Posts

,

APAKAH DISYARIATKAN, SETELAH SELESAI SHALAT KITA LANTAS BERDOA?

APAKAH DISYARIATKAN, SETELAH SELESAI SHALAT KITA LANTAS BERDOA?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

APAKAH DISYARIATKAN, SETELAH SELESAI SHALAT KITA LANTAS BERDOA?

Merupakan hal yang terlihat kurang lazim di masyarakat kita, apabila selesai shalat tidak berdoa. Bisa dimaklumi tentunya, mengingat inilah hal yang telah membudaya sejak lama di negeri kita. Tapi tak ada salahnya jika kita sedikit memelajari, bagaimana tinjauan agama dalam masalah ini, agar kita benar-benar berada di atas petunjuk yang nyata tentangnya.

Untuk itu, kami akan bawakan sebuah penjelasan dari asy-Syaikh al-‘Allaamah Muhammad bin Shaalih al-‘Utsaimiin rahimahullah mengenai hal ini. Kita simak bersama, apa yang beliau utarakan, beserta dalil-dalil yang beliau bawakan, agar dengan itu kiranya kita bisa dengan lapang dada dalam menjalankannya.

Dalam salah satu pertanyaan yang diajukan pada beliau disebutkan:

السؤال: بعض الناس في صلاة الفرض يرفعون أيديهم بعد الدعاء فما رأيكم؟

Pertanyaan:

Bagaimana pendapat Anda terkait amalan sebagian orang yang berdoa dengan mengangkat tangan setelah shalat wajib?

 

: الجواب

[الدعاء بعد الصلاة ليس بسنة, لأن الله تعالى قال: ﴿فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ﴾ [النساء:103

إلا في حالة واحدة وهي صلاة الاستخارة؛ لأن صلاة الاستخارة قال فيها النبي صلى الله عليه وسلم: « إذا هم أحدكم بأمر فليصل ركعتين ثم ليدعو» فجعل الدعاء بعد صلاة الركعتين. أما ما سواها من الصلوات فليس من السنة أن يدعو سواءً رفع يديه أم لم يرفع، وسواءً في الفريضة أو في النافلة؛ لأن الله أمر بذكره بعد انتهاء الصلاة

[فقال سبحانه وتعالى: ﴿فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ﴾ [النساء:103

[وقال في سورة الجمعة: فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ [الجمعة:10

:وإنما يقال للإنسان: إذا كنت تريد أن تسأل الله شيئاً فادعو الله قبل أن تسلم؛ لوجهين

الوجه الأول: أن هذا هو الذي أمر به الرسول صلى الله عليه وعلى آله وسلم، فقال في التشهد: إذا فرغ فليتخير من الدعاء ما شاء

ثانياً: أنك إذا كنت في الصلاة فإنك تناجي ربك، وإذا سلمت انتهت المناجاة. فهل الأفضل: أن تسأل الله في حال مناجاتك إياه، أو بعد انصرافك من المناجاة؟ الجواب: الأول. تدعو وأنت تناجي ربك

Jawaban:

“Berdoa setelah shalat bukan amalan sunnah. Karena Allah ﷻ berfirman:

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللَّه

“Apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), maka berzikirlah kepada Allah.” (QS. an-Nisaa’: 103)

Kecuali pada satu jenis shalat, yaitu shalat istikharah. Terkait shalat istikharah Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالْأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ لِيَقُلْ

“Apabila salah seorang kalian telah bertekad terhadap suatu perkara, maka hendaknya dia shalat dua rakaat yang bukan shalat wajib, kemudian berdoa…”[HR. al-Bukhari, no. 1162]

Dalam hadis ini Nabi Muhammad ﷺ menetapkan, bahwa doa dilakukan setelah mengerjakan shalat dua rakaat. Adapun selain shalat istikharah, bukan termasuk sunnah, jika berdoa setelahnya, dengan mengangkat tangan ataupun tidak, shalat sunnah ataukah wajib. Karena Allah ﷻ memerintahkan kita untuk berzikir kepada-Nya setelah selesai shalat (bukan berdoa, pent). Dia berfirman dalam ayat-Nya:

(فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ)

“Apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), maka berzikirlah kepada Allah.” (QS. an-Nisaa’: 103)

Dan dalam surah al-Jumu’ah:

{فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ}

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah, dan berzikirlah pada Allah banyak-banyak, supaya kamu beruntung.” (QS. al-Jumu’ah: 10)

Maka yang benar, kita katakan: “Apabila Anda ingin meminta sesuatu kepada Allah, maka berdoalah sebelum Anda salam, di waktu shalat. Ini berdasar pada dua alasan:

  • Alasan pertama, sesudah bacaan Tahiyyat sebelum salam merupakan waktu yang dianjurkan oleh Rasulullah ﷺ untuk berdoa. Beliau ﷺ bersabda terkait Tasyahhud:

إذا فرغ فليتخير من الدعاء ما شاء

“Apabila dia telah selesai dari bacaan Tahiyyat, silakan dia berdoa sesuai dengan permohonan yang dia inginkan.” [HR. al-Jama’ah]

  • Alasan kedua, di saat Anda shalat, sesungguhnya Anda tengah bermunajat pada Allah. Dan jika sudah salam, maka berakhirlah waktu munajat Anda. Maka mana yang lebih utama:

(1) Anda berdoa saat masih bermunajat pada-Nya atau

(2) Saat Anda sudah tidak lagi bermunajat?

Tentu yang pertama jawabannya. Berdoa saat masih bermunajat pada Allah.”

[Liqaa Baab al-Maftuuh ma’a asy-Syaikh Muhammad bin Shaalih al-‘Utsaimiin no. 82]

Suara asli beliau dengan berbahasa Arab bisa didengarkan melalui link berikut:

 

 

Demikian penjelasan dari beliau rahimahullah.

Jadi kesimpulannya, bahwa berdoa setelah shalat bukan hal yang disunnahkan. Meski kita pun juga tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang haram. Silakan dia berdoa pada sebagian waktu saat, selesai shalat jika ingin. Namun apabila dilakukan terus menerus, maka ini pun bukan hal yang baik, karena itu berarti dia telah menyelisihi petunjuk Rasulullah ﷺ. Sedang beliau ﷺ bersabda dalam hadisnya:

.وَ أَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Sesungguhnya sebaik-baik petunjuk ialah petunjuk Muhammad ﷺ.” [HR. al-Bukhari, no. 6098]

Walhamdulillaahi rabbil ‘aalaamin. Wallahu a’lam bish shawab.

 

Penulis: Pupus

Sumber: http://nasehatetam.com/read/206/habis-shalat-berdoa#sthash.i9JNcgYg.dpuf

,

HUKUM MENCUKUR KUMIS DAN KUKU MAYIT

HUKUM MENCUKUR KUMIS DAN KUKU MAYIT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MasailJenazah
#BimbinganPengurusanJenazah

HUKUM MENCUKUR KUMIS DAN KUKU MAYIT

>> Tanya-Jawab Ringkas Bersama asy-Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah

Pertanyaan:

Apakah disyariatkan untuk mencukur kumis dan memotong kuku mayit?

جـ: الأمر واسع ، ذكر هذا جماعة من أهل العلم ، أما الأخذ من العانة والإبط فلا ؛ للتكلفة

Jawaban:

“Perkaranya luas. Bolehnya mencukur kumis dan memotong kuku mayit ini disebutkan oleh sekumpulan ulama. Adapun mencukur bulu kemaluan dan ketiak, maka jangan! Lantaran ini bentuk memberat-beratkan.” [Masaa’il Imam Ibnu Baaz, I/111]

 

Sumber: http://nasehatetam.com/read/303/mencukur-kumis-dan-kuku-mayit#sthash.YcBXjDFF.dpuf

, , ,

PERAYAAN ISRA’ MIRAJ, BID’AH ATAU SUNNAH?

PERAYAAN ISRA MIRAJ, BID'AH ATAU SUNNAH?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#AkidahManhaj
#StopBidah

PERAYAAN ISRA’ MIRAJ, BID’AH ATAU SUNNAH?

Seorang Mukmin, saat menemukan kebenaran yang sebelumnya belum pernah ia ketahui, seperti seorang yang menemukan sebuah barang berharga yang hilang, yang ia cari sepanjang siang dan malam. Bagaimana gerangan perasaannya, manakala berhasil menemukan barang tersebut? Tentu senang dan bahagia. Demikian perumpamaan seorang Mukmin, manakala ia menemukan kebenaran, yang sebelumnya belum ia ketahui. Sebelumnya ia tidak sadar, kalau ternyata selama ini berada pada jalan yang keliru. Lalu ia menemukan kebenaran yang menyadarkannya dari kekeliruan tersebut. Tentu ia akan merasa bahagia dan berlapang dada untuk menerima kebenaran tersebut.

Sebagai seorang Mukmin yang telah berikrar, bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah utusan Allah, tentu ia akan lebih selektif dalam dalam hal amalan ibadah. Bila ada tuntunannya dari Rasulullah ﷺ, maka akan dilakukan sebagai bentuk ittiba‘ (mengikuti sunah) kepada Rasulullah ﷺ. Bila tidak, maka ia akan tinggalkan karena Allah. Karena di antara konsekuensi dari syahadat Muhammadur Rasulullah adalah ittiba’, atau mencontoh beliau ﷺ dalam beribadah kepada Allah. Allah ta’ala berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah wahai Muhammad: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Ali Imron : 31).

Imam Syafi’i mengatakan:

أَجْمَعَ الْمُسْلِمُونَ عَلىَ أَنَّ مَنِ اسْتَبَانَ لَهُ سُنَّةٌ عَنْ رَسُولِ اللهِ e لَمْ يَحِلَّ لَهُ أَنْ يَدَعَهَا لِقَوْلِ أَحَدٍ

“Kaum Muslimin sepakat, bahwa siapa saja yang telah jelas baginya sebuah Sunnah (ajaran) Rasulullah ﷺ, maka tak halal baginya untuk meninggalkan sunnah itu, karena mengikuti pendapat siapa pun.” (I’laamul Muwaqqi’iin, 2: 282).

Terkait perayaan Isra Miraj, ada nasihat indah dari salah seorang ulama di kota Madinah An-Nabawiyyah, Syaikh Sulaiman ar Ruhaili hafizhahullah, di mana dalam salah satu majelis di Masjid Nabawi, beliau ditanya terkait masalah ini. Mari simak pemaparan beliau berikut:

Pertanyaan:

Apakah benar peristiwa Isra dan Miraj itu terjadi bulan Rajab? Lalu bolehkah kita merayakan peristiwa tersebut, dan menjadikan hari terjadinya sebagai ‘Ied (perayaan yang dirayakan secara periodik) setiap tahunnya? Di mana pada hari perayaan tersebut, kita saling memberi ucapan selamat dan saling bertukar hadiah?

Jawaban:

TIDAK ADA riwayat yang menerangkan, bahwa peristiwa Isra dan Miraj terjadi di bulan Rajab. Benar kita tidak meragukan, bahwa peristiwa Isra dan Miraj benar-benar terjadi. Bahkan ini bagian dari perkara agama yang qot’i, tidak boleh seorang Muslim meragukannya. Namun kapan peristiwa ini terjadi? Bulan apakah?

Para ulama telah menjelaskan, bahwa tidak ada keterangan riwayat yang menerangkan bulan terjadinya peristiwa Isra Miraj. Tidak pula zamannya. Yakni tidak diketahui, peristiwa tersebut terjadi pada bulan apa. Tidak pula di sepuluh hari dari suatu bulan apapun. Oleh karenanya, para ulama berselisih pendapat dalam masalah penentuan bulan terjadinya Isra dan Miraj, karena disebabkan tidak adanya riwayat shahih yang bisa dijadikan pegangan dalam hal ini.

Maka berangkat dari alasan di atas, TIDAK BOLEH kita menjadikan hari ke-27 dari bulan Rajab, sebagai hari Isra dan Miraj. Dan menetapkan, bahwa pada hari itulah terjadi peristiwa Isra Miraj. Hari di mana saling memberi ucapan selamat, demi memeriahkan perayaan tersebut. Terkadang pula saling bertukar hadiah.

Pertama, karena memang tidak ada riwayat yang menerangkan bahwa 27 Rajab adalah hari Isra dan Miraj.

Kedua, karena Nabi ﷺ, di mana beliaulah yang diberi Allah nikmat untuk mengalami peristiwa agung ini, dan beliau ﷺ adalah hamba-Nya yang paling banyak bersyukur, yang mendirikan shalat sampai pecah-pecahlah telapak kaki beliau. Semoga shalawat serta salam senantiasa tercurahkan untuk beliau ﷺ. Beliau ﷺ bersabda:

أَفَلَا أَكُوْنُ عَبْدًا شَكُوْرًا

“Tidakkah aku menginginkan untuk menjadi hamba-Nya yang bersyukur?!”

Semoga shalawat dan salam tercurahkan untuk beliau ﷺ, namun beliau ﷺ tidak pernah merayakan malam Isra dan Miraj tersebut. Beliau ﷺ juga tidak mengkhususkan malam tersebut dengan shalat tertentu, atau mengkhususkan siangnya dengan puasa tertentu. Sementara dalam perkara ini (juga seluruh seluk beluk kehidupan) umat ini dituntut untuk meneladani Nabi ﷺ.

Demikian pula tidak ada keterangan dari para sahabat, semoga Allah meridai mereka, bahwa mereka merayakan peristiwa Isra dan Miraj. Tidak pula dari generasi tabi’in, tidak pula dari Imam mazhab yang empat; yang dijadikan rujukan, semoga Allah meridhoi para ulama pendahulu kita, seluruhnya. Tidak ada keterangan dari mereka semua, bahwa mereka merayakan peristiwa ini. Bahkan meski satu patah kata pun tentang perayaan ini.

Selanjutnya, wahai hamba Allah, saat Anda mengetahui, bahwa ternyata tidak ada riwayat tentang hari terjadinya peristiwa ini, tidak pula berkaitan dengan perayaannya pada malam maupun siang harinya, ini menunjukkan, bahwa para Salafus Shalih tidak terlalu perhatian dengan waktu terjadinya peristiwa ini. Ini juga menjadi bukti, bahwa mereka tidak pernah merayakan peristiwa Isra dan Miraj (yang diklaim terjadi) pada 27 Rajab ini. Karena andai mereka merayakannya, tentu akan ada riwayat yang menjelaskan mengenai waktu kejadian Isra Miraj. Dan tentu akan ada penjelasan dari mereka perihal perayaan ini.

Kemudian, sesungguhnya kaidah syariat yang kita sepakati bersama, bahwa agama ini dibangun di atas ittiba‘ (mencontoh Nabi ﷺ). Dan bahwa ibadah itu dibangun di atas dalil (tawqif). Oleh karenanya, tidak selayaknya bagi seorang Muslim, untuk melakukan suatu ibadah, kecuali bila ia memiliki cahaya petunjuk dan bimbingan dari Nabi ﷺ, yang menerangkan kepada mereka tata cara ibadahnya.

Haknya Nabi Muhammad ﷺ atas kita, adalah kita tidak menyembah Allah, kecuali dengan petunjuk yang datang dari beliau ﷺ. Dan setiap amalan ibadah yang dikerjakan, yang tidak ada perintahnya dari Nabi yang mulia ini ﷺ,  maka ibadah tersebut tidak diterima di sisi Allâh. Nabi ﷺ telah mengajarkan kepada kita dan membimbing kita melalui sabdanya:

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.”

Dan beliau ﷺ senantiasa mengulang-ulang nasihatnya dalam setiap khutbah beliau ﷺ:

إِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا ، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ

“Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan. Setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka.”

Maka alangkah indahnya bila umat ini menyibukkan diri dengan ibadah-ibadah yang ada tuntutannya. Karena sungguh, andai mereka menyibukkan hari-hari mereka dengan ibadah yang ada sunahnya dari Nabi ﷺ, maka sungguh dalam hal tersebut ada pengaruh yang besar di hati kaum Mukminin, dalam hal kasih sayang di antara mereka, saling mencintai,  persatuan,  kemuliaan mereka, pertolongan untuk mereka atas musuh-musuh mereka, dan akan tampaklah  wibawa umat di hadapan musuh-musuh mereka.

Namun amat disayangkan, banyak dari hamba Allah lebih condong kepada amalan-amalan ibadah yang baru, lalu meninggalkan banyak dari amalan yang ada tuntunannya. Dan kekurangan ini kembali pada kekurangan ulama, dan penuntut ilmu, di negeri-negeri mereka, dalam menjelaskan sunnah kepada masyarakat, mengajarkan kebaikan kepada mereka,  dan mengajak mereka untuk komitmen terhadap Sunnah Nabi ﷺ.

Wasiatku untuk seluruh kaum Muslimin, untuk bersama bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla, mengikuti tuntunan Nabi Muhammad ﷺ, melakukan amalan ibadah yang disyariatkan oleh Allah ta’ala, dan kita mendekatkan kepada Allah ‘azza wa jalla dengan ibadah-ibadah yang dituntukan tersebut.”

Demikian yang beliau sampaikan. Rekaman dari tausiyah beliau, bisa kita simak di sini, di menit ke 06.30 sampai selesai: https://www.dropbox.com/s/t7iamlsxtvu334h/Fatawa%20Syaikh%20Sulaiman%20ar%20Ruhaili%20.m4a?dl=0

Semoga Allah senantiasa membimbing kita untuk istiqomah di atas Sunnah Nabi-Nya ﷺ.

***

 

Direkam dan diterjemahkan oleh Ahmad Anshori (yang senantiasa butuh akan taufik dan ampunan-Nya)

Dinukil dari tulisan berjudul: “Perayaan Isra’ Mi’raj, Siapa Bilang Tidak Boleh?” yang ditulis oleh: Ahmad Anshori hafizahullah

Sumber: https://Muslim.or.id/25540-perayaan-isra-miraj-siapa-bilang-tidak-boleh.html

, ,

APAKAH PERAYAAN ISRA MIRAJ DISYARIATKAN DALAM ISLAM?

APAKAH PERAYAAN ISRA MIRAJ DISYARIATKAN DALAM ISLAM?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#AkidahManhaj
#StopBidah

APAKAH PERAYAAN ISRA MIRAJ DISYARIATKAN DALAM ISLAM?

Sesungguhnya peristiwa Isra‘ dan Miraj termasuk peristiwa sejarah yang sangat dahsyat dalam Islam, karena beberapa hal:

  • Peristiwa dahsyat ini bukan hanya peristiwa yang terjadi di bumi semata, melainkan peristiwa dahsyat yang berhubungan dengan bumi dan langit. Suatu hal yang tidak pernah terjadi dalam peristiwa lainnya.
  • Peristiwa ini merupakan mukjizat dan tanda besar tentang kebenaran Nabi Muhammad ﷺ dan risalah yang beliau ﷺ
  • Membenarkan peristiwa agung ini termasuk akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah yang sangat penting, dan mengingkarinya termasuk perangai orang-orang kafir.
  • Perhatian para ulama dalam setiap bidang untuk membahasnya, bahkan menulisnya secara khusus.

Namun demikian, perayaan Isra’ Miraj ini TIDAK DISYARIATKAN DALAM ISLAM ditinjau dari dua sisi:

  1. Tinjauan Sejarah. Tidak ada bukti autentik dalam sejarah yang mengatakan: bahwa Isra Miraj terjadi pada 27 Rajab. Bahkan masalah ini diperselisihkan dan tidak diketahui secara pasti. Bahkan, menakjubkanku ucapan Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullahu ta’ala, tatkala beliau mengatakan: “Perlu diketahui, bahwa penetapan Isra Miraj pada tanggal ini (27 Rajab, Pen.) termasuk pendapat yang paling lemah.”
  2. Ditinjau dari segi syariat. Jika memang benar Isra Miraj terjadi pada 27 Rajab, bukan berarti waktu tersebut harus dijadikan sebagai malam perayaan dengan pembacaan kisah-kisah palsu tentang Isra Miraj. Bagi seseorang yang tidak mengikuti hawa nafsunya, tidak akan ragu, bahwa hal tersebut termasuk perkara bid’ah dalam Islam. Sebab perayaan tersebut tidaklah dikenal di masa sahabat, tabi’in, dan para pengikut setia mereka. Islam hanya memiliki tiga hari raya: Idul Fitri dan Idul Adha tiap satu tahun, dan Jumat tiap satu pekan (minggu). Selain tiga ini, TIDAK termasuk agama Islam secuil pun.

Syaikh al-Albani rahimahullahu ta’ala berkata setelah menyebutkan perselisihan ulama tentang kapan Isra Miraj terjadi: “Hal itu menunjukkan bagi orang yang cerdas, bahwa para salaf tidak pernah mengadakan perayaan malam Isra Miraj, baik di bulan Rajab atau selainnya. Seandainya mereka membuat perayaan sebagaimana orang-orang belakangan sekarang, niscaya beritanya akan populer dari mereka, dan apa diketahui secara pasti tentang ketentuan malamnya. dan mereka tidak akan berselisih pendapat dengan perselisihan yang mengherankan ini.”

Ibnu Hajj rahimahullahu ta’ala berkata: “Termasuk perkara bid’ah yang diada-adakan orang-orang pada malam 27 Rajab adalah…” Kemudian beliau menyebutkan beberapa contoh bid’ah pada malam tersebut, seperti kumpul-kumpul di masjid, ikhtilath (campur baur antara laki-laki dan perempuan), menyalakan lilin dan pelita. Beliau juga menyebutkan, perayaan malam Isra Miraj termasuk perayaan yang disandarkan kepada agama, padahal bukan darinya.

Ibnu Nuhas rahimahullahu ta’ala berkata: “Sesungguhnya perayaan malam ini (Isra Miraj) merupakan bid’ah yang besar dalam agama, yang diada-adakan oleh saudara-saudara setan.”

Muhammad bin Ahmad asy-Syafi’i rahimahullahu ta’ala menegaskan: “Pembacaan kisah Miraj dan perayaan malam 27 Rajab merupakan perkara bid’ah … Dan kisah Miraj yang disandarkan kepada Ibnu Abbas Radhiallahu’anhuma, seluruhnya merupakan KEBATILAN dan KESESATAN, tidak ada yang shahih, kecuali beberapa huruf saja. Demikian pula kisah Ibnu Sulthan, seorang penghambur yang tidak pernah shalat kecuali di bulan Rajab saja. Namun tatkala hendak meninggal dunia, terlihat padanya tanda-tanda kebaikan. Sehingga saat Rasulullah ﷺ ditanya perihalnya, beliau ﷺ menjawab: ‘Sesungguhnya dia telah bersungguh-sungguh dan berdoa pada bulan Rajab.’ Semua ini merupakan KEDUSTAAN dan KEBOHONGAN. Haram hukumnya membacakan dan melariskan riwayatnya, kecuali untuk menjelaskan kedustaannya. Sungguh sangat mengherankan kami, tatkala para jebolan al-Azhar membacakan kisah-kisah palsu seperti ini kepada khalayak.”

Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullahu ta’ala berkata: “Malam Isra Miraj tidak diketahui waktu terjadinya. Karena seluruh riwayat tentangnya TIDAK ADA YANG SHAHIH menurut para pakar ilmu hadis. Di sisi Allah-lah hikmah di balik semua ini. Kalaulah memang diketahui waktunya, tetap tidak boleh bagi kaum Muslimin mengkhususkannya dengan ibadah dan perayaan. Sebab hal itu tidak pernah dilakukan Nabi ﷺ dan para sahabatnya. Seandainya disyariatkan, pastilah Nabi ﷺ menjelaskannya kepada umat, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan…”

Kemudian beliau (Syaikh Bin Baz rahimahullahu ta’ala) berkata: “Dengan penjelasan para ulama beserta dalil-dalil dari Alquran dan Hadis, sudah cukup bagi para pencari kebenaran mengingkari bid’ah malam Isra Miraj, yang memang bukan dari Islam secuil pun … Sungguh amat menyedihkan, bid’ah ini meruyak di segala penjuru negeri Islam, sehingga diyakini sebagian orang, bahwa perayaan tersebut merupakan agama. Kita berdoa kepada Allah ta’ala, agar memerbaiki keadaan kaum Muslimin semuanya, dan memberi karunia kepada mereka, berupa ilmu agama dan taufik serta istiqamah di atas kebenaran.”

Demikian juga amalan yang tidak ada dasarnya yang shahih adalah shalat yang disebut dengan shalat Malam Isra Miraj, karena ini adalah shalat yang bid’ah, tidak ada dasarnya sama sekali dalam hadis yang shahih, sebagaimana ditegaskan oleh al-Fairuz Abadi dalam Khatimah Sifri Sa’adah hlm. 150, al-Iraqi dalam Takhrij Ihya‘, Ibnul Himmat ad-Dimasyqi dalam at-Tankit wal Ifadah hlm. 97 dan ulama-ulama yang lainnya banyak sekali.

 

Dinukil dari tulisan Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi yang berjudul: “KEAJAIBAN PERISTIWA ISRA‘ MI’RAJ”.

Sumber: http://abiubaidah.com/keajaiban-peristiwa-isra-miraj.html/

, , ,

WANITA SHALAT BERJAMAAH DI RUMAH, APAKAH DAPAT PAHALA SHALAT JAMAAH?

WANITA SHALAT BERJAMAAH DI RUMAH, APAKAH DAPAT PAHALA SHALAT JAMAAH?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ  

#SifatSholatNabi
#MuslimahSholihah
#FatwaUlama

WANITA SHALAT BERJAMAAH DI RUMAH, APAKAH DAPAT PAHALA SHALAT JAMAAH?

>> Fatwa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baaz rahimahullah

Hal ini pernah diajukan pada asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baaz rahimahullah, berikut pertanyaan dan jawaban beliau terhadapnya:

س: نحن أكثر من ست نساء نعيش في بيت واحد وتمر علينا أوقات الصلاة المفروضة ونصلي فرادى، وأتانا بعض الأقارب ونصحنا بإقامة الصلاة جماعة، وبين لنا أننا بذلك ندرك فضل الجماعة، فهل هذا صحيح؟

Pertanyaan:
Kami para wanita yang berjumlah lebih dari enam orang dan tinggal di satu rumah. Tiap kali waktu shalat masuk, kami mengerjakannya sendiri-sendiri, hingga ada sebagian kerabat yang datang berkunjung menasihati kami agar melaksanakan shalat secara berjamaah. Dan ia menjelaskan, bahwa kami pun akan mendapatkan keutamaan shalat berjamaah. Apakah ini benar?

الجواب: النساء ليس عليهن جماعة، ولكن إذا صلين جماعة فلا بأس، وإن صلت كل واحدة وحدها فلا بأس، وإذا صلين جماعة فنرجو لهن فضل الجماعة ولا سيما إذا تيسر طالبة علم تأمهن وترشدهن؛ ولأن في اجتماعهن على الصلاة تعاونا على البر والتقوى، وإمامتهن تقف وسطهن في الصف الأول وتجهر بالقراءة في الصلاة الجهرية كالرجال

Jawaban:
  • “Para wanita tidak memiliki keharusan untuk shalat berjamaah. Namun apabila mereka melaksanakan shalat secara berjamaah, maka hukumnya boleh. Tapi kalau mereka ingin shalat masing-masing, maka ini pun tidak menjadi masalah.
  • Dan apabila mereka kerjakan secara berjamaah, kami berharap mereka juga mendapatkan keutamaannya. Terlebih apabila di tengah-tengah mereka ada wanita yang terpelajar dalam agama yang menjadi imam, dan memberikan bimbingan pada mereka. Juga karena berkumpulnya para wanita untuk shalat berjamaah merupakan bagian dari ta’awun pada perkara yang sifatnya kebajikan dan ketakwaan.
  • Wanita yang menjadi imam berposisi di tengah-tengah shaf wanita, serta (disyariatkan) mengeraskan bacaannya, pada shalat-shalat jahriyah sebagaimana kaum lelaki.” [Fataawa Ibn Baaz, XII/76]

Ini hal yang membicarakan tentang fadhl (keutamaan). Lalu apakah shalat berjamaah sesama wanita memang hal yang sunnah dan dianjurkan oleh agama? Atau bagaimana? Pertanyaan ini telah dijawab oleh Faqiihul ‘Ashr asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah:

الجواب: يجوز للنساء أن يصلين جماعة. ولكن هل هذا سنة في حقهن، أو مباح؟ بعض العلماء يقول: إنه سنة، وبعض العلماء يقول:إنه مباح.

والأقرب أنه مباح؛ لأن السنة ليست صريحة في ذلك، فإن أقمن الصلاة جماعة فلا بأس، وإذا لم يقمن الصلاة جماعة فهن لسن من أهل الجماعة. مجموع فتاوى ابن عثيمين (15/147)

Jawaban:
  • “Para wanita boleh melaksanakan shalat secara berjamaah. Tapi apakah hukum shalat berjamaah sunnah bagi mereka? Atau hukumnya sebatas boleh saja? Sebagian ulama berpendapat: “Wanita shalat berjamaah hukumnya sunnah.” Sebagian ulama lain berpandangan bahwa hukumnya: “Mubah (boleh)”.
  • Pendapat yang paling dekat dengan kebenaran, bahwa hukumnya sebatas Mubah. Karena hadis yang membicarakan masalah ini tidak menegaskan akan masuknya wanita dalam keutamaan shalat jamaah. Sehingga apabila mereka ingin shalat berjamaah, maka silakan. Dan kalau mereka tidak berjamaah, maka mereka memang bukan pihak yang harus berjamaah.” [Fataawa al-‘Utsaimin, XV/147]

Dari dua fatwa ulama di atas, kita bisa dapatkan empat kesimpulan hukum yang penting dalam masalah ini:

  1. Apabila sesama wanita shalat berjamaah, maka diharapkan mereka juga mendapatkan pahala shalat berjamaah, sebagaimana yang didapat oleh kaum lelaki yang berjamaah di masjid.
  2. Wanita yang menjadi imam posisinya di tengah shaf dan sejajar dengan jamaahnya.
  3. Disyariatkan bagi wanita yang menjadi imam untuk mengeraskan bacaan pada shalat jahriyah (Subuh, Maghrib, dan Isya).
  4. Hukum wanita shalat berjamaah ialah Mubah, yang artinya tidak dianjurkan dan tidak pula dilarang.

Wallahu a’lam bish shawab.

 

Penulis: Ustadz Pupus

Sumber: http://nasehatetam.com/read/124/wanita-shalat-berjamaah-di-rumah-apakah-dapat-pahala-shalat-jamaah#sthash.1KH2CJ6o.dpuf

, , ,

APAKAH DISYARIATKAN MENGUCAPKAN SALAM SETIAP KALI MELEWATI KUBURAN MUSLIMIN?

APAKAH DISYARIATKAN MENGUCAPKAN SALAM SETIAP KALI MELEWATI KUBURAN MUSLIMIN?
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ  
#AdabAkhlak
#FatwaUlama
APAKAH DISYARIATKAN MENGUCAPKAN SALAM SETIAP KALI MELEWATI KUBURAN MUSLIMIN?
 
Pertanyaan:
Apakah disyariatkan mengucapkan salam ketika melewati kuburan Muslimin?
 
جـ: الأفضل أن يسلم حتى ولو كان ماراً؛ ولكن قصد الزيارة أفضل وأكمل
 
Jawaban asy-Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah:
“Yang lebih utama ia tetap mengucapkan salam walau hanya sebatas lewat saja. Akan tetapi bila ia bermaksud pula untuk ziarah tentu hal ini lebih utama dan sempurna.”
 
Pertanyaan:
Saya tinggal di suatu daerah, yang di sana terdapat pemakaman kaum Muslimin, dan tiap hari saya melewati jalan yang berada di sisi kuburan itu. Bahkan dalam sehari lebih dari sekali saya melaluinya. Kewajiban apa yang harus saya jalankan dalam kondisi ini? Apakah saya mesti mengucapkan salam terus pada para penghuni kubur? Atau apa yang mesti saya lakukan? Berikanlah bimbingan kepadaku
 
جـ: ويشرع لك كلما مررت على القبور أن تسلم على أصحابها وتدعو لهم بالمغفرة والعافية، وليس ذلك واجبا، وإنما هو مستحب وفيه أجر عظيم، وإن مررت ولم تسلم فلا حرج
 
Jawaban asy-Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah:
“Disyariatkan bagimu untuk mengucapkan salam, tiap kali kamu melewati kubur, dan juga memohonkan ampunan dan keselamatan tiap kali melewatinya.
 
Namun hal itu tidaklah wajib. Hukumnya ialah sunnah, dan pada amalan tersebut terdapat pahala yang besar. Sedang bila ia melewati kuburan tanpa mengucapkan salam, maka hal ini pun tidak dipermasalahkan.” [Melalui: al-Jaami’ li Fiqh al-‘Allamah Ibn Baaz, 420]
 
, ,

SALAM KETIKA LEWAT PEKUBURAN

SALAM KETIKA LEWAT PEKUBURAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

#DoaZikir

SALAM KETIKA LEWAT PEKUBURAN

Bagi kita yang tinggal di wilayah yang melewati pemakaman kaum Muslimin, jangan lewatkan faidah-faidah penting berikut, dari pertanyaan yang diajukan kepada asy-Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah.

Pertanyaan:
Apakah disyariatkan mengucapkan salam ketika melewati kuburan Muslimin?

جـ: الأفضل أن يسلم حتى ولو كان ماراً؛ ولكن قصد الزيارة أفضل وأكمل

Jawaban:
“Yang lebih utama ia tetap mengucapkan salam walau hanya sebatas lewat saja. Akan tetapi bila ia bermaksud pula untuk ziarah tentu hal ini lebih utama dan sempurna.”
Pertanyaan:
Saya tinggal di suatu daerah, yang di sana terdapat pemakaman kaum Muslimin, dan tiap hari saya melewati jalan yang berada di sisi kuburan itu. Bahkan dalam sehari lebih dari sekali saya melaluinya. Kewajiban apa yang harus saya jalankan dalam kondisi ini? Apakah saya mesti mengucapkan salam terus pada para penghuni kubur? Atau apa yang mesti saya lakukan? Berikanlah bimbingan kepadaku.

جـ: ويشرع لك كلما مررت على القبور أن تسلم على أصحابها وتدعو لهم بالمغفرة والعافية، وليس ذلك واجبا، وإنما هو مستحب وفيه أجر عظيم، وإن مررت ولم تسلم فلا حرج

Jawaban:
“Disyariatkan bagimu untuk mengucapkan salam, tiap kali kamu melewati kubur, dan juga memohonkan ampunan dan keselamatan tiap kali melewatinya.

Namun hal itu tidaklah wajib. Hukumnya ialah sunnah, dan pada amalan tersebut terdapat pahala yang besar. Sedang bila ia melewati kuburan tanpa mengucapkan salam, maka hal ini pun tidak dipermasalahkan.” [Melalui: al-Jaami’ li Fiqh al-‘Allamah Ibn Baaz, 420]

Ada beberapa lafal salam yang Shahih dari Nabi Muhammad ﷺ, di antaranya:

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَيَرْحَمُ اللهُ الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِينَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَلَاحِقُونَ أَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ

 

ASSALAMU ’ALAIKUM AHLAD-DIYAAR MINAL MU’MINIINA WAL MUSLIMIIN. YARHAMULLOOHUL MUSTAQDIMIINA MINNAA WAL MUSTA’KHIRIIN.
WA INNA INSYAA ALLOOHU BIKUM LA-LAAHIQUUN
WA AS ALULLOOHA LANAA WALAKUMUL ‘AAFIYAH.
 
Artinya:
“Semoga keselamatan tercurah kepada kalian, wahai penghuni kubur, dari (golongan) orang-orang beriman dan orang-orang Islam.
Semoga Allah merahmati orang-orang yang mendahului kami, dan orang-orang yang datang belakangan.
Kami insya Allah akan menyusul kalian. Saya meminta keselamatan untuk kami dan kalian.”

Hadis ini diajarkan kepada A’isyah radhiyallahu ‘anha, ketika beliau bertanya kepada Nabi ﷺ  tentang doa yang dibaca pada saat ziarah kubur. [HR. Ahmad 25855, Muslim 975, Ibnu Hibban 7110, dan yang lainnya]

Bisa juga dengan bacaan yang lebih ringkas:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ pernah mengunjungi kuburan, kemudian beliau berdoa:

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ

ASSALAAMU ‘ALAIKUM DAARO QOUMIN MUKMINIIN WA INNAA IN SYAA ALLOH BIKUM LAA HIQUUN.

Artinya:
“Keselamatan untuk kalian, wahai penghuni rumah kaum Mukiminin. Kami insyaaAllah akan menyusul kalian.” [HR. Muslim 249]

Wallahu a’lam, semoga bermanfaat.

 

Sumber:

http://www.nasehatetam.com/read/118/salam-ketika-lewat-pekuburan

https://konsultasisyariah.com/20865-doa-ziarah-kubur.html

,

SHALAT TASBIH, BID’AH ATAU SUNNAH?

SHALAT TASBIH, BID'AH ATAU SUNNAH?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

#SifatShalatNabi

SHALAT TASBIH, BID’AH ATAU SUNNAH?

Pertama, Disyariatkan atau Tidak?

Terjadi silang pendapat di kalangan ulama tentang shalat Tasbih, apakah disyariatkan atau tidak? Letak silang pendapat dalam hal ini adalah berkaitan dengan perbedaan pendapat ulama tentang kedudukan hadis Shalat Tasbih.

Yang lebih kuat, bahwa hadis tentang Shalat Tasbih adalah hadis yang kuat. Walaupun pada banyak riwayatnya terdapat kelemahan, namun terdapat sebagian jalur riwayat yang kuat. Karena itu, hadis Shalat Tasbih telah dishahihkan oleh banyak ulama, dari dahulu hingga hari ini.

Kedua, Tata Cara Shalat

Shalat Tasbih bukanlah tergolong ke dalam shalat sunnah Mu’akkad (yang ditekankan pelaksanaannya), bahkan hanya dilakukan kadang-kadang saja.

Secara umum, Shalat Tasbih sama dengan tata cara shalat yang lain, hanya saja ada tambahan bacaan Tasbih yaitu:

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ

Subhanallah wal hamdu lillahi walaa ilaaha illallahu wallahu akbar

Lafal ini diucapkan sebanyak 75 kali pada tiap rakaat, dengan perincian sebagai berikut:

–   Sesudah membaca Al-Fatihah dan surah sebelum ruku, sebanyak 15 kali,

–   Ketika ruku’ sesudah membaca doa ruku’, dibaca lagi sebanyak 10 kali,

–   Ketika bangun dari ruku’ sesudah bacaan i’tidal, dibaca 10 kali,

–   Ketika sujud pertama sesudah membaca doa sujud, dibaca 10 kali,

–   Ketika duduk di antara dua sujud sesudah membaca bacaan antara dua sujud, dibaca 10 kali,

–   Ketika sujud yang kedua sesudah membaca doa sujud, dibaca lagi sebanyak 10 kali,

–   Ketika bangun dari sujud yang kedua sebelum bangkit (duduk istirahat), dibaca lagi sebanyak 10 kali.

Demikianlah rinciannya, bahwa Shalat Tasbih dilakukan sebanyak empat rakaat dengan sekali Tasyahud, yaitu pada rakaat yang keempat, lalu salam. Bisa juga dilakukan dengan cara dua rakaat-dua rakaat, di mana setiap dua rakaat membaca tasyahud, kemudian salam. Wallahu A’lam.

Ketiga, Jumlah Rakaat

Semua riwayat menunjukkan empat rakaat, dengan Tasbih sebanyak 75 kali di setiap rakaat. Jadi keseluruhannya 300 kali Tasbih.

Keempat, Waktu Shalat

Waktu Shalat Tasbih yang paling utama adalah sesudah tenggelamnya matahari, sebagaimana dalam riwayat Abdullah bin Amr. Tetapi dalam riwayat Ikrimah yang mursal diterangkan, bahwa boleh malam hari dan boleh siang hari. Wallahu A’lam.

Terdapat pilihan dalam shalat ini. Jika mampu, bisa dikerjakan tiap hari. Jika tidak mampu, bisa tiap pekan. Jika masih tidak mampu, bisa tiap bulan. Jika tetap tidak mampu, bisa tiap tahun, atau hanya sekali seumur hidup. Karena itu, hendaklah kita memilih mana yang paling sesuai dengan kondisi kita masing-masing.

Hadis tentang shalat Tasbih adalah hadis yang tsabit/sah dari Rasulullah ﷺ. Maka boleh diamalkan sesuai dengan tata cara yang telah disebutkan di atas.

Demikian kesimpulan dari Shalat Tasbih dari makalah kami yang pernah dimuat di Risalah ‘Ilmiyyah An-Nashihah vol. 1.

Wallahu A’lam.

Untuk melengkapi pembahasan yang singkat ini, maka disertakan penyimpangan-penyimpangan (bid’ah–bid’ah) yang banyak terjadi sekitar pelaksanaan shalat Tasbih, di antaranya:

  1. Mengkhususkan pada malam Jumat saja.
  2. Dilakukan secara berjamaah terus menerus.
  3. Diiringi dengan bacaan-bacaan tertentu sebelum shalat ataupun sesudah shalat.
  4. Tidak mau shalat kecuali bersama imamnya atau jamaahnya atau tariqatnya.
  5. Tidak mau shalat kecuali di mesjid tertentu.
  6. Keyakinan sebagian yang melakukannya bahwa rezekinya akan bertambah dengan Shalat Tasbih.
  7. Membawa binatang-binatang tertentu untuk disembelih sebelum atau sesudah shalat Tasbih, disertai dengan keyakinan-keyakinan tertentu.

(Dengan tambahan Takhrij Hadis dari Ustadz Dzulqarnain)

 

[Jawaban di atas dinukil dari tulisan Ustadz Luqman Jamal -hafizhahullah- di majalah An-Nashihah]

Sumber: http://al-atsariyyah.com/shalat-tasbih.html

, , , ,

HUKUM MENGANGKAT TANGAN PADA TAKBIR-TAKBIR SHALAT JENAZAH

HUKUM MENGANGKAT TANGAN PADA TAKBIR-TAKBIR SHALAT JENAZAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#AhkamulJanaiz
#PengurusanJenazah

HUKUM MENGANGKAT TANGAN PADA TAKBIR-TAKBIR SHALAT JENAZAH

Oleh: Al Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi

Para ulama sepakat, bahwa disyariatkan mengangkat kedua tangan, pada takbir yang pertama dalam shalat jenazah. [Kesepakatan ini disebutkan oleh Ibnul Mundzir dalam Al-Ijma’:42]

Dan yang terjadi PERSELISIHAN di kalangan para ulama adalah tentang hukum mengangkat tangan, pada takbir kedua dan seterusnya. Dalam hal ini ada dua pendapat yang masyhur:

Pendapat pertama: mengatakan, bahwa tidak disyariatkan mengangkat kedua tangan, kecuali pada takbir yang pertama. Ini adalah pendapat Sufyan Ats-Tsauri dan Abu Hanifah. Pendapat ini juga dikuatkan oleh Ibnu Hazm dan Asy-Syaukani. Adapun Imam Malik, diperselisihkan tentang pendapat beliau. [Dalam satu riwayat Malik mengatakan: diangkat tangan pada awal takbir dalam shalat jenazah. Dalam riwayat lain beliau mengatakan: Aku senang agar kedua tangan diangkat pada empat kali takbir. (Al-Mudawwanatul Kubra: 176)]

Pendapat kedua: mengatakan, bahwa disyariatkan mengangkat kedua tangan pada setiap kali takbir. Ini adalah pendapat Salim bin Abdillah bin Umar, Umar bin Abdil Aziz, Atha’, Yahya bin Sa’id, Qais bin Abi Hazim, Az-Zuhri, Ahmad, Ishaq, Asy-Syafi’i, Al-Auza’i, Abdullah bin Mubarak, dan dikuatkan oleh Ibnul Mundzir dan An-nawawi. At-Tirmidzi menyandarkan pendapat ini kepada kebanyakan ahli ilmu dari kalangan sahabat Nabi ﷺ. [Lihat: Al-Mughni,Ibnu Qudamah: 2/373,Jami’ At-Tirmidzi: 3/388, Al-Muhalla, Ibnu Hazm:5/124, Nailul Authar: 4:105, Al-Majmu’, An-Nawawi: 5/136, Al-Mudawwanatul Kubra, Imam Malik:176. Ahkamul Janaiz, Al-Albani:148. As-Sunan Al-Kubra, Al-Baihaqi:4/44. Ma’rifatus Sunan wal Atsar, Al-Baihaqi (3/169). Al-Umm,Asy-Syafi’i:1/271, Al-Hawi Al-Kabir (3/55)]

Kesimpulan:

Dari pemaparan dalil-dalil yang dijadikan hujjah oleh masing-masing pendapat (untuk lengkapnya, silakan klik tautan berikut ini: http://abuayaz.blogspot.co.id/2010/09/hukum-mengangkat-tangan-pada-takbir.html), tampak bagi kita sekalian, bahwa riwayat yang dijadikan dalil oleh pendapat pertama tidak satu pun yang shahih, namun berada di antara lemah dan sangat lemah sekali. Sementara riwayat-riwayat yang dijadikan dalil oleh pendapat kedua, telah shahih datang dari beberapa sahabat Nabi ﷺ, seperti Ibnu Umar dan Ibnu Abbas, dan tidak diketahui ada yang menyelisihi mereka dalam hal ini, sehingga dapat dijadikan sebagai hujjah. Wallahu A’lam Bish-Shawab.

Faidah:

Telah ditanya Samahatusy Syekh Bin Baaz rahimahullah tentang mengangkat kedua tangan dalam shalat jenazah bersaman dengan takbir-takbir, apakah termasuk sunnah?

Maka beliau menjawab:

السنة رفع اليدين مع التكبيرات الأربع كلها ; لما ثبت عن ابن عمر وابن عباس أنهما كانا يرفعان مع التكبيرات كلها , ورواه الدارقطني مرفوعا من حديث ابن عمر بسند جيد.

(مجموع فتاوى ابن باز:13؟148)

Beliau menjawab: “Yang sunnah adalah mengangkat kedua tangan bersamaan dengan empat takbir seluruhnya, berdasarkan (riwayat) yang shahih dari Ibnu Umar, Ibnu Abbas, bahwa keduanya mengangkat (kedua tangannya) bersama dengan seluruh takbir. Diriwayatkan (oleh) Ad-Daruquthni secara marfu’ dari hadis Ibnu Umar dengan sanad yang bagus.” [Majmu’ Fatawa Bin Baaz: 13/148]

Ini juga menjadi jawaban dari Lajnah da’imah, dalam fatwanya dinyatakan:

تجوز صلاة الجنازة بدون رفع اليدين؛ لأن الواجب فيها التكبيرات وقراءة الفاتحة والدعاء للميت والسلام، ولكن رفع اليدين هو السنة في جميع التكبيرات.وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم .

اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء

عضو، عضو، نائب رئيس اللجنة، الرئيس

عبدالله بن قعود، عبدالله بن غديان، عبدالرزاق عفيفي، عبدالعزيز بن عبدالله بن باز

(فتاوى اللجنة:2514)

“Boleh shalat jenazah tanpa mengangkat kedua tangan, sebab yang wajib padanya adalah bertakbir dengan beberapa kali takbir, membaca al-Fatihah, berdoa untuk si mayyit, dan mengucapkan salam. Namun mengangkat kedua tangan adalah hal yang sunnah pada seluruh takbir, dan taufiq hanya milik Allah. Shalawat serta salam kepada Nabi kita Muhammad, para pengikutnya, dan para shahabat.”

  • Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baaz
  • Wakil ketua: Abdurrazzaq Afifi
  • Anggota: Abdullah bin Ghudayyan
  • Anggota: Abdullah bin Qu’ud. [Fatawa Al-Lajnah no: 2514

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah ditanya: Apakah termasuk dari sunnah, mengangkat kedua tangan pada takbir-takbir shalat jenazah?

Beliau menjawab:

نعم من السنة,أن يرفع الإنسان يديه عند كل تكبيرة في صلاة الجنازة كما صح ذلك عن عبد الله بن عمر ولأن رفع اليدين في صلاة الجنازة بمنزلة الركوع والسجود في الصلوات الأخرى ,الصلوات الأخرى تشتمل على فعل وقول ,صلاة الجنازة أيضا تشتمل على فعل وقول ,فكونك ترفع في الأولى وتسكت معناه لم تميز في الذكر بين التكبيرة الأولى والتكبيرة الثانية,ولذلك قد دل الأثر والنظر على أن صلاة الجنازة ترفع فيها الأيدي عند كل تكبيرة

“Iya, termasuk dari sunnah seseorang mengangkat kedua tangannya, pada setiap kali takbir dalam shalat jenazah, sebagaimana yang telah shahih hal itu dari Abdullah bin Umar. Dan karena mengangkat kedua tangan dalam shalat jenazah kedudukannya seperti ruku’ dan sujud pada shalat-shalat yang lain, shalat-shalat yang lain mencakup perbuatan dan perkataan, shalat jenazah juga mencakup perbuatan dan perkataan. Maka ketika engkau mengangkat pada takbir pertama lalu engkau diam, maka maknanya engkau tidak memisahkan dalam zikir antara takbir pertama dengan takbir kedua. Oleh karenanya, telah ditunjukkan oleh atsar maupun pandangan, bahwa shalat jenazah diangkat kedua tangan pada setiap kali takbir.” [Silsilah Liqa’ al-bab al-Maftuh, kaset no:179, set kedua]

Sumber: http://abuayaz.blogspot.co.id/2010/09/hukum-mengangkat-tangan-pada-takbir.html

,

WANITA JUNUB MENGALAMI HAID, HARUSKAH MANDI JANABAH?

WANITA JUNUB MENGALAMI HAID, HARUSKAH MANDI JANABAH?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#FatwaUlama

#MuslimahSholihah

WANITA JUNUB MENGALAMI HAID, HARUSKAH MANDI JANABAH?

Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Munajjid hafidzahullah

Pertanyaan:

Bagaimana cara seorang wanita bersuci dari janabah, sedangkan ia dalam keadaan haid?

Apakah ia memulai dengan berwudhu, mengambil air tiga kali cidukan, kemudian menyiram badan bagian kanan lalu bagian kiri? Atau ia langsung mandi tanpa berwudhu terlebih dulu, karena sedang haid?

Apakah (hadas) junub telah hilang darinya, dan tinggal haid saja ataukah tidak?

Jawaban:

Alhamdulillah.

Tatkala wanita haid mengalami junub (seperti wanita haid yang mimpi basah-pen), atau wanita junub kemudian mengalami haid, maka disyariatkan baginya mandi janabah.

Karena ia akan memeroleh manfaat dari mandi tersebut. Yaitu boleh baginya membaca Alquran tanpa menyentuhnya, karena orang junub dilarang membaca Alquran. Berbeda dengan wanita haid (boleh membaca Alquran tanpa menyentuhnya). Lihat jawaban pertanyaan no 2564 dan 60213.

Sifat mandi ini sama seperti mandi wajib yang lainnya. Yaitu, dimulai dengan membasuh anggota wudhu, mengguyur kepala tiga kali, menyiram badan bagian kanan lalu bagian kiri, kemudian mengguyurkan air ke seluruh badan.

Dengan demikian, hilanglah junub darinya, dan tinggal haid yang ada padanya.

Ibnu Qudamah berkata dalam kitab al Mughni (1:134):

“Jika seorang wanita mandi junub di tengah masa haid, maka mandinya sah, dan hukum junub hilang darinya. Imam Ahmad menegaskan hal serupa. Beliau berkata: ‘Hukum junub telah hilang darinya, sedangkan haid tidak hilang, sampai darahnya terhenti’.

Beliau berkata lagi: ‘Saya tidak mengetahui seorang pun yang berkata, wanita ini tidak harus mandi kecuali Atho, akan tetapi diriwayatkan darinya juga, bahwa wanita ini harus mandi’.” Selesai.

Allahu’alam.

 

***

Sumber:https://islamqa.info/ar/91793

Diterjemahkan Tim Penerjemah Wanitasalihah.com

[Artikel wanitasalihah.com]

ﺇﺫﺍ ﺟﺎﺀﻫﺎ ﺍﻟﺤﻴﺾ ﻭﻫﻲ ﺟﻨﺐ ﻓﻬﻞ ﺗﻐﺘﺴﻞ ﻣﻦ ﺍﻟﺠﻨﺎﺑﺔ ؟

ﻛﻴﻒ ﺗﺘﻄﻬﺮ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﻣﻦ ﺍﻟﺠﻨﺎﺑﺔ ﻭﻫﻲ ﺣﺎﺋﺾ ؟ ﻭﺇﺫﺍ ﺗﻄﻬﺮﺕ ﻣﻦ ﺍﻟﺠﻨﺎﺑﺔ ﻭﻫﻲ ﺣﺎﺋﺾ ﻫﻞ ﺗﺘﻮﺿﺄ ﻭﺗﺄﺧﺬ ﺛﻼﺙ ﺣﺜﻴﺎﺕ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﺛﻢ ﺗﻐﺴﻞ ﺷﻘﻬﺎ ﺍﻷﻳﻤﻦ ﺛﻢ ﺍﻷﻳﺴﺮ ﺑﺎﻟﻤﺎﺀ ؟ ﺃﻡ ﻓﻘﻂ ﺗﻐﺘﺴﻞ ﺑﺪﻭﻥ ﻭﺿﻮﺀ ﻷﻧﻬﺎ ﺣﺎﺋﺾ ﺃﻳﻀﺎ ؟ ﻭﻫﻞ ﻳﺮﻓﻊ ﻋﻨﻬﺎ ﺍﻟﺠﻨﺎﺑﺔ ﻭﻳﺒﻘﻰ ﺍﻟﺤﻴﺾ ﻓﻘﻂ ﺃﻡ ﻻ ؟

 

ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ

ﺇﺫﺍ ﺃﺟﻨﺒﺖ ﺍﻟﺤﺎﺋﺾ ، ﺃﻭ ﺣﺎﺿﺖ ﻭﻫﻲ ﺟﻨﺐ ، ﺷﺮﻉ ﻟﻬﺎ ﺃﻥ ﺗﻐﺘﺴﻞ ﻣﻦ ﺍﻟﺠﻨﺎﺑﺔ ، ﻭﺗﺴﺘﻔﻴﺪ ﺑﺬﻟﻚ ﺟﻮﺍﺯ ﻗﺮﺍﺀﺓ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﻣﺲ ﻟﻠﻤﺼﺤﻒ ، ﻷﻥ ﺍﻟﺠﻨﺐ ﻳﻤﻨﻊ ﻣﻦ ﻗﺮﺍﺀﺓ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﺑﺨﻼﻑ ﺍﻟﺤﺎﺋﺾ ، ﻭﺍﻧﻈﺮ ﺟﻮﺍﺏ ﺍﻟﺴﺆﺍﻝ ﺭﻗﻢ ‏( 2564 ‏) ، ‏( 60213 ) .

ﻭﺻﻔﺔ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻐﺴﻞ ، ﻛﻐﻴﺮﻩ ﻣﻦ ﺍﻷﻏﺴﺎﻝ ﺍﻟﻤﺸﺮﻭﻋﺔ ، ﻓﺘﺒﺪﺃ ﺑﻐﺴﻞ ﺃﻋﻀﺎﺀ ﺍﻟﻮﺿﻮﺀ ، ﻭﺗﺤﺜﻲ ﻋﻠﻰ ﺭﺃﺳﻬﺎ ﺛﻼﺙ ﺣﺜﻴﺎﺕ ، ﻭﺗﻐﺴﻞ ﺷﻘﻬﺎ ﺍﻷﻳﻤﻦ ﺛﻢ ﺍﻷﻳﺴﺮ ، ﺛﻢ ﺗﻔﻴﺾ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﻋﻠﻰ ﺳﺎﺋﺮ ﺍﻟﺒﺪﻥ .

ﻭﺑﻬﺬﺍ ﺗﺮﺗﻔﻊ ﻋﻨﻬﺎ ﺍﻟﺠﻨﺎﺑﺔ ﻭﻳﺒﻘﻰ ﺍﻟﺤﻴﺾ .

ﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﻗﺪﺍﻣﺔ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻲ ” ﺍﻟﻤﻐﻨﻲ ” ‏( 1/134 ‏) : ” ﻓﺈﻥ ﺍﻏﺘﺴﻠﺖ ﻟﻠﺠﻨﺎﺑﺔ ﻓﻲ ﺯﻣﻦ ﺣﻴﻀﻬﺎ , ﺻﺢ ﻏﺴﻠﻬﺎ , ﻭﺯﺍﻝ ﺣﻜﻢ ﺍﻟﺠﻨﺎﺑﺔ . ﻧﺺ ﻋﻠﻴﻪ ﺃﺣﻤﺪ , ﻭﻗﺎﻝ : ﺗﺰﻭﻝ ﺍﻟﺠﻨﺎﺑﺔ , ﻭﺍﻟﺤﻴﺾ ﻻ ﻳﺰﻭﻝ ﺣﺘﻰ ﻳﻨﻘﻄﻊ ﺍﻟﺪﻡ . ﻗﺎﻝ : ﻭﻻ ﺃﻋﻠﻢ ﺃﺣﺪﺍ ﻗﺎﻝ : ﻻ ﺗﻐﺘﺴﻞ . ﺇﻻ ﻋﻄﺎﺀ , ﻭﻗﺪ ﺭﻭﻱ ﻋﻨﻪ ﺃﻳﻀﺎ ﺃﻧﻬﺎ ﺗﻐﺘﺴﻞ ” ﺍﻧﺘﻬﻰ ﺑﺘﺼﺮﻑ .

ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺃﻋﻠﻢ .

 

Sumber: