Posts

,

BAGAIMANA POSISI TANGAN DAN JARIMU TATKALA TASYAHUD?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
 
BAGAIMANA POSISI TANGAN DAN JARIMU TATKALA TASYAHUD?
 
Hadis Wail bin Hujr radhiyallahu ‘anhu yang menyebutkan sifat duduk Tasyahud ini, di antaranya:
 
وَحَدَّ مِرْفَقَهُ الْأَيْمَنَ عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى، وَقَبَضَ ثِنْتَيْنِ وَحَلَقَ، وَرَأَيْتُهُ يَقُوْلُ هَكَذَا
 
“Beliau meletakkan ujung siku beliau yang kanan di atas paha kanan. Dua jari beliau lipat/genggam (kelingking dan jari manis) dan beliau membentuk lingkaran (dengan dua jari beliau – yaitu jari tengah dan ibu jari – pen). Aku melihat beliau melakukan seperti ini.” Bisyr ibnul Mufadhdhal (seorang rawi yang meriwayatkan hadis ini mencontohkan) mengisyaratkan jari telunjuk (meluruskannya seperti menunjuk), sedangkan jari tengah dan ibu jari membentuk lingkaran. [HR . Abu Daud no. 726, 957, dinyatakan sahih dalam Shahih Abi Dawud]
 
 
 
Sumber: [Dakwahsunnah.com]

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

 

#sifatsholatNabi #sifatshalatNabi #tatacara #carasalatNabi #posisitangandanjariketikatasyahud #bagaimanatangandanjariwaktuTasyahud #dudukTasyahud #shalat #sholat #salat #solat #salat #tasyahud #tasyahhud

, ,

ADAKAH ANJURAN MEMERLAMA SUJUD TERAKHIR UNTUK BERDOA?

ADAKAH ANJURAN MEMERLAMA SUJUD TERAKHIR UNTUK BERDOA?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#SifatSholatNabi
 
ADAKAH ANJURAN MEMERLAMA SUJUD TERAKHIR UNTUK BERDOA?
 
Segala puji bagi Allah, pemberi segala nikmat. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
Kita ketahui bersama, bahwa ketika sujud adalah waktu terbaik untuk berdoa. Seperti disebutkan dalam hadis:
 
أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ
 
“Yang paling dekat antara seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika ia sujud. Maka perbanyaklah doa ketika itu.” [HR. Muslim no. 482, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu]
 
Namun seringkali kita lihat di lapangan, sebagian orang malah seringnya memperlama sujud terakhir ketika shalat. Tujuannya adalah agar memerbanyak doa ketika itu. Apakah benar bahwa saat sujud terakhir mesti demikian? Semoga sajian singkat ini bermanfaat.
 
Al Baro’ bin ‘Azib mengatakan:
 
كَانَ رُكُوعُ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – وَسُجُودُهُ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ وَبَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ قَرِيبًا مِنَ السَّوَاءِ
 
“Ruku’, sujud, bangkit dari ruku’ (i’tidal), dan duduk antara dua sujud yang dilakukan oleh Nabi ﷺ, semuanya hampir sama (lama dan thuma’ninahnya).” [HR. Bukhari no. 801 dan Muslim no. 471]
 
Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin pernah ditanya:
“Apakah diperkenankan memperpanjang sujud terakhir dari rukun shalat lainnya, di dalamnya seseorang memperbanyak doa dan istighfar? Apakah shalat menjadi cacat jika seseorang memperlama sujud terakhir?”
 
Beliau rahimahullah menjawab:
“Memerpanjang sujud terakhir ketika shalat bukanlah termasuk sunnah Nabi ﷺ. Karena yang disunnahkan adalah seseorang melakukan shalat antara ruku’, bangkit dari ruku’ (i’tidal), sujud dan duduk antara dua sujud itu HAMPIR SAMA LAMANYA. Sebagaimana hal ini dijelaskan dalam hadis Baro’ bin ‘Azib, ia berkata: “Aku pernah shalat bersama Nabi ﷺ. Aku mendapati bahwa berdiri, ruku’, sujud, duduk beliau sebelum salam dan berpaling, semuanya hampir sama (lamanya).” Inilah yang afdhal.
 
Akan tetapi ada TEMPAT DOA SELAIN SUJud yaitu SETELAH TASYAHUD (SEBELUM SALAM). Nabi ﷺ ketika mengajarkan ‘Abdullah bin Mas’ud tasyahud, beliau bersabda: “Kemudian setelah tasyahud, terserah padamu berdoa dengan doa apa saja”.
 
Maka berdoalah ketika itu, sedikit atau pun lama, setelah tasyahud akhir sebelum salam. [Fatawa Nur ‘ala Ad Darb, kaset no. 376, side B]
 
Dalam Fatawa Al Islamiyah (1/258), Syaikh ‘Abdullah Al Jibrin rahimahullah berkata:
“Aku tidak mengetahui adanya dalil yang menyebutkan untuk memperlama sujud terakhir dalam shalat. Yang disebutkan dalam berbagai hadis, rukun shalat atau keadaan lainnya itu hampir sama lamanya.”
 
Syaikh ‘Abdullah Al Jibrin rahimahullah juga menjelaskan:
“Aku tidak mengetahui adanya dalil yang menganjurkan untuk memperlama sujud terakhir dalam shalat. Akan tetapi, memang sebagian imam melakukan seperti ini sebagai isyarat pada makmum, bahwa ketika itu adalah rakaat terakhir, atau ketika itu adalah amalan terakhir dalam shalat.
 
Karenanya, mereka pun memperpanjang sujud ketika itu. Dari sinilah, mereka maksudkan agar para jamaah tahu, bahwa setelah itu adalah duduk terakhir, yaitu duduk tasyahud akhir. Namun alasan semacam ini tidaklah menjadi sebab dianjurkan memperpanjang sujud terakhir ketika itu.”
[Fatawa Syaikh Ibnu Jibrin, Ahkam Qoth’ush Sholah, Fatawan no. 2046 dari website beliau]
 
Dari penjelasan singkat ini, nampaklah bahwa TIDAK ADA ANJURAN untuk memerlama sujud terakhir ketika shalat, agar bisa memerbanyak doa ketika itu.
 
Yang tepat, hendaklah gerakan rukun yang ada sama atau hampir sama lamanya dan thuma’ninahnya.”
 
Silakan membaca doa ketika sujud terakhir, namun hendaknya LAMANYA HAMPIR SAMA dengan sujud sebelumnya, atau sama dengan rukun lainnya. Apalagi jika imam sudah selesai dari sujud terkahir dan sedang tasyahud, maka selaku makmum hendaklah mengikuti imam ketika itu. Karena imam tentu saja diangkat untuk diikuti.
 
Nabi ﷺ bersabda:
 
إِنَّمَا جُعِلَ الإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَلاَ تَخْتَلِفُوا عَلَيْهِ
 
“Imam itu diangkat untuk diikuti, maka janganlah diselisihi.” [HR. Bukhari no. 722, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu]
 
Hanya Allah yang memberi taufik.
 
Referensi: Website Syaikh Sholih Al Munajid – Al Islam Sual wa Jawab (http://islamqa.com/ar/ref/111889/ )
 
~ Penulis: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal
(Artikel www.rumaysho.com)

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

, ,

BACALAH DOA INI KETIKA TASYAHUD SEBELUM SALAM

BACALAH DOA INI KETIKA TASYAHUD SEBELUM SALAM
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
 
#DoaZikir
 
BACALAH DOA INI KETIKA TASYAHUD SEBELUM SALAM
 
Di antara doa yang hendaknya kita baca setelah membaca Tasyahud adalah doa yang di jelaskan dalam riwayat berikut:
 
أنَّ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ دخلَ المسجدَ، إذا رجلٌ قد قَضى صلاتَهُ وَهوَ يتشَهَّدُ، فقالَ: اللَّهمَّ إنِّي أسألُكَ يا اللَّهُ بأنَّكَ الواحدُ الأحدُ الصَّمدُ، الَّذي لم يَلِدْ ولم يولَدْ ولم يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ، أن تغفِرَ لي ذُنوبي، إنَّكَ أنتَ الغَفورُ الرَّحيمُ، فقالَ رسولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ: قَد غَفرَ اللَّهُ لَهُ، ثلاثًا
“Bahwasanya Rasulullaah ﷺ masuk masjid, dan ada seorang lak-laki yang sedang shalat. Dalam keadaan bertasyahud, ia berdoa (dalam Tasyahudnya):
 
اللَّهمَّ إنِّي أسألُكَ يا اللَّهُ بأنَّكَ الواحدُ الأحدُ الصَّمدُ، الَّذي لم يَلِدْ ولم يولَدْ ولم يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ، أن تغفِرَ لي ذُنوبي، إنَّكَ أنتَ الغَفورُ الرَّحيمُ
 
Allaahumma inni as-aluka yaa Allaah, bi annakal waahidul ahadush shamad, alladziy lam yalid wa lam yuulad wa lam yakul-lahu kufuwan ahad, an taghfiraliy dzunuubiy innaka antal ghofuuur rohiim.
 
Artinya:
‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ya Allah, Yang Maha Esa, lagi tempat bergantungnya seluruh makhluk, Yang tidak beranak, tidak pula diperanakkan, dan tidak ada yang setara dengan-Nya, agar engkau mengampuni dosa-dosaku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’
 
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
Sungguh Allah telah mengampuninya, sungguh Allah telah mengampuninya, sungguh Allah telah mengampuninya“. [HR. Ahmad, Abu Daud, an-Nasai, dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani].
 
, , ,

WAKTU MUSTAJAB UNTUK BERDOA DI DALAM SHALAT (DUBUR SHALAT)

WAKTU MUSTAJAB UNTUK BERDOA DI DALAM SHALAT (DUBUR SHALAT)
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
 
#SifatSholatNabi
 
WAKTU MUSTAJAB UNTUK BERDOA DI DALAM SHALAT (DUBUR SHALAT)
 
Bukanlah termasuk petunjuk Rasulullah ﷺ, seseorang berdoa setelah salam dari shalat, kecuali jika itu adalah untuk menambal (menutup) kekurangan yang ada dalam shalat. Di antara yang dicontohkan oleh Nabi ﷺ adalah SETELAH salam, dengan mengucapkan istighfar sebanyak tiga kali yaitu: Astagfirullah, astagfirullah, astagfirullah (maknanya adalah ‘Aku memohon ampun pada Allah’). Dari Tsauban, Rasulullah ﷺ jika berpaling (selesai) menunaikan shalatnya, beliau ﷺ mengucapkan ‘Astagfirullah’ sebanyak tiga kali, kemudian beliau mengucapkan ‘Allahumma antas salam wa minkas salam tabarokta yaa dzal jalali wal ikrom’. [HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadis ini Shahih, termasuk periwayat kitab Shahih. Syaikh Al Albani dalam Al Kalamu Ath Thoyib mengatakan bahwa hadis ini Shahih].
 
Adapun jika tujuan doa tersebut selain daripada menambal (menutup) kekurangan yang ada dalam shalat, maka lebih utama doa tersebut dilakukan SEBELUM SALAM. Sebagaimana dapat dilihat dalam hadis Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhuma berikut ini, Rasulullah ﷺ pernah mengajarkannya Tasyahud padanya, lalu beliau ﷺ bersabda:
 
ثُمَّ لِيَتَخَيَّرْ مِنْ الدُّعَاءِ بَعْدُ أَعْجَبَهُ إِلَيْهِ يَدْعُو بِهِ
 
“Kemudian terserah dia memilih doa yang dia sukai untuk berdoa dengannya.” [HR. Abu Daud no. 825]
 
Dalam lafal lain:
ثُمَّ لْيَتَخَيَّرْ بَعْدُ مِنَ الْمَسْأَلَةِ مَا شَاءَ
 
“Kemudian terserah dia memilih setelah itu (setelah Tasyahud), doa yang dia kehendaki (dia sukai).” [HR. Muslim no. 402, An Nasa’i no. 1298, Abu Daud no. 968, Ad Darimi no. 1340]
 
Jadi apabila kita ingin berdoa kepada Allah, maka berdoalah kepada-Nya SEBELUM salam. Hal ini karena dua alasan:
 
Alasan pertama: Inilah yang diperintahkan oleh Rasul ﷺ. Beliau ﷺ membicarakan tentang Tasyahud, “Jika kalian selesai (dari Tasyahud), maka pilihlah doa yang kalian suka berdoa dengannya.”
 
Alasan kedua: Jika engkau berada dalam shalat, maka berarti engkau sedang bermunajat kepada Rabbmu. Jika engkau telah selesai mengucapkan salam, berakhir pula munajatmu tersebut. Lalu manakah yang lebih afdhal (lebih utama), apakah meminta pada Allah ketika bermunajat kepada-Nya, ataukah setelah engkau berpaling (selesai) dari shalat? Jawabannya, tentu yang pertama, yaitu ketika engkau sedang bermunajat kepada Rabbmu.
 
Adapun ucapan zikir setelah menunaikan shalat (setelah salam), yaitu ucapan Astagfirullah sebanyak tiga kali, ini memang doa, namun ini adalah DOA YANG BERKAITAN DENGAN SHALAT. Ucapan istighfar seseorang sebanyak tiga kali setelah shalat bertujuan untuk menambal kekurangan yang ada dalam shalat. Maka pada hakikatnya, ucapan zikir ini adalah pengulangan dari shalat.
 
Adakah dalil yang mengatakan, bahwa Rasulullah ﷺ ketika selesai shalat Subuh berpaling ke makmum, lalu mengangkat kedua tangannya (untuk berdoa). Apakah hadis tersebut Shahih?
Syaikh Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjawab: Hadis ini tidak diketahui periwayatannya. Jika pun ada, maka hadis ini adalah hadis yang lemah. [Liqo’at Al Bab Al Maftuh, kaset no. 82]
 
Sumber:
, ,

APAKAH SESEORANG BOLEH BERDOA KETIKA SHALAT FARDHU?

APAKAH SESEORANG BOLEH BERDOA KETIKA SHALAT FARDHU?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
 
#SifatShalatNabi, #FatwaUlama
 
APAKAH SESEORANG BOLEH BERDOA KETIKA SHALAT FARDHU?
Oleh: Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
 
Pertanyaan:
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya, bolehkah seseorang berdoa di tengah shalat wajib, misalnya setelah melakukan beberapa rukun, seperti ketika sujud seusai membaca Subhanallah, lalu berdoa, Allahummaghfirli warhamni (Ya Allah ampunilah aku dan rahmatillah aku) atau doa yang lain?
 
Jawaban:
Disyariatkan bagi seorang Mukmin untuk berdoa ketika shalatnya, di saat yang disunnahkan untuk berdoa, baik ketika shalat fardhu maupun shalat sunnah. Adapun saat berdoa katika shalat adalah tatkala:
• Sujud,
• Duduk di antara dua sujud dan
• Akhir salat setelah Tasyahud dan shalawat atas Nabi ﷺ sebelum salam.
 
Sebagaimana telah disebutkan dari Nabi ﷺ, bahwa beliau ﷺ berdoa ketika duduk di antara dua sujud untuk memohon ampunan. Telah diriwayatkan pula bahwa beliau ﷺ berdoa ketika duduk di antara dua sujud:
 
اللَّهُمَّ اغْفِرْلِي وَارْحَمْنِي وَاهْدِنِي وَاجْبُرنِي وَارْزُقْنِي وَعَافِنِي
“Allahummagfirlii, warhamnii, wahdinii, wajburnii, warjuqnii, wa’aafinii.”
 
Artinya:
Ya Allah ampunilah aku, rahmatillah aku, berilah hidayah kepadaku, cukupilah aku, berilah rezeki kepadaku, dan maafkanlah aku.”
 
Nabi ﷺ juga bersabda:
 
أَمَّا الرُّكُوْعُ فَعَظَّمُوا فِيْهِ الرَّبَّ وَأَمَّا السُّجُوْدُ فَاجْتَهِدُوا فِى الدُّعَاءِفَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَلَكُمْ
 
“Artinya: Adapun Ruku, maka agungkanlah Rabb-mu. Sedangkan ketika sujud. bersungguh-sungguhlah dalam berdoa, niscaya segera dikabulkan untuk kalian.” [Diriwayatkan oleh Muslim di dalam Shahihnya]
 
Diriwayatkan pula oleh Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:
 
أَقْرَبُ مَا يَكُوْنُ الْعَبْدُمِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوْا الدُّعَاءَ
 
“Artinya: Jarak paling dekat antara seorang hamba dengan Rabb-nya adalah ketika sujud. Maka perbanyaklah doa (ketika itu).”
 
Di dalam Ash-Shahihian, dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu, bahwa Nabi ﷺ ketika mengajarkan Tasyahud kepadanya berkata:
“Kemudian hendaknya seseorang memilih permintaan yang dia kehendaki”
 
Dalam lafal yang lain:
“Kemudian pilihlah doa yang paling disukai, lalu berdoa.”
 
Hadis-hadis yang semakna dengan ini banyak. Hal ini menunjukkan disyariatkannya berdoa dalam kondisi-kondisi tersebut dengan doa yang disukai oleh seorang Muslim, baik yang berhubungan dengan Akhirat maupun yang berkaitan dengan kemaslahatan duniawi. Dengan syarat, dalam doanya tidak ada unsur dosa dan memutuskan silaturahim. Namun yang paling utama adalah memerbanyak doa dengan doa yang diriwayatkan dari Nabi ﷺ
 
[Disalin dari kitab Al-Fatawa Juz Awwal, edisi Indonesia Fatawa bin Baaz, Penulis Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz, Penerjemah Abu Abdillah Abdul Aziz, Penerbit At-Tibyan Solo]
 
,

MAKMUM MASBUK, TAHIYATNYA BAGAIMANA?

MAKMUM MASBUK, TAHIYATNYA BAGAIMANA?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
#SifatSholatNabi
 
MAKMUM MASBUK, TAHIYATNYA BAGAIMANA?
 
Pertanyaan:
Jika masbuk dapat Tasyahud tiga kali, apakah kita baca dua Tasyahud Awal satu Tasyahud Akhir, atau dua kali baca seperti biasa, dan yang satu Tasyahud hanya ikuti gerakan imam tanpa baca?
 
Jawaban:
Setiap makmum masbuk, diperintahkan untuk menyusul jamaah shalat di mesjid dan mengikuti imamnya, dalam keadaan apa pun sang imam berada: berdiri kah, rukuk kah, sujud kah atau duduk kah. Kemudian ia harus meng qadha’ rakaat yang tertinggal setelah imamnya salam. Tidak ada pilihan lain baginya selain itu.
 
Berangkat dari sini, si masbuk tetap harus mengikuti imamnya membaca Tasyahud. Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin pernah ditanya sebagai berikut:
 
Ada seseorang yang menyusul imamnya ketika Tasyahud Akhir, apakah dia cukup membaca Tasyahud saja, ataukah juga membaca shalawat dan doa? Tolong sebutkan dalilnya!
 
Jawab beliau:
Jika ia mendapati imamnya pada saat Tasyahud, maka ia mengikutinya dan membaca Tasyahud dan melanjutkannya hingga selesai, sebab ia duduk dalam kondisi itu tidak lain ialah demi mengikuti imamnya, sehingga hendaknya ia mengikuti sang imam dalam duduk, sekaligus dalam membaca bacaan yang disyariatkan ketika duduk tersebut. Inilah yang masyru’ baginya.
 
Namun andai ia mencukupkan dengan bacaan Tasyahud Awal saja, maka kuharap tidak mengapa. Namun afdhalnya ialah ia mengikuti bacaan imamnya secara lengkap, dan ini berangkat dari keumuman sabda Nabi ﷺ:
 
(فما أدركتم فصلّوا)
 
Yang artinya: “Apa saja yang kalian dapati, maka shalatlah” Demikian pula dalam hadis lain, beliau ﷺ bersabda:
 
(إذا أتى أحدكم الصلاة والإمام على حال فليصنع كما يصنع الإمام)
 
Yang artinya, “Bila seseorang mendatangi shalat jamaah, sedangkan imamnya berada dalam kondisi tertentu, maka perbuatlah sebagaimana yang diperbuat Imam tersebut.” [Fatawa Islamiyah 1/300].
 
Kesimpulannya:
Antum membaca Tasyahud sesuai dengan imamnya. Kalau misalnya masbuk shalat Maghrib 1 rakaat, berarti Tasyahud yang pertama membaca Tasyahud saja, lalu yang kedua membaca Tasyahud di tambah shalawat dan doa, demikian pula bacaannya pada saat Tasyahud ketiga.
 
Namun jika mendapati imam Tasyahud Akhir, maka dia ikut membaca Tasyahud tambah shalawat dan doa, lalu pada Tasyahud kedua cukup membaca Tasyahud saja, sedangkan Tasyahud ketiga membaca Tasyahud tambah shalawat dan doa.
 
Wallahu a’lam
 
Referensi:
 
Konsultasi Bimbingan Islam
Dijawab oleh Ustadz Dr. Sufyan Baswedan Lc MA
 
, ,

BAGAIMANA DUDUKNYA MAKMUM MASBUK KETIKA IMAM TASYAHUD AKHIR? (FATWA ULAMA)

BAGAIMANA DUDUKNYA MAKMUM MASBUK KETIKA IMAM TASYAHUD AKHIR? (FATWA ULAMA)
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
 
#SifatSholatNabi
 
BAGAIMANA DUDUKNYA MAKMUM MASBUK KETIKA IMAM TASYAHUD AKHIR? (FATWA ULAMA)
>> Fatwa Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz Al ‘Aqil
 
Pertanyaan:
Bagaimana pendapat kalian, semoga Allah memberikan ganjaran kepada kalian, tentang seorang makmum yang hendak shalat Maghrib bersama imam, ia telah tertinggal satu rakaat. Apakah jika imam duduk Tawaruk pada Tasyahud akhir, makmum mengikuti duduk sang imam dalam keadaan Tawaruk, ataukah Iftirasy? Karena duduk Tasyahud akhirnya imam adalah Tasyahud awal bagi si makmum.
 
Jawaban:
Yang ditegaskan oleh para ulama fikih kita, jika seorang makmum shalat bersama imam yang jumlah rakaatnya empat atau tiga, imam telah mendahuluinya dalam sebagian rakaat, maka makmum duduk Tasyahud akhir bersama imam dalam keadaan Tawaruk, bukan Iftirasy. Alasan mengikuti imam dalam rangka menjaga agar tidak terjadi perselisihan, berdasarkan hadis:
 
إنما جعل الإمام ليؤتم به، فلا تختلفوا عليه
 
“Imam itu diangkat untuk ditaati. Maka janganlah kalian menyelisihinya.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (722), dengan lafazh hadits Abu Hurairah (414) tanpa kata “diangkat”]
 
Dikatakan dalam Al-Iqna’ dan syarahnya Kasyful Qina’ [(1/248)]:
“Makmum masbuk duduk Tawaruk bersama imam ketika imam Tawaruk. Karena bagi imam, itu merupakan akhir dari shalat, walaupun bagi si makmum, itu bukan akhir shalat. Dalam kondisi ini, si masbuk duduk Tawaruknya sebagaimana ketika ia sedang Tasyahud kedua. Maka, seandainya makmum mendapatkan dua rakaat dari Ruba’iyyah (shalat yang jumlahnya 4 rakaat), duduklah bersama imam dalam keadaan Tawaruk, dalam rangka mengikuti imam, ketika ia (makmum) Tasyahud awal. Kemudian duduk Tawaruk lagi setelah menyelesaikan sisa dua rakaat lainnya, karena itu duduk Tasyahud yang diakhiri salam”.
 
Disebutkan dalam Al-Muntaha dan Syarahnya: “Makmum masbuk duduk Tawaruk bersama imam pada saat Tasyahud akhir dalam shalat yang jumlah rakaatnya empat dan shalat Maghrib”.
 
Disebutkan dalam Mathalib Ulin Nuhaa fi Syarhi Ghayatil Muntaha: “Makmum masbuk duduk Tawaruk bersama imam dalam duduk Tasyahud yang ia dapatkan bersama imam, disebabkan karena itu akhir shalat bagi si imam, walaupun bukan bagi si makum. Sebagaimana ia juga duduk Tawaruk pada Tasyahud kedua, yang setelah ia menyelesaikan rakaat sisanya. Maka, seandainya makmum mendapatkan dua rakaat dari Ruba’iyyah (shalat yang jumlahnya empat rakaat), duduklah bersama imam dalam keadaan Tawaruk, dalam rangka mengikuti imam, ketika ia (makmum) Tasyahud awal. Kemudian duduk Tawaruk lagi, setelah menyelesaikan sisa dua rakaat lainnya, karena itu duduk Tasyahud yang diakhiri salam”.
 
Wallahu A’lam.
 
 
 
Penerjemah: Wiwit Hardi Priyanto
[Artikel Muslim.Or.Id]

 

,

BAGAIMANA CARA DUDUK KETIKA TASYAHHUD?

BAGAIMANA CARA DUDUK KETIKA TASYAHHUD?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

BAGAIMANA CARA DUDUK KETIKA TASYAHHUD?

Ulama berbeda pendapat mengenai hal ini. Namun demikian, yang berikut ini adalah yang lebih rojih, insyaAllah:

Pendapat Madzhab Hanbali
Untuk sholat yang hanya ada satu Tasyahhud (seperti sholat Subuh dan sholat Jumat), maka duduknya adalah duduk iftirasy.
Ibnu Qudaamah berkata: “Dan tidaklah dilakukan duduk Tawarruk, kecuali pada sholat yang memiliki dua Tasyahhud, yaitu pada Tasyahhud yang kedua” [Al-Mughni 2/227]
Dalil Madzhab Hanbali adalah:
Hadis Aisyah radhiyallahu ‘anhaa, beliau berkata:

وَكَانَ يَقُولُ فِي كُلِّ رَكْعَتَيْنِ التَّحِيَّةَ وَكَانَ يَفْرِشُ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَيَنْصِبُ رِجْلَهُ الْيُمْنَى

“Adalah beliau (Rasulullah ﷺ ) mengucapkan Tahiyyat pada setiap dua rakaat, dan beliau menghamparkan kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya (duduk iftirasy, pent).” [HR. Muslim no 498]
Hadis Abdullah bin Az-Zubair:

كاَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا جَلَسَ فِيْ الرَّكْعَتَيْنِ افْتَرَشَ اْليُسْرَى، وَنَصَبَ اْليُمْنَى

“Adalah Rasulullah ﷺ jika duduk pada dua rakaat, beliau menghamparkan yang kiri, dan menegakkan yang kanan (duduk iftirasy, pent).” [HR. Ibnu Hibban no 1943]

Hadis Wail bin Hujr radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau berkata:

رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِيْنَ جَلَسَ فِيْ الصَّلاَةِ افْتَرَشَ رِجْلَهُ اْليُسْرَى وَنَصَبَ رِجْلَهُ اْليُمْنَى

“Aku melihat Rasulullah ﷺ ketika duduk dalam shalat, beliau menghamparkan kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya (duduk iftirasy, pent).” [HR. Ibnu Khuzaimah no 691]

Dalam lafal yang lain:

فَلَمَّا جَلَسَ يَعْنِي لِلتَّشَهُّدِ افْتَرَشَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُسْرَى يَعْنِي عَلَى فَخِذِهِ الْيُسْرَى وَنَصَبَ رِجْلَهُ الْيُمْنَى

“Maka tatkala beliau duduk untuk Tasyahhud, beliau menghamparkan kaki kirinya dan meletakkan tangan kirinya di atas pahanya, dan menegakkan kaki kanannya (duduk iftirasy, pent).” [HR. Tirmidzi no 292]

Dalam lafal yang lain:

وإذا جَلَسَ افْتَرَشَ

“Dan jika Nabi duduk (dalam sholat-pent) beliau beriftirasy.” [HR At-Thobrooni dalam Al-Mu’jam Al-Kabiir 22/33 no 78]

Sisi Pendalilan Madzhab Hanbali

Sisi pendalilan mereka adalah keumuman lafal-lafal hadis ini, dan semua lafal-lafal di atas termasuk lafal-lafal umum, seperti, “Ketika duduk”, “Jika duduk”, “Tatkala beliau duduk”

Dari pemaparan sederhana di atas maka penulis (al-ustadz Abu Abdil Muhsin Firanda Andirja) lebih condong pada pendapat Madzhab Hanabilah, bahwasanya sholat yang memiliki satu Tasyahhud saja, maka DUDUKNYA ADALAH IFTIRASY, karena keumuman hadis Wail bin Hujr. Dan inilah pendapat yang dikuatkan oleh Syaikh Bin Baaz [lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Daaimah 7/17-18 soal no 2232], Syaikh Albani [Ashl sifat sholaat An-Nabiy 3/829 dan Irwaaul Golil 2/23] dan Syaikh Al-Utsaimin [lihat Majmuu’ Fataawaa wa Rosaail Syaikh Al-‘Utsaimiin 14/159 no 784].

Bagaimanapun ini adalah permasalahan khilafiyah ijtihadiah yang kita harus toleransi terhadap orang yang menyelisihi kita. Sehingga tidak tepat menjadikan masalah ini sebagai masalah manhajiyah, yang jadi barometer seseorang Ahlus Sunnah ataukah bukan.
Hanya Allah yang beri taufik.
Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

 

Untuk lengkapnya: https://firanda.com/index.php/konsultasi/fiqh/55-cara-duduk-Tasyahhud-terakhir-sholat-Subuh

BENARKAH ROH NABI HADIR SAAT TASYAHUD/SALAM PENGHORMATAN?

BENARKAH ROH NABI HADIR SAAT TASYAHUD/SALAM PENGHORMATAN?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid
#StopBid‘ah

BENARKAH ROH NABI HADIR SAAT TASYAHUD/SALAM PENGHORMATAN?

Pertanyaan:

Banyak di antara masyarakat kita yang meyakini akan hal berikut ini:

MAHALLUL QIYAM, MENGHADIRKAN ROH NABI ﷺ DALAM SALAM PENGHORMATAN

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ؛ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “مَا مِنْ أَحَدٍ يُسَلِّمُ عَلَيَّ إِلَّا رَدّ اللَّهُ عَلَيَّ رُوحِي، حَتَّى أَرُدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ“.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

Tidaklah seseorang di antara kalian mengucapkan salam penghormatan kepadaku, melainkan Allah mengembalikan rohku, hingga aku menjawab salamnya [Hadis riwayat Imam Abu Daud dan dinilai Sahih oleh Imam an-Nawawi di dalam kitab al-Adzkar].

Ibnul Qoyyim al-Jauzi, berkata dalam kitab ar-Ruh:

وقال سلمان الفارسى أرواح المؤمنين في برزخ من الأرض تذهب حيث شاءت

Salman al-Farisi radhiyallahu ‘anhu berkata: Arwah kaum mukminin berada di Alam Barzah dekat dari bumi, dan dapat pergi ke mana saja menurut kehendaknya.

الروح – (ج 1 / ص 91)

Pada setiap di saat kita membaca Tasyahud dalam shalat, kita selalu mengucapkan:

 “ اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِي ّ”ُ

“Assalamualika ayyuhan nabi”, yang artinya: “Salam penghormatan kepada engkau wahai Nabi”.

Penjelasan:

Pada saat menyebut Nabi dalam shalat, kita memakai kata ganti كَ atau kata ganti orang kedua, atau Dlamir Mukhatab, yang berarti kamu atau Anda. Kita tidak menyebut nabi dengan Dlamir Ghaib هُ atau dia, atau beliau. Kita menyebut nabi dengan engkau. Ini artinya, bahwa pada saat kita mengucapkan salam penghormatan, Allah menghadirkan roh Nabi Muhammad ﷺ untuk menjawab salam penghormatan dari kita.

Begitu juga pada saat Mahallul Qiyam pada peringatan Maulid Nabi saat saat kita berdiri mengucapkan salam penghormatan:

” يَا نَبِي سَلَامْ عَلَيْكَ يَا رَسُوْلْ سَلَامْ عَلَيْك “َ

Dalam kalimat yang kita baca “Wahai Nabi salam penghormatan kepadamu, Wahai Rasul salam penghormatan kepadamu”. Salam penghormatan kepada nabi inilah yang menghadirkan roh Nabi ﷺ pada saat itu.

Demikianlah mengapa di acara peringatan Maulid Nabi ada momen berdiri.

والله أعلم….

Mohon penjelasannya mengenai tulisan di atas.

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Hadis tersebut Shahih insya’Allah, namun maknanya diperselisihkan para ulama. Dan Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menyebutkan banyak pendapat tentang makna hadis ini dalam kitab Ar Ruh, demikian pula Imam Ibnu Baz dalam fatwa beliau.

Kesimpulan pendapat terkuat adalah makna hadis tersebut dikembalikan sebagaimana adanya. Dan hadis ini TIDAK sedikit pun memberikan keterangan, bahwa Nabi ﷺ hadir di dekat orang yang mengucapkan salam kepada beliau ﷺ.

Bayangkan seandainya ada sejuta orang mengucapkan salam di berbagai lokasi berbeda, di mana beliau ﷺ kala itu?

Pernyataan Salman Al-Farisi juga TIDAK memberikan keterangan, bahwa roh keluar dari Barzakh, ia pergi ke mana saja sesuka hatinya, tapi masih dalam ruang lingkup Barzakh.

Dhamir Ka (kamu) TIDAK menjadi indikasi, beliau ﷺ ada di dekat kita, karena di sana ada riwayat lain Shahih dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu yang memerintahkan mengubah lafal As-slamualaika ayyuhannabi diubah menjadi Assalamu ‘alannabi warahmatullah. Pengubahan ini dilakukan setelah Nabi ﷺ wafat [HR Bukhari 6265, Muslim: 402, dishahihkan oleh Imam Al-Albani dalam Irwaul Ghalil: 321].

Terakhir, jika kita harus berdiri ketika mengucapkan salam dalam rangka menyambut Nabi ﷺ, ada dua kejanggalan di sini:

  1. Kenapa kita tidak berdiri ketika membaca salam dan shalawat ketika Tasyahud?
  2. Justru Nabi ﷺ di kala beliau ﷺ hidup, beliau ﷺ melarang para sahabatnya dari perbuatan tersebut:

عن أنس رضي الله عنه قال: ما كان شخص أحب إليهم رؤية من النبي صلى الله عليه وسلم وكانوا إذا رأوه لم يقوموا إليه لما يعلمون من كراهيته لذلك

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Tidak ada seorang pun yang lebih para sahabat cintai saat melihatnya, daripada Nabi ﷺ. Namun jika melihat beliau ﷺ, mereka tidak pernah berdiri, karena mereka mengetahui kebencian beliau atas hal itu” [HR Bukhari dalam Adabul-Mufrad: 946, Tirmidzi dalam Sunan-nya no. 2754 dan Asy-Syamaail  335, Ibnu Abi Syaibah: 8/586, Ahmad: 3/132, Abu Ya’la: 3784, Thahawi dalam Syarh Musykilil Atsar: 1126 hadis ini Shahih].

Nabi ﷺ juga bersabda:

من أحب أن يمثل له الرجال قياما فليتبوأ مقعده من النار

“Barang siapa yang suka seseorang berdiri untuknya, maka persiapkanlah tempat duduknya di Neraka” [HR. Abu Dawud: 5229, Tirmidzi: 2753, Ahmad: 4/93, Bukhari dalam Adabul Mufrad: 977, Abu Nu’aim dalam Akhbar Ashbahan: 1/219, dishahihkan oleh Imam Al-Albani dalam Silsilah Ahadis As-Shahihah:1/627].

Wallahu a’lam

 

Dijawab dengan ringkas oleh: Ustadz Abul Aswad Al-Bayati حفظه الله

Sumber: https://bimbinganislam.com/benarkah-ruh-nabi-hadir-saat-tasyahud-salam-penghormatan/

,

HUKUM MEMBACA SHALAWAT PADA TASYAHUD AWAL

HUKUM MEMBACA SHALAWAT PADA TASYAHUD AWAL

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

HUKUM MEMBACA SHALAWAT PADA TASYAHUD AWAL

Pertanyaan:

Apa hukum membaca shalawat pada saat Tasyahud Awal?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Ulama berbeda pendapat tentang hukum membaca shalawat ketika Tasyahud Awal.

Pendapat pertama, wajib membaca shalawat ketika tasyhud awal.

Ini adalah pendapat kedua Imam As-Syafii sebagaimana yang beliau tegaskan dalam kitab Al-Umm. Imam As-Syafii bahkan menegaskan, orang yang tidak membaca shalawat ketika Tasyahud Awal karena lupa, maka dia harus Sujud Sahwi. (al-Umm, 1/110).

Pendapat ini juga dipilih Ibnu Hubairah Al-Hambali, sebagaimana yang ditegaskan dalam kitab Al-Ifshah, Imam Ibnu Baz dalam Fatwa beliau, dan Imam Al-Albani dalam sifat shalat Nabi ﷺ.

Pendapat kedua, ketika Tasyahud Awal hanya membaca bacaan Tasyahud sampai dua kalimat syahadat dan boleh tidak ditambahi shalawat. Ini adalah pendapat mayoritas ulama, di antaranya An-Nakhai, As-Sya’bi, Sufyan Ats-Tsauri, dan Ishaq bin Rahuyah. Pendapat ini yang LEBIH KUAT dalam madzhab Syafiiyah, dan pendapat yang dipilih Ibnu Utsaimin.

InsyaaAllah, pendapat kedua inilah yang lebih kuat, karena beberapa pertimbangan:

  1. Makna zahir dari hadis di atas, dimana Rasulullah ﷺ hanya mengajarkan bacaan Tasyahud, dan bukan shalawat.
  2. Kebiasaan Rasulullah ﷺ duduk ringan ketika Tasyahud Awal, sebagaimana keterangan Ibnul Qoyim dalam Zadul Ma’ad (1/232).
  3. Terdapat hadis yang diriwayatkan Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya, bahwa Rasulullah ﷺ membaca Tasyahud dalam duduk Tasyahud Awal dan beliau tidak berdoa [simak As-Syarhul Mumthi’, 3/162].

 

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/23215-hukum-membaca-shalawat-pada-tasyahud-awal.html