Posts

, ,

SUNNAH MENGANGKAT TANGAN DALAM SHALAT DAN TEMPATNYA

SUNNAH MENGANGKAT TANGAN DALAM SHALAT DAN TEMPATNYA
SUNNAH MENGANGKAT TANGAN DALAM SHALAT DAN TEMPATNYA
 
Pertanyaan:
Apakah pada semua shalat setiap awal rakaat (rakaat pertama, kedua, ketiga dan keempat) takbirnya selalu dengan mengangkat tangan dan ketika akan ruku’ juga takbirnya selalu dengan mengangkat tangan? Mohon dijelaskan dengan dalilnya.
 
Jawaban:
TIDAK setiap awal rakaat diharuskan mengangkat tangan dalam bertakbir. Namun para ulama menetapkan mengangkat tangan dalam takbir disunnahkan dalam empat tempat:
 
1. Pada Takbiratul Ihram dirakaat yang pertama
2. Ketika hendak ruku’
3. Ketika mengucapkan Samiallahu liman hamidah setelah ruku’
4. Ketika berdiri dari rakaat kedua menuju rakaat ketiga
 
Ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan dari Nafi’ maula Ibnu Umar rahimahullah, beliau mengatakan:
 
أَنَّ ابْنَ عُمَرَ كَانَ إِذَا دَخَلَ فِى الصَّلاَةِ كَبَّرَ ، وَرَفَعَ يَدَيْهِ وَإِذَا رَكَعَ رَفَعَ يَدَيْهِ ، وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَفَعَ يَدَيْهِ ، وَإِذَا قَامَ مِنَ الرَّكْعَتَيْنِ رَفَعَ يَدَيْهِ ورَفَعَ ذلكَ ابنُ عُمَر إلى نبيِّ اللهِ – صلى الله عليه وسلم -.
 
Sesungguhnya Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma biasanya jika hendak memulai shalatnya beliau bertakbir dan mengangkat kedua tangannya. Jika hendak ruku’ juga mengangkat kedua tangannya. Jika beliau mengucapkan, ”Sami’allahu liman hamidah” juga mengangkat kedua tangannya. Jika bangkit berdiri dari rakaat kedua juga mengangkat kedua tangannya. Ibnu Umar Radhiyallahu anhu memarfu’kannya kepada Nabi ﷺ .” [HR. Al-Bukhari, no. 739 dan Muslim no. 390]
 
Sedangkan Salim bin Abdillah bin Umar rahimahullah menyampaikan dari bapaknya radhiyallahu anhu yang berkata:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ إِذَا افْتَتَحَ الصَّلاَةَ، وَإِذَا كَبَّرَ لِلرُّكُوعِ، وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ، رَفَعَهُمَا كَذَلِكَ أَيْضًا، وَقَالَ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، رَبَّنَا وَلَكَ الحَمْدُ، وَكَانَ لاَ يَفْعَلُ ذَلِكَ فِي السُّجُودِ “
 
Sesungguhnya Rasulullah ﷺ dahulu mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua bahunya apabila memulai shalat, dan ketika bertakbir untuk ruku’, dan ketika mengangkat kepala dari ruku’. Beliau juga mengangkat kedua tangannya dan mengucapkan, “Sami’allahu liman hamidah rabbana wa lakal hamdu” dan beliau tidak melakukan hal itu dalam sujudnya.” [HR. Al-Bukhari]
 
Syaikh Abdurrahman bin Naashir as-Sa’di rahimahullah berkata:
“Mengangkat kedua tangan sejajar dengan kedua bahunya atau sejajar dengan cuping telinganya (bagian bawah daun telinga) dalam empat tempat:
 
1. Ketika Takbiratul Ihram di rakaat yang pertama.
2. Ketika hendak ruku’
3. Ketika bangun dari ruku’
4. Ketika berdiri dari Tasyahud Awal ” [Lihat Syarh Manhajus Salikin wa Taudhihil Fiqh Fid Din 1/87].
 
Sedangkan Syaikh Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim mengatakan: “Inilah empat tempat, dimana sangat disunnahkan mengangkat kedua tangan. Namun disunnahkan juga kadang-kadang mengangkat kedua tangan pada setiap hendak bangkit dan akan turun. Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan dari Malik bin al-Huwairits radhiyallahu anhu:
 
أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَفَعَ يَدَيْهِ فِي صَلَاتِهِ وَإِذَا رَكَعَ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرُّكُوعِ وَإِذَا سَجَدَ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ السُّجُودِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا فُرُوعَ أُذُنَيْهِ
 
Sesungguhnya beliau pernah melihat Nabi ﷺ shalat dengan mengangkat kedua tangannya setiap kali hendak bangkit dan akan turun, ketika bangkit dari ruku’, ketika hendak sujud dan bangkit dari sujud. Beliau ﷺ mengangkat kedua tangannya hingga sejajar kedua telinganya “ [HR. An-Nasa’i, no. 672 dan Ahmad no. 493. Penulis Shahih Fiqh Sunnah menilai hadis ini Shahih). [Lihat Shahih Fiqh Sunnah oleh Syaikh Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim, hlm. 1/343-344]
 
Kesimpulan:
 
Sangat disunnahkan mengangkat kedua tangan dalam shalat pada empat keadaan:
 
1. Ketika hendak memulai shalat,
2. Ketika hendak ruku’
3. Ketika mengucapkan “Sami’allahu liman hamidah”
4. Ketika hendak berdiri dari rakaat kedua menuju ke rakaat ketiga
 
Semoga bermanfaat. Wallahu‘alam
 
 
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun XIX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
 
 
 
 

 

#4keadaan #empatkeadaan #mengangkattangansebelumruku, #hukummengangkattanganketikabangundarisujud, #adakahkewajibanmengangankattangandalamshalat, #dlmsolat, #mengangkattanganketikashalat, #mengangkattanganketikahendaksujud, #takbiratulihram, #takbiratulihrom, #bangkitdarirakaatkedua, #rakaatke-2, #kerakaatke-3, #ke rakaat ketiga, #muslimah, #perempuan, #wanita, #sifatshalatnabi, #sifatsholatnabi, #tatacara, #cara, #mengangkattangansetelahtasyahudawal, #sunnamengangkattangandalamshalat, #berapakalimengkattangansaatshalat, #takbiratulihramsetelahsujud, #berapakalitakbirdalamshalat

,

TEMPAT-TEMPAT MENGANGKAT TANGAN DALAM SHALAT

TEMPAT-TEMPAT MENGANGKAT TANGAN DALAM SHALAT

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

 

TEMPAT-TEMPAT MENGANGKAT TANGAN DALAM SHALAT

Pertanyaan:
Apakah Nabi ﷺ pada setiap perpindahan dari satu rakaat ke rakaat berikutnya selalu takbir dengan mengangkat tangan? Ataukah hanya pada saat perpindahan dari rakaat kedua menuju ke rakaat ketiga saja? Dan bagaimana pula bila makmum masbuk untuk menyempurnakan shalat, apakah juga harus mengangkat tangan?

Jawaban:
Yang biasa dilakukan Nabi ﷺ dalam masalah mengangkat tangan saat shalat, yaitu pada waktu Takbiratul Ihram, pada waktu akan ruku` dan bangkit dari ruku`, dan pada waktu berdiri dari rakaat kedua. ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu anhuma berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ إِذَا افْتَتَحَ الصَّلَاةَ وَإِذَا كَبَّرَ لِلرُّكُوعِ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرُّكُوعِ رَفَعَهُمَا كَذَلِكَ أَيْضًا وَقَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ وَكَانَ لَا يَفْعَلُ ذَلِكَ فِي السُّجُودِ

Sesungguhnya Rasulullah ﷺ biasa mengangkat kedua tangannya dalam shalat sejajar dengan kedua pundaknya apabila memulai shalat, setelah itu bertakbir untuk ruku`, dan apabila mengangkat kepalanya dari ruku’ beliau juga mengangkat kedua tangannya …. [HR al-Bukhari, no. 735. Muslim, no. 390]

Adapun riwayat yang menjelaskan mengangkat tangan setelah bangkit dari Tasyahhud Awal ialah sebagai berikut:

عَنْ نَافِعٍ أَنَّ ابْنَ عُمَرَ كَانَ إِذَا دَخَلَ فِي الصَّلَاةِ كَبَّرَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ وَإِذَا رَكَعَ رَفَعَ يَدَيْهِ وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَفَعَ يَدَيْهِ وَإِذَا قَامَ مِنْ الرَّكْعَتَيْنِ رَفَعَ يَدَيْهِ وَرَفَعَ ذَلِكَ ابْنُ عُمَرَ إِلَى نَبِيِّ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dari Nafi’, bahwasanya Ibnu ‘Umar jika memulai shalat biasa bertakbir dan mengangkat kedua tangannya. Jika ruku’, dia mengangkat kedua tangannya, dan jika mengatakan sami’allahu liman hamidah, ia mengangkat kedua tangannya. Dan jika bangkit dari rakaat kedua, ia mengangkat kedua tangannya. Ibnu ‘Umar menyatakan itu dari Nabi ﷺ. [HR al-Bukhari, no. 739]

 

 

Untuk lebih lengkapnya, silakan klik tautan berikut ini: https://almanhaj.or.id/4713-tempattempat-mengangkat-tangan-dalam-shalat.html
 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

 

 

#sifatsholatnabi, #sifatshalatnabi, #tatacaratempattempatmengangkattangan #tempattempatangkattangan, #dalamshalat, #dalamsholat, #sholat, #shalat, #salat, #solat #takbiratulihram, #takbiratulihrom, #angkattangan, #mengangkattangan

, ,

SHALAT WANITA DI MASJID TERNYATA KALAH UTAMA DENGAN SHALAT WANITA DI RUMAHNYA

SHALAT WANITA DI MASJID TERNYATA KALAH UTAMA DENGAN SHALAT WANITA DI RUMAHNYA
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
SHALAT WANITA DI MASJID TERNYATA KALAH UTAMA DENGAN SHALAT WANITA DI RUMAHNYA
>> Benarkah Shalat Wanita Di Rumah Lebih Utama?
 
Manakah yang lebih baik, shalat wanita berjamaah di masjid, ataukah shalat sendirian di rumah?
 
Jawabannya, shalat bagi wanita yang terbaik adalah di rumahnya. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ bersabda:
 
صَلاَةُ الْمَرْأَةِ فِى بَيْتِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهَا فِى حُجْرَتِهَا وَصَلاَتُهَا فِى مَخْدَعِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهَا فِى بَيْتِهَا
 
“Shalat seorang wanita di kamar khusus untuknya lebih afdhal daripada shalatnya di ruang tengah rumahnya. Shalat wanita di kamar kecilnya (tempat simpanan barang berharganya, pen.) lebih utama dari shalatnya di kamarnya.” [HR. Abu Daud, no. 570. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadis ini Dhaif. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih. Lihat pengertian hadis ini dalam ‘Aun Al-Ma’bud, 2: 225).
 
Artinya, tempat shalat wanita di dalam rumah semakin tidak terlihat dan jauh dari ikhtilath (campur baur dengan lawan jenis), akan semakin utama. Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah ﷺ bersabda:
 
خَيْرُ مَسَاجِدِ النِّسَاءِ قَعْرُ بُيُوتِهِنَّ
 
“Sebaik-baik masjid bagi para wanita adalah di bagian dalam rumah mereka.” [HR. Ahmad, 6: 297. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadis ini Hasan dengan berbagai penguatnya]
 
Istri dari Abu Humaid As-Sa’idi, yaitu Ummu Humaid pernah mendatangi Nabi ﷺ, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, saya sangat ingin sekali shalat berjamaah bersamamu.” Beliau ﷺ lantas menjawab:
 
قَدْ عَلِمْتُ أَنَّكِ تُحِبِّينَ الصَّلاَةَ مَعِى وَصَلاَتُكِ فِى بَيْتِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاَتِكِ فِى حُجْرَتِكِ وَصَلاَتُكِ فِى حُجْرَتِكِ خَيْرٌ مِنْ صَلاَتِكِ فِى دَارِكِ وَصَلاَتُكِ فِى دَارِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاَتِكِ فِى مَسْجِدِ قَوْمِكِ وَصَلاَتُكِ فِى مَسْجِدِ قَوْمِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاَتِكِ فِى مَسْجِدِى
 
“Aku telah mengetahui hal itu, bahwa engkau sangat ingin shalat berjamaah bersamaku. Namun shalatmu di dalam kamar khusus untukmu (bait) lebih utama dari shalat di ruang tengah rumahmu (hujrah). Shalatmu di ruang tengah rumahmu lebih utama dari shalatmu di ruang terdepan rumahmu. Shalatmu di ruang luar rumahmu lebih utama dari shalat di masjid kaummu. Shalat di masjid kaummu lebih utama dari shalat di masjidku ini (Masjid Nabawi).” Ummu Humaid lantas meminta dibangunkan tempat shalat di pojok kamar khusus miliknya. Beliau melakukan shalat di situ hingga berjumpa dengan Allah (meninggal dunia, pen.) [HR. Ahmad, 6: 371. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadis ini Hasan]
 
Namun jika wanita ingin melaksanakan shalat berjamaah di masjid selama memperhatikan aturan seperti menutupi aurat dan tidak memakai harum-haruman, maka janganlah dilarang. Dari Salim bin ‘Abdullah bin ‘Umar bahwasanya ‘Abdullah bin ‘Umar berkata, “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
 
لاَ تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمُ الْمَسَاجِدَ إِذَا اسْتَأْذَنَّكُمْ إِلَيْهَا
 
“Janganlah kalian menghalangi istri-istri kalian untuk ke masjid. Jika mereka meminta izin pada kalian maka izinkanlah dia.” [HR. Muslim, no. 442]
 
Ada tiga syarat yang mesti dipenuhi ketika seorang wanita ingin shalat berjamaah di masjid:
(1) Menutup aurat,
(2) Tidak memakai minyak wangi,
(3) Harus mendapatkan izin suami. [Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 3457]
 
Dari Abu Musa Al-Asy’ary bahwanya ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:
 
أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ عَلَى قَوْمٍ لِيَجِدُوا مِنْ رِيحِهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ
 
“Seorang perempuan yang mengenakan wewangian lalu melalui sekumpulan laki-laki agar mereka mencium bau harum yang dia pakai, maka perempuan tersebut adalah seorang pelacur.” [HR. An-Nasa’i, no. 5126; Tirmidzi, no. 2786; Ahmad, 4: 413. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadis ini Hasan]. Maksudnya wanita semacam itu akan membangkitkan syahwat pria yang mencium bau wanginya. [Lihat Tuhfah Al-Ahwadzi, 8: 74]
 
Apakah jika wanita ikut shalat berjamaah di masjid akan mendapatkan pahala 27 derajat?
 
Al-Hafizh Ibnu Rajab dalam Fath Al-Bari (4: 34) menyatakan, bahwa hadis shalat laki-laki dengan berjamaah akan dilipatgandakan menunjukkan, bahwa SHALAT WANITA TIDAK DILIPATGANDAKAN ketika dilakukan secara berjamaah. Karena shalat wanita di rumahnya lebih baik dan lebih afdhal.
 
Dalam Fath Al-Bari (2: 147), Ibnu Hajar Al-Asqalani juga menjelaskan tentang hadis “Laki-laki yang terkait hatinya dengan masjid” menunjukkan, bahwa pahala shalat di masjid 27 derajat hanya ditujukan pada laki-laki, karena shalat wanita tetap lebih baik di rumahnya dibanding masjid.
 
Baca baHasan Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab no. 122393:
 
 
هل تنال المرأة أجر صلاة الجماعة إذا ذهبت للمسجد؟
 
 
Semoga menjadi tambahan ilmu yang bermanfaat.
 
 
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

 

 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

#muslimah sholihah, #muslimah, #wanita, #perempuan, #wanitalebihutamashalatdirumah, #sebaikbaikshalatwanit adalahdirumah, #hukumwanitashalatdimasjid, #wanitashalatdimasjid, #pahalawanitashalatdirumahdanmasjid #sifatsholatnabi, #sholat, #shalat, #salat, #solat, #tatacara, #cara,

,

HUKUM MENJAMAK SHALAT TANPA UZUR

HUKUM MENJAMAK SHALAT TANPA UZUR
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
HUKUM MENJAMAK SHALAT TANPA UZUR
 
Tidak dibolehkan menjamak di antara dua shalat tanpa uzur. Siapa yang menjamaknya tanpa uzur dan alasan syari, maka dia berdosa, karena bertentangan dengan ketentuan syariat yang menetapkan hal tersebut. Di antaranya adalah firman Allah ta’ala:
 
إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا (سورة النساء: 103)
“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” [QS. An-Nisa: 103]
 
Demikian pula halnya dengan sabda Nabi ﷺ:
 
أَمَّنِي جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام عِنْدَ الْبَيْتِ مَرَّتَيْنِ فَصَلَّى بِيَ الظُّهْرَ حِينَ زَالَتْ الشَّمْسُ وَكَانَتْ قَدْرَ الشِّرَاكِ وَصَلَّى بِيَ الْعَصْرَ حِينَ كَانَ ظِلُّهُ مِثْلَهُ وَصَلَّى بِيَ يَعْنِي الْمَغْرِبَ حِينَ أَفْطَرَ الصَّائِمُ وَصَلَّى بِيَ الْعِشَاءَ حِينَ غَابَ الشَّفَقُ وَصَلَّى بِيَ الْفَجْرَ حِينَ حَرُمَ الطَّعَامُ وَالشَّرَابُ عَلَى الصَّائِمِ فَلَمَّا كَانَ الْغَدُ صَلَّى بِيَ الظُّهْرَ حِينَ كَانَ ظِلُّهُ مِثْلَهُ وَصَلَّى بِي الْعَصْرَ حِينَ كَانَ ظِلُّهُ مِثْلَيْهِ وَصَلَّى بِيَ الْمَغْرِبَ حِينَ أَفْطَرَ الصَّائِمُ وَصَلَّى بِيَ الْعِشَاءَ إِلَى ثُلُثِ اللَّيْلِ وَصَلَّى بِيَ الْفَجْرَ فَأَسْفَرَ ثُمَّ الْتَفَتَ إِلَيَّ فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ هَذَا وَقْتُ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِكَ وَالْوَقْتُ مَا بَيْنَ هَذَيْنِ الْوَقْتَيْنِ (رواه أبو داود، رقم 393 والترمذي، رقم 149 وقال الألباني : إسناده حسن صحيح في ” صحيح أبي داود – الأم ” برقم 417)
“Jibril alaihissalam mengimami saya di Baitullah sebanyak dua kali. Dia mengimami saya shalat Zuhur ketika matahari tergelincir seukuran tali sandal. Kemudian dia mengimami saya shalat Ashar, ketika bayangan seukuran benda aslinya. Lalu dia mengimami saya shalat Maghrib ketika orang-orang yang berpuasa berbuka. Lalu dia shalat Isya, ketika mega merah terbenam. Lalu dia mengimami saya shalat Fajar, ketika orang yang berpuasa diharamkan makan dan minum. Kemudian keesokan harinya, dia mengimami saya shalat Zuhur, ketika bayangan seukuran benda aslinya. Lalu dia mengimami saya shalat Ashar, ketika bayangan seukuran dua kali lipat benda aslinya. Lalu dia mengimami saya shalat Maghrib, ketika orang-orang berpuasa. Lalu dia mengimami saya shalat Isya, hingga sepertiga malam. Lalu dia mengimami saya shalat Fajar ketika hari mulai terang. Lalu dia menoleh kepada saya dan berkata: ‘Wahai Muhammad, inilah waktu para nabi sebelummu. Maka waktu shalat adalah di antara kedua waktu tersebut.” [HR. Abu Daud, no. 393, Tirmizi, no. 149. Al-Albany berkata, ‘Sanadnya hasan shahih, terdapat dalam ‘Shahih Abu Daud’, no. 417]
 
Ibnu Qudamah rahimahullah berkata:
“Kaum Muslimin sepakat, bahwa shalat lima waktu memiliki waktu tertentu. Dalam masalah ini terdapat hadis shahih yang banyak.” [Al-Mughni, 1/224]
 
Jika telah disimpulkan demikian, maka tidak boleh menjamak dua shalat, kecuali jika didapatkan sebab untuk menjamak, seperti safar, hujan atau sakit. Jika tidak didapatkan sebab untuk menjamak shalat, maka harus dilakukan sesuai aslinya, yaitu shalat pada waktunya masing-masing. [Lihat Al-Mughni, Ibnu Qudamah, 2/60]
 
Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata:
“Jika Nabi ﷺ telah menetapkan waktu shalat secara terperinci, maka melaksanakan shalat di luar waktunya merupakan tindakan melampaui batas atas ketentuan Allah ta’ala:
 
وَمَنْ يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ (سورة البقرة: 229)
“Barang siapa yang melanggar hukum-hukum Allah, mereka Itulah orang-orang yang zalim.” [QS. Al-Baqarah: 229]
Siapa yang shalat sebelum waktunya, dia mengetahui dan sengaja, maka dia berdosa dan wajib mengulanginya lagi. Jika dia tidak tahu dan tidak sengaja, maka dia tidak berdosa namun wajib mengulanginya lagi. Hal ini terjadi apabila melakukan jamak takdim (menggabungkan shalat dengan melakukannya pada waktu pertama) tanpa sebab syari, maka shalat yang didahulukan tidak sah dan dia harus mengulanginya. Siapa yang menunda shalat hingga keluar waktunya dan dia tahu dan sengaja tanpa uzur, maka dia berdosa dan tidak diterima shalatnya, berdasarkan pendapat yang kuat. Ini terjadi bagi orang yang melakukan jamak takhir (menggabungkan dua shalat pada waktu kedua) tanpa sebab syari. Maka shalat yang diakhirkan tidak sah berdasarkan pendapat yang shahih. Setiap Muslim hendaknya bertakwa kepada Allah dan tidak menganggap remeh perkara yang sangat agung ini.”
[Majmu Fatawa, 15/387]
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#keluarwaktushalat, #sholat, #shalat, #solat, #salat,#sifatshalatNabi,#jamak, #takdim, #taqdim, #takhir, #menjama, #qashar, #qoshor, #shalatpadawaktunya #tatacara #cara #mengqashar #mengqoshor #takdim #taqdim #takhir #taqhir #alasansyari #udzursyari #uzursyarir
,

MEMANGNYA BOLEH, DENGAR IQAMAH LANGSUNG BERLARI MENUJU SHALAT?

MEMANGNYA BOLEH, DENGAR IQAMAH LANGSUNG BERLARI MENUJU SHALAT?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

MEMANGNYA BOLEH, DENGAR IQAMAH LANGSUNG BERLARI MENUJU SHALAT?
 
“Jika kalian mendengar iqamah, maka berjalanlah menuju shalat. Namun bersikap tenang dan khusyu’lah. Gerakan imam yang kalian dapati, ikutilah. Sedangkan yang luput dari kalian, sempurnakanlah.” [HR. Bukhari no. 636 dan Muslim no. 602]
 
Di antara faidah dari hadis ini:
  1. Terlarangnya terburu-buru menuju shalat ketika mendengar iqamah atau takut akan luput rakaat.
  2. Ketika seorang makmum masuk shaf, maka hendaklah ia mengikuti imam dalam apa pun kondisi imam, baik ia berdiri, ruku’ atau sujud. Ketika imam sujud, maka makmum hendaklah bertakbiratul ihram dan langsung sujud dalam rangka mengikuti imam.
  3. Gerakan yang luput dari imam, hendaklah disempurnakan sendirian setelah imam salam.
  4. Alasan tidak boleh bercepat-cepat ketika itu adalah karena seseorang yang berjalan menuju shalat sudah terhitung layaknya ia berada dalam shalat. Sehingga sudah sepatutnya ia khusyu’ dan tenang sebagaimana orang yang shalat.
  5. Asy Syaukani berkata, bahwa tidak dikatakan makruh bagi seseorang yang bercepat-cepat SEBELUM iqamah. (Nailul Author)
 
Jadi yang dikatakan makruh tergesa-gesa adalah KETIKA TELAH dikumandangkan iqamah atau takut akan luput rakaat.
 
Wallahu a’lam.
 
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
 #sifatsholatnabi, #tata cara, #cara, #tatacara, #sholat, #shalat, #salat, #solat, #iqamah, #iqomah, #lari, #berlari, #menujumasjid, #menujumesjid, #hukumnya, #mutiarasunnah, #faidahhadist, #faedahhadits, #faedahhadist, #faidahhadits #berjalandengantenang, #khusyu, #berlarilarian, #larilari, #terburuburu, #tergesagesa #buruburu #cepatcepat #makruh #ikutiimam
, ,

BENARKAH BAGI WANITA, SHALAT DI RUMAH TETAP LEBIH BAIK DIBANDING SHALAT DI MASJID NABAWI?

BENARKAH BAGI WANITA, SHALAT DI RUMAH TETAP LEBIH BAIK DIBANDING SHALAT DI MASJID NABAWI?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

BENARKAH BAGI WANITA, SHALAT DI RUMAH TETAP LEBIH BAIK DIBANDING SHALAT DI MASJID NABAWI?

 

Bagi para jamaah haji/umrah wanita, shalat di rumah atau penginapan lebih baik bagi mereka daripada shalat di Masjid Nabawi. Mari kita perhatikan hadis berikut ini:

عَنْ أُمِّ حُمَيْدٍ امْرَأَةِ أَبِي حُمَيْدٍ السَّاعِدِيِّ، أَنَّهَا جَاءَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي أُحِبُّ الصَّلَاةَ مَعَكَ، قَالَ: «قَدْ عَلِمْتُ أَنَّكِ تُحِبِّينَ الصَّلَاةَ مَعِي، وَصَلاتُكِ فِي بَيْتِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاتِكِ فِي حُجْرَتِكِ، وَصَلاتُكِ فِي حُجْرَتِكِ خَيْرٌ مِنْ صَلاتِكِ فِي دَارِكِ، وَصَلاتُكِ فِي دَارِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاتِكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ، وَصَلاتُكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاتِكِ فِي مَسْجِدِي» ، قَالَ: فَأَمَرَتْ فَبُنِيَ لَهَا مَسْجِدٌ فِي أَقْصَى شَيْءٍ مِنْ بَيْتِهَا وَأَظْلَمِهِ، فَكَانَتْ تُصَلِّي فِيهِ حَتَّى لَقِيَتِ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ

Dari Ummu Humaid, istri Abu Humaid as-Sa’idi, bahwa ia telah datang kepada Nabi ﷺ dan berkata:
“Wahai Rasulullah, sungguh saya senang shalat bersamamu.”
Nabi ﷺ berkata: “Aku sudah tahu itu, dan shalatmu di bagian dalam rumahmu lebih baik bagimu dari shalat di kamar depan. Shalatmu di kamar depan lebih baik bagimu dari shalat di kediaman keluarga besarmu. Shalatmu di kediaman keluarga besarmu lebih baik bagimu dari shalat di masjid kaummu, dan shalatmu di masjid kaummu lebih baik dari shalat di masjidku.”
Maka Ummu Humaid memerintahkan agar dibangunkan masjid di bagian rumahnya yang paling dalam dan paling gelap, dan ia shalat di situ sampai bertemu Allah. [HR. Ahmad no. 27.090, dihukumi hasan oleh Ibnu Hajar]

Kita sudah mengetahui besarnya keutamaan shalat di Masjid Nabawi. Namun bagi para wanita, shalat di rumah mereka TETAP LEBIH BAIK bagi mereka dibanding shalat di Masjid Nabawi, bahkan di Masjidil Haram. Semakin tersembunyi tempat shalat, itu semakin baik bagi mereka. Para jamaah haji wanita perlu meneladani Ummu Humaid yang begitu menaati sunnah Nabi ﷺ dengan selalu shalat di rumah. Tidak seperti sebagian jamaah haji wanita yang kadang sampai shalat di jalan-jalan kota Makkah karena masjid-masjid penuh. Mereka bersemangat tinggi, tapi tidak didasari ilmu agama yang memadai.

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://muslim.or.id/10435-menyorot-shalat-arbain-di-masjid-nabawi.html

 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

#SifatShalatNabi,#SifatSholatNabi, #sifatsholatNabi, #sifatshalatNabi, #sholat, #shalat, #solat, #salat, #tatacara, #caranya, #perempuan, #wanita, #muslimah, #lebihbaik, #dirumahnya, #masjidNabawi, #mesjidNabawi, #umrah, #umroh, #haji, #fadhilah

,

AYO SHALAT BERJAMAAH BAGI KAUM LAKI-LAKI

AYO SHALAT BERJAMAAH BAGI KAUM LAKI-LAKI

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

AYO SHALAT BERJAMAAH BAGI KAUM LAKI-LAKI

Bagi laki-laki yang masih malas shalat jamaah di masjid, coba renungkan baik-baik pahala besar di balik shalat jamaah berikut ini:

1. Shalat jamaah lebih utama dari shalat sendirian sebanyak 27 derajat (27 kali).
2. Allah ta’ala akan melindungi orang yang melaksanakan shalat jamaah dari gangguan setan.
3. Keutamaan shalat jamaah semakin bertambah dengan semakin bertambahnya jamaah.
4. Orang yang menjaga shalat jamaah selama 40 hari, ia akan selamat dari kemunafikan.
5. Siapa yang shalat Subuh dalam keadaan berjamaah di pagi hari, ia akan mendapatkan rasa aman hingga petang (sore) hari.
6. Siapa yang shalat Subuh berjamaah di masjid lantas ia menunggu hingga matahari meninggi, lalu ia melaksanakan shalat dua rakaat ketika matahari meninggi (15 menit setelah matahari terbit), maka ia akan mendapatkan pahala haji dan umrah yang sempurna dan sempurna dan sempurna.
7. Siapa yang melaksanakan shalat Isya secara berjamaah, maka ia mendapatkan pahala shalat separuh malam. Sedangkan jika ia melaksanakan shalat Subuh secara berjamaah, ia akan mendapatkan pahala shalat semalam suntuk (semalam penuh).
8. Malaikat malam dan siang berkumpul di waktu Subuh dan Ashar.
9. Orang yang menunggu shalat jamaah, terhitung berada dalam keadaan shalat.
10. Siapa yang shalatnya membaca Aamiin setelah membaca Al-Fatihah, maka ia akan mendapatkan kecintaan dan ampunan Allah.

Semoga Allah beri hidayah bagi kaum pria untuk berjamaah di masjid.

 

Sumber: Rumaysho.Com

 

 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

 

 

 

 

 

 

#sifat sholat nabi, #shalat, #sholat, #salat, #solat, #tatacara, #cara, #jamaah, #jama’ah, #berjamaah, #laki laki, #pria, #lelaki, #ayoshalatberjamaahdimasjid #ikhwan #akhi #hukum

, ,

KEUTAMAAN BERDOA SEMBARI MENGANGKAT TANGAN

KEUTAMAAN BERDOA SEMBARI MENGANGKAT TANGAN

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

KEUTAMAAN BERDOA SEMBARI MENGANGKAT TANGAN
 
Dari Salman Al-Farisy radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
 
إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِيٌّ كَرِيمٌ، يَسْتَحْيِي مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ، أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا
 
“Sesungguhnya Rabb kalian tabaraka wa ta’ala Maha Pemalu lagi Maha Pemurah. Dia malu terhadap hamba-Nya, bila (sang hamba) mengangkat kedua tangannya kepada-Nya, lalu Ia mengembalikan (kedua tangan hamba itu) dalam keadaan hampa.” [Hadis hasan. Diriwayatkan Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzy dan Ibnu Majah. Baca Shahih Abi Dawud karya Al-Albany dan Tahqiq Musnad Ahmad karya Syu’aib Al-Arna`uth.]
 
 
Penulis: Al-Ustadz Dzulqarnain M Sunusi hafizahullah
Sumber: Dzulqarnain.net

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

#AdabAkhlak, #DoaZikir

, ,

ADAKAH ANJURAN MEMERLAMA SUJUD TERAKHIR UNTUK BERDOA?

ADAKAH ANJURAN MEMERLAMA SUJUD TERAKHIR UNTUK BERDOA?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#SifatSholatNabi
 
ADAKAH ANJURAN MEMERLAMA SUJUD TERAKHIR UNTUK BERDOA?
 
Segala puji bagi Allah, pemberi segala nikmat. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
Kita ketahui bersama, bahwa ketika sujud adalah waktu terbaik untuk berdoa. Seperti disebutkan dalam hadis:
 
أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ
 
“Yang paling dekat antara seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika ia sujud. Maka perbanyaklah doa ketika itu.” [HR. Muslim no. 482, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu]
 
Namun seringkali kita lihat di lapangan, sebagian orang malah seringnya memperlama sujud terakhir ketika shalat. Tujuannya adalah agar memerbanyak doa ketika itu. Apakah benar bahwa saat sujud terakhir mesti demikian? Semoga sajian singkat ini bermanfaat.
 
Al Baro’ bin ‘Azib mengatakan:
 
كَانَ رُكُوعُ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – وَسُجُودُهُ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ وَبَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ قَرِيبًا مِنَ السَّوَاءِ
 
“Ruku’, sujud, bangkit dari ruku’ (i’tidal), dan duduk antara dua sujud yang dilakukan oleh Nabi ﷺ, semuanya hampir sama (lama dan thuma’ninahnya).” [HR. Bukhari no. 801 dan Muslim no. 471]
 
Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin pernah ditanya:
“Apakah diperkenankan memperpanjang sujud terakhir dari rukun shalat lainnya, di dalamnya seseorang memperbanyak doa dan istighfar? Apakah shalat menjadi cacat jika seseorang memperlama sujud terakhir?”
 
Beliau rahimahullah menjawab:
“Memerpanjang sujud terakhir ketika shalat bukanlah termasuk sunnah Nabi ﷺ. Karena yang disunnahkan adalah seseorang melakukan shalat antara ruku’, bangkit dari ruku’ (i’tidal), sujud dan duduk antara dua sujud itu HAMPIR SAMA LAMANYA. Sebagaimana hal ini dijelaskan dalam hadis Baro’ bin ‘Azib, ia berkata: “Aku pernah shalat bersama Nabi ﷺ. Aku mendapati bahwa berdiri, ruku’, sujud, duduk beliau sebelum salam dan berpaling, semuanya hampir sama (lamanya).” Inilah yang afdhal.
 
Akan tetapi ada TEMPAT DOA SELAIN SUJud yaitu SETELAH TASYAHUD (SEBELUM SALAM). Nabi ﷺ ketika mengajarkan ‘Abdullah bin Mas’ud tasyahud, beliau bersabda: “Kemudian setelah tasyahud, terserah padamu berdoa dengan doa apa saja”.
 
Maka berdoalah ketika itu, sedikit atau pun lama, setelah tasyahud akhir sebelum salam. [Fatawa Nur ‘ala Ad Darb, kaset no. 376, side B]
 
Dalam Fatawa Al Islamiyah (1/258), Syaikh ‘Abdullah Al Jibrin rahimahullah berkata:
“Aku tidak mengetahui adanya dalil yang menyebutkan untuk memperlama sujud terakhir dalam shalat. Yang disebutkan dalam berbagai hadis, rukun shalat atau keadaan lainnya itu hampir sama lamanya.”
 
Syaikh ‘Abdullah Al Jibrin rahimahullah juga menjelaskan:
“Aku tidak mengetahui adanya dalil yang menganjurkan untuk memperlama sujud terakhir dalam shalat. Akan tetapi, memang sebagian imam melakukan seperti ini sebagai isyarat pada makmum, bahwa ketika itu adalah rakaat terakhir, atau ketika itu adalah amalan terakhir dalam shalat.
 
Karenanya, mereka pun memperpanjang sujud ketika itu. Dari sinilah, mereka maksudkan agar para jamaah tahu, bahwa setelah itu adalah duduk terakhir, yaitu duduk tasyahud akhir. Namun alasan semacam ini tidaklah menjadi sebab dianjurkan memperpanjang sujud terakhir ketika itu.”
[Fatawa Syaikh Ibnu Jibrin, Ahkam Qoth’ush Sholah, Fatawan no. 2046 dari website beliau]
 
Dari penjelasan singkat ini, nampaklah bahwa TIDAK ADA ANJURAN untuk memerlama sujud terakhir ketika shalat, agar bisa memerbanyak doa ketika itu.
 
Yang tepat, hendaklah gerakan rukun yang ada sama atau hampir sama lamanya dan thuma’ninahnya.”
 
Silakan membaca doa ketika sujud terakhir, namun hendaknya LAMANYA HAMPIR SAMA dengan sujud sebelumnya, atau sama dengan rukun lainnya. Apalagi jika imam sudah selesai dari sujud terkahir dan sedang tasyahud, maka selaku makmum hendaklah mengikuti imam ketika itu. Karena imam tentu saja diangkat untuk diikuti.
 
Nabi ﷺ bersabda:
 
إِنَّمَا جُعِلَ الإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَلاَ تَخْتَلِفُوا عَلَيْهِ
 
“Imam itu diangkat untuk diikuti, maka janganlah diselisihi.” [HR. Bukhari no. 722, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu]
 
Hanya Allah yang memberi taufik.
 
Referensi: Website Syaikh Sholih Al Munajid – Al Islam Sual wa Jawab (http://islamqa.com/ar/ref/111889/ )
 
~ Penulis: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal
(Artikel www.rumaysho.com)

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

, ,

PEMBACAAN SHALAWAT NABI KETIKA BERDOA SAAT SUJUD

PEMBACAAN SHALAWAT NABI KETIKA BERDOA SAAT SUJUD

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#SifatSholatNabi
 
PEMBACAAN SHALAWAT NABI KETIKA BERDOA SAAT SUJUD
 
Pertanyaan:
Bagaimana tatacara pembacaan shalawat Nabi ﷺ saat kita mau berdoa di waktu sujud, agar doa ana tidak menggantung Keterangan ini ana dapatkan saat menghadiri suatu kajian.
 
Jawaban Redaksi salamdakwah.com
Membaca shalawat kepada Nabi ﷺ adalah termasuk sebab diterimanya doa. Sebagaimana itu disyariatkan diluar sujud, hal itu juga disyariatkan di kala sujud.
Teknisnya adalah kita membaca zikir sujud terlebih dahulu, kemudian membaca shalawat, dan selanjutnya membaca doa.
 
Membaca shalawat boleh dengan shalawat yang panjang yang diajarkan oleh Nabi ﷺ:
اللَّهُّم صلِّ على محمدٍ وعلى آل محمد كما صلَّيْتَ على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد، اللَّهُّم بارِكْ على محمدٍ وعلى آل محمد كما باركتَ على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميدٌ مجيد
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad, kamaa shallaita ‘ala Ibrohim wa ‘ala aali Ibrohim, innaKa Hamidum Majid. Allahumma barik ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad, kama barokta ‘ala Ibrohim wa ‘ala ali Ibrohim, innaKa Hamiidum Majid.
Artinya
Ya, Allah. Berilah (yakni, tambahkanlah) shalawat (sanjungan) kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi shalawat kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia. Ya, Allah. Berilah berkah (tambahan kebaikan) kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi berkah kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia. [HR Bukhari, Muslim, dan lainnya. Lihat Shifat Shalat Nabi, hlm. 165-166, karya Al Albani, Maktabah Al Ma’arif].
 
Boleh juga membaca shalawat dalm bentuk yang pendek seperti:
 
اللهم صل وسلم على رسول الله
 
[Disarikan dari Fatwa Syaikh Ibnu Baz di Fatawa Nur ‘Ala Ad-Darb 8/312-313]
 
 

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat