beri. Panjangkanlah umurku dalam ketaatan pada-Mu, dan baguskanlah amalku serta ampunilah dosa-dosaku.” [Doa ini adalah intisari dari dalil-dalil yang telah disebutkan di atas. [Sebagian bahasan ini diolah dari Syarh Ad Du’a minal Kitab was Sunnah (Syaikh Sa’id bin Wahf Al Qohthoni), Mahir bin ‘Abdul Humaid bin Muqoddam, soft file (.doc)]
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
 #doa,  #do’a,  #dzikir,  #zikir,  #mohon,  #memohon,  #panjangumur,  #harta,  #banyakharta,  #kayaraya #doamintakaya #doamintapanjangumur
,

BOLEHKAH ZAKAT DIBAYAR BULANAN?

BOLEHKAH ZAKAT DIBAYAR BULANAN?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
BOLEHKAH ZAKAT DIBAYAR BULANAN?
 
Pertanyaan:
Bolehkah bayar zakat bulanan? Misalnya saya memberikan donasi ke keluarga miskin Rp 500 ribu/bulan dan itu saya niatkan untuk zakat. Apakah itu sah?
 
Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,
 
Bahwa Allah ta’ala menetapkan waktu yang berbeda-beda untuk pelaksanaan ibadah. Ada ibadah yang dikerjakan seumur hidup sekali, seperti akikah atau khitan. Ada ibadah yang dikerjakan tahunan, seperti puasa Ramadan, shalat id, atau haji. Ada ibadah yang dikerjakan bulanan, seperti puasa Ayyamul Bidh, ada ibadah yang dikerjakan per-pekanan, seperti Jumatan, dan ada ibadah yang dikerjakan harian, seperti shalat lima waktu.
 
Ibadah zakat waktu pelaksanannya juga berbeda-beda.
 
Zakat Pertanian (Zakat Zira’ah) ditunaikan ketika panen. Dan waktu panen, bisa berbeda-beda antara satu petani dengan yang lainnya. Allah berfirman:
 
كُلُوا مِنْ ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَآتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ
 
Makanlah dari buahnya bila dia berbuah, dan tunaikanlah zakatnya di hari panen. [QS. Al-An’am: 141]
 
Zakat mal (emas, perak, uang, dan perdagangan) dibayar setahun sekali.
 
Dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:
 
إِذَا كَانَتْ لَكَ مِائَتَا دِرْهَمٍ وَحَالَ عَلَيْهَا الْحَوْلُ فَفِيهَا خَمْسَةُ دَرَاهِمَ ، وَلَيْسَ عَلَيْكَ شَيْءٌ يَعْنِي فِي الذَّهَبِ حَتَّى يَكُونَ لَكَ عِشْرُونَ دِينَارًا ، فَإِذَا كَانَ لَكَ عِشْرُونَ دِينَارًا وَحَالَ عَلَيْهَا الْحَوْلُ فَفِيهَا نِصْفُ دِينَارٍ ، فَمَا زَادَ فَبِحِسَابِ ذَلِكَ
 
“Jika kamu punya 200 Dirham dan sudah mengendap selama setahun, maka ada kewajiban zakat 5 Dirham. Dan kamu tidak memiliki kewajiban zakat untuk emas, kecuali jika kamu memiliki 20 Dinar. Jika kamu memiliki 20 Dinar, dan sudah genap selama setahun, maka zakatnya ½ Dinar. Lebih dari itu, mengikuti hitungan sebelumnya.” [HR. Abu Daud 1573 & dishahihkan al-Albani]
 
Hadis ini secara tegas menunjukkan, bahwa zakat Dinar, Dirham, termasuk mata uang, DILAKUKAN SETAHUN SEKALI. Sehingga idealnya, zakat mal dibayar pertahun, dan BUKAN bulanan. Karena zakat mal itu amal tahunan dan bukan amal bulanan.
 
Bayar Zakat Mal Tiap Bulan?
 
Ada beberapa kemungkinan bagi mereka yang membayar zakat mal tiap bulan:
 
Pertama: Menunda Pelaksanaan Zakat
 
Misal, setelah si A menghitung seluruh hartanya, nilai zakat yang harus dia keluarkan di bulan Ramadan 1438 H adalah Rp 5 juta. Namun oleh si A uang ini disimpan dan dibayarkan secara bertahap, Rp 500 ribu/bulan. Sehingga si A selesai membagi zakatnya Jumadil Akhirah 1439 H.
 
Tindakan semacam ini termasuk PELANGGARAN, karena berarti si A menunda pembayaran zakat. Ada hak para mustahiq zakat yang tidak segera dia diserahkan. Ibnu Qudamah mengatakan:
 
قَالَ أَحْمَدُ : لا يُجَزِّئُ عَلَى أَقَارِبِهِ مِنْ الزَّكَاةِ فِي كُلِّ شَهْرٍ . يَعْنِي لا يُؤَخِّرُ إخْرَاجَهَا حَتَّى يَدْفَعَهَا إلَيْهِمْ مُتَفَرِّقَةً , فِي كُلِّ شَهْرٍ شَيْئًا
 
Imam Ahmad mengatakan: ‘Tidak boleh membagi zakat kepada kerabatnya setiap bulan.’ Maksud beliau, tidak boleh mengakhirkan pembayaran zakat, lalu dibagikan setahap demi setahap kepada mereka (mustahiq) setiap bulan. [al-Mughni, 2/510]
 
Lajnah Daimah pernah mendapatkan pertanyaan:
 
Bagaimana hukumnya ketika lembaga pengelola zakat mengumpulkan dana zakat dari masyarakat, lalu dia simpan dan disalurkan secara bertahap tiap bulan, baru habis selama setahun?
 
Jawaban Lajnah Daimah:
 
يجب على الجمعية صرف الزكوات في مستحقيها وعدم تأجيلها إذا وجد المستحق
 
Wajib bagi lembaga penampung zakat untuk menyerahkan zakat itu kepada para mustahiq (orang yang berhak menerima zakat), dan TIDAK DITUNDA, selama mustahiq sudah ada. [Fatwa Lajnah Daimah, 9/402]
 
Kedua: Menyegerakan Pembayaran Zakat
 
Misal, pada Muharram 1439 H, si B menghitung harta zakatnya, dan total zakat yang harus dia keluarkan senilai Rp 3 juta dan dia serahkan utuh ke mustahiq yang ada. Setelah dana zakat habis, ada orang tidak mampu yang butuh bantuan bulanan. Lalu oleh si B dibantu dengan dana Rp 4 juga, diserahkan Rp 500 ribu/bulan. Si B meniatkan ini sebagai zakat.
 
Apa yang dilakukan si B hakikatnya adalah menyegerakan pembayaran zakat SEBELUM haul. Dan dia dibenarkan untuk melakukan hal itu.
 
Setelah menyebutkan keterangan Imam Ahmad seperti yang tercantum di atas, Ibnu Qudamah mengatakan:
 
فَأَمَّا إنْ عَجَّلَهَا فَدَفَعَهَا إلَيْهِمْ , أَوْ إلَى غَيْرِهِمْ مُتَفَرِّقَةً أَوْ مَجْمُوعَةً , جَازَ لأَنَّهُ لَمْ يُؤَخِّرْهَا عَنْ وَقْتِهَا
 
“Sementara apabila dia menyegerakan zakat, lalu dia serahkan ke para keluarganya (yang berhak menerima zakat) atau mustahiq lainnya, baik dengan bertahap atau langsung sekaligus, hukumnya boleh. Karena dia tidak mengakhirkan pembayaran zakat melebihi waktunya.” [al-Mughni, 2/510]
 
Lajnah Daimah pernah ditanya tentang hukum menyegerakan pembayaran zakat mal tahun depan, namun diserahkan dalam bentuk donasi rutin untuk keluarga yang tidak mampu, dibayarkan setiap bulan.
 
Jawaban Lajnah Daimah:
 
لا بأس بإخراج الزكاة قبل حلول الحول بسنة أو سنتين إذا اقتضت المصلحة ذلك ، وإعطاؤها الفقراء المستحقين شهريّاً
 
“Tidak masalah membayar zakat setahun atau dua tahun sebelum selesai masa haul, jika ada maslahat di sana. Dan boleh diberikan kepada orang miskin yang berhak menerima setiap bulan.” [Fatawa Lajnah Daimah, 9/422]
 
Ketiga: Bayar Zakat Setiap Kali Menerima Gaji
 
Jika yang bersangkutan belum memiliki simpanan harta sebesar satu nishab, jelas ini tidak bisa dihitung sebagai zakat. Karena berarti membayar zakat sebelum nishab. Dan ulama sepakat, membayar zakat sebelum nishab, tidak dihitung sebagai zakat.
 
Demikian, Allahu a’lam.
 
 
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#hukum,#mustahiq, #mustahik, #lembagapengelolazakat, #zakat, #jakat, #sedekah, #shodaqoh, #shadaqah, #infaq, #infak, #maal, #mal, #harta, #fitrah, #fitri, #fithri, #nishab, #nishob, #haul, #hawl, #penerimazakat, #delapangolongan, #8golongan, #fakirmiskin, #bayarbulanan, #zakatdibayarbulanan #zakatbulanan
,

JATAH WARISAN BISA SAMA DENGAN SAUDARA LAKI-LAKI

JATAH WARISAN BISA SAMA DENGAN SAUDARA LAKI-LAKI
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
#FikihWarisan
 
JATAH WARISAN BISA SAMA DENGAN SAUDARA LAKI-LAKI
 
Pertanyaan:
Saya 7 bersaudara: 6 laki-laki dan 1 perempuan (saya). Kedua orang tua meninggal dan mewariskan tanah. Dalam tuntunan pembagian warisan, laki-laki mendapat jatah 2 dan perempuan mendapat jatah 1. Tapi dari 6 saudara lelaki saya sepakat, kalau pembagian warisan dibagi rata saja, jadi perempuan (saya) mendapat jatah sama dengan laki-laki. Apakah hal seperti ini diperbolehkan? Dan saya pernah dengar, jika jatah lebih untuk perempuan itu tidak bisa dikatakan warisan tetapi hibah, dan lelaki harus berucap kepada perempuan, kalau kelebihan itu bukan warisan tetapi hibah. Apakah hal ini benar?
 
Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,
 
Kalau yang Anda sebutkan, bahwa seluruh saudara laki-laki rida untuk dabagi sama rata, maka BOLEH dibagi sama rata. Benar, bahwa itu bukan warisan namanya, tapi kelebihan yang diterima perempuan adalah hibah dari laki-laki. TIDAK disyaratkan untuk dilafalkan secara eksplisit “Hibah”. Namun apabila jelas nampak keridaan dari pihak laki-laki untuk mengurangi jatahnya dan diberikan pada pihak perempuan, maka SUDAH SAH HIBAH tersebut.
 
Dijawab Ustadz Muhammad Yasir, Lc. (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)
,

SERBA SERBI WASIAT DALAM ISLAM

SERBA SERBI WASIAT DALAM ISLAM

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 

#FikihWarisan

SERBA SERBI WASIAT DALAM ISLAM
>> Di Antara Contoh Kasus Wasiat yang Tidak Dibenarkan oleh Syariat

Setiap Muslim sudah seharusnya memahami apa itu wasiat. Salah memahami wasiat, bisa berdampak fatal. Salah berwasiat, bisa bernilai kezaliman. Sebagai Muslim yang baik, bagian ini wajib kita pahami, karena kita pasti akan mati.

Beberapa hari yang lewat, saya bincang-bincang dengan seseorang yang berasal dari keluarga poligami. Artinya, ayahnya memiliki dua istri, dan dia anak dari ibu kedua. Dari ibu pertama sang ayah mendapatkan sembilan anak, sedangkan dari ibu kedua dia mendapatkan lima anak. Sebelum sang ayah meninggal dunia, dia menuliskan wasiat berisi tata cara pembagian waris dari harta sang ayah. Anak-anak dari ibu kedua diberi warisan berupa dua lokasi, sedangkan anak-anak dari ibu pertama diberi warisan dari satu lokasi, yang nilainya jauh lebih besar dibandingkan nilai dua lokasi di atas.

Inilah contoh kasus wasiat yang TIDAK DIBENARKAN OLEH SYARIAT. Mengapa wasiat di atas tergolong wasiat yang terlarang? Jawabannya bisa disimak di bawah ini:

Pengertian Wasiat

Kata Wasiat termasuk kosa kata bahasa Arab yang sudah menjadi bahasa Indonesia. Dalam bahasa aslinya bahasa Arab, wasiat itu bermakna perintah yang ditekankan.

Wasiat dalam makna yang luas adalah nasihat yang diberikan kepada seorang yang dekat di hati semisal anak, saudara, maupun teman dekat, untuk melaksanakan suatu hal yang baik, atau menjauhi suatu hal yang buruk. Wasiat dengan pengertian memberikan pesan yang penting ketika hendak berpisah dengan penerima pesan ini, biasanya diberikan saat merasa kematian sudah dekat, hendak bepergian jauh, atau berpisah karena sebab lainnya.

Sedangkan wasiat yang kita bahas kali ini adalah khusus terkait pesan yang disampaikan oleh orang yang hendak meninggal dunia.

Wasiat jenis ini bisa bagi menjadi dua kategori:

Pertama: Wasiat kepada orang yang hendak untuk melakukan suatu hal, semisal membayarkan utang, memulangkan pinjaman dan titipan, merawat anak yang ditinggalkan, dst.

Kedua: Wasiatkan dalam bentuk harta, agar diberikan kepada pihak tertentu, dan pemberian ini dilakukan setelah pemberi wasiat meninggal dunia.

Hukum Wasiat

Hukum wasiat tergantung pada kondisi orang yang menyampaikan wasiat. Berikut rinciannya:

  1. Menyampaikan wasiat hukumnya wajib untuk orang yang punya utang atau menyimpan barang titipan atau menanggung hak orang lain, yang dikhawatirkan manakala seorang itu tidak berwasiat maka hak tersebut tidak ditunaikan kepada yang bersangkutan.
  2. Berwasiat hukumnya dianjurkan untuk orang yang memiliki harta berlimpah dan Ahli Warisnya berkecukupan. Dia dianjurkan untuk wasiat agar menyedekahkan sebagian hartanya, baik sepertiga dari total harta atau kurang dari itu, kepada kerabat yang tidak mendapatkan warisan atau untuk berbagai kegiatan sosial.
  3. Berwasiat dengan harta hukumnya makruh jika harta milik seorang itu sedikit dan Ahli Warisnya tergolong orang yang hartanya pas-pasan. oleh karena itu banyak sahabat radhiyallahu ‘anhum, yang meninggal dunia dalam keadaan tidak berwasiat dengan hartanya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah itu bersedekah kepada kalian dengan sepertiga harta kalian ketika kalian hendak meninggal dunia, sebagai tambahan kebaikan bagi kalian.” [HR. Ibnu Majah, dan dihasankan Al-Albani].

Dari Ibnu Umar, Rasulullah ﷺ bersabda: “Wahai manusia, ada dua hal yang keduanya bukanlah hasil jerih payahmu. Pertama, kutetapkan sebagian hartamu untukmu ketika engkau hendak meninggal dunia untuk membersihkan dan menyucikanmu. Kedua, doa hamba-hambaku setelah engkau meninggal dunia.” [HR. Ibnu Majah, dhaif].

Demikian pula hadis yang yang mengisahkan Nabi mengizinkan Saad bin Abi Waqash untuk wasiat sedekah sebesar sepertiga total kekayaannya [HR Bukhari dan Muslim].

Syarat Sah Wasiat

Pertama: Terkait wasiat dalam bentuk meminta orang lain untuk mengurusi suatu hal semisal membayarkan utang, merawat anak yang ditinggalkan, maka disyaratkan bahwa orang yang diberi wasiat tersebut adalah seorang Muslim dan berakal. Karena jika tidak, dikhawatirkan amanah dalam wasiat tidak bisa terlaksana dengan baik.

Kedua: Orang yang berwasiat adalah orang yang berakal sehat dan memiliki harta yang akan diwasiatkan.

Ketiga: Isi wasiat yang disampaikan hukumnya mubah. Tidak sah wasiat dalam hal yang haram, semisal wasiat agar diratapi setelah meninggal dunia, atau berwasiat agar sebagian hartanya diberikan kepada gereja, atau untuk membiayai acara bid’ah, acara hura hura, atau acara maksiat lainnya.

Keempat: Orang yang diberi wasiat bersedia menerima wasiat. Jika dia menolak, maka wasiat batal, dan setelah penolakan, orang tersebut tidak berhak atas apa yang diwasiatkan.

Di antara Ketentuan Wasiat

Pertama: Orang yang berwasiat boleh meralat atau mengubah-ubah isi wasiat. Berdasarkan perkataan Umar: “Seseorang boleh mengubah isi wasiat sebagaimana yang dia inginkan.” [Diriwayatkan oleh Baihaqi].

Kedua: Tidak boleh wasiat harta melebihi sepertiga dari total kekayaan. Mengingat sabda Nabi ﷺ kepada Saad bin Abi Waqash yang melarangnya untuk berwasiat dengan dua pertiga atau setengah dari total kekayaannya. Ketika Saad bertanya kepada Nabi ﷺ, bagaimana kalau sepertiga, maka jawaban Nabi ﷺ: “Sepertiga, namun sepertiga itu sudah terhitung banyak. Jika kau tinggalkan Ahli Warismu dalam kondisi berkecukupan, itu lebih baik dari pada kau tinggalkan mereka dalam kondisi miskin, lantas mereka mengemis-ngemis kepada banyak orang.” [HR. Bukhari dan Muslim].

Ketiga: Dianjurkan agar kurang dari sepertiga, sebagaimana keterangan Ibnu Abbas: “Andai manusia mau menurunkan kadar harta yang diwasiatkan dari sepertiga menjadi seperempat mengingat sabda Nabi ﷺ ‘Sepertiga, akan tetapi sepertiga itu banyak’.” [HR. Bukhari dan Muslim].

Keempat: Yang terbaik adalah mencukupkan diri dengan berwasiat seperlima dari total kekayaannya, mengingat perkataan Abu Bakar, “Aku rida dengan dengan apa yang Allah ridai untuk dirinya,” yaitu seperlima.” [Syarh Riyadhus Shalihin oleh Ibnu Utsaimin, 1/44].

Kelima: Larangan untuk berwasiat dengan lebih dari sepertiga itu hanya berlaku orang yang memiliki Ahli Waris. Sedangkan orang yang sama sekali tidak memiliki Ahli Waris, dia diperbolehkan untuk berwasiat dengan seluruh hartanya.

Keenam: Wasiat dengan lebih dari sepertiga boleh dilaksanakan, manakala SELURUH Ahli Waris MENYETUJUINYA, dan tidak memermasalahkannya.

Ketujuh: Tidak diperbolehkan [baca: Haram] dan tidak sah, wasiat harta yang diberikan kepada Ahli Waris yang mendapatkan warisan, meski dengan nominal yang kecil, kecuali jika seluruh Ahli Waris sepakat membolehkannya, setelah pemberi wasiat meninggal. Nabi ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah itu telah memberikan kepada semua yang memiliki hak apa yang menjadi haknya. Oleh karena itu tidak ada wasiat harta bagi orang yang mendapatkan warisan.” [HR Abu Daud, dinilai Shahih oleh al Albani].

Kedelapan: Jika wasiat harta untuk orang yang mendapatkan warisan itu ternyata hanya disetujui oleh sebagian Ahli Waris karena sebagian yang lain menyatakan ketidaksetujuannya, maka isi wasiat dalam kondisi ini hanya bisa dilaksanakan pada bagian yang menyetujui isi wasiat, namun tidak bisa diberlakukan pada bagian warisan yang tidak menyetujuinya.

Penutup

Pada kasus wasiat di bagian prolog tulisan, wasiat tersebut termasuk wasiat terlarang, karena wasiat tersebut menyebabkan aturan Islam dalam pembagian harta warisan tidak bisa dilaksanakan. Dalam aturan Islam, semua anak, baik dari ibu pertama maupun dari ibu yang kedua, memiliki hak yang sama atas harta peninggalan ayahnya. Sehingga seharusnya seluruh harta milik ayah diinventaris dengan baik, kemudian dibagikan kepada seluruh anak yang ada, baik dari ibu pertama maupun ibu kedua. Kemudian dibagi dengan aturan Islam, yaitu anak laki laki mendapatkan dua kali lipat bagian anak perempuan.

Allahu a’lam.

 

Ditulis oleh: Ustad Aris Munandar, M.P.I.

[Artikel www.KonsultasiSyariah.com]

Sumber: https://konsultasisyariah.com/17822-serba-serbi-wasiat-dalam-islam.html

,

KONSEKUENSI MELAKSANAKAN WASIAT WARIS YANG ZALIM

KONSEKUENSI MELAKSANAKAN WASIAT WARIS YANG ZALIM
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
#FikihWarisan
 
KONSEKUENSI MELAKSANAKAN WASIAT WARIS YANG ZALIM
 
Pertanyaan:
Kedua orang tua saya meninggal dunia dan meninggalkan tiga anak, yaitu dua laki-laki dan satu perempuan. Tapi sebelum meninggal, orang tua saya hanya mengatasnamakan saya saja sebagai ahli waris. Sedangkan kedua saudara saya tidak ada. Apakah dia berhak?
 
Jawaban:
Bahkan semua berhak. Jika Anda ambil sendiri dengan berpegang wasiat ayah, maka:
 
1. Anda melaksanakan wasiat yang isinya dosa, dan ini akan menambah siksaan bagi ayah Anda.
2. Anda merampas hak orang lain, yaitu saudara Anda, dan itu perbuatan kezaliman.
 
Cara Pembagian Waris:
 
Jika Anda tidak memiliki ibu, maka harta warisan ayah hanya jatuh ke tangan anak-anaknya.
 
Semua harta orang tua dibagi lima bagian:
 
– Masing-masing anak laki-laki mendapatkan jatah dua bagian.
– Untuk anak perempuan mendapat satu bagian.
 
Dijawab oleh Ustadz Muhammad Yasir, Lc. (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)
[Artikel www.KonsultasiSyariah.com]
 
 
, ,

HUKUM WASIAT PEMBAGIAN HARTA WARISAN DENGAN CARA TERTENTU

HUKUM WASIAT PEMBAGIAN HARTA WARISAN DENGAN CARA TERTENTU

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 

#FikihWarisan, #FatwaUlama
 
HUKUM WASIAT PEMBAGIAN HARTA WARISAN DENGAN CARA TERTENTU
>> Kedua orang tuanya sebelum meninggal berwasiat tentang pembagian harta warisan dengan cara tertentu, apakah harus diikuti?
 
Pertanyaan:
Ibuku meninggal dunia pada tahun lalu. Kami tidak dapat membagi harta warisan, karena semuanya di bawah kendali ayahku. Akan tetapi ayahku juga meninggal dunia pada 6 Dzulhijjah.
 
Kami tiga saudara perempuan dan satu saudara laki-laki. Dahulu ibuku memerintahkan, agar kami para wanita diberi semua perhiasan peninggalan beliau, sementara saudara laki-lakinya mengambil rumah. Sehingga semua harta warisan telah terbagikan dengan sama (menurut pendapat ibu). Kami tidak mengetahui apa yang seharusnya kami lakukan. Apakah harta warisan dibagi sesuai dengan agama, atau sesuai dengan keinginan orang tuaku?
 
Jawaban:
Alhamdulillah,
 
Jika ayah dan ibu belum membagikan harta warisannya waktu masih hidup, di mana setiap orang telah mengambil semua bagiannya dan dapat memergunakan seperti orang yang telah memilikinya, maka apa yang dikatakannya termasuk wasiat. Sementara WASIAT KEPADA AHLI WARIS ITU TIDAK DAPAT DILAKSAKANAN, kecuali dizinkan oleh ahli waris lainnya. Kalau semua ahli waris yang telah baligh dan bijak itu merelakan dengan wasiat, maka hal itu tidak mengapa. Kalau sekiranya Anda semua ingin dibagi sesuai dengan pembagian agama, maka terserah Anda. Tidak harus melaksanakan wasiat, karena WASIAT UNTUK AHLI WARIS, ASALNYA TIDAK DIPERBOLEHKAN. Kalau hal itu terjadi, tidak dapat dilaksanakan kecuali dengan KERELAAN SEMUA AHLI WARIS.
 
Diriwayatkan oleh Abu Daud, 2870. Tirmizi, 2120. Nasa’i, 4641. Ibnu Majah, 2713 dari Abu Umamah berkata, saya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
 
إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَعْطَى كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ فَلَا وَصِيَّةَ لِوَارِثٍ (والحديث صححه الألباني في صحيح أبي داود)
 
“Sesungguhnya Allah telah memberikan haknya (masing-masing) kepada semua pemilik hak. Maka tidak ada wasiat bagi ahli waris.” (Hadis dishahihkan oleh Al-Albany dalam Shahih Abu Daud)
 
Diriwayatkan oleh Ad-Daruqutny dari hadis Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma dengan teks ‘Tidak diperkenankan wasiat untuk ahli waris, kecuali ahli waris menghendakinya (merelakannya).’ (Dihasankan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Bulugul Maram)
 
Wallahu’alam.
 
,

MARILAH GEMAR BERSEDEKAH

MARILAH GEMAR BERSEDEKAH

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#MutiaraSunnah

MARILAH GEMAR BERSEDEKAH

Inilah permisalan yang Allah gambarkan, yang menunjukkan berlipat gandanya pahala orang yang berinfak di jalan Allah dengan selalu mengharap rida-Nya. Dan ingatlah, bahwa setiap kebaikan akan dibalas 10 hingga 700 kali lipat. Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Sesungguhnya sebagian dari para sahabat Rasulullah ﷺ berkata kepada Nabi ﷺ:

“Wahai Rasulullah, orang-orang kaya lebih banyak mendapat pahala. Mereka mengerjakan shalat sebagaimana kami shalat. Mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, dan mereka bersedekah dengan kelebihan harta mereka”. Nabi ﷺ bersabda:

“Bukankah Allah telah menjadikan bagi kamu sesuatu untuk bersedekah? Sesungguhnya tiap-tiap Tasbih adalah sedekah, tiap-tiap Tahmid adalah sedekah, tiap-tiap Tahlil adalah sedekah, menyuruh kepada kebaikan adalah sedekah, mencegah kemungkaran adalah sedekah dan persetubuhan salah seorang di antara kamu (dengan istrinya) adalah sedekah “. Mereka bertanya: “ Wahai Rasulullah, apakah (jika) salah seorang di antara kami memenuhi syahwatnya, ia mendapat pahala?” Rasulullah ﷺ menjawab:

“Tahukah engkau jika seseorang memenuhi syahwatnya pada yang haram, dia berdosa. Demikian pula jika ia memenuhi syahwatnya itu pada yang halal, ia mendapat pahala”. [HR. Muslim no. 2376]

Dalam hadis ini terlihat, bahwa sahabat-sahabat yang miskin mendatangi Rasulullah ﷺ. Mereka mengadukan kepada beliau ﷺ mengenai orang-orang kaya yang sering membawa banyak pahala, karena sering bersedekah dengan kelebihan harta mereka. Namun pengaduan mereka ini bukanlah hasad (iri) dan bukanlah menentang takdir Allah. Akan tetapi, maksud mereka adalah untuk bisa mengetahui amalan yang bisa menyamai perbuatan orang-orang kaya. Sahabat-sahabat yang miskin ingin agar amalan mereka bisa menyamai orang kaya yaitu dalam hal sedekah, walaupun mereka tidak memiliki harta. Akhirnya Rasulullah ﷺ memberikan mereka solusi, bahwa bacaan zikir, amar ma’ruf nahi mungkar, dan berhubungan mesra dengan istri bisa menjadi sedekah.

 

Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah

Sumber: https://rumaysho.com/83-sedekah-tidaklah-mesti-dengan-harta.html

WASPADAI LIMA DOSA BESAR PENYEBAB BENCANA…!

WASPADAI LIMA DOSA BESAR PENYEBAB BENCANA...!

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#Mutiara_Sunnah

WASPADAI LIMA DOSA BESAR PENYEBAB BENCANA…!

Rasulullah ﷺ bersabda:

 يَا مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِينَ خَمْسٌ إِذَا ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ ، وَأَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ تُدْرِكُوهُنَّ

 لَمْ تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ ، حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا ، إِلاَّ فَشَا فِيهِمُ الطَّاعُونُ ، وَالأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلاَفِهِمُ الَّذِينَ مَضَوْا

 وَلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ ، إِلاَّ أُخِذُوا بِالسِّنِينَ ، وَشِدَّةِ الْمَؤُونَةِ ، وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ

 وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ ، إِلاَّ مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنَ السَّمَاءِ ، وَلَوْلاَ الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا

 وَلَمْ يَنْقُضُوا عَهْدَ اللهِ ، وَعَهْدَ رَسُولِهِ ، إِلاَّ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ غَيْرِهِمْ ، فَأَخَذُوا بَعْضَ مَا فِي أَيْدِيهِمْ

 وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللهِ ، وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ ، إِلاَّ جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ

 

“Wahai kaum Muhajirin, waspadailah lima perkara apabila menimpa kalian, dan aku berlindung kepada Allah semoga kalian tidak menemuinya:

1) Tidaklah perzinahan nampak (terang-terangan) pada suatu kaum pun, hingga mereka selalu menampakkannya, kecuali akan tersebar di tengah-tengah mereka wabah penyakit tha’un, dan penyakit-penyakit yang belum pernah ada pada generasi sebelumnya.

2) Dan tidaklah mereka mengurangi takaran dan timbangan, kecuali mereka akan diazab dengan kelaparan, kerasnya kehidupan dan kezaliman penguasa atas mereka.

3) Dan tidaklah mereka menahan zakat harta-harta mereka, kecuali akan dihalangi hujan dari langit. Andaikan bukan karena hewan-hewan, niscaya mereka tidak akan mendapatkan hujan selamanya.

4) Dan tidaklah mereka memutuskan perjanjian Allah dan perjanjian Rasul-Nya, kecuali Allah akan menguasakan atas mereka musuh dari kalangan selain mereka, yang merampas sebagian milik mereka.

5) Dan tidaklah para penguasa mereka tidak berhukum dengan Kitab Allah, dan hanya memilih-milih dari hukum yang Allah turunkan, kecuali Allah akan menjadikan kebinasaan mereka berada di antara mereka.” [HR. Ibnu Hibban, dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhuma, Ash-Shahihah: 106]

 

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

 

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber:

https://www.facebook.com/taawundakwah/posts/1989695814596553:0

http://www.taawundakwah.com/mutiara-sunnah/mutiara-sunnah-awas-lima-dosa-besar-penyebab-bencana/

 

 

AMBISI ANAK ADAM

AMBISI ANAK ADAM

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MutiaraSunnah

AMBISI ANAK ADAM

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لَابْتَغَى وَادِيًا ثَالِثًا، وَلَا يَمْلَأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ، وَيَتُوبُ اللهُ عَلَى مَنْ تَابَ

“Adaikata anak Adam memiliki dua lembah harta, dia akan mencari lembah yang ketiga. Tidak ada yang memenuhi perut anak Adam kecuali tanah. Allah memberi taubat kepada siapa yang bertaubat.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhary dan Muslim]

 

Penulis: Dzulqarnain Muhammad Sunusi
Sumber: dzulqarnain.net

,

BOLEHKAH SEORANG ISTRI BERSEDEKAH DARI HARTA SUAMI?

BOLEHKAH SEORANG ISTRI BERSEDEKAH DARI HARTA SUAMI?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah

BOLEHKAH SEORANG ISTRI BERSEDEKAH DARI HARTA SUAMI?

Oleh: Ustadzah Arfah Ummu Faynan, Lc

Islam telah memuliakan wanita dengan menjaga hak-haknya. Di antaranya adalah hak istri dalam urusan harta:

  1. Seorang istri berhak mendapatkan mahar dari suaminya.
  2. Seorang istri berhak mendapatkan nafkah harta dari suaminya, sesuai dengan kemampuan suaminya.
  3. Seorang istri memunyai hak milik penuh atas harta pribadi si istri itu sendiri, baik yang didapat dari hasil kerjanya (jika suaminya mengizinkannya bekerja dan tidak ada pelanggaran syariat pada pekerjaannya), atau harta yang dia dapat dari warisan atau pemberian keluarganya, maupun harta (misalnya tabungan) yang istri miliki sejak sebelum menikah.

Tidak diragukan lagi, bahwa Islam memberikan kebebasan kepada seorang istri untuk membelanjakan atau bersedekah dari harta pribadi sang istri.

Namun, BOLEHKAH SEORANG ISTRI BERSEDEKAH DARI HARTA SUAMINYA, ATAU BERSEDEKAH DENGAN SESUATU YANG ADA DI RUMAH SUAMINYA?

Rasulullah ﷺ bersabda:

(( لا يحل لامرأة أن تعطي من مال زوجها شيئا إلا بإذنه ))

“Tidak halal bagi seorang istri, jika dia memberikan (kepada orang lain) dari harta suaminya, kecuali dengan seizin suaminya.”

Hadis dengan lafal ini diriwayatkan oleh Ath-Thayalisi (1234), dan hadis ini dari jalur Al-Baihaqi (4/8108). Imam Ahmad meriwayatkan hadis ini (5/267), Abu Dawud (3565), At-Tirmidzi (670), dan Ibnu Majah (2295) dengan lafal:

(( لا تنفق امرأة شيئا من بيت زوجها إلا بإذن زوجها ))

“Seorang istri tidak boleh bersedekah sedikit pun dari rumah suaminya, kecuali dengan seizin suaminya”

Rasulullah ﷺ bersabda:

(( إذا أنفقت المرأة من طعام بيتها غير مفسدة كان لها أجرها بما أنفقت, ولزوجها بما كسب ))

“Jika seorang istri bersedekah dengan makanan yang ada di rumahnya, dengan tanpa berlebihan dalam bersedekah, maka sang istri mendapat pahala memberi, sedangkan suami mendapat pahala bekerja (mencari uang).” [HR. Al-Bukhari (2065), dengan lafazh darinya, juga HR. Muslim (10/24)]

Rasulullah ﷺ bersabda:

(( إذا تصدقت المرأة من بيت زوجها كان لها أجر, ولزوجها مثل ذلك, لا ينقص كل واحد منهما من أجر صاحبه شيئا ))

“Jika seorang istri bersedekah dengan harta yang ada di rumah suaminya, maka dia mendapat pahala, dan suaminya pun mendapat pahala, masing-masing tidak mengurangi pahala salah seorang di antara mereka berdua.” [HR. Ahmad (6/99), An-Nasaa-i (2539), dan At-Tirmidzi (671), dia menghasankannya]

Para Ulama menjelaskan, Jika SEORANG ISTRI BERSEDEKAH DARI HARTA SUAMINYA, maka hal ini tidak lepas dari TIGA KEADAAN:

KEADAAN PERTAMA: SUAMI MEMBERI IZIN KEPADA ISTRINYA DENGAN IZIN KHUSUS.

Misalnya: Seorang istri bersedekah dari harta suaminya dengan jumlah nominal tertentu kepada seseorang, dengan seizin suaminya (suami mengizinkan istri mengambil harta suami untuk bersedekah, dan suami tahu untuk siapa dia bersedekah dan berapa jumlah yang diberikan).

DALAM KEADAAN INI, ISTRI MENDAPAT PAHALA SEMPURNA, DAN SUAMI MENDAPAT PAHALA SEMPURNA, MASING-MASING TIDAK MENGURANGI PAHALA SALAH SEORANG DI ANTARA MEREKA BERDUA.

KEADAAN KEDUA: SUAMI MEMBERI IZIN KEPADA ISTRINYA DENGAN IZIN UMUM

Misalnya suami biasa memberikan uang belanja kepada istrinya dan istrinya yang bertanggung jawab mengatur belanja, lalu sang istri menyisihkan kelebihan uang belanja untuk bersedekah. Suaminya tahu hal itu dan mengizinkannya, tanpa tahu perincian berapa jumlah yang diberikan, bersedekah kepada siapa, kapan waktunya, dsb. selama tidak merugikan atau mengurangi jatah belanja yang semestinya.

Atau misalnya seorang suami mengizinkan secara umum kepada istrinya untuk bersedekah dari harta suami (di luar uang belanja) dengan tanpa berlebihan dalam bersedekah, tanpa suami tahu perinciannya.

DALAM KEADAAN INI (IZIN UMUM), SANG ISTRI MENDAPAT SETENGAH PAHALA, DAN SUAMI MENDAPAT SETENGAH PAHALA.

KEADAAN KETIGA: SUAMI TIDAK MENGIZINKAN ISTRINYA UNTUK BERSEDEKAH DARI HARTA SUAMI.

Misalnya: Istri mengambil harta suami, lalu dia bersedekah dengan harta tersebut tanpa izin dari suaminya.

DALAM KEADAAN INI, SANG SUAMI MENDAPAT PAHALA SEDEKAH, SEDANGKAN ISTRI MENDAPAT DOSA, wal ‘iyaadzu billah.

Semoga Allah menjadikan kita sebagai istri-istri yang HAAFIZHAAT: Menjaga kehormatan diri, menjaga kehormatan suami, menjaga rumah suami, menjaga harta suami, serta menjaga anak-anak kita, yang semuanya adalah amanah dari Allah.

 

 

———————-

Referensi:

Kitab “Haqq Az-Zaujain”, karya Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili

Sumber: http://www.salamdakwah.com/artikel/2602-bolehkan-seorang-istri-bersedekah-dari-harta-suami