HUKUM MEMELIHARA ANJING, MENYENTUH DAN MENCIUMNYA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
 
HUKUM MEMELIHARA ANJING, MENYENTUH DAN MENCIUMNYA
 
Pertanyaan:
Memelihara anjing termasuk najis. Akan tetapi jika seorang Muslim memelihara anjing sekadar untuk keamanan rumah dan dia ditempatkan di luar di ujung kompleks, bagaimana dia menyucikan dirinya? Apa hukumnya jika dia tidak mendapatkan debu atau tanah untuk membersihkan dirinya? Apakah ada benda pengganti yang dapat digunakan seorang Muslim untuk membersihkan dirinya? Kadang-kadang orang itu membawa anjing tersebut untuk berlari, kadang anjing tersebut merangkul dan menciumnya…
 
Jawaban:
Alhamdulillah.
 
Pertama: Syariat yang suci telah mengharamkan memeliharat anjing. Siapa yang menentang ajaran ini (dengan memelihara anjing) maka akan dihukum dengan mengurangi kebaikannya sebanyak satu qirath atau dua qirath setiap hari. Dikecualikan dalam hal ini jika memelihara bertujuan untuk berburu, menjaga ternak dan menjaga pertanian. Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda:
 
( مَنِ اتَّخَذَ كَلْباً إِلاَّ كَلْبَ مَاشِيَةٍ ، أوْ صَيْدٍ ، أوْ زَرْعٍ ، انْتُقِصَ مِنْ أجْرِهِ كُلَّ يَوْمٍ قِيرَاطٌ ) رواه مسلم 1575
 
“Siapa yang memelihara anjing, kecuali anjing untuk menjaga hewan ternak, berburu dan menjaga tanaman, maka akan dikurangi pahalanya setiap hari sebanyak satu qirath.” [HR. Muslim, no. 1575]
 
Dari Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
“Siapa yang memelihara anjing kecuali anjing untuk memelihara ternak, atau berburu, maka akan dikurangi amalnya setiap hari sebanyak dua qirath.” [HR. Bukhari, no. 5163, Muslim, no. 1574]
 
Apakah dibolehkan memelihara anjing untuk menjaga rumah?
 
Imam Nawawi berkata:
“Diperselisihkan dalam hal memelihara anjing selain untuk tujuan yang tiga di atas, seperti untuk menjaga rumah, jalanan. Pendapat yang lebih kuat adalah dibolehkan, sebagai qiyas dari ketiga hal tersebut, karena adanya illat (alasan) yang dapat disimpulkan dalah hadis, yaitu: Kebutuhan.” Selesai [Syarh Muslim, 10/236]
 
Syekh Ibn Utsaimin rahimahullah berkata:
“Dengan demikian, rumah yang terletak di tengah kota, tidak ada alasan untuk memelihara anjing untuk keamanan, Maka memelihara anjing untuk tujuan tersebut dalam kondisi seperti itu diharamkan, tidak boleh, dan akan mengurangi pahala pemiliknya satu qirath atau dua qirath setiap harinya. Mereka harus mengusir anjing tersebut dan tidak boleh memeliharanya. Adapun kalau rumahnya terletak di pedalaman, sekitarnya sepi tidak ada orang bersamanya, maka ketika itu dibolehkan memelihara anjing untuk keamanan rumah dan orang yang ada di dalamnya. Menjaga penghuni rumah jelas lebih utama dibanding menjaga hewan ternak atau tanaman.” Selesai ‘[Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin, 4/246]
 
Dalam mengompromikan riwayat antara satu qirath dan dua qirath terdapat beberapa pendapat:
 
Al-Hafiz Al-Aini rahimahullah berkata:
Kemungkinan perbedaan keduanya tergantung macam anjingnya, salah satunya lebih berbahaya. Ada juga yang mengatakan bahwa dua qirath jika memeliharanya di kota dan desa, sedangkan yang satu qirath, jika memeliharanya di pedalaman. Ada juga yang mengatakan bahwa kedua riwayat tersebut disampaikan dalam dua zaman yang berbeda. Pertama disampaikan satu qirath, kemudian ancamannya ditambah, lalu disebut dua qirath. [Umdatul Qari, 12/158]
 
Kedua: Adapun ucapan penanya bahwa “Memelihara anjing adalah meyimpan najis” tidak dapat dibenarkan secara mutlak. Karena yang dikatagorikan najis adalah bukan anjingnya, tapi liurnya apabila dia minum dari sebuah wadah. Siapa yang menyentuh anjing atau disentuh anjing, maka tidak wajib baginya menyucikan dirinya, tidak dengan debu, tidak pula dengan air. Jika seekor anjing minum dari sebuah wadah, maka air di wadah tersebut harus ditumpah dan dicuci sebanyak tujuh kali, yang kedelapan dicuci dengan debu, jika dia ingin menggunakannya. Jika wadah tersebut khusus dia gunakan untuk anjing, maka tidak perlu disucikan.
 
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda:
 
( طُهُورُ إِنَاءِ أحَدِكُمْ إِذَا وَلَغَ فِيهِ الكَلْبُ أنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ أُولاَهُنَّ بِالتُّرَابِ ) رواه مسلم ( 279 (
 
“Sucinya wadah kalian apabila dijilat anjing adalah dengan dibasuh sebanyak tujuh kali, basuhan pertama dengan debu.” [HR. Muslim, no. 279]
 
Dalam sebuah riwayat Muslim, (Rasulullah ﷺ bersabda):
“Jika anjing menjilati wadah, maka basuhlah sebanyak tujuh kali, dan yang kedelapan taburkan dengan tanah.” [HR. Muslim, no. 280]
 
Syaikhul Islam rahimahullah berkata: “Adapun tentang anjing, para ulama berselisih dalam tiga pendapat;
 
Pertama, bahwa anjing adalah suci, termasuk liurnya. Ini adalah Mazhab Malik.
 
Kedua, bahwa anjing adalah najis termasuk bulunya. Ini adalah Mazhab Syafi’i, dan salah satu dari dua pendapat dalam Mazhab Ahmad.
 
Ketiga, bulu anjing suci, sedangkan liurnya najis. Ini adalah pendapat Mazhab Abu Hanifah dan salah satu pendapat dari dua pendapat dalam Mazhab Ahmad.
 
Pendapat ketiga adalah pendapat yang paling benar. Maka jika bulu anjing yang lembab menempel pada baju atau tubuh seseorang, hal itu tidak membuatnya najis.” [Majmu Fatawa, 21/530]
 
Beliau berkata di tempat lain:
“Hal demikian, karena asal pada setiap benda adalah suci. Maka tidak boleh menyatakan sesuatu najis atau haram kecuali berdasarkan dalil, sebagaimana firman Allah taala:
 
( وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلاَّ مَا اضْطُّرِرْتُم إِلَيْهِ ) الأنعام/119 ،
 
Padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya. [QS. Al-An’am: 11]
 
Allah juga berfirman:
“Dan Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan suatu kaum sesudah Allah memberi petunjuk kepada mereka, sehingga dijelaskan-Nya kepada mereka apa yang harus mereka jauhi.” [QS. At-Taubah: 115]
 
Jika demikian halnya, maka Nabi ﷺ bersabda:
“Sucinya wadah kalian apabila dijilat anjing, adalah dengan dibasuh sebanyak tujuh kali, basuhan pertama dengan debu.” [HR. Muslim, no. 279]
 
Dan dalam hadis lain (Rasulullah ﷺ bersabda), “Jika anjing menjilati wadah.” [HR. Muslim, no. 280]
 
Hadis-hadis tentang masalah ini seluruhnya hanya menyebutkan jilatan anjing, dan tidak menyebutkan bagian tubuh lainnya. Maka dengan demikian, penetapan (bagian lain dari tubuhnya) sebagai najis dilakukan berdasarkan qiyas (perbandingan).
 
Begitu juga, Nabi ﷺ memberi keringanan (membolehkan) memelihara anjing buruan, penjaga hewan ternak dan pertanian. Maka tentu saja siapa yang memeliharanya akan tersentuh bulunya yang lembab, sebagaimana dia akan tersentuh bulu lembab keledai dan semacamnya. Maka pendapat bahwa bulu anjing termasuk najis dalam keadaan demikian, termasuk perkara memberatkan, diangkat dari umat ini.” [Majmu Fatawa, 21/617, 619]
 
Namun yang lebih hati-hati adalah apabila seseorang menyentuh anjing dengan tangannya yang basah, atau anjingnya basah, hendaknya dia mencucinya sebanyak tujuh kali, salah satunya dengan tanah. Demikian dikatakan oleh Syekh Ibnu Utsaimin:
‘Adapun menyentuh anjing, jika tidak dalam kondisi basah, maka hal itu tidak membuat tangan menjadi najis. Adapun menyentuhnya dalam keadaan basah, hal tersebut dalam membuat tangan menjadi najis berdasarkan pendapat sebagian besar ulama. Wajib mencuci tangannya sebanyak tujuh kali, salah satunya dengan tanah.” [Majmu Fatawa Ibnu Utsaimin, 11/246]
 
Ketiga. Cara menyucikan najis anjing adalah sebagaiman telah dijelaskan sebelumnya dalam jawaban soal, no. 41090, 46314.
 
Yang wajib adalah mencuci najis anjing sebanyak tujuh basuhan, salah satunya dengan tanah. Jika tanah mudah didapatkan, maka wajib menggunakannya dan tidak dapat diganti dengan yang lainnya. Adapun jika tidak mendapatkan tanah, tidak mengapa menggunakan alat pembersih lainnya seperti sabun.
 
Keempat. Penanya menyatakan, bahwa mencium anjing menyebabkan berbagai macam penyakit. Banyak penyakit yang menimpa seseorang akibat tindakannya yang bertentangan dengan syariat dengan mencium anjing dan minum di wadahnya sebelum disucikan.
 
Di antaranya, penyakit Pastrela, yaitu penyakit yang disebabkan bakteri. Di antaranya juga penyakit ‘Kantong air’ yaitu termasuk penyakit benalu yang menyerang dalam isi perut orang dan hewan. Serangan yang paling mematikan pada hati dan kedua jantung, setelahnya mengeringkan perut dan (menyebar) keseluruh tubuh. Penyakit ini akan menimbulkan cacing pita yang disebut Ikankus Carnilusis, yaitu cacing kecil yang panjangnya mencapai 2-9 mm, terdiri dari tiga ruas, kepala dan leher. Bagian kepalanya terdapat empat alat penghisap. Dan cacing ini hidup di ujung usus tambahan yang seringkali berada pada anjing, kucing, musang dan srigala
 
Lalu penyakitnya akan berpindah ke manusia yang sangat mencintai anjing, apabila dia menciumnya atau meminum dari wadahnya. [Lihat Buku Amrad Al-Hayawaanat Al-Alifah allati Tushiibul-Insan, oleh DR. Ali Ismail Ubaid As-Sanafi]
 
Kesimpulannya:
Tidak diperbolehkan memelihara anjing kecuali untuk berburu atau menjaga hewan ternak dan tanaman. Boleh juga untuk menjaga rumah, dengan syarat tempatnya berada di perkampungan, dan dengan syarat tidak tersedia sarana yang lain. Tidak selayaknya seorang Muslim mengikuti cara orang-orang kafir; berlari bersama anjing, menyentuh mulutnya atau menciumnya, yang dapat menyebabkan berbagai penyakit.
 
Alhamdulillah, kita diberi syariat yang sempurna ini, yang bertujuan untuk memperbaiki agama dan dunia manusia. Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
 
Wallahua’lam.
 
 
#hukum #hukummemeliharaanjing #anjingdalamIslam #hukummenciumanjing #airliuranjing #airludahanjing #liuranjing #wadahdijilatanjing #caramencucitempatdijilatanjing #mencuci7 kali #hukumbuluanjingyangbasah #anjingpenjagarumah #dijilatanjing

MEMBELI RUMAH GADAIAN YANG DIJUAL MELALUI LELANG KARENA PIHAK KREDITUR TIDAK MAMPU MELUNASI UTANG RIBA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
MEMBELI RUMAH GADAIAN YANG DIJUAL MELALUI LELANG KARENA PIHAK KREDITUR TIDAK MAMPU MELUNASI UTANG RIBA
 
Pertanyaan:
Seseorang menggadaikan rumahnya untuk mendapatkan utang dengan cara riba. Ketika jatuh tempo yang telah di sepakati, pemilik rumah tidak mempu membayar utang, sehingga kantor riba menjual lewat pemerintah dengan cara lelang terbuka. Karena rumah tersebut berhadapan dengan masjid, maka sebagian dermawan berkeinginan untuk membelinya dari pembeli yang membeli lewat lelang terbuka agar dapat dimasukkan dengan pelataran masjid.
 
Pertanyaannya:
1. Apa hukum gadai untuk mendapatkan utang riba?
2. Apa hukum membeli rumah yang dijual tanpa keinginan pemiliknya karena tidak mempu melunasi utang riba?
3. Apakah pembelian semacam ini termasuk pembelian secara paksa?
4. Apa hukum membeli rumah ini dari pembeli kedua, padahal dia tahu kejadian penjualan dan memasukkannya ke dalam pelataran masjid?
 
 
Jawaban:
 
Alhamdulillah
 
Pertama:
 
Berutang dengan riba adalah sangat diharamkan dan ia termasuk dosa besar. Berdasarkan firman Allah taala:
 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ * فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُؤُوسُ أَمْوَالِكُمْ لا تَظْلِمُونَ وَلا تُظْلَمُونَ (سورة البقرة: 278 ، 279)
 
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertobat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu, kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” [QS. Al-Baqarah: 278, 279]
 
Juga berdasarkan riwayat Muslim, no. 1598 dari Jabir radhiallahu’anhu, dia berkata:
 
لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا ، وَمُؤْكِلَهُ ، وَكَاتِبَهُ ، وَشَاهِدَيْهِ ، وَقَالَ : هُمْ سَوَاءٌ
 
“Rasulullah ﷺ melaknat pemakan riba, yang mewakilkannya, penulisnya dan kedua saksinya. Beliau ﷺ bersabda: “Mereka semua sama.”
 
Maka tidak dibolehkan utang riba, walaupun dikuatkan dengan angunan (gadai) atau penjamin.
 
Kedua:
Orang yang punya utang riba tidak diharuskan melunasi bunganya. Dia hanya diharuskan melunasi utang pokonya saja. Kalau tidak mampu untuk itu dan dia telah meninggalkan gadai kepada orang yang diutangi, maka (barang) gadai boleh dijual dalam dua kondisi:
Kondisi pertama, pengutang (orang yang menggadaikan) telah memberi izin untuk menjualnya, baik dia mengizinkan ketika waktu akan gadai, atau diizinkan saat jatuh tempo pelunasan utang.
 
Kondisi kedua, Mahkamah (Pengadilan) telah memutuskan hal itu.
Dalam kitab ‘Zadul Al-Mustaqni’ dikatakan: ‘Kapan saja telah jatuh tempo (pembayaran) utang, sementara (pengutang) tidak mau melunasi. Kalau penggadai mengizinkan kepada orang yang diserahi gadaian untuk menjualnya, maka (gadaian tersebut) boleh dijual dan dilunasi utangnya. Kalau tidak (mengizinkan) maka hakim memaksanya untuk melunasi atau menjual gadaian. Kalau tidak dilaksanakan, maka hakim menjual (gadaian) dan melunasi utangnya.’
 
Pengadilan dapat mewakilkan kepada orang untuk menjualnya, baik diwakilkan kepada orang yang diutangi (diserahi gadaian) atau orang lain. Disyaratkan kepada orang yang menjual gadaian, baik orang yang diserahi gadaian atau instansi yang ditunjuk hakim, hendaknya menjual barang gadaian dengan harga yang sama, bukan lebih murah.
 
Dalam kitab ‘Mughni Al-Muhtaj, 3/71 dikatakan : ‘Adl (orang yang menyimpan gadaian) seperti wakil, tidak dibolehkan menjual gadaian kecuali dengan harga yang sama secara langsung dan dengan mata uang negaranya. Kalau tidak dipenuhi sedikit pun, maka tidak sah penjualan. Akan tetapi tidak mengapa kurang dari harga yang sama akibat proses tawar menawar yang wajar, karena hal itu saling dimaafkan.’
 
Kata ‘Al-Adl’ yaitu orang yang menyimpan gadaian, ketika kedua belah fihak bersepakat menyimpan gadaian padanya. Dengan demikian, jika gadaian telah terjual karena pengutang tidak mampu melunasi utang, dan hal itu atas keputusan pengadilan serta telah selesai lewat lelang terbuka, maka tidak mengapa membelinya. Tidak berdosa meskipun penjualnya tidak rela. Karena penjualan orang yang dipaksa itu sah dikala dipaksa secara benar. Hal ini tidak termasuk pembelian dengan paksa.
 
Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata:
“Ungkapan ‘Fala yasihhu (yakni penjualan) dari orang yang dipaksa tanpa dibenarkan” beliau rahimahullah- memberikan pelajaran kepada kita, bahwa kalau dipaksa dengan cara benar tidak mengapa. Karena ini adalah keputusan yang benar, yakni kalau kita memaksa seseorang untuk menjual dengan cara benar, maka ini adalah ketetapan yang benar, bukan kezaliman dan permusuhan.
 
Contohnya, kalau seseorang menggadaikan rumahnya kepada orang lain, karena dia berutang kepadanya. Ketika jatuh tempo (melunasi) utang, maka pemilik uang meminta utangnya, akan tetapi orang yang menggadaikan yang mempunyai utang menolaknya. Maka pada kondisi seperti ini, pemilik gadai dipaksa menjual rumahnya untuk melunasi hak orang yang memberinya utang, meskipun dengan dipaksa untuk itu.
 
Contoh lain, ada tanah milik bersama antara dua orang. Tanahnya hanya sedikit, tidak mungkin dibagi. Salah satu dari dari pemiliknya meminta untuk dijual, akan tetapi yang satunya menolak. Dalam kondisi seperti ini, maka tanah tersebut boleh dijual secara paksa bagi yang menolaknya. Karena hal ini bertujuan menghindari kerugian mitranya.
 
Jadi patokannya adalah ‘Kalau paksaan itu dibenarkan, maka penjualan itu sah, meskipun penjual tidak rela akan hal itu’. Maka karena kita tidak terjerumus dalam dosa, kezaliman maupun yang lainnya, maka hal itu diperbolehkan.” [As-Syarkh Al-Mumti’, 8/108]
 
Ketiga:
Tidak mengapa membeli rumah dari pembeli kedua, lalu memasukkannya sebagai areal masjid.
 
Wallahu’alam.
 
 
 
 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: https://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

#riba, #saynotoriba, #gadaian, #pegadaian, #hukum, #membelibaranggadaian, #kreditmacet #falayasihhu #dipaksatanpadibenarkan #hutang #utang #ngutang

TOBAT DARI ABORSI

Bismillah
 
TOBAT DARI ABORSI
 
Pertanyaan:
Bagaimana cara bayar dosa aborsi kandungan yang masih berusia satu bulan hasil perzinahan? Saya mau tobat dan ingin membayar dosa-dosa keji saya ustadz
 
Jawaban Redaksi salamdakwah.com
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه
 
Apa yang Anda lakukan di masa lalu adalah perbuatan yang jahat dan Anda harus bertobat dengan sungguh-sungguh.
 
Ulama yang duduk di Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi pernah memberikan nasihat kepada salah seorang wanita yang melakukan aborsi:”Anda harus bertobat kepada Allah atas apa yang telah Anda lakukan, karena aborsi itu hukumnya tidak boleh. Anda telah melakukan perbuatan haram dan wajib bertobat kepada Allah. Apabila janin tersebut belum genap berusia empat bulan, maka tidak ada kafarat (sanksi) yang harus Anda bayar, namun cukup bertobat dan tidak mengulangi perbuatan itu lagi.
 
Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.
 
Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa
Bakar Abu Zaid selaku Anggota
Shalih al-Fawzan selaku Anggota
Abdullah bin Ghadyan selaku Anggota
Abdul Aziz Alu asy-Syaikh selaku Wakil Ketua
Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz selaku Ketua
Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 21/254. Fatwa no.18355
 
Untuk cara bertobat silakan melihat jawaban kami sebelumnya di http://www.salamdakwah.com/pertanyaan/4358-taubat-dari-dosa
 
 
 
#tobat #taubat #bertobat #bertaubat #aborsi #menggugurkankandungan #menggugurkanjabangbayijanin #hukum

SHALAT TARAWIH NABI SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM DAN SALAFUS SALEH

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
SHALAT TARAWIH NABI SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM DAN SALAFUS SALEH
>> Ada sebagian orang berpendapat, shalat Tarawih berjamaah baru dikerjakan pada zaman Khalifah Umar bin Khaththab. Benarkah demikian?
 
Oleh: Abu Hamzah Al Sanuwi Lc, M.Ag
 
Shalat Tarawih adalah bagian dari Shalat Nafilah (Tathawwu’). Mengerjakannya disunnahkan secara berjamaah ketika Ramadan, dan Sunnah Muakkadah. Disebut Tarawih karena setiap selesai dari empat rakaat, para jamaah duduk untuk istirahat.
 
Tarawih adalah bentuk jama’ dari Tarwihah. Menurut bahasa berarti Jalsah (Duduk). Kemudian duduk pada waktu Ramadan setelah selesai dari empat rakaat disebut Tarwihah. Karena dengan duduk itu orang-orang bisa istirahat dari lamanya melaksanakan Qiyam Ramadan.
 
Bahkan para Salaf bertumpu pada tongkat, karena terlalu lamanya berdiri. Dari situkemudian setiap empat rakaat disebut Tarwihah, dan kesemuanya disebut Tarawih secara majaz.
 
Aisyah Radhiyallahu anhuma ditanya: “Bagaimana shalat Rasul ﷺ ketika Ramadan?” Dia menjawab: “Beliau ﷺ tidak pemah menambah, di Ramadan atau di luarnya, lebih dari sebelas rakaat. Beliau ﷺ shalat empat rakaat, maka jangan ditanya tentang bagusnya dan lamanya. Kemudian beliau ﷺ shalat tiga rakaat.” [HR Bukhari]
Kata ثم (kemudian), adalah kata penghubung yang memberikan makna berurutan, dan adanya jeda waktu.
 
Rasulullah ﷺ shalat empat rakaat dengan dua kali salam kemudian beristirahat. Hal ini berdasarkan keterangan Aisyah Radhiyallahu anhuma, “Adalah Rasulullah ﷺ melakukan shalat pada waktu setelah selesainya shalat Isya’, hingga waktu Fajar, sebanyak sebelas rakaat, mengucapkan salam pada setiap dua rakaat, dan melakukan Witir dengan satu rakaat.” [HR Muslim].
 
Juga berdasarkan keterangan Ibn Umar Radhiyallahu anhuma, bahwa seseorang bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana shalat malam itu?” Beliau ﷺ menjawab:
 
مَشْنَى مَشْنَى فَإِذَا خِفْتَ الصُّبْحَ فَأَوْتِِرْ بِوَا حِدَةِ
 
“Yaitu dua rakaat-dua rakaat. Maka apabila kamu khawatir (masuk waktu) Subuh, berwitirlah dengan satu rakaat. [HR Bukhari]
 
Dalam hadis Ibn Umar yang lain disebutkan:
 
صَلاَةُ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ رَكْعَتَانِ رَكْعَتَانِ
 
“Shalat malam dan siang dua rakaat-dua rakaat”. [HR Ibn Abi Syaibah. Ash Shalah, 309; At Tamhid, 5/251; Al Hawadits, 140-143; Fathul Bari, 4/250; Al Ijabat Al Bahiyyah,18; Al Muntaqa,4/49-51]
 
Fadhilah Shalat Tarawih
 
1. Hadis Abu Hurairah Radhiyallahu anhu
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ اِيْمَانَا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْذنْبِه
“Barang siapa melakukan Qiyam (Lail) ketika Ramadan karena iman dan mencari pahala, maka diampuni untuknya apa yang telah lalu dari dosanya.”
 
Maksud Qiyam Ramadan secara khusus menurut Imam Nawawi adalah shalat Tarawih. Hadis ini memberitahukan, bahwa shalat Tarawih itu bisa mendatangkan Maghfirah dan bisa menggugurkan semua dosa; tetapi dengan syarat karena bermotifkan iman; membenarkan pahala-pahala yang dijanjikan oleh Allah dan mencari pahala tersebut dari Allah. Bukan karena riya’ atau sekedar adat kebiasaan. [Fathul Bari 4/251; Tanbihul Ghafilin 357-458; Majalis Ramadan, 58; AtTamhid, 3/320; AI Ijabat Al Bahiyyah, 6]
 
Hadis ini dipahami oleh para Salafush Saleh, termasuk oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu sebagai anjuran yang kuat dari Rasulullah ﷺ untuk melakukan Qiyam Ramadan (shalat Tarawih, Tahajud, dan lain-lain). [At Tamhid, 3/311-317: Sunan Abi Daud, 166]
 
2. Hadis Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu anhu:
 
إِِنَّ رَمَضَانَ شَهْرٌ فَرَضَ اللَّهُ صِيَامَهُ وَإِنِّي سَنَنْتُ لِلْمُسلِمِيْنَ قِيَامَهُ فَمَنْ صَامَهُ وَقَامَهُ إِعيمَانًا وَاحْتِسَابًا خَرَجَ مِنَْ الذُّنُوبْ كَيَوْم وَلَدَتْهُ أُمُّه
“Sesungguhnya Ramadan adalah bulan di mana Allah mewajibkan puasanya. Dan sesungguhnya aku menyunnahkan Qiyamnya untuk orang-orang Islam. Maka barang siapa berpuasa Ramadan dan Qiyam Ramadan karena iman dan mencari pahala, maka ia (pasti) keluar dari dosa-dosanya, sebagaimana pada hari ia dilahirkan oleh ibunya.[HR: Ahmad, Ibnu Majah. Al Bazzar, Abu Ya’la dan Abdur Razzaqmeriwayatkannya dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu]
 
Al Albani berkata: “Yang shahih hanya kalimat yang kedua saja, yang awal dha’if.”[Lihat Sunan lbn Majah, 146,147; AlIjabat Al Bahiyyah, 8-10]
 
3. Hadis Abu Dzar Radhiyallahu anhu:
 
مَنْ قَامَ مَعَ اْلإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَة
 
“Barang siapa Qiyamul lail bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya (pahala) Qiyam satu malam (penuh).” [HR Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Ibn Majah, Nasa’i, dan lain-lain, Hadis Shahih. Lihat Al ljabat Al Bahiyyah, 7]
 
Hadis ini sekaligus juga memberikan anjuran agar melakukan shalat Tarawih secara berjamaah dan mengikuti imam hingga selesai.
 
Ada sebagian orang berpendapat, shalat Tarawih berjamaah baru dikerjakan pada zaman khalifah Umar binKhaththab. Benarkah demikian? Mari kita tengok sejarah melalui hadis-hadis serta riwayat-riwayat shahih apa yang terjadi pada zaman Nabi ﷺ dan bagaimana yang terjadi pada masa Khulafaur Rasyidin.
 
Shalat Tarawih Pada Zaman Nabi ﷺ
 
Nabi ﷺ telah melaksanakan dan memimpin shalat Tarawih. Bahkan beliau ﷺ menjelaskan fadhilahnya dan menyetujui jamaah Tarawih yang dipimpin oleh sahabat Ubay bin Ka’ab. Berikut ini adalah dalil-dalil yang menjelaskan, bahwa shalat Tarawih secara berjamaah disunnahkan oleh Nabi ﷺ dan dilakukan secara khusyu’ dengan bacaan yang panjang.
 
1. Hadis Nu’man bin Basyir, Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Kami melaksanakan Qiyamul Lail (Tarawih) bersama Rasulullah ﷺ pada malam 23 Ramadan, sampai sepertiga malam. Kemudian kami shalat lagi bersama beliau ﷺ pada malam 25 Ramadan (berakhir) sampai separuh malam. Kemudian beliau ﷺ memimpin lagi pada malam 27 Ramadan sampai kami menyangka tidak akan sempat mendapati sahur.” [HR. Nasa’i, Ahmad, Al Hakim. Shahih]
 
2. Hadis Abu Dzar Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Kami puasa tetapi Nabi ﷺ tidak memimpin kami untuk melakukan shalat (Tarawih) hingga Ramadan tinggal tujuh hari lagi. Maka Rasulullah ﷺ mengimami kami shalat sampai lewat sepertiga malam. Kemudian beliau ﷺ tidak keluar lagi pada malam keenam. Dan pada malam kelima,beliau ﷺ memimpin shalat lagi sampai lewat separuh malam. Lalu kami berkata kepada Rasulullah ﷺ: ‘Seandainya engkau menambah lagi untuk kami sisa malam kita ini?’ Maka beliau ﷺ bersada:
مَنْ قَامَ مَعَ اْلإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَة
‘Barang siapa shalat (Tarawih) bersama imam sampai selesai. maka ditulis untuknya shalat satu malam (suntuk).’
 
Kemudian beliau ٍﷺ tidak memimpin shalat lagi hingga Ramadan tinggal tiga hari. Maka beliau ﷺ memimpin kami shalat pada malam ketiga. Beliau ﷺ mengajak keluarga dan istrinya. Beliau ﷺ mengimami sampai kami khawatir tidak mendapat falah. Saya (perawi) bertanya, apa itu falah? Dia (Abu Dzar) berkata: “Sahur.”[HR Nasai, Tirmidzi, Ibn Majah, Abu Daud, Ahmad. Shahih]
 
3. Tsa’labah bin Abi Malik Al Qurazhi Radhiyallahu anhu berkata: “Pada suatu malam, di malam Ramadan, Rasulullah ﷺ keluar rumah, kemudian beliau ﷺ melihat sekumpulan orang di sebuah pojok masjid sedang melaksanakan shalat. Beliau ﷺ lalu bertanya, ‘Apa yang sedang mereka lakukan?’ Seseorang menjawab: ‘Ya Rasulullah, sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak membaca Alquran, sedang Ubay bin Ka’ab ahli membaca Alquran. Maka mereka shalat (makmum) dengan shalatnya Ubay.’ Beliau ﷺ lalu bersabda:
 
قَدْ أَحْسَنُوْا وَقَدْ أَصَابُوْا
 
‘Mereka telah berbuat baik dan telah berbuat benar.’ Beliau ﷺ tidak membencinya.”[HR Abu Daud dan Al Baihaqi, ia berkata: Mursal Hasan. Syaikh Al Albani berkata: “Telah diriwayatkan secara mursal dari jalan lain dari Abu Hurairah,dengan sanad yang tidak bermasalah (bisa diterima).”. [Shalat At Tarawih, 9]
 
Shalat Tarawih Pada Zaman Khulafaur Rasyidin
 
1. Para sahabat Rasulullah ﷺ shalat Tarawih di Masjid Nabawi pada malam-malam Ramadan secara awzaan (berpencar-pencar). Orang yang bisa membaca Alquran ada yang mengimami lima orang, ada yang enam orang, ada yang lebih sedikit dari itu, dan ada yang lebih banyak. Az Zuhri berkata: “Ketika Rasulullah ﷺ wafat, orang-orang shalat Tarawih dengan cara seperti itu. Kemudian pada masa Abu Bakar, caranya tetap seperti itu; begitu pula awal Khalifah Umar.”
 
2. Abdurrahman bin Abdul Qari’ berkata: “Saya keluar ke masjid bersama Umar Radhiyallahu anhu pada waktu Ramadan. Ketika itu orang-orang berpencaran. Ada yang shalat sendirian, dan ada yang shalat dengan jamaah yang kecil (kurang dari sepuluh orang). Umar berkata: ‘Demi Allah, saya melihat (berpandangan), seandainya mereka saya satukan di belakang satu imam, tentu lebih utama,’ Kemudian beliau bertekad dan mengumpulkan mereka di bawah pimpinan Ubay bin Ka’ab. Kemudian saya keluar lagi bersama beliau pada malam lain. Ketika itu orang-orang sedang shalat di belakang imam mereka. Maka Umar Radhiyallahu anhu berkata:’Ini adalah sebaik-baik hal baru.’ Dan shalat akhir malam nanti lebih utama dari shalat yang mereka kerjakan sekarang.” Peristiwa ini terjadi pada tahun 14H.
 
3. Umar Radhiyallahu anhu mengundang para qari pada waktu Ramadan, lalu memberi perintah kepada mereka agar yang paling cepat bacaanya membaca 30 ayat (kurang lebih tiga halaman), dan yang sedang agar membaca 25 ayat. Adapun yang pelan membaca 20 ayat (lebih dari dua2 halaman).
 
4. Al Araj (seorang tabi’in Madinah,wafat 117 H) berkata: ”Kami tidak mendapati orang-orang, melainkan mereka sudah melaknat orang kafir (dalam doa) pada waktu Ramadan.” la berkata: “Sang qari’ (imam) membaca ayat Al Baqarah dalam delapan rakaat. Jika ia telah memimpin 12 rakaat, (maka) barulah orang-orang merasa kalau imam meringankan.”
 
5. Abdullah bin Abi Bakr berkata: “Saya mendengar bapak saya berkata: ’Kami sedang pulang dari shalat (Tarawih) pada malam Ramadan. Kami menyuruh pelayan agar cepat-cepat menyiapkan makanan, karena takut tidak mendapat sahur’. ”
 
6. Saib bin Yazid rahimahullah (Wafat 91 H) berkata: “Umar Radhiyallahu anhu memerintah Ubay bin Ka’ab dan Tamim Ad Dari Radhiyallahu anhuma agar memimpin shalat Tarawih pada waktu Ramadan dengan sebelas rakaat. Maka sang qari’ membaca dengan ratusan ayat, hingga kita bersandar pada tongkat karena sangat lamanya berdiri. Maka kami tidak pulang dari Tarawih, melainkan sudah di ujung Fajar.” [Fathul Bari, 4/250-254; Shalat At Tarawih, 11; Al ljabat Al Bahiyyah,15-18; Al Majmu’, 4/34]
 
 
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: https://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
 
 
 
 
#daliltentangtarawih #sejarahshalattarawih #sholattarawih #daliltentangpelaksanaanshalattarawih30rakaat #sejarahtarawih #shalat #sholat #salat #solat #Taraweh #Tarawih #hukum #dalil #KhulafaurRasyidin #SalafushShalih #SalafushSholih #shalatTarawihbukanbidah #SalafusSaleh #dalil #fadhilah #keutamaan #Ramadhan #Ramadan #AdabbulanRamadhan #shalatmalam #Tahajud #QiyamulLail #QiyamRamadhan

HUKUM MEMBAKAR BAJU YANG SUDAH USANG

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
HUKUM MEMBAKAR BAJU YANG SUDAH USANG
 
Asy Syeikh Bin Baaz rahimahullah ditanya: “Apakah boleh membakar baju yang sudah tidak bisa dipakai lagi, karena kami mendengar haram hukumnya yang demikian ini?”
 
Beliau rahimahullah menjawab:
 
• Tidak boleh dibakar karena itu namanya menyia nyiakan harta!
 
• Baju baju bekas ini bisa dijadikan bantal, alas tempat duduk, atau disedekahkan kepada fakir miskin.
 
• Adapun dibakar, maka tidak boleh, walaupun ada najisnya. Maka dicuci najis yang ada padanya. Kalau ada gambarnya, maka dijadikan bantal. Karena apabila digunakan untuk bantal pada sesautu yang rendah, maka tidak mengapa gambar digunakan untuk sesautu yang direndahkan.
 
 
 
 
 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: https://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

 

#hukum #bakarbajusudahusang #membakarpakaiansudahtua #hukummembakarbajusudahusang

STOP MERAYAKAN HARI VALENTINE

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
STOP MERAYAKAN HARI VALENTINE
 
Ini dampak buruk bagi Muslim yang merayakannya:
 
1- Merayakan Valentine itu meniru orang kafir.
2- Merayakan dan menghadirinya bukan ciri orang beriman.
3- Merayakannya berarti mengagungkan tokoh Valentine yang merupakan seorang pendeta Nasrani. Padahal setiap orang akan dibangkitkan bersama orang yang ia cintai.
4- Ucapan selamat Valentine bisa terjerumus dalam syirik dan maksiat.
5- Yang ada hanyalah membuktikan cinta dengan zina atau melakukan perantara menuju zina. Jadi sejatinya bukan cinta hakiki.
6- Menghadiahkan coklat sebagai pembuktian cinta. Padahal ini perayaan yang haram dirayakan oleh Muslim.
Stop deh merayakan Valentine …
 
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
[RumayshoCom]

Baca artikel lengkapnya di RumayshoCom:

* Enam Kerusakan Hari Valentine
https://rumaysho.com/772-6-kerusakan-hari-valentine.html

* Valentine Benarkah Hari Kasih Sayang
https://rumaysho.com/10234-valentine-benarkah-hari-kasih-sayang.html

* Memadu Kasih pada Hari Valentine
https://rumaysho.com/843-memadu-kasih-di-hari-valentine.html

* Bolehkah Menerima Hadiah Coklat Valentine
https://rumaysho.com/6425-bolehkah-menerima-hadiah-coklat-valentine.html

* Hukum Menjual Coklat dan Kado Valentine
https://rumaysho.com/6529-hukum-menjual-coklat-dan-kado-valentine.html

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: https://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

 

#saynotoValentine #ValentineNo #Pengantinyes #VengantenYes #zina #Valentinezamannow #ValentinesDaydalamIslam #hukum #hukummerayakanValentine #Palentine #perzinahanterselubung #atasnamakasihsayang #harikasihsayang #solusiorangjatuhcintanikah #nikah #menikah #pernikahan #jatuhcinta #kawin #perkawinan #stopmerayakanValentine #dampakburukmerayakanValentine #akibatburukmerayakanValentine

VALENTINE NO VENGANTEN YES

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
VALENTINE NO VENGANTEN YES
 
Perayaan Valentine’s Day di masa sekarang ini mengalami pergeseran. Kalau di masa Romawi sangat terkait erat dengan dunia para dewa dan mitologi sesat. Kemudian di masa Kristen dijadikan bagian dari simbol perayaan hari agama. Maka di masa sekarang ini identik dengan pergaulan bebas muda-mudi. Mulai dari yang paling sederhana seperti pesta, kencan, bertukar hadiah hingga penghalalan praktik zina secara legal. Semua dengan mengatasnamakan semangat cinta kasih.
 
Dalam semangat hari Valentine itu ada semacam kepercayaan, bahwa melakukan maksiat dan larangan-larangan agama seperti berpacaran, bergandeng tangan, berpelukan, berciuman, bahkan hubungan seksual di luar nikah di kalangan sesama remaja itu menjadi boleh. Alasannya, semua itu adalah ungkapan rasa kasih sayang. Na’udzu billah min dzalik.
 
Padahal mendekati zina saja haram, apalagi melakukannya. Allah taala berfirman:
 
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
 
“Dan janganlah kamu mendekati zina, Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” [QS. Al Isro’ (17): 32]
 
 
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: https://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
 
 
 
#saynotoValentine #ValentineNo #Pengantinyes #VengantenYes #zina #Valentinezamannow #ValentinesDaydalamIslam #hukum #hukummerayakanValentine #Palentine #perzinahanterselubung #atasnamakasihsayang #harikasihsayang #solusiorangjatuhcintanikah #nikah #menikah #pernikahan #jatuhcinta #kawin #perkawinan

HUKUM KOMISI BAGI BROKER (MAKELAR) DALAM ISLAM

HUKUM KOMISI BAGI BROKER (MAKELAR) DALAM ISLAM

 

Membaca kata broker, apa persepsi yang muncul di pikiran kita? Persepsi kita bisa berarti orang yang suka minta komisi, ada unsur percaloan. Broker sendiri berarti pedagang perantara. Mungkin takala zaman belum seperti sekarang, seorang produsen yang menciptakan suatu produk, disebabkan memiliki keterbatasaan waktu dan tenaga untuk menjual dan memasarkan produknya, kemudian menggunakan jasa broker dengan imbalan komisi bagi yang mampu membawa pembeli.

Broker bertindak sebagai pedagang perantara, berfungsi mempertemukan penjual dan pembeli, sehingga mempercepat dan membantu kelancaran proses negoisiasi. Hasil akhir adalah memperoleh komisi dari jasa layanan mereka. Broker menjual informasi tentang apa yang dibutuhkan pembeli, dan mencari pemasok-pemasok mana yang menyediakan barang kebutuhan tersebut.

Di bidang properti, seorang broker memiliki peran untuk menegosiasikan penjualan properti antara penjual dan pembeli dengan imbalan komisi tertentu. Sebagai broker professional, mereka harus bertindak bagi kepentingan penjual dan pembeli, dan bukan untuk dirinya sendiri. Selain itu ia juga harus bisa menjadi problem solver, mencari solusi bila ada ketidak sesuaian antara penjual dan pembeli dengan pendekatan win-win solution.

Prospek mencari listing (maksudnya mencari pemilik yang sedang/ingin menjual atau menyewa properti dan mempercayakan kita untuk memasarkannya), bisa kita dapatkan melalui kawan, kerabat, iklan baris di surat kabar, atau ketika sedang jalan-jalan dan menemukan tanda d idepan rumah pemilik. Semuanya itu bisa kita prospek agar bersedia diajak kerja sama dengan kita. Bila kita mendapatkan pembeli, kita tawarkan mau tidak sang pemilik memberi komisi kepada kita, atau bekerja sama untuk deal harga, atau sistemnya jual harga dengan cara pemilik menentukan harga, terserah kita mau menjual dengan harga berapa. Selisihnya itu menjadi milik kita.

Bagaimana komisi yang didapatkan broker, halal ataukah tidak? Simak bahasan berikut.

Tinjauan Islam terhadap Komisi Broker (Makelar)

Coba kita lihat Fatwa Komisi Fatwa Saudi Arabia, Al Lajnah Ad Daimah berikut ini:

Pertanyaan:

أخذت زبونا إلى أحد المصانع أو المحلات لشراء بضاعة، فأعطاني صاحب المصنع أو المحل عمولة على الزبون. هل هذا المال حلال (العمولة)؟ وإذا زاد صاحب المصنع مبلغا معينا على كل قطعة يأخذها الزبون، وهذه الزيادة آخذها أنا مقابل شراء الزبون لهذه البضاعة، فهل هذا جائز؟ إذا كان غير جائز فما هي العمولة الجائزة؟

Saya pernah membawa seorang konsumen ke salah satu pabrik atau toko untuk membeli suatu barang. Lalu pemilik pabrik atau toko itu memberi saya komisi atas konsumen yang saya bawa. Apakah komisi yang saya peroleh itu halal atau haram? Jika pemilik pabrik itu memberikan tambahan uang dalam jumlah tertentu dari setiap item yang dibeli konsumen tersebut, dan saya mau menerima tambahan tersebut sebagai balas jasa atas pembelian konsumen tersebut, apakah hal tersebut dibolehkan? Dan jika hal itu tidak dibolehkan, lalu seperti apakah komisi yang dibolehkan?

Jawaban:

إذا كان المصنع أو التاجر يعطيك جزءا من المال على كل سلعة تباع عن طريقك؛ تشجيعا لك لجهودك في البحث عن الزبائن، وهذا المال لا يزاد في سعر السلعة، وليس في ذلك إضرار بالآخرين ممن يبيع هذه السلعة، حيث إن هذا المصنع أو التاجر يبيعها بسعر كما يبيعها الآخرون – فهذا جائز ولا محذور فيه. أما إن كان هذا المال الذي تأخذه من صاحب المصنع أو المحل، يزاد على المشتري في ثمن السلعة، فلا يجوز لك أخذه، ولا يجوز للبائع فعل ذلك؛ لأن في هذا إضرار بالمشتري بزيادة السعر عليه.

Jika pihak pabrik atau pedagang memberi Anda sejumlah uang atas setiap barang yang terjual melalui diri Anda sebagai balas jasa atas kerja keras yang telah Anda lakukan untuk mencari konsumen, dan uang tersebut tidak ditambahkan pada harga barang, dan tidak pula memberi mudharat pada orang lain yang menjual barang tersebut, di mana pabrik atau pedagang itu menjual barang tersebut dengan harga seperti yang dijual oleh orang lain, maka hal itu boleh dan tidak dilarang.

Tetapi jika uang yang Anda ambil dari pihak pabrik atau toko dibebankan pada harga barang yang harus dibayar pembeli, maka Anda tidak boleh mengambilnya, dan tidak boleh juga bagi penjual untuk melakukan hal tersebut. Sebab pada perbuatan itu mengandung unsur yang mencelakakan pembeli, karena harus menambah uang pada harga barangnya.

Wabillaahit taufiq. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya. [Fatwa no. 19912, pertanyaan ketiga, 13/131. Fatwa ini ditandatangani oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz sebagai ketua, Syaikh ‘Aziz Alu Syaikh sebagai wakil ketua, Syaikh Sholeh Al Fauzan dan Syaikh Bakr Abu Zaid sebagai anggota]

Fatwa di atas menunjukkan, bahwa pengambilan komisi dari broker atau makelar (dari pihak buyer/pembeli) dirinci sebagai berikut:

1. Jika komisi bagi broker dibebankan pada harga yang mesti dibayar pembeli tanpa sepengetahuan pembeli, maka tidak dibolehkan, karena hal ini termasuk merugikan pembeli.

2. Jika komisi bagi broker tidak dibebankan pada pembeli atau dibebankan pada pembeli dengan seizinnya, maka dibolehkan. [Lihat Fatwa Al Lajnah Ad Daimah no. 16043, 13/127-128.]

Contoh: Bila A memiliki toko bahan bangunan yang biasanya menjual genteng @ Rp 1.000,- (Seribu Rupiah). Akan tetapi karena konsumen B datang ke toko tersebut dibawa oleh C yang biasanya berprofesi sebagai tukang bangunan, maka A menjual gentingnya kepada B seharga @ Rp. 1.050,- (Seribu lima puluh Rupiah), dengan perhitungan: Rp 1.000,- adalah harga genteng sebenarnya, dan Rp 50,- adalah fee untuk C yang telah berjasa membawa konsumen ke toko A. Sudah barang tentu ketika A menaikkan harga penjualan dari Rp 1.000,- menjadi Rp 1.050,- dengan perhitungan seperti di atas, adalah tanpa sepengetahuan B. Dengan demikian, pada kasus seperti ini B dirugikan, karena ia dibebani Rp 50,- sebagai fee untuk C, tanpa ada kesepakatan terlebih dahulu. Dan ini tentu bertentangan dengan firman Allah taala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu.” [QS. An Nisa’: 29]

Adapun bila pemilik toko memberi fee kepada C tanpa menaikkan harga jual, sehingga tetap saja ia menjual genteng tersebut seharga @ Rp 1.000,- maka itu tidak mengapa.

Atau bila sebelumnya pemilik toko memberitahukan kepada pembeli bahwa harga genting, ditambah dengan fee yang akan diberikan kepada mediator, dan ternyata pembeli mengizinkan, maka praktik semacam ini dibenarkan. [Contoh yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Arifin Baderi di link http://pengusahamuslim.com/baca/artikel/419/tanya-jawab-hukum-mediator-dagang-makelar–perantara]

Jika broker tadi adalah dari pihak penjual (seller), maka rinciannya sebagai berikut:

• Jika si broker menaikkan harga tanpa izin atau sepengetahuan si penjual, maka ini tidak dibolehkan.
• Jika si broker menaikkan harga dengan izin atau sepengetahuan si penjual (baik kadar kenaikannya diserahkan kepada broker atau ditentukan oleh pemilik barang), ini dibolehkan.

Broker Harus Jujur dan Amanah

Syaikh Sholeh Al Munajjid hafizhohullah menerangkan:
“Hendaklah si broker (makelar) adalah orang yang paham terhadap info yang ia dapat dari penjual atau apa yang diinginkan pembeli. Sehingga dari sini ia tidak merugikan penjual atau juga pembeli, yang awalnya disangka ia punya info, tak tahunya hanya bualan belaka. Si broker juga harus memiliki sifat amanah dan jujur. Si broker tidak boleh hanya menguntungkan salah satu dari keduanya (merugikan lainnya). Jika ada aib (kejelekan) dari produk yang dijual, ia harus menerangkannya dengan amanah dan jujur. Ia pun tidak boleh melakukan penipuan kepada penjual atau pembeli.” [Fatawa Al Islam Sual wa Jawab no. 45726]

Wallahu a’lam bish showab.

 

Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah
Sumber: https://rumaysho.com/1671-hukum-komisi-bagi-broker-makelar.html

 

 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: https://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
 
 
 
#brokerdalamislam #hukumbroker #hukumkomisidalamislam #hukummakelartanah #hukummakelardlmislam #makelar #broker #calo #percaloan #jualbeli #penjualpembeli #fikihjualbeli, #fiqihjualbeli

HARUSKAH WANITA MEMAKAI JILBAB KETIKA MEMBACA ALQURAN?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
HARUSKAH WANITA MEMAKAI JILBAB KETIKA MEMBACA ALQURAN?
 
Fatwa Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid hafidzahullah
 
Pertanyaan:
Apa yang seharusnya kami lakukan sebelum membaca Alquran? Apakah diwajibakan bagi wanita memakai hijab sempurna tatkala membaca Alquran?
 
Jawaban:
Alhamdulillah,
TIDAK DIWAJIBKAN bagi wanita memakai hijab ketika membaca Alquran, dengan alasan karena tidak adanya dalil yang menunjukkan kewajiban tersebut.
 
Syaikh Ibnu Utsaimin mengatakan:
“Tatkala membaca Alquran tidak disyaratkan harus menutup kepala.” [Fatawa Ibni’Ustaimin, 1/420]
 
Syaikh Ibnu’Ustaimin juga pernah menegaskan hal serupa tatkala membahas permasalahan Sujud Tilawah:
“Sujud Tilawah dilakukan ketika sedang membaca Alquran. Tidak mengapa sujud dalam kondisi apapun walaupun dengan kepala yang terbuka dan kedaan lainnya. Karena Sujud Tilawah tidak memiliki hukum yang sama dengan shalat. [Al Fatawa Al Jami’ah Lil Marati Al Muslimah, 1/249]. (Sumber: https://islamqa.info/ar/8950)
 
Fatwa Asy Syabakah Al Islamiyyah
 
Pertanyaan:
Apakah diwajibakan bagi wanita untuk meletakkan hijab di atas kepalanya ketika tengah membaca Alquran di dalam rumah?
 
Jawaban:
Alhamdulillah washshaltu wassalamu ala Rasulillah wa ala aalihi washahbih ammaba’d,
 
Diperbolehkan bagi wanita membaca Alquran TANPA memakai hijab di atas kepalanya, dikarenakan tidak adanya dalil, baik Alquran atapun As Sunnah yang memerintahkan agar wanita menutup kepalanya ketika membaca Alquran. Meskipun menutup kepala dengan jilbab termasuk menjaga kesempurnaan adab kepada Kitabullah, maka diharapkan baginya pahala atas perbuatan tersebut-insyaallah-. Allah taala berfirman:
 
ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ
 
“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” [QS. Al Hajj: 32]
 
Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, jika beliau hendak membahas sebuah hadis Nabi ﷺ, beliau memakai pakaian terbagus, memakai minyak wangi terbaik yang beliau miliki dan beliau duduk dengan posisi duduk paling sempurna, sehingga beliau memiliki ketenangan dan wibawa.
(Sumber: www.islamweb.net)
 
Namun perlu diperhatikan bagi saudari-saudariku yang hendak membaca Alquran di tempat umum atau tempat lain yang terdapat laki-laki yang bukan mahram, atau dikhawatirkan akan ada laki-laki yang melihat, maka menutup aurat dengan sempurna adalah sebuah kewajiban. Sebagaimana hal ini bukanlah sesuatu yang asing lagi bagi kita. Wallahua’lam.
 
 
***
 
 
Diterjemahkan oleh Tim Penerjemah Wanitasalihah.com
[Artikel wanitasalihah.com]
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: https://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
 
 
#haruskahwanitamemakaijilbabketikamembacaAlquran #hukumperempuanpakaikerudungwakubacaAlQuran #bolehkahmuslimahtidakmemakaihijabsyarisewaktumembacaAlQuran #jilbab #muslimah #hijab #kerudung, #dzikir #zikir #tanpahijab #tanpajilbab #hukum #bacaAlqurantanpakerudungbolehkah? #fatwaulama

HUKUM DROPSHIPPING MENURUT ISLAM DAN SOLUSINYA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
HUKUM DROPSHIPPING MENURUT ISLAM DAN SOLUSINYA
 
Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
 
Mengenal Dropshipping
 
Pada dasarnya, menjadi seorang pengusaha sukses adalah cita-cata banyak orang. Walau demikian sering kali mereka beranggapan, bahwa cita-cita ini tak ubahnya impian di siang bolong alias serasa mustahil tewujud. Masyarakat berpikiran demikian karena mereka beranggapan, bahwa dunia usaha hanyalah milik orang-orang yang berkantong tebal, atau paling kurang dilahirkan di tengah keluarga kaya raya.
 
Hadirnya sistem Dropshipping di tengah masyarakat bak hembusan angin surga bagi banyak orang untuk dapat mewujudkan impian besar mereka.
 
Betapa tidak, dengan sistem “Dropshipping” kita dapat menjual produk, bahkan berbagai produk, ke konsumen. Semua itu tanpa butuh modal atau berbagai piranti keras lainnya. Yang dibutuhkan hanyalah foto-foto produk yang berasalkan dari supplier/toko. Kita dapat menjalankan usaha dengan sistem ini walau tanpa membeli barang terlebih dahulu. Namun demikian kita dapat menjual produk dimaksud ke konsumen dengan harga yang ditentukan oleh Dropshipper (orang yang melakulan Dropshipping).
 
Dalam sistem Dropshipping konsumen terlebih dahulu melakukan pembayaran, baik tunai atau via transfer ke rekening Dropshipper. Selanjutnya Dropshipper melakukan pembayaran kepada supplier sesuai dengan harga beli Dropshipper disertai dengan ongkos kirim barang ke alamat konsumen. Sebagaimana Dropshipper berkewajiban menyerahkan data konsumen; berupa nama, alamat, dan nomor telpon kepada supplier. Bila semua prosedur di atas telah selesai, maka supplier bertugas mengirimkan barang yang dibeli kepada konsumen.
 
Namun perlu dicatat, walau supplier yang mengirimkan barang, akan tetapi nama Dropshipperlah yang dicantumkan sebagai pengirim barang. Dengan demikian konsumen tidak mengetahui, bahwa sejatinya ia membeli barang dari supplier (pihak ke dua), dan bukan dari Dropshipper (pihak pertama).
 
Keuntungan Sistem Dropshipping
 
Semua orang pasti menyadari, bahwa salah satu tujuan utama setiap kegiataan wirausaha ialah mendapatkan keuntungan. Karena itu sudah sepantasnya bila kita menanyakan, apa saja kuntungan mengikuti sistem ini.
Secara umum, menjalankan Dropshipping memiliki banyak sisi positifnya, di antaranya sebagai berikut:
1. Dropshipper, mendapatkan keuntungan atau fee atas jasanya memasarkan barang milik supplier.
2. Tidak butuh modal besar untuk dapat mengikuti sistem ini.
3. Sebagai Dropshipper, kita tidak perlu menyediakan kantor dan gudang barang.
4. Walau tanpa berbekalkan pendidikan tinggi, asalkan kita cakap dalam berselancar di dunia maya (berinternet), maka kita dapat menjalankan sistem ini.
5. Kita terbebas dari beban pengemasan dan pengantaran produk.
6. Sistem ini tidak kenal batas waktu atau ruang, alias kita dapat menjalankan usaha ini kapan pun dan di mana pun kita berada.
 
Hukum Dropshipping
Sebagai pengusaha Muslim tentu kita bukan hanya memilikirkan kemudahan atau besarnya keuntungan suatu jenis kewirausahaan. Status halal dan haram setiap jenis usaha yang hendak dijalankan pastilah menempati urutan pertama dari sekian banyak pertimbangan kita . Sikap ini selaras dengan doa yang senantiasa kita panjatkan kepada Allah Azza wa Jalla:
 
للَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
 
“Ya Allah cukupkanlah aku dengan rezeki-Mu yang halal, sehingga aku tidak membutuhkan kepada hal-hal yang Engkau haramkan. Dan jadikanlah aku merasa puas dengan kemurahan-Mu, sehingga aku tidak mengharapkan kemurahan selain kemurahan-Mu.
 
Dan untuk mengetahui status hukum halal haram suatu perniagaan, maka kita harus melihat tingkat keselarasan sistem tersebut dengan prinsip-prinsip dasar perniagaan dalam syariat. Bila perniagaan tersebut selaras dengan prinsip syariat, maka halal untuk kita jalankan. Namun bila terbukti menyeleweng dari salah satu prinsip, atau bahkan lebih, maka sudah sepantasnya kita mewaspadainya.
Berikut beberapa prinsip syariat dalam perniagaan yang perlu dicermati, karena berkaitan erat dengan sistem Dropshipping:
 
Prinsip Pertama: Kejujuran
Berharap mendapat keuntungan dari suatu perniagaan bukan berarti menghalalkan dusta. Karena itu Rasulullah ﷺ dalam beberapa kesempatan menekankan pentingnya arti kejujuran dalam perniagaan, di antaranya melalui sabda beliau ﷺ:
(البيعان بالخيار ما لم يتفرقا، فإن صدقا وبينا بورك لهما في بيعهما، وإن كذبا وكتما محقت بركة بيعهما) متفق عليه
“Kedua orang yang terlibat transaksi jual-beli, selama belum berpisah, memiliki hak pilih untuk membatalkan atau meneruskan akadnya. Bila keduanya berlaku jujur dan transparan, maka akad jual-beli mereka diberkahi. Namun bila mereka berlaku dusta dan saling menutup-nutupi, niscaya keberkahan penjualannya dihapuskan.” Muttafaqun ‘alaih.
 
Prinsip Kedua: Jangan Menjual Barang Yang Tidak Kita Miliki
 
Islam begitu menekankan kehormatan harta kekayaan umatnya. Karena itu, Islam mengharamkan atas umat Islam berbagai bentuk tindakan merampas atau pemanfaatan harta orang lain tanpa izin atau kerelaan darinya. Allah taala berfirman:
 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ
 
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu.” [QS. An Nisa’ 29]
 
(لا يحل مال امرئ مسلم إلا بطيب نفس منه)
 
“Tidak halal harta orang Muslim, kecuali atas dasar kerelaan jiwa darinya”. Riwayat Ahmad, dan lainnya.
Begitu besar penekanan Islam tentang hal ini, sehingga Islam menutup segala celah yang dapat menjerumuskan umat Islam kepada praktik memakan harta saudaranya tanpa alasan yang dibenarkan.
 
Prinsip Ketiga: Hindari Riba dan Berbagai Celahnya
Sejarah umat manusia telah membuktikan, bahwa praktik riba senantiasa mendatangkan menghancurkan tatanan ekonomi masyarakat. Wajar bila Islam mengharamkan praktik riba dan berbagai praktik niaga yang dapat menjadi celah terjadinya praktik riba.
 
Di antara celah riba yang telah ditutup dalam Islam adalah: “Menjual kembali barang yang telah kita beli, namun secara fisik belum sepenuhnya kita terima dari penjual”. Belum sepenuhnya kita terima bisa jadi:
 
a. Kita masih satu majlis dengan penjualnya.
b. Atau fisik barang belum kita terima, walaupun kita telah berpisah tempat dengan penjual. Pada kedua kondisi ini kita BELUM DIBENARKAN menjual kembali barang yang telah kita beli, mengingat kedua kondisi ini menyisakan celah terjadinya praktik riba. Sahabat Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma mengisahkan:
 
فإن رسول الله صلى الله عليه وسلم نهى أن تباع السلع حيث تبتاع حتى يحوزها التجار إلى رحالهم. رواه أبو داود والحاكم
 
Rasulullah ﷺ melarang dari menjual kembali setiap barang di tempat barang itu dibeli, hingga barang itu dipindahkan oleh para pembeli ke tempat mereka masing-masing.” [Riwayat Abu dawud dan Al Hakim]
 
Dan pada hadis lain beliau ﷺ bersabda:
 
(مَنِ ابْتَاعَ طَعَامًا فَلاَ يَبِعْهُ حَتَّى يَقْبِضَهُ(. قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَأَحْسِبُ كُلَّ شَىْءٍ بِمَنْزِلَةِ الطَّعَامِ. متفق عليه
 
“Barang siapa membeli bahan makanan, maka janganlah ia menjualnya kembali, hingga ia benar-benar telah menerimanya” Ibnu ‘Abbas berkata: Dan saya berpendapat, bahwa segala sesuatu hukumnya seperti bahan makanan. [Muttafaqun ‘alaih]
 
Sahabat Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma ditanya lebih lanjut tentang alasan larangan ini menyatakan:
 
ذَاكَ دَرَاهِمُ بِدَرَاهِمَ وَالطَّعَامُ مُرْجَأٌ.
 
”Yang demikian itu karena sebenarnya yang terjadi adalah menjual Dirham dengan Dirham, sedangkan bahan makanannya ditunda (sekadar kedok belaka).” [Muttafaqun ‘alaih]
 
Sistem Dropshipping pada tahapan praktiknya bisa saja melanggar ketiga prinsip di atas, atau salah satunya, sehingga keluar dari aturan syariat alias HARAM. Seorang Dropshipper bisa saja mengaku sebagai pemiliki barang, atau paling kurang sebagai agen, padahal pada kenyataannya tidak demikian. Karena dusta ini bisa jadi konsumen menduga, bahwa ia mendapatkan barang dengan harga murah dan terbebas dari praktik percaloan, padahal kenyataannya tidak demikian. Andai ia menyadari bahwa ia sedang berhadapan dengan seorang agen atau pihak kedua, bisa saja ia mengurungkan pembeliannya.
 
Pelanggaran bisa juga berupa Dropshipper menawarkan lalu menjual barang yang belum ia terima, walaupun ia telah membelinya dari supplier. Dengan demikian Dropshipper melanggar larangan Nabi ﷺ di atas.
 
Atau bisa jadi Dropshipper menentukan keuntungan melebihi yang diizinkan oleh supplier. Jelaslah ulah Dropshipper ini merugikan supplier, karena barang dagangan miliknya telat laku, atau bahkan kehilangan pasarnya.
 
Solusi:
Agar terhindar dari berbagai pelanggaran di atas, maka kita dapat saja melakukan salah dari beberapa alternatif berikut:
 
Alternatif Pertama: Sebelum menjalankan sistem Dropshipping, terlebih dahulu kita menjalin kesepakatan kerjasama dengan supplier. Atas kerjasama ini kita mendapatkan wewenang untuk turut memasarkan barang dagangannya. Dan atas partisipasi kita dalam pemasaran ini, kita berhak mendapatkan fee alias upah yang nominalnya telah disepakati bersama pula.
 
Penentuan fee atas jasa pemasaran ini bisa saja dihitung berdasarkan waktu kerjasama, atau berdasarkan jumlah barang yang berhasil kita jual. Bila alternatif ini yang menjadi pilihan kita , berarti kita bersama supplier menjalin akad “JU’ALAH” (jual jasa). Yaitu salah satu model dari akad jual-beli jasa yang upahnya ditentukan sesuai dengan hasil kerja, bukan waktu kerja.
 
Alternatif Kedua: Kita juga dapat mengadakan kesepakatan dengan para calon konsumen yang membutuhkan berbagai macam barang. Dan atas jasa kita mengadakan barang, kita mensyaratkan imbalan dalam nominal tertentu. Dengan demikian kita menjalankan model usaha jual beli jasa, atau semacam biro jasa pengadaan barang.
 
Alternatif Ketiga: Kita juga dapat menggunakan skema akad salam dalam aktivitas kita . Dengan demikian kita berkewajiban menyebutkan berbagai kriteria barang kepada calon konsumen, baik dilengkapi dengan gambar barang atau tidak. Dan setelah ada calon konsumen yang berminat terhadap barang yang kita tawarkan dengan harga yang disepakati pula, maka kita baru mengadakan barang. Skema salam samacam ini barang kali yang paling mendekati sistem Dropshipping, walau demikian perlu dicatatkan dua hal penting yang mungkin membedakan antara keduanya:
 
1. Dalam skema akad salam calon konsumen harus melakukan pembayaran secara tunai dan lunas pada awal akad.
2. Semua resiko selama pengiriman barang hingga barang tiba di tangan konsumen menjadi tanggung jawab Dropshipper dan bukan supplier.
 
Alternatif Keempat: Kita menggunakan skema akad MURABAHAH LIL ‘AMIRI BISSYIRA’ (Pemesanan Tidak Mengikat). Yaitu ketika ada calon konsumen yang tertarik dengan barang yang kita pasarkan, segera kita mengadakan barang tersebut sebelum ada kesepakatan harga dengan calon pembeli. Setelah mendapatkan barang yang diinginkan, segera kita mengirimkannya ke calon pembeli. Setiba barang di tempat calon pembeli, kita baru mengadakan negoisasi penjualan dengannya. Dan sudah dapat diduga bahwa calon pembeli memiliki wewenang oenuh untuk membeli atau mengurungkan rencana pembeliannya.
 
Mungkin kita berkata; bila alternatif ini yang saya pilih, betapa besar resiko yang harus saya pikul, dan betapa susahnya kerja saya, terlebih bila calon pembeli berdomisi jauh dari tempat tinggal saya?
 
Apa yang kita utarakan benar adanya. Karena itu mungkin alternatif ini paling sulit untuk diterapkan, terutama bila kita menjalankan bisnis secara online.
 
Walau demikian, bukan berarti besarnya resiko tidak dapat ditanggulangi. Untuk menanggulangi besarnya resiko yang harus kita tanggung, kita sebagai penjual dapat mensyaratkan hak khiyar (hak pilih membatalkan pembelian) kepada supplier dalam batas waktu tertentu. Dengan demikian, bila calon pembeli kita batal membeli, kita dapat mengembalikan barang tersebut kepada supplier . Sebagaimana kita juga dapat mensyaratkan kepada calon pembeli, bahwa batal membeli ia menanggung seluruh biaya mendatangkan barang, dan mengembalikannya kepada supplier.
 
Penutup:
Semoga paparan singkat tentang skema Dropshipping di atas dapat menambah khazanah ilmu agama kita . Dan besar harapan saya semoga Allah taala memudahkan dan memberkahi perniagaan kita . Wallahu taala a’alam bisshawab.
 
 
 
Penulis: Ustadz M. Arifin Badri hafizahullah
#jualbelionline #fikihjualbeli #fiqihjualbeli #hukum #dropshipping #doorshipping #doorshiping #dropshiping #akadjualbeli #agen #calo #sistem #solusidropshipping #jalankeluar #riba #menjualbarangyangtidakadaditangankita #riba #menjualbarangyangtidakadadikita #bisnis #perniagaan #perdagangan #dagang #niaga #dalamIslam #penjualdanpembeli