Posts

INI RAHASIANYA KENAPA IBLIS LEBIH MENYUKAI PELAKU BIDAH DARIPADA PELAKU MAKSIAT

INI RAHASIANYA KENAPA IBLIS LEBIH MENYUKAI PELAKU BIDAH DARIPADA PELAKU MAKSIAT
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
INI RAHASIANYA KENAPA IBLIS LEBIH MENYUKAI PELAKU BIDAH DARIPADA PELAKU MAKSIAT
 
Jangan menjadi orang yang dicintai oleh IBLIS.
Dan apa RAHASIANYA, amalan BID’AH itu LEBIH disukai oleh IBLIS daripada MAKSIAT ?
 
Perkataan seorang tabiin bernama Sufyan ats Tsauri:
 
قال وسمعت يحيى بن يمان يقول سمعت سفيان يقول: البدعة أحب إلى إبليس من المعصية المعصية يتاب منها والبدعة لا يتاب منها
 
Ali bin Ja’d mengatakan, bahwa dia mendengar Yahya bin Yaman berkata, bahwa dia mendengar Sufyan (ats Tsauri) berkata:
  • BID’AH itu lebih disukai IBLIS dibandingkan dengan MAKSIAT biasa.
  • Karena pelaku maksiat itu lebih mudah bertobat.
  • Sedangkan pelaku bid’ah itu sulit bertobat.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Ja’d dalam Musnadnya no 1809 dan Ibnul Jauzi dalam Talbis Iblis hal 22]
Faktor terpenting yang mendorong seseorang untuk bertobat adalah merasa berbuat salah dan merasa berdosa. Perasaan ini banyak dimiliki oleh pelaku kemaksiatan, tapi tidak ada dalam hati orang yang gemar dengan bid’ah.
 
Oleh karena itu, bagaimana mungkin seorang pelaku bid’ah bertobat ketika dia tidak merasa bersalah? Bahkan dia merasa mendapat pahala dan mendekatkan diri kepada Allah dengan bid’ah yang dia lakukan. Itulah rahasianya kenapa IBLIS suka sekali dengan pelaku BID’AH.
 
Allah berfirman:
 
أَفَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَآَهُ حَسَنًا
 
“Maka apakah orang yang dijadikan (setan) menganggap BAIK pekerjaannya yang buruk, lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh setan)?” [QS. Fathir:8]
 
Sufyan ats Tsauri mengatakan:
“Bid’ah itu lebih disukai Iblis dibandingkan dengan maksiat biasa. Karena pelaku maksiat itu lebih mudah bertobat. Sedangkan pelaku bid’ah itu sulit bertobat.”
 
Dalam sebuah atsar (perkataan salaf) Iblis berkata:
“Kubinasakan anak keturunan Adam dengan DOSA, namun mereka membalas membinasakanku dengan ISTIGHFAR dan ucapan La ilaha illallah.
Setelah kuketahui hal tersebut, maka kusebarkan di tengah-tengah mereka hawa nafsu (baca:BID’AH).
Akhirnya mereka berbuat dosa namun TIDAK MAU BERTOBAT, karena mereka merasa sedang berbuat BAIK.” [Lihat al Jawab al Kafi 58, 149-150 dan al I’tisham 2/62]
 
Oleh karena itu secara umum bid’ah itu lebih BERBAHAYA dibandingkan maksiat. Hal ini dikarenakan pelaku bid’ah itu MERUSAK agama. Sedangkan pelaku maksiat sumber kesalahannya adalah karena mengikuti keinginan yang terlarang. [Al Jawab al Kafi hal 58 dan lihat Majmu Fatawa 20/103]
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
 

#alasan, #iblis, #setan, #syaithan, #syaithon, #lebihsuka, #lebihmenyukai, #bidah, #pelakubidah, #pelakumaksiat, #maksiat, #maksiyat, #tobat, #taubat, #bertobat, #bertaubat #lebihmudahbertobat, #sulitbertobat #aparahasianya, #inirahasianya

, , ,

JANGAN MENGEJEK ORANG YANG BERBUAT DOSA

JANGAN MENGEJEK ORANG YANG BERBUAT DOSA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

JANGAN MENGEJEK ORANG YANG BERBUAT DOSA

Jangan merasa diri bisa selamat dari dosa sehingga meremehkan orang lain yang berbuat dosa. Dan meremehkannya pun dalam rangka sombong. “Kamu kok bisa terjerumus dalam zina seperti itu? Aku jelas tak mungkin.”

Dari Mu’adz bin Jabal, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ عَيَّرَ أَخَاهُ بِذَنْبٍ لَمْ يَمُتْ حَتَّى يَعْمَلَهُ

“Siapa yang menjelek-jelekkan saudaranya karena suatu dosa, maka ia tidak akan mati kecuali mengamalkan dosa tersebut.” [HR. Tirmidzi no. 2505. Syaikh Al-Albani berkata bahwa hadis ini Maudhu’]. Imam Ahmad menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah dosa yang telah ditaubati.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

وَكُلُّ مَعْصِيَةٍ عُيِّرَتْ بِهَا أَخَاكَ فَهِيَ إِلَيْكَ يَحْتَمِلُ أَنْ يُرِيْدَ بِهِ أَنَّهَا صَائِرَةٌ إِلَيْكَ وَلاَ بُدَّ أَنْ تَعْمَلَهَا

“Setiap maksiat yang dijelek-jelekkan pada saudaramu, maka itu akan kembali padamu. Maksudnya, engkau bisa dipastikan melakukan dosa tersebut.” [Madarijus Salikin, 1: 176]

Hadis di atas bukan maknanya adalah dilarang mengingkari kemungkaran. Ta’yir (menjelek-jelekkan) yang disebutkan dalam hadis berbeda dengan mengingkari kemungkaran. Karena menjelek-jelekkan mengandung kesombongan (meremehkan orang lain), dan merasa diri telah bersih dari dosa. Sedangkan mengingkari kemungkaran dilakukan lillahi ta’ala, ikhlas karena Allah, bukan karena kesombongan [Lihat Al-‘Urf Asy-Syadzi Syarh Sunan At-Tirmidzi oleh Muhammad Anwar Syah Ibnu Mu’azhom Syah Al-Kasymiri]

Bedakan antara menasihati dengan menjelek-jelekkan. Menasihati berarti ingin orang lain jadi baik. Kalau menjelek-jelekkan ada unsur kesombongan, dan merasa diri lebih baik dari orang lain.

Jangan sombong sampai merasa bersih dari dosa, atau tidak akan terjerumus pada dosa yang dilakukan saudaranya.

Semoga Allah memberikan hidayah demi hidayah.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

[Artikel Rumaysho.Com]

Sumber: https://rumaysho.com/11241-mengejek-orang-yang-berbuat-dosa.html

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

DOSA SYIRIK TIDAK DIAMPUNI KECUALI DENGAN TOBAT

DOSA SYIRIK TIDAK DIAMPUNI KECUALI DENGAN TOBAT

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#TauhidManhaj

DOSA SYIRIK TIDAK DIAMPUNI KECUALI DENGAN TOBAT

إِنَّ اللهَ لاَيَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَادُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَآءُ وَمَن يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” [QS. An Nisaa’: 48]

Ayat ini merupakan dalil, bahwa tauhid mempunyai pahala yang besar, dan bisa menghapuskan dosa yang sangat banyak.

 

Sumber: [Indonesia Bertauhid]

# Dosa Syirik Tidak Diampuni Kecuali Dengan Taubat #إِنَّ اللهَ لاَيَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَادُونَ ذَلِ…

Posted by Indonesia Bertauhid on Friday, August 25, 2017

,

MELEBUR DOSA DENGAN TOBAT

MELEBUR DOSA DENGAN TOBAT

#AkidahTauhid

MELEBUR DOSA DENGAN TOBAT

Setiap hamba pasti pernah terjerumus dalam dosa, bahkan juga dosa besar. Mungkin saja seseorang sudah terjerumus dalam kelamnya zina, membunuh orang lain tanpa jalan yang benar, pernah menegak arak (khomr), atau seringnya meninggalkan shalat lima waktu, padahal meninggalkan satu shalat saja termasuk dosa besar berdasarkan kesepakatan para ulama. Inilah dosa besar yang mungkin saja di antara kita pernah terjerumus di dalamnya. Lalu masihkah terbuka pintu tobat? Tentu saja pintu tobat masih terbuka, ampunan Allah begitu luas.

Sebuah hadis yang patut jadi renungan, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menceritakan, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: Allah ta’ala berfirman:

”Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau menyeru dan mengharap pada-Ku, maka pasti Aku ampuni dosa-dosamu tanpa Aku pedulikan. Wahai anak Adam, seandainya dosamu membumbung tinggi hingga ke langit, tentu akan Aku ampuni, tanpa Aku pedulikan. Wahai anak Adam, seandainya engkau mendatangi-Ku dengan dosa sepenuh bumi dalam keadaan tidak berbuat syirik sedikit pun pada-Ku, tentu Aku akan mendatangi-Mu dengan ampunan sepenuh bumi pula.” [HR. Tirmidzi no. 3540. Abu Isa mengatakan bahwa hadis ini Ghorib. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih]

Hadis di atas menunjukkan, bahwa Allah benar-benar Maha Pengampun. Setiap dosa, baik dosa kecil, dosa besar, dosa syirik, bahkan dosa kekufuran- bisa diampuni selama seseorang bertobat sebelum datangnya kematian, walaupun dosa itu sepenuh bumi. Hal ini dikuatkan pula pada ayat dalam Aquran, di mana Allah ta’ala berfirman:

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [QS. Az Zumar: 53]

Ibnu Katsir mengatakan:

”Ayat yang mulia ini berisi seruan kepada setiap orang yang berbuat maksiat, baik kekafiran dan lainnya, untuk segera bertobat kepada Allah. Ayat ini mengabarkan, bahwa Allah akan mengampuni seluruh dosa bagi siapa yang ingin bertobat dari dosa-dosa tersebut, walaupun dosa tersebut amat banyak, bagai buih di lautan.”.

 

Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah

Sumber: https://rumaysho.com/1083-melebur-dosa-dengan-taubat-yang-tulus.html

, , ,

INGIN JADI KEKASIH ALLAH?

INGIN JADI KEKASIH ALLAH?
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
#NasihatUlama
#TazkiyatunNufus

INGIN JADI KEKASIH ALLAH?

Bismillaah, alloohummaa sholli wa sallim a’laa Nabiyyinaa Muhammadin wa a’laa aalihi wa sohbihi ajma’in

وقفة مع آية ،،،

( إن الله يحب التوابين … )

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat.” [QS. Al Baqarah: 222]

قال شيخ الإسلام ابن تيمية:

“كل من تاب فهو حبيب الله”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

“Setiap yang bertaubat kepada Allah, maka ia layak disebut Habiibullah (Kekasih Allah).”

Sumber: [Jaami’urrosaail 1: 116]

[جامع الرسائل ١١٦/١]

 

Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin

 

,

MENUNTUT ILMU AGAMA, JALAN SUKSES MENUJU TAUBAT (SEPENGGAL NASIHAT SEBELUM TERLAMBAT)

MENUNTUT ILMU AGAMA, JALAN SUKSES MENUJU TAUBAT (SEPENGGAL NASIHAT SEBELUM TERLAMBAT)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MenuntutIlmuSyari

MENUNTUT ILMU AGAMA, JALAN SUKSES MENUJU TAUBAT (SEPENGGAL NASIHAT SEBELUM TERLAMBAT)

  • Saudaraku, bertaubatlah sebelum terlambat, karena ajal tidak pernah menunggumu bertaubat.
  • Saudaraku, berbekallah tuk menghadapi suatu hari, saat penyesalan tiada lagi berarti.
  • Saudaraku ingatlah, sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan tidak mungkin seseorang mencapai derajat takwa, sebelum ia beramal dengan ikhlas karena Allah ta’ala dan meladani Rasulullah ﷺ.

>> Maka jauhilah segala bentuk syirik dan semua perusak amalan seperti riya’ dan sum’ah; yaitu memerlihatkan dan memerdengarkan amalan agar dipuji orang.

>> Jauhilah hal-hal baru dalam agama yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ, agar selamat dari kesesatan.

>>Hindarkanlah dirimu dari kemaksiatan, besar maupun kecil, agar selamat dari azab yang pedih.

Dan ketahuilah, tidak mungkin seseorang dapat menggapai semua itu tanpa menuntut ilmu agama yang berdasarkan Alquran dan As-Sunnah sesuai Pemahaman Salaf.

Semakin dalam ilmu agama yang dipelajari seseorang, maka ia semakin mudah masuk Surga dan semakin dekat kepada kebaikan dunia dan Akhirat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu agama, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju Surga.” [HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Allah akan memahamkannya dengan agama.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Mu’awiyah radhiyallahu’anhu]

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqoloni Asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

وَمَفْهُومُ الْحَدِيثِ أَنَّ مَنْ لَمْ يَتَفَقَّهْ فِي الدِّينِ أَيْ يَتَعَلَّمْ قَوَاعِدَ الْإِسْلَامِ وَمَا يَتَّصِلُ بِهَا مِنَ الْفُرُوعِ فَقَدْ حُرِمَ الْخَيْرَ

“Mafhum hadis ini adalah, siapa yang tidak melakukan Tafaqquh Fid diin (Berusaha memahami agama), yaitu tidak memelajari kaidah-kaidah dasar Islam dan cabang-cabangnya, maka sungguh ia telah diharamkan untuk meraih kebaikan.” [Fathul Baari, 1/165]

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/776649309151220:0

,

INTROSPEKSI DIRI

INTROSPEKSI DIRI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama

INTROSPEKSI DIRI

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata:

“Di antara amalan paling bermanfaat bagi jiwa, adalah seseorang duduk sesaat karena Allah, ketika ia hendak tidur untuk mengintrospeksi diri -di saat itu-, apa kerugian dan keuntungan yang didapatkan di siang harinya. Lalu dia memerbaharui taubat nasuha antara dirinya dengan Allah.

Kemudian dia tidur dalam keadaan telah bertaubat. Selain itu hendaknya dia bertekad untuk tidak mengulangi dosanya selepas bangun tidur. Hendaknya amalan ini dikerjakan setiap malam, karena seandainya dia meninggal pada malam itu, maka dia meninggal dalam keadaan bertaubat. Jika terbangun dari tidurnya, maka dia bangun dalam keadaan semangat untuk beramal dan bergembira, karena belum tiba ajalnya sampai dia berjumpa dengan Rabbnya, dan dia berupaya mengejar kebaikan yang terlewatkan dari dirinya.

Tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi hamba ketimbang tidur yang semacam ini. Terlebih jika hal itu diiringi dengan zikir kepada Allah, dan mengerjakan amalan-amalan sunnah yang datang dari Rasulullah ﷺ sebelum tidur.”

[Kitab Ar Ruh: 1/79]

Introspeksi Diri

محاسبة النفس

قال ابن القيم رحمه الله :

ومن أنفعها أن يجلس الرجل عندما يريد النوم لله ساعة يحاسب نفسه فيها على ما خسره وربحه في يومه ثم يجدد له توبة نصوحا بينه وبين الله فينام على تلك التوبة ويعزم على أن لا يعاود الذنب إذا استيقظ ويفعل هذا كل ليلة فإن مات من ليلته مات على توبة وإن استيقظ استيقظ مستقبلا للعمل مسرورا بتأخير أجله حتى يستقبل ربه ويستدرك ما فاته وليس للعبد انفع من هذه النومة ولا سيما إذا عقب ذلك بذكر الله واستعمال السنن التي وردت عن رسول الله عند النوم

#الروح  (79/1)

Subhaanalloohi wa bihamdihi subhaanalloohil ‘adziim.

,

TIGA HASIL YANG DAPAT DIPETIK OLEH ORANG YANG MEMERBANYAK ISTIGHFAR

TIGA HASIL YANG DAPAT DIPETIK OLEH ORANG YANG MEMERBANYAK ISTIGHFAR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

#MutiaraSunnah

TIGA HASIL YANG DAPAT DIPETIK OLEH ORANG YANG MEMERBANYAK ISTIGHFAR

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa memerbanyak istighfar (mohon ampun kepada Allah), niscaya Allah:

– Menjadikan untuk setiap kesedihannya jalan keluar dan

– Untuk setiap kesempitannya kelapangan dan

– Allah akan memberinya rezeki (yang halal), dari arah yang tiada disangka-sangka”.

[Hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’i, Ibnu Majah dan Al-Hakim dari Abdullah bin Abbas]

Dalam hadis yang mulia ini, Nabi ﷺ yang jujur dan terpercaya, yang berbicara berdasarkan wahyu, mengabarkan tentang tiga hasil yang dapat dipetik oleh orang yang memerbanyak istighfar. Salah satunya yaitu, bahwa Allah Yang Maha Memberi Rezeki, yang Maha Memiliki Kekuatan akan memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka, dan tidak diharapkan, serta tidak pernah terdetik dalam hatinya.

Karena itu, kepada orang yang mengharapkan rezeki, hendaklah ia bersegera untuk memerbanyak istighfar (memohon ampun), baik dengan ucapan maupun perbuatan. Jadi kita diperintahkan meminta ampun, bukan hanya dengan lisan semata, tetapi juga dengan perbuatan. Sekali lagi diingatkan, hendaknya setiap Muslim waspada, dari melakukan istighfar hanya sebatas dengan lisan tanpa perbuatan. Sebab itu adalah pekerjaan para pendusta.

 

Dinukil dari tulisan berjudul: “KUNCI-KUNCI REZEKI MENURUT ALQURAN & AS-SUNNAH”, yang ditulis oleh: Dr.Fadhl Ilahi

Sumber:

https://salafiyunpad.wordpress.com/2007/09/27/kunci-kunci-rezeki-menurut-al-quran-as-sunnah/

, , ,

SAHKAH SHALAT ORANG YANG BERTATO?

SAHKAH SHALAT ORANG YANG BERTATO?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

#FatwaUlama

SAHKAH SHALAT ORANG YANG BERTATO?

Pertanyaan:

Kalau orang yang bertato kemudian sudah betul-betul insaf, shalatnya diterima atau tidak?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Pertama, menggunakan tato hukumya haram, dan terdapat larangan khusus dari Nabi ﷺ. Dari Abu Juhaifah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan:

لَعَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الوَاشِمَةَ وَالمُسْتَوْشِمَةَ

“Nabi ﷺ melaknat orang yang menato dan yang minta diberi tato.” (HR. Bukhari no. 5347).

Karena itu, kewajiban orang yang memiliki tato di tubuhnya, dia harus bertaubat kepada Allah, memohon ampunan dan menyesali perbuatannya. Kemudian berusaha menghilangkan tato yang menempel di badannya, selama tidak memberatkan dirinya. Namun jika upaya menghilangkan tato ini membahayakan dirinya, atau terlalu memberatkan dirinya, maka cukup bertaubat dengan penuh penyesalan, dan insya Allah shalatnya sah.

An-Nawawi menukil keterangan Imam ar-Rafi’i:

فى تعليق الفرا أَنَّهُ يُزَالُ الْوَشْمُ بِالْعِلَاجِ فَإِنْ لَمْ يُمْكِنْ إلَّا بِالْجُرْحِ لَا يُجْرَحُ وَلَا إثْمَ عَلَيْهِ بعد التوبة

“Dalam Ta’liq al-Farra’ dinyatakan: Tato harus dihilangkan dengan diobati. Jika tidak mungkin dihilangkan kecuali harus dilukai, maka tidak perlu dilukai, dan tidak ada dosa setelah bertaubat.” (Al-Majmu’, 3:139).

Disadur dari Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 28110

Dalam Fatawa yang lain, dinyatakan:

فلا يخفى عليك أن وضع الوشم على الجسد ذنب عظيم، ومع ذلك لا تأثير له على صحة الصلاة

Tidak diragukan, bahwa menato badan adalah dosa besar. Meskipun demikian, hal itu tidak ada pengaruhnya dengan keabsahan shalat.

Fatawa Syabakah Islamiyah, di bawah bimbingan Dr. Abdullah Al-Faqih, no. 18959

Allahu a’lam

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/14207-shalatnya-orang-bertato-yang-insaf.html

 

KEUTAMAAN BERAMAL SALEH DAN MENJAUHI DOSA-DOSA BESAR

KEUTAMAAN BERAMAL SHALIH DAN MENJAUHI DOSA-DOSA BESAR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MutiaraSunnah

KEUTAMAAN BERAMAL SHALIH DAN MENJAUHI DOSA-DOSA BESAR

Rasulullah ﷺ bersabda:

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ مَا لَمْ تُغْشَ الْكَبَائِرُ

“Sholat yang lima waktu, sholat Jumat sampai Jumat berikutnya, dan puasa Ramadan sampai Ramadan berikutnya, adalah penghapus-penghapus dosa di antara waktu-waktu tersebut, selama dosa besar tidak dilakukan.” [HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

Hadis yang mulia ini menunjukkan keutamaan beramal saleh dan menjauhi dosa-dosa besar, yaitu mendapatkan ampunan atas dosa-dosa kecil.

Dan sungguh seorang hamba sangat membutuhkan ampunan Allah ‘azza wa jalla dari dosa-dosa besar maupun kecil. Karena dosa-dosa kecil sekali pun, jika terus dilakukan, maka akan menjadi besar dan membinasakan pelakunya.

Namun untuk mendapatkan ampunan atas dosa-dosa besar harus dengan bertaubat kepada Allah ‘azza wa jalla.

Asy-Syaikhul ‘Allaamah Ibnu Baz rahimahullah berkata:

قال جمهور أهل العلم: إن أداء الفرائض وترك الكبائر يكفر السيئات الصغائر، أما الكبائر فلا يكفرها إلا التوبة إلى الله سبحانه وتعالى

“Jumhur ulama berkata: Sesungguhnya mengamalkan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan dosa-dosa besar dapat menghapus dosa-dosa kecil. Adapun dosa-dosa besar tidak dapat dihapus kecuali dengan taubat kepada Allah subhanahu wa ta’ala.” [Fatawa Nur ‘alad Darb, 6/64]

Dan taubat yang benar adalah dengan memenuhi enam syarat taubat:
1. Ikhlas karena Allah ‘azza wa jalla.
2. Menyesali dosanya.
3. Meninggalkannya.
4. Bertekad tidak akan melakukannya lagi di masa yang akan datang.
5. Sebelum habis waktunya, yaitu sebelum datangnya kematian atau sebelum terbitnya matahari dari arah Barat.
6. Jika dosa itu adalah kesalahan kepada orang lain, maka harus meminta maaf atau mengembalikan haknya.

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/taawundakwah/posts/1919002844999184:0