Posts

,

HUKUM MEMBUNUH BINATANG “SECARA SENGAJA” TERBAGI MENJADI EMPAT MACAM

HUKUM MEMBUNUH BINATANG “SECARA SENGAJA” TERBAGI MENJADI EMPAT MACAM
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
HUKUM MEMBUNUH BINATANG “SECARA SENGAJA” TERBAGI MENJADI EMPAT MACAM
>> Bolehkah Membunuh Nyamuk?

Pertanyaan:

Saya pernah mendengar, bahwa kita tidak boleh membunuh binatang karena sama-sama makhluk Allah, termasuk nyamuk? Benarkah demikian? Apakah menyemprot nyamuk dengan insektisida itu tidak boleh? Saaya khawatir membawa penyakit.
 
Jawaban:
Hukum membunuh binatang “secara sengaja” terbagi menjadi empat macam:
 
Pertama: Binatang yang Boleh Dibunuh dan Tidak Boleh Dimakan
Yaitu setiap hewan yang memiliki tabiat yang membahayakan atau menyakiti manusia, maka BOLEH dibunuh, baik di Tanah Suci maupun di tempat lain. Rasulullah ﷺ bersabda:
 
خَمْسٌ مِنَ الدَّوَابِّ كُلُّهَا فَوَاسِقُ تُقْتَلُ فِى الْحَرَمِ الْغُرَابُ وَالْحِدَأَةُ وَالْكَلْبُ الْعَقُورُ وَالْعَقْرَبُ وَالْفَارَةُ
 
“Lima hewan yang semuanya jahat, boleh dibunuh walau di Tanah Suci: burung gagak, burung rajawali, anjing yang suka melukai, kalajengking dan tikus.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu’anha]
 
Dalam riwayat yang lain: “juga ular.” Dan dikiaskan semua binatang yang berbahaya seperti harimau, singa dan lain-lain. Termasuk yang ditanyakan yaitu nyamuk, hukumnya boleh dibunuh.
 
Dan DIBOLEHKAN membunuh hewan-hewan tersebut dengan cara apa saja selama tidak mengandung penyiksaan seperti dibakar. Sehingga dibolehkan insya Allah dengan menyemprotkan insektisida.
 
Kedua: Binatang yang Boleh Dibunuh dan Boleh Dimakan
Seperti unta, sapi, kambing, ayam dan lain-lain, hukumnya boleh dibunuh untuk dimakan dengan disembelih, atau dibunuh dengan cara yang sesuai syariat.
 
Ketiga: Binatang yang Tidak Boleh Dibunuh
Yaitu hewan yang tidak memiliki tabiat yang jelek, dan tidak pula dibolehkan memakannya. Di antaranya yang disebutkan dalam hadis Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma, beliau berkata:
 
إِنَّ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم نَهَى عَنْ قَتْلِ أَرْبَعٍ مِنَ الدَّوَابِّ النَّمْلَةُ وَالنَّحْلَةُ وَالْهُدْهُدُ وَالصُّرَدُ
 
“Sesungguhnya Nabi ﷺ melarang dari membunuh empat jenis hewan: semut, lebah, burung hud-hud dan burung shurod.” [HR. Abu Daud, Al-Irwa’: 2490]
 
Juga dalam hadis Abdur Rahman bin Utsman radhiyallahu’anhu, beliau berkata:
 
أَنَّ طَبِيبًا سَأَلَ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم عَنْ ضِفْدَعٍ يَجْعَلُهَا فِى دَوَاءٍ فَنَهَاهُ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم عَنْ قَتْلِهَا
 
“Bahwasannya seorang dokter bertanya kepada Nabi ﷺ tentang katak untuk dijadikan obat, maka Nabi ﷺ melarang dari membunuh katak.” [HR. Abu Daud, Shahihut Targhib: 2991]
 
Keempat: Hewan yang Tidak Boleh Dibunuh Namun Menyakiti
Seperti semut atau lebah yang menyakiti, hendaklah diusir, ditakut-takuti, dijauhkan dan semisalnya. Kalau terpaksa harus membunuh, maka boleh dibunuh tanpa menyiksa.
 
وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم
Penulis: Ustadz Sofyan Chalid Ruray

TIDAK DILARANG DUDUK MEMELUK LUTUT KETIKA KHUTBAH JUMAT

TIDAK DILARANG DUDUK MEMELUK LUTUT KETIKA KHUTBAH JUMAT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MutiaraSunnah, #DakwahSunnah

TIDAK DILARANG DUDUK MEMELUK LUTUT KETIKA KHUTBAH JUMAT

Pertanyaan:

Saya membaca satu hadis di dalam Kitab Riyadhus Shalihin tentang larangan duduk dengan menaikkan paha dan memeluk lutut, ketika khatib sedang menyampaikan Khutbah dari Mimbar ketika Shalat Jumat. Saya harap Anda dapat membantu saya memberi pencerahan tentang hal ini.

Jawaban oleh Tim Fatwa IslamQA, di bawah pengawasan Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Munajjid

Alhamdulillah.

Pertama:

Hadis tentang duduk memeluk lutut diriwayatkan oleh Imam Ahmad (24/393) dan At-Tirmizi (514) dari Muadz bin Anas radhiyallahuanhu, yang berbunyi:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنِ الحبْوَة يَوْمَ الجُمُعَةِ وَالإِمَامُ يَخْطُبُ

“Rasulullah ﷺ melarang duduk Ihtiba’ (memeluk atau mendekap lutut) di hari Jumat ketika Imam sedang menyampaikan khutbah.” Imam At-Tirmizi mengatakan “Hadis ini Hadis Hasan.”

Duduk di dalam hadis tersebut adalah duduk dengan bersandar pada punggung, dengan paha dan betis diangkat hingga menempel atau mendekati perut, lalu memeluknya dengan kedua tangan. [Lihat al-Mu‘jam al-Waseet (1/154, 2/729)].

Para ulama berbeda pendapat tentang hadis di atas. Beberapa dari mereka menglasifikasikan hadis tersebut sebagai Hasan, seperti Syekh Al-Albani Rahimahullah di dalam Sahih At-Tirmizi, dan juga pensyarah Musnad Al-Imam Ahmad.

Beberapa ulama lainnya mengklasifikasikan hadis tersebut sebagai Dhaif, seperti Imam Nawawi di dalam Al-Majmu (4/592), Ibnul Arabi di dalam Aaridat al-Ahwadhi (1/469) dan Ibnu Muflih di dalam Al-Furuu’ (2/127).

Imam An-Nawawi di dalam Al-Majmu, setelah menyatakan bahwa Imam At-Tirmizi mengklasifikasikan hadis ini sebagai Hasan, berkata:

“Di dalam sanadnya terdapat dua perawi yang Dhaif (lemah), sehingga kami tidak bisa menerima klasifikasi (hadis tersebut) sebagai Hasan.”

Akhir kutipan.

Kedua:

Perawi Dhaif yang disebutkan oleh Imam Nawawi adalah Sahl bin Muadz dan Abdurrahim bin Maymun.

Tentang  Sahl bin Muadz, Ibnu Ma’in berkata:

“Beliau Dhaif.”

Ibnu Hibban berkata:

“Hadisnya sangat aneh.”

Abdurrahim bin Maimun juga disebut sebagai perawi yang Dhaif oleh Ibnu Ma’in. Abu Hatim berkata:

“Hadisnya boleh ditulis, tetapi tidak boleh dikutip sebagai hujjah.” [Lihat: Tahdheeb at-Tahdheeb (4/258, 6/308)].

Diriwayatkan pula bahwa beberapa sahabat juga duduk memeluk lutut pada waktu Jumat ketika Imam sedang menyampaikan khutbah, seperti Ibnu Umar dan Anas radhiyallahuanhum. Oleh karena itu, sebagian besar ulama (termasuk empat imam) berpendapat, bahwa duduk seperti ini TIDAK MAKRUH.

Ibnu Qudamah, di dalam Al-Mughni (2/88), berkata:

“Tidak ada yang salah dengan duduk sambil mengangkat dengkul ketika Imam sedang menyampaikan kutbah. Hal ini diiriwayatkan dari Ibnu Umar dan banyak sahabat Rasulullah ﷺ lainnya. Inilah pendapat Said bin Al-Musayyib, Al-Hasan Al-Bashri, Ibnu Sirin, Imam Malik, Asy-Syafii, dan Ashabur Ra’yi.”

Abu Dawud berkata:

“Saya tidak mendengar ada seseorang yang menganggapnya Makruh kecuali Ubaadah bin Nasiy, karena Sahl bin Muadz meriwayatkan, bahwa Rasulullah ﷺ melarang duduk dengan mengangkat kaki pada waktu Jumat ketika Imam sedang menyampaikan khutbah.”

Ibnu Qudamah Rahimahullah melanjutkan: “Akan tetapi, kami memiliki riwayat dari Ya’la bin Awas yang berkata:

“Saya berada di Baitul Maqdis (Jerusalem) dengan Muawiyah. Beliau berkumpul bersama kami, kemudian saya mengetahui dan melihat, bahwa sebagian besar dari mereka yang berada di dalam masjid adalah para sahabat Rasulullah ﷺ, dan saya melihat mereka duduk memeluk lutut ketika Imam sedang menyampaikan khutbah. Hal ini dilakukan oleh Ibnu Umar dan Anas, dan kami tidak melihat adanya seseorang yang tidak setuju dengan mereka; sehingga dari sini ada konsensus (Ijma).

“Sanad dari hadis tersebut masih terus diperbincangkan, sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu Mundzir. Akan tetapi, akan lebih bagi kita untuk tidak melakukannya. Meskipun riwayat tersebut Dhaif, duduk dengan cara tersebut (Ihtiba’) lebih berpotensi membuat seseorang ketiduran, atau terjatuh (karena tidur), sehingga membatalkan wudhunya. Oleh karena itu, lebih baik tidak melakukannya.”

Akhir kutipan.

Imam An-Nawawi, di dalam Al-Majmu (4/457), berkata:

“Duduk dengan memeluk kaki pada waktu Jumat bagi seseorang yang mendatangi khutbah, ketika Imam sedang menyampaikan khutbah:

“Ibnu Mundzir meriwayatkan dari Imam Asy-Syafii, bahwa beliau tidak menganggapnya sebagai Makruh. Ibnu Mundzir meriwayatkannya dari Ibnu Umar, Ibnu Al-Musayyab, Al-Hasan Al-Bashri, Ata’ bin Rabbah, Ibnu Sirin, Abu Zubair, Salim bin Abdullah, Suraih Al-Qadi, Ikrimah bin Khalid, Nafi, Malik, At-Tsauri, Al-Auzai, Ashabur Ra’yi, Ahmad, Ishaq, dan Abu Tsaur.”

Beliau (Imam An-Nawawi) melanjutkan:

“Beberapa ulama hadis menganggapnya sebagai Makruh, karena sebuah hadis yang diriwayatkan dari Rasulullah ﷺ tentang hal tersebut, padahal sanadnya masih diperdebatkan.”

Akhir kutipan.

Beberapa ulama menyebutkan alasan kenapa duduk Ihtiba’ (memeluk lutut) ketika Imam menyampaikan Khutbah adalah Makruh.

Al-Baihaqi Rahimahullah berkata:

“Apa yang diriwayatkan di dalam hadis Muadz bin Anas, bahwa Rasulullah ﷺ melarang duduk dengan memeluk lutut atau kaki pada waktu Jumat, jika terbukti sahih, itu karena duduk dengan cara tersebut dapat membuat seseorang mudah tertidur, sehingga wudhunya kemungkinan besar menjadi batal. Jika tidak khawatir akan hal tersebut, maka tidak ada yang salah dengan duduk sambil memeluk lutut.“

Akhir kutipan.

Ma‘rifat as-Sunan wa’l-Athaar (1814)

Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah berkata:

“Rasulullah ﷺ melarang Ihtiba (duduk memeluk lutut) pada waktu Jumat ketika Imam sedang menyampaikan khutbah, karena dua alasan:

Satu, karena posisi seperti ini akan menyebabkan mengantuk lalu orang tersebut tertidur dan tidak mendengarkan khutbah.”

Kedua, karena jika dia bergerak, maka auratnya akan tersingkap. Ini karena kebanyakan orang di zaman dulu hanya memakai Izar (semacam sarung) dan Rida’ (semacam jubah atasan). Dan jika seseorang bergerak atau tersungkur, maka auratnya akan terbuka.”

“Akan tetapi jika tidak ada kekhawatiran akan hal tersebut, maka hukumnya boleh. Jika sebuah larangan didasarkan pada logika (alasan), maka ketika alasan tersebut hilang, maka larangannya pun batal.”

Akhir kutipan.

Sharh Riyadh as-Saaliheen (4/730-731).

Kesimpulan:

Lebih disukai untuk tidak duduk memeluk lutut ketika imam sedang menyampaikan khutbah pada waktu Jumat. Tetapi jika seseorang duduk memeluk lutut dan tidak ada kekhawatiran bahwa auratnya akan terbuka atau tertidur, maka dalam hal ini hukumnya boleh.

Wallahu’alam bish shawwab.

[Fatwa No: 129182 – Tanggal: 2014-12-04]

 

Sumber: http://islamqa.info/en/129182

 

Penerjemah: Irfan Nugroho

Staf pengajar di Pondok Pesantren Tahfidzul Quran At-Taqwa Sukoharjo

,

BOLEHKAH MEMBATALKAN PUASA SUNNAH DI SAAT UNDANGAN MAKAN?

BOLEHKAH MEMBATALKAN PUASA SUNNAH DI SAAT UNDANGAN MAKAN?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatPuasaNabi

BOLEHKAH MEMBATALKAN PUASA SUNNAH DI SAAT UNDANGAN MAKAN?

 

Bagaimana jika seseorang melakukan puasa sunnah lantas diundang makan, apakah puasanya dibatalkan ataukah dilanjutkan?

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا دُعِىَ أَحَدُكُمْ فَلْيُجِبْ فَإِنْ كَانَ صَائِمًا فَلْيُصَلِّ وَإِنْ كَانَ مُفْطِرًا فَلْيَطْعَمْ

“Jika salah seorang di antara kalian diundang makan, maka penuhilah undangan tersebut. Jika dalam keadaan berpuasa, maka doakanlah orang yang mengundangmu. Jika dalam keadaan tidak berpuasa, santaplah makanannya.” (HR. Muslim no. 1431)

Manfaatnya ada tiga jika seseorang membatalkan puasa sunnah saat diundang makan:

1- Menyenangkan tuan rumah yang mengundang

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi ﷺ bersabda:

أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ , وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ , أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً , أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا , أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا , وَلأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخِ فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ شَهْرًا

“Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia. Adapun amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah membuat Muslim yang lain bahagia, mengangkat kesusahan orang lain, membayarkan utangnya, atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang Muslim untuk sebuah keperluan, lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid ini -masjid Nabawi- selama sebulan penuh.” (HR. Thabrani di dalam Al-Mu’jam Al-Kabir no. 13280, 12: 453. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana disebutkan dalam Shahih Al-Jaami’ no. 176).

Imam Nawawi berkata: Jika sampai orang yang mengundang merasa tidak suka jika orang yang diundang tetap berpuasa, maka hendaklah yang diundang membatalkan puasanya. Jika tidak ada perasaan seperti itu, maka tidak mengapa tidak membatalkan puasa saat itu. [Lihat penjelasan Imam Nawawi ini dalam Syarh Shahih Muslim, 9: 210].

Ibnu Taimiyah dalam Fatawa Al-Kubra (5: 477):

وأعدل الأقوال أنه إذا حضر الوليمة وهو صائم إن كان ينكسر قلب الداعي بترك الأكل فالأكل أفضل وإن لم ينكسر قلبه فإتمام الصوم أفضل ولا ينبغي لصاحب الدعوة الإلحاح في الطعام للمدعو إذا امتنع فإن كلا الأمرين جائز فإذا الزمه بما لا يلزمه كان من نوع المسألة المنهى عنها

“Pendapat yang paling baik dalam masalah ini, jika seseorang menghadiri walimah (undangan makan) dalam keadaan ia berpuasa, jika sampai menyakiti hati yang mengundang karena enggan untuk makan, maka makan ketika itu lebih utama. Namun jika tidak sampai menyakiti hatinya, maka melanjutkan puasa lebih baik. Akan tetapi, tidaklah pantas bagi tuan rumah memaksa yang diundang untuk makan ketika ia enggan untuk makan. Karena kedua kondisi yang disebutkan tadi sama-sama boleh. Jika jadinya memaksa pada hal yang sebenarnya bukan wajib, itu merupakan bagian dari pemaksaan yang terlarang.”

2- Lebih menyembunyikan amalan sunnah (terjaga keikhlasan)

Ma’ruf Al-Karkhi yang terkenal dengan kezuhudannya ditanya: “Bagaimana engkau berpuasa?” Lantas Ma’ruf memutar-mutar jawaban sambil mengatakan: “Puasa Nabi kita ﷺ seperti ini dan seperti itu. Puasa Daud seperti ini dan seperti itu.” Yang bertanya terus mendesak agar Ma’ruf memberikan jawaban. Ma’ruf kemudian berkata: “Di pagi hari aku berpuasa. Jika ada yang mengundangku makan, maka aku makan. Aku tidak mau mengatakan aku sedang puasa.” (Siyar A’lam An-Nubala’, 9: 341)

Apa alasan Ma’ruf tidak mau mengungkap bahwa ia berpuasa? Biar amalan puasa sunnahnya terjaga. Subhanallah …. Sungguh, para ulama masa silam benar-benar menjaga keikhlasannya dalam beramal.

Ibrahim bin Adham berkata: “Janganlah engkau bertanya pada saudaramu, apakah ia berpuasa atau tidak. Jika ia memberi jawaban bahwa ia berpuasa, dirinya akan berbangga (ujub). Jika jawabannya bahwa ia tidak berpuasa, hatinya akan bersedih. Dua-dua ini merupakan tanda riya’. Pertanyaan seperti itu hanya menelanjangi dan membuka kesalahannya (aibnya) pada yang bertanya.”

Ibrahim bin Adham juga ketika diundang makan dan ia dalam keadaan puasa, ia tetap makan (membatalkan puasanya) dan ia tidak menyatakan, “Aku sedang berpuasa.” (Ta’thir Al-Anfas, hlm. 236)

3- Mendahulukan yang wajib dari yang sunnah

Sebagian ulama menyatakan, menghadiri undangan makan adalah wajib, tidak khusus untuk walimah nikah seperti pendapat jumhur (mayoritas) ulama. Jika puasa yang dilakukan masih puasa sunnah, apalagi masih ada waktu lain untuk melakukannya, maka mendahulukan yang wajib lebih utama.

Wallahu a’lam. Hanya Allah yang memberi taufik.

 

Referensi Utama:

Siyar A’lam An-Nubala. Cetakan kedua, tahun 1435 H. Muhammad bin Ahmad bin Utsman Adz-Dzahabiy. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.

 

Ta’thir Al-Anfas min Hadits Al-Ikhlas. Cetakan pertama, tahun 1421 H. Dr. Sayib bin Husain Al-‘Afaniy. Penerbit Maktabah Mu’adz bin Jabal.

 

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

[Artikel Rumaysho.Com]

Sumber: https://rumaysho.com/11453-bolehkah-membatalkan-puasa-sunnah-di-saat-undangan-makan.html

BOLEHKAH WANITA SHALAT MENGENAKAN MUKENA TIPIS DAN TRANSPARAN?

BOLEHKAH WANITA SHALAT MENGENAKAN MUKENA TIPIS DAN TRANSPARAN?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi
#MuslimahSholihah

BOLEHKAH WANITA SHALAT MENGENAKAN MUKENA TIPIS DAN TRANSPARAN?

>> Ketika dia shalat sendirian di dalam kamar tidurnya dan lampu dipadamkan

Di masa jahiliah, kata Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, wanita biasa thawaf di Kakbah dalam keadaan tanpa busana. Yang tertutupi hanyalah bagian kemaluannya. Mereka thawaf seraya bersyair:

  • Pada hari ini tampak tubuhku, sebagiannya ataupun seluruhnya
  • Maka apa yang tampak darinya, tidaklah daku halalkan

Maka turunlah ayat:

يَٰبَنِيٓ ءَادَمَ خُذُواْ زِينَتَكُمۡ عِندَ كُلِّ مَسۡجِدٖ

“Wahai anak Adam, kenakanlah zinah (hiasan/pakaian) kalian setiap kali menuju masjid.” (al-A’raf: 31) [Shahih, HR. Muslim no. 3028]

Zinah (hiasan) adalah sesuatu yang dikenakan untuk berhias/memerindah diri. [Mukhtarush Shihah, hlm. 139], seperti pakaian.

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata: “Dahulu orang-orang jahiliah thawaf di Kakbah dalam keadaan telanjang. Mereka melemparkan pakaian mereka, dan membiarkannya tergeletak di atas tanah terinjak-injak oleh kaki orang-orang yang lalu lalang. Mereka tidak lagi mengambil pakaian tersebut selamanya, hingga usang dan rusak. Demikian kebiasaan jahiliah ini berlangsung hingga kedatangan Islam, dan Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan mereka untuk menutup aurat sebagaimana firman-Nya:

بَنِيٓ ءَادَمَ خُذُواْ زِينَتَكُمۡ عِندَ كُلِّ مَسۡجِدٖ

“Wahai anak Adam, kenakanlah hiasan kalian setiap kali shalat di masjid.” (al-A’raf: 31)

Nabi ﷺ bersabda:

لاَ يَطُوْفُ بِالْبَيْتِ عُرْياَنٌ

“Tidak boleh orang yang telanjang thawaf di Kakbah.” (Shahih, HR. al-Bukhari no. 1622 dan Muslim no. 1347) [Shahih Muslim bi Syarhin Nawawi, 18/162—163]

Hadis di atas selain disebutkan oleh al-Imam al-Bukhari rahimahullah pada nomor di atas, pada Kitab al-Haj, Bab “Tidak Boleh Orang Yang Telanjang Thawaf Di Baitullah dan Tidak Boleh Orang Musyrik Melaksanakan Haji”, disinggung pula oleh beliau dalam Kitab ash-Shalah, Bab “Wajibnya Shalat dengan Mengenakan Pakaian.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam syarahnya (penjelasan) terhadap hadis di atas dalam Kitab ash-Shalah berkata: “Sisi pendalilan hadis ini terhadap judul bab yang diberikan al-Imam al-Bukhari rahimahullah adalah, apabila dalam thawaf dilarang telanjang, pelarangan hal ini di dalam shalat lebih utama lagi. Sebab apa yang disyaratkan di dalam shalat, sama dengan apa yang disyaratkan di dalam thawaf, bahkan dalam shalat ada tambahan. Jumhur berpendapat menutup aurat termasuk syarat shalat.” [Fathul Bari, 1/582]

Al-Imam asy-Syaukani rahimahullah berkata dalam Tafsir-nya: “Mereka diperintah untuk mengenakan zinah (hiasan) ketika datang ke masjid,untuk melaksanakan shalat atau thawaf di Baitullah. Ayat ini dijadikan dalil untuk menunjukkan wajibnya menutup aurat di dalam shalat. Demikian pendapat yang dipegangi oleh jumhur ulama. Bahkan menutup aurat hukumnya wajib dalam segala keadaan, sekalipun seseorang shalat sendirian, sebagaimana ditunjukkan oleh hadis-hadis yang Shahih.” [Fathul Qadir, 2/200]

Ada perbedaan antara batasan aurat yang harus ditutup di dalam shalat, dan aurat yang harus ditutup di hadapan seseorang yang tidak halal untuk melihatnya, sebagaimana ada perbedaan yang jelas antara aurat laki-laki di dalam shalat, dan aurat wanita.

Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: “Mengenakan pakaian di dalam shalat adalah dalam rangka menunaikan hak Allah subhanahu wa ta’ala. Maka dari itu, seseorang tidak boleh shalat ataupun thawaf dalam keadaan telanjang, walaupun sendirian di malam hari. Dengan demikian diketahuilah, bahwa mengenakan pakaian di dalam shalat bukanlah karena ingin menutup tubuh (berhijab) dari pandangan manusia. Sebab, ada perbedaan antara pakaian yang dikenakan untuk berhijab dari pandangan manusia, dan pakaian yang dikenakan ketika shalat.” [Majmu’ Fatawa, 22/113—114]

Perlu diperhatikan di sini, menutup aurat di dalam shalat tidaklah cukup dengan berpakaian ala kadarnya. Yang penting menutup aurat, tidak peduli pakaian itu terkena najis, bau, dan kotor misalnya. Namun perlu diperhatikan pula sisi keindahan dan kebersihannya. Sebab, Allah subhanahu wa ta’ala dalam firman-Nya memerintahkan untuk mengenakan zinah (pakaian sebagai perhiasan) ketika shalat, sebagaimana ayat di atas. Jadi, seorang hamba sepantasnya shalat mengenakan pakaiannya yang paling bagus dan paling indah, karena dia akan bermunajat dengan Rabb semesta alam, dan berdiri di hadapan-Nya.

Demikian secara makna dikatakan oleh Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam al-Ikhtiyarat (hlm. 43), sebagaimana dinukil dalam asy-Syarhul Mumti’ ‘ala Zadil Mustaqni’ (2/145).

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah membawakan beberapa syarat pakaian yang dikenakan dalam shalat. Ringkasnya adalah sebagai berikut:

  • Tidak menampakkan kulit tubuh yang ada di balik pakaian
  • Bersih dari najis
  • Bukan pakaian yang haram untuk dikenakan, seperti sutra bagi laki-laki, atau pakaian yang melampaui/melebihi mata kaki bagi laki-laki (isbal)
  • Pakaian tersebut tidak menimbulkan mudarat/bahaya bagi pemakainya. [Lihat pembahasan dan dalil-dalil masalah ini dalam asy-Syarhul Mumti’, 2/148—151]

Bagian Tubuh yang Harus Ditutup

Al-Khaththabi rahimahullah berkata: “Ulama berbeda pendapat tentang bagian tubuh yang harus ditutup oleh wanita merdeka (bukan budak) dalam shalatnya.

Al-Imam asy-Syafi’i dan al-Auza’i rahimahumallah berkata: ‘Wanita menutupi seluruh badannya ketika shalat, kecuali wajah dan dua telapak tangannya.’ [Diriwayatkan hal ini dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dan ‘Atha rahimahullah].

Lain lagi yang dikatakan oleh Abu Bakr bin Abdirrahman bin al-Harits bin Hisyam radhiyallahu ‘anhu: ‘Semua anggota tubuh wanita merupakan aurat, sampai pun kukunya.’

Al-Imam Ahmad rahimahullah sejalan dengan pendapat ini, beliau berkata: ‘Dituntunkan bagi wanita untuk melaksanakan shalat dalam keadaan tidak terlihat sesuatu pun dari anggota tubuhnya, tidak terkecuali kukunya’.” (Ma’alimus Sunan, 2/343)[ Sebagaimana dinukil dalam Jami’ Ahkamin Nisa’ (1/321)]

Sebenarnya dalam permasalahan ini TIDAK ADA DALIL YANG JELAS yang bisa menjadi pegangan, kata asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah. (asy-Syarhul Mumti’, 2/156)

Oleh karena itu, Ibnu Taimiyah rahimahullah berpendapat, seluruh tubuh wanita merdeka itu aurat (di dalam shalatnya), kecuali bagian tubuh yang biasa tampak darinya ketika di dalam rumahnya, yaitu wajah, dua telapak tangan, dan telapak kaki. [Majmu’ Fatawa, 22/109—120]

Dengan demikian, ketika seorang wanita shalat sendirian atau di hadapan sesama wanita, atau di hadapan mahramnya, dibolehkan baginya untuk membuka wajah, dua telapak tangan, dan dua telapak kakinya. [Jami’ Ahkamin Nisa’, 1/333—334]

Walaupun yang lebih utama ialah ia menutup dua telapak kakinya. (Majmu’ Fatawa wa Rasa’il asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin)

Apabila ada laki-laki yang bukan mahramnya, ia menutup seluruh tubuhnya termasuk wajah. [Bagi yang berpendapat wajibnya menutup wajah. (-red)] (asy-Syarhul Mumti’, 2/157)

Pakaian Wanita Di Dalam Shalat

Di sekitar kita banyak dijumpai wanita shalat mengenakan mukena/rukuh yang tipis transparan, sehingga terlihat rambut panjangnya tergerai di balik mukena. Belum lagi pakaian yang dikenakan di balik mukena terlihat tipis, tanpa lengan, pendek dan ketat, menggambarkan lekuk-lekuk tubuhnya. Pakaian seperti ini jelas TIDAK BISA dikatakan menutup aurat.

Bila ada yang berdalih: “Saya mengenakan pakaian shalat yang seperti itu hanya di dalam rumah, sendirian di dalam kamar, dan lampu saya padamkan!”, kita katakan, bahwa pakaian shalat seperti itu (mukena ditambah pakaian minim di baliknya) tidak boleh dikenakan, walaupun ketika shalat sendirian, tanpa ada seorang pun yang melihat. Sebab, pakaian itu tidak cukup untuk menutup aurat. Padahal ketika shalat, wanita tidak boleh terlihat bagian tubuhnya kecuali wajah, telapak tangan, dan telapak kaki. [Lihat ucapan Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa sebagaimana dinukilkan di atas]

Terlebih lagi pelarangan, bahkan pengharamannya, ketika pakaian seperti ini dipakai keluar rumah untuk shalat di masjid, atau di hadapan laki-laki yang bukan mahram.

Jika demikian, bagaimana sebenarnya pakaian yang boleh dikenakan oleh wanita di dalam shalatnya?

Masalah pakaian wanita di dalam shalat ini disebutkan dalam beberapa hadis yang marfu’. Namun, kedudukan hadis-hadis tersebut diperbincangkan oleh ulama.

Di antaranya, hadis Aisyah radhiyallahu ‘anha:

لاَ يَقْبَلُ اللهُ صَلاَةَ حَائِضٍ إِلاَّ بِخِمَارٍ

“Allah tidak menerima shalat wanita yang telah haid (baligh), kecuali apabila ia mengenakan kerudung (dalam shalatnya).” [HR. Abu Dawud no. 641 dan selainnya]

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata dalam at-Talkhisul Habir (2/460), hadis ini dianggap cacat oleh ad-Daraquthni karena Mauquf-nya (hadis yang berhenti hanya sampai sahabat).

Adapun al-Hakim menganggapnya mursal (hadis yang terputus antara tabi’in dan Rasulullah ﷺ).

Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ: “Apakah wanita boleh shalat dengan mengenakan dira’ dan kerudung tanpa izar?”

Rasulullah ﷺ menjawab:

إِذَا كَانَ الدِّرْعُ سَابِغًا يُغَطِّي ظُهُوْرَ قَدَمَيْهِ

“(Boleh), apabila dira’nya itu luas/lapang, hingga menutupi punggung kedua telapak kakinya.” [HR. Abu Dawud no. 640]

Dira’ adalah pakaian lebar/lapang yang menutupi sampai kedua telapak kaki, kata asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah. [Asy-Syarhul Mumti’, 2/164]

Sedangkan izar adalah milhafah (al-Qamushul Muhith, hlm. 309). Makna milhafah sendiri diterangkan dalam al-Qamush (hlm. 767) adalah pakaian yang dikenakan di atas seluruh pakaian (sehingga menutup/menyelubungi seluruh tubuh seperti abaya dan jilbab. [Lihat asy-Syarhul Mumti’, 2/164—165]

Hadis Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha ini tidak Shahih sanadnya, baik secara marfu’ maupun mauquf, karena hadis ini berporos pada Ummu Muhammad bin Zaid. Padahal dia adalah rawi yang majhul (tidak dikenal). [Demikian diterangkan oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Tamamul Minnah (hlm. 161)].

Meski demikian, ada riwayat-riwayat yang Shahih dari para sahabat dalam pemasalahan ini sebagaimana akan kita baca berikut ini:

Abdur Razzaq ash-Shan‘ani rahimahullah meriwayatkan dari jalan Ummul Hasan, ia berkata: “Aku melihat Ummu Salamah istri Nabi ﷺ, shalat dengan mengenakan dira’ dan kerudung.” (al-Mushannaf, 3/128) [Isnadnya Shahih, kata asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Tamamul Minnah (hlm. 162)]

Ubaidullah al-Khaulani, anak asuh Maimunah radhiyallahu ‘anha mengabarkan, bahwa Maimunah shalat dengan memakai dira’ dan kerudung tanpa izar. [Diriwayatkan oleh al-Imam Malik dalam al-Muwaththa’ dan Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf] [Isnadnya Shahih, kata asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Tamamul Minnah (hlm. 162)]

Masih ada atsar lain dalam masalah ini, yang semuanya menunjukkan, bahwa shalat wanita dengan mengenakan dira’ dan kerudung adalah perkara yang biasa, serta dikenal di kalangan para sahabat. Dan ini merupakan pakaian yang mencukupi bagi wanita untuk menutupi auratnya di dalam shalat.

Apabila wanita itu ingin lebih sempurna dalam berpakaian ketika shalat, ia bisa menambahkan izar atau jilbab pada dira’ dan kerudungnya. Ini yang lebih sempurna dan lebih utama, kata asy-Syaikh al-Albani rahimahullah. Dalilnya ialah riwayat dari Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Wanita shalat dengan mengenakan tiga pakaian yaitu dira‘, kerudung, dan izar.” [Riwayat Ibnu Abi Syaibah dengan isnad yang Shahih, lihat Tamamul Minnah, hlm. 162]

Jumhur ulama sepakat, pakaian yang mencukupi bagi wanita dalam shalatnya adalah dira’ dan kerudung. [Bidayatul Mujtahid, hlm. 100]

Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan: “Disenangi bagi wanita untuk shalat mengenakan dira’ – pakaian yang sama dengan gamis, namun lebar dan panjang sampai menutupi kedua telapak kaki, kemudian mengenakan kerudung yang menutupi kepala dan lehernya, dilengkapi dengan jilbab yang diselimutkan ke tubuhnya di atas dira’. Demikian yang diriwayatkan dari ‘Umar, putra beliau (Ibnu ‘Umar), ‘Aisyah, Abidah as-Salmani, dan ‘Atha. Ini juga merupakan pendapat al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah. Beliau berkata: ‘Kebanyakan ulama bersepakat untuk pemakaian dira’ dan kerudung, apabila ditambahkan pakaian lain, itu lebih baik dan lebih menutup’.” [Al-Mughni, 1/351]

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Disenangi bagi wanita untuk shalat dengan mengenakan tiga pakaian: dira’, kerudung, dan jilbab, yang digunakan untuk menyelubungi tubuhnya, kain sarung di bawah dira’, atau sirwal (celana panjang yang lapang dan lebar) karena lebih utama daripada sarung.

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: ‘Wanita shalat dengan mengenakan dira’, kerudung, dan milhafah.’

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah shalat dengan mengenakan kerudung, izar, dan dira’. Ia memanjangkan izarnya untuk berselubung dengannya. Ia pernah berkata: ‘Wanita yang shalat harus mengenakan tiga pakaian, apabila ia mendapatkannya, yaitu kerudung, izar, dan dira’. [Syarhul ‘Umdah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 4/322]

Bolehkah Shalat dengan Satu Pakaian?

Di dalam shalat, wanita dituntunkan untuk menutup seluruh tubuhnya kecuali bagian yang boleh terlihat, walaupun ia hanya mengenakan satu pakaian yang menutupi kepala, dua telapak tangan, dua telapak kaki, dan seluruh tubuhnya kecuali wajah.

Seandainya ia berselimut dengan satu kain sehingga seluruh tubuhnya tertutupi kecuali muka, dua telapak tangan, dan telapak kakinya, maka ini mencukupi baginya, menurut pendapat yang mengatakan, dua telapak tangan dan telapak kaki tidak termasuk bagian tubuh yang wajib ditutup. [Asy-Syarhul Mumti’, 2/165]

Ikrimah rahimahullah berkata: “Seandainya seorang wanita shalat dengan menutupi tubuhnya dengan satu pakaian/kain, maka hal itu dibolehkan.” [Shahih al-Bukhari, “Kitab ash-Shalah bab Berapa Pakaian yang Boleh Dikenakan Wanita Ketika Shalat”]

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah menyatakan: “Setelah menghikayatkan pendapat jumhur, bahwa wajib bagi wanita untuk shalat memakai dira’ dan kerudung, Ibnul Mundzir rahimahullah berkata: ‘Yang diinginkan dengan pendapat tersebut adalah, ketika shalat seorang wanita harus menutupi tubuh dan kepalanya. Seandainya pakaian yang dikenakan itu lapang/lebar, lalu ia menutupi kepalanya dengan sisa/kelebihan pakaiannya, maka hal itu dibolehkan.’

Ibnul Mundzir juga berkata: ‘Apa yang kami riwayatkan dari Atha’ rahimahullah bahwasanya ia berkata: [Wanita shalat dengan mengenakan dira’, kerudung, dan izar], demikian pula riwayat yang semisalnya dari Ibnu Sirin rahimahullah dengan tambahan milhafah, maka aku menyangka hal ini dibawa pemahamannya kepada istihbab.” [Fathul Bari, 1/602—603]. Yakni satu pakaian yang menutupi seluruh tubuh sebenarnya sudah mencukupi, namun disenangi apabila ditambah dengan pakaian-pakaian yang disebutkan.

Mujahid dan ‘Atha rahimahumallah pernah ditanya tentang wanita yang memasuki waktu shalat, sementara ia tidak memiliki kecuali satu baju, apa yang harus dilakukannya?

Mereka menjawab: “Ia berselimut dengannya.”

Demikian pula yang dikatakan Muhammad bin Sirin rahimahullah. [Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, 2/226]

Demikian apa yang dapat kami nukilkan dalam permasalahan ini untuk pembaca. Semoga memberi manfaat!

Wallahu ta‘ala a‘lam bish-shawab.

 

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyyah

 

 

 

 

 

,

MASIH SUKA SIBUK WAKTU “BANDING-BANDINGKAN” DENGAN ORANG LAIN DAN MERASA LEBIH BAIK?

MASIH SUKA SIBUK WAKTU "BANDING-BANDINGKAN" DENGAN ORANG LAIN DAN MERASA LEBIH BAIK?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama
#TazkiyatunNufus

MASIH SUKA SIBUK WAKTU “BANDING-BANDINGKAN” DENGAN ORANG LAIN DAN MERASA LEBIH BAIK?

Kita lihat disekitar kita,

Berapa banyak kita jumpai orang-orang yang masih suka “ngurusin+banding-bandingin” orang lain. Setiap bertemu temannya, dia membicarakan temannya yang lain. Setiap bertemu saudaranya, dia membicarakan saudara yang lain. Dimulai dari cerita ini itu, berdalih dengan alasan ini itu, hingga sering tanpa sadar dia jatuh dan larut, bagai garam di dalam air, ke dalam hal-hal yang diharamkan Allah, seperti hasutan, ghibah dan namimah. Bahkan terlampau sering tazkiyah terucap bagi diri sendiri. Subhanallah..

Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata:

“Berbangga diri, sampai-sampai dikhayalkan, “Bahwa engkau lebih baik dari pada saudaramu”. Padahal bisa jadi engkau tidak mampu mengamalkan sebuah amalan, yang mana dia mampu melakukannya. Padahal bisa jadi dia lebih berhati-hati dari perkara-perkara haram dibandingkan engkau, dan dia lebih suci amalannya dibandingkan engkau.” (Hilyatu al-Auliya’ juz 6, 391)

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain. Boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya. Boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik.” (QS. Al Hujurat 11)

Ingatlah wahai saudaraku,

Sesungguhnya Allah mengetahui semuanya. Dan tidak ada yang lepas dari perhitungan Allah, meskipun sebesar zarrah. Semua dicatat, meskipun dalam bisikan-bisikan. Allah ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ * إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ * مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Dan sesungguhnya, Kami telah menciptakan manusia, dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (Yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya, melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” (QS. Qaaf 16-18)

Ibnu ‘Abbas menafsirkan ayat ini:

“Yang dicatat adalah setiap perkataan yang baik atau buruk. Sampai pula perkataan “aku makan, aku minum, aku pergi, aku datang, sampai aku melihat, semuanya dicatat. Ketika Kamis, perkataan dan amalan tersebut akan dihadapkan kepada Allah.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 13: 187).

Umar bin Abdul Aziz rahimahullah berkata:

من عدَّ كلامه من عمله ، قلَّ كلامُه إلا فيما يعنيه

“Siapa yang menghitung-hitung perkataannya dibanding amalnya, tentu ia akan sedikit bicara, kecuali dalam hal yang bermanfaat”. Kata Ibnu Rajab, “Benarlah kata beliau. Kebanyakan manusia tidak menghitung perkataannya dari amalannya.” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 291)

Oleh karenanya, benarlah sabda Rasulullah ﷺ saat menjelaskan salah satu tanda baiknya keislaman kita:

من حسن إسلام المرء تركه ما لا يعنيه

“Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.” (HR. Tirmidzi 2317, Ibnu Majah 3976) Shahih oleh Syaikh Al Albani.

وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.

“Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami, dan kejelekan amal perbuatan kami.” (HR. Nasa’i III/104, Ibnu Majah I/352/1110. Lihat Al-Wajiz fi Fiqhis Sunnah hal. 144-145)

Nasihat bagi saya pribadi khususnya dan semoga bermanfaat bagi saudara sekalian.

 

Penulis: Abdullah bin Suyitno (عبدالله بن صيتن)

Sumber: Instagram.com/ShahihFiqih

, ,

ADAKAH KEUTAMAAN MALAM NISFU SYABAN?

ADAKAH KEUTAMAAN MALAM NISFU SYABAN?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#StopBidah
#ManhajSalaf

ADAKAH KEUTAMAAN MALAM NISFU SYABAN?
>> Belum ditemukan satu pun riwayat yang Shahih, yang menganjurkan amalan khusus maupun ibadah tertentu ketika Nisfu Syaban, baik berupa puasa atau sholat.
>> Hadis Shahih tentang malam Nisfu Syaban hanya menunjukkan, bahwa Allah mengampuni semua hamba-Nya di malam Nisfu Syaban, tanpa dikaitkan dengan amal tertentu.
>> Karena itu, praktik sebagian kaum Muslimin yang melakukan sholat khusus di malam itu, dan dianggap sebagai sholat malam Nisfu Syaban, adalah anggapan yang TIDAK BENAR.
>> Ulama yang membolehkan memerbanyak amal di malam Nisfu Syaban menegaskan, bahwa TIDAK BOLEH mengadakan acara khusus, atau ibadah tertentu, baik secara berjamaah maupun sendiri-sendiri, di malam Nisfu Syaban, karena tidak ada amalan sunah khusus di malam Nisfu Syaban.

Pertanyaan:

Apakah sholat “Nisfu Syaban” itu ada dan sesuai dengan Sunah? Saya sering mendengar adanya pelaksanaan sholat tersebut secara berjamaah, biasanya dalam rangka menyambut Ramadan.

Jawaban:

Keutamaan Malam Nisfu Syaban

Allah ta’ala berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ * فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ

“Sesungguhnya Kami menurunkan Alquran di malam yang berkah, dan sesungguhnya Kami yang memberi peringatan. Di malam itu diturunkan setiap takdir dari Yang Maha Bijaksana.” (QS. Ad-Dukkhan: 3 – 4).

Diriwayatkan dari Ikrimah – rahimahullah –, bahwa yang dimaksud malam pada ayat di atas adalah malam Nisfu Syaban. Ikrimah mengatakan:

أن هذه الليلة هي ليلة النصف من شعبان ، يبرم فيها أمر السنة

Sesungguhnya malam tersebut adalah malam Nisfu Syaban. Di malam ini Allah menetapkan takdir setahun. (Tafsir Al-Qurtubi, 16/126).

Sementara itu, mayoritas ulama berpendapat bahwa malam yang disebutkan pada ayat di atas adalah Lailatul Qadar dan BUKAN Nisfu Syaban. Sebagaimana keterangan Ibnu Katsir, setelah menyebutkan ayat di atas, beliau mengatakan:

يقول تعالى مخبراً عن القرآن العظيم أنه أنزله في ليلة مباركة ، وهي ليلة القدر كما قال عز وجل :{ إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْر} وكان ذلك في شهر رمضان، كما قال: تعالى: { شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزلَ فِيهِ الْقُرْآنُ }

Allah berfirman menceritakan tentang Alquran bahwa Dia menurunkan kitab itu pada malam yang berkah, yaitu Lailatul Qadar. Sebagaimana yang Allah tegaskan di ayat yang lain, (yang artinya): “Sesungguhnya Kami menurunkan Alquran di Lailatul Qadar.” Dan itu terjadi di bulan Ramadan, sebagaimana yang Allah tegaskan, (yang artinya); “Bulan Ramadan, yang mana di bulan ini diturunkan Alquran.” (Tafsir Ibn Katsir, 7/245).

Selanjutnya Ibnu Katsir menegaskan lebih jauh:

ومن قال : إنها ليلة النصف من شعبان -كما روي عن عكرمة-فقد أبعد النَّجْعَة فإن نص القرآن أنها في رمضان

Karena itu, siapa yang mengatakan: yang dimaksud malam pada ayat di atas adalah malam Nisfu Syaban – sebagaimana riwayat dari Ikrimah – maka itu pendapat yang terlalu jauh, karena nash Alquran dengan tegas bahwa malam itu terjadi di bulan Ramadan. (Tafsir Ibn Katsir, 7/246).

Dengan demikian, pendapat yang kuat tentang malam yang berkah, yang disebutkan pada surat Ad-Dukhan di atas adalah Lailatul Qadar di bulan Ramadan dan BUKAN malam Nisfu Syaban. Karena itu, ayat dalam surat Ad-Dukhan di atas, TIDAK bisa dijadikan dalil untuk menunjukkan keutamaan malam Nisfu Syaban.

Hadis Seputar Nisfu Syaban

Terdapat beberapa hadis yang menunjukkan keutamaan Nisfu Syaban. Ada yang shahih, ada yang dhaif, bahkan ada yang palsu. Berikut beberapa hadis tentang Nisfu Syaban yang tenar di masyarakat;

Pertama:

إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ مِنْ شَعْبَانَ فَقُوْمُوْا لَيْلَهَا وَصُوْمُوْا نَهَارَهَا فَإِنَّ اللهَ يَنْزِلُ فِيْهَا لِغُرُوْبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُوْلُ أَلاَ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ لِيْ فَأَغْفِرَ لَهُ أَلاَ مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ أَلاَ مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهُ أَلاَ كَذَا أَلاَ كَذَا حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ

“Jika datang malam pertengahan bulan Syaban, maka lakukanlah Qiyamul Lail, dan berpuasalah di siang harinya, karena Allah turun ke langit dunia saat itu pada waktu matahari tenggelam, lalu Allah berfirman: ‘Adakah orang yang minta ampun kepada-Ku, maka Aku akan ampuni dia. Adakah orang yang meminta rezeki kepada-Ku, maka Aku akan memberi rezeki kepadanya. Adakah orang yang diuji, maka Aku akan selamatkan dia, dst…?’ (Allah berfirman tentang hal ini) sampai terbit fajar.” (HR. Ibnu Majah, 1/421; HR. al-Baihaqi dalam Su’abul Iman, 3/378)

Keterangan:

Hadis di atas diriwayatkan dari jalur Ibnu Abi Sabrah, dari Ibrahim bin Muhammad, dari Mu’awiyah bin Abdillah bin Ja’far, dari ayahnya, dari Ali bin Abi Thalib, secara marfu’ (sampai kepada Nabi ﷺ).

Hadis dengan redaksi di atas adalah Hadis Maudhu’ (Palsu), karena perawi bernama Ibnu Abi Sabrah statusnya Muttaham Bil Kadzib (Tertuduh berdusta), sebagaimana keterangan Ibnu Hajar dalam At-Taqrib. Imam Ahmad dan gurunya (Ibnu Ma’in) berkomentar tentang Ibnu Abi Sabrah: “Dia adalah perawi yang memalsukan hadis.”[ Lihat Silsilah Dha’ifah, no. 2132]

Kedua:

Riwayat dari A’isyah, bahwa beliau menuturkan:

فقدت النبي صلى الله عليه وسلم فخرجت فإذا هو بالبقيع رافعا رأسه إلى السماء فقال: “أكنت تخافين أن يحيف الله عليك ورسوله” فقلت يا رسول الله ظننت أنك أتيت بعض نسائك فقال: ” إن الله تبارك وتعالى ينزل ليلة النصف من شعبان إلى السماء الدنيا فيغفر لأكثر من عدد شعر غنم كلب

Aku pernah kehilangan Nabi ﷺ. Kemudian aku keluar, ternyata beliau ﷺ di Baqi, sambil menengadahkan wajah ke langit. Nabi ﷺ bertanya: “Kamu khawatir Allah dan Rasul-Nya akan menipumu?” (maksudnya, Nabi ﷺ tidak memberi jatah Aisyah). Aisyah mengatakan: Wahai Rasulullah, saya hanya menyangka Anda mendatangi istri yang lain. Kemudian Nabi ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah turun ke langit dunia pada malam Nisfu Syaban, kemudian Dia mengampuni lebih dari jumlah bulu domba Bani Kalb.”

Keterangan:

Hadis ini diriwayatkan At-Turmudzi, Ibn Majah dari jalur Hajjaj bin Arthah dari Yahya bin Abi Katsir dari Urwah bin Zubair dari Aisyah. At-Turmudzi menegaskan: “Saya pernah mendengar Imam Bukhari mendhaifkan hadis ini.” Lebih lanjut, Imam Bukhari menerangkan: “Yahya tidak mendengar dari Urwah, sementara Hajaj tidak mendengar dari Yahya.” (Asna Al-Mathalib, 1/84).

Ibnul Jauzi mengutip perkataan Ad-Daruquthni tentang hadis ini:

“Diriwayatkan dari berbagai jalur, dan sanadnya goncang, tidak kuat.” (Al-Ilal Al-Mutanahiyah, 3/556).

Akan tetapi hadis ini dishahihkan Al-Albani, karena kelemahan dalam hadis ini bukanlah kelemahan yang parah, sementara hadis ini memiliki banyak jalur, sehingga bisa terangkat menjadi Shahih dan diterima. (lihat Silsilah Ahadis Dhaifah, 3/138).

Ketiga:

Hadis dari Abu Musa Al-Asy’ari, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

إن الله ليطلع ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو مشاحن

“Sesungguhnya Allah melihat pada malam pertengahan Syaban. Maka Dia mengampuni semua makhluknya, kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.”

Keterangan:

Hadis ini memiliki banyak jalur, diriwayatkan dari beberapa sahabat, di antaranya Abu Musa, Muadz bin Jabal, Abu Tsa’labah Al-Khusyani, Abu Hurairah, dan Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhum. Hadis dishahihkan oleh Imam Al-Albani dan dimasukkan dalam Silsilah Ahadis Shahihah, no. 1144. Beliau menilai hadis ini sebagai hadis shahih, karena memiliki banyak jalur dan satu sama saling menguatkan. Meskipun ada juga ulama yang menilai hadis ini sebagai hadis lemah, dan bahkan mereka menyimpulkan semua hadis yang menyebutkan tentang keutamaan Nisfu Syaban sebagai hadis dhaif.

Sikap Ulama Terkait Nisfu Syaban

Berangkat dari perselisihan mereka dalam menilai status keshahihan hadis, para ulama berselisish pendapat tentang keutamaan malam Nisfu Syaban. Setidaknya, ada dua pendapat yang saling bertolak belakang dalam masalah ini. Berikut ini rinciannya:

  • Pendapat pertama: Tidak Ada Keutamaan Khusus Untuk Malam Nisfu Syaban

Statusnya sama dengan malam-malam biasa lainnya. Mereka menyatakan bahwa semua dalil yang menyebutkan keutamaan malam Nisfu Syaban adalah hadis lemah. Al-Hafizh Abu Syamah mengatakan: “Al-Hafizh Abul Khithab bin Dihyah, dalam kitabnya tentang bulan Syaban, mengatakan: ‘Para ulama ahli hadis dan kritik perawi mengatakan: ‘TIDAK TERDAPAT SATU PUN hadis Shahih yang menyebutkan keutamaan malam Nisfu Syaban.”” (Al-Ba’its ‘ala Inkaril Bida’, hlm. 33)

Dalam nukilan yang lain, Ibnu Dihyah mengatakan:

لم يصح في ليلة نصف من شعبان شيء ولا نطق بالصلاة فيها ذو صدق من الرواة وما أحدثه إلا متلاعب بالشريعة المحمدية راغب في زي المجوسية

“TIDAK ADA SATU PUN RIWAYAT YANG SHAHIH TENTANG MALAM NISFU SYABAN, dan para perowi yang jujur tidak menyampaikan adanya sholat khusus di malam ini. Sementara yang terjadi di masyarakat berasal dari mereka yang suka memermainkan syariat Muhammad, dan yang masih mencintai kebiasaan orang Majusi (baca: Syiah). (Asna Al-Mathalib, 1/84)

Hal yang sama juga dinyatakan oleh Syekh Abdul Aziz bin Baz. Beliau MENGINGKARI adanya keutamaan malam Nisfu Syaban. Beliau rahimahullahu ta’ala mengatakan: “Terdapat beberapa hadis dhaif tentang keutamaan malam Nisfu Syaban, yang TIDAK BOLEH dijadikan landasan. Adapun hadis yang menyebutkan keutamaan sholat di malam Nisfu Syaban, semuanya statusnya PALSU, sebagaimana keterangan para ulama (pakar hadis).” (At-Tahdzir min Al-Bida’, hlm. 11)

  • Pendapat kedua: Ada Keutamaan Khusus Untuk Malam Nisfu Syaban

Para ulama yang menilai shahih beberapa dalil tentang keutamaan Nisfu Syaban, mereka mengimaninya dan menegaskan adanya keutamaan malam tersebut. Di antara hadis pokok yang mereka jadikan landasan adalah hadis dari Abu Musa Al-Asy’ari;

إن الله ليطلع ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو مشاحن

“Sesungguhnya Allah melihat pada malam pertengahan Syaban. Maka Dia mengampuni semua makhluknya, kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.” (H.R. Ibnu Majah dan Ath-Thabrani; dinilai sahih oleh Al-Albani)

Di antara jajaran ulama Ahlus Sunah yang memegang pendapat ini adalah Ahli Hadis abad ini, Imam Muhammad Nasiruddin Al-Albani. Bahkan beliau menganggap sikap sebagian orang yang menolak semua hadis tentang malam Nisfu Syaban termasuk tindakan yang gegabah. Setelah menyebutkan salah satu hadis tentang keutamaan malam Nisfu Syaban, Syaikh Al-Albani mengatakan:

فما نقله الشيخ القاسمي رحمه الله تعالى في ” إصلاح المساجد ” (ص 107) عن أهل التعديل والتجريح أنه ليس في فضل ليلة النصف من شعبان حديث صحيح، فليس مما ينبغي الاعتماد عليه، ولئن كان أحد منهم أطلق مثل هذا القول فإنما أوتي من قبل التسرع وعدم وسع الجهد لتتبع الطرق على هذا النحو الذي بين يديك. والله تعالى هو الموفق

Keterangan yang dinukil oleh Syekh Al-Qosimi –rahimahullah– dalam buku beliau; ‘Ishlah Al-Masajid’ dari beberapa ulama Ahli Hadis, bahwa tidak ada satu pun hadis shahih tentang keutamaan malam Nisfu Syaban, termasuk keterangan yang tidak layak untuk dijadikan sandaran. Sementara, sikap sebagian ulama yang menegaskan tidak ada keutamaan malam Nisfu Syaban secara mutlak, sesungguhnya dilakukan karena terlalu terburu-buru dan tidak berusaha mencurahkan kemampuan untuk meneliti semua jalur untuk riwayat ini, sebagaimana yang ada di hadapan Anda. Dan hanyalah Allah yang memberi taufiq. (Silsilah Ahadis Shahihah, 3/139)

Setelah menyebutkan beberapa waktu yang utama, Syekhul Islam mengatakan: “… Pendapat yang dipegang mayoritas ulama dan kebanyakan ulama dalam Mazhab Hanbali adalah meyakini adanya keutamaan malam Nisfu Syaban. Ini juga sesuai keterangan Imam Ahmad. Mengingat adanya banyak hadis yang terkait masalah ini, serta dibenarkan oleh berbagai riwayat dari para shahabat dan tabi’in ….” (Majmu’ Fatawa, 23/123)

Ibnu Rajab mengatakan: “Terkait malam Nisfu Syaban, dahulu para tabi’in penduduk Syam, seperti Khalid bin Ma’dan, Mak-hul, Luqman bin Amir, dan beberapa tabi’in lainnya memuliakannya dan bersungguh-sungguh dalam beribadah di malam itu ….” (Lathaiful Ma’arif, hlm. 247)

Kesimpulan:

Dari keterangan di atas, ada beberapa hal yang dapat disimpulkan:

  • Pertama: Malam Nisfu Syaban termasuk malam yang memiliki keutamaan. Hal ini berdasarkan hadis, sebagaimana yang telah disebutkan. Meskipun sebagian ulama menyebut hadis ini hadis yang dhaif, namun, insya Allah yang lebih kuat adalah penilaian Syekh Al-Albani, yaitu bahwa hadis tersebut berstatus sahih.
  • Kedua: Belum ditemukan satu pun riwayat yang shahih, yang menganjurkan amalan khusus maupun ibadah tertentu ketika Nisfu Syaban, baik berupa puasa atau sholat. Hadis shahih tentang malam Nisfu Syaban hanya menunjukkan, bahwa Allah mengampuni semua hamba-Nya di malam Nisfu Syaban, tanpa dikaitkan dengan amal tertentu. Karena itu, praktik sebagian kaum Muslimin yang melakukan sholat khusus di malam itu dan dianggap sebagai sholat malam Nisfu Syaban, adalah anggapan yang TIDAK BENAR.
  • Ketiga: Ulama berselisih pendapat tentang apakah dianjurkan menghidupkan malam Nisfu Syaban dengan banyak beribadah. Sebagian ulama menganjurkan, seperti sikap beberapa ulama tabi’in yang bersungguh-sungguh dalam ibadah. Sebagian yang lain menganggap bahwa mengkhususkan malam Nisfu Syaban untuk beribadah adalah bid’ah.
  • Keempat: Ulama yang membolehkan memerbanyak amal di malam Nisfu Syaban menegaskan, bahwa TIDAK BOLEH mengadakan acara khusus, atau ibadah tertentu, baik secara berjamaah maupun sendiri-sendiri, di malam Nisfu Syaban, karena tidak ada amalan sunah khusus di malam Nisfu Syaban. Untuk itu, menurut pendapat ini, seseorang diperbolehkan memerbanyak ibadah secara mutlak, apa pun bentuk ibadah tersebut.

Allahu a’lam

 

Artikel terkait:

https://konsultasisyariah.com/malam-nisfu-syaban-catatan-amal-ditutup/

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).

https://konsultasisyariah.com/5541-sholat-nishfu-syaban.html

,

ANCAMAN ORANG YANG TIDAK MAU HAJI PADAHAL DIA MAMPU

ANCAMAN ORANG YANG TIDAK MAU HAJI PADAHAL DIA MAMPU

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#HajiUmrah

ANCAMAN ORANG YANG TIDAK MAU HAJI PADAHAL DIA MAMPU
>> Disuruh Pilih, Mau Mati Sebagai Yahudi atau Nasrani

Pertanyaan:

Apa hukum bagi orang yang tidak daftar haji, padahal dia mampu?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Orang yang mampu berangkat haji dan dia sengaja tidak berangkat haji, atau memiliki keinginan untuk tidak berhaji. maka dia melakukan dosa besar. Allah berfirman:

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. ([QS. Ali Imran: 97]

Ketika menjelaskan tafsir ayat ini, Ibnu Katsir membawakan keterangan dari Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu:

أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ: مَنْ أَطَاقَ الْحَجَّ فَلَمْ يَحُجَّ، فَسَوَاءٌ عَلَيْهِ يَهُودِيًّا مَاتَ أَوْ نَصْرَانِيًّا، وَهَذَا إِسْنَادٌ صَحِيحٌ إِلَى عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

Bahwa Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu mengatakan: “Siapa yang mampu haji dan dia tidak berangkat haji, sama saja, dia mau mati Yahudi atau mati Nasrani.”

Komentar Ibnu Katsir, ‘Riwayat ini sanadnya Shahih sampai ke Umar radhiyallahu ‘anhu.’

Kemudian diriwayatkan oleh Said bin Manshur dalam sunannya, dari Hasan al-Bashri, bahwa Umar bin Khatab mengatakan:

لَقَدْ هَمَمْتُ أَنَّ أَبْعَثَ رِجَالًا إِلَى هَذِهِ الْأَمْصَارِ فَيَنْظُرُوا كُلَّ مَنْ كَانَ لَهُ جَدَّةٌ فَلَمْ يَحُجَّ، فَيَضْرِبُوا عَلَيْهِمُ الْجِزْيَةَ مَا هُمْ بمسلمين، ما هم بمسلمين

“Saya bertekad untuk mengutus beberapa orang ke berbagai penjuru negeri ini, untuk memeriksa siapa di antara mereka yang memiliki harta, namun dia tidak berhaji, kemudian mereka diwajibkan membayar fidyah. Mereka bukan bagian dari kaum Muslimin. Mereka bukan bagian dari kaum Muslimin.” [Tafsir Ibnu Katsir, 2/85]

Belum Berhaji Hingga Mati

Orang yang mampu secara finansial, sementara tidak berhaji hingga mati, maka dia dihajikan orang lain, dengan biaya yang diambilkan dari warisannya. Meskipun selama hidup, dia tidak pernah berwasiat.

Al-Buhuti mengatakan:

وإن مات من لزماه أي الحج والعمرة أخرج من تركته من رأس المال ـ أوصى به أو لا ـ ويحج النائب من حيث وجبا على الميت، لأن القضاء يكون بصفة الأداء

Apabila ada orang yang wajib haji atau umrah meninggal dunia, maka diambil harta warisannya (untuk badal haji), baik dia berwasiat maupun tidak berwasiat. Sang badal melakukan haji dan umrah sesuai keadaan orang yang meninggal. Karena pelaksanaan qadha itu sama dengan pelaksanaan ibadah pada waktunya (al-Ada’). (ar-Raudh al-Murbi’, 1/249)

Keterangan:

Yang dimaksud ’Sang badal melakukan haji dan umrah sesuai keadaan orang yang meninggal’ adalah bahwa sang badal melaksanakan haji atau umrah sesuai miqat si mayit. Jika mayit miqatnya dari Yalamlam, maka badal juga harus mengambil miqat Yalamlam.

Miqat Boleh Beda

Al-Buhuti memersyaratkan, miqat orang yang menjadi badal haji harus sama dengan miqat mayit. Namun beberapa ulama lainnya berpendapat, bahwa miqat tidak harus sama. Dalam Hasyiyah ar-Raudh dinyatakan:

وقيل: يجزئ من ميقاته، وهو مذهب مالك، والشافعي، ويقع الحج عن المحجوج عنه

Ada yang mengatakan, badal haji boleh dari miqatnya sendiri. Ini pendapat Malik dan as-Syafii. Dan hajinya sah sebagai pengganti bagi orang yang dihajikan. (Hasyiyah ar-Raudh al-Murbi’, 3/519).

Dalam al-Mughni Ibnu Qudamah menyebutkan pendapat kedua ini:

ويستناب من يحج عنه حيث وجب عليه، إما من بلده أو من الموضع الذي أيسر فيه، وبهذا قال الحسن وإسحاق

Dia dibadalkan oleh orang berhaji atas namanya sesuai kondisinya, baik berangkat dari negerinya (mayit), atau dari tempat manapun yang mudah baginya. Ini adalah pendapat Hasan al-bashri dan Ishaq. (al-Mughni, 3/234).

Dan insyaaAllah pendapat kedua inilah yang lebih mendekati kebenaran, karena inti yang diinginkan adalah hajinya, bukan usaha keberangkatan hajinya. Demikian keterangan Imam Ibnu Utsaimin.

Allahu a’lam.

 

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/23443-ancaman-orang-yang-tidak-mau-haji.html

, , ,

HUKUM MENGANGKAT JARI/TANGAN KETIKA BERDOA SETELAH BERWUDHU

HUKUM MENGANGKAT JARI/TANGAN KETIKA BERDOA SETELAH BERWUDHU

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatWudhuNabi
#DoaZikir

HUKUM MENGANGKAT JARI/TANGAN KETIKA BERDOA SETELAH BERWUDHU

Aku mendengar bahwa Syekh Abdullah bin Jibrin berkata:

‘Dibolehkan mengankat jari setelah berwudhu dan membaca Laa ilaaha illallah, dan aku saksikan banyak orang yang melakukannya. Aku mohon pandangan yang menjelaskan masalah ini dengan tuntas.

Jawaban:

Alhamdulillah.

Tidak terdapat riwayat dari Sunnah Nabi ﷺ, sepengetahuan kami, yang menyatakan disunnahkannya mengangkat jari telunjuk ketika berdoa setelah wudhu secara khusus. Sebagaimana diketahui bahwa prinsip dasar dalam ibadah adalah tawqifi (ditetapkan berdasarkan wahyu, tidak dengan akal) dan tidak boleh ada penambahan dari apa yang dinyatakan dalam sunnah.

Yang disyariatkan bagi seorang Muslim setelah berwudhu adalah membaca:

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

Asyhadu Allaa ilaaha illallah wahdahu laa syariikalah, wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa rasuuluh’ [HR. Muslim, no. 234]

Artinya:

Aku bersaksi, bahwa sesungguhnya  tidak ada Ilaah (Sesembahan) yang berhak diibadahi  dengan benar selain ALLAH yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku pun bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

Dan tidak cukup hanya membaca ‘Laa ilaaha illallah’ saja.

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah pernah ditanya: Apa hukum mengangkat jari dalam doa setelah berwudhu, dan hal itu dilakukan secara terus menerus?

Beliau menjawab:

‘Saya tidak mengetahui adanya landasan dalam masalah itu. Akan tetapi yang disyariatkan bagi orang yang selesai berwudhu adalah membaca:

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِي مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ

Asyhadu Allaa ilaaha illallah wahdahu laa syariikalah, wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasuuluh, Allahummaj’alni minattawwaabin waj’alni minal mutathahhirin.

Artinya:

Aku bersaksi, bahwa sesungguhnya  tidak ada Ilaah (Sesembahan) yang berhak diibadahi  dengan benar selain ALLAH yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku pun bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Ya ALLAH, jadikanlah aku termasuk golongan orang-orang yang bertaubat, dan jadikanlah aku termasuk golongan orang-orang yang selalu menyucikan diri”.

Dan itu sudah cukup. [Nurun Alad-Darbi, Fatawa Thaharah, Furudhul Wudhu wa Sifatuh]

Adapun yang disebutkan penanya, bahwa Syekh Ibnu Jibrin rahimahullah menyatakan, bahwa hal itu (mengangkat jari ketika membaca doa wudhu) adalah sunnah, tidak dapatkan ucapannya yang menyatakan sunnahnya perbuatan tersebut.

Memang ada beberapa hadis shahih yang mengajarkan untuk memberi isyarat dengan telunjuk saat membaca tasyahhud dalam shalat, dan saat seorang khatib berdoa di atas mimbarnya pada hari Jumat. Adapun ketetapan hal tersebut setelah berwudhu, tidak ada.

Peringatan

Allah memberi sifat bagi kalam (perkataan)-Nya, dengan sifat ‘Qaulun Fashl’ (Memisahkan antara yang hak dan yang batil), sebagaimana firman-Nya:

 إِنَّهُ لَقَوْلٌ فَصْلٌ .   وَمَا هُوَ بِالْهَزْل  (سورة الطارق: 13-14)

Sesungguhnya Alquran itu benar-benar firman yang memisahkan antara yang hak dan yang bathil. Dan sekali-kali bukanlah dia senda gurau. [QS. Ath-Thariq: 13-14]

Karena itu, tidak layak ijtihad para ulama dalam memahami teks dalam Alquran dan Sunnah dikatakan sebagai Qaulun Fashl, atau dengan redaksi lain: ‘Apakah kalimat yang tuntas dalam masalah ini?’ Kecuali jika pendapat tersebut dalilnya telah dinyatakan secara qath’i (jelas) dalam Alquran dan Sunnah, seperti haramnya zina, haramnya minuman keras, dll.

Adapun perkara ijtihad, maka tidak dikatakan padanya, ‘pendapat tuntas’, akan tetapi yang layak diucapkan adalah, ‘Yang lebih tampak..’ atau ‘yang lebih kuat, atau lebih benar’ dan redaksi yang semacamnya.

Wallahua’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/id/129501

, ,

HUKUM MELAKUKAN SAFAR DALAM RANGKA TAKZIYAH

HUKUM MELAKUKAN SAFAR DALAM RANGKA TAKZIYAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MasailJenazah
#BimbinganPengurusanJenazah

HUKUM MELAKUKAN SAFAR DALAM RANGKA TAKZIYAH

>> Tanya-Jawab Ringkas Bersama asy-Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah

Masaa’il Jenazah

Pertanyaan:

Bagaimana hukumnya safar dalam rangka takziyah?

جـ: لا بأس بذلك ؛ والنهي عن السفر وشد الرحال للمساجد ، إلا المساجد الثلاثة

Jawaban:

“Tidak mengapa hal demikian. Larangan untuk safar dan menempuh perjalanan melelahkan, hanyalah jika dimaksudkan untuk mendatangi masjid tertentu, kecuali tiga masjid.”

Keterangan Penerjemah:

Artinya, kita dilarang untuk pergi menempuh jarak yang jauh untuk datang ke masjid tertentu, selain pada tiga masjid. Ini berdasarkan pada sabda Nabi Muhammad ﷺ:

لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ: الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَسْجِدِ الْأَقْصَى

“Tidak boleh melakukan perjalanan sulit kecuali pada tiga masjid, Masjidil Haram, Masjid Rasulullah ﷺ, dan Masjidil Aqsha.” [Muttafaqun ‘alaihi]

 

[Masaa’il Imam Ibnu Baaz, II/108]

 

Sumber: http://nasehatetam.com/read/301/hukum-melakukan-safar-dalam-rangka-takziyah#sthash.Z2lYDrMR.dpuf

, , ,

PERAYAAN ISRA’ MIRAJ, BID’AH ATAU SUNNAH?

PERAYAAN ISRA MIRAJ, BID'AH ATAU SUNNAH?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#AkidahManhaj
#StopBidah

PERAYAAN ISRA’ MIRAJ, BID’AH ATAU SUNNAH?

Seorang Mukmin, saat menemukan kebenaran yang sebelumnya belum pernah ia ketahui, seperti seorang yang menemukan sebuah barang berharga yang hilang, yang ia cari sepanjang siang dan malam. Bagaimana gerangan perasaannya, manakala berhasil menemukan barang tersebut? Tentu senang dan bahagia. Demikian perumpamaan seorang Mukmin, manakala ia menemukan kebenaran, yang sebelumnya belum ia ketahui. Sebelumnya ia tidak sadar, kalau ternyata selama ini berada pada jalan yang keliru. Lalu ia menemukan kebenaran yang menyadarkannya dari kekeliruan tersebut. Tentu ia akan merasa bahagia dan berlapang dada untuk menerima kebenaran tersebut.

Sebagai seorang Mukmin yang telah berikrar, bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah utusan Allah, tentu ia akan lebih selektif dalam dalam hal amalan ibadah. Bila ada tuntunannya dari Rasulullah ﷺ, maka akan dilakukan sebagai bentuk ittiba‘ (mengikuti sunah) kepada Rasulullah ﷺ. Bila tidak, maka ia akan tinggalkan karena Allah. Karena di antara konsekuensi dari syahadat Muhammadur Rasulullah adalah ittiba’, atau mencontoh beliau ﷺ dalam beribadah kepada Allah. Allah ta’ala berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah wahai Muhammad: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Ali Imron : 31).

Imam Syafi’i mengatakan:

أَجْمَعَ الْمُسْلِمُونَ عَلىَ أَنَّ مَنِ اسْتَبَانَ لَهُ سُنَّةٌ عَنْ رَسُولِ اللهِ e لَمْ يَحِلَّ لَهُ أَنْ يَدَعَهَا لِقَوْلِ أَحَدٍ

“Kaum Muslimin sepakat, bahwa siapa saja yang telah jelas baginya sebuah Sunnah (ajaran) Rasulullah ﷺ, maka tak halal baginya untuk meninggalkan sunnah itu, karena mengikuti pendapat siapa pun.” (I’laamul Muwaqqi’iin, 2: 282).

Terkait perayaan Isra Miraj, ada nasihat indah dari salah seorang ulama di kota Madinah An-Nabawiyyah, Syaikh Sulaiman ar Ruhaili hafizhahullah, di mana dalam salah satu majelis di Masjid Nabawi, beliau ditanya terkait masalah ini. Mari simak pemaparan beliau berikut:

Pertanyaan:

Apakah benar peristiwa Isra dan Miraj itu terjadi bulan Rajab? Lalu bolehkah kita merayakan peristiwa tersebut, dan menjadikan hari terjadinya sebagai ‘Ied (perayaan yang dirayakan secara periodik) setiap tahunnya? Di mana pada hari perayaan tersebut, kita saling memberi ucapan selamat dan saling bertukar hadiah?

Jawaban:

TIDAK ADA riwayat yang menerangkan, bahwa peristiwa Isra dan Miraj terjadi di bulan Rajab. Benar kita tidak meragukan, bahwa peristiwa Isra dan Miraj benar-benar terjadi. Bahkan ini bagian dari perkara agama yang qot’i, tidak boleh seorang Muslim meragukannya. Namun kapan peristiwa ini terjadi? Bulan apakah?

Para ulama telah menjelaskan, bahwa tidak ada keterangan riwayat yang menerangkan bulan terjadinya peristiwa Isra Miraj. Tidak pula zamannya. Yakni tidak diketahui, peristiwa tersebut terjadi pada bulan apa. Tidak pula di sepuluh hari dari suatu bulan apapun. Oleh karenanya, para ulama berselisih pendapat dalam masalah penentuan bulan terjadinya Isra dan Miraj, karena disebabkan tidak adanya riwayat shahih yang bisa dijadikan pegangan dalam hal ini.

Maka berangkat dari alasan di atas, TIDAK BOLEH kita menjadikan hari ke-27 dari bulan Rajab, sebagai hari Isra dan Miraj. Dan menetapkan, bahwa pada hari itulah terjadi peristiwa Isra Miraj. Hari di mana saling memberi ucapan selamat, demi memeriahkan perayaan tersebut. Terkadang pula saling bertukar hadiah.

Pertama, karena memang tidak ada riwayat yang menerangkan bahwa 27 Rajab adalah hari Isra dan Miraj.

Kedua, karena Nabi ﷺ, di mana beliaulah yang diberi Allah nikmat untuk mengalami peristiwa agung ini, dan beliau ﷺ adalah hamba-Nya yang paling banyak bersyukur, yang mendirikan shalat sampai pecah-pecahlah telapak kaki beliau. Semoga shalawat serta salam senantiasa tercurahkan untuk beliau ﷺ. Beliau ﷺ bersabda:

أَفَلَا أَكُوْنُ عَبْدًا شَكُوْرًا

“Tidakkah aku menginginkan untuk menjadi hamba-Nya yang bersyukur?!”

Semoga shalawat dan salam tercurahkan untuk beliau ﷺ, namun beliau ﷺ tidak pernah merayakan malam Isra dan Miraj tersebut. Beliau ﷺ juga tidak mengkhususkan malam tersebut dengan shalat tertentu, atau mengkhususkan siangnya dengan puasa tertentu. Sementara dalam perkara ini (juga seluruh seluk beluk kehidupan) umat ini dituntut untuk meneladani Nabi ﷺ.

Demikian pula tidak ada keterangan dari para sahabat, semoga Allah meridai mereka, bahwa mereka merayakan peristiwa Isra dan Miraj. Tidak pula dari generasi tabi’in, tidak pula dari Imam mazhab yang empat; yang dijadikan rujukan, semoga Allah meridhoi para ulama pendahulu kita, seluruhnya. Tidak ada keterangan dari mereka semua, bahwa mereka merayakan peristiwa ini. Bahkan meski satu patah kata pun tentang perayaan ini.

Selanjutnya, wahai hamba Allah, saat Anda mengetahui, bahwa ternyata tidak ada riwayat tentang hari terjadinya peristiwa ini, tidak pula berkaitan dengan perayaannya pada malam maupun siang harinya, ini menunjukkan, bahwa para Salafus Shalih tidak terlalu perhatian dengan waktu terjadinya peristiwa ini. Ini juga menjadi bukti, bahwa mereka tidak pernah merayakan peristiwa Isra dan Miraj (yang diklaim terjadi) pada 27 Rajab ini. Karena andai mereka merayakannya, tentu akan ada riwayat yang menjelaskan mengenai waktu kejadian Isra Miraj. Dan tentu akan ada penjelasan dari mereka perihal perayaan ini.

Kemudian, sesungguhnya kaidah syariat yang kita sepakati bersama, bahwa agama ini dibangun di atas ittiba‘ (mencontoh Nabi ﷺ). Dan bahwa ibadah itu dibangun di atas dalil (tawqif). Oleh karenanya, tidak selayaknya bagi seorang Muslim, untuk melakukan suatu ibadah, kecuali bila ia memiliki cahaya petunjuk dan bimbingan dari Nabi ﷺ, yang menerangkan kepada mereka tata cara ibadahnya.

Haknya Nabi Muhammad ﷺ atas kita, adalah kita tidak menyembah Allah, kecuali dengan petunjuk yang datang dari beliau ﷺ. Dan setiap amalan ibadah yang dikerjakan, yang tidak ada perintahnya dari Nabi yang mulia ini ﷺ,  maka ibadah tersebut tidak diterima di sisi Allâh. Nabi ﷺ telah mengajarkan kepada kita dan membimbing kita melalui sabdanya:

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.”

Dan beliau ﷺ senantiasa mengulang-ulang nasihatnya dalam setiap khutbah beliau ﷺ:

إِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا ، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ

“Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan. Setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka.”

Maka alangkah indahnya bila umat ini menyibukkan diri dengan ibadah-ibadah yang ada tuntutannya. Karena sungguh, andai mereka menyibukkan hari-hari mereka dengan ibadah yang ada sunahnya dari Nabi ﷺ, maka sungguh dalam hal tersebut ada pengaruh yang besar di hati kaum Mukminin, dalam hal kasih sayang di antara mereka, saling mencintai,  persatuan,  kemuliaan mereka, pertolongan untuk mereka atas musuh-musuh mereka, dan akan tampaklah  wibawa umat di hadapan musuh-musuh mereka.

Namun amat disayangkan, banyak dari hamba Allah lebih condong kepada amalan-amalan ibadah yang baru, lalu meninggalkan banyak dari amalan yang ada tuntunannya. Dan kekurangan ini kembali pada kekurangan ulama, dan penuntut ilmu, di negeri-negeri mereka, dalam menjelaskan sunnah kepada masyarakat, mengajarkan kebaikan kepada mereka,  dan mengajak mereka untuk komitmen terhadap Sunnah Nabi ﷺ.

Wasiatku untuk seluruh kaum Muslimin, untuk bersama bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla, mengikuti tuntunan Nabi Muhammad ﷺ, melakukan amalan ibadah yang disyariatkan oleh Allah ta’ala, dan kita mendekatkan kepada Allah ‘azza wa jalla dengan ibadah-ibadah yang dituntukan tersebut.”

Demikian yang beliau sampaikan. Rekaman dari tausiyah beliau, bisa kita simak di sini, di menit ke 06.30 sampai selesai: https://www.dropbox.com/s/t7iamlsxtvu334h/Fatawa%20Syaikh%20Sulaiman%20ar%20Ruhaili%20.m4a?dl=0

Semoga Allah senantiasa membimbing kita untuk istiqomah di atas Sunnah Nabi-Nya ﷺ.

***

 

Direkam dan diterjemahkan oleh Ahmad Anshori (yang senantiasa butuh akan taufik dan ampunan-Nya)

Dinukil dari tulisan berjudul: “Perayaan Isra’ Mi’raj, Siapa Bilang Tidak Boleh?” yang ditulis oleh: Ahmad Anshori hafizahullah

Sumber: https://Muslim.or.id/25540-perayaan-isra-miraj-siapa-bilang-tidak-boleh.html