Posts

,

TAHUKAH ANDA, BAHWA DEMONSTRASI ADALAH SUNNAHNYA ORANG-ORANG KHAWARIJ?

TAHUKAH ANDA, BAHWA DEMONSTRASI ADALAH SUNNAHNYA ORANG-ORANG KHAWARIJ?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
TAHUKAH ANDA, BAHWA DEMONSTRASI ADALAH SUNNAHNYA ORANG-ORANG KHAWARIJ?
Kenapa? Karena Merekalah Yang Pertama Kali Melakukannya
 
Khawarij berasal dari kata khuruj yang artinya memberontak. Mereka adalah satu kelompok yang menjadikan PEMBERONTAKAN TERHADAP PARA PENGUASA SEBAGAI AGAMANYA. Mereka mengafirkan kaum Muslimin dengan dosa-dosa besar, khususnya terhadap para penguasa. Kemudian menghalalkan darah mereka sebagai jembatan untuk menghalalkan pemberontakan terhadap mereka. Mereka adalah kaum reaksioner yang berjalan dengan emosinya tanpa didasari ilmu.
 
Atas dasar itulah mereka berduyun-duyun datang ke Madinah dari Mesir, Kuffah dan Basrah menuju rumah Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu MENUNTUT diturunkannya beliau dari Khilafah. Mereka menuduh Utsman menyelewengkan harta Baitulmal (korupsi), Utsman lebih mementingkan keluarganya (nepotisme), dan lain-lain.
 
INILAH DEMONSTRASI PERTAMA DALAM SEJARAH ISLAM, yang merupakan Sunnah Sayyi’ah (contoh yang jelek) dari kaum Khawarij. Demonstrasi mereka itu berakhir dengan anarkis hingga terbunuhlah Utsman ibnu Affan radhiallahu ‘anhu.
 
Jika manusia terbaik setelah Abu Bakar dan Umar dituduh dengan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), maka bagaimana mereka akan puas dengan khalifah-khalifah setelahnya? Terlebih lagi pemimpin kaum Muslim pada zaman kita ini. Dengan kata lain mereka akan tetap tidak pernah puas terhadap pemimpin manapun sampai akhir zaman. Dan mereka akan terus hidup memberontak, membunuh dan meneror kaum Muslimin.
Wallahul musta’an.
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#MutiaraSunnah #dakwahsunnah #sunnahnyaorangorangkhawarij #kawarij #khawarij, #demonstrasi #demo #demostrasi #berontak #pemberontakan #khuruj #memberontak #UtsmanbinAfan #UtsmanbinAffan #demonstrasipertamadalamsejarahIslam #demonstrasipertama
,

DEMONSTRASI DITOLAK OLEH AKAL SEHAT

DEMONSTRASI DITOLAK OLEH AKAL SEHAT
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
DEMONSTRASI DITOLAK OLEH AKAL SEHAT
 
Cobalah kita bayangkan!
 
Jika suatu ketika ayah kita sendiri, yang telah merawat kita sejak kecil dan membiayai segala keperluan kita sampai bisa menikmati bangku kuliah. Bahkan dia tidak bisa tidur nyenyak karena memikirkan anak dan istrinya. Suatu ketika ayah kita itu melakukan sebuah kekeliruan, kalau memang itu sebuah kekeliruan, yang menyangkut kepentingan keluarga; anak dan istrinya.
 
Yang jadi pertanyaan: Apakah layak seorang anak seperti kita, kemudian berkoar-koar di depan rumah atau di jalan-jalan, dengan membawa megaphone dan spanduk keprihatinan, mengobral aib keluarga, agar publik tahu dan media massa pun meliputnya?!
 
Seolah-olah kita berkata: “Biarlah seluruh dunia tahu apa yang terjadi pada keluarga kita…!”
 
Laa haula wa laa quwwata illa billaah! Adakah akal sehat manusia yang membolehkan perbuatan semacam ini?!
 
Kalau terhadap seorang kepala rumah tangga saja perbuatan semacam ini TIDAK LAYAK dan TIDAK SOPAN, maka bagaimanakah lagi jika yang dijelek-jelekkan di muka umum ini adalah kepala sebuah negara?!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
,

HATI-HATI TERHADAP VIRUS PEMIKIRAN KHAWARIJ

HATI-HATI TERHADAP VIRUS PEMIKIRAN KHAWARIJ

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#ManhajSalaf, #SayNoToDemonstrasi

HATI-HATI TERHADAP VIRUS PEMIKIRAN KHAWARIJ
>> Di antara Ciri Khawariji adalah Keluar dari Taat pada Penguasa

Suatu saat, Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah mendapat pertanyaan: “Orang yang suka mengafirkan penguasa dan memprovokasi kaum Muslimin untuk memberontak kepada para penguasa mereka. Apakah orang semacam itu termasuk dalam kategori Khawarij?”

Beliau menjawab:
Inilah madzhab/pemahaman Khawarij. Yaitu ketika dia memandang bolehnya memberontak kepada para pemimpin kaum Muslimin. Dan yang lebih parah daripada itu, apabila dia juga mengafirkan mereka, maka ini jelas termasuk Madzhab Khawarij.

Sumber: al-Ijabat al-Muhimmah fil Masyakil al-Mulimmah, Juz 1 halaman 8

Catatan redaksi:
Syaikh di sini menyatakan bahwa PERBUATAN tersebut adalah PEMIKIRAN KHAWARIJ. Beliau TIDAK mengatakan, orang yang melakukannya disebut orang khawarij. Ini DUA HAL YANG BERBEDA. Vonis individu bukan urusan ringan, dan banyak faktor yang perlu dilihat.

***
Sumber: https://Muslim.or.id/21905-fatwa-ulama-pemikiran-khawarij.html
***

Penerjemah: Ari Wahyudi

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

,

MENAATI PEMIMPIN DALAM KEBAJIKAN

MENAATI PEMIMPIN DALAM KEBAJIKAN

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

MENAATI PEMIMPIN DALAM KEBAJIKAN
 
Taat kepada pemimpin adalah suatu KEWAJIBAN, sebagaimana disebutkan dalam Al Kitab dan As Sunnah. Di antaranya Allah ta’ala berfirman:
 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ
 
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan Ulil Amri di antara kamu.” [QS. An Nisa’ [4]: 59]
 
Dalam ayat ini Allah menjadikan ketaatan kepada pemimpin pada urutan ketiga setelah ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya ﷺ. Namun, untuk pemimpin di sini tidaklah datang dengan lafal ‘Taatilah’, karena ketaatan kepada pemimpin merupakan IKUTAN (TAABI’) dari ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya ﷺ. Oleh karena itu, apabila seorang pemimpin memerintahkan untuk berbuat maksiat kepada Allah, maka TIDAK ADA LAGI KEWAJIBAN dengar dan taat.
 
Makna zahir (tekstual) dari hadis ini adalah kita wajib mendengar dan taat kepada pemimpin, WALAUPUN MEREKA BERMAKSIAT KEPADA ALLAH, dan TIDAK MENYURUH KITA UNTUK BERBUAT MAKSIAT KEPADA ALLAH. Karena terdapat hadis Nabi ﷺ dari Hudzaifah bin Al Yaman, beliau ﷺ bersabda:
 
« يَكُونُ بَعْدِى أَئِمَّةٌ لاَ يَهْتَدُونَ بِهُدَاىَ وَلاَ يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِى وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِى جُثْمَانِ إِنْسٍ ». قَالَ قُلْتُ كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ قَالَ « تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ ».
 
“Nanti setelah aku akan ada seorang pemimpin yang tidak mendapat petunjukku (dalam ilmu, pen) dan tidak pula melaksanakan sunnahku (dalam amal, pen). Nanti akan ada di tengah-tengah mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan, namun jasadnya adalah jasad manusia. “
Aku berkata: “Wahai Rasulullah, apa yang harus aku lakukan jika aku menemui zaman seperti itu?”
Beliau ﷺ bersabda: ”DENGARLAH DAN TAAT KEPADA PEMIMPINMU, WALAUPUN MEREKA MENYIKSA PUNGGUNGMU DAN MENGAMBIL HARTAMU. Tetaplah mendengar dan taat kepada mereka.” [HR. Muslim no. 1847. Lihat penjelasan hadis ini dalam Muroqotul Mafatih Syarh Misykah Al Mashobih, 15/343, Maktabah Syamilah]
 
Padahal menyiksa punggung dan mengambil harta tanpa ada sebab yang dibenarkan oleh syariat, tanpa ragu lagi, termasuk maksiat. Seseorang tidak boleh mengatakan kepada pemimpinnya tersebut: “Saya tidak akan taat kepadamu sampai engkau menaati Rabbmu.” Perkataan semacam ini adalah suatu yang TERLARANG. Bahkan seseorang wajib menaati mereka (pemimpin), WALAUPUN MEREKA DURHAKA KEPADA RABBNYA.
 
Adapun jika mereka MEMERINTAHKAN kita untuk BERMAKSIAT kepada Allah, maka kita DILARANG untuk mendengar dan menaati mereka. Karena Rabb pemimpin kita , dan Rabb kita (rakyat) adalah satu yaitu Allah ta’ala. Oleh karena itu wajib taat kepada-Nya. Apabila mereka memerintahkan kepada maksiat, maka TIDAK ADA KEWAJIBAN MENDENGAR dan TAAT.
Rasulullah ﷺ bersabda:
 
لاَ طَاعَةَ فِى مَعْصِيَةٍ ، إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِى الْمَعْرُوفِ
 
“Tidak ada kewajiban taat dalam rangka bermaksiat (kepada Allah). Ketaatan hanyalah dalam perkara yang ma’ruf (bukan maksiat).” [HR. Bukhari no. 7257]
 
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
 
عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ ، فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ ، مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ ، فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ
 
“Seorang Muslim wajib mendengar dan taat dalam perkara yang dia sukai atau benci, selama tidak diperintahkan untuk bermaksiat. Apabila diperintahkan untuk bermaksiat, maka tidak ada kewajiban mendengar dan taat.” [HR. Bukhari no. 7144]
[Pembahasan ini kami sarikan dari penjelasan Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin dalam Syarh Arba’in An NAwawiyah, hal. 279, Daruts Tsaroya]
 
 

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

,

INGAT! SALAFY BUKAN ISIS

INGAT! SALAFY BUKAN ISIS
Bismillah
 
#AkidahManhaj
 
INGAT! SALAFY BUKAN ISIS
>> Benarkah ISIS itu Salafi?

Pertanyaan:
Berbagai isu negatif yang menjangkiti umat Islam, di antaranya ada yang mengatakan: ISIS itu berasal dari Salafy. Apakah ini benar?
 
Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,
 
Salafy secara bahasa berasal dari kata salaf [السلف], yang artinya pendahulu. Nabi ﷺ pernah membisikkan kepada Fatimah, ketika beliau ﷺ merasa ajal beliau ﷺ sudah dekat:
 
وَإِنِّى لاَ أُرَى الأَجَلَ إِلاَّ قَدِ اقْتَرَبَ فَاتَّقِى اللَّهَ وَاصْبِرِى فَإِنَّهُ نِعْمَ السَّلَفُ أَنَا لَكِ… يَا فَاطِمَةُ أَمَا تَرْضَىْ أَنْ تَكُونِى سَيِّدَةَ نِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ
 
“Saya merasa bahwa ajalku telah dekat. Karena itu bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah, karena sebaik-baik pendahulu adalah saya bagimu.” Kemudian Nabi ﷺ bersabda: “Wahai Fatimah, tidakkah kamu senang, jika kamu menjadi pemimpin para wanita Mukminin…” [HR. Bukhari 5928 dan Muslim 6467]
 
Nabi ﷺ adalah pendahulu bagi putrinya, Fatimah. Karena beliau ﷺ meninggal sebelum Fatimah.
 
Disebut Salafy, diberi tambahan ya nisbah [السلفي] yang berarti pengikut. Sehingga disebut Salafy, karena mereka memiliki komitmen untuk menggiring ajaran Islam murni, sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ dan para sahabat.
 
Selanjutnya, kita akan melihat kondisi ISIS. Kita tidak sedang membahas secara detail siapa itu ISIS. Hanya ada ada beberapa catatan mengenai ideologi ISIS, agar kita bisa bandingkan dengan kondisi beberapa kegiatan dakwah di tanah air.
 
Di antara ideologi ISIS yang bisa kita kenali:
 
[1] Mengklaim bahwa pimpinan mereka adalah Khalifah yang wajib dibaiat dan ditaati oleh setiap Muslim sedunia.
 
Dan ini bagian dari ciri Khawarij. Dalam sejarah Islam, mereka selalu mengaku bahwa pemimpin mereka adalah pemimpin yang sah dan mutlak untuk ditaati.
 
[2] Mengafirkan setiap Muslim yang tidak mau membaiat Khalifah mereka.
 
Dan ini juga bagian dari ciri Khawarij. Mereka terbiasa mengafirkan orang Muslim yang tidak mau menerima pandangan dan pendapatnya.
 
[3] Menghalalkan darah setiap orang yang tidak mau membaiat khilafah mereka.
 
Dalam doktrin ISIS, Muslim yang di luar kelompok mereka, yang mereka sebut sebagai orang murtad, lebih utama untuk dibunuh dan diperangi, sebelum memerangi orang-orang kafir asli.
 
[4] Mewajibkan setiap Muslim untuk membatalkan baiat mereka kepada pemimpin negara mereka masing-masing.
 
Karena itu, ISIS di mana-mana menyerukan pemberontakan terhadap pemimpin kaum Muslimin di negara mereka masing-masing.
 
Beberapa ideologi ini bisa disaksikan dengan kasat mata bagi mereka yang membaca berita tentang ISIS.
 
[5] Orang yang melakukan dosa besar, boleh dibunuh.
 
Menurut mereka, seorang pemimpin harus terlepas dari dosa-dosa besar. Bila seorang pemimpin terjatuh dalam dosa besar, wajib diganti. Bahkan harus dibunuh karena dia telah kafir disebabkan dosa besar, kecuali jika dia bertobat dan menyatakan keIslamannya kembali.
 
Antara ISIS dan Salafy
 
Untuk melihat bagaimana prinsip dakwah Salafy, kita bisa menyimak buku dan referensi yang sering diajarkan para dai Salafy kepada masyarakat. Jika kita sebut, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah pemimpin dakwah salaf, bararti karya beliau bisa dijadikan representasi prinsip ajaran Salafy.
 
Ada beberapa hal yang menonjol dari karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab,
 
[1] Menegakkan Tauhid yang Benar
 
Tidak ada yang salah dengan dakwah, mengajak masyarakat kembali kepada ajaran tauhid yang benar. Bahkan tauhid merupakan tujuan dasar manusia dan jin diciptakan. Kita bisa membaca firman Allah di surat ad-Dzariyat:
 
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
 
“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali agar mereka memurnikan ibadah kepada-Ku.” [QS. ad-Dzariyat: 56].
 
Ada banyak karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab yang menjadi bukti perhatian beliau terhadap pemurnian tauhid, seperti; Kitabut Tauhid, Qawaidul Arba’, Al-Ushul At-Tsalatsah, Kasyfu as-Syubuhat, dan masih banyak lagi risalah masalah tauhid yang beliau sebarkan ke masyarakat yang menjadi sasaran dakwah beliau.
 
Dan tidak ada dalam kitab-kitab itu yang mengafirkan Ahli Kiblat (kaum Muslimin). Yang ada adalah meluruskan sebagian tradisi kaum Muslimin yang menyimpang dari ajaran tauhid yang benar.
 
Ini sangat berbeda dengan ISIS. Orang yang mendengar ISIS bisa memahami dengan pasti, bahwa pusat perhatian ISIS adalah bagaimana mengajak manusia untuk membaiat Khalifah mereka. terlepas dari latar belakang akidahnya.
 
[2] Mengakui dan Taat Kepada Pemimpin Muslim yang Sah
 
Di beberapa karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, beliau menegaskan, bahwa bagian dari prinsip Islam adalah mengakui dan menaati pemimpin yang sah di negara mereka.
 
Dalam kitab yang berjudul Al-Ushul As-Sittah (Enam Prinsip Dalam Beragama), beliau menyatakan di prinsip kedua:
 
أمر الله بالاجتماع في الدين ونهى عن التفرق فيه، فبين الله هذا بياناً شافياً تفهمه العوام ، ونهانا أن نكون كالذين تفرقوا واختلفوا قبلنا فهلكوا
 
Allah perintahkan untuk bersatu di atas agama yang benar, dan melarang berpecah belah. Allah jelaskan dengan penjelasan yang sangat jelas, bisa dimengerti oleh orang awam. Dan Allah melarang kita untuk meniru umat sebelum kita yang berpecah dan berselisih, sehingga mereka binasa.
 
Kemudian di prinsip ketiga, beliau menyatakan:
 
أن من تمام الاجتماع السمع والطاعة لمن تأمر علينا ولو كان عبداً حبشياً
 
Dan bagian dari kesempurnaan dalam menjaga persatuan adalah mendengar dan taat kepada pihak yang menjadi pemimpin kita, meskipun dia seorang budak dari Ethiopia.
 
Meskipun pengandaian ini tidak mungkin terjadi, karena pemimpin tidak mungkin seorang budak. Namun, sekalipun pemimpin negara kita bukan termasuk orang yang memenuhi kriteria pemimpin yang ideal, kita tetap diwajibkan untuk tunduk dan taat, selama tidak memerintahkan untuk maksiat.
 
Prinsip ini juga ditegaskan para ulama Salafy yang lainnya, seperti Syaikh Abdus Salam bin Barjas, yang menulis buku khusus mengenai adab rakyat terhadap pemerintahnya, yang berjudul ‘Muamalah al-Hukkam’. Dalam buku ini, beliau banyak menegaskan pentingnya menaati pemerintah di masing-masing wilayah. Beliau sebutkan banyak dalil dan keterangan para ulama Salafy.
 
Karya lain yang ditulis ulama Salafy mengenai pentingnya menaati pemerintah adalah al-Adillah as-Syar’iyah fi Bayan Haq ar-Ra’i wa ar-Ra’iyah, karya Syaikh Muhammad bin Abdillah as-Subayyil. Buku ini menjelaskan tugas dan kewajiban rakyat kepada pemerintah dan sebaliknya, pemerintah kepada rakyatnya.
 
Ibarat langit dan bumi, ketika prinsip di atas disandingkan dengan ideologi ISIS. Mereka memiliki prinsip, semua pemerintah di wilayah selain daulah Islamiyah adalah kafir dan wajib diberontak. Dan rakyat wajib melengserkan pemimpinnya, jika mereka melakukan kesalahan yang statusnya dosa besar.
 
[3] Tidak Mengafirkan Satu Pun Kaum Muslimin, Disebabkan Dosa Besar
 
Terdapat banyak pernyataan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab yang menegaskan, bahwa beliau tidak menngkafirkan Ahli Kiblat seorang pun. Kecuali perbuatan dosa yang dinyatakan sebagai kekufuran oleh syariat, seperti dosa syirik, sihir, menghina Allah atau menghina syariat, dst.
 
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab mengatakan:
 
لا نكفر أحداً من أهل القبلة بذنب، وإنما نكفر لهم، بما نص الله، ورسوله، وإجماع
 
Kami tidak mengafirkan siapapun di kalangan Ahli Kiblat, disebabkan perbuatan dosa yang mereka lakukan. Kami hanya menilai kafir disebabkan perbuatan yang dinyatakan oleh Allah, Rasul-Nya dan Ijma ulama, bahwa itu kekufuran. [ad-Durar as-Saniyah, 1/293]
 
Sangat berbeda dengan prinsip ISIS. Mengafirkan kaum Muslimin, sudah menjadi tabiat dasar mereka. Bahkan dengan alasan itu, mereka jadikan sebagai alasan untuk menghalalkan darah mereka.
 
Dan jika kita perhatikan, belum pernah kita jumpai di dunia maya maupun nyata, bantahan terhadap ISIS yang melebihi bantahan para ulama dan dai Salafy. Mereka tidak hanya mengingatkan masyarakat terhadap bahaya kekejaman dan pembantaian ISIS. Sampai mereka juga membantah dari sisi ideologi dan landasan berfikirnya.
 
Ada satu kumpulan artikel para ulama Salafy, yang semua berisi bantahan untuk ISIS berikut ideologinya. Kita bisa lihat kumpulan itu di: http://sunnahway.net/node/2589
 
Demikian pula, tidak ada negara yang lebih dimusuhi ISIS, melebihi negara yang digelari Wahabi (Saudi). Sampai mereka bertekad untuk menghabisi semua rakyat Saudi. Kita bisa lihat pernyataan kemarahan mereka di: https://youtu.be/6vpzLG7jJVY
 
Bukankah banyak anggota ISIS yang dulu belajar di Timur Tengah?
 
Kami tidak menjumpai bukti otentik tentang itu. Andaipun itu benar, seharusnya kita bisa membedakan mana guru mana murid. Dulu Washil bin Atha (Founder pemikiran Mu’tazilah) adalah muridnya Hasan al-Bashri. Namun tidak ada satu pun yang mengatakan: Mu’tazilah adalah pengembangan dari ajarannya Hasan al-Bashri. Dulu, Juhayman bin Muhammad al-Uthaibi (pembajak Masjidil Haram) adalah muridnya Syaikh Ibnu Baz. Meskipun tidak ada satu pun orang yang mengatakan: pembajakan masjidil haram berasal dari pemikiran Syaikh Ibnu Baz…
 
Ketika murid menyimpang, guru yang baik tentu tidak disalahkan.
 
Bisa jadi ada anggota ISIS yang dulunya belajar di Saudi, tapi itu sama sekali tidak sejalan dengan prinsip yang diajarkan para ulama Saudi.
 
Demikian, Allahu a’lam.
 
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)
,

TAHDZIR ADALAH TANDA CINTA YANG HAKIKI

TAHDZIR ADALAH TANDA CINTA YANG HAKIKI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#ManhajAkidah

TAHDZIR ADALAH TANDA CINTA YANG HAKIKI

Di antara tugas penting seorang dai Ahlus Sunnah adalah men-tahdzir kesesatan dan para dai sesat, demi menyelamatkan umat dari kesesatan tersebut.

Inilah tanda cinta yang hakiki. Karena kita sayang kepada saudara kita, maka jangan biarkan dia terjerumus dalam kesesatan. Oleh karena itu, ulama dahulu sangat menghargai dan mencintai orang yang menasihati mereka.

Al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata:

ﻭﻗﺪ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﺴﻠﻒ ﻳﺤﺒﻮﻥ ﻣﻦ ﻳﻨﺒﻬﻬﻢ ﻋﻠﻰ ﻋﻴﻮﺑﻬﻢ ﻭﻧﺤﻦ ﺍﻵﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﻐﺎﻟﺐ ﺃﺑﻐﺾ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺇﻟﻴﻨﺎ ﻣﻦ ﻳﻌﺮﻓﻨﺎ ﻋﻴﻮﺑﻨﺎ

“Sungguh generasi Salaf dahulu mencintai orang yang mengingatkan kesalahan mereka. Namun kita sekarang umumnya, yang paling kita benci adalah yang memberitahukan kesalahan kita.” [Minhaajul Qooshidin, hal. 196]

Tahdzir Adalah Kasih Sayang Yang Sejati

Men-tahdzir seorang dai sesat juga merupakan kasih sayang kepadanya dari dua sisi:

  1. Agar dia kembali kepada kebenaran dan selamat dari kesesatan di dunia, dan azab Allah ‘azza wa jalla di Akhirat.
  1. Agar dosanya tidak semakin banyak, dengan semakin banyaknya orang yang mengikuti kesesatannya.

Abu Shalih Al-Farra’ rahimahullah berkata:

حَكَيتُ لِيُوْسُفَ بنِ أَسْبَاطٍ عَنْ وَكِيْعٍ شَيْئاً مِنْ أَمرِ الفِتَن، فَقَالَ: ذَاكَ يُشْبِهُ أُسْتَاذَهُ. يَعْنِي: الحَسَنَ بنَ حَيٍّ. فَقُلْتُ لِيُوْسُفَ: أَمَا تَخَافُ أَنْ تَكُوْنَ هَذِهِ غِيبَةً? فَقَالَ: لِمَ يَا أَحْمَقُ، أَنَا خَيْرٌ لِهَؤُلاَءِ مِنْ آبَائِهِم وَأُمَّهَاتِهِم، أَنَا أَنْهَى النَّاسَ أَنْ يَعْمَلُوا بِمَا أَحْدَثُوا، فَتَتْبَعُهُم أَوْزَارُهُم، وَمَنْ أَطْرَاهُم كَانَ أَضَرَّ عَلَيْهِم

“Aku menghikayatkan kepada Yusuf bin Asbath sesuatu tentang Waki’ terkait perkara ‘fitnah’. Maka beliau berkata: Dia menyerupai gurunya, yaitu Al-Hasan bin Shalih bin Hayy. Aku pun berkata kepada Yusuf: Apakah kamu tidak takut ini menjadi ghibah? Maka beliau berkata: Kenapa wahai dungu? Justru aku lebih baik bagi mereka daripada bapak dan ibu mereka sendiri. Aku melarang manusia agar tidak mengamalkan bid’ah yang mereka ada-adakan, agar dosa-dosa mereka tidak berlipat-lipat. Orang yang memuji mereka justru yang membahayakan mereka.” [Siyar A’lamin Nubala’, 7/54]

Mengapa Al-Hasan Bin Shalih Bin Hay Di-Tahdzir?

Para ulama dahulu men-tahdzir Al-Hasan bin Shalih bin Hay, padahal beliau adalah penghapal Alquran, penghapal hadis dengan sanad-sanadnya, bukan sekedar nomor-nomornya. Beliau juga ahli fikih dan ahli ibadah. Mungkin tidak ada manusia zaman sekarang yang memyamainya dalam hal tersebut.

Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah berkata tentangnya:

الإِمَامُ الكَبِيْرُ، أَحَدُ الأَعْلاَمِ، أَبُو عَبْدِ اللهِ الهَمْدَانِيُّ، الثَّوْرِيُّ، الكُوْفِيُّ، الفَقِيْهُ، العَابِدُ

“Dia adalah imam besar. Salah seorang tokoh. Dialah Abu Abdillah Al-Hamadani Ats-Tsauri Al-Kufi, seorang yang fakih, ahli ibadah.” [Siyar A’lamin Nubala’, 7/52]

Beliau ditahdzir hanya karena satu bid’ah, namun tergolong bid’ah yang berat, yaitu bid’ah Khawarij, yang di masa ini mirip dengan aksi demo atau mendukung aksi tersebut. Sebuah aksi yang secara teori dan fakta dapat memrovokasi masa untuk memberontak, menumpahkan darah, merusak stabilitas keamanan, dan mengganggu kenyamanan orang banyak, dengan adanya kemacetan jalan atau kericuhan dan lain-lain.

Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah berkata:

كَانَ يَرَى الحَسَنُ الخُرُوْجَ عَلَى أُمَرَاءِ زَمَانِهِ لِظُلْمِهِم وَجَوْرِهِم، وَلَكِنْ مَا قَاتَلَ أَبَداً، وَكَانَ لاَ يَرَى الجُمُعَةَ خَلْفَ الفَاسِقِ

“Al-Hasan berpendapat bolehnya memberontak terhadap Pemerintah di masanya, karena kezaliman dan ketidakadilan mereka. Akan tetapi dia tidak pernah berperang selamanya. Dan dia juga berpendapat, tidak boleh sholat Jumat di belakang imam yang fasik.” [Siyar A’lamin Nubala’, 7/58]

Oleh karena itu, dahulu ada sekte Khawarij yang kerjanya hanya berbicara tentang kejelekan pemerintah, tidak ikut mengangkat senjata untuk memberontak.

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Baca selengkapnya: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/771429409673210:0

,

PENJELASAN TENTANG TAHDZIR ADALAH TANDA CINTA DAN JAWABAN TERHADAP SYUBHAT DEMO YANG DIBOLEHKAN PEMERINTAH

PENJELASAN TENTANG TAHDZIR ADALAH TANDA CINTA DAN JAWABAN TERHADAP SYUBHAT DEMO YANG DIBOLEHKAN PEMERINTAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

PENJELASAN TENTANG TAHDZIR ADALAH TANDA CINTA DAN JAWABAN TERHADAP SYUBHAT DEMO YANG DIBOLEHKAN PEMERINTAH

Tahdzir Adalah Tanda Cinta Yang Hakiki

Di antara tugas penting seorang da’i Ahlus Sunnah adalah men-tahdzir kesesatan dan para da’i sesat, demi menyelamatkan umat dari kesesatan tersebut.

Inilah tanda cinta yang hakiki. Karena kita sayang kepada saudara kita, maka jangan biarkan dia terjerumus dalam kesesatan. Oleh karena itu, ulama dahulu sangat menghargai dan mencintai orang yang menasihati mereka.

Al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata:

ﻭﻗﺪ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﺴﻠﻒ ﻳﺤﺒﻮﻥ ﻣﻦ ﻳﻨﺒﻬﻬﻢ ﻋﻠﻰ ﻋﻴﻮﺑﻬﻢ ﻭﻧﺤﻦ ﺍﻵﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﻐﺎﻟﺐ ﺃﺑﻐﺾ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺇﻟﻴﻨﺎ ﻣﻦ ﻳﻌﺮﻓﻨﺎ ﻋﻴﻮﺑﻨﺎ

“Sungguh generasi Salaf dahulu mencintai orang yang mengingatkan kesalahan mereka. Namun kita sekarang umumnya, yang paling kita benci adalah yang memberitahukan kesalahan kita.” [Minhaajul Qooshidin, hal. 196]

Tahdzir Adalah Kasih Sayang Yang Sejati

Men-tahdzir seorang da’i sesat juga merupakan kasih sayang kepadanya dari dua sisi:

  1. Agar dia kembali kepada kebenaran dan selamat dari kesesatan di dunia dan azab Allah ‘azza wa jalla di Akhirat.
  2. Agar dosanya tidak semakin banyak dengan semakin banyaknya orang yang mengikuti kesesatannya.

Abu Shalih Al-Farra’ rahimahullah berkata:

حَكَيتُ لِيُوْسُفَ بنِ أَسْبَاطٍ عَنْ وَكِيْعٍ شَيْئاً مِنْ أَمرِ الفِتَن، فَقَالَ: ذَاكَ يُشْبِهُ أُسْتَاذَهُ. يَعْنِي: الحَسَنَ بنَ حَيٍّ. فَقُلْتُ لِيُوْسُفَ: أَمَا تَخَافُ أَنْ تَكُوْنَ هَذِهِ غِيبَةً? فَقَالَ: لِمَ يَا أَحْمَقُ، أَنَا خَيْرٌ لِهَؤُلاَءِ مِنْ آبَائِهِم وَأُمَّهَاتِهِم، أَنَا أَنْهَى النَّاسَ أَنْ يَعْمَلُوا بِمَا أَحْدَثُوا، فَتَتْبَعُهُم أَوْزَارُهُم، وَمَنْ أَطْرَاهُم كَانَ أَضَرَّ عَلَيْهِم

“Aku menghikayatkan kepada Yusuf bin Asbath sesuatu tentang Waki’ terkait perkara ‘fitnah’. Maka beliau berkata: Dia menyerupai gurunya, yaitu Al-Hasan bin Shalih bin Hayy. Aku pun berkata kepada Yusuf: Apakah kamu tidak takut ini menjadi ghibah? Maka beliau berkata: Kenapa wahai dungu, justru aku lebih baik bagi mereka daripada bapak dan ibu mereka sendiri. Aku melarang manusia agar tidak mengamalkan bid’ah yang mereka ada-adakan, agar dosa-dosa mereka tidak berlipat-lipat. Orang yang memuji mereka justru yang membahayakan mereka.” [Siyar A’lamin Nubala’, 7/54]

Mengapa Al-Hasan Bin Shalih Bin Hay Di-Tahdzir?

Para ulama dahulu men-tahdzir Al-Hasan bin Shalih bin Hay, padahal beliau adalah penghapal Alquran, penghapal hadis dengan sanad-sanadnya, bukan sekedar nomor-nomornya. Beliau juga ahli fikih dan ahli ibadah. Mungkin tidak ada manusia zaman sekarang yang memyamainya dalam hal tersebut.

Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah berkata tentangnya:

الإِمَامُ الكَبِيْرُ، أَحَدُ الأَعْلاَمِ، أَبُو عَبْدِ اللهِ الهَمْدَانِيُّ، الثَّوْرِيُّ، الكُوْفِيُّ، الفَقِيْهُ، العَابِدُ

“Dia adalah imam besar. Salah seorang tokoh. Dialah Abu Abdillah Al-Hamadani Ats-Tsauri Al-Kufi, seorang yang fakih, ahli ibadah.” [Siyar A’lamin Nubala’, 7/52]

Beliau ditahdzir hanya karena satu bid’ah, namun tergolong bid’ah yang berat, yaitu bid’ah Khawarij, yang di masa ini mirip dengan aksi demo atau mendukung aksi tersebut. Sebuah aksi yang secara teori dan fakta dapat memrovokasi masa untuk memberontak, menumpahkan darah, merusak stabilitas keamanan, dan mengganggu kenyamanan orang banyak, dengan adanya kemacetan jalan atau kericuhan dan lain-lain.

Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah berkata:

كَانَ يَرَى الحَسَنُ الخُرُوْجَ عَلَى أُمَرَاءِ زَمَانِهِ لِظُلْمِهِم وَجَوْرِهِم، وَلَكِنْ مَا قَاتَلَ أَبَداً، وَكَانَ لاَ يَرَى الجُمُعَةَ خَلْفَ الفَاسِقِ

“Al-Hasan berpendapat bolehnya memberontak terhadap Pemerintah di masanya, karena kezaliman dan ketidakadilan mereka. Akan tetapi dia tidak pernah berperang selamanya. Dan dia juga berpendapat, tidak boleh sholat Jumat di belakang imam yang fasik.” [Siyar A’lamin Nubala’, 7/58]

Oleh karena itu, dahulu ada sekte Khawarij yang kerjanya hanya berbicara tentang kejelekan pemerintah, tidak ikut mengangkat senjata untuk memberontak.

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolani Asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

والقعدية قوم من الخوارج كانوا يقولون بقولهم ولا يرون الخروج بل يزينونه

“Al-Qo’adiyah adalah satu kaum dari golongan Khawarij, yang dahulu berpendapat dengan ucapan mereka, dan mereka tidak memandang untuk memberontak, akan tetapi mereka memrovokasi untuk melakukannya (dengan kata-kata).” [Fathul Bari, 1/432]

Jawaban Syubhat: Jika Pemerintah Membolehkan Demo, Maka Menjadi Boleh

  1. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِي سُلْطَانٍ فَلا يُبْدِهِ عَلانِيَةً وَلَكِنْ يَأْخُذُ بِيَدِهِ فَيَخْلُوا بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلا كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ

“Barang siapa yang ingin menasihati penguasa, janganlah ia menampakkannya terang-terangan. Akan tetapi hendaklah ia meraih tangan sang penguasa, lalu menyepi dengannya, lalu sampaikan nasihatnya. Jika nasihat itu diterima, maka itulah yang diinginkan. Namun jika tidak, maka sungguh ia telah melaksanakan kewajiban (menasihati penguasa).” [HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah dari ‘Iyadh bin Ganm radhiyallahu’anhu, dishahihkan Al-Muhaddits Asy-Syaikh Al-Albani dalam Zhilalul Jannah: 1096]

Petuah Rasulullah ﷺ di dalam hadis yang mulia ini benar-benar diamalkan oleh sebaik-baik generasi, yaitu para sahabat radhiyallahu’anhum. Tatkala seseorang berkata kepada sahabat yang mulia Usamah bin Zaid radhiyallahu’anhuma:

أَلاَ تَدْخُلُ عَلَى عُثْمَانَ فَتُكَلِّمَهُ فَقَالَ أَتُرَوْنَ أَنِّى لاَ أُكَلِّمُهُ إِلاَّ أُسْمِعُكُمْ وَاللَّهِ لَقَدْ كَلَّمْتُهُ فِيمَا بَيْنِى وَبَيْنَهُ مَا دُونَ أَنْ أَفْتَتِحَ أَمْرًا لاَ أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ أَوَّلَ مَنْ فَتَحَهُ

“Tidakkah engkau masuk menemui ‘Utsman untuk berbicara dengannya (menasihatinya)? Maka ia berkata: “Apakah kalian menyangka bahwa aku tidak berbicara kepadanya, kecuali aku harus memerdengarkan kepada kalian?! Sesungguhnya aku telah berbicara kepadanya, ketika hanya antara aku dan dia saja, tanpa aku membuka satu perkara yang aku tidak suka untuk membukanya pertama kali.” [HR. Al-Bukhari dalam Shohih-nya (no. 3267) dan Muslim dalam Shohih-nya (no. 2989), dan lafal ini milik Muslim]

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolani Asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

قوله قد كلمته ما دون أن افتح بابا أي كلمته فيما أشرتم إليه لكن على سبيل المصلحة والأدب في السر بغير ان يكون في كلامي ما يثير فتنة أو نحوها

“Ucapan beliau (Usamah bin Zaid radhiyallahu’anhu): “Sungguh aku telah berbicara dengannya tanpa aku membuka sebuah pintu” maknanya adalah, aku telah berbicara kepadanya dalam perkara yang kalian maksudkan tersebut, akan tetapi dengan jalan maslahat dan adab secara rahasia, TANPA ada dalam ucapanku sesuatu yang dapat mengobarkan fitnah (kekacauan) atau semisalnya.” [Fathul Bari, 13/51]

Asy-Syaikhul ‘Allaamah Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata:

فالنصح يكون بالأسلوب الحسن والكتابة المفيدة والمشافهة المفيدة , وليس من النصح التشهير بعيوب الناس , ولا بانتقاد الدولة على المنابر ونحوها , لكن النصح أن تسعى بكل ما يزيل الشر ويثبت الخير بالطرق الحكيمة وبالوسائل التي يرضاها الله عز وجل

“Nasihat hendaklah dengan cara yang baik, tulisan yang bermanfaat dan ucapan yang berfaidah. Bukanlah termasuk nasihat dengan cara menyebarkan aib-aib manusia, dan tidak pula mengeritik negara di mimbar-mimbar dan yang semisalnya. Akan tetapi nasihat itu engkau curahkan setiap yang bisa menghilangkan kejelekan, dan mengokohkan kebaikan dengan cara-cara yang hikmah dan sarana-sarana yang diridai Allah ‘azza wa jalla.” [Majmu’ Al-Fatawa, 7/306]

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah juga berkata:

ليس من منهج السلف التشهير بعيوب الولاة , وذكر ذلك على المنابر; لأن ذلك يفضي إلى الفوضى وعدم السمع والطاعة في المعروف , ويفضي إلى الخوض الذي يضر ولا ينفع , ولكن الطريقة المتبعة عند السلف : النصيحة فيما بينهم وبين السلطان , والكتابة إليه , أو الاتصال بالعلماء الذين يتصلون به حتى يوجه إلى الخير

“Bukan termasuk Manhaj Salaf, menasihati dengan cara menyebarkan aib-aib penguasa dan menyebutkannya di mimbar-mimbar. Sebab yang demikian itu mengantarkan kepada kekacauan dan tidak mendengar dan taat kepada penguasa dalam perkara yang ma’ruf, dan mengantarkan kepada provokasi yang berbahaya dan tidak bermanfaat. Akan tetapi tempuhlah jalan yang telah dilalui oleh Salaf, yaitu nasihat antara mereka dan pemerintah (secara rahasia), dan menulis surat kepada penguasa, atau menghubungi ulama yang memiliki akses kepadanya, sehingga ia bisa diarahkan kepada kebaikan.” [Majmu’ Al-Fatawa, 8/210]

Maka menasihati pemerintah secara terang-terangan melalui demo atau yang lainnya MENYELISIHI petunjuk Rasulullah ﷺ, sedang ketaatan kepada pemerintah hanyalah dalam perkara yang ma’ruf, bukan yang menyelisihi syariat.

  1. Berdemo juga termasuk tasyabbuh, menyerupai orang-orang kafir. Apakah jika pemerintah membolehkannya lalu menjadi halal?!

Al-Imam Al-‘Allamah Al-Muhaddits Al-Albani rahimahullah berkata:

صحيح ان الوسائل إذا لم تكن مخالفة للشريعة فهي الأصل فيها الإباحة، هذا لا إشكال فيه، لكن الوسائل إذا كانت عبارة عن تقليد لمناهج غير إسلامية فمن هنا تصبح هذه الوسائل غير شرعية، فالخروج للتظاهرات او المظاهرات وإعلان عدم الرضا او الرضا وإعلان التاييد أو الرفض لبعض القرارات أو بعض القوانين، هذا نظام يلتقي مع الحكم الذي يقول الحكم للشعب، من الشعب وإلى الشعب، أما حينما يكون المجتمع إسلاميا فلا يحتاج الأمر إلى مظاهرات وإنما يحتاج إلى إقامة الحجة على الحاكم الذي يخالف شريعة الله.

“Benar, bahwa sarana-sarana, jika tidak menyelisihi syariat, maka hukum asalnya mubah, ini bukan masalah. Tetapi sarana-sarana, jika merupakan taklid terhadap manhaj yang bukan Islam, maka menjadi tidak sesuai syariat, maka keluar untuk aksi terbuka atau demonstrasi, dan menampakkan penentangan atau persetujuan, atau menunjukkan dukungan atau penolakan atas sebagian aturan atau undang-undang; metode ini sama dengan aturan (demokrasi) yang mengatakan, bahwa hukum milik rakyat; dari rakyat dan untuk rakyat. Adapun masyarakat Islam, tidaklah membutuhkan demonstrasi, melainkan iqomatul hujjah (penyampaian ilmu) kepada Penguasa yang menyelisihi syariat Allah ta’ala.” [Mauqi’ Al-Albani]

Al-Imam Al-‘Allamah Al-Muhaddits Al-Albani rahimahullah juga berkata:

هذه التظاهرات الأوربية ثم التقليدية من المسلمين، ليست وسيلة شرعية لإصلاح الحكم وبالتالي إصلاح المجتمع، ومن هنا يخطئ كل الجماعات وكل الأحزاب الاسلامية الذين لا يسلكون مسلك النبي صلى الله عليه وسلم في تغيير المجتمع، لا يكون تغيير المجتمع في النظام الاسلامي بالهتافات وبالصيحات وبالتظاهرات، وإنما يكون ذلك على الصمت وعلى بث العلم بين المسلمين وتربيتهم على هذا الاسلام حتى تؤتي هذه التربية أكلها ولو بعد زمن بعيد.

“Demonstrasi ini yang asalnya dari orang-orang kafir Eropa, kemudian diikuti oleh kaum Muslimin, bukanlah sarana yang sesuai syariat untuk memerbaiki hukum (pemerintah), ataupun memerbaiki masyarakat. Maka dari sini jelas, kesalahan semua kelompok-kelompok dan golongan-golongan Islam yang tidak menempuh jalan Nabi ﷺ dalam mengubah masyarakat, karena tidaklah mungkin mengubah masyarakat dalam aturan Islam dengan cara menyuarakan yel-yel, berteriak-teriak dan berdemonstrasi. Hanyalah melakukan perubahan itu dengan cara tidak menyuarakan kebatilan dan menyebarkan ilmu di tengah-tengah kaum Muslimin, dan mendidik mereka di atas agama Islam yang benar ini, sampai usaha pendidikan ini membuahkan hasil, walau menempuh waktu yang lama.” [Mauqi’ Al-Albani]

Asy-Syaikh Al-‘Allamah Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata:

المظاهرات ليست من دين الإسلام لما يترتب عليها من الشرور من ضياع كلمة المسلمين من تفريق بين المسلمين لما يصاحبها من التخريب وسفك الدماء لما يصاحبها من الشرور، وليست المظاهرات بحل صحيح للمشكلات، ولكن الحل يكون بإتباع الكتاب والسنة

“Demonstrasi bukan berasal dari agama Islam, karena kejelekan-kejelekan yang timbul darinya seperti terpecahnya kesatuan kaum Muslimin, disertai dengan pengrusakan dan pertumpahan darah serta berbagai kejelekan lainnya. Demonstrasi bukan solusi yang benar, akan tetapi solusi itu adalah dengan mengikuti Alquran dan As-Sunnah.” [Mauqi’ Al-Fauzan]

  1. Fakta dan realita di negeri-negeri yang membolehkan demo telah memunculkan berbagai macam kemudaratan. Sebagian orang menuduh ulama Ahlus Sunnah di Saudi atau di negeri lain sebagai orang-orang yang tidak tahu realita di lapangan, padahal merekalah yang menutup mata terhadap fakta dan realita berbagai macam kemudaratan akibat demo.

Beberapa Dampak Buruk Demonstrasi

  1. Memrovokasi masyarakat untuk memberontak kepada penguasa. Terlebih jika nasihat dalam demo tersebut tidak diindahkan oleh penguasa, maka akibatnya akan semakin memrovokasi massa dan menceraiberaikan kesatuan kaum Muslimin [lihat Fathul Bari, 13/51-52]
  2. Cara mengingkari kemungkaran penguasa dengan terang-terangan mengandung penentangan terhadapnya [lihat Umdatul Qaari, 22/33, Al-Mufhim, 6/619]
  3. Pencemaran nama baik dan ghibah kepada penguasa yang dapat mengantarkan kepada perpecahan masyarakat dan pemerintah Muslim [lihat Umdatul Qaari, 22/33]
  4. Mengakibatkan masyarakat tidak mau menaati penguasa dalam hal yang baik [lihat Haqqur Ro’i, hal. 27]
  5. Menyebabkan permusuhan antara pemimpin dan rakyatnya [lihat Al-Ajwibah Al-Mufidah, hal. 99]
  6. Menjadi sebab ditolaknya nasihat oleh penguasa [lihat Fathul Bari, 13/52]
  7. Menyebabkan tertumpahnya darah seorang Muslim, sebagaimana yang terjadi pada sahabat yang mulia Utsman bin ‘Affan radhiyallahu’anhu akibat demonstrasi kaum Khawarij [lihat Syarah Muslim, 18/118]
  8. Menghinakan sulthan Allah, yang telah Allah takdirkan sebagai penguasa Muslim [lihat As-Sailul Jarror, 4/556]
  9. Munculnya riya’ dalam diri pelakunya [lihat Madarikun Nazhor, hal.211]
  10. Mengganggu ketertiban umum
  11. Menimbulkan kemacetan di jalan-jalan
  12. Merusak stabilitas ekonomi
  13. Tidak jarang adanya ikhtilat (campur baur antara laki-laki dan wanita) ketika demonstrasi, bahkan pada demo yang mereka sebut Islami sekali pun
  14. Menyelisihi petunjuk Rasulullah ﷺ dan sahabat
  15. Mengikuti jalan ahlul bid’ah (Khawarij) dan orang-orang kafir. Wallahu A’lam.

Untuk Saudaraku Yang Di-Bully Karena Men-Tahdzir Pelaku dan Pendukung Demo

Inilah fenomena saat ini. Karena sudah terlanjur cinta, maka tidak rela kalau tokohnya di-tahdzir. Walau salah harus tetap dibela, tak peduli lagi walau harus mem-bully orang yang dianggap sebagai lawannya. Maka bagi seorang da’i Ahlus Sunnah, janganlah takut kepada manusia yang akan menjatuhkan kehormatannya. Tetap suarakan kebenaran. Allah ‘azza wa jalla berfirman tentang sifat orang-orang yang Dia cintai di antaranya adalah:

وَلا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لائِمٍ

“Dan mereka tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.” [Al-Maidah: 54]

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَلَا لَا يَمْنَعَنَّ رَجُلًا هَيْبَةُ النَّاسِ أَنْ يَقُولَ بِحَقٍّ إِذَا عَلِمَهُ

“Perhatikanlah. Janganlah rasa segan kepada manusia yang menghalangi seseorang untuk mengucapkan yang benar ketika ia telah mengetahuinya.” [HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu’anhu, Ash-Shahihah: 168]

Al-Imam Ibnul Wazir rahimahullah berkata:

لو أن العلماء تركوا الذب عن الحق خوفاً من كلام الخلق لكانوا قد : أضاعوا كثيراً ، وخافوا حقيراً

“Andaikan ulama tidak membela kebenaran karena takut kepada celaan makhluk, maka sesungguhnya mereka telah menyia-nyiakan sesuatu yang mulia, dan takut kepada sesuatu yang remeh.” [Al-‘Awaashim wal Qowaashim, 1/223]

Al-Imam Abu Ismail Al-Harowi rahimahullah berkata:

عرضت على السيف خمس مرات ، لا يقال لي: ارجع عن مذهبك؛ ولكن يقال لي:اسكت عمن خالفك فأقول: “لا أسكت

“Aku pernah terancam dibunuh dengan pedang sebanyak lima kali. Bukan untuk dikatakan kepadaku: Tinggalkan pendapatmu. Akan tetapi dikatakan kepadaku: Diamlah, jangan membantah orang yang menyelisihimu. Maka aku tegaskan: Aku tidak akan diam.” [Al-Aadaab Asy-Syar’iyyah libnil Muflih, 1/207]

Peringatan

Tahdzir yang dimaksud di sini adalah men-tahdzir da’i sesat dan kesesatannya, berdasarkan ilmu dan hikmah, dengan memerhatikan kaidah-kaidahnya, di antaranya kaidah maslahat dan mudarat. Bukan tahdzir yang dilakukan oleh orang-orang bodoh yang tanpa ilmu, bukan pula tahdzir antara sesama Ahlus Sunnah secara serampangan.

 

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/771429409673210:0

 

,

SEBUAH MASUKAN UNTUK AL-USTADZ AL-FADHIL ADI HIDAYAT MA HAFIDZOHULLAH

SEBUAH MASUKAN UNTUK AL-USTADZ AL-FADHIL ADI HIDAYAT MA HAFIDZOHULLAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#ManhajAkidah

SEBUAH MASUKAN UNTUK AL-USTADZ AL-FADHIL ADI HIDAYAT MA HAFIDZOHULLAH

Penulis: Abul-Jauzaa’

Belakangan ini kita dihebohkan oleh kabar beredarnya rekaman suara Ustadz Abdullah Taslim yang berkomentar terhadap Ustadz Adi Hidayat, hafidhahumallah. Sebuah rekaman yang asalnya dari grup WA atas sebuah pertanyaan yang diajukan kepada beliau (Ustadz Abdullah Taslim), dari anggota grup tentang Ustadz Adi. Isinya adalah nasihat kepada anggota grup dan tahdzir kepada Ustadz Adi Hidayat terkait dengan manhaj beliau.

Sebenarnya, apapun kontennya tidak patut dipermasalahkan [1]. Tahdzir yang beliau katakan adalah wujud pertanggungjawaban atas pengetahuan yang dimiliki, sebagai pembina grup. Tahdzir bukan barang yang asing [2] Meski substansinya sah-sah saja, jika ada yang tidak sepakat. Yang menjadikan ramai, selain oknum yang menyebarkan keluar grup, adalah gorengan dan tambahan kata-kata oleh oknum tak bertanggung jawab yang bernada provokatif. Misalnya: Kembalilah kepada para asatidz yang jelas manhajnya, yaitu para asatidz Rodja yang pasti benar dan di atas manhaj yang benar. Ada juga framing berita dengan judul: Takut Ditinggal Jamaah! Ustadz Rodja’ Ini Larang Jamaahnya Dengarkan Ceramah Ustadz Adi Hidayat!

Benar-benar dagelan…. Saya yakin, ini bukan berasal dari Ustadz Adi Hidayat hafidhahullah, dan memang bukan tipikal beliau. Entah siapa….

Maybe ‘they’ realize, making a lie is the only way to win the war (?)

Kembali,… kemarin saya menyimak respon positif Ustadz Adi Hidayat terkait perkataan Ustadz ‘Abdullah Taslim hafidhahumallah (yang saat ini sedang menjalankan ibadah umrah). Intinya, beliau terbuka menerima kritikan dari siapa pun dan bersedia rujuk apabila kritikan tersebut memang benar, serta ajakan bersinergi dalam kebaikan (https://goo.gl/XiepHX dan https://goo.gl/MK16ga).

Tentu ini sangat baik, karena sikap beliau tersebut didasari oleh pemahaman yang sangat baik atas sabda Nabi ﷺ:

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

“Semua anak Adam banyak berbuat kesalahan, dan sebaik-baik orang yang banyak berbuat kesalahan adalah orang-orang yang banyak bertaubat” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 2499, Ahmad 3/198, Ibnu Abi Syaibah 13/187, dan yang lainnya; dishahihkan oleh Al-Albaaniy dalam Shahiih Sunan At-Tirmidziy 2/604].

Oleh karena itu, izinkan di sini saya memberikan sedikit catatan atau kritikan terkait dengan beberapa isi ceramah Ustadz Adi Hidayat hafidhahullah yang rekamannya banyak bertebaran di Youtube.

  1. Takdir

Ustadz Adi Hidayat hafidhahullah dalam satu rekaman video yang berjudul “MEMAHAMI TAKDIR ALLAH DENGAN BENAR” (https://youtu.be/joqsMvsheXE), membacakan sebuah pertanyaan:

“Apakah semua orang telah ditetapkan takdirnya oleh Allah subhaanahu wa ta’ala? Dan apakah orang kafir itu sudah takdir Allah?”

Kemudian direspon:

“Pertama begini, antum pahami dulu apa itu takdir. Takdir itu pilihan hidup. Yang pilihan kita itu KEMUDIAN DITETAPKAN oleh Allah subhaanahu wa ta’ala. Jadi Anda bisa terbuka, ingin mengambil atau tidak. Itu pilihan Anda. Karena itu manusia diberikan kemampuan untuk memilih……dst. (kemudian dilanjutkan dengan penjelasan yang menguatkan itu, yang intinya manusia diberikan pilihan antara yang positif dan negatif)……”

Dalam rekaman video yang berjudul “PERBEDAAN TAKDIR DAN QODARULLAH” (https://youtu.be/6DsR0RQDdfY), awal ceramah (menit 00:24) beliau mengatakan:

“Yang seperti ini, seperti aliran Qadariyyah [3]. Semua terserah Allah. Semua terserah Allah. Bahkan tidak mungkin saya bersin, kecuali kecuali Allah berkehendak. Tidak mungkin saya minum, kecuali saya berkehendak. Tapi kesimpulannya salah. Anda harus bedakan antara Qadar dan Takdir. Kehendak Allah yang tidak ada intervensi kita di dalamnya, itu disebut Qadar”

Kemudian beliau hafidhahullah mencontohkan qadar adalah ajal dan rezeki. Selanjutnya beliau berkata (di menit 01:23):

“Tapi, ada sesuatu yang disebut dengan takdir. Takdir itu adalah ketetapan Allah yang dikukuhkan/ditetapkan berdasarkan ikhtiar makhluk. Kita ikhtiar dulu, BARU ALLAH MENETAPKAN. Jadi bukan seketika Allah tetapkan. Contoh, perbuatan itu takdir. Amal baik atau buruk, amal saleh atau salah, maka itu adalah takdir, bukan qadar……dst.”.

Abu-Jauzaa’ berkata:

Ini adalah pemahaman KELIRU dalam masalah keimanan terhadap takdir. Secara istilah, makna Al-Qadar adalah:

تقدير الله للكائنات حسبما سبق به علمُه، واقتضته حكمته

“Ketetapan (taqdiir) Allah bagi semua makhluk, sesuai dengan ilmu Allah yang telah terdahulu, dan yang dikehendaki oleh hikmah-Nya” [Rasaail fil-‘Aqiidah oleh Muhammad bin Shaalih Al-‘Utsaimiin, hal. 37].

Pembedaan dua hal tersebut (qadar dan takdir) tidaklah benar. Tidak mungkin ketetapan Allah datang menyusul setelah adanya ketetapan dari makhluk dalam ikhtiarnya. Bahkan Allah ta’ala telah menuliskan segala sesuatu di sisi-Nya, di Lauh Mahfuudh, 50.000 tahun sebelum Allah ta’ala menciptakan langit dan bumi.

Maka, tidak ada sesuatu yang telah terjadi, sedang terjadi, dan akan terjadi, luput dari Lauh Mahfuudh. Allah ta’ala berfirman:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الأرْضِ وَلا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi, dan (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuudh) sebelum Kami menciptakannya” [QS. Al-Hadiid: 22].

Rasulullah ﷺ bersabda:

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

“Allah telah menulis seluruh takdir makhluk-makhluk 50.000 tahun sebelum menciptakan langit-langit dan bumi” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2653].

Bahagia dan celaka, Neraka dan Surga seseorang, maka semua itu telah ditetapkan oleh Allah ta’ala. Sama seperti ajal dan rezeki. Bukankah dalam hadis ‘Abdullah bin Mas’uud radliyallaahu ‘anhu secara marfuu’ dari Nabi ﷺ telah disebutkan:

إِنَّ  أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا، ثُمَّ يَكُونُ فِي ذَلِكَ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُونُ فِي ذَلِكَ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ، وَأَجَلِهِ، وَعَمَلِهِ، وَشَقِيٌّ، أَوْ سَعِيدٌ، فَوَالَّذِي لَا إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ، فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا

“Sesungguhnya seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama 40 hari, kemudian menjadi ‘Alaqah (segumpal darah) seperti itu pula (40 hari). Kemudian menjadi Mudhghah (segumpal daging) seperti itu pula (40 hari). Kemudian seorang Malaikat diutus kepadanya untuk meniupkan ruh di dalamnya, dan diperintahkan untuk menulis empat hal, yaitu menuliskan REZEKINYA, AJALNYA, AMALANYA, dan CELAKA atau BAHAGIANYA. Maka demi Allah yang tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi melainkan-Nya, sesungguhnya salah seorang dari kalian beramal dengan amalan ahli Surga, sehingga jarak antara dirinya dengan Surga hanya tinggal sehasta, tetapi CATATAN (TAKDIR) MENDAHULUINYA, lalu ia beramal dengan amalan ahli Neraka. Maka dengan itu ia memasukinya. Dan sesungguhnya salah seorang dari kalian beramal dengan amalan ahli Neraka, sehingga jarak antara dirinya dengan Neraka hanya tinggal sehasta, tetapi CATATAN (TAKDIR) MENDAHULUINYA, lalu ia beramal dengan amalan ahli Surga, maka dengan itu ia memasukinya” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 3207 dan Muslim no. 2643].

Juga tentang kisah perdebatan antara Adam dan Musa ‘alaihimas-salaam:

احْتَجَّ آدَمُ، وَمُوسَى، فَقَالَ لَهُ مُوسَى: يَا آدَمُ، أَنْتَ أَبُونَا خَيَّبْتَنَا وَأَخْرَجْتَنَا مِنَ الْجَنَّةِ، قَالَ لَهُ آدَمُ: يَا مُوسَى، اصْطَفَاكَ اللَّهُ بِكَلَامِهِ وَخَطَّ لَكَ بِيَدِهِ، أَتَلُومُنِي عَلَى أَمْرٍ قَدَّرَهُ اللَّهُ عَلَيَّ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَنِي بِأَرْبَعِينَ سَنَة، فَحَجَّ آدَمُ مُوسَى، فَحَجَّ آدَمُ مُوسَى ثَلَاثًا

“Adam dan Musa saling berhujjah (berdebat). Musa berkata kepadanya (Adam): “Wahai Adam, engkau adalah ayah kami. Engkau telah mengecewakan kami, dan mengeluarkan kami dari Surga”. Adam berkata kepadanya: “Wahai Musa, Allah telah memilihmu dengan firman-Nya dan telah menuliskan (Taurat) dengan tangan-Nya untukmu. Apakah engkau mencelaku atas perkara yang Allah telah menakdirkannya untukku 40 tahun sebelum Allah menciptakanku?” Maka Adam mengalahkan Musa, Adam mengalahkan Musa” – sebanyak tiga kali [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 6614 dan Muslim no. 2652].

Yaitu, ketetapan Allah ta’ala telah mendahului perbuatan Adam, yang menyebabkannya keluar dari Surga.

Ahlus-Sunnah berpendapat, bahwa keimanan terhadap takdir tidak akan sempurna, kecuali dengan mengimani empat tingkatan takdir, atau disebut juga Rukun Takdir. Mulai Al-‘Ilmu[4], Al-Kitaabah[5], Al-Iraadah Wal-Masyii’ah[6], Dan Al-Khalq[7] yang uraiannya dapat dibaca dalam banyak referensi.

Pernyataan ketetapan Allah baru datang menyusul setelah adanya ihtiar makhluk, mengonsekuensikan penafikan terhadap banyak nash.

Jika yang dinafikkan dalam fase ihtiar adalah tingkatan Ilmu dan Kitaabah, maka ini tergolongan pemahaman Qadariyyah purba yang muncul di jaman sahabat radliyallaahu ‘anhum. Para sahabat radliyallaahu ‘anhum mengafirkan mereka, karena mereka menisbatkan kepada Allah ta’ala sifat bodoh (al-jahl). Allah (dianggap) tidak tahu, kecuali setelah terjadinya sesuatu (yaitu perbuatan hamba). Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa pernah berkata tentang mereka:

فَإِذَا لَقِيتَ أُولَئِكَ، فَأَخْبِرْهُمْ أَنِّي بَرِيءٌ مِنْهُمْ، وَأَنَّهُمْ بُرَآءُ مِنِّي، وَالَّذِي يَحْلِفُ بِهِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ، لَوْ أَنَّ لِأَحَدِهِمْ، مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا، فَأَنْفَقَهُ مَا قَبِلَ اللَّهُ مِنْهُ، حَتَّى يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ

“Apabila engkau berjumpa dengan mereka, beritahukanlah kepada mereka, bahwa aku berlepas diri dari mereka, dan mereka pun berlepas diri dariku. Demi Dzat yang ‘Abdullah bin ‘Umar bersumpah dengannya, seandainya salah seorang di antara mereka memiliki emas sebesar Uhud, lalu ia menginfakkannya, Allah tidak akan menerimanya, hingga ia beriman kepada takdir” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 8].

أَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرٍ، قَالَ: سَأَلْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ عَنِ الْقَدَرِيِّ، فَلَمْ يُكَفِّرْهُ إِذَا أَقَرَّ بِالْعِلْمِ

Telah mengabarkan kepada kami Abu Bakr, ia berkata: Aku bertanya kepada Abu ‘Abdillah (Ahmad bin Hanbal) tentang Qadariy (penganut Qadariyyah), maka ia tidak mengafirkannya apabila menetapkan ilmu (Allah) [Diriwayatkan oleh Al-Khallaal dalam As-Sunnah no. 868].

وَأَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرٍ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ، يَقُولُ: إِذَا جَحَدَ الْعِلْمَ قَالَ: إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لا يَعْلَمُ الشَّيْءَ حَتَّى يَكُونَ، اسْتُتِيبَ، فَإِنْ تَابَ وَإِلا قُتِلَ

Dan telah mengabarkan kepada kami Abu Bakr, ia berkata: Aku mendengar Abu ‘Abdillah berkata: “Apabila ada seseorang yang mengingkari ilmu (Allah) dengan mengatakan: ‘Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla tidak mengetahui sesuatu hingga terjadi’; maka ia diminta untuk bertaubat. Jika ia bertaubat, maka diterima, dan jika enggan maka dibunuh[8]” [idem no. 869].

Jika yang dinafikkan dalam fase ihtiar itu adalah tingkatan Al-Iraadah Wal-Masyii’ah dan Al-Khalq (dengan tetap mengimani tingkatan al-‘Ilmu dan Al-Kitaabah), maka inilah keumuman paham Qadariyyah yang masih eksis hingga saat ini. Kehendak dan perbuatan hamba adalah murni dari hamba itu sendiri; bukan terjadi karena kehendak dan penciptaan Allah ta’ala.

Dua jenis Qadariyyah di atas adalah sama-sama SESAT, yang tidak ada jalan lain bagi pelakunya kecuali harus rujuk darinya.

  1. Semua Muslim adalah Salafiy (https://youtu.be/6vzOKxwvQqY)

Dalam Perbedaan Muhammadiyah, NU dan Salafi, ketika menjawab apa perbedaan Muhammadiyyah dan Salafi, maka Ustadz Adi Hidayat menjawab (setelah menjelaskan tentang Muhammadiyyah dan NU – mulai menit 05:23):

“Kalau Salafi, itu bukan Ormas, bukan madzhab. Tapi dari kata salaf. Salaf itu manhaj. Salaf itu artinya sesuatu yang lampau, yang lalu. Kenapa disebut dengan salaf, karena saat kita berusaha untuk beribadah menunaikan pendekatan ibadah kita kepada Allah subhaanahu wa ta’ala, maka cara ibadah kita mesti seperti siapa?. Rasululah ﷺ. Rasulullah itu hidup di jaman kita atau di jaman dulu? Jaman dulu. Dulu itu bahasa Arabnya salaf. Jadi, mengikuti yang dulu, dulu bahasa Arabnya salaf. Kalau disebutkan mengikuti, ditambah dengan i ujungnya dalam bahasa Arab dengan ya’ nisbah. Ya’ nisbah itu gampangnya ditambah i saja di ujungnya. Misal, salaf , dulu, ikut yang dulu disebut dengan Salafi. Ni asalnya Salafi itu bukan madzhab, bukan kelompok, bukan ormas, tapi manhaj. Satu cara, satu arah, supaya kita beribadah mengikuti tuntunan yang dulu Rasulullah ﷺ sampaikan kepada para sahabat, yang disampaikan kepada para tabi’in. Itu masa lalu dulu. Kita ikuti jalannya. Nah, maka cara kita mengikuti jalan itu, cara kita disebut Salafi. Sebetulnya semua orang Islam itu gak ada yang gak Salafi. Semua Salafi. Semua Salafi. Tidak mungkin. Misalnya ada orang yang mengaku:  ‘Saya bukan Salafi’, maka berarti shalatnya beda itu. Pasti Salafi. Nggak mungkin. Pasti Salafi, karena Salafi itu artinya ikut yang dulu. Ikut Nabi ﷺ. Manhajnya. Salafi itu bukan golongan tertentu, bukan kelompok tertentu, bukan eksklusif ini Salafi yang lain bukan, maka tidak. Salafi itu manhaj. Nanti satu saat akan saya tunjukkan. Ibu kalau mau akan saya berikan slidenya…..”.

Kemudian beliau mencontohkan praktik ibadah shalat dengan variasi dalil yang ada. Dalam kesempatan lain (video berjudul Semua Muslim Adalah Salafi) dikatakan hal yang senada (menit: 00:28):

Maka di sini ada istilah Manhaj Salaf. Orang-orang yang mengikuti manhaj ini, sejalur dengan ini sampai ke ujungnya, kemudian bermuara ke Rasulullah ﷺ. Maka orangnya disebut dengan Salafi. Jadi Salafi itu bukan istilah khusus, atau nama khusus, untuk golongan tertentu, aliran tertentu, kelompok tertentu. Semua orang Islam pasti Salafi. Bapak Salafi ya?…Bukan pak, saya Doni…. Iya, nama bapak Doni, cuma bapak pasti melewati jalur ini… pasti ini…. Jadi teman-teman sekalian, tidak ada yang tidak Salafi. Pasti Salafi. Dan jangan juga mengatakan kepada orang: ‘O ini manhajnya bukan salaf ini’. Lalu apa (kalau bukan Salafi)?”

[selesai kutipan sampai menit 01:12].

Abu-Jauzaa’ berkata:

Jika Salafiy adalah orang-orang yang mengikuti cara beragama As-Salafush-Shaalih, maka mereka itu (As-Salafush-Shaalih) utamanya adalah tiga generasi pertama: Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya, taabi’iin, dan atbaa’ut-taabi’iin. Mereka adalah generasi yang diridlai Allah ta’ala sebagaimana firman-Nya:

وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah. Dan Allah menyediakan bagi mereka Surga-Surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar” [QS. At-Taubah: 100].

Generasi terbaik, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ يَجِيءُ قَوْمٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِينَهُ وَيَمِينُهُ شَهَادَتَهُ

“Sebaik-baik manusia adalah orang-orang yang hidup pada jamanku (generasiku), kemudian orang-orang yang datang setelah mereka, kemudian orang-orang yang datang setelah mereka. Kemudian akan datang suatu kaum yang persaksian salah seorang dari mereka mendahului sumpahnya, dan sumpahnya mendahului persaksiannya” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 3651, Muslim no. 2533, At-Tirmidziy no. 3859, Ibnu Maajah no. 2363, dan yang lainnya].

Setelah itu, Nabi ﷺ bersabda tentang keadaan umat sepeninggal beliau ﷺ:

وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً، قَالُوا: وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي

“Akan berpecah umatku ini menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semuanya masuk Neraka kecuali satu (yang masuk Surga)”. Mereka (para sahabat) bertanya: “Siapakah ia wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Apa-apa yang aku dan para sahabatku berada di atasnya” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 2641, Al-Haakim 1/218-219, Ibnu Wadldlah dalam Al-Bida’ hal. 85, Al-Ajurriy dalam Asy-Syarii’ah 1/127-128 no. 23-24, dan yang lainnya].

Dalam riwayat lain:

مَنْ كَانَ عَلَى مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَأَصْحَابِي

“Siapa saja yang berada di atas jalan yang aku dan para sahabatku berada di atasnya pada hari ini” [Diriwayatkan oleh Ath-Thabaraaniy dalam Ash-Shaghiir 2/29-30 no. 724 dan Al-Ausath 5/137 no. 4886].

Dalam riwayat lain:

وَهِيَ الْجَمَاعَةُ

“Ia adalah Al-Jamaa’ah” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 4597].

Hadis di atas selaras dengan hadis ‘Irbaadl bin Saariyyah, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ…..

“Karena siapa saja di antara kalian yang hidup setelahku akan menyaksikan banyaknya perselisihan. Wajib atas kalian berpegang teguh terhadap sunnahku dan sunnah Al-Khulafaur-Rasyidin yang mendapatkan petunjuk. Peganglah erat dan gigitlah ia dengan gigi geraham….” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 4607, At-Tirmidzi no. 2676, Ahmad 4/126-127, dan yang lainnya; shahih].

Hadis-hadis ini menginformasikan, bahwa umat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan, dan hanya satu kelompok saja yang selamat, yaitu orang-orang yang mengikuti jalan Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya dengan sebenar-benarnya. Merekalah Salafi (sesuai dengan pengertian sebelumnya). Merekalah Ahlus-Sunnah, sebagaimana dikatakan As-Sam’aaniy rahimahullah mengenai ciri pokok mereka:

شعار أهل السنَّة اتباعهم السلف الصالح، وتركهم كل ما هو مبتدع محدث

“Syiar Ahlis-Sunnah adalah sikap ittiba’ mereka kepada As-Salafush-Shaalih, dan meninggalkan segala sesuatu yang diada-adakan (dalam agama)” [Al-Intishaar li-Ashhaabil-Hadiits hal. 31].

Selain mereka (Salafi/Ahlus-Sunnah), maka masuk dalam 72 golongan sisanya yang terdiri dari kelompok-kelompok menyimpang dalam Islam yang tidak mengikuti jalan As-Salafush-Shaalih.

Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah rahimahumallah berkata:

شعار أهل البدع: هو ترك انتحال اتباع السلف

“Syiar Ahli Bid’ah adalah meninggalkan penerimaan dalam ittiba’ terhadap salaf” [Majmuu’ Al-Fataawaa, 4/155].

Kelompok menyimpang/Ahli Bid’ah yang masuk ke kelompok sempalan yang 72 buah itu di antaranya apa yang dikatakan oleh Yuusuf bin Asbath rahimahullah:

أُصُولُ الْبِدَعِ أَرْبَعٌ: الرَّوَافِضُ، وَالْخَوَارِجُ، وَالْقَدَرِيَّةُ، وَالْمُرْجِئَةُ، ثُمَّ تَتَشَعَّبُ كُلُّ فِرْقَةٍ ثَمَانِيَ عَشْرَةَ طَائِفَةً، فَتِلْكَ اثْنَتَانِ وَسَبْعُونَ فِرْقَةً، وَالثَّالِثَةُ وَالسَّبْعُونَ الْجَمَاعَةُ الَّتِي قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: إِنَّهَا النَّاجِيَةُ “

“Pokok-pokok kebid’ahan ada 4 (empat), yaitu Raafidlah, Khawaarij, Qadariyyah, dan Murji’ah. Kemudian masing-masing firqah tersebut bercabang-cabang lagi menjadi 18 golongan, sehingga totalnya menjadi 72 firqah. Dan yang ke-73 adalah Al-Jamaa’ah yang disabdakan Nabi ﷺ: ‘Inilah firqah/kelompok yang selamat” [Diriwayatkan oleh Al-Aajurriy dalam Asy-Syarii’ah no. 17].

Ada perkataan ulama lain yang merinci untuk 72 kelompok sempalan ini selain dari penjelasan Yuusuf bin Asbath rahimahullah di atas. Ke-72 kelompok tersebut masih memiliki pokok Islam, namun menyimpang dari jalan As-Salafush-Shaalih.

Jika demikian, apakah dapat dibenarkan untuk dikatakan semua Muslim adalah Salafiy? Termasuk di dalamnya kelompok-kelompok sempalan/Ahli Bid’ah yang menggembosi Islam dari dalam? Tentu saja tidak.

Adz-Dzahabiy rahimahullah ketika menyebutkan biografi para ulama Ahlus-Sunnah yang kuat ittiba’-nya kepada As-Salafush-Shaalih, menyifatinya dengan Salafiy. Di antaranya, ketika menyifati Ad-Daaraquthniy rahimahullah:

لم يدخل الرجل أبدا في علم الكلام ولا الجدال، ولا خاض في ذلك، بل كان سلفيا

“Ia (Ad-Daaraquthniy) tidak masuk sama sekali dalam ilmu kalam dan jidal (perdebatan), serta tidak pula mendalaminya. Bahkan ia seorang salafy” [Siyaru A’laamin-Nubalaa’ 16/457].

Juga Abul-‘Abbas Ahmad bin Al-Muhaddits Al-Faqiih Majduddiin ‘Isaa bin Al-Imaam Al-‘Allamah Muwaffaquddiin ‘Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Qudamah:

وكان ثقة ثبتا، ذكيا، سلفيا، تقيا، ذا ورع وتقوى

“Ia seorang yang tsiqah (terpercaya), tsabt, pandai, Salafiy, hati-hati, punya sifat wara’ dan taqwa…” [Idem, 23/118].

Sebaliknya, ketika menyebut orang-orang yang manhaj atau ‘akidahnyanya ‘bermasalah’, Adz-Dzahabiy rahimahullah menyifati mereka dengan kebid’ahannya. Misalnya, Ibraahiim bin Abi Yahyaa Al-Aslamiy Al-Madaniy:

قدري، معتزلي، يروى أحاديث ليس لها أصل. وقال البخاري: تركه ابن المبارك والناس. وقال البخاري أيضا: كان يرى القدر، وكان جهميا.

“Qadariy, mu’taziliy. Ia meriwayatkan hadis-hadis yang tidak ada asalnya. Al-Bukhaariy berkata: ‘Ibnul-Mubaarak dan orang-orang meninggalkannya’. Al-Bukhaariy juga berkata: ‘Ia memiliki pandangan Qadariyyah, seorang jahmiy” [Miizaanul-I’tidaal, 1/57-58 no. 189].

Ibraahiim bin Thahmaan:

ثقة متقن من رجال الصحيحين، وكان مرجئاً

“Tsiqah, mutqin, termasuk perawi kitab Ash-Shahiihain, namun ia seorang Murji’ (memiliki pemikiran Murji’ah)” [Ar-Ruwaatuts-Tsiqaat Al-Mutakallamu fiihim, hal. 35 no. 1].

Al-Hasan bin Shaalih bin Hay:

مع جلالة الحسن وامامته كان فيه خارجية.

“Bersamaan dengan keagungan dan keimaman Al-Hasan, namun padanya ada pemikiran Khawaarij (Khaarijiyyah)” [Tadzkiratul-Huffadh, 1/217].

Jadi, apakah kita pikir paham Raafidlah, Khawaarij, Qadariyyah, Murji’ah, dan yang lainnya itu telah punah di dunia saat ini? Jawabannya: Tidak. Malah mereka telah bermutasi dengan berbagai nama, sehingga hakikatnya menjadi samar dari kejauhan.

Di antaranya Khawaarij pada hari ini berada di bawah bendera ISIS, yang menghalalkan darah kaum Muslimin di berbagai penjuru negeri, dari Timur sampai Barat. Mereka Muslim,…. tapi apakah mereka Salafi?. Kalau Anda mengatakan Salafi; mohon maaf, saya jelas tidak sependapat.

Apabila slogan semua Muslim adalah Salafi dimaksudkan sebagai ajakan liberalisasi Salafi/ahlus-sunnah dengan menyatukan semua kelompok Islam, tak peduli benar atau salahnya ‘akidah dan manhaj mereka dalam baju Salafiy; tentu ini menyalahi kaidah. Tidak mungkin dua hal yang berlawanan untuk disatukan: Sunnah dengan Bid’ah, Salafi/Ahlus-Sunnah dengan Ahli Bid’ah.

Di sini poin pentingnya.

Tafsir Alquran ala Ustadz Adi Hidayat hafizohullah (Bagian Kedua)

​Menafsirkan Alquran tentu harus berhati-hati, berusaha merujuk kepada tafsiran para Salaf. Apalagi kalau mengaku bermanhaj Salaf. Terlebih lagi kalau menimbulkan penafsiran model baru dengan model Tafsir Majaz (Kiasan) dan meninggalkan dzohir (tekstual) ayat, lalu menyalahkan tafsir yang sudah dikenal oleh Salaf dan kaum Muslimin.

Saya rasa hampir seluruh kaum Muslimin di dunia ini, termasuk juga di Indonesia, menafsirkan atau menerjemahkan firman Allah “Ihdinash-Shiraathal-Mustaqiim” dengan “Tunjukanlah kami kepada jalan yang lurus”.

Namun ternyata terjemah/tafsir yang selama ini diyakini oleh kaum Muslimin dinilai salah oleh al-Ustadz Adi Hidayat!!?

Ustadz Adi Hidayat dalam video yang berjudul CARA AMPUH BERDOA KETIKA SHALAT AGAR CEPAT DIKABULKAN (link: https://youtu.be/oaizDNHxRf4 ), saat menjelaskan tempat dikabulkannya doa saat berdiri shalat, dengan membawakan hadis Abu Hurairah, berkata (mulai menit 06:17):

“Perhatikan, karena itulah saat berdiri diberikan oleh Allah satu tawaran, kalau dibacakan diberikan apa yang dibutuhkan. Mau nggak? Itulah Ihdinash-shiraathal-mustaqiim. Tunjukkan kami ya Allah, solusi terbaik dari masalah yang kami miliki. Maaf, Ihdinash-shiraathal-mustaqiim itu arti yang tepat bukan ‘Tunjukkan kami pada jalan yang lurus’. Itu bahasa kiasan. Ga pakai oo.. bu. Itu bahasa kiasan. Ihdinaa dari kata hudan, hidayah, itu solusi dari persoalan yang dihadapi. Jadi punya masalah apapun ya Allah, solusinya tolong berikan. Ash-shiraathal-mustaqiim itu kata kiasan. Majaz dalam bahasa Arab. Yang mudah tidak sulit prosesnya. Jadi berikan solusinya, tapi mudah. Jadi ketika kita minta dalam shalat, itu minta ya Allah, saya punya masalah, tolong berikan. Diberikan oleh Allah satu bacaan. Dibaca. Jadi yang punya masalah di rumah tangga, diberikan solusinya. Yang punya masalah di pekerjaan, diberikan solusinya. Dan itu bukan biasa………”

Kesimpulan tafsir ustadz Adi Hidayat:

  • – Arti “Ihdinas shirothol mustaqim” dengan “Tunjukanlah kami jalan yang lurus” ternyata salah.
  • – Arti tersebut salah, karena diterjemahkan secara tekstual. Padahal menurut ustadz Adi Hidayat susunan “Ihdinas shirothol mustaqim” adalah susunan majaz/kiasan (tidak sesuai dzohir tekstualnya)
  • – Yang benar “Tunjukanlah kami solusi terbaik dari masalah yang kami hadapi.

Adapun tafsir “Ihdinas shirothol mustaqim” menurut ahli tafsir adalah: “Tunjukanlah/anugerahkanlah/ilhamkanlah/bimbinglah/berilah kepada kami jalan yang lurus”.

Dan As-shirot al-mustaqim menurut tafsir para ahli tafsir ada beberapa tafirasan yaitu:

  • Kitabullah,
  • Tali Allah yang sangat kuat,
  • Islam,
  • Agama Allah,
  • Kebenaran, serta
  • Nabi ﷺ dan kedua sahabatnya: Abu Bakr dan ‘Umar

Ibnu Katsiir rahimahullah berkata (tentang tafsir “Ihdina”):

والهداية هاهنا: الإرشاد والتوفيق، وقد تعدى الهداية بنفسها كما هنا (1) { اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ } فتضمن معنى ألهمنا، أو وفقنا، أو ارزقنا، أو اعطنا

“Dan Al-Hidayah di sini maksudnya adalah bimbingan dan taufik. Kadang kata Al-Hidayah dimuta’addikan dengan dirinya sebagaimana ayat ini ‘Ihdinash-shiraathal-mustaqiim’; sehingga mengandung pengertian “ilhamkanlah kepada kami”, “Bimbinglah kami”, “Anugerahkanlah kami”, dan “Berikanlah kepada kami”

Beliau juga berkata (tentang tafsir As-shirot al-mustaqim):

وأما الصراط المستقيم، فقال الإمام أبو جعفر بن جرير: أجمعت الأمة من أهل التأويل جميعًا على أن “الصراط المستقيم” هو الطريق الواضح الذي لا اعوجاج فيه.

Adapun ‘Ash-shiraathul-mustaqiim’, Al-Imaam Abu Ja’far bin Jariir berkata: Umat Islam dari kalangan pakar ta’wiil (mufassiriin) telah SEPAKAT, bahwa ‘Ash-shiraathul-mustaqiim’ maknanya adalah jalan yang jelas, yang tidak ada kebengkokan padanya” [Tafsiir Ibni Katsiir 1/137].

Setelah menurunkan ragam pendapat mufassirin tentang makna Ash-shiraath al-mustaqiim (Kitabullah, tali Allah yang sangat kuat, Islam, agama Allah, kebenaran, serta Nabi ﷺ dan kedua sahabatnya: Abu Bakr dan ‘Umar), Ibnu Katsiir rahimahullah berkata:

وكل هذه الأقوال صحيحة، وهي متلازمة، فإن من اتبع النبي صلى الله عليه وسلم، واقتدى باللذين من بعده أبي بكر وعمر، فقد اتبع الحق، ومن اتبع الحق فقد اتبع الإسلام، ومن اتبع الإسلام فقد اتبع القرآن، وهو كتاب الله وحبله المتين، وصراطه المستقيم، فكلها صحيحة يصدق بعضها بعضا، ولله الحمد.

“Semua perkataan/penafsiran ini adalah benar, yaitu saling menguatkan. Karena, barang siapa yang mengikuti (ittiba’) Nabi ﷺ, meneladani orang-orang sepeninggal beliau, yaitu Abu Bakr dan ‘Umar, sungguh ia telah mengikuti kebenaran. Barang siapa yang mengikuti kebenaran, sungguh ia telah mengikuti Islam. Barang siapa yang mengikuti Islam, sungguh ia telah mengikuti Alquran, yaitu Kitabullah, tali-Nya yang sangat kuat, dan jalan-Nya yang lurus. Semuanya penafsiran itu benar dan membenarkan yang lain. Walillaahil-hamd”

Terdapat hadis marfuu’ dari Nabi ﷺ yang menjelaskan makna Ash-shiraathul-mustaqiim:

عَنِ النَّوَّاسِ بْنِ سَمْعَانَ الْكِلَابِيِّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: ” إِنَّ اللَّهَ ضَرَبَ مَثَلًا صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا عَلَى كَنَفَيِ الصِّرَاطِ دَارَانِ لَهُمَا أَبْوَابٌ مُفَتَّحَةٌ، عَلَى الْأَبْوَابِ سُتُورٌ، وَدَاعٍ يَدْعُو عَلَى رَأْسِ الصِّرَاطِ، وَدَاعٍ يَدْعُو فَوْقَهُ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى دَارِ السَّلامِ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ، وَالْأَبْوَابُ الَّتِي عَلَى كَنَفَيِ الصِّرَاطِ حُدُودُ اللَّهِ، فَلَا يَقَعُ أَحَدٌ فِي حُدُودِ اللَّهِ حَتَّى يُكْشَفَ السِّتْرُ، وَالَّذِي يَدْعُو مِنْ فَوْقِهِ وَاعِظُ رَبِّهِ “

Dari An-Nawwaas bin Sam’aan Al-Kilaabiy, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah ﷺ:

“Sesungguhnya Allah ta’ala telah membuat perumpamaan Ash-shiraathul-mustaqiim dengan Shirath yang di sampingnya ada dua tembok yang memunyai pintu terbuka. Di setiap pintu terdapat tirai, penyeru yang menyeru di tengah Shiraath, dan penyeru yang menyeru di atasnya (penyeru pertama). ‘Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (Surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam)’ (QS. Yuunus: 25). Pintu-pintu yang berada di samping Shiraath adalah batasan-batasan (larangan-larangan) Allah. Tidak ada seorang pun yang jatuh kepada larangan Allah, hingga ia menyingkap tirainya. Penyeru yang berada di atasnya adalah penasihat (ilham) dari Rabbnya”

Dalam riwayat lain dirinci:

وَالصِّرَاطُ الْإِسْلَامُ، وَالسُّورَانِ حُدُودُ اللَّهِ، وَالْأَبْوَابُ الْمُفَتَّحَةُ مَحَارِمُ اللَّهِ، وَذَلِكَ الدَّاعِي عَلَى رَأْسِ الصِّرَاطِ كِتَابُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالدَّاعِي من فَوْقَ الصِّرَاطِ وَاعِظُ اللَّهِ فِي قَلْبِ كُلِّ مُسْلِمٍ

“Dan Shiraath tersebut adalah Islam, kedua tembok/dinding adalah batasan-batasan (larangan-larangan) Allah, pintu-pintu yang terbuka adalah hal-hal yang diharamkan oleh Allah. Penyeru yang berada di tengah Shiraath adalah Kitabullah ‘azza wa jalla, sedangkan penyeru yang berada di atas Shiraath adalah penasihat Allah (ilham), yang berada di hati setiap Muslim” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 2859, Ahmad 4/182 & 183, Ibnu Abi ‘Aashim dalam As-Sunnah no. 18-19, dan yang lainnya; dishahihkan oleh Al-Albaaniy dalam Shahiih Sunan At-Tirmidziy 3/141].

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ، قَالَ: ” خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا، ثُمَّ قَالَ: ” هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ “، ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ، ثُمَّ قَالَ: ” هَذِهِ سُبُلٌ قَالَ يَزِيدُ: مُتَفَرِّقَةٌ عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ “، ثُمَّ قَرَأَ: وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ

Dari ‘Abdullah bin Mas’uud, ia berkata: “Rasulullah ﷺ pernah menggambar untuk kami sebuah garis (di tanah), lalu bersabda: “Ini adalah jalan Allah”. Kemudian beliau menggambar banyak garis di kanan dan kiri garis tersebut, kemudian bersabda: “Ini adalah jalan-jalan yang lain, di mana setiap jalan tersebut ada setan yang menyeru pada jalan tersebut”. Kemudian beliau membaca ayat: ‘Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya’ (QS. Al-An’aam: 153)” [Diriwayatkan oleh Ahmad, 1/435; sanadnya Hasan].

‘Abdullah bin Mas’uud radliyallaahu ‘anhu sendiri menafsirkan Ash-shiraathul-mustaqiim dengan perkataannya:

الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ، قَالَ: هُوَ كِتَابُ اللَّهِ

“Makna ‘Ash-shiraathul-mustaqiim’ adalah Kitabullah” [Diriwayatkan oleh Al-Haakim dalam Al-Mustadrak 2/258, dan ia menshahihkannya].

‘Abdullah bin ‘Abbaas radliyallaahu ‘anhumaa, salah seorang pakar tafsir di kalangan sahabat, menjelaskan:

هُوَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَصَاحِبَاهُ “، قَالَ: فَذَكَرْنَا ذَلِكَ لِلْحَسَنِ، فَقَالَ: ” صَدَقَ وَاللَّهِ وَنَصَحَ وَاللَّهِ هُوَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ، وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا “

“Ash-shiraathul-mustaqiim adalah Rasulullah ﷺ dan dua orang sahabatnya”. Perawi berkata: Maka kami menyebutkan hal itu kepada Al-Hasan, lalu ia berkata: “Ia benar. Demi Allah, ia telah memberikan nasihat, demi Allah. (Ash-shiraathul-mustaqiim) adalah Rasulullah ﷺ, Abu Bakr, dan ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa” [Diriwayatkan oleh Al-Haakim dalam Al-Mustadrak, 2/259; dan ia menshahihkannya].

Rasulullah ﷺ merupakan Ash-Shiraathul-Mustaqiim (Jalan yang lurus), karena Allah ta’ala berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah” [QS. Al-Ahzaab: 21].

Begitu juga dengan Abu Bakr dan ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa, karena Nabi ﷺ sendiri yang memerintahkan para sahabat, (dan kita pada umumnya), untuk meneladani Abu Bakr dan ‘Umar sepeninggal beliau ﷺ:

اقْتَدُوا بِاللَّذَيْنِ مِنْ بَعْدِي أَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ

“Mencontohlah kepada dua orang setelahku: Abu Bakr dan ‘Umar” [lihat: Silsilah Ash-Shahiihah no. 1233].

Jadi, jika penafsiran-penafsiran yang didasarkan oleh riwayat/atsar dan perkataan as-Salafush-shaalih di atas dikatakan tidak tepat karena hanya kiasan saja, apakah kita harus membenarkan penafsiran Ustadz Adi Hidayat di atas? Yaitu: berikanlah kami ya Allah solusi yang mudah atas persoalan kami? Apakah kita mesti meninggalkan hadis, atsar sahabat dan ijmaa’ mufassiriin (sebagaimana ditegaskan Ibnu Katsiir) untuk mengikuti tafsir majaz/kiasan ala Ustadz Adi Hidayat?

Metode penafsiran tanpa membawakan penjelasan ulama tentu sangat disayangkan, bagi sekelas Ustadz Adi Hidayat – yang saya yakin sangat mampu untuk membawakannya (berikut judul, juz, halaman, dan letak baris kalimatnya) – karena rawan kesalahan.

Ingat pesan Al-Imaam Ahmad bin Hanbal rahimahullah:

إيَّاكَ أنْ تتكلمَ في مسألةٍ ليسَ لكَ فيها إمامٌ

“Berhati-hatilah berkata dalam satu permasalahan yang engkau tidak memiliki pendahulunya” [Siyaru A’laamin-Nubalaa’, 11/296].

 

 

Catatan Kaki

 

[1]  Pertama, karena itu merupakan jawaban atas pertanyaan yang diajukan. Sama seperti ketika Anda ditanya: ‘Apa pandangan Anda tentang Ayam Bakar Wong Solo?’ Tentu Anda bebas menjawab sesuai pandangan Anda. Enak, tidak enak, tidak tahu, atau bahkan tidak menjawab sama sekali.

Kedua, jawaban tersebut sifatnya tertutup untuk anggota grup, khususnya yang bertanya. Hanya saja, karena kurangnya sifat amanah sebagian anggota grup, rekaman jawaban itu pun menyebar keluar (padahal sudah dipesan untuk tidak disebarkan). Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Alloh dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui” [QS. Al-Anfaal: 27].

Inilah adab yang banyak dilupakan oleh banyak anggota grup media sosial yang sifatnya tertutup (WA, path, dll.). Nabi ﷺ bersabda:

أَدِّ الْأَمَانَةَ إِلَى مَنِ ائْتَمَنَكَ وَلَا تَخُنْ مَنْ خَانَكَ

“Tunaikanlah amanah pada orang yang memberikan amanah kepadamu, dan jangan khianati orang yang telah mengkhianatimu” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 1264, Abu Daawud no. 3535, Ad-Daarimiy no. 2600, Ath-Thahawiy dalam Syarh Musykiilil-Aatsaar no. 1831-1832, dan yang lainnya; dihasankan oleh Al-Albaaniy dalam Ash-Shahiihah no. 423].

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ، إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

“Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga: Jika berbicara berdusta, jika berjanji tidak menepati, dan jika dipercaya dia berkhianat” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 33 & 2682 & 2749 & 6095, Muslim no. 59, At-Tirmidziy no. 2631, dan yang lainnya].

[2] Itulah yang dilakukan para ulama zaman ke zaman. Bukan hanya dilakukan oleh ‘duaat Rodja’ saja (sebenarnya saya tidak nyaman menggunakan frasa ini). Bahkan (sebaliknya), yang mentahdzir ‘duaat Rodja’, ‘pendengar Rodja’, Salafi, Wahabi, dan yang semisalnya; banyak, dan lebih banyak. Termasuk di antaranya yang menggoreng masalah ini…. Gak percaya?

Tentang tahdzir,….. dulu, ‘Aliy bin Abi Khaalid pernah menceritakan kepada Al-Imaam Ahmad bin Hanbal rahimahumullah tentang seorang syaikh yang duduk bermajelis dengan Al-Haarits Al-Muhaasibiy (Mubtadi’). Syaikh tersebut telah dinasihati agar tidak bermajelis dengannya, namun tetap saja ia bermajelis dengannya. ‘Aliy bin Abi Khaalid berkata:

فرأيت أَحْمَد قد أحمر لونه، وانتفخت أوداجه وعيناه، وما رأيته هكذا قط، ثم جعل ينفض، ويقول: ذاك؟ فعل اللَّه به وفعل، ليس يعرف ذاك إلا من خبره وعرفه، أويه، أويه، أويه، ذاك لا يعرفه إلا من خبره، وعرفه، ذاك جالسه المغازلي، ويعقوب، وفلان، فأخرجهم إلى رأي جهم، هلكوا بسببه،

فقال الشيخ: يا أبا عَبْد اللَّه، يروي الحديث، ساكن خاشع، من قصته، ومن قصته؟ فغضب أَبُو عَبْدِ اللَّهِ، وجعل يقول: لا يغرك خشوعه ولينه، ويقول لا يغتر بتنكيس رأسه، فإنه رجل سوء، ذاك لا يعرفه، إلا من قد خبره، لا تكلمه، ولا كرامة له، كل من حدث بأحاديث رَسُول اللَّهِ ﷺ وكان مبتدعا، تجلس إليه؟ لا، ولا كرامة، ولا نعمى عين

Maka aku melihat wajah Ahmad memerah, serta urat leher dan kedua matanya menjadi membesar (karena menahan amarah). Aku belum pernah melihatnya seperti ini sebelumnya sama sekali. Setelah mereda, beliau rahimahullah berkata: “Orang itu (Al-Haarits)? Semoga Allah menimpakan sesuatu kepadanya. Tidak ada orang yang mengenalnya kecuali orang yang tahu dan kenal dengannya. Ah…ah…ah… Orang itu, …. tidak ada yang mengenalnya kecuali orang yang tahu dan kenal dengannya. Al-Maghaazaliy, Ya’quub, dan Fulaan telah bermajelis dengannya, lalu ia (Al-Haarits) menjerumuskan mereka kepada pemikiran Jahm (bin Shafwaan), hingga mereka binasa dengan sebab dirinya”.

Maka syaikh itu berkata: “Wahai Abu ‘Abdillah, ia (Al-Haarits) meriwayatkan hadis, tenang, lagi khusyu’. Dan ceritanya begini dan begitu”. Abu ‘Abdillah marah dan berkata: “Jangan engkau tertipu dengan kekhusyukan dan kelembutannya. Jangan engkau tertipu dengan kepalanya yang tertunduk, karena ia adalah orang yang jelek. Tidak ada orang yang mengenalnya, kecuali orang yang tahu tentangnya. Jangan engkau berbicara dengannya. Tidak ada kemuliaan padanya. Apakah semua orang yang berbicara tentang hadis-hadis Rasulullah ﷺ, sementara ia adalah mubtadi’ (pelaku bid’ah), boleh untuk bermajelis dengannya? Tidak, tidak ada kemuliaan padanya. Kita tidak boleh membutakan mata kita (terhadap hal itu)” [Thabaaqatul-Hanaabilah, 2/149-150].

Beberapa pelajaran dari kisah di atas:

  1. Hakikat kesalahan/kesesatan seseorang seringkali hanya diketahui oleh orang-orang tertentu yang telah mengenalinya.
  2. Tahdzir dilakukan para ulama terhadap Ahli Bid’ah dan/atau pelaku penyimpangan dalam rangka menjaga agama dan kaum Muslimin.
  3. Nasihat untuk tidak bermajelis dengan Ahli Bid’ah dan/atau pelaku penyimpangan, karena dapat menjerumuskan dalam kesesatan/penyimpangannya tanpa disadari.
  4. Sebagian manusia terkelabuhi oleh ilmu yang disampaikan Ahli Bid’ah dan/atau pelaku penyimpangan dan akhlak yang nampak darinya, sehingga kesesatan/penyimpangannya menjadi samar.
  5. Anjuran untuk bertanya kepada ahli ilmu terkait permasalahan agama yang ia hadapi.

Wallaahu a’lam.

[3]  Mungkin ini keseleo lidah (slip of tongue), karena yang dikatakan tersebut adalah aliran Jabriyah sebagai lawan dari Qadariyyah. Mereka (Jabriyyah) berkata: Sesungguhnya para hamba dipaksa dalam perbuatan-perbuatan mereka, dan mereka tidak memunyai pilihan. Apabila suatu perbuatan disandarkan kepada makhluk, maka itu hanyalah Majaziy saja, karena yang berbuat secara hakiki adalah Allah. Hamba tidak ubahnya seperti kayu yang hanyut di air, atau daun yang tertiup angin.

Adapun Qadariyyah, maka mereka menafikan takdir dengan berbagai tingkatannya.

قِيلَ لابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: إِنَّ قَوْمًا يَقُولُونَ: لا قَدَرَ، قَالَ: فَقَالَ: أُولَئِكَ الْقَدَرِيُّونَ أُولَئِكَ مَجُوسُ هَذِهِ الأُمَّةِ

Dikatakan kepada Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhu: “Sesungguhnya ada satu kaum yang mengatakan: ‘Tidak ada qadar”. Maka ia (Ibnu ‘Umar) berkata: “Mereka adalah Qadariyyah. Mereka adalah Majusinya umat ini” [Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah no. 958 dan Ibnu Baththah dalam Al-Ibaanah no. 1517].

[4] Yaitu, beriman bahwa Allah ta’ala mengetahui segala sesuatu yang ada maupun yang tidak ada; yang mungkin maupun yang tidak mungkin (mustahil); yang telah terjadi, sedang terjadi, dan yang belum terjadi; serta mengetahui bagaimana terjadinya. Dalilnya diantaranya adalah firman Allah ta’ala:

لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

“Agar kamu mengetahui, bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu” [QS. Ath-Thalaq: 12].

[5] Yaitu beriman, bahwa Allah ta’ala telah menuliskan segala sesuatu di sisi-Nya, di Lauh Mahfuudh, 50.000 tahun sebelum Allah ta’ala menciptakan langit dan bumi. Maka tidak ada sesuatu yang telah terjadi, sedang terjadi, dan akan terjadi luput dari Lauh Mahfuudh.

Allah ta’ala berfirman:

وَكُلُّ شَيْءٍ فَعَلُوهُ فِي الزُّبُرِ * وَكُلُّ صَغِيرٍ وَكَبِيرٍ مُسْتَطَرٌ

“Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan. Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis” [QS. Al-Qamar: 52-53].

[6] Yaitu beriman bahwa segala sesuatu yang ada hanya terjadi dengan keinginan dan kehendak Allah ta’ala. Tidak ada sesuatupun yang terjadi melainkan apa yang telah dikehendaki Allah. Apa yang dikehendaki Allah ta’ala pasti terjadi, dan apa yang tidak dikehendaki Allah ta’ala tidak akan terjadi.

[7] Yaitu, beriman bahwa Allah ta’ala adalah Pencipta segala sesuatu, baik dzat maupun perbuatannya; semua yang bergerak dan gerakannya; serta yang ada, yang pernah ada, maupun yang belum ada. Oleh karena itu, tidak ada sesuatu pun di langit dan di bumi, kecuali Allah ta’ala adalah Penciptanya.

[8] Juga diriwayatkan dari ‘Umar bin ‘Abdil-‘Aziiz radliyallaahu ‘anhu.

عَنْ مَالِك، عَنْ عَمِّهِ أَبِي سُهَيْلِ بْنِ مَالِكٍ، أَنَّهُ قَالَ: كُنْتُ أَسِيرُ مَعَ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ، فَقَالَ: ” مَا رَأْيُكَ فِي هَؤُلَاءِ الْقَدَرِيَّةِ ؟ فَقُلْتُ: رَأْيِي أَنْ تَسْتَتِيبَهُمْ فَإِنْ تَابُوا وَإِلَّا عَرَضْتَهُمْ عَلَى السَّيْفِ، فَقَالَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ: ” وَذَلِكَ رَأْيِي “. قَالَ مَالِك: وَذَلِكَ رَأْيِي

Dari Maalik, dari pamannya yaitu Abu Suhail bin Maalik, ia berkata: Aku pernah berjalan bersama ‘Umar bin ‘Abdil-‘Aziiz, lalu ia bertanya: “Apa pendapatmu tentang orang-orang Qadariyah?” Aku menjawab: “Menurutku, engkau mesti meminta mereka untuk bertaubat. Jika mereka bertaubat, maka diterima. Namun jika tidak mau bertaubat, maka engkau bunuh mereka dengan pedang”. ‘Umar bin ‘Abdil-‘Azii berkata: “Itu juga pendapatku”. Maka Maalik (bin Anas – perawi riwayat ini) berkata: “Dan itu juga pendapatku” [Al-Muwaththa’].

 

Sumber:

http://abul-jauzaa.blogspot.co.id/2017/03/sebuah-masukan-1.html?m=1

http://abul-jauzaa.blogspot.co.id/2017/04/masukan-untuk-ah-hafizohullah.html

 

, ,

MAKNA “KAFIR” DALAM SURAT AL-MAIDAH AYAT 44

MAKNA “KAFIR” DALAM SURAT AL-MAIDAH AYAT 44

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#ManhajSalaf

MAKNA “KAFIR” DALAM SURAT AL-MAIDAH AYAT 44

Pertanyaan:

Sepemahaman ana, ada suatu ormas yang mencatut ayat Alquran (Al-Maidah: 44) yakni:

“…. Barang siapa tidak memutuskan dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir.”

sehingga menjadikan mereka sering mengritik pemerintah terang-terangan dan menuntut khilafah.

Apa makna/arti “Kafir” pada tulisan di atas?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Maksud dari ayat tersebut adalah “Kufrun Duna Kufrin” = kekufuran yang bukan kufur. Maknanya Kufur Asghar (Kufur kecil) yang tidak menyebabkan seseorang menjadi kafir/murtad.

Selama penguasa masih berstatus Muslim, maka wajib bagi kita menaatinya dan ini menjadi prinsip sunnah yang disepakati oleh para ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaah.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, ketika menafsirkan ayat yang dinukil tersebut di atas:

إنه ليس بلاكفر الذي تذهبون إليه، إنه ليس كفراً ينقل عن ملة: (وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ) كفر دون كفر.

“Sesungguhnya ia bukanlah kekufuran, sebagaimana yang mereka (Khawarij) maksudkan. Ia bukanlah kekufuran yang mengeluarkan dari agama. ‘Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. Yaitu kekufuran di bawah kekufuran (kufrun duuna kufrin)”.

[HR Baihaqi dalam Al-Kubra: 8/20, Al-Haakim: 2/313 dishahihkan oleh Imam Al-Albandi dalam Silsilah Ahadits Ash-Shahihah: 6/113].

Dan saya pernah menukilkan ucapan Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi Al-Atsari sebagai berikut:

“Saya sudah membaca hampir seluruh kitab tafsir yang ada di dunia Islam, baik yang berafiliasi ke Ahlus Sunnah maupun yang bukan. Semua kitab tafsir tadi menyatakan ketika menafsirkan firman Allah ta’ala:

“Barang siapa tidak berhukum dengan hukum Allah ta’ala, maka mereka itu orang-orang kafir.” [QS Al-Maidah: 44].

Bahwa maksud kekafiran dalam ayat ini adalah “Kufrun Duna Kufrin”/ kekafiran yang tidak mengeluarkan dari agama Islam. Kecuali satu kitab tafsir, yaitu tafsirnya Sayyid Quthb, Fi Dzilalil Qur’an.

Wallahu a’lam

 

Dijawab dengan ringkas oleh:  Ustadz Abul Aswad Al-Bayati حفظه الله

Sumber: https://bimbinganislam.com/makna-kafir-dalam-surat-al-maidah-ayat-44/

TOLAK UKUR DISEBUT NEGARA MUSLIM ATAU KAFIR

TOLAK UKUR DISEBUT NEGARA MUSLIM ATAU KAFIR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#ManhajSalaf

TOLAK UKUR DISEBUT NEGARA MUSLIM ATAU KAFIR

Pertanyaan:

Ana masih kurang jelas mengenai istilah negara kafir dan negara Muslim. Apakah benar jika suatu negara itu dikatakan kafir, jika penduduknya mayoritas kafir, dan di situ tidak tegak syiar Islam?

Begitu juga sebaliknya, apakah benar jika suatu negara dikatakan negara Muslim, jika mayoritas Muslim dan tegak syiar Islam?

Bagaimana jika suatu negara dikatakan negara Muslim, tapi sistem pemerintahannya menggunakan sistem kafir? Yakni dari mulai keuangan, pajak, dan lain-lain.

Jawaban:

Alhamdulillah

Washshalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wa ash habihi ajma’in.

Salah satu kesalahan mendasar yang dipahami sebagian ikhwah tentang perbedaan negara kafir dan Muslim, adalah ketika tolok ukurnya HANYA penerapan undang-undang buatan siapa, apakah buatan Allah atau buatan manusia.

Perlu dipahami, bahwa tolok ukur negara dikatakan Muslim itu macam-macam, tidak hanya satu tolok ukur, dan para ulama pun berbeda-beda pendapat.

Jadi TIDAKLAH BENAR, jika berhukum dengan undang-undang buatan manusia, dijadikan sebagai tolok ukur untuk memvonis suatu negara Muslim atau kafir.

Berbagai tolok ukur negara Muslim dan kafir di antaranya:

  1. Kekuasaan di pihak kaum Muslimin atau kaum kafir. Jika di pihak kaum Muslimin, maka negara Muslim, dan jika di pihak kafir, maka negara kafir.

Ibnu Hazm rahimahullah berkata: “Suatu negara itu dilihat dari kekuasaan, mayoritas (penduduknya), dan penguasa atau pemimpinnya.” (lihat Al Muhalla:13/140)

2. Penampakkan hukum-hukum dan syiar Islam secara umum, seperti: Sholat Jumat, Iedul Fitri, Iedul Adha, puasa Ramadan, haji tanpa adanya larangan dan kesulitan. Dan bukanlah semua hukum Islam harus ditegakkan.

3. Dikumandangkan Azan dan Didirikan Sholat

Dari Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu berkata: “Dahulu Rasulullah ﷺ menyerang (musuh) ketika azan dikumandangkan. Jika beliau ﷺ mendengar azan, maka beliau ﷺ tidak jadi menyerang. Tapi jika tidak terdengar azan, maka beliau ﷺ akan melancarkan serangan.” (HR. Bukhori: 610, Muslim: 1365)

4. Mayoritas Penduduknya

Ibnu Hazm rahimahullah berkata: “Suatu negara itu dilihat dari kekuasaan, mayoritas (penduduknya), dan penguasa atau pemimpinnya.” (lihat Al Muhalla: 13/140)

Adapun kaitannya dengan sistem kafir (buatan manusia), para ulama menerangkan, bahwa seseorang yang berhukum dengan hukum selain hukum Allah, berarti dia telah melakukan sebuah kekafiran yang kecil, yang tidak mengeluarkannya dari agama Islam. Tapi bisa jadi kekafiran kecil ini berubah menjadi besar, jika dia menganggap dan berkeyakinan halal atau bolehnya berhukum dengan selain hukum Allah, atau dia berkata: “Saya tidak merasa wajib, atau harus berhukum dengan hukum Allah”. Semisal mengatakan berhukum dengan selain hukum Allah lebih baik daripada berhukum dengan hukum Allah, atau hukum-hukum dan undang-undang lainnya sama saja dengan hukum Allah, dan perkataan semisalnya. Jika demikian, berarti ia telah melakukan kekafiran yang besar (keluar dari Islam).

WAllahu A’lam

Wabillahit Taufiq

 

Dijawab dengan ringkas oleh: Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله

Sumber: https://bimbinganislam.com/tolak-ukur-negara-Muslim-atau-kafir/