Posts

INI RAHASIANYA KENAPA IBLIS LEBIH MENYUKAI PELAKU BIDAH DARIPADA PELAKU MAKSIAT

INI RAHASIANYA KENAPA IBLIS LEBIH MENYUKAI PELAKU BIDAH DARIPADA PELAKU MAKSIAT
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
INI RAHASIANYA KENAPA IBLIS LEBIH MENYUKAI PELAKU BIDAH DARIPADA PELAKU MAKSIAT
 
Jangan menjadi orang yang dicintai oleh IBLIS.
Dan apa RAHASIANYA, amalan BID’AH itu LEBIH disukai oleh IBLIS daripada MAKSIAT ?
 
Perkataan seorang tabiin bernama Sufyan ats Tsauri:
 
قال وسمعت يحيى بن يمان يقول سمعت سفيان يقول: البدعة أحب إلى إبليس من المعصية المعصية يتاب منها والبدعة لا يتاب منها
 
Ali bin Ja’d mengatakan, bahwa dia mendengar Yahya bin Yaman berkata, bahwa dia mendengar Sufyan (ats Tsauri) berkata:
  • BID’AH itu lebih disukai IBLIS dibandingkan dengan MAKSIAT biasa.
  • Karena pelaku maksiat itu lebih mudah bertobat.
  • Sedangkan pelaku bid’ah itu sulit bertobat.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Ja’d dalam Musnadnya no 1809 dan Ibnul Jauzi dalam Talbis Iblis hal 22]
Faktor terpenting yang mendorong seseorang untuk bertobat adalah merasa berbuat salah dan merasa berdosa. Perasaan ini banyak dimiliki oleh pelaku kemaksiatan, tapi tidak ada dalam hati orang yang gemar dengan bid’ah.
 
Oleh karena itu, bagaimana mungkin seorang pelaku bid’ah bertobat ketika dia tidak merasa bersalah? Bahkan dia merasa mendapat pahala dan mendekatkan diri kepada Allah dengan bid’ah yang dia lakukan. Itulah rahasianya kenapa IBLIS suka sekali dengan pelaku BID’AH.
 
Allah berfirman:
 
أَفَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَآَهُ حَسَنًا
 
“Maka apakah orang yang dijadikan (setan) menganggap BAIK pekerjaannya yang buruk, lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh setan)?” [QS. Fathir:8]
 
Sufyan ats Tsauri mengatakan:
“Bid’ah itu lebih disukai Iblis dibandingkan dengan maksiat biasa. Karena pelaku maksiat itu lebih mudah bertobat. Sedangkan pelaku bid’ah itu sulit bertobat.”
 
Dalam sebuah atsar (perkataan salaf) Iblis berkata:
“Kubinasakan anak keturunan Adam dengan DOSA, namun mereka membalas membinasakanku dengan ISTIGHFAR dan ucapan La ilaha illallah.
Setelah kuketahui hal tersebut, maka kusebarkan di tengah-tengah mereka hawa nafsu (baca:BID’AH).
Akhirnya mereka berbuat dosa namun TIDAK MAU BERTOBAT, karena mereka merasa sedang berbuat BAIK.” [Lihat al Jawab al Kafi 58, 149-150 dan al I’tisham 2/62]
 
Oleh karena itu secara umum bid’ah itu lebih BERBAHAYA dibandingkan maksiat. Hal ini dikarenakan pelaku bid’ah itu MERUSAK agama. Sedangkan pelaku maksiat sumber kesalahannya adalah karena mengikuti keinginan yang terlarang. [Al Jawab al Kafi hal 58 dan lihat Majmu Fatawa 20/103]
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
 

#alasan, #iblis, #setan, #syaithan, #syaithon, #lebihsuka, #lebihmenyukai, #bidah, #pelakubidah, #pelakumaksiat, #maksiat, #maksiyat, #tobat, #taubat, #bertobat, #bertaubat #lebihmudahbertobat, #sulitbertobat #aparahasianya, #inirahasianya

,

TEROMPET ITU BUDAYA YAHUDI

TEROMPET ITU BUDAYA YAHUDI
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
TEROMPET ITU BUDAYA YAHUDI
 
Terompet itu budaya Yahudi. Namun itulah yang dilakukan oleh kaum Muslimin di malam tahun baru, hanya mengekor budaya Yahudi.
 
Tak percaya?
 
Silakan renungkan hadis berikut ini. Dari Abu ‘Umair bin Anas dari bibinya yang termasuk shahabiyah Anshar:
 
عَنْ أَبِى عُمَيْرِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ عُمُومَةٍ لَهُ مِنَ الأَنْصَارِ قَالَ اهْتَمَّ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- لِلصَّلاَةِ كَيْفَ يَجْمَعُ النَّاسَ لَهَا فَقِيلَ لَهُ انْصِبْ رَايَةً عِنْدَ حُضُورِ الصَّلاَةِ فَإِذَا رَأَوْهَا آذَنَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا فَلَمْ يُعْجِبْهُ ذَلِكَ قَالَ فَذُكِرَ لَهُ الْقُنْعُ – يَعْنِى الشَّبُّورَ – وَقَالَ زِيَادٌ شَبُّورَ الْيَهُودِ فَلَمْ يُعْجِبْهُ ذَلِكَ وَقَالَ « هُوَ مِنْ أَمْرِ الْيَهُودِ ». قَالَ فَذُكِرَ لَهُ النَّاقُوسُ فَقَالَ « هُوَ مِنْ أَمْرِ النَّصَارَى ». فَانْصَرَفَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ زَيْدِ بْنِ عَبْدِ رَبِّهِ
 
“Nabi memikirkan bagaimana cara mengumpulkan orang untuk shalat berjamaah. Ada beberapa orang yang memberikan usulan. Yang pertama mengatakan: ‘Kibarkanlah bendera ketika waktu shalat tiba. Jika orang-orang melihat ada bendera yang berkibar, maka mereka akan saling memberi tahukan tibanya waktu shalat’. Namun Nabi tidak menyetujuinya. Orang kedua mengusulkan agar memakai terompet. Nabi pun tidak setuju. Lantas beliau bersabda: ‘Membunyikan terompet adalah perilaku orang-orang Yahudi.’ Orang ketiga mengusulkan agar memakai lonceng. Nabi berkomentar: ‘Itu adalah perilaku Nasrani.’ Setelah kejadian tersebut, Abdullah bin Zaid bin Abdi Rabbihi pun pulang.” [HR. Abu Daud no. 498. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih)
 
Dari hadis di atas menunjukkan bahwa terompet itu tradisi Yahudi. Nah itulah yang diikuti oleh orang-orang yang merayakan tahun baru. Budaya Yahudilah yang diikuti.
 
Memanfaatkan uang untuk membeli terompet tahun baru termasuk PEMBOROSAN karena telah menyalurkan harta tidak pada kebaikan. Allah ta’ala berfirman:
 
وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا
 
“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Rabbnya.” [QS. Al Isra’: 26-27]
 
Az Zujaj berkata, bahwa yang dimaksud boros adalah:
 
النفقة في غير طاعة الله
 
“Mengeluarkan nafkah pada selain ketaatan pada Allah.” [Disebutkan dalam Zaadul Masiir karya Ibnul Jauzi]
 
Apa seorang Muslim boleh mengikuti budaya Yahudi?
 
Dari Abu Sa’id Al Khudri, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
 
لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ ». قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ « فَمَنْ ».
 
“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, dan sehasta demi sehasta, sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang penuh lika-liku, pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata: “Wahai Rasulullah, Apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” [HR. Muslim no. 2669]
 
Silakan berpikir jika ingin menjadi seorang Muslim sejati.
Hanya Allah yang memberi hidayah.
 
 
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#terompetitubudayaYahudi, #terompet, #Yahudi, #kebiasaanYahudi, #tiupterompet, #tahunbaru, #bidah, #akidahIslam, #aqidahIslam, #lubangbiawak, #lubangdhob #boros, #pemborosan #malamtahunbaru, #NewYearseve
,

KAPAN TANGGAL KELAHIRAN NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM?

KAPAN TANGGAL KELAHIRAN NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
KAPAN TANGGAL KELAHIRAN NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM?
 
Tanggal Kelahiran Nabi ﷺ DIPERSELISIHKAN secara tajam. Ada yang mengatakan tanggal 2 , 8 , 10 , 12 bahkan 17 Rabiul Awal [Lihat al-Bidayah wa Nihayah karya Ibnu Katsir: 2/260 dan Latho’iful Ma’arif karya Ibnu Rojab hlm. 184-185]
Semua pendapat ini TIDAK BERDASARKAN hadis yang shahih. Adapun hadis Jabir dan Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma yang menerangkan, bahwa tanggal kelahiran Nabi ﷺ adalah 12 Rabiul Awal TIDAK SHAHIH. Kalaulah shahih, tentu akan menjadi hakim (pemutus perkara) dalam masalah ini. Akan tetapi Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang hadis tersebut, “Sanadnya (jalur periwayatannya) TERPUTUS.” [Al-Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Rajab hlm. 184-185]
 
Karena tidak ada yang shahih, tidak mengapa kalau kita menukil pendapat ahli falak. Banyak ahli falak berpendapat, bahwa hari kelahiran beliau ﷺ adalah pada 9 Rabiul Awal, dan al-Ustadz Abdullah bin Ibrahim bin muhammad as-Sulaim mengatakan:
“Dalam kitab-kitab sejarah dan siroh dikatakan, bahwa Nabi ﷺ lahir pada Senin 10, atau 8, atau 12 dan ini yang dipilih oleh Mayoritas Ulama. Telah tetap tanpa keraguan, bahwa kelahiran beliau ﷺ adalah pada 20 April 571 M (tahun Gajah), sebagaimana telah tetap juga, bahwa beliau ﷺ wafat pada 13 Rabiul Awal 11 H yang bertepatan dengan 6 Juni 632 M. Selagi tanggal-tanggal ini telah diketahui, maka dengan mudah dapat diketahui hari kelahiran dan hari wafatnya dengan jitu, demikian juga usia Nabi ﷺ. Dengan mengubah tahun-tahun ini pada hitungan hari akan ketemu 22.330 hari dan bila diubah ke tahun Qamariyyah akan ketemulah, bahwa umur beliau ﷺ 63 tahun lebih tiga hari. Dengan demikian, hari kelahiran beliau adalah Senin 9 Rabiul Awal tahun 53 sebelum Hijriah, bertepatan dengan 20 April 571 M. [Taqwimul Azman hlm. 143, cet pertama 1404 H]
Syaikh Ibnu Utsaimin berkata:
“Sebagian ahli falak belakangan telah meneliti tentang tanggal kelahiran Nabi ﷺ ternyata jatuh pada 9 Rabiul Awal, BUKAN 12 Rabiul Awal.” [Al-Qaulul Mufid ‘ala Kitab Tauhid: 1/491. Dinukil dari Ma Sya’a wa Lam Yatsbut fis Sirah Nabawiyyah hlm. 7-8 oleh Muhammad bin Abdullah al-Ausyan]
Dengan demikian, apa yang dirayakan oleh sebagian kaum Muslimin pada 12 Rabiul Awal setiap tahunnya? Dan apa perlu juga merayakannya, sedangkan Nabi ﷺ sendiri pun TIDAK PERNAH merayakannya seumur hidupnya?
Wallahu a‘lam.
Penulis: Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi
[Dikutip oleh muslim.or.id dari artikel 8 Faidah Seputar Tarikh Majalah Al-Furqon Edisi 08 th. ke-8 1430 H/2009 M]
kuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#maulidnabi, #tanggallahir, #tanggalkelahiran, #birthday, #ulangtahun, #12RabiulAwal, #9RabiulAwal, #bidah #maulidan
,

BENARKAH YANG MERAYAKAN ‘MAULID NABI’ PERTAMA KALI ADALAH RAJA AL-MUZHAFFAR, PENGUASA KOTA IRBIL?

BENARKAH YANG MERAYAKAN 'MAULID NABI' PERTAMA KALI ADALAH RAJA AL-MUZHAFFAR, PENGUASA KOTA IRBIL?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
BENARKAH YANG MERAYAKAN ‘MAULID NABI’ PERTAMA KALI ADALAH RAJA AL-MUZHAFFAR, PENGUASA KOTA IRBIL?
 
Diedarkan sebuah tulisan, bahwa yang pertama kali mengadakan peringatan Maulid Nabi adalah Raja Abu Sa’id al-Muzhaffar Penguasa Irbil, wafat tahun 184 H!!
 
Propaganda dengan mengatasnamakan sejarah ini perlu dijawab:
 
> Bahwa tidak benar Raja al-Muzhaffar tersebut wafat pada tahun 184 H. Namun yang benar adalah dia lahir tahun 549, wafat tahun 630 H!! Yakni wafat pada abad ke-7 hijriah.
 
> Bahwa yang pertama kali MEMBUAT perayaan ‘Maulid Nabi’ adalah kerajaan Bani Ubaidiyyah (yang menamakan dirinya Bani Fathimiyyah) di Mesir, yang berkuasa pada 362 – 567 H.
 
Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh para pakar sejarah, di antaranya oleh Taqiyyuddin al-Miqrizi, dalam kitabnya yang berjudul “al-Mawa’izh wa al-i’tibar bi Dzikri al-Khuthath wa al-Aatsaar”. Pada 1/490, al-Miqrizi mengatakan:
 
“Para Khalifah Dinasti Fathimiyyah memiliki banyak hari raya dan peringatan sepanjang tahun, yaitu:
• Peringatan Awal Tahun,
• Hari Asyura
• Maulid Nabi ﷺ
• Maulid Ali bin Abi Thalib
• Maulid al-Hasan
• Maulid al-Husein
• Maulid Fathimah az-Zahra
• Maulid Khalifah yang sedang berkuasa
• Malam awal Rajab
• Malam Nishfu Rajab
• Malam awal Sya’ban
• Malam Nishfu Sya’ban
.. dst.” demikian keterangan dari al-Miqrizi
 
Jadi, Perayaan Maulid Nabi yang pertama kali mengadakan adalah Dinasti Ubaidiyyah.
 
Tahukah Anda siapakah Bani/Dinasti Ubaidiyyah (yang menamakan diri sebagai Dinasti Fathimiyyah) ini? Mereka berpaham Syiah Rafidhah dan mereka telah:
• Mencela para nabi
• Mencela dan benci terhadap para sahabat
• Mencela para salaf.
 
Seorang ulama ahli sejarah, al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah telah menegaskan tentang Daulah Ubaidiyyah:
“Mereka (Daulah Ubaidiyyah) membalik Islam, menampakkan (Manhaj) Rafidhah, dan menyembunyikan Madzhab Ismailiyyah (salah satu sekte ekstrim dalam Syiah, pen).”
 
Al-Qadhi ‘Iyadh berkata tentang Daulah Ubaidiyyah:
“Para ulama di negeri Qairawan telah sepakat, bahwa kondisi Bani ‘Ubaid (penguasa di Daulah Ubaidiyyah) adalah kondisi ORANG-ORANG MURTAD DAN PARA ZINDIQ.”
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#bidah, #maulidnabi, #perayaanmaulidnabi, #RabiulAwal #fatwaulama #mawlid #mawleed #ulangtahunnabi #bantahan, #syubhat, #kerancuan, #hukum #rayakan #sejarah, #pertamakali, #pencetus #DaulahUbaidiyyah #syiah #Yahudi #BaniUbaidiyyah #Ubaidiyyah
,

BERBAGAI KONDISI PERAYAAN MAULID NABI

BERBAGAI KONDISI PERAYAAN MAULID NABI
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
BERBAGAI KONDISI PERAYAAN MAULID NABI
 
Fadhilah Asy-Syaikh al-‘Allamah Shalih bin Fauzan al-Fauzan berkata:
“Di antara hal-hal yang diada-adakan oleh umat manusia dari PERBUATAN-PERBUATAN BIDAH MUNKARAH adalah “Perayaan Peringatan Maulid Nabi pada bulan Rabi’ul Awwal.”
 
Mereka dalam perayaan tersebut ada bermacam-macam:

Di antara mereka ada yang menjadikan perayaan itu dalam bentuk berkumpul, dibacakan padanya kisah Maulid, atau disajikan padanya khutbah-khutbah atau kasidah-kasidah pada kesempatan tersebut.

• Di antara mereka ada yang membuat makanan, manisan, dll disuguhkan kepada siapa yang hadir.
 
• Di antara mereka ada yang mengadakan perayaan Maulid di masjid-masjid.
 
• Di antara mereka ada yang mengadakan perayaan Maulid di rumah-rumah.
 
• Di antara mereka yang tidak sebatas pada apa yang telah disebut di atas, namun ada di antara mereka yang menjadikan acara perayaan ini dipenuhi dengan berbagai keharaman dan kemungkaran berupa ikhtilath (campur baur) antara pria dan wanita, raqsh (tarian), dan nyanyian. Atau bahkan amalan-amalan syirkiyyah, seperti beristighosah kepada Rasulullah ﷺ, memanggil-manggil dan memohon agar mendapat pertolongan dari musuh, dll.
Maka itu, dengan segala macam dan perbedaan bentuk, serta perbedaan dalam hal niat para pelakunya, semua itu adalah BIDAH, HARAM, dan PERKARA BARU YANG DIBUAT-BUAT, (yang muncul) pada masa yang sangat jauh berlalu setelah Kurun Yang Mulia (yaitu masa para Sahabat, Tabi’in dan Tabi’ Tabi’in, pen)
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#bidah, #maulidnabi, #perayaanmaulidnabi, #RabiulAwal #fatwaulama #mawlid #mawleed #ulangtahunnabi #bantahan, #syubhat, #kerancuan, #hukum #rayakan #sejarah, #pertamakali, #pencetus #DaulahUbaidiyyah #syiah #Yahudi
#kondisi, #keadaan
, ,

KEPADA PARA PEMBELA MAULID NABI, RENUNGKANLAH INI

KEPADA PARA PEMBELA MAULID NABI, RENUNGKANLAH INI
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
KEPADA PARA PEMBELA MAULID NABI, RENUNGKANLAH INI
 
Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya an-Najmi rahimahullah berkata:
 
Perayaan Maulid adalah bidah yang dibuat oleh Bani Ubaidiyyun yang kala itu berkuasa di Maroko, lalu meluas kerajaannya ke Mesir, pada abad kelima Hijriyah.
 
Perayaan Maulid TIDAK PERNAH dilakukan oleh para Khulafaur Rasyidin yang empat, tidak pula dilakukan oleh para sahabat lainnya, bahkan tidak pula dilakukan oleh seorang pun dari kalangan umat yang hidup pada tiga abad yang utama.
 
Apakah mereka tahu keutamaan Maulid namun meninggalkannya? Ataukah memang mereka tidak tahu?
 
> Jika Anda mengatakan: “Mereka tahu keutamaan Maulid namun meninggalkannya”, maka Anda telah BERDUSTA terhadap mereka.
> Jika Anda mengatakan: “Memang mereka tidak tahu” sementara Anda mengetahui keutamaannya, maka sebenarnya Anda lebih pantas untuk tidak tahu dibandingkan mereka.” [al-Maurid al-Adzbu az-Zullal, hal 171]
 
 
.الاحتفال بالمولد بدعة أحدثها العبيديون الذين ملكوا المغرب ثم امتد ملكهم إلی مصر في القرن الخامس الهجري ، ولم يفعله أحد من الخلفاء الأربعة ولا سائر الصحابة ولا علمه أحد من أهل القرون المفضلة.
فهل علموا فضله وتركوه ؟ أم جهلوه ؟.
.فإن قلتم: علموا فضله وتركوه فقد كذبتم عليهم ، وإن قلتم جهلوه وعلمتموه أنتم فأنتم أحق بالجهل منهم .
 
 
 المورد العذب الزلال فيما انتقد على بعض المناهج الدعوية من العقائد والأعمال للعلامة أحمد بن يحيى النجمي – رحمه الله – صفحة١٧١..
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
bidah, #maulidnabi, #perayaanmaulidnabi, #RabiulAwal #fatwaulama #mawlid #mawleed #ulangtahunnabi #bantahan, #syubhat, #kerancuan, #hukum #rayakan #sejarah, #pertamakali, #pencetus #DaulahUbaidiyyah #syiah #Yahudi
,

SIAPA PEMBUAT TRADISI PERINGATAN MAULID NABI PERTAMA KALI?

SIAPA PEMBUAT TRADISI PERINGATAN MAULID NABI PERTAMA KALI?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
SIAPA PEMBUAT TRADISI PERINGATAN MAULID NABI PERTAMA KALI?
 
Lihatlah, siapa yang membuat tradisi Peringatan Maulid Nabi pertama kali:
> Apakah orang-orang saleh?
> Apakah generasi Salaf yang diridai??
 
Asy-Syaikh ‘Abdul Qadir al-Junaid berkata:
 
قال التزمنتي الشافعي عن المولد: هذا الفعل لم يقع في الصدر الأول من السلف الصالح مع تعظيمهم وحبهم له إعظاما ومحبة لا يبلغ جمعنا الواحد منهم.
 
At-Tazmanti asy-Syafi’i rahimahullah berkata tentang Maulid Nabi ﷺ:
“Perbuatan ini TIDAK PERNAH dilakukan oleh generasi pertama as-Salafush Shalih. Padahal pengagungan dan kecintaan mereka terhadap beliau (Rasulullah ﷺ) merupakan pengagungan dan kecintaan yang sangat besar. Kita semua tidak bisa mencapai seperti pengagungan dan kecintaan salah seorang di antara mereka (terhadap Rasulullah ﷺ).”
 
قال المؤرخون: أول من أحدث الاحتفال بالمولد الدولة العبيدية. وقد قال عنهم المؤرخ الذهبي: قلبوا الإسلام،وأعلنوا الرفض،وأبطنوا مذهب الإسماعيلية
 
Para ulama ahli sejarah mengatakan:
“Yang pertama kali mengadakan perkara baru perayaan Maulid adalah Daulah Ubaidiyyah.”
 
Seorang ulama ahli sejarah, al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah telah menegaskan tentang mereka:
“Mereka (Daulah Ubaidiyyah) membalik Islam, menampakkan (manhaj) Rafidhah, dan menyembunyikan madzhab Isma’iliyyah (salah satu sekte ekstrim dalam Syi’ah, pen).”
 
قال المؤرخون:أول من أحدث الاحتفال بالمولد الدولة العبيدية وقال عنهم القاضي عياض: أجمع العلماء بالقيروان أن حال بني عبيد حال المرتدين والزنادقة
 
Para ulama ahli sejarah mengatakan:
“Yang pertama kali mengadakan perkara baru perayaan Maulid adalah Daulah Ubaidiyyah.”
Al-Qadhi ‘Iyadh berkata tentang mereka:
“Para ulama di negeri Qairawan telah sepakat, bahwa kondisi Bani ‘Ubaid (penguasa di Daulah Ubaidiyyah) adalah kondisi ORANG-ORANG MURTAD DAN PARA ZINDIQ.”
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#bidah, #maulidnabi, #perayaanmaulidnabi, #RabiulAwal #fatwaulama #mawlid #mawleed #ulangtahunnabi #bantahan, #syubhat, #kerancuan, #hukum #rayakan #sejarah, #pertamakali, #pencetus # Daulah Ubaidiyyah #Syiah #zindiq
,

BANTAHAN TERHADAP MEREKA YANG MEMBOLEHKAN PERAYAAN MAULID NABI

BANTAHAN TERHADAP MEREKA YANG MEMBOLEHKAN PERAYAAN MAULID NABI
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
BANTAHAN TERHADAP MEREKA YANG MEMBOLEHKAN PERAYAAN MAULID NABI
>> Fadhilatu Asy-Syaikh al-‘Allamah Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah
 
Syubhat Pertama: Pernyataan mereka, bahwa di dalam perayaan Maulid Nabi tersebut terkandung nilai pengagungan terhadap Nabi ﷺ.
 
Jawaban terhadap hal ini (syubhat ini, pen) kita katakan:
Sikap pengagungan terhadap Nabi ﷺ adalah dengan:
▪️ Menaati beliau ﷺ,
▪️ Menjalankan perintah beliau ﷺ,
▪️ Menjauhi larangan beliau ﷺ, dan
▪️ Mencintai beliau ﷺ.
 
Pengagungan terhadap beliau ﷺ bukanlah dengan amalan-amalan bidah, khurafat, dan kemaksiatan.
Dan perayaan Maulid (hari kelahiran, pen) masuk ke dalam bagian yang tercela ini, karena termasuk kemaksiatan.
 
Manusia yang paling kuat sikap pengagungannya kepada Nabi ﷺ adalah para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Sebagaimana yang dikatakan oleh ‘Urwah bin Mas’ud kepada kaum Quraisy:
“Wahai sekalian kaum! Demi Allah, aku pernah berjumpa dengan kisra, kaisar, dan juga raja-raja yang lainnya, akan tetapi aku tidak pernah melihat seorang raja diagungkan oleh para pengikutnya sebagaimana Muhammad ﷺ diagungkan oleh para sahabatnya. Demi Allah, mereka tidak berani mengangkat pandangan mereka ke arahnya, sebagai bentuk pengagungan terhadap dirinya.”
 
Bersamaan dengan kuatnya sikap pengagungan para sahabat yang seperti ini, mereka tidak pernah menjadikan hari kelahiran beliau ﷺ sebagai hari ‘id dan perayaan. Kalau seandainya hal itu disyariatkan, tentu mereka tidak akan meninggalkannya.
 
Syubhat Kedua: Mereka berdalih, bahwasanya perayaan Maulid Nabi ini diamalkan oleh kebanyakan manusia di berbagai negeri.
 
Jawaban dari syubhat ini kita katakan:
Hujjah (yang bisa diterima, pen) adalah keterangan yang telah pasti datangnya dari Rasulullah ﷺ.
 
Keterangan yang telah pasti dari Rasul ﷺ adalah LARANGAN terhadap amalan-amalan bidah secara umum, dan (amalan Maulid ini) termasuk salah satunya.
 
Amalan manusia, jika menyelisihi dalil, maka BUKANLAH hujjah, walaupun banyak yang mengamalkannya.
 
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang ada di muka bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” [QS al-An’am: 116]
 
Senantiasa ada, segala puji hanya bagi Allah, pada setiap masa, orang-orang yang mengingkari amalan bidah ini, dan menjelaskan kebatilannya. Maka tidak ada lagi hujjah yang tersisa bagi mereka-mereka yang masih terus melakukan bidah ini, setelah jelas kebenaran bagi mereka.
 
Di antara para ulama yang mengingkari perayaan bidah ini:
• Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah di dalam kitab “Iqtidha’ ash-Shirath al-Mustaqim”,
• Al-Imam asy-Syathiby di kitab “al-I’thisham”, Ibnu al-Hajj di “al-Madkhal”,
• Asy-Syaikh Tajuddin ‘Ali bin ‘Umar al-Lakhmy menulis pengingkaran beliau pada satu kitab tersendiri,
• Asy-Syaikh Muhammad Basyir as-Sahsuwany al-Hindy di kitab beliau “Shiyanat al-Insan”,
• Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Asy-Syaikh menulis sebuah risalah tersendiri pula,
• Samahatu Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz,
 
Dan yang selain mereka dari para ulama yang tak henti-hentinya menulis pengingkaran terhadap bidah ini setiap tahunnya di berbagai surat kabar dan majalah pada waktu dilakukannya perayaan bidah ini.
 
Syubhat Ketiga: Mereka berkata, “Sesungguhnya dengan mengadakan perayaan Maulid Nabi itu, kita menghidupkan upaya mengingat/menyebut nama Nabi ﷺ”.
 
Jawaban dari syubhat ini kita katakan:
Menghidupkan upaya untuk mengingat/menyebut (nama) Nabi ﷺ haruslah sesuai dengan apa yang Allah syariatkan, seperti:
Menyebut nama (mengingat nama beliau ﷺ) dalam azan, iqamah, khutbah-khutbah, dalam shalat-shalat, ketika Tasyahhud, ketika bershalawat atas beliau ﷺ, membaca sunnah (hadis-hadis) beliau ﷺ, dan dengan mengikuti ajaran yang beliau ﷺ diutus dengannya.
 
Amalan-amalan tersebut terus-menerus terulang siang dan malam, bukan hanya sekali dalam setahun.
Syubhat Keempat: Mungkin mereka mengatakan: “Perayaan Maulid Nabi ini pertama kali yang mengadakannya adalah seorang raja yang adil dan berilmu dalam rangka untuk taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah!
 
Jawaban dari syubhat ini, kita katakan:
• Amalan bidah tidak akan diterima dari siapapun yang mengamalkannya.
• Niat yang baik tidak bisa menjadi dalih untuk membolehkan amalan yang jelek.
• Kondisi orang yang mengamalkannya itu berilmu dan adil bukanlah jaminan, bahwa dia terjaga dari kesalahan.
 
Syubhat Kelima: Mereka mengatakan: “Sesungguhnya perayaan Maulid Nabi itu termasuk jenis ‘bidah hasanah’. Karena dengan perayaan tersebut kita bisa mengungkapkan rasa syukur kita kepada Allah atas nikmat berupa diutusnya Nabi yang mulia ini!
 
Syubhat ini dijawab:
TIDAK ADA KEBAIKAN sedikit pun dalam amalan-amalan bidah. Nabi ﷺ telah bersabda:
“Barang siapa membuat-buat amalan baru di dalam agama ini yang bukan bagian darinya, maka amalan tersebut tertolak.”
 
Kita katakan juga:
Mengapa perayaan yang terkandung padanya ungkapan rasa syukur ini, menurut persangkaan kalian, baru diadakan di akhir-akhir abad ke-6 Hijriyah?!
Dan tidak pernah diadakan oleh generasi utama umat Islam dari kalangan sahabat, tabi’in, dan atba’ at-tabi’in. Padahal mereka itu lebih kuat kecintaannya kepada Nabi ﷺ, dan lebih semangat di dalam mengamalkan kebaikan dan merealisasikan rasa syukur.
 
Apakah mungkin orang-orang yang membuat-buat bidah perayaan Maulid itu lebih terbimbing dan lebih bisa bersyukur kepada Allah daripada mereka (sahabat, tabi’in, dan atba’ at-tabi’in, pen)?!
Hal ini tidaklah mungkin, dan sekali-kali tidak!
 
Syubhat Keenam: Mereka mengatakan: “Sesungguhnya perayaan Maulid Nabi ﷺ ini adalah salah satu cara untuk mengungkapkan/menampakkan rasa cinta kepada beliau ﷺ. Dan menampakkan kecintaan kepada beliau ﷺ adalah sesuatu yang disyariatkan!
 
Jawabannya, kita katakan:
Tidaklah diragukan, bahwasanya kecintaan kepada beliau ﷺ wajib atas setiap muslim, dengan kecintaan yang lebih besar daripada kecintaan kepada diri sendiri, anak, orang tua, dan manusia seluruhnya.
 
Namun, hal itu bukan berarti kita boleh membuat-buat amalan bidah yang tidak pernah beliau ﷺ syariatkan untuk kita.
 
Bahkan kecintaan kepada beliau ﷺ memberikan konsekuensi bagi kita untuk MENAATI dan MENGIKUTI beliau ﷺ. Karena sesungguhnya hal itulah di antara bukti terbesar kecintaan kepada beliau ﷺ, sebagaimana disebutkan dalam sebuah syair:
 
Kalau seandainya kecintaanmu jujur, niscaya engkau akan mengikutinya.
Sesungguhnya orang yang mencintai itu kepada orang yang dicintai patuh.
 
Maka kecintaan kepada beliau ﷺ berkonsekuensi untuk:
▪️ Menghidupkan sunnah beliau ﷺ,
▪️ Menggigit sunnah tersebut dengan gigi-gigi geraham, dan
▪️ Menjauhi segala sesuatu yang menyelisihinya, baik berupa perkataan maupun perbuatan.
 
Tidak diragukan lagi, bahwasanya segala sesuatu yang menyelisihi sunnah beliau ﷺ, maka itu adalah BIDAH yang TERCELA dan KEMAKSIATAN yang sangat tampak. Dan diantaranya adalah perayaan Maulid Nabi ini dan yang selainnya dari perkara-perkara bidah.
Niat yang baik bukanlah dalih untuk membolehkan al-ibtida’ (membuat-buat bidah, pen) di dalam agama, karena agama Islam dibangun di atas dua prinsip utama:
• Ikhlas, dan
• Mutaba’ah (mengikuti sunnah Nabi ﷺ, pen).
 
Allah ta’ala berfirman:
 
(بلى من أسلم وجهه لله وهو محسن فله أجره عند ربه ولا خوف عليهم ولا هم يحزنون) البقرة:١١٢
 
“Bahkan barang siapa yang menghadapkan wajahnya kepada Allah dalam keadaan dia berbuat ihsan, maka baginya pahala di sisi Rabbnya dan tidak ada ketakutan atas mereka dan tidak (pula) mereka bersedia hati.” [QS al-Baqarah: 112]
 
 
> Islamu al-wajh (Menghadapkan wajah, pen) adalah ikhlas kepada Allah, dan
> Al-ihsan adalah al- mutaba’ah (mengikuti) Rasulullah ﷺ dan mencocoki as-sunnah.
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#bidah, #maulidnabi, #perayaanmaulidnabi, #RabiulAwal #fatwaulama #mawlid #mawleed #ulangtahunnabi #bantahan, #syubhat, #kerancuan, #hukum #rayakan

BIDAHNYA PERAYAAN MAULID NABI

BIDAHNYA PERAYAAN MAULID NABI

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

BIDAHNYA PERAYAAN MAULID NABI

 
Al-Imam Syaikhul Islam Ahmad bin ‘Abdil Halim Ibnu Taimiyyah berkata tentang perayaan Maulid:
 
“Perayaan tersebut TIDAK dilakukan oleh Salaf, padahal (pada waktu itu, pen) ada faktor-faktor pendorongnya, dan tidak ada penghalang (yang menghalangi untuk bisa melakukan itu), kalau seandainya (Maulid) itu baik.
 
Kalau seandainya perayaan itu merupakan kebaikan murni, atau kebaikan yang rajih (lebih banyak manfaatnya) niscaya Salaf radhiyallahu ‘anhum lebih berhak atasnya daripada kita. Karena mereka (para Salaf tersebut) memiliki kecintaan dan pengagungan terhadap Rasulullah ﷺ yang jauh lebih besar daripada kita. Mereka lebih bersemangat terhadap kebaikan. Terbukti kesempurnaan cinta dan pengagungan terhadapnya (Nabi ﷺ) terwujud dalam:
• Sikap MUTABA’AH (mengikuti sunnah-sunnah) terhadap beliau ﷺ,
• Ketaatan kepada beliau ﷺ,
• Mengikuti perintah-perintah beliau ﷺ, dan
• Menghidupkan sunnah-sunnah beliau ﷺ, baik yang zhahir (tampak) maupun batin (tidak tampak),
• Juga menyebarkan (mendakwahkan) ajaran yang beliau ﷺ diutus dengannya, serta berjihad (demi menegakkan) itu semua dengan hati, tangan, dan lisan.
 
Sesungguhnya ini adalah jalan As-Sabiqunal Awwalun dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta para ulama yang mengikuti mereka dengan baik setelahnya.”
 
 
“فإن هذا لم يفعله السَّلَفُ، مع قيام المقتضي له وعدم المانع منه لو كان خيرًا. ولو كان هذا خيرًا محضا، أو راجحًا لكان السلف رضي الله عنهم أحق به منا، فإنهم كانوا أشد محبة لرسول الله صلى الله عليه وسلم وتعظيمًا له منا، وهم على الخير أحرص. وإنما كمال محبته وتعظيمه في متابعته وطاعته واتباع أمره، وإحياء سنته باطنًا وظاهرًا، ونشر ما بعث به، والجهاد على ذلك بالقلب واليد واللسان. فإن هذه طريقة السابقين الأولين، من المهاجرين والأنصار، والذين اتبعوهم بإحسان”
 
 
Sumber: [Iqtidha’ ash-Shirath al-Mustaqim 2/123-124]
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#bidah, #maulidnabi, #perayaanmaulidnabi, #RabiulAwal #fatwaulama #mawlid #mawleed #ulangtahunnabi
,

PERINGATAN 40 HARI KEMATIAN ADALAH AJARAN FIRAUN

PERINGATAN 40 HARI KEMATIAN ADALAH AJARAN FIRAUN
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
PERINGATAN 40 HARI KEMATIAN ADALAH AJARAN FIRAUN
Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah mengatakan tentang memperingati 40 hari kematian:
“عادة فرعونية كانت لدى الفراعنة قبل الإسلام، ثم انتشرت عنهم وسرت في غيرهم، وهي بدعة منكرة لا أصل لها في الإسلام”
“Itu adalah kebiasaan Firaun yang telah ada sebelum kedatangan Islam. Kemudian dari mereka tersebar dan dilakukan oleh selain mereka, dan itu merupakan bid’ah mungkar yang TIDAK ada asalnya dalam Islam.” [Majmu’ul Fatawa, jilid 13 hal. 398-399]
Sumber:  @JakartaMengaji
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#peringatan, #perayaan, #40harikematian, #Yasinan, #Tahlilan, #bidah, #bid’ah, #ahlibidah, #ahlulbidah, #ajaranFiraun, #Firaun, #Firaun #tauhid, #tawheed #mati, #meninggal dunia, #wafat, #kematian