Posts

,

BAGAIMANA POSISI TANGAN DAN JARIMU TATKALA TASYAHUD?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
 
BAGAIMANA POSISI TANGAN DAN JARIMU TATKALA TASYAHUD?
 
Hadis Wail bin Hujr radhiyallahu ‘anhu yang menyebutkan sifat duduk Tasyahud ini, di antaranya:
 
وَحَدَّ مِرْفَقَهُ الْأَيْمَنَ عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى، وَقَبَضَ ثِنْتَيْنِ وَحَلَقَ، وَرَأَيْتُهُ يَقُوْلُ هَكَذَا
 
“Beliau meletakkan ujung siku beliau yang kanan di atas paha kanan. Dua jari beliau lipat/genggam (kelingking dan jari manis) dan beliau membentuk lingkaran (dengan dua jari beliau – yaitu jari tengah dan ibu jari – pen). Aku melihat beliau melakukan seperti ini.” Bisyr ibnul Mufadhdhal (seorang rawi yang meriwayatkan hadis ini mencontohkan) mengisyaratkan jari telunjuk (meluruskannya seperti menunjuk), sedangkan jari tengah dan ibu jari membentuk lingkaran. [HR . Abu Daud no. 726, 957, dinyatakan sahih dalam Shahih Abi Dawud]
 
 
 
Sumber: [Dakwahsunnah.com]

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

 

#sifatsholatNabi #sifatshalatNabi #tatacara #carasalatNabi #posisitangandanjariketikatasyahud #bagaimanatangandanjariwaktuTasyahud #dudukTasyahud #shalat #sholat #salat #solat #salat #tasyahud #tasyahhud

, ,

BACAAN ITIDAL DALAM SHALAT

BACAAN ITIDAL DALAM SHALAT
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
BACAAN ITIDAL DALAM SHALAT
 
1. Ada banyak model bacaan Itidal yang diajarkan dalam Islam. Sikap yang tepat dalam hal ini adalah berusaha menghafal semua doa itu dan dibaca secara bergantian. Misalnya ketika Itidal shalat Asar baca lafal A, Itidal shalat Maghrib baca lafal B, dst.
 
2. Orang yang shalat hanya boleh membaca doa Itidal setelah dia berdiri sempurna.
 
3. Dibolehkan mengulang-ulang bacaan Itidal, meskipun lebih dari tiga kali, sesuai dengan panjangnya Itidal.
 
4. Orang yang shalat harus membaca bacaan Itidal meskipun hanya sekali. Karena para ulama menilai bahwa bacaan Itidal hukumnya wajib.
 
5. Berikut macam-macam bacaan Itidal:
 
Pertama:
رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ atau رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ
 
Robbanaa lakal hamdu atau Robbanaa wa lakal hamdu (ada tambahan huruf “wa”) [HR. Bukhari dan Ahmad]
 
Kedua:
اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ atau اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ
 
Allahumma Robbanaa lakal hamdu atau Allahumma Robbanaa wa lakal hamdu (yang kedua ada tambahan huruf “wa”). [HR. Ahmad dan Bukhari]
 
Keterangan:
Nabi ﷺ bersabda: Jika imam mengucapkan, ‘Sami’allahu liman hamidah’ maka ucapkanlah: Allahumma Robbana lakal hamdu. Sesungguhnya siapa yang ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka dosa-dosanya yang telah lewat akan diampuni. [HR. Bukhari dan Muslim]
 
Ketiga:
 
رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءَ السَّمَوَاتِ وَمِلْءَ الْأَرْضِ وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ
 
Robbanaaa lakal hamdu mil-as-samaawaati wa mil-al-ardhi wa mil-a maa syik-ta min syai-im ba’du [HR. Muslim dan Abu Awanah]
 
Keempat:
 
رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءَ السَّمَوَاتِ وَمِلْءَ الْأَرْضِ وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ أَهْلَ الثَّنَاءِ وَالْمَجْدِ، لا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ
 
Robbanaaa lakal hamdu mil-as-samaawaati wa mil-al-ardhi wa mil-a maa syik-ta min syai-im ba’du, ahlas-tsanaa-i wal majdi, laa maani’a limaa a’thaita wa laa mu’thiya limaa mana’ta wa laa yan-fa’u dzal jaddi min-kal jaddu. [HR. Muslim, Nasai, Ibn Hibban]
 
Kelima:
 
لِرَبِّيَ الْحَمْدُ لِرَبِّيَ الْحَمْدُ …
 
Li robbiyal hamdu… Li robbiyal hamdu…
 
Bacaan ini diulang-ulang oleh Nabi ﷺ ketika beliau shalat malam. Sehingga panjang Itidal beliau hampir sama dengan berdiri saat membaca surat Al-Baqarah. [HR. Abu Daud, Nasai, dan dishahihkan Al-Albani]
 
Keenam:
 
رَبَّنَا وَلَكَ الحَمْدُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ مُبَارَكًا عَلَيْهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى
 
Robbanaa wa lakal hamdu hamdan katsiiron thoyyiban mubaarokan fiihi mubaarokan ‘alaihi kamaa yuhibbu robbunaa wa yardhoo
 
Keterangan:
Ada sahabat yang membaca ini ketika Itidal. Selesai shalat, Nabi ﷺ bertanya: “Siapa yang tadi membaca doa Itidal tersebut?” Salah seorang sahabat mengaku. Nabi ﷺ bersabda: “Sasya melihat ada 30 lebih malaikat yang berebut mengambil bacaan ini, siapa di antara mereka yang paling cepat mencatatnya.” [HR. Bukhari, Muslim, dan yang lainnya]
 
 
 
Website: Dakwahsunnah.com
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#sifatsholatNabi #shifatsholatNabi #sholat #shalat #salat #solat #tatacara #cara #doazikir #dzikir #bacaan #bacaanitidaldalamshalat #itidal
, ,

HIKMAH TIDAK DIKETAHUI KAPAN GERHANA

HIKMAH TIDAK DIKETAHUI KAPAN GERHANA
 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ  
HIKMAH TIDAK DIKETAHUI KAPAN GERHANA
 
Ibnu Baz rahimahullâh berkata:
 
أما أخبار الحسابيين عن أوقات الكسوف فلا يعول عليها , وقد صرح بذلك جماعة من أهل العلم , منهم: شيخ الإسلام ابن تيمية وتلميذه العلامة ابن القيم رحمة الله عليهما ; لأنهم يخطئون في بعض الأحيان في حسابهم , فلا يجوز التعويل عليهم , ولا يشرع لأحد أن يصلي صلاة الكسوف بناء على قولهم , وإنما تشرع صلاة الكسوف عند وقوعه ومشاهدته
 
 
فينبغي لوزارات الإعلام منع نشر أخبار أصحاب الحساب عن أوقات الكسوف حتى لا يغتر بأخبارهم بعض الناس ; ولأن نشر أخبارهم قد يخفف وقع أمر الكسوف في قلوب الناس , والله سبحانه وتعالى إنما قدره لتخويف الناس وتذكيرهم ; ليذكروه ويتقوه ويدعوه ويحسنوا إلى عباده، والله ولي التوفيق
 
“Adapun berita-berita Ahli Astronomi tentang waktu-waktu gerhana, maka TIDAK boleh dijadikan sandaran untuk melakukan Shalat Gerhana. Dan hal tersebut telah ditegaskan oleh banyak ulama, di antaranya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan murid beliau Al-‘Allamah Ibnul Qoyyim rahmatullaahi ‘alaihima. Karena para Ahli Astronomi tersebut kadang salah dan kadang benar dalam hisab mereka, maka tidak boleh bersandar kepada mereka, dan tidak disunnahkan bagi seorang pun untuk melakukan Shalat Gerhana dengan bersandarkan pendapat mereka. Hanyalah Shalat Gerhana itu disyariatkan ketika telah benar-benar terjadi dan disaksikan secara langsung.
 
Maka sepatutnya bagi Kementerian Komunikasi dan Informatika melarang para Ahli Astronomi untuk mengabarkan waktu-waktu terjadinya gerhana, agar sebagian orang tidak tertipu dengan berita-berita mereka (yang kadang salah dan kadang benar). Dan karena adanya penyebaran berita tersebut dapat mengurangi dahsyatnya pengaruh gerhana di hati-hati manusia, padahal Allah taala menetapkannya untuk memertakuti manusia dan mengingatkan mereka, agar mereka berzikir kepada-Nya, bertakwa kepada-Nya, berdoa kepada-Nya, dan berbuat baik kepada hamba-hamba-Nya. Wallaahu Waliyyuttaufiq.” [Majmu’ Al-Fatawa, 13/36]
 
Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah berkata:
 
الأولى فيما أرى عدم الإخبار، لأن إتيان الكسوف بغتة أشد وقعاً في النفوس، ولهذا نجد أن الناس لما علموا الأسباب الحسية للكسوف، وعلموا به قبل وقوعه، ضعف أمره في قلوب الناس، ولهذا كان الناس قبل العلم بهذه الأمور، إذا حصل كسوف خافوا خوفاً شديداً، وبكوا وانطلقوا إلى المساجد خائفين وجلين، والله المستعان
 
“Lebih baik menurutku tidak mengabarkan berita akan terjadinya gerhana, karena datangnya gerhana secara tiba-tiba tanpa diketahui sebelumnya lebih dahsyat pengaruhnya bagi jiwa. Oleh karena itu kita dapati, bahwa manusia apabila telah mengetahui sebab-sebab indrawi akan munculnya gerhana, dan mereka mengetahuinya sebelum terjadi, maka melemah pengaruhnya di dalam hati-hati manusia. Dan sebaliknya, apabila manusia belum mengetahui akan terjadinya, ketika terjadi maka mereka akan sangat takut, menangis dan bersegera menuju masjid-masjid dalam keadaan takut dan gemetar. Wallaahul Musta’an.” [Majmu’ Al-Fatawa war Rosaail: 5931]
 
Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah juga berkata:
 
لا يجوز أن يصلي اعتماداً على ما ينشر في الجرائد، أو يذكر بعض الفلكيين، إذا كانت السماء غيماً ولم ير الكسوف؛ لأن النبي صلى الله عليه وسلم علق الحكم بالرؤية، فقال عليه الصلاة والسلام: «فإذا رأيتموهما فافزعوا إلى الصلاة»، ومن الجائز أن الله تعالى يخفي هذا الكسوف عن قوم دون آخرين لحكمة يريدها
 
“Tidak boleh melakukan Shalat Gerhana hanya berdasarkan pada berita yang tersebar di koran-koran atau pengabaran Ahli Falak (tanpa melihat langsung), apabila langit mendung dan gerhana tidak terlihat, karena Nabi ﷺ mengaitkan hukum (shalat) dengan melihat (gerhana). Beliau ﷺ bersabda: “Maka apabila kalian melihat gerhana bersegeralah untuk shalat.” Dan bisa jadi Allah ta’ala tidak menampakkan gerhana ini bagi suatu kaum sedang yang lainnya dapat melihatnya, karena suatu hikmah yang Allah inginkan.” [Majmu’ Al-Fatawa war Rosaail: 3041]
 
 
 
#gerhanabulan #gerhanamatahari #sholat #salat #shalat #solat #Khusuf #Kusuf #hukum #tatacara #penyebaranberita #fatwaulama

TATA CARA SHALAT GERHANA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
 
TATA CARA SHALAT GERHANA
 
Shalat Gerhana dilakukan sebanyak dua rakaat dan ini berdasarkan kesepakatan para ulama. Namun para ulama berselisih mengenai tata caranya.
 
Ada yang mengatakan, bahwa Shalat Gerhana dilakukan sebagaimana shalat sunnah biasa, dengan dua rakaat dan setiap rakaat ada sekali ruku’, dua kali sujud. Ada juga yang berpendapat bahwa Shalat Gerhana dilakukan dengan dua rakaat dan setiap rakaat ada dua kali ruku’, dua kali sujud. Pendapat yang terakhir inilah yang lebih kuat sebagaimana yang dipilih oleh Mayoritas Ulama. [Lihat Shohih Fiqh Sunnah, 1/435-437]
 
Hal ini berdasarkan hadis-hadis tegas yang telah disebutkan:
“Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan, bahwa pada zaman Nabi ﷺ pernah terjadi gerhana matahari. Beliau ﷺ lalu mengutus seseorang untuk menyeru ‘ASH SHALATU JAMI’AH’ (Mari kita lakukan shalat berjamaah). Orang-orang lantas berkumpul. Nabi ﷺ lalu maju dan bertakbir. Beliau ﷺ melakukan empat kali ruku’ dan empat kali sujud dalam dua rakaat.” [HR. Muslim no. 901].
 
“Aisyah menuturkan, bahwa gerhana matahari pernah terjadi pada masa Rasulullah ﷺ. Lantas beliau ﷺ bangkit dan mengimami manusia dan beliau ﷺ memanjangkan berdiri. Kemudian beliau ﷺ ruku’ dan memperpanjang ruku’nya. Kemudian beliau ﷺ berdiri lagi dan memperpanjang berdiri tersebut, namun lebih singkat dari berdiri yang sebelumnya. Kemudian beliau ﷺ ruku’ kembali dan memperpanjang ruku’ tersebut, namun lebih singkat dari ruku’ yang sebelumnya. Kemudian beliau ﷺ sujud dan memperpanjang sujud tersebut. Pada rakaat berikutnya beliau ﷺ mengerjakannya seperti rakaat pertama. Lantas beliau ﷺ beranjak (usai mengerjakan shalat tadi), sedangkan matahari telah nampak.” [HR. Bukhari, no. 1044]
 
Ringkasnya, tata cara Shalat Gerhana sama seperti shalat biasa, dan bacaannya pun sama, dengan urutan sebagai berikut:
 
(1) Berniat di dalam hati dan tidak dilafalkan, karena melafalkan niat termasuk perkara yang tidak ada tuntunannya dari Nabi kita ﷺ dan beliau ﷺ juga tidak pernah mengajarka lafal niat pada shalat tertentu kepada para sahabatnya.
(2) Takbiratul Ihram yaitu bertakbir sebagaimana shalat biasa.
(3) Membaca doa Istiftah dan berta’awudz, kemudian membaca surat Al Fatihah dan membaca surat yang panjang (seperti surat Al Baqarah) sambil dijaherkan (dikeraskan suaranya, bukan lirih) sebagaimana terdapat dalam hadis Aisyah:
 
جَهَرَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – فِى صَلاَةِ الْخُسُوفِ بِقِرَاءَتِهِ
 
”Nabi ﷺ menjahrkan bacaannya ketika Shalat Gerhana.” [HR. Bukhari no. 1065 dan Muslim no. 901)
 
(4) Kemudian ruku’ sambil memanjangkannya.
(5) Kemudian bangkit dari ruku’ (i’tidal) sambil mengucapkan ’SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH, ROBBANA WA LAKAL HAMD’
(6) Setelah I’tidal ini tidak langsung sujud, namun dilanjutkan dengan membaca surat Al Fatihah dan surat yang panjang. Berdiri yang kedua ini lebih singkat dari yang pertama.
(7) Kemudian ruku’ kembali (ruku’ kedua) yang panjangnya namun lebih pendek dari ruku’ sebelumnya.
(8) Kemudian bangkit dari ruku’ (I’tidal).
(9) Kemudian sujud yang panjangnya sebagaimana ruku’, lalu duduk di antara dua sujud kemudian sujud kembali.
(10) Kemudian bangkit dari sujud lalu mengerjakan rakaat kedua sebagaimana rakaat pertama hanya saja bacaan dan gerakan-gerakannya lebih singkat dari sebelumnya.
(11) Tasyahud.
(12) Salam.
(13) Setelah itu Imam menyampaikan kepada para jamaah, khutbah yang berisi anjuran untuk berzikir, berdoa, beristighfar, sedekah, dan membebaskan budak. [Lihat Zaadul Ma’ad, Ibnul Qayyim, 349-356, Darul Fikr dan Shohih Fiqih Sunnah, 1/438].
 
 
 
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
http://rumaysho.com/shalat/tata-cara-shalat-gerhana-2-9044
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#tatacara #tatacaranya #caranya #uruturutan #fikihshalat, #shalat #sholat #solat #salat #hukum #waktupelaksanaan #kapankahshalatgerhana #gerhanamatahari #gerhanabulan #khusuf #kusuf #khusuuf #kusufain 

,

ADAB MENASIHATI

ADAB MENASIHATI
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
ADAB MENASIHATI
 
Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata:
 
تعمدني بنصحك في انفرادي . وجنبْني النصيحة في الجماعهْ .فإن النصح بين الناس نوع. من التوبيخ لا أرضى استماعهْ . وإن خالفتني وعصيت قولي. فلا تجزعْ إذا لم تُعْطَ طاعهْ
 
“Berilah nasihat kepadaku ketika aku sendiri. Jauhilah memberikan nasihat di tengah-tengah keramaian. Sesungguhnya nasihat di tengah-tengah manusia itu termasuk sesuatu pelecehan yang aku tidak suka mendengarkannya. Jika engkau menyelisihi dan menolak saranku, maka janganlah engkau marah jika kata-katamu tidak aku turuti.” [Diwan Imam Syafi’i halaman 56]
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#adabmenasehati #adabmenasihati #nasihat #etika #menasihati #menasehati #sendirian #janganditengahkeramaian #ramai #pelecehan #etika #tatacara #cara #didepanorangbanyak #ImamAsySyafii
,

DI ANTARA ADAB MAJELIS ILMU

DI ANTARA ADAB MAJELIS ILMU

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

DI ANTARA ADAB MAJELIS ILMU
 
Rasulullah ﷺ bersabda:
 
وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ
 
Tidaklah suatu kaum berkumpul di satu rumah Allah, mereka membacakan Kitabullah dan mempelajarinya, kecuali turun kepada mereka ketenangan, dan rahmat menyelimuti mereka. Para malaikat mengelilingi mereka dan Allah memuji mereka di hadapan makhluk yang ada didekatnya. Barang siapa yang kurang amalannya, maka nasabnya tidak mengangkatnya. [HR. Muslim dalam Shahihnya, Kitab Adz Dzikir Wad Du’a, Bab Fadhlul Ijtima’ ‘Ala Tilawatil Qur’an Wa ‘Ala Dzikr, nomor 6793, juz 17/23. (Lihat Syarah An Nawawi) dan selainnya]
 
Arti Penting Majelis Ilmu
 
Majelis ilmu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari para ulama Rabbani. Bahkan mengadakan majelis ilmu merupakan perkara penting yang harus dilakukan oleh seorang alim. Karena hal itu merupakan martabat tertinggi para ulama Rabbani, sebagaimana firman Allah ﷻ:
 
مَاكَانَ لِبَشَرٍ أَن يُؤْتِيَهُ اللهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِّي مِن دُونِ اللهِ وَلَكِن كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنتُمْ تَدْرُسُونَ
 
Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al-Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia:”Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah”. Akan tetapi (dia berkata):”Hendaklah kamu menjadi orang-orang Rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya. [QS. Ali Imran: 79].
 
Hal ini pun dilakukan Rasulullah ﷺ. Beliau ﷺ menganjurkan kita untuk menghadiri majelis ilmu, dengan sabdanya:
 
إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا قَالُوا وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ قَالَ حِلَقُ الذِّكْرِ
 
Jika kalian melewati taman Surga maka berhentilah. Mereka bertanya: ”Apakah taman Surga itu?” Beliau ﷺ menjawab: ”Halaqah zikir (majelis Ilmu). [HR. At Tirmidzi dan dishahihkan Syeikh Salim bin Ied Al Hilali dalam Shahih Kitabul Adzkar 4/4].
 
Di antara faidah majelis ilmu ialah:
• Mengamalkan perintah Allah ﷻ dan Rasulullah ﷺ dan mencontoh jalan hidup para Salaf Shalih.
• Mendapatkan ketenangan.
• Mendapatkan rahmat Allah ﷻ
• Dipuji Allah di hadapan para malaikat.
• Mengambil satu jalan mendapatkan warisan para Rasul.
• Mendapatkan ilmu dan adab dari seorang alim.
 
Adab Majelis Ilmu
 
Perkara yang harus diperhatikan dan dilakukan agar dapat mengambil faidah dari majelis ilmu di antaranya ialah:
 
• Ikhlas
 
Hendaklah kepergian dan duduknya seorang penuntut ilmu ke majelis ilmu hanya karena Allah semata, tanpa disertai riya dan keinginan dipuji orang lain. Seorang penuntut ilmu hendaklah bermujahadah dalam meluruskan niatnya, karena ia akan mendapatkan kesulitan dan kelelahan dalam meluruskan niatnya tersebut. Oleh karena itu Imam Sufyan Ats Tsauri berkata: “Saya tidak merasa susah dalam meluruskan sesuatu melebihi niat.” [Lihat Tadzkiratus Sami’ Wal Mutakallim, hal.68]
 
• Bersemangat Menghadiri Majelis Ilmu
 
Kesungguhan dan semangat yang tinggi dalam menghadiri majelis ilmu tanpa mengenal lelah dan kebosanan sangatlah diperlukan. Janganlah merasa cukup dengan menghitung banyaknya. Akan tetapi hitunglah berapa besar dan banyaknya kebodohan kita. Karena kebodohan sangat banyak, sedangkan ilmu yang kita miliki hanya sedikit sekali.
 
Lihatlah kesemangatan para ulama terdahulu dalam menghadiri majelis ilmu. Abul Abbas Tsa’lab, seorang ulama Nahwu berkomentar tentang Ibrahim Al Harbi: “Saya tidak pernah kehilangan Ibrahim Al Harbi dalam majelis pelajaran Nahwu atau bahasa selama lima puluh tahun”.
 
Lantas apa yang diperoleh Ibrahim Al Harbi? Akhirnya beliau menjadi ulama besar dunia. Ingatlah, ilmu tidak didapatkan seperti harta waris. Melainkan ilmu didapatkan dengan kesungguhan dan kesabaran.
 
Alangkah indahnya ungkapan Imam Ahmad bin Hambal:
‘Ilmu adalah karunia yang diberikan Allah kepada orang yang disukai-Nya. Tidak ada seorang pun yang mendapatkannya karena keturunan. Seandainya didapat dengan keturunan, tentulah orang yang paling berhak ialah Ahli Bait Nabi ﷺ.”
 
Demikian juga Imam Malik ketika melihat anaknya yang bernama Yahya keluar dari rumahnya bermain: “Alhamdulillah, Dzat yang tidak menjadikan ilmu ini seperti harta waris.”
 
Abul Hasan Al Karkhi berkata:
“Saya hadir di majelis Abu Khazim pada hari Jumat walaupun tidak ada pelajaran, agar tidak terputus kebiasanku menghadirinya.”
 
Lihatlah semangat mereka dalam mencari ilmu dan menghadiri majelis ilmu, sampai akhirnya mereka mendapatkan hasil yang menakjubkan.
 
• Bersegera Datang ke Majelis Ilmu dan Tidak Terlambat, Bahkan Harus Mendahuluinya dari Selainnya
 
Seseorang bila terbiasa bersegera dalam menghadiri majelis ilmu, maka akan mendapatkan faidah yang sangat banyak. Sehingga Asysya’bi ketika ditanya: “Dari mana engkau mendapatkan ilmu ini semua,?” ia menjawab:“Tidak bergantung kepada orang lain, bepergian ke negeri-negeri, dan sabar seperti sabarnya keledai, serta bersegera seperti bersegeranya elang.” [Lihat Rihlah Fi Thalabil Hadis, hal.196]
 
• Mencari dan Berusaha Mendapatkan Pelajaran yang Ada di Majelis Ilmu yang Tidak Dapat Dihadirinya
 
Terkadang seseorang tidak dapat menghadiri satu majelis ilmu karena alasan tertentu, seperti sakit dan yang lainnya, sehingga tidak dapat memahami pelajaran yang ada dalam majelis tersebut. Dalam keadaan seperti ini hendaklah ia mencari dan berusaha mendapatkan pelajaran yang terlewatkan itu. Karena sifat pelajaran itu seperti rangkaian. Jika hilang darinya satu bagian, maka dapat mengganggu yang lainnya.
• Mencatat Fidah-Faidah yang Didapatkan dari Kitab
 
Mencatat faidah pelajaran dalam kitab tersebut atau dalam buku tulis khusus. Faidah-faidah ini akan bermanfaat jika dibaca ulang dan dicatat dalam mempersiapkan materi mengajar, ceramah dan menjawab permasalahan. Oleh karena itu sebagian ahli ilmu menasihati kita, jika membeli sebuah buku agar tidak memasukkannya ke perpustakaan, kecuali setelah melihat kitab secara umum. Caranya dengan mengenal penulis, pokok bahasan yang terkandung dalam kitab dengan melihat daftar isi, dan membuka-buku sesuai dengan kecukupan waktu sebagian pokok bahasan kitab.
• Tenang dan Tidak Sibuk Sendiri dalam Majelis Ilmu
 
Ini termasuk adab yang penting dalam majelis ilmu. Imam Adz Dzahabi menyampaikan kisah Ahmad bin Sinan, ketika beliau berkata: “Tidak ada seorang pun yang bercakap-cakap di majelis Abdurrahman bin Mahdi. Pena tak bersuara. Tidak ada yang bangkit. Seakan-akan di kepala mereka ada burung. Atau seakan-akan mereka berada dalam shalat” [Tadzkiratul Hufadz 1/331]. Dan dalam riwayat yang lain: “Jika beliau melihat seseorang dari mereka tersenyum atau berbicara, maka dia mengenakan sandalnya dan keluar.” [Siyar A’lam Nubala 4/1470]
• Tidak Boleh Berputus Asa
 
Terkadang sebagian kita telah hadir di suatu majelis ilmu dalam waktu yang lama. Akan tetapi tidak dapat memahaminya kecuali sedikit sekali. Lalu timbul dalam diri kita perasaan putus asa dan tidak mau lagi duduk di sana. Tentunya hal ini tidak boleh terjadi. Karena telah dimaklumi, bahwa akal dan kecerdasan setiap orang berbeda. Kecerdasan tersebut akan bertambah dan berkembang karena dibiasakan. Semakin sering seseorang membiasakan dirinya, maka semakin kuat dan baik kemampuannya. Lihatlah kesabaran dan keteguhan para ulama dalam menuntut ilmu dan mencari jawaban satu permasalahan! Lihatlah apa yang dikatakan Syeikh Muhammad Al Amin Asy Syinqiti: “Ada satu masalah yang belum saya pahami. Lalu saya kembali ke rumah dan saya meneliti dan terus meneliti. Sedangkan pembantuku meletakkan lampu atau lilin di atas kepala saya. Saya terus meneliti dan minum the hijau sampai lewat 3/4 hari, sampai terbit fajar hari itu”. Kemudian beliau berkata: “Lalu terpecahlah problem tersebut.”
 
Lihatlah bagaimana beliau menghabiskan harinya dengan meneliti satu permasalahan yang belum jelas baginya.
 
• Jangan Memotong Pembicaraan Guru atau Penceramah
Termasuk adab yang harus diperhatikan dalam majelis ilmu yaitu tidak memotong pembicaraan guru atau penceramah. Karena hal itu termasuk adab yang jelek. Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada kita dengan sabdanya:
 
ليس منا من لم يجل كبيرنا و يرحم صغيرنا و يعرف لعالمنا حقه
 
Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda, serta yang tidak mengerti hak ulama. [Riwayat Ahmad dan dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami’].
 
Imam Bukhari menulis di Shahihnya: Bab “Orang Yang Ditanya Satu Ilmu dalam Keadaan Sibuk Berbicara, Hendaknya Menyempurnakan Pembicaraannya. Kemudian menyampaikan hadis:
 
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ بَيْنَمَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَجْلِسٍ يُحَدِّثُ الْقَوْمَ جَاءَهُ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ مَتَى السَّاعَةُ فَمَضَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحَدِّثُ حَتَّى إِذَا قَضَى حَدِيثَهُ قَالَ أَيْنَ أُرَاهُ السَّائِلُ عَنْ السَّاعَةِ قَالَ هَا أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَإِذَا ضُيِّعَتْ الْأَمَانَةُ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ قَالَ كَيْفَ إِضَاعَتُهَا قَالَ إِذَا وُسِّدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ
 
Dari Abu Hurairah, beliau berkata:“Ketika Rasulullah ﷺ berada di majelis menasihati kaum, datanglah seorang Arabi dan bertanya:”Kapan Hari Kiamat?” (Tetapi) beliau ﷺ terus saja berbicara sampai selesai. Lalu (beliau ﷺ) bertanya: “Mana tampakkan kepadaku yang bertanya tentang Hari Kiamat?” Dia menjawab:”Saya, wahai Rasulullah ﷺ.” Lalu beliau ﷺ berkata: “Jika amanah disia-siakan, maka tunggulah Hari Kiamat”. Dia bertanya lagi: “Bagaimana menyia-nyiakannya?” Beliau ﷺ menjawab: “Jika satu perkara diberikan kepada bukan ahlinya, maka tunggulah Hari Kiamat.” [HR. Bukhari].
Rasulullah ﷺ dalam hadis ini berpaling dan tidak memperhatikan penanya untuk mendidiknya.
 
• Beradab dalam Bertanya
 
Bertanya adalah kunci ilmu. Juga diperintahkan Allah ﷻ dalam firman-Nya:
 
فَسْئَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَتَعْلَمُونَ
 
Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan, jika kamu tidak mengetahui. [QS. An Nahl: 43].
 
Demikian pula Rasulullah ﷺ mengajarkan, bahwa obat kebodohan yaitu dengan bertanya, sebagaimana sabdanya:
 
أَلَا سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالُ
 
Seandainya mereka bertanya! Sesungguhnya obatnya kebodohan adalah bertanya. [Riwayat Abu Daud, Ibnu Majah, Ahmad dan Darimi dan dishahihkan Syeikh Salim Al Hilali dalam Tanqihul Ifadah Al Muntaqa Min Miftah Daris Sa’adah, hal. 174].
 
Imam Ibnul Qayim berkata:
”Ilmu memiliki enam martabat. Yang pertama, baik dalam bertanya …… Ada di antara manusia yang tidak mendapatkan ilmu, karena tidak baik dalam bertanya. Adakalanya karena tidak bertanya langsung. Atau bertanya tentang sesuatu, padahal ada yang lebih penting. Seperti bertanya sesuatu yang tidak merugi jika tidak tahu dan meninggalkan sesuatu yang mesti dia ketahui.” [Miftah Daris Sa’adah 1/169]
 
Demikian juga Al Khathib Al Baghdadi memberikan pernyataan:”Sepatutnyalah rasa malu tidak menghalangi seseorang dari bertanya tentang kejadian yang dialaminya.” [Al Faqiih Wal Mutafaaqih 1/143]
 
Adab Bertanya
 
Oleh karena itu perlu dijelaskan beberapa adab yang harus diperhatikan dalam bertanya, di antaranya:
 
a. Bertanya perkara yang tidak diketahuinya dengan tidak bermaksud menguji
Hal ini dijadikan syarat pertanyaan oleh Allah ﷻ dalam firman-Nya:
 
فَسْئَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَتَعْلَمُونَ
 
Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan, jika kamu tidak mengetahui. [QS. An Nahl: 43].
 
Dalam ayat ini Allah ﷻ menyebutkan syarat pertanyaan adalah tidak tahu. Sehingga seseorang yang tidak tahu bertanya sampai diberi tahu. Tetapi seseorang yang telah mengetahui suatu perkara diperbolehkan bertanya tentang perkara tersebut, untuk memberikan pengajaran kepada orang yang ada di majelis tersebut. Sebagaimana yang dilakukan Jibril kepada Rasulullah ﷺ dalam hadis Jibril yang masyur.
 
b. Tidak boleh menanyakan sesuatu yang tidak dibutuhkan, yang jawabannya dapat menyusahkan penanya, atau menyebabkan kesulitan bagi kaum Muslimin. Sebagaimana Allah ﷻ melarang dalam firman-Nya:
 
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَتَسْئَلُوا عَنْ أَشْيَآءَ إِن تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ وَإِن تَسْئَلُوا عَنْهَا حِينَ يُنَزَّلُ الْقُرْءَانُ تُبْدَ لَكُمْ عَفَا اللهُ عَنْهَا وَاللهُ غَفُورٌ حَلِيمُُ
 
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu, niscaya menyusahkan kamu. Dan jika kamu menanyakan di waktu Alquran itu sedang diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu. Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun. [QS. Al Maidah: 101].
 
Dan sabda Rasulullah ﷺ:
 
إِنَّ أَعْظَمَ الْمُسْلِمِينَ جُرْمًا مَنْ سَأَلَ عَنْ شَيْءٍ لَمْ يُحَرَّمْ فَحُرِّمَ مِنْ أَجْلِ مَسْأَلَتِهِ
 
Seorang Muslim yang paling besar dosanya adalah orang yang bertanya sesuatu yang tidak diharamkan, lalu diharamkan karena pertanyaannya. [Riwayat Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Ahmad].
 
Oleh karena itulah para sahabat dan tabi’in tidak suka bertanya tentang sesuatu kejadian sebelum terjadi. Rabi’ bin Khaitsam berkata: “Wahai Abdullah, apa yang Allah berikan kepadamu dalam kitabnya dari ilmu maka syukurilah. Dan yang Allah tidak berikan kepadamu, maka serahkanlah kepada orang alim dan jangan mengada-ada. Karena Allah taala berfirman kepada Nabi-Nya ﷺ:
 
قُلْ مَآأَسْئَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ وَمَآأَنَا مِنَ الْمُتَكَلِّفِينَ إِنْ هُوَ إِلاَّ ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ وَلَتَعْلَمُنَّ نَبَأَهُ بَعْدَ حِينٍ
 
Katakanlah (hai Muhammad): ”Aku tidak meminta upah sedikit pun kepadamu atas dakwahku. Dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan. Alquran ini, tidak lain hanyalah peringatan bagi semesta alam. Dan sesungguhnya kamu akan mengetahui (kebenaran) berita Alquran setelah beberapa waktu lagi. [Shad: 86-88]. [Jami’ Bayanil Filmi Wa Fadhlihi 2/136]
 
 
c. Diperbolehkan bertanya kepada seorang alim tentang dalil dan alasan pendapatnya
Hal ini disampaikan Al Khathib Al Baghdadi dalam Al Faqih Wal Mutafaqih 2/148: “Jika seorang alim menjawab satu permasalahan, maka boleh ditanya apakah jawabannya berdasarkan dalil ataukah pendapatnya semata”.
 
d. Diperbolehkan bertanya tentang ucapan seorang alim yang belum jelas. Berdasarkan dalil hadis Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
 
صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً فَلَمْ يَزَلْ قَائِمًا حَتَّى هَمَمْتُ بِأَمْرِ سَوْءٍ قُلْنَا وَمَا هَمَمْتَ قَالَ هَمَمْتُ أَنْ أَقْعُدَ وَأَدَعَهُ
 
Saya shalat bersama Nabi ﷺ, lalu beliau memanjangkan shalatnya sampai saya berniat satu kejelekan? Kami bertanya kepada Ibnu Mas’ud: “Apa yang engkau niatkan?” Beliau menjawab: “Saya ingin duduk dan meninggalkannya”. [HR. Bukhari dan Muslim].
 
e. Jangan bertanya tentang sesuatu yang telah engkau ketahui jawabannnya, untuk menunjukkan kehebatanmu dan melecehkan orang lain
 
• Mengambil Akhlak dan Budi Pekerti Gurunya
Tujuan hadir di majelis ilmu bukan hanya terbatas pada faidah keilmuan semata. Ada hal lain yang juga harus mendapat perhatian serius, yaitu melihat dan mencontoh akhlak guru. Demikianlah para ulama terdahulu. Mereka menghadiri majelis ilmu, juga untuk mendapatkan akhlak dan budi pekerti seorang alim, untuk dapat mendorong mereka berbuat baik dan berakhlak mulia.
 
Diceritakan oleh sebagian ulama, bahwa majelis Imam Ahmad dihadiri lima ribu orang. Dikatakan hanya lima ratus orang yang menulis, dan sisanya mengambil faidah dari tingkah laku, budi pekerti dan adab beliau. [Siyar A’lam Nubala 11/316]
 
Abu Bakar Al Muthaawi’i berkata: “Saya menghadiri majelis Abu Abdillah, beliau sedang mengimla’ musnad kepada anak-anaknya, duabelas tahun. Dan saya tidak menulis, akan tetapi saya hanya melihat kepada adab dan akhlaknya”. [Siyar A’lam Nubala 11/316]
 
Demikianlah perihal kehadiran kita dalam majelis ilmu. Hendaklah bukan semata-mata mengambil faidah ilmu saja, akan tetapi juga mengambil semua faidah yang ada.
 
Mudah-mudahan bermanfaat.
 
 
 
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun VI/1423H/2002M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]
 
 
Dinukil dari tulisa berjudul: “Adab Majelis Ilmu” yang ditulis oleh: Abu Asma Kholid Syamhudi

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

 

#adabbermajelis #adabmajelisilmu #etika #tatacara #cara #menuntutilmu #thalabulilmi #tholabulilmi #penuntutilmu, #adabakhlak #adabmenuntutilmu

,

PAHALA SHALAT DI MAKKAH 100.000 KALI

PAHALA SHALAT DI MAKKAH 100.000 KALI
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
PAHALA SHALAT DI MAKKAH 100.000 KALI
>> Apakah hal itu berlaku di Masjidil Haram saja, ataukah di seluruh Makkah?
 
Tanah Haram (Makkah dan Madinah) adalah tempat yang mulia. Di antara kemuliaannya adalah akan dilipatgandakan pahala shalat di masjid di tanah tersebut. Khusus untuk Tanah Haram di Makkah kita ketahui, bahwa pahala shalat di Masjidil Haram adalah 100.000 kali dari shalat di masjid lainnya.
 
Dari Jabir, Nabi ﷺ bersabda:
 
صَلاَةٌ فِى مَسْجِدِى أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ وَصَلاَةٌ فِى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ
 
“Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama daripada 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Haram. Shalat di Masjidil Haram lebih utama daripada 100.000 shalat di masjid lainnya.” [HR. Ahmad 3/343 dan Ibnu Majah no. 1406, dari Jabir bin ‘Abdillah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih. Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1173]
 
Namun apakah hal itu berlaku di Masjidil Haram saja, ataukah di seluruh Makkah?
 
Komisi Fatwa di Kerajaan Saudi Arabia, Al Lajnah Ad Daimah ditanya:
“Apakah pahala shalat di seluruh tempat di Makkah berlipat-lipat sama dengan shalat di Masjidil Haram itu sendiri? Lalu apakah berbuat maksiat juga akan dilipatgandakan dosanya sebagaimana pada kebaikan?
 
Para ulama yang duduk di komisi tersebut menjawab:
 
Dalam masalah ini, ada silang pendapat antara para ulama. Pendapat terkuat, berlipatnya pahala berlaku umum di seluruh Tanah Haram (di seluruh Makkah). Karena dalam Alquran dan As Sunnah, seluruh tempat di Makkah disebut dengan Masjidil Haram.
 
Sedangkan mengenai maksiat, tidaklah dilipatgandakan dosanya secara jumlah, baik di Tanah Haram atau selainnya. Dosa itu dilipatgandakan dilihat dari maksiat yang dilakukan (kaifiyah), berbeda-beda antara dosa. Ada dosa yang amat berat, ada yang balasannya keras karena dilakukan di waktu dan tempat tertentu, seperti dilakukan di bulan Ramadan, di Tanah Haram yang mulia, di Madinah Al Munawwaroh dan semacamnya. Karena Allah taala berfirman:
 
مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَى إِلَّا مِثْلَهَا
 
“Barang siapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya. Dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat, maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya” [QS. Al An’am: 160]. Dan juga banyak hadis yang Shahih yang menerangkan hal ini.
 
Wabillahit taufiq. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
 
[Fatwa Al Lajnah Ad Daimah no. 6267, pertanyaan keempat. Yang menandatangani fatwa ini: Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz selaku ketua, Syaikh ‘Abdurrozaq ‘Afifi selaku wakil ketua, Syaikh ‘Abdullah bin Ghudayan dan Syaikh ‘Abdullah bin Qu’ud selaku anggota].
 
 
***
 
Dari sini, meskipun kita shalat di masjid lainnya di Makkah, atau wanita Muslimah menunaikan shalat di hotelnya selama itu masih di Makkah (Tanah Haram), maka akan dilipatgandakan pahala demikian.
 
Semoga Allah memudahkan kita menginjakkan kaki kita di Tanah Haram yang mulia. Allahumma yassir wa a’in.
 
 
 
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
[www.rumaysho.com]
 

 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

 

#HaditsTentangPahalaShalatDiMasjidilHaram #PahalaSholatDiMasjidNabawi #HadisKeutamaanShalatDiMasjidilHaram #KeutamaanMasjidilHaramDanMasjidNabawi #PahalaShalatDiMasjidNabawiDanMasjidilHaram #sifatsholatNabi #tatacara #seratusribu #100000 #pahalashalat #Makkah #Mekah #Mekkah #Mecca #MasjidilHaram #MasjidNabawi #keutamaan #fadhilah

, ,

TIDAK TERCELA MENGINGATKAN KESALAHAN ULAMA JIKA BERADAB DAN TETAP MEMULIAKANNYA

TIDAK TERCELA MENGINGATKAN KESALAHAN ULAMA JIKA BERADAB DAN TETAP MEMULIAKANNYA
 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
TIDAK TERCELA MENGINGATKAN KESALAHAN ULAMA JIKA BERADAB DAN TETAP MEMULIAKANNYA
>> Yang Wajib adalah Mengikuti Dalil, Bukan Taqlid kepada Siapapun!!
 
1. Asy-Syaikh Rabi’ bin Hady al-Madkhaly hafizhahullah berkata:
 
السلفيون لا يقبلون الأقوال إلا إذا قامت على الحجج والبراهين.
 
“Ahlus Sunnah tidak akan menerima ucapan-ucapan, kecuali jika ucapan-ucapan tersebut tegak di atas hujjah-hujjah dan bukti-bukti.” [Umdatul Abby, hlm. 417]
 
2. Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata:
 
«لا يجوز أخذ قول فقيه مهما بلغ من الفقه والعلم، إلا إذا كان مبنيا على دليل صحيح»
 
“Tidak boleh mengambil pendapat seorang ulama betapapun tinggi fikih dan ilmu yang dia kuasai, kecuali jika pendapat tersebut dibangun di atas dalil yang shahih.” [Syarh al-Manzhumah al-Haiyyah, hlm. 63]
 
3. Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya az-Zahrany hafizhahullah berkata:
 
‏بعض الناس يدور مع شيخه أو أستاذه أو صديقه أو… حيث دار!! والواجب علينا جميعاً أن ندور مع الدليل حيث دار.
 
“Sebagian orang begitu saja mengikuti gurunya, atau ustadznya, atau temannya, atau yang lainnya kemanapun dia pergi!! Padahal yang wajib atas kita semua adalah dengan kita mengikuti dalil, kemana pun dalil tersebut berputar.”
 
Membantah Ulama dengan Penuh Adab Bukan Berarti Ingin Menjatuhkannya
 
4. Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata:
 
من النصيحة للعلماء: أنك إذا رأيت منهم خطأ فلا تسكت وتقول: هذا أعلم مني، بل تُناقش بأدبٍ واحترام، لأنه أحياناً يخفى على الإنسان الحكم فينبهه من هو دونه في العلم فيتنبه وهذا من النصيحة للعلماء.
 
“Termasuk bentuk nasihat kepada para ulama adalah, jika engkau melihat sebuah kesalahan muncul dari mereka, engkau jangan hanya diam dan mengatakan: ‘Beliau lebih berilmu dibandingkan saya.’ Tetapi diskusikanlah dengan adab dan sikap memuliakan, karena terkadang seseorang tidak mengetahui hukum yang benar dalam sebuah masalah, sehingga orang yang tingkatan ilmunya di bawahnya mengingatkannya, agar ulama tersebut menyadari kesalahannya. Dan semacam ini termasuk bentuk nasihat untuk para ulama.” [Syarh al-Arba’in an-Nawawiyyah, hlm. 148]
 
5. Asy-Syaikh Shalah Kantusy hafizhahullah berkata:
 
الشيخ محمد بن هادي عالم جليل كريم، ولا يسقط أحد أحدا، إنما يسقط المرء عمله. والرد على العالم ليس معناه إرادة إسقاطه. كم رد العلماء بعضهم البعض مع حفظ المكانة والأدب الجم. وليكن العبد مع الدليل دائرا يسلم.
 
“Asy-Syaikh Muhammad bin Hady adalah seorang ulama terpandang dan mulia. Dan seseorang tidak akan bisa dijatuhkan oleh siapapun. Yang bisa menjatuhkan seseorang hanyalah amalnya. Dan bantahan terhadap seorang ulama bukan berarti ingin menjatuhkannya. Berapa banyak para ulama sebagian mereka membantah sebagian yang lain dengan tetap menjaga kedudukannya dan adab yang mulia. Dan seorang hamba hendaknya selalu berjalan bersama dalil, pasti dia akan selamat.”
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#ManhajSalaf #mengikutidalil #alHaq #mengingatkan #kesalahanulama #adabmengingatkanulama #tidaktercela #mengingatkankesalahanulama #adabmembantahulama #membantahulama #bukanuntukmenjatuhkan #mendebatulama #tatacara #etika #muliakanulama #jangandiamsaja #muliakanulama #kritik #mengkritik #tahdzir
,

MENGAPA KEDUDUKAN SHALAT ASHAR SANGAT PENTING?

MENGAPA KEDUDUKAN SHALAT ASHAR SANGAT PENTING?
 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
MENGAPA KEDUDUKAN SHALAT ASHAR SANGAT PENTING?
>> Jangan remehkan shalat Ashar
 
Entah karena menyibukkan diri dengan urusan dunia, seperti karena sekolah, kuliah, pekerjaan, atau hanya karena pergi main seperti nonton film atau sepak bola, sebagian kaum Muslimin seringkali menunda-nunda melaksanakan shalat Ashar hingga waktunya hampir habis, atau bahkan tidak mengerjakan shalat Ashar sama sekali. Tentu saja hal ini bertentangan dengan perintah syariat untuk menjaga pelaksanaan semua shalat wajib, termasuk shalat Ashar, sesuai dengan waktunya masing-masing. Bahkan terdapat ancaman khusus bagi mereka yang sengaja meninggalkan shalat Ashar. Tulisan ini disarikan dari kitab Shahih Fiqh Sunnah, jilid 1 hal. 241-242.
 
Perintah Allah Taala untuk Menjaga Shalat Ashar
 
Allah taala berfirman:
 
حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ
 
“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat Wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.” [QS. Al-Baqarah (2): 238]
 
Menurut pendapat yang paling tepat, yang dimaksud dengan “Shalat Wustha” dalam ayat di atas adalah shalat Ashar. Hal ini berdasarkan hadis Nabi ﷺ ketika terjadi perang Ahzab:
 
شَغَلُونَا عَنِ الصَّلَاةِ الْوُسْطَى، صَلَاةِ الْعَصْرِ
 
“Mereka (kaum kafir Quraisy, pent.) telah menyibukkan kita dari shalat Wustha, (yaitu) shalat Ashar.” [HR. Bukhari no. 2931 dan Muslim no. 627. Lafal hadis ini milik Muslim]
 
Dalam ayat di atas, setelah Allah taala memerintahkan untuk menjaga semua shalat wajib secara umum (termasuk di dalamnya yaitu shalat Ashar), maka Allah taala kemudian menyebutkan perintah untuk menjaga shalat Ashar secara khusus. Apabila seseorang dapat menjaga shalat wajibnya, maka dia akan mampu untuk menjaga seluruh bentuk ibadahnya kepada Allah taala. [Taisir Karimir Rahman, hal. 106; karya Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah]
 
Balasan bagi Orang yang Menjaga Shalat Ashar
 
Terdapat hadis khusus yang menyebutkan pahala bagi orang yang menjaga shalat Ashar, yaitu mendapatkan pahala dua kali lipat, dan tidak akan masuk ke Neraka. Abu Bashrah al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu menceritakan, “Rasulullah ﷺ shalat Ashar bersama kami di daerah Makhmash. Kemudian beliau ﷺ bersabda:
 
«إِنَّ هَذِهِ الصَّلَاةَ عُرِضَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَضَيَّعُوهَا، فَمَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا كَانَ لَهُ أَجْرُهُ مَرَّتَيْنِ، وَلَا صَلَاةَ بَعْدَهَا حَتَّى يَطْلُعَ الشَّاهِدُ» ، وَالشَّاهِدُ: النَّجْمُ.
 
‘Sesungguhnya shalat ini (shalat Ashar) pernah diwajibkan kepada umat sebelum kalian, namun mereka menyia-nyiakannya. Barang siapa yang menjaga shalat ini, maka baginya pahala dua kali lipat. Dan tidak ada shalat setelahnya sampai terbitnya Syahid (yaitu bintang).’” [HR. Muslim no. 830]
 
Rasulullah ﷺ bersabda:
 
«لَنْ يَلِجَ النَّارَ أَحَدٌ صَلَّى قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ، وَقَبْلَ غُرُوبِهَا»
 
“Tidak akan masuk Neraka seorang pun yang mengerjakan shalat sebelum matahari terbit (yakni shalat Subuh, pent.) dan sebelum matahari terbenam (yakni shalat Ashar, pent.).” [HR. Muslim no. 634]
 
Ancaman bagi Orang yang Meninggalkan Shalat Ashar
 
Di antara dalil yang menunjukkan pentingnya kedudukan shalat Ashar adalah ancaman, bahwa barang siapa yang meninggalkannya, maka terhapuslah pahala amal yang telah dikerjakannya di hari tersebut. Rasulullah ﷺ bersabda:
 
مَنْ تَرَكَ صَلاَةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ
 
“Barang siapa yang meninggalkan shalat Ashar, maka terhapuslah amalannya.” [HR. Bukhari no. 553, An-Nasa’i 1/83 dan Ahmad 5/349]
 
Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata:
“Yang tampak dari hadis ini – dan Allah lebih mengetahui tentang maksud Rasul-Nya- adalah bahwa, yang dimaksud ‘Meninggalkan’ ada dua kondisi:
 
Pertama: Meninggalkan shalat secara keseluruhan, tidak melaksanakan shalat sama sekali. Maka hal ini menyebabkan terhapusnya seluruh amal.
 
Kedua: Meninggalkan shalat tertentu di hari tertentu. Maka hal ini menyebabkan terhapusnya amal di hari tersebut. Terhapusnya amal secara keseluruhan adalah sebagai balasan karena meninggalkannya secara keseluruhan, dan terhapusnya amal tertentu adalah sebagai balasan karena meninggalkan perbuatan tertentu.” [Ash-Shalah wa Hukmu Taarikiha hal. 43-44]
 
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
 
«الَّذِي تَفُوتُهُ صَلَاةُ الْعَصْرِ، كَأَنَّمَا وُتِرَ أَهْلَهُ وَمَالَهُ»
 
“Orang yang terlewat (tidak mengerjakan) shalat Ashar, seolah-olah dia telah kehilangan keluarga dan hartanya.” [HR. Bukhari no. 552 dan Muslim no. 200, 626]
 
Ketika seseorang kehilangan keluarga dan hartanya, maka dia tidak lagi memiliki keluarga dan harta. Maka ini adalah perumpamaan tentang terhapusnya amal seseorang karena meninggalkan shalat Ashar.
 
Ancaman bagi Orang yang Menunda-nunda Pelaksanaan Shalat Ashar sampai Waktunya Hampir Habis
 
Apabila seseorang mengerjakan shalat Ashar di akhir waktu karena berada dalam kondisi darurat tertentu, maka shalatnya tetap sah, meskipun dia hanya mendapatkan satu rakaat shalat Ashar sebelum waktunya habis. Rasulullah ﷺ bersabda:
 
وَمَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الْعَصْرِ قَبْلَ أَنْ تَغْرُبَ الشَّمْسُ، فَقَدْ أَدْرَكَ الْعَصْرَ
 
“Barang siapa yang mendapati satu rakaat shalat Ashar sebelum matahari terbenam, maka dia telah mendapatkan shalat Ashar.” [HR. Bukhari no. 579 dan Muslim no. 163, 608]
 
Akan tetapi yang menjadi masalah adalah ketika seseorang sengaja menunda-nunda pelaksanaan shalat Ashar sampai waktunya hampis habis, tanpa ada ‘uzur tertentu yang dibenarkan oleh syariat. Atau bahkan hal ini telah menjadi kebiasaannya sehari-hari karena memang meremehkan shalat Ashar. Maka hal ini mirip dengan ciri-ciri orang munafik yang disebutkan oleh Nabi ﷺ dalam sabdanya:
 
«تِلْكَ صَلَاةُ الْمُنَافِقِ، يَجْلِسُ يَرْقُبُ الشَّمْسَ حَتَّى إِذَا كَانَتْ بَيْنَ قَرْنَيِ الشَّيْطَانِ، قَامَ فَنَقَرَهَا أَرْبَعًا، لَا يَذْكُرُ اللهَ فِيهَا إِلَّا قَلِيلًا»
 
“Itulah shalatnya orang munafik, (yaitu) duduk mengamati matahari hingga ketika matahari berada di antara dua tanduk setan (yaitu ketika hampir tenggelam, pent.), dia pun berdiri (untuk mengerjakan shalat Ashar) empat rakaat (secara cepat) seperti patukan ayam. Dia tidak berzikir untuk mengingat Allah, kecuali hanya sedikit saja.” [HR. Muslim no. 622]
 
Dari penjelasan di atas jelaslah bagi kita betapa berbahayanya meninggalkan shalat Ashar atau sengaja menunda-nunda pelaksanaannya hingga hampir di akhir waktunya. Oleh karena itu hendaklah seorang Muslim memerhatikan sungguh-sungguh masalah ini. Misalnya seorang pegawai yang akan pulang ke rumah di sore hari, hendaklah dia memerhatikan, apakah mungkin akan terjebak macet di perjalanan sehingga tiba di rumah ketika sudah Maghrib. Dalam kondisi seperti ini, sebaiknya dia menunaikan shalat Ashar terlebih dahulu sebelum pulang dari kantor. Atau ketika ada suatu acara atau pertemuan di sore hari, hendaknya dipastikan bahwa dia sudah menunaikan shalat Ashar.
 
Semoga tulisan ini menjadi pengingat (terutama) bagi penulis sendiri, dan kaum Muslimin secara umum.
 
 
Penulis: dr. M. Saifudin Hakim, MSc.
[Artikel Muslim.Or.Id]
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

#sifatsholatnabi, #sholat, #shalat, #solat, #salat, #tatacara, #cara, #alasan, #Wustha, #Wustho, #keutamaan, #fadhilah, #fadilah, #pentingnyashalatAshar, #tanduksetan, #shalatorangmunafik

, ,

TIPS BERDOA AGAR DOANYA DIKABULKAN DAN DITERIMA DI SISI ALLAH

TIPS BERDOA AGAR DOANYA DIKABULKAN DAN DITERIMA DI SISI ALLAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
TIPS BERDOA AGAR DOANYA DIKABULKAN DAN DITERIMA DI SISI ALLAH
 
Alhamdulillah
 
Syarat berdoa banyak, di antaranya:
 
1. Tidak berdoa kecuali kepada Allah ﷻ. Nabi ﷺ mengatakan kepada Ibnu Abbas: “Jika engkau meminta, maka memintalah kepada Allah. Kalau engkau meminta bantuan, mintalah bantuan kepada Allah.” [Dinyatakan Shahih oleh Albani dalam Shahih Al-Jami’, no. 2516. HR. Tirmizi]
 
Dan ini makna dari firman Allah taala:
 
وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلا تَدْعُو مَعَ اللَّهِ أَحَداً (سورة الجـن: 18(
 
“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” [QS. Jin: 18]
 
Syarat ini termasuk syarat doa yang paling agung. Tanpanya tidak akan diterima doa, dan tidak akan diangkat amalannya. Di antara manusia ada yang berdoa kepada mayit, dan menjadikannya sebagai perantara antara mereka dengan Allah. Mereka menyangka, bahwa orang-orang saleh dapat mendekatkan mereka kepada Allah dan sebagai wasilah (perantara) mereka di sisi Allah ﷻ. Mereka merasa berdosa dan tidak ada kedudukan di sisi Allah. Oleh karena itu mereka menjadikan perantara dengan berdoa kepada mereka selain Allah. Sementara Allah subhana wataala berfirman:
 
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ (سورة البقرة: 186(
 
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa, apabila ia memohon kepada-Ku.” [QS. Al-Baqarah: 186]
 
2. Bertawasul kepada Allah dengan salah satu macam tawasaul yang diperbolehkan.
 
3. Tidak tergesa-gesa. Karena ia termasuk kekeliruan dalam berdoa yang menghalangi terkabulnya doa. Disebutkan dalam hadis:
 
يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ يَقُولُ: قَدْ دَعَوْتُ اللَّهَ، فَلَمْ يَسْتَجِبْ لِي (رواه البخاري، رقم 6340 ومسلم، رقم 2735(
 
“Dikabulkan salah seorang di antara kalian (doanya) selagi tidak tergesa-gesa. Seraya dia mengatakan, “Saya telah berdoa dan belum dikabulkan untukku.” [HR. Bukhori, no. 6340 dan Muslim, no. 2735]
 
Dalam Shahih Muslim, no. 2736:
 
لَا يَزَالُ يُسْتَجَابُ لِلْعَبْدِ مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ , مَا لَمْ يَسْتَعْجِلْ “، قِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ مَا الِاسْتِعْجَالُ؟، قَالَ: ” يَقُولُ: قَدْ دَعَوْتُ وَقَدْ دَعَوْتُ , فَلَمْ أَرَ يَسْتَجِيبُ لِي , فَيَسْتَحْسِرُ عِنْدَ ذَلِكَ وَيَدَعُ الدُّعَاءَ “
 
“Doa seorang hamba senantiasa terkabulkan selagi tidak berdoa untuk dosa, memutus kekerabatan dan selagi tidak tergesa-gesa.” Ada yang bertanya: “Wahai Rasulullah, apa tergesa-gesa itu?” Beliau menjawab, “Dia berkata: “Aku sudah berdoa, aku sudah berdoa tapi aku tidak melihat dikabulkan, sehingga dia merasa kecewa akan hal itu, lalu dia meninggalkan doa.”
 
4. Berdoa bukan untuk dosa dan memutus (kekerabatan) sebagaimana hadis tadi. “Doa seorang hamba akan dikabulkan selagi tidak berdoa untuk dosa dan memutus silaturrahim.
 
5. Berbaik sangka kepada Allah. Rasulullah ﷺ bersabda: “Allah taala berfirman:
 
“Aku tergantung persangkaan hamba-Ku kepada-Ku.” [HR. Bukhari, no. 7405, Muslim, no. 4675]
 
Juga disebutkan dalam hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:
 
ادْعُوا اللهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالْإِجَابَةِ (رواه الترمذي , وحسنه الألباني في صحيح الجامع، رقم 245)
 
“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan kalian yakin, bahwa doa kalian akan dikabulkan.” [HR. Tirmizi, dinyatakan hasan oleh Al-Albany dalam Shahih Al-Jami, no. 245]
 
Siapa yang bersangka baik kepada Allah, maka Allah akan balas dengan kebaikan yang banyak, akan ditebar kepadanya berbagai karunia-Nya.
 
6. Hadirnya hati. Hendaknya orang yang berdoa menghadirkan hati dan merasakan keagungan siapa yang dia berdoa kepadanya. Rasulullah ﷺ bersabda:
 
وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ لَاهٍ (رواه الترمذي، رقم 3479 وحسنه الألباني في صحيح الجامع، رقم 245)
 
“Ketahuilah, sesungguhnya Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” [HR. Tirmizi, no. 3479, dinyatakan hasan oleh Al-Albany dalam Shahih Al-Jami, no. 245]
 
7. Mengonsumsi yang halal. Allah taala berfirman:
 
إنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ (سورة المائدة: 27)
 
“Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa.” [QS. Al-Maidah: 27]
 
Nabi ﷺ menyatakan, bahwa doa tertolak bagi orang yang makan dan minum serta memakai barang yang haram. Disebutkan dalam hadis, bahwa beliau ﷺ menyebutkan seseorang yang sehabis menempuh safar, kusut dan dekil, lalu dia mengangkat kedua tangannya ke langit dan mengucapkan, Ya Rabbi Ya Rabbi, sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan tumbuh dari barang haram, bagaimana doanya diterima?! [HR. Muslim, no. 1015]
 
Ibnu Qayim berkata: “Demikian pula memakan makanan haram, menghilangkan kekuatannya (kekuatan doa) dan melemahkannya.”
 
8. Hindari doa yang melampaui batas. Allah taala tidak menyukai sikap melampuai batas dalam berdoa. Allah taala berfirman:
 
ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعاً وَخُفْيَةً إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ (سورة الأعراف: 55)
 
“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” [QS. Al-A’raf: 55]
 
9. Jangan sibuk berdoa sehingga meninggalkan kewajiban, seperti meninggalkan kewajiban yang saat itu harus dilakukan, atau meninggalkan hak-hak yang saat itu harus ditunaikan, seperti meninggalkan hak orang tua dengan alasan berdoa. Kisah Juraij orang yang ahli ibadah memberikan isyarat akan hal itu, karena dia mengabaikan panggilan ibunya dan melanjutkan shalatnya, sehingga dia meninggalkannya, akhirnya Allah mengujinya.
 
An-Nawawi rahimahullah berkata, “Para ulama berkata: ‘Ini merupakan dalil, bahwa yang benar baginya ketika itu adalah memenuhi panggilan ibunya, karena saat itu dia sedang shalat sunah. Melanjutknnya adalah sunah, tidak wajib, sementara memenuhi panggilan ibunya dan berbakti kepadanya merupakan kewajiban, dan durhaka kepadanya adalah haram.” [Shahih Muslim, Syarah An-Nawawi, 16/82]
 
Sebagai tambahan, hendaknya dilihat kitab ‘Ad-Du’a’ Muhamad bin Ibrahim Al-Hamad.
 
Wallahua’lam.
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#tipstips, #cara, #tatacara, #doa, #berdoa, #agardoanyadikabulkan, #diterimadisisiAllah, #Allahmengabulkandanmenerimadoa #adabberdoa