بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

MENGINGAT KEMATIAN DAN PERJUMPAAN DENGAN ALLAH ‘AZZA WAJALLA

Allah ﷻ berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ …(18)

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah setiap diri memerhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (Akhirat).” [ QS. Al-Hasyr: 18]

Rasulullah ﷺ bersabda:

((أكثروا ذكر هادم اللذات))، يعني الموت

“Perbanyaklah mengingat penghancur kenikmatan (yaitu kematian).” [HR. Ibnu majah no. 4258 dan dihasankan oleh Syaikh Albani dalam Al- irwa’ 3/145]

Kematian adalah pemisah antara negeri dunia dan negeri Akhirat, dan pemisah antara waktu beramal dan waktu pembalasan. Juga batasan yang membedakan antara menyiapkan perbekalan dan menjumpai balasannya. Maka tidak ada kesempatan lagi setelah kematian untuk bertobat dan memohon ampun dari kesalahan, dan tiada ada kesempatan setelahnya untuk memerbanyak dari kebaikan, sebagaimana firman Allah ﷻ:

وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّىٰ إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآنَ…(18)

“Dan tidaklah tobat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan, (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: “Sesungguhnya saya bertobat sekarang.” [QS. An-nisa: 18]

Maka seorang hamba dengan mengingat kematian terdapat manfaat yang besar. Dengan mengingat kematian, hati yang lalai menjadi tersadar, dan hati yang mati menjadi hidup. Dan hamba kembali menghadap Allah ﷻ, dan hilang kelalaian dan berpaling dari ketaatan kepada Allah ﷻ.

Berkata Sa’id bin Jubair rahimahullahu:

لو فا رق ذكر الموت قلبي خشيت أن يفسد على قلبي

“Seandainya hatiku berpisah dari mengingat kematian, aku khawatir akan merusak hatiku.” [Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Az- zuhd no. 2210]

Seorang hamba senantiasa berada dalam kebaikan selama dia mengingat posisinya di hadapan Allah ﷻ pada Hari Kiamat, dan tempat kembalinya setelah kematian.

[Lihat kitab ‘Asyru Qawaaid Fii Tazkiyatin Nufus, karya syaikh Abdurrazzaq bin Abdilmuhsin Albadr, Hal: 29-31]

Oleh: Abu Abdillah Imam (Al Misk)

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat! Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: +61 405 133 434 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: https://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Twitter: @NasihatSalaf
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat