Posts

, , ,

JANGAN MENGEJEK ORANG YANG BERBUAT DOSA

JANGAN MENGEJEK ORANG YANG BERBUAT DOSA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

JANGAN MENGEJEK ORANG YANG BERBUAT DOSA

Jangan merasa diri bisa selamat dari dosa sehingga meremehkan orang lain yang berbuat dosa. Dan meremehkannya pun dalam rangka sombong. “Kamu kok bisa terjerumus dalam zina seperti itu? Aku jelas tak mungkin.”

Dari Mu’adz bin Jabal, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ عَيَّرَ أَخَاهُ بِذَنْبٍ لَمْ يَمُتْ حَتَّى يَعْمَلَهُ

“Siapa yang menjelek-jelekkan saudaranya karena suatu dosa, maka ia tidak akan mati kecuali mengamalkan dosa tersebut.” [HR. Tirmidzi no. 2505. Syaikh Al-Albani berkata bahwa hadis ini Maudhu’]. Imam Ahmad menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah dosa yang telah ditaubati.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

وَكُلُّ مَعْصِيَةٍ عُيِّرَتْ بِهَا أَخَاكَ فَهِيَ إِلَيْكَ يَحْتَمِلُ أَنْ يُرِيْدَ بِهِ أَنَّهَا صَائِرَةٌ إِلَيْكَ وَلاَ بُدَّ أَنْ تَعْمَلَهَا

“Setiap maksiat yang dijelek-jelekkan pada saudaramu, maka itu akan kembali padamu. Maksudnya, engkau bisa dipastikan melakukan dosa tersebut.” [Madarijus Salikin, 1: 176]

Hadis di atas bukan maknanya adalah dilarang mengingkari kemungkaran. Ta’yir (menjelek-jelekkan) yang disebutkan dalam hadis berbeda dengan mengingkari kemungkaran. Karena menjelek-jelekkan mengandung kesombongan (meremehkan orang lain), dan merasa diri telah bersih dari dosa. Sedangkan mengingkari kemungkaran dilakukan lillahi ta’ala, ikhlas karena Allah, bukan karena kesombongan [Lihat Al-‘Urf Asy-Syadzi Syarh Sunan At-Tirmidzi oleh Muhammad Anwar Syah Ibnu Mu’azhom Syah Al-Kasymiri]

Bedakan antara menasihati dengan menjelek-jelekkan. Menasihati berarti ingin orang lain jadi baik. Kalau menjelek-jelekkan ada unsur kesombongan, dan merasa diri lebih baik dari orang lain.

Jangan sombong sampai merasa bersih dari dosa, atau tidak akan terjerumus pada dosa yang dilakukan saudaranya.

Semoga Allah memberikan hidayah demi hidayah.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

[Artikel Rumaysho.Com]

Sumber: https://rumaysho.com/11241-mengejek-orang-yang-berbuat-dosa.html

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

,

LARANGAN PRIA MEMAKAI PAKAIAN SUTRA

LARANGAN PRIA MEMAKAI PAKAIAN SUTRA

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahSunnah

LARANGAN PRIA MEMAKAI PAKAIAN SUTRA

Di antara jenis pakaian yang terlarang bagi pria adalah pakaian sutra. Pakaian ini terlarang bagi pria, namun dibolehkan bagi wanita.

Kebanyakan ulama, bahkan ada yang menukil sebagai konsensus (ijma’) mereka, bahwa memakai sutra murni bagi pria itu haram, kecuali jika dalam keadaan darurat. Dalil-dalil yang menunjukkan haramnya:

Dari Anas bin Malik, ia berkata bahwa Nabi ﷺ bersabda:

لاَ تَلْبَسُوا الْحَرِيرَ فَإِنَّهُ مَنْ لَبِسَهُ فِى الدُّنْيَا لَمْ يَلْبَسْهُ فِى الآخِرَةِ

“Janganlah kalian memakai sutra, karena siapa yang mengenakannya di dunia, maka ia tidak mengenakannya di Akhirat.” (HR. Bukhari no. 5633 dan Muslim no. 2069). Padahal pakaian penduduk Surga adalah sutra. Jadi seakan-akan hadis di atas adalah kinayah (ibarat) untuk tidak masuk Surga. Allah ta’ala berfirman mengenai pakaian penduduk Surga:

وَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ

“Dan pakaian mereka adalah sutra” (QS. Al Hajj: 23).

Juga terdapat riwayat dari Hudzaifah, Nabi ﷺ bersabda:

لاَ تَلْبَسُوا الْحَرِيرَ وَلاَ الدِّيبَاجَ وَلاَ تَشْرَبُوا فِى آنِيَةِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ ، وَلاَ تَأْكُلُوا فِى صِحَافِهَا ، فَإِنَّهَا لَهُمْ فِى الدُّنْيَا وَلَنَا فِى الآخِرَةِ

“Janganlah kalian mengenakan pakaian sutra dan juga dibaaj (sejenis sutra). Janganlah kalian minum di bejana dari emas dan perak. Jangan pula makan di mangkoknya. Karena wadah semacam itu adalah untuk orang kafir di dunia, sedangkan bagi kita nanti di Akhirat.” (HR. Bukhari no. 5426 dan Muslim no. 2067).

Begitu pula dari ‘Umar bin Khottob, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّمَا يَلْبَسُ الْحَرِيرَ فِى الدُّنْيَا مَنْ لاَ خَلاَقَ لَهُ فِى الآخِرَةِ

“Sesungguhnya yang mengenakan sutra di dunia, ia tidak akan mendapatkan bagian di Akhirat” (HR. Bukhari no. 5835 dan Muslim no. 2068)

Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Sesungguhnya orang kafir, mereka bisa mengenakan emas dan perak di dunia. Adapun di Akhirat, mereka tidak akan mendapatkan bagian apa-apa. Sedangkan orang Muslim, mereka akan mengenakan perak dan emas di Surga. Dan mereka akan mendapatkan kenikmatan yang lain yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar telinga dan tidak pernah terbetik dalam hati.” (Syarh Shahih Muslim, 14: 36)

Dari Abu Musa Al Asy’ari, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

حُرِّمَ لِبَاسُ الْحَرِيرِ وَالذَّهَبِ عَلَى ذُكُورِ أُمَّتِى وَأُحِلَّ لإِنَاثِهِمْ

“Diharamkan bagi laki-laki dari umatku sutra dan emas, namun dihalalkan bagi perempuan.” (HR. Tirmidzi no. 1720).

Di antara hikmah kenapa sampai emas dan sutra dilarang:

  • 1- Tasyabbuh (penyerupaan) dengan orang kafir, sebagaimana disebutkan dalam hadis Hudzaifah di atas.
  • 2- Tasyabbuh (penyerupaan) dengan wanita.
  • 3- Berlebihan dalam mengenakan sutra bukanlah sifat jantan dari laki-laki. Memang laki-laki dituntut pula untuk berhias diri, namun tidak berlebih-lebihan. (Lihat Al Minhatul ‘Allam fii Syarh Bulughil Marom karya Syaikh ‘Abdullah bin Sholih Al Fauzan, 4: 207)

Hanya Allah yang memberi taufik.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

[www.rumaysho.com]

Sumber: https://rumaysho.com/3297-larangan-pria-memakai-pakaian-sutra.html

,

 TEMPAT SHALAT TERBAIK BAGI PEREMPUAN

 TEMPAT SHALAT TERBAIK BAGI PEREMPUAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#MuslimahSholihah, #MutiaraSunnah

TEMPAT SHALAT TERBAIK BAGI PEREMPUAN

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

 صَلَاةُ الْمَرْأَةِ فِي بَيْتِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلَاتِهَا فِي حُجْرَتِهَا، وَصَلَاتُهَا فِي مَخْدَعِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلَاتِهَا فِي بَيْتِهَا

“Shalat seorang perempuan di (tengah) rumahnya lebih utama baginya daripada shalatnya di ruangan (dekat tembok rumahnya). Dan shalat seorang perempuan di ruang kecil khusus (di ujung rumah) lebih utama baginya daripada di (tengah) di rumahnya.”

[Diriwayatkan oleh Abu Daud dengan sanad yang Shahih di atas syarat Muslim, sebagaimana yang dikatakan oleh An-Nawawy, Al-Albany dan Al-Wadi’iy]

 

Penulis: Al-Ustadz Dzulqarnain M Sunusi hafizahullah

@dzulqarnainms

TUJUH KRITERIA MANUSIA YANG DIBENCI ALLAH

TUJUH KRITERIA MANUSIA YANG DIBENCI ALLAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#MutiaraSunnah

TUJUH KRITERIA MANUSIA YANG DIBENCI ALLAH

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبْغِضُ كُلَّ جَعْظَرِيٍّ جَوَّاظٍ سَخَّابٍ فِي الْأَسْوَاقِ جِيفَةُ اللَّيْلِ ، حِمَارُ النَّهَارِ ، عَالِمٌ بِالدُّنْيَا ، جَاهِلٌ بِالْآخِرَةِ

Sesungguhnya Allah membenci setiap orang yang:

  • Ja’dzari,
  • Jawwadz,
  • Sakhab di pasar,
  • Bangkai di malam hari,
  • Himar di siang hari,
  • Pintar masalah dunia, dan
  • Bodoh masalah Akhirat. [HR. Baihaqi dalam sunan al-Kubro no. 20593 dan dishahihkan dalam shahih al-Jami’]

Keterangan:

Ada tujuh kriteria manusia yang Allah benci,

Pertama: Ja’dzari. Ada beberapa keterangan tentang maknanya:

a. Orang yang sombong, keras, tidak mau menerima nasehat

b. Orang yang keras kepala, alot, suka menguasai milik orang lain.

Dan kita bisa simak, kedua makna ini berdekatan.

Kedua: Jawwadz. Di antara maknanya:

a. Orang yang banyak makan, banyak minum, suka menolak kebenaran

b. Sombong ketika berjalan, dan keras kepala

Ketiga: Sakhab di pasar

Suka teriak di pasar, dan selalu memaksa ketika bersengketa dengan orang lain. Suka membuat masalah, maunya menang sendiri dan galak.

Keempat: Bangkai di malam hari

Ungkapan untuk menunjukkan karakternya yang banyak tidur, pemalas, dan tidak pernah shalat malam.

Kelima: Himar di siang hari

Himar adalah lambang kebodohan. Dia bodoh pemahamannya, sekalipun pintar cari dunia. Sangat rakus terhadap dunia, hingga tidak pernah perhatian dengan aturan dan ibadah.

Keenam: Pintar masalah dunia

Bicara masalah dunia, dia ahlinya. Bicara masalah harta, dia juga ahlinya.

Ketujuh: Bodoh masalah Akhirat

Tidak pernah perhatian dengan agama, tidak pernah belajar maupun bertanya tentang sesuatu yang tidak dia pahami.

Kita berlindung kepada Allah dari semu karakter di atas.

 

Sumber: https://nasehat.net/453-kriteria-manusia-yang-dibenci-allah.html

BERBAKTI KEPADA ORANG TUA

BERBAKTI KEPADA ORANG TUA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#BirrulWalidain

BERBAKTI KEPADA ORANG TUA

As Syaikh Muhammad bin Solih Al Utsaimin menjelaskan:

“Jika kita perhatikan keadaan manusia pada saat ini, maka kita akan mendapatkan kebanyakan dari mereka tidak berbuat baik kepada orang tua. Bahkan mereka durhaka terhadap keduanya.

Engkau dapati mereka berbuat baik kepada teman-temannya, dan tidak bosan untuk duduk-duduk bersama mereka.

Namun jika mereka duduk dengan ayahnya atau ibunya satu jam saja dari satu hari yang ada, niscaya engkau akan dapati mereka duduk meliuk-liuk, seakan-akan dia duduk di atas bara.

>> INI BUKAN ANAK YANG BERBAKTI.

Hanya saja anak yang berbakti adalah:

1) Orang yang dadanya lapang untuk ibu dan ayahnya.
2) Melayani keduanya.
3) Semangat dan memerhatikan dengan sangat terhadap apa yang menjadi keridaan mereka berdua.

نسأل الله السلامة والعافية

[Syarah Al Aqidah Al Washitiyah; (3/121)]

(Fawwaz bin Ali Al-Madkhalî)

 

Sumber: Twitter @IslamDiaries

,

SABARKANLAH DIRIMU DI ATAS SUNNAH

SABARKANLAH DIRIMU DI ATAS SUNNAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#NasihatUlama

SABARKANLAH DIRIMU DI ATAS SUNNAH

Imam Al Auza’i rahimahullah mengatakan:

” اصبر نفسك على السنة وقف حيث وقف القوم قل بما قالوا وكف عما كفوا واسلك سبيل سلفك الصالح فإنه يسعك ما وسعهم “.

“Sabarkanlah dirimu di atas sunnah.

Berhentilah di mana kaum itu (para shahabat) berhenti.

Ucapkan apa yang mereka katakan.

Titilah jalan para pendahulu yang saleh.

Karena sungguh, yang boleh bagimu adalah yang boleh bagi mereka.” [Diriwayatkan oleh Al Lalakai dalam I’taqad Ahlis Sunnah no. 315].

 

Sumber: Twitter @IslamDiaries

 

BID’AH-BID’AH SEPUTAR AZAN DAN IQOMAT

BID’AH-BID’AH SEPUTAR AZAN DAN IQOMAT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

BID’AH-BID’AH SEPUTAR AZAN DAN IQOMAT

Azan merupakan ibadah. Maka harus ada dalilnya dari Alquran dan as-Sunnah yang Shahih. Oleh karena itu, wajib bagi seorang Muslim untuk mengingkari setiap bentuk ibadah yang tidak ada dalilnya dalam Alquran dan as-Sunnah yang Shahih.

Pada masa sekarang ini, banyak mu’adzin yang melakukan berbagai amalan yang tidak ada asalnya, karena sudah dianggap sebagai sunnah dan suatu kebenaran. Sehingga apabila ditinggalkan, mereka mengatakan: “Islam telah dilalaikan.” Berikut ini beberapa contoh bid’ah seputar azan yang populer di negeri kita:

  1. Memutar Murottal Alquran, Zikir dan Sholawatan Sebelum Shalat

Dalam banyak masjid, biasanya beberapa menit sebelum azan, khususnya sholat Subuh dan sholat Jumat, diputar terlebih dahulu murottal Alquran. Zikr-zikir atau sholawat-sholawat sebagai pengantar azan dan peringatan kepada manusia, bahwa azan telah dekat.

Hal ini sekalipun dipandang baik oleh perasaan banyak orang, akan tetapi tidak ada dalilnya dari Alquran, hadis dan amalan generasi salaf sholih, bahkan tergolong perkara baru dalam agama. Para ulama telah menghukumi hal ini termasuk perbuatan munkar dan bid’ah. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Apa yang diada-adakan dari tasbih sebelum Subuh dan Jumat serta ‘sholawatan’, bukanlah termasuk azan, baik secara bahasa maupun secara syari.” [Fathul Bari’: IIII 2/99]

Lantas, bagaimana lagi kiranya bila hal itu dengan menggunakan pengeras suara?!! Bukankah itu berdampak negatif bagi orang yang mau menggunakan akalnya?!

  1. Menabuh Beduk Sebelum Azan

Di negeri kita, sebelum azan dikumandangkan biasanya mu’adzin terlebih dahulu memukul beduk atau kentongan beberapa pukulan. Padahal sebagaimana dimaklumi Bersama, beduk adalah alat musik dan senda gurau. Lantas pantaskan alat tersebut digunakan untuk memanggil manusia untuk sholat?!

Lantas apakah perbedaannya dengan lonceng atau terompet yang ditolak oleh Rasulullah ﷺ karena hal itu adalah tradisi Yahudi dan Nashoro?!

Tidak ragu lagi, bahwa penggunaan  beduk sebelum azan termasuk kemungkaran dan kebid’ahan dalam agama. Maka hendaknya dicukupkan dengan azan saja tanpa tambahan. Wahai kaum Muslimin, marilah kita beragama berdasarkan tuntunan agama, bukan dengan adat istiadat yang tidak ada dalilnya. [Lihat al-Burhanul Mubin fi Tashoddi lil Bida’ wal Abathil: 1/294 oleh al-Asyrof bin Ibrohim]

  1. Mengeraskan Sholawat Setelah Azan

Dalam banyak masjid, sang mu’adzin biasanya usai azan dia mengeraskan sholawat, seakan-akan bagian dari azan. Tidak ragu lagi, bahwa sholawat kepada Nabi pada asalnya disyariatkan.  Tetapi sholawatan dengan tata cara seperti itu tidak ada tuntunannya dari Nabi ﷺ dan para sahabat. Oleh karena itu para ulama bersepakat, bahwa hal itu tersebut termasuk kemungkaran dan kebid’ahan.

Ibnu Hajar al-Haitsami rahimahullah berkata: “Guru-guru kami dan selain mereka telah ditanya tentang sholawatan kepada Nabi ﷺ setelah azan seperti yang biasa dilakukan mayoritas mu’adzin. Mereka semua memfatwakan, bahwa asalnya adalah sunnah tetapi kaifiyah (tata cara) yang digunakannya adalah bid’ah.” Lanjutnya: “Hal itu karena azan merupakan syiar Islam yang dinukil secara mutawatir sejak masa Nabi ﷺ dan kata-katanya telah terhimpun dalam kitab-kitab hadis dan fiqih, disepakati oleh para imam kaum Muslimin dari Ahli Sunnah wa Jama’ah. Adapun tambahan sholawat dan salam di akhirnya, maka itu merupakan kebid’ahan yang dibuat-buat oleh orang-orang belakangan.” [Al-Fatawa al-Kubro al-Fiqhiyyah: 1/191]

  1. Azan Di Kuburan

Sebagian Syafi’iyyah belakangan mengatakan, bahwa azan di kuburan ketika menguburkan mayit hukumnya adalah sunnah dengan alasan qiyas (analogi) kepada masalah sunnahnya azan di telinga bayi yang baru lahir. Kata mereka: “Kelahiran adalah awal keluar menuju dunia, sedangkan menguburkan mayit adalah awal keluar dari dunia. Maka pembukaannya dianalogikan dengan penutupannya.” [Tuhfatul Muhtaj: 1/461]

Pendapat ini diingkari oleh para ulama Hanafiyyah, Malikiyyah dan Syafi’iyyah. Mereka menegaskan, bahwa azan dikuburan termasuk perkara bid’ah, karena tidak ada dalilnya dari Nabi ﷺ, para sahabat atau seorang pun dari salaf sholih. Dan sebagaimana dimaklumi, bahwa perbuatan seperti ini tidak bisa ditetapkan, kecuali berdasarkan dalil, karena azan adalah ibadah, sedangkan ibadah harus dibangun di atas dalil.

Adapun analogi mereka kepada masalah azan di telinga bayi saat baru lahir, maka ini adalah analogi bathil, karena ibadah itu dibangun di atas dalil, bukan berdasarkan hawa nafsu dan perasaan, terlebih lagi analogi semacam ini jauh sekali. Dari segi manakah persamaan antara kelahiran dan menguburkan mayit di kubur. Sekadar ini di awal dan itu di akhir bukan berarti harus sama.” [Al-Fatawa Al-Kubro: 2/24, Ibnu Hajar al-Haitsami]

Dari sini maka jelaslah bagi kita, bahwa azan ketika menguburkan mayit tidaklah disyariatkan. Bahkan termasuk perkara bid’ah yang tercela. [Dinukil dari Ahkamul Maqobir fi Syariah Islamiyyah hal.370 oleh Dr.Abdulloh as-Sahyibani]

Demikian beberapa contoh bid’ah seputar masalah ini. Sebenarnya, masih banyak lagi lainnya, tetapi kami tidak ingin memerpanjang jumlah halaman, [Lihat Islahul Masajid hal.114-130 oleh Muhammad Jamaluddin al-Qosini, as-Sunan wal Mubtada’at hal.57-61 oleh Muhammad asy-Syuqoiri, as-Sunan wal Mubtada’at hal.114-117 oleh ‘Amr bin Abdul Mun’im]. Apalagi sebagian besarnya kurang populer di negeri kita.

