Posts

, ,

HUBUNGAN ANTARA BID’AH DENGAN MAKSIAT

HUBUNGAN ANTARA BID’AH DENGAN MAKSIAT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

#ManhajAkidah
#StopBidah

HUBUNGAN ANTARA BID’AH DENGAN MAKSIAT

>> Perbedaan dan Persamaan antara Bid’ah dengan Maksiat

Penulis: Muhammad bin Husain Al-Jizani

A. Persamaan antara Bid’ah dengan Maksiat

[A1]. Keduanya sama-sama dilarang, tercela dalam syariat, dan pelakunya mendapat dosa. Maka sesungguhnya bid’ah masuk di dalam kemaksiatan [lihat Al-Itisham 2/60]. Dengan tinjauan ini, setiap bid’ah adalah maksiat, tapi tidak setiap maksiat adalah bid’ah.

[A2]. Keduanya bertingkat-tingkart, bukan satu tingkatan saja, karena, menurut kesepakatan ulama, maksiat itu terbagi dalam kemaksiatan yang bisa membuat pelakunya kafir, dan kemaksiatan yang sifatnya Kaba’ir (dosa-dosa besar) dan shagha’ir (dosa-dosa kecil) [lihat Al-Jawaabul Kaafi 145-150]. Begitu juga bid’ah terbagi menjadi:

  • -Bid’ah yang membuat pelakunya kafir;
  • -Bid’ah yang sifatnya Kaba’ir;
  • -Bid’ah yang sifatnya Shaga’ir

Pembagian dan penglasifikasian ini bisa benar, jika sebagian bid’ah dinisbatkan pada sebagian yang lain. Maka jika seperti ini, dimungkinkan keadaannya beritngkat-tingkat, karena kecil dan besar berada dalam penyandaran dan penisbatan. Terkadang sesuatu dianggap besar dengan sendirinya, tapi bisa dianggap kecil jika dibandingkan dengan yang lebih besar darinya. Oleh sebab itu, sesungguhnya Shigharul Bida (Bid’ah-bid’ah kecil) pada hakikatnya dianggap sebagai bagian dari al-Kaba’ir dan bukan ash-Shaga’ir (dosa-dosa kecil), ini jika dibandingkan dengan dosa-dosa lain selain syirik. Lihat Al-I’tisham 2/57-62. Lebh jelasnya akan ada dalam point berikutnya.

[A3]. Keduanya memberikan indikasi akan lenyapnya syariat dan hilangnya sunnah. Semakin banyak maksiat dan bid’ah, maka semakin lemahlah sunnah. Semakin kuat dan tersebarnya sunnah, maka semakin lemahlah maksiat dan bid’ah. Maksiat dan bid’ah, ditinjau dari ini, sama-sama menghempaskan Al-Hudaa (Ajaran yang benar) dan memadamkan cahaya kebenaran. Keduanya berjalan beriringan. Hal itu akan dijelaskan pada pembahasan berikutnya.

[A4]. Keduanya bertentangan dan bersebarangan dengan Maqaashidusysyarii’ah (Tujuan-tujuan syariat) yang berakibat fatal yaitu, menghancurkan syariat.

B. Perbedaan antara Bid’ah dengan Maksiat

[B1]. Dasar larangan maksiat biasanya dalil-dalil yang khusus, baik teks wahyu (Alquran , As-Sunnah) atau ijma’ atau qiyas. Berbeda dengan bid’ah, bahwa dasar larangannya, biasanya dalil-dalil yang umum dan Maqaashidusysyarii’ah serta cakupan sabda Rasulullah ﷺ: ‘Kullu bid’atin dhalaalah’ (Setiap bida’ah itu sesat).

[B2]. Bid’ah itu menyamai hal-hal yang disyariatkan, karena bid’ah itu disandarkan dan dinisbatkan kepada agama. Berbeda dengan maksiat, ia bertentangan dengan hal yang disyariatkan, karena maksiat itu berada di luar agama, serta tidak dinisbatkan padanya. Kecuali jika maksiat ini dilakukan dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah, maka terkumpullah dalam maksiat semacam ini, maksiat dan bid’ah dalam waktu yang sama.

[B3]. Bid’ah merupakan pelanggaran yang sangat besar dari sisi melampaui batasan-batasan hukum Allah dalam membuat syariat. Karena sangatlah jelas, bahwa hal ini MENYALAHI DALAM MEYAKINI KESEMPURNAAN SYARIAT. Menuduh bahwa syariat ini masih kurang, dan membutuhkan tambahan, serta belum sempurna. Sedangkan maksiat, padanya tidak ada keyakinan bahwa syariat itu belum sempurna. Bahkan pelaku maksiat meyakini dan mengakui, bahwa ia melanggar dan menyalahi syariat.

[B4]. Maksiat merupakan pelanggaran yang sangat besar ditinjau dai sisi melanggar batas-batas hukum Allah, karena pada dasarnya dalam jiwa pelaku maksiat tidak ada penghormatan terhadap Allah, terbukti dengan tidak tunduknya dia pada syariat agamanya. Sebagaimana dikatakan: “Janganlah engkau melihat kecilnya kesalahan, tapi lihatlah siapa yang engkau bangkang” [Lihat Ajwaabul Kaafi: 58, 149-150, Al-I’tisham 2/62].

Berbeda dengan bid’ah, sesungguhnya pelaku bid’ah memandang bahwa dia memuliakan Allah, mengagungkan syariat dan agamanya. Ia meyakini bahwa ia dekat dengan Tuhannya dan melaksanakan perintah-Nya. Oleh sebab itu, ulama Salaf masih menerima riwayat Ahli Bid’ah, dengan syarat ia TIDAK mengajak orang lain untuk melakukan bid’ah tersebut, dan tidak menghalalkan berbohong. Sedangkan pelaku maksiat adalah fasiq, gugur keadilannya, ditolak riwayatnya dengan kesepakatan ulama.

[B5]. Maka sesungguhnya, pelaku maksiat terkadang ingin taubat dan kembali. Berbeda dengan ahli bid’ah, sesungguhnya dia meyakini bahwa amalanya itu adalah qurbah (ibadah yang mendekatkan kepada Allah, -pent), terutama Ahli Bid’ah Kubra (Pelaku bid’ah besar), sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Artinya: Maka apakah orang yang dijadikan (setan) menganggap baik pekerjaan yang buruk, lalu dia meyakini pekerjaan itu baik…” [Faathir: 8]

Sufyan At-Tsauri berkata: “Bid’ah itu lebih disukai Iblis daripada maksiat, karena maksiat bisa ditaubati, dan bid’ah tidak (idharapkan) taubat darinya.

Dalam sebuah atsar (perkataan salaf) diceritakan, bahwa Iblis berkata: “Kubinasakan anak keturunan Adam dengan dosa, namun mereka membalas membinasakanku dengan istighfar dan ucapan la ilaha illallah.

Setelah kuketahui hal tersebut, maka kusebarkan di tengah-tengah mereka hawa nafsu (baca: bid’ah). Akhirnya mereka berbuat dosa, namun tidak mau bertaubat, karena mereka merasa sedang berbuat baik.” [Lihat Ajwaabul Kaafi: 58, 149-150, Al-I’tisham 2/62]

[B6]. Jenis bid’ah lebih besar dari maksiat, karena fitnah Ahli Bid’ah (Mubtadi) terdapat dalam dasar agama, sedangkan fitnah pelaku dosa terdapat dalam syahwat. [Lihat Al-Jawwabul Kaafi: 58, dan Majmu Fatawa 20/103]. Dan ini bisa dijadikan sebuah kaidah, bahwa jika salah satu dari bid’ah atau maksiat itu tidak dibarengi qarinah-qarinah (bukti atau tanda) dan keadaan yang bisa memindahkan hal itu dari kedudukan asalnya.

Di antara contoh bukti-bukti dan keadaan tersebut adalah:

  • Pelanggaran, baik maksiat atau bid’ah, bisa membesar jika diiringi praktik terus menerus, meremehkannya, terang-terangan, menghalkan atau mengajak orang lain untuk melakukannya. Ia juga bisa mengecil bahayanya, jika dibarengi dengan pelaksanaan yang sembunyi-sembunyi, terselubung tidak terus menerus, menyesal (setelahnya, -pen) dan berusaha untuk taubat.

Contoh lain:

  • Pelanggaran itu dengan sendirinya bisa membesar dengan besarnya kerusakan yang ditimbulkan. Jika bahayanya kembali kepada dasar-dasar pokok agama, maka hal ini lebih besar, daripada penyimpangan yang bahayanya hanya kembali kepada hal-hal parsial dalam agama. Begitu pula pelanggaran yang bahayanya berhubungan dengan agama, lebih besar daripada pelanggaran yang bahayanya berhubungan dengan jiwa.

Jadi sebenarnya untuk mengomparasikan antara bid’ah dengan maksiat, kita harus memerhatikan situasi dan kondisi, maslahat dan bahayanya, serta akibat yang dtimbulkan sesudahnya. Karena memeringatkan bahaya bid’ah atau berlebih-lebihan dalam menilai keberadaannya, tidak seyogianya menimbulkan, sekarang atau sesudahnya, sikap meremehkan dan menganggap enteng keberadaan maksiat itu sendiri. Sebagaimana ketika kita memeringatkan, bahwa maksiat atau berlebih-lebihan dalam menilai keberadaannya, tidak seyogianya mengakibatkan, sekarang atau sesudahnya, sikap meremehkan dan menganggap enteng keberadaan bid’ah itu sendiri.

 

[Disalin dari kitab Qawaa’id Ma’rifat Al-Bida’, Penyusun Muhammad bin Husain Al-Jizani, edisi Indonesia Kaidah Memahami Bid’ah, Penerjemah Aman Abd Rahman, Penerbit Pustaka Azzam, Cetakan Juni 2001]

Sumber:

 

, ,

JAGALAH BATASAN-BATASAN/ SYARIAT ALLAH

JAGALAH BATASAN-BATASAN/ SYARIAT ALLAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama

JAGALAH BATASAN-BATASAN/ SYARIAT ALLAH

Rasulullah bersabda:

“Jagalah (batasan-batasan/syariat) Allah, maka Dia akan menjagamu. Jagalah (batasan-batasan/syariat), Allah maka kamu akan mendapati-Nya di hadapanmu” [HR at-Tirmidzi (no. 2516), Ahmad (1/293) dan lain-lain, dinyatakan Shahih oleh imam at-Tirmidzi dan syaikh al-Albani dalam “Shahihul jaami’ish shagiir” (no. 7957)].

Makna “Menjaga (batasan-batasan/syariat) Allah” adalah menunaikan hak-hak-Nya dengan selalu beribadah kepada-Nya, serta menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya [Lihat penjelasan Ibnu Rajab al-Hambali dalam “Jaami’ul uluumi wal hikam” (hal. 229)]. Dan makna “Kamu akan mendapati-Nya di hadapanmu”: Dia akan selalu bersamamu dengan selalu memberi pertolongan dan taufik-Nya kepadamu [Lihat penjelasan Ibnu Rajab al-Hambali dalam “Jaami’ul uluumi wal hikam” (hal. 233)].

Sumber: http://Muslim.or.id/14595-potret-suami-ideal-dalam-rumah-tangga.html

 

, ,

RAMBU-RAMBU AGAMA DALAM OLAHRAGA

RAMBU-RAMBU AGAMA DALAM OLAHRAGA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

RAMBU-RAMBU AGAMA DALAM OLAHRAGA
Oleh: Ustadz Abu Ibrohim Muhammad Ali AM حفظه الله

Dunia olah raga adalah dunia yang penuh dengan sensasi dan menjadi hobi kebanyakan anak manusia. Islam pun tidak melarangnya, karena memang hukum asal olahraga adalah halal/dibolehkan, selama tidak disertai perkara-perkara yang terlarang. Hanya saja Islam telah meletakkan rambu-rambu dan kaidah-kaidah olahraga secara umum, agar TIDAK KELUAR dari garis syariat.

Oleh karenanya sangat penting untuk kita kaji masalah ini, agar kita bisa mengetahui olahraga/ lomba-lomba apakah yang dibolehkan dalam Islam, dan dilarang oleh Islam. Di antara kaidah-kaidah tersebut adalah [Kami sarikan pembahasan ini dari Majallah al-Hikmah edisi No.3, Tanggal 1 Muharram 1415 H, bertepatan dengan 9 juni 1994M, hlm.155-168, ditulis oleh DR.Sa’id Abdul Adhim]:

Pertama: Untuk Mencari Ridho Allah
Setiap Muslim harus selalu mencari ridho Allah dalam setiap aktivitasnya. Dalam berolahraga pun ridho Allah harus dijadikan tujuan, dan itulah tujuan diciptakannya manusia. Allah berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS. adz-Dzariyat [51]: 56)
Termasuk kesalahpahaman sebagian orang yang mengatakan, bahwa ibadah hanya sholat, zakat, dan semisalnya, sedang olahraga tidak ada sangkut pautnya dengan ibadah (agama). Padahal Islam menjadikan perkara-perkara mubah sebagai ibadah yang berpahala, seperti tersenyum kepada sesama Muslim [HR. at-Tirmidzi: 1956, dan dishohihkan oleh al-Albani dalam Silsilah Shohihah: 572], seorang suami mengumpuli istrinya [HR. Muslim: 1674], seorang suami memberi makan istri [HR. al-Bukhori: 1213 dan Muslim: 3076], seorang yang menanam benih [HR. Ahmad: 184, dan dishohihkan oleh al-Albani dalam Silsilah Shohihah: 9], dan semisalnya.

Olahraga yang dilakukan seorang Muslim tidak akan sia-sia, bahkan berbuah pahala, jika diniatkan untuk mencari pahala dari Allah, dan untuk kemaslahatan dirinya, agamanya, dan kaum Muslimin secara umum. Akan tetapi jika tidak diniatkan demikian, maka akan menjadi bumerang baginya, dan dia akan sulit melepaskannya.

Kedua: Untuk Membela Agama dan Kebenaran
Berkata Syaikh Abu Bakr al-Jaza’iri حفظه الله[Dinukil secara bebas dari Majallah al-Hikmah edisi no. 3, tgl. 1 Muharrom 1415 H (9 juni 1994 M), hlm. 118]: “Sesungguhnya tujuan semua jenis olahraga yang dikenal dalam Islam adalah dimaksudkan menjadi sebuah alat menegakkan dan membela kebenaran. Bukanlah tujuan olahraga itu hanya mendapat harta melimpah, ketenaran, atau hal yang serupa, seperti berbangga diri dan (akhirnya) menjadi manusia yang rusak di muka bumi, sebagaimana kondisi kebanyakan mereka saat ini.”

Barang siapa tidak memahami hal ini, maka dia akan terjatuh kepada salah satu tujuan yang tidak dibenarkan dalam berolahraga.

Ketiga: Melatih Kekuatan, Kemahiran, dan Keberanian
Kebenaran akan terwujud sempurna dengan ilmu dan kekuatan. Ilmu bermanfaat bagi para pencari kebenaran, tetapi kekuatan dapat bermanfaat bagi orang-orang yang menentang. Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ mengajarkan ilmu yang bermanfaat kepada umatnya, dan menyiapkan kekuatan yang bermanfaat pula bagi tegaknya agama. Dan di antara bentuk persiapan kekuatan tersebut, beliau ﷺ memerintahkan kaum Muslimin berlatih jenis-jenis olahraga yang bermanfaat untuk menguatkan badan dan melatih keberanian. Demikianlah Allah memerintahkan kaum Muslimin untuk memersiapkan kekuatan yang bermanfaat bagi diri-diri mereka, agama dan kaum Muslimin secara umum, dalam firman-Nya:

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka, kekuatan apa saja yang kamu sanggupi. (QS. al-Anfal [8]: 60)
Oleh karena maksud ini, Rasulullah ﷺ mengizinkan para lelaki Habasyah bermain tombak dalam masjid beliau, bahkan mengizinkan Aisyah radhiyallahu’anha melihat mereka [Lihat Majallah al-Hikmah edisi no. 3, tgl. 1 Muharrom 1415 H (9 Juni 1994 M) hlm. 119].

Keempat: Tidak Menghabiskan Semua Waktunya Untuk Olahraga
Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَلِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا فَأَعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ

“Sesungguhnya Tuhanmu memunyai hak atasmu, dirimu memunyai hak atasmu, dan keluargamu memunyai hak atasmu. Maka berikan hak masing-masing kepada pemiliknya.” (HR. al-Bukhori: 1832)
Seorang Muslim boleh bersantai, berolahraga, dan menghibur dirinya dengan perkara-perkara yang halal, walaupun kurang bermanfaat. Hanya yang menjadi masalah, jika seorang Muslim menjadikan kebanyakan atau semua waktunya untuk olahraga atau perkara-perkara yang tidak bermanfaat, sehingga hidupnya menjadi sia-sia, penuh dengan permainan, dan pada akhirnya menghalangi dirinya untuk melaksanakan kewajiban syariat dan melanggar larangan-larangan-Nya.

Sungguh menyesal manusia yang lalai akan Kampung Akhirat, padahal dunia dan seisinya jika dibandingkan dengan Akhirat yang kekal, tidak ada artinya. Nabi ﷺ bersabda:

مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ

“Dunia ini dibandingkan dengan Akhirat, gambarannya hanya seperti seseorang yang mencelupkan satu jarinya ke lautan. Maka hendaknya ia melihat, apa yang ia akan bawa kembali.” (HR. Muslim: 5101)
Dan termasuk perangkap bagi manusia, setan selalu menghiasi dunia dengan berbagai cara supaya mereka tenggelam dalam kenikmatan dunia yang sekejap, dan lalai dengan Kampung Akhirat. Setan membisikkan kepada mereka, bahwa olahraga adalah perkara paling penting bagi manusia. Lalu manusia menjadi sibuk memikirkan olahraga, ingin mengetahui kabar terbarunya, membicarakan bintang-bintangnya secara detil, tanpa memerhatikan agama dan akhlak mereka [Betapa banyak anak muda sekarang jika ditanya siapa yang diidolakan, maka jawabnya adalah para pemain bola yang kafir, atau semisalnya].

Kelima: Tidak Fanatik Golongan dan Membabi Buta
Fanatik kepada kebenaran adalah baik dan bermanfaat, bahkan itulah istiqomah di atas agama. Akan tetapi fanatik kepada suatu kelompok tertentu, seperti kepada suatu perkumpulan olahraga, baik sepakbola atau lainnya, berarti berpegang teguh dengannya, saling menolong, dan rela mati demi membela serta memerjuangkannya, baik dalam kebenaran atau kebatilan. Inilah yang dilarang dalam Islam. Allah berfirman:

وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإثْمِ وَالْعُدْوَانِ

Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. (QS. al-Ma’idah [5]: 2)
Jika yang terjadi adalah fanatik golongan, seperti yang banyak terjadi baik, dari sesama pemain atau sesama supporter, berupa saling mencela, menghina, memukul, bermusuhan, bahkan saling membunuh, karena bukan dari kelompoknya. Kematian seperti ini adalah kematian jahiliah [Lihat HR. Muslim: 3440], dan olahraga yang disertai perkara semacam ini menjadi haram.

Keenam: Tidak Bercampur dengan Lawan Jenis Tanpa Batas [Lihat pembahasan lebih lengkap masalah ini dalam Majalah Al Furqon edisi 06 Tahun VI /Muharrom 1428 H, dengan judul “Ikhtilath Penyakit Kronis Umat” oleh Ustadz Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf]

Wanita adalah aurat yang harus dijaga. Tidak boleh ditampakkan kepada selain mahromnya [Lihat HR. at-Tirmidzi: 1173, dan beliau mengatakan bahwa hadis ini hasan shohih ghorib]. Pada dasarnya wanita harus tinggal di rumahnya, dan tidak keluar kecuali jika ada suatu hajat atau kebutuhan [Sebagaimana perintah Alloh kepada kaum wanita dalam QS. al-Ahzab: 33]. Oleh karenanya, dalam urusan ibadah pun wanita lebih baik beribadah di rumahnya daripada masjid-masjid kaum Muslimin, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

لَا تَـمْنَعُوا نِسَاءَكُمْ الْمَسَاجِدَ وَبُيُوتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ

“Janganlah kamu mencegah kaum wanitamu dari masjid-masjid Allah, tetapi rumah mereka lebih baik bagi mereka.” (HR. Abu Dawud: 576, dan dishohihkan oleh al-Albani dalam Silsilah Shohihah: 1396)

Jika wanita lebih baik di rumah dalam urusan ibadah, bagaimana kiranya urusan selain ibadah? Dan bagaimana kiranya lagi urusan olahraga? Maka jawabnya tentu di rumah jauh lebih baik lagi.
Jika wanita terbiasa keluar rumah, maka terjadilah campur baur wanita dengan laki-laki tanpa batas. Dan terjadilah banyak kerusakan/ fitnah, disebabkan sebagian kaum wanita telah menyelisihi fitrahnya. Oleh karena itu, rusaknya kaum Bani Israil sebab pertama kalinya adalah fitnah wanita [HR. Ahmad: 1112, dengan sanad yang shohih]. Jika wanita keluar rumah dan bercampur dengan kaum laki-laki tanpa batas, maka terjadilah saling memandang (zina mata), saling berbicara tanpa batas (zina mulut), saling bersentuhan (zina tangan) dan akhirnya saling berzina dengan zina yang sesungguhnya [Lihat HR. Bukhori: 6243 dan Muslim: 2657].

Islam telah memberi perunjuk agar umatnya tidak jatuh kepada perkara keji ini. Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sebaik-baik shof laki-laki adalah yang paling depan dan seburuk-buruk shof laki-laki adalah yang paling belakang. Sedangkan sebaik-baik shof kaum wanita adalah yang paling belakang, dan seburuk-buruk shof kaum wanita adalah yang paling depan.” [HR. Muslim: 440]

Bahkan Rasulullah ﷺ sangat menjaga batas antara kaum laki-laki dengan wanita, walaupun saat keluar dari tempat sholat. Beliau ﷺ dan para sahabatnya tetap tidak beranjak dari tempat sholatnya, sampai kaum wanita keluar terlebih dahulu, supaya tidak bercampur antara laki-laki dan wanita, walaupun setelah melaksanakan sholat, sebagaimana dikisahkan oleh Ummu Salamah radhiyallahu’anha, beliau berkata:

كُنَّ إِذَا سَلَّمْنَ مِنْ الْمَكْتُوبَةِ قُمْنَ وَثَبَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَنْ صَلَّى مِنْ الرِّجَالِ مَا شَاءَ اللَّهُ فَإِذَا قَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ الرِّجَالُ

“Bahwasanya kaum wanita pada zaman Rasulullah ﷺ, mereka segera bangkit jika setelah selesai sholat, lalu Rasulullah ﷺ dan para sahabat laki-laki tetap tidak beranjak (dari tempat sholatnya), lalu jika Rasulullah ﷺ mulai bangkit, kaum laki-laki pun juga bangkit.” (HR. al-Bukhori: 866)

Ketujuh: Menutup Aurat
Menutup aurat adalah kewajiban setiap Muslim laki-laki dan perempuan. Seseorang dilarang melihat aurat sesama jenisnya, sebagaimana ia dilarang melihat aurat lawan jenisnya [Lihat QS. an-Nur: 30-31].
Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ وَلَا الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ

“Seorang laki-laki dilarang melihat aurat laki-laki lain dan seorang wanita dilarang melihat aurat wanita lain.” (HR. Muslim: 512)

Sungguh kita mendapati pada zaman sekarang, banyak kaum Muslimin, baik laki-laki [Seperti menyingkap paha, padahal paha adalah aurat sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ: “Paha adalah aurat (kaum laki-laki).” (HR. al-Bukhori: 2/112). Dan Rasulullah ﷺ melarang sahabatnya menyingkap pahanya serta melarang melihat paha laki-laki lainnya (HR. Abu Dawud: 3140, dan dishohihkan oleh al-Albani dalam Shohih wa Dho’if al-Jami’ ash-Shoghir. 13397)] atau perempuan [Yang paling sering dijumpai dari wanita adalah menyingkap rambut dan kepalanya, padahal keduanya termasuk aurat sebagaimana disepakati para ulama (lihat Majallah al-Hikmah edisi no. 3, tgl. 1 Muharrom 1415 H, hlm. 126).

Memang kita patut bersyukur dengan semakin banyaknya jumlah wanita yang berjilbab, tetapi yang kita sesalkan adalah sebagian wanita yang enggan berjilbab atau berjilbab, tetapi hakikatnya tidak mengenakannya, seperti berjilbab tetapi dadanya tersingkap, betisnya ditampakkan, berjilbab pendek sehingga rambutnya tetap terburai, berjilbab tetapi memakai bawahan yang sangat ketat, atau yang semisalnya. Ini semua adalah kesalahan yang sebab utamanya adalah kesalahpahaman mereka tentang jilbab, yang mana mereka menganggap jilbab hanya mode, bukan untuk menutup aurat dan menjaga kehormatan] bermudah-mudahan terhadap auratnya. Mereka menyingkap auratnya baik sengaja atau tidak. Di sisi lain, sebagian besar kaum Muslimin tidak menggubrisnya, apalagi mencegahnya. Dan yang paling mengherankan, ketika ada sebagian Muslimah berusaha menutup auratnya lebih sempurna, justru mendapat ejekan, cacian, dianggap kuno, dituduh aliran sesat, teroris, dan sebagainya. Dari sini kita ketahui, bahwa olahraga yang mengharuskan pesertanya menampilkan aurat, seperti binaraga dan semisalnya, hukumnya haram.

Kedelapan: Meninggalkan Aturan Olahraga yang Bertentangan dengan Islam
Dalam setiap cabang olahraga, kalau kita perhatikan, masing-masing ada aturan mainnya. Pada dasarnya aturan yang dibuat dan disepakati tidak bermasalah. Tetapi ada sebagian aturan yang bertentangan dengan aturan Allah. Kalau demikian adanya, maka seorang Muslim dilarang menaati aturan yang dibuat, jika bertentangan dengan aturan Allah.

Sebagai contoh, pertandingan-pertandingan yang membolehkan pukulan ke arah wajah atau anggota tubuh yang membahayakan, lomba renang dengan membuka sebagian aurat, binaraga dengan menampakkan auratnya, pertandingan campuran antara laki-laki dengan wanita, atau yang semisalnya, semuanya diharamkan, sebab aturannya bertentangan dengan aturan Allah.

Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata [Dinukil dari Majallah al-Hikmah edisi no. 3, tgl. 1 Muharrom 1415 H, hlm. 129-130]: “Para sahabat dan generasi setelah mereka sepakat, bahwa jika (seorang Muslim) mengetahui sunnah Rasulullah ﷺ, maka tidak halal baginya untuk meninggalkannya, lalu mengikuti pendapat seseorang, tidak pandang siapa pun dia. Syariat Islam ini menghukumi semua kaidah-kaidah, aturan-aturan, undang-undang, atau adat-istiadat yang dibuat manusia baik, yang bersifat lokal atau internasional. Maka wajib setiap Muslim untuk merealisasikan firman Allah:

قُلْ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ

Katakanlah: “Sesungguhnya aku takut akan siksaan hari yang besar, jika aku durhaka kepada Tuhanku.” (QS. az-Zumar [39]: 13)

Kesembilan: Tetap Menunaikan Kewajiban Agamanya
Olahraga bukanlah tugas manusia, tetapi manusia ditugasi untuk beribadah (QS. adz-Dzariyat: 56). Olahraga menjadi haram jika sampai melalaikan kewajibannya. Oleh karenanya, haram mengadakan pertandingan olahraga (perlombaan) pada waktu azan dikumandangkan, lebih-lebih jika dikumandangkan azan sholat Jumat. Karena orang yang mendengar azan berkewajiban untuk mendatangi masjid dan sholat berjamaah. Oleh karena itu, Nabi ﷺ mengancam hendak membakar rumah orang-orang yang tidak menghadiri sholat berjamaah [Lihat HR. Muslim: 1041]. Lalu apakah kiranya jika ada seorang mendengar azan, lalu dia tidak menghiraukannya, bahkan justru asyik berolahraga atau menontonnya? Sungguh ini merupakan kelalaian yang sangat nyata.

Demikian pula seandainya saat hendak bertanding, para pemain harus makan dan minum menjelang bertanding, padahal saat itu waktu puasa Romadhon, maka olahraga semacam ini hukumnya menjadi haram.

Kesepuluh: Tidak Ada Pelanggaran Syariat Seperti Rukuk dan Sujud Kepada Makhluk
Sebagian cabang olahraga seperti beladiri, jika sebelum bertanding, atau saat bertanding, diharuskan adanya penghormatan dengan cara membungkuk kepada lawannya, seperti rukuk atau bahkan sampai sujud. Maka haram bagi seorang Muslim melakukannya [Lihat keharaman hukum sujud dan rukuk kepada manusia dalam Zadul Ma’ad fi Hadyi Khoiril Ibad kar. Ibnul Qoyyim رحمه الله (dinukil dari Majallah al-Hikmah edisi no. 3, tgl. 1 Muharrom 1415 H, hlm. 132)].

Cukuplah sunnah Rasul ﷺ bagi seorang Muslim, jika bertemu saudaranya untuk saling bersalaman [Sebagaimana dalam HR. ath-Thobroni 1/8/1/99, dan dishohihkan oleh al-Albani dalam Silsilah Shohihah: 2647]. Adapun saling membungkukkan badan, maka telah dilarang dalam agama Islam. Dalam sebuah hadis dijelaskan:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ الرَّجُلُ مِنَّا يَلْقَى أَخَاهُ أَوْ صَدِيقَهُ أَيَنْحَنِي لَهُ؟ قَالَ: لَا، قَالَ: أَفَيَلْتَزِمُهُ وَيُقَبِّلُهُ؟ قَالَ: لَا، قَالَ: أَفَيَأْخُذُ بِيَدِهِ وَيُصَافِحُهُ؟ قَالَ: نَعَمْ

Dan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: “Ada seseorang bertanya: ‘Wahai Rasulullah, jika ada di antara kami berjumpa dengan saudaranya atau kawannya, bolehkah dia membungkukkan badan untuknya?’ Nabi ﷺ menjawab: ‘Tidak boleh.’ Orang itu bertanya ‘lagi: ‘Bolehkah memeluk dan menciumnya?’ Nabi ﷺ menjawab: ‘Tidak .’ [Akan tetapi, bukan berarti memeluk dan mencium saudaranya hukumnya haram, karena ada keterangan dalam hadis yang lain bahwa kebiasaan sahabat jika salah satu mereka datang dari bepergian jauh mereka saling berpelukan (HR. al-Baihaqi: 7/100, dan dishohihkan oleh al-Albani dalam Silsilah Shohihah: 160)]. Orang itu bertanya lagi: ‘Bolehkah menyalami dengan tangannya?’ Nabi ﷺ menjawab: ‘Ya.'” (HR. at-Tirmidzi: 2728, dan dishohihkan oleh al-Albani dalam Misykat al-Mashobih: 4680)

Kesebelas: Tidak Kagum dan Berloyalitas Kepada Non-Muslim
Termasuk perangkap setan, manusia dibuat takjub oleh kepiawaian para bintang olahraga saat berlaga. Tidak cukup merasa takjub, sebagian mereka hatinya condong kepadanya, tanpa melihat sisi agama dan akhlaknya. Ditambah sebab kebodohannya tentang al-wala wal baro’, maka sebagian mereka membela bintang yang difavoritkan.

Secara tidak langsung mereka melebihkan orang kafir daripada orang Muslim, sebab mereka lebih menonjolkan pemain kafir daripada tokoh-tokoh Islam — utamanya Rasulullah ﷺ. Bahkan tidak jarang para pemuda Muslim dengan bangga memakai kostum milik bintang kafir, lengkap dengan nomor punggung dan nama pemain kafir tersebut. Bahkan terkadang ada yang tidak segan memakai baju bergambar bintang idolanya yang kafir. Na’udzu billah min dzalik.

Jika kondisinya seperti ini, maka hilanglah permusuhan antara kaum Muslimin dengan kaum kafir. Mereka justru duduk bersama-sama. Bahkan sebagian kaum Muslimin mengidolakan musuh-musuh Allah yang seharusnya diperangi, karena mereka memerangi agama Islam (baca QS. al-Mujadilah: 22), dan kaum Muslimin harus menampakkan permusuhan dengan mereka [Namun bukan berarti kaum muslimin tidak boleh sama sekali berbuat baik kepada orang kafir. Kaum muslimin harus selalu adil, bahkan tidak boleh mengkhianati mereka, jika mereka tidak berkhianat dan tidak memerangi agama Islam (QS. al-Mumtahanah [60]: 8). Sebagai bukti hal ini, Rasulullah ﷺ berjual beli dengan mereka. Beliau ﷺ pernah menjenguk orang kafir yang sakit, dan beliau ﷺ pernah mengirim hadiah kepada raja kafir. Ini semua dilakukan jika terdapat maslahat di dalamnya, seperti harapan supaya masuk Islam. Dan bukan berarti Rasulullah ﷺ cinta kepada orang-orang kafir. Maka harus dibedakan antara berbuat adil dan cinta kepada mereka. (Lihat Majallah al-Hikmah edisi no. 3, tgl. 1 Muharrom 1415 H, hlm. 133)]. Allah berfirman:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrohim dan orang-orang yang bersama dengan dia. Ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu, dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah. Kami ingkari (kekafiran)mu. Dan telah nyata antara kami dan kamu, permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya, sampai kamu beriman kepada Allah saja.” (QS. al-Mumtahanah [60]: 4)

Kedua Belas: Tidak Membahayakan
Jika suatu pertandingan olahraga yang digelar terdapat sesuatu yang membahayakan keselamatan pesertanya, maka olahraga tersebut menjadi haram, seperti tinju, dan gulat bebas, yang dibolehkan di dalamnya menyakiti lawan, serta membahayakan keselamatan pesertanya [Sebagaimana Majlis Fatwa al-Majma’ al-Fiqhi al-lslami li Robithoh al-Alam al-Islamiy pada Muktamarnya yang ke-10 digelar di Makkah al-Mukarromah, pada tanggal 24 Shofar 1408 H, telah memutuskan, bahwa kedua cabang olahraga ini hukumnya haram]. Allah berfirman:

وَلا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. (QS. an-Nisa’ [4]: 29)

Demikian pula semua cabang olahraga yang yang hukum asalnya mubah (halal). Jika menurut dugaan yang kuat akan terjadi bahaya terhadap keselamatan pesertanya, maka diharamkan sebagaimana ayat di atas [Adapun hukum olahraga seperti balap motor, balap mobil, lomba lari, panjat tebing, gulat, karate, taekwondo, kungfu, dan lainnya, maka hukum asalnya adalah termasuk yang dianjurkan, sebagaimana Alloh perintahkan hamba-Nya untuk melatih dan menyiapkan kekuatan (QS. al-Anfal [8]: 60), dan Nabiﷺ memerintah para sahabatnya berlatih memanah (HR. al-Bukhori: 3122). Hanya saja para ulama mensyaratkan kehalalannya, jika diduga kuat tidak akan membahayakan peserta. Dan menjadi haram jika diduga kuat akan membahayakan pesertanya. (Lihat al-Hikmah edisi no. 3, tgl. 1 Muharrom 1415 H, hlm. 153-162)].

Ketiga Belas: Tidak Menimbulkan Sifat Bangga Diri, Sombong, Dengki, dan Lainnya
Bangga diri (ujub), sombong dan dengki adalah penyakit hati yang dapat terjadi dalam perkara apa saja, bisa sebab ilmu, harta, rupa, pangkat, nasab, dan syuhroh (ketenaran). Jika seseorang yang berolahraga salah niatnya, dia akan selalu mencari jalan supaya menjadi yang paling nomor satu. Ketenaran dan kebanggaanlah yang menjadi tujuannya, lalu menganggap dirinya lebih besar dan hebat, sedangkan yang lainnya lebih lemah daripadanya dan akhirnya diremehkan. Inilah penyakit hati yang telah disebutkan oleh Rasulullah ﷺ dan pelakunya dibenci oleh Allah. Nabi ﷺ bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

Tidak akan masuk Surga, siapa saja yang memiliki kesombongan, walaupun sebiji sawi dalam hatinya.” Lalu ada orang bertanya: “(Wahai Rasulullah !) Ada orang yang selalu ingin baju dan sandalnya bagus.” Lalu Nabi ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah itu Mahabagus dan mencintai yang bagus-bagus. Sombong itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim: 131)

Penutup
Marilah kita merenungi kembali tujuan Allah menciptakan kita. Ilmu agama dan aktivitas dunia yang bermanfaat sudah cukup menyita waktu kita, sehingga kita harus berpikir seribu kali untuk menyia-nyiakannya. Generasi yang mendapatkan kejayaan adalah sebaik-baik contoh buat kita, untuk menjalani kehidupan sehari-hari. Mereka menggunakan waktunya untuk duduk di majelis ilmu, belajar agama atau mengajarkannya. Jika mendengar seruan azan, mereka segera sholat. Jika mendengar seruan jihad, mereka berebut supaya tidak ketinggalan. Mereka mencari dunia sebagai jalan menuju Kampung Akhirat. Mereka ridho kepada Allah dan Allah pun ridho kepada mereka, dan mereka mendapatkan janji Allah berupa Surga. Bandingkan keadaan kita dengan mereka. Kembalilah kepada Allah Sang Pencipta. Ikhlaskan niat hanya untuk-Nya. Jangan jadikan perkara-perkara yang asalnya mubah menggeser niat utama kita sebagai kaum Muslimin, yang akibatnya akan perkara mubah itu menggantikan niat utama kita, yaitu mencari ridho Allah.

Semoga kita dimudahkan untuk mengikuti jejak para salaf sholih. Amin.

Publication: 1438 H/2016 M
Disalin dari Majalah Al-Furqon No. 112 Ed. 09 Th Ke-10_1432 H/2011 M
Sumber: https://ibnumajjah.wordpress.com/2016/11/14/rambu-rambu-agama-dalam-olahraga/

HUKUM BEKERJA DI TEMPAT ORANG KAFIR

HUKUM BEKERJA DI TEMPAT ORANG KAFIR

HUKUM BEKERJA DI TEMPAT ORANG KAFIR

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Islam membolehkan kaum Muslimin bermuamalah dengan orang non Muslim. Bahkan  tradisi semacam ini makruf dilakukan Rasulullah ﷺ dan para sahabat. Mereka bermuamalah dengan orang Yahudi di sekitar Madinah. Dan sebelumnya, kaum Muslimin juga bermuamalah dengan masyarakat musyrikin Quraisy yang merupakan musuh besar mereka.

Imam Bukhari membawakan bab dalam kitab shahihnya:

باب الشراء والبيع مع المشركين وأهل الحرب

“Bab Jual Beli Bersama Orang Musyrikin Dan Kafir Harbi”

Kemudian beliau membawakan riwayat dari Abdurrahman bin Abi Bakr Radhiyallahu ‘anhuma, bahwa beliau pernah bersama Nabi ﷺ, kemudian datang seorang musyrik rambutnya kusut, badannya tinggi, membawa beberapa ekor kambing. Lalu Nabi ﷺ bertanya:

بَيْعًا أَمْ عَطِيَّةً

‘Mau dijual ataukah mau dikasihkan?’

‘Mau dijual,’ jawab orang musyrik itu.

Kemudian Nabi ﷺ membelinya satu ekor. (HR. Bukhari 2216).

Imam al-Bukhari juga membuat judul bab:

باب الأسواق التي كانت في الجاهلية فتبايع بها الناس في الإسلام

“Bab Pasar-Pasar Di Masa Jahiliyah, Yang Digunakan Untuk Jual Beli Masyarakat Setelah Datang Islam”.

Kemudian beliau membawa riwayat keterangan dari Ibnu Abbas:

كَانَتْ عُكَاظٌ وَمَجَنَّةُ وَذُو الْمَجَازِ أَسْوَاقًا فِى الْجَاهِلِيَّةِ ، فَلَمَّا كَانَ الإِسْلاَمُ تَأَثَّمُوا مِنَ التِّجَارَةِ فِيهَا ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ ( لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ ) فِى مَوَاسِمِ الْحَجِّ

Dulu, Ukadz, Majannah, dan Dzul Majaz adalah pasar-pasar di masa Jahiliyah. Setelah berkuasa, para sahabat merasa enggan untuk berdagang di sana. Kemudian Allah menurunkan firman-Nya, (yang artinya) ‘Tidak ada dosa bagi kalian…’ ketika musim haji. (HR. Bukhari 2098).

Syaikhul Islam juga menyebutkan dalil lain yang membolehkan bermuamalah dengan orang kafir sekalipun dia Kafir Harbi. Beliau mengatakan:

إن الرجل لو سافر إلى دار الحرب ليشتري منها، جاز عندنا، كما دل عليه حديث تجارة أبي بكر -رضي الله عنه- في حياة رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى أرض الشام، وهي دار حرب

Apabila ada orang yang melakukan safar ke Darul Harbi (negeri orang Kafir Harbi), untuk memberli sesuatu darinya, hukumnya boleh menurut pendapat kami. Sebagaimana yang ditunjukkan dalam hadis tentang berdagangnya Abu Bakr Radhiyallahu ‘anhu ke negeri Syam di masa Rasulullah ﷺ. Padahal negeri Syam ketika itu termasuk Darul Harbi. (Iqtidha as-Shirat al-Mustaqim, 2/15)

Semua keterangan di atas menunjukkan, bahwa muamalah dengan orang kafir termasuk tradisi yang dilakukan para sahabat dan kaum Muslimin sejak masa silam.

Beberapa Keterangan Ulama Tentang Batasan Muamalah dengan Orang Kafir

Al-Khallal menyebutkan keterangan dari salah satu murid Imam Ahmad, yang bernama Muhanna, beliau mengatakan:

سألت أحمد عن شهود هذه الأعياد التي تكون عندنا بالشام، مثل: طور يانور ودير أيوب وأشباهه، يشهده المسلمون، يشهدون الأسواق، ويجلبون  الغنم فيه، والبقر، والدقيق والبر، والشعير، وغير ذلك، إلا أنه إنما يكون في الأسواق يشترون، ولا يدخلون عليهم بيعهم؟

‘Saya pernah bertanya kepada Imam Ahmad tentang hukum mendatangi beberapa perayaan (Nasrani) yang ada di Syam, sepeti Thuryanur, atau Dir Ayub, atau semisalnya. Kaum Muslimin ikut menyaksikannya dan mendatangi pasar yang digelar di perayaan itu. Mereka membawa kambing, sapi, tepung, gadum, dan barang lainnya. Mereka hanya mendatangi pasarnya, untuk jual beli, dan tidak masuk ke kuil Nasrani.’

Jawaban Imam Ahmad:

إذا لم يدخلوا عليهم بيعهم، وإنما يشهدون السوق فلا بأس

Apabila mereka tidak sampai masuk ke kuil orang kafir, namun hanya datang ke pasarnya, tidak masalah. (Iqtidha as-Shirat al-Mustaqim, 1/517).

Kemudian Syaikhul Islam menjelaskan keterangan Imam Ahmad di atas:

ما أجاب به أحمد من جواز شهود السوق فقط للشراء منها، من غير دخول الكنيسة فيجوز؛ لأن ذلك ليس فيه شهود منكر، ولا إعانة على معصية؛ لأن نفس الابتياع منهم جائز، ولا إعانة فيه على المعصية

Jawaban Imam Ahmad, yang membolehkan mendatangi pasar hanya untuk membeli, TANPA masuk ke gereja, bisa dibenarkan. Karena sebatas datang ke pasar, tidak ada unsur menyaksikan kemunkaran, atau membantu orang kafir untuk bermaksiat. Di samping itu, jual beli dengan mereka (orang kafir) pada asalnya boleh, dan tidak termasuk membantu mereka untuk maksiat. (Iqtidha as-Shirat al-Mustaqim, 2/14).

Beliau juga mengatakan:

أما بيع المسلمين لهم في أعيادهم، ما يستعينون به على عيدهم، من الطعام واللباس والريحان ونحو ذلك، أو إهداء ذلك لهم، فهذا فيه نوع إعانة على إقامة عيدهم المحرم

Sementara kegiatan kaum Muslimin berupa menjual kepada orang kafir ketika hari raya mereka, berupa barang yang membantu mereka untuk menyelenggarakan hari raya, seperti makanan, pakaian, parfum, atau semacamnya, atau menghadiahkan barang-barang itu untuk mereka, maka semacam ini termasuk bentuk membantu terselenggaranya hari raya mereka yang hukumnya HARAM. (Iqtidha as-Shirat al-Mustaqim, 2/15)

Al-Hafidz Ibnu Hajar menjelaskan hadis Bukhari tentang bolehnya bermuamalah dengan orang Kafir Harbi. Beliau menukil keterangan Ibnu Batthal:

قال بن بطال معاملة الكفار جائزة إلا بيع ما يستعين به أهل الحرب على المسلمين

Ibnu Batthal mengatakan: ‘Bermuamalah dengan orang kafir dibolehkan, kecuali untuk jual beli yang membantu orang Kafir Harbi untuk mengalahkan kaum Muslimin.’ (Fathul Bari, 4/410).

Imam Buhkari juga menyebutkan bab dalam shahihnya:

باب بيع السلاح في الفتنة وغيرها

“Bab Tentang Hukum Menjual Senjata Di Zaman Fitnah (Zaman Genting) Atau Semacamnya”.

Kemudian Bukhari membawakan riwayat dari Abu Qatadah bahwa ketika Perang Hunain, beliau diberi baju besi oleh Nabi ﷺ. Kemudian baju besi itu dijual kepada orang kafir dari Bani Salamah dengan harga sepetak kebun.

Al-Hafidz menjelaskan maksud Bukhari:

ويحتمل أن المراد بإيراد هذا الحديث جواز بيع السلاح في الفتنة لمن لا يخشى منه الضرر لأن أبا قتادة باع درعه في الوقت الذي كان القتال فيه قائما بين المسلمين والمشركين وأقره النبي صلى الله عليه و سلم على ذلك والظن به أنه لم يبعه ممن يعين على قتال المسلمين فيستفاد منه جواز بيعه في زمن القتال لمن لا يخشى منه

Dipahami dari maksud Bukhari dengan membawakan hadis di atas, adalah boolehnya menjual senjata di zaman fitnah, kepada orang yang TIDAK dikhwatirkan mengganggu kaum Muslimin. Karena Abu Qatadah menjual baju besinya di waktu terjadi perang antara kaum Muslimin dengan orang musyrik. Dan itu disetujui Nabi ﷺ. Dan dugaaan kuat yang kita berikan, bahwa beliau tidak menjual itu kepada orang yang akan membantu orang musyrik memerangi kaum Muslimin. Sehingga disimpulkan dari hal itu, bolehnya menjual senjata di zaman perang, bagi orang yang tidak ditakutkan membahayakan. (Fathul Bari, 4/323).

Dari beberapa keterangan di atas, ada beberapa kesimpulan yang bisa kita catat:

Pertama, dibolehkan melakukan muamalah kepada semua orang kafir, tak terkecuali Kafir Harbi dengan batasan yang nanti disebutkan.

Kedua, Muamalah dengan orang kafir sudah menjadi tradisi sejak zaman sahabat.

Ketiga, Memberi keuntungan duniawi kepada orang kafir BUKAN termasuk mendukung kekufuran mereka. Sekalipun bisa jadi, keuntungan harta yang mereka dapatkan, akan digunakan untuk melangsungkan kegiatan kekufuran.

Keempat, Batasan dalam bermuamalah dengan orang kafir sebagai berikut:

  1. Tidak membantu mereka untuk mengalahkan kaum Muslimin secara langsung,seperti menjual senjata atau alat perang yang mendukung mereka untuk memerangi kaum Muslimin.
  2. Tidak membantu mereka untuk melakukan kemunkaran, misalnya menjual anggur yang akan mereka gunakan untuk bahan khamr.
  3. Tidak memberi kesempatan mereka untuk menghina syariat Islam, seperti menjual mushaf Alquran, yang sangat rentan bagi mereka untuk dihinakan.

Ibnu Qudamah mengatakan:

ولا يجوز تمكينه من شراء مصحف ولا حديث رسول الله صلى الله عليه و سلم ولا فقه فان فعل فالشراء باطل لأن ذلك يتضمن ابتذاله

Tidak boleh memberi kesempatan mereka untuk membeli mushaf Alquran atau hadis Nabi ﷺ atau kitab fiqih. Jika dilakukan, jual belinya batal, karena semacam ini menyebabkan orang kafir menghinakannya. (al-Mughni, 10/614).

Boleh menjual senjata di zaman perang kepada orang yang tidak membahayakan kaum Muslimin.

Kelima, termasuk bentuk muamalah kepada orang kafir adalah bekerja di perusahaan milik orang kafir. Meskipun hal ini menguntungkan orang kafir dari sisi materi.

Allahu a’lam.

 

Penulis: Al-Ustadz Ammi Nur Baits hafizhahullah

https://pengusahaMuslim.com/4261-hukum-bekerja-di-tempat-orang-kafir.html

 

Catatan Tambahan:

Para ulama membagi orang kafir menjadi empat macam:

  1. Kafir Mu’ahid yaitu orang kafir yang tinggal di negeri mereka sendiri dan di antara mereka dan kaum Muslimin memiliki perjanjian.
  2. Kafir Dzimmi yaitu orang kafir yang tinggal di negeri kaum Muslimin dan sebagai gantinya mereka mengeluarkan jizyah (semacam upeti) sebagai kompensasi perlindungan kaum Muslimin terhadap mereka.
  3. Kafir Musta’man yaitu orang kafir masuk ke negeri kaum Muslimin, dan diberi jaminan keamanan oleh penguasa Muslim, atau dari salah seorang Muslim.
  4. Kafir Harbi yaitu orang kafir selain tiga jenis di atas. Kafir harbi adalah seluruh orang musyrik dan Ahli Kitab yang boleh diperangi atau semua orang kafir yang menampakkan permusuhan dan menyerang kaum Muslimin Kaum Muslimin disyari’atkan untuk memerangi orang kafir semacam ini sesuai dengan kemampuan mereka. (Lihat Tahdzib Tashil Al ‘Aqidah Al Islamiyah, hal. 232-234)

 

,

TIGA MACAM ATURAN JUAL BELI

GA MACAM ATURAN JUAL BELI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Fikih_Jual_Beli

TIGA MACAM ATURAN JUAL BELI

Aturan jual beli ada tiga macam:

  • Aturan Jual Beli (1): Jual Beli Tanpa Ucapan
  • Aturan Jual Beli (2): Syarat bagi Orang yang Melakukan Akad Jual Beli
  • Aturan Jual Beli (3): Syarat pada Barang yang Dijual

Apa yang Dimaksud Jual Beli?

Al bay’u atau jual beli terdapat berbagai macam definisi di kalangan para ulama. Namun definisi yang paling mendekati sebagaimana dikemukakan oleh Ibnu Qudamah:

مبادلة المال بالمال لغرض التملك

“Menukar harta dengan harta (ada timbal balik) dengan tujuan kepemilikan” (Al Muqni’, 2: 3)

Dari definisi ini, jual beli berbeda dengan hibah. Hibah adalah memiliki sesuatu tanpa adanya timbal balik, dan hibah diberikan ketika hidup. Jual beli juga berbeda dengan wasiat. Karena wasiat adalah memiliki sesuatu tanpa adanya timbal balik, dan diberikan setelah si pemilik barang meninggal dunia.

Begitu pula jual beli berbeda dengan ijaroh (sewa atau pemanfaatan jasa). Ijaroh adalah akad antara pemanfaatan jasa yang sudah jelas dengan adanya timbale balik berupa bayaran yang juga jelas. Ijaroh dibatasi dengan waktu tertentu atau dengan patokan selesainya pekerjaan, hal ini bedan dengan jual beli. Ijaroh adalah pemanfaatan jasa, sedangkan dalam jual beli dimaksudkan untuk kepemilikan suatu benda secara utuh.

Berilmu Sebelum Melakukan Jual Beli

Pentingnya berilmu terlebih dahulu sebelum melakukan aktivitas jual beli telah diingatkan oleh para ulama di masa silam. Jika tidak berilmu, bisa menjerumuskan seorang Muslim dalam perkara yang haram. ‘Ali bin Abi Tholib mengatakan:

مَنْ اتَّجَرَ قَبْلَ أَنْ يَتَفَقَّهَ ارْتَطَمَ فِي الرِّبَا ثُمَّ ارْتَطَمَ ثُمَّ ارْتَطَمَ

“Barang siapa yang berdagang namun belum memahami ilmu agama, maka dia pasti akan terjerumus dalam riba. Kemudian dia akan terjerumus ke dalamnya, dan terus menerus terjerumus.”

Lihatlah pula apa kata ‘Umar bin Khottob radhiyallahu ‘anhu. Beliau berkata:

لَا يَتَّجِرْ فِي سُوقِنَا إلَّا مَنْ فَقِهَ أَكْلَ الرِّبَا

“Janganlah seseorang berdagang di pasar kami, sampai dia paham betul mengenai seluk beluk riba.” (Lihat Mughnil Muhtaj, 6: 310). Perkataan ‘Ali dan ‘Umar di atas berlaku bagi penjual, begitu pula pembeli.

Hukum Jual Beli

Hukum jual beli asalnya adalah boleh berdasarkan dalil Al Kitab, As Sunnah, Ijma’ serta Qiyas.

Kita dapat melihat bagaimanakah dalam Alquran menyebutkan hal ini, yaitu firman Allah Ta’ala:

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

“Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (QS. Al Baqarah: 275). Dan firman Allah Ta’ala:

لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ

“Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Rabb-mu” (QS. Al Baqarah: 198).

Dari Hakim bin Hizam, Nabi ﷺ bersabda:

الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِى بَيْعِهِمَا وَإِنْ كَذَبَا وَكَتَمَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا

“Orang yang bertransaksi jual beli masing-masing memilki Hak Khiyar (membatalkan atau melanjutkan transaksi), selama keduanya belum berpisah. Jika keduanya jujur dan terbuka, maka keduanya akan mendapatkan keberkahan dalam jual beli. Tapi jika keduanya berdusta dan tidak terbuka, maka keberkahan jual beli antara keduanya akan hilang” (Muttafaqun ‘alaih). Dalil ini pun menunjukkan halalnya jual beli.

Secara Ijma’, para ulama pun sepakat akan halalnya jual beli. Begitu pula berdasarkan Qiyas. Manusia tentu amat butuh dengan jual beli. Ada ketergantungan antara manusia dan lainnya dalam hal memeroleh uang dan barang. Tidak mungkin hal itu diberi cuma-Cuma, melainkan dengan timbal balik. Oleh karena itu berdasarkan hikmah, jual beli itu dibolehkan untuk mencapai hal yang dimaksud.

Ijab Qobul dalam Jual Beli

Sebagian ulama yaitu Hanafiyah, Malikiyah dan Hambali menyatakan, bahwa ada dua bentuk akad jual beli, yaitu perkataan dan perbuatan. Bentuk perkataan semisal dengan ucapan penjual: “Saya jual barang ini padamu”, dan pembeli menerima dengan ucapan: “Saya beli barang ini darimu atau saya terima”. Sedangkan bentuk perbuatan dikenal dengan istilah “Mu’athoh”. Bentuknya adalah seperti pembeli cukup meletakkan uang dan penjual menyerahkan barangnya. Transaksi Mu’athoh ini biasa kita temukan dalam transaksi di pasar, supermarket, dan mall-mall. Transaksi Mu’athoh bisa dalam tiga bentuk:

  • Si penjual mengatakan “Saya jual”, dan si pembeli cukup mengambil barang dan  menyerahkan uang.
  • Si pembeli mengatakan: “Saya beli”, dan si penjual menyerahkan barang dan menerima uang.
  • Si penjual dan pembeli tidak mengatakan ucapan apa-apa. Si pembeli cukup menyerahkan uang dan si penjual menyerahkan barang. (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 2: 8)

Ulama Syafi’iyah melarang bentuk perbuatan dalam ijab qobul. Mereka beralasan, bahwa perbuatan tidak menunjukkan adanya ‘iwadh atau timbal balik. Sehingga jual beli Mu’athoh semacam ini menurut ulama Syafi’iyah tidaklah sah (Lihat Al Majmu’, 9: 170).

Pendapat terkuat dalam hal ini adalah IJAB QOBUL BOLEH DAN SAH DENGAN PERBUATAN dengan alasan:

Pertama: Allah membolehkan jual beli dan tidak membatasinya dengan bentuk akad tertentu. Allah Ta’ala berfirman:

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

“Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (QS. Al Baqarah: 275).

Kedua, sesuai ‘urf (kebiasaan) dengan si pembeli menerima barang dan penjual mengambil uang, maka itu sudah menunjukkan ridho keduanya. Jika dengan perkataan dianggap ridho, maka dengan perbuatan bisa teranggap pula. Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka (saling ridho) di antara kalian” (QS. An Nisa’: 29). (Lihat An Niyat, 2: 59-60)

Sehingga dari sini, mengenai jual beli yang berlaku di pasar, supermarket, dan mall, tanpa adanya ucapan apa-apa, cukup saling ridho dengan si penjual menyerahkan barang dan si pembeli menyerahkan uang, maka itu sudah DIANGGAP SAH.

Bentuk transaksi Mu’athoh di zaman modern:

  • Jual beli melalui mesin yang sudah berisi minuman penyegar, aqua, atau minuman bersoda dengan cukup memasukan sejumlah uang pecahan ke dalam mesin.
  • Transaksi melalui mesin ATM, seperti pembayaran listrik dan air.
  • Pemesanan dan pembelian tiket melalui internet.
  • Jual beli saham melalui internet. (Lihat Syarh ‘Umdatul Fiqh, 2: 782)

Aturan Jual Beli (2), Syarat bagi Orang yang Melakukan Akad Jual Beli

Jual beli sebagaimana dalam masalah amalan lainnya memiliki syarat yang perlu diperhatikan. Syarat dalam jual beli sendiri mencakup:

(1) Syarat pada orang yang melakukan akad, dan

(2) Syarat pada barang atau alat tukar jual beli.

Setiap Muslim mesti memerhatikan dengan baik hal ini, agar jual belinya bisa dikatakan sah. Ada tiga syarat yang berkaitan dengan orang yang melakukan akad jual beli:

Pertama: Ridho antara Penjual dan Pembeli

Jual beli tidaklah sah, jika di dalamnya terdapat paksaan tanpa jalan yang benar. Jual beli baru sah jika ada saling ridho di dalamnya sebagaiamana firman Allah Ta’ala:

إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ

“Kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka (saling ridho) di antara kalian” (QS. An Nisa’: 29).

Dari Abu Sa’id Al Khudri, Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّمَا الْبَيْعُ عَنْ تَرَاضٍ

“Sesungguhnya jual beli dituntut adanya keridhoan” (HR. Ibnu Majah no. 2185. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih).

Namun jika ada pemaksaan dalam jual beli dengan cara yang benar, semisal seorang hakim memutuskan untuk memaksa menjual barang orang yang jatuh pailit untuk melunasi utang-utangnya, maka semisal itu dibolehkan.

Kedua: Orang yang Melakukan Akad Jual Beli Diizinkan untuk Membelanjakan Harta

Mereka yang diizinkan adalah:

(1) Merdeka,

(2) Mukallaf (telah terbebani syariat),

(3) Memiliki sifat rusydu (dapat membelanjakan harta dengan baik). Sehingga anak kecil, orang yang kurang akal (idiot) dan tidak bisa membelanjakan harta dengan benar, juga orang gila, TIDAK BOLEH melakukan jual beli. Begitu pula dengan seorang budak, kecuali dengan izin tuannya.

Catatan: Rusydu menurut mayoritas ulama ada ketika telah mencapi masa baligh. Ketika telah mencapai baligh atau telah tua renta belum memiliki sifat rusydu, maka keadaannya di-hajr, yaitu dilarang untuk melakukan jual beli. Sifat rusydu ini datang bersama masa baligh. Namun pada sebagian orang sifat rusydu ini datang telat. Ada yang sebentar, atau lama setelah baligh (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 22: 212-214).

Ketiga: Orang yang Melakukan Akad adalah Sebagai Pemilik Barang atau Alat Tukar, atau Bertindak Sebagai Wakil

Hakim bin Hizam pernah bertanya pada Rasulullah ﷺ:

يَا رَسُولَ اللَّهِ يَأْتِينِي الرَّجُلُ فَيَسْأَلُنِي الْبَيْعَ لَيْسَ عِنْدِي أَبِيعُهُ مِنْهُ ثُمَّ أَبْتَاعُهُ لَهُ مِنْ السُّوقِ قَالَ لَا تَبِعْ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ

“Wahai Rasulullah, ada seseorang yang mendatangiku, lalu ia meminta agar aku menjual kepadanya barang yang belum aku miliki, dengan terlebih dahulu aku membelinya dari pasar” Rasulullah ﷺ menjawab: “Janganlah engkau menjual sesuatu yang tidak ada padamu.” (HR. Abu Daud no. 3503, An Nasai no. 4613, Tirmidzi no. 1232 dan Ibnu Majah no. 2187. Syaikh Al Albani mengatakan hadis ini Shahih).

Di antara salah satu bentuk dari menjual belikan barang yang belum menjadi milik kita ialah menjual barang yang belum sepenuhnya diserahterimakan kepada kita, walaupun barang itu telah kita beli, dan mungkin saja pembayaran telah lunas. Larangan ini berdasarkan hadis Ibnu ‘Abbas, Nabi ﷺ bersabda:

مَنِ ابْتَاعَ طَعَامًا فَلاَ يَبِعْهُ حَتَّى يَسْتَوْفِيَهُ

“Barang siapa yang membeli bahan makanan, maka janganlah ia menjualnya kembali, hingga ia selesai menerimanya.” Ibnu ‘Abbas mengatakan:

وَأَحْسِبُ كُلَّ شَىْءٍ مِثْلَهُ

“Aku berpendapat, bahwa segala sesuatu hukumnya sama dengan bahan makanan.” (HR. Bukhari no. 2136 dan Muslim no. 1525).

Ibnu ‘Umar mengatakan:

وَكُنَّا نَشْتَرِى الطَّعَامَ مِنَ الرُّكْبَانِ جِزَافًا فَنَهَانَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ نَبِيعَهُ حَتَّى نَنْقُلَهُ مِنْ مَكَانِهِ.

“Kami biasa membeli bahan makanan dari orang yang berkendaraan tanpa diketahui ukurannya. Kemudian Rasulullah ﷺ melarang kami menjual barang tersebut sampai barang tersebut dipindahkan dari tempatnya” (HR. Muslim no. 1527).

Dalam riwayat lain, Ibnu ‘Umar juga mengatakan:

كُنَّا فِى زَمَانِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- نَبْتَاعُ الطَّعَامَ فَيَبْعَثُ عَلَيْنَا مَنْ يَأْمُرُنَا بِانْتِقَالِهِ مِنَ الْمَكَانِ الَّذِى ابْتَعْنَاهُ فِيهِ إِلَى مَكَانٍ سِوَاهُ قَبْلَ أَنْ نَبِيعَهُ.

“Kami dahulu di zaman Rasulullah ﷺ membeli bahan makanan. Lalu seseorang diutus pada kami. Dia disuruh untuk memerintahkan kami agar memindahkan bahan makanan yang sudah dibeli tadi ke tempat yang lain, sebelum kami menjualnya kembali” (HR. Muslim no. 1527).

Bentuk serah terima di sini tergantung dari jenis barang yang dijual. Untuk rumah, cukup dengan nota pembelian atau balik nama. Untuk motor adalah dengan balik nama kepada pemilik yang baru. Barang lain mesti dengan dipindahkan dan semisalnya.

Bentuk pelanggaran dalam syarat jual beli ini adalah seperti yang terjadi dalam jual beli kredit dengan deskripsi sebagai berikut:

Pihak bank menelpon showroom dan berkata: “Kami membeli mobil X dari Anda.” Selanjutnya pembayarannya dilakukan via transfer, lalu pihak bank berkata kepada pemohon: “Silakan Anda datang ke showroom tersebut dan ambil mobilnya.”

Bank pada saat itu menjual barang yang belum diserahterimakan secara sempurna, belum ada pindah nama atau pemindahan lainnya. Ini termasuk pelanggaran dalam jual beli seperti yang diterangkan dalam hadis Ibnu ‘Abbas dan Ibnu ‘Umar di atas.

Aturan Jual Beli (3): Syarat pada Barang yang Dijual

Di antara syarat barang yang akan dijual adalah bukan barang yang haram, sehingga dilarang jual beli khomr dan babi. Begitu pula tidak boleh menjual barang yang mengandung ghoror (ketidakjelasan), yaitu untung-untungan, bisa mendapat yang bagus, bisa mendapat yang berkualitas rendahan.

Berikut rincian syarat yang berkaitan dengan barang yang akan dijual:

Pertama: Barang yang dijual adalah barang yang mubah pemanfaatannya.

Dari sini, barang yang haram pemanfaatannya seperti khomr, babi, dan alat music, maka tidak boleh diperdagangkan.

Kedua: Barang yang dijual dan uang yang akan diberi bisa diserahterimakan.

Karena sesuatu yang tidak bisa diserahterimakan ketika akad, maka seperti tidak ada, sehingga jual belinya tidak sah. Contoh yang terlarang dalam masalah ini:

–       Menjual budak yang kabur

–       Menjual unta yang kabur

–       Menjual burung yang terbang di udara

–       Menjual barang yang telah dirampas bagi orang yang mampu mengambilnya kembali

–       Ikan dalam kolam

Namun jika barang-barang di atas mampu untuk diserahterimakan, semisal kebiasaan burung yang terbang di udara pasti akan kembali ke sangkarnya, atau ikan yang sudah dijaring sehingga mudah ditangkap, atau si pembeli mampu menangkap budak atau unta yang kabur, maka sah jual belinya.

Ketiga: Barang dan uang diketahui dengan jelas dan tidak boleh ada ghoror (ketidak jelasan)

Dari sini, tidak boleh membeli barang yang tidak bisa dilihat atau tidak diketahui, seperti membeli janin yang masih dalam kandungan, atau membeli susu yang masih dalam ambingnya.

Dalam hadis dilarang jual beli mulamasah, yaitu baju yang telah disentuh, itulah yang diambil. Begitu pula jual beli munabadzah juga terlarang, yaitu seseorang melemparkan baju pada yang lain, maka itulah yang diambil. Kedua jual beli ini mengandung ghoror atau spekulasi tinggi, yaitu adanya ketidak jelasan ketika membeli. Boleh jadi yang didapat bagus dan boleh jadi yang didapat adalah kualitas rendahan.

Dari Abu Sa’id, ia berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – نَهَى عَنِ الْمُنَابَذَةِ ، وَهْىَ طَرْحُ الرَّجُلِ ثَوْبَهُ بِالْبَيْعِ إِلَى الرَّجُلِ ، قَبْلَ أَنْ يُقَلِّبَهُ ، أَوْ يَنْظُرَ إِلَيْهِ ، وَنَهَى عَنِ الْمُلاَمَسَةِ ، وَالْمُلاَمَسَةُ لَمْسُ الثَّوْبِ لاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِ

“Rasulullah ﷺ melarang dari munabadzah, yaitu seseorang melempar pakaiannya kepada yang lain dan itulah yang dibeli tanpa dibolak-balik terlebih dahulu, atau tanpa dilihat keadaan pakaiannya. Begitu pula beliau melarang dari mulamasah, yaitu pakaian yang disentuh, itulah yang dibeli, tanpa melihat keadaaannya” (HR. Bukhari no. 2144).

Begitu pula terlarang juall beli hashoh (lemparan dengan kerikil), yaitu hasil lemparan kerikil jatuh pada pakaian, itulah yang dibeli. Dari Abu Hurairah, ia berkata:

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ بَيْعِ الْحَصَاةِ وَعَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ

“Rasulullah ﷺ melarang dari jual beli hashoh (hasil lemparan kerikil, itulah yang dibeli) dan melarang dari ghoror” (HR. Muslim no. 1513).

Masalah ghoror (ketidakjelasan), inilah sebab utama yang membuat mayoritas jual beli menjadi tidak sah. Namun ada ghoror yang dibolehkan, yaitu:

  1. Yang mengandung spekulasi kerugian yang sedikit. Sebagaimana Ibnu Rusyd berkata:

الفقهاء متّفقون على أنّ الغرر الكثير في المبيعات لا يجوز وأنّ القليل يجوز

“Para pakar fikih sepakat, bahwa ghoror pada barang dagangan yang mengandung kerugian yang banyak itulah yang tidak boleh. Sedangkan jika hanya sedikit, masih ditolerir (dibolehkan)”.

  1. Merupakan ikutan dari yang lain, bukan ashl (pokok). Jika kita membeli janin dalam kandungan hewan ternak, itu tidak boleh, karena ada ghoror pada barang yang dibeli. Sedangkan jika yang dibeli adalah yang hewan ternak yang bunting dan ditambah dengan janinnya, maka itu boleh.
  2. Dalam keadaan hajat (butuh). Semacam membeli rumah yang di bawahnya ada pondasi. Tentu kita tidak bisa melihat kondisi pondasi tersebut. Artinya ada ghoror. Namun tetap boleh membeli rumah, walau tidak terlihat pondasinya, karena ada hajat ketika itu.
  3. Pada akad tabarru’at (yang tidak ditarik keuntungan), seperti dalam pemberian hadiah. Kita boleh saja memberi hadiah pada teman dalam keadaan dibungkus sehingga tidak jelas apa isinya. Ini sah-sah saja. Beda halnya jika transaksinya adalah mu’awadhot (Mencari keuntungan), ada keuntungan di dalamnya semacam dalam jual beli.

Wallahu a’lam. Wa billahit taufiq.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal [Rumaysho.com]

Referensi:

Al Mulakhosh Al Fiqhiy, Syaikh Dr. Sholih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al Fauzan, terbitan Darul Ifta’, cetakan kedua, 1430 H.

An Niyat wa Atsaruha fil Ahkamisy Syar’iyyah, Syaikh Dr. Sholih bin Ghonim As Sadlan, terbitan Darul ‘Alamil Kutub, cetakan ketiga, 1422 H.

Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, terbitan Kementrian Agama Kuwait.

Al Majmu’, Mawqi’ Ya’sub.

Syarh ‘Umdatul Fiqh, Syaikh Prof. Dr. ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz Al Jibrin, terbitan Maktabah Ar Rusyd, cetakan keenam, 1431 H.

 

Sumber :

https://rumaysho.com/2302-aturan-jual-beli-1-jual-beli-tanpa-ucapan.html

https://rumaysho.com/2306-aturan-jual-beli-2-syarat-bagi-orang-yang-melakukan-akad-jual-beli.html

https://rumaysho.com/2310-aturan-jual-beli-3-syarat-pada-barang-yang-dijual.html

 

 

,

JUAL BELI BUKANLAH RIBA

JUAL BELI BUKANLAH RIBA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Fikih_Jual_Beli

JUAL BELI BUKANLAH RIBA

Sebagian orang beranggapan, bahwa jual beli tidaklah berbeda dengan riba. Anggapan mereka ini dilandasi kenyataan, bahwa terkadang para pedagang mengambil keuntungan yang sangat besar dari pembeli. Atas dasar inilah mereka menyamakan antara jual beli dan riba. Alasan ini SANGAT KELIRU. Allah ta’ala telah menampik anggapan seperti ini. Allah ta’ala berfirman:

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لا يَقُومُونَ إِلا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri, melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli, dan mengharamkan riba” (QS. Al-Baqarah: 275)

Tidak ada pembatasan keuntungan tertentu sehingga diharamkan untuk mengambil keuntungan yang lebih dari harga pasar. Akan tetapi semua itu tergantung pada hukum permintaan dan penawaran, tanpa menghilangkan sikap santun dan toleran (disadur dari Fikih Ekonomi Keuangan Islam, hal. 87 dengan beberapa penyesuaian). Bahkan Nabi ﷺ menyetujui tatkala sahabatnya Urwah mengambil keuntungan dua kali lipat dari harga pasar, tatkala diperintah untuk membeli seekor kambing buat beliau ﷺ. (HR. Bukhari bab 28 nomor 3642)

Namun yang patut dicermati, bahwa sikap yang lebih sesuai dengan petunjuk para ulama salaf dan ruh syariat adalah memberikan kemudahan, santun dan puas terhadap keuntungan yang sedikit, sehingga hal ini akan membawa keberkahan dalam usaha. Ali radhiyallahu ‘anhu pernah berkata: “Hai para pedagang, ambillah hak kalian, kalian akan selamat. Jangan kalian tolak kentungan yang sedikit, karena kalian bisa terhalangi mendapatkan keuntungan yang besar.”

Adapun seseorang yang merasa tertipu karena penjual mendapatkan keuntungan dengan menaikkan harga di luar batas kewajaran, maka syariat kita membolehkan pembeli untuk menuntut haknya dengan mengambil kembali uang yang telah dibayarkan, dan mengembalikan barang tersebut kepada penjual. Inilah yang dinamakan dengan khiyarul gabn .

Wallahu ta’ala a’lam bish shawab.

Washshalatu was salamu ‘alaa nabiyyinal mushthafa. Wal hamdu lillahi rabbil ‘alamin.

***

Dinukil dari tulisan berjudul “Jual Beli dan Syarat-Syaratnya” oleh: Muhammad Nur Ichwan Muslim

[Artikel www.Muslim.or.id]

 

Sumber: http://Muslim.or.id/222-jual-beli-dan-syarat-syaratnya.html

,

JUAL BELI: DEFINISI, DALIL PENSYARIATAN DAN SYARATNYA

JUAL BELI: DEFINISI, DALIL PENSYARIATAN DAN SYARATNYA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Jual_Beli

JUAL BELI: DEFINISI, DALIL PENSYARIATAN DAN SYARATNYA

Definisi Jual Beli

Secara etimologi, Al-Bay’u البيع (Jual Beli) berarti mengambil dan memberikan sesuatu, dan merupakan derivat (turunan) dari الباع (depa), karena orang Arab terbiasa mengulurkan depa mereka ketika mengadakan akad jual beli, untuk saling menepukkan tangan sebagai tanda, bahwa akad telah terlaksana, atau ketika mereka saling menukar barang dan uang.

Adapun secara terminologi, jual beli adalah transaksi tukar menukar yang berkonsekuensi beralihnya hak kepemilikan, dan hal itu dapat terlaksana dengan akad, baik berupa ucapan maupun perbuatan. (Taudhihul Ahkam, 4/211).

Di dalam Fiqhus sunnah (3/46) disebutkan bahwa Al-Bay’u adalah transaksi tukar menukar harta yang dilakukan secara sukarela, atau proses mengalihkan hak kepemilikan kepada orang lain, dengan adanya kompensasi tertentu, dan dilakukan dalam koridor syariat.

Adapun hikmah disyariatkannya jual beli adalah, merealisasikan keinginan seseorang yang terkadang tidak mampu diperolehnya. Dengan adanya jual beli, dia mampu untuk memeroleh sesuatu yang diinginkannya, karena pada umumnya kebutuhan seseorang sangat terkait dengan sesuatu yang dimiliki saudaranya (Subulus Salam, 4/47).

Dalil Disyariatkannya Jual Beli

Islam telah mensyariatkan jual beli dengan dalil yang berasal dari Alquran, Sunnah, Ijma’ dan Qiyas (Analogi).

Dalil Alquran

Allah ta’ala berfirman:

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

“… Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba…” (QS. Al Baqarah: 275)

Al ‘Allamah As Sa’diy mengatakan, bahwa di dalam jual beli terdapat manfaat dan urgensi social. Apabila diharamkan, maka akan menimbulkan berbagai kerugian. Berdasarkan hal ini, seluruh transaksi (jual beli) yang dilakukan manusia hukum asalnya adalah halal, kecuali terdapat dalil yang melarang transaksi tersebut. (Taisir Karimir Rahman 1/116).

Dalil Sunnah

Nabi ﷺ pernah ditanya, profesi apakah yang paling baik? Maka beliau ﷺ menjawab, bahwa profesi terbaik yang dikerjakan oleh manusia adalah segala pekerjaan yang dilakukan dengan kedua tangannya dan transaksi jual beli yang dilakukannya tanpa melanggar batasan-batasan syariat. (Hadis Shahih dengan banyaknya riwayat, diriwayatkan Al Bazzzar 2/83, Hakim 2/10; dinukil dari Taudhihul Ahkam 4/218-219).

Beliau ﷺ juga bersabda:

الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلًا بِمِثْلٍ سَوَاءً بِسَوَاءٍ يَدًا بِيَدٍ فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الْأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ

“Emas ditukar dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, kurma dengan kurma, garam dengan garam, sama beratnya dan langsung diserahterimakan. Apabila berlainan jenis, maka juallah sesuka kalian, namun harus langsung diserahterimakan/secara kontan” (HR. Muslim: 2970)

Berdasarkan hadis-hadis ini, jual beli merupakan aktivitas yang disyariatkan.

Dalil Ijma’

Kebutuhan manusia untuk mengadakan transaksi jual beli sangat urgen. Dengan transaksi jual beli, seseorang mampu untuk memiliki barang orang lain yang diinginkan, tanpa melanggar batasan syariat. Oleh karena itu, praktik jual beli yang dilakukan manusia semenjak masa Rasulullah ﷺ hingga saat ini menunjukkan, bahwa umat telah sepakat akan disyariatkannya jual beli (Fiqhus Sunnah,3/46).

Dalil Qiyas

Kebutuhan manusia menuntut adanya jual beli. Karena seseorang sangat membutuhkan sesuatu yang dimiliki orang lain, baik itu berupa barang atau uang. Dan hal itu dapat diperoleh setelah menyerahkan timbal balik berupa kompensasi. Dengan demikian, terkandung hikmah dalam pensyariatan jual beli bagi manusia, yaitu sebagai sarana demi tercapainya suatu keinginan yang diharapkan oleh manusia (Al Mulakhos Al Fiqhy, 2/8).

Syarat-Syarat Sah Jual Beli

Kondisi umat ini memang menyedihkan. Dalam praktik jual beli mereka meremehkan batasan-batasan syariat, sehingga sebagian besar praktik jual beli yang terjadi di masyarakat adalah transaksi yang dipenuhi berbagai unsur penipuan, keculasan dan kezaliman.

Lalai terhadap ajaran agama, sedikitnya rasa takut kepada Allah, merupakan sebab yang mendorong mereka untuk melakukan hal tersebut. Tidak tanggung-tanggung, berbagai upaya ditempuh agar keuntungan dapat diraih, bahkan dengan melekatkan label syari pada praktik perniagaan yang sedang marak belakangan ini, walaupun pada hakikatnya yang mereka lakukan itu adalah transaksi ribawi.

Jika kita memerhatikan praktik jual beli yang dilakukan para pedagang saat ini, mungkin kita dapat menarik satu konklusi, bahwa sebagian besar para pedagang dengan “Ringan tangan” menipu para pembeli, demi meraih keuntungan yang diinginkannya. Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ التُّجَّارَ هُمْ الْفُجَّارُ قَالَ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَوَلَيْسَ قَدْ أَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ قَالَ بَلَى وَلَكِنَّهُمْ يُحَدِّثُونَ فَيَكْذِبُونَ وَيَحْلِفُونَ وَيَأْثَمُونَ

“Sesungguhnya para pedagang itu adalah kaum yang fajir (suka berbuat maksiat). Para sahabat heran dan bertanya: “Bukankah Allah telah menghalalkan praktik jual beli, wahai Rasulullah?”. Maka beliau menjawab: “Benar. Namun para pedagang itu tatkala menjajakan barang dagangannya, mereka bercerita tentang dagangannya kemudian berdusta. Mereka bersumpah palsu dan melakukan perbuatan-perbuatan keji.” (Musnad Imam Ahmad 31/110, dinukil dari Maktabah Asy Syamilah; Hakim berkata: “Sanadnya Shahih”, dan beliau disepakati Adz Dzahabi, Al Albani berkata: “Sanad hadis ini sebagaimana yang dikatakan oleh mereka berdua”, lihat Silsilah Ash Shahihah 1/365; dinukil dari Maktabah Asy Syamilah).

Oleh karena itu, seseorang yang menggeluti praktik jual beli, wajib memerhatikan syarat-syarat sah praktik jual beli, agar dapat melaksanakannya sesuai dengan batasan-batasan syariat, dan tidak terjerumus ke dalam tindakan-tindakan yang diharamkan .

Diriwayatkan dari Amirul Mu’minin ‘Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

لَا يَبِعْ فِيْ سُوْقِنَا إِلاَّ مَنْ يَفْقَهُ، وَإِلِا أَكَلَ الرِّباَ

“Yang boleh berjualan di pasar kami ini hanyalah orang-orang yang faqih (paham akan ilmu agama). Karena jika tidak, maka dia akan menerjang riba.”

Berikut beberapa syarat sah jual beli, yang dirangkum dari kitab Taudhihul ahkam 4/213-214, Fikih Ekonomi Keuangan Islam dan beberapa referensi lainnya, untuk diketahui dan direalisasikan dalam praktik jual beli, agar tidak terjerumus ke dalam praktik perniagaan yang menyimpang.

Pertama: Persyaratan yang berkaitan dengan pelaku praktik jual beli, baik penjual maupun pembeli, yaitu:

  • Hendaknya kedua belah pihak melakukan jual beli dengan ridha dan sukarela, tanpa ada paksaan. Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ

“… Janganlah kalian saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang timbul dari kerelaan di antara kalian…” (QS. An-Nisaa’: 29)

  • Kedua belah pihak berkