Posts

, ,

KEUTAMAAN BERDOA SEMBARI MENGANGKAT TANGAN

KEUTAMAAN BERDOA SEMBARI MENGANGKAT TANGAN

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

KEUTAMAAN BERDOA SEMBARI MENGANGKAT TANGAN
 
Dari Salman Al-Farisy radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
 
إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِيٌّ كَرِيمٌ، يَسْتَحْيِي مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ، أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا
 
“Sesungguhnya Rabb kalian tabaraka wa ta’ala Maha Pemalu lagi Maha Pemurah. Dia malu terhadap hamba-Nya, bila (sang hamba) mengangkat kedua tangannya kepada-Nya, lalu Ia mengembalikan (kedua tangan hamba itu) dalam keadaan hampa.” [Hadis hasan. Diriwayatkan Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzy dan Ibnu Majah. Baca Shahih Abi Dawud karya Al-Albany dan Tahqiq Musnad Ahmad karya Syu’aib Al-Arna`uth.]
 
 
Penulis: Al-Ustadz Dzulqarnain M Sunusi hafizahullah
Sumber: Dzulqarnain.net

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

#AdabAkhlak, #DoaZikir

MENCUKUR RAMBUT BAYI DAN SEDEKAH DENGAN PERAK (BUKAN EMAS)

MENCUKUR RAMBUT BAYI DAN SEDEKAH DENGAN PERAK (BUKAN EMAS)
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
MENCUKUR RAMBUT BAYI DAN SEDEKAH DENGAN PERAK (BUKAN EMAS)
 
Pertanyaan:
Jika bayi baru lahir harus disedekahkan sesuai dengan berat rambut bayi. Yang ingin ditanyakan, jumlah sedekahnya sesuai dengan harga emas atau perak? Karena tentunya harga emas dan perak berbeda cukup jauh. Mohon penjelasannya.
 
Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,
 
Yang dianjurkan untuk dijadikan acuan sedekah adalah PERAK, BUKAN EMAS, menurut pendapat yang lebih kuat. Meskipun ada sebagian ulama yang menilai Dhaif semua hadis yang menganjurkan sedekah dengan perak, seberat rambut bayi.
 
Salah satu hadis pokok yang bisa kita jadikan acuan dalam hal ini adalah hadis dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi ﷺ mengakikahi Hasan dengan kambing, dan beliau ﷺ menyuruh Fatimah:
 
عق رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الحسن بشاة، وقال: يا فاطمة احلقي رأسه وتصدقي بزنة شعره فضة
 
‘Cukur rambutnya, dan bersedekahlah dengan perak seberat rambut itu.’
 
Fatimah pun menimbang rambut itu, dan ternyata beratnya sekitar satu Dirham atau kurang dari satu Dirham. [HR. Turmudzi 1519, Ibnu Abi Syaibah dalam Mushanaf 24234, dishahihkan al-Hakim dalam Mustadrak 7589 dan didiamkan azd-Dzahabi]
 
Catatan: Satu Dirham = 2,975 gr perak [Lihat: http://www.ahlalhdeeth.com/vb/archive/index.php/t-7108.html]
 
Kemudian dalam karyanya Tuhfatul Maudud, Ibnul Qoyim menyebutkan beberapa riwayat dan keterangan ulama yang menganjurkan bersedekah dengan perak seberat rambut bayi.
 
Pertama: Imam Ahmad mengatakan:
 
إن فاطمة رضي الله عنها حلقت رأس الحسن والحسين وتصدقت بوزن شعرهما ورقا
 
“Sesungguhnya Fatimah radhiyallahu ‘anha mencukur rambut Hasan dan Husain, dan bersedekah dengan wariq (perak) seberat rambutnya.
 
Kedua, Imam Malik meriwayatkan dalam al-Muwatha’, dari Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya, beliau mengatakan:
 
وزنت فاطمة شعر حسن وحسين وزينب وأم كلثوم فتصدقت بزنة ذلك فضة
 
Fatimah menimbang rambut Hasan, Husain, Zainab, dan Ummu Kultsum, dan beliau bersedekah dengan perak seberat rambut itu.
 
Ketiga, Imam Malik juga menyebutkan dalam al-Muwatha’ dari Muhammad bin Ali bin Husain, bahwa beliau mengatakan:
 
وزنت فاطمة بنت رسول الله شعر حسن وحسين فتصدقت بزنته فضة
 
Fatimah bintu Rasulullah ﷺ menimbang rambut Hasan dan Husain, kemudian beliau bersedekah dengan perak seberat rambut itu.
 
Dan masih banyak riwayat lainnya yang disebutkan Ibnul Qoyim.
 
Cara Bersedekah dengan Rambut Bayi
 
Sebagian orang ada yang kebingungan, bagaimana cara yang tepat bersedekah dengan perak seberat rambut bayi. Terlebih di beberapa daerah, cukup sulit untuk bisa mendapatkan perak.
 
Di masa silam, perak termasuk mata uang yang berlaku di masyarakat dan mudah didapatkan. Karena itu, sedekah dalam hal ini tidak harus berujud perak. Boleh diberikan dalam bentuk uang, namun mengacu pada harga perak.
 
Caranya:
Timbang rambut bayi. Jika tidak memungkinkan, karena kita kesulitan mendapatkan timbangan benda ringan, cukup diprediksi saja. Kita perkirakan berapa gram berat rambut itu. Misal: 2 gram.
 
Kita cari informasi harga perak/gr. Misal: 12.000. Kalikan seberat prediksi berat rambut bayi. (2 gr x Rp 12.000 = Rp 24.000)
 
Sedekahkan uang Rp 24.000 kepada orang miskin SIAPAPUN yang ada di sekitar kita. Boleh juga kita tambahi atau digenapkan.
 
Allahu a’lam.
 
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)
[Artikel www.KonsultasiSyariah.com]
 
 
══════
 
Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
, ,

ADAKAH ANJURAN MEMERLAMA SUJUD TERAKHIR UNTUK BERDOA?

ADAKAH ANJURAN MEMERLAMA SUJUD TERAKHIR UNTUK BERDOA?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#SifatSholatNabi
 
ADAKAH ANJURAN MEMERLAMA SUJUD TERAKHIR UNTUK BERDOA?
 
Segala puji bagi Allah, pemberi segala nikmat. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
Kita ketahui bersama, bahwa ketika sujud adalah waktu terbaik untuk berdoa. Seperti disebutkan dalam hadis:
 
أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ
 
“Yang paling dekat antara seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika ia sujud. Maka perbanyaklah doa ketika itu.” [HR. Muslim no. 482, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu]
 
Namun seringkali kita lihat di lapangan, sebagian orang malah seringnya memperlama sujud terakhir ketika shalat. Tujuannya adalah agar memerbanyak doa ketika itu. Apakah benar bahwa saat sujud terakhir mesti demikian? Semoga sajian singkat ini bermanfaat.
 
Al Baro’ bin ‘Azib mengatakan:
 
كَانَ رُكُوعُ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – وَسُجُودُهُ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ وَبَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ قَرِيبًا مِنَ السَّوَاءِ
 
“Ruku’, sujud, bangkit dari ruku’ (i’tidal), dan duduk antara dua sujud yang dilakukan oleh Nabi ﷺ, semuanya hampir sama (lama dan thuma’ninahnya).” [HR. Bukhari no. 801 dan Muslim no. 471]
 
Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin pernah ditanya:
“Apakah diperkenankan memperpanjang sujud terakhir dari rukun shalat lainnya, di dalamnya seseorang memperbanyak doa dan istighfar? Apakah shalat menjadi cacat jika seseorang memperlama sujud terakhir?”
 
Beliau rahimahullah menjawab:
“Memerpanjang sujud terakhir ketika shalat bukanlah termasuk sunnah Nabi ﷺ. Karena yang disunnahkan adalah seseorang melakukan shalat antara ruku’, bangkit dari ruku’ (i’tidal), sujud dan duduk antara dua sujud itu HAMPIR SAMA LAMANYA. Sebagaimana hal ini dijelaskan dalam hadis Baro’ bin ‘Azib, ia berkata: “Aku pernah shalat bersama Nabi ﷺ. Aku mendapati bahwa berdiri, ruku’, sujud, duduk beliau sebelum salam dan berpaling, semuanya hampir sama (lamanya).” Inilah yang afdhal.
 
Akan tetapi ada TEMPAT DOA SELAIN SUJud yaitu SETELAH TASYAHUD (SEBELUM SALAM). Nabi ﷺ ketika mengajarkan ‘Abdullah bin Mas’ud tasyahud, beliau bersabda: “Kemudian setelah tasyahud, terserah padamu berdoa dengan doa apa saja”.
 
Maka berdoalah ketika itu, sedikit atau pun lama, setelah tasyahud akhir sebelum salam. [Fatawa Nur ‘ala Ad Darb, kaset no. 376, side B]
 
Dalam Fatawa Al Islamiyah (1/258), Syaikh ‘Abdullah Al Jibrin rahimahullah berkata:
“Aku tidak mengetahui adanya dalil yang menyebutkan untuk memperlama sujud terakhir dalam shalat. Yang disebutkan dalam berbagai hadis, rukun shalat atau keadaan lainnya itu hampir sama lamanya.”
 
Syaikh ‘Abdullah Al Jibrin rahimahullah juga menjelaskan:
“Aku tidak mengetahui adanya dalil yang menganjurkan untuk memperlama sujud terakhir dalam shalat. Akan tetapi, memang sebagian imam melakukan seperti ini sebagai isyarat pada makmum, bahwa ketika itu adalah rakaat terakhir, atau ketika itu adalah amalan terakhir dalam shalat.
 
Karenanya, mereka pun memperpanjang sujud ketika itu. Dari sinilah, mereka maksudkan agar para jamaah tahu, bahwa setelah itu adalah duduk terakhir, yaitu duduk tasyahud akhir. Namun alasan semacam ini tidaklah menjadi sebab dianjurkan memperpanjang sujud terakhir ketika itu.”
[Fatawa Syaikh Ibnu Jibrin, Ahkam Qoth’ush Sholah, Fatawan no. 2046 dari website beliau]
 
Dari penjelasan singkat ini, nampaklah bahwa TIDAK ADA ANJURAN untuk memerlama sujud terakhir ketika shalat, agar bisa memerbanyak doa ketika itu.
 
Yang tepat, hendaklah gerakan rukun yang ada sama atau hampir sama lamanya dan thuma’ninahnya.”
 
Silakan membaca doa ketika sujud terakhir, namun hendaknya LAMANYA HAMPIR SAMA dengan sujud sebelumnya, atau sama dengan rukun lainnya. Apalagi jika imam sudah selesai dari sujud terkahir dan sedang tasyahud, maka selaku makmum hendaklah mengikuti imam ketika itu. Karena imam tentu saja diangkat untuk diikuti.
 
Nabi ﷺ bersabda:
 
إِنَّمَا جُعِلَ الإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَلاَ تَخْتَلِفُوا عَلَيْهِ
 
“Imam itu diangkat untuk diikuti, maka janganlah diselisihi.” [HR. Bukhari no. 722, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu]
 
Hanya Allah yang memberi taufik.
 
Referensi: Website Syaikh Sholih Al Munajid – Al Islam Sual wa Jawab (http://islamqa.com/ar/ref/111889/ )
 
~ Penulis: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal
(Artikel www.rumaysho.com)

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

, ,

PEMBACAAN SHALAWAT NABI KETIKA BERDOA SAAT SUJUD

PEMBACAAN SHALAWAT NABI KETIKA BERDOA SAAT SUJUD

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#SifatSholatNabi
 
PEMBACAAN SHALAWAT NABI KETIKA BERDOA SAAT SUJUD
 
Pertanyaan:
Bagaimana tatacara pembacaan shalawat Nabi ﷺ saat kita mau berdoa di waktu sujud, agar doa ana tidak menggantung Keterangan ini ana dapatkan saat menghadiri suatu kajian.
 
Jawaban Redaksi salamdakwah.com
Membaca shalawat kepada Nabi ﷺ adalah termasuk sebab diterimanya doa. Sebagaimana itu disyariatkan diluar sujud, hal itu juga disyariatkan di kala sujud.
Teknisnya adalah kita membaca zikir sujud terlebih dahulu, kemudian membaca shalawat, dan selanjutnya membaca doa.
 
Membaca shalawat boleh dengan shalawat yang panjang yang diajarkan oleh Nabi ﷺ:
اللَّهُّم صلِّ على محمدٍ وعلى آل محمد كما صلَّيْتَ على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد، اللَّهُّم بارِكْ على محمدٍ وعلى آل محمد كما باركتَ على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميدٌ مجيد
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad, kamaa shallaita ‘ala Ibrohim wa ‘ala aali Ibrohim, innaKa Hamidum Majid. Allahumma barik ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad, kama barokta ‘ala Ibrohim wa ‘ala ali Ibrohim, innaKa Hamiidum Majid.
Artinya
Ya, Allah. Berilah (yakni, tambahkanlah) shalawat (sanjungan) kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi shalawat kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia. Ya, Allah. Berilah berkah (tambahan kebaikan) kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi berkah kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia. [HR Bukhari, Muslim, dan lainnya. Lihat Shifat Shalat Nabi, hlm. 165-166, karya Al Albani, Maktabah Al Ma’arif].
 
Boleh juga membaca shalawat dalm bentuk yang pendek seperti:
 
اللهم صل وسلم على رسول الله
 
[Disarikan dari Fatwa Syaikh Ibnu Baz di Fatawa Nur ‘Ala Ad-Darb 8/312-313]
 
 

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

, ,

BAGAIMANA CARA MENULIS INSYA ALLAH YANG BENAR?

BAGAIMANA CARA MENULIS INSYA ALLAH YANG BENAR?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
 
BAGAIMANA CARA MENULIS INSYA ALLAH YANG BENAR?
 
Pertanyaan:
Bagaimana cara penulisan insyaaAllah yang benar? InsyaAllah ataukah Insyaa Allah atau Insha Allah? Atau bagaimana? Katanya, kalau salah ucap, salah makna.
 
Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,
 
Dalam bahasa Arab, kata “Insyaa Allah” ditulis dengan:
 
إِنْ شَاءَ اللَّهُ
 
Yang artinya, ‘Jika Allah menghendaki’.
 
Ada tiga kata dalam kalimat ini:
 
a. Kata [إِنْ], artinya jika. Dalam bahasa Arab disebut Harfu Syartin Jazim (Huruf syarat yang menyebabkan kata kerja syarat menjadi Jazm)
 
b. Kata [شَاءَ], artinya menghendaki. Dia Fiil Madhi (Kata kerja bentuk lampau), sebagai Fiil Syarat (Kata kerja syarat) yang berkedudukan majzum.
 
c. Kata [اللَّهُ], sebagai subjek dari Fiil Syarat.
 
Memahami susunan di atas, berarti kalimat [إِنْ شَاءَ اللَّهُ] adalah kalimat syarat, yang di sana membutuhkan jawab syarat. Namun di sana, jawab syaratnya tidak disebutkan, karena disesuaikan dengan konteks kalimat.
 
Sebagai contoh, jika konteks pembicaraan kita adalah berangkat ke kota Jogja, maka kalimat lengkapnya adalah: ’Jika Allah menghendaki, maka saya akan berangkat ke Jogja.’
 
Kalimat ’Maka saya akan berangkat ke Jogja’ merupakan jawab syarat tersebut.
 
Bagaimana Cara Penulisan yang Benar?
 
Kalimat insyaa Allah berasal dari bahasa Arab. Dan karena sering digunakan oleh masyarakat tanpa diterjemahkan, kalimat ini menjadi bagian dari bahasa kita. Mengingat huruf bahasa Indonesia dan huruf bahasa Arab BERBEDA, masyarakat akan sangat kerepotan jika harus menuliskan kalimat ini dengan teks Arabnya. Sehingga kita perlu melakukan transliterasi untuk menuliskan kata ini dengan huruf Latin.
 
Karena itu, sebenarnya mengenai bagaimana transliterasi tulisan [إِنْ شَاءَ اللَّهُ] yang tepat, ini kembali kepada ATURAN BAKU masalah infiltrasi kata dan bahasa.
 
Bagi sebagian orang, baku itu bukan suatu keharusan. Yang penting masyarakat bisa memahami. Misalnya kata ‘Allah’, yang benar ditulis Allah, Alloh, ALLAH, atau bagaimana. Bagi sebagian orang, ini kembali kepada selera penulisnya.
 
Sebagai catatan, transliterasi kalimat bahasa asing, dibuat untuk membantu pengucapan kalimat asing itu dengan benar. Kita bisa bandingkan, transliterasi teks Arab untuk masyarakat berbahasa Inggris dengan transliterasi teks Arab untuk orang Indonesia. Karena semacam ini disesuaikan dengan fungsinya, yaitu untuk membantu pengucapan kalimat Arab tersebut dengan benar.
 
Dengan demikian, sebenarnya transliterari TIDAK bisa dijadikan acuan benar dan salahnya tulisan. Karena tidak ada aturan yang disepakati di sana, semua kembali kepada selera penulis. Yang lebih penting adalah, bagaimana cara pengucapannya yang tepat, sehingga tidak mengubah makna.
 
Tulisan Arabnya yang benar adalah:
[إِنْ شَاءَ اللَّهُ],
 
Kita bisa menuliskan Latinnya dengan insyaaAllah atau insyaa Allah atau inshaaAllah atau inshaa Allah atau insyaallah. TIDAK ada yang baku di sini, karena ini semua transliterasi. Yang penting kita bisa mengucapkannya dengan benar, sesuai teks Arabnya.
 
Karena itu, sejatinya TIDAK ADA YANG PERLU DIPERMASALAHKAN dalam penulisan transliterasi semacam ini. Selama cara pengucapan dan makna yang dimaksud sama.
 
Allahu a’lam.
 
 
 
Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)
,

TATA CARA SUJUD SAHWI

TATA CARA SUJUD SAHWI

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 

#SifatSholatNabi

TATA CARA SUJUD SAHWI

Contoh Cara Melakukan Sujud Sahwi Sebelum dan Sesudah Salam

Sahwi secara bahasa bermakna lupa atau lalai.[Lisanul ‘Arob, Muhammad bin Makrom binn Manzhur Al Afriqi Al Mishri, 14/406, Dar Shodir]. Sujud Sahwi secara istilah adalah sujud yang dilakukan di akhir shalat atau setelah shalat, untuk menutupi cacat dalam shalat, karena meninggalkan sesuatu yang diperintahkan, atau mengerjakan sesuatu yang dilarang dengan tidak sengaja.[Shahih Fiqh Sunnah, Syaikh Abu Malik, 1/459, Al Maktabah At Taufiqiyah]

Sebagaimana telah dijelaskan dalam beberapa hadis, bahwa Sujud Sahwi dilakukan dengan dua kali sujud di akhir shalat, sebelum atau sesudah salam. Ketika ingin sujud disyariatkan untuk mengucapkan takbir “Allahu akbar”, begitu pula ketika ingin bangkit dari sujud disyariatkan untuk bertakbir.

Contoh Cara Melakukan Sujud Sahwi Sebelum Salam

Sebagaimana dijelaskan dalam hadis ‘Abdullah bin Buhainah:

فَلَمَّا أَتَمَّ صَلَاتَهُ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ فَكَبَّرَ فِي كُلِّ سَجْدَةٍ وَهُوَ جَالِسٌ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ

“Setelah beliau menyempurnakan shalatnya, beliau sujud dua kali. Ketika itu beliau bertakbir pada setiap akan sujud dalam posisi duduk. Beliau lakukan Sujud Sahwi ini sebelum salam.” [HR. Bukhari no. 1224 dan Muslim no. 570]

Contoh Cara Melakukan Sujud Sahwi Sesudah Salam

Sebagaimana dijelaskan dalam hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَسَلَّمَ ثُمَّ كَبَّرَ ثُمَّ سَجَدَ ثُمَّ كَبَّرَ فَرَفَعَ ثُمَّ كَبَّرَ وَسَجَدَ ثُمَّ كَبَّرَ وَرَفَعَ

“Lalu beliau shalat dua rakaat lagi (yang tertinggal), kemudia beliau salam. Sesudah itu beliau bertakbir, lalu bersujud. Kemudian bertakbir lagi, lalu beliau bangkit. Kemudian bertakbir kembali, lalu beliau sujud kedua kalinya. Sesudah itu bertakbir, lalu beliau bangkit.” [HR. Bukhari no. 1229 dan Muslim no. 573]

Sujud Sahwi sesudah salam ini ditutup lagi dengan salam, sebagaimana dijelaskan dalam hadis ‘Imron bin Hushain;

فَصَلَّى رَكْعَةً ثُمَّ سَلَّمَ ثُمَّ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ.

“Kemudian beliau pun shalat satu rakaat (menambah rakaat yang kurang tadi). Lalu beliau salam. Setelah itu beliau melakukan Sujud Sahwi dengan dua kali sujud. Kemudian beliau salam lagi.” [HR. Muslim no. 574]

Apakah Ada Takbiratul Ihram Sebelum Sujud Sahwi?

Sujud Sahwi sesudah salam TIDAK PERLU diawali dengan Takbiratul Ihram. Cukup dengan takbir untuk sujud saja. Pendapat ini adalah pendapat Mayoritas Ulama. Landasan mengenai hal ini adalah hadis-hadis mengenai Sujud Sahwi yang telah lewat.

Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah berkata: “Para ulama berselisih pendapat mengenai Sujud Sahwi sesudah salam, apakah disyaratkan Takbiratul Ihram, ataukah cukup dengan takbir untuk sujud? Mayoritas ulama mengatakan cukup dengan takbir untuk sujud. Inilah pendapat yang nampak kuat dari berbagai dalil.” [Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, 3/99, Darul Ma’rifah, 1379]

Apakah Perlu Tasyahud Setelah Sujud Kedua dari Sujud Sahwi?

Pendapat yang terkuat di antara pendapat ulama yang ada, TIDAK PERLU untuk Tasyahud lagi setelah sujud kedua dari Sujud Sahwi, karena tidak ada dalil dari Nabi ﷺ yang menerangkan hal ini. Adapun dalil yang biasa jadi pegangan bagi yang berpendapat adanya, dalilnya adalah dalil-dalil yang lemah.

Jadi cukup ketika melakukan Sujud Sahwi, bertakbir untuk sujud pertama, lalu sujud. Kemudian bertakbir lagi untuk bangkit dari sujud pertama dan duduk sebagaimana duduk antara dua sujud (duduk Iftirosy). Setelah itu bertakbir dan sujud kembali. Lalu bertakbir kembali, kemudian duduk Tawaruk. Setelah itu salam, tanpa Tasyahud lagi sebelumnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: “TIDAK ADA dalil sama sekali yang mendukung pendapat ulama yang memerintahkan untuk Tasyahud setelah sujud kedua dari Sujud Sahwi. Tidak ada satu pun hadis Shahih yang membicarakan hal ini. Jika memang hal ini disyariatkan, maka tentu saja hal ini akan dihafal dan dikuasai oleh para sahabat yang membicarakan tentang Sujud Sahwi. Karena kadar lamanya Tasyahud itu hampir sama lamanya dua sujud, bahkan bisa lebih. Jika memang Nabi ﷺ melakukan Tasyahud ketika itu, maka tentu para sahabat akan lebih mengetahuinya daripada mengetahui perkara salam, takbir ketika akan sujud dan ketika akan bangkit dalam Sujud Sahwi. Semua-semua ini perkara ringan dibanding Tasyahud.” [Dialihbahasakan secara bebas dari Majmu’ Al Fatawa, 23/49]

Doa Ketika Sujud Sahwi

Sebagian ulama menganjurkan doa ini ketika Sujud Sahwi:

سُبْحَانَ مَنْ لَا يَنَامُ وَلَا يَسْهُو

“Subhana man laa yanaamu wa laa yas-huw” (Maha Suci Dzat yang tidak mungkin tidur dan lupa). [Bacaan Sujud Sahwi semacam ini di antaranya disebutkan oleh An Nawawi rahimahullah dalam Roudhotuth Tholibiin, 1/116, Mawqi’ Al Waroq]

Namun zikir Sujud Sahwi di atas cuma anjuran saja dari sebagian ulama dan tanpa didukung oleh dalil. Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan:

قَوْلُهُ : سَمِعْت بَعْضَ الْأَئِمَّةِ يَحْكِي أَنَّهُ يَسْتَحِبُّ أَنْ يَقُولَ فِيهِمَا : سُبْحَانَ مَنْ لَا يَنَامُ وَلَا يَسْهُو – أَيْ فِي سَجْدَتَيْ السَّهْوِ – قُلْت : لَمْ أَجِدْ لَهُ أَصْلًا .

“Perkataan beliau, “Aku telah mendengar sebagian ulama yang menceritakan tentang dianjurkannya bacaan: “Subhaana man laa yanaamu wa laa yas-huw” ketika Sujud Sahwi (pada kedua sujudnya), maka aku katakan, “Aku tidak mendapatkan asalnya sama sekali.” (At Talkhis Al Habiir, 2/6)

Sehingga yang tepat mengenai bacaan ketika Sujud Sahwi adalah seperti bacaan sujud biasa ketika shalat. Bacaannya yang bisa dipraktikkan seperti:

سُبْحَانَ رَبِّىَ الأَعْلَى

“Subhaana robbiyal a’laa” [Maha Suci Allah Yang Maha Tinggi] [HR. Muslim no. 772]

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى

“Subhaanakallahumma robbanaa wa bi hamdika, allahummagh firliy.” [Maha Suci Engkau Ya Allah, Rabb kami, dengan segala pujian kepada-Mu, ampunilah dosa-dosaku ] [HR. Bukhari no. 817 dan Muslim no. 484]

Dalam Mughnil Muhtaj –salah satu kitab fikih Syafi’iyah- disebutkan, “Tata cara Sujud Sahwi sama seperti sujud ketika shalat dalam perbuatann wajib dan sunnahnya, seperti meletakkan dahi, thuma’ninah (bersikap tenang), menahan sujud, menundukkan kepala, melakukan duduk iftirosy [Duduk iftirosy adalah keadaan duduk seperti ketika Tasyahud awwal, yaitu kaki kanan ditegakkan, sedangkan kaki kiri diduduki pantat] ketika duduk antara dua Sujud Sahwi, duduk tawarruk [Duduk Tawaruk adalah duduk seperti Tasyahud akhir, yaitu kaki kanan ditegakkan sedangkan kaki kiri berada di bawah kaki kanan] ketika selesai dari melakukan Sujud Sahwi, dan zikir yang dibaca pada kedua sujud tersebut adalah seperti zikir sujud dalam shalat.”

Sebagaimana pula diterangkan dalam Fatwa Al Lajnah Ad Daimah (Komisi Fatwa di Saudi Arabia) ketika ditanya, “Bagaimanakah kami melakukan Sujud Sahwi?”

Para ulama yang duduk di Al Lajnah Ad Daimah menjawab:

“Sujud Sahwi dilakukan dengan dua kali sujud setelah Tasyahud akhir sebelum salam, dilakukan sebagaimana sujud dalam shalat. Zikir dan doa yang dibaca ketika itu adalah seperti ketika dalam shalat. Kecuali jika Sujud Sahwinya terdapat kekurangan satu rakaat atau lebih, maka ketika itu, Sujud Sahwinya sesudah salam. Demikian pula jika orang yang shalat memilih keraguan yang ia yakin lebih kuat, maka yang afdhol baginya adalah Sujud Sahwi sesudah salam. Hal ini berlandaskan berbagai hadis Shahih yang membicarakan Sujud Sahwi. Wabillahit taufiq, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa aalihi wa shohbihi wa sallam.” [Yang menandatangani fatwa ini: Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz sebagai ketua; Syaikh ‘Abdur Rozaq ‘Afifi sebagai wakil ketua; dan Syaikh ‘Abdullah bin Qu’ud sebagai anggota. Fatwa Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’ soal ketujuh, Fatwa no. 8540, 7/129]

 

Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah
 
Sumber:
,

SUJUD SAHWI SEBELUM ATAUKAH SESUDAH SALAM?

SUJUD SAHWI SEBELUM ATAUKAH SESUDAH SALAM?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
 
#SifatSholatNabi
 
SUJUD SAHWI SEBELUM ATAUKAH SESUDAH SALAM?
 
Sahwi secara bahasa bermakna lupa atau lalai.[Lisanul ‘Arob, Muhammad bin Makrom binn Manzhur Al Afriqi Al Mishri, 14/406, Dar Shodir]. Sujud Sahwi secara istilah adalah sujud yang dilakukan di akhir shalat atau setelah shalat, untuk menutupi cacat dalam shalat, karena meninggalkan sesuatu yang diperintahkan, atau mengerjakan sesuatu yang dilarang dengan tidak sengaja.[Shahih Fiqh Sunnah, Syaikh Abu Malik, 1/459, Al Maktabah At Taufiqiyah]

Shidiq Hasan Khon rahimahullah berkata: “Hadis-hadis tegas yang menjelaskan mengenai Sujud Sahwi kadang menyebutkan, bahwa Sujud Sahwi terletak sebelum salam dan kadang pula sesudah salam. Hal ini menunjukkan, bahwa boleh melakukan Sujud Sahwi sebelum ataukah sesudah salam. Akan tetapi lebih bagus jika Sujud Sahwi ini mengikuti cara yang telah dicontohkan oleh Nabi ﷺ. Jika ada dalil yang menjelaskan, bahwa Sujud Sahwi ketika itu sebelum salam, maka hendaklah dilakukan sebelum salam. Begitu pula jika ada dalil yang menjelaskan, bahwa Sujud Sahwi ketika itu sesudah salam, maka hendaklah dilakukan sesudah salam. Selain hal ini, maka di situ ada pilihan. Akan tetapi, memilih Sujud Sahwi sebelum atau sesudah salam itu hanya sunnah (tidak sampai wajib, pen).” [Ar Roudhotun Nadiyyah Syarh Ad Durorul Bahiyah, Shidiq Hasan Khon, 1/182, Darul ‘Aqidah, cetakan pertama, 1422 H]
 
Intinya, jika shalatnya perlu ditambal karena ada KEKURANGAN, maka hendaklah Sujud Sahwi dilakukan SEBELUM salam. Sedangkan jika shalatnya sudah pas atau BERLEBIH, maka hendaklah Sujud Sahwi dilakukan SESUDAH salam dengan tujuan untuk MENGHINAKAN SETAN.
 
Adapun penjelasan mengenai letak Sujud Sahwi sebelum ataukah sesudah salam dapat dilihat pada rincian berikut:
 
1. Jika terdapat kekurangan pada shalat, seperti kekurangan Tasyahud Awal, ini berarti kekurangan tadi butuh ditambal. Maka menutupinya tentu saja dengan Sujud Sahwi sebelum salam, untuk menyempurnakan shalat. Karena jika seseorang sudah mengucapkan salam, berarti ia sudah selesai dari shalat.
 
2. Jika terdapat kelebihan dalam shalat, seperti terdapat penambahan satu rakaat, maka hendaklah Sujud Sahwi dilakukan sesudah salam. Karena Sujud Sahwi ketika itu untuk menghinakan setan.
 
3. Jika seseorang terlanjur salam, namun ternyata masih memiliki kekurangan rakaat, maka hendaklah ia menyempurnakan kekurangan rakaat tadi. Pada saat ini, Sujud Sahwinya adalah sesudah salam dengan tujuan untuk menghinakan setan.
 
4. Jika terdapat keragu-raguan dalam shalat, lalu ia mengingatnya dan bisa memilih yang yakin, maka hendaklah ia Sujud Sahwi sesudah salam untuk menghinakan setan.
 
5. Jika terdapat keragu-raguan dalam shalat, lalu tidak nampak baginya keadaan yang yakin. Semisal ia ragu apakah shalatnya empat atau lima rakaat. Jika ternyata shalatnya benar lima rakaat, maka tambahan sujud tadi untuk menggenapkan shalatnya tersebut. Jadi seakan-akan ia shalat enam rakaat, bukan lima rakaat. Pada saat ini Sujud Sahwinya adalah sebelum salam karena shalatnya ketika itu seakan-akan perlu ditambal disebabkan masih ada yang kurang yaitu yang belum ia yakini.
 
 
Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah
 
,

CARA BERDOA PADA SAAT SUJUD

CARA BERDOA PADA SAAT SUJUD
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
 
#SifatSholatNabi
 
CARA BERDOA PADA SAAT SUJUD
>> Hukum Pembacaan Shalawat Nabi Ketika Berdoa Saat Sujud
 
Pertanyaan:
Apakah pada saat berdoa ketika sujud dalam shalat dianjurkan untuk bershalawat terlebih dahulu, baru menyampaikan hajat kita kepada Allah? Atau langsung menyampaikan hajat kepada Allah setelah membaca doa sujud? Dan minta saran tata cara doa dalam sujud itu bagaimana ?
 
Jawaban Redaksi Salamdakwah.com:
Membaca shalawat kepada Nabi ﷺ adalah termasuk sebab diterimanya doa, sebagaimana itu disyariatkan di luar sujud, itu juga disyariatkan di kala sujud.
Teknisnya adalah kita membaca zikir sujud terlebih dahulu, kemudian membaca shalawat, dan selanjutnya membaca doa.
 
Membaca shalawat boleh dengan shalawat yang panjang yang diajarkan oleh Nabi ﷺ:
 
اللَّهُّم صلِّ على محمدٍ وعلى آل محمد كما صلَّيْتَ على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد، اللَّهُّم بارِكْ على محمدٍ وعلى آل محمد كما باركتَ على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميدٌ مجيد
 
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad, kamaa shallaita ‘ala Ibrohim wa ‘ala aali Ibrohim, innaKa Hamidum Majid. Allahumma barik ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad, kama barokta ‘ala Ibrohim wa ‘ala ali Ibrohim, innaKa Hamiidum Majid.
 
Artinya
Ya, Allah. Berilah (yakni, tambahkanlah) shalawat (sanjungan) kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi shalawat kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia. Ya, Allah. Berilah berkah (tambahan kebaikan) kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi berkah kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia. [HR Bukhari, Muslim, dan lainnya].
 
Boleh juga membaca shalawat dalm bentuk yang pendek seperti:
 
اللهم صل وسلم على رسول الله
 
Disarikan dari fatwa syaikh Ibnu Baz di Fatawa Nur ‘Ala Ad-Darb 8/312-313
 

BERWUDHU DAN TIDAK BERKUMUR ATAU ISTINSYAQ (MENGHISAP AIR KE HIDUNG), TIDAK SAH WUDHUNYA

BERWUDHU DAN TIDAK BERKUMUR ATAU ISTINSYAQ (MENGHISAP AIR KE HIDUNG), TIDAK SAH WUDHUNYA
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
 
#SifatWudhuNabi
 
BERWUDHU DAN TIDAK BERKUMUR ATAU ISTINSYAQ (MENGHISAP AIR KE HIDUNG), TIDAK SAH WUDHUNYA
 
Pertanyaan:
Salah seorang temanku pernah bertanya kepadaku, yaitu apakah sah wudhunya tanpa berkumur dan istinsyaq (memasukkan air ke hidung) karena ayat Alquran tidak merinci masalah ini. Akan tetapi dijelaskan secara umum yaitu membasuh wajah. Apakah wudhu saya sah kalau saya lupa atau sengaja hanya membasuh wajah tanpa berkumur dan istinsyaq. Apakah dibolehkan kalau hari ini saya mandi dengan niat wudhu tanpa berkumur atau istinsyaq. Apakah hal itu sah seperti halnya dalam berwudhu?
 
Jawaban:
Alhamdulillah
 
Para ulama berbeda pendapat tentang hukum berkumur dan beristinsyaq (memasukkan air ke hidung) dalam wudhu dan mandi. Yang kuat di antara pendapat tersebut adalah bahwa keduanya WAJIB. Maka TIDAK SAH berwudhu dan mandi kecuali dengan melakukan keduanya, karena kedunya masuk wajah yang diperintahkan dalam ayat yang mulia.
 
Al-Hijawi dalam kitab ‘Az-Zad’ dalam bab Furudhul Wudhu Wa Sifatuhu, hal. 29 mengatakan: “Fardhu (Rukun) wudhu ada 6 (enam), yaitu:
1. Membasuh wajah (temasuk berkumur dan memasukkan sebagian air ke dalam hidung lalu dikeluarkan).
2. Membasuh kedua tangan sampai kedua siku.
3. Mengusap (menyapu) seluruh kepala (termasuk mengusap kedua daun telinga).
4. Membasuh kedua kaki sampai kedua mata kaki.
5. Tertib (berurutan).
6. Muwalah (tidak diselingi dengan perkara-perkara yang lain, yaitu tidak mengakhirkan membasuh anggota tubuh sampai kering anggota tubuh sebelumnya)
 
Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah dalam penjelasannya mengatakan: “Perkataan ‘termasuk mulut dan hidung’ maksudnya dari wajah. Karena keberadaannya di sana, maka dianggap masuk dalam pengertian wajah. Dengan demikian, maka berkumur dan istinsyaq termasuk kewajiban wudhu. Akan tetapi keduanya tidak sendirian. Keduanya seperti sabda Nabi ﷺ:
 
أمرت أن أسجد على سبعة أعظم ، على الجبهة ، وأشار بيده على أنفه
 
“Saya diperintahkan bersujud di atas tujuh anggota tubuh; Di atas kening dan beliau memberikan isyarat ke hidungnya.”
 
Meskipun persamaannya tidak pada semua sisi.” (As-Syarhul Mumti, 1/119)
 
Para ulama dalam Al-Lajnah Ad-Daimah Lil ifta’ mengatakan: “Dinyatakan ketetapan, bahwa berkumur dan istinsyaq dalam wudhu termasuk perbuatan Nabi ﷺ dan sabdanya ﷺ. Keduanya masuk dalam membasuh muka. Maka wudhu TIDAK SAH bagi orang yang meninggalkan keduanya atau salah satunya.” (Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 4/78)
 
Syekh Sholeh Al-Fauzan rahimahullah berkata: “Siapa yang membasuh wajahnya dan meninggalkan berkumur dan istinsyaq atau salah satunya, maka wudhunya tidak sah, karena mulut dan hidung termasuk wajah, sebagaimana firman Allah ta’ala: “Maka basuhlah wajah-wajah kalian.” Maka Allah memerintahkan untuk membasuh semua wajahnya. Siapa yang meninggallkan sesuatu, maka dia tidak termasuk orang yang melaksanakan perintah Allah ta’ala. Dan Nabi ﷺ berkumur dan beristinsyaq.” (Al-Mulakhas Al-Fiqhi, 1/41).
 
Adapun keberadaan ayat yang tidak menyebutkan berkumur dan istinsyaq, hal itu bukan berarti tidak wajib. Karena Sunnah merupakan penjelasan Alquran. Sementara Sunnah menjelaskan berkumur dan istinsyaq. Dan dari Nabi ﷺ tidak pernah melalaikan keduanya atau salah satunya dalam berwudhu. Maka hal ini merupakan penjelasan perintah yang ada dalam Alquran, dengan membasuh wajah ketika bersuci.
 
Ibnu Qudamah rahimahullah dalam Al-Mughni, 1/83 mengatakan: “Semua orang yang menyebutkan cara wudhu Nabi ﷺ secara rinci menyebutkan, bahwa beliau ﷺ berkumur dan beristisnyaq terus menerus akan keduanya menunjukkan akan kewajibannya. Karena perilaku beliau ﷺ layak dijadikan sebagai penjelasan dan perincian dalam berwudhu yang diperintahkan dalam Kitabullah.”
 
Siapa yang Meninggalkan Berkumur Atau Beristinsyaq dalam Bersuci, Maka Tidak Sah Bersucinya, Baik Secara Sengaja atau Lupa
 
Al-Mardawi dalam kitab Al-Inshaf, 1/153 mengatakan: “Perkataan (Keduanya wajib dalam bersuci) maksudnya adalah berkumur dan beristinsyaq. Ini adalah pendapat secara umum dalam madzhab, dan termasuk (pendapat) teman-teman. Apakah gugur kalau lupa atau tidak? Ada dua riwayat… Az-Zarkasyi mengatakan: “Beliau mengatakan wajib. Maka meninggalkan keduanya atau salah satunya meskipun lupa, tidak sah wudhunya. Hal itu adalah pendapat Jumhur. Dalam kitab ‘Ar-Ri’ayah Al-Kubra’ mengatakan: “Tidak gugur meskipun lupa menurut (pendapat) yang terkenal. Dan didahulukan dalam kitab (Ri’ayatus) Sugro.”
 
Para ulama yang tergabung dalam Al-Lajnah Lil Ifta’ mengatakan: “Kalau seseorang lupa membasuh salah satu anggota tubuh atau bagian tubuh meskipun itu kecil. Jika di tengah wudhu atau langsung setelahnya dan bekas air masih ada di anggota tubuhnya sementara airnya belum kering, maka dia harus membasuh bagian yang terlupakan dan setelahnya saja. Tapi, kalau dia sadar bahwa dia lupa membasuh salah satu anggota wudhu atau sebagian dari anggota wudhu setelah airnya kering dari anggota tubuh, atau di tengah shalat atau setelah menunaikan shalat, maka dia harus memulai wudhu yang baru, sebagaimana yang Allah perintahkan dan mengulangi shalat secara penuh. Karena ketiadaan muwalah (berurutan) dalam kondisi ini dan lamanya (waktu) terpisah. Sementara Allah subhanahu wa ta’ala mewajibkan membasuh semua anggota tubuh wudhu. Barang siapa meninggalkan bagian anggota wudhu, meskipun sebagian di antara anggota wudhu, maka dia bagaikan meninggalkan membasuh semuanya. Yang menunjukkan akan hal itu adalah apa yang diriwayatkan oleh Umar bin Khatab radhiallahu anhu, dia berkata:
 
رأى رسول الله صلى الله عليه وسلم رجلا توضأ فترك موضع الظفر على قدمه ، فأمره أن يعيد الوضوء والصلاة . قال : فرجع فصلى (أخرجه مسلم، رقم 243 وابن ماجه، رقم 666)
 
“Rasulullah ﷺ melihat seseorang berwudhu dengan meninggalkan (tidak membasuh) sebesar kuku di kakinya. Maka beliau ﷺ menyuruhnya untuk mengulangi wudhu dan shalat. Lalu dia dia mengulangi (wudhunya) dan shalat lagi.” (HR. Muslim, 243 Ibnu Majah, 666)
 
[Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 4/92]
 
Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan: “Tertib dalam wudhu termasuk wajib. Oleh karena itu, kalau dia berwudhu, kemudian setelah keluar dari tempat wudhu melihat sikunya tidak terkena air. Maka dia harus kembali dan membasuhnya kemudian mengusap kepala dan membasuh kedua kakinya. Sementara kalau dia mendapatkan kedua kakinya tidak terkena air, maka cukup membasuh kedua kakinya saja. Karena kedua kaki termasuk bagian terakhir anggota tubuh wudhu.
 
Kalau dia lupa berkumur dan beristinsyaq, maka dia harus melakukan keduanya, kemudian membasuh kedua tangan sampai siku. Mengusap kepada dan membasuh kedua kakinya. Jadi dia mengulangi bagian wudhu yang kurang sempurna dan anggota wudhu setelahnya. Kecuali kalau jeda waktunya lama, maka dia harus mengulangi wudhu secara sempurna.” (As-Syarhul Al-Mukhtasor ‘Ala Bulughil Maram, 2/73)
 
Silakan merujuk di link berikut ini: islam-universe.com/audio/94.html. Untuk tambahan manfaat, silakan melihat jawaban soal no. 149908: https://islamqa.info/id/149908
 
Wallahua’lam .
 
Catatan Tambahan:
 
Madhmadhah adalah memasukkan air ke dalam mulut, kemudian berkumur-kumur dengannya, lalu disemburkan keluar. (Fathul Bari, 1/335)
 
Istinsyaq adalah memasukkan air ke dalam hidung dengan menghirupnya sampai jauh ke dalam hidung. (al-Mughni, 1/74, Nailul Authar, 1/203)
Sedangkan istintsar adalah mengeluarkan air dari hidung setelah istinsyaq. (Syarah Shahih Muslim, 3/105)
 
Disunnahkan untuk bersungguh-sungguh dalam ber-istinsyaq (menghirup air ke dalam hidung) kecuali bila sedang puasa. (al-Mughni, 1/74, al-Majmu’ 1/396, Subulus Salam, 1/73, Nailul Authar, 1/212)
,

KAPAN WAKTU DOA DI HARI ARAFAH BAGI SELAIN JAMAAH HAJI?

KAPAN WAKTU DOA DI HARI ARAFAH BAGI SELAIN JAMAAH HAJI?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
 
#DoaZikir
 
KAPAN WAKTU DOA DI HARI ARAFAH BAGI SELAIN JAMAAH HAJI?
 
Pertanyaan:
Apa saat Hari Arafah bagi yang tidak melaksanakan ibadah haji adalah waktu mustajab untuk berdoa, sebagaimana jamaah haji yang sedang Wukuf di Arafah?
 
Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,
 
Terdapat beberapa dalil yang menunjukkan keutamaan berdoa di Hari Arafah, di antaranya:
 
Hadis dari A’isyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
 
مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ، مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَإِنَّهُ لَيَدْنُو، ثُمَّ يُبَاهِي بِهِمِ الْمَلَائِكَةَ، فَيَقُولُ: مَا أَرَادَ هَؤُلَاءِ؟
 
“Tidak ada hari di mana Allah paling banyak membebaskan hamba dari Neraka selain Hari Arafah. Dia mendekati mereka, lalu dia banggakan mereka di hadapan para malaikat, dengan berfirman: Apa yang mereka inginkan?” [HR. Muslim no. 1348]
 
Kemudian hadis dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi ﷺ bersabda:
 
خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ
 
”Sebaik-baik doa adalah doa Hari Arafah.” [HR. Turmudzi 3585 dan dihasankan oleh al-Albani dalam Shahih at-Targhib no. 1536]
 
Juga diriwayatkan dari Thalhah bin Ubaid bin Kuraiz, beliau mengatakan:
 
أَفْضَلُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ
 
“Doa yang paling utama adalah doa Hari Arafah.” [HR. Malik dalam al-Muwatha’ 2/300, dan al-Jauhari mengatakan, Hadis ini mursal – keterangan tabiin –].
 
Apakah ini Khusus Jamaah Haji atau Umum untuk Semua Muslim?
 
Ulama berbeda pendapat tentang keutamaan doa pada Hari Arafah, apakah keutamaan doa ini khusus berlaku untuk jamaah haji, ataukah berlaku umum untuk semua kaum Muslimin di selurun penjuru dunia?
 
Sebagian Malikiyah menyatakan, bahwa keutamaan ini khusus berlaku untuk jamaah haji yang sedang Wukuf di Arafah. Imam al-Baji – ulama madzhab Maliki – (w. 474 H) mengatakan:
 
قوله : ” أفضل الدعاء يوم عرفة ” يعني : أكثر الذكر بركة وأعظمه ثوابا وأقربه إجابة ، ويحتمل أن يريد به الحاج خاصة ؛ لأن معنى دعاء يوم عرفة في حقه يصح ، وبه يختص ، وإن وصف اليوم في الجملة بيوم عرفة فإنه يوصف بفعل الحاج فيه
 
”Sabda Nabi ﷺ: ’Sebaik-baik doa adalah doa Arafah’, artinya zikir yang paling berkah, yang paling besar pahalanya, dan yang paling berpeluang mustajab adalah doa ketika Arafah. Kemungkinan yang dimaksud di sini adalah jamaah haji secara khusus. Karena makna ’Doa Hari Arafah’ untuk para jamaah haji sangat tepat, dan itu khusus untuk mereka. Dan karena hari itu disebut dengan Hari Arafah, disimpulkan dari aktivitas jamaah haji di sana.” [al-Muntaqa Syarh al-Muwatha’, 2/1].
 
Sementara ulama lain berpendapat, bahwa keistimewaan ini berlaku untuk jamaah haji dan selain jamaah haji. Al-Hafidz Ibnu Rajab (w. 795 H) menyebutkan sebuah riwayat dari jalur Nufai’ Abi Daud, bahwa Ibnu Umar mengatakan:
 
إذا كان يوم عرفة لم يبق أحد في قلبه مثقال ذرة من إيمان إلا غفر له قيل له: أللمعروف خاصة أم للناس عامة؟ قال: بل للناس عامة”
 
“Ketika Hari Arafah, setiap orang yang memiliki iman seberat telur semut, maka dia akan diampuni.” Ada yang bertanya kepada beliau: ’Apakah khusus untuk yang sedang Wukuf di Arafah, ataukah umum mencakup semua orang?’ “Umum untuk semua manusia.” Jawab Ibnu Umar. [Lathaif al-Ma’arif, hlm. 492]
 
Pendapat ini pula yang dikuatkan oleh Dr. Sholih al-Fauzan. Ketika beliau ditanya, apakah keutamaan doa pada Hari Arafah khusus bagi para jamaah haji ataukah umum untuk semua manusia?
 
Jawaban beliau:
 
الدعاء يوم عرفة عام للحجاج وغيرهم لكن الحجاج على وجه أخص لأنهم في مكان فاضل وهم متلبسون بالإحرام وواقفون بعرفة فهم يعني يتأكد الدعاء في حقهم والفضل في حقهم أكثر من غير الحجاج وأما بقية الناس الذين لم يحجوا فإنهم يشرع لهم الدعاء والاجتهاد بالدعاء في هذا اليوم ليشاركوا إخوانهم الحجاج في هذا الفضل
 
“Doa pada Hari Arafah berlaku umum untuk para jamaah haji dan selain jamaah haji. Akan tetapi, para jamaah haji lebih khusus, karena mereka berada di tempat yang mulia, sedang melaksanakan ihram dan melakukan Wukuf di Arafah. Doa untuk mereka menjadi sangat ditekankan. Keutamaan untuk mereka lebih banyak dari pada selain jamaah haji. Adapun masyarakat lain yang tidak berhaji, disyariatkan untuk mereka berdoa serta bersungguh-sungguh dalam berdoa pada hari ini, agar sama-sama mendapatkan keutamaan, sebagaimana saudara-saudara mereka, para jamaah haji.
 
Selanjutnya, Dr. Al-Fauzan menyebutkan hadis Nabi ﷺ tentang keutamaan doa ketika Hari Arafah, kemudian beliau menegaskan:
 
فالدعاء مشروع في يوم عرفة للحاج ولغيره لكنه في حق الحاج آكد وأفضل لما هو متلبس به من المناسك ولما هو فيه من المكان العظيم الفاضل وأما الزمان وفضل الزمان فيشترك فيه الحجاج وغير الحجاج وأما المكان فيختص به الحجاج وهو الوقوف بعرفة.
 
Oleh karena itu, doa pada Hari Arafah disyariatkan untuk orang yang berhaji dan selainnya. Akan tetapi, bagi orang yang berhaji, lebih ditekankan dan lebih utama, karena mereka sedang melaksanakan berbagai manasik dan karena mereka berada di tempat yang agung nan utama. Adapun tentang batas waktu (Hari Arafah) dan keutamaan waktu, jamaah haji dan selain jamaah haji sama-sama mendapatkannya. Sementara tempat (Arafah) hanya khusus untuk jamaah haji, yaitu Wukuf di Arafah.” [Sumber: http://alfawzan.af.org.sa/node/8980]
 
Semua kaum Muslimin bisa mendapatkan keutamaan Hari Arafah, sementara keutamaan Padang Arafah hanya dimiliki oleh para jamaah haji yang sedang Wukuf di Arafah.
 
Allahu a’lam
 
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)