Posts

,

MENINGGALKAN SHALAT ‘IED DAN HUKUM WANITA MELAKSANAKAN SHALAT ‘IED

MENINGGALKAN SHALAT IED DAN HUKUM WANITA MELAKSANAKAN SHALAT ‘IED

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

MENINGGALKAN SHALAT ‘IED DAN HUKUM WANITA MELAKSANAKAN SHALAT ‘IED

Pertanyaan:

Bolehkah seorang Muslim meninggalkan shalat ‘Ied, padahal tidak ada uzur [halangan]? Dan bolehkah melarang seorang wanita menunaikan shalat Ied bersama orang banyak?

Jawaban:

Shalat ‘Ied hukumnya Fardhu Kifayah, menurut sebagian besar para ulama. Seorang Muslim per-individu boleh meninggalkan shalat ‘Ied, tapi lebih baik baginya datang dan berkumpul bersama kaum Muslimin untuk melaksanakan shalat ‘Ied yang hukumnya Sunnah Mu’akad [sunnah yang ditekankan].  Sehingga tidak pantas bagi seorang Muslim untuk meninggalkannya tanpa alasan yang syari.

Sebagian ulama berpendapat, bahwa shalat ‘Ied itu hukumnya Fardhu ‘Ain, sama seperti shalat Jumat. Maka, bagi setiap Muslim laki-laki yang mukallaf [sudah dewasa dan tidak gila], dan dia bermukin [tidak bepergian], dia tidak boleh meninggalkan shalat ‘Ied. Pendapat ini lebih jelas bila dihubungkan dengan dalil-dalil yang ada, dan lebih dekat kepada kebenaran.

Dan disunnahkan pula bagi para wanita untuk menghadiri shalat ‘Ied dengan berhijab [menutup aurat] dan tidak memakai wangi-wangian. Hal ini berdasarkan sebuah hadis shahih dari Ummu Athiyyah Radhiyallahu ‘anha yang mengatakan:

أَمَرَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ أَنْ نُخْرِجَ فِيْ عِيْدَيْنِ العَوَاطِقَ وَالْحُيَّضَ لِيَشْهَدْناَ الخَيْرَ وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِيْنَ وَتَعْتَزِلَ الْحُيَّضُ الْمُصَلِّى

“Rasulullah ﷺ menyuruh kami keluar menghadiri shalat ‘Ied bersama budak-budak perempuan dan perempuan-perempuan yang sedang haid, untuk menyaksikan kebaikan-kebaikan dan mendengarkan khutbah. Dan bagi wanita yang sedang haid disuruh menjauhi tempat shalat.” [HR. Bukhari: 313, Muslim: 1475]

Dalam riwayat yang lain disebutkan, bahwa ada di antara shahabat perempuan berkata kepada Rasulullah ﷺ:

يَا رَسُوْلَ اللهِ لاَ تَجِدُ إِحْدَنَا جِلْبَابًا تَخْرُجُ فِيْهِ فَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا

“Wahai Rasulullah, di antara kami ada yang tidak memunyai jilbab.” Beliau ﷺ  berkata: “Hendaklah saudaranya memberikan [meminjamkan] jilbab kepadanya.” [HR. Ahmad: 19863].

Jadi tidak diragukan lagi, bahwa hadis ini menunjukkan tentang ditekankannya para wanita untuk keluar menuju shalat ‘Ied, agar mereka menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum Muslimin. Dan Allah subhanahu wa ta’ala Maha Penolong menuju kebenaran.

[Fatawa Syaikh Bin Baaz Jilid 2, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz, Pustaka at-Tibyan]

 

Sumber: https://konsultasIsyariah.com/29577-hukum-meninggalkan-shalat-ied.html

BELI BAJU BARU UNTUK HARI RAYA BISA JADI BERPAHALA, BISA JADI MELALAIKAN

BELI BAJU BARU UNTUK HARI RAYA BISA JADI BERPAHALA, BISA JADI MELALAIKAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

#DakwahSunnah
#TazkiyatunNufus

BELI BAJU BARU UNTUK HARI RAYA BISA JADI BERPAHALA, BISA JADI MELALAIKAN

Berpahala bagi laki-laki, jika berniat untuk berhias dan memakai pakaian terbaik ketika hari raya, dan berusaha berbeda dengan hari-hari biasanya.

Umar pernah menyarankan Rasulullah ﷺ agar membeli baju baru untuk hari ‘Ied dan menerima tamu utusan. Dari Ibnu Umar, dia berkata:

أَخَذَ عُمَرُ جُبَّةً مِنِ اسْتَبْرَقٍ تُبَاعُ فِي السُّوْقِ فَأَخَذَهَا فَأَتَى رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ اِبْتَعْ هَذِهِ تُجَمِّلُ بِهَا لِلْعِيْدِ وَالْوُفُوْدِ

“Umar mengambil jubah yang dijual di pasar. Dia pun mengambilnya, lalu dibawa kepada Rasulullah ﷺ seraya berkata: “Wahai Rasulullah, belilah ini, agar engkau bisa berhias dengannya ketika hari ‘Ied, dan menerima para tamu utusan.” [HR. Al-Bukhari no. 906 dan Muslim no. 2068]

Berhias dan memakai pakaian terbaik (tidak harus baru) merupakan sunnah dan kebiasaan para Salaf (pendahulu).

Abul Hasan As-Sindi  rahimahullah menjelaskan:

مِنْهُ عُلِمَ أَنَّ التَّجَمُّلَ يَوْم الْعِيد كَانَ عَادَةً مُتَقَرِّرَةً بَيْنهمْ وَلَمْ يُنْكِرْهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّه تَعَالَى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Dari hadis ini diketahui, bahwa berhias di hari ‘Ied termasuk kebiasaan yang sudah ada di kalangan para sahabat, dan Nabi ﷺ juga tidak mengingkarinya.” [Hasyiah As-Sindi ala An-Nasai: 3/181]

Rasulullah ﷺ sendiri berusaha memakai pakaian terbaik ketika hari raya dan Jumat.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

وكان يلبس للخروج إليهما أجمل ثيابه، فكان له حلة يلبسها للعيدين والجمعة

“Beliau ﷺ memakai pakaian terbaik ketika keluar hari raya,, dan memunyai jubah (yang bagus) untuk dua hari raya dan shalat Jumat.” [Lihat Zaadul ma’aad Ibnul Qayyim]

Baju Baru Yang Melalaikan

Yaitu memaksakan diri harus memakai baju baru, padahal ia tidak mampu, atau terlalu berlebihan mencari baju baru di pusat-pusat perbelanjaan, sehinga lalai dengan ibadah Ramadan. Terlebih di sepuluh hari terakhir Ramadan.

Suatu ketika anak-anak perempuan Umar bin Abdul Aziz datang kepada beliau dan meminta pakaian baru untuk menyambut hari ‘Ied, sedangkan kita tahu, bahwa Umar bin Abdul Aziz, walaupun seorang khalifah, tetapi sangat sederhana. Maka beliau berkata:

لَيْسَ الْعَيْدُ لِمَنْ لَبِسَ الْجَدِيْدَ إِنَّمَا الْعَيْدُ لِمَنْ خَافَ يَوْمَ الْوَعِيْدِ

“Laisal ‘Ied, liman labisal Jadiid

Innamal ‘Ied liman khaafa yaumal wa’iid”

Hari raya itu bukan bagi orang yang memakai pakaian baru. Akan tetapi, hari raya bagi mereka yang takut terhadap Hari Pembalasan.

Bagi Wanita Tetap Menjaga Pakaian Ketika Hari Raya

Jangan sampai para wanita menimbulkan fitnah dan ujian bagi laki-laki dengan berhias yang tidak pada tempatnya. Karena hari raya wanita banyak keluar rumah, bahkan diperintahkan untuk mengadiri shalat ‘Ied.

Perhatikan kisah berikut:

خرج حسان بن أبي سنان يوم العيد، فلما رجع، قالت له امرأته: كم من امرأة حسنة قد نظرت اليوم؟! فلما أكثرت، قال: والله ويحك ما نظرت إلا في إبهامي منذ خرجت من عندك حتى رجعت إليك

Hassan bin Abi Sinan keluar pada hari ‘Ied. Setelah kembali ke rumah, istrinya bertanya kepadanya: “Berapa banyak wanita cantik yang kamu lihat hari ini?”

Maka ia menjawab: “Demi Allah, aku tidak melihat sesuatu kecuali jempolku ini, sejak keluar dari tempatmu sampai kembali kepadamu.” [Dzammul Hawa, Ibnul Jauzi]

Demikian semoga bermanfaat

 

Penyusun: dr Raehanul Bahraen

Sumber: https://Muslimafiyah.com/beli-baju-baru-untuk-hari-raya-bisa-jadi-berpahala-bisa-jadi-melalaikan.html

 

 

BOLEHKAH MENERIMA ORDERAN KUE ULANG TAHUN?

BOLEHKAH MENERIMA ORDERAN KUE ULANG TAHUN?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

#StopBid’ah

BOLEHKAH MENERIMA ORDERAN KUE ULANG TAHUN?

Pertanyaan:

Bagaimanakah hukumnya menerima orderan membuat cake ulang tahun? Yang di situ kita diminta membuat ucapan selamat ulang tahun dan angka usia yangg berulang tahun.

Jawaban:

Merayakan ulang tahun termasuk bid’ah, sebab menambah hari ‘Ied (perayaan rutin) tidak dibenarkan dalam Islam selain yang telah ditentukan oleh syariat yaitu ‘Iedul Fitri, ‘Iedul Adha, ‘Iedul ‘Usbu’ (Jumat). Oleh karena itu Rasulullah ﷺ melarang para sahabat untuk merayakan selain hari raya yang telah ditentukan dalam Islam. Berdasarkan hadis:

عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْمَدِينَةَ وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَقَالَ « مَا هَذَانِ الْيَوْمَانِ ». قَالُوا كُنَّا نَلْعَبُ فِيهِمَا فِى الْجَاهِلِيَّةِ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْرِ »

“Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, beliau berkata, ketika Rasulullah ﷺ mendatangi kota Madinah, para sahabat memiliki dua hari raya yang padanya mereka bersenang-senang. Maka beliau ﷺ bersabda: Dua hari apa ini? Mereka menjawab: Dua hari yang sudah biasa kami bersenang-senang padanya di masa Jahiliyah. Rasulullah ﷺ bersabda: Sesungguhnya Allah telah mengganti kedua hari tersebut dengan dua hari yang lebih baik, yaitu ‘Iedul Adha dan ‘Iedul fitri.” [HR. Abu Daud, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud: 1039]

Hadis ini menunjukkan, bahwa perayaan hari tertentu dalam Islam bukan seremonial belaka, tetapi syariat yang diatur dalam Islam, sehingga tidak boleh ditambah atau dikurangi. Maka semua tambahan hari perayaan apapun yang tidak berdasarkan dalil termasuk bid’ah, seperti hari ulang tahun, Maulid Nabi ﷺ, perayaan Isra’ Mi’raj, perayaan Tahun Baru Islam 1 Muharram, Hari Ibu, Hari Bapak, Hari Kemerdekaan dan lain-lain.

Demikian pula dalam perayaan ulang tahun itu juga mengandung Tasyabbuh (menyerupai) orang-orang kafir, memboroskan harta, belum lagi maksiat lainnya seperti ikhtilat (campur baur antara laki-laki dan wanita), nyanyian dan musik.

Oleh karena itu tidak boleh membantu membuat kue ulang tahun, karena itu berarti membantu dalam dosa. Allah ta’ala berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (Al-Maidah: 2)

 

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

 

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

 

Bolehkah Menerima Orderan Kue Ulang Tahun?

, ,

MENGAPA MAULID NABI DIKATEGORIKAN SEBAGAI BID’AH?

MENGAPA MAULID NABI DIKATEGORIKAN SEBAGAI BID’AH?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#StopBid’ah

MENGAPA MAULID NABI DIKATEGORIKAN SEBAGAI BID’AH?

Segala puji hanyalah milik Allah. Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah ﷺ. Wa ba’du.

Rabi’ul Awwal ini banyak kaum Muslimin yang merayakan Maulid Nabi. Telah banyak pula tulisan yang menjelaskan, bahwa perayaan Maulid TIDAK ADA tuntunannya di dalam Islam. Dengan memohon pertolongan Allah, sedikit bahasan ini akan memaparkan alas an, mengapa Maulid dikategorikan sebagai bid’ah, sehingga TIDAK seyogyanya seorang Muslim merayakannya. Semoga Allah memberi taufik kepada kita semua.

Pengertian Ringkas Bid’ah

Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan: “Yang dimaksud dengan bid’ah adalah setiap perbuatan yang diada-adakan dalam agama, yang TIDAK ADA DALIL yang menunjukkan disyariatkannya perbuatan tersebut” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2/127)

Berdasarkan pengertian di atas, maka ada dua poin penting yang dapat diambil:

  1. Bid’ah hanya berkaitan dengan masalah agama
  2. Bid’ah adalah perbuatan yang tidak ada dasarnya dalam agama.

Mengapa Maulid Dikategorikan Sebagai Bid’ah?

Tentu bagi saudara kita yang merayakannya, Maulid adalah ibadah dan perayaan yang sangat agung, yang dapat mendatangkan keridhoan Allah Ta’ala dan syafaat Rasul-Nya ﷺ. Maulid Nabi adalah perayaan yang rutin digelar setiap tahunnya, sehingga Maulid Nabi termasuk hari ‘Ied di mana banyak dari kaum Muslimin berkumpul di hari tersebut.

Definisi ‘Ied

Abul ‘Abbas Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan: “’Ied adalah istilah yang diambil, karena berulangnya sesuatu untuk sebuah perkumpulan besar. Bisa jadi yang berulang adalah tahun, pekan, bulan, atau semisalnya” (Fathul Majid, hal. 267)

Dengan demikian, Maulid dapat dikategorikan sebagai hari ‘Ied, berdasarkan pengertian di atas, karena kesesuaian sifat-sifatnya, sama-sama rutin dan sama-sama merupakan perkumpulan besar kaum Muslimin.

Penentuan Ibadah Atau Hari ‘Ied Kaum Muslimin Membutuhkan Dalil

Akan tetapi, untuk menentukan suatu hari itu adalah ‘Ied atau bukan, maka membutuhkan dalil dari Alquran atau As Sunnah.

Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan: “Tidaklah disyariatkan bagi kaum Muslimin untuk menjadikan (suatu hari sebagai) ‘Ied, kecuali yang ditetapkan oleh syariat sebagai hari ‘Ied. Hari ‘Ied (yang ditetapkan syariat) tersebut adalah ‘Iedul Fithri, ‘Iedul Adha, hari-hari Tasyrik di mana ketiga ‘Ied tersebut adalah ‘Ied tahunan, serta Jumat, di mana Jumat adalah ‘Ied pekanan. Selain dari hari-hari ‘Ied tersebut, maka menetapkan suatu hari sebagai hari ‘Ied yang lain adalah kebid’ahan yang tidak ada asalnya dalam syariat” (Latho-if Al Ma’arif, hal. 228)

Adakah dalil dianjurkannya Maulid?

Sayangnya tidaklah kita temukan satu dalil pun yang menunjukkan disyariatkannya Maulid Nabi setelah sempurnanya Islam. Tidak ada hadis Nabi, riwayat sahabat, serta ucapan Empat Imam Mazhab yang menunjukkan dianjurkannya merayakan Maulid Nabi.

Kesimpulan Hukum Maulid

Oleh karena itulah, dengan melihat definisi bid’ah di atas, serta melihat penjelasan tentang ‘Ied sebelumnya, maka yang dapat kita simpulkan adalah:

Maulid adalah sebuah perayaan rutin (‘Ied) yang tidak memiliki landasan sama sekali dalam agama sehingga tergolong perbuatan baru yang diada-adakan (baca: BID’AH).

Inilah alasan pokok mengapa Maulid dikategorikan sebagai bid’ah. Maulid adalah perkara baru dalam agama, yang tidak ada dasarnya sama sekali, sedangkan Rasulullah ﷺ bersabda:

و إياكم و محدثات الأمور فإن كل بدعة صلالة

“Waspadalah kalian dari perkara-perkara baru (dalam agama), karena sesungguhnya semua bid’ah itu sesat” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, beliau berkata: “Hadis ini Hasan Shahih”)

Terdapat Kemiripan dengan Perayaan Orang Kafir

Selain tidak memiliki landasan agama, perayaan Maulid Nabi juga menyerupai perayaan yang diadakan oleh orang Nasrani, yang merayakan hari kelahiran Nabi ‘Isa ‘alaihis salam, sehingga dikategorikan sebagai bid’ah.

Imam As Suyuthi rahimahullah berkata: “Termasuk ke dalam perbuatan bid’ah yang mungkar adalah: Menyerupai orang kafir dan menyamai mereka dalam hari raya mereka dan perayaan mereka yang terlaknat, sebagaimana yang dilakukan banyak orang awam dari kaum Muslimin, yang turut serta dalam perayaan orang Nasrani pada Khamis al Baydh [biasa disebut Maundy Thursday atau Kamis Putih adalah perayaan yang dilakukan orang Nasrani untuk memperingati peristiwa ‘Perjamuan terakhir’ sebelum Yesus disalib] dan lainnya” (Al Amru bil Ittiba’, hal. 141, dinukil dari ‘Ilmu Ushul Al Bida’, hal. 80)

Mungkin Saja Nabi dan Para Sahabat Melakukannya Jika Mau

Akan semakin menambah keyakinan kita untuk mengatakan, bahwa Maulid adalah bid’ah, jika melihat perkataan Ibnu Taimiyyah berikut ini.

Beliau rahimahullah berkata: “Sesungguhnya para salaf tidak merayakannya (Maulid Nabi-pen), padahal ada faktor pendorong untuk merayakannya, dan juga tidak ada halangan untuk merayakannya. Seandainya perbuatan itu isinya murni kebaikan, atau mayoritas isinya adalah kebaikan, niscaya para salaf radhiyallahu ‘anhum lebih berhak untuk merayakannya. Karena mereka adalah orang yang lebih besar kecintaannya dan pengagungannya kepada Rasulullah ﷺ dibandingkan kita. Mereka -para salaf- lebih semangat untuk berbuat kebaikan” (lihat Iqtidho Shirothil Mustaqim, 2/612-616, dinukil dari Al Bida’ Al Hauliyah, hal. 198)

Seandainya Rasulullah ﷺ, para sahabat, tabi’in, maupun Empat Imam Mazhab mau merayakan Maulid Nabi, tentu mudah bagi mereka untuk merayakannya. Faktor pendorong merayakan Maulid sudah ada, yakni kecintaan mereka kepada Nabi ﷺ yang teramat besar, ditambah lagi tidak ada faktor yang menghalangi mereka untuk merayakannya. Namun, mengapa mereka tidak merayakannya? Bayangkan, apa susahnya merayakan Maulidan? Hal ini semata karena keyakinan mereka, bahwa Maulid bukanlah ajaran Rasul yang mulia ﷺ.

Penutup

Sebagai penutup, marilah sejenak kita renungi bersama kisah berikut ini:

Suatu ketika, Sa’id Ibnul Musayyib rahimahullah melihat seseorang yang shalat lebih dari dua rakaat setelah terbitnya fajar. Orang tersebut memerbanyak ruku’ dan sujud. Kemudian beliau melarang orang tersebut meneruskan sholatnya. Orang tersebut pun berkata: “Hai Abu Muhammad (panggilan Sa’id Ibnul Musayyib-pen)! Apakah Allah akan menyiksa aku karena sholatku?” Beliau menjawab: “Tidak. Akan tetapi Allah akan menyiksamu karena kamu menyelisihi sunnah!”

Syaikh Al Albani berkomentar: “Ini adalah jawaban yang sangat indah dari Sa’id Ibnul Musayyib rahimahullahu Ta’ala. Jawaban ini adalah senjata ampuh bagi orang yang gemar berbuat bid’ah, yang menganggap baik banyak bid’ah dengan alasan isinya adalah zikir dan sholat! Mereka pun mengingkari Ahlus Sunnah dengan memanfaatkan alasan tersebut. Mereka menuduh bahwa Ahlus Sunnah mengingkari zikir dan sholat! Padahal sejatinya, yang mereka ingkari adalah penyelisihan mereka terhadap sunnah dalam berzikir, sholat, dan sejenisnya” (Irwa-ul Ghalil, 2/236, dinukil dari ‘Ilmu Ushul Al Bida’, hal. 71-72)

Itulah, yang Ahlus Sunnah ingkari bukanlah zikir dan sholat itu sendiri, akan tetapi penyelisihan terhadap sunnah itulah yang menjadi poin penting pembahasan ini. Bagaimana tidak? Menyelisihi sunnah berarti menyelisihi Rasulullah ﷺ. Padahal Allah Ta’ala memerintahkan kita semua untuk selalu meneladani beliau ﷺ. Semoga Allah Subhaanahu wa Ta’ala memberi petunjuk kepada kita semua dan membimbing kita untuk senantiasa berpegang kepada Alquran dan As Sunnah.

Ya Allah, kami memohon kepada-Mu hidayah, ketakwaan, kehormatan, dan kecukupan. Sesungguhnya Engkau adalah Dzat Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa

Semoga shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada Rasulullah ﷺ. Wallahu a’lam.

Penulis: Yananto Sulaimansyah

[Artikel Muslim.Or.Id]

 

https://Muslim.or.id/11394-mengapa-Maulid-nabi-dikategorikan-sebagai-bidah.html

EMPAT PERBEDAAN MASJID DAN MUSHOLLA

EMPAT PERBEDAAN MASJID DAN MUSHOLLA

EMPAT PERBEDAAN MASJID DAN MUSHOLLA

Apakah Disunahkan Sholat Tahiyyatul Masjid di Musholla?

 

Pertanyaan:
Jika ada bangunan “langgar” namun belum diwakafkan, terkadang di tempat tersebut digunakan untuk sholat jamaah Maghrib dan Isya, apakah sudah dihukumi sebagai masjid dan padanya hukum-hukum terkait masjid?

Jawaban:
Al-Lajnah Al-Iftaa’ Al-Urduniyyah berkata:

“Alhamdulillah, shalawat dan salam tercurah pada Sayyidina Rasulillah.

Setiap tempat di permukaan bumi yang seorang sah sholat di atasnya teranggap sebagai masjid. Nabi ﷺ bersabda:

وَجُعِلَتْ لِي الأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا

“Bumi ini dijadikan untukku sebagai masjid dan tempat yang suci” [HR. Al-Bukhari]

Namun masjid yang berlaku di dalamnya hukum-hukum fikih, adalah tempat yang diwakafkan untuk sholat, yaitu tempat yang diwakafkan dan disediakan khusus untuk sholat. Adapun definisi mushalla adalah tempat yang digunakan untuk sholat dan berdoa tanpa disyaratkan wakaf. Setiap tempat yang digunakan untuk sholat dan berdoa, baik statusnya wakaf atau bukan, disebut mushalla. Oleh karena itu, mushalla mencakup masjid dan selainnya. Setiap masjid adalah mushalla dan tidak setiap mushalla adalah masjid.

Terdapat perbedaan hukum fikih di antara keduanya:

[Pertama] Masjid adalah tempat yang diwakafkan untuk sholat, tidak sah melakukan transaksi jual-beli dan semisalnya di masjid. Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata:

الأظهر أن الملك في رقبة الموقوف ينتقل إلى الله تعالى، أي ينفك عن اختصاص لآدمي فلا يكون للواقف ولا للموقوف عليه

“Yang nampak bahwa kepemilikan tanah yang diwakafkan berpindah pada Allah ta’ala, maksudnya terlepas dari kepemilikan manusia, bukan lagi menjadi hak milik orang yang mewakafkan, maupun pihak yang menerima wakaf” [Minhaaj Ath-Thalibin, 1/70]

Sedangkan mushalla masih mungkin dimiliki oleh pihak tertentu sehingga diperbolehkan melakukan transaksi jual-beli dan sewa-menyewa di dalamnya, serta boleh pula memindahkan mushalla ke tempat yang lain.

[Kedua] Diharamkan bagi wanita junub dan haid menetap di masjid, dan sebaliknya diperbolehkan bagi mereka menetap di mushalla. Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata:

ويحرم بها – أي بالجنابة – ما حرم بالحدث، والمكث بالمسجد لا عبوره

“Menetap di masjid diharamkan bagi orang yang junub, namun diperbolehkan bagi orang yang berhadats atau seorang yang hanya sekedar lewat” [Minhaaj Ath-Thalibin, 1/21]

[Ketiga] Tidak sah melakukan I’tikaf dan sholat Tahiyyatul Masjid kecuali di masjid. Al-Khathiib Asy-Syirbiini rahimahullah berkata:

ولا يفتقر شيء من العبادات إلى مسجد إلا التحية والاعتكاف والطواف

“Seluruh ibadah tidak disyaratkan dilakukan di masjid, kecuali sholat Tahiyyatul masjid, I’tikaf dan Thawaf” [Mughniy Al-Muhtaaj, 5/329]

[Keempat] Diharamkan membangun lantai atau bangunan khusus di atas masjid. Disebutkan dalam Hasyiyah Ibni ‘Abidiin:

لو تمت المسجدية ثم أراد البناء – أي بناء بيت للإمام فوق المسجد – مُنع

“Seandainya pembangunan masjid telah sempurna, kemudian ia ingin menambah bangunan lain –seperti membangun rumah imam di atas masjid- maka hal itu terlarang” [Hasyiyah Ibni ‘Abidin, 3/371]

Sedangkan diperbolehkan melakukan hal itu di mushalla, karena mushalla bukan tempat wakaf, namun dengan tetap menjaga kebersihan dan kesucian tempat dari najis.

Melakukan sholat Jumat di mushalla hukumnya sah, namun yang lebih utama dilakukan di masjid. Pensyarah kitab Al-Minhaj berkata:

لأن إقامتها في المسجد ليست بشرط

“Karena melakukan sholat Jumat di masjid bukanlah syarat” [Syarh Al-Minhaaj, 2/238]. Wallahu ta’ala a’lam”

Berikut teks fatwanya:

الحمد لله، والصلاة والسلام على سيدنا رسول الله
كل بقعة من الأرض تصح الصلاة فيها تعد مسجداً؛ لقوله صلى الله عليه وسلم: (وَجُعِلَتْ لِي الأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا) رواه البخاري. لكن المسجد الذي تترتب عليه أحكام فقهية هو المكان الموقوف للصلاة، أي الذي وُقف وحُبس ليكون مخصصاً للصلاة.
وأما المصلى فهو موضع الصلاة والدعاء، ولا يشترط فيه أن يكون موقوفاً، بل يصح أن يكون موقوفاً وغيره، فالمصلى إذن يشمل المسجد وغير المسجد، فكل مسجد مصلى وليس كل مصلى مسجداً.

ويفارق المسجد المصلى في بعض الأحكام منها:

أولاً: المسجد – كما ذكرنا -: المكان الموقوف للصلاة؛ فلا يصح التصرف فيه ببيع ونحوه. قال الإمام النووي: ” الأظهر أن الملك في رقبة الموقوف ينتقل إلى الله تعالى، أي ينفك عن اختصاص لآدمي فلا يكون للواقف ولا للموقوف عليه ” “منهاج الطالبين (1/70)، أما المصلى فيصح كونه مملوكاً لشخص معين، ويصح بيعه أو تحويله إلى مكان آخر، ويصح كونه مستأجراً.

ثانياً: يحرم على الحائض والجنب اللبث في المسجد، بينما يصح لهما المكث في المصلى. قال الإمام النووي: “ويحرم بها – أي بالجنابة – ما حرم بالحدث، والمكث بالمسجد لا عبوره” “منهاج الطالبين” 1/ 12.

ثالثاً: الاعتكاف أو تحية المسجد لا يصحان إلا في المسجد. قال الخطيب الشربيني: “ولا يفتقر شيء من العبادات إلى مسجد إلا التحية والاعتكاف والطواف” “مغني المحتاج” (5/ 329.

رابعاً: يحرم اعتلاء المسجد ببناء أو طوابق. جاء في “حاشية ابن عابدين”: “لو تمت المسجدية ثم أراد البناء – أي بناء بيت للإمام فوق المسجد – مُنع” (3/ 371)، أما المصلى فيصح ذلك لأنه ليس بموقوف، مع مراعاة المحافظة على نظافة المصلى وتنزيهه عن النجاسة.

وتصح صلاة الجمعة في المصلى، والأفضل كونها في المسجد. قال الشيخ الجمل عن صلاة الجمعة: “لأن إقامتها في المسجد ليست بشرط” “حاشية الجمل على شرح المنهج” (2/ 238). والله تعالى أعلم.

Sumber: Fatawaa Lajnah Al-Iftaa’ Al-Urduniyyah no. 2064, tertanggal 12/06/2012

Asy-Syaikh Abdul Aziiz bin Baz rahimahullah berkata:

السنة لمن أتى مصلى العيد لصلاة العيد، أو الاستسقاء أن يجلس ولا يصلي تحية المسجد؛ لأن ذلك لم ينقل عن النبي صلى الله عليه وسلم ولا عن أصحابه رضي الله عنهم فيما نعلم إلا إذا كانت الصلاة في المسجد فإنه يصلي تحية المسجد؛ لعموم قول النبي صلى الله عليه وسلم: ((إذا دخل أحدكم المسجد فلا يجلس حتى يصلي ركعتين)) متفق على صحته.
والمشروع لمن جلس ينتظر صلاة العيد أن يكثر من التهليل والتكبير؛ لأن ذلك هو شعار ذلك اليوم، وهو السنة للجميع في المسجد وخارجه حتى تنتهي الخطبة. ومن اشتغل بقراءة القرآن فلا بأس، والله ولي التوفيق.

“Bagi seorang yang mendatangi mushalla untuk sholat ‘Ied atau mushalla untuk sholat Istisqaa, tidak disunahkan mengerjakan sholat Tahiyyatul Masjid. Hendaklah ia duduk, karena perbuatan tersebut tidak pernah dinukil dari Nabi ﷺ dan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum, sebatas apa yang kami ketahui. Kecuali jika sholat Ied tersebut dilakukan di masjid, maka hukumnya tetap disunahkan berdasarkan keumuman hadis Nabi ﷺ:

إذا دخل أحدكم المسجد فلا يجلس حتى يصلي ركعتين

“Jika salah seorang kalian memasuki masjid, janganlah ia duduk hingga melakukan sholat dua rakaat” -disepakati keshahihannya-

Disunahkan baginya untuk memerbanyak tahlil dan takbir saat menunggu ditegakannya sholat Ied, baik jamaah yang berada di dalam maupun di luar masjid, hingga selesai khutbah, karena itulah yang merupakan syi’ar di hari Ied. Barang siapa yang menyibukkan diri dengan membaca Alquran, ini pun diperbolehkan. Wallahu waliyyut taufiiq”

Sumber: Majmuu’ Fataawaa wa Maqaalaat Mutanawwi’ah jilid 13

Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah pernah ditanya:

هل هناك ركعتان تحية المسجد في مصلى العيد؟

“Apakah disyariatkan melakukan sholat Tahiyyatul Masjid di mushalla Ied?

Beliau rahimahullah menjawab:

طبعا هذا ليس مسجدا فليس له تحية مسجد

“Ini bukan masjid, sehingga tidak ada sholat Tahiyyatul Masjid di dalamnya”.

 

Diterjemahkan oleh Abul-Harits

http://abul-harits.blogspot.co.id/2014/01/4-perbedaan-masjid-dan-musholla-apakah.html

 

Yang berikut adalah “Tanya Jawab dengan Al Ustadz Abul Harits”

Pertanyaan:

Menurut saya, kalau kalau musholla itu berdiri di tanah wakaf dan dipergunakan setiap hari untuk sholat berjamaah, maka berhak untuk sholat Tahiyyatul Masjid di situ. wallahu a’llam

Jawaban al Ustadz Abul-Harits:

Anda benar. Musholla yang berdiri di atas tanah wakaf dan digunakan untuk shalat berjamaah, disunahkan shalat Tahiyyatul Masjid di dalamnya. Karena musholla tersebut telah berstatus masjid. Jadi perbedaan masjid dan musholla bukan bergantung pada besar kecilnya bangunan.

Seringkali, istilah musholla yang dimaksud oleh masyarakat kita adalah masjid yang berukuran kecil, ini KELIRU. Hal mendasar yang membedakan keduanya adalah TANAH WAKAF. Bangunan tanah wakaf yang didirikan untuk tempat shalat adalah masjid, meskipun berukuran kecil. Bangunan yang didirikan untuk tempat shalat tanpa ada tanah wakaf adalah musholla, meskipun berukuran besar. Contoh bangunan musholla yang sering kita jumpai: musholla di kantor, musholla di mall pusat perbelanjaan, musholla di sekolah, dan lainnya.

Pertanyaan:

Kalau dasar yang membedakan itu tanah wakaf [sebagaimana di kampung kami], tapi niat awal diperuntukan untuk musholla, apakah bisa dialihkan fungsi ke masjid? Atau secara tersirat seperti masjid? Mohon pencerahan. Terima kasih

Jawaban al Ustadz Abul-Harits:

Musholla bisa dialihfungsikan sebagai masjid jika tanahnya diwakafkan. Jika dari awal memang tanahnya merupakan tanah wakaf, maka statusnya sudah masjid, meskipun dinamakan musholla oleh masyarakat. Wabillahittaufiq

Komentar:

Benar, status awal sudah tanah wakaf dan karena statusnya sudah MASJID [walau tanpa merubah kata MUSHOLLA ], artinya sudah bisa dipakai niat sholat Tahyatul Masjid atau kalau memungkinkan sholat Jumat.Terima kasih atas penjelasannya.

Pertanyaan:

Kalau tidak pernah dipakai Jumatan, sholat Lima Waktu jarang, azan tidak setiap waktu, apakah tetap disebut masjid, walaupun tanah wakaf.

Jawaban al Ustadz Abul-Harits:

Seandainya ada masjid agung yang terletak di komplek alun-alun kota, kemudian jarang didirikan shalat Jamaah 5 waktu dan shalat Jumat, statusnya tetap sebagai masjid, meskipun tidak dimakmurkan (sepi). Jadi alasan tersebut bukan merupakan kriteria masjid.

Masjid yang dipakai shalat Jumat sering diistilahkan dengan masjid Jami’. Namun bukan berarti masjid selain masjid jami’ tidak berstatus sebagai masjid. Mudah-mudahan bisa dipahami, Allahua’lam

Pertanyaan:

Saya tinggal di sebuah Komplek Pertokoan. Di Komplek tersebut ada Mushalla sekira 8 x 8 meter….. tak jauh dari komplek (sekitar 200m) ada sebuah masjid…. ketika shalat Lima waktu tiba….. tempat mana yang harus saya pilih… apakah saya mendirikan shalat berjamaah di Mushalla komplek atau ikut berjamaah di Masjid (dan mengabaikan Mushalla komplek). Mohon pencerahan, terima kasih

Jawaban al Ustadz Abul-Harits:

Anda boleh memilih shalat Jamaah di musholla atau di masjid. Namun yang lebih utama (afdhal), Anda shalat di masjid, karena masjid memiliki keutamaan khusus yang tidak dimiliki oleh musholla.

Jika ada pertimbangan lain, misalkan absennya Anda dari musholla komplek menimbulkan fitnah atau salah paham, maka lebih baik Anda shalat di musholla. Jika tidak ada kekhawatiran tersebut, Anda tetap shalat di masjid, Allahua’lam

Pertanyaan:

Di dalam cluster ada tanah fasum. Karena belum ada masjid, di perumahan dibangun mushola cukup 50-60 orang. Apakah bisa dibilang masjid tanah fasum?

Beberapa tahun kemudian developer membuat masjid di luar cluster buat Jumatan.

Apakah harus pindah? Apakah masih boleh jamaah di mushola? Adakah hadis yg menyebutkan sholat fardhu di masjid jami lebih utama daripada di masjid dalam cluster?

Mohon jawabannya yang segera, untuk pemahaman ke warga.

Jawaban al Ustadz Abul-Harits:

Kalau tanah fasum itu memang khusus disediakan untuk masjid, bukan hanya untuk sementara saja, maka musholla tersebut berstatus masjid. Namun kalo ke depannya akan dibangun masjid yang tetap, kemudian tanah fasum itu dialihkan untuk fungsi yang lain setelah dibangun masjid, maka bangunan untuk shalat itu hanya berstatus musholla.

Baik masjid maupun musholla, keduanya boleh dipakai untuk shalat jamaah lima waktu. Banyak faktor yang menjadikan shalat di salah satu masjid lebih utama dari masjid yang lain, di antaranya bacaan quran imam, jumlah jamaah shalat, jauh dekatnya, dihidupkannya sunah-sunah nabi di masjid tersebut dan faktor lainnya. Shalat berjamaah di masjid jami’ tidak lebih utama dibandingkan shalat di masjid lain. Namun shalat di masjid (baik masjid jami’ atau bukan) lebih utama dari shalat di muholla. Keutamaan suatu masjid berbeda-beda dilihat dari beberapa faktor yang saya sebutkan tadi.

 

Allahua’lam