JANGAN NODAI IBADAH KITA DENGAN NIAT DUNIAWI

///JANGAN NODAI IBADAH KITA DENGAN NIAT DUNIAWI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid
#FaidahTafsir
JANGAN NODAI IBADAH KITA DENGAN NIAT DUNIAWI
Allah Ta’ala berfirman:

{مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لا يُبْخَسُونَ. أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ إِلا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ}

“Barang siapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka, balasan amal perbuatan mereka di dunia dengan sempurna, dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Merekalah orang-orang yang di Akhirat (kelak) tidak akan memeroleh (balasan), kecuali Neraka dan lenyaplah apa (amal kebaikan) yang telah mereka usahakan di dunia, dan sia-sialah apa yang telah mereka lakukan” (QS Huud: 15-16).
Ayat yang mulia ini menunjukkan, bahwa amal saleh yang dilakukan dengan niat duniawi, adalah termasuk perbuatan syirik, yang bisa merusak kesempurnaan tauhid, yang semestinya dijaga. Dan perbuatan ini bisa menggugurkan amal kebaikan. Bahkan perbuatan ini lebih buruk dari perbuatan riya’ (memerlihatkan amal saleh untuk mendapatkan pujian dan sanjungan). Karena seorang yang menginginkan dunia dengan amal saleh yang dilakukannya, terkadang keinginannya itu menguasai niatnya dalam meyoritas amal saleh yang dilakukannya. Ini berbeda dengan perbuatan riya’, karena riya’ biasanya hanya terjadi pada amal tertentu dan bukan pada mayoritas amal, itupun tidak terus-menerus. Meskipun demikian, orang yang yang beriman tentu harus mewaspadai semua keburukan tersebut [Lihat kitab “Fathul Majiid” (hal. 451)].
Faidah Tafsir
‘Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu’anhu berkata tentang makna ayat di atas:
“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia”, artinya balasan duniawi, “dan perhiasannya”, artinya harta. “Niscaya kami berikan kepada mereka balasan amal perbuatan mereka di dunia dengan sempurna”. Artinya: Kami akan sempurnakan bagi mereka balasan amal perbuatan mereka (di dunia), berupa kesehatan dan kegembiraan dengan harta, keluarga dan keturunan” [Dinukil oleh Syaikh ‘Abdur Rahman bin Hasan Alu asy-Syaikh dalam kitab “Fathul Majiid” (hal. 451)].
Semakna dengan ucapan di atas, Imam Qatadah bin Di’amah al-Bashri berkata:
“Barang siapa yang menjadikan dunia (sebagai) target (utama) niat dan ambisinya, maka Allah akan membalas kebaikan-kebaikannya (dengan balasan) di dunia. Kemudian di Akhirat (kelak) dia tidak memiliki kebaikan untuk diberikan balasan. Adapun orang yang beriman, maka kebaikan-kebaikannya akan mendapat balasan di dunia, dan memeroleh pahala di Akhirat (kelak)” [Dinukil oleh Imam Ibnu Jarir ath-Thabari dalam tafsir beliau (15/264)].
Syaikh Muhammad bin Saleh al-‘Utsaimin mengisyaratkan makna lain dari perbuatan ini, yaitu seorang yang mengamalkan ketaatan kepada Allah ta’ala bukan karena riya’ atau pujian, niatnya ikhlas kerena Allah ta’ala, akan tetapi dia menginginkan suatu balasan duniawi, misalnya harta, kedudukan duniawi, kesehatan pada dirinya, keluarganya atau keturunannya, dan yang semacamnya. Maka dengan amal kebaikannya, dia menginginkan manfaat duniawi dan melalaikan/melupakan balasan Akhirat [Kitab “al-Qaulul mufiid ‘ala kitaabit tauhiid” (2/242)].
Keinginan hawa nafsu yang paling penting dan paling sulit untuk ditundukkan, kecuali bagi orang-orang yang dimudahkan oleh Allah ta’ala, adalah kecintaan dan ambisi mengejar dunia yang berlebihan, serta keinginan untuk selalu mendapatkan pujian dan sanjungan. Inilah dua penyakit hati terbesar yang merupakan penghalang utama untuk meraih keikhlasan dalam beribadah kepada Allah ta’ala.
Imam Ibnul Qayyim berkata:
“Tidak akan berkumpul (bertemu) keikhlasan dalam hati, dengan keinginan (untuk mendapat) pujian dan sanjungan, serta kerakuasan terhadap (harta benda duniawi) yang ada di tangan manusia, kecuali seperti berkumpulnya air dan api (tidak mungkin berkumpul selamanya). Maka jika terbersit dalam dirimu (keinginan) untuk meraih keikhlasan, yang pertama kali hadapilah (sifat) rakus terhadap dunia, dan penggallah sifat buruk ini dengan pisau ‘putus asa’ (dengan balasan duniawi yang ada di tangan manusia). Lalu hadapilah (keinginan untuk mendapat) pujian dan sanjungan, bersikap zuhudlah (tidak butuh) terhadap semua itu. Kalau kamu sudah bisa melawan sifat rakus terhadap dunia, dan bersikap zuhud terhadap pujian dan sanjungan manusia, maka (meraih) ikhlas akan menjadi mudah bagimu” [Kitab “al-Fawa-id” (hal. 150)].
Lebih lanjut, Imam Ibnul Qayyim menjelaskan cara untuk menghilangkan dua pernyakit buruk penghalang keikhlasan tersebut, beliau berkata:
“Adapun (cara untuk) membunuh (sifat) rakus (terhadap balasan duniawi yang ada di tangan manusia, itu akan dimudahkan bagimu, dengan kamu memahami secara yakin, bahwa tidak ada sesuatu pun yang diinginkan oleh (manusia), kecuali di tangan Allah semata perbendaharaannya. Tidak ada yang memiliki/menguasainya, selan Dia subhanahu wa ta’ala, dan tidak ada yang dapat memberikannya kepada hamba, kecuali Dia subhanahu wa ta’ala semata. Adapun (berskap) zuhud terhadap pujian dan sanjungan, itu akan dimudahkan bagimu, dengan kamu memahami (secara yakin), bahwa tidak ada satu pun yang pujiannya bermanfaat, serta mendatangkan kebaikan, dan celaannya mencelakakan dan mendatangkan keburukan, kecuali Allah satu-satunya” [Kitab “al-Fawa-id” (hal. 150)].
 
Dinukil dari tulisan berjudul “Jangan Nodai Ibadah Anda dengan Niat Duniawi” oleh Ustadz Abdullah Taslim Al Buthony, MA
Sumber: http://muslim.or.id/13945-jangan-nodai-ibadah-anda-dengan-niat-duniawi.html
 

2017-03-06T01:11:21+00:00 6 March 2017|Akidah & Tauhid|0 Comments

Leave A Comment