INI MAKSUDNYA: MINTA DIRUQYAH DAN MASUK SURGA TANPA HISAB DAN AZAB

/, Fatwa Ulama, Fikih dan Muamalah, Nasihat Ulama/INI MAKSUDNYA: MINTA DIRUQYAH DAN MASUK SURGA TANPA HISAB DAN AZAB

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

INI MAKSUDNYA: MINTA DIRUQYAH DAN MASUK SURGA TANPA HISAB DAN AZAB

 
Salah satu ciri seorang Muslim yang masuk Surga tanpa hisab dan azab adalah tidak minta diruqyah. Sebagaimana dalam hadis yang menjelaskan ciri mereka yang kelak akan masuk Surga tanpa hisab dan tanpa azab. Rasulullah ﷺ bersabda:
 
ﻫُﻢْ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻟَﺎ ﻳَﺘَﻄَﻴَّﺮُﻭﻥَ ﻭَﻟَﺎ ﻳَﺴْﺘَﺮْﻗُﻮﻥَ ﻭَﻟَﺎ ﻳَﻜْﺘَﻮُﻭﻥَ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺭَﺑِّﻬِﻢْ ﻳَﺘَﻮَﻛَّﻠُﻮﻥَ
 
“Mereka itu tidak melakukan thiyarah (beranggapan sial), tidak meminta untuk diruqyah, dan tidak menggunakan kay (pengobatan dengan besi panas). Dan hanya kepada Rabb merekalah, mereka bertawakkal.” [HR. Bukhari no. 5752]
 
Mengapa meminta diruqyah bisa menyebabkan seorang Muslim menjadi tidak termasuk dalam golongan yang masuk Surga tanpa hisab dan tanpa azab? Ada dua pendapat ulama dalam hal ini:
 
Pertama: Maksud minta diruqyah di sini adalah minta diruqyah dengan ruqyah syirkiyyah yang mengandung kesyirikan.
 
Kedua: Meminta diruqyah (dengan ruqyah syariyyah) akan berpotensi mengurangi tawakal seseorang dan ia akan bergantung kepada peruqyah. Ia merasa apabila tidak diruqyah oleh ustadz Fulan, maka tidak sembuh. Padahal hakikat ruqyah adalah doa. Seharusnya ia lebih berhak untuk berdoa kepada Allah.
 
Berikut penjelasannya:
 
Pertama: Maksud minta diruqyah di sini adalah minta diruqyah dengan Ruqyah Syirkiyyah yang mengandung kesyirikan.
 
Lafal hadis adalah lafal umum yaitu “Meminta diruqyah.” Bisa saja mencakup Ruqyah Syariyyah dan Ruqyah Syirkiyyah. Terdapat hadis yang “mengkhususkan/takhshis,” bahwa yang dimaksud meminta diruqyah pada hadis adalah Ruqyah Syirkiyyah. Hadisnya sebagai berikut:
 
Rasulullah ﷺ bersabda:
 
اِعْرِضُوْا عَلَيَّ رُقَاكُمْ، لاَ بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ يَكُنْ فِيْهِ شِرْكٌ
 
‘Tunjukkanlah kepadaku ruqyah kalian. Tidaklah mengapa ruqyah yang di dalamnya tidak mengandung syirik.’” [HR. Muslim]
 
Fatwa dari Al-Lajnah Ad-Daimah juga menjelaskan, bahwa meminta diruqyah hukumnya mubah. Apabila ada semacam konsekuensi tertentu dalam syariat, tentu tidak dekat ke makna mubah.
 
طلب الدعاء وطلب الرقية مباحان ، وتركهما والاستغناء عن الناس وقيامه بهما لنفسه أحسن
 
“Meminta didoakan dan meminta diruqyah keduanya hukumnya mubah. Meninggalkan keduanya dan tidak bergantung dengan manusia serta melakukannya sendiri lebih baik.” [Fatwa Al-Lajnah 24/261]
 
Kedua: Meminta diruqyah (dengan Ruqyah Syariyyah) akan berpotensi mengurangi tawakal seseorang dan bergantung kepada peruqyah.
 
Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh menjelaskan:
 
لأن الطالب للرقية يكون في قلبه ميل للراقي ، حتى يرفع ما به من جهة السبب . وهذا النفي الوارد في قوله : « لا يسترقون » ؛ لأن الناس في شأن الرقية تتعلق قلوبهم بها جدا أكثر من تعلقهم بالطب ونحوه
 
“Karena meminta ruqyah akan menyebabkan hati cenderung (ketergantungan hati) kepada peruqyah, sampai ia bisa menyangka peruqyah adalah penyebab kesembuhan. Inilah maksud menafikan dalam hadis “Tidak minta diruqyah.” Karena manusia terkait ruqyah, bisa jadi hati mereka lebih bergantung pada ruqyah daripada pengobatan kedokteran atau sejenisnya.” [At-Tamhid hal. 33, Darut Tauhid]
 
Ibnu Taimiyyah juga menjelaskan, bahwa pujian/reward pada hadis tersebut, karena orang tersebut tidak terlalu mengandalkan orang lain dalam berdoa, tetapi ia sendiri berdoa kepada Allah dan meminta. Beliau berkata:
 
فمدح هؤلاء بأنهم لا يسترقون: أي لا يطلبون من أحد أن يرقيهم، والرقية من جنس الدعاء فلا يطلبون من أحد ذلك” [مجموع
 
“Pujian bagi orang yang tidak meminta diruqyah pada orang lain karena ruqyah itu semacam doa. Hendaknya ia tidak meminta orang lain (untuk didoakan).” [Majmu’ Fatawa 1/182]
 
Hal ini merupakan kesempurnaan tauhid dan iman seseorang, yaitu hanya kepada Allah ia bersandar dan berharap. Ibnul Qayyim menjelaskan:
 
وذلك لأن هؤلاء دخلوا الجنة بغير حساب لكمال توحيدهم ، ولهذا نفى عنهم الاسترقاء وهو سؤال الناس أن
 
“Mereka yang masuk Surga tanpa hisab dan azab karena kesempurnaan tauhid mereka. Mereka tidak meminta diruqyah, yaitu meminta kepada orang lain untuk meruqyah mereka (lebih baik ia sendiri langsung meminta kepada Allah).” [Zaadul Ma’aad 1/475]
 
Dari kedua pendapat ini, yang lebih menenangkan adalah kita berusaha sebisa mungkin tidak meminta diruqyah oleh orang lain. Tetapi kita hendaknya meruqyah diri sendiri, dan langsung meminta kepada Allah di waktu dan tempat yang mustajab.
 
 
 
Penyusun: Raehanul Bahraen
[Artikel www.Muslim.or.id]
Sumber: https://Muslim.or.id/42525-minta-diruqyah-dan-masuk-Surga-tanpa-hisab.html
 
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabatPinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#ruqyah #rukyah #mintadiruqyah #hukummintadiruqyah #masuksurgatanpahisabdanazab
2018-10-16T16:07:08+00:00 16 October 2018|Akidah & Tauhid, Fatwa Ulama, Fikih dan Muamalah, Nasihat Ulama|0 Comments

Leave A Comment