Kita memohon kepada Allah azza wa jalla agar dihindarkan darinya dan memberi hidayah kepada saudara-saudara kita yang masih bersiteguh memertahankannya. Aamiin.

 

Oleh: Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi hafizhahullah

 

Sumber: Diketik ulang dari Majalah al Furqon Edisi 5, Tahun Kesembilan, Dzulhijjah 1430 / Nov-Des 2009, Hal.44-45

 

Sumber: https://alqiyamah.wordpress.com/2010/02/19/sunnah-dan-bidah-seputar-azan-dan-iqomat-02/

,

BAHAYA DUSTA ATAS NAMA NABI

BAHAYA DUSTA ATAS NAMA NABI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

BAHAYA DUSTA ATAS NAMA NABI

Pembahasan ini bermaksud menunjukkan bahayanya menyampaikan hadis-hadis palsu, yang tidak ada asal usulnya sama sekali dari Nabi ﷺ.  Berdusta atas nama seseorang, walaupun bukan orang yang mulia, merupakan dosa besar. Lalu bagaimana jika berdusta atas nama Nabi ﷺ, yang perkataan dan perbuatannya merupakan syariat?

Mari kita simak hadis-hadis berikut ini yang berisi ancaman yang sangat berat dan mengerikan terhadap para pemalsu dan pendusta besar atas nama Rasulullah ﷺ. Dan untuk mereka, Allah jalla wa’ala telah menyediakan tempat tinggal berupa satu rumah di Neraka, yang di situ mereka akan diazab dengan azab yang besar. Hal ini disebabkan, karena berdusta atas nama Rasullah ﷺ adalah sebesar-besar dusta yang dilakukan oleh seorang manusia, sesudah dia berdusta atas nama Allah jalla wa’ala. Bahkan berdusta atas nama Rasulullah ﷺ terancap kafir, dan bisa mengeluarkan seorang Muslim dari ke-Islamannya.

Imam Adz Dzahabi dalam kitab beliau Al Kabair (mengenai dosa-dosa besar) berkata: “Berdusta atas nama Nabi ﷺ adalah suatu bentuk kekufuran yang dapat mengeluarkan seseorang dari Islam. Tidak ragu lagi, bahwa siapa saja yang sengaja berdusta atas nama Rasulullah ﷺ dalam menghalalkan yang haram, dan mengharamkan yang halal, berarti ia melakukan kekufuran. Adapun perkara yang dibahas kali ini adalah untuk bentuk dusta selain itu.”

Beberapa dalil yang dibawakan oleh Imam Adz Dzahabi adalah sebagai berikut:

Dari Al Mughirah, ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ كَذِبًا عَلَىَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ ، مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Sesungguhnya berdusta atas namaku tidaklah sama dengan berdusta pada selainku. Barang siapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di Neraka.” [HR. Bukhari no. 1291 dan Muslim no. 4]

Dalam hadis yang Shahih, Nabi ﷺ bersabda:

فَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ  بنيَ لَهُ بَيْتٌ فِي جَهَنَّمَ

“Barang siapa berdusta atas namaku, maka akan dibangunkan baginya rumah di (Neraka) Jahannam.” [HR. Thobroni dalam Mu’jam Al Kabir]

Imam Dzahabi juga membawakan hadis, Nabi ﷺ bersabda: “Siapa yang berkata atas namaku, padahal aku sendiri tidak mengatakannya, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya di Neraka.”

Dalam hadis lainnya disebutkan pula:

يُطْبَعُ الْمُؤْمِنُ عَلَى الْخِلاَلِ كُلِّهَا إِلاَّ الْخِيَانَةَ وَالْكَذِبَ

“Seorang Mukmin memiliki tabiat yang baik, kecuali khianat dan dusta.” [HR. Ahmad 5: 252. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadis ini Dhoif]

Dari ‘Ali, Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ رَوَى عَنِّى حَدِيثًا وَهُوَ يَرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبَيْنِ

“Siapa yang meriwayatkan dariku suatu hadis yang ia menduga bahwa itu dusta, maka dia adalah salah seorang dari dua pendusta (karena meriwayatkannya).” [HR. Muslim dalam muqoddimah kitab Shahihnya pada Bab “Wajibnya meriwayatkan dari orang yang tsiqoh -terpercaya-, juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah no. 39. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadis ini Shahih]

Setelah membawakan hadis-hadis di atas, Imam Adz Dzahabi berkata:

“Dengan ini menjadi jelas dan teranglah, bahwa meriwayatkan hadis Maudhu’ dari perowi pendusta, (hadis palsu) TIDAKLAH dibolehkan.” [Lihat kitab Al Kabair karya Imam Adz Dzahabi, terbitan Maktabah Darul Bayan, cetakan kelima, tahun 1418 H, hal. 28-29]

Contoh Berdusta Atas Nama Allah dan Rasul-Nya ﷺ

Bentuk-bentuk berdusta atas nama Allah dan Rasul-Nya ﷺ secara sengaja ada banyak, di antaranya:

  1. Berkomentar atau menjawab dalam masalah agama tanpa ilmu yang benar, baik komentarnya (kebetulan) benar, apalagi jika salah.

Allah ta’ala berfirman menyebutkan empat jenis dosa yang menjadi penyebab timbulnya semua dosa (yang artinya): “Katakanlah: “Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) memersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu, dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah, apa yang tidak kalian ketahui.” [QS. Al-A’raf: 33]

Termasuk di dalamnya mengatakan mubah terhadap sesuatu yang dilarang dan sebaliknya. Atau mengatakan sunnah sesuatu yang wajib dan sebaliknya. Atau mengatakan haram sesuatu yang halal dan sebaliknya.

  1. Mengklaim bahwa dirinya didatangi oleh malaikat Jibril. Ini jelas kedustaan atas nama Allah ta’ala, karena Jibril itu hanya turun mendatangi manusia atas perintah Allah ta’ala.
  2. Mengklaim bahwa dia melihat Nabi ﷺ dalam mimpinya, padahal dia sendiri tidak mengetahui, bagaimana ciri-ciri fisik Rasulullah ﷺ.
  3. Mengklaim bahwa dia menerima suatu ajaran baru dari Allah atau Rasul-Nya ﷺ dalam mimpi.
  4. Meyakini atau berbuat bid’ah dalam agama, baik bid’ah berupa keyakinan, ucapan, maupun amalan. Baik dia yang menjadi pencetus bid’ah tersebut, maupun dia hanya sekadar ikut-ikutan.
  5. Menceritakan atau membenarkan hadis yang lemah sekali atau yang palsu, dengan meyakini bahwa Nabi ﷺ pernah mengucapkannya.
  6. Menceritakan atau menisbatkan suatu hadis dari Nabi ﷺ, padahal dia belum mengetahui keadaan sebenarnya dari hadis tersebut, apakah Shahih atau lemah.
  7. Beramal dengan hadis yang lemah apalagi yang palsu, baik dalam fadhail al-a’mal apalagi dalam masalah hukum-hukum.
  8. Menyebarkan pemikiran yang menyimpang lantas mengatasnamakan Islam, semisal mengatakan bom bunuh diri sebagai jihad dan semacamnya.

Semoga Allah memberi taufik dan hidayah.

Sumber:

 

Catatan Tambahan:

Dalam hadis lain, Nabi ﷺ menegaskan:

لَا تَكْذِبُوا عَلَيَّ فَإِنَّهُ مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ فَلْيَلِجِ النَّارَ

“Janganlah kamu berdusta atasku. Karena sesungguhnya, barang siapa berdusta atasku, maka silakan dia masuk ke Neraka.” [HR. Al-Bukhari, no. 106 dan Muslim, no. 1]

Telah bersabda Rasulullah ﷺ: “Barang siapa yang membuat-buat perkataan atas (nama) ku yang (sama sekali) tidak pernah aku ucapkan, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya di Neraka”. [H.R. Ibnu Majah (No. 34) dan Imam Ahmad bin Hambal (2/321)]

 

#StopBidah
#HaditsPalsuMaudhuHadist
#HadistLemahDhaifDhoifHadits
#JanganSebarkanHadisPalsu

 

AMALAN UNTUK MERAIH RAHIQUL MAKHTUM, PAKAIAN HIJAU DAN BUAH DI SURGA

AMALAN UNTUK MERAIH RAHIQUL MAKHTUM, PAKAIAN HIJAU DAN BUAH DI SURGA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#TazkiyatunNufus

AMALAN UNTUK MERAIH RAHIQUL MAKHTUM, PAKAIAN HIJAU DAN BUAH DI SURGA

Mau tahu amalan untuk meraih Rahiqul Makhtum, pakaian hijau dan buah di Surga? Dari Abu Sa’id Al-Khudri, ia berkata, dari Nabi ﷺ bersabda:

أَيُّمَا مُسْلِمٍ كَسَا مُسْلِمًا ثَوْبًا عَلَى عُرْىٍ كَسَاهُ اللَّهُ مِنْ خُضْرِ الْجَنَّةِ وَأَيُّمَا مُسْلِمٍ أَطْعَمَ مُسْلِمًا عَلَى جُوعٍ أَطْعَمَهُ اللَّهُ مِنْ ثِمَارِ الْجَنَّةِ وَأَيُّمَا مُسْلِمٍ سَقَى مُسْلِمًا عَلَى ظَمَإٍ سَقَاهُ اللَّهُ مِنَ الرَّحِيقِ الْمَخْتُومِ

“Muslim mana saja yang memberi pakaian orang Islam lain yang tidak memiliki pakaian, niscaya Allah akan memberinya pakaian dari hijaunya Surga. Muslim mana saja yang memberi makan orang Islam yang kelaparan, niscaya Allah akan memberinya makanan dari buah-buahan di Surga. Lalu Muslim mana saja yang memberi minum orang yang kehausan, niscaya Allah akan memberinya minuman Ar-Rahiq Al-Makhtum (khamr yang dilak).” [HR. Abu Daud, no. 1682; Tirmidzi, no. 2449. Al-Hafizh Abu Thahir menyatakan bahwa sanad hadis ini Dha’if dikarenakan dalam sanadnya terdapat perawi yang dikenal Mudallis [1] yaitu Abu Khalid Ad-Daalani. Hadis ini punya penguat yang juga Dha’if sekali dalam riwayat Tirmidzi]

Hadis di atas adalah hadis Dha’if, namun punya makna yang benar. Yaitu setiap orang yang beramal akan dibalas dengan semisalnya pada Hari Kiamat. Allah ta’ala berfirman:

جَزَاءً مِنْ رَبِّكَ عَطَاءً حِسَابًا

“Sebagai pembalasan dari Rabbmu dan pemberian yang cukup banyak.” [QS. An-Naba’: 36]

هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ

“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” [QS. Ar-Rahman: 60]

Ada tiga amalan yang disebutkan di sini:

  • Memberi pakaian pada orang yang telanjang, termasuk yang belum menutupi aurat.
  • Memberi makan pada orang yang lapar.
  • Memberi minum pada orang yang kehausan.

Balasannya apa?

  • Untuk yang memberi pakaian, mendapatkan pakaian hijau di Surga.
  • Untuk yang memberi makan, mendapatkan buah-buahan di Surga.
  • Untuk yang memberi minum, mendapatkan Ar-Rahiq Al-Makhtum (khamar yang dilak) di Surga.

Disebutkan dalam ayat Alquran tentang pakaian penduduk Surga berwarna hijau:

أُولَئِكَ لَهُمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِنْ ذَهَبٍ وَيَلْبَسُونَ ثِيَابًا خُضْرًا مِنْ سُنْدُسٍ وَإِسْتَبْرَقٍ مُتَّكِئِينَ فِيهَا عَلَى الْأَرَائِكِ نِعْمَ الثَّوَابُ وَحَسُنَتْ مُرْتَفَقًا

“Mereka itulah (orang-orang yang) bagi mereka Surga ‘Adn, mengalir sungai-sungai di bawahnya. Dalam Surga itu mereka dihiasi dengan gelang mas, dan mereka memakai pakaian hijau dari sutra halus dan sutra tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya, dan tempat istirahat yang indah.” [QS. Al-Kahfi: 31]

عَالِيَهُمْ ثِيَابُ سُنْدُسٍ خُضْرٌ وَإِسْتَبْرَقٌ وَحُلُّوا أَسَاوِرَ مِنْ فِضَّةٍ وَسَقَاهُمْ رَبُّهُمْ شَرَابًا طَهُورًا

“Mereka memakai pakaian sutra halus yang hijau dan sutra tebal, dan dipakaikan kepada mereka gelang terbuat dari perak, dan Rabb mereka memberikan kepada mereka minuman yang bersih.” [QS. Al Insan: 21]

Adapun Ar-Rahiq Al-Makhtum adalah khamr di Surga atau minuman di Surga. Ar-Rahiq sendiri adalah khamar yang murni, atau minuman yang masih asli, tidak mungkin dipalsukan. Adapun al-Makhtum artinya dilak, atau dikunci, yang hanya bisa dibuka oleh pemiliknya. Menunjukkan, bahwa minuman tersebut adalah minuman yang sangat spesial. Ada juga yang menyatakan, bahwa minuman tersebut ditutup dengan minyak misk. Sungguh kenikmatan luar biasa. Pengertian ini disebutkan dalam kitab ‘Aun Al-Ma’bud, 5: 77. Pembahasan lainnya bisa dilihat dalam kitab Minhah Al-‘Allam karya Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan, 4: 474-475.

Semoga dengan mengetahui hadis di atas dan ayat-ayat yang dikaji, kita semakin semangat untuk memberi makan, memberi minum dan pakaian kepada orang yang butuh.

Semoga Allah beri taufik.

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

 

Catatan Kaki:

[1] Hadis Mudallis adalah hadis yang di mana seorang perawi menyembunyikan aib dalam isnad (sanad) dan menampakkan seolah-olah itu bagus. Misalnya seorang perawi menyebut bahwa ia mendapatkan hadis dari seorang guru, padahal ia tidak mendengar langsung dan ia tidak menegaskan kalau ia tidak mendengar langsung. Lihat penjelasan dalam Taysir Mustholah Al-Hadis, hlm. 96-97.

 

Sumber: https://rumaysho.com/15719-amalan-untuk-meraih-rahiqul-makhtum-pakaian-hijau-dan-buah-di-Surga.html

BOLEHKAH WANITA SHALAT MENGENAKAN MUKENA TIPIS DAN TRANSPARAN?

BOLEHKAH WANITA SHALAT MENGENAKAN MUKENA TIPIS DAN TRANSPARAN?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi
#MuslimahSholihah

BOLEHKAH WANITA SHALAT MENGENAKAN MUKENA TIPIS DAN TRANSPARAN?

>> Ketika dia shalat sendirian di dalam kamar tidurnya dan lampu dipadamkan

Di masa jahiliah, kata Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, wanita biasa thawaf di Kakbah dalam keadaan tanpa busana. Yang tertutupi hanyalah bagian kemaluannya. Mereka thawaf seraya bersyair:

  • Pada hari ini tampak tubuhku, sebagiannya ataupun seluruhnya
  • Maka apa yang tampak darinya, tidaklah daku halalkan

Maka turunlah ayat:

يَٰبَنِيٓ ءَادَمَ خُذُواْ زِينَتَكُمۡ عِندَ كُلِّ مَسۡجِدٖ

“Wahai anak Adam, kenakanlah zinah (hiasan/pakaian) kalian setiap kali menuju masjid.” (al-A’raf: 31) [Shahih, HR. Muslim no. 3028]

Zinah (hiasan) adalah sesuatu yang dikenakan untuk berhias/memerindah diri. [Mukhtarush Shihah, hlm. 139], seperti pakaian.

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata: “Dahulu orang-orang jahiliah thawaf di Kakbah dalam keadaan telanjang. Mereka melemparkan pakaian mereka, dan membiarkannya tergeletak di atas tanah terinjak-injak oleh kaki orang-orang yang lalu lalang. Mereka tidak lagi mengambil pakaian tersebut selamanya, hingga usang dan rusak. Demikian kebiasaan jahiliah ini berlangsung hingga kedatangan Islam, dan Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan mereka untuk menutup aurat sebagaimana firman-Nya:

بَنِيٓ ءَادَمَ خُذُواْ زِينَتَكُمۡ عِندَ كُلِّ مَسۡجِدٖ

“Wahai anak Adam, kenakanlah hiasan kalian setiap kali shalat di masjid.” (al-A’raf: 31)

Nabi ﷺ bersabda:

لاَ يَطُوْفُ بِالْبَيْتِ عُرْياَنٌ

“Tidak boleh orang yang telanjang thawaf di Kakbah.” (Shahih, HR. al-Bukhari no. 1622 dan Muslim no. 1347) [Shahih Muslim bi Syarhin Nawawi, 18/162—163]

Hadis di atas selain disebutkan oleh al-Imam al-Bukhari rahimahullah pada nomor di atas, pada Kitab al-Haj, Bab “Tidak Boleh Orang Yang Telanjang Thawaf Di Baitullah dan Tidak Boleh Orang Musyrik Melaksanakan Haji”, disinggung pula oleh beliau dalam Kitab ash-Shalah, Bab “Wajibnya Shalat dengan Mengenakan Pakaian.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam syarahnya (penjelasan) terhadap hadis di atas dalam Kitab ash-Shalah berkata: “Sisi pendalilan hadis ini terhadap judul bab yang diberikan al-Imam al-Bukhari rahimahullah adalah, apabila dalam thawaf dilarang telanjang, pelarangan hal ini di dalam shalat lebih utama lagi. Sebab apa yang disyaratkan di dalam shalat, sama dengan apa yang disyaratkan di dalam thawaf, bahkan dalam shalat ada tambahan. Jumhur berpendapat menutup aurat termasuk syarat shalat.” [Fathul Bari, 1/582]

Al-Imam asy-Syaukani rahimahullah berkata dalam Tafsir-nya: “Mereka diperintah untuk mengenakan zinah (hiasan) ketika datang ke masjid,untuk melaksanakan shalat atau thawaf di Baitullah. Ayat ini dijadikan dalil untuk menunjukkan wajibnya menutup aurat di dalam shalat. Demikian pendapat yang dipegangi oleh jumhur ulama. Bahkan menutup aurat hukumnya wajib dalam segala keadaan, sekalipun seseorang shalat sendirian, sebagaimana ditunjukkan oleh hadis-hadis yang Shahih.” [Fathul Qadir, 2/200]

Ada perbedaan antara batasan aurat yang harus ditutup di dalam shalat, dan aurat yang harus ditutup di hadapan seseorang yang tidak halal untuk melihatnya, sebagaimana ada perbedaan yang jelas antara aurat laki-laki di dalam shalat, dan aurat wanita.

Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: “Mengenakan pakaian di dalam shalat adalah dalam rangka menunaikan hak Allah subhanahu wa ta’ala. Maka dari itu, seseorang tidak boleh shalat ataupun thawaf dalam keadaan telanjang, walaupun sendirian di malam hari. Dengan demikian diketahuilah, bahwa mengenakan pakaian di dalam shalat bukanlah karena ingin menutup tubuh (berhijab) dari pandangan manusia. Sebab, ada perbedaan antara pakaian yang dikenakan untuk berhijab dari pandangan manusia, dan pakaian yang dikenakan ketika shalat.” [Majmu’ Fatawa, 22/113—114]

Perlu diperhatikan di sini, menutup aurat di dalam shalat tidaklah cukup dengan berpakaian ala kadarnya. Yang penting menutup aurat, tidak peduli pakaian itu terkena najis, bau, dan kotor misalnya. Namun perlu diperhatikan pula sisi keindahan dan kebersihannya. Sebab, Allah subhanahu wa ta’ala dalam firman-Nya memerintahkan untuk mengenakan zinah (pakaian sebagai perhiasan) ketika shalat, sebagaimana ayat di atas. Jadi, seorang hamba sepantasnya shalat mengenakan pakaiannya yang paling bagus dan paling indah, karena dia akan bermunajat dengan Rabb semesta alam, dan berdiri di hadapan-Nya.

Demikian secara makna dikatakan oleh Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam al-Ikhtiyarat (hlm. 43), sebagaimana dinukil dalam asy-Syarhul Mumti’ ‘ala Zadil Mustaqni’ (2/145).

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah membawakan beberapa syarat pakaian yang dikenakan dalam shalat. Ringkasnya adalah sebagai berikut:

  • Tidak menampakkan kulit tubuh yang ada di balik pakaian
  • Bersih dari najis
  • Bukan pakaian yang haram untuk dikenakan, seperti sutra bagi laki-laki, atau pakaian yang melampaui/melebihi mata kaki bagi laki-laki (isbal)
  • Pakaian tersebut tidak menimbulkan mudarat/bahaya bagi pemakainya. [Lihat pembahasan dan dalil-dalil masalah ini dalam asy-Syarhul Mumti’, 2/148—151]

Bagian Tubuh yang Harus Ditutup

Al-Khaththabi rahimahullah berkata: “Ulama berbeda pendapat tentang bagian tubuh yang harus ditutup oleh wanita merdeka (bukan budak) dalam shalatnya.

Al-Imam asy-Syafi’i dan al-Auza’i rahimahumallah berkata: ‘Wanita menutupi seluruh badannya ketika shalat, kecuali wajah dan dua telapak tangannya.’ [Diriwayatkan hal ini dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dan ‘Atha rahimahullah].

Lain lagi yang dikatakan oleh Abu Bakr bin Abdirrahman bin al-Harits bin Hisyam radhiyallahu ‘anhu: ‘Semua anggota tubuh wanita merupakan aurat, sampai pun kukunya.’

Al-Imam Ahmad rahimahullah sejalan dengan pendapat ini, beliau berkata: ‘Dituntunkan bagi wanita untuk melaksanakan shalat dalam keadaan tidak terlihat sesuatu pun dari anggota tubuhnya, tidak terkecuali kukunya’.” (Ma’alimus Sunan, 2/343)[ Sebagaimana dinukil dalam Jami’ Ahkamin Nisa’ (1/321)]

Sebenarnya dalam permasalahan ini TIDAK ADA DALIL YANG JELAS yang bisa menjadi pegangan, kata asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah. (asy-Syarhul Mumti’, 2/156)

Oleh karena itu, Ibnu Taimiyah rahimahullah berpendapat, seluruh tubuh wanita merdeka itu aurat (di dalam shalatnya), kecuali bagian tubuh yang biasa tampak darinya ketika di dalam rumahnya, yaitu wajah, dua telapak tangan, dan telapak kaki. [Majmu’ Fatawa, 22/109—120]

Dengan demikian, ketika seorang wanita shalat sendirian atau di hadapan sesama wanita, atau di hadapan mahramnya, dibolehkan baginya untuk membuka wajah, dua telapak tangan, dan dua telapak kakinya. [Jami’ Ahkamin Nisa’, 1/333—334]

Walaupun yang lebih utama ialah ia menutup dua telapak kakinya. (Majmu’ Fatawa wa Rasa’il asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin)

Apabila ada laki-laki yang bukan mahramnya, ia menutup seluruh tubuhnya termasuk wajah. [Bagi yang berpendapat wajibnya menutup wajah. (-red)] (asy-Syarhul Mumti’, 2/157)

Pakaian Wanita Di Dalam Shalat

Di sekitar kita banyak dijumpai wanita shalat mengenakan mukena/rukuh yang tipis transparan, sehingga terlihat rambut panjangnya tergerai di balik mukena. Belum lagi pakaian yang dikenakan di balik mukena terlihat tipis, tanpa lengan, pendek dan ketat, menggambarkan lekuk-lekuk tubuhnya. Pakaian seperti ini jelas TIDAK BISA dikatakan menutup aurat.

Bila ada yang berdalih: “Saya mengenakan pakaian shalat yang seperti itu hanya di dalam rumah, sendirian di dalam kamar, dan lampu saya padamkan!”, kita katakan, bahwa pakaian shalat seperti itu (mukena ditambah pakaian minim di baliknya) tidak boleh dikenakan, walaupun ketika shalat sendirian, tanpa ada seorang pun yang melihat. Sebab, pakaian itu tidak cukup untuk menutup aurat. Padahal ketika shalat, wanita tidak boleh terlihat bagian tubuhnya kecuali wajah, telapak tangan, dan telapak kaki. [Lihat ucapan Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa sebagaimana dinukilkan di atas]

Terlebih lagi pelarangan, bahkan pengharamannya, ketika pakaian seperti ini dipakai keluar rumah untuk shalat di masjid, atau di hadapan laki-laki yang bukan mahram.

Jika demikian, bagaimana sebenarnya pakaian yang boleh dikenakan oleh wanita di dalam shalatnya?

Masalah pakaian wanita di dalam shalat ini disebutkan dalam beberapa hadis yang marfu’. Namun, kedudukan hadis-hadis tersebut diperbincangkan oleh ulama.

Di antaranya, hadis Aisyah radhiyallahu ‘anha:

لاَ يَقْبَلُ اللهُ صَلاَةَ حَائِضٍ إِلاَّ بِخِمَارٍ

“Allah tidak menerima shalat wanita yang telah haid (baligh), kecuali apabila ia mengenakan kerudung (dalam shalatnya).” [HR. Abu Dawud no. 641 dan selainnya]

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata dalam at-Talkhisul Habir (2/460), hadis ini dianggap cacat oleh ad-Daraquthni karena Mauquf-nya (hadis yang berhenti hanya sampai sahabat).

Adapun al-Hakim menganggapnya mursal (hadis yang terputus antara tabi’in dan Rasulullah ﷺ).

Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ: “Apakah wanita boleh shalat dengan mengenakan dira’ dan kerudung tanpa izar?”

Rasulullah ﷺ menjawab:

إِذَا كَانَ الدِّرْعُ سَابِغًا يُغَطِّي ظُهُوْرَ قَدَمَيْهِ

“(Boleh), apabila dira’nya itu luas/lapang, hingga menutupi punggung kedua telapak kakinya.” [HR. Abu Dawud no. 640]

Dira’ adalah pakaian lebar/lapang yang menutupi sampai kedua telapak kaki, kata asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah. [Asy-Syarhul Mumti’, 2/164]

Sedangkan izar adalah milhafah (al-Qamushul Muhith, hlm. 309). Makna milhafah sendiri diterangkan dalam al-Qamush (hlm. 767) adalah pakaian yang dikenakan di atas seluruh pakaian (sehingga menutup/menyelubungi seluruh tubuh seperti abaya dan jilbab. [Lihat asy-Syarhul Mumti’, 2/164—165]

Hadis Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha ini tidak Shahih sanadnya, baik secara marfu’ maupun mauquf, karena hadis ini berporos pada Ummu Muhammad bin Zaid. Padahal dia adalah rawi yang majhul (tidak dikenal). [Demikian diterangkan oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Tamamul Minnah (hlm. 161)].

Meski demikian, ada riwayat-riwayat yang Shahih dari para sahabat dalam pemasalahan ini sebagaimana akan kita baca berikut ini:

Abdur Razzaq ash-Shan‘ani rahimahullah meriwayatkan dari jalan Ummul Hasan, ia berkata: “Aku melihat Ummu Salamah istri Nabi ﷺ, shalat dengan mengenakan dira’ dan kerudung.” (al-Mushannaf, 3/128) [Isnadnya Shahih, kata asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Tamamul Minnah (hlm. 162)]

Ubaidullah al-Khaulani, anak asuh Maimunah radhiyallahu ‘anha mengabarkan, bahwa Maimunah shalat dengan memakai dira’ dan kerudung tanpa izar. [Diriwayatkan oleh al-Imam Malik dalam al-Muwaththa’ dan Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf] [Isnadnya Shahih, kata asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Tamamul Minnah (hlm. 162)]

Masih ada atsar lain dalam masalah ini, yang semuanya menunjukkan, bahwa shalat wanita dengan mengenakan dira’ dan kerudung adalah perkara yang biasa, serta dikenal di kalangan para sahabat. Dan ini merupakan pakaian yang mencukupi bagi wanita untuk menutupi auratnya di dalam shalat.

Apabila wanita itu ingin lebih sempurna dalam berpakaian ketika shalat, ia bisa menambahkan izar atau jilbab pada dira’ dan kerudungnya. Ini yang lebih sempurna dan lebih utama, kata asy-Syaikh al-Albani rahimahullah. Dalilnya ialah riwayat dari Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Wanita shalat dengan mengenakan tiga pakaian yaitu dira‘, kerudung, dan izar.” [Riwayat Ibnu Abi Syaibah dengan isnad yang Shahih, lihat Tamamul Minnah, hlm. 162]

Jumhur ulama sepakat, pakaian yang mencukupi bagi wanita dalam shalatnya adalah dira’ dan kerudung. [Bidayatul Mujtahid, hlm. 100]

Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan: “Disenangi bagi wanita untuk shalat mengenakan dira’ – pakaian yang sama dengan gamis, namun lebar dan panjang sampai menutupi kedua telapak kaki, kemudian mengenakan kerudung yang menutupi kepala dan lehernya, dilengkapi dengan jilbab yang diselimutkan ke tubuhnya di atas dira’. Demikian yang diriwayatkan dari ‘Umar, putra beliau (Ibnu ‘Umar), ‘Aisyah, Abidah as-Salmani, dan ‘Atha. Ini juga merupakan pendapat al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah. Beliau berkata: ‘Kebanyakan ulama bersepakat untuk pemakaian dira’ dan kerudung, apabila ditambahkan pakaian lain, itu lebih baik dan lebih menutup’.” [Al-Mughni, 1/351]

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Disenangi bagi wanita untuk shalat dengan mengenakan tiga pakaian: dira’, kerudung, dan jilbab, yang digunakan untuk menyelubungi tubuhnya, kain sarung di bawah dira’, atau sirwal (celana panjang yang lapang dan lebar) karena lebih utama daripada sarung.

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: ‘Wanita shalat dengan mengenakan dira’, kerudung, dan milhafah.’

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah shalat dengan mengenakan kerudung, izar, dan dira’. Ia memanjangkan izarnya untuk berselubung dengannya. Ia pernah berkata: ‘Wanita yang shalat harus mengenakan tiga pakaian, apabila ia mendapatkannya, yaitu kerudung, izar, dan dira’. [Syarhul ‘Umdah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 4/322]

Bolehkah Shalat dengan Satu Pakaian?

Di dalam shalat, wanita dituntunkan untuk menutup seluruh tubuhnya kecuali bagian yang boleh terlihat, walaupun ia hanya mengenakan satu pakaian yang menutupi kepala, dua telapak tangan, dua telapak kaki, dan seluruh tubuhnya kecuali wajah.

Seandainya ia berselimut dengan satu kain sehingga seluruh tubuhnya tertutupi kecuali muka, dua telapak tangan, dan telapak kakinya, maka ini mencukupi baginya, menurut pendapat yang mengatakan, dua telapak tangan dan telapak kaki tidak termasuk bagian tubuh yang wajib ditutup. [Asy-Syarhul Mumti’, 2/165]

Ikrimah rahimahullah berkata: “Seandainya seorang wanita shalat dengan menutupi tubuhnya dengan satu pakaian/kain, maka hal itu dibolehkan.” [Shahih al-Bukhari, “Kitab ash-Shalah bab Berapa Pakaian yang Boleh Dikenakan Wanita Ketika Shalat”]

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah menyatakan: “Setelah menghikayatkan pendapat jumhur, bahwa wajib bagi wanita untuk shalat memakai dira’ dan kerudung, Ibnul Mundzir rahimahullah berkata: ‘Yang diinginkan dengan pendapat tersebut adalah, ketika shalat seorang wanita harus menutupi tubuh dan kepalanya. Seandainya pakaian yang dikenakan itu lapang/lebar, lalu ia menutupi kepalanya dengan sisa/kelebihan pakaiannya, maka hal itu dibolehkan.’

Ibnul Mundzir juga berkata: ‘Apa yang kami riwayatkan dari Atha’ rahimahullah bahwasanya ia berkata: [Wanita shalat dengan mengenakan dira’, kerudung, dan izar], demikian pula riwayat yang semisalnya dari Ibnu Sirin rahimahullah dengan tambahan milhafah, maka aku menyangka hal ini dibawa pemahamannya kepada istihbab.” [Fathul Bari, 1/602—603]. Yakni satu pakaian yang menutupi seluruh tubuh sebenarnya sudah mencukupi, namun disenangi apabila ditambah dengan pakaian-pakaian yang disebutkan.

Mujahid dan ‘Atha rahimahumallah pernah ditanya tentang wanita yang memasuki waktu shalat, sementara ia tidak memiliki kecuali satu baju, apa yang harus dilakukannya?

Mereka menjawab: “Ia berselimut dengannya.”

Demikian pula yang dikatakan Muhammad bin Sirin rahimahullah. [Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, 2/226]

Demikian apa yang dapat kami nukilkan dalam permasalahan ini untuk pembaca. Semoga memberi manfaat!

Wallahu ta‘ala a‘lam bish-shawab.

 

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyyah