SIFAT SHOLAT NABI [05]: HUKUM MENGERASKAN BACAAN DALAM SHOLAT DAN SURAT YANG DIBACA SETELAH AL FATIHAH

SIFAT SHOLAT NABI [05]: HUKUM MENGERASKAN BACAAN DALAM SHOLAT DAN SURAT YANG DIBACA SETELAH AL FATIHAH

Berikut ini adalah mengenai hukum mengeraskan bacaan dalam sholat dan bacaan surat setelah Al Fatihah:

  1. Membaca setelah Al Fatihah, surat lainnya di dua rakaat pertama dari sholat tiga dan empat rakaat. Surat yang dituntunkan untuk dibaca:

a- Sholat Shubuh dengan Surat Thiwalil Mufasshol.

b- Sholat Maghrib dengan Surat Qishoril Mufasshol.

c- Sholat wajib lainnya dengan Surat Awsathil Mufasshol.

Surat Thiwalil Mufasshol adalah mulai dari surat Qaaf hingga surat Al Mursalaat. Surat Qishoril Mufasshol adalah mulai dari surat Adh Dhuha hingga akhir Al Qur’an. Sedangkan Surat Awsathil Mufasshol adalah mulai dari surat An Naba’ hingga surat Al Lail.

Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman Al Jibrin berkata: “Surat yang dibaca setelah Al Fatihah adalah bisa satu surat utuh, atau sebagiannya saja dari awal, pertengahan atau akhir, itu pun sah.” (Ibhajul Mu’minin, 1: 143).

Ibnul Qayyim berkata: “Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai dari membaca Al Fatihah, beliau membaca surat lainnya. Kadang beliau baca bacaan yang panjang. Kadang beliau memeringannya karena maksud safar atau hajat lainnya. Kadang pula beliau membaca bacaan yang pertengahan (tidak terlalu panjang, tidak terlalu pendek). Yang terakhir inilah yang umumnya beliau lakukan.” (Zaadul Ma’ad, 1: 202)

Namun boleh menambah beberapa ayat pada rakaat setelah dua rakaat pertama. Dari Abu Qotadah, ia berkata:

أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَقْرَأُ فِى الظُّهْرِ فِى الأُولَيَيْنِ بِأُمِّ الْكِتَابِ وَسُورَتَيْنِ ، وَفِى الرَّكْعَتَيْنِ الأُخْرَيَيْنِ بِأُمِّ الْكِتَابِ ، وَيُسْمِعُنَا الآيَةَ ، وَيُطَوِّلُ فِى الرَّكْعَةِ الأُولَى مَا لاَ يُطَوِّلُ فِى الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ ، وَهَكَذَا فِى الْعَصْرِ وَهَكَذَا فِى الصُّبْحِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca dalam sholat Dzuhur pada dua rakaat pertama yaitu surat Al Fatihah dan dua surat. Sedangkan dalam dua rakaat terakhir, beliau membaca Al Fatihah dan beliau juga memerdengarkan pada kami ayat lainnya. Beliau biasa memerlama rakaat pertama dibanding rakaat kedua. Demikian pula dilakukan dalam sholat ‘Ashar dan sholat Shubuh.” (HR. Bukhari no. 776).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa menjaherkan bacaan dalam sholat Shubuh, dua rakaat pertama dari sholat Maghrib dan Isya. Sedangkan sholat Dzuhur dan Ashar, begitu pula pada rakaat ketiga sholat Maghrib dan dua rakaat terakhir sholat Isya disirrkan (dilirihkan). Ada klaim ijma’ (kesepakatan ulama) kata Syaikh Al Albani mengenai hal ini [Lihat Shifat Sholat Nabi, hal. 93].

Adapun dalil membaca surat yang panjang dan pendek seperti yang disebutkan tadi:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ مَا صَلَّيْتُ وَرَاءَ أَحَدٍ أَشْبَهَ صَلاَةً بِرَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مِنْ فُلاَنٍ. فَصَلَّيْنَا وَرَاءَ ذَلِكَ الإِنْسَانِ وَكَانَ يُطِيلُ الأُولَيَيْنِ مِنَ الظُّهْرِ وَيُخَفِّفُ فِى الأُخْرَيَيْنِ وَيُخَفِّفُ فِى الْعَصْرِ وَيَقْرَأُ فِى الْمَغْرِبِ بِقِصَارِ الْمُفَصَّلِ وَيَقْرَأُ فِى الْعِشَاءِ بِالشَّمْسِ وَضُحَاهَا وَأَشْبَاهِهَا وَيَقْرَأُ فِى الصُّبْحِ بِسُورَتَيْنِ طَوِيلَتَيْنِ.

 Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Aku pernah sholat di belakang seseorang yang sholatnya mirip dengan sholat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam daripada yang lainnya. Kami sholat di belakangnya dan ia memanjangkan dua rakaat pertama dari sholat Dzuhur dan memeringan dua rakaat terakhirnya. Sedangkan sholat Ashar lebih diperingan dari sholat Dzuhur. Adapun sholat Maghrib dibacakan Surat Qishorul Mufasshol. Pada sholat Isya dibacakan surat Asy Syams dan yang semisal dengannya. Adapun sholat Shubuh dibacakan dua surat yang panjang.” (HR. An Nasai no. 983. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih).

  1. Bacaan surat untuk sholat yang dikerjakan di malam hari dijaherkan (dikeraskan).
  1. Adapun sholat yang dikerjakan di siang hari disirrkan (dilirihkan) kecuali dijaherkan (dikeraskan) untuk sholat Jumat dan sholat ‘Ied, begitu pula sholat Gerhana (Sholat Kusuf) dan Sholat Minta Hujan (Sholat Istisqo’).

Syaikh ‘Abdullah Al Jibrin menjelaskan, “Sebab di malam hari dijaherkan karena saat itu banyak aktivitas telah selesai atau berbagai kesibukan telah usai. Saat itu ada hajat untuk mendengar Al Quran. Sedangkan di siang hari, hati begitu sibuk dengan berbagai pekerjaan, sehingga diperintahkan membaca untuk diri sendiri.

Adapun sholat Jumat, sholat ‘Ied, Sholat Gerhana dan Sholat Minta Hujan yang dilakukan di siang hari tetap dengan dijaherkan bacaan karena saat itu banyak kaum Muslimin yang berkumpul dan mereka butuh untuk mendengar lantunan bacaan saat itu. Terkadang sebagian mereka hanya bisa mendengar lantunan Al Quran pada waktu tersebut.” (Ibhajul Mu’minin, hal. 144).

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

https://rumaysho.com/7017-sifat-sholat-nabi-5.html

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *