Posts

,

MENASIHATI ATAU MEMERMALUKAN?

MENASIHATI ATAU MEMERMALUKAN?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
MENASIHATI ATAU MEMERMALUKAN?
 
Ibnu Rajab al Hambali rahimahullah berkata:
“Apabila para salaf hendak memberikan nasihat kepada seseorang, maka mereka menasihatinya secara rahasia. Barang siapa yang menasihati saudaranya berduaan saja, maka itulah nasihat. Dan barang siapa yang menasihatinya di depan orang banyak, maka sebenarnya dia memermalukannya.” [Jami’ Al ‘Ulum wa Al Hikam, halaman 77]
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
 
 
#nasihatiataumemermalukan #nasihatiataumempermalukan? #nasehat #nasihat #bikinmalu #sembunyisembunyi #diamdiam #empatmata #berduaansaja #didepanorangbanyak
, ,

SUNGGUH BAHAGIA, SUNGGUH CELAKA…

SUNGGUH BAHAGIA, SUNGGUH CELAKA...
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
SUNGGUH BAHAGIA, SUNGGUH CELAKA…
 
Nabi ﷺ bersabda:
“Wahai orang-orang yang beriman dengan lisannya, namun belum masuk iman itu ke dalam hatinya! Janganlah kalian mengghibah kaum Muslimin. Jangan pula kalian mencari-cari aib/kesalahan mereka. Karena, sesungguhnya orang yang mencari-cari aib mereka, niscaya Allah akan cari-cari aib yang ada pada dirinya. Dan barang siapa yang Allah cari-cari aibnya, maka Allah akan ungkap aibnya tersebut, meskipun dia ada di dalam rumahnya” [HR. Abu Daawud No. 4880]
 
Hal ini adalah yang harus dilakukan oleh seorang muhtasib dalam melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar, yaitu menutupi aib orang yang berbuat maksiat, selama ia tidak melakukannya terang-terangan, dan tidak terdapat alasan yang syari untuk membukanya.
 
Sehingga tidak dibenarkan seorang muhtasib berdakwah kepada orang tertentu tanpa memperhatikan etika dalam berdakwah. Misalnya menasihati seseorang yang melakukan kesalahan secara sembunyi-sembunyi, dengan terang-terangan di depan umum. Karena hal ini akan menimbulkan kebencian pada diri orang yang didakwahi tersebut, sehingga ia menolak ajakannya, walaupun ia tahu, bahwa itu adalah ajakan yang benar.
 
Oleh karena itu Imam Syafii berkata:
“Barang siapa menasihati saudaranya dengan sembunyi-sembunyi, maka ia telah menasihati dan menghiasinya. Dan barang siapa menasihati saudaranya secara terang-terangan, maka ia telah mempermalukan dan menghinakannya.”
 
Alangkah baiknya jika seorang muhtasib benar-benar memahami masalah ini, sehingga ia tidak menasihati seseorang kecuali di tempat yang jauh dari pendengaran dan penglihatan orang lain. Jika hal ini dilaksanakan dengan baik dan ikhlas, insya Allah hati orang yang diajak akan mudah terbuka.
 
 
Kitab ‘Haqiqah Amar ma’ruf Nahi Mungkar’ DR. Muhammad Al-Ammar
 
 
Penyusun: Arinal Haq
 

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
www.nasihatsahabat.com

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

 

#aib #ghibah #busybody #menasehati #menasihat #secaraterangterangan #diamdiam #muhtasib #adabakhlak, #adabberdakwah #menutupiaib, #orangyangberbuatmaksiat #mencaricariaib #sembunyisembunyi #menasihati #berimandenganlisannya

, ,

DOAKANLAH SAUDARAMU DI SAAT DIA TIDAK MENGETAHUINYA

DOAKANLAH SAUDARAMU DI SAAT DIA TIDAK MENGETAHUINYA
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 DOAKANLAH SAUDARAMU DI SAAT DIA TIDAK MENGETAHUINYA
 
Hadis Pertama
Dari Abu Bakar Ash Shidiq radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: 
“إن دعوة الأخ في الله تستجاب”
 
“Sesungguhnya doa seseorang kepada saudaranya karena Allah adalah doa yang mustajab (terkabulkan).“ (Shahih secara sanad)
 
Hadis Kedua
Dari Shofwan bin ‘Abdillah bin Shofwan, istrinya adalah Ad Darda’ binti Abid Darda’, beliau mengatakan:
 
قدمت عليهم الشام، فوجدت أم الدرداء في البيت، ولم أجد أبا الدرداء. قالت: أتريد الحج العام ؟ قلت : نعم. قالت: فادع الله لنا بخير؛ فإن النبي صلى الله عليه وسلم كان يقول
 
“Saya tiba di negeri Syam, kemudian saya bertemu dengan Ummud Darda’ (ibu mertua Shofwan, pen) di rumah. Namun saya tidak bertemu dengan Abud Darda’ (bapak mertua Shofwan, pen). Ummu Darda’ berkata: “Apakah engkau ingin berhaji tahun ini?” Aku (Shofwan) berkata: “Iya.”
Ummu Darda’ pun mengatakan: “Kalau begitu doakanlah kebaikan padaku karena Nabi ﷺ pernah bersabda:
 
: “إن دعوة المرء المسلم مستجابة لأخيه بظهر الغيب، عند رأسه ملك موكل، كلما دعا لأخيه بخير، قال: آمين، ولك بمثل”. قال: فلقيت أبا الدرداء في السوق، فقال مثل ذلك، يأثر عن النبي صلى الله عليه وسلم.
 
“Sesungguhnya doa seorang Muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendoakan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan doanya. Tatkala dia mendoakan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: Aamiin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.”
 
Shofwan pun mengatakan: “Aku pun bertemu Abu Darda’ di pasar, lalu Abu Darda’ mengatakan sebagaimana istrinya tadi. Abu Darda’ mengatakan, bahwa dia menukilnya dari Nabi ﷺ.” [(Shahih) Lihat Ash Shahihah (1399): [Muslim: 48-Kitab Adz Dzikr wad Du’aa’, hal. 88]
 
Hadis Ketiga
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, beliau berkata bahwa seseorang mengatakan:
 
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى وَلِمُحَمَّدٍ وَحْدَنَا
 
“Ya Allah ampunilah aku dan Muhammad saja!”
Rasulullah ﷺ lantas bersabda:
 
لَقَدْ حَجَبْتَهَا عَنْ نَاسٍ كَثِيرٍ
 
“Sungguh engkau telah menyempitkan doamu tadi dari doa kepada orang banyak.” (Shahih) Lihat Al Irwa’ (171): [Bukhari: 78-Kitab Al Adab, 27-Bab: Kasih Sayang Terhadap Sesama Manusia dan Terhadap Hewan Ternak, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu]
 
Pelajaran yang dapat dipetik dari hadis-hadis di atas:
 
Pertama: Islam sangat mendorong umatnya agar dapat mengikat hubungan antara saudaranya sesama Muslim dalam berbagai keadaan dan di setiap saat.
 
Kedua: Doa seorang Muslim kepada saudaranya karena Allah di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa yang sangat utama dan doa yang akan segera terijabahi (mustajab). Orang yang mendoakan saudaranya tersebut akan mendapatkan semisal yang didapatkan oleh saudaranya.
 
Ketiga: Ada malaikat yang bertugas mengaminkan doa seorang Muslim kepada suadaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya.
 
Keempat: Malaikat tidaklah mengaaminkan doa selain doa dalam kebaikan.
 
Kelima: Sebagaimana terdapat dalam hadis ketiga di atas, Nabi ﷺ mengingkari Arab Badui, di mana dia membatasi rahmat Allah yang luas meliputi segala makhluk-Nya, lalu dibatasi hanya pada dirinya dan Nabi Muhammad ﷺ saja.
 
Inilah beberapa pelajaran berharga dari hadis di atas. Janganlah lupakan saudaramu di setiap engkau bermunajat dan memanjatkan doa kepada Allah, apalagi orang-orang yang telah memberikan kebaikan padamu, terutama dalam masalah agama dan Akhiratmu. Ingatlah ini!
 
Semoga Allah selalu menambahkan kepada kita ilmu yang bermanfaat.
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#doazikir, #do’a, #doa, #zikir, #diamdiam, #sembunyisembuyi, #adamaiaikatdiataskepala, #adamalaikatdi ampingnya, #doakansaudaramu, #doakankawanmu, #sahabat, #doaseorangMuslimkepadasaudaranyakarena Allah, #doa eorangMuslimkepada saudaranya tanpadiketahi, #doaseorangMuslimkepadasaudaranyasecaradiamdiam, #doaseorangMuslimkepadasaudaranyatanpadiketahui #kawan #saudara #sodara #shahabat #malaikatmengaminkandoa #doakepadasaudara, #doakepadasodara, #doakepadateman, #doakepadakawan #tanpadiketahui #tidakdiketahui #adamalaikatdisisinya

MEMBELANJAKAN HARTA TANPA IZIN SUAMI

MEMBELANJAKAN HARTA TANPA IZIN SUAMI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah

MEMBELANJAKAN HARTA TANPA IZIN SUAMI

Pertanyaan:

Dosakah istri yang secara diam-diam membantu keluarganya dengan menggunakan uang hasil kerjanya sendiri, karena suami kurang memerhatikan orang tua istri?”

Jawaban:

عَنْ أَيُّوبَ قَالَ سَمِعْتُ عَطَاءً قَالَ سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ قَالَ أَشْهَدُ عَلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – – أَوْ قَالَ عَطَاءٌ أَشْهَدُ عَلَى ابْنِ عَبَّاسٍ – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – خَرَجَ وَمَعَهُ بِلاَلٌ ، فَظَنَّ أَنَّهُ لَمْ يُسْمِعِ النِّسَاءَ فَوَعَظَهُنَّ ، وَأَمَرَهُنَّ بِالصَّدَقَةِ ، فَجَعَلَتِ الْمَرْأَةُ تُلْقِى الْقُرْطَ وَالْخَاتَمَ ، وَبِلاَلٌ يَأْخُذُ فِى طَرَفِ ثَوْبِهِ .

Dari Ayyub, aku mendengar Atha’ berkata, bahwa dia mendengar Ibnu ‘Abbas bercerita:

“Aku bersaksi, bahwa Nabi pergi ditemani Bilal saat shalat ‘Ied. Nabi ﷺ mengira bahwa para wanita tidak mendengar khutbah yang Nabi ﷺ sampaikan. Oleh karena itu, Nabi ﷺ nasihati mereka secara khusus, dan Nabi ﷺ perintahkan mereka supaya bersedekah. Para wanita pun melemparkan anting-anting dan cincin mereka ke arah kain yang dibentangkan oleh Bilal, dan Bilal memegang ujung kainnya” [HR Bukhari no 98 dan Muslim no 884].

Hadis di atas adalah dalil yang sangat tegas menunjukkan bahwa seorang istri boleh menyedekahkan harta pribadinya meski tanpa sepengetahuan dan seizin suaminya. Dalam hadis di atas tidak dijumpai penjelasan, bahwa para wanita tersebut pergi dan meminta izin kepada suaminya terlebih dahulu, ketika Nabi ﷺ memerintahkan mereka untuk bersedekah.

عَنْ كُرَيْبٍ مَوْلَى ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ مَيْمُونَةَ بِنْتَ الْحَارِثِ – رضى الله عنها – أَخْبَرَتْهُ أَنَّهَا أَعْتَقَتْ وَلِيدَةً وَلَمْ تَسْتَأْذِنِ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – ، فَلَمَّا كَانَ يَوْمُهَا الَّذِى يَدُورُ عَلَيْهَا فِيهِ قَالَتْ أَشَعَرْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنِّى أَعْتَقْتُ وَلِيدَتِى قَالَ « أَوَفَعَلْتِ » . قَالَتْ نَعَمْ . قَالَ « أَمَا إِنَّكِ لَوْ أَعْطَيْتِيهَا أَخْوَالَكِ كَانَ أَعْظَمَ لأَجْرِكِ »

Dari Kuraib, bekas budak, dari Ibnu ‘Abbas, sesungguhnya Maimunah binti al Harits pernah bercerita kepada Ibnu ‘Abbas, bahwa dia memerdekakan budak perempuannya tanpa meminta izin kepada Nabi ﷺ terlebih dahulu. Pada saat hari giliran Nabi ﷺ menginap di rumah istrinya Maimunah, barulah Maimunah berkata kepada Nabi: “Wahai Rasulullah, apakah kau tahu, bahwa aku telah memerdekakan budak perempuan yang kumiliki?” Komentar Nabi ﷺ: “Benarkah kau telah melakukannya?” “Ya”,  jawab Maimunah. Sabda Nabi ﷺ: “Jika kau berikan budak perempuan tersebut kepada pamanmu, tentu pahalanya lebih besar” [HR Bukhari no 2452 dan Muslim no 999].

Dalam hadis ini, Nabi ﷺ tidak menyalahkan perbuatan istrinya Maimunah yang menginfakkan harta pribadinya, tanpa sepengetahuan dan seizin beliau ﷺ. Andai hal ini terlarang, tentu Nabi ﷺ akan menegurnya.

عَنْ أَسْمَاءَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « أَنْفِقِى وَلاَ تُحْصِى فَيُحْصِىَ اللَّهُ عَلَيْكِ ، وَلاَ تُوعِى فَيُوعِىَ اللَّهُ عَلَيْكِ »

Dari Asma’, Rasulullah ﷺ pernah bersabda kepadanya: “Berinfaklah dan jangan dihitung-hitung (sehingga engkau merasa sudah banyak berinfak, dan pada akhirnya kau berhenti berinfak). Jika demikian, maka Allah akan perhitungan denganmu dalam anugrah-Nya. Dan jangan kau simpan kelebihan hartanya, sehingga Allah akan menyimpan (baca: menahan) anugrah-Nya kepadamu.” [HR Bukhari no 2451 dan Muslim no 1029].

Dalam hadis ini Nabi ﷺ memerintahkan Asma untuk banyak-banyak berinfak dan Nabi ﷺ tidak memerintahkannya untuk minta izin terlebih dahulu kepada suaminya, yaitu az Zubair. Andai itu sebuah keharusan, tentu Nabi ﷺ akan memerintahkannya.

عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « لاَ يَجُوزُ لاِمْرَأَةٍ أَمْرٌ فِى مَالِهَا إِذَا مَلَكَ زَوْجُهَا عِصْمَتَهَا ».

Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidak boleh bagi seorang perempuan yang bersuami untuk membelanjakan harta pribadinya (tanpa seizin suaminya)” [HR Abu Daud no 3546, Nasai no 3756, Ibnu Majah no 2388 dan dinilai al Albani sebagai hadis Hasan Shahih].

Hadis ini kita kompromikan dengan hadis-hadis di atas, dengan kita katakan, bahwa di antara bentuk pergaulan yang baik antara suami dan istri adalah, jika seorang istri ingin membelanjakan harta pribadinya untuk membeli sesuatu atau berinfak, hendaknya bercerita kepada suaminya terlebih dahulu. Inilah adab yang hendaknya dimiliki oleh seorang istri, dan itulah yang terbaik.

Berdasarkan uraian di atas, maka ibu boleh membantu orang tua dengan harta pribadi ibu, meski dengan cara diam-diam dan tanpa sepengetahuan suami. Namun lebih baik jika ibu bercerita kepada suami tentang apa yang ibu lakukan.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: http://ustadzaris.com/membelanjakan-harta-tanpa-izin-suami

,

DOA-DOA YANG MUSTAJAB

DOA-DOA YANG MUSTAJAB

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir

DOA-DOA YANG MUSTAJAB

Oleh: Syaikh Dr. Sa’id bin Ali bin Wahf al-Qahthani

Setiap orang yang melakukan doa dengan memenuhi persyaratannya, dan menjauhi penghalang terkabulnya doa, mengamalkan adab-adabnya, serta mencari waktu yang mustajab/dikabulkan dan tempat-tempat yang mulia, maka dia termasuk orang-orang yang dikabulkan oleh Allah doanya. Rasulullah ﷺ telah menjelaskan berbagai macam orang yang mewujudkan syarat-syarat tersebut, lalu Allah mengabulkan doa mereka, di antara mereka itu adalah:

  1. Doa Seorang Muslim Untuk Saudaranya Yang Muslim Yang Tidak Ada Di Hadapannya

Dari Ummu Darda radhiyallahu anha, telah berkata kepada Sofwan: “Apakah kamu hendak berhaji tahun ini? Lalu aku berkata: ‘Ya.’ Berkata Ummu Darda: ‘Berdoalah kepada Allah untuk kami dengan kebaikan, maka sesungguhnya Nabi ﷺ telah bersabda:

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ

“Doa seorang Muslim untuk saudaranya yang tidak berada di hadapannya akan dikabulkan. Di atas kepalanya ada malaikat. Setiap dia berdoa untuk saudaranya dengan kebaikan, berkata malaikat yang bertugas dengannya: ‘Aamiin dan kamu juga akan mendapatkan seperti itu juga.” (HR. Muslim).

Dari dari Abu Darda radhiyallahu anhu, dari Nabi ﷺ bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ وَلَكَ بِمِثْلٍ

“Tidaklah ada seorang hamba Muslim, mendoakan saudaranya yang tidak berada di hadapannya, kecuali malaikat akan berkata: ‘Dan bagimu sepertinya.’ (HR. Muslim).

  1. Doa Orang Yang Dizalimi

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu, sesungguhnya Nabi ﷺ telah mengutus Mu’adz radhiyallahu anhu ke negeri Yaman, dan beliau ﷺ berwasiat kepadanya. Salah satunya adalah sabdanya:

وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهَا لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ

“Dan berhati-hatilah kamu dengan doa orang yang dizalimi. Maka sesungguhnya tidak ada pembatas antara dia dengan Allah. ” (HR. al-Bukhari).

Dan di antara doa yang dikabulkan adalah kisah Sa’ad radhiyallahu anhu dengan Abu Sa’dah pada saat orang bertanya kepadanya tentang Sa’ad: “Adapun apa yang kamu adukan/keluhkan pada kami, sesungguhnya Sa’ad adalah orang yang tidak berjalan bersama rombongan perang. Tidaklah dia orang yang membagi dengan rata, dan tidaklah dia berbuat adil dalam memutuskan perkara.” Lalu Sa’ad berkata: “Demi Allah, sungguh aku akan mendoakan dengan tiga perkara:

Ya Allah, jika hamba-Mu ini dusta, melakukan ini karena riya’ dan hanya ingin dikenal orang, maka panjangkanlah umurnya, panjangkanlah kefakirannya dan jadikanlah dia sasaran fitnah-fitnah.”

Dan setelah itu jika dia ditanya, dia berkata: “Orang tua yang terkena fitnah, dan telah menimpaku doanya Sa’ad.” Berkata Abdul Malik: “Maka aku telah melihatnya (Abu Sa’dah) berjatuhan kedua alis matanya karena terlalu tuanya. Dan sesungguhnya dia telah menjadikan budak-budak perempuan di jalan dan bermain-main dengannya atau meraba-raba dengan tangannya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Arwa binti Uwais telah berselisih paham dengan Sa’id Ibnu Zaid radhiyallahu anhu di hadapan Marwan Ibnu Hakam. Arwa menuduh bahwa Sa’id telah mengambil sebagian dari tanahnya. Said berkata: “Apakah aku akan mengambil tanahnya, setelah aku mendengar perkataan dari Rasulullah ﷺ? Lalu (Marwan) berkata: “Apa yang kamu dengar dari Rasulullah ﷺ?” Beliau berkata: “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَخَذَ شِبْرًا مِنْ الْأَرْضِ بِغَيْرِ حَقِّهِ طُوِّقَهُ فِي سَبْعِ أَرَضِينَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa yang mengambil sejengkal tanah yang bukan hak-nya, maka dia akan dibenamkan ke dalamnya dengan tujuh lipat tanah.”

Kemudian Sa’id berkata: “Ya Allah, jika wanita ini berdusta, maka butakanlah matanya dan jadikanlah kuburannya di rumahnya.” Selanjutnya dia berkata: “Aku telah melihatnya (wanita itu) buta dan meraba-raba dinding seraya berkata: “Telah menimpaku doanya Sa’id Ibnu Zaid.” Maka pada saat dia berjalan di tempat tinggalnya, dia melewati sebuah sumur yang ada di tempat itu, lalu ia terperosok di dalamnya, dan jadilah sumur itu kuburannya. (HR. Muslim).

Dan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, telah bersabda Rasulullah ﷺ:

دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ مُسْتَجَابَةٌ وَإِنْ كَانَ فَاجِرًا فَفُجُورُهُ عَلَى نَفْسِهِ

“Doa orang yang terzalimi mustajab, walaupun dia seorang penjahat. Adapun kejahatannya itu adalah tanggung jawab dirinya. ” (HR. Ahmad, Abu Daud, dan ath-Thayalisi dan dihasankan oleh Al-Albani).

Dan sebagian mereka menyenandungkan sebuah syair:

  • Janganlah engkau berbuat zalim jika kamu mampu
  • Sebab kezaliman akan mendatangkan kepadamu suatu penyesalan
  • Matamu terpejam sedangkan orang yang terzalimi selalu bangun
  • Mendoakanmu agar celaka, dan mata Allah tidak pemah terpejam.
  1. Doa Yang Baik Dari Orang Tua Kepada Anaknya
  2. Doa Yang Tidak Baik Dari Orang Tua Terhadap Anaknya
  3. Doa Seorang Musafir

Abu Hurairah radhiyallahu anhu telah berkata: telah bersabda Rasulullah ﷺ:

ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ يُسْتَجَابُ لَهُنَّ لَا شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ لِوَلَدِهِ

“Tiga macam doa yang dikabulkan dan tidak ada keraguan di dalamnya: Doa orang yang terzalimi, doa orang musafir dan doa orang tua untuk anaknya.” (HR. at-Tirmidzi, Abu Daud, Ibnu Majah, dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani).

Dalam riwayat Ahmad dan at-Tirmidzi, عَلَى وَلَدِهِ “Atas anaknya (keburukan).” (HR. at-Tirmidzi dan Ahmad).

Maka semestinya berhati-hati terhadap doa mereka, karena doa mereka itu dikabulkan.

  1. Doa Orang Yang Berpuasa

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu dimarfu’kan kepadanya:

ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالْإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ يَرْفَعُهَا اللَّهُ فَوْقَ الْغَمَامِ وَيَفْتَحُ لَهَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ وَيَقُولُ الرَّبُّ وَعِزَّتِي لَأَنْصُرَنَّكِ وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ

“Tiga kelompok yang tidak akan ditolak doa mereka: Orang yang berpuasa sampai dia berbuka, seorang imam yang berlaku adil, doa orang yang terzalimi. Allah mengangkatnya ke atas awan dan membukakan baginya pintu-pintu langit dan Rabb berfirman: ‘Demi kemuliaan-Ku, sungguh Aku akan menolongmu, walaupun dalam jangka waktu yang lama’.” (HR. at-Tirmidzi).

  1. Doa Orang Yang Berpuasa Ketika Berbuka
  2. Doa Seorang Imam Atau Pemimpin Yang Adil

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu di dalam hadis yang panjang dari Nabi ﷺ, tentang menyifati Surga dan kenikmatannya yang kekal, beliau berkata di akhir hadisnya:

ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ  الصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَالْإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ يَرْفَعُهَا اللهُ فَوْقَ الْغَمَامِ وَتُفَتَّحُ لَـهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَيَقُولُ الرَّبُّ وَعِزَّتِي لَأَنْصُرَنَّكِ وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ

“Tiga kelompok yang tidak akan ditolak doa-doa mereka: Orang yang berpuasa sampai dengan berbuka, seorang imam yang adil, doa orang yang terzalimi. Allah mengangkatnya ke atas awan dan membukakan baginya pintu-pintu langit dan Rabb berfirman: ‘Demi kekuasaan-Ku, sungguh Aku akan menolongmu, walaupun setelah waktu yang lama’.” (HR. at-Tirmidzi dan disahihkan al-Albani).

Dari Abdullah Ibnu Amr radhiyallahu anhuma, dimarfu’kan kepadanya

إِنَّ لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ لَدَعْوَةً مَا تُرَدُّ

“Sesungguhnya bagi yang berpuasa ketika berbuka, ada suatu doa yang tidak ditolak.” (HR. Ibnu Majah dihasankan oleh al-Hafidz).

Dan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu yang dimarfu’kan kepadanya:

ثَلَاثَةٌ لَا يُرَدُّ دُعَاؤُهُمْ: اَلذَّاكِرُ لِلَّهِ كَثِيْرًا،وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَالْإِمَامُ الْـمُقْسِطُ

“Ada tiga orang yang tidak ditolak doa-doa mereka: Orang yang banyak berzikir kepada Allah, doanya orang yang teraniaya dan pemimpin yang adil.” (HR. al-Baihaqi dan dihasankan oleh al-Albani).

  1. Doa Anak yang Saleh

Sebagaimana hadis Abu Hurairah radhiyallahu anhu yang marfu’ kepada­nya:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila seorang manusia meninggal, terputuslah amalannya kecuali tiga perkara: Sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang selalu mendoakan baginya.” (HR. Muslim).

  1. Doa orang yang terbangun dari tidur apabila berdoa dengan doa yang ma’tsur (doa yang ada tuntunannya).

Dari Ubadah Ibnu Shamir radhiyallahu anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

مَنْ تَعَارَّ مِنْ اللَّيْلِ فَقَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ ثُمَّ قَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي أَوْ دَعَا اسْتُجِيبَ لَهُ فَإِنْ تَوَضَّأَ وَصَلَّى قُبِلَتْ صَلَاتُهُ

“Barang siapa yang terbangun di malam hari lalu berdoa dengan (doa ini) yang artinya:

“Tidak ada Tuhan yang sebenarnya, kecuali Allah Yang Maha Esa, Yang tidak ada sekutu bagi-Nya, miliknya seluruh kerajaan dan bagi-Nya segala puji dan puja dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, segala puji bagi Allah, Maha Suci Allah, tidak ada Tuhan yang sebenarnya kecuali Allah, dan Allah Maha Agung. Tidak ada daya dan upaya kecuali milik Allah, kemudian dia berkata: ‘Ya Allah, ampunilah aku,’ atau-pun dia berdoa, maka akan dikabulkan. Maka jika dia berkehendak berwudhu kemudian shalat, maka akan diterima shalatnya.” (HR. al-Bukhari dan at-Tirmidzi).

  1. Doa Orang Yang Dalam Keadaan Darurat Atau Kesulitan

Firman Allah ta’ala:

أَمَّن يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ

“Atau siapakah yang memerkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan, apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan. ” (QS. An-Naml/27: 62).

Di antara dalil yang menunjukkan, bahwa kondisi darurat adalah termasuk penyebab yang terkuat bagi terkabulnya doa, adalah hadis tentang tiga orang yang bermalam di suatu gua. Tiba-tiba pintu gua tertutup oleh bebatuan yang jatuh dari gunung, sehingga menutupi pintu gua yang mereka huni. Maka seorang dari mereka berkata kepada yang lain: “Perhatikanlah amalan-amalan saleh yang telah kamu perbuat dengan ikhlas karena Allah, dan mohonlah kepada Allah dengan perantara amalan-amalan itu. Mudah-mudahan Allah melapangkan kesulitan kalian.” Lalu mereka semua berdoa kepada Allah dengan perantara amal-amal saleh mereka. Maka terangkatlah batu-batu yang menutupi tadi dan mereka keluar dan meneruskan perjalanan. (HR. al-Bukhari).

Dan dari Aisyah radhiyallahu anha, sesungguhnya ada seorang budak wanita berkulit hitam yang dimiliki oleh suatu perkampungan Arab. Lalu mereka memerdekakannya, dan ia hidup di tengah-tengah mereka. Dia berkata: “Maka keluarlah seorang bayi perempuan dari mereka yang memakai sebuah permata merah dari kulit, dia berkata: “Lalu dia meletakkannya atau permata itu jatuh darinya, lalu lewatlah seekor burung dan menyambar permata tersebut, karena mengira bahwa permata itu sebuah daging. Kemudian mereka memeriksa (si bekas budak tadi -penj), sampai memeriksa qubulnya. Demi Allah, sesungguhnya aku berdiri di antara mereka, tiba-tiba lewatlah seekor burung kecil dan melemparkannya, sehingga jatuh di antara mereka, lalu aku berkata: “Inilah yang kalian tuduhkan kepadaku, sedangkan aku bersih dari apa yang kalian tuduhkan dan inilah dia permata, yang kalian cari”. Maka datanglah hamba sahaya wanita tadi kepada Rasulullah ﷺ kemudian masuk Islam. Berkata Aisyah: “Dia memiliki kemah di mesjid/rumah sempit kecil, di mana dia selalu mendatangiku dan bercerita di sisiku. Tidaklah dia duduk bermajelis di sisiku, kecuali dia berkata: ‘Dan di hari permata itu merupakan keajaiban Rabb kami, ketahuilah Dia-lah yang telah menyelamatkanku dari negeri kufur.” Berkata Aisyah radhiyallahu anha : “Maka aku ucapkan kepadanya, apa maksudmu, tidaklah kamu duduk bersamaku kecuali kamu ucapkan selalu ucapan seperti ini? Lalu dia menceritakan kejadian yang telah menimpanya (sebelum masuk Islam). (HR. al-Bukhari)

Dan inilah sebab Islamnya hamba sahaya itu, berapa banyak sesuatu yang berbahaya tapi bermanfaat.

  1. Doa Orang Yang Bermalam Dalam Keadaan Suci Untuk Zikir Kepada Allah

Dari Mu’adz Ibnu Jabal radhiyallahu anhu Nabi ﷺ bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَبِيتُ عَلَى ذِكْرٍ طَاهِرًا فَيَتَعَارُّ مِنْ اللَّيْلِ فَيَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ خَيْرًا مِنْ أَمْرِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ

“Tidak ada seorang Muslim pun yang bermalam dalam keadaan suci dan berzikir kepada Allah, lalu dia terbangun di malam hari, dia memohon kepada Allah akan kebaikan dunia dan Akhirat, kecuali Allah akan memberinya.” (HR. Abu Daud, Ahmad, dan dishahihkan oleh al-Albani).

  1. Doa Orang Yang Berdoa Dengan Doanya Dzun Nun (Doa Nabi Yunus)

Allah عزّوجلّ berfirman:

وَذَا النُّونِ إِذ ذَّهَبَ مُغَاضِباً فَظَنَّ أَن لَّن نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَن لَّا إِلَهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ. فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنجِي الْمُؤْمِنِينَ.

“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan memersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan sangat gelap: “Bahwa tak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zhalim.” Maka Kami memerkenankan doanya dan menyelamatkannya daripada kedukaan. Dan demikanlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. al-Anbiya/21: 87-88).

Dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

دَعْوَةُ ذِي النُّونِ إِذْ دَعَا وَهُوَ فِي بَطْنِ الْحُوتِ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنْ الظَّالِمِينَ فَإِنَّهُ لَمْ يَدْعُ بِهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ فِي شَيْءٍ قَطُّ إِلَّا اسْتَجَابَ اللَّهُ لَهُ

“Doa Dzun Nun pada saat beliau berdoa di dalam perut ikan ialah, Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Engkau, MahabSuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim. Maka sesungguhnya tidaklah seorang Muslim berdoa meminta sesuatu dengan doa tersebut, kecuali Allah akan mengabulkannya.” (HR. at-Tirmidzi, Ahmad dan al-Hakim dan dishahihkan oleh Al-AIbani).

  1. Doa Orang Yang Tertimpa Suatu Musibah Jika Berdoa Dengan Doa Yang Ma’tsur (Doa yang dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ).

Dari Ummu Salamah radhiyallahu anha, “Sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ مَا أَمَرَهُ اللَّهُ: إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ، اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا إِلَّا أَجَرَهُ اللَّهُ فِي مُصِيبَتِهِ وَأَخْلَفَ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا

“Tidaklah seorang hamba terkena musibah lalu berkata: ‘Sesungguhnya kami hanya milik Allah dan hanya kepada Allah kami kembali. Ya Allah, berilah pahala untukku dari musibahku dan berilah ganti bagiku dengan yang lebih baik darinya. “Kecuali Allah akan memberi ganti baginya dengan yang lebih baik, dan memberikan pahala dari musibahnya.

Maka ketika wafat Abu Salamah, aku mengucapkan seperti apa yang telah Rasulullah ﷺ perintahkan kepadaku, maka Allah telah memberi ganti bagiku dengan yang lebih baik dari Abu Salamah yaitu Rasulullah ﷺ. (HR. Muslim)

  1. Doa Orang Yang Berdoa Dengan Nama Allah Yang Agung

Dari Abdullah Ibnu Buraidah dari ayahnya beliau berkata: Nabi ﷺ telah mendengar seorang laki-laki sedang berdoa, dengan ucapan:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَنِّي أَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الْأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ قَالَ فَقَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ سَأَلَ اللَّهَ بِاسْمِهِ الْأَعْظَمِ الَّذِي إِذَا دُعِيَ بِهِ أَجَابَ وَإِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu, sesungguh­nya aku bersaksi bahwasanya Engkau adalah Allah yang tiada Tuhan yang patut disembah kecuali Engkau yang Esa. Tempat bergantung yang tidak beranak dan tidak dilahirkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang menyamai/serupa dengan-Nya. Dia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Dan demi dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh dia telah memohon kepada Allah dengan nama-Nya Yang Agung, yang apabila dimohon dengannya akan dikabulkan, dan apabila dimintai dengannya maka Allah akan memberi. ” (HR. At-Tirmidzi, Abu Daud, Ahmad, Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Al-Albani)

Dan dari Anas radhiyallahu anhu, bahwasanya beliau bersama Rasulullah ﷺ duduk dan ada seorang yang shalat kemudian berdoa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَنَّ لَكَ الْحَمْدُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الْمَنَّانُ بَدِيعُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَدْ دَعَا اللَّهَ بِاسْمِهِ الْعَظِيمِ الَّذِي إِذَا دُعِيَ بِهِ أَجَابَ وَإِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu, sesungguh­nya Engkau yang memiliki semua pujian. Tiada Tuhan yang patut disembah kecuali Engkau Yang Maha Pemberi, yang telah menciptakan langit dan bumi, wahai yang memiliki kemuliaan, keagungan, wahai Yang Maha Hidup dan Maha Tegak. Maka Nabi ﷺ bersabda: ‘Sesungguhnya ia telah berdoa kepada Allah dengan nama yang agung. Apabila dimohon, akan mengabulkan, jika diminta akan memberi.” (HR. Abu Daud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, An-Nasa’i dan dishahihkan oleh Al-Albani).

  1. Doa Seorang Anak Yang Berbakti Kepada Kedua Orang Tuanya

Dari Malik dari Yahya Ibnu Sa’id, sesungguhnya Sa’id Ibnu Musayyab berkata: Sesungguhnya seseorang akan dinaikkan derajatnya berkat doa anaknya setelahnya, dan dia berkata dengan mengisyaratkan kedua tangannya ke langit serta mengangkatnya. (HR. Imam Malik).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, berkata Nabi ﷺ:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِي الْجَنَّةِ فَيَقُولُ يَا رَبِّ أَنَّى لِي هَذِهِ فَيَقُولُ بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ

“Sesungguhnya Allah benar-benar akan mengangkat derajat seorang hamba yang saleh di dalam Surga, maka dia berkata: “Wahai Rabb, dari manakah ini?” Maka Allah berfirman: “Ini berkat istighfar anakmu untukmu. ” (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Ibnu Katsir).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila seorang manusia meninggal, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: Sedekah jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak yang saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim).

Dan hadis tentang tiga orang yang bermalam di gua lalu gua tersebut tertutup oleh batu besar, salah seorang di antara mereka ada yang berbakti kepada orang tuanya, lalu dia bertawassul dengan amal salehnya itu, maka Allah mengabulkan doanya. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Dan hadis tentang pemberitahuan Nabi ﷺ tentang seorang tabi’in yang mulia, yang jika ia bersumpah kepada Allah, maka pasti akan dikabulkan-Nya, karena dia memiliki seorang ibu, lalu ia berbakti kepadanya.

Dan dari Umar Ibnu Khaththab ﷺ aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

يَأْتِي عَلَيْكُمْ أُوَيْسُ بْنُ عَامِرٍ مَعَ أَمْدَادِ أَهْلِ الْيَمَنِ مِنْ مُرَادٍ ثُمَّ مِنْ قَرَنٍ كَانَ بِهِ بَرَصٌ فَبَرَأَ مِنْهُ إِلَّا مَوْضِعَ دِرْهَمٍ لَهُ وَالِدَةٌ هُوَ بِهَا بَرٌّ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ فَإِنْ اسْتَطَعْتَ أَنْ يَسْتَغْفِرَ لَكَ فَافْعَلْ

“Akan datang kepada kalian Uwais Ibnu ‘Aamir bersama rombongan dari Ahli Yaman Qabilah dari Murad kemudian dari Qarn, dulu dia berpenyakit kusta dan telah sembuh, kecuali tinggal sedikit sebesar uang Dirham. Dia memiliki seorang ibu dan dia berbakti kepadanya. Kalaulah dia bersumpah kepada Allah, Allah akan menepatinya. Maka jika kamu mampu memintakan ampunan untukmu, maka lakukanlah.” (HR. Muslim).

  1. Doa Orang Yang Sedang Melaksanakan Ibadah Haji
  2. Doa Orang Yang Berumrah
  3. Doa Orang Yang Berperang Di Jalan Allah

Sebagaimana hadis Ibnu Umar radhiyallahu anhuma, dari Nabi ﷺ yang bersabda:

الْغَازِي فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْحَاجُّ وَالْمُعْتَمِرُ وَفْدُ اللَّهِ دَعَاهُمْ فَأَجَابُوهُ وَسَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ

“Orang yang berperang di jalan Allah, orang yang berhaji, dan berumrah adalah utusan Allah. Allah menyeru mereka, dan mereka menjawabnya. Dan mereka meminta kepada Allah, lalu Allah memberi mereka. ” (HR. Ibnu Majah dan dihasankan oleh al-Albani).

  1. Doa Orang Yang Banyak Mengingat Allah

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dari Nabi ﷺ telah bersabda:

ثَلَاثَةٌ لَا يُرَدُّ دُعَاؤُهُمْ: اَلذَّاكِرُ لِلَّهِ كَثِيْرًا،وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَالْإِمَامُ الْـمُقْسِطُ

“Tiga orang yang tidak ditolak doa mereka: Orang yang banyak berzikir kepada Allah, doa orang yang teraniaya dan pemimpin yang adil.” (HR. al-Baihaqi dan Ath-Thabrani dan dihasankan oleh al-Albani).

  1. Doa Orang yang Dicintai dan Diridhai oleh Allah

Dari   Abu   Hurairah  radhiyallahu anhu berkata:  bersabda  Rasulullah ﷺ:

إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي عَنْ نَفْسِ الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ

“Sesungguhnya Allah عزّوجلّ berfirman: ‘Barang siapa yang memusuhi wali-Ku (orang yang aku cintai), sesungguhnya Aku menyatakan perang terhadapnya. Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu lebih Aku cintai daripada kewajiban yang telah Ku-wajibkan kepadanya, dan hamba-Ku selalu mendekatkan diri kepada-Ku dan melakukan hal-hal (amal) yang sunah sehingga Aku mencintainya. Dan apabila Aku telah mencintainya, maka Akulah telinganya yang dia gunakan untuk mendengar. Dan Akulah matanya yang dia gunakan untuk melihat. Dan Akulah tangannya yang dia gunakan untuk bertindak. Dan Akulah kakinya yang dia gunakan untuk berjalan. Dan andaikata dia meminta sesuatu kepada-Ku pasti Aku beri dia. Dan andaikata dia meminta perlindungan kepada-Ku, sungguh Ku-lindungi dia. Dan tidaklah Aku ragu tentang sesuatu yang Aku perbuat, sebagaimana keraguan-Ku terhadap seorang Mukmin yang membenci kematian dan Aku membenci menyakitinya.” (HR. al-Bukhari).

Dan inilah orang yang dicintai yang selalu mendekatkan diri dan memiliki kedudukan yang agung di sisi Allah, apabila dia meminta sesuatu kepada Allah, maka Allah memberinya. Dan jika dia meminta perlindungan, maka Allah akan melindunginya. Dan jika berdoa, maka Allah mengabulkannya. Maka dia selalu menjadi orang yang dikabulkan doanya. Karena kemuliannya di sisi Rabbnya عزّوجلّ. Dan sungguh banyak dari ulama Salafus Saleh yang terkenal dengan terkabulnya doa-doa mereka.

Dan di dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Muslim, bahwa Rubayyi’ binti Nadhr telah memecahkan gigi seri seorang hamba sahaya. Lalu dia tawarkan kepada mereka untuk membayar Diyat atau denda dan mereka menolak. Lalu meminta maaf, mereka menolak, maka akhirnya Rasul ﷺ memutuskan perkara mereka dengan hukum qishas. Berkata Anas Ibnu Nadhr: “Apakah dipecahkan juga gigi seri Rubayyi’?” Demi Dzat yang telah mengutus engkau dengan kebenaran, tidak akan dipecahkan gigi serinya, maka kaum itu pun rida, lalu mangambil ganti rugi, maka Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ مَنْ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ

“Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah, ada yang jika dia bersumpah kepada Allah, dia akan mengabulkannya.” (HR. al-Bukhari).

Dan dari Anas Ibnu Malik radhiyallahu anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: “Berapa banyak orang yang lemah, miskin lagi dihina, yang hanya memiliki dua pakaian lusuh, kalaulah dia bersumpah kepada Allah, Allah akan memenuhinya. Di antara mereka itu dialah al-Barra’ Ibnu Malik.” (HR. al-Hakim dan dishahihkannya serta disepakati oleh adz-Dzahabi). Adapun lafalnya pada riwayat at-Tirmidzi:

كَمْ مِنْ أَشْعَثَ أَغْبَرَ ذِي طِمْرَيْنِ لَا يُؤْبَهُ لَهُ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ مِنْهُمْ الْبَرَاءُ بْنُ مَالِكٍ

“Berapa banyak orang yang kusut, berdebu, yang hanya memiliki dua pakaian lusuh yang tidak pernah diperhatikan orang, kalaulah dia bersumpah kepada Allah, Allah akan memenuhinya. Di antara mereka itu dialah al-Barra Ibnu malik.” (HR. at-Tirmidzi).

Dan ketika peperangan sedang berkecamuk, kaum Muslimin berkata: “Wahai Barra’, bersumpahlah kepada Rabb-mu!” Maka dia berkata: “Wahai Rabb, aku bersumpah kepada Engkau, bahwa Engkau akan memberi kami bahu-bahu mereka, sehingga musuh itu kalah.” Dan pada hari Tustar, dia berkata: “Aku bersumpah kepada Engkau wahai Rabb, bahwa Engkau berikan kepada kami bahu-bahu mereka dan Engkau jadikan aku orang yang pertama mati syahid, lalu mereka (musuh) memberikan bahu-bahu mereka dan Barra’ terbunuh dalam keadaan syahid. (HR. Abu Nu’aim di dalam kitab al-Hilyah 1/350).

Dan Ibnu Rajab rahimahullah banyak sekali menyebutkan dalam kitabnya “Jaami ‘ul ‘Ulum wal Hikum” contoh tentang bagaimana Allah mengabulkan permohonan dari hamba-hamba-Nya yang beriman. (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, hal 348-356). Dan begitu juga Syaikhul Islam telah menyebutkan perkara-perkara yang agung tentang hal tadi dalam kitabnya “Perbedaan Antara Wali Allah dan Wali Syetan” (Hal 306-320). Dan begitu juga Ibnu Abud Dunya telah menyebutkan dalam kitabnya “Kitab Mujabi ad-Da’wah (Orang-Orang Yang Dikabulkan Doanya)” perkara-perkara yang agung. (Hal 17-18).

 

Sumber: https://ibnumajjah.wordpress.com/2017/02/13/doa-doa-yang-mustajab/

,

JIKA IMAM BATAL KETIKA SUJUD

JIKA IMAM BATAL KETIKA SUJUD

#SifatSholatNabi

JIKA IMAM BATAL KETIKA SUJUD

Pertanyaan:

Apa yang harus dilakukan imam, jika dia batal dalam posisi sujud? Makmum kan tidak melihat dia pergi.

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Ketika imam batal wudhu dalam posisi sujud, ada beberapa proses yang bisa dilakukan:

  1. Imam yang batal langsung bangkit diam-diam, tanpa membaca takbir intiqal, karena dia sudah batal.
  2. Kemudian dia tepuk salah satu jamaah yang berada di belakangnya untuk menggantikan dirinya jadi imam.
  3. Selanjutnya, imam yang baru ini bertakbir bangkit dari sujud, tetap di shaf pertama (posisi semula).
  4. Setelah berdiri, dia bisa maju menggantikan posisi imam, kemudian menyelesaikan shalat.

Imam Ibnu Utsaimin ditanya: ‘Apa yang harus dilakukan apabila imam batal wudhunya dalam posisi sujud?’

Jawab beliau:

العمل في هذه الحال أن ينصرف من الصلاة ، ويأمر أحد المأمومين الذين خلفه بتكميل الصلاة بالجماعة

Yang harus dia lakukan dalam kondisi ini, dia harus membatalkan shalat, lalu menyuruh salah satu makmum yang berada di belakangnya untuk melanjutkan shalat jamaah. (Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin, 15/154).

Jika imam lupa atau tidak tahu, sehingga tidak langsung membatalkan, namun dia bangkit dengan membaca takbir, padahal dia sudah batal, kemudian diikuti makmum, maka SHALAT MAKMUM TETAP SAH. Dalam dalam kasus ini ada udzur untuk makmum.

Dalam Ensiklopedi Fiqh dinyatakan:

وإذا حصل للإمام سبب الاستخلاف في ركوع أو سجود فإنه يستخلف، كما يستخلف في القيام وغيره، ويرفع بهم من السجود الخليفة بالتكبير  ويرفع الإمام رأسه بلا تكبير؛ لئلا يقتدوا به، ولا تبطل صلاة المأمومين إن رفعوا رءوسهم برفعه

Jika ada sebab yang mengharuskan imam harus diganti dalam posisi rukuk atau sujud, maka imam bisa langsung menunjuk pengganti, sebagaimana yang biasa dilakukan dalam posisi berdiri. Kemudian imam pengganti mengangkat kepalanya dari sujud dengan mengeraskan takbir intiqal. Sementara imam yang batal, tidak boleh membaca takbir ketika bangkit, agar makmum tidak mengikutinya. Meskipun shalat makmum tetap sah jika dia bangkit, karena mengikuti takbir imam. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 3/253).

Allahu a’lam.

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/24332-jika-imam-batal-ketika-sujud.html

,

TAATILAH PENGUASA! JANGAN DEMONSTRASI, JANGAN MEMBERONTAK

TAATILAH PENGUASA! JANGAN DEMONSTRASI, JANGAN MEMBERONTAK

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

#ManhajSalaf

TAATILAH PENGUASA! JANGAN DEMONSTRASI, JANGAN MEMBERONTAK

Murid Imam Ahmad itu Imam Bukhari, Imam Muslim, dan lain lain, dan dijuluki Imam Ahlus Sunnah Wal Jamaah, karena teguhnya pembelaan terhadap sunnah dari imam-imam lainnya. Dan beliau memilih SABAR terhadap kezaliman penguasa di zaman itu, walaupun puluhan ulama dibunuh, dan beliau sendiri di penjara dan dicambuk bertahun-tahun lamanya. Padahal murid dan pendukung beliau banyak. Jika ingin memberontak, tentulah sangat memungkinkan dan kekuatannya sangat mendukung.

Hal ini karena Nabi ﷺ bersabda:

« يَكُونُ بَعْدِى أَئِمَّةٌ لاَ يَهْتَدُونَ بِهُدَاىَ وَلاَ يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِى وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِى جُثْمَانِ إِنْسٍ ». قَالَ قُلْتُ كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ قَالَ « تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ ».

“Nanti setelah aku, akan ada seorang pemimpin yang tidak mendapat petunjukku (dalam ilmu, pen) dan tidak pula melaksanakan sunnahku (dalam amal, pen). Nanti akan ada di tengah-tengah mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan, namun jasadnya adalah jasad manusia. “

Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang harus aku lakukan jika aku menemui zaman seperti itu?”

Beliau ﷺ bersabda: ”Dengarlah dan taat kepada pemimpinmu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan taat kepada mereka.” (HR. Muslim no. 1847.

Apa hikhmahnya harus bersabar?

Karena kezaliman penguasa itu adalah mudhorot yang bersifat parsial, sementara pemberontakan membawa kemudhorotan yang merata terhadap negara itu, lebih parah dan lebih buruk hasilnya.

Sabarlah, karena itu adalah perintah utusan Allah, dan Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Lalu bagaimana mengubahnya?

Yaitu dengan petunjuk Nabi Rasulullah ﷺ di mana beliau ﷺ bersabda:

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِيْ سُلْطَانٍ فَلاَ يُبْدِهِ عَلاِنِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوْ بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِيْ عَلَيْهِ

“Barang siapa ingin menasihati seorang penguasa, maka jangan ia tampakkan terang-terangan. Akan tetapi hendaknya ia mengambil tangan penguasa tersebut dan menyendiri dengannya. Jika dengan itu, ia menerima (nasihat) darinya, maka itulah (yang diinginkan, red.). Dan jika tidak menerima, maka ia (yang menasihati) telah melaksanakan kewajibannya.” [Shahih, HR. Ahmad, Ibnu Abu ‘Ashim dan yang lain]

Atas dasar hadis itu, berarti penguasa memunyai perlakuan khusus ketika diingkari kemungkarannya atau diberi nasihat, demi kemaslahatan yang lebih besar.

 

Lebih lengkap:

 

,

ALASAN-ALASAN PENDUKUNG DEMONSTRASI, ALASAN YANG RAPUH DAN BUKAN DI ATAS ILMU

ALASAN-ALASAN PENDUKUNG DEMONSTRASI, ALASAN YANG RAPUH DAN BUKAN DI ATAS ILMU

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

#ManhajSalaf

ALASAN-ALASAN PENDUKUNG DEMONSTRASI, ALASAN YANG RAPUH DAN BUKAN DI ATAS ILMU

  • Syubhat-Syubhat dan BantahanPembolehannya Demonstrasi
  1. Bagaimana Islam Bisa Dibela, Kalau Cuma Ta’lim (Penyebaran Ilmu) dan Ibadah Di Masjid Atau di Rumah?

Rasulullah ﷺ bersabda:

العبادةُ فِي الْهَرَجِ كَهِجْرةٍ إِليَّ

“Ibadah di masa fitnah/ujian: (pahalanya) seperti Hijrah kepadaku.” HR. Muslim (no. 7588).

Hadis ini sebagai arahan dari Nabi ﷺ yang mulia, bahwa justru dalam masa fitnah ini kita diharuskan BANYAK BERIBADAH. Dan itulah yang menolong kaum Muslimin. Bukan berkata dan berbuat gegabah, yang jelas dilarang oleh Rasulullah ﷺ. Bahkan Allah ta’aalaa berfirman:

…وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لاَ يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

“…Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka tidak akan membahayakanmu sedikit pun. Sungguh, Allah Maha Meliputi segala apa yang mereka kerjakan.” (QS. Ali ‘Imran: 120)

Dalam ayat ini pun Allah menerangkan dan menegaskan kepada kita, bahwa Dia mengetahui makar orang kafir, dan akan menolong orang beriman, dengan syarat SABAR dan TAKWA (melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya).

  1. Anda dan Orang Semisal Anda Yang Tidak Berdemo, Tidak Juga Menasihati Pemerintah dan Mendatanginya. Cuma Omong Doang!

Kita katakana, bahwa kita serahkan pada Ustadz Kibar tentang permasalahan ini, yang bisa langsung menasihati pemerintah. Dan siapa bilang kita diam saja?! Apakah apabila kami dan Ustadz kami menasihati pemerintah, kemudian harus bilang ke wartawan untuk direkam, difoto, disebarkan, bawa bendera partai, bawa spanduk buat promosi, dan lain-lain. Manhaj macam apa ini?!

Kita hanya meneladani para sahabat dan para Salaf. Oleh karena itulah kita disebut SALAFI!

عَنْ شَقِيقٍ، عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ، قَالَ: قِيْلَ لَهُ: أَلاَ تَدْخُلُ عَلَى عُثْمَانَ؛ فَتُكَلِّمَهُ؟ فَقَالَ: أَتُرَوْنَ أَنِّى لاَ أُكَلِّمُهُ إِلاَّ أُسْمِعُكُمْ؟! وَاللَّهِ! لَقَدْ كَلَّمْتُهُ فِيْمَا بَيْنِيْ وَبَيْنَهُ؛ مَا دُوْنَ أَنْ أَفْتَتِحَ أَمْرًا لاَ أُحِبُّ أَنْ أَكُوْنَ أَوَّلَ مَنْ فَتَحَهُ، وَلاَ أَقُوْلُ لأَحَدٍ يَكُوْنُ عَلَىَّ أَمِيْرًا إِنَّهُ خَيْرُ النَّاسِ

Dari Syaqiq, dari Usamah bin Zaid, ada yang berkata kepadanya:

Kenapa Anda tidak masuk menemui ‘Utsman dan engkau menasihatinya?”

Maka dia berkata: “Apakah kalian menganggap, bahwa jika aku berbicara padanya (‘Utsman), lantas aku harus memerdengarkannya kepada kalian?!

Demi Allah!

Aku telah berbicara empat mata dengannya, tanpa perlu saya membuka satu perkara yang saya tidak suka menjadi orang pertama yang membukanya, (yaitu menasihati pemimpin terang-terangan). Dan tidakklah aku mengatakan kepada seorang: “Saya memiliki pemimpin, yang dia adalah manusia terbaik.” [HR. Muslim (no. 7674)].

  1. Bukankah Ahok Kafir, Sehingga Kita Boleh Untuk Mendemo Dia? Bukankah Yang Tidak Diperbolehkan Adalah Mendemo Pemerintahan Muslim?

Kita katakan: Anda dan orang semisal Anda, pada hakikatnya berdemo kepada pemerintah yang di atas Ahok, yaitu: Presiden, agar Ahok diadili. Bukankah ini demo terhadap pemerintahan Muslim??!!

Kalaupun pemerintah Anda adalah kafir, di Cina, Rusia, Amerika, dan lainnya, tidak lantas menjadi halal mendemo mereka karena mudharat yang ditimbulkan akan besar. Dan hukum asal demo adalah perbuatan haram.

Lihat kepada Suriah sekarang ini!

Pemerintah Basyar Assad dari dulu memang sudah kafir, akan tetapi Ulama Rabbani, seperti Syaikh Al-Albani, Syaikh Bin Baz, dan Syaikh ‘Utsaimin, tidak memerintahkan masyarakat Suriah untuk berdemo dan menggulingkan pemerintahan. Karena mereka mengerti keadaan umat yang lemah apabila memberontak. Namun terjadilah apa yang kita lihat sekarang.

Kalaupun mau menggulingkan pemerintahan kafir, maka lakukanlah dengan cara yang benar, dan ukurlah kekuatan, serta mintalah fatwa dari Ulama Rabbani. Karena ini menyangkut darah kaum Muslimin yang akan tercecer. Jangan sampai sia-sia dan banyak memakan korban!

Lihatlah Nabi Musa dan Nabi Harun -‘alaihimas salaam- yang berdakwah langsung bertemu dengan penista agama terbesar: Fir’aun. Tidaklah mereka berdua berdemonstrasi, padahal Bani Israil amat banyak. Akan tetapi inilah perintah langsung dari Allah Ta’aalaa:

اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى * فَقُولاَ لَهُ قَوْلاً لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى

“Pergilah kamu berdua (Musa dan Harun) kepada Firaun, karena dia benar-benar telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut. Mudah-mudahan dia sadar atau takut.” (QS. Thaha: 43-44)

  1. Ini Bukan Demonstrasi, Tapi Aksi Damai!

Kita katakan: Terserah kalian mau menamakan aksi kalian dengan nama apa saja, karena Islam menghukumi sesuatu bukan dari namanya, akan tetapi melihat kepada hakikatnya. Apakah kalian namakan aksi damai, protes atau lainnya -atau bahkan: Jihad???!!!- HAKIKATNYA ADALAH DEMONSTRASI!!!

Di antara tipu daya iblis dan bala tentaranya untuk menjerumuskan manusia ke dalam kesesatan adalah  dengan teknik branding strategi, memberi nama baru untuk mengaburkan hakikat. Riba sekarang dinamakan bunga oleh bank konvensional dan dinamakan sedekah dan tabrru’ oleh kor Syariah dan pegadaian Syariah. Dan hal itu TIDAKLAH mengubah hakikat. Khamr diubah namanya dengan banyak nama: anggur, arak, bir, Whiski, dan lainnya untuk mengaburkan hakikat. Rasulullah ﷺ bersabda:

لَيَشْرَبَنَّ نَاسٌ مِنْ أُمَّتِي الْخَمْرَ؛ يُسَمُّوْنَهَا بِغَيْرِ اسْمِهَا

“Sungguh, akan ada manusia dari umatku yang meminum khamr, dengan memberikan nama kepadanya bukan dengan namanya (khamr)” [HR. Abu Dawud (no. 3690)]

  1. Kami Tidak Berbuat Rusak dan Anarkis, Sehingga Tidak Termasuk Orang Yang Berbuat Kerusakan

Pertama: Siapa yang menjamin, bahwa tidak akan terjadi kerusakan dan anarkisme dari luapan banyak orang seperti itu?! Bisa jadi ada penyusup yang merusak dari dalam, sebagaimana dalam perang Jamal.

Kedua: Kerusakan apalagi yang lebih besar dari bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya?:

وَلاَ تُفْسِدُوْا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلاَحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيْبٌ مِنَ الْمُحْسِنِيْنَ

“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi, setelah Allah memerbaikinya. Berdoalah kepada Allah dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Al-A’raaf: 56)

Abu Bakar bin ‘Ayasy berkata tentang ayat ini: “Allah mengutus Muhammad ﷺ ke permukaan bumi, sedangkan mereka (manusia) berada dalam keburukan. Maka Allah memerbaiki mereka dengan Muhammad ﷺ. Sehingga, barang siapa yang mengajak manusia kepada hal-hal menyelisihi apa yang datang dari Nabi ﷺ, maka dia termasuk orang yang berbuat kerusakan di muka bumi.” [Lihat Ad-Durr Al-Mantsuur (III/476)]

Silakan lihat tafsiran ulama lainnya yang bertebaran, yang menunjukkan, bahwa berbuat kerusakan yang dimaksud di sini adalah: bermaksiat.

  1. Ini Negeri Demokrasi, Demonstrasi Dibolehkan Oleh Pemerintah dan Difasilitasi, Sehingga Dibolehkan

Ini hujjah yang lemah sekali. Tidaklah apa yang dibolehkan oleh pemerintah, lantas semua menjadi halal. Bahkan yang diperintahkan oleh pemerintah pun harus dilihat: apakah itu suatu hal yang ma’ruf atau justru kemungkaran. Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوْفِ

“Sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam hal yang ma’ruf” [HR. Al-Bukhari (no. 7257)]

Ada Perda tentang bolehnya tempat hiburan dan diskotek, lantas apa kemudian menjadi halal?! Ada juga Perda tentang bolehnya khamr, dengan ketentuan khusus. Lantas apa kemudian menjadi boleh??!! Silakan jawab sendiri…

  1. Mereka Yang Melarang Demo: Membawakan Fatwa, Kita Juga Menggunakan Fatwa Yang Membolehkan. Ulama Yang Melarang Tidak Mengerti Keadaan Indonesia

Subhaanallah! Ulama mana dulu yang berfatwa membolehkan demonstrasi? Apakah ad-Damiji yang punya kitab Al-Imaamah Al-‘Uzhmaa yang dilarang terbit di Saudi, atau fatwanya Salman Al-‘Audah dan teman-temannya?? PERMASALAHANNYA ADALAH BUKAN BANYAKNYA FATWA, AKAN TETAPI KUALITASNYA (KESELARASANNYA DENGAN DALIL-DALIL DAN KAIDAH-KAIDAH SYARIAT)!!!

Kalaupun ulama berfatwa, maka tidak ditelan mentah-mentah sebagai landasan hukum, akan tetapi dilihat dalil pendukungnya.

Kalau kalian menuduh ulama yang berfatwa tentang Indonesia dari negeri lain tidak tahu keadaan sini, bagaimana dengan Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi dan Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily yang belasan tahun mondar-mandir di negeri kita ini, untuk membahas masalah dakwah di Indonesia. Apakah Anda juga menuduhnya tidak paham Waqi’ (realita)???!!! Fatwa siapapun apabila berbenturan dengan dalil, maka buanglah dia ke belakangmu.

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullaah (beliau adalah ulama yang paling mengumpulkan As-Sunnah dan paling berpegang kepadanya) berkata:

لاَ تُقَلِدْنِيْ، وَلاَ تُقَلِّدْ مَالِكًا، وَلاَ الشَّافِعِيَّ، وَلاَ الأَوْزَاعِيَّ، وَلاَ الثَّوْرِيَّ! وَخُذْ مِنْ حَيْثُ أَخَذُوْا!!

“Janganlah engkau taqlid kepadaku, jangan pula kepada Malik, Asy-Syafi’i, Al-Auza’i, ataupun Ats-Tsauri! Ambillah (hukum) dari sumber yang mereka mengambil darinya (yakni: dalil-dalil)!!”

[Lihat: Shifatush Shalaatin Nabiyy (hlm. 47), karya Imam Al-Albani -rahimahullaah]

  1. Pemerintah Yang Tidak Boleh Di-Demo Adalah Pemerintah Yang Berjalan Di Atas Alquran Dan As-Sunnah. Adapun Kalau Pemerintah Tidak Berasaskan Keduanya, Maka Boleh Di-Demo

Jawablah dengan hadis Hudzaifah di atas:

يَكُوْنُ بَعْدِيْ أَئِمَّةٌ لاَ يَهْتَدُوْنَ بِهُدَايَ، وَلاَ يَسْتَنُّوْنَ بِسُنَّتِيْ، وَسَيَقُوْمُ فِيْهِمْ رِجَالٌ قُلُوْبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِيْنِ فِيْ جُثْمَانِ إِنْسٍ. قُلْتُ: كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُوْلَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذٰلِكَ؟ قَالَ: تَسْمَعُ وَتُطِيْعُ لِلأَمِيْرِ، وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ؛ فَاسْمَعْ، وَأَطِعْ

[Rasulullah ﷺ bersabda:] “Akan ada setelahku para imam (pemimpin) yang tidak mengambil petunjuk dariku, dan tidak mengambil Sunnah-ku. Dan akan ada sekelompok lelaki di antara mereka yang hati mereka adalah hati setan dalam tubuh manusia.” Aku berkata: Apa yang aku lakukan wahai Rasulullah, apabila aku menemui yang demikian? Beliau ﷺ bersabda: “Engkau dengar dan engkau taat kepada pemimpin, walaupun dia memukul punggungmu dan mengambil hartamu. Maka dengar dan taatlah!” HR. Muslim (no. 4891)

JELAS DALAM HADIS INI BAHWA: PEMIMPIN YANG DIPERINTAHKAN DITAATI, TIDAK MENGAMBIL SUNNAH NABI ﷺ!!!

  1. Ini Adalah Masalah Ijtihad, Masing-Masing Punya Hujjah dan Jangan Saling Mengingkari, Apalagi Ini Masalah Furu’ Bukan Ushul

Adapun kaidah:

الاِجْتِهَادُ لاَ يُنْقَضُ بِالاِجْتِهَادِ

Ijtihad Tidak Bisa Dibatalkan Dengan Ijtihad

لاَ إِنْكَارَ فِيْ مَسَائِلِ الْخِلاَفِ

Tidak Ada Pengingkaran Dalam Masalah Khilaf

 Maka kaidah ini perlu ada tafshiil (perincian).

a. Apabila ijtihad tersebut jelas-jelas bertabrakan dengan dalil yang Shahih, maka tidak boleh kita mengambil ijtihad dan meninggalkan Nash/dalil.

Contoh: Dalam masalah nikah dengan tanpa wali, maka jelas bertentangan dengan dalil, sehingga kita wajib untuk menolak dan membantahnya.

Ijtihad yang menghalalkan musik, isbal dan lain-lain, maka wajib kita membantah ijtihad tersebut.

b. Apabila ijtihad tersebut menggunakan dalil yang lemah, maka kita juga boleh menjelaskan kelemahannya, bahkan membantahnya.

c. Apabila perbedaan pendapat memiliki dalil yang sama kuat, maka di sini berlaku: Tidak mengingkari perbedaan. Itu pun tetap harus berpegang dengan dalil (tidak hanya mencari-cari rukhshah atau pendapat yang sesuai keinginan (hawa nafsu).

Semoga Allah merahmati Imam Adz-Dzahabi yang mengatakan:

الْعِلْمُ: قَالَ اللهُ، قَالَ رَسُوْلُهُ

قَالَ الصَّحَابَةُ لَيْسَ بِالتَّمْوِيْهِ

مَا الْعِلْمُ نَصْبُكَ لِلْخِلاَفِ سَفَاهَةً

بَيْنَ الرَّسُوْلِ وَبَيْنَ رَأْيِ فَقِيْهٍ!!!

 

Artinya:

Ilmu itu adalah: firman Allah dan sabda Rasul-Nya ﷺ

Serta perkataan Sahabat. Bukan hanya sekedar kamuflase

Bukanlah ilmu itu dengan engkau mempertentangkan perselisihan karena kebodohan

(Mempertentangkan) antara Rasul ﷺ dengan pendapat Ahli Fiqih!!!

Adapun kalau Anda mengatakan ini adalah masalah Furu’ (cabang) dan bukan Ushul (prinsip), maka yang benar dalam Islam adalah tidak membedakan masalah Ushul dan Furu’ dalam penting atau tidaknya. Yakni bahwa semuanya adalah penting. Betapa banyak hal yang dianggap kecil akan berubah menjadi bencana dan fitnah yang hebat ketika diremehkan.

Lihat saja kisah zikir jamaah dengan kerikil yang diingkari oleh Abdullah bin Mas’ud, yang mereka mengatakan bahwa tujuan mereka adalah baik.

Akhirnya perbuatan bid’ah yang kecil berubah tersebut berubah menjadi bencana besar, dan orang-orang tersebut semuanya ada di barisan pemberontak melawan Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallaahu ‘anhu. Lihat pembahasan ini dalam Kitab: ‘Ilmu Ushulil Bida’, Baab: Baina Qisyr Wal Lubaab (Antara Kulit Dan Inti) (hlm. 247), karya Syaikh ‘Ali bin Hasan Al-Halabi hafizhahullaah.

  1. Ulama Terdahulu Seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Telah Berdemo Ketika Ada Pencaci Rasul, Sehingga Beliau Menulis Kitab Ash-Shaarim Al-Masluul, dan Asy-Syirazi (Juga Berdemo), dan lain-lain

Pertama: Ibnu Taimiyah rahimahullaah tidak berdemo. Justru beliau mengadukan pencaci rasul kepada pemerintah, dan kebetulan diikuti oleh masyarakat, sehingga terjadilah kerusuhan.

Kedua: Pendapat Ulama Bukan Dalil

Para ulama berkata:

أَقْوَالُ أَهْلِ الْعِلْمِ يُحْتَجُّ لَهَا وَلاَ يُحْتَجُّ بِهَا

“Pendapat para ulama itu butuh dalil dan ia bukanlah dalil.”

Imam Abu Hanifah rahimahullaah berkata:

لاَ يَحِلُّ لأَحَدٍ أَنْ يَأْخُذَ بِقَوْلِنَا؛ مَا لَمْ يَعْلَمْ مِنْ أَيْنَ أَخَذْنَاهُ

“Tidak halal bagi siapa pun untuk mengambil pendapat kami, selama dia tidak mengetahui darimana kami mengambil (dalil)nya”

Imam Asy-Syafi’I rahimahullaah berkata:

أَجْمَعَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّ مَنْ اسْتَبَانَتْ لَهُ سُنَّةُ رَسُوْلُ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-؛ لَمْ يَكُنْ لَهُ أَنْ يَدَعَهَا لِقَوْلِ أَحَدٍ

“Para ulama telah ijma’ (sepakat), bahwa barang siapa yang jelas sunah Rasulullah ﷺ baginya, maka tidak boleh baginya untuk meninggalkan Sunnah tersebut, dikarenakan mengikuti perkataan seseorang.”

Dan juga telah kita sebutkan perkataan Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullaah:

لاَ تُقَلِدْنِيْ، وَلاَ تُقَلِّدْ مَالِكًا، وَلاَ الشَّافِعِيَّ، وَلاَ الأَوْزَاعِيَّ، وَلاَ الثَّوْرِيَّ! وَخُذْ مِنْ حَيْثُ أَخَذُوْا!!

“Janganlah engkau taqlid kepadaku, jangan pula kepada Malik, Asy-Syafi’i, Al-Auza’i, ataupun Ats-Tsauri! Ambillah (hukum) dari sumber yang mereka mengambil darinya (yakni: dalil-dalil)!!”

[Lihat: Muqaddimah Shifatush Shalaatin Nabiyy, karya Imam Al-Albani rahimahullaah]

Para ulama bukan manusia makshum yang selalu benar dan tidak pernah terjatuh ke dalam kesalahan. Terkadang masing-masing dari mereka berpendapat dengan pendapat yang salah, karena bertentangan dengan dalil. Mereka terkadang tergelincir dalam kesalahan. Imam Malik rahimahullaah berkata:

إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ أُخْطِئُ وَأُصِيْبُ، فَانْظُرُوْا فِيْ رَأْيِيْ؛ فَكُلُ مَا وَافَقَ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ؛ فَخُذُوْهُ، وَكُلُّ مَا لَمْ يُوَافِقِ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ؛ فَاتْرُكُوْهُ

“Saya ini hanya seorang manusia, kadang salah dan kadang benar. Cermatilah pendapatku. Setiap yang sesuai dengan Alquran dan As-Sunnah, maka ambillah. Dan setiap yang tidak sesuai dengan Alquran dan As-Sunnah, maka tinggalkanlah.”

[Lihat: Muqaddimah Shifatush Shalaatin Nabiyy, karya Imam Al-Albani rahimahullaah]

Orang yang hatinya berpenyakit, maka dia akan mencari-cari pendapat yang salah dan aneh dari para ulama, demi untuk mengikuti nafsunya dalam menghalalkan yang haram, dan mengharamkan yang halal. Sulaiman At-Taimi rahimahullaah berkata:

لَوْ أَخَذْتَ بِرُخْصَةِ كُلِّ عَالِمٍ أَوْ زَلَّةِ كُلِّ عَالِمٍ؛ اجْتَمَعَ فِيْكَ الشَّرُّ كُلُّهُ

“Andai engkau mengambil pendapat yang mudah-mudah saja dari para ulama, atau mengambil setiap ketergelinciran dari pendapat para ulama, pasti akan terkumpul padamu seluruh keburukan.” [Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya, 3172]

  1. Demonstrasi Adalah Amar Ma’ruf Nahi Munkar -Dan Pemimpin Wajib Dinasihati-, Dan Hal Itu Merupakan Seutama-Utama Jihad

Inilah perkataan mereka, dan di antara yang mereka bawakan adalah Hadis dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallaahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

ﺃَﻓْﻀَﻞُ ﺍﻟْﺠِﻬَﺎﺩِ ﻛَﻠِﻤَﺔُ ﻋَﺪْﻝٍ ﻋِﻨْﺪَ ﺳُﻠْﻄَﺎﻥٍ ﺟَﺎﺋِﺮٍ ﺃَﻭْ ﺃَﻣِﻴْﺮٍ ﺟَﺎﺋِﺮٍ

“Jihad yang paling utama adalah mengatakan perkataan yang adil di sisi penguasa atau pemimpin yang zalim.” [HR. Abu Dawud (no. 4344), At-Tirmidzi (no. 2174), dan Ibnu Majah (no. 4011)].

Dan dalam riwayat Ahmad (V/251 & 256):

كَلِمَةُ حَقٍّ

“Perkataan yang haq (benar).”

[Hadis ini Shahih. Lihat Silsilah Al-Ahaadiits Ash-Shahiihah (no. 491), karya Imam Al-Albani rahimahullaah]

Bahkan jika seseorang mati karena dibunuh oleh penguasa yang zalim disebabkan amar ma’ruf nahi munkar, maka dia termasuk pemimpin para Syuhada.

Dari Jabir radhiallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

ﺳَﻴِّﺪُ ﺍﻟﺸُّﻬَﺪَﺍﺀِ: ﺣَﻤْﺰَﺓُ ﺑْﻦُ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟْﻤُﻄَﻠِّﺐِ، ﻭَﺭَﺟُﻞٌ ﻗَﺎﻝَ ﺇِﻟَﻰ ﺇِﻣَﺎﻡٍ ﺟَﺎﺋِﺮٍ؛ ﻓَﺄَﻣَﺮَﻩُ ﻭَﻧَﻬَﺎﻩُ، ﻓَﻘَﺘَﻠَﻪُ

“Penghulu para Syuhada adalah: Hamzah bin ‘Abdul Muththalib, dan orang yang berkata melawan penguasa kejam, di mana dia melarang dan memerintah (penguasa tersebut), namun akhirnya dia mati terbunuh.”

[HR. Al-Hakim (no. 4872), dia menyatakan Shahih. Aakan tetapi Al-Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya. Adz-Dzahabi menyepakatinya. Syaikh Al-Albani mengatakan: Hasan. Lihat Silsilah Al-Ahaadiits Ash-Shahiihah (no. 374)].

Jawabannya: Hadisnya Benar Akan Tetapi Pemahamannya Yang Salah

Pertama: Kata-kata dalam Hadis (عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ) menunjukkan, bahwa menasihatinya di dekat penguasa dengan mendatangi, dan tidak menunjukkan terang-terangan, sebagaimana,diisyaratkan oleh kata عِنْدَ yang artinya di sisi.

Demikian dalam riwayat kedua kata ﺭَﺟُﻞٌ ﻗَﺎﻝَ ﺇِﻟَﻰ ﺇِﻣَﺎﻡٍ ﺟَﺎﺋِﺮٍ dan lelaki yang berkata dan datang kepada imam yang zalim. Ada kata (إلى) berarti kata di Tadhmin, memiliki makna: mendatangi, bukan turun ke jalan dan demonstrasi.

Kalau memang Anda mampu, maka silakan datang langsung ke dalam istana dan amar ma’ruf dan nahi munkar kepada pemerintah, walaupun sampai terbunuh. Itu baru sesuai dengan Hadis, bukan demo di jalanan yang tidak sesuai dengan Hadis di atas.

Kedua: Hadis Nabi ﷺ adalah saling menjelaskan satu sama lainnya, sehingga terbentuklah pemahamannya yang benar. Maka hadis di atas dijelaskan dengan cara: menasihati pemimpin dengan cara yang baik dan benar dengan tidak dengan terang-terangan. Dan ber-amar ma’ruf serta nahi munkar kepadanya adalah dengan mendatanginya secara langsung, sebagaimana pemahaman dan pengamalan para Sahabat.

  1. Demonstrasi Pernah Dilakukan Sahabat

Pertama: Kisah Islamnya ‘Umar Yang Thawaf Berbaris Bersama Hamzah

Kita Jawab: Kisahnya lemah sekali, Syaikh Al-Albani mengatakan: Munkar, sehingga tidak bisa dijadikan hujjah. [Lihat: Silsilah Al-Ahaadiits Adh-Dha’iifah (no. 6531)]

Kalaupun Shahih, maka bukanlah menjadi dalil untuk demonstrasi, karena ini adalah pengumuman Islamnya Hamzah dan ‘Umar, maka di mana letak demonstrasinya? Dan dalam rangka menentang apa?

Kedua: Kisah Wanita Yang Mendatangi Nabi ﷺ Untuk Mengadukan Perilaku Suaminya Yang Kasar Terhadap Istri

Kita Jawab: Ini Bukan Demo

Bahkan inilah yang di syariatkan: Mengadukan permasalahan langsung dengan menghadap pemerintah, bukan berdemo di jalan. Karena Shahabiyat langsung datang ke rumah Nabi ﷺ dan bukan keliling kota Madinah berjalan-jalan meneriakkan yel-yel, bahwa suami mereka berbuat kasar.

Bantahan kedua: Ini terjadi bukan karena kesepakatan, bahkan hanya kebetulan banyak para wanita yang mengadukan kepada Nabi ﷺ perihal suami mereka. Lantas bagaimana dengan demonstrasi yang menggerakkan masa?? Alangkah jauhnya perbedaan antara keduanya!

Masih banyak syubhat (kerancuan) dalam masalah Demonstrasi yang lebih lemah dari syubhat di atas. Insyaa Allaah jika masih ada kesempatan, akan ada bantahan jilid selanjutnya terhadap syubhat mereka.

Semoga bermanfaat.

 

Penulis: Dika Wahyudi Lc.

 

Sumber:

https://www.facebook.com/dika.wahyudi.140/posts/764094400411089

https://aslibumiayu.net/17256-alasan-alasan-pendukung-demonstrasi-alasan-yang-rapuh-dan-bukan-di-atas-ilmu.html

 

,

DOA NABI NUH MOHON AMPUNAN UNTUK DIRI, ORANG TUA DAN KAUM MUSLIMIN

DOA NABI NUH MOHON AMPUNAN UNTUK DIRI, ORANG TUA DAN KAUM MUSLIMIN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir

DOA NABI NUH MOHON AMPUNAN UNTUK DIRI, ORANG TUA DAN KAUM MUSLIMIN

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيْهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ. كُلَّمَا دَعَا ِلأَخِيْهِ بِخَيْرٍ، قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ: آمِيْنَ. وَلَكَ بِمِثْلٍ.

‘Doa seorang Muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya, adalah doa yang akan dikabulkan [Walaupun orang yang didoakannya berada di hadapan orang yang mendoakannya, seperti berdoa dengan hatinya, atau dengan lisan, tetapi tidak terdengar oleh orang yang didoakan (‘Aunul Ma’buud IV/275-276) – pent]

Pada kepalanya ada Malaikat yang menjadi wakil baginya. Setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka Malaikat tersebut berkata: ‘Aamiin, dan engkau pun mendapatkan apa yang ia dapatkan.’ [Shahiih Muslim kitab adz-Dzikr wad Du’aa’ wat Taubah wal Istighfaar bab Fadhlud Du’aa’ lil Muslimiin bi Zhahril Ghaib (IV/ 2094 no. 2733 (88)]

Dari hadis yang mulia ini kita bisa mengetahui, bahwa ada dua golongan manusia yang mendapatkan doa dari para Malaikat. Mereka itu adalah orang yang didoakan oleh saudaranya sesama Muslim, sedangkan dia tidak mengetahuinya, karena Malaikat yang ditugaskan kepada orang yang sedang mengucapkan: “Aamiin,” maknanya adalah: “Ya Allah, kabulkanlah doanya bagi saudaranya.” [‘Aunul Ma’buud (IV/276)].

Sedangkan yang kedua adalah orang yang mendoakannya, karena Malaikat yang diutus kepadanya berkata: “Dan engkau pun mendapatkan apa yang didapatkan oleh saudaramu.”[ ‘Aunul Ma’buud (IV/276)].

Al-Imam Ibnu Hibban membuat sebuah bab dalam Shahiihnya dengan judul: “Anjuran untuk Memerbanyak Berdoa kepada Saudara Sesama Muslim Tanpa Sepengetahuan Orang yang Didoakan, dengan Harapan Permohonan untuk Keduanya Dikabulkan.”[ Al-Ihsaan fii Taqriibi Shahih Ibni Hibban kitab ar-Raqaa-iq bab al-Ad’iyah (III/278)].

Mari kita  doakan ampunan untuk diri kita, orang tua kita, orang Mukmin yang masuk ke rumah kita dan saudara kita lainnya yang beriman, baik laki-laki maupun perempuan.

رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَنْ دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَلَا تَزِدِ الظَّالِمِينَ إِلَّا تَبَارًا

  • Robbigh-firlii wali waalidayya
  • Wa liman dakhola baitiya mu’-minan
  • Wa lil mu’-miniina wal mu’-minaati
  • Wa laa tazididz-dzoolimiina illaa tabaaro

Artinya:

Ya Rabb! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang-orang mukmin yang masuk ke rumahku, dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan” (QS. Nuh 71: 28).

Sumber:

 

 

 

,

FATWA ULAMA SAUDI TENTANG DEMO 4 NOPEMBER 2016: TIDAK DIBENARKAN IKUT DEMO

FATWA ULAMA SAUDI TENTANG DEMO 4 NOPEMBER 2016: TIDAK DIBENARKAN IKUT DEMO

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#ManhajSalaf

#TidakDemonstrasi

FATWA ULAMA SAUDI TENTANG DEMO 4 NOPEMBER 2016: TIDAK DIBENARKAN IKUT DEMO

Fatwa Syaikh ‘Abdul Muhsin AL-‘ABBAD -Hafizhahullaah- (Sekarang Beliau Berusia 85 Tahun -Hitungan Tahun Hijriyyah-)

 

قَالَ: رَئِيْسُ مَدِيْنَةِ جَاكَارْتَا يَسْتَهْزِئُ بِالْقُرْآنِ وَعُلَمَاءِ الْمُسْلِمِيْنَ، وَهُوَ نَصْرَانِيٌ، وَفِي رَابِعِ نُوْفِمْبَر: سَتُقَامُ الْمُظَاهَرَةِ لِطَلَبِ الْمَحَاكَمَةِ. هَلْ يَجُوْزُ لَنَا الْخُرُوْجُ؟ عِلَمًا بِأَنَّهُ كَافِرٌ لاَ بَيْعَةَ لَهُ، وَالْمُظَاهَرَةُ يُرَاعَى فِيْهَا الأَدَبُ، وَعَدَمُ إِفْسَادِ الْمَرَافِقِ الْعَامَّةِ.

[قَالَ الشَّيْخُ]: الْمُظَاهَرَاتُ وَالْمُشَارَكَةُ فِيْهَا: غَيْرُ صَحِيْحٍ، وَلٰكِنْ يَعْمَلُوْنَ مَا يُمْكِنُهُمْ مِنْ غيْرِ الْمُظَاهَرَاتِ؛ يُكْسِبُوْنَ وَيَذْهَبُوْنَ يَعْنِيْ يَذْهَبُ أُنَاسٌ لِمُرَاجَعَةِ الْمَسْؤُوْلِ الأَكْبَرِ…

 

(Penanya) berkata:

Gubernur Kota Jakarta mengolok-olok Alquran dan Ulama kaum Muslimin. Dia seorang Nasrani. Dan pada 4 November akan diadakan demonstrasi untuk meminta agar dia dihukum.

Bolehkah kita ikut keluar (berdemo)? Dan kita ketahui bahwa dia adalah kafir, yang kita tidak wajib untuk membaiatnya. Dan juga di dalam demonstrasi tersebut akan dijaga adab-adabnya dan tidak ada perusakkan terhadap fasilitas umum.

 

(Syaikh menjawab):

“Demonstrasi dan ikut serta di dalamnya: TIDAK DIBENARKAN.

Akan tetapi mereka (kaum Muslimin) bisa melakukan usaha dengan (mengutus) beberapa orang untuk pergi menasihati pimpinan terbesar (Presiden)…”

 

Ditanyakan oleh sebagian Mahasiswa Madinah -yang kami cintai karena Allah-, pada waktu Maghrib, 31 Oktober 2016 M (semoga Allah membalas semuanya dengan kebaikan).

https://drive.google.com/file/d/0Bx7DPlyk_AgSOTVidTNxWFc0SEU/view?usp=docslist_api

 

Sumber: https://aslibumiayu.net/17227-fatwa-ulama-saudi-tentang-demo-4-nopember-tidak-dibenarkan-ikut-demo.html