Posts

,

AKIDAH TRINITAS, HAKIKAT DAN BUKTI KEKELIRUANNYA

AKIDAH TRINITAS, HAKIKAT DAN BUKTI KEKELIRUANNYA
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
AKIDAH TRINITAS, HAKIKATNYA DAN BUKTI KEKELIRUANNYA
Penulis: Syaikh Dr. Khalid bin Abdillah bin Abdil Aziz Al Qasim
 
 
الحمد لله، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأن محمدًا عبده ورسوله
Amma ba’du,
 
 
Yang pertama kali mesti kita lakukan adalah mendefinisikan Trinitas yang diimani oleh kaum Nasrani, karena mereka pun berselisih dalam banyak pendapat mengenai definisi Trinitas itu sendiri. Yang akan kami paparkan adalah definisi yang disepakati oleh mayoritas Nasrani. Bahkan ini adalah akidah yang mereka sepakati dalam Konsili Nicea pertama tahun 325 Masehi. Dan ini adalah teks yang paling tegas yang mereka tetapkan, serta menjadi rujukan utama mereka dalam menjelaskan kitab-kitab suci mereka, dan perkataan-perkataan Nabi mereka.
 
Berikut ini adalah pernyataan dalam Konsili Nicea:
“Aku percaya kepada satu Allah, Bapa Yang Maha Kuasa, Pencipta langit dan bumi, semua kelihatan dan yang tak kelihatan.
 
Dan kepada satu Tuhan, Yesus Kristus, Anak Allah Yang Tunggal, lahir dari Sang Bapa sebelum ada segala zaman. Allah dari Allah, Terang dari Terang. Allah Yang Sejati dari Allah Yang Sejati, diperanakkan, bukan dibuat; sehakikat dengan Sang Bapa, yang dengan perantaraan-Nya segala sesuatu dibuat.
 
Ia telah turun dari Surga untuk kita manusia dan untuk keselamatan kita, dan menjadi daging oleh Roh Kudus dari anak dara Maria, dan menjadi manusia.
 
Ia disalibkan bagi kita di bawah pemerintahan Pontius Pilatus; menderita dan dikuburkan; yang bangkit pada hari ketiga, sesuai dengan isi kitab-kitab, dan naik ke Surga.
 
Ia duduk di sebelah kanan Sang Bapa dan akan datang kembali dengan kemuliaan untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati; yang kerajaan-Nya takkan berakhir.
 
Aku percaya kepada Roh Kudus, Tuhan yang menguasai dan menghidupkan, yang keluar dari Sang Bapa dan Sang Anak, yang bersama-sama dengan Sang Bapa dan Sang Anak disembah dan dimuliakan; yang telah berfirman dengan perantaraan para nabi”.
 
Maka Timur dari sini kita lihat, bahwa mayoritas Nasrani, dari Katolik, Ortodoks dan Protestan, dan mayoritas gereja di Timur dan di Barat beriman, bahwa Tuhan itu satu, namun terdiri dari tiga pribadi (Hipostasis). Sebagaimana akidah kaum Nasrani terdahulu, Sesembahan mereka memiliki tiga bagian, yaitu tiga dzat yang terpisah, namun hakikatnya satu menurut mereka. Yaitu: Tuhan Bapa, Tuhan Anak dan Ruh Kudus.
 
Dari sini maka kita katakan:
 
Pertama:
Akidah ini merupakan bid’ah (sesuatu yang diada-adakan dalam agama) yang besar, yang dibuat oleh mereka. Akidah ini tidak dikenal dalam agama Samawi manapun. Juga tidak dikenal oleh para Nabi Allah terdahulu, padahal nabi-nabi ini dikenal oleh Yahudi dan Nasrani, seperti: Nuh, Ibrahim, Luth, Ishaq, Yaqub ‘alahissalam. Bahkan juga tidak dikenal oleh para Nabi Bani Israil yang telah sampai kabarnya kepada kaum Nasrani. Seperti Yaqub, Yusuf, Musa, Harun, Daud dan Sulaiman ‘alaihissalam.
 
Keyakinan ini juga tidak terdapat dalam kitab-kitab Perjanjian Lama yang diimani oleh kaum Nasrani, yang juga memuat kabar-kabar tentang para Nabi dan dakwah mereka. Tidak terdapat di sana, bahwa mereka mendakwahkan akidah Trinitas, atau mengucapkan kata-kata Trinitas atau yang semakna dengannya. Bahkan Mutawatir (sangat banyak kabarnya), bahwa mereka mendakwahkan akidah yang didakwahkan oleh para Nabi sejak Nuh sampai Muhammad ﷺ. Yaitu mendakwahkan untuk menyembah kepada Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya. Ini pun terdapat dalam kitab-kitab Perjanjian Lama milik Yahudi dan Nasrani.
 
Di antaranya:
 
• Firman Allah kepada Ibrahim ‘alahissalam dalam Perjanjian Lama, Kitab Kejadian (17:7): “Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun-temurun menjadi perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Allah-mu dan Allah keturunanmu.”
 
• Firman Allah kepada Nabi Musa ‘alaihissalam di bukit Thursina, sebagaimana dalam Perjanjian Lama, Kitab Keluaran (3:15): “Selanjutnya berfirmanlah Allah kepada Musa: “Beginilah kau katakan kepada orang Israel: TUHAN, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, telah mengutus aku kepadamu: itulah nama-Ku untuk selama-lamanya dan itulah sebutan-Ku turun-temurun.”
 
• Dalam Kitab Keluaran (4:5), firman Allah kepada Musa: “Supaya mereka percaya, bahwa TUHAN, Allah nenek moyang mereka, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub telah menampakkan diri kepadamu.”
 
• Dalam Kitab Yesaya (44:6): “Beginilah firman TUHAN, Raja dan Penebus Israel, TUHAN semesta alam: “Akulah yang terdahulu dan Akulah yang terkemudian; tidak ada Allah selain dari pada-Ku”
 
• Salah satu Nabi mereka, Hezekiah juga berkata sebagaimana dalam Kitab Yesaya (37:16): “Hanya Engkau sendirilah Allah”
Maka meyakini akidah Trinitas berkonsekuensi meyakini, bahwa para Nabi dan Rasul ini sesat dan menyesatkan pemahamannya terhadap ilah mereka, terhadap Rabb mereka dan Pencipta mereka. Dan kaum Nasrani yang didakwahkan para Nabi tersebut baru tercerahkan pada abad ke 4 Masehi!
 
Kedua
Akidah Trinitas bertentangan dengan agama Isa Al Masih ‘alaihissalam. Beliau tidak pernah menyatakan mengenai penyembahan kepada Tuhan yang terdiri dari tiga Hipostasis. Bahkan Isa mengingkari Trinitas sebagaimana terdapat dalam Injil, dan Injil adalah sumber akidah kaum Nasrani.
 
Dalam Encyclopedia of European Social History dalam bahasa Perancis disebutkan tentang akidah Trinitas:
“Akidah ini tidak ada dalam kitab-kitab Perjanjian Baru, juga tidak ada dalam amalan para Bapa Rasuli dan juga para murid dekat mereka. Namun gereja Katolik dan satu sekte dalam aliran Protestan mereka menyatakan, bahwa akidah Trinitas itu diterima oleh semua kaum Nasrani di setiap zaman.”
 
Juga terdapat dalam Bustani’s Encyclopedia (19/28): “Kata-kata ‘Tiga yang satu‘ tidak ada dalam kitab-kitab suci. Adapun yang menjadi dalil bagi kaum Nasrani dari Injil adalah perkataan Isa Al Masih ‘alaihissalam: “Manusia berpegang pada nama Bapa, nama Anak, dan Ruh Kudus” (Matius, 28:19).
 
Maka di sini perlu diperhatikan dua hal:
 
1. Perlu dibuktikan validitas perkataan Isa Al Masih tersebut. Dan perkataan ini tidak terdapat dalam semua Injil. Telah kita ketahui bersama, bahwa Injil mengalami banyak perbedaan dan pengubahan, bahkan kehilangan banyak teks aslinya. Karena Injil ditulis dengan bahasa Aramaic, dan injil ini sudah hilang. Injil yang ada adalah dengan bahasa Yunani menurut pengakuan kaum Nasrani.
 
2. Kita wajib menafsirkan perkataan Isa Al Masih (jika valid), atau perkataan-perkataan lain yang samar, dengan membawanya kepada ayat-ayat yang tegas. Yaitu ayat-ayat yang mengajak untuk menyembah Allah semata, dan tidak berbuat syirik kepada-Nya. Sebagaimana yang ada dalam Yohannes (17:3) mengenai perkataan Isa ‘alaihissalam ketika berbicara kepada Allah dalam keadaan kepalanya melihat ke langit. Isa Al Masih mengatakan: “Inilah hidup yang kekal sehingga mereka mengenal Anda, satu-satunya Allah yang benar dan Al Masih yang telah Engkau utus.“
 
Ketiga:
Kata-kata “Hipostasis”, yang merupakan inti dari akidah Trinitas juga tidak terdapat dalam Injil. Bahkan juga tidak terdapat dalam kitab-kitab para Nabi mereka. Juga tidak ada dalam perkataan para Hawariyyin (Bapa Rasuli) mereka. Bahkan juga tidak terdapat dalam pernyataan-pernyataan akidah mereka yang mereka ada-adakan dahulu. Kata-kata “Hipostasis” baru muncul setelah masa-masa itu.
 
 
Keempat:
Lafal “Anak Allah” yang ada dalam sebagian ayat Injil semestinya dikembalikan kepada perkataan Isa Al Masih ‘alaihissalam. Dan juga dikembalikan kepada kitab-kitab Samawi yang lain, yang disana “Anak Allah” dimaknai sebagai perlindungan dan kecintaan. Dan “Perlindungan dan kecintaan” ini tidak khusus terdapat dalam diri Isa Al Masih saja. Bahkan di Perjanjian Lama yang diimani oleh kaum Nasrani, Allah berfirman kepada Daud ‘alaihissalam: “Engkau adalah anak-Ku. Hari ini Aku telah memperanakkanmu. Mintalah kepada-Ku, dan Aku akan memberikan bangsa-bangsa kepadamu sebagai warisanmu” (Mazmur, 2:7-8). Bahkan Al Masih mengatakan: “Diberkatilah mereka yang membawa damai, sebab mereka akan disebut anak-Anak Allah” (Matius, 5:9). Beliau juga mengatakan: “Anak-Anak Allah adalah orang-orang yang beriman dengan nama-Nya” (Yohannes, 1:38).
 
Kelima:
Konteks dari pernyataan Isa Al Masih ‘Manusia berpegang pada nama Bapa, nama Anak, dan Ruh Kudus‘ maksudnya adalah pembaptisan, bukan maknanya penyembahan namun tabarruk dan bersumpah dengan nama mereka.
 
Sebagaimana makna “Bapa” maknanya adalah dzat yang mencintai dan memelihara. Terdapat dalam kitab Yohannes (20:17): “Pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakan kepada mereka, ‘Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu“.
 
Bahkan sifat “Anak Tuhan” ini dalam Pernjanjian Lama disematkan kepada semua anak Adam. Sebagaimana dalam kitab Kejadian Bab ke 6, di bagian awalnya. Ketika berbicara tentang manusia setelah Adam: “(1) Ketika manusia itu mulai bertambah banyak jumlahnya di muka bumi, dan bagi mereka lahir anak-anak perempuan, (2) Maka anak-Anak Allah melihat, bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik-cantik, lalu mereka mengambil istri dari antara perempuan-perempuan itu, siapa saja yang disukai mereka.“
 
Juga dalam kitab Yesaya (64:8), perkataan Yesaya: “Ya Tuhan, engkau adalah Bapa kami“.
 
Dan Injil juga dipenuhi dengan berbagai pernyataan, bahwa Isa ‘alaihissalam adalah anak manusia. Ini ada di puluhan tempat, di antaranya: Lukas (17:22), Lukas (18:8), Markus (2: 28), Matius (12:33), Matius (18:21), Yohanes (19:27).
 
Sebagaimana perkataan Isa Al Masih kepada orang-orang yang ingin membunuhnya: “Kamu berusaha membunuh aku. Aku, seorang manusia yang mengatakan kebenaran kepadamu, yaitu kebenaran yang kudengar dari Allah” (Yohanes, 8:40). Kemudian beliau berkata: “Bapa kami satu, yaitu Allah” (Yohanes, 8:41). Bahkan ketika ada yang mengatakan kepada Isa, bahwa ia adalah Anak Allah, maka di akhir jawabannya Isa ia mengatakan, bahwa ia anak manusia semata (Yohanes, 1:49-50). Dan makna perkataan “Rabbi” jika disematkan kepada Isa Al Masih, maka maknanya adalah “wahai guru”. Sebagaimana terdapat dalam Yohannes (1:38). Demikianlah, ayat yang muhkam (tegas) menafsirkan yang mutasyabih (samar).
 
Allah subhanahu wa taala telah mengingkari, bahwa Allah memiliki anak, dalam firman-Nya:
 
وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا * لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا * تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنشَقُّ الأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا * أَن دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا * وَمَا يَنبَغِي لِلرَّحْمَنِ أَن يَتَّخِذَ وَلَدًا
 
“Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak”. Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka mendakwa Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.” [QS. Maryam: 88-92]
 
Klaim adanya anak bagi Allah adalah bentuk tahrif (penyelewengan perkataan) dari para Nabi. Karena Allah taala telah mengingkari, bahwa para Nabi berkata demikian:
 
وَقَالَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى نَحْنُ أَبْنَاء اللّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ قُلْ فَلِمَ يُعَذِّبُكُم بِذُنُوبِكُم بَلْ أَنتُم بَشَرٌ مِّمَّنْ خَلَقَ يَغْفِرُ لِمَن يَشَاء وَيُعَذِّبُ مَن يَشَاء وَلِلّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ
 
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan:”Kami ini adalah anak-Anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya”. Katakanlah: “Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?” (Kamu bukanlah anak-Anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia (biasa) di antara orang-orang yang diciptakan-Nya. Dia mengampuni bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, serta apa yang ada antara keduanya. Dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu)” [QS. Al Maidah: 18]
 
Adapun bahwasanya terdapat ruh Allah dalam diri Isa Al Masih, maka terdapat ayat juga dalam Injil, bahwa dalam diri Yusuf terdapat ruh Allah, sebagaimana terdapat dalam Perjanjian Lama kitab Kejadian (41:38).
 
Keenam:
Akidah Trinitas bertentangan dengan akal, dan bertentangan dengan kesempurnaan Allah subhanahu wa taala.
 
Kalau ditanyakan kepada mereka: “Apakah Tuhan kalian itu diri dari tiga bagian?”.
 
Kalau mereka menjawab: “Ya benar, Tuhan kami menyatakan dirinya terdiri dari beberapa bagian dan masing-masing bagiannya saling membutuhkan kepada yang lainnya”. Maka ini jelas bertentangan dengan akal dan bertentangan dengan kesempurnaan Tuhan.
 
Kalau mereka menjawab: “Allah itu satu tapi tiga”, sebagaimana keyakinan kebanyakan mereka dan keyakinan mereka ini juga disebutkan oleh Allah dalam Alquran, maka kita jawab: “Berarti kalian menyatakan, bahwa Tuhan kalian itu bukan Allah semata, namun ada Tuhan yang lain. Dan inilah inti kesyirikan yang bertentangan dengan pernyataan kalian sendiri, bahwa kalian menyembah Tuhan yang Esa”.
 
Kalau mereka menjawab: “Tuhan kami terdiri dari tiga pribadi (Hipostasis) yang menyatu menjadi satu”. Maka kita jawab: “Bagaimana keadaan Tuhan sebelum adanya penyatuan ini? Apakah Ia dalam keadaan kekurangan dan butuh pada penyatuan? Ataukah Ia sudah sempurna andaikan tidak terjadi penyatuan?”
 
Ketujuh:
Dalam akidah Trinitas terdapat kontradiksi dan pertentangan. Karena mereka berkeyakinan, bahwa Tuhan itu satu, namun mereka juga mengatakan: “Kami beriman kepada Tuhan yang Esa, yaitu Tuhan Bapa, Tuhan Anak dan Ruh Kudus”.
 
Jika mereka mengatakan: “Tiga hal ini adalah sifat bagi Tuhan yang Esa”, sebagaimana perkataan sebagian mereka dalam perdebatan, maka kita katakan: “Tiga hal ini adalah dzat yang terpisah sebagaimana telah jelas dalam teks-teks akidah mereka, dan ini juga sudah menjadi pengetahuan semua orang”.
 
Demikian juga sifat Allah itu tidak terbatas pada tiga saja, bahwa Allah subhanahu wa taala itu Maha Sempurna, memiliki sifat-sifat yang lebih tinggi dari tiga sifat tersebut (andaikan dianggap sebagai sifat), seperti sifat Al Ilmu (Maha Mengetahui), Ar Rahmah (Maha Penyayang), dan sifat-sifat yang lainnya.
 
Kedelapan:
Mengenai Akidah Al Hulul. Yaitu keyakinan menitisnya Tuhan kepada makhluk-Nya. Mereka mengatakan inilah yang terjadi pada Isa Al Masih. Karena ia terdiri dari Lahut (Sisi Ketuhanan) dan Nasut (Sisi Manusiawi). Keyakinan al Hulul ini merupakan sesuatu yang mereka sepakati, dan merupakan bagian dari iman mereka. Padahal keyakinan ini memiliki landasan akal maupul naql (dalil). Yang Maha Pencipta tidak mungkin bercampur dengan makhluk. Dan tidak mungkin bersatu, sebagaimana ini mudah dipahami oleh akal yang jernih. Oleh karena itu tidak ada Nabi yang mengatakan, bahwa Allah bersatu dengan salah satu makhluk-Nya. Dengan demikian, tidaklah shahih apa yang ada dalam Injil perkataan sebagai berikut: “Tidak percayakah engkau, bahwa aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam aku? Apa yang aku katakan kepadamu, tidak aku katakan dari diri-ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam aku. Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya” (Yohanes, 14:10). Juga tidak shahih perkataan Al Masih: “Aku dan Bapa adalah satu” (Yohanes, 10:30).
 
Karena jika demikian, berarti Isa menitis juga pada diri murid-muridnya. Sebab dikatakan dalam Injil di bab yang sama: “Aku dalam diri Bapaku, dan kalian dalam diriku, dan aku dalam diri kalian.“
 
Oleh karena itu wajib untuk menafsirkan perkataan “Dalam diriku” dan perkataan “Bersamaku” dalam Injil, dan yang paling layak menafsirkannya adalah Al Masih sendiri. Dan mereka (kaum Nasrani) pun tidak pernah mengatakan, bahwa Al Masih menitis pada diri murid-muridnya, sebagaimana yang bisa dipahami dalam ayat di atas. Maka tafsir perkataan “Dalam diriku” ini dikembalikan kepada ayat-ayat yang muhkam, dan puluhan ayat telah menegaskan, bahwa Al Masih adalah manusia biasa.
 
Di antaranya dalam Injil Lukas (24:9) dengan teks yang sangat tegas: “Jesus dari Nazareth, adalah seorang manusia yang merupakan Nabi”. Dan makna dari “Aku dan Bapa adalah satu” adalah sebagaimana dari Alquran:
 
مَّنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللّهَ
 
“Barang siapa yang menaati Rasul itu sesungguhnya ia telah menaati Allah” [QS. An Nisa: 80).
 
Dan firman-Nya:
 
إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّه
 
“Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu, sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah” [QS. Al Fath: 10]
 
Dan semisal dengan yang terdapat dalam Hadis Qudsi:
 
فإذا أحببته كنت سمعه الذي يسمع به، وبصره الذي يبصر به
 
“Jika Aku mencintai seorang hamba, maka Aku adalah pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar. Dan Aku adalah penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat.” [HR. Bukhari no. 6502]
 
Maksudnya dengan cahaya dan petunjuk dari Allah.
 
Kesembilan:
Kaum Nasrani itu berselisih pendapat dan saling kontradiktif tentang hakikat Rabb mereka yang mereka jadikan tiga bagian tersebut. Kita dapati sekte Nestorian mengatakan: “Tuhan itu tidak dilahirkan, tidak disalib, dan Maryam tidak melahirkan Tuhan, melainkan hanya manusia biasa. Tidak ada Lahut dalam dirinya”. Walaupun sekte-sekte Nasrani yang lain mengafirkan sekte ini dan melaknatnya dalam Konsili Ephesus tahun 431M.
 
Kita juga mendapati sekte Gereja Timur Mesir mengatakan: “Al Masih memiliki satu sifat saja (manusia), namun daging dan darahnya adalah Tuhan”. Karena sebab inilah diadakan konsili Khalkedon tahun 451M, untuk menetapkan, bahwa Al Masih memiliki dua sifat (Lahut dan Nasut). Maka sekte Gereja Timur Mesir memisahkan diri dari hal ini.
 
Adapun sekte Maronit di Libanon mereka mengatakan: “Al Masih memiliki dua sifat, namun kehendaknya hanya satu”. Sehingga diadakanlah Konsili Konstantinopel pada 680M untuk mengafirkan mereka (Maronit).
 
Sektre Ya’kubiyah di Irak mengatakan: “Al Masih memiliki satu sifat yang menggabungkan antara Lahut dan Nasut”. Ini menyelisihi sekte-sekte lainnya. Dan di abad ke-9 Masehi terdapat perselisihan antara kaum Nasrani mengenai Ruh Kudus, yang merupakan pribadi yang ketiga dari Trinitas. Sekte Gereja Timur mengatakan Ruh Kudus ini muncul dari Tuhan Bapa. Sedangkan sekte Gereja Barat mengatakan Ruh Kudus itu muncul dari Tuhan Bapa dan Tuhan Anak. Kemudian mereka memisahkan diri, dan ini dalam Konsili Konstantinopel tahun 879M.
 
Sekte Gereja Ortodoks Timur mengatakan: “Tiga pribadi (Hepostasis) adalah tahapan ketika Tuhan berpaling kepada manusia”. Sedangkan Sekte Gereja Ortodoks Barat mengatakan: “Tiga pribadi (Hepostasis) adalah tiga dzat yang berbeda”.
 
Allah subhanahu wa taala membantah semua pendapat ini dengan bantahan yang telak:
 
لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُواْ إِنَّ اللّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ
 
“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putra Maryam”” [QS. Al Maidah: 72]
 
Dan bantahan yang kedua:
 
لَّقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُواْ إِنَّ اللّهَ ثَالِثُ ثَلاَثَةٍ
 
“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga”” [QS. Al Maidah: 73]
 
Kita juga dapati sekte Remtain yang menyembah Al Masih dan ibunya. Maka Allah taala membantahnya dengan firman-Nya:
 
مَّا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلاَّ رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ وَأُمُّهُ صِدِّيقَة
 
“Al Masih putra Maryam hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar” [QS. Al Maidah: 75]
 
Demikian jelaslah, bahwa akidah Trinitas itu secara gamblang telah MENYIMPANG dari ajarannya para Nabi, BERTENTANGAN dengan fitrah, BERTENTANGAN dengan kesempurnaan Rabb, dan BERTENTANGAN dengan akal. Bahkan Al Masih tidak pernah menegaskan akidah ini, bahkan yang ia tegaskan adalah sebaliknya.
 
Sebagaimana juga kaum Nasrani saling kontradiksi dan berselisihi dalam hal ini, sampai-sampai dikatakan: “Kaum Nasrani sebenarnya tidak tahu apa makna dari Trinitas itu sendiri”. Ini karena Trinitas itu hakikatnya tidak ada, hanya sekedar istilah yang mereka buat-buat, yang tidak pernah Allah turunkan dalil tentangnya.
 
 
وفق الله الجميع لما يحبه ويرضاه، وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
 
 
Rujukan:
 
1. Alquranul Karim
2. Kitab-kitab tafsir Alquran
3. Injil Perjanjian Lama
4. Injil Perjanjian Baru
5. Al Milal wan Nihal, karya Asy Syahrastani
6. Ar Radd Al Jamil ‘ala Ilahiyati Isa bi Sharihil Injil, karya Al Ghazali
7. Al Fashl fil Ahwa wal Milal wan Nihal, karya Ibnu Hazm Al Andalusi
8. Al Jawabus Shahih liman Baddala Dinal Masih, karya Ibnu Taimiyah
9. Hidayatul Hayari fi Ajwibatil Yahudi wan Nasrani, karya Ibnul Qayyim
10. Da’iratul Ma’arif (Ensiklopedia Al Bustani), karya Butrus Al Bustani
11. Da’iratul Ma’arif Al Qarnil Isyrin (Ensiklopedia Abad 20), karya Farid Wajdi
12. Izharul Haq, karya Rahmatullah Al Hindi
13. Al Mausu’ah Al Muyassarah lil Adyan wal Madzahib Al Mu’asharah, karya An Nadwah Al Alamiyah lisy Syabab Al Islami
 
 
 
Penerjemah: Yulian Purnama
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#akidah, #aqidah, #akidahTrinitas, #Trinitas, #Yesus, #Jesus, #TuhanAllah, #AnakTuhan, #Konsep, #Syirik, #Kafir, #tauhid#buktikekeliruan, #hakikat, #hakekat #IsaAlMasih, #PutraMaryam, #AllahyangTiga #Lahut, #SisiKetuhanan, #Nasut, #sisiManusiawi #Hipostasis, #anakAllah #SatudariTuhanyangTiga
,

PENGHALANG-PENGHALANG WARIS

PENGHALANG-PENGHALANG WARIS
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
PENGHALANG-PENGHALANG WARIS
 
Penghalang waris adalah sesuatu yang dapat menghalangi Ahli Waris untuk mendapatkan hak warisnya (baik secara keseluruhan ataupun sebagian besarnya, pen.), meskipun telah terpenuhi padanya sebab-sebab waris. [Lihat Al-Khulashah Fi Ilmil Faraidh, hal. 45]
 
Penghalang Waris secara garis besar terbagi menjadi dua:
Pertama: Penghalang dalam bentuk sifat/kriteria tertentu yang dapat menghalangi Ahli Waris dari jatah warisnya secara keseluruhan, dan
Kedua: Penghalang dalam bentuk Ahli Waris yang berposisi lebih kuat. Artinya keberadaan Ahli Waris yang secara posisi lebih kuat itu bisa menyebabkan terhalangnya Ahli Waris tertentu untuk mendapatkan hak warisnya, baik secara keseluruhan ataupun sebagian besarnya. Proses penghalangan ini dalam Ilmu al-Faraidh dikenal dengan istilah Hajb. Seorang yang terhalang dari harta warisnya disebut Mahjub, sedangkan penghalangnya disebut Hajib.
 
Berikut ini adalah rincian dari masing-masing Penghalang Waris:
 
Penghalang Waris Pertama:
Penghalang dalam bentuk sifat/kriteria tertentu yang dapat menghalangi Ahli Waris dari jatah warisnya secara keseluruhan. Penghalang jenis ini bisa menimpa seluruh Ahli Waris tanpa terkecuali [Lihat Al-Fawa’idul Jaliyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 26, program Al-Maktabah Asy-Syamilah II], yang dalam Ilmu al-Faraidh dikenal dengan istilah Mawani’ul Irtsi (Penghalang-Penghalang Waris).
 
Adapun rincian Penghalang-Penghalang Waris jenis ini ada sembilan:
 
1) Perbudakan: Seorang yang berstatus budak tidaklah bisa mewarisi, karena dia dan hartanya menjadi milik tuannya. Tidak adanya hak milik bagi seseorang merupakan penghalang syari baginya untuk mendapatkan harta waris. Jika si budak tersebut mendapatkan harta waris, maka harta waris itu akan menjadi milik tuannya, padahal si tuan tersebut bukan bagian dari Ahli Waris si mayit. Atas dasar itulah, jika seorang mayit Muslim meninggalkan seorang anak Muslim yang berstatus budak dan seorang cucu Muslim dari kalangan merdeka, maka yang mewarisi hartanya adalah sang cucu walaupun ada bapaknya. Mengapa? Karena si bapak statusnya masih budak dan budak tidak bisa mewarisi, sedangkan sang cucu dari kalangan merdeka. [Lihat At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 46 dan Tashilul Faraidh, hal. 28]
 
2) Pembunuhan yang dilakukan terhadap pemilik harta waris (Muwarrits): Jika seorang Ahli Waris membunuh Muwarrits-nya, maka si pembunuh tersebut TIDAK BERHAK mendapatkan harta waris darinya.
Gambaran kasusnya adalah seorang anak (Ahli Waris) membunuh bapaknya (pemilik harta waris), maka si anak tersebut tidak berhak mendapatkan harta waris yang ditinggalkan bapaknya. Di antara hikmah dari ketentuan di atas adalah mencegah bermudahannya Ahli Waris dari perbuatan keji tersebut, hanya karena untuk mendapatkan harta waris.
Hal ini didasarkan kaidah fikih yang berbunyi:
Orang yang menyegerakan sesuatu sebelum waktunya, maka diberi sanksi untuk tidak mendapatkannya (وكلُّ مَنْ تَعَجَّلَ الشيءَ عَلَى وجهٍ مُحَرَّمٍ فمنعُه جَلا)
 
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan:
 
وكلُّ مَنْ تَعَجَّلَ الشيءَ عَلَى وجهٍ مُحَرَّمٍ فمنعُه جَلا
 
“Dan setiap orang yang menyegerakan sesuatu yang diharamkan, maka hendaknya ia dicegah.”
 
Kaidah ini adalah kaidah yang sudah maruf yang seringkali digunakan oleh para ulama. Di antara contoh penerapan kaidah ini adalah:
 
– Barang siapa yang membunuh orang yang (sebenarnya bisa) mewariskan harta kepadanya, maka ia tidak mendapatkan warisannya. Hal ini dikarenakan ia telah menyegerakan seseuatu sebelum waktunya.
 
– Orang yang minum khamer (minuman keras) ketika di dunia, maka ia tidak akan minum khamer ketika di Akhirat kelak. Padahal khamer di Akhirat itu tidak memabukan. Hal ini sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Nabi ﷺ.
– Dan seterusnya
 
Membunuh pewaris berarti menyegerakan kematian si pewaris dengan maksud untuk segera mendapat warisannya. Akan tetapi justru hukum melarang apa yang ingin disegerakannya yaitu dengan tidak diberikan hak mendapat warisan kepadanya.
 
Lalu apakah setiap jenis pembunuhan dapat menghalangi seseorang dari jatah warisnya? Para ulama berbeda pendapat dalam permasalahan ini. Namun menurut Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah dan Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah, bahwa pembunuhan yang menyebabkan terhalangnya seseorang dari jatah warisnya adalah pembunuhan yang bersifat Bighairil Haq (tidak dibenarkan secara syari), yaitu pembunuhan yang mengakibatkan Qishash, membayar Diyat (Tebusan), atau membayar kafarah, seperti misalnya:
– Pembunuhan dengan sengaja (Qatlul ‘Amd),
– Pembunuhan semi sengaja (Syibhul ‘Amd – contohnya seseorang memukul orang lain dengan menggunakan sandal, kemudian mati. Disebut semi sengaja, karena di satu sisi sengaja memukul orang tersebut, namun di sisi lain tidak berniat untuk membunuhnya] dan
– Pembunuhan karena kekeliruan (Khatha’an – contohnya seseorang membidikkan tembakan ke arah rusa, namun ternyata tembakan tersebut justru mengenai orang yang kebetulan sedang melintas di jalan tidak jauh dari rusa tersebut, hingga mati. Disebut keliru karena tidak ada niatan untuk membunuhnya, dan tidak ada upaya sama sekali untuk melakukan sesuatu terhadap orang tersebut] [Lihat At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 50-52 dan Tashilul Faraidh, hal. 29]
 
Dikecualikan darinya adalah pembunuhan Bil Haq (dengan cara yang dibenarkan secara syari), misalnya seorang eksekutor yang ditugasi Waliyul Amr (Pemerintah) untuk mengeksekusi seorang pembunuh sebagai bentuk qishash (balasan bunuh) baginya, seseorang yang membela diri hingga mengakibatkan terbunuhnya si pelaku aniaya tersebut, dll.
 
3) Perbedaan agama antara pemilik harta waris (Muwarrits) dengan Ahli Warisnya. Gambaran kasusnya: Si mayit yang meninggalkan harta waris adalah seorang Muslim, sedangkan Ahli Warisnya non-Muslim (kafir). Atau sebaliknya, si mayit yang meninggalkan harta waris adalah seorang non-Muslim (kafir), sedangkan Ahli Warisnya seorang Muslim. Menurut Jumhur (Mayoritas) Ulama, masing-masingnya tidak bisa saling mewarisi. Karena secara tinjauan syari, hubungan di antara mereka telah terputus. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala kepada Nabi Nuh alaihisalam:
“Allah berfirman: ‘Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan) dia adalah perbuatan yang tidak baik’.” [QS Hud: 46]
Demikian pula sabda Rasulullah ﷺ:
 
لَا يَرِثُ الْمُسْلِمُ الْكَافِرَ وَلَا الْكَافِرُ الْمُسْلِمَ
 
“Tidaklah seorang Muslim mewarisi seorang non-Muslim (kafir) dan tidak pula seorang non-Muslim (kafir) mewarisi seorang Muslim.” [HR. Al-Bukhari no. 6383 dan Muslim no. 1614, dari hadits Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu) [Lihat At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 53 dan Tashilul Faraidh, hal. 31]
 
Namun apabila si Ahli Waris yang tadinya kafir kemudian masuk Islam sebelum harta dibagi, maka si Ahli Waris yang mualaf ini berhak mendapatkan warisan. Jadi apabila pada waktu Muwarrits meninggal dunia ada ahli waris yang berbeda agama, kemudian sebelum harta warisan dibagi-bagi si Ahli Waris masuk Islam, maka dia berhak mendapat warisan.
 
4. Wanita yang sudah ditalak (raj’i) habis masa iddahnya.
 
5. Wanita yang ditalak tiga (Talak Bain Qubro – tidak bisa rujuk lagi).
 
6. Anak angkat. Sifatnya dua arah: Orang tua angkat tidak bisa mewarisi dari anak angkatnya, demikian pula sebaliknya, anak angkat tidak bisa mewarisi dari orang tua angkatnya.
 
7. Ibu tiri dan bapak tiri
 
8. Anak Lian. Lian adalah sumpah seorang suami untuk meneguhkan tuduhannya bahwa istrinya telah berzina dengan laki-laki lain. Sumpah itu dilakukan suami karena istrinya telah menyanggah tuduhan suaminya itu, sementara suami sendiri tidak memiliki bukti-bukti atas tuduhan zinanya.
 
9. Anak hasil zina
 
Penghalang Waris Kedua:
Penghalang dalam bentuk Ahli Waris yang berposisi lebih kuat. Artinya keberadaan Ahli Waris yang secara posisi lebih kuat itu bisa menyebabkan terhalangnya Ahli Waris tertentu untuk mendapatkan hak warisnya, baik secara keseluruhan ataupun sebagian besarnya. Proses penghalangan ini dalam Ilmu al-Faraidh dikenal dengan istilah Hajb. Seorang yang terhalang dari harta warisnya disebut Mahjub, sedangkan penghalangnya disebut Hajib.
 
Penghalang jenis ini terbagi menjadi dua:
 
a. Hajb Hirman (menghalangi secara keseluruhan). Jika penghalangnya dari jenis pertama ini, maka dapat menghalangi seorang Ahli Waris dari jatah warisnya secara keseluruhan. Penghalang jenis ini bisa menimpa semua Ahli Waris kecuali enam orang; bapak, ibu, anak lelaki, anak perempuan, suami, dan istri.
 
b. Hajb Nuqshan (menghalangi dari jatah waris yang terbesar). Jika ada penghalang dari jenis kedua ini, maka dapat menghalangi seorang Ahli Waris dari jatah warisnya terbesar, sehingga ia bergeser dari jatahnya yang besar kepada jatahnya yang lebih sedikit. Penghalang jenis ini terbagi menjadi tujuh macam:
 
1) Menghalangi Ahli Waris tertentu dari jatah waris tertentu (Fardh) dengan menggesernya kepada jatah waris tertentu (Fardh) yang lebih sedikit. Misalnya, bergesernya suami dari jatah waris ½ kepada ¼. Demikian pula bergesernya satu orang istri atau lebih dari jatah waris ¼ kepada 1/8.
 
2) Menghalangi Ahli Waris tertentu dengan menggesernya dari suatu Tashib kepada Tashib yang lebih sedikit. Misalnya, saudara perempuan sekandung dan saudara perempuan sebapak yang bergeser dari Ashabah Ma’al Ghair kepada Ashabah Bil Ghair.
 
3) Menghalangi Ahli Waris tertentu dengan menggesernya dari jatah waris tertentu (Fardh) kepada Tashib yang lebih sedikit. Misalnya, bergesernya jatah waris ½ dari para pemiliknya kepada Ashabah Bil Ghair.
 
4) Menghalangi Ahli Waris tertentu dengan menggesernya dari Tashib kepada jatah waris tertentu (Fardh) yang lebih sedikit. Misalnya, bergesernya bapak dan kakek dari Tashib kepada jatah waris tertentu (Fardh).
 
5) Saling berserikat dalam jatah waris tertentu (Fardh). Misalnya, berserikatnya para istri pada jatah waris ¼ dan 1/8, berserikatnya para pemilik jatah waris 1/3 dan juga para pemilik jatah waris 2/3 pada jatah tersebut.
 
6) Saling berserikat dalam Tashib tertentu, seperti berserikatnya Ashabah pada suatu harta secara utuh atau pada apa yang tersisa dari Ashhabul Furudh.
 
7) Saling berserikat dalam masalah ‘aul [Masalah ‘aul adalah masalah berlebihnya jumlah jatah/saham Ahli Waris di atas jumlah Ashlul Mas’alah (Pokok masalah), saat proses penghitungan], di mana masing-masingnya mendapatkan jatah yang lebih (di atas kertas), namun dalam praktik nyatanya tidak demikian. [Lihat Al-Fawaidul Jaliyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 26-27 program Al-Maktabah Asy-Syamilah II]
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#mawaniul irtsi #penghalang-penghalang waris #Muwarrits #warrits #Tashib, #jatahwaris1/3, #jatahwaris2/3, #jumlahjatahsaham, #AhliWaris, #AshlulMasalah, #Pokokmasalah, #salingberserikat, #berserikat, #AshhabulFurudh, #HajbNuqshan, #HajbHirman, #Hijab, #Hajib, #TalakBainQubro, #jatahwarisbekasistri, #AshabahMaalGhair, #AshabahBilGhair. #Ashabah, #Ashobah, #furu, #hayashi, #ilmu faraidh, #faraidh, #faroidh, #ilmufaroidh, #ilmuwarisan, #rukunwarisan, #syaratsahnyawarisan, #sebabwarisan, #warismewarisi, #budak, #perbudakan, #murtad, #kafir, #tidakbisamewarisi, #hukum, #ikatanwala, #pembagianhartawarisan, #pembagianhartapusaka, #hartawarisan, #hartapusaka, #keutamaan, #fadhilah, #fadilah, #keutamaa ilmuwarisan, #fadhilahilmuwarisan, #warisan
,

RUKUN, SYARAT DAN SEBAB WARIS (DALAM ILMU FARAIDH)

RUKUN, SYARAT DAN SEBAB WARIS (DALAM ILMU FARAIDH)
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
RUKUN, SYARAT DAN SEBAB WARIS
 
Rukun Waris
 
Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan berkata:
“Proses waris-mewarisi mempunyai tiga rukun yang tidak akan terealisasi suatu proses waris-mewarisi kecuali dengan keberadaannya.” [At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 28]
 
Tiga rukun waris tersebut adalah:
 
1. Muwarrits: Si mayit yang meninggalkan harta waris/pemilik harta waris.
2. Warits: Ahli Waris/pewaris yang berhak mendapatkan harta waris.
3. Mauruts/Tarikah: Harta waris yang ditinggalkan oleh si mayit. [Lihat Tashilul Faraidh, hal. 18]
Kalau tidak ada Muwarrits (si mayit yang meninggalkan harta waris), maka tidak akan ada harta waris, demikian pula orang yang mewarisinya. Jika tidak ada Ahli Waris, maka harta waris yang ditinggalkan si mayit pun tidak ada yang mewarisinya (dari Ahli Waris yang sesungguhnya). Demikian pula ketika tidak ada harta waris, tidaklah mungkin bisa terjadi proses waris-mewarisi. Dari sini jelaslah, bahwa keberadaan TIGA RUKUN WARIS tersebut MUTLAK ADA demi terealisasinya proses waris-mewarisi.
 
Syarat Waris
Syarat waris merupakan salah satu penentu bagi terealisasinya proses waris-mewarisi. Karena betapapun telah terpenuhi Rukun Waris, sementara Syarat Warisnya belum terpenuhi, maka proses waris-mewarisi pun tidak bisa dilakukan. Apa sajakah Syarat Waris itu?
 
Syarat Waris dalam hukum waris Islam ada tiga:
 
1. Kejelasan tentang meninggalnya si pemilik harta waris (Muwarrits). Baik meninggalnya bisa dipastikan, maupun sebatas didasari dugaan yang kuat (hukmi). Bisa dipastikan maksudnya bahwa, proses kematian si pemilik harta waris tersebut benar-benar bisa dipastikan, baik dengan melihatnya secara langsung, dengan kemasyhuran akan kematiannya, atau dengan persaksian dua orang lelaki yang adil (bisa dipertanggungjawabkan). Sedangkan yang dimaksud dengan didasari dugaan yang kuat adalah bahwa vonis kematian yang dijatuhkan kepada pemilik harta waris tersebut atas dasar dugaan yang kuat. Seperti seseorang yang diduga kuat telah mati, karena sejak lama menghilang dan tak didapati lagi tanda-tanda kehidupannya.
 
2. Kejelasan tentang hidupnya Ahli Waris setelah meninggalnya si pemilik harta waris/Muwarrits walau sesaat, baik secara pasti maupun didasari oleh dugaan kuat (hukmi). Maksud secara pasti adalah bahwa Ahli Waris tersebut dipastikan masih hidup saat meninggalnya pemilik harta waris. Kepastian ini bisa dibuktikan dengan melihatnya secara langsung, dengan kemasyhuran bahwa dia masih hidup, atau dengan persaksian dua orang lelaki yang adil (bisa dipertanggungjawabkan). Sedangkan yang dimaksud dengan didasari oleh dugaan yang kuat adalah bahwa vonis tentang hidupnya Ahli Waris tersebut didasari atas dugaan yang kuat. Seperti seorang anak yang masih berada di perut ibunya saat meninggalnya pemilik harta waris (Muwarrits-nya) walaupun belum ditiupkan ruh kepadanya. Maka dia digolongkan ke dalam jajaran Ahli Waris dan bisa mendapatkan harta waris, dengan syarat dilahirkan dalam kondisi hidup.
 
3. Mengetahui segala hal yang terkait dengan sebab terjadinya proses waris-mewarisi tersebut dan mengetahui keterkaitan masing-masing Ahli Waris dengan pemilik harta waris (Muwarrits)-nya. [Lihat Tashilul Faraidh, hal. 18-19]
 
Sebab Waris
Waris-mewarisi dalam hukum waris Islam tidaklah terjadi begitu saja. Akan tetapi amat terkait dengan sebab waris yang dengannya bisa terjadi proses waris-mewarisi.
 
Sebab waris tersebut ada tiga:
 
1. Perkawinan yang dibangun di atas akad nikah yang sah. Manakala telah terlaksana suatu perkawinan yang sah, maka suami istri tersebut mempunyai hak untuk saling mewarisi, walaupun belum terjadi khalwat (berduaan) maupun jima’ (hubungan sebadan) di antara mereka. Lebih-lebih lagi bila telah terjadi khalwat ataupun jima’ antara keduanya. Dalilnya adalah keumuman firman Allah ta’ala:
“Dan bagi kalian (para suami) setengah (1/2) dari harta yang ditinggalkan oleh istri-istri kalian, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika istri-istri kalian itu mempunyai anak, maka kalian mendapat seperempat (1/4) dari harta yang ditinggalkannya, sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat, atau (dan) sesudah dibayar utangnya. Para istri memperoleh seperempat (1/4) harta yang kalian tinggalkan jika kalian tidak mempunyai anak. Jika kalian mempunyai anak, maka para istri memperoleh seperdelapan (1/8) dari harta yang kalian tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kalian buat, atau (dan) sesudah dibayar utang-utang kalian.” [QS An-Nisa’: 12]
 
Sebab pertama ini akan terus berlaku hingga terjadinya Talak Bain (cerai yang ketiga kalinya, atau cerai yang pertama/kedua dan telah habis masa ‘iddah/tenggangnya) atau Fasakh (Pembatalan nikah). Dengan terjadinya Talak Bain atau Fasakh, maka sejak saat itu pula mereka tidak bisa saling mewarisi lagi. Kecuali jika Talak Bain tersebut dijatuhkan oleh suami menjelang kematiannya yang (diduga kuat) bertujuan untuk menghalangi istri tersebut dari hak warisnya, maka dalam kondisi semacam ini si istri tetap mendapatkan jatah warisnya menurut pendapat yang rajih. Adapun Talak Raj’i (cerai yang pertama/kedua) dan masih dalam masa ‘iddah/tenggang, maka masih memungkinkan bagi mereka untuk saling mewarisi, jika saat itu salah satunya ada yang meninggal dunia, karena statusnya masih terhitung sebagai suami-istri. [Lihat Tashilul Faraidh, hal. 20 dan 22, dan At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 32-35]
 
2. Ikatan Nasab, yaitu hubungan kekerabatan antara dua orang, baik secara dekat maupun jauh. Hubungan kekerabatan ini meliputi:
• Ushul (bapak, ibu, kakek, dan nenek si mayit),
• Furu’ (anak, cucu dari anak lelaki si mayit, dan terus ke bawahnya), dan
• Hawasyi (saudara-saudara si mayit dan anak-anak lelakinya, paman-paman si mayit dan ke atasnya, anak-anak lelaki paman dan terus ke bawahnya). Dalilnya adalah firman Allah ta’ala:
“Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat di dalam Kitab Allah). Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” [QS Al-Anfal: 75] [Lihat At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 37 dan Tashilul Faraidh, hal. 21]
 
3. Ikatan Wala’, yaitu pembebasan seseorang terhadap budak tertentu, baik karena berderma semata atau karena suatu kewajiban; seperti nadzar, zakat, dan kafarah. Gambaran kasusnya adalah, bila seorang mantan budak meninggal dunia dan tidak ada yang mewarisi dari kalangan Ahli Warisnya, maka seseorang yang dahulu membebaskannya dari perbudakan itulah yang mewarisi hartanya. Menurut Jumhur (Mayoritas) Ulama, proses waris-mewarisi antara mantan budak dan yang membebaskannya itu hanya satu arah saja, yakni yang bisa mewarisi hanyalah pihak yang membebaskan saja, dan tidak sebaliknya. Adapun Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dan para ulama yang bersama beliau berpandangan, bahwa proses waris-mewarisi bisa terjadi dari dua arah, yakni antara mantan budak dan yang membebaskannya tersebut bisa saling mewarisi. Mereka bisa saling mewarisi manakala TIDAK didapati Ahli Waris (asli) yang mewarisi dari masing-masingnya. [Lihat At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 37 dan Tashilul Faraidh, hal. 21]
 
Demikianlah tiga sebab yang dengannya bisa terjadi proses waris-mewarisi menurut kesepakatan Jumhur (Mayoritas) Ulama.
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
 #Muwarrits, #Mauruts, #Tarikah, #Warits #furu, #hayashi, #ilmufaraidh, #faraidh, #faroidh, #ilmufaroidh, #ilmuwarisan, #rukunwarisan, #syaratsahnyawarisan, #sebabwarisan, #warismewarisi, #budak, #perbudakan, #murtad, #kafir, #tidakbisamewarisi,#hukum, #ikatanwala
#Faraidh #faroidh, #ilmuFaraidh, #ilmufaroidh, #ilmuwaris, #pembagianhartawarisan, #pembagianhartapusaka, #hartawarisan, #hartapusaka, #keutamaan, #fadhilah, #fadilah, #keutamaanilmuwarisan#fadhilahilmuwarisan, #mempelajari, #setengahilmu, #separuhilmu, #seperduailmu, #pertamaangkatdariumatku#ilmupertamadiangkatdariumatku, #berebuthartawarisan, #perebutanhartawarisan, #setengahdariilmu, #separuhdariilmu, #seperduadariilmu #pentingnyailmuwaris, #mulianyailmuwaris
,

HUKUM MEMBUKA HIJAB DI HADAPAN WANITA NON-MUSLIMAH

HUKUM MEMBUKA HIJAB DI HADAPAN WANITA NON-MUSLIMAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
HUKUM MEMBUKA HIJAB DI HADAPAN WANITA NON-MUSLIMAH
Bolehkah Menampakkan Rambut Di Hadapan Wanita Kafir?
Ahli Ilmu terbagi dua pendapat dalam masalah ini:
 
Pendapat Pertama:
Mereka memandang wajib bagi Muslimah untuk berhijab di hadapan wanita non-Muslimah, dan haram baginya untuk membuka sesuatu dari bagian tubuhnya di depan wanita Nasrani, Yahudi atau musyrikah, bila tidak ada keperluan yang darurat/ mendesak. Sehingga dalam hal memandang ini, wanita kafirah sama dengan laki-laki ajnabi (bukan mahram) bagi seorang Muslimah.
 
Demikian pendapat Madzhab Hanafiyyah, Malikiyyah, dan yang paling shahih dari madzhab Syafi’iyyah, serta satu riwayat dari Al-Imam Ahmad. Di antara ulama mutaakhirin yang berpegang dengan pendapat ini adalah Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullah. Beliau berkata: “Dzahir dari apa yang diinginkan dalam ayat ini adalah wanita-wanita dari kalangan Muslimin, karena wanita-wanita kafir bisa jadi ketika melihat seorang wanita Muslimah, ia akan menceritakan/menggambarkan si Muslimah kepada suaminya. Sementara Nabi ﷺ telah melarang seorang wanita ketika bergaul dengan wanita lain lalu ia menggambarkan wanita lain itu kepada suaminya…”. [Ijabatus Sail ‘ala Ahammil Masail, hal. 557]
 
Mereka berdalil dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam Surat An-Nur ayat 31 yang artinya:
 
“Janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali di depan suami-suami mereka…. sampai pada firman-Nya: … atau di hadapan wanita-wanita mereka….”.
 
Kata wanita di dalam ayat disandarkan (di-idhafah-kan) kepada mereka, wanita-wanita Mukminah. Hal ini menunjukkan pengkhususan. Ibnu Athiyyah berkata: “Seandainya wanita non-Muslimah boleh melihat ke tubuh Muslimah, niscaya tidak tersisa faidah bagi pengkhususan tersebut.”
 
Selain itu mereka juga berdalil dengan atsar-atsar dari para shahabat dan ulama salaf, namun kebanyakan dari atsar-atsar ini lemah, wallahu a’lam.
 
Pendapat Kedua:
Mereka yang berpandangan, bahwa dalam hal memandang, wanita non-Muslimah sama dengan wanita Muslimah ketika memandang sesama Muslimah. Sehingga wanita non-Muslimah ini boleh melihat seluruh tubuhnya kecuali antara pusar dan lututnya. Pendapat ini ada dalam Madzhab Syafi’iyyah dan satu riwayat dari Al-Imam Ahmad yang merupakan pendapat yang masyhur dalam madzhab pengikut beliau.
 
Mereka yang memegang pendapat kedua ini berdalil dengan hadis Asma bintu Abi Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhuma. Ia berkata “Ibuku datang menemuiku dalam keadaan ia musyrikah di masa Rasulullah ﷺ. Maka aku pun minta fatwa kepada Rasulullah ﷺ. “Ibuku datang dalam keadaan raghibah. [Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata: “Maknanya, ibu Asma’ datang menemui putrinya, meminta agar putrinya berbuat baik padanya, dalam keadaan ia khawatir putrinya akan menolaknya, sehingga ia pulang dengan kecewa. Demikian penafsiran jumhur.” [Fathul Bari, 5/286)]. Apakah boleh aku menyambung hubungan dengannya?”, tanyaku. “Iya, sambunglah hubungan dengan ibumu,” jawab beliau ﷺ.” [HR. Al-Bukhari no. 2620, 3183, 5978, 5979 dan Muslim no. 1003]
 
Hadis ini menunjukkan, bahwa Rasulullah ﷺ mengizinkan Asma radhiallahu ‘anha untuk menyambung hubungan dengan ibunya yang musyrikah, dan tidak dinukilkan adanya perintah ataupun berita, bahwa Asma berhijab dari ibunya.
 
Hadis lain yang menjadi dalil pendapat kedua ini adalah hadis Aisyah radhiallahu ‘anha:
 
Seorang wanita Yahudi pernah masuk menemui Aisyah lalu ia menyebutkan tentang azab kubur. Ia berkata: “Semoga Allah melindungimu dari azab kubur”. Aisyah pun menanyakan tentang azab kubur kepada Rasulullah ﷺ. “Ya, memang ada azab kubur,” jawab beliau ﷺ. Aisyah berkata: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah ﷺ selesai dari mengerjakan satu shalat pun, melainkan beliau mesti berlindung dari azab kubur.” [HR. Al-Bukhari no. 1372 dan Muslim no. 586]
 
Hadis di atas menunjukkan wanita-wanita kafir biasa masuk menemui Ummahatul Mukminin untuk suatu keperluan, bersamaan dengan itu Rasulullah ﷺ tidak memerintahkan istri-istri beliau untuk berhijab dari mereka.
 
Dari perselisihan pendapat yang ada, wallahu ta’ala a’lam bish-shawab, yang rajih (kuat), dengan melihat dalil masing-masingnya, adalah pendapat kedua, sehingga TIDAK ADA LARANGAN bagi seorang Muslimah untuk melepas hijabnya di hadapan wanita non-Muslimah [Jika sekiranya aman dari fitnah, kata Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah dalam fatwanya]. Yang demikian ini kita beralasan sebagaimana ucapan Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullahu:
 
1. Wanita berhijab dari lelaki disebabkan karena kekhawatiran munculnya syahwat dan fitnah. Sementara antara Muslimah dan wanita non-Muslimah tidak didapati kekhawatiran yang demikian, sehingga TIDAK ADA KEHARUSAN bagi Muslimah untuk mengenakan hijabnya di hadapan non-Muslimah.
 
2. Tidak ada dalil yang mewajibkan Muslimah berhijab dari non-Muslimah, dan juga dalam hal ini tidak dapat dikiaskan dengan perintah berhijab dari lelaki.
 
3. Muslimah dan non-Muslimah sama-sama berjenis wanita. Maka sebagaimana lelaki boleh melihat sesama lelaki tanpa dibedakan apakah lelaki itu Muslim atau kafir. Maka dibolehkan pula wanita memandang wanita tanpa dibedakan, apakah dia Muslimah atau non-Muslimah [Al-Mughni, 9/505]
 
Adapun ayat ( أَوْ نِساَئِهِنَّ ), di mana dhamirnya (kata ganti ‎هُنَّ yang artinya mereka para wanita) kembali pada wanita-wanita Mukminah yang menjadi sasaran pembicaraan di dalam ayat, TIDAKLAH menunjukkan pengkhususan, sehingga wanita selain Mukminah dikeluarkan darinya. Namun sebagaimana dikatakan oleh Abu Bakar ibnul Arabi rahimahullahu: “Yang shahih menurutku, firman Allah ini boleh diarahkan kepada seluruh wanita. Adapun dhamir (‎‏(هُنَّ dalam ayat ini didatangkan dalam rangka ittiba’ (pengikutan dengan lafal sebelumnya, bukan menunjukkan pengkhususan, pen.) karena ayat ini merupakan ayat dhamir, di mana disebutkan di dalamnya 25 dhamir. Tidak ada satu ayat pun dalam Alquran yang menyamainya dalam hal ini.” [Ahkamul Qur’an, 3/1359]
 
Untuk lebih memantapkan hati, berikut ini kami nukilkan fatwa dua ‘Alim Kabir dari kalangan ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah yang mendukung pendapat kedua ini:
 
Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullahu berkata:
“Ayat ‎أَوْ نِساَئِهِنَّ , mencakup seluruh wanita, Mukminah ataupun non-Mukminah. Inilah pendapat yang paling shahih, sehingga TIDAK ADA kewajiban bagi wanita Mukminah untuk berhijab dari wanita kafir, berdasarkan keterangan yang tsabit (kokoh) tentang masuknya wanita-wanita Yahudi di Madinah di masa Nabi ﷺ.
 
Demikian pula wanita-wanita penyembah berhala menemui istri-istri beliau ﷺ, sementara tidak disebutkan keterangan istri-istri Nabi ﷺ ini berhijab dari mereka.
 
Seandainya berhijab dari non-Muslimah ini terjadi dari istri-istri Nabi ﷺ atau dari selain mereka (dari kalangan shahabiyyah), niscaya akan dinukilkan. Karena para shahabat radhiallahu ‘anhum tidaklah meninggalkan sesuatu perkara, melainkan mereka mesti menukilkannya. Inilah pendapat yang terpilih dan paling kuat.” [Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, 6/361]
 
Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah ketika ditanya tentang permasalahan ini beliau menjawab: “Perkara ini dibangun di atas perbedaan pendapat ulama dalam menafsirkan firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam Surat An-Nur ayat 31 tentang dhamir dalam أَوْ نِساَئِهِنَّ .
 
Beliau menyebutkan perbedaan pendapat yang ada, kemudian beliau berkata:
“Kami sendiri condong kepada pendapat pertama (mencakup seluruh wanita, termasuk non-Muslimah) dan pendapat inilah yang lebih dekat kepada kebenaran, karena wanita memandang sesama wanita tidaklah dibedakan antara Muslimah dengan non-Muslimah. Namun tentunya hal ini diperkenankan bila di sana tidak ada fitnah. Adapun bila dikhawatirkan terjadi fitnah seperti si wanita non-Muslimah itu akan menceritakan keberadaan si Muslimah kepada kerabat-kerabatnya dari kalangan lelaki, maka ketika itu wajib untuk berhati-hati menjaga diri dari fitnah, sehingga si wanita Muslimah tidak membuka sesuatu dari anggota tubuhnya seperti kedua kaki atau rambutnya di hadapan wanita lain. Sama saja dalam hal ini (bila ada fitnah, pen.) apakah di hadapan wanita Muslimah ataupun non-Muslimah.” [Fatawa Al-Mar’ah, kumpulan dan susunan Muhammad Al-Musnad hal. 177]
 
 
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
 
Sumber: [asysyariah.com]
#hukum, #membukahijab, #jilbab, #hijab, #kerudung, #khimar, #copot, #buka, #nonmuslimah, #wanita, #perempuan, #kafir, #nonmuslimah, #bukanIslam, #ulamaberbedapendapat, #menampakkanrambut, #tampakkanrambut, #aurat #batasanaurat
,

MINUMAN PENGHUNI NERAKA

MINUMAN PENGHUNI NERAKA
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
MINUMAN PENGHUNI NERAKA
 
Mereka masuk Neraka karena mendapati nenek moyang mereka dalam kesesatan, lalu mereka bergegas melangkah mengikuti kesesatan tersebut. Mereka meniru TANPA berfikir dahulu. [Tafsir ayat ke 69. Al-Muntakhab]
 
Semoga Allah ta’ala menambahkan ilmu untuk kita. Aamiin!
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#minumanpenghuniNeraka, #zaqum, #hamim, #airmendidih, #kafir, #musyrikin, #Neraka, #pendudukNeraka #minumanairmendidih, #pohonzaqum, #buahzaqum #penhuni

BAGAIMANA CARA MEMAKAN SEMBELIHAN AHLUL KITAB (YAHUDI & NASRANI)?

BAGAIMANA CARA MEMAKAN SEMBELIHAN AHLUL KITAB (YAHUDI & NASRANI)?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 

BAGAIMANA CARA MEMAKAN SEMBELIHAN AHLUL KITAB (YAHUDI & NASRANI)?
>> Bagaimana pula cara memakan sembelihan kaum Paganis atau Komunis?

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan:
“TIDAK HARUS BERTANYA, siapa yang menyembelih, (apakah) orang Islam atau Ahli Kitab. Bagaimana cara menyembelihnya? Apakah membaca Bismillah atau tidak? Bahkan tidak layak, karena hal itu termasuk BERLEBIHAN dalam beragama. Sementara Nabi ﷺ makan dari apa yang disembelih Yahudi tanpa menanyakan kepada mereka.

Dalam shahih Bukhari dan lainnya dari Aisyah radhiallahu anha, bahwa orang-orang bertanya kepada Nabi ﷺ: “Sesungguhnya kaum non-Muslim mengantarkan daging kepada kami. Kami tidak mengetahui apakah mereka menyebut nama Allah atau tidak.” Maka beliau ﷺ bersabda: “Hendaknya kalian baca Bismillah dan makanlah.” (Aisyah) mengatakan: “Mereka baru masuk Islam. Maka Nabi ﷺ memerintahkan kepada mereka memakannya tanpa menanyakannya, padahal orang-orang yang datang itu boleh jadi tidak mengerti hukum-hukum Islam, karena mereka baru masuk Islam.” [Risalah Fi Ahkami Udhiyah Wazakat karangan Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah]

Berdasarkan penjelasan tadi, maka siapa yang bepergian ke negara non-Islam yang mayoritas penyembelihnya adalah orang Nasrani dan Yahudi, maka DIHALALKAN makan dari sembelihan mereka, kecuali kalau diketahui mereka menyembelih dengan memakai listrik atau menyebutkan selain nama Allah seperti tadi. Adapun kalau orang yang menyembelih itu Paganis atau Komunis, maka sembelihannya TIDAK HALAL. Kalau sembelihannya diharamkan, maka tidak diperbolehkan makan darinya, walau dengan alasan terpaksa, selama untuk menjaga kehidupannya dia dapat memakan ikan atau sayuran dan semisalnya.

Syekh Abdurrahman Barrak hafizahullah mengatakan: “Daging yang didatangkan dari negara kafir itu bermacam-macam. Sementara kalau ikan itu halal semuany,a karena kehalalannya tidak tergantung dari penyembelihan, dan juga tidak diharuskan menyebutkan nama Allah.

 

 

 

 

 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

 

 

 

 

#sembelihan, #hukum, #ahlikitab, #ahlulkitab, #Yahudi, #Nasrani, #Nashrani, #Paganis, #Komunis, #Kafir, #cara, #makan,#memakan, #dagingpotong, #negerikafir, #negarakafir #tidakharusbertanya, #tidakharustanya #Bismillah, #cukupmembacaBismillah, #cukupbacaBismillah #potong #memotong #menyembelih

,

AMANAT BERAT PADA MANUSIA

AMANAT BERAT PADA MANUSIA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

AMANAT BERAT PADA MANUSIA
 
Amanat berat telah disematkan pada manusia. Amanat ini berupa perintah dan larangan dari Allah ta’ala. Ada manusia yang bisa memikul beban ini secara lahir dan batin, merekalah orang-orang beriman. Dan ada yang menerimanya dengan melakukan kemunafikan dan kesyirikan.
 
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah berkata:
Allah ta’ala menerangkan mengenai beratnya amanat yang diemban. Amanat ini adalah menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Amanat ini ditunaikan dalam keadaan diam-diam atau tersembunyi, sebagaimana pula terang-terangan. Asalnya, Allah ta’ala memberikan beban ini kepada makhluk yang besar seperti langit, bumi dan gunung. Jika amanat ini ditunaikan, maka akan memperoleh pahala yang besar. Namun jika dilanggar, maka akan memperoleh hukuman.
 
Karena makhluk-makhluk ini takut tidak bisa mengembannya, bukan karena mereka ingin durhaka pada Rabb mereka, atau ingin sedikit saja menuai pahala, lalu amanat tersebut diembankan pada manusia dengan syarat yang telah disebutkan. Mereka mengemban dan memikulnya, namun dalam keadaan berbuat zalim disertai kebodohan. Mereka senyatanya telah memikul beban yang teramat berat.
 
Dilihat dari menjalankan amanat ataukah tidak, manusia dibagi menjadi tiga:
1. Kaum munafik, yaitu yang secara lahir nampak memikul amanat, namun secara batin tidak.
2. Kaum musyrik, yaitu yang secara lahir dan batin tidak menjalankan amanat tersebut.
3. Kaum mukmin, yaitu yang secara lahir dan batin menjalankan amanat dengan baik.
 
Mengenai tiga golongan tersebut dijelaskan amalan, pahala dan balasan bagi mereka pada ayat selanjutnya. Allah ta’ala berfirman:
“Sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan, dan sehingga Allah menerima taubat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [QS. Al Ahzab: 73]
 
Ayat terakhir ini Allah tutup dengan menyebutkan dua nama-Nya yang mulia, yang menunjukkan kemahasempurnaan ampunan, rahmat serta karunia Allah. Sedangkan kebanyakan makhluk tidak mensyukuri ampunan dan rahmat-Nya, malah membalasnya dengan berbuat kemunafikan dan kesyirikan.” [Taisir Al Karimir Rahman, 673-674]
 
 
Sumber: [Rumaysho.Com]
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
 #Alquran, #AlQuran, #tafsir, #QSAlAhzabayat73, #QSAlAhzabayat72, #AlAhzabayat73, #AlAhzabayat72 #arti, #definisi, #makna, #munafik, #munafiqun, #musyrikin,k #afir, #takwa, #taqwa #amanat, #amanah, #bebanberat, #bumi, #gunung #menjalankanperintah, #menjauhilaranganNya
,

TANDA KELURUSAN TAUHID ADALAH KHAWATIR TERJATUH DALAM KESYIRIKAN

TANDA KELURUSAN TAUHID ADALAH KHAWATIR TERJATUH DALAM KESYIRIKAN

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

TANDA KELURUSAN TAUHID ADALAH KHAWATIR TERJATUH DALAM KESYIRIKAN

 
 
وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ
 
Artinya:
Dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari (perbuatan) menyembah berhala-berhala. [QS Ibrahim : 35]
 
 
Sumber: Markaz Dakwah untuk Bimbingan, Taklim, dan Keamanan Berpikir

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

#DoaZikir, #Doa, #Dzikir, #Zikir, #Akidah, #Tauhid, #Tawheed, #Lurus, #TandaKelurusanTauhid, #MenyembahBerhala, #Berhala-berhala, #syirik, #kesyirikan

, ,

HUKUM MENDOAKAN ORANG KAFIR AGAR DAPAT HIDAYAH

HUKUM MENDOAKAN ORANG KAFIR AGAR DAPAT HIDAYAH

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#ManhajSalaf

 
HUKUM MENDOAKAN ORANG KAFIR AGAR DAPAT HIDAYAH
 
Pertanyaan:
Bolehkah mendoakan orang non-Muslim agar mendapatkan hidayah? Karena ada yang pernah bilang, katanya nggak boleh.
 
Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,
 
Ada dua hal yang perlu dibedakan terkait doa kebaikan untuk orang kafir:
Pertama: Istighfar (Permohonan Ampunan), dan
Kedua: Permohonan Hidayah
 
Pertama: Permohonan Ampunan (Istighfar)
 
Berdoa kepada Allah, memohonkan ampun untuk orang musyrik, HUKUMNYA HARAM dalam Islam. Allah berfirman:
 
مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُوْلِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ ( ) وَمَا كَانَ اسْتِغْفَارُ إِبْرَاهِيمَ لأَبِيهِ إِلا عَنْ مَوْعِدَةٍ وَعَدَهَا إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ أَنَّهُ عَدُوٌّ لِلَّهِ تَبَرَّأَ مِنْهُ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لأَوَّاهٌ حَلِيمٌ
 
“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni Neraka jahanam. Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.” [QS. At-Taubah: 113 – 114]
 
Sabab Nuzul
 
Ayat ini diturunkan terkait peristiwa Nabi ﷺ mendakwahkan Islam kepada pamannya Abu Thalib di detik kematiannya. Namun dia enggan untuk menerima Islam, karena merasa malu dengan masyarakatnya. Dia pun mati dalam kondisi musyrik. Rasa sedih pun menyelimuti Rasulullah ﷺ, sampai beliau ﷺ bersabda:
 
لأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْهُ
 
“Sungguh aku akan memintakan ampunan untukmu, selama aku tidak dilarang.” Kemudian Allah menurunkan ayat di atas dan Surat Al-Qashas ayat 56. [HR. Bukhari 3884]
 
Keterangan as-Sa’di:
 
Maksud ayat, tidak selayaknya seorang nabi atau semua orang yang beriman kepada beliau, memohonkan ampunan untuk orang musyrik, meskipun mereka adalah kerabat dekatnya. Sementara permohonan ampun untuk orang musyrik yang pernah dilakukan oleh Nabi Ibrahim kepada bapaknya, itu karena suatu janji yang pernah beliau ikrarkan, seperti yang Allah ceritakan di surat Maryam. Dan itu sebelum dia mengetahui akhir kehidupan bapaknya. Namun, setelah Ibrahim menyadari bahwa ayahnya adalah musuh Allah, dan akan mati dalam kekufuran, serta berbagai nasihat tidak lagi bermanfaat baginya, Ibrahim pun berlepas diri dari ayahnya, menyesuaikan diri dengan aturan Allah. [Tafsir as-Sa’di, hlm. 353]
 
Dalil yang lain adalah hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
 
اسْتَأْذَنْتُ رَبِّي أَنْ أَسْتَغْفِرَ لأُمِّي فَلَمْ يَأْذَنْ لِي ، وَاسْتَأْذَنْتُهُ أَنْ أَزُورَ قَبْرَهَا فَأَذِنَ لِي
 
“Saya minta izin Rabku untuk memohonkan ampun bagi ibuku, namun Dia tidak mengizinkanku. Lalu aku minta izin untuk menziarahi kuburnya, dan Dia mengizinkanku.” [HR. Muslim 976]
 
Mengapa Dilarang?
 
Sesungguhnya Nabi ﷺ dan orang yang beriman dituntut untuk mengimani segala sesuatu yang telah Allah tetapkan, mencintai apa yang Allah cintai dan membenci apa yang Allah benci, memberikan loyalitas kepada orang yang Allah beri loyalitas, dan memusuhi semua orang yang Allah musuhi. Sementara memohonkan ampun untuk ORANG YANG MATI KAFIR, bertentangan dengan prinsip ini. [Demikian keterangan as-Sa’di dalam Tafsirnya, hlm. 353]
 
Barangkali informasi yang Anda dengar, bahwa kita tidak boleh mendoakan orang kafir agar dapat hidayah, maksudnya adalah mendoakan orang kafir agar mendapatkan ampunan.
 
Kedua: Memohonkan Hidayah
 
Memohonkan ampun untuk orang musyrik, tentu berbeda dengan memohon hidayah untuk mereka. Kita DIBOLEHKAN memohonkan hidayah untuk mereka. Terdapat banyak dalil yang menunjukkan hal ini, di antaranya:
 
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan:
 
Thufail bin Amir pernah mendatangi Nabi ﷺ mengadukan pembangkangan yang dilakukan kaumnya. Thufail mengatakan:
 
إِنَّ دَوْسًا قَدْ عَصَتْ وَأَبَتْ ، فَادْعُ اللَّهَ عَلَيْهِمْ
 
“Sesungguhya Suku Daus telah bermaksiat dan enggan menerima Islam. Doakanlah keburukan untuk mereka.”
 
Kemudian Nabi ﷺ berdoa:
 
اللَّهُمَّ اهْدِ دَوْسًا وَأْتِ بِهِمْ
 
“Ya Allah, berilah petunjuk kepada Suku Daus dan datangkanlah mereka (ke Madinah).” [HR. Bukhari 2937 dan Muslim 2524]
 
Imam Bukhari membuat judul bab untuk hadis ini dalam shahihnya:
 
بَابُ الدُّعَاءِ لِلْمُشْرِكِينَ بِالْهُدَى لِيَتَأَلَّفَهُمْ
 
Bab: Mendoakan Kebaikan untuk Orang Musyrik dalam Bentuk Permohonan Hidayah Agar Bisa Mengambil Hati Mereka (Shahih Bukhari]
 
Hadis selanjutnya adalah dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu:
 
كَانَ الْيَهُودُ يَتَعَاطَسُونَ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْجُونَ أَنْ يَقُولَ لَهُمْ : يَرْحَمُكُمْ اللَّهُ ، فَيَقُولُ : يَهْدِيكُمُ اللَّهُ ، وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ
 
Dulu orang-orang Yahudi bersin di dekat Nabi ﷺ, dengan harapan mereka mendapatkan doa Nabi ﷺ untuk orang bersin: “Semoga Allah merahmati kalian.” Namun doa yang diucapkan Nabi ﷺ: “Semoga Allah memberikan petunjuk kepada kalian dan memperbaiki keadaan kalian.” [HR. Turmudzi 2739 dan dishahihkan al-Albani]
 
Allahu a’lam
 
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

══════

 

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat