بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

KEUTAMAAN ORANG YANG BISA TERUS ISTIKAMAH

Yang dimaksud istikamah adalah menempuh jalan (agama) yang lurus (benar) dengan tidak berpaling ke kiri maupun ke kanan. Istikamah ini mencakup pelaksanaan semua bentuk ketaatan (kepada Allah) lahir dan batin, dan meninggalkan semua bentuk larangan-Nya [Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hambali, hal. 246, Darul Muayyid, cetakan pertama, tahun 1424 H]. Inilah pengertian istikamah yang disebutkan oleh Ibnu Rajab Al Hambali.

Di antara ayat yang menyebutkan keutamaan istikamah adalah firman Allah ﷻ:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allah,” kemudian mereka istikamah pada pendirian mereka, maka Malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih. Dan bergembiralah kamu dengan (memeroleh) Surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.” [QS. Fushilat: 30]

Yang dimaksud dengan istikamah di sini terdapat tiga pendapat di kalangan ahli tafsir:

a) Istikamah di atas tauhid, sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Bakr Ash Shidiq dan Mujahid.

b) Istikamah dalam ketaatan dan menunaikan kewajiban Allah. sebagaimana dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas, Al Hasan dan Qotadah.

c) Istikamah di atas ikhlas dan dalam beramal hingga maut menjemput, sebagaimana dikatakan oleh Abul ‘Aliyah dan As Sudi. [Lihat Zaadul Masiir, Ibnul Jauziy, 5/304, Mawqi’ At Tafasir]

Dan sebenarnya istikamah bisa mencakup ketiga tafsiran ini, karena semuanya tidak saling bertentangan.

Ayat di atas menceritakan bahwa orang yang istikamah dan teguh di atas tauhid dan ketaatan, maka malaikat pun akan memberi kabar gembira kepadanya ketika maut menjemput: “Janganlah takut dan janganlah bersedih.” [Ini pendapat Mujahid, As Sudi dan Zaid bin Aslam. Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 7/177, Dar Thoyyibah, cetakan kedua, tahun 1420 H]

Mujahid, ‘Ikrimah, dan Zaid bin Aslam menafsirkan ayat tersebut: “Janganlah takut pada Akhirat yang akan kalian hadapi. Dan janganlah bersedih dengan dunia yang kalian tinggalkan, yaitu anak, keluarga, harta dan tanggungan utang. Karena para malaikat nanti yang akan mengurusnya.”

Begitu pula mereka diberi kabar gembira berupa Surga yang dijanjikan. Dia akan mendapat berbagai macam kebaikan dan terlepas dari berbagai macam kejelekan. [Tafsir Alquran Al ‘Azhim, 7/177]

Zaid bin Aslam mengatakan bahwa kabar gembira di sini bukan hanya dikatakan ketika maut menjemput, namun juga ketika di alam kubur dan ketika Hari Berbangkit. Inilah yang menunjukkan keutamaan seseorang yang bisa istikamah.

Al Hasan Al Bashri ketika membaca ayat di atas, ia pun berdoa:

اللهم أنت ربنا فارزقنا الإستقامة,

AllaHumma anta Rob-bunaa faarzuqnaal istiqoomaH.

Artinya:
Ya Allah, Engkau adalah Rabb kami. Berikanlah keistikamahan kepada kami.” [Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, hal. 245]

Yang serupa dengan ayat di atas adalah firman Allah ﷻ:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ, أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allah,” kemudian mereka tetap istikamah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni Surga. Mereka kekal di dalamnya, sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” [QS. Al Ahqaf: 13-14]

Dari Abu ‘Amr atau Abu ‘Amrah Sufyan bin Abdillah, beliau berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْ لِى فِى الإِسْلاَمِ قَوْلاً لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ – وَفِى حَدِيثِ أَبِى أُسَامَةَ غَيْرَكَ – قَالَ « قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ فَاسْتَقِمْ ».

“Wahai Rasulullah ﷺ, ajarkanlah kepadaku dalam (agama) Islam ini ucapan (yang mencakup semua perkara Islam), sehingga aku tidak (perlu lagi) bertanya tentang hal itu kepada orang lain setelahmu (dalam hadis Abu Usamah dikatakan: “Selain engkau”].

Rasulullah ﷺ bersabda: “Katakanlah: “Aku beriman kepada Allah,“ kemudian beristikamahlah dalam ucapan itu.” [HR. Muslim no. 38]

Ibnu Rajab mengatakan:
“Wasiat Nabi ﷺ ini sudah mencakup wasiat dalam agama ini seluruhnya.” [[Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, hal. 246]

 

Dinukil dari: Kiat Agar Tetap Istiqomah yang ditulis oleh: al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal hafizhahullah (https://rumaysho.com/731-kiat-agar-tetap-istiqomah-seri-1.html)

 

══════

 

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat! Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: +61 405 133 434 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: https://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Twitter: @NasihatSalaf
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat