Posts

, ,

FUTUR LAGI, FUTUR LAGI

FUTUR LAGI, FUTUR LAGI

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

FUTUR LAGI, FUTUR LAGI

Memang …
Tak selamanya iman itu naik …
Kadang di hari ini semangat beramal …
Esoknya menjadi lemah …
Hari ini terasa khusyu membaca Alquran …
Lusa dihantui oleh futur …
Duh …
Tapi semua itu akan selalu ada …
 
Dalam sebuah hadis:
 
لكل عمل شرة ولكل شرة فترة فمن كانت فترته إلى السنة فقد اهتدى ومن كانت فترته إلى غير ذلك فقد هلك
Ingatlah, setiap amal itu pasti ada masa semangatnya. Dan setiap masa semangat itu pasti ada masa futur (malasnya). Barang siapa yang kemalasannya masih dalam koridor sunnah (petunjuk) Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam, maka dia berada dalam petunjuk. Namun barang siapa yang keluar dari petunjuk tersebut, maka ia binasa.”
 
Futur menuju sunnah …
Berpindah dari satu amal kepada amal lain …
Di saat futur untuk membaca Alquran..
Beralih kepada zikir …
Di saat futur untuk berinfak …
Beralih kepada shaum …
 
Tapi di saat futur untuk menuntut ilmu …
Payah …
Karena ilmu itu pondasi amal …
Bagaimana bisa beramal Sunnah …
Sementara pondasi telah rapuh …
 
Futur …
Adalah parasit bagi pencari Surga …
 
Silakan disebarkan. Mudah-mudah Anda mendapatkan bagian dari pahalanya.
 
Barakallah fikum.
Ditulis oleh: Ustadz Badru Salam, Lc. حفظه الله تعالى
 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

#adabakhlak #tazkiyatunnufus #malas #futur #koridorSunnah #futurlagifuturlagi #semangat #bersemangat

,

CITA-CITA YANG BESAR MEMBUTUHKAN SEMANGAT YANG TINGGI DAN NIAT YANG BENAR

CITA-CITA YANG BESAR MEMBUTUHKAN SEMANGAT YANG TINGGI DAN NIAT YANG BENAR

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#NasihatUlama

CITA-CITA YANG BESAR MEMBUTUHKAN SEMANGAT YANG TINGGI DAN NIAT YANG BENAR

Barang siapa yang kehilangan keduanya, maka ia mustahil untuk mendapatkannya.
Semangat yang tinggi, tergantung pada niatnya itu sendiri, bukan kepada selainnya.
Jika niatnya benar, maka seorang hamba telah menempuh jalan yang menjadi perantara kepada semangat yang tinggi.
Maka, pada niat terdapat jalan, dan pada semangat yang tinggi terdapat harapan.
[Ibnul Qoyyim – Al Fawaid]

Jika cita-cita mu setinggi Surga, maka semangat dan niatmu pun harus sejujur dan setinggi itu pula.
Sumber: @kemuslimahan_ypia

 

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

,

SAMBUTLAH WAKTU PAGIMU

SAMBUTLAH WAKTU PAGIMU

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

SAMBUTLAH WAKTU PAGIMU

 

اللهم بارك لأمتى فى بكورها

 

“YA ALLAH BERIKANLAH KEBERKAHAN UNTUK UMATKU DI WAKTU PAGI MEREKA.“ [HR At Thabrani dalam Al Aushat: 771 dan disahihkan oleh syaikh Al Albany]

Begitulah doa yang diucapkan oleh Rasul yang mulia ﷺ, untuk mereka yang melakukan aktivitasnya di pagi hari. Tentunya sudah sepantasnya bagi seorang Muslim untuk menggunakan waktu yang mulia ini untuk yang terbaik dalam kehidupannya.

Apa yang dilakukan oleh seseorang di awal harinya, akan menentukan keadaan akhir harinya. Sehingga datang sebuah hadis dalam Sahih Muslim dari Abdullah bin Mas’ud, bahwa beliau selalu bertasbih di pagi hari sampai terbit matahari. Ketika matahari terbit beliau mengatakan:

الحمد لله الذي أقالنا يومنا هذا، ولم يؤاخذنا بذنوبنا

“Segala puji hanya milik Allah yang telah menjagaku di hari ini, dan tidak menyiksaku dengan dosa dosaku”.

Mari kita lihat bagaimana Abdullah bin Mas’ud menganggap dirinya telah dijaga oleh Allah di harinya, padahal beliau baru melewati waktu paginya. Hal ini menunjukkan, bahwa siapa yang menjaga di waktu paginya, maka Allah akan menjaga sisa di hari tersebut.

Oleh karena itu para ulama salaf terdahulu, mereka berusaha untuk tidak tidur setelah Subuh, walaupun mereka sangat lelah. Kemudian mereka berzikir dan bertasbih sampai terbit matahari, baru mereka tidur.

Subhanallah.

Berikut adalah keutamaan yang akan diraih oleh mereka yang selalu menjaga waktu pagi mereka dengan ketaatan:

  1. Mendapatkan keutamaan Qabliyah Subuh dan shalat Subuh secara berjamaah. Rasulullah ﷺ bersabda:

ركعتا الفجر خير من الدنيا وما فيها

“Dua rakaat sebelum Subuh itu lebih baik dari dunia dan seisinya.” [HR muslim]

Beliau ﷺ juga bersabda:

لن يلج النار أحد صلى قبل طلوع الشمس وقبل غروبها يعني الفجر والعصر

“Tidak akan masuk Neraka seorang yang shalat sebelum terbit matahari, dan sebelum tenggelam [Subuh dan Ashar]. [HR Muslim dari Sahabat Umarah Bin Ruwaibah]

  1. Mendapatkan barakah doanya Rasulullah ﷺ, sebagaimana disebutkan dalam hadis di atas. Sehingga ada seorang sahabat yang selalu mengirimkan perniagaan di pagi hari, sehingga dia menjadi kaya dan banyak hartanya.

Berkata Syaikh Bin Ustaimin rahimahullah:

“Itu semua dikarenakan, bahwa waktu siang adalah waktu yang Allah menjadikannya sebagai tempat untuk mencari nafkah. Sehingga jika seseorang menyambut waktu siang dengan bergegas melakukan aktivitas di waktu pagi, maka dia akan mendapatkan berkah. Namun kebanyakan dari kita melewatkan kesempatan yang mulia ini, sehingga mereka tertidur di waktu pagi, dan tidak terbangun, kecuali di waktu Dhuha, sehingga terluputkan keberkahan di waktu pagi . Selesai dari Syarh Riyadhussalihin.

Berkata Al Imam An Nawawi: Disunnahkan bagi mereka yang memiliki tugas seperti membaca atau belajar ilmu syari atau tasbih atau i’tikaf , atau pekerjaan, maka hendaknya melakuannya di awal pagi. [Lihat Faidhul Qadir Syarh Jami’ As Saghir]

  1. Mendapatkan waktu dibaginya rezeki

Abdullah bin Abbas pernah melihat seorang tertidur di waktu pagi, lalu beliau berkata kepadanya: Bangunlah engkau. Apakah engkau tertidur di waktu yang dibagikan di dalamnya rezeki? “

[Lihat Adab As Syariyyah karya ibnu muflih]

Semoga Allah selalu memberikan semangat untuk melakukan aktivitas kita semua di waktu pagi.

Wallahu A’lam bishowab.

 

Penulis: Al-Ustadz Abu Abdillah Imam hafizhahullah

Sumber: http://www.el-imam.com/2015/10/sambutlah-waktu-pagimu.html

, ,

TETAP BERUSAHA PUASA MESKI SEDANG SAKIT

TETAP BERUSAHA PUASA MESKI SEDANG SAKIT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatPuasaNabi
#SeriPuasaRamadan

TETAP BERUSAHA PUASA MESKI SEDANG SAKIT

Pertanyaan:

Mumpung Ramadan, rasanya sayang untuk tidak puasa, meski sedang sakit. Bolehkah perbuatan semacam ini?

Jawaban:

Apabila puasa akan semakin memberatkan diri dan kesehatannya, maka yang paling bagus dia tidak berpuasa. Tidak puasa saat sakit merupakan salah satu keringanan yang Allah subhanahu wa ta’ala berikan pada hamba-hamba-Nya, dan Allah subhanahu wa ta’ala suka jika keringanan yang Dia berikan, digunakan oleh si hamba. Dalam hadis yang shahih, Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ أَنْ تُؤْتَى رُخَصُهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ تُؤْتَى مَعْصِيَتُهُ

“Sesungguhnya Allah menyukai jika keringanan-keringanan yang Dia berikan dijalankan, sebagaimana halnya Dia benci jika larangan-Nya dilanggar.” [HR. Ahmad (5866) dan Ibnu Hibban (2742). Dinilai shahih oleh asy-Syaikh Muhammad Nashir demikian pula Muhaqqiq Musnad].

Kesimpulan masalah diterangkan oleh Pakar Fikih abad ini, asy-Syaikh Muhammad bin Shaalih al-‘Utsaimiin rahimahullah:

إذا كان يشق عليه الصوم ولا يضره، فهذا يكره له أن يصوم، ويسن له أن يفطر . . . وإذا كان يشق عليه الصوم ويضره، كرجل مصاب بمرض الكلى أو مرض السكر، وما أشبه ذلك، فالصوم عليه حرام

“Jika dia merasa berat puasa lantaran sakit, namun tidak sampai membahayakan, maka makruh jika dia puasa dan sunnah hukumnya dia berbuka. Sedang jika dia berat untuk puasa dan bahkan bisa membahayakan dirinya andaikata puasa, seperti halnya orang yang terkena penyakit liver atau diabetes, maka hukum puasanya haram.” [Asy-Syarh al-Mumti’: VI/341]

Sehingga BUKAN perkara terpuji, bilamana dia sakit berat, namun tetap memaksa berpuasa. Asy-Syaikh Muhammad bin Shaalih al-‘Utsaimiin rahimahullah juga mengatakan:

وبهذا نعرف خطأ بعض المجتهدين من المرضى الذين يشق عليهم الصوم وربما يضرهم، ولكنهم يأبون أن يفطروا فنقول: إن هؤلاء قد أخطأوا حيث لم يقبلوا كرم الله ـ عزّ وجل ـ، ولم يقبلوا رخصته، وأضروا بأنفسهم، والله ـ عزّ وجل ـ يقول: {وَلاَ تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ} [النساء: ٢٩

“Dengan penjelasan ini kita mengetahui kekeliruan sebagian orang sakit yang semangat untuk puasa, padahal puasa itu memberatkan, dan bahkan bisa menimbulkan bahaya atas dirinya, yaitu mereka enggan untuk tidak puasa. Kami katakan: ‘Sesungguhnya orang-orang semacam itu telah keliru, saat mereka tidak menerima kebaikan dan keringanan dari Allah subhanahu wa ta’ala. Dan itu juga berarti mereka telah menimpakan mudarat pada diri mereka sendiri! Padahal Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَلاَ تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُم

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” [QS. an-Nisaa’: 29) (Idem, VI/342]

 

Rangkaian tulisan seputar puasa dalam Majmu’ah al-Mubarakah ini dikumpulkan oleh: Abdush Shamad Tenggarong -Semoga Allah menjaganya dan meluruskan tiap langkahnya-

Sumber: http://nasehatetam.com/read/310/tetap-berusaha-puasa-meski-sakit#sthash.X3q3juGy.dpuf

 

APAKAH KITA LEBIH SEMANGAT MENCARI ILMU AGAMA ATAU MENCARI MAKAN?

APAKAH KITA LEBIH SEMANGAT MENCARI ILMU AGAMA ATAU MENCARI MAKAN?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MenuntutIlmuSyari

APAKAH KITA LEBIH SEMANGAT MENCARI ILMU AGAMA ATAU MENCARI MAKAN?

Al-Imam Ahmad rahimahullah berkata:

النَّاسُ إِلَى الْعِلْمِ أَحْوَجُ مِنْهُمْ إِلَى الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ لِأَنَّ الرَّجُلَ يَحْتَاجُ إِلَى الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ فِي الْيَوْمِ مَرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ وَحَاجَتُهُ إِلَى الْعِلْمِ بِعَدَدِ أَنْفَاسِهِ

“Manusia lebih membutuhkan ilmu daripada makanan dan minuman. Karena seseorang butuh makan dan minum dalam sehari hanya satu atau dua kali, sedang kebutuhannya terhadap ilmu adalah sebanyak hembusan nafasnya.” [Madaarijus Saalikin, 2/440]

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/771982642951220:0

HAK BERTETANGGA SESUAI SUNNAH

HAK BERTETANGGA SESUAI SUNNAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

HAK BERTETANGGA SESUAI SUNNAH

Bismillah, was sholatu was salamu ‘ala Rosulillah, amma ba’du,

Di antara bukti bahwa Islam adalah agama yang menjadi rahmat bagi seluruh alam adalah, Islam mengajarkan kepada umat manusia untuk berbuat baik kepada sesama, terutama kepada orang yang memiliki hubungan dekat dengan kita. Di antaranya adalah berbuat baik kepada tetangga. Hubungan tetangga menjadi penting, karena tetangga memiliki hak yang lebih dibandingkan lainnya. Tidak heran jika ada beberapa ulama yang menulis buku khusus membahas tentang tetangga, seperti Imam al-Humaidi (w. 219 H) dan Abu Nuaim al-Asbahani (w. 430 H), yang menulis satu kumpulan hadis khusus tentang tetangga, kemudian ad-Dzahabi (w. 748 H), beliau memiliki buku khusus berjudul, Haqqul Jiwar (Hak bertetangga), dan buku ini sudah diterbitkan.

Hak Bertetangga dalam Alquran

Allah berpesan dalam Alquran:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

“Beribadahlah kepada Allah dan jangan menyekutukannya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak yatim,  orang miskin, tetangga atau kerabat dekat, tetangga atau kerabat jauh, rekan di perjalanan, Ibnu Sabil, dan kepada budak yang kalian miliki. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan apa yang dia miliki.” (QS. An-Nisa: 36).

Setelah menjelaskan banyak hal tentang ayat ini, al-Qurthubi mengatakan:

“Oleh karena itu, bersikap baik kepada tetangga adalah satu hal yang diperintahkan dan ditekankan, baik dia Muslim maupun kafir. Dan itulah pendapat yang benar.” (Tafsir al-Qurthubi, 5:184)

Hadis-hadis Tentang Bertetangga

Di antaranya adalah:

  1. Larangan Keras Mengganggu Tetangga
  2. Wasiat Jibril untuk Memerhatikan Tetangga
  3. Mengganggu Tetangga Halal untuk Dilaknat
  4. Menumbuhkan Semangat Berbagi Dengan Tetangga
  5. Tidak Mengganggu Tetangga Bagian Dari Iman
  6. Tidak Ada Istilah Sedikit Dalam Mengganggu Tetangga
  7. Tetangga yang Baik Akan Menjadi Lambang Kebahagiaan atau Kesengsaraan
  8. Menyakiti Tetangga Lebih Besar Dosanya
  9. Bersikap Baik kepada Tetangga, Tanda Muslim Sejati
  10. Jangan Biarkan Tetangga Anda Kelaparan
  11. Larangan Meremehkan Pemberian Tetangga, Meskipun Kelihatannya Kurang Berarti
  12. Paling Dekat Pintunnya, Paling Berhak Mendapat Lebih Banyak
  13. Berlindung Dari Tetangga Yang Buruk
  14. Sengketa Tetangga, Sengketa Pertama di Akhirat
  15. Menyakiti Tetangga Merupakan Sebab Masuk Neraka
  16. Berusaha Bersabar dengan Gangguan Tetangga
  17. Tetangga Menjadi Saksi

Yang berikut ini adalah perinciannya:

  1. Larangan Keras Mengganggu Tetangga

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

“Tidak akan masuk Surga, orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya.” (HR. Bukhari 6016 dan Muslim 46).

Berikan jaminan, bahwa tetangga Anda merasa nyaman dengan keberadaan Anda sebagai tetangganya. Hati-hati, jangan sampai menjadi tukang gosip tetangga, sehingga membuat tetangga Anda selalu tidak nyaman ketika bertindak di hadapan Anda, karena takut dijadikan bahan gosip.

  1. Wasiat Jibril untuk Memerhatikan Tetangga

Dari A’isyah radhiyallahu ‘anha, Nabi ﷺ menuturkan:

مَا زَالَ يُوصِينِي جِبْرِيلُ بِالْجَارِ، حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ

“Jibril selalu berpesan kepadaku untuk berbuat baik kepada tetangga, sampai aku mengira, tetangga akan ditetapkan menjadi ahli warisnya.” (HR. Bukhari 6014 dan Muslim 2624).

Pesan yang sangat penting, diberikan oleh Malaikat terbaik (Jibril ‘alaihis salam) kepada manusia terbaik (Rasul Muhammad ﷺ).

  1. Mengganggu Tetangga Halal untuk Dilaknat

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menceritakan:

Ada seorang yang mengadu kepada Nabi ﷺ tentang kezaliman yang dilakukan tetangganya. Setiap kali orang ini mengadu, selalu dinasihatkan oleh beliau ﷺ untuk bersabar. Ini dilakukan sampai tiga kali. Sampai pengaduan yang keempat, Nabi ﷺ memberikan solusi:

اطْرَحْ مَتَاعَكَ فِي الطَّرِيقِ

“Letakkan semua isi rumahmu di pinggir jalan.”

Orang ini pun melakukannya.

Setiap ada orang yang melewati orang ini, mereka bertanya: “Apa yang terjadi denganmu (sampai kamu keluarkan isi rumahmu)?” Dia menjawab: “Tetanggaku menggangguku.” Mendengar jawaban ini, setiap orang yang lewat pun mengucapkan: “Semoga Allah melaknatnya!”, sampai akhirnya tetangga pengganggu itu dating. Dia mengiba: “Masukkan kembali barangmu. Demi Allah, saya tidak akan mengganggumu selamanya.” (HR. Ibnu Hibban 520, Syuaib al-Arnauth menyatakan: Sanadnya kuat).

  1. Menumbuhkan Semangat Berbagi dengan Tetangga

Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu mengatakan: “Sesungguhnya kekasihku (Rasulullah ﷺ), mewasiatkan kepadaku:

إِذَا طَبَخْتَ مَرَقًا فَأَكْثِرْ مَاءَهُ، ثُمَّ انْظُرْ أَهْلَ بَيْتٍ مِنْ جِيرَانِكَ، فَأَصِبْهُمْ مِنْهَا بِمَعْرُوفٍ

“Apabila kamu memasak, perbanyaklah kuahnya. Kemudian perhatikan penghuni rumah tetanggamu, dan berikan sebagian masakan itu kepada mereka dengan baik.” (HR. Muslim)

  1. Tidak Mengganggu Tetangga Bagian dari Iman

Dari Abu Hurairah, nabi ﷺ bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلاَ يُؤْذِي جَارَهُ

“Siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka janganlah dia mengganggu saudaranya.” (HR. Bukhari 5185 dan Muslim 47).

  1. Tidak Ada Istilah Sedikit dalam Mengganggu Tetangga

Dari Abdah bin Abi Lubabah rahimahullah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا قَلِيلَ مِن أَذَى الجَار

“Tidak ada istilah sedikit dalam mengganggu tetangga.” (HR. Ibn Abi Syaibah dengan sanad Shahih namun Mursal. Dan dalam riwayat Thabrani secara mausul dari Umu Salamah. Syaikh Ali al-Halabi mengatakan: “Hadis ini Hasan”).

  1. Tetangga yang Baik Akan Menjadi Lambang Kebahagiaan atau Kesengsaraan

Dari Sa’d bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

أَرْبَعٌ مِنَ السَّعَادَةِ: الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، وَالْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ، وَالْجَارُ الصَّالِحُ، وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيءُ، وَأَرْبَعٌ مِنَ الشَّقَاوَةِ: الْجَارُ السُّوءُ، وَالْمَرْأَةُ السوء، والمسكن الضيق، والمركب السوء

“Empat hal yang menjadi sumber kebahagiaa: Istri solihah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang baik, dan kendaraan yang nyaman. Empat hal sumber kesengsaraan: tetangga yang buruk, istri yang durhaka, tempat tinggal yang sempit, dan kendaraan yang tidak nyaman.” (HR. Ibn Hibban 4032 dan sanadnya dinilai Shahih oleh Syuaib al-Arnauth).

  1. Menyakiti Tetangga Lebih Besar Dosanya

Dari Miqdad bin Aswad radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

لَأَنْ يَزْنِيَ الرَّجُلُ بِعَشْرَةِ نِسْوَةٍ، أَيْسَرُ عَلَيْهِ مِنْ أَنْ يَزْنِيَ بِامْرَأَةِ جَارِهِ

لَأَنْ يَسْرِقَ الرَّجُلُ مِنْ عَشْرَةِ أَبْيَاتٍ، أَيْسَرُ عَلَيْهِ مِنْ أَنْ يَسْرِقَ مِنْ جَارِهِ

“Seseorang yang berzina dengan 10 wanita, dosanya lebih ringan dibandingkan dia berzina dengan satu orang istri tetangganya. Seseorang yang mencuri 10 rumah, dosanya lebih besar dibandingkan dia mencuri satu rumah tetangganya.” (HR. Ahmad 23854 dan dinyatakan Syuaib Al-Arnauth, sanadnya Bagus).

  1. Bersikap Baik kepada Tetangga, Tanda Muslim Sejati

Dari Abu hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ berpesan:

كُنْ وَرِعًا، تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ، وَكُنْ قَنِعًا، تَكُنْ أَشْكَرَ النَّاسِ، وَأَحِبَّ لِلنَّاسِ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ، تَكُنْ مُؤْمِنًا، وَأَحْسِنْ جِوَارَ مَنْ جَاوَرَكَ، تَكُنْ مُسْلِمًا…

“Jadilah orang yang wara’. Kamu akan menjadi manusia ahli ibadah. Jadilah orang yang qanaah, kamu akan menjadi orang yang paling rajin bersyukur. Berikanlah yang terbaik untuk orang lain, sebagaimana kamu memberikan yang terbaik untuk dirimu, niscaya kamu menjadi Mukmin sejati. Bersikaplah yang baik kepada tetangga, kamu akan menjadi Muslim sejati…” (HR. Ibn Majah 4217 dan diShahihkan al-Albani)

  1. Jangan Biarkan Tetangga Anda Kelaparan

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ الَّذِي يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ

“Bukanlah Mukmin sejati, orang yang kenyang, sementara tetangga di sampingnya kelaparan.” (HR. Abu Ya’la dalam Musnadnya, dan sanadnya dinilai Hasan oleh Husain Salim Asad)

Al-Albani mengatakan:

وفي الحديث دليل واضح على أنه يحرم على الجار الغني أن يدع جيرانه جائعين، فيجب عليه أن يقدم إليهم ما يدفعون به الجوع، وكذلك ما يكتسون به إن كانوا عراة، ونحو ذلك من الضروريات

Dalam hadis ini terdapat dalil yang tegas, bahwa haram bagi orang yang kaya untuk membiarkan tetangganya dalam kondisi lapar. Karena itu, dia wajib memberikan makanan yang cukup untuk mengenyangkan, kepada tetangganya. Demikian pula dia wajib memberikan pakaian kepada tetangganya, jika mereka tidak punya pakaian, dan seterusnya, berlaku untuk semua kebutuhan pokok tetangga. (Silsilah As-Shahihah, 1:280)

  1. Larangan Meremehkan Pemberian Tetangga, Meskipun Kelihatannya Kurang Berarti

Pesan ini pernah disampaikan Nabi ﷺ kepada umatnya, terutama kaum perempuan. Mungkin karena merekalah yang umumnya memiliki sikap seperti itu. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

يَا نِسَاءَ المُسْلِمَاتِ، لاَ تَحْقِرَنَّ جَارَةٌ لِجَارَتِهَا، وَلَوْ فِرْسِنَ شَاةٍ

“Wahai para wanita Muslimah, janganlah satu tetangga meremehkan pemberian tetangga yang lainnya, meskipun hanya kikil yang tak berdaging.” (HR. Bukhari 2566 dan Muslim 1030).

  1. Paling Dekat Pintunnya, Paling Berhak Mendapat Lebih Banyak

Dari A’isyah radhiyallahu ‘anha, beliau bertanya kepada Nabi ﷺ: “Wahai Rasulullah, saya memiliki dua tetangga dekat. Ke manakah saya akan memberikan hadiah?” Beliau ﷺ menjawab:

إِلَى أَقْرَبِهِمَا مِنْكِ بَابًا

“Ke rumah yang paling dekat pintunya denganmu.” (HR. Bukhari 2259)

  1. Berlindung dari Tetangga Yang Buruk

Nabi ﷺ memerintahkan agar kita memohon perlindungan kepada Allah, dari tetangga yang buruk. Ini menunjukkan betapa bahayanya tetangga yang buruk, sampai manusia terbaik menyarankan doa ini dilantunkan. Dari Abu hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ berpesan:

تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ، مِنْ جَارِ السَّوْءِ فِي دَارِ الْمُقَامِ، فَإِنَّ جَارَ الْبَادِيَةِ يَتَحَوَّلُ عَنْكَ

“Mintalah perlindungan kepada Allah dari tetangga yang buruk di tempat tinggal menetap, karena tetangga yang tidak menetap, akan berpindah dari kampungmu.” (HR. Nasa’i 5502 dan dinilai al-Albani sebagai hadis Hasan Shahih).

  1. Sengketa Tetangga, Sengketa Pertama di Akhirat

Dari uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

أَوَّلُ خَصْمَيْنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ جَارَانِ

“Sengketa pertama pada Hari Kiamat adalah sengketa antar tetangga.” (HR. Ahmad 17372 dan dinilai Hasan oleh Syuaib al-Arnauth)

Al-Munawi mengatakan:

أي أول خصمين يقضى بينهما يوم القيامة جاران آذى أحدهما صاحبه اهتماماً بشأن حق الجوار الذي حث الشرع على رعايته

“Maksud hadis sengketa antara dua orang yang pertama diputuskan pada Hari Kiamat, adalah sengketa dua orang bertetangga. Yang satu menyakiti lainnya. Sebagai bentuk perhatian besar tentang hak tetangga, yang dimotivasi oleh syariat untuk diperhatikan.” (At-Taisir bi Syarh al-Jami’ ash-Shaghir, 1:791).

  1. Menyakiti Tetangga Merupakan Sebab Masuk Neraka

Serajin apapun seseorang dalam beribadah, namun dia suka menyakiti tetangga, dia terancam Neraka. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa ada seseorang yang melapor kepada Nabi ﷺ: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya wanita itu rajin shalat, rajin sedekah, rajin puasa, namun dia suka menyakiti tetangga dengan lisannya.” Nabi ﷺ berkomentar:

“Dia di Neraka.”

Para sahabat bertanya lagi: “Ada wanita yang dikenal jarang berpuasa sunah, jarang shalat sunah, dan dia hanya bersedekah dengan potongan keju. Namun dia tidak pernah menyakiti tetangganya.” Rasulullah ﷺ mengatakan:

“Dia Ahli Surga.” (HR. Ahmad 9675 dan Syuaib Al-Arnauth mengatakan: Sanadnya Hasan).

  1. Berusaha Bersabar dengan Gangguan Tetangga

Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

ثَلَاثَةٌ يُحِبُّهُمُ اللهُ… وَالرَّجُلُ يَكُونُ لَهُ الْجَارُ يُؤْذِيهِ جِوَارُهُ، فَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُ حَتَّى يُفَرِّقَ بَيْنَهُمَا مَوْتٌ أَوْ ظَعْنٌ

“Tiga orang yang Allah cintai…., orang yang memiliki tetangga, dan tetangganya suka menyakitinya. Dia pun bersabar terhadap gangguannya, sampai dipisahkan dengan kematian atau safar.” (HR. Ahmad dan dinilai Shahih oleh Syuaib al-Arnauth).

  1. Tetangga Menjadi Saksi

Merekalah manusia yang paling banyak menyaksikan aktivitas kita, sehingga penilaian mereka bisa mewakili kepribadian dan perilaku kita. Dari Ibn mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa ada seorang yang bertanya kepada Nabi ﷺ: “Bagaimana saya bisa mengetahui, apakah saya orang baik ataukah orang jahat?” Beliau ﷺ menjawab:

إِذَا قَالَ جِيرَانُكَ: قَدْ أَحْسَنْتَ، فَقَدْ أَحْسَنْتَ، وَإِذَا قَالُوا: إِنَّكَ قَدْ أَسَأْتَ، فَقَدْ أَسَأْتَ

“Jika tetanggamu berkomentar kamu orang baik, maka berarti engkau orang baik. Sementara jika mereka berkomentar engkau orang tidak baik, berarti kamu tidak baik.” (HR. Ahmad 3808, Ibn Majah 4223 dan dishahihkan al-Albani)

Yang dimaksud komentar tetangga di sini adalah komentar dari tetangga yang baik, saleh dan memerhatikan aturan syariat. (At-Taisir Syarh Jamius Shaghir, 1:211).

 

Penulis: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/16964-hak-bertetangga.html

,

FIRASAT DAN NASIHAT ULAMA JAUH SEBELUM TERJADI REVOLUSI DI IRAK, LIBIA DAN SURIAH

FIRASAT DAN NASIHAT ULAMA JAUH SEBELUM TERJADI REVOLUSI DI IRAK, LIBIA DAN SURIAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama

FIRASAT DAN NASIHAT ULAMA JAUH SEBELUM TERJADI REVOLUSI DI IRAK, LIBIA DAN SURIAH

Bukan hendak membela orang kafir dan orang zalim, bukan pula untuk mencela kaum Muslimin yang menjadi korban, tapi untuk memetik hikmah dan pelajaran dari Revolusi Arab.

Al-Imam Al-‘Allaamah Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullah, salah seorang ulama besar Ahlus Sunnah wal Jamaah yang wafat  2001 telah mengingatkan:

“Kami tidak mengajak kepada revolusi dan kudeta, karena akibat buruknya akan menimpa kaum Muslimin;

Demi Allah, kami tidak ingin terjadi revolusi di Irak, karena akan menumpahkan darah kaum Muslimin.

Kami tidak ingin terjadi revolusi di Libia, karena dampak buruknya akan menimpa orang-orang yang lemah.

Demikian pula kami tidak ingin terjadi revolusi di Suriah, karena akibat buruknya akan menimpa kaum Muslimin.” [Fadhooih wa Nashooih, hal. 106]

Inilah teladan ulama Ahlus Sunnah yang sangat sayang kepada kaum Muslimin serta berpandangan JAUH KE DEPAN.

Para ulama Ahlus Sunnah berfatwa tidaklah hanya bermodal semangat dan emosi terhadap pemimpin yang zalim atau kafir, tapi menimbang sejauh mana maslahat dan mudarat yang akan menimpa kaum Muslimin.

Maka ambillah pelajaran dan sadarlah wahai saudaraku yang menyerukan revolusi dan kudeta, jangan engkau korbankan darah kaum Muslimin, terutama kaum wanita, anak-anak dan orang-orang yang lemah.

Dan marilah kita doakan kaum Muslimin yang tertindas, khususnya yang terjadi saat ini di Aleppo, semoga Allah ‘azza wa jalla menolong kaum Muslimin atas orang-orang kafir komunis Rusia dan Syiah Iran, Suriah dan Lebanon yang membantai mereka.

Dan jangan lupa wahai saudaraku rahimakumullaah, sisihkan sebagian hartamu untuk membantu mereka.

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/718881828261302

,

APA DEFINISI ULIL AMRI? APAKAH PEMERINTAH INDONESIA BUKAN ULIL AMRI?

APA DEFINISI ULIL AMRI? APAKAH PEMERINTAH INDONESIA BUKAN ULIL AMRI?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

#DakwahManhaj

APA DEFINISI ULIL AMRI? APAKAH PEMERINTAH INDONESIA BUKAN ULIL AMRI?

Pemerintah negeri ini, presiden negeri ini beragama Islam. Maka beliau adalah ULIL AMRI.

Orang yang mengatakan presiden RI saat ini bukanlah Ulil Amri, maka dia telah terkena pemikiran atau syubhat TAKFIRI.

Akibat fatal pemikirab takfiri ini adalah bolehnya memberontak pada penguasa negeri ini. Ini sungguh pemahaman yang SANGAT KELIRU.

Apa definisi Ulil Amri? Apakah Pemerintah Indonesia Bukan Ulil Amri? Bagi yang belum paham makna Ulil Amri, silakan baca yang berikut ini:

Kewajiban Menaati Ulil Amri

Allah ta’ala berfirman (yang artinya):

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul, serta Ulil Amri di antara kalian. Kemudian apabila kalian berselisih tentang suatu perkara, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul, jika kalian beriman kepada Allah dan Hari Akhir. Hal itu adalah yang terbaik untuk kalian, dan paling bagus dampaknya.” (QS. an-Nisaa’: 59).

Ayat yang mulia ini mengandung pelajaran:

  1. Terdapat perbedaan penafsiran mengenai makna Ulil Amri. Abu Hurairah radhiyallahu’anhu sebagaima diriwayatkan oleh Ibnu Jarir ath-Thabari dengan sanad Shahih, beliau berkata: “Mereka, yaitu Ulil Amri, adalah para pemimpin/pemerintah.”

Penafsiran serupa juga diriwayatkan dari Maimun bin Mihran dan yang lainnya. Sedangkan Jabir bin Abdullah berkata, bahwa mereka itu adalah para ulama dan pemilik kebaikan.

Mujahid, Atha’, al-Hasan, dan Abul Aliyah mengatakan, bahwa yang dimaksud adalah para ulama.

Mujahid juga mengatakan, bahwa yang dimaksudkan adalah para sahabat.

Pendapat yang dikuatkan oleh Imam asy-Syafi’i adalah pendapat pertama, yaitu maksud Ulil Amri adalah para pemimpin/pemerintah (lihat Fath al-Bari [8/106] pdf).

Oleh sebab itu an-Nawawi rahimahullah membuat judul bab untuk hadis Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma mengenai tafsir ayat ini dengan judul ‘Kewajiban taat kepada pemerintah selama bukan dalam kemaksiatan dan diharamkannya hal itu dalam perbuatan maksiat’. Kemudian beliau menukilkan ijma’/konsensus para ulama tentang wajibnya hal itu (lihat Syarh Muslim [6/467]).

Adapun pendapat yang dikuatkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah, bahwa kandungan ayat ini mencakup kedua kelompok tersebut; yaitu ulama maupun umara/pemerintah, dikarenakan kedua penafsiran ini sama-sama terbukti Shahih dari para sahabat (lihat adh-Dhau’ al-Munir ‘ala at-Tafsir [2/235 dan 238] pdf)

  1. Wajibnya menaati pemerintah Muslim selama bukan dalam rangka maksiat. Hal ini sebagaimana telah ditegaskan oleh Rasul ﷺ dalam hadis Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, beliau ﷺ bersabda: “Wajib atasmu untuk mendengar dan taat, dalam kondisi susah maupun mudah, dalam keadaan semangat ataupun dalam keadaan tidak menyenangkan, atau bahkan ketika mereka itu lebih mengutamakan kepentingan diri mereka di atas kepentinganmu.” (HR. Muslim, lihat Syarh Muslim [6/469])
  1. Ketaatan kepada pemerintah Muslim ini dibatasi dalam hal ketaatan/perkara ma’ruf saja, sedangkan dalam perkara maksiat, maka tidak diperbolehkan. Hal ini berdasarkan hadis Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda: “Wajib atas setiap individu Muslim untuk selalu mendengar dan patuh dalam apa yang dia sukai ataupun yang tidak disukainya, kecuali apabila dia diperintahkan untuk melakukan maksiat. Maka apabila dia diperintahkan untuk melakukan maksiat, maka tidak boleh mendengar dan tidak boleh patuh.” (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim [6/470]).

Demikian juga hadis Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidak ada ketaatan dalam rangka bermaksiat kepada Allah. Sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam perkara ma’ruf.” (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim [6/471])

  1. Kewajiban untuk mendengar dan taat kepada pemerintah Muslim ini juga dibatasi selama tidak tampak dari mereka kekufuran yang nyata. Apabila mereka melakukan kekufuran yang nyata, maka wajib untuk mengingkarinya dan menyampaikan kebenaran kepada mereka.

Adapun memberontak atau memeranginya, sezalim atau sefasik apapun mereka, maka tidak boleh, selama dia masih Muslim/tidak kafir (lihat Syarh Muslim [6/472-473], Fath al-Bari [13/11]).

Dalilnya adalah hadis Ubadah bin Shamit radhiyallahu’anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: “Kecuali apabila kalian melihat kekafiran yang nyata, dan kalian memiliki bukti kuat dari sisi Allah atas kesalahannya itu.” (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim [6/473]).

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Yang dimaksud dengan ‘Kalian memiliki bukti kuat dari sisi Allah atas kesalahannya itu’ adalah adanya dalil tegas dari ayat atau hadis Shahih yang tidak menerima takwil. Konsekuensinya, tidak boleh memberontak kepada mereka, apabila perbuatan mereka itu masih mengandung kemungkinan takwil.” (Fath al-Bari [13/10]).

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata: “… kecuali apabila kaum Muslimin telah melihat kekafiran yang nyata, yang mereka memiliki bukti kuat dari sisi Allah tentangnya, maka tidak mengapa melakukan pemberontakan kepada penguasa ini untuk menyingkirkannya, dengan syarat apabila mereka memunyai kemampuan yang memadai. Adapun apabila mereka tidak memiliki kemampuan itu, maka janganlah mereka memberontak. Atau apabila terjadi pemberontakan, dan diduga kuat akan timbul kerusakan yang lebih dominan, maka mereka tidak boleh memberontak, demi memelihara kemaslahatan masyarakat luas. Hal ini berdasarkan kaidah syariat yang telah disepakati menyatakan bahwa: ‘Tidak boleh menghilangkan keburukan dengan sesuatu yang menimbukkan akibat lebih buruk dari keburukan semula. Akan tetapi wajib menolak keburukan itu dengan sesuatu yang benar-benar bisa menyingkirkannya atau, minimal meringankannya.’…” (al-Ma’lum Min Wajib al-’Alaqah baina al-Hakim wa al-Mahkum, hal. 9-10)

  1. Wajib bagi orang-orang yang mampu, dari kalangan ulama atau yang lainnya, untuk menasihati penguasa Muslim yang melakukan penyimpangan dari hukum Allah dan Rasul-Nya ﷺ. Namun hal itu, menasihati penguasa, dilakukan tanpa menyebarluaskan aib-aib mereka di muka umum.

Hal itu sebagaimana disebutkan dalam hadis ‘Iyadh bin bin Ghunm radhiyallahu’anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa yang ingin menasihati penguasa, maka janganlah dia menampak hal itu secara terang-terangan/di muka umum. Akan tetapi hendaknya dia memegang tangannya seraya menyendiri bersamanya, lalu menasihatinya secara sembunyi. Apabila dia menerima nasihatnya, maka itulah yang diharapkan. Dan apabila dia tidak mau, maka sesungguhnya dia telah menunaikan kewajiban dirinya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Abi ‘Ashim dengan sanad Shahih, lihat al-Ma’lum, hal. 23, lihat juga perkataan asy-Syaukani dalam kitabnya as-Sail al-Jarar yang dikutip dalam kitab ini hal. 44)

  1. Wajibnya bersabar dalam menghadapi penguasa Muslim yang zalim kepada rakyatnya

Dari Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu’anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: “Akan ada para pemimpin/penguasa setelahku yang mengikuti petunjuk bukan dengan petunjukku, dan menjalankan sunnah namun bukan sunnahku. Dan akan ada di antara mereka orang-orang yang memiliki hati laksana hati setan yang bersemayam di dalam raga manusia.” Maka Hudzaifah pun bertanya: “Wahai Rasulullah, apa yang harus kulakukan jika aku menjumpainya?” Beliau ﷺ menjawab: “Kamu harus tetap mendengar dan taat kepada pemimpin itu, walaupun punggungmu harus dipukul dan hartamu diambil. Tetaplah mendengar dan taat.” (HR. Muslim, lihat Syarh Muslim [6/480]).

Dari Ummu Salamah radhiyallahu’anha, Rasulullah ﷺ bersabda: “Akan muncul para penguasa yang kalian mengenali mereka, namun kalian mengingkari kekeliruan mereka. Barang siapa yang mengetahuinya, maka harus berlepas diri, dengan hatinya, dari kemungkaran itu. Dan barang siapa yang mengingkarinya [minimal dengan hatinya, -pent], maka dia akan selamat. Akan tetapi yang berdosa adalah orang yang meridhainya, dan tetap menuruti kekeliruannya.”

Mereka, para sahabat, bertanya: “Apakah tidak sebaiknya kami memerangi mereka?”. Maka beliau ﷺ menjawab: “Jangan, selama mereka masih menjalankan sholat.” (HR. Muslim, lihat Syarh Muslim [6/485]).

Faidah: An-Nawawi rahimahullah mengatakan: “Di dalam hadis ini terkandung dalil yang menunjukkan, bahwa orang yang tidak mampu melenyapkan kemungkaran, tidak berdosa semata-mata karena dia TINGGAL DIAM. Akan tetapi yang berdosa adalah apabila dia meridhai kemungkaran itu atau tidak membencinya dengan hatinya, atau dia justru mengikuti kemungkarannya.” (Syarh Muslim [6/485])

Catatan Penting:

Sebagian orang terjerumus dalam kesalahan dalam menyikapi penguasa Muslim yang melakukan kekeliruan. Mereka menganggap demokrasi adalah haram, bahkan termasuk kemusyrikan. Karena di dalam konsep demokrasi rakyat menjadi sumber hukum dan kekuasaan ditentukan oleh mayoritas.

Di satu sisi mereka telah benar, yaitu mengingkari demokrasi yang hal itu termasuk dalam bentuk kekafiran dan kemusyrikan. Penjelasan lebih lengkap bisa dibaca dalam kitab Tanwir azh-Zhulumat karya Syaikh Muhammad bin Abdullah al-Imam hafizhahullah. Namun di sisi lain mereka telah melakukan kekeliruan yang sangat besar, yaitu serampangan dalam menjatuhkan vonis kafir kepada orang.

Biasanya mereka berdalil dengan ayat (yang artinya): “Barang siapa yang berhukum dengan selain hukum yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang kafir.” (QS. al-Ma’idah: 44).

Anggaplah demikian, bahwa mereka, yaitu pemerintah, telah berhukum dengan selain hukum Allah, meskipun sebenarnya pernyataan ini harus dikaji lebih dalam. Namun ada satu hal penting yang perlu diingat, dan perkara inilah yang mereka lalaikan, bahwa tidak semua orang yang berhukum dengan selain hukum Allah itu dihukumi kafir! Mereka juga berdalih dengan ucapan para ulama yang menyatakan ‘Setiap orang yang berhukum dengan selain hukum yang diturunkan Allah, maka dia adalah thaghut’ (lihat al-Qaul al-Mufid [2/74]).

Berdasarkan itulah mereka menyebut pemerintah negeri ini sebagai rezim thaghut dan kafir.Kemudian, sebagai imbas dari keyakinan tersebut, mereka pun mencaci-maki penguasa dan menuduh orang-orang yang menyerukan ketaatan kepada penguasa sebagai kelompok penjilat. Bahkan mereka pun tidak segan-segan menggelari para ulama dengan julukan Ulama Salathin, alias kaki tangan pemerintah. Allahul musta’aan.

Maka untuk menjawab kerancuan ini, dengan memohon taufik dari Allah, berikut ini kami ringkaskan penjelasan Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah ketika menjelaskan isi Kitab at-Tauhid:

Yang dimaksud dengan berhukum dengan selain hukum Allah yang dihukumi kafir dan murtad, sehingga layak untuk disebut sebagai thaghut, adalah dalam tiga keadaan:

[1] Apabila dia meyakini, bahwa berhukum dengan selain hukum Allah, yang bertentangan dengan hukum Allah, itu boleh, seperti contohnya: Meyakini bahwa zina dan khamr itu halal.

[2] Apabila dia meyakini, bahwa selain hukum Allah itu sama saja (sama baiknya) dengan hukum Allah.

[3] Apabila dia meyakini, bahwa selain hukum Allah lebih bagus daripada hukum Allah. Lalu, dia bisa dihukumi zalim, yang tidak sampai kafir, apabila dia masih meyakini hukum Allah lebih bagus dan wajib diterapkan, namun karena kebenciannya kepada orang yang menjadi objek hokum, maka dia pun menerapkan selain hukum Allah.

Demikian juga ia dikatakan fasik, yang tidak kafir, apabila dia menggunakan selain hukum Allah dengan keyakinan, bahwa hukum Allah-lah yang benar. Namun dia melakukan hal itu, berhukum dengan selain hukum Allah, karena faktor dorongan hawa nafsu, suap, nepotisme dsb.

Kemudian beliau juga menjelaskan, bahwa tindakan orang yang mengganti syariat dengan undang-undang buatan manusia dapat dikategorikan sebagai bentuk kekafiran akbar. Yang saya dengar dari ceramah Syaikh Abdul Aziz ar-Rays, beliau telah rujuk dari pendapat ini sebelum wafatnya. Meskipun demikian, orang yang memberlakukan undang-undang ini tidak serta merta dikafirkan. Seperti misalnya, apabila dia menyangka bahwa sistem yang diberlakukannya itu tidak bertentangan dengan Islam, atau dia menyangka, bahwa hal itu termasuk urusan yang diserahkan oleh Islam kepada manusia, atau dia tidak mengetahui bahwa apa yang dilakukannya itu termasuk kekafiran (lihat al-Qaul al-Mufid [2/68-69 dan 71]).

Dengan menyimak keterangan beliau di atas jelaslah bagi kita, bahwa tindakan sebagian orang yang dengan mudahnya mengkafirkan penguasa negeri ini, semoga Allah membimbing mereka, serta menjuluki mereka sebagai rezim thaghut, adalah sebuah tindakan serampangan dan tidak dibangun di atas ilmu yang benar. Bahkan, kalau diteliti lebih jauh, ternyata mereka itu telah terjangkiti virus pemikiran Khawarij gaya baru, yang menebar kekacauan berkedok jihad. Subhanallah.

 

Sumber:

http://abumushlih.com/kewajiban-menaati-ulil-amri.html/

 

 

, ,

DENGAN ISTIGHFAR

DENGAN ISTIGHFAR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama

DENGAN ISTIGHFAR

Setiap terasa di hatimu:

  • Kosong dari petunjuk,
  • Turun semangat berbuat kebaikan,
  • Keras karena lalai dan tergelincir,

Maka perbanyak istighfar. Sesungguhnya istighfar itu membersihkan hati Anda, memerbaiki jalan kehidupan Anda.

[Dr. Khalid Al Mushlih, dosen fiqh pada Universitas Al Qashim, sekaligus menantu Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin].

TwitUlama Telegram Channel

Instagram, Twitter & Telegram Channel: @JakartaMengaji

Sumber: https://www.facebook.com/JakartaMengajiOfficial/photos/a.633889743458454.1073741828.633867766793985/662101033970658/?type=3&theater

,

MENGINGAT SAAT PANEN MEMBANGKITKAN SEMANGAT UNTUK MENANAM

MENGINGAT SAAT PANEN MEMBANGKITKAN SEMANGAT UNTUK MENANAM

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama

MENGINGAT SAAT PANEN MEMBANGKITKAN SEMANGAT UNTUK MENANAM

Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’dy rahimahullah berkata:

النظر إلى العواقب معونة عظيمة في سهولة الأعمال النافعة، وفي الاحتراز مما يخاف ضرره، فإن العواقب الطيبة يسهل على العبد كل طريق يوصل إليها وإن كان شاقا، لما يرجو من الثمرة.

“Memerhatikan akibat, memiliki peran yang besar dalam membantu memudahkan amal-amal yang bermanfaat dan menjaga diri dari hal-hal yang dikhawatirkan akibat buruknya. Karena sesungguhnya, mengingat kesudahan yang baik, akan memudahkan seorang hamba untuk menempuh semua jalan yang akan menyampaikan kepadanya walaupun berat, karena dia mengharapkan buahnya.”

[Ar-Riyadhun Nadhirah yang menjadi satu dalam Majmu’ Muallafatis Sa’dy, hlm. 280].

Instagram, Twitter & Telegram Channel: @JakartaMengaji

Sumber: https://www.facebook.com/JakartaMengajiOfficial/photos/a.633889743458454.1073741828.633867766793985/664057177108377/?type=3&theater