Posts

, ,

TUJUH KAIDAH DALAM MENAGIH UTANG

TUJUH KAIDAH DALAM MENAGIH UTANG

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#FikihJualBeli
#AdabAkhlak

TUJUH KAIDAH DALAM MENAGIH UTANG

Oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Islam tidak pernah menyia-nyiakan amal hamba. Sampai pun sekadar memberikan bantuan yang ringan bagi orang lain. Termasuk memberikan utang kepada orang lain, yang itu pasti dikembalikan. Padahal kita tahu, dalam memberikan utang untuk tempo pendek, tidak ada harta kita yang berkurang, selain karena pengaruh propaganda orang kafir, penurunan nilai mata uang (time value of money).

Namun umumnya orang yang memberi utang, merasa cemas ketika uangnya yang berada di tangan orang lain. Dan Allah yang Maha Pemurah tidak menyia-nyiakan kebaikan hamba, sekalipun yang dia koribuankan hanya perasaaan dan kecemasan, karena menyerahkan uang kepada orang lain. Allah gantikan ini dengan pahala.

Dalam hadis, dari Ibn Mas’ud, Nabi ﷺ bersabda:

كل قرض صدقة

“Setiap mengutangi orang lain adalah sedekah.” [HR. Thabrani dengan sanad Hasan, al-Baihaqi, dan dishahihkan al-Albani]

Kemudian, dari Abu Umamah, Nabi ﷺ bersabda: “Ada seseorang yang masuk Surga, kemudian dia melihat ada tulisan di pintunya:

الصدقة بعشر أمثالها والقرض بثمانية عشر

“Sedekah itu nilainya sepuluh kalinya, dan utang nilainya 18 kali.” [HR. Thabrani, al-Baihaqi dan dishahihkan al-Albani dalam Shahih Targhib]

Juga dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَقْرَضَ اللَّهَ مَرَّتَيْنِ، كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ أحدهما لو تصدق به

Siapa yang memberi utang dua kali karena Allah, maka dia mendapat pahala seperti sedekah dengannya sekali. [HR. Ibnu Hibban 5040 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth].

Terlebih lagi ketika orang yang berutang mengalami kesulitan, kemudian dia memberikan penundaan pembayaran. Rasulullah ﷺ janjikan pahala yang besar. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا أَوْ وَضَعَ لَهُ، أَظَلَّهُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لا ظِلَّ إِلا ظِلُّهُ

Barang siapa yang memberi waktu tunda pelunasan bagi orang yang kesusahan membayar utang atau membebaskannya, maka Allah akan menaunginya dalam naungan (Arsy)-Nya pada hari Kiamat, yang tidak ada naungan selain naungan (Arsy)-Nya. [HR. Ahmad, 2/359, Muslim 3006,  dan Turmudzi 1306, dan dishahihkan al-Albani].

Beberapa Aturan dalam Menagih Utang

Islam memberikan aturan dalam masalah utang-piutang, agar orang yang memberikan utang (kreditur) tidak terjebak dalam kesalahan dan dosa besar, yang akan membuat amalnya sia-sia. Dosa itu adalah dosa riba dan kezaliman. Karena umumnya riba dan tindakan kezaliman, terjadi dalam masalah utang piutang.

Kaidah Pertama

Islam menyarankan agar dilakukan pencatatan dalam transaksi utang piutang. Terlebih ketika tingkat kepercayaanya kurang sempurna. Semua ini dalam rangka menghendari sengketa di belakang. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ وَلْيَكْتُبْ بَيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah[179] tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. [QS. al-Baqarah: 282]

Dalam tafsir as-Sa’di dinyatakan:

الأمر بكتابة جميع عقود المداينات إما وجوبا وإما استحبابا لشدة الحاجة إلى كتابتها، لأنها بدون الكتابة يدخلها من الغلط والنسيان والمنازعة والمشاجرة شر عظيم

Perintah untuk mencatat semua transaksi utang piutang, bisa hukumnya wajib, dan bisa hukumnya sunah. Mengingat beratnya kebutuhan untuk mencatatnya. Karena jika tanpa dicatat, rentan tercampur dengan bahaya besar, kesalahan, lupa, sengketa dan pertikaian. [Tafsir as-Sa’di, hlm. 118].

Kaidah Kedua

Allah memerintahkan kepada orang yang memberikan utang, agar memberi penundaan waktu pembayaran, ketika orang yang berutang mengalami kesulitan pelunasan.

وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Jika (orang yang berutang itu) dalam kesulitan, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan  menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu  mengetahui. [QS. al-Baqarah: 280]

Al-Hafidz Ibnu Katsir mengatakan:

يأمر تعالى بالصبر على المعسر الذي لا يجد وفاء، فقال: { وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَة } لا كما كان أهل الجاهلية يقول أحدهم لمدينه إذا حل عليه الدين: إما أن تقضي وإما أن تربي ثم يندب إلى الوضع عنه، ويعد على ذلك الخير والثواب الجزيل

Allah perintahkan kepada orang yang memberi utang untuk bersabar terhadap orang yang kesulitan, yang tidak mampu melunasi utangnya. ”Jika (orang yang berutang itu) dalam kesulitan, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan.” Tidak seperti tradisi jahiliyah, mereka mengancam orang yang berutang kepadanya, ketika jatuh tempo pelunasan telah habis: ’Kamu lunasi utang, atau ada tambahan pembayaran (riba).’ Kemudian Allah menganjurkan untuk menggugurkan utangnya, dan Allah menjanjikan kebaikan dan pahala yang besar baginya [Tafsir Ibnu Katsir, 1/717].

Rasulullah ﷺ menjanjikan baginya pahala sedekah selama masa penundaan. Beliau ﷺ bersabda:

مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا كَانَ لَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ صَدَقَةٌ، وَمَنْ أَنْظَرَهُ بَعْدَ حِلِّهِ كَانَ لَهُ مِثْلُهُ، فِي كُلِّ يَوْمٍ صَدَقَةٌ

Siapa yang memberi tunda orang yang kesulitan, maka dia mendapatkan pahala sedekah setiap harinya. Dan siapa yang memberi tunda kepadanya setelah jatuh tempo, maka dia mendapat pahala sedekah seperti utang yang diberikan setiap harinya. [HR. Ahmad 23046, Ibnu Majah 2418 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth].

Kaidah Ketiga

Memberikan utang termasuk transaksi sosial, amal saleh yang berpahala. Karena itu, orang yang memberi utang dilarang mengambil keuntungan karena utang yang diberikan, apapun bentuknya, selama utang belum dilunasi.

Sahabat Fudhalah bin Ubaid radhiallahu ‘anhu mengatakan:

كل قرض جر منفعة فهو ربا

“Setiap piutang yang memberikan keuntungan, maka (keuntungan) itu adalah riba.”

Keuntungan yang dimaksud dalam riwayat di atas mencakup semua bentuk keuntungan, bahkan sampai bentuk keuntungan pelayanan. Dari Abdullah bin Sallam radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan:

إِذَا كَانَ لَكَ عَلَى رَجُلٍ حَقٌّ، فَأَهْدَى إِلَيْكَ حِمْلَ تِبْنٍ، أَوْ حِمْلَ شَعِيرٍ، أَوْ حِمْلَ قَتٍّ، فَلاَ تَأْخُذْهُ فَإِنَّهُ رِبًا

“Apabila kamu mengutangi orang lain, kemudian orang yang diutangi memberikan fasilitas kepadamu dengan membawakan jerami, gandum, atau pakan ternak, maka janganlah menerimanya, karena itu riba.” [HR. Bukhari 3814].

Kemudian, diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu:

إذا أقرض أحدكم قرضا فأهدى له أو حمله على الدابة فلا يركبها ولا يقبله

“Apabila kalian mengutangkan sesuatu kepada orang lain, kemudian (orang yang berutang) memberi hadiah kepada yang mengutangi, atau memberi layanan berupa naik kendaraannya (dengan gratis), janganlah menaikinya dan jangan menerimanya.” [HR. Ibnu Majah 2432]

Keempat

Terkait nilai penurunan mata uang

Orang yang memberi utang, hendaknya siap menerima risiko penurunan nilai mata uang. Karena ulama sepakat, orang yang memberi utang hanya berhak meminta pengembalian sebesar uang yang dia berikan, tanpa memerhatikan keadaan penurunan nilai mata uang.

Dalam Mursyid al-Hairan – kitab mumalah Madzhab Hanafi – dinyatakan:

وإن استقرض شيئا من المكيلات والموزونات والمسكوكات من الذهب والفضة فرخصت أسعارها أو غلت فعليه رد مثلها ولا عبرة برخصها أو غلائها

Apabila orang berutang sesuatu berupa barang yang ditakar, atau ditimbang atau emas perak yang dicetak, kemudian harganya mengalami penurunan atau kenaikan, maka dia wajib mengembalikan utangnya sama seperti yang dia pinjam. Tanpa memerhitungkan penurunan maupun kenaikan harga. [Mursyid al-Hairan ila Ma’rifah Ahwalil Insan fil Muamalat ’ala Madzhabi Abu hanifah an-Nu’man, keterangan no. 805].

Ibnu Abidin mengatakan semisal:

إنه لا يلزم لمن وجب له نوعٌ منها سواه بالإجماع

Tidak ada kewajiban bagi orang yang memiliki utang selain yang sama dengannya, dengan sepakat ulama. [Tanbih ar-Ruqud ’ala Masail an-Nuqud, hlm. 64]

Demikian keterangan dalam Madzhab Hanafi. Keterangan yang sama juga disampaikan dalam Madzhab Syafiiyah.

As-Syairazi mengatakan:

ويجب على المستقرِض ردُّ المثل فيما له مثل؛ لأن مقتضى القرض: رد المثل

Wajib bagi orang yang berutang untuk mengembalikan yang semisal, untuk harta yang ada padanannya. Karena konsekuensi utang adalah mengembalikan dengan yang semisal. [al-Muhadzab, 2/81].

Kemudian, keterangan dalam Madzhab Hambali, kita simpulkan dari penjelasan Ibnu Qudamah:

 

الْمُسْتَقْرِضَ يَرُدُّ الْمِثْلَ فِي الْمِثْلِيَّاتِ، سَوَاءٌ رَخُصَ سِعْرُهُ أَوْ غَلَا، أَوْ كَانَ بِحَالِهِ

Orang yang berutang wajib mengembalikan yang semisal, untuk barang yang memiliki padanan. Baik harganya turun maupun naik atau sesuai keadaan awal. [al-Mughni, 4/244].

Di tempat lain, beliau mengatakan, bahwa itu sepakat ulama:

ويجب رد المثل في المكيل والموزون. لا نعلم فيه خلافا. قال ابن المنذر: أجمع كل من نحفظ عنه من أهل العلم، على أن من أسلف سلفا، مما يجوز أن يسلف، فرد عليه مثله، أن ذلك جائز وأن للمسلف أخذ ذلك

Wajib mengembalikan yang semisal untuk barang yang ditakar maupun ditimbang. Kami tidak mengetahui adanya perselisihan dalam masalah ini.

Ibnul Mundzir mengatakan:

”Semua ulama yang kami ketahui, mereka sepakat, bahwa orang yang berutang sesuatu yang halal, kemudian dia mengembalikan dengan semisal, maka hukumnya boleh dan bagi pemberi utang, bisa menerimanya.” [al-Mughni, 4/239].

Kelima

Apabila uang yang dulu tidak berlaku

Utang dengan uang masa silam, kemudian masyarakat tidak lagi memberlakukannya, dengan apapun sebabnya, maka yang wajib dilakukan adalah mengembalikan dengan mata uang yang senilai dengan mata uang yang tidak berlaku itu, atau dengan emas atau perak. Karena untuk mengembalikan yang semisal (al-Mitsl) tidak memungkinkan, sehingga dikembalikan dalam bentuk nilai (al-Qimah).

Ibnu Qudamah mengatakan:

وَإِنْ كَانَ الْقَرْضُ فُلُوسًا أو مكسرة فَحَرَّمَهَا السُّلْطَانُ، وَتُرِكَتْ الْمُعَامَلَةُ بِهَا، كَانَ لِلْمُقْرِضِ قِيمَتُهَا، وَلَمْ يَلْزَمْهُ قَبُولُهَا، سَوَاءٌ كَانَتْ قَائِمَةً فِي يَدِهِ أَوْ اسْتَهْلَكَهَا ؛ لِأَنَّهَا تَعَيَّبَتْ فِي مِلْكِهِ

Apabila utang dalam bentuk uang kertas atau uang logam, kemudian pemerintah menariknya dan tidak lagi menggunakan jenis uang ini, maka orang mengutangi berhak mendapat uang yang senilai. Dan dia tidak harus menerima uang kuno itu, baik uang yang diutangkan itu masih ada di tangan, maupun sudah rusak. Karena tidak memungkinkan untuk memilikinya. [al-Mughni, 4/244].

Kemudian beliau menegaskan:

يقومها كم تساوي يوم أخذها؟ ثم يعطيه، وسواء نقصت قيمتها قليلا أو كثيرا

Dia tentukan berapa nilai uang ketika dia mengambilnya. Kemudian dia berikan uang itu. Baik nilainya turun sedikit maupun banyak. [al-Mughni, 4/244].

Sebagai ilustrasi, pada 1991 si A memberi utang 50 ribu bergambar Presiden Oribua. Pada 2011 si B melunasi dengan uang 50 ribu bergambar I Gusti Ngurah Rai. Karena uang kuno, tidak berlaku. Meskipun nilai 50 ribu dari 1991 hingga 2011 mengalami penurunan yang sangat tajam.

Keenam

Pembayaran utang dalam bentuk yang lain

Dibolehkan menerima pembayaran utang dalam bentuk yang lain, misalnya utang uang dibayar emas, atau utang Rupiah dibayar Dollar, atau semacamnya dengan syarat:

 

  • Kesepakatan beda jenis pembayaran ini tidak dilakukan pada saat utang, namun baru disepakati pada saat pelunasan.
  • Menggunakan standar harga waktu pelunasan, dan bukan harga waktu utang.

[Fatwa Dar al-Ifta’ Yordan: http://aliftaa.jo/Question.aspx?QuestionId=2032#.VAfLYdeSz6d]

Keterangan di atas, berdasarkan keputusan Majma’ al-Fiqhi al-Islami no. 75 (6/7], yang menyatakan:

 يجوز أن يتفق الدائن والمدين يوم السداد – لا قبله – على أداء الدين بعملة مغايرة لعملة الدين، إذا كان ذلك بسعر صرفها يوم السداد

 Boleh dilakukan kesepakatan antara kreditur dan debitur pada waktu pelunasan – bukan pada waktu sebelumnya – untuk pelunasan utang dengan mata uang yang beribueda dengan mata uang ketika utang. Jika standar harga sesuai harga tukar uang itu, waktu pelunasan.

Dalil bolehnya hal ini adalah hadis dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa beliau menjual onta di Baqi’ dengan Dinar, dan mengambil pembayarannya dengan Dirham. Kemudian beliau mengatakan:

 أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ: إِنِّي أَبِيعُ الْإِبِلَ بِالْبَقِيعِ بِالدَّنَانِيرِ وَآخُذُ الدَّرَاهِمَ، قَالَ: «لَا بَأْسَ أَنْ تَأْخُذَ بِسِعْرِ يَوْمِهَا مَا لَمْ تَفْتَرِقَا، وَبَيْنَكُمَا شَيْءٌ»

 Aku mendatangi Nabi ﷺ dan kusampaikan: ”Saya menjual onta di Baqi’ dengan Dinar secara kredit dan aku menerima pembayarannya dengan Dirham. Beliau ﷺ bersabda:

”Tidak masalah kamu mengambil dengan harga hari pembayaran, selama kalian tidak berpisah, sementara masih ada urusan jual beli yang belum selesai.” [HR. Ahmad 5555, Nasai 4582, Abu Daud 3354, dan yang lainnya].

Sebagai ilustrasi:

Misal, pada 1991 harga emas 25 ribu/gr. Tahun 2014 harga emas 400 ribu/gr. Pada 1991, uang Rp 1 juta mendapat 40 gr emas, sedangkan pada 2014, hanya mendapat 2,5 gr.

Pada 1991 si A utang 1 juta ke si B. Selanjutnya mereka berpisah lama. Tahun 2014, mereka ketemu dan si B meminta utang si A dilunasi dengan emas. Ada beberapa kasus di sini:

  • Poin A: Si B menuntut agar utang si A dibayar dengan 40 gr emas.
  • Poin B: Si B menuntut agar utang si A dibayar dengan uang senilai 40 gr emas, sekitar 16 juta.
  • Poin C: Si B menuntut agar utang si A dibayar dengan 2,5 gr emas.
  • Poin D: Si B menuntut agar utang si A dibayar dengan uang senilai 2,5 gr emas, sehingga nilainya tetap 1 juta.

Dari keempat kasus di atas, untuk kasus Poin A dan Poin B statusnya TERLARANG, karena termasuk riba dalam utang piutang. Dan ini tidak memenuhi syarat kedua seperti yang disebutkan dalam fatwa di atas, meskipun pada 1991, mereka tidak pernah melakukan kesepakatan ini.

Sementara kasus Poin C dan Poin D ini yang BENAR, memenuhi kedua syarat yang disebutkan dalam fatwa di atas.

Secara sederhana, si B mengalami kerugian, karena nilai 1 juta dulu dan sekarang jauh berbeda. Namun sekali lagi, inilah konsekuensi utang piutang. Pemberi utang mendapatkan pahala, karena membantu orang lain. Di sisi lain, dia harus siap dengan konsekuensi penurunan nilai mata uang.

Ketujuh

Kelebihan dalam pelunasan utang

Dibolehkan adanya kelebihan dalam pelunasan utang dengan syarat:

  1. Tidak ada kesepakatan di awal
  2. Dilakukan murni atas inisiatif orang yang berutang
  3. Bukan tradisi masyarakat setempat

Dalilnya hadis dari Abu Rafi’ radhiallahu ‘anhu, beliau menceritakan:

 أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم اسْتَسْلَفَ من رَجُلٍ بَكْرًا، فَقَدِمَتْ عليه إِبِلٌ من إِبِلِ الصَّدَقَةِ، فَأَمَرَ أَبَا رَافِعٍ أَنْ يَقْضِيَ الرَّجُلَ بَكْرَهُ، فَرَجَعَ إليه أبو رَافِعٍ، فقال: لم أَجِدْ فيها إلا خِيَارًا رَبَاعِيًا، فقال: أَعْطِهِ إِيَّاهُ إِنَّ خِيَارَ الناس أَحْسَنُهُمْ قَضَاءً

 Pada suatu saat Rasulullah ﷺ berutang seekor anak unta dari seseorang. Lalu datanglah kepada Nabi ﷺ unta-unta zakat. Maka beliau ﷺ memerintahkan Abu Raafi’ untuk mengganti anak unta yang beliau ﷺ utang dari orang tersebut. Tak selang beberapa saat, Abu Raafi’ kembali menemui beliau ﷺ dan berkata: “Aku hanya mendapatkan unta yang telah genap berumur  enam tahun.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya: “Berikanlah unta itu kepadanya, karena sebaik-baik manusia adalah orang yang paling baik pada saat melunasi piutangnya.” [Muttafaqun ‘alaih]

Akan tetapi, jika keberadaan tambahan ini diberikan karena ada kesepakatan di awal, atau permintaan pihak yang mengutangi (kreditor), atau karena masyarakat setempat memiliki kebiasaan bahwa setiap utang harus bayar lebih, maka tambahan semacam ini terhitung riba.

Demikian beberapa kaidah terkait penagihan utang. Semoga Allah menjadikan kita Muslim yang selalu menyesuaikan diri dengan aturan syariat.

 

Sumber:

http://pengusahamuslim.com/4201-7-kaidah-dalam-menagih-utang-bagian-01.html

http://pengusahamuslim.com/4205-7-kaidah-dalam-menagih-utang-bagian-02-selesai.html

, ,

MOTOR KEMBALI, BENSIN ISI PENUH, APAKAH INI RIBA?

MOTOR KEMBALI, BENSIN ISI PENUH, APAKAH INI RIBA?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#UtangRiba
#FikihJualBeli

MOTOR KEMBALI, BENSIN ISI PENUH, APAKAH INI RIBA?

Ada ilustrasi berikut:

Contoh riba yang ‘kadang’ tidak kita sadari:
 
“Om, pinjem motornya ya…” tanya Pardi
“Ya, itu ambil aja sendiri di garasi, kuncinya ini. Tapi nanti bensinnya diisi penuh ya,” jawab Om Hadi.
Ribanya adalah tambahan pengembalian pinjaman berupa bensin.
Apa ini benar?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Mengambil keuntungan sekecil apapun dari transaksi utang piutang, dilarang dalam Islam. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Fudhalah bin Ubaid radhiyallahu ‘anhu:

كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً فَهُوَ رِبًا

“Semua utang yang menghasilkan manfaat, STATUSNYA RIBA” (HR. al-Baihaqi dengan sanadnya dalam al-Kubro)

Termasuk di antarannya tambahan yang dipersyaratkan ketika pelunasan utang.

Sahabat Abdullah bin Sallam radhiyallahu ‘anhu pernah menyampaikan nasihat kepada Abu Burdah, yang ketika itu baru tiba di Iraq. Dan di sana ada tradisi, siapa yang berutang maka ketika melunasi, dia harus membawa sekeranjang hadiah.

إِنَّكَ فِى أَرْضٍ الرِّبَا فِيهَا فَاشٍ وَإِنَّ مِنْ أَبْوَابِ الرِّبَا أَنَّ أَحَدَكُمْ يَقْرِضُ الْقَرْضَ إِلَى أَجْلٍ فَإِذَا بَلَغَ أَتَاهُ بِهِ وَبِسَلَّةٍ فِيهَا هَدِيَّةٌ فَاتَّقِ تِلْكَ السَّلَّةَ وَمَا فِيهَا

“Saat ini kamu berada di daerah, yang riba di sana tersebar luas. Di antara pintu riba adalah, jika kita memberikan utang kepada orang lain sampai waktu tertentu, jika jatuh tempo tiba, orang yang berutang membayarkan cicilan, dan membawa sekeranjang berisi buah-buahan sebagai hadiah. Hati-hatilah dengan keranjang tersebut dan isinya.” [HR. Baihaqi dalam Sunan Kubro]

Namun larangan hadiah ketika pelunasan ini berlaku, apabila transaksinya utang-piutang. Dan di antara konsekuensi dalam transaksi utang piutang (al-Qardh) adalah terjadinya perpindahan hak milik terhadap objek utang, dari pemberi utang ke penerima utang.

Berbeda dengan akad pinjam-meminjam (al-Ariyah), objek yang dipinjamkan tidak mengalami perpindahan kepemilikan. Sehingga peminjam tidak memiliki hak apapun terhadap barang itu, selain hak guna sementara, selama izin yang diberikan pihak yang meminjamkan.

Jika kita utang motor, maka kita berhak memiliki motor itu. Selanjutnya bisa kita jual, kita sewakan atau digadaikan untuk utang.

Lain halnya jika kita pinjam motor, lalu kita jual, atau kita sewakan atau digadaikan untuk utang, kita akan disebut orang yang tidak amanah. Karena motor ini bukan motor kita, tapi motor kawan kita. Kita hanya punya hak guna pakai selama masih diizinkan.

Karena itulah, benda habis pakai, hanya mungkin dilakukan akad utang. Meskipun ketika akad menyebutnya pinjam, namun hukumnya utang. Misalnya, makanan, uang, atau benda habis pakai lainnya.

As-Samarqandi dalam Tuhfatul Fuqaha’ mengatakan:

كل ما لا يمكن الانتفاع به إلا باستهلاكه، فهو قرض حقيقة، ولكن يسمى عارية مجازا، لانه لما رضي بالانتفاع به باستهلاكه ببدل، كان تمليكا له ببدل

Semua benda yang tidak mungkin bisa dimanfaatkan kecuali dengan menghabiskannya, maka hakikatnya hanya bisa diutangkan. Namun bisa disebut pinjam sebagai penggunaan majaz. Karena ketika pemilik merelakan untuk menggunakan barang itu melalui cara dihabiskan dengan mengganti, berarti terjadi perpindahan hak milik dengan mengganti. [Tuhfatul Fuqaha’, 3/178]

Al-Kasani menjelasakan dengan menyebutkan beberapa contoh:

وعلى هذا تخرج إعارة الدراهم والدنانير أنها تكون قرضا لا إعارة ; لأن الإعارة لما كانت تمليك المنفعة أو إباحة المنفعة على اختلاف الأصلين , ولا يمكن الانتفاع إلا باستهلاكها , ولا سبيل إلى ذلك إلا بالتصرف في العين لا في المنفعة

Berdasarkan penjelasan ini dipahami, bahwa meminjamkan Dinar atau Dirham, statusnya adalah utang dan bukan pinjam meminjam. Karena pinjam-meminjam hanya untuk benda yang bisa diberikan dalam bentuk perpindahan manfaat (hak pakai). Sementara Dinar Dirham tidak mungkin dimanfaatkan, kecuali dengan dihabiskan. Tidak ada cara lain untuk itu, selain menghabiskan bendanya, bukan mengambil hak gunanya.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan:

لو استعار حليا ليتجمل به صح ; لأنه يمكن الانتفاع به من غير استهلاك بالتجمل… وكذا إعارة كل ما لا يمكن الانتفاع به إلا باستهلاكه كالمكيلات والموزونات , يكون قرضا لا إعارة لما ذكرنا أن محل حكم الإعارة المنفعة لا بالعين

Jika ada yang meminjam perhiasan untuk dandan, statusnya sah sebagai pinjaman. Karena perhiasan mungkin dimanfaatkan tanpa harus dihabiskan ketika dandan… sementara meminjamkan benda yang tidak mungkin bisa dimanfaatkan kecuali dengan dihabiskan, seperti bahan makanan yang ditakar atau ditimbang, statusnya utang, bukan pinjam meminjam, sesuai apa yang kami sebutkan sebelumnya, bahwa posisi pinjam meminjam hanya hak guna, bukan menghabiskan bendanya. (Bada’I as-Shana’I, 8/374)

Pinjam Motor, Bukan Utang Motor

Karena itulah, ketika akadnya pinjam motor, lalu dikembalikan dalam waktu yang ditentukan dengan kondisi barang yang sama, TIDAK bisa disebut utang motor.

Sehingga ketika pengembalian dipenuhi bensinnya, bukan termasuk tambahan atas utang, sehingga TIDAK ada kaitannya dengan riba.

Allahu a’lam.

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/29437-motor-kembali-bensin-isi-penuh-ini-riba.html

JANGANLAH TOLAK KEBAIKAN DAN KERINGANAN YANG DIBERIKAN ALLAH

JANGANLAH TOLAK KEBAIKAN DAN KERINGANAN YANG DIBERIKAN ALLAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#AdabAkhlak

JANGANLAH TOLAK KEBAIKAN DAN KERINGANAN YANG DIBERIKAN ALLAH

Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa memberikan keringanan pada hamba-hamba-Nya, dan Allah subhanahu wa ta’ala suka jika keringanan yang Dia berikan, digunakan oleh si hamba. Dalam hadis yang shahih, Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ أَنْ تُؤْتَى رُخَصُهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ تُؤْتَى مَعْصِيَتُهُ

“Sesungguhnya Allah menyukai, jika keringanan-keringanan yang Dia berikan dijalankan, sebagaimana halnya Dia benci jika larangan-Nya dilanggar.” [HR. Ahmad (5866) dan Ibnu Hibban (2742). Dinilai shahih oleh asy-Syaikh Muhammad Nashir demikian pula Muhaqqiq Musnad].

Sesungguhnya, kebanyakan dari kita telah keliru, saat kita tidak menerima kebaikan dan keringanan dari Allah subhanahu wa ta’ala. Dan itu juga berarti kita telah menimpakan mudarat pada diri kita sendiri. Padahal Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَلاَ تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُم

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” [QS. an-Nisaa’: 29) (Idem, VI/342]

Wallahu a’lam.

Sumber: http://nasehatetam.com/read/310/tetap-berusaha-puasa-meski-sakit#sthash.X3q3juGy.dpuf

ANAK-ANAK KITA SAAT RAMADAN

ANAK-ANAK KITA SAAT RAMADAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatPuasaNabi

ANAK-ANAK KITA SAAT RAMADAN

>> Usia Berapa Mulai Baligh?

Pertanyaan:

Pada usia berapa anak dikatakan telah baligh, sehingga dia sudah wajib berpuasa?

Jawaban:

Ukuran baligh tidak semata bersandar pada usia. Yang pasti, jika dia mengalami salah satu saja dari hal berikut ini, dia teranggap sebagai orang yang baligh:

  1. Tumbuh bulu kemaluan,
  2. Telah keluar mani (baik dalam kondisi sadar atau melalui mimpi basah),
  3. Mencapai usia lima belas tahun,
  4. Haid (untuk wanita). [Lihat: al-Jaami fii Fiqh Ibn Baaz, 497-498]

>> Kapan Anak Disuruh Berpuasa?

Pertanyaan:

Pada usia berapakah tepatnya, anak mesti diperintah untuk puasa?

Jawaban:

Sebagian ulama menganalogikan puasa dengan ibadah shalat. Yaitu pada usia tujuh tahun sudah mesti diperintah untuk puasa, jika saat berusia sepuluh tahun dia meninggalkan puasa, maka dipukul. [Lihat: al-Mughni, IV/412-413]

Nampaknya keterangan asy-Syaikh al-‘Utsaimiin rahimahullah berikut bisa menjadi acuan kita dalam masalah ini. Beliau berkata:

إذا كان صغيراً لم يبلغ فإنه لا يلزمه الصوم ، ولكن إذا كان يستطيعه دون مشقة فإنه يؤمر به ، وكان الصحابة رضي الله عنهم يُصوِّمون أولادهم ، حتى إن الصغير منهم ليبكي فيعطونه اللعب يتلهى بها ، ولكن إذا ثبت أن هذا يضره فإنه يمنع منه

“Anak kecil yang belum baligh tidak wajib berpuasa. Namun jika dia sudah bisa puasa dengan tanpa kesulitan, maka saat itu dia mulai diperintah. Dan dahulu para sahabat, mereka biasa melatih anak-anaknya untuk berpuasa saat masih kecil. Bahkan sampai-sampai di antara anak-anak mereka ada yang menangis, lalu diberi mainan (agar pikirannya teralihkan). Tapi jika dilatih puasa itu bakal membahayakan kondisi si anak, maka jangan.” [Majmu Fataawaa wa Rasaa’il, XIX/83]

Artinya, tidak ada batasan usia kapan mulai memerintah mereka puasa. Kapan kira-kira tidak membuat mereka terkena mudharat (bahaya karena tidak kuat berpuasa), maka saat itulah mulai dilatih. Namun mesti diingat, ada perbedaan antara susah menjalankan puasa dengan mudharat:

– Susah menjalankan puasa bagi anak kecil: Belum tentu akan membahayakan dirinya. Kondisi susah yang dialami si anak lantaran puasa, jangan sampai menjadikan orang tua enggan melatih mereka puasa.

– Namun jika memudharatkan: Sudah barang tentu mereka kesusahan. Pada kondisi inilah orang tua tidak boleh memaksa mereka untuk puasa.

>> Dapatkah Pahala Jika Anak Kecil Puasa?

Ditanyakan kepada asy-Syaikh Muhammad bin Shaalih al-‘Utsaimiin rahimahullah:

Pertanyaan:

Apa hukumnya anak kecil puasa?

جـ: صيام الصبي كما أسلفنا ليس بواجب عليه بل هو سنة، له أجره إن صام، وليس عليه إثم إن أفطر، ولكن على ولي أمره أن يأمره به ليعتاده

Jawaban:

“Puasanya anak kecil sebagaimana telah kami terangkan, hukumnya tidak wajib, namun sebatas sunnah. Sehingga jika dia berpuasa maka dapat pahala, jika tidak maka tidak berdosa. Tapi orang yang mengurusnya hendaklah memerintah dia agar puasa, hingga akhirnya terbiasa.” [Majmu’ Fataawaa wa Rasaa’il, XIX/84]

 

Dinukil dari berbagai kitab fikih yang tersebut di atas.

Rangkaian tulisan seputar puasa dalam Majmu’ah al-Mubarakah ini dikumpulkan oleh: Abdush Shamad Tenggarong -Semoga Allah menjaganya dan meluruskan tiap langkahnya-

 

Sumber: http://nasehatetam.com/read/307/anak-kita-saat-Ramadan#sthash.cjHaOwQ3.dpuf

, ,

RIBA DALAM KEGIATAN MAKAN BERSAMA

RIBA DALAM KEGIATAN MAKAN BERSAMA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SayNoToRiba

RIBA DALAM KEGIATAN MAKAN BERSAMA

Langsung saja saya berikan ilustrasi

Ali: ”Assalamu ‘alaykum. Adi lagi di mana?
Adi: Wa ‘alaykumus salam warahmatullah. Lagi di pasar nih.
Ali: Oya kebetulan. Tolong belikan rambutan 1kg. Nanti sampai rumah diganti uangnya.
Adi: Ok deh
Ali: Ya udah itu aja saja. Assalamu ‘alaykum.
Adi: Wa ‘alaykumus salam warahmatullah ‎

(Sudah sampai rumah Ali)
Adi: Assalamu ‘alaykum
Ali: Wa’alaykumus salam
Adi: Ini pesanannya.
Ali: Syukron. Ayo kita makan sama-sama. Tenang saja nanti diganti uangnya.

Kemudian Adi dan Ali makan rambutan bersama-sama. Maka Adi telah makan riba.

Apakah ini benar, bahwa Adi telah memakan riba?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Mengambil keuntungan sekecil apapun dari transaksi utang piutang, dilarang dalam Islam, sebagaimana yang dinyatakan oleh Fudhalah bin Ubaid radhiyallahu ‘anhu:

كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً فَهُوَ رِبًا

“Semua utang yang menghasilkan manfaat, statusnya riba” (HR. al-Baihaqi dengan sanadnya dalam al-Kubro)

Termasuk di antaranya adalah hadiah dan pemberian sebelum utang lunas. Meskipun bentuknya jasa.

Sahabat Abdullah bin Sallam pernah mengatakan:

إِذَا كَانَ لَكَ عَلَى رَجُلٍ حَقٌّ فَأَهْدَى إِلَيْكَ حِمْلَ تِبْنٍ ، أَوْ حِمْلَ شَعِيرٍ أَوْ حِمْلَ قَتٍّ ، فَلاَ تَأْخُذْهُ ، فَإِنَّهُ رِبًا

“Apabila kamu mengutangi orang lain, kemudian orang yang diutangi memberikan fasilitas membawakan jerami, gandum, atau pakan ternak, maka janganlah menerimanya, karena itu riba.” (HR. Bukhari 3814).

Dalam riwayat lain, nasihat Abdullah bin Sallam ini beliau sampaikan kepada Abu Burdah, yang ketika itu tiba di Iraq. Dan di sana ada tradisi, siapa yang berutang maka ketika melunasi, dia harus membawa sekeranjang hadiah.

إِنَّكَ فِى أَرْضٍ الرِّبَا فِيهَا فَاشٍ وَإِنَّ مِنْ أَبْوَابِ الرِّبَا أَنَّ أَحَدَكُمْ يَقْرِضُ الْقَرْضَ إِلَى أَجْلٍ فَإِذَا بَلَغَ أَتَاهُ بِهِ وَبِسَلَّةٍ فِيهَا هَدِيَّةٌ فَاتَّقِ تِلْكَ السَّلَّةَ وَمَا فِيهَا

“Saat ini kamu berada di daerah yang riba di sana tersebar luas. Di antara pintu riba adalah, jika kita memberikan utang kepada orang lain sampai waktu tertentu, jika jatuh tempo tiba, orang yang berutang membayarkan cicilan dan membawa sekeranjang berisi buah-buahan, sebagai hadiah. Hati-hatilah dengan keranjang tersebut dan isinya.” (HR. Baihaqi dalam Sunan Kubro).

Hanya saja, ada catatan yang perlu kita perhatikan, bahwa:

‘Utang tidak memutus silaturrahmi’

‘Utang tidak memutus hubungan baik seseorang dengan kawannya’

Dan seterusnya.

Karena itu, siapa yang punya kebiasaan baik dengan saudaranya, seperti saling memberi hadiah atau saling membantu dalam berbagai urusan, jangan sampai kebiasaan ini dihentikan gara-gara utang.

 

Nabi ﷺ bersabda:

تَهَادُوا تَحَابُّوا

“Lakukanlah saling menghadiahilah, niscaya kalian saling mencintai.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad 594 dan dihasankan al-Albani).

Karena itulah, kaitannya hadiah dengan akad utang piutang dibagi menjadi dua:

[1] Hadiah yang diberikan karena latar belakang akad utang piutang. Andai tidak berlangsung akad utang-piutang, tentu tidak akan akan ada hadiah.

[2] Hadiah yang tidak ada hubungannya dengan akad utang piutang, meskipun keduanya kadang melakukan akad utang piutang. Misalnya, kakak adik, mereka sudah terbiasa saling memberi hadiah ketika lebaran. Suatu ketika adik utang ke kakak. Dan ketika lebaran, mereka saling memberi hadiah, meskipun utang adik belum lunas.

Tapi kita bisa memahami, hadiah yang ada dalam hal ini sama sekali TIDAK ADA KAITANNYA dengan transaksi utang piutang. Hadiah yang sudah terjadi karena kebiasaan sebelumnya.

Hadiah ini diperbolehkan, meskipun utang belum lunas. Karena sudah menjadi kebiasaan sebelumnya, sehingga tidak ada hubungannya dengan utang piutang.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu:

إِذَا أَقْرَضَ أَحَدُكُمْ قَرْضًا فَأَهْدَى لَهُ أَوْ حَمَلَهُ عَلَى الدَّابَّةِ فَلاَ يَرْكَبْهَا وَلاَ يَقْبَلْهُ إِلاَّ أَنْ يَكُونَ جَرَى بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ قَبْلَ ذَلِكَ

“Apabila kalian mengutangkan sesuatu kepada orang lain, kemudian (orang yang berutang) memberi hadiah kepada yang mengutangi, atau memberi layanan berupa naik kendaraannya (dengan gratis), janganlah menaikinya dan jangan menerimanya, kecuali jika sudah terbiasa mereka saling memberikan hadiah sebelumnya.” (HR. Ibnu Majah 2432)

Karena sekali lagi, utang tidak memutus silaturrahmi. Jangan sampai gara-gara utang, justru mereka saling tegang, tidak bisa cair, tidak semakin akrab, dan kaku terhadap jamuan.

Bagaimana dengan Kasus Talangan Jajan?

Kasus di atas, seperti yang umum di masyarakat kita, TIDAK ADA KAITANNYA dengan utang piutang. Dalam arti, mereka sudah terbiasa melakukannya, meskipun mereka tidak terlibat dalam akad utang piutang. Sehingga makan bersama di sini, sama sekali tidak ada hubungannya dengan utang.

Insya Allah dibolehkan, dan bukan riba.

Allahu a’lam

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber: https: //konsultasisyariah.com/29299-riba-dalam-kegiatan-makan-bersama.html

 

,

TUJUH ORANG YANG TIDAK BOLEH MENERIMA ZAKAT

TUJUH ORANG YANG TIDAK BOLEH MENERIMA ZAKAT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Zakat

TUJUH ORANG YANG TIDAK BOLEH MENERIMA ZAKAT

Tujuh Orang Yang Tidak Berhak Menerima Zakat yaitu:

Pertama: Keluarga Rasulullah ﷺ (Ahlul Bait)

Mereka tidak boleh makan harta zakat sedikit pun berdasarkan pernyataan tegas dari Rasulullah ﷺ:

إِنَّ الصَّدَقَةَ لَا تَنْبَغِي لِآلِ مُحَمَّدٍ إِنَّمَا هِيَ أَوْسَاخُ النَّاسِ

“Sesungguhnya zakat tidak boleh diberikan kepada keluarga Muhammad ﷺ. Zakat adalah kotoran manusia.” (HR. Muslim 1072, An-Nasai 2609, dan yang lainnya).

Dalam riwayat lain, Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ هَذِهِ الصَّدَقَةَ، إِنَّمَا هِيَ أَوْسَاخُ النَّاسِ، وَإِنَّهَا لَا تَحِلُّ، لِمُحَمَّدٍ وَلَا لِآلِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Zakat adalah kotoran harta manusia, tidak halal bagi Muhammad, tidak pula untuk keluarga Muhammad ﷺ.” (HR. Abu Daud 2985)

Keluarga Nabi ﷺ adalah semua keturunan Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib.

Kedua: Orang Kaya

Rasulullah ﷺ bersabda:

وَلَا حَظَّ فِيهَا لِغَنِيٍّ، وَلَا لِقَوِيٍّ مُكْتَسِبٍ

“Tidak ada hak zakat untuk orang kaya, maupun orang yang masih kuat bekerja..” (HR. Nasa’i 2598, Abu Daud 1633, dan dishahihkan Al-Albani).

Orang Kaya yang Dapat Zakat

Mereka adalah orang kaya yang masuk dalam daftar Delapan Golongan Penerima Zakat: Amil, muallaf, orang yang berperang, orang yang terlilit utang karena mendamaikan dua orang yang sengketa, dan Ibnu Sabil yang memiliki harta di kampungnya.

Ibnu Qudamah mengatakan:

من يأخذ مع الغنى خمسة؛ العامل، والمؤلف قلبه، والغازي، والغارم لإصلاح ذات البين، وابن السبيل الذي له اليسار في بلده

Orang yang berhak menerima zakat meskipun kaya, ada lima: Amil, muallaf, orang yang berperang, orang yang kelilit utang karena mendamaikan sengketa, dan Ibnu Sabil yang memiliki harta di kampungnya. (Al-Mughni, 6/486).

Ketiga: Orang Kafir

Ketika Nabi ﷺ mengutus Muadz bin Jabal ke Yaman, beliau meminta agar Muadz mengajarkan tauhid, kemudian sholat, kemudian baru zakat. Beliau ﷺ bersabda:

فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً فِي أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ وَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ

“Ajarkan kepada mereka, bahwa Allah mewajibkan kepada mereka zakat harta mereka. Diambilkan dari orang kaya mereka dan dikembalikan kepada orang miskin mereka.” (HR. Bukhari 1395 & Muslim 19).

Yang dimaksud ‘mereka’ pada hadis di atas adalah masyarakat Yaman yang telah masuk Islam.

Ibnul Mundzir menukil adanya kesepakatan ulama bahwa orang kafir tidak boleh menerima zakat. Beliau menegaskan:

وأجمعوا على أن لا صدقة على أهل الذمة في شيء من أموالهم ما داموا مقيمين

“Para ulama sepakat, bahwa orang kafir Dzimmi tidak berhak mendapatkan zakat sedikit pun dari harta kaum Muslimin, selama mereka mukim.” (Al-Ijma’, hlm. 49).

Meninggalkan Sholat Termasuk Kafir

Termasuk orang kafir adalah orang yang asalnya Muslim, kemudian dia melakukan pembatal Islam. Seperti meninggalkan sholat atau melakukan praktik perdukunan, ilmu kebal, atau penyembah kuburan. Mereka tidak berhak mendapatkan zakat, meskipun dia orang miskin.

Dikecualikan dari aturan ini adalah orang kafir muallaf. Orang kafir yang tertarik masuk Islam, dan diharapkan bisa masuk Islam setelah menerima zakat. (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah, 23/325).

Keempat: Setiap orang yang wajib dinafkahi oleh Muzakki (wajib zakat)

Termasuk aturan baku terkait penerima zakat, zakat tidak boleh diberikan kepada orang yang wajib dinafkahi oleh Muzakki (wajib zakat), seperti istri, anak dan seterusnya ke bawah atau orang tua dan seterusnya ke atas. (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah, 23/326).

Zakat kepada anak atau orang tua yang tidak mampu, atau kepada orang yang wajib dia nafkahi, akan menggugurkan kebutuhan nafkah mereka. Sehingga ada sebagian manfaat zakat yang kembali kepada Muzakki.

Kelima: Orang Fasik Atau Ahli Bid’ah

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah  menceritakan kasus zakat yang pernah dialami orang Muzakki yang soleh:

قَالَ رَجُلٌ لَأَتَصَدَّقَنَّ اللَّيْلَةَ بِصَدَقَةٍ، فَخَرَجَ بِصَدَقَتِهِ فَوَضَعَهَا فِي يَدِ زَانِيَةٍ، فَأَصْبَحُوا يَتَحَدَّثُونَ تُصُدِّقَ اللَّيْلَةَ عَلَى زَانِيَةٍ، قَالَ: اللهُمَّ، لَكَ الْحَمْدُ عَلَى زَانِيَةٍ، لَأَتَصَدَّقَنَّ بِصَدَقَةٍ، فَخَرَجَ بِصَدَقَتِهِ فَوَضَعَهَا فِي يَدِ غَنِيٍّ، فَأَصْبَحُوا يَتَحَدَّثُونَ: تُصُدِّقَ عَلَى غَنِيٍّ، قَالَ: اللهُمَّ، لَكَ الْحَمْدُ عَلَى غَنِيٍّ، لَأَتَصَدَّقَنَّ بِصَدَقَةٍ، فَخَرَجَ بِصَدَقَتِهِ فَوَضَعَهَا فِي يَدِ سَارِقٍ، فَأَصْبَحُوا يَتَحَدَّثُونَ: تُصُدِّقَ عَلَى سَارِقٍ، فَقَالَ: اللهُمَّ، لَكَ الْحَمْدُ عَلَى زَانِيَةٍ، وَعَلَى غَنِيٍّ، وَعَلَى سَارِقٍ، ….

Ada seseorang mengatakan: ‘Malam ini aku akan membayar zakat.’ Dia keluar rumah dengan membawa harta zakatnya. Kemudian dia berikan kepada wanita pelacur (karena tidak tahu). Pagi harinya, masyarakat membicarakan, tadi malam ada zakat yang diberikan wanita pelacur. Orang ini pun bergumam: ‘Ya Allah, segala puji bagi-Mu. Zakatku jatuh ke tangan pelacur.’

‘Saya akan bayar zakat lagi.’ Ternyata malam itu dia memberikan zakatnya kepada orang kaya. Pagi harinya, masyarakat membicarakan, tadi malam ada zakat yang diberikan kepada orang kaya. Orang ini pun bergumam: ‘Ya Allah, segala puji bagi-Mu. Zakatku jatuh ke tangan orang kaya.’

‘Saya akan zakat lagi.’ Malam itu, dia serahkan zakatnya kepada pencuri. Pagi harinya, masyarakat membicarakan, tadi malam ada zakat yang diberikan kepada pencuri. Orang ini pun bergumam: ‘Ya Allah, segala puji bagi-Mu. Zakatku jatuh ke tangan pelacur, orang kaya, dan pencuri…” (HR. Bukhari 1421 dan Muslim 1022).

Al-Hafidz Ibn Hajar menjelaskan:

قوله اللهم لك الحمد أي لا لي لأن صدقتي وقعت بيد من لا يستحقها فلك الحمد حيث كان ذلك بإرادتك أي لا بإرادتي فإن إرادة الله كلها جميلة

Ucapan Muzakki: ‘Ya Allah, segala puji bagi-Mu’ maksud orang ini, aku salah sasaran, karena zakatku jatuh ke tangan orang yang tidak berhak. Maka segala puji bagi-Mu, di mana kejadian itu semata karena kehendak-Mu, artinya bukan kehendakku. Dan semua kehendak Allah itu baik. (Fathul Bari, Syarh Shahih Bukhari, 3/290).

Hadis ini menunjukkan, bahwa orang fasik itu contohnya pencuri atau pelacur.

Dalam Mausu’ah dinyatakan:

وقد صرح المالكية بأن الزكاة لا تعطى لأهل المعاصي إن غلب على ظن المعطي أنهم يصرفونها في المعصية، فإن أعطاهم على ذلك لم تجزئه عن الزكاة، وفي غير تلك الحال تجوز، وتجزئ

Malikiyah menegaskan, zakat tidak boleh diberikan kepada ahli maksiat, jika muzakki memiliki dugaan kuat, zakat itu akan mereka gunakan untuk melakukan maksiat. Jika dia berikan kepada ahli maksiat untuk mendukung kemaksiatannya, zakatnya tidak sah. Namun jika diberikan untuk selain tujuan itu, boleh dan sah. (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah, 23/328).

Syaikhul Islam menjelaskan:

فينبغي للإنسان أن يتحرى بها المستحقين من الفقراء. والمساكين والغارمين وغيرهم من أهل الدين المتبعين للشريعة فمن أظهر بدعة أو فجورا فإنه يستحق العقوبة بالهجر وغيره. والاستتابة فكيف يعان على ذلك

Selayaknya bagi seseorang untuk menempatkan zakatnya pada orang yang berhak menerima zakat, baik orang fakir, miskin, orang yang kelilit utang, atau lainnya, yang agamanya baik, mengikuti syariah. Karena orang yang terang-terangan melakukan bid’ah atau perbuatan maksiat, dia berhak mendapatkan hukuman dengan diboikot atau hukuman lainnya. Sehingga, bagaimana mungkin dia dibantu (dengan zakat). (Majmu’ Fatawa, 25/87).

Sementara sebagian Hanafiyah membolehkan memberi zakat kepada Ahli Bid’ah, selama dia termasuk Delapan Golongan yang Berhak Menerima Zakat. Dengan syarat, bid’ahnya tidak sampai menyebabkan dia keluar dari Islam. (Hasyiyah Ibn Abidin, 2/388).

Namun yang selayaknya kita dahulukan adalah penerima zakat yang baik, yang menjaga agamanya, bukan Ahli Bid’ah atau maksiat. Sehingga harta yang kita berikan, akan membantunya untuk melakukan ketaatan. Sebagaimana yang disarankan oleh Rasulullah ﷺ:

لَا تُصَاحِبْ إِلَّا مُؤْمِنًا، وَلَا يَأْكُلْ طَعَامَكَ إِلَّا تَقِيٌّ

“Jangan miliki teman dekat, kecuali seorang Mukmin. Dan jangan sampai makan makananmu, kecuali orang yang bertakwa.” (HR. Ahmad 11337, Abu Daud 4832, Turmudzi 2395, dan sanadnya dinilai Hasan oleh Syuaib Al-Arnauth).

Keenam: Budak

Dalam hukum fikih, budak seutuhnya milik tuannya, sehingga yang dilakukan budak, harus atas izin tuannya. Termasuk harta yang dimiliki budak, harta ini menjadi milik tuannya. Misal, seorang budak diberi suatu benda oleh orang lain, benda ini menjadi milik tuannya. Sehingga, ketika dia mendapat zakat, sejatinya zakat ini diberikan kepada tuannya. Sementara zakat tidak boleh diberikan kepada orang yang mampu.

Yang dikecualikan dalam hal ini adalah Budak Mukatab. Budak Mukatab adalah budak yang melakukan perjanjian dengan tuannya untuk menebus dirinya jika dia sanggup membayar sejumlah uang. Misal, budak A dijanjikan tuannya, jika sanggup membayar 5 juta, dia bebas. Budak semacam ini berhak mendapatkan zakat.

Ketujuh: Anak Yatim Kaya

Di surat At-Taubah ayat 60, Allah telah menyebutkan Delapan Golongan Yang Berhak Menerima Zakat. Dari delapan orang itu, tidak disebutkan anak yatim. Artinya, yatim bukan kriteria orang yang berhak menerima zakat. Kecuali jika yatim ini adalah orang miskin, karena tidak memiliki warisan.

 

Allahu a’lam

 

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

Sumber:

http://www.konsultasisyariah.com/7-orang-yang-tidak-boleh-menerima-zakat-bagian-01/

http://www.konsultasisyariah.com/yang-tidak-boleh-menerima-zakat/

 

┈┈»̶·̵̭̌✽✽✽✽·̵̭̌«̶┈┈

 

 

,

KAIDAH: PERINTAH LEBIH BESAR DARIPADA LARANGAN

KAIDAH: PERINTAH LEBIH BESAR DARIPADA LARANGAN

#KaidahFikih

KAIDAH: PERINTAH LEBIH BESAR DARIPADA LARANGAN

الْمَأْمُوْرُ بِهِ أَعْظَمُ مِنَ الْمَنْهِيِّ عَنْهُ

Kaidah: Perintah lebih besar daripada larangan

Makna Kaidah

Kaidah ini termasuk kaidah yang besar di sisi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, dan termasuk patokan pokok dalam metode fikihnya. Hal ini nampak dari banyaknya tarjih dan ikhtiyar beliau yang dikaitkan dengan kaidah ini dan kaidah-kaidah lain yang menjadi cabangnya.

Kaidah ini menjelaskan, bahwa perhatian syariat terhadap perkara yang diperintahkan, lebih besar dan lebih kuat, daripada perhatiannya terhadap perkara yang dilarang. Sebagaimana dikatakan oleh Syaihul Islam Ibnu Taimiyah:

“Sesungguhnya jenis mengerjakan perintah itu lebih besar daripada jenis meninggalkan larangan. Dan jenis meninggalkan perintah lebih besar daripada jenis mengerjakan larangan. Dan sesungguhnya pahala bani Adam karena mengerjakan kewajiban lebih besar daripada pahala yang diraihnya karena meninggalkan perkara yang haram. Dan dosa meninggalkan perintah lebih besar daripada dosa mengerjakan larangan.” [Majmu’ al-Fatawa, 20/85].

Karena perintah lebih besar daripada larangan, baik ditinjau dari jenisnya, pahalanya, maupun dosanya. Maka ini menunjukkan, bahwa perhatian syariat terhadap perkara yang diperintahkan lebih besar daripada perhatiannya terhadap perkara yang dilarang.

Ada beberapa kaidah lain yang menjadi cabang dan turunan dari kaidah ini. Semuanya semakin memerjelas dan menguatkan, bahwa tingkat keutamaan dalam perintah lebih besar daripada yang ada dalam larangan [Lihat pula pembahasan tentang kaidah ini dalam al-Qawa’id wa al-Fawa’id al-Ushuliyyah, Ibnu al-Lahham, hlm. 191; Fath al-Bari, Ibnu Hajar, 13/262. Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, Ibnu Rajab, hlm. 83-84. Fath al-Mubin li Syarh al-Arba’in, Ibnu Hajar al-Haitsami, hlm. 132-133. Al-Bahr al-Muhith, az-Zarkasyi, 1/274].

Di antara kaidah-kaidah tersebut adalah:

Kaidah Pertama:

اْلأُمُوْرُ الْمَنْهِيُّ عَنْهَا يُعْفَى فِيْهَا عَنِ النَّاسِي وَالْمُخْطِئِ

Perkara-perkara yang terlarang, pelakunya dimaafkan jika dilakukan oleh orang yang lupa atau tersalah

Misalnya seseorang yang makan atau minum ketika berpuasa karena lupa, maka ia dimaafkan dan puasanya tidak batal. Demikian pula seseorang yang memakai minyak wangi, atau memakai penutup kepala, atau memotong kukunya ketika dalam keadaan ihram karena lupa atau tersalah, maka ia tidak berdosa, dan tidak ada kewajiban membayar fidyah, karena seseorang yang mengerjakan larangan karena lupa atau tersalah maka dimaafkan.

Ini berkaitan dengan larangan. Adapun perkara yang diperintahkan, maka kewajiban pelaksanaannya tidak gugur dari orang yang lupa atau tersalah, bahkan tetap wajib untuk dikerjakan.

Kaidah Kedua:

مَا كَانَ مَنْهِيًّا عَنْهُ لِلذَّرِيْعَةِ فَإِنَّهُ يُفْعَلُ لِلْمَصْلَحَةِ الرَّاجِحَةِ

Perkara yang dilarang dalam rangka preventif boleh dikerjakan saat ada maslahat yang lebih kuat

Seperti haramnya seorang laki-laki melihat wanita yang bukan mahramnya. Larangan tersebut ada, karena hal itu bisa menjadi sarana yang mengantarkan kepada fitnah atau sarana perzinaan. Namun jika ada maslahat yang lebih kuat, maka adakalanya hal tersebut diperbolehkan. Seperti seorang laki-laki yang ingin menikahi wanita, maka diperbolehkan baginya untuik melihat wajah si wanita. Atau seorang dokter yang perlu melihat anggota badan pasien wanita dalam rangka pengobatan.

Demikian pula haramnya shalat di waktu-waktu larangan. Pengharaman tersebut ada, karena bisa menjadi sarana yang mengantarkan pada tasyabbuh (menyerupai) ibadah orang-orang kafir yang sujud kepada matahari. Namun jika ada maslahat yang lebih kuat, maka shalat di waktu tersebut diperbolehkan, seperti mengqadha’ shalat wajib yang terlewat, shalat jenazah, dan shalat-shalat lainnya yang memiliki sebab menurut pendapat yang kuat [Lihat pula pembahasan tentang kaidah cabang ini dalam Syarh Manzhumah Ushul al-Fiqh wa Qawi’idihi, Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, Cet. I, Tahun 1426 H, Dar Ibni al-Jauzi, Damam, hlm. 64-67].

Dalil Yang Mendasarinya

Berkaitan dengan kaidah ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebutkan beberapa bentuk pendalilan yang sangat bagus. Beliau rahimahullah menyebutkan, tidak kurang dari dua puluh dua pendalilan. Adapun yang paling kuat di antaranya adalah sebagai berikut:

  • Sesungguhnya perbuatan maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang pertama kali adalah dilakukan oleh nenek moyang jin (iblis) dan nenek moyang manusia (Adam). Dalam hal ini, kemaksiatan yang dilakukan oleh iblis lebih awal dan lebih besar. Kemaksiatan tersebut berupa PENOLAKAN iblis dari melaksanakan PERINTAH Allah Azza wa Jalla berupa sujud kepada Adam. Ini termasuk kategori meninggalkan perintah. Adapun yang dilakukan oleh Adam, yaitu memakan dari pohon di Surga. Ini termasuk kategori MENGERJAKAN LARANGAN. Dari dua jenis tersebut, ternyata kadar dosa Adam lebih ringan. Dari sini dapat diketahui, bahwa jenis meninggalkan perintah itu lebih besar daripada jenis mengerjakan larangan.

Demikian pula, bentuk pelanggaran yang dilakukan iblis tersebut ternyata berupa dosa besar, sekaligus kekufuran yang tidak diampuni. Sedangkan pelanggaran yang dilakukan oleh Adam berupa kesalahan yang lebih ringan, dan diberikan ampunan darinya. Sebagaimana firman-Nya:

فَتَلَقَّىٰ آدَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

“Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. [al –Baqarah/2:37]

Lima rukun Islam merupakan amalan-amalan yang masuk kategori perkara yang diperintahkan. Apabila seseorang meninggalkannya, maka banyak dari kalangan Ulama yang mewajibkan hukuman bunuh bagi pelakunya. Bahkan adakalanya dihukumi sebagai seorang yang kafir, keluar dari agama Islam. Di antaranya, apabila seseorang tidak mau mengucapkan Dua Kalimat Syahadat padahal ia mampu mengucapkannya. Sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah:, “Adapun Dua Kalimat Syahadat, apabila seseorang tidak mengucapkannya padahal ia mampu, maka ia adalah orang kafir berdasarkan kesepakatan kaum  Muslimin.” (Majmu’ al-Fatawa, 7/609). (Lihat  at-Takfir wa Dhawabithuhu, Syaikh Ibrahim bin ‘Amir ar-Ruhailiy, Dar al-Imam Ahmad, hlm. 229)

Adapun mengerjakan larangan yang madharatnya tidak menyebar kepada orang lain, maka para ulama tidak mewajibkan hukuman bunuh atas pelakunya, dan tidak pula dihukumi kufur, asalkan perkara tersebut tidak membatalkan keimanan. Dari sini dapat diketahui, bahwa meninggalkan perintah perkaranya lebih besar daripada mengerjakan larangan.

Sesungguhnya maksud dari adanya larangan, adalah supaya perkara yang dilarang itu tidak ada, yaitu tidak dikerjakan. Sedangkan Al ‘Adam (Ketidakadaan) itu secara asal tidak ada unsur kebaikan di dalamnya. Adapun perkara yang diperintahkan itu adalah sesuatu yang maujud (dituntut keberadaannya). Dan perkara yang maujud asalnya merupakan perkara yang baik, bermanfaat, dan dicari. Bahkan merupakan suatu kepastian, bahwa setiap yang ada  pasti ada manfaatnya. Karena setiap yang ada itu telah diciptakan oleh Allah Azza wa Jalla , dan Dia tidak menciptakan sesuatu pun kecuali dengan hikmah. Berbeda dengan sesuatu yang ma’dum (tidak ada) yang tidak ada sesuatu pun di dalamnya. Oleh karena itulah Allah Azza wa Jalla berfirman:

الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ

“Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya. [as-Sajdah/32:7]

Dan Allah Azza wa Jalla berfirman:

صُنْعَ اللَّهِ الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ

(Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu. [an-Naml/27:88]

Dengan demikian dapat kita ketahui, bahwa apa yang terkandung di dalam perintah itu lebih sempurna dan lebih mulia, daripada apa yang ada dalam larangan.

Contoh Penerapan Kaidah

Di antara contoh implementasi kaidah ini adalah sebagai berikut:

Perkara-perkara yang diperintahkan tidaklah gugur karena nisyan (lupa) atau jahl (tidak tahu). Adapun perkara-perkara yang dilarang, maka gugur (dimaafkan) jika seseorang lupa atau tidak tahu [Lihat Majmu’ al-Fatawa, 21/477].

Jika seseorang meninggalkan perkara yang diperintahkan maka ada kewajiban mengqadha’ (menggantinya), meskipun ia meninggalkannya karena uzur. Seperti seseorang yang meninggalkan puasa karena sakit atau safar, dan orang yang meninggalkan shalat karena tertidur, maka wajib untuk mengqadha’nya. Demikian pula orang yang meninggalkan salah satu kewajiban dalam manasik haji maka tetap wajib mengerjakannya jika masih memungkinkan atau dengan membayar dam. Maka tidaklah gugur tuntutan dalam perintah tersebut sampai ia mengerjakannya.

Adapun orang yang mengerjakan perkara yang dilarang karena lupa, tersalah, tertidur, atau tidak tahu, maka ia dimaafkan. Dan tidak ada kewajiban baginya untuk membayar ganti rugi, kecuali jika hal itu mengakibatkan kerusakan atau kerugian bagi orang lain [Lihat Majmu’ al-Fatawa, 20/95].

Dipersyaratkan adanya niat untuk mengerjakan perkara-perkara yang diperintahkan, seperti shalat, puasa, haji, dan semisalnya [Lihat Majmu’ al-Fatawa, 21/477]. Adapun perkara-perkara yang dilarang maka tidak dipersyaratkan adanya niat untuk meninggalkannya, seperti menghilangkan najis, meninggalkan zina, meninggalkan pencurian, dan semisalnya [Diangkat dari kitab al-Qawa’id wa adh-Dhawabith al-Fiqhiyyah ‘inda Ibni Taimiyyah fi Kitabai at-Thaharah wa as-Shalah, Nashir bin ‘Abdillah al-Miman, Cet. II, Tahun 1426 H/2005 M, Jami’ah Ummul Qura, Makkah al-Mukarramah, hlm. 199-202].

Wallahu a’lam.

 

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XVII/1435H/2014. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]

 

Sumber: https://almanhaj.or.id/4385-kaidah-ke-55-perintah-lebih-besar-daripada-larangan.html

,

NABI-NABI DAHULU KHUSUS UNTUK KAUMNYA SAJA

NABI-NABI DAHULU KHUSUS UNTUK KAUMNYA SAJA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

#MutiaraHadis

NABI-NABI DAHULU KHUSUS UNTUK KAUMNYA SAJA

Nabi Muhammad ﷺ memiliki banyak keistimewaan. Salah satunya adalah beliau ﷺ diutus oleh Allah untuk seluruh manusia dan jin. Adapun seluruh nabi sebelum beliau ﷺ hanyalah diutus untuk umatnya masing-masing. Perkara ini merupakan perkara yang telah pasti di dalam agama Islam, sebagaimana disebutkan di dalam hadis di bawah ini:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أُعْطِيتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ قَبْلِي نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيرَةَ شَهْرٍ وَجُعِلَتْ لِي الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا فَأَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي أَدْرَكَتْهُ الصَّلَاةُ فَلْيُصَلِّ وَأُحِلَّتْ لِي الْمَغَانِمُ وَلَمْ تَحِلَّ لِأَحَدٍ قَبْلِي وَأُعْطِيتُ الشَّفَاعَةَ وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً

Dari Jabir bin Abdullah, bahwa Nabi Muhammad ﷺ bersabda: “Aku diberi (oleh Allah) lima perkara, yang itu semua tidak diberikan kepada seorang pun sebelumku:

  1. Aku ditolong (oleh Allah) dengan kegentaran (musuh sebelum kedatanganku) sejauh perjalanan sebulan.
  2. Bumi (tanah) dijadikan untukku sebagai masjid (tempat sholat) dan alat bersuci (untuk tayammum-pen). Maka siapa saja dari umatku yang (waktu) sholat menemuinya, hendaklah dia sholat.
  3. Ghonimah (harta rampasan perang) dihalalkan untukku, dan itu tidaklah halal untuk seorang pun sebelumku.
  4. Aku diberi syafaat (oleh Allah).
  5. Dan Nabi-Nabi dahulu (sebelumku) diutus khusus kepada kaumnya, sedangkan aku diutus kepada manusia semuanya [Hadis Shohih Riwayat Bukhori, no: 335].

 

Sumber: https://muslim.or.id/6353-agama-islam-untuk-seluruh-manusia.html

, ,

NASIHATKU UNTUK MAHASISWA: TINGGALKAN JALANAN, DATANGI MAJELIS ILMU

NASIHATKU UNTUK MAHASISWA: TINGGALKAN JALANAN, DATANGI MAJELIS ILMU

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

#Dakwah_Tauhid
#Kajian_Sunnah

NASIHATKU UNTUK MAHASISWA: TINGGALKAN JALANAN, DATANGI MAJELIS ILMU

Untuk saudaraku mahasiswa Muslim dan kaum Muslimin secara umum rahimakumullaah -semoga Allah merahmatimu-. Sungguh aku mencintai kalian karena Allah subhanahu wa ta’ala, luangkanlah sejenak waktumu tuk membaca goresan singkat ini.

Ketahuilah wahai saudaraku, menuntut ilmu agama, mengamalkannya dan mendakwahkannya, terutama ilmu tauhid dan sunnah, adalah kunci keselamatan di dunia dan Akhirat.

➡ Allah ta’ala berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mendapat petunjuk.” [Al-An’am: 82]

Simak pembahasan lebih detail: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/445573202258834:0

Karena hanya dengan itulah seorang hamba dapat merealisasikan tujuan penciptaannya di muka bumi untuk beribadah kepada Allah ta’ala.

➡ Sebagaimana firman-Nya:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالأِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku saja.” [Adz-Dzariyyat: 56]

Simak pembahasan lebih detail: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/446534128829408:0

Oleh karena itu, berdakwah kepada tauhid adalah perhatian utama para pejuang yang sejati, para teladan yang dipilih Allah ta’ala untuk menjadi contoh sepanjang umur dunia. Merekalah para pembela kebenaran yang hakiki. Tidak ada manusia yang lebih baik dari mereka, yaitu para nabi dan rasul ‘alaihimus sholaatu was salaam. Tugas utama mereka adalah berdakwah kepada tauhid, menyelamatkan manusia dari lembah kesyirikan dan kekafiran, demi meraih kebahagiaan yang hakiki di dunia dan Akhirat.

➡ Sebagaimana firman Allah ta’ala:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sungguh, Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): Sembahlah Allah saja, dan jauhilah Thaghut (yang disembah selain Allah) itu.” [An-Nahl: 36]

Simak pembahasan lebih detail: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/448489465300541:0

Dan tauhid yang melahirkan iman dan amal saleh adalah KUNCI KEMAKMURAN NEGERI.

➡ Allah ta’ala berfirman:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu, dan mengerjakan amal-amal saleh, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa. Dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada memersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” [An-Nur: 55]

➡ Allah ta’ala juga berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barang siapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” [An-Nahl: 97]

Para ulama ahli tafsir menyebutkan, bahwa makna kehidupan yang baik dalam ayat yang mulia ini mencakup:

  • Pertama: Rezeki yang baik lagi halal di dunia dan diberikan dari arah yang tidak ia sangka-sangka.
  • Kedua: Bersifat qona’ah (merasa cukup berapa pun rezeki yang Allah ta’ala anugerahkan).
  • Ketiga: Beriman kepada Allah ta’ala dan selalu taat kepada-Nya.
  • Keempat: Meraih manisnya ketaatan kepada Allah ta’ala.
  • Kelima: Keselamatan dan kecukupan.
  • Keenam: Kebahagiaan di dunia.
  • Ketujuh: Rida dengan takdir Allah ‘azza wa jalla.
  • Kedelapan: Kenikmatan di kubur.
  • Kesembilan: Kenikmatan di Surga.
  • Kesepuluh: Ketenangan jiwa.

[Lihat Tafsir Ath-Thabari, 17/289-291, Zadul Masir libnil Jauzi, 2/582 dan Tafsir As-Sa’di, hal. 448]

Simak pembahasan lebih detail: http://sofyanruray.info/jalan-kebahagiaan-setiap-hamba/

Wahai saudaraku mahasiswa Muslim dan kaum Muslimin seluruhnya rahimakumullaah –semoga Allah merahmatimu-. Inilah jalan untuk memerbaiki negeri, yaitu iman dan amal saleh, yang mencakup dua perkara penting:

  • Menauhidkan Allah subhanahu wa ta’ala dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun,
  • Meneladani Rasulullah ﷺ dan tidak mengada-ada (berbuat bid’ah) dalam agama atau menyelisihi syariat beliau.

Apa Langkah Awal Untuk Menempuh Jalan Perbaikan Ini…?

Pertama kali adalah memerbaiki diri kita sendiri dengan menuntut ilmu agama dan mengamalkannya dengan baik, kemudian memerbaiki orang lain.

Karena tidak mungkin kita dapat beriman dan beramal saleh dengan benar tanpa ilmu yang shahih, yaitu ilmu yang berdasarkan Alquran dan As-Sunnah dengan pemahaman Salaf.

Adapun demo-demo yang kalian lakukan, sungguh hanyalah mendatangkan mudarat, jauh melebihi manfaatnya –jika ada manfaatnya-.

Di antara mudarat besar yang sudah sangat merugikan masyarakat adalah memacetkan jalan. Bayangkanlah jika ternyata ada orang sakit atau ibu yang mau melahirkan yang sangat butuh pertolongan darurat, kemudian terjebak macet akibat demo-demo kalian…?!

Tidak ingatkah kalian akan pertanggungjawabannya di hadapan Allah jalla wa ‘ala kelak di Hari Kiamat…?!

Dan inilah ringkasan beberapa MUDARAT DEMONSTRASI yang diingatkan para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah:

  1. Memrovokasi masyarakat untuk memberontak kepada Penguasa. Terlebih jika nasihat dalam demo tersebut tidak diindahkan oleh Penguasa, maka akibatnya akan semakin memrovokasi massa dan menceraiberaikan kesatuan kaum Muslimin (lihat Fathul Bari, 13/51-52).
  1. Cara mengingkari kemungkaran Penguasa dengan terang-terangan mengandung penentangan terhadapnya (lihat Umdatul Qaari, 22/33, Al-Mufhim, 6/619).
  1. Pencemaran nama baik dan ghibah kepada Penguasa, yang dapat mengantarkan kepada perpecahan masyarakat dan Pemerintah Muslim (lihat Umdatul Qaari, 22/33).
  1. Mengakibatkan masyarakat tidak mau menaati Penguasa dalam hal yang baik (lihat Haqqur Ro’i, hal. 27).
  1. Menyebabkan permusuhan antara Pemimpin dan rakyatnya (lihat Al-Ajwibah Al-Mufidah, hal. 99).
  1. Menjadi sebab ditolaknya nasihat oleh Penguasa (lihat Fathul Bari, 13/52).
  1. Menyebabkan tertumpahnya darah seorang Muslim, sebagaimana yang terjadi pada sahabat yang Mulia Utsman bin ‘Affan radhiyallahu’anhu akibat demonstrasi kaum Khawarij (lihat Syarah Muslim, 18/118).
  1. Menghinakan Sulthan Allah, yang telah Allah takdirkan sebagai Penguasa bagi kaum Muslimin (lihat As-Sailul Jarror, 4/556).
  1. Munculnya riya’ dalam diri pelakunya (lihat Madarikun Nazhor, hal.211).
  1. Mengganggu ketertiban umum.
  1. Menimbulkan kemacetan di jalan-jalan.
  1. Mengganggu stabilitas ekonomi.
  1. Tidak jarang adanya ikhtilat (campur baur antara laki-laki dan wanita) ketika demonstrasi, bahkan pada demo yang mereka sebut Islami sekali pun.
  1. Menyelisihi petunjuk Rasulullah ﷺ dan sahabat dalam menasihati Penguasa.
  1. Mengikuti jalan Ahlul Bid’ah (Khawarij) dan orang-orang kafir.

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber:  http://sofyanruray.info/nasihatku-untuk-mahasiswa-tinggalkan-jalanan-datangi-majelis-ilmu/

 

,

PETUNJUK DALAM MENYIKAPI KENAIKAN HARGA

PETUNJUK DALAM MENYIKAPI KENAIKAN HARGA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Mutiara_Sunnah

PETUNJUK DALAM MENYIKAPI KENAIKAN HARGA

Sahabat yang Mulia Anas bin Malik radhiyallahu’anhu berkata:

غَلاَ السِّعْرُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، سَعِّرْ لَنَا، فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمُسَعِّرُ، القَابِضُ، البَاسِطُ، الرَّزَّاقُ، وَإِنِّي لأَرْجُو أَنْ أَلْقَى رَبِّي وَلَيْسَ أَحَدٌ مِنْكُمْ يَطْلُبُنِي بِمَظْلِمَةٍ فِي دَمٍ وَلاَ مَالٍ

“Harga barang pernah naik di masa Rasulullah ﷺ, maka para sahabat berkata: Wahai Rasulullah, aturlah ketetapan harga untuk kami. Beliau ﷺ bersabda: Sesungguhnya Allah, Dia-lah yang mengatur harga, yang menahan, yang melapangkan dan yang Maha Memberikan Rezeki, dan sungguh aku berharap untuk berjumpa dengan Rabbku dalam keadaan tidak ada seorang pun dari kalian yang menuntutku karena suatu kezaliman pada darah dan harta.” [HR. Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, Ghayatul Marom: 323]

Beberapa Pelajaran:

1) Allah ta’ala, Dia-lah yang menakdirkan segala sesuatu yang terjadi di alam ini. Dia-lah yang menetapkan harga, menyempitkan dan melapangkan rezeki. Maka hendaklah setiap hamba hanya bersandar dan berdoa kepada-Nya, bersabar dan bertaubat kepada-Nya, serta senantiasa bertakwa kepada-Nya. Sahabat yang Mulia Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata:

أَنَّ رَجُلًا جَاءَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، سَعِّرْ، فَقَالَ: «بَلْ أَدْعُو» ثُمَّ جَاءَهُ رَجُلٌ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، سَعِّرْ، فَقَالَ: بَلِ اللَّهُ يَخْفضُ وَيَرْفَعُ، وَإِنِّي لَأَرْجُو أَنْ أَلْقَى اللَّهَ وَلَيْسَ لِأَحَدٍ عِنْدِي مَظْلَمَةٌ

“Bahwa seseorang datang kepada Rasulullah ﷺ lalu berkata: Wahai Rasulullah, tetapkanlah harga untuk kami. Maka beliau ﷺ bersabda: “Aku hanya bisa berdoa”. Kemudian datang lagi orang yang lain lalu berkata: Wahai Rasulullah tetapkanlah harga untuk kami. Maka beliau ﷺ bersabda: Sesungguhnya Allah yang menurunkan dan menaikkan harga, dan sungguh aku berharap untuk berjumpa dengan Allah, dalam keadaan tidak ada seorang pun yang menuntutku karena suatu kezaliman.” [HR. Ahmad dan Abu Daud, Shahih Ar-Raudh An-Nadhir: 405]

2) Kenaikan harga adalah karena kondisi pasar mengharuskan demikian, seperti karena kurangnya barang, atau banyaknya permintaan, atau naiknya harga BBM dan lain-lain. Adapun apabila kenaikan harga disebabkan ‘permainan’ para pedagang, maka termasuk perbuatan zalim, dan tidak dibenarkan bagi para pedagang untuk menetapkan harga melebihi pasaran.

3) Hadis ini juga menunjukkan, bahwa pemerintah tidak boleh menetapkan harga-harga barang, tetapi hendaklah membiarkan sesuai kondisi pasar yang berlaku. Kecuali apabila para pedagang memermainkan harga, maka hendaklah pemerintah mengaturnya, sesuai dengan harga yang sebenarnya (lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 13/185 no. 6374 Pertanyaan no. 2).

4) Ulama berbeda pendapat tentang (الْمُسَعِّرُ) yang menetapkan harga, (القَابِضُ) yang menahan rezeki, (البَاسِطُ) yang melapangkan rezeki, (الرَّزَّاقُ) yang memberi rezeki, apakah termasuk nama-nama Allah atau tidak. Yang dikuatkan oleh Al-‘Allamah Al-Muhaddits Asy-Syaikh Abdul Muhsin Al-‘Abbad hafizhahullah adalah, hanya Ar-Rozzaq yang merupakan nama Allah ta’ala berdasarkan firman-Nya:

إن الله هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

“Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi Rezeki Yang Memunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” [Adz-Dzariyyat: 58]

Adapun hadis ini tidak menetapkan nama-nama Allah ta’ala. Maka tiga nama sebelumnya adalah termasuk sifat-sifat perbuatan Allah ta’ala, namun bukan termasuk nama-nama-Nya (lihat Syarhu Sunan Abi Daud, 8/394 versi Asy-Syaamilah).

5) Rasulullah ﷺ sangat takut berbuat zalim, dan beliau ﷺ telah memeringatkan bahayanya dalam hadis ini, sebagaimana beliau ﷺ juga bersabda:

أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِى يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِى قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِى النَّارِ

“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu?” Sahabat menjawab: “Orang yang bangkrut di tengah-tengah kami adalah orang yang tidak memiliki Dinar dan harta”. Maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada Hari Kiamat dengan membawa amalan sholat, puasa, zakat, namun dia pernah mencaci Fulan, menuduh Fulan, memakan harta Fulan, menumpahkan darah Fulan dan memukul Fulan. Maka diambil kebaikan-kebaikan yang pernah dia lakukan untuk diberikan kepada orang-orang yang pernah dia zalimi. Hingga apabila kebaikan-kebaikannya habis sebelum terbalas kezalimannya, maka kesalahan orang-orang yang pernah dia zalimi ditimpakan kepadanya, kemudian dia dilempar ke Neraka.” [HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

6) Kesempurnaan Islam mengatur seluruh aspek kehidupan manusia dengan aturan yang paling baik, demi meraih kebahagiaan di dunia dan Akhirat.

7) Aturan Islam tegak di atas keadilan dan kemaslahatan, sangat jauh dari kezaliman dan kemudaratan.

8) Kewajiban tunduk kepada ketetapan Allah ta’ala, dan Rasulullah ﷺ serta para sahabat radhiyallahu’anhum adalah sebaik-baik teladan dalam beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla.

9) Rasulullah ﷺ adalah manusia biasa seperti kita juga. Beliau ﷺ tidak punya andil sedikit pun dalam menguasai dan mengatur alam ini. Beliau ﷺ tunduk dengan ketetapan Allah tabaraka wa ta’ala. Beliau ﷺ bersandar dan bermohon hanya kepada-Nya. Maka tidak sepatutnya beliau ﷺ dipersekutukan dengan Allah jalla wa ‘ala.

Maka hendaklah kita meneladani beliau ﷺ yang hanya beribadah kepada Allah ta’ala; hanya bersandar dan berdoa kepada-Nya, tidak kepada malaikat, para nabi dan orang-orang saleh yang telah meninggal dunia. Karena berdoa kepada selain Allah ta’ala termasuk syirik besar, yang menyebabkan pelakunya murtad, keluar dari Islam dan mengekalkannya di Neraka.

10) Apabila beliau ﷺ tidak pantas dipersekutukan dengan Allah, maka seluruh makhluk selain beliau ﷺ yang derajatnya lebih rendah dari beliau ﷺ, apakah malaikat, para nabi dan para wali, tentunya lebih tidak patut dipersekutukan dengan Allah tabaraka wa ta’ala.

 

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

 

Sumber: http://sofyanruray.info/petunjuk-dalam-menyikapi-kenaikan-harga/

 

📋 PETUNJUK DALAM MENYIKAPI KENAIKAN HARGAبِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ✅ Sahabat yang Mulia Anas bin Malik…

Sofyan Chalid bin Idham Ruray – www.SofyanRuray.info 发布于 2017年1月4日