Posts

,

ADAB MENASIHATI

ADAB MENASIHATI
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
ADAB MENASIHATI
 
Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata:
 
تعمدني بنصحك في انفرادي . وجنبْني النصيحة في الجماعهْ .فإن النصح بين الناس نوع. من التوبيخ لا أرضى استماعهْ . وإن خالفتني وعصيت قولي. فلا تجزعْ إذا لم تُعْطَ طاعهْ
 
“Berilah nasihat kepadaku ketika aku sendiri. Jauhilah memberikan nasihat di tengah-tengah keramaian. Sesungguhnya nasihat di tengah-tengah manusia itu termasuk sesuatu pelecehan yang aku tidak suka mendengarkannya. Jika engkau menyelisihi dan menolak saranku, maka janganlah engkau marah jika kata-katamu tidak aku turuti.” [Diwan Imam Syafi’i halaman 56]
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#adabmenasehati #adabmenasihati #nasihat #etika #menasihati #menasehati #sendirian #janganditengahkeramaian #ramai #pelecehan #etika #tatacara #cara #didepanorangbanyak #ImamAsySyafii
,

DI ANTARA ADAB MAJELIS ILMU

DI ANTARA ADAB MAJELIS ILMU

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

DI ANTARA ADAB MAJELIS ILMU
 
Rasulullah ﷺ bersabda:
 
وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ
 
Tidaklah suatu kaum berkumpul di satu rumah Allah, mereka membacakan Kitabullah dan mempelajarinya, kecuali turun kepada mereka ketenangan, dan rahmat menyelimuti mereka. Para malaikat mengelilingi mereka dan Allah memuji mereka di hadapan makhluk yang ada didekatnya. Barang siapa yang kurang amalannya, maka nasabnya tidak mengangkatnya. [HR. Muslim dalam Shahihnya, Kitab Adz Dzikir Wad Du’a, Bab Fadhlul Ijtima’ ‘Ala Tilawatil Qur’an Wa ‘Ala Dzikr, nomor 6793, juz 17/23. (Lihat Syarah An Nawawi) dan selainnya]
 
Arti Penting Majelis Ilmu
 
Majelis ilmu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari para ulama Rabbani. Bahkan mengadakan majelis ilmu merupakan perkara penting yang harus dilakukan oleh seorang alim. Karena hal itu merupakan martabat tertinggi para ulama Rabbani, sebagaimana firman Allah ﷻ:
 
مَاكَانَ لِبَشَرٍ أَن يُؤْتِيَهُ اللهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِّي مِن دُونِ اللهِ وَلَكِن كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنتُمْ تَدْرُسُونَ
 
Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al-Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia:”Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah”. Akan tetapi (dia berkata):”Hendaklah kamu menjadi orang-orang Rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya. [QS. Ali Imran: 79].
 
Hal ini pun dilakukan Rasulullah ﷺ. Beliau ﷺ menganjurkan kita untuk menghadiri majelis ilmu, dengan sabdanya:
 
إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا قَالُوا وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ قَالَ حِلَقُ الذِّكْرِ
 
Jika kalian melewati taman Surga maka berhentilah. Mereka bertanya: ”Apakah taman Surga itu?” Beliau ﷺ menjawab: ”Halaqah zikir (majelis Ilmu). [HR. At Tirmidzi dan dishahihkan Syeikh Salim bin Ied Al Hilali dalam Shahih Kitabul Adzkar 4/4].
 
Di antara faidah majelis ilmu ialah:
• Mengamalkan perintah Allah ﷻ dan Rasulullah ﷺ dan mencontoh jalan hidup para Salaf Shalih.
• Mendapatkan ketenangan.
• Mendapatkan rahmat Allah ﷻ
• Dipuji Allah di hadapan para malaikat.
• Mengambil satu jalan mendapatkan warisan para Rasul.
• Mendapatkan ilmu dan adab dari seorang alim.
 
Adab Majelis Ilmu
 
Perkara yang harus diperhatikan dan dilakukan agar dapat mengambil faidah dari majelis ilmu di antaranya ialah:
 
• Ikhlas
 
Hendaklah kepergian dan duduknya seorang penuntut ilmu ke majelis ilmu hanya karena Allah semata, tanpa disertai riya dan keinginan dipuji orang lain. Seorang penuntut ilmu hendaklah bermujahadah dalam meluruskan niatnya, karena ia akan mendapatkan kesulitan dan kelelahan dalam meluruskan niatnya tersebut. Oleh karena itu Imam Sufyan Ats Tsauri berkata: “Saya tidak merasa susah dalam meluruskan sesuatu melebihi niat.” [Lihat Tadzkiratus Sami’ Wal Mutakallim, hal.68]
 
• Bersemangat Menghadiri Majelis Ilmu
 
Kesungguhan dan semangat yang tinggi dalam menghadiri majelis ilmu tanpa mengenal lelah dan kebosanan sangatlah diperlukan. Janganlah merasa cukup dengan menghitung banyaknya. Akan tetapi hitunglah berapa besar dan banyaknya kebodohan kita. Karena kebodohan sangat banyak, sedangkan ilmu yang kita miliki hanya sedikit sekali.
 
Lihatlah kesemangatan para ulama terdahulu dalam menghadiri majelis ilmu. Abul Abbas Tsa’lab, seorang ulama Nahwu berkomentar tentang Ibrahim Al Harbi: “Saya tidak pernah kehilangan Ibrahim Al Harbi dalam majelis pelajaran Nahwu atau bahasa selama lima puluh tahun”.
 
Lantas apa yang diperoleh Ibrahim Al Harbi? Akhirnya beliau menjadi ulama besar dunia. Ingatlah, ilmu tidak didapatkan seperti harta waris. Melainkan ilmu didapatkan dengan kesungguhan dan kesabaran.
 
Alangkah indahnya ungkapan Imam Ahmad bin Hambal:
‘Ilmu adalah karunia yang diberikan Allah kepada orang yang disukai-Nya. Tidak ada seorang pun yang mendapatkannya karena keturunan. Seandainya didapat dengan keturunan, tentulah orang yang paling berhak ialah Ahli Bait Nabi ﷺ.”
 
Demikian juga Imam Malik ketika melihat anaknya yang bernama Yahya keluar dari rumahnya bermain: “Alhamdulillah, Dzat yang tidak menjadikan ilmu ini seperti harta waris.”
 
Abul Hasan Al Karkhi berkata:
“Saya hadir di majelis Abu Khazim pada hari Jumat walaupun tidak ada pelajaran, agar tidak terputus kebiasanku menghadirinya.”
 
Lihatlah semangat mereka dalam mencari ilmu dan menghadiri majelis ilmu, sampai akhirnya mereka mendapatkan hasil yang menakjubkan.
 
• Bersegera Datang ke Majelis Ilmu dan Tidak Terlambat, Bahkan Harus Mendahuluinya dari Selainnya
 
Seseorang bila terbiasa bersegera dalam menghadiri majelis ilmu, maka akan mendapatkan faidah yang sangat banyak. Sehingga Asysya’bi ketika ditanya: “Dari mana engkau mendapatkan ilmu ini semua,?” ia menjawab:“Tidak bergantung kepada orang lain, bepergian ke negeri-negeri, dan sabar seperti sabarnya keledai, serta bersegera seperti bersegeranya elang.” [Lihat Rihlah Fi Thalabil Hadis, hal.196]
 
• Mencari dan Berusaha Mendapatkan Pelajaran yang Ada di Majelis Ilmu yang Tidak Dapat Dihadirinya
 
Terkadang seseorang tidak dapat menghadiri satu majelis ilmu karena alasan tertentu, seperti sakit dan yang lainnya, sehingga tidak dapat memahami pelajaran yang ada dalam majelis tersebut. Dalam keadaan seperti ini hendaklah ia mencari dan berusaha mendapatkan pelajaran yang terlewatkan itu. Karena sifat pelajaran itu seperti rangkaian. Jika hilang darinya satu bagian, maka dapat mengganggu yang lainnya.
• Mencatat Fidah-Faidah yang Didapatkan dari Kitab
 
Mencatat faidah pelajaran dalam kitab tersebut atau dalam buku tulis khusus. Faidah-faidah ini akan bermanfaat jika dibaca ulang dan dicatat dalam mempersiapkan materi mengajar, ceramah dan menjawab permasalahan. Oleh karena itu sebagian ahli ilmu menasihati kita, jika membeli sebuah buku agar tidak memasukkannya ke perpustakaan, kecuali setelah melihat kitab secara umum. Caranya dengan mengenal penulis, pokok bahasan yang terkandung dalam kitab dengan melihat daftar isi, dan membuka-buku sesuai dengan kecukupan waktu sebagian pokok bahasan kitab.
• Tenang dan Tidak Sibuk Sendiri dalam Majelis Ilmu
 
Ini termasuk adab yang penting dalam majelis ilmu. Imam Adz Dzahabi menyampaikan kisah Ahmad bin Sinan, ketika beliau berkata: “Tidak ada seorang pun yang bercakap-cakap di majelis Abdurrahman bin Mahdi. Pena tak bersuara. Tidak ada yang bangkit. Seakan-akan di kepala mereka ada burung. Atau seakan-akan mereka berada dalam shalat” [Tadzkiratul Hufadz 1/331]. Dan dalam riwayat yang lain: “Jika beliau melihat seseorang dari mereka tersenyum atau berbicara, maka dia mengenakan sandalnya dan keluar.” [Siyar A’lam Nubala 4/1470]
• Tidak Boleh Berputus Asa
 
Terkadang sebagian kita telah hadir di suatu majelis ilmu dalam waktu yang lama. Akan tetapi tidak dapat memahaminya kecuali sedikit sekali. Lalu timbul dalam diri kita perasaan putus asa dan tidak mau lagi duduk di sana. Tentunya hal ini tidak boleh terjadi. Karena telah dimaklumi, bahwa akal dan kecerdasan setiap orang berbeda. Kecerdasan tersebut akan bertambah dan berkembang karena dibiasakan. Semakin sering seseorang membiasakan dirinya, maka semakin kuat dan baik kemampuannya. Lihatlah kesabaran dan keteguhan para ulama dalam menuntut ilmu dan mencari jawaban satu permasalahan! Lihatlah apa yang dikatakan Syeikh Muhammad Al Amin Asy Syinqiti: “Ada satu masalah yang belum saya pahami. Lalu saya kembali ke rumah dan saya meneliti dan terus meneliti. Sedangkan pembantuku meletakkan lampu atau lilin di atas kepala saya. Saya terus meneliti dan minum the hijau sampai lewat 3/4 hari, sampai terbit fajar hari itu”. Kemudian beliau berkata: “Lalu terpecahlah problem tersebut.”
 
Lihatlah bagaimana beliau menghabiskan harinya dengan meneliti satu permasalahan yang belum jelas baginya.
 
• Jangan Memotong Pembicaraan Guru atau Penceramah
Termasuk adab yang harus diperhatikan dalam majelis ilmu yaitu tidak memotong pembicaraan guru atau penceramah. Karena hal itu termasuk adab yang jelek. Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada kita dengan sabdanya:
 
ليس منا من لم يجل كبيرنا و يرحم صغيرنا و يعرف لعالمنا حقه
 
Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda, serta yang tidak mengerti hak ulama. [Riwayat Ahmad dan dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami’].
 
Imam Bukhari menulis di Shahihnya: Bab “Orang Yang Ditanya Satu Ilmu dalam Keadaan Sibuk Berbicara, Hendaknya Menyempurnakan Pembicaraannya. Kemudian menyampaikan hadis:
 
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ بَيْنَمَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَجْلِسٍ يُحَدِّثُ الْقَوْمَ جَاءَهُ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ مَتَى السَّاعَةُ فَمَضَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحَدِّثُ حَتَّى إِذَا قَضَى حَدِيثَهُ قَالَ أَيْنَ أُرَاهُ السَّائِلُ عَنْ السَّاعَةِ قَالَ هَا أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَإِذَا ضُيِّعَتْ الْأَمَانَةُ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ قَالَ كَيْفَ إِضَاعَتُهَا قَالَ إِذَا وُسِّدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ
 
Dari Abu Hurairah, beliau berkata:“Ketika Rasulullah ﷺ berada di majelis menasihati kaum, datanglah seorang Arabi dan bertanya:”Kapan Hari Kiamat?” (Tetapi) beliau ﷺ terus saja berbicara sampai selesai. Lalu (beliau ﷺ) bertanya: “Mana tampakkan kepadaku yang bertanya tentang Hari Kiamat?” Dia menjawab:”Saya, wahai Rasulullah ﷺ.” Lalu beliau ﷺ berkata: “Jika amanah disia-siakan, maka tunggulah Hari Kiamat”. Dia bertanya lagi: “Bagaimana menyia-nyiakannya?” Beliau ﷺ menjawab: “Jika satu perkara diberikan kepada bukan ahlinya, maka tunggulah Hari Kiamat.” [HR. Bukhari].
Rasulullah ﷺ dalam hadis ini berpaling dan tidak memperhatikan penanya untuk mendidiknya.
 
• Beradab dalam Bertanya
 
Bertanya adalah kunci ilmu. Juga diperintahkan Allah ﷻ dalam firman-Nya:
 
فَسْئَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَتَعْلَمُونَ
 
Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan, jika kamu tidak mengetahui. [QS. An Nahl: 43].
 
Demikian pula Rasulullah ﷺ mengajarkan, bahwa obat kebodohan yaitu dengan bertanya, sebagaimana sabdanya:
 
أَلَا سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالُ
 
Seandainya mereka bertanya! Sesungguhnya obatnya kebodohan adalah bertanya. [Riwayat Abu Daud, Ibnu Majah, Ahmad dan Darimi dan dishahihkan Syeikh Salim Al Hilali dalam Tanqihul Ifadah Al Muntaqa Min Miftah Daris Sa’adah, hal. 174].
 
Imam Ibnul Qayim berkata:
”Ilmu memiliki enam martabat. Yang pertama, baik dalam bertanya …… Ada di antara manusia yang tidak mendapatkan ilmu, karena tidak baik dalam bertanya. Adakalanya karena tidak bertanya langsung. Atau bertanya tentang sesuatu, padahal ada yang lebih penting. Seperti bertanya sesuatu yang tidak merugi jika tidak tahu dan meninggalkan sesuatu yang mesti dia ketahui.” [Miftah Daris Sa’adah 1/169]
 
Demikian juga Al Khathib Al Baghdadi memberikan pernyataan:”Sepatutnyalah rasa malu tidak menghalangi seseorang dari bertanya tentang kejadian yang dialaminya.” [Al Faqiih Wal Mutafaaqih 1/143]
 
Adab Bertanya
 
Oleh karena itu perlu dijelaskan beberapa adab yang harus diperhatikan dalam bertanya, di antaranya:
 
a. Bertanya perkara yang tidak diketahuinya dengan tidak bermaksud menguji
Hal ini dijadikan syarat pertanyaan oleh Allah ﷻ dalam firman-Nya:
 
فَسْئَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَتَعْلَمُونَ
 
Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan, jika kamu tidak mengetahui. [QS. An Nahl: 43].
 
Dalam ayat ini Allah ﷻ menyebutkan syarat pertanyaan adalah tidak tahu. Sehingga seseorang yang tidak tahu bertanya sampai diberi tahu. Tetapi seseorang yang telah mengetahui suatu perkara diperbolehkan bertanya tentang perkara tersebut, untuk memberikan pengajaran kepada orang yang ada di majelis tersebut. Sebagaimana yang dilakukan Jibril kepada Rasulullah ﷺ dalam hadis Jibril yang masyur.
 
b. Tidak boleh menanyakan sesuatu yang tidak dibutuhkan, yang jawabannya dapat menyusahkan penanya, atau menyebabkan kesulitan bagi kaum Muslimin. Sebagaimana Allah ﷻ melarang dalam firman-Nya:
 
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَتَسْئَلُوا عَنْ أَشْيَآءَ إِن تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ وَإِن تَسْئَلُوا عَنْهَا حِينَ يُنَزَّلُ الْقُرْءَانُ تُبْدَ لَكُمْ عَفَا اللهُ عَنْهَا وَاللهُ غَفُورٌ حَلِيمُُ
 
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu, niscaya menyusahkan kamu. Dan jika kamu menanyakan di waktu Alquran itu sedang diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu. Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun. [QS. Al Maidah: 101].
 
Dan sabda Rasulullah ﷺ:
 
إِنَّ أَعْظَمَ الْمُسْلِمِينَ جُرْمًا مَنْ سَأَلَ عَنْ شَيْءٍ لَمْ يُحَرَّمْ فَحُرِّمَ مِنْ أَجْلِ مَسْأَلَتِهِ
 
Seorang Muslim yang paling besar dosanya adalah orang yang bertanya sesuatu yang tidak diharamkan, lalu diharamkan karena pertanyaannya. [Riwayat Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Ahmad].
 
Oleh karena itulah para sahabat dan tabi’in tidak suka bertanya tentang sesuatu kejadian sebelum terjadi. Rabi’ bin Khaitsam berkata: “Wahai Abdullah, apa yang Allah berikan kepadamu dalam kitabnya dari ilmu maka syukurilah. Dan yang Allah tidak berikan kepadamu, maka serahkanlah kepada orang alim dan jangan mengada-ada. Karena Allah taala berfirman kepada Nabi-Nya ﷺ:
 
قُلْ مَآأَسْئَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ وَمَآأَنَا مِنَ الْمُتَكَلِّفِينَ إِنْ هُوَ إِلاَّ ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ وَلَتَعْلَمُنَّ نَبَأَهُ بَعْدَ حِينٍ
 
Katakanlah (hai Muhammad): ”Aku tidak meminta upah sedikit pun kepadamu atas dakwahku. Dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan. Alquran ini, tidak lain hanyalah peringatan bagi semesta alam. Dan sesungguhnya kamu akan mengetahui (kebenaran) berita Alquran setelah beberapa waktu lagi. [Shad: 86-88]. [Jami’ Bayanil Filmi Wa Fadhlihi 2/136]
 
 
c. Diperbolehkan bertanya kepada seorang alim tentang dalil dan alasan pendapatnya
Hal ini disampaikan Al Khathib Al Baghdadi dalam Al Faqih Wal Mutafaqih 2/148: “Jika seorang alim menjawab satu permasalahan, maka boleh ditanya apakah jawabannya berdasarkan dalil ataukah pendapatnya semata”.
 
d. Diperbolehkan bertanya tentang ucapan seorang alim yang belum jelas. Berdasarkan dalil hadis Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
 
صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً فَلَمْ يَزَلْ قَائِمًا حَتَّى هَمَمْتُ بِأَمْرِ سَوْءٍ قُلْنَا وَمَا هَمَمْتَ قَالَ هَمَمْتُ أَنْ أَقْعُدَ وَأَدَعَهُ
 
Saya shalat bersama Nabi ﷺ, lalu beliau memanjangkan shalatnya sampai saya berniat satu kejelekan? Kami bertanya kepada Ibnu Mas’ud: “Apa yang engkau niatkan?” Beliau menjawab: “Saya ingin duduk dan meninggalkannya”. [HR. Bukhari dan Muslim].
 
e. Jangan bertanya tentang sesuatu yang telah engkau ketahui jawabannnya, untuk menunjukkan kehebatanmu dan melecehkan orang lain
 
• Mengambil Akhlak dan Budi Pekerti Gurunya
Tujuan hadir di majelis ilmu bukan hanya terbatas pada faidah keilmuan semata. Ada hal lain yang juga harus mendapat perhatian serius, yaitu melihat dan mencontoh akhlak guru. Demikianlah para ulama terdahulu. Mereka menghadiri majelis ilmu, juga untuk mendapatkan akhlak dan budi pekerti seorang alim, untuk dapat mendorong mereka berbuat baik dan berakhlak mulia.
 
Diceritakan oleh sebagian ulama, bahwa majelis Imam Ahmad dihadiri lima ribu orang. Dikatakan hanya lima ratus orang yang menulis, dan sisanya mengambil faidah dari tingkah laku, budi pekerti dan adab beliau. [Siyar A’lam Nubala 11/316]
 
Abu Bakar Al Muthaawi’i berkata: “Saya menghadiri majelis Abu Abdillah, beliau sedang mengimla’ musnad kepada anak-anaknya, duabelas tahun. Dan saya tidak menulis, akan tetapi saya hanya melihat kepada adab dan akhlaknya”. [Siyar A’lam Nubala 11/316]
 
Demikianlah perihal kehadiran kita dalam majelis ilmu. Hendaklah bukan semata-mata mengambil faidah ilmu saja, akan tetapi juga mengambil semua faidah yang ada.
 
Mudah-mudahan bermanfaat.
 
 
 
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun VI/1423H/2002M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]
 
 
Dinukil dari tulisa berjudul: “Adab Majelis Ilmu” yang ditulis oleh: Abu Asma Kholid Syamhudi

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

 

#adabbermajelis #adabmajelisilmu #etika #tatacara #cara #menuntutilmu #thalabulilmi #tholabulilmi #penuntutilmu, #adabakhlak #adabmenuntutilmu

, ,

AGAR TIDAK MUDAH TERSINGGUNG

AGAR TIDAK MUDAH TERSINGGUNG
AGAR TIDAK MUDAH TERSINGGUNG
 
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’dy rahimahullah berkata:
 
‏أذية الناس لا تضرك بل تضرهم، إلا إن أشغلت نفسك في الاهتمام بها، فعند ذلك تضرك كما ضرتهم، فإن أنت لم تضع لها بالاً لم تضرك شيئا.
 
“Perbuatan orang lain yang menyakitkan tidak akan merugikanmu, tetapi akan merugikan diri mereka sendiri. Kecuali jika engkau menyibukkan dirimu dengan memedulikannya, maka ketika itulah hal tersebut akan merugikanmu, sebagaimana merugikan mereka. Namun jika engkau tidak memedulikannya, maka hal itu tidak akan merugikan dirimu sama sekali.” [Al-Wasailul Mufidah, halaman 30]
 
#agartidakmudahtersinggung, #supayatidakmudahtersinggung, #baper #tersinggung, #kesinggung, #tidakgampangtersinggung, #cara, #tips, #rugidirisendiri, #merugikandirisendiri
,

MENGAPA KEDUDUKAN SHALAT ASHAR SANGAT PENTING?

MENGAPA KEDUDUKAN SHALAT ASHAR SANGAT PENTING?
 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
MENGAPA KEDUDUKAN SHALAT ASHAR SANGAT PENTING?
>> Jangan remehkan shalat Ashar
 
Entah karena menyibukkan diri dengan urusan dunia, seperti karena sekolah, kuliah, pekerjaan, atau hanya karena pergi main seperti nonton film atau sepak bola, sebagian kaum Muslimin seringkali menunda-nunda melaksanakan shalat Ashar hingga waktunya hampir habis, atau bahkan tidak mengerjakan shalat Ashar sama sekali. Tentu saja hal ini bertentangan dengan perintah syariat untuk menjaga pelaksanaan semua shalat wajib, termasuk shalat Ashar, sesuai dengan waktunya masing-masing. Bahkan terdapat ancaman khusus bagi mereka yang sengaja meninggalkan shalat Ashar. Tulisan ini disarikan dari kitab Shahih Fiqh Sunnah, jilid 1 hal. 241-242.
 
Perintah Allah Taala untuk Menjaga Shalat Ashar
 
Allah taala berfirman:
 
حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ
 
“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat Wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.” [QS. Al-Baqarah (2): 238]
 
Menurut pendapat yang paling tepat, yang dimaksud dengan “Shalat Wustha” dalam ayat di atas adalah shalat Ashar. Hal ini berdasarkan hadis Nabi ﷺ ketika terjadi perang Ahzab:
 
شَغَلُونَا عَنِ الصَّلَاةِ الْوُسْطَى، صَلَاةِ الْعَصْرِ
 
“Mereka (kaum kafir Quraisy, pent.) telah menyibukkan kita dari shalat Wustha, (yaitu) shalat Ashar.” [HR. Bukhari no. 2931 dan Muslim no. 627. Lafal hadis ini milik Muslim]
 
Dalam ayat di atas, setelah Allah taala memerintahkan untuk menjaga semua shalat wajib secara umum (termasuk di dalamnya yaitu shalat Ashar), maka Allah taala kemudian menyebutkan perintah untuk menjaga shalat Ashar secara khusus. Apabila seseorang dapat menjaga shalat wajibnya, maka dia akan mampu untuk menjaga seluruh bentuk ibadahnya kepada Allah taala. [Taisir Karimir Rahman, hal. 106; karya Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah]
 
Balasan bagi Orang yang Menjaga Shalat Ashar
 
Terdapat hadis khusus yang menyebutkan pahala bagi orang yang menjaga shalat Ashar, yaitu mendapatkan pahala dua kali lipat, dan tidak akan masuk ke Neraka. Abu Bashrah al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu menceritakan, “Rasulullah ﷺ shalat Ashar bersama kami di daerah Makhmash. Kemudian beliau ﷺ bersabda:
 
«إِنَّ هَذِهِ الصَّلَاةَ عُرِضَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَضَيَّعُوهَا، فَمَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا كَانَ لَهُ أَجْرُهُ مَرَّتَيْنِ، وَلَا صَلَاةَ بَعْدَهَا حَتَّى يَطْلُعَ الشَّاهِدُ» ، وَالشَّاهِدُ: النَّجْمُ.
 
‘Sesungguhnya shalat ini (shalat Ashar) pernah diwajibkan kepada umat sebelum kalian, namun mereka menyia-nyiakannya. Barang siapa yang menjaga shalat ini, maka baginya pahala dua kali lipat. Dan tidak ada shalat setelahnya sampai terbitnya Syahid (yaitu bintang).’” [HR. Muslim no. 830]
 
Rasulullah ﷺ bersabda:
 
«لَنْ يَلِجَ النَّارَ أَحَدٌ صَلَّى قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ، وَقَبْلَ غُرُوبِهَا»
 
“Tidak akan masuk Neraka seorang pun yang mengerjakan shalat sebelum matahari terbit (yakni shalat Subuh, pent.) dan sebelum matahari terbenam (yakni shalat Ashar, pent.).” [HR. Muslim no. 634]
 
Ancaman bagi Orang yang Meninggalkan Shalat Ashar
 
Di antara dalil yang menunjukkan pentingnya kedudukan shalat Ashar adalah ancaman, bahwa barang siapa yang meninggalkannya, maka terhapuslah pahala amal yang telah dikerjakannya di hari tersebut. Rasulullah ﷺ bersabda:
 
مَنْ تَرَكَ صَلاَةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ
 
“Barang siapa yang meninggalkan shalat Ashar, maka terhapuslah amalannya.” [HR. Bukhari no. 553, An-Nasa’i 1/83 dan Ahmad 5/349]
 
Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata:
“Yang tampak dari hadis ini – dan Allah lebih mengetahui tentang maksud Rasul-Nya- adalah bahwa, yang dimaksud ‘Meninggalkan’ ada dua kondisi:
 
Pertama: Meninggalkan shalat secara keseluruhan, tidak melaksanakan shalat sama sekali. Maka hal ini menyebabkan terhapusnya seluruh amal.
 
Kedua: Meninggalkan shalat tertentu di hari tertentu. Maka hal ini menyebabkan terhapusnya amal di hari tersebut. Terhapusnya amal secara keseluruhan adalah sebagai balasan karena meninggalkannya secara keseluruhan, dan terhapusnya amal tertentu adalah sebagai balasan karena meninggalkan perbuatan tertentu.” [Ash-Shalah wa Hukmu Taarikiha hal. 43-44]
 
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
 
«الَّذِي تَفُوتُهُ صَلَاةُ الْعَصْرِ، كَأَنَّمَا وُتِرَ أَهْلَهُ وَمَالَهُ»
 
“Orang yang terlewat (tidak mengerjakan) shalat Ashar, seolah-olah dia telah kehilangan keluarga dan hartanya.” [HR. Bukhari no. 552 dan Muslim no. 200, 626]
 
Ketika seseorang kehilangan keluarga dan hartanya, maka dia tidak lagi memiliki keluarga dan harta. Maka ini adalah perumpamaan tentang terhapusnya amal seseorang karena meninggalkan shalat Ashar.
 
Ancaman bagi Orang yang Menunda-nunda Pelaksanaan Shalat Ashar sampai Waktunya Hampir Habis
 
Apabila seseorang mengerjakan shalat Ashar di akhir waktu karena berada dalam kondisi darurat tertentu, maka shalatnya tetap sah, meskipun dia hanya mendapatkan satu rakaat shalat Ashar sebelum waktunya habis. Rasulullah ﷺ bersabda:
 
وَمَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الْعَصْرِ قَبْلَ أَنْ تَغْرُبَ الشَّمْسُ، فَقَدْ أَدْرَكَ الْعَصْرَ
 
“Barang siapa yang mendapati satu rakaat shalat Ashar sebelum matahari terbenam, maka dia telah mendapatkan shalat Ashar.” [HR. Bukhari no. 579 dan Muslim no. 163, 608]
 
Akan tetapi yang menjadi masalah adalah ketika seseorang sengaja menunda-nunda pelaksanaan shalat Ashar sampai waktunya hampis habis, tanpa ada ‘uzur tertentu yang dibenarkan oleh syariat. Atau bahkan hal ini telah menjadi kebiasaannya sehari-hari karena memang meremehkan shalat Ashar. Maka hal ini mirip dengan ciri-ciri orang munafik yang disebutkan oleh Nabi ﷺ dalam sabdanya:
 
«تِلْكَ صَلَاةُ الْمُنَافِقِ، يَجْلِسُ يَرْقُبُ الشَّمْسَ حَتَّى إِذَا كَانَتْ بَيْنَ قَرْنَيِ الشَّيْطَانِ، قَامَ فَنَقَرَهَا أَرْبَعًا، لَا يَذْكُرُ اللهَ فِيهَا إِلَّا قَلِيلًا»
 
“Itulah shalatnya orang munafik, (yaitu) duduk mengamati matahari hingga ketika matahari berada di antara dua tanduk setan (yaitu ketika hampir tenggelam, pent.), dia pun berdiri (untuk mengerjakan shalat Ashar) empat rakaat (secara cepat) seperti patukan ayam. Dia tidak berzikir untuk mengingat Allah, kecuali hanya sedikit saja.” [HR. Muslim no. 622]
 
Dari penjelasan di atas jelaslah bagi kita betapa berbahayanya meninggalkan shalat Ashar atau sengaja menunda-nunda pelaksanaannya hingga hampir di akhir waktunya. Oleh karena itu hendaklah seorang Muslim memerhatikan sungguh-sungguh masalah ini. Misalnya seorang pegawai yang akan pulang ke rumah di sore hari, hendaklah dia memerhatikan, apakah mungkin akan terjebak macet di perjalanan sehingga tiba di rumah ketika sudah Maghrib. Dalam kondisi seperti ini, sebaiknya dia menunaikan shalat Ashar terlebih dahulu sebelum pulang dari kantor. Atau ketika ada suatu acara atau pertemuan di sore hari, hendaknya dipastikan bahwa dia sudah menunaikan shalat Ashar.
 
Semoga tulisan ini menjadi pengingat (terutama) bagi penulis sendiri, dan kaum Muslimin secara umum.
 
 
Penulis: dr. M. Saifudin Hakim, MSc.
[Artikel Muslim.Or.Id]
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

#sifatsholatnabi, #sholat, #shalat, #solat, #salat, #tatacara, #cara, #alasan, #Wustha, #Wustho, #keutamaan, #fadhilah, #fadilah, #pentingnyashalatAshar, #tanduksetan, #shalatorangmunafik

, ,

TIPS BERDOA AGAR DOANYA DIKABULKAN DAN DITERIMA DI SISI ALLAH

TIPS BERDOA AGAR DOANYA DIKABULKAN DAN DITERIMA DI SISI ALLAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
TIPS BERDOA AGAR DOANYA DIKABULKAN DAN DITERIMA DI SISI ALLAH
 
Alhamdulillah
 
Syarat berdoa banyak, di antaranya:
 
1. Tidak berdoa kecuali kepada Allah ﷻ. Nabi ﷺ mengatakan kepada Ibnu Abbas: “Jika engkau meminta, maka memintalah kepada Allah. Kalau engkau meminta bantuan, mintalah bantuan kepada Allah.” [Dinyatakan Shahih oleh Albani dalam Shahih Al-Jami’, no. 2516. HR. Tirmizi]
 
Dan ini makna dari firman Allah taala:
 
وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلا تَدْعُو مَعَ اللَّهِ أَحَداً (سورة الجـن: 18(
 
“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” [QS. Jin: 18]
 
Syarat ini termasuk syarat doa yang paling agung. Tanpanya tidak akan diterima doa, dan tidak akan diangkat amalannya. Di antara manusia ada yang berdoa kepada mayit, dan menjadikannya sebagai perantara antara mereka dengan Allah. Mereka menyangka, bahwa orang-orang saleh dapat mendekatkan mereka kepada Allah dan sebagai wasilah (perantara) mereka di sisi Allah ﷻ. Mereka merasa berdosa dan tidak ada kedudukan di sisi Allah. Oleh karena itu mereka menjadikan perantara dengan berdoa kepada mereka selain Allah. Sementara Allah subhana wataala berfirman:
 
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ (سورة البقرة: 186(
 
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa, apabila ia memohon kepada-Ku.” [QS. Al-Baqarah: 186]
 
2. Bertawasul kepada Allah dengan salah satu macam tawasaul yang diperbolehkan.
 
3. Tidak tergesa-gesa. Karena ia termasuk kekeliruan dalam berdoa yang menghalangi terkabulnya doa. Disebutkan dalam hadis:
 
يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ يَقُولُ: قَدْ دَعَوْتُ اللَّهَ، فَلَمْ يَسْتَجِبْ لِي (رواه البخاري، رقم 6340 ومسلم، رقم 2735(
 
“Dikabulkan salah seorang di antara kalian (doanya) selagi tidak tergesa-gesa. Seraya dia mengatakan, “Saya telah berdoa dan belum dikabulkan untukku.” [HR. Bukhori, no. 6340 dan Muslim, no. 2735]
 
Dalam Shahih Muslim, no. 2736:
 
لَا يَزَالُ يُسْتَجَابُ لِلْعَبْدِ مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ , مَا لَمْ يَسْتَعْجِلْ “، قِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ مَا الِاسْتِعْجَالُ؟، قَالَ: ” يَقُولُ: قَدْ دَعَوْتُ وَقَدْ دَعَوْتُ , فَلَمْ أَرَ يَسْتَجِيبُ لِي , فَيَسْتَحْسِرُ عِنْدَ ذَلِكَ وَيَدَعُ الدُّعَاءَ “
 
“Doa seorang hamba senantiasa terkabulkan selagi tidak berdoa untuk dosa, memutus kekerabatan dan selagi tidak tergesa-gesa.” Ada yang bertanya: “Wahai Rasulullah, apa tergesa-gesa itu?” Beliau menjawab, “Dia berkata: “Aku sudah berdoa, aku sudah berdoa tapi aku tidak melihat dikabulkan, sehingga dia merasa kecewa akan hal itu, lalu dia meninggalkan doa.”
 
4. Berdoa bukan untuk dosa dan memutus (kekerabatan) sebagaimana hadis tadi. “Doa seorang hamba akan dikabulkan selagi tidak berdoa untuk dosa dan memutus silaturrahim.
 
5. Berbaik sangka kepada Allah. Rasulullah ﷺ bersabda: “Allah taala berfirman:
 
“Aku tergantung persangkaan hamba-Ku kepada-Ku.” [HR. Bukhari, no. 7405, Muslim, no. 4675]
 
Juga disebutkan dalam hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:
 
ادْعُوا اللهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالْإِجَابَةِ (رواه الترمذي , وحسنه الألباني في صحيح الجامع، رقم 245)
 
“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan kalian yakin, bahwa doa kalian akan dikabulkan.” [HR. Tirmizi, dinyatakan hasan oleh Al-Albany dalam Shahih Al-Jami, no. 245]
 
Siapa yang bersangka baik kepada Allah, maka Allah akan balas dengan kebaikan yang banyak, akan ditebar kepadanya berbagai karunia-Nya.
 
6. Hadirnya hati. Hendaknya orang yang berdoa menghadirkan hati dan merasakan keagungan siapa yang dia berdoa kepadanya. Rasulullah ﷺ bersabda:
 
وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ لَاهٍ (رواه الترمذي، رقم 3479 وحسنه الألباني في صحيح الجامع، رقم 245)
 
“Ketahuilah, sesungguhnya Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” [HR. Tirmizi, no. 3479, dinyatakan hasan oleh Al-Albany dalam Shahih Al-Jami, no. 245]
 
7. Mengonsumsi yang halal. Allah taala berfirman:
 
إنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ (سورة المائدة: 27)
 
“Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa.” [QS. Al-Maidah: 27]
 
Nabi ﷺ menyatakan, bahwa doa tertolak bagi orang yang makan dan minum serta memakai barang yang haram. Disebutkan dalam hadis, bahwa beliau ﷺ menyebutkan seseorang yang sehabis menempuh safar, kusut dan dekil, lalu dia mengangkat kedua tangannya ke langit dan mengucapkan, Ya Rabbi Ya Rabbi, sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan tumbuh dari barang haram, bagaimana doanya diterima?! [HR. Muslim, no. 1015]
 
Ibnu Qayim berkata: “Demikian pula memakan makanan haram, menghilangkan kekuatannya (kekuatan doa) dan melemahkannya.”
 
8. Hindari doa yang melampaui batas. Allah taala tidak menyukai sikap melampuai batas dalam berdoa. Allah taala berfirman:
 
ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعاً وَخُفْيَةً إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ (سورة الأعراف: 55)
 
“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” [QS. Al-A’raf: 55]
 
9. Jangan sibuk berdoa sehingga meninggalkan kewajiban, seperti meninggalkan kewajiban yang saat itu harus dilakukan, atau meninggalkan hak-hak yang saat itu harus ditunaikan, seperti meninggalkan hak orang tua dengan alasan berdoa. Kisah Juraij orang yang ahli ibadah memberikan isyarat akan hal itu, karena dia mengabaikan panggilan ibunya dan melanjutkan shalatnya, sehingga dia meninggalkannya, akhirnya Allah mengujinya.
 
An-Nawawi rahimahullah berkata, “Para ulama berkata: ‘Ini merupakan dalil, bahwa yang benar baginya ketika itu adalah memenuhi panggilan ibunya, karena saat itu dia sedang shalat sunah. Melanjutknnya adalah sunah, tidak wajib, sementara memenuhi panggilan ibunya dan berbakti kepadanya merupakan kewajiban, dan durhaka kepadanya adalah haram.” [Shahih Muslim, Syarah An-Nawawi, 16/82]
 
Sebagai tambahan, hendaknya dilihat kitab ‘Ad-Du’a’ Muhamad bin Ibrahim Al-Hamad.
 
Wallahua’lam.
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#tipstips, #cara, #tatacara, #doa, #berdoa, #agardoanyadikabulkan, #diterimadisisiAllah, #Allahmengabulkandanmenerimadoa #adabberdoa
,

ADAB KETIKA HENDAK MENGETUK PINTU

ADAB KETIKA HENDAK MENGETUK PINTU
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
ADAB KETIKA HENDAK MENGETUK PINTU
 
Pada zaman sahabat dulu mereka sangat menjaga adab ketika hendak bertamu, sebagaimana diceritakan oleh Anas bin Malik radhiallahu’anhu:
“Kami di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetuk pintu dengan kuku-kuku.” [HR. Bukhari dalam Adabul Mufrod bab Mengetuk Pintu]
 
Sumber: Radio Muslim Jogja
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#adabakhlak, #ketukpintu, #ketokpintu, #tatacara, #cara, #mengetukpintu, #adabketukpintu, #pakaikukukuku
,

MENELADANI PARA SAHABAT NABI DALAM MELURUSKAN DAN MERAPATKAN SHAF SHALAT

MENELADANI PARA SAHABAT NABI DALAM MELURUSKAN DAN MERAPATKAN SHAF SHALAT
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
SEMPURNANYA SHALAT ITU SESUAI RAPAT DAN LURUSNYA SHAF
 
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,
 
Terdapat beberapa riwayat yang menyebutkan anjuran Nabi ﷺ kepada para sahabat untuk merapatkan shaf. Di antaranya:
 
1. Hadis dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ memerintahkan makmumnya:
أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ وَتَرَاصُّوا
 
”Luruskan shaf kalian dan rapatkan.” [HR. Bukhari 719]
 
2. Juga dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ mengucapkan:
 
سوُّوا صُفُوفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصَفِّ مِنْ تَماَمِ الصَّلَاةِ
 
”Luruskan shaf kalian, karena meluruskan shaf bagian dari kesempurnaan shalat.” [HR. Muslim 433]
 
3. Hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ memerintahkan:
 
أقيموا الصَفِّ فِي الصَّلَاةِ فَإِنَّ إِقَامَةَ الصَفِّ مِنْ حُسْنِ الصَّلَاةِ
 
Luruskan shaf dalam shalat, karena meluruskan shaf bagian dari kesempurnaan shalat. [HR. Muslim 435]
 
4. Hadis dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ memerintahkan:
 
اِسْتَوُّوا وَلَا تَـخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ
 
Luruskan, dan jangan berselisih (dalam lurusnya shaf), sehingga hati kalian menjadi berselisih.
 
Kata Ibnu Mas’ud, Rasulullah ﷺ memerintahkan di atas, sambil mengusap pundak-pundak makmum. [HR. Muslim 122]
 
5. Hadis dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ memerintahkan:
 
أَقِيمُوا الصُّفُوفَ وَحَاذُوا بَيْنَ الْمَنَاكِبِ وَسُدُّوا الْخَلَلَ وَلِينُوا بِأَيْدِي إِخْوَانِكُمْ وَلَا تَذَرُوا فُرُجَاتٍ لِلشَّيْطَانِ
 
”Luruskan shaf, rapatkan pundak, dan tutup celah, perlunak pundak kalian untuk saudaranya, dan jangan tinggalkan celah untuk setan.” [HR. Abu Daud 666 dan dishahihkan al-Albani]
 
Makna: “Perlunak pundak kalian untuk saudaranya” adalah hendaknya dia mempemudah setiap orang yang masuk shaf, dengan berusaha agar pundaknya tidak mengganggu orang lain.
 
6. Hadis Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ memerintahkan:
 
أَتِـمُّوْا الصَّفَّ الـمُقَدَّمَ، ثُمَّ الَّذِي يَلِيْهِ
 
“Penuhi shaf depan, kemudian shaf berikutnya…” [HR. Abu Daud 671 dan dishahihkan al-Albani]
 
Dan masih terdapat beberapa riwayat lainnya, yang itu semua menunjukkan betapa besar perhatian Nabi ﷺ terhadap kesempurnaan shalat jamaah, yang meliputi lurus dan rapatnya shaf, terpenuhinya shaf terdepan, tidak boleh ada yang berbeda, tidak mengganggu sesama jamaah, dst.
 
Apa Hukum Merapatkan dan Meluruskan Shaf dalam Shalat Berjamaah?
 
Jumhur Ulama (Mayoritas) berpandangan, bahwa hukum meluruskan shaf adalah sunnah. Sedangkan Ibnu Hazm, Imam Bukhari, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Asy Syaukani menganggap meluruskan shaf itu wajib. Dalil kalangan yang mewajibkan adalah berdasarkan riwayat An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
 
لَتُسَوُّنَّ صُفُوفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللَّهُ بَيْنَ وُجُوهِكُمْ
 
“Hendaknya kalian meluruskan shaf kalian, atau tidak Allah akan membuat wajah kalian berselisih.” [HR. Bukhari no. 717 dan Muslim no. 436]
 
Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Tidak lurusnya shaf akan menimbulkan permusuhan dan kebencian, serta membuat hati kalian berselisih.” [Syarh Muslim, 4: 157]
 
Dalil dari hadis Anas bin Malik:
 
عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ فَإِنِّى أَرَاكُمْ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِى » . وَكَانَ أَحَدُنَا يُلْزِقُ مَنْكِبَهُ بِمَنْكِبِ صَاحِبِهِ وَقَدَمَهُ بِقَدَمِهِ
 
“Dari Anas, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: ”Luruskanlah shaf kalian. Aku melihat kalian dari belakang punggungku.” Lantas salah seorang di antara kami melekatkan pundaknya pada pundak temannya, lalu kakinya pada kaki temannya.” [HR. Bukhari no. 725]
 
 
Sumber:
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#sifatsholatNabi, #sholat, #shalat, #solat, #salat, #tatacara, #cara, #rapatkan, #luruskan, #merapatkan, #meluruskan, #saff, #shaff, #sof, #shoff, #barisan, #jamaah, #berjamaah, #hukum #dalildalil, #perintah, #anjuran, #menganjurkan
, ,

MENGUCAPKAN SALAM PADA RUMAH KOSONG

MENGUCAPKAN SALAM PADA RUMAH KOSONG
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

MENGUCAPKAN SALAM PADA RUMAH KOSONG

 

Kita diperintahkan mengucapkan salam pada rumah yang akan kita masuki sebagaimana disebutkan dalam ayat:

 
فَإِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوتًا فَسَلِّمُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً
.
“Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah- rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik.” [QS. An Nur: 61]
 
Sedangkan mengucapkan salam pada rumah yang tidak berpenghuni atau tidak ada seorang pun di rumah tersebut tidaklah wajib, namun hanya disunnahkan saja.
 
Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata:
 
إذا دخل البيت غير المسكون، فليقل: السلام علينا، وعلى عباد الله الصالحين
.
“Jika seseorang masuk rumah yang tidak didiami, maka ucapkanlah “Assalamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibadillahish sholihiin
 
Artinya:
Salam bagi diri kami dan salam bagi hamba Allah yang saleh. [Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Adabul Mufrod 806/ 1055. Sanad hadis ini Hasan sebagaimana dikatakan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Al Fath, 11: 17]
 
Hal di atas diucapkan ketika rumah kosong. Namun jika ada keluarga atau pembantu di dalamnya, maka ucapkanlah “Assalamu ‘alaikum”. Namun jika memasuki masjid, maka ucapkanlah “Assalamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibadillahish sholihiin”. Sedangkan Ibnu ‘Umar menganggap salam yang terakhir ini diucapkan ketika memasuki rumah kosong.
 
Imam Nawawi rahimahullah dalam kitab Al Adzkar berkata: “Disunnahkan bila seseorang memasuki rumah sendiri untuk mengucapkan salam, meskipun tidak ada penghuninya. Yaitu ucapkanlah “Assalamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibadillahish sholihiin”. Begitu pula ketika memasuki masjid, rumah orang lain yang kosong, disunnahkan pula mengucapkan salam: “Assalamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibadillahish sholihiin. Assalamu ‘alaikum ahlal bait wa rahmatullah wa barakatuh”. [Al Adzkar, hal. 468-469]
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#adabakhlak, #ucapan, #ucapkan, #mengucapkan, #doazikir, #doa, #zikir, #dzikir, #rumahkosong, #tidakadapenghunihukum, #tatacara, #cara #masukrumah
, ,

TATA CARA WUDHU BAGI MUSLIMAH KETIKA BERADA DI TEMPAT UMUM

TATA CARA WUDHU BAGI MUSLIMAH KETIKA BERADA DI TEMPAT UMUM
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
TATA CARA WUDHU BAGI MUSLIMAH KETIKA BERADA DI TEMPAT UMUM
 
Kondisi paling aman bagi Muslimah adalah berwudhu di ruangan tertutup, sehingga ketika Muslimah hendak menyempurnakan mengusap atau membasuh anggota tubuh yang wajib dikenakan air wudhu, auratnya tidak terlihat oleh orang-orang yang bukan mahramnya. Sayangnya, tidak semua masjid menyediakan tempat wudhu yang berada di ruangan tertutup.

Lalu, bagaimana cara berwudhu jika kita berada di tempat umum yang terbuka?  Berdasarkan riwayat dari ‘Amru bin Umayyah radhiyallahu ‘anhu, dari bapaknya, beliau berkata:

 
رأيت النبي صلّى الله عليه وسلّم، يمسح على عمامته وخفَّيه
 
“Aku pernah melihat Nabi ﷺ mengusap bagian atas surbannya dan kedua khufnya.” [HR. Al-Bukhari dalam Fathul Bari (1/308 no. 205) dan lainnya]
 
Juga dari Bilal radhiyallahu ‘anhu:
 
أن النبي صلّى الله عليه وسلّم، مسح على الخفين والخمار
 
“Bahwasanya Nabi ﷺ mengusap kedua khuf dan khimarnya.” [HR. Muslim (1/231) no. 275]
Hal yang sama juga pernah dilakukan oleh Ummu Salamah (istri Nabi ﷺ), bahwa beliau berwudhu dan mengusap kerudungnya. [Disebutkan oleh Ibnu Qudamah dari Ibnu Al-Mundzir]. Karena itu, wanita yang berwudhu di tempat umum TIDAK BOLEH melepas jilbabnya, namun cukup mengusap bagian atas jilbabnya.
 
Catatan:
Dijelaskan oleh ulama bahwa tutup kepala boleh diusap, jika memenuhi dua syarat:
1. Menutupi seluruh bagian kepala.
2. Terdapat kesulitan untuk melepaskannya.
Karena itu, sebatas (menggunakan) peci (menyebabkan peci) tidak boleh diusap, tetapi (bagian kepalalah yang) harus (tetap) diusap. [Shifat Wudhu Nabi ﷺ, hlm. 28]
Alternatif lain adalah dengan wudhu di kamar mandi. Sebagian orang merasa khawatir dan ragu-ragu, bila wudhu di kamar mandi wudhunya tidak sah, karena kamar mandi merupakan tempat yang biasa digunakan untuk buang hajat, sehingga kemungkinan besar terdapat najis di dalamnya. Wudhu di kamar mandi hukumnya boleh, asalkan tidak dikhawatirkan terkena/ terpercik najis yang mungkin ada di kamar mandi.
 
Kita ingat kaidah yang menyebutkan: “Sesuatu yang yakin tidak bisa hilang dengan keraguan.” Keragu-raguan atau kekhawatiran kita terkena najis TIDAK BISA dijadikan dasar tidak bolehnya wudhu di kamar mandi, kecuali setelah kita benar-benar yakin, bahwa jika wudhu di kamar mandi kita akan terkena/ terpeciki najis. Jika kita telah memastikan bahwa lantai kamar mandi bersih dari najis, dan kita yakin tidak akan terkena/ terperciki najis, maka insya Allah tak mengapa wudhu di kamar mandi.
 
Sedangkan pelafalan “Bismillah” di kamar mandi, menurut pendapat yang lebih tepat adalah BOLEH melafalkannya di kamar mandi. Hal ini dikarenakan membaca Bismillah pada saat wudhu hukumnya wajib, sedangkan menyebut nama Allah di kamar mandi hukumnya makruh. Kaidah mengatakan, bahwa “Makruh itu berubah menjadi mubah jika ada hajat. Dan melaksanakan kewajiban adalah hajat.”
 
Adapun membaca zikir setelah wudhu dapat dilakukan setelah keluar kamar mandi, yaitu setelah membaca doa keluar kamar mandi. Untuk itu disarankan setelah berwudhu, tidak berlama-lama di kamar mandi (segera keluar).
 
Bagaimana bila kita yakin bahwa bila wudhu di kamar mandi kita akan terkena/ terperciki najis?
 
> Dengan alasan terkena najis, maka sebaiknya tidak wudhu di kamar mandi atau disiram dulu sampai bersih.
 
> Alternatif lainnya adalah dengan cara mengusap khuf. jaurab, dan jilbab tanpa harus membukanya. Pembahasan tentang ini masuk dalam bab mengusap khuf. Tentu timbul pertanyaan lain, bagaimana dengan tangan? Jika jilbab kita sesuai dengan syariat, insya Allah hal ini bisa diatasi. Karena bagian tangan yang perlu dibasuh bisa dilakukan di balik jilbab kita yang terulur panjang. Sehingga tangan kita tidak akan terlihat oleh umum, insya Allah.
 
Wallahu a’lam bi shawab.
Sumber:
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#tempatumum, #mallmall,  #luar rumah #tatacara, #cara, #wudhuk, #wudluk, #muslimah, #wanita, #perempuan, #kerudung, #hijab, #jilbab, #khuff, #kaoskaki, #kauskaki, #sepatu, #sandal, #kaidah, #kaedah, #fikih, #fiqih, #fiqh
, ,

JANGAN RAGU-RAGU DALAM BERDOA KEPADA ALLAH

JANGAN RAGU-RAGU DALAM BERDOA KEPADA ALLAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
JANGAN RAGU-RAGU DALAM BERDOA KEPADA ALLAH
>> Hindari berdoa: “Ya Allah, ampuni aku jika Engkau kehendaki”
>> Memintalah sesering mungkin di dalam doa
 
Sobat, pernahkan kita dengar doa seperti ini:
“Ya Allah,
Tak layak bagiku menghuni Surga Firdaus-Mu,
Namun aku tak kuat bila menempati Neraka Jahim-Mu”
“Ya Allah, ampuni aku jika Engkau kehendaki”
 
Sejenis dengan doa ini dan TIDAK BOLEH misalnya: “Ya Allah jika Surga layak bagiku, maka masukkan aku ke Surga-Mu”
 
Doa semacam ini dibahas dalam pelajaran TAUHID dan harus dihindari.
 
Doa “Menggantung” seperti ini ada laranganny, sebagaimana dalam hadis:
 
ﻻ ﻳﻘﻞ ﺃﺣﺪﻛﻢ: ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﻏﻔﺮ ﻟﻲ ﺇﻥ ﺷﺌﺖ، ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﺭﺣﻤﻨﻲ ﺇﻥ ﺷﺌﺖ، ﻟﻴﻌﺰﻡ ﺍﻟﻤﺴﺄﻟﺔ ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻣﻜﺮﻩ ﻟﻪ “.
 
“JANGANLAH seseorang di antara kalian berdoa dengan ucapan: “Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau menghendaki.”
 
Atau berdoa: “Ya Allah, rahmatilah aku jika Engkau menghendaki.
 
Tetapi hendaklah meminta dengan MANTAP, karena sesungguhnya Allah, tidak ada sesuatu pun yang memaksa-Nya untuk berbuat sesuatu.” [HR. Bukhari & Muslim]
 
Dalam riwayat lainnya:
 
ﻭﻟﻴﻌﻈﻢ ﺍﻟﺮﻏﺒﺔ ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻳﺘﻌﺎﻇﻤﻪ ﺷﻲﺀ ﺃﻋﻄﺎﻩ
 
“Dan hendaklah ia memiliki keinginan yang besar, karena sesungguhnya Allah, tidak terasa berat bagi-Nya sesuatu yang Ia berikan.”
 
Mengapa dilarang? Karena:
 
1. Ucapan ini menunjukkan seakan-akan Allah merasa keberatan dalam mengabulkan permintaan hamba-Nya, atau merasa terpaksa untuk memenuhi permohonan hamba-Nya.
 
Sama seperti seorang berkata:
“Kalau engkau berkehendak, pinjamkan saya uang.”
 
Kalimat ini muncul karena dia butuh uang dan dia tahu bahwa yang diminta pinjam bisa jadi meminjamkan atau tidak meminjamkan (karena bisa jadi dia juga sedang butuh uang atau lainnya)
 
Sedangkan meminta ampun bagi hamba yang butuh ampunan, maka Allah Maha Kaya dan Tidak butuh dengan ampunan hamba-Nya. Akan tetapi Allah Maha Pengampun yang mengampuni siapa saja yang Dia kehendaki.
 
2. Kita diperintahkan berkeinginan kuat dalam berdoa, bahwa kita sangat butuh, memelas pada Allah, dan yakin akan dikabulkan, baik di dunia, maupun berupa simpanan kebaikan di Akhirat.
 
Yang BOLEH adalah “menggantungkan” doa dan menyandarkannya dengan ilmu gaib Allah mengenai masa depan, karena ia tidak tahu masa depan dan hanya Allah yang tahu. Misalnya:
 
ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺃَﺣْﻴِﻨِﻰ ﻣَﺎ ﻛَﺎﻧَﺖِ ﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺓُ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻟِﻰ، ﻭَﺗَﻮَﻓَّﻨِﻰ ﺇِﺫَﺍ ﻛَﺎﻧَﺖِ ﺍﻟْﻮَﻓَﺎﺓُ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻟِﻰ
 
“Ya Allah, hidupkanlah aku (panjangkan usiaku), jika hidup itu lebih baik bagiku. Dan matikanlah aku jika kematian itu lebih baik bagiku.’ “ [HR. Bukhari]
 
Sebagian ulama menjelaskan doa ini boleh jika seseorang mengkhawatirkan agamanya.
 
Contoh lainnya:
“Ya Allah, jika ia memang dia jodoh yang bisa selalu mengingatkan aku pada-Mu, maka jodohkanlah aku dengannya.”
 
Seseorang yang TAUHID dan IMANnya baik akan selalu yakin dan percaya kepada Allah dengan hati yang teguh dan mantab, sebagaimana tercermin dalam doanya.
 
 
Penyusun: Raehanul Bahraen
 
#adabakhlak, #adab, #adabberdoa,#tatacara, #cara, #berdoa, #doa, #janganragu, #yakin, #mantab, #jikaEngkaukehendaki