بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi
#ManhajSalaf
HUKUM SHALATI JENAZAH ORANG KAFIR DAN MUNAFIK
Al-Kulainiy berkata:

عَلِيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ عَنْ أَبِيهِ عَنِ ابْنِ أَبِي عُمَيْرٍ عَنْ حَمَّادِ بْنِ عُثْمَانَ عَنِ الْحَلَبِيِّ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) قَالَ لَمَّا مَاتَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أُبَيِّ بْنِ سَلُولٍ حَضَرَ النَّبِيُّ ( صلى الله عليه وآله ) جَنَازَتَهُ فَقَالَ عُمَرُ لِرَسُولِ اللَّهِ ( صلى الله عليه وآله ) يَا رَسُولَ اللَّهِ أَ لَمْ يَنْهَكَ اللَّهُ أَنْ تَقُومَ عَلَى قَبْرِهِ فَسَكَتَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَ لَمْ يَنْهَكَ اللَّهُ أَنْ تَقُومَ عَلَى قَبْرِهِ فَقَالَ لَهُ وَيْلَكَ وَ مَا يُدْرِيكَ مَا قُلْتُ إِنِّي قُلْتُ اللَّهُمَّ احْشُ جَوْفَهُ نَاراً وَ امْلَأْ قَبْرَهُ نَاراً وَ أَصْلِهِ نَاراً ……

‘Aliy bin Ibraahiim, dari ayahnya, dari Ibnu Abi ‘Umair, dari Hammaad bin ‘Utsmaan, dari Al-Halabiy, dari Abu ‘Abdillah (‘alaihis-salaam), ia berkata: “Ketika ‘Abdullah bin Ubay bin Saluul meninggal, Nabi ﷺ menghadiri jenazahnya. Lalu ‘Umar berkata kepada Rasulullah ﷺ: “Wahai Rasulullah, tidakkah Allah telah melarangmu untuk berdiri shalat di atas kuburnya? Lalu beliau ﷺ pun terdiam. Kemudian ‘Umar berkata lagi: “Wahai Rasulullah, tidakkah Allah telah melarangmu untuk berdiri shalat di atas kuburnya?” Akhirnya beliau ﷺ menjawabnya: “Celaka engkau! Tidakkah engkau mengetahui, apa yang aku ucapkan?” Sesungguhnya aku mengucapkan (dalam shalat): ‘Ya Allah, penuhilah kerongkongannya dengan api. Penuhilah kuburannya dengan api, dan campakkanlah ia ke dalam api (Neraka)….” [Al-Kaafiy, 3/188].
Kata Al-Majlisiy: “Hasan” [Mir’atul-‘Uquul, 14/74].
Riwayat di atas menunjukkan kepada kita beberapa hal sebagai berikut:

  1. ‘Abdullah bin Ubay bin Saluul meninggal dengan berstatus sebagai munafik lagi kafir, sehingga didoakan kecelakaan oleh Nabi ﷺ.
  2. ‘Umar bin Al-Khaththaab radliyallaahu ‘anhu tidak berada pada barisan kaum munafikin yang dipimpin oleh ‘Abdullah bin Ubay bin Saluul.
  3. Pandangan ‘Umar tentang larangan menyalatkan orang munafik (Ibnu Saluul) selaras dengan firman Allah ta’ala:

وَلا تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلا تَقُمْ عَلَى قَبْرِهِ إِنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَاتُوا وَهُمْ فَاسِقُونَ

“Dan janganlah kamu sekali-kali menyalatkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya, dan mereka mati dalam keadaan fasik” [QS. At-Taubah: 84].

  1. Nabi ﷺ menyalatkan jenazah seorang munafik. Dalam shalatnya tersebut, beliau ﷺ tidak mendoakan kebaikan, namun mendoakan keburukan.

Komentar:
Dalam perspektif Ahlus-Sunnah, tidaklah shalat jenazah dikerjakan kecuali untuk mendoakan kebaikan dan rahmat bagi seorang Muslim yang meninggal dunia. Surat At-Taubah ayat 84 di atas sebagai dalil yang jelas, terlarangnya berdiri menyalatkan jenazah seorang munafik yang meninggal di atas kekafiran. Mafhum mukhalafah-nya, Allah hanya memerintahkan menyalatkan jenazah seorang yang meninggal dalam status Muslim.
Namun ternyata, bacaan yang diucapkan beliau secara sirr (pelan)[1] dalam shalat jenazah versi riwayat Al-Kulainiy justru doa-doa kejelekan. Barangkali inilah salah satu sandaran praktik Taqiyyah ala Syiah dalam berinteraksi dengan Ahlus-Sunnah. Secara zahir menampakkan ketaatan, namun ternyata batinnya menyimpan cacian dan celaan[2].
Al-Kulainiy meletakkan riwayat tersebut dalam bab: Shalat terhadap (Jenazah) Seorang Naashibiy (baca: Ahlus-Sunnah).
Artinya, kalau nanti ada orang Syiah ikut-ikutan berdiri menyalatkan jenazah seorang Ahlus-Sunnah, besar kemungkinan doa yang diucapkannya secara sirr adalah doa-doa kejelekan seperti doa di atas dan juga doa di bawah:

عَلِيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ عَنْ أَبِيهِ عَنِ ابْنِ أَبِي عُمَيْرٍ عَنْ حَمَّادٍ عَنِ الْحَلَبِيِّ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) قَالَ إِذَا صَلَّيْتَ عَلَى عَدُوِّ اللَّهِ فَقُلِ اللَّهُمَّ إِنَّ فُلَاناً لَا نَعْلَمُ مِنْهُ إِلَّا أَنَّهُ عَدُوٌّ لَكَ وَ لِرَسُولِكَ اللَّهُمَّ فَاحْشُ قَبْرَهُ نَاراً وَ احْشُ جَوْفَهُ نَاراً وَ عَجِّلْ بِهِ إِلَى النَّارِ فَإِنَّهُ كَانَ يَتَوَلَّى أَعْدَاءَكَ وَ يُعَادِي أَوْلِيَاءَكَ وَ يُبْغِضُ أَهْلَ بَيْتِ نَبِيِّكَ اللَّهُمَّ ضَيِّقْ عَلَيْهِ قَبْرَهُ فَإِذَا رُفِعَ فَقُلِ اللَّهُمَّ لَا تَرْفَعْهُ وَ لَا تُزَكِّهِ

‘Aliy bin Ibraahiim, dari ayahnya, dari Ibnu Abi ‘Umair, dari Hammaad, dari Al-Halabiy, dari Abu ‘Abdillah (‘alaihis-salaam), ia berkata: “Apabila engkau menshalati jenazah seorang musuh Allah, maka ucapkanlah (doa): ‘Ya Allah, sesungguhnya Fulaan tidaklah kami mengetahui tentangnya kecuali ia adalah musuh-Mu dan musuh Rasul-Mu. Ya Allah, penuhilah kerongkongannya dengan api, segerakanlah ia kepada api Neraka, karena ia telah berloyalitas kepada musuh-musuh-Mu, memusuhi wali-wali-Mu, dan membenci Ahli Bait Nabi-Mu. Ya Allah, sempitkanlah kuburnya’. Apabila jenazahnya diangkat, maka ucapkanlah: ‘Ya Allah, janganlah Engkau angkat dia dan janganlah Engkau bersihkan dia” [Al-Kaafiy, 3/189].
Kata Al-Majlisiy, riwayat di atas hasan [Mir’atul-‘Uquul, 14/77].

  1. Boleh Hukumnya Menyalati Orang Kafir

Artinya, ada kemungkinan orang Syiah nanti menyalati jenazah orang Kristen, Katolik, Yahudi, Hindu, Budha, Konghucu, dan semisalnya.
Wallaahul-musta’aan.
 
Sumber: http://abul-jauzaa.blogspot.ca/2014/05/menshalati-jenazah-orang-kafir.html