Posts

,

BUKAN ULANG TAHUN, TETAPI UMUR YANG BERKURANG

BUKAN ULANG TAHUN, TETAPI UMUR YANG BERKURANG

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#TazkiyatunNufus, #NasihatUlama

BUKAN ULANG TAHUN, TETAPI UMUR YANG BERKURANG

Sebenarnya dalam Islam tidak ada perayaan ulang tahun. Yang ada hanyalah umur yang semakin berkurang. Mengapa kita selalu berpikir, bahwa umur kita bertambah, namun tidak memikirkan ajal semakin dekat? Benar kata Al Hasan Al Bashri, seorang tabi’in terkemuka yang menasihati kita agar bisa merenungkan, bahwa semakin bertambah tahun, semakin bertambah hari, itu berarti berkurangnya umur kita setiap saat.

Hasan Al Bashri mengatakan:

“Wahai manusia, sesungguhnya kalian hanyalah kumpulan hari. Tatkala satu hari itu hilang, maka akan hilang pula sebagian dirimu.” [Hilyatul Awliya’, 2: 148]

Bukankah yang Islam ajarkan, kita jangan hanya menunggu waktu, namun beramallah demi persiapan bekal untuk Akhirat.
Ibnu ‘Umar pernah berkata:

إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ

“Jika engkau berada di sore hari, maka janganlah menunggu waktu pagi. Jika engkau berada di waktu pagi, janganlah menunggu sore. Isilah waktu sehatmu sebelum datang sakitmu, dan isilah masa hidupmu sebelum datang matimu.” [HR. Bukhari no. 6416]. Hadis ini mengajarkan untuk tidak panjang angan-angan, bahwa hidup kita tidak lama.

‘Aun bin ‘Abdullah berkata:

“Sikapilah bahwa besok adalah ajalmu. Karena begitu banyak orang yang menemui hari besok, ia malah tidak bisa menyempurnakannya. Begitu banyak orang yang berangan-angan panjang umur, ia malah tidak bisa menemui hari esok. Seharusnya ketika engkau mengingat kematian, engkau akan benci terhadap sikap panjang angan-angan.”

‘Aun juga berkata:

“Sesungguhnya hari yang bermanfaat bagi seorang Mukmin di dunia adalah ia merasa, bahwa hari besok sulit ia temui.” [Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 385]

Silakan di-share, semoga bermanfaat.

 

Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah

,

BOLEHKAH MENGGANTI NIAT PUASA SYAWAL KE QADHA RAMADAN?

BOLEHKAH MENGGANTI NIAT PUASA SYAWAL KE QADHA RAMADAN?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#SifatPuasaNabi

BOLEHKAH MENGGANTI NIAT PUASA SYAWAL KE QADHA RAMADAN?

>> Hukum Mengubah Niat Puasa Sunnah Jadi Qadha

Pertanyaan:

Saya sudah melakukan beberapa hari niat puasa Syawal, tapi belum mengqadha puasa Ramadan. Kemudian salah seorang teman  memberitahu, bahwa seharusnya mengqadha terlebih dahulu, kemudian bisa melakukan puasa Syawal. Bagaimana dengan puasa yang sudah saya lakukan? Apakah bisa dianggap qadha puasa? Bagaimana jika beberapa hari berikutnya saya mengganti niat dengan qadha puasa? Terima kasih

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Salah satu aturan niat untuk puasa wajib, NIAT ini HARUS SUDAH ADA SEJAK SEBELUM SUBUH. Dari Hafshah radhiallahu ‘anha, Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ

“Barang siapa yang belum berniat puasa di malam hari (sebelum Subuh), maka puasanya batal.” (HR. Nasa’i 2343, ad-Daruquthni 2236 dan dishahihkan al-Albani)

Dalam riwayat yang lain, Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ لَمْ يُجْمِعِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ، فَلَا صِيَامَ لَهُ

“Barang siapa yang belum berniat puasa sebelum Fajar, maka tidak ada puasa baginya.” (HR. Abu Daud 2456 dan yang lainnya).

Hadis ini berlaku untuk puasa wajib, termasuk puasa qadha.

An-Nawawi mengatakan:

لا يصح صوم رمضان ولا القضاء ولا الكفارة ولا صوم فدية الحج وغيرها من الصوم الواجب بنية من النهار ، بلا خلاف

Tidak sah melakukan puasa Ramadan, puasa qadha, puasa kaffarah, maupun puasa tebusan ketika haji, atau puasa wajib lainnya, jika niatnya di siang hari, dengan sepakat ulama. (al-Majmu’, 6/294).

Berdasarkan hadis ini, TIDAK MUNGKIN bagi orang yang tengah puasa Sunnah, lalu dia mengubah niatnya menjadi puasa qadha. Apalagi puasa Sunnah itu telah dikerjakan beberapa hari yang lalu. Dalam Fatwa Islam dinyatakan:

لا يصح تغيير نية صيام التطوع الذي فُرغ منه ليصبح قضاء عن أيام رمضان التي أفطرتيها ؛ لأن صيام القضاء لا بد فيه من تبييت النية من الليل

TIDAK SAH mengubah niat puasa Sunnah yang telah dikerjakan, agar menjadi puasa qadha Ramadan. Karena puasa qadha, niatnya harus dilakukan sejak malam hari. (Fatwa Islam, no. 192428).

Bagaimana Nasib Puasa yang Telah Dikerjakan?

Orang yang mengubah niat setelah selesai beramal, sama sekali tidak memengaruhi keabsahan amal. As-Suyuthi mengatakan:

نوى قطع الصلاة بعد الفراغ منها لم تبطل بالإجماع ، وكذا سائر العبادات

Jika ada orang yang berniat untuk membatalkan shalat yang telah dia kerjakan, maka shalatnya tidak batal berdasarkan sepakat ulama. Demikian pula untuk semua ibadah. (al-Asybah wa an-Nadzair, hlm. 38).

Untuk itu, puasa kita tetap sah, meskipun tidak mendapatkan keutamaan puasa Syawal. Kita berhak mendapat pahala puasa mutlak. Selanjutnya, kita bisa puasa qadha hingga selesai, dan disambung dengan puasa enam hari Syawal.

Semoga Allah memberi kemudahan bagi kita untuk melakukan amal soleh.

Allahu a’lam

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/25309-mengganti-niat-puasa-Sunnah.html

 

,

KESALAHAN MENDAHULUKAN PUASA SYAWAL DARIPADA UTANG PUASA RAMADAN

KESALAHAN MENDAHULUKAN PUASA SYAWAL DARIPADA UTANG PUASA RAMADAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#SifatPuasaNabi

KESALAHAN MENDAHULUKAN PUASA SYAWAL DARIPADA UTANG PUASA RAMADAN

Perlu diketahui, bahwa tidak boleh mendahulukan puasa Syawal sebelum meng-qadha’ puasa atau membayar utang puasa. Seharusnya yang dilakukan adalah puasa qadha’ dahulu, lalu puasa Syawal. Karena jika kita mendahulukan puasa Syawal dari qadha’, sama saja dengan mendahulukan yang sunnah dari yang wajib. Ini TIDAKLAH TEPAT. Lebih-lebih lagi yang melakukannya TIDAK mendapatkan keutamaan puasa enam hari di bulan Syawal, sebagaimana disebutkan dalam hadis:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barang siapa yang berpuasa Ramadan, kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh” (HR. Muslim no. 1164).

Untuk mendapatkan keutamaan puasa setahun penuh, PUASA RAMADAN HARUSLAH DIRAMPUNGKAN SECARA SEMPURNA terlebih dahulu, baru diikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawal.

Selain itu, qadha’ puasa berkaitan dengan dzimmah (kewajiban), sedangkan puasa Syawal tidaklah demikian. Dan seseorang tidak mengetahui kapankah ia masih hidup dan akan mati. Oleh karena itu, wajib mendahulukan yang wajib dari yang sunnah.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: [Muslim.or.id]

 

, ,

PUASA SYAWAL: ENAM HARI UNTUK SETAHUN

PUASA SYAWAL: ENAM HARI UNTUK SETAHUN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MutiaraSunnah, #SifatPuasaNabi

PUASA SYAWAL: ENAM HARI UNTUK SETAHUN

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Siapa saja yang berpuasa Ramadan, lalu ia susul dengan enam (hari puasa) di bulan Syawal, maka itu laksana berpuasa setahun penuh.” [Diriwayatkan oleh Muslim]

 

Penulis: Al-Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizahullah

Sumber: @dzulqarnainms

,

DOA SAAT BERUMUR 40 TAHUN

DOA SAAT BERUMUR 40 TAHUN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir

DOA SAAT BERUMUR 40 TAHUN

Allah ta’ala telah menyebutkan umur 40 secara khusus di Alquran. Allah ta’ala berfirman:

وَوَصَّيْنَا الإنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلاثُونَ شَهْرًا حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ (١٥) سورة الأحقاف

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa:

 رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Robbi auzi’nii an asykuro ni’matakal latii an’amta ‘alay ya wa ‘ala waa liday ya wa an a’mala shoolihan tardhoo hu wa ashlih lii fii dzur riy yatii in nii tubtu ilaika wa innii minal muslimiin.

Artinya:

“Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku, dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridai. Berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”. [QS. Al-Ahqaf (46): 15]

Dalam tafsir Alquran al-Adhim Ibnu Katsir menyebutkan petikan firman Allah ta’ala:

{وبلغ أربعين سنة}

Dan umurnya sampai empat puluh tahun.

Selanjutnya beliau berkomentar terhadap ayat ini: Telah sampai batas tertinggi akalnya dan sempurna pemahaman serta kesabarannya.

[Tafsir Alquran al-Adhim oleh Ibnu Katsir 7/280, Dar Thayyibah, cet kedua 1420 H]

 

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

Sumber: http://www.salamdakwah.com/baca-pertanyaan/dalil-ttg-kekhususan-umur-40th–life-begin-at-40th-.html

,

INGIN TAHU, DARI MANA ASAL MUASAL PUASA SYAWAL = SEPERTI PUASA SETAHUN PENUH?

INGIN TAHU, DARI MANA ASAL MUASAL PUASA SYAWAL = SEPERTI PUASA SETAHUN PENUH?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#MatematikaIslam

INGIN TAHU, DARI MANA ASAL MUASAL PUASA SYAWAL = SEPERTI PUASA SETAHUN PENUH?

Dari Tsauban, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَّنَةِ (مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا)

“Barang siapa berpuasa enam hari setelah hari raya Idul Fitri, maka dia seperti berpuasa setahun penuh. [Barang siapa berbuat satu kebaikan, maka baginya sepuluh kebaikan semisal].” [HR. Ibnu Majah dan dishohihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Irwa’ul Gholil]

  • Orang yang melakukan satu kebaikan akan mendapatkan sepuluh kebaikan yang semisal.
  • Puasa Ramadan adalah selama sebulan. Berarti akan semisal dengan puasa sepuluh bulan.
  • Puasa Syawal adalah enam hari. Berarti akan semisal dengan enam puluh hari, yang sama dengan dua bulan.
  • Oleh karena itu, seseorang yang berpuasa Ramadan, kemudian berpuasa enam hari pada waktu Syawal, akan mendapatkan puasa seperti setahun penuh. [Lihat Syarh An Nawawi ‘ala Muslim, 8/56 dan Syarh Riyadhus Sholihin, 3/465].

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan nikmat ini bagi umat Islam.

 

Sumber: https://muslim.or.id/377-puasa-Syawal-puasa-seperti-setahun-penuh.html

 

,

ANJURAN PERBANYAK PUASA SYABAN

ANJURAN PERBANYAK PUASA SYABAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatPuasaNabi
#FatwaUlama

 

ANJURAN PERBANYAK PUASA SYABAN

Dalil Memerbanyak Puasa Syaban

Syaban adalah satu bulan sebelum Ramadan. Terdapat hadis, bahwa Nabi ﷺ memerbanyak puasa di bulan Syaban. Bahkan termasuk puasa sunnah terbanyak yang beliau lakukan, dibandingkan bulan-bulan lainnya. Adalah sunnah memerbanyak puasa Syaban, berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau berkata:

يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ: لاَ يُفْطِرُ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ: لاَ يَصُومُ، فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ

“Terkadang Nabi ﷺ puasa beberapa hari sampai kami katakan: ‘Beliau tidak pernah tidak puasa, dan terkadang beliau tidak puasa terus, hingga kami katakan: Beliau tidak melakukan puasa. Dan saya tidak pernah melihat Nabi ﷺ berpuasa sebulan penuh kecuali Ramadan, saya juga tidak melihat beliau berpuasa yang lebih sering, ketika Syaban” [HR. Al-Bukhari dan Muslim].

Aisyah radhiallahu ‘anha juga berkata:

لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ

“Belum pernah Nabi ﷺ berpuasa satu bulan yang lebih banyak dari pada puasa Syaban. Terkadang hampir beliau berpuasa Syaban sebulan penuh.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim].

Keutamaan Memerbanyak Puasa Syaban

Hikmah memerbanyak puasa Syaban adalah karena pada bulan itu amal terangkat, dan lebih baik jika amal tersebut terangkat dan kita dalam keadaan berpuasa. Sebagaimana penjelasan dari Al-Hafidz Ibnu Hajar, beliau berkata:

وَالْأَوْلَى فِي ذَلِكَ مَا جَاءَ فِي حَدِيثٍ أَصَحَّ مِمَّا مضى أخرجه النسائي وأبو داود وصححه بن خُزَيْمَةَ عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَمْ أَرَكَ تَصُومُ مِنْ شَهْرٍ مِنَ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ قَالَ ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إلى رب العالمين فأحب أن يرفع عملي وَأَنَا صَائِمٌ .

“Pendapat yang benar di dalam hal ini adalah, apa yang disebutkan di dalam sebuah hadis yang lebih shahih dibandingkan sebelumnya, diriwayatkan oleh An-Nasai dan Abu Daud dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dari Usamah bin Zaid, beliau berkata: “Engkau pernah berkata: “Wahai Rasulullah, aku belum pernah melihatmu berpuasa (lebih banyak) dalam satu bulan dari bulan-bulan yang ada, sebagaimana engkau berpuasa Syaban. Kemudian beliau ﷺ menjawab: “Bulan itu adalah bulan yang dilalaikan manusia, yaitu bulan antara Rajab dan Ramadan, dan ia adalah bulan yang diangkat di dalamnya seluruh amalan kepada Rabb semesta alam. Maka aku menginginkan amalanku diangkat dalam keadaan aku berpuasa.” [Lihat penjelasan kitab Fathul Al Bari].

Demikian juga penjelasan dari Ibnul Qayyim, beliau berkata:

فإن عمل العام يرفع في شعبان كما أخبر به الصادق المصدوق أنه شهر ترفع فيه الأعمال فأحب أن يرفع عملي وأنا صائم

“Sesungguhnya amalan dalam setahun akan diangkat pada bulan Syaban, sebagaimana yang diberitahulkan oleh Ash-Shadiq Al-Mashduq (Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Dan ia adalah bulan diangkatnya amalan-amalan di dalamnya. Dan aku suka diangkat amalanku, dalam keadaan aku berpuasa.” [Hasyiah Ibnul Qayyim, 12/313]

Sebagai Persiapan Sebelum Puasa Ramadan

Hikmahnya juga adalah dalam rangka persiapan puasa sebulan penuh pada bulan Ramadan, yaitu bulan setelah Syaban. Memersiapkan diri sudah terbiasa puasa sebulan sebelumnya. Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid berkata:

الصيام من شهر شعبان استعداداً لصوم شهر رمضان

“Puasa Syaban dalam rangka persiapan puasa Ramadan.” [Fatawa Jawab wa Sual no. 92748]

Beberapa Puasa yang Bisa Dilakukan di Bulan Syaban

  1. Puasa Daud yaitu sehari puasa dan sehari tidak berpuasa
  2. Puasa Senin dan kamis
  3. Puasa sebanyak tiga hari di setiap bulan Hijriyah. Bisa dilakukan di awal bulan, di tengah bulan dan di akhir bulan. Jika dilakukan tiga hari pada 13, 14 dan 15 Syaban, maka inilah yang disebut dengan puasa Ayyamul Bidh

Kombinasi Amalan Puasa di Bulan Syaban

Timbul pertanyaan, apakah Puasa Daud bisa dikombinaasikan dengan puasa lainnya, seperti Puasa  Senin-Kamis? Ini ada dua pendapat:

  1. Tidak boleh dikombinasikan

Berdasarkan hadis mengenai Abdullah bin ‘Amr yang dinasihati oleh Nabi ﷺ untuk berpuasa Daud, lalu beliau menegaskan mampu melakukan lebih dari Puasa Daud. Akan tetapi Nabi ﷺ melarangnya. Beliau ﷺ lalu bersabda:

لَا أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ

“Tidak ada yang lebih utama dari pada Puasa Daud.” [HR. Bukhari 3418, Muslim 1159].

  1. Boleh dikombinasikan

Dalam Fatawa Syabakiyah AL-Islamiyah dijelaskan:

ولكن من أحب أن يجمع بين الفضيلتين، وهو صيام يوم، وإفطار يوم، وصيام الاثنين والخميس، فقد حصَّل خيراً كثيراً…  وعليه فلا حرج في ذلك، بل هو من المسارعة في الخيرات

“Mereka yang suka menggabungkan dua puasa yang punya keutamaan, yaitu Puasa Daud dan Puasa Senin-Kamis, maka telah mendapatkan kebaikan yang banyak, bahkan termasuk dalam bersegera daam kebaikan.” [Fatawa no. 6488]

Demikian semoga bermanfaat.

 

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

Sumber: https://muslim.or.id/29840-anjuran-memerbanyak-puasa-di-bulan-syaban.html

 

, ,

TUJUH KAIDAH DALAM MENAGIH UTANG

TUJUH KAIDAH DALAM MENAGIH UTANG

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#FikihJualBeli
#AdabAkhlak

TUJUH KAIDAH DALAM MENAGIH UTANG

Oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Islam tidak pernah menyia-nyiakan amal hamba. Sampai pun sekadar memberikan bantuan yang ringan bagi orang lain. Termasuk memberikan utang kepada orang lain, yang itu pasti dikembalikan. Padahal kita tahu, dalam memberikan utang untuk tempo pendek, tidak ada harta kita yang berkurang, selain karena pengaruh propaganda orang kafir, penurunan nilai mata uang (time value of money).

Namun umumnya orang yang memberi utang, merasa cemas ketika uangnya yang berada di tangan orang lain. Dan Allah yang Maha Pemurah tidak menyia-nyiakan kebaikan hamba, sekalipun yang dia koribuankan hanya perasaaan dan kecemasan, karena menyerahkan uang kepada orang lain. Allah gantikan ini dengan pahala.

Dalam hadis, dari Ibn Mas’ud, Nabi ﷺ bersabda:

كل قرض صدقة

“Setiap mengutangi orang lain adalah sedekah.” [HR. Thabrani dengan sanad Hasan, al-Baihaqi, dan dishahihkan al-Albani]

Kemudian, dari Abu Umamah, Nabi ﷺ bersabda: “Ada seseorang yang masuk Surga, kemudian dia melihat ada tulisan di pintunya:

الصدقة بعشر أمثالها والقرض بثمانية عشر

“Sedekah itu nilainya sepuluh kalinya, dan utang nilainya 18 kali.” [HR. Thabrani, al-Baihaqi dan dishahihkan al-Albani dalam Shahih Targhib]

Juga dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَقْرَضَ اللَّهَ مَرَّتَيْنِ، كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ أحدهما لو تصدق به

Siapa yang memberi utang dua kali karena Allah, maka dia mendapat pahala seperti sedekah dengannya sekali. [HR. Ibnu Hibban 5040 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth].

Terlebih lagi ketika orang yang berutang mengalami kesulitan, kemudian dia memberikan penundaan pembayaran. Rasulullah ﷺ janjikan pahala yang besar. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا أَوْ وَضَعَ لَهُ، أَظَلَّهُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لا ظِلَّ إِلا ظِلُّهُ

Barang siapa yang memberi waktu tunda pelunasan bagi orang yang kesusahan membayar utang atau membebaskannya, maka Allah akan menaunginya dalam naungan (Arsy)-Nya pada hari Kiamat, yang tidak ada naungan selain naungan (Arsy)-Nya. [HR. Ahmad, 2/359, Muslim 3006,  dan Turmudzi 1306, dan dishahihkan al-Albani].

Beberapa Aturan dalam Menagih Utang

Islam memberikan aturan dalam masalah utang-piutang, agar orang yang memberikan utang (kreditur) tidak terjebak dalam kesalahan dan dosa besar, yang akan membuat amalnya sia-sia. Dosa itu adalah dosa riba dan kezaliman. Karena umumnya riba dan tindakan kezaliman, terjadi dalam masalah utang piutang.

Kaidah Pertama

Islam menyarankan agar dilakukan pencatatan dalam transaksi utang piutang. Terlebih ketika tingkat kepercayaanya kurang sempurna. Semua ini dalam rangka menghendari sengketa di belakang. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ وَلْيَكْتُبْ بَيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah[179] tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. [QS. al-Baqarah: 282]

Dalam tafsir as-Sa’di dinyatakan:

الأمر بكتابة جميع عقود المداينات إما وجوبا وإما استحبابا لشدة الحاجة إلى كتابتها، لأنها بدون الكتابة يدخلها من الغلط والنسيان والمنازعة والمشاجرة شر عظيم

Perintah untuk mencatat semua transaksi utang piutang, bisa hukumnya wajib, dan bisa hukumnya sunah. Mengingat beratnya kebutuhan untuk mencatatnya. Karena jika tanpa dicatat, rentan tercampur dengan bahaya besar, kesalahan, lupa, sengketa dan pertikaian. [Tafsir as-Sa’di, hlm. 118].

Kaidah Kedua

Allah memerintahkan kepada orang yang memberikan utang, agar memberi penundaan waktu pembayaran, ketika orang yang berutang mengalami kesulitan pelunasan.

وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Jika (orang yang berutang itu) dalam kesulitan, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan  menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu  mengetahui. [QS. al-Baqarah: 280]

Al-Hafidz Ibnu Katsir mengatakan:

يأمر تعالى بالصبر على المعسر الذي لا يجد وفاء، فقال: { وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَة } لا كما كان أهل الجاهلية يقول أحدهم لمدينه إذا حل عليه الدين: إما أن تقضي وإما أن تربي ثم يندب إلى الوضع عنه، ويعد على ذلك الخير والثواب الجزيل

Allah perintahkan kepada orang yang memberi utang untuk bersabar terhadap orang yang kesulitan, yang tidak mampu melunasi utangnya. ”Jika (orang yang berutang itu) dalam kesulitan, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan.” Tidak seperti tradisi jahiliyah, mereka mengancam orang yang berutang kepadanya, ketika jatuh tempo pelunasan telah habis: ’Kamu lunasi utang, atau ada tambahan pembayaran (riba).’ Kemudian Allah menganjurkan untuk menggugurkan utangnya, dan Allah menjanjikan kebaikan dan pahala yang besar baginya [Tafsir Ibnu Katsir, 1/717].

Rasulullah ﷺ menjanjikan baginya pahala sedekah selama masa penundaan. Beliau ﷺ bersabda:

مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا كَانَ لَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ صَدَقَةٌ، وَمَنْ أَنْظَرَهُ بَعْدَ حِلِّهِ كَانَ لَهُ مِثْلُهُ، فِي كُلِّ يَوْمٍ صَدَقَةٌ

Siapa yang memberi tunda orang yang kesulitan, maka dia mendapatkan pahala sedekah setiap harinya. Dan siapa yang memberi tunda kepadanya setelah jatuh tempo, maka dia mendapat pahala sedekah seperti utang yang diberikan setiap harinya. [HR. Ahmad 23046, Ibnu Majah 2418 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth].

Kaidah Ketiga

Memberikan utang termasuk transaksi sosial, amal saleh yang berpahala. Karena itu, orang yang memberi utang dilarang mengambil keuntungan karena utang yang diberikan, apapun bentuknya, selama utang belum dilunasi.

Sahabat Fudhalah bin Ubaid radhiallahu ‘anhu mengatakan:

كل قرض جر منفعة فهو ربا

“Setiap piutang yang memberikan keuntungan, maka (keuntungan) itu adalah riba.”

Keuntungan yang dimaksud dalam riwayat di atas mencakup semua bentuk keuntungan, bahkan sampai bentuk keuntungan pelayanan. Dari Abdullah bin Sallam radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan:

إِذَا كَانَ لَكَ عَلَى رَجُلٍ حَقٌّ، فَأَهْدَى إِلَيْكَ حِمْلَ تِبْنٍ، أَوْ حِمْلَ شَعِيرٍ، أَوْ حِمْلَ قَتٍّ، فَلاَ تَأْخُذْهُ فَإِنَّهُ رِبًا

“Apabila kamu mengutangi orang lain, kemudian orang yang diutangi memberikan fasilitas kepadamu dengan membawakan jerami, gandum, atau pakan ternak, maka janganlah menerimanya, karena itu riba.” [HR. Bukhari 3814].

Kemudian, diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu:

إذا أقرض أحدكم قرضا فأهدى له أو حمله على الدابة فلا يركبها ولا يقبله

“Apabila kalian mengutangkan sesuatu kepada orang lain, kemudian (orang yang berutang) memberi hadiah kepada yang mengutangi, atau memberi layanan berupa naik kendaraannya (dengan gratis), janganlah menaikinya dan jangan menerimanya.” [HR. Ibnu Majah 2432]

Keempat

Terkait nilai penurunan mata uang

Orang yang memberi utang, hendaknya siap menerima risiko penurunan nilai mata uang. Karena ulama sepakat, orang yang memberi utang hanya berhak meminta pengembalian sebesar uang yang dia berikan, tanpa memerhatikan keadaan penurunan nilai mata uang.

Dalam Mursyid al-Hairan – kitab mumalah Madzhab Hanafi – dinyatakan:

وإن استقرض شيئا من المكيلات والموزونات والمسكوكات من الذهب والفضة فرخصت أسعارها أو غلت فعليه رد مثلها ولا عبرة برخصها أو غلائها

Apabila orang berutang sesuatu berupa barang yang ditakar, atau ditimbang atau emas perak yang dicetak, kemudian harganya mengalami penurunan atau kenaikan, maka dia wajib mengembalikan utangnya sama seperti yang dia pinjam. Tanpa memerhitungkan penurunan maupun kenaikan harga. [Mursyid al-Hairan ila Ma’rifah Ahwalil Insan fil Muamalat ’ala Madzhabi Abu hanifah an-Nu’man, keterangan no. 805].

Ibnu Abidin mengatakan semisal:

إنه لا يلزم لمن وجب له نوعٌ منها سواه بالإجماع

Tidak ada kewajiban bagi orang yang memiliki utang selain yang sama dengannya, dengan sepakat ulama. [Tanbih ar-Ruqud ’ala Masail an-Nuqud, hlm. 64]

Demikian keterangan dalam Madzhab Hanafi. Keterangan yang sama juga disampaikan dalam Madzhab Syafiiyah.

As-Syairazi mengatakan:

ويجب على المستقرِض ردُّ المثل فيما له مثل؛ لأن مقتضى القرض: رد المثل

Wajib bagi orang yang berutang untuk mengembalikan yang semisal, untuk harta yang ada padanannya. Karena konsekuensi utang adalah mengembalikan dengan yang semisal. [al-Muhadzab, 2/81].

Kemudian, keterangan dalam Madzhab Hambali, kita simpulkan dari penjelasan Ibnu Qudamah:

 

الْمُسْتَقْرِضَ يَرُدُّ الْمِثْلَ فِي الْمِثْلِيَّاتِ، سَوَاءٌ رَخُصَ سِعْرُهُ أَوْ غَلَا، أَوْ كَانَ بِحَالِهِ

Orang yang berutang wajib mengembalikan yang semisal, untuk barang yang memiliki padanan. Baik harganya turun maupun naik atau sesuai keadaan awal. [al-Mughni, 4/244].

Di tempat lain, beliau mengatakan, bahwa itu sepakat ulama:

ويجب رد المثل في المكيل والموزون. لا نعلم فيه خلافا. قال ابن المنذر: أجمع كل من نحفظ عنه من أهل العلم، على أن من أسلف سلفا، مما يجوز أن يسلف، فرد عليه مثله، أن ذلك جائز وأن للمسلف أخذ ذلك

Wajib mengembalikan yang semisal untuk barang yang ditakar maupun ditimbang. Kami tidak mengetahui adanya perselisihan dalam masalah ini.

Ibnul Mundzir mengatakan:

”Semua ulama yang kami ketahui, mereka sepakat, bahwa orang yang berutang sesuatu yang halal, kemudian dia mengembalikan dengan semisal, maka hukumnya boleh dan bagi pemberi utang, bisa menerimanya.” [al-Mughni, 4/239].

Kelima

Apabila uang yang dulu tidak berlaku

Utang dengan uang masa silam, kemudian masyarakat tidak lagi memberlakukannya, dengan apapun sebabnya, maka yang wajib dilakukan adalah mengembalikan dengan mata uang yang senilai dengan mata uang yang tidak berlaku itu, atau dengan emas atau perak. Karena untuk mengembalikan yang semisal (al-Mitsl) tidak memungkinkan, sehingga dikembalikan dalam bentuk nilai (al-Qimah).

Ibnu Qudamah mengatakan:

وَإِنْ كَانَ الْقَرْضُ فُلُوسًا أو مكسرة فَحَرَّمَهَا السُّلْطَانُ، وَتُرِكَتْ الْمُعَامَلَةُ بِهَا، كَانَ لِلْمُقْرِضِ قِيمَتُهَا، وَلَمْ يَلْزَمْهُ قَبُولُهَا، سَوَاءٌ كَانَتْ قَائِمَةً فِي يَدِهِ أَوْ اسْتَهْلَكَهَا ؛ لِأَنَّهَا تَعَيَّبَتْ فِي مِلْكِهِ

Apabila utang dalam bentuk uang kertas atau uang logam, kemudian pemerintah menariknya dan tidak lagi menggunakan jenis uang ini, maka orang mengutangi berhak mendapat uang yang senilai. Dan dia tidak harus menerima uang kuno itu, baik uang yang diutangkan itu masih ada di tangan, maupun sudah rusak. Karena tidak memungkinkan untuk memilikinya. [al-Mughni, 4/244].

Kemudian beliau menegaskan:

يقومها كم تساوي يوم أخذها؟ ثم يعطيه، وسواء نقصت قيمتها قليلا أو كثيرا

Dia tentukan berapa nilai uang ketika dia mengambilnya. Kemudian dia berikan uang itu. Baik nilainya turun sedikit maupun banyak. [al-Mughni, 4/244].

Sebagai ilustrasi, pada 1991 si A memberi utang 50 ribu bergambar Presiden Oribua. Pada 2011 si B melunasi dengan uang 50 ribu bergambar I Gusti Ngurah Rai. Karena uang kuno, tidak berlaku. Meskipun nilai 50 ribu dari 1991 hingga 2011 mengalami penurunan yang sangat tajam.

Keenam

Pembayaran utang dalam bentuk yang lain

Dibolehkan menerima pembayaran utang dalam bentuk yang lain, misalnya utang uang dibayar emas, atau utang Rupiah dibayar Dollar, atau semacamnya dengan syarat:

 

  • Kesepakatan beda jenis pembayaran ini tidak dilakukan pada saat utang, namun baru disepakati pada saat pelunasan.
  • Menggunakan standar harga waktu pelunasan, dan bukan harga waktu utang.

[Fatwa Dar al-Ifta’ Yordan: http://aliftaa.jo/Question.aspx?QuestionId=2032#.VAfLYdeSz6d]

Keterangan di atas, berdasarkan keputusan Majma’ al-Fiqhi al-Islami no. 75 (6/7], yang menyatakan:

 يجوز أن يتفق الدائن والمدين يوم السداد – لا قبله – على أداء الدين بعملة مغايرة لعملة الدين، إذا كان ذلك بسعر صرفها يوم السداد

 Boleh dilakukan kesepakatan antara kreditur dan debitur pada waktu pelunasan – bukan pada waktu sebelumnya – untuk pelunasan utang dengan mata uang yang beribueda dengan mata uang ketika utang. Jika standar harga sesuai harga tukar uang itu, waktu pelunasan.

Dalil bolehnya hal ini adalah hadis dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa beliau menjual onta di Baqi’ dengan Dinar, dan mengambil pembayarannya dengan Dirham. Kemudian beliau mengatakan:

 أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ: إِنِّي أَبِيعُ الْإِبِلَ بِالْبَقِيعِ بِالدَّنَانِيرِ وَآخُذُ الدَّرَاهِمَ، قَالَ: «لَا بَأْسَ أَنْ تَأْخُذَ بِسِعْرِ يَوْمِهَا مَا لَمْ تَفْتَرِقَا، وَبَيْنَكُمَا شَيْءٌ»

 Aku mendatangi Nabi ﷺ dan kusampaikan: ”Saya menjual onta di Baqi’ dengan Dinar secara kredit dan aku menerima pembayarannya dengan Dirham. Beliau ﷺ bersabda:

”Tidak masalah kamu mengambil dengan harga hari pembayaran, selama kalian tidak berpisah, sementara masih ada urusan jual beli yang belum selesai.” [HR. Ahmad 5555, Nasai 4582, Abu Daud 3354, dan yang lainnya].

Sebagai ilustrasi:

Misal, pada 1991 harga emas 25 ribu/gr. Tahun 2014 harga emas 400 ribu/gr. Pada 1991, uang Rp 1 juta mendapat 40 gr emas, sedangkan pada 2014, hanya mendapat 2,5 gr.

Pada 1991 si A utang 1 juta ke si B. Selanjutnya mereka berpisah lama. Tahun 2014, mereka ketemu dan si B meminta utang si A dilunasi dengan emas. Ada beberapa kasus di sini:

  • Poin A: Si B menuntut agar utang si A dibayar dengan 40 gr emas.
  • Poin B: Si B menuntut agar utang si A dibayar dengan uang senilai 40 gr emas, sekitar 16 juta.
  • Poin C: Si B menuntut agar utang si A dibayar dengan 2,5 gr emas.
  • Poin D: Si B menuntut agar utang si A dibayar dengan uang senilai 2,5 gr emas, sehingga nilainya tetap 1 juta.

Dari keempat kasus di atas, untuk kasus Poin A dan Poin B statusnya TERLARANG, karena termasuk riba dalam utang piutang. Dan ini tidak memenuhi syarat kedua seperti yang disebutkan dalam fatwa di atas, meskipun pada 1991, mereka tidak pernah melakukan kesepakatan ini.

Sementara kasus Poin C dan Poin D ini yang BENAR, memenuhi kedua syarat yang disebutkan dalam fatwa di atas.

Secara sederhana, si B mengalami kerugian, karena nilai 1 juta dulu dan sekarang jauh berbeda. Namun sekali lagi, inilah konsekuensi utang piutang. Pemberi utang mendapatkan pahala, karena membantu orang lain. Di sisi lain, dia harus siap dengan konsekuensi penurunan nilai mata uang.

Ketujuh

Kelebihan dalam pelunasan utang

Dibolehkan adanya kelebihan dalam pelunasan utang dengan syarat:

  1. Tidak ada kesepakatan di awal
  2. Dilakukan murni atas inisiatif orang yang berutang
  3. Bukan tradisi masyarakat setempat

Dalilnya hadis dari Abu Rafi’ radhiallahu ‘anhu, beliau menceritakan:

 أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم اسْتَسْلَفَ من رَجُلٍ بَكْرًا، فَقَدِمَتْ عليه إِبِلٌ من إِبِلِ الصَّدَقَةِ، فَأَمَرَ أَبَا رَافِعٍ أَنْ يَقْضِيَ الرَّجُلَ بَكْرَهُ، فَرَجَعَ إليه أبو رَافِعٍ، فقال: لم أَجِدْ فيها إلا خِيَارًا رَبَاعِيًا، فقال: أَعْطِهِ إِيَّاهُ إِنَّ خِيَارَ الناس أَحْسَنُهُمْ قَضَاءً

 Pada suatu saat Rasulullah ﷺ berutang seekor anak unta dari seseorang. Lalu datanglah kepada Nabi ﷺ unta-unta zakat. Maka beliau ﷺ memerintahkan Abu Raafi’ untuk mengganti anak unta yang beliau ﷺ utang dari orang tersebut. Tak selang beberapa saat, Abu Raafi’ kembali menemui beliau ﷺ dan berkata: “Aku hanya mendapatkan unta yang telah genap berumur  enam tahun.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya: “Berikanlah unta itu kepadanya, karena sebaik-baik manusia adalah orang yang paling baik pada saat melunasi piutangnya.” [Muttafaqun ‘alaih]

Akan tetapi, jika keberadaan tambahan ini diberikan karena ada kesepakatan di awal, atau permintaan pihak yang mengutangi (kreditor), atau karena masyarakat setempat memiliki kebiasaan bahwa setiap utang harus bayar lebih, maka tambahan semacam ini terhitung riba.

Demikian beberapa kaidah terkait penagihan utang. Semoga Allah menjadikan kita Muslim yang selalu menyesuaikan diri dengan aturan syariat.

 

Sumber:

http://pengusahamuslim.com/4201-7-kaidah-dalam-menagih-utang-bagian-01.html

http://pengusahamuslim.com/4205-7-kaidah-dalam-menagih-utang-bagian-02-selesai.html

, , ,

PERAYAAN ISRA’ MIRAJ, BID’AH ATAU SUNNAH?

PERAYAAN ISRA MIRAJ, BID'AH ATAU SUNNAH?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#AkidahManhaj
#StopBidah

PERAYAAN ISRA’ MIRAJ, BID’AH ATAU SUNNAH?

Seorang Mukmin, saat menemukan kebenaran yang sebelumnya belum pernah ia ketahui, seperti seorang yang menemukan sebuah barang berharga yang hilang, yang ia cari sepanjang siang dan malam. Bagaimana gerangan perasaannya, manakala berhasil menemukan barang tersebut? Tentu senang dan bahagia. Demikian perumpamaan seorang Mukmin, manakala ia menemukan kebenaran, yang sebelumnya belum ia ketahui. Sebelumnya ia tidak sadar, kalau ternyata selama ini berada pada jalan yang keliru. Lalu ia menemukan kebenaran yang menyadarkannya dari kekeliruan tersebut. Tentu ia akan merasa bahagia dan berlapang dada untuk menerima kebenaran tersebut.

Sebagai seorang Mukmin yang telah berikrar, bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah utusan Allah, tentu ia akan lebih selektif dalam dalam hal amalan ibadah. Bila ada tuntunannya dari Rasulullah ﷺ, maka akan dilakukan sebagai bentuk ittiba‘ (mengikuti sunah) kepada Rasulullah ﷺ. Bila tidak, maka ia akan tinggalkan karena Allah. Karena di antara konsekuensi dari syahadat Muhammadur Rasulullah adalah ittiba’, atau mencontoh beliau ﷺ dalam beribadah kepada Allah. Allah ta’ala berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah wahai Muhammad: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Ali Imron : 31).

Imam Syafi’i mengatakan:

أَجْمَعَ الْمُسْلِمُونَ عَلىَ أَنَّ مَنِ اسْتَبَانَ لَهُ سُنَّةٌ عَنْ رَسُولِ اللهِ e لَمْ يَحِلَّ لَهُ أَنْ يَدَعَهَا لِقَوْلِ أَحَدٍ

“Kaum Muslimin sepakat, bahwa siapa saja yang telah jelas baginya sebuah Sunnah (ajaran) Rasulullah ﷺ, maka tak halal baginya untuk meninggalkan sunnah itu, karena mengikuti pendapat siapa pun.” (I’laamul Muwaqqi’iin, 2: 282).

Terkait perayaan Isra Miraj, ada nasihat indah dari salah seorang ulama di kota Madinah An-Nabawiyyah, Syaikh Sulaiman ar Ruhaili hafizhahullah, di mana dalam salah satu majelis di Masjid Nabawi, beliau ditanya terkait masalah ini. Mari simak pemaparan beliau berikut:

Pertanyaan:

Apakah benar peristiwa Isra dan Miraj itu terjadi bulan Rajab? Lalu bolehkah kita merayakan peristiwa tersebut, dan menjadikan hari terjadinya sebagai ‘Ied (perayaan yang dirayakan secara periodik) setiap tahunnya? Di mana pada hari perayaan tersebut, kita saling memberi ucapan selamat dan saling bertukar hadiah?

Jawaban:

TIDAK ADA riwayat yang menerangkan, bahwa peristiwa Isra dan Miraj terjadi di bulan Rajab. Benar kita tidak meragukan, bahwa peristiwa Isra dan Miraj benar-benar terjadi. Bahkan ini bagian dari perkara agama yang qot’i, tidak boleh seorang Muslim meragukannya. Namun kapan peristiwa ini terjadi? Bulan apakah?

Para ulama telah menjelaskan, bahwa tidak ada keterangan riwayat yang menerangkan bulan terjadinya peristiwa Isra Miraj. Tidak pula zamannya. Yakni tidak diketahui, peristiwa tersebut terjadi pada bulan apa. Tidak pula di sepuluh hari dari suatu bulan apapun. Oleh karenanya, para ulama berselisih pendapat dalam masalah penentuan bulan terjadinya Isra dan Miraj, karena disebabkan tidak adanya riwayat shahih yang bisa dijadikan pegangan dalam hal ini.

Maka berangkat dari alasan di atas, TIDAK BOLEH kita menjadikan hari ke-27 dari bulan Rajab, sebagai hari Isra dan Miraj. Dan menetapkan, bahwa pada hari itulah terjadi peristiwa Isra Miraj. Hari di mana saling memberi ucapan selamat, demi memeriahkan perayaan tersebut. Terkadang pula saling bertukar hadiah.

Pertama, karena memang tidak ada riwayat yang menerangkan bahwa 27 Rajab adalah hari Isra dan Miraj.

Kedua, karena Nabi ﷺ, di mana beliaulah yang diberi Allah nikmat untuk mengalami peristiwa agung ini, dan beliau ﷺ adalah hamba-Nya yang paling banyak bersyukur, yang mendirikan shalat sampai pecah-pecahlah telapak kaki beliau. Semoga shalawat serta salam senantiasa tercurahkan untuk beliau ﷺ. Beliau ﷺ bersabda:

أَفَلَا أَكُوْنُ عَبْدًا شَكُوْرًا

“Tidakkah aku menginginkan untuk menjadi hamba-Nya yang bersyukur?!”

Semoga shalawat dan salam tercurahkan untuk beliau ﷺ, namun beliau ﷺ tidak pernah merayakan malam Isra dan Miraj tersebut. Beliau ﷺ juga tidak mengkhususkan malam tersebut dengan shalat tertentu, atau mengkhususkan siangnya dengan puasa tertentu. Sementara dalam perkara ini (juga seluruh seluk beluk kehidupan) umat ini dituntut untuk meneladani Nabi ﷺ.

Demikian pula tidak ada keterangan dari para sahabat, semoga Allah meridai mereka, bahwa mereka merayakan peristiwa Isra dan Miraj. Tidak pula dari generasi tabi’in, tidak pula dari Imam mazhab yang empat; yang dijadikan rujukan, semoga Allah meridhoi para ulama pendahulu kita, seluruhnya. Tidak ada keterangan dari mereka semua, bahwa mereka merayakan peristiwa ini. Bahkan meski satu patah kata pun tentang perayaan ini.

Selanjutnya, wahai hamba Allah, saat Anda mengetahui, bahwa ternyata tidak ada riwayat tentang hari terjadinya peristiwa ini, tidak pula berkaitan dengan perayaannya pada malam maupun siang harinya, ini menunjukkan, bahwa para Salafus Shalih tidak terlalu perhatian dengan waktu terjadinya peristiwa ini. Ini juga menjadi bukti, bahwa mereka tidak pernah merayakan peristiwa Isra dan Miraj (yang diklaim terjadi) pada 27 Rajab ini. Karena andai mereka merayakannya, tentu akan ada riwayat yang menjelaskan mengenai waktu kejadian Isra Miraj. Dan tentu akan ada penjelasan dari mereka perihal perayaan ini.

Kemudian, sesungguhnya kaidah syariat yang kita sepakati bersama, bahwa agama ini dibangun di atas ittiba‘ (mencontoh Nabi ﷺ). Dan bahwa ibadah itu dibangun di atas dalil (tawqif). Oleh karenanya, tidak selayaknya bagi seorang Muslim, untuk melakukan suatu ibadah, kecuali bila ia memiliki cahaya petunjuk dan bimbingan dari Nabi ﷺ, yang menerangkan kepada mereka tata cara ibadahnya.

Haknya Nabi Muhammad ﷺ atas kita, adalah kita tidak menyembah Allah, kecuali dengan petunjuk yang datang dari beliau ﷺ. Dan setiap amalan ibadah yang dikerjakan, yang tidak ada perintahnya dari Nabi yang mulia ini ﷺ,  maka ibadah tersebut tidak diterima di sisi Allâh. Nabi ﷺ telah mengajarkan kepada kita dan membimbing kita melalui sabdanya:

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.”

Dan beliau ﷺ senantiasa mengulang-ulang nasihatnya dalam setiap khutbah beliau ﷺ:

إِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا ، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ

“Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan. Setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka.”

Maka alangkah indahnya bila umat ini menyibukkan diri dengan ibadah-ibadah yang ada tuntutannya. Karena sungguh, andai mereka menyibukkan hari-hari mereka dengan ibadah yang ada sunahnya dari Nabi ﷺ, maka sungguh dalam hal tersebut ada pengaruh yang besar di hati kaum Mukminin, dalam hal kasih sayang di antara mereka, saling mencintai,  persatuan,  kemuliaan mereka, pertolongan untuk mereka atas musuh-musuh mereka, dan akan tampaklah  wibawa umat di hadapan musuh-musuh mereka.

Namun amat disayangkan, banyak dari hamba Allah lebih condong kepada amalan-amalan ibadah yang baru, lalu meninggalkan banyak dari amalan yang ada tuntunannya. Dan kekurangan ini kembali pada kekurangan ulama, dan penuntut ilmu, di negeri-negeri mereka, dalam menjelaskan sunnah kepada masyarakat, mengajarkan kebaikan kepada mereka,  dan mengajak mereka untuk komitmen terhadap Sunnah Nabi ﷺ.

Wasiatku untuk seluruh kaum Muslimin, untuk bersama bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla, mengikuti tuntunan Nabi Muhammad ﷺ, melakukan amalan ibadah yang disyariatkan oleh Allah ta’ala, dan kita mendekatkan kepada Allah ‘azza wa jalla dengan ibadah-ibadah yang dituntukan tersebut.”

Demikian yang beliau sampaikan. Rekaman dari tausiyah beliau, bisa kita simak di sini, di menit ke 06.30 sampai selesai: https://www.dropbox.com/s/t7iamlsxtvu334h/Fatawa%20Syaikh%20Sulaiman%20ar%20Ruhaili%20.m4a?dl=0

Semoga Allah senantiasa membimbing kita untuk istiqomah di atas Sunnah Nabi-Nya ﷺ.

***

 

Direkam dan diterjemahkan oleh Ahmad Anshori (yang senantiasa butuh akan taufik dan ampunan-Nya)

Dinukil dari tulisan berjudul: “Perayaan Isra’ Mi’raj, Siapa Bilang Tidak Boleh?” yang ditulis oleh: Ahmad Anshori hafizahullah

Sumber: https://Muslim.or.id/25540-perayaan-isra-miraj-siapa-bilang-tidak-boleh.html

, ,

APAKAH PERAYAAN ISRA MIRAJ DISYARIATKAN DALAM ISLAM?

APAKAH PERAYAAN ISRA MIRAJ DISYARIATKAN DALAM ISLAM?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#AkidahManhaj
#StopBidah

APAKAH PERAYAAN ISRA MIRAJ DISYARIATKAN DALAM ISLAM?

Sesungguhnya peristiwa Isra‘ dan Miraj termasuk peristiwa sejarah yang sangat dahsyat dalam Islam, karena beberapa hal:

  • Peristiwa dahsyat ini bukan hanya peristiwa yang terjadi di bumi semata, melainkan peristiwa dahsyat yang berhubungan dengan bumi dan langit. Suatu hal yang tidak pernah terjadi dalam peristiwa lainnya.
  • Peristiwa ini merupakan mukjizat dan tanda besar tentang kebenaran Nabi Muhammad ﷺ dan risalah yang beliau ﷺ
  • Membenarkan peristiwa agung ini termasuk akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah yang sangat penting, dan mengingkarinya termasuk perangai orang-orang kafir.
  • Perhatian para ulama dalam setiap bidang untuk membahasnya, bahkan menulisnya secara khusus.

Namun demikian, perayaan Isra’ Miraj ini TIDAK DISYARIATKAN DALAM ISLAM ditinjau dari dua sisi:

  1. Tinjauan Sejarah. Tidak ada bukti autentik dalam sejarah yang mengatakan: bahwa Isra Miraj terjadi pada 27 Rajab. Bahkan masalah ini diperselisihkan dan tidak diketahui secara pasti. Bahkan, menakjubkanku ucapan Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullahu ta’ala, tatkala beliau mengatakan: “Perlu diketahui, bahwa penetapan Isra Miraj pada tanggal ini (27 Rajab, Pen.) termasuk pendapat yang paling lemah.”
  2. Ditinjau dari segi syariat. Jika memang benar Isra Miraj terjadi pada 27 Rajab, bukan berarti waktu tersebut harus dijadikan sebagai malam perayaan dengan pembacaan kisah-kisah palsu tentang Isra Miraj. Bagi seseorang yang tidak mengikuti hawa nafsunya, tidak akan ragu, bahwa hal tersebut termasuk perkara bid’ah dalam Islam. Sebab perayaan tersebut tidaklah dikenal di masa sahabat, tabi’in, dan para pengikut setia mereka. Islam hanya memiliki tiga hari raya: Idul Fitri dan Idul Adha tiap satu tahun, dan Jumat tiap satu pekan (minggu). Selain tiga ini, TIDAK termasuk agama Islam secuil pun.

Syaikh al-Albani rahimahullahu ta’ala berkata setelah menyebutkan perselisihan ulama tentang kapan Isra Miraj terjadi: “Hal itu menunjukkan bagi orang yang cerdas, bahwa para salaf tidak pernah mengadakan perayaan malam Isra Miraj, baik di bulan Rajab atau selainnya. Seandainya mereka membuat perayaan sebagaimana orang-orang belakangan sekarang, niscaya beritanya akan populer dari mereka, dan apa diketahui secara pasti tentang ketentuan malamnya. dan mereka tidak akan berselisih pendapat dengan perselisihan yang mengherankan ini.”

Ibnu Hajj rahimahullahu ta’ala berkata: “Termasuk perkara bid’ah yang diada-adakan orang-orang pada malam 27 Rajab adalah…” Kemudian beliau menyebutkan beberapa contoh bid’ah pada malam tersebut, seperti kumpul-kumpul di masjid, ikhtilath (campur baur antara laki-laki dan perempuan), menyalakan lilin dan pelita. Beliau juga menyebutkan, perayaan malam Isra Miraj termasuk perayaan yang disandarkan kepada agama, padahal bukan darinya.

Ibnu Nuhas rahimahullahu ta’ala berkata: “Sesungguhnya perayaan malam ini (Isra Miraj) merupakan bid’ah yang besar dalam agama, yang diada-adakan oleh saudara-saudara setan.”

Muhammad bin Ahmad asy-Syafi’i rahimahullahu ta’ala menegaskan: “Pembacaan kisah Miraj dan perayaan malam 27 Rajab merupakan perkara bid’ah … Dan kisah Miraj yang disandarkan kepada Ibnu Abbas Radhiallahu’anhuma, seluruhnya merupakan KEBATILAN dan KESESATAN, tidak ada yang shahih, kecuali beberapa huruf saja. Demikian pula kisah Ibnu Sulthan, seorang penghambur yang tidak pernah shalat kecuali di bulan Rajab saja. Namun tatkala hendak meninggal dunia, terlihat padanya tanda-tanda kebaikan. Sehingga saat Rasulullah ﷺ ditanya perihalnya, beliau ﷺ menjawab: ‘Sesungguhnya dia telah bersungguh-sungguh dan berdoa pada bulan Rajab.’ Semua ini merupakan KEDUSTAAN dan KEBOHONGAN. Haram hukumnya membacakan dan melariskan riwayatnya, kecuali untuk menjelaskan kedustaannya. Sungguh sangat mengherankan kami, tatkala para jebolan al-Azhar membacakan kisah-kisah palsu seperti ini kepada khalayak.”

Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullahu ta’ala berkata: “Malam Isra Miraj tidak diketahui waktu terjadinya. Karena seluruh riwayat tentangnya TIDAK ADA YANG SHAHIH menurut para pakar ilmu hadis. Di sisi Allah-lah hikmah di balik semua ini. Kalaulah memang diketahui waktunya, tetap tidak boleh bagi kaum Muslimin mengkhususkannya dengan ibadah dan perayaan. Sebab hal itu tidak pernah dilakukan Nabi ﷺ dan para sahabatnya. Seandainya disyariatkan, pastilah Nabi ﷺ menjelaskannya kepada umat, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan…”

Kemudian beliau (Syaikh Bin Baz rahimahullahu ta’ala) berkata: “Dengan penjelasan para ulama beserta dalil-dalil dari Alquran dan Hadis, sudah cukup bagi para pencari kebenaran mengingkari bid’ah malam Isra Miraj, yang memang bukan dari Islam secuil pun … Sungguh amat menyedihkan, bid’ah ini meruyak di segala penjuru negeri Islam, sehingga diyakini sebagian orang, bahwa perayaan tersebut merupakan agama. Kita berdoa kepada Allah ta’ala, agar memerbaiki keadaan kaum Muslimin semuanya, dan memberi karunia kepada mereka, berupa ilmu agama dan taufik serta istiqamah di atas kebenaran.”

Demikian juga amalan yang tidak ada dasarnya yang shahih adalah shalat yang disebut dengan shalat Malam Isra Miraj, karena ini adalah shalat yang bid’ah, tidak ada dasarnya sama sekali dalam hadis yang shahih, sebagaimana ditegaskan oleh al-Fairuz Abadi dalam Khatimah Sifri Sa’adah hlm. 150, al-Iraqi dalam Takhrij Ihya‘, Ibnul Himmat ad-Dimasyqi dalam at-Tankit wal Ifadah hlm. 97 dan ulama-ulama yang lainnya banyak sekali.

 

Dinukil dari tulisan Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi yang berjudul: “KEAJAIBAN PERISTIWA ISRA‘ MI’RAJ”.

Sumber: http://abiubaidah.com/keajaiban-peristiwa-isra-miraj.html/