Posts

, ,

BOLEHKAH WANITA BEKERJA DI LUAR RUMAH?

BOLEHKAH WANITA BEKERJA DI LUAR RUMAH?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
 
BOLEHKAH WANITA BEKERJA DI LUAR RUMAH?
 
Pertanyaan:
Saya ibu dengan satu bayi putri. Saya bekerja sebagai PNS di Depdiknas. Mohon nasihatnya, setelah saya belajar Islam dengan manhaj Salaful ummah ini, timbul dilema antara melanjutkan karir atau mempersiapkan diri untuk keluar dari pekerjaan, dan menjadi ibu yang full time di rumah. Masalahnya adalah saya kurang pandai bekerja di rumah. Sekarang ini walau tak ada pembantu, saya masih bisa mengurus rumah walaupun seadanya.
 
Khawatirnya jika saya tetap bekerja, akan bertentangan dengan surat Al Ahzab ayat 33, bahwa tempat wanita adalah rumahnya. Mohon nasihatnya ustadz, agar ana ikhlas bekerja tanpa pembantu, dan mendapatkan yang lebih baik dari sekadar khadimat dengan zikir sebelum tidur. Namun bolehkah saya punya khadimat ya ustadz, masalahnya jadi ada non-mahram di rumah kami. Jazaakumullah Khair wa Barakallahu fikum, Wassallam
 
 
Ustadz Musyaffa Ad Darini, Lc. menjawab:
 
Bismillah, walhamdulillah wash shalatu wassalamu ala Rasulillah, wa’ala alihi washahbihi wa man waalah, amma ba’du.
 
Semoga Allah mencurahkan rahmat, berkah dan taufik-Nya kepada Anda, karena semangat Anda menetapi manhaj yang lurus ini, Aamiin. Agar lebih fokus dan mudah dipahami, jawaban pertanyaan Anda kami jabarkan dalam poin-poin berikut ini:
 
Pertama: Islam adalah syariat yang diturunkan oleh Allah Sang Pencipta Manusia. Hanya Dia-lah yang Maha Mengetahui seluk beluk ciptaan-Nya. Hanya Dia yang Maha Tahu mana yang baik dan memperbaiki hamba-Nya, serta mana yang buruk dan membahayakan mereka. Oleh karena itu, Islam menjadi aturan hidup manusia yang paling baik, paling lengkap dan paling mulia, Hanya Islam yang bisa mengantarkan manusia menuju kebaikan, kemajuan, dan kebahagiaan dunia Akhirat. Allah taala berfirman:
 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ
 
“Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul apabila dia menyerumu kepada sesuatu (ajaran) yang memberi kehidupan kepadamu.“ [QS. Al-Anfal: 24]
 
Allah adalah Dzat yang Maha Pengasih, Maha Penyayang dan terus mengurusi makhluk-Nya. Oleh karena itu Dia takkan membiarkan makhluknya sia-sia. Allah berfirman:
 
أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى
 
“Apakah manusia mengira, dia akan dibiarkan begitu saja (tanpa ada perintah, larangan dan pertanggung-jawaban)?!” [QS. Al-Qiyamah:36, lihat tafsir Ibnu Katsir 8/283]
 
Oleh karena itulah, Allah menurunkan syariat-Nya, dan mengharuskan manusia untuk menerapkannya dalam kehidupan, tidak lain agar kehidupan mereka menjadi lebih baik, lebih maju, lebih mulia, dan lebih bahagia di dunia dan di Akhirat.
 
Kedua: Islam menjadikan lelaki sebagai kepala keluarga, di pundaknyalah tanggung jawab utama lahir batin keluarga. Islam juga sangat proporsional dalam membagi tugas rumah tangga. Kepala keluarga diberikan tugas utama untuk menyelesaikan segala urusan di luar rumah, sedang sang ibu memiliki tugas utama yang mulia, yakni mengurusi segala urusan dalam rumah.
 
Norma-norma ini terkandung dalam firman-Nya:
 
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ
 
“Para lelaki (suami) itu pemimpin bagi para wanita (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (yang lelaki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (yang lelaki) telah memberikan nafkah dari harta mereka” [QS. An-Nisa: 34]
 
Begitu pula firman-Nya:
 
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ
 
“Hendaklah kalian (para istri) tetap di rumah kalian” [QS. Al-Ahzab:33]
 
Ahli Tafsir ternama Imam Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini dengan perkataannya:
“Maksudnya, hendaklah kalian (para istri) menetapi rumah kalian, dan janganlah keluar kecuali ada kebutuhan. Termasuk di antara kebutuhan yang syari adalah keluar rumah untuk shalat di masjid dengan memenuhi syarat-syaratnya.” [Tafsir Ibnu Katsir, 6/409]
 
Inilah keluarga yang ideal dalam Islam. Kepala keluarga sebagai penanggung jawab utama urusan luar rumah, dan ibu sebagai penanggung jawab utama urusan dalam rumah. Sungguh, jika aturan ini benar-benar kita terapkan, dan kita saling memahami tugas masing-masing, niscaya terbangun tatanan masyarakat yang maju dan berimbang dalam bidang moral dan materialnya, tercapai ketentraman lahir batinnya, dan juga teraih kebahagiaan dunia Akhiratnya.
 
Ketiga: Bolehkah wanita bekerja?
 
Memang bekerja adalah kewajiban seorang suami sebagai kepala rumah tangga, tapi Islam juga tidak melarang wanita untuk bekerja. Wanita boleh bekerja, jika memenuhi syarat-syaratnya, dan tidak mengandung hal-hal yang dilarang oleh syariat.
 
Syaikh Abdul Aziz Bin Baz mengatakan: “Islam tidak melarang wanita untuk bekerja dan bisnis, karena Allah jalla wa’ala mensyariatkan dan memerintahkan hamba-Nya untuk bekerja dalam firman-Nya:
 
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ
 
“Katakanlah (wahai Muhammad), bekerjalah kalian! Maka Allah, Rasul-Nya, dan para Mukminin akan melihat pekerjaanmu“ [QS. At-Taubah:105]
 
Perintah ini mencakup pria dan wanita. Allah juga mensyariatkan bisnis kepada semua hambanya, Karenanya seluruh manusia diperintah untuk berbisnis, berikhtiar dan bekerja, baik itu pria maupun wanita. Allah berfirman (yang artinya):
 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ
 
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan harta sesama kalian dengan jalan yang tidak benar, akan tetapi hendaklah kalian berdagang atas dasar saling rela di antara kalian” [QS. An-Nisa:29]
 
Perintah ini berlaku umum, baik pria maupun wanita.
 
AKAN TETAPI, wajib diperhatikan dalam pelaksanaan pekerjaan dan bisnisnya, hendaklah pelaksanaannya terbebas dari hal-hal yang menyebabkan masalah dan kemungkaran. Dalam pekerjaan wanita, harusnya tidak ada ikhtilat (campur) dengan pria, dan tidak menimbulkan fitnah. Begitu pula dalam bisnisnya, harusnya dalam keadaan tidak mendatangkan fitnah, selalu berusaha memakai hijab syari, tertutup, dan menjauh dari sumber-sumber fitnah.
 
Karena itu, jual beli antara mereka bila dipisahkan dengan pria itu boleh, begitu pula dalam pekerjaan mereka. Yang wanita boleh bekerja sebagai dokter, perawat, dan pengajar khusus untuk wanita. Yang pria juga boleh bekerja sebagai dokter dan pengajar khusus untuk pria. Adapun bila wanita menjadi dokter atau perawat untuk pria, sebaliknya pria menjadi dokter atau perawat untuk wanita, maka praktik seperti ini tidak dibolehkan oleh syariat, karena adanya fitnah dan kerusakan di dalamnya.
 
Bolehnya bekerja, harus dengan syarat tidak membahayakan agama dan kehormatan, baik untuk wanita maupun pria. Pekerjaan wanita harus bebas dari hal-hal yang membahayakan agama dan kehormatannya, serta tidak menyebabkan fitnah dan kerusakan moral pada pria. Begitu pula pekerjaan pria harus tidak menyebabkan fitnah dan kerusakan bagi kaum wanita.
 
Hendaklah kaum pria dan wanita itu masing-masing bekerja dengan cara yang baik, tidak saling membahayakan antara satu dengan yang lainnya, serta tidak membahayakan masyarakatnya.
 
Kecuali dalam keadaan darurat, jika situasinya mendesak, seorang pria boleh mengurusi wanita, misalnya pria boleh mengobati wanita karena tidak adanya wanita yang bisa mengobatinya. Begitu pula sebaliknya. Tentunya dengan tetap berusaha menjauhi sumber-sumber fitnah, seperti menyendiri, membuka aurat, dll yang bisa menimbulkan fitnah. Ini merupakan pengecualian (hanya boleh dilakukan jika keadaannya darurat). [Lihat Majmu’ Fatawa Syaikh Bin Baz, jilid 28, hal: 103-109]
 
Keempat: Ada hal-hal yang perlu diperhatikan, jika istri ingin bekerja, di antaranya:
 
1. Pekerjaannya tidak mengganggu kewajiban utamanya dalam urusan dalam rumah. Karena mengurus rumah adalah pekerjaan wajibnya, sedang pekerjaan luarnya bukan kewajiban baginya. Dan sesuatu yang wajib tidak boleh dikalahkan oleh sesuatu yang tidak wajib.
 
2. Harus dengan izin suaminya, karena istri wajib menaati suaminya.
 
3. Menerapkan adab-adab Islami, seperti: Menjaga pandangan, memakai hijab syari, tidak memakai wewangian, tidak melembutkan suaranya kepada pria yang bukan mahram, dll.
 
4. Pekerjaannya sesuai dengan tabiat wanita seperti: mengajar, dokter, perawat, penulis artikel, buku, dll.
 
5. Tidak ada ikhtilat di lingkungan kerjanya. Hendaklah ia mencari lingkungan kerja yang khusus wanita, misalnya: sekolah wanita, perkumpulan wanita, kursus wanita, dll.
 
6. Hendaklah mencari dulu pekerjaan yang bisa dikerjakan di dalam rumah. Jika tidak ada, baru cari pekerjaan luar rumah yang khusus di kalangan wanita. Jika tidak ada, maka ia tidak boleh cari pekerjaan luar rumah yang campur antara pria dan wanita, kecuali jika keadaannya darurat, atau keadaan sangat mendesak sekali, misalnya suami tidak mampu mencukupi kehidupan keluarganya, atau suaminya sakit, dll.
 
Kelima: Jawaban pertanyaan Anda sangat bergantung dengan pekerjaan dan keadaan Anda.
 
Apa suami mengijinkan Anda untuk bekerja? Apa pekerjaan Anda tidak mengganggu tugas utama Anda dalam rumah? Apa tidak ada pekerjaan yang bisa dikerjakan dalam rumah? Jika lingkungan kerja Anda sekarang keadaannya ikhtilat (campur antara pria dan wanita), apa tidak ada pekerjaan lain yang lingkungannya tidak ikhtilat? Jika tidak ada, apa Anda sudah dalam kondisi darurat, sehingga apabila Anda tidak bekerja itu, Anda akan terancam hidupnya, atau paling tidak hidup Anda akan terasa berat sekali bila Anda tidak bekerja? Jika memang demikian, sudahkah Anda menerapkan adab-adab Islami ketika Anda keluar rumah? InsyaAllah dengan uraian kami di atas, Anda bisa menjawab sendiri pertanyaan Anda.
 
Memang seringkali kita butuh waktu dan step by step dalam menerapkan syariat dalam kehidupan kita, tapi peganglah terus firman-Nya:
 
فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ
 
“Bertaqwalah kepada Allah semampumu!” [QS. At-Taghabun:16)
 
Dan firman-Nya (yang artinya):
 
فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ
 
“Jika tekadmu sudah bulat, maka tawakkal-lah kepada Allah!” [QS. Al Imran:159].
 
Juga sabda Rasul ﷺ: “Ingatlah kepada Allah ketika dalam kemudahan, niscaya Allah akan mengingatmu ketika dalam kesusahan!” [HR. Ahmad, dan di-shahih-kan oleh Albani]
 
Dan juga sabdanya ﷺ:
 
إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا اتِّقَاءَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا أَعْطَاكَ اللَّهُ خَيْرًا مِنْهُ (رواه أحمد وقال الألباني: سنده صحيح على شرط مسلم)
 
“Sungguh kamu tidak meninggalkan sesuatu karena takwamu kepada Allah azza wajalla melainkan Allah pasti akan memberimu ganti yang lebih baik darinya” [HR. Ahmad, dan di-shahih-kan oleh Albani]
 
Terakhir: Kadang terbetik dalam benak kita, mengapa Islam terkesan mengekang wanita?!
 
Inilah doktrin yang selama ini sering dijejalkan para musuh Islam. Mereka menyuarakan pembebasan wanita, padahal di balik itu mereka ingin menjadikan para wanita sebagai obyek nafsunya. Mereka ingin bebas menikmati keindahan wanita, dengan lebih dahulu menurunkan martabatnya. Mereka ingin merusak wanita yang teguh dengan agamanya, agar mau memertontonkan auratnya, sebagaimana mereka telah merusak kaum wanita mereka.
 
Lihatlah kaum wanita di negara-negara Barat. Meski ada yang terlihat mencapai posisi yang tinggi dan dihormati, tapi kebanyakan mereka dijadikan sebagai obyek dagangan, hingga harus menjual kehormatan mereka, penghias motor dan mobil dalam lomba balap, penghias barang dagangan, pemoles iklan-iklan di berbagai media informasi, dll. Wanita mereka dituntut untuk berkarir, padahal itu bukan kewajiban mereka, sehingga menelantarkan kewajiban mereka untuk mengurus dan mendidik anaknya sebagai generasi penerus. Selanjutnya rusaklah tatanan kehidupan masyarakat mereka. Tidak berhenti di sini, mereka juga ingin kaum wanita kita rusak, sebagaimana kaum wanita mereka rusak lahir batinnya. Dan di antara langkah awal menuju itu adalah dengan mengajak kaum wanita kita, dengan berbagai cara, agar mau keluar dari rumah mereka.
 
Cobalah lihat secuil pengakuan orang Barat sendiri, tentang sebab rusaknya tatanan masyarakat mereka berikut ini:
 
Lord Byron: “Andai para pembaca mau melihat keadaan wanita di zaman Yunani kuno, tentu Anda akan dapati mereka dalam kondisi yang dipaksakan dan menyelisihi fitrahnya. Dan tentunya Anda akan sepakat denganku, tentang wajibnya menyibukkan wanita dengan tugas-tugas dalam rumah, dibarengi dengan perbaikan gizi dan pakaiannya, dan wajibnya melarang mereka untuk campur dengan laki-laki lain”.
 
Samuel Smills: “Sungguh aturan yang menyuruh wanita untuk berkarir di tempat-tempat kerja, meski banyak menghasilkan kekayaan untuk negara, tapi akhirnya justru menghancurkan kehidupan rumah tangga. Karena hal itu merusak tatanan rumah tangga, merobohkan sendi-sendi keluarga, dan merangsek hubungan sosial kemasyarakatan. Karena hal itu jelas akan menjauhkan istri dari suaminya, dan menjauhkan anak-anaknya dari kerabatnya, hingga pada keadaan tertentu tidak ada hasilnya kecuali merendahkan moral wanita, karena tugas hakiki wanita adalah mengurus tugas rumah tangganya…”.
 
Dr. Iidaylin: “Sesungguhnya sebab terjadinya krisis rumah tangga di Amerika, dan rahasia dari banyak kejahatan di masyarakat, adalah karena istri meninggalkan rumahnya untuk meningkatkan penghasilan keluarga, hingga meningkatlah penghasilan. Tapi di sisi lain, tingkat akhlak malah menurun… Sungguh pengalaman membuktikan, bahwa kembalinya wanita ke lingkungan (keluarga)nya adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan generasi baru dari kemerosotan yang mereka alami sekarang ini”. [Lihat Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, jilid 1, hal: 425-426]
 
Lihatlah, bagaimana mereka yang obyektif mengakui imbas buruk dari keluarnya wanita dari rumah untuk berkarir…
Sungguh Islam merupakan aturan dan syariat yang paling tepat untuk manusia,
Aturan itu bukan untuk mengekang, tapi untuk mengatur jalan hidup manusia, menuju perbaikan dan kebahagiaan dunia dan Akhirat…
Islam dan pemeluknya ibarat terapi dan tubuh manusia. Islam akan memperbaiki keadaan pemeluknya, sebagaimana terapi akan memperbaiki tubuh manusia…
Islam dan pemeluknya, ibarat UU dan penduduk suatu negeri. Islam mengatur dan menertibkan kehidupan manusia, sebagaimana UU juga bertujuan demikian.
 
Jadi Islam tidak mengekang wanita, tapi mengatur wanita agar hidupnya menjadi baik, selamat, tentram, dan bahagia dunia Akhirat. Begitulah cara Islam menghormati wanita, menjauhkan mereka dari pekerjaan yang memberatkan mereka, menghidarkan mereka dari bahaya yang banyak mengancam mereka di luar rumah, dan menjaga kehormatan mereka dari niat jahat orang yang hidup di sekitarnya.
 
Sekian jawaban kami. Wallahu a’lam. Semoga bermanfaat dan bisa dimengerti. Wassalam.
 
NB: Tentang hukum mengambil pembantu, insyaAllah akan kami jawab di kesempatan lainnya.
 
 
 
Penulis: Ustadz Musyaffa’ Addariny
 
#wanitakarir #wanita #perempuan #muslimah #hukum #bekerjadiluarrumah #tempatwanitaadalahdidalamrumah #bekerjadiluarrumahtugashakikiwanita #mengurustugasrumahtangga #tugasutamawanita #iburumahtangga
, ,

HUKUM SEORANG WANITA MENAMBAHKAN NAMA SUAMINYA DI BELAKANG NAMANYA

HUKUM SEORANG WANITA MENAMBAHKAN NAMA SUAMINYA DI BELAKANG NAMANYA
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
HUKUM SEORANG WANITA MENAMBAHKAN NAMA SUAMINYA DI BELAKANG NAMANYA
 
Setelah menikah, terkadang seorang wanita mengganti namanya belakangnya atau nama keluarganya dengan nama suaminya. Hal ini juga banyak dilakukan di negara-negara Barat, seperti istrinya Bill Clinton: Hillary Clinton yang nama aslinya Hillary Diane Rodham. Lalu bagaimanakah pendapat para ulama tentang masalah ini?
 
Fatwa Lajnah Da’imah:
 
Fatawa al-Lajnah ad-Da’imah lil Buhutsil Ilmiyyah wal Ifta’ juz 20 halaman 379.
 
Pertanyaan:
Telah umum di sebagian negara, seorang wanita Muslimah setelah menikah menisbatkan namanya dengan nama suaminya atau laqobnya. Misalnya: Zainab menikah dengan Zaid, Apakah boleh baginya menuliskan namanya: Zainab Zaid? Ataukah hal tersebut merupakan budaya Barat yang harus dijauhi dan berhati-hati dengannya?
 
Jawaban:
TIDAK BOLEH seseorang menisbatkan dirinya kepada selain ayahnya. Allah ﷻ berfirman:
ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ
“Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan memakai nama bapak-bapak mereka. Itulah yang lebih adil di sisi Allah.” [QS al-Ahzab: 5]
 
Sungguh telah datang ancaman yang keras bagi orang yang menisbatkan kepada SELAIN ayahnya. Maka dari itu TIDAK BOLEH seorang wanita menisbatkan dirinya kepada suaminya, sebagaimana adat yang berlaku pada kaum kuffar dan yang menyerupai mereka dari kaum Muslimin.
 
وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم
 
Al-Lajnah ad-Da’imah lil Buhutsil Ilmiyyah wal Ifta’
Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz
Wakil: Abdul Aziz Alu Syaikh
Anggota:
Abdulloh bin ghudayyan
Sholih al-Fauzan
Bakr Abu Zaid
 
 
فتاوى اللجنة الدائمةالسؤال الثالث من الفتوى رقم ( 18147 )
س3: قد شاع في بعض البلدان نسبة المرأة المسلمة بعد الزواج إلى اسم زوجها أو لقبه، فمثلا تزوجت زينب زيدا، فهل يجوز لها أن تكتب: (زينب زيد)، أم هي من الحضارة الغربية التي يجب اجتنابها والحذر منها؟
ج3: لا يجوز نسبة الإنسان إلى غير أبيه، قال تعالى: { ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ } (1) وقد جاء الوعيد الشديد على من انتسب إلى غير أبيه. وعلى هذا فلا يجوز نسبة المرأة إلى زوجها كما جرت العادة عند الكفار، ومن تشبه بهم من المسلمين
وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.
اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء
عضو … عضو … عضو … نائب الرئيس … الرئيس
بكر أبو زيد … صالح الفوزان … عبد الله بن غديان … عبد العزيز آل الشيخ … عبد العزيز بن عبد الله بن باز
***
 
Fatwa Syaikh Sholih al-Fauzan hafidzohullah
 
Pertanyaan:
Apakah boleh seorang wanita setelah menikah melepaskan nama keluarganya dan mengambil nama suaminya sebagaimana orang Barat?
 
Jawaban:
Hal itu TIDAK diperbolehkan. Bernasab kepada selain ayahnya tidak boleh, haram dalam Islam.
Haram dalam Islam seorang Muslim bernasab kepada selain ayahnya, baik laki-laki atau wanita. Dan baginya ancaman yang keras dan laknat bagi yang melakukannya, yaitu yang bernasab kepada selain ayahnya. Hal itu tidak boleh selamanya.
 
Dari kaset Syarh Mandhumatul Adab Syaikh al-Fauzan Hafidhahullah
 
السؤالهل يجوز للمرأة بعد الزواج ان تتنازل عن اسمها العائلي وتاخذ اسم زوجها كما هو الحال في الغرب؟الجواب
هذا لا يجوز الانتساب الى غير الاب لا يجوز حرام في الاسلام
حرام في الاسلام ان المسلم ينتسب الى غير ابيه سواءا كان رجلا ام امرأة وهذا عليه وعيد شديد وملعون من فعله الذي ينتسب الى غير مواليه او ينتسب الى غير ابيه هذا لا يجوز ابدا
من شريط شرح منظومة الآداب للشيخ الفوزان حفظه الله
 
***
 
Fatwa Syaikh Muhammad Ali Farkus hafidzahulloh
 
Pertanyaan:
Apakah wajib secara syari bagi seorang wanita menyertakan nama suaminya, atau sebisa mungkin tetap menggunakan nama aslinya?
 
Jawaban:
 
:الحمد لله ربِّ العالمين، والصلاة والسلام على من أرسله الله رحمة للعالمين، وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدين، أمَّا بعد
 
Tidak boleh dari segi nasab seseorang bernasab kepada selain nasabnya yang asli, atau mengaku keturunan dari yang bukan ayahnya sendiri. Sungguh Islam telah mengharamkan seorang ayah mengingkari nasab anaknya tanpa sebab yang benar secara ijma’.
 
Allah berfirman:
 
ادْعُوهُمْ لآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِندَ اللهِ فَإِن لَّمْ تَعْلَمُوا آبَاءَهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَمَوَالِيكُمْ وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُم بِهِ وَلَكِن مَّا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا
 
Dan sabda Nabi ﷺ:
 
مَنِ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ أَوْ انْتَمَى إِلَى غَيْرِ مَوَالِيهِ، فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَالمَلاَئِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ، لاَ يَقْبَلُ اللهُ مِنْهُ يَوْمَ القِيَامَةِ صَرْفًا وَلاَ عَدْلاً
 
“Barang siapa yang mengaku sebagai anak kepada selain bapaknya, atau menisbatkan dirinya kepada yang bukan walinya, maka baginya laknat Allah, malaikat, dan segenap manusia. Pada Hari Kiamat nanti Allah tidak akan menerima darinya ibadah yang wajib maupun yang sunnah.”
 
[Dikeluarkan oleh Muslim dalam al-Hajj (3327) dan Tirmidzi dalam Al-Wala’ Wal Habbah Bab Ma Ja’a Fiman Tawalla Ghoiro Mawalihi (2127), Ahmad (616) dari hadits Ali bin Abi Tholib radhiyAllahu anhu].
 
Dan dalam riwayat yang lain:
 
مَنِ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ غَيْرُ أَبِيهِ، فَالجَنَّةُ عَلَيْهِ حَرَامٌ
 
“Barang siapa bernasab kepada selain ayahnya dan ia mengetahui bahwa ia bukan ayahnya, maka Surga haram baginya.”
 
[Dikeluarkan oleh Bukhari dalam al-Maghozi bab: Ghozwatuth Tho`if (3982), Muslim dalam “al-Iman” (220), Abu Dawud dalam “al-Adab” (bab Bab Seseorang Mengaku Keturunan dari yang Bukan Bapaknya (5113) dan Ibnu Majah dalam (al-Hudud) bab: Bab Orang Yang Mengaku Keturunan dari yang Bukan Bapaknya atau Berwali Kepada Selain Walinya (2610) dan Ibnu Hibban (415) dan Darimi (2453) dan Ahmad (1500) dan hadis Sa’ad bin Abi Waqqosh dan Abu Bakroh radhiyAllahu anhuma].
 
Maka tidak boleh dikatakan: Fulanah bintu Fulan sedangkan ia bukan anaknya, tetapi boleh dikatakan: Fulanah zaujatu Fulan (Fulanah istrinya si Fulan) atau tanggungannya si Fulan atau wakilnya Fulan. Dan jika tidak disebutkan idhofah-idhofah ini, dan hal ini sudah diketahui dan biasa, maka sesungguhnya apa-apa yang berlaku dalam adat, itulah yang dipertimbangkan dalam syariat.
 
والعلمُ عند الله تعالى، وآخر دعوانا أنِ الحمد لله ربِّ العالمين، وصلى الله على نبيّنا محمّد وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدين، وسلّم تسليمًا
 
Makkah, 4 Syawwal 1427 H
Bertepatan dengan 16 Oktober 2006 M
 
***
 
السؤال: هل الواجبُ على المرأةِ حملُ لقبِ زوجِها شرعًا أم بإمكانها البقاء على لقبها الأصليِّ ؟الجوابالحمد لله ربِّ العالمين، والصلاة والسلام على من أرسله الله رحمة للعالمين، وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدين، أمَّا بعد:
فلا يجوزُ من حيث النسبُ أن يُنْسَبَ المرءُ إلى غير نسبه الأصلي أو يُدَّعَى إلى غير أبيه، فقد حَرَّم الإسلام على الأب أن يُنْكِرَ نَسَبَ ولدِه بغير حقٍّ إجماعًا، لقوله تعالى: ﴿ادْعُوهُمْ لآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِندَ اللهِ فَإِن لَّمْ تَعْلَمُوا آبَاءَهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَمَوَالِيكُمْ وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُم بِهِ وَلَكِن مَّا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا﴾ [الأحزاب: 5]، ولقوله صلى الله عليه وآله وسلم: «مَنِ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ أَوْ انْتَمَى إِلَى غَيْرِ مَوَالِيهِ، فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَالمَلاَئِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ، لاَ يَقْبَلُ اللهُ مِنْهُ يَوْمَ القِيَامَةِ صَرْفًا وَلاَ عَدْلاً»(١- أخرجه مسلم في «الحج» (3327)، والترمذي في «الولاء والهبة» باب: باب ما جاء فيمن تولى غير مواليه (2127)، وأحمد (616)، من حديث علي بن أبي طالب رضي الله عنه، وفي رواية أخرى: «مَنِ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ غَيْرُ أَبِيهِ، فَالجَنَّةُ عَلَيْهِ حَرَامٌ»(٢- أخرجه البخاري في «المغازي» باب: غزوة الطائف (3982)، ومسلم في «الإيمان» (220)، وأبو داود في «الأدب» باب: باب في الرجل ينتمي إلى غير مواليه (5113)، وابن ماجه في «الحدود» باب: باب من ادعى إلى غير أبيه أو تولى غير مواليه (2610)، وابن حبان (415)، والدارمي (2453)، وأحمد (1500)، من حديث سعد بن أبي وقاص وأبي بكرة رضي الله عنهما)
، فإذا كان لا يجوز أن يقال: فلانة بنت فلان وهي ليست ابنته، ولكن يجوز أن يقال: فلانة زوجة فلان أو مكفولة فلان أو وكيلة عن فلان، فإذا لم تذكر هذه الإضافات -وكانت معروفة معهودة- «فإنّ ما يجري بالعرف يجري بالشرع».
والعلمُ عند الله تعالى، وآخر دعوانا أنِ الحمد لله ربِّ العالمين، وصلى الله على نبيّنا محمّد وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدين، وسلّم تسليمًا.
مكة في: 4 شـوال 1427ﻫ
الموافق ﻟ: 26 أكتوبر 2006م
***
 
Lalu Bagaimana yang Disyariatkan?
 
Yang disunnahkan adalah menggunakan nama kunyah (baca: kun-yah), sebagaimana telah tsabit dalam banyak hadis, dan ini jelas lebih utama daripada menggunakan laqob/julukan-julukan yang berasal dari adat Barat ataupun ‘ajam. Sebagaimana yang dikatakan oleh syaikh al-Albani rahimahulloh dalam Silsilah al-Ahaadits ash-Shohihah no. 132:
 
Rasulullah ﷺ bersabda:
 
اكْتَنِي [بابنك عبدالله – يعني: ابن الزبير] أَنْتِ أُمَّ عَبْدِ اللَّهِ
 
“Berkun-yahlah [dengan anakmu –yakni: Ibnu Zubair] kamu adalah Ummu Abdillah” [Lihat ash-Shohihah no. 132]
 
Dikeluarkan oleh al-Imam Ahmad: Haddatsana Abdurrozzaq (bin Hammam, pent), haddatsana Ma’mar (bin Rosyid, pent) dari Hisyam (bin ‘Urwah, pent), dari bapaknya (Urwah bin Zubair, pent): bahwa ‘Aisyah berkata kepada Nabi ﷺ:
 
يَا رَسُولَ اللَّهِ كُلُّ نِسَائِكَ لَهَا كُنْيَةٌ غَيْرِي فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فذكره بدون الزيادة
 
“Wahai Rasulullah, semua istrimu selain aku memiliki kun-yah”, lalu Rasulullah ﷺ sallam bersabda kepadanya: (lalu beliau ﷺ menyebutkan hadis ini tanpa tambahan).
 
Berkata (Urwah, pent): Ketika itu ‘Aisyah disebut sebagai Ummu Abdillah sampai ia meninggal, dan ia tidak pernah melahirkan sama sekali.
 
Berdasarkan hadis ini, disyariatkan berkun-yah walaupun seseorang tidak memiliki anak. Ini merupakan adab Islami yang tidak ada bandingannya pada umat lainnya sejauh yang aku ketahui. Maka sepatutnya bagi kaum Muslimin untuk berpegang teguh padanya, baik laki-laki maupun wanita, dan meninggalkan apa yang masuk sedkit demi sedikit kepada mereka dari adat-adat kaum ‘Ajam seperti al-Biik (البيك), al-Afnadi (الأفندي), al-Basya (الباشا), dan yang semisal itu seperti al-Misyu (المسيو), as-Sayyid (السيد), as-Sayyidah (السيدة), dan al-Anisah (الآنسة), ketika semua itu masuk ke dalam Islam. Dan para fuqoha’ al-Hanafiyyah telah menegaskan tentang dibencinya al-Afnadi (الأفندي) karena di dalamnya terdapat tazkiyah, sebagaimana dalam kitab ‘Hasyiyah Ibnu Abidin’. Dan Sayyid hanya saja dimutlaqkan atas orang yang memiliki kepemimpinan atau jabatan, dan pada masalah ini terdapat hadis (قوموا إلى سيدكم) “Berdirilah kepada (tolonglah, pent) sayyid kalian”, dan telah berlalu pada nomor 66 (dalam ash-Shohihah, pent) dan tidak dimutlakkan atas semua orang karena ini juga masuk pada bentuk tazkiyah.
 
Faidah: adapun hadis yang diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyAllahu anha, bahwa bahwa ia mengalami keguguran dari Nabi ﷺ, lalu ia menamainya (janin yang gugur tersebut, pent) Abdullah, dan ia berkun-yah dengannya, maka hadis tersebut bathil secara sanad dan matan. Dan keterangannya ada pada adh-Dho’ifah jilid ke-9. –Selesai perkataan syaikh al-Albani rahimahullah.
 
Maroji‘:
alifta.net – Fatwa Lajnah Da’imah
Sahab.net – Fatwa Syaikh Sholeh Fauzan
Ferkous.com – Fatwa Syaikh Farkus
Tholib.wordpress.com – Perkataan Syaikh al-Albani
Disalin dari: ummushofi.wordpress.com Untuk dipublikasikan oleh: ibnuabbaskendari.wordpress.com

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

 

 

#hukum #menambakannamasuamidibelakangnamaistri #hukummemakainamabelakangsuami #nisbatkannamasuami #menisbatkannamabelakangsuami #hukummenisbatkankeselainayahkandung #wanita #perempuan #muslimah #suami #istri #isteri #lelaki #lakilaki #pria #suami #istripakainamabelakangsuami #bernasabkepadaselainAllah
, ,

IMAM SHALAT TAPI MEROKOK?

IMAM SHALAT TAPI MEROKOK?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

IMAM SHALAT TAPI MEROKOK?
 
Pertanyaan:
Apakah boleh seorang perokok menjadi imam sholat, dalam keadaan cuma dia yang terbaik bacaannya di antara yang lain?
 
Jawaban:
 
لا، يقدم أذا كان هناك اختيار للإمام فلا يختارون شارب الدخان لأن معه معصية ظاهرة ولأنه قدوة وربما يقتدون به ويختارون أحسن منه.
 
JANGAN. Jika masih memungkinkan untuk memilih imam yang lain, maka jangan memilih seorang perokok sebagai imam dikarenakan dia melakukan maksiat yang sifatnya zahir (nampak), dan posisi dia sebagai imam merupakan panutan yang mungkin saja ada yang meniru perbuatan dia. Maka sebaiknya para jamaah memilih imam yang lebih baik dari dia.
 
____________________________________
 
Syaikh Shalih Fauzan bin Abdillah al Fauzan hafizhahullah
 

 

#imamshalattapimerokok #hukum #shalat #sholat #salat #solat #merokok #janganmemilihseorangperokoksebagaiimam, #maksiatbesifatzahir #perokok #imamperokok

, ,

HUKUM MENTRANSFER UANG MELALUI BANK-BANK RIBA

HUKUM MENTRANSFER UANG MELALUI BANK-BANK RIBA
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
HUKUM MENTRANSFER UANG MELALUI BANK-BANK RIBA
Oleh: Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
 
Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya: Kami adalah para pegawai Turki yang bekerja di kerajaan Saudi Arabia. Negara kami Turki, sebagaimana yang kita maklumi, adalah negara yang menjadikan sekulerisme sebagai hukum dan undang-undang. Riba demikian memasyrakat di negeri kami dalam aplikasi yang aneh sekali, hingga mencapai 50% dalam satu tahunnya. Kami disini terpaksa mentransfer uang kepada keluarga kami di Turki melalui jasa bank-bank tersebut,, yang jelas merupakan sumber dan biangnya riba.
 
Kami juga terpaksa menyimpan uang kami di bank karena khawatir dicuri, hilang atau bahaya-bahaya lain. Dengan dasar itu, kami mengajukan dua pertanyaan penting bagi kami. Tolong berikan penjelasan dalam persoalan kami ini. Semoga Allah memberi kan pahala terbaik bagiAanda.
 
Pertama: Bolehkah kami mengambil bunga dari bank-bank riba tersebut lalu kami sedekahkan kepada fakir miskin atau membangun sarana umum, daripada dibiarkan menjadi milik mereka ?
 
Kedua: Kalau memang tidak boleh, apakah boleh menyimpan uang di bank-bank tersebut dengan alasan darurat untuk menjaga uang itu agar tidak tercuri atau hilang, tanpa mengambil bunganya ? Harus dimaklumi,, bahwa pihak bank akan memanfaatkan uang tersebut selama masih ada di dalammnya.
 
Jawaban:
Kalau memang terpaksa mentransfer uang melalui bank riba, TIDAK ADA MASALAH, insya Allah, berdasarkan firman Allah taala:
 
وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ
 
“Sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya..” [QS Al-An’am/6: 119]
 
Tidak diragukan lagi, bahwa mentransfer uang melalui bank-bank itu termasuk bentuk kedaruratan umum pada masa sekarang ini. Demikian juga menyimpan uang didalamnya tanpa harus mengambil bunganya. Kalau diberi bunga tanpa ada kesepakatan sebelumnya atau tanpa persyaratan, boleh saja diambil untuk dioperasikan di berbagai kebutuhan umum, seperti membantu fakir miskin, menolong orang-orang yang terlilit utang dan lain sebagainya.
 
Namun bukan untuk dimiliki dan digunakan sendiri. Keberadaannya bahkan berbahaya bagi kaum Muslimin bila ditinggalkan begitu saja, walaupun dari usaha yang tidak diperbolehkan. Maka lebih baik digunakan untuk yang lebih bermanfaat bagi kaum Muslimin, daripada dibiarkan menjadi milik orang-orang kafir, sehingga justru digunakan untuk hal-hal yang diharamkan oleh Allah.
 
Namun bila mungkin mentransfer melalui bank-bank Islam atau melalui cara yang diperbolehkan, maka tidak boleh mentransfer melalui bank-bank riba. Demikian juga menyimpan uang, bila masih bisa dilakukan di bank-bank Islam atau di badan-badan usaha Islam, tidak boleh menyimpannya di bank-bank kafir berbasis riba, karena hilangnya unsur darurat. Hanya Allah yang bisa memberikan taufik-Nya.
 
[Disalin dari kitab Al-Fatawa Juz Awwal Edisi Indonesia Fatawa bin Baaz, Penulis Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz, Penerjemah Abu Umar Abdillah, Penerbit At-Tibyan – Solo]
 
 

 

 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
 
 
 
 
 
#hukumtransferdanaantarbank #hukumbiayatransferuang #hukumjasapengirimanuang #hukumpunyarekeningdibank #atm #riba #hukum,#transferuang, #mentransferuang, #lewatbankribawi, #bankribawi, #bank, #nonsyariah, #bankkonvensional
, , ,

BOLEHKAH WANITA HAID IKUT KAJIAN DI MASJID?

BOLEHKAH WANITA HAID IKUT KAJIAN DI MASJID?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
BOLEHKAH WANITA HAID IKUT KAJIAN DI MASJID?
 
Pertanyaan:
Bagaimana bila seorang wanita sedang haid kemudian dia mnghadiri pengajian di masjid?
 
Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,
 
Tidak ada yang melarang manusia untuk beribadah. Sampaikan dia dalam kondisi berhalangan karena haid atau nifas, karena bagian dari sifat Pemurahnya Allah. Dia syariatkan beraneka ragam jenis ibadah bagi hamba-Nya. Di antara hikmah adanya hal ini:
 
1. Mereka bisa melakukan banyak ketaatan kepada Allah secara bergantian. Sehingga bolak-baliknya manusia, selalu dalam keataatan kepada Allah.
2. Manusia tidak bosan karena melakukan satu jenis ibadah.
3. Bagi orang yang berhalangan ibadah tertentu, dia bisa melakukan ibadah lainnya.
 
Haid dan nifas bukan penghalang untuk melakukan ibadah. Ada banyak aktivitas ibadah yang bisa dilakukan oleh wanita yang sedang haid atau nifas. Keterangan selengkapnya bisa anda pelajari di: Amalan Wanita Haid: https://konsultasisyariah.com/amalan-wanita-haid/
 
Mendengarkan kajian Islam, atau mendengarkan bacaan (murattal) Alquran terasuk ibadah. Dan mendengarkan kajian atau murattal tidak disyaratkan harus suci dari hadats besar maupun kecil. Orang bisa melakukannya sekalipun dalam kondisi haid atau nifas.
 
Bagaimana jika di masjid?
 
Bagian ini yang diperselisihkan ulama. Mayoritas ulama melarang wanita haid duduk lama di masjid, meskipun untuk kajian Islam. Sementara sebagian ulama membolehkan wanita masuk masjid. Di antara alasannya:
 
Dalil Pertama:
Disebutkan dalam hadis riwayat Bukhari, bahwa di zaman Nabi ﷺ ada seorang wanita berkulit hitam yang tinggal di masjid. Sementara tidak terdapat keterangan, bahwa Nabi ﷺ memerintahkan wanita ini untuk meninggalkan masjid ketika masa haidnya tiba.
 
Dalil Kedua:
Ketika melaksanakan haji Aisyah mengalami haid. Kemudian Nabi ﷺ memerintahkan beliau untuk melakukan kegiatan apa pun, sebagaimana yang dilakukan jamaah haji, selain tawaf di Kakbah. Sisi pengambilan dalil: Nabi ﷺ hanya melarang Aisyah untuk tawaf di Kakbah dan tidak melarang Aisyah untuk masuk masjid. Riwayat ini disebutkan dalam Shahih Bukhari.
 
Dalil Ketiga:
Disebutkan dalam Sunan Sa’id bin Manshur dengan sanad yang sahih, bahwa seorang tabi’in, Atha bin Yasar, berkata: “Saya melihat beberapa sahabat Nabi ﷺ duduk-duduk di masjid, sementara ada di antara mereka yang junub. Namun sebelumnya, mereka berwudhu.” Sisi pemahaman dalil: Ulama meng-qiyas-kan (qiyas: analogi), bahwa status junub sama dengan status haid; sama-sama hadats besar.
 
Dalil Keempat:
Diriwayatkan dari Aisyah radhiallahu ‘anha bahwa Rasulullah ﷺ pernah berkata kepadanya: “Ambilkan sajadah untukku di masjid!” Aisyah mengatakan, “Saya sedang haid.” Nabi ﷺ bersabda: “Sesungguhnya, haidmu tidak berada di tanganmu.” [HR. Muslim]. Sebagian ulama menjadikan hadis ini sebagai dalil tentang bolehnya wanita haid masuk masjid.
 
Imam al-Albani pernah ditanya tentang hukum mengikuti kajian di masjid bagi wanita haid. Jawaban beliau:
 
نعم يجوز لهن ذلك ، لأن الحيض لا يمنع امرأة من حضور مجالس العلم ، ولو كانت في المساجد ، لأن دخول المرأة المسجد ، في الوقت الذي لا يوجد دليل يمنع منه
 
Ya, mereka boleh kajian di sana, karena haid tidak menghalangi wanita untuk menghadiri majelis ilmu, meskipun di masjid. Karena masuknya wanita ke dalam masjid di satu waktu, tidak ada dalil yang melarangnya. [Silsilah Huda wa an-Nur, volume: 623]
 
Allahu a’lam.
 
 
 
Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#wanita #perempuan #muslimah #kajiandimasjid #mens #haidh #berhalangan #masukkedalammasjid, #hukum #wanitakajiandidalammasjid
,

TAHUN BARU KOK MALAH ZIKIR BERSAMA???

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

TAHUN BARU KOK MALAH ZIKIR BERSAMA???

Jujur, dari dulu saya pun heran, kenapa sebagian dari umat Muslim malah mengadakan acara keislaman seperti zikir bersama atau tabligh akbar saat tahun baru 1 Januari. Wake up dooong ayo sadaaar. Perayaan ini datangnya dari orang kafir.

Dikutip dari tulisan Ustadz Ammi Nur Baits dalam artikelnya, tahun baru merupakan pesta warisan dari orang Romawi. Mereka (orang-orang Romawi) mendedikasikan perayaan itu untuk Dewa Janus, yakni The God of Gates, Doors, and Beginnings. Dewa Janus memiliki dua wajah, satu menatap ke depan dan satunya lagi menatap ke belakang, sebagai filosofi masa depan dan masa lalu, layaknya momen pergantian tahun.

Lalu apakah dengan melakukan zikir bersama pada malam perayaan tahun baru, untuk Dewa Janus, akan menjadikannya diperbolehkan dalam Islam???

🔽
Perbedaan orang yang zikir bersama dengan orang yang begadang hura-hura saat tahun baru itu hanya pada CARA dia merayakannya. Orang yang satu dengan ibadah, sementara yang satu dengan maksiat. Tapi tetap kedua-duanya SALAH. Sama-sama bertasyabbuh. Karena poinnya di sini BUKAN pada “BAGAIMANA merayakan itu” tapi “APA perayaan itu”. Entah kita berusaha mengislam-islamkan tahun baru dengan zikir pun, itu TIDAK AKAN mengubah kenyataan, bahwa tahun baru adalah perayaan agama lain.

🔽
Saudara Muslim kita merayakan tahun baru mungkin didasari atas ketidakpahaman mereka. Maka tugas kita adalah menasihati mereka agar mereka tidak merayakannya lagi. Bukan lantas mengemas acara tahun baru dengan konsep Islami. Ini justru akan menimbulkan keyakinan pada mereka, bahwa merayakan tahun baru itu boleh, asal dengan ibadah.

Apakah jika orang Nasrani merayakan Natal dengan bernyanyi lalu orang Islam merayakan Natal dengan bershalawat? Itu akan menjadikan perayaan Natal diperbolehkan dalam Islam??? Tidak toh?! Begitu pula dengan tahun baru. Berpikirlah wahai umat Muhammad ﷺ. Jangan kita perlahan menyerupai Yahudi dan Nasrani.

Allah ﷻ berfirman dalam QS al-Baqarah ayat 42, Janganlah kamu campur adukkan yang haq dengan yang batil.

Barakallahu fiik.

 

 

Silakan simak video berikut ini:

Atau

 

 

 

 

Atau:

 

 

 

 

 

 

 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

#tahunbaru, #NewYear, #merayakantahunbaru #happynewyear #perayaantahunbaru, #mengucapkanselamattahunbaru, #hukum, #tasyabuh, #tasyabbuh #Majusi #Yahudi #Nasrani #Nasharoh #perayaanorangkafir #zikirbersamatahunbaru, #dzikirbersamatahunbaru, #zikirtahunbaru #zikirmalamtahun, #zikirperayaantahunbaruhijriyah #hijriyyah, #masehi, #tahunbarumasehi, #tahunbaruhijriyah #bidah #bukanperayaankesilaman #taonbaru #taunbaru #dzikirakbar, #zikirakbar, #bidah, #doabersamamalamtahunbaru

 

 

 

,

MENGAPA GHIBAH DISAMAKAN DENGAN MEMAKAN BANGKAI MANUSIA?

MENGAPA GHIBAH DISAMAKAN DENGAN MEMAKAN BANGKAI MANUSIA?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
MENGAPA GHIBAH DISAMAKAN DENGAN MEMAKAN BANGKAI MANUSIA?
 
Allah ﷻ berfirman:
 
وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ
 
“Dan janganlah kalian saling menggunjing. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang” (QS. Al-Hujurat: 12).
 
Dalam ayat di atas Allah taala menyamakan orang yang mengghibah saudaranya seperti memakan bangkai saudaranya tersebut. Apa rahasia dari penyamaan ini?
 
Imam Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan:
“Ini adalah permisalan yang amat mengagumkan, di antara rahasianya adalah:
 
Pertama: Karena ghibah mengoyak kehormatan orang lain. Layaknya seorang yang memakan daging, daging tersebut akan terkoyak dari kulitnya. Mengoyak kehormatan atau harga diri, tentu lebih buruk keadaannya.
 
Kedua: Allah taala menjadikan “Bangkai daging saudaranya” sebagai permisalan, bukan daging hewan. Hal ini untuk menerangkan, bahwa ghibah itu amatlah dibenci.
 
Ketiga: Allah taala menyebut orang yang dighibahi tersebut sebagai mayit. Karena orang yang sudah mati, dia tidak kuasa untuk membela diri. Seperti itu juga orang yang sedang dighibahi, dia tidak berdaya untuk membela kehormatan dirinya.
 
Keempat: Allah menyebutkan ghibah dengan permisalan yang amat buruk, agar hamba-hamba-Nya menjauhi dan merasa jijik dengan perbuatan tercela tersebut.” [Lihat: Tafsir Al-Qurtubi 16/335), lihat juga: I’laamul Muwaqqi’iin 1/170]
 
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan:
“Ayat di atas menerangkan sebuah ancaman yang keras dari perbuatan ghibah. Dan bahwasanya ghibah termasuk dosa besar, karena Allah menyamakannya dengan memakan daging mayit. Dan hal tersebut termasuk dosa besar. ” [Tafsir As-Sa’di, hal. 745]
 
Wallahu a’lam.
 
 
*Faidah ini didapat dari buku: Al-Fawaidul Majmu’ah Fi Syarhi Fushul Al-Adab Wa Makaarimil Akhlaq Al-Masyruu’ah. Karya Syaikh Abdullah bin Sholih Al-Fauzan
 
 
Penulis: Ahmad Anshori

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

 

 

#ghibah #namimah #gosip #ceritakanaiboranglain #menggunjing #hukum #alasan #ghibahsamadengan #memakandagingbangkaisaudaranyasendiri #bangkaimanusia #bangkaisaudarasendiri #memakanbangkai #masihsukamakanbangkai #gosip #disamakandenganmemakanbangkai

, , ,

HUKUM MENYENTUH PEREMPUAN BUKAN MAHRAM

HUKUM MENYENTUH PEREMPUAN BUKAN MAHRAM
HUKUM MENYENTUH PEREMPUAN BUKAN MAHRAM
 
Dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
 
لَأَنْ يُطْعَنَ فِيْ رَأْسِ رَجُلٍ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيْدٍ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لَا تَحِلُّ لَهُ
 
“Andaikata seorang lelaki kepalanya ditusuk dengan jarum besi, hal itu lebik baik daripada dia menyentuh perempuan yang tidak halal baginya (baca: bukan mahramnya).” [Diriwayatkan oleh Ar-Rûyany, Ath-Thabarany dan Al-Baihaqy. Dikuatkan oleh Al-Albany dalam Ash-Shahîhah no. 226]
 
 
Sumber: dzulqarnain.net

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

#hukummenyentuhperempuanbukamahram #hukum #menyentuh #sentuh #wanita #perempuan #muslimah #nonmahrom #nonmahram #bukanmahram #bukanmahrom #kepadaditusukbesi #kepaladitusukjarumbesi #tidakhalal

, ,

SYARAT YANG HARUS DIPENUHI LAKI-LAKI YANG MENZINAI SEORANG WANITA SAMPAI HAMIL DAN HENDAK MENIKAHINYA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
SYARAT YANG HARUS DIPENUHI LAKI-LAKI YANG MENZINAI SEORANG WANITA SAMPAI HAMIL DAN HENDAK MENIKAHINYA
 
Wanita yang hamil karena perbuatan zina tidak boleh dinikahkan baik dengan laki-laki yang menghamilinya ataupun dengan laki-laki lain, kecuali bila memenuhi dua syarat: [Minhajul Muslim]
 
Pertama:
Dia dan si laki-lakinya tobat dari perbuatan zinanya. [Taisiril Fiqhi Lijami’il Ikhtiyarat Al-Fiqhiyyah Li Syaikhil Islam Ibnu Taimiyyah, Ahmad Muwafii 2/584, Fatawa Islamiyyah 3/247, Al-Fatawa Al-Jami’ah Lil Mar’ah Al Muslimah 2/5584]
 
Ini dikarenakan Allah ﷻ telah mengharamkan menikah dengan wanita atau laki-laki yang berzina. Dia ﷻ berfirman:
 
اَلزَّانِيْ لاَ يَنْكِحُ إِلاَّ زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لاَ يَنْكِحُهَا إِلاَّ زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلى الْمُؤْمِنِيْنَ
 
Laki-laki yang berzina tidak mengawini, kecuali perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik. Dan perempuan yang berzina tidak dikawini, melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik. Dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang Mukmin. [QS. An Nur: 3]
 
Syeikh Al-Utsaimin rahimahulah berkata:
“Kita dapat mengambil satu hukum dari ayat ini. Yaitu haramnya menikahi wanita yang berzina, dan haramnya menikahi laki-laki yang berzina. Artinya, seseorang tidak boleh menikahi wanita itu dan si laki-laki itu tidak boleh (bagi seseorang) menikahkannya kepada putrinya.” [Fatawa Islamiyyah 3/246]
 
• Apabila seseorang telah mengetahui, bahwa pernikahan ini haram dilakukan, namun tetap memaksakannya dan melanggarnya, maka pernikahannya itu TIDAK SAH.
• Dan bila melakukan hubungan, maka hubungan itu adalah PERZINAHAN. [Fatawa Islamiyyah 3/246].
• Dan bila terjadi kehamilan maka anak itu tidak dinasabkan kepada laki-laki itu (dalam kata lain, si anak tidak memiliki bapak). [Fatawa Islamiyyah 33/245]
 
Ini tentunya bila mereka mengetahui, bahwa hal itu tidak boleh. Apabila seseorang menghalalkan pernikahan semacam ini, padahal mengetahui telah diharamkan Allah ﷻ, maka dia dihukumi sebagai orang musyrik. Karena menghalalkan perkara yang diharamkan Allah, telah menjadikan dirinya sebagai sekutu bersama Allah ﷻ dalam membuat syariat. Allah ﷻ berfirman:
 
أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوْا لَهُمْ مِنَ الدِّيْنِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللهُ
 
Apakah mereka mempunyai Sembahan-Sembahan (Sekutu) selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? [QS Asy-Syuuraa: 21]
 
Di dalam ayat ini Allah ﷻ menyatakan orang-orang yang membuat syariat bagi hamba-hambanya sebagai sekutu. Berarti orang yang menghalalkan nikah dengan wanita pezina sebelum bertobat adalah orang musyrik. [Syaikh Al-Utsaimin di dalam Fatawa Islamiyyah 3/246]. Namun bila sudah bertobat, maka halal menikahinya, bila syarat yang kedua terpenuhi. [Syaikh Al-Utsaimin di dalam Fatawa Islamiyyah 3/247]
 
Kedua:
Harus beristibra’ (menunggu kosongnya rahim) dengan satu kali haid bila si wanita tidak hamil. Dan bila hamil, maka sampai melahirkan kandungannya. [Taisiril Fiqhi Lijami’il Ikhtiyarat Al-Fiqhiyyah Li Syaikhil Islam Ibnu Taimiyyah, Ahmad Muwafii 2/583, Majmu Al Fatawa 32/110]
 
Rasulullah ﷺ bersabda:
 
لاَ تُوْطَأُ حَامِلٌ حَتَّى تَضَعَ وَلاَ غَيْرُ ذَاتِ حَمْلٍ حَتَّى تَسْتَبْرِأَ بِحَيْضَةٍ
 
Tidak boleh digauli yang sedang hamil sampai ia melahirkan, dan (tidak boleh digauli) yang tidak hamil sampai dia beristibra’ dengan satu kali haid. [Lihat Mukhtashar Ma’alimis Sunan 3/74, Kitab Nikah, Bab Menggauli Tawanan (yang dijadikan budak), Al-Mundziriy berkata: “Di dalam isnadnya ada Syuraik Al-Qadliy, dan Al-Arnauth menukil dari Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam At Talkhish, bahwa isnadnya Hasan, dan dishahihkan oleh Al-Hakim sesuai syarat Muslim. Dan hadis ini banyak jalurnya sehingga dengan semua jalan-jalannya menjadi kuat dan Shahih.”( Lihat Taisir Fiqhi catatan kakinya 2/851]
 
Dalam hadis di atas Rasulullah ﷺ melarang menggauli budak (hasil pembagian) tawanan perang yang sedang hamil sampai melahirkan. Dan yang tidak hamil ditunggu satu kali haid, padahal budak itu sudah menjadi miliknya.
 
Juga sabdanya ﷺ:
 
لاَ يَحِلُّ ِلامْرِئٍ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ أَنْ يَسْقِيْ مَاءَه ُزَرْعَ غَيْرِهِ
 
Tidak halal bagi orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir dia menuangkan air (maninya) pada persemaian orang lain. [Abu Dawud, lihat ,Artinya:’alimus Sunan 3/75-76]
 
Mungkin sebagian orang mengatakan, anak yang dirahim itu terbentuk dari air mani si laki-laki yang menzinainya dan hendak menikahinya. Maka jawabnya ialah sebagaimana dikatakan Al-Imam Muhammad Ibnu Ibrahim Al Asyaikh rahimahullah:
“TIDAK BOLEH menikahinya hingga dia bertobat dan selesai dari ‘iddahnya dengan melahirkan kandungannya. Karena perbedaan dua air (mani), najis dan suci, baik dan buruk, dan karena bedanya status menggauli dari sisi halal dan haram.” [Fatawa Wa Rasail Asy-Syeikh Muhammad Ibnu Ibrahim 10/128]
 
Ulama-ulama yang tergabung dalam Al-Lajnah Ad-Daimah mengatakan:
“Dan bila dia (laki-laki yang menzinainya setelah bertobat) ingin menikahinya, maka wajib baginya MENUNGGU wanita itu beristibra’ dengan satu kali haid sebelum melangsungkan akad nikah. Bila ternyata si wanita dalam keadaan hamil, maka TIDAK BOLEH MELANGSUNGKAN AKAD NIKAH dengannya kecuali SETELAH MELAHIRKAN kandungannya. Sebagai pengamalan hadits Nabi ﷺ yang melarang seseorang menuangkan air (maninya) di persemaian orang lain.” [Majallah Al-Buhuts Al-Islamiyyah 9/72]
 
Bila seseorang tetap menikahkan putrinya yang telah berzina tanpa beristibra’ terlebih dahulu dengan satu kali haid. Atau sedang hamil tanpa menunggu melahirkan terlebih dahulu, sedangkan dirinya mengetahui, bahwa pernikahan seperti itu tidak diperbolehkha, dan si laki-laki serta si wanita juga mengetahui, bahwa hal itu diharamkan, sehingga pernikahannya tidak diperbolehkan, maka pernikahannya itu TIDAK SAH. Apabila keduanya melakukan hubungan badan, maka itu termasuk zina, dan harus bertobat, kemudian pernikahannya harus DIULANGI bila telah selesai istibra’ dengan satu kali haid, terhitung dari hubungan badan yang terakhir atau setelah melahirkan.
 
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#tekdung #hamilsebelummenikah #zinah #perzinahan #berzinah #zinahhukum, #hukummenikahiwanitasedanghamil #wanita #perempuan #muslimah #hamilduluan #melahirkankandungan, #bertobatdulu# istibra #istibro #mengosongkankandungan, #melahirkandulu #harammenikahiwanitayangberzina #syarat, #duasyarat, #2syarat #menikahiwanitahamil #bunting
, , ,

BOLEHKAH WANITA MEMBACA ALQURAN DI DEPAN LELAKI AJNABI?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
BOLEHKAH WANITA MEMBACA ALQURAN DI DEPAN LELAKI AJNABI?
>> Apa hukum wanita membaca Alquran di depan laki-laki bukan mahram dalam rangka belajar atau pun bukan?
 
Fatwa Syaikh Abdullah Al Faqih
 
Pertanyaan:
Apa hukum wanita membaca Alquran di depan laki-laki dalam rangka belajar ataupun bukan?
 
 
Jawaban:
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه، أما بعـد:
 
Pada asalnya, yang mengajar wanita hendaknya wanita juga. Namun jika tidak ada wanita yang bisa mengajarnya, maka tidak mengapa diajar oleh laki-laki, selama aman dari fitnah. Dengan syarat:
  • Tidak boleh khalwat,
  • Senantiasa istiqamah menggunakan hijab syari,
  • Menundukkan pandangan,
  • Tidak khudu’ (melembut-lembutkan atau mendayu-dayukan) dalam bersuara
 Maka tidak mengapa membaca Alquran di depan lelaki pengajar tadi dengan memperhatikan syarat-syarat ini.
 
Yang rajih dari pendapat ulama, bahwa suara wanita bukanlah aurat. Ibnu Muflih berkata:
 
صوت الأجنبية ليس عورة على الأصح ، ويحرم التلذذ بسماعه ولو بقراءة
 
“Suara wanita ajnabiyyah bukanlah aurat menurut pendapat yang lebih kuat. Namun haram bernikmat-nikmat mendengarkan suaranya, walaupun itu suara bacaan Quran” [dari kitab Al Mubdi’ Syarah Al Muqni’]
 
Adapun membaca Alquran di depan laki-laki bukan dalam rangka belajar, maka lebih baiknya dibaca secara sirr (lirih). Al Bahuti ulama madzhab Hambali mengatakan:
 
وتسرّ بالقراءة إن كان يسمعها أجنبي
 
“Hendaknya melirihkan bacaan Alquran jika didengar oleh lelaki ajnabi.”
 
Di tempat lain beliau mengatakan:
 
ينبغي للمرأة أن تخفض من صوتها في قراءتها إذا قرأت بالليل
 
“Sebaiknya wanita merendahkan suaranya jika membaca Alquran pada malam hari.” [dari kitab Kasyful Qina]
 
Namun boleh men-jahr-kan (mengeraskan) suara jika tilawahnya tidak ada tamtith (perubahan tinggi-rendah suara) dan tidak ada walinah (lekuk-lekuk suara). Adapun jika disertai tamtith dan walinah maka tidak boleh.
 
Wallahu’alam.
 
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
 
#HukumMengajiDenganAkhwatTanpaHijab, #HukumSuaraWanitaMengaji#HukumWanitaMengaji #HukumWanitaQiroah #HukumWanitaTadarusDenganPengerasSuara, #ajnabi #perempuan #wanita #muslimah #membacaAlqurandiDepanumum #lirih #syirr #jahr #dikeraskan #hukum #ajnabiyyah #ajnabiyah #khudu #fatwaulama #FatwaSyaikhAbdullahAlFaqih #wanitamembacaAlqurandidepanlakilaki
 
Catatan Tambahan:
Ajnabi berarti orang lelaki dan perempuan yang bukan sanak saudara dekat, yaitu bukah mahram (hukumnya boleh kawin-mengawini antara laki-laki dan perempuan tersebut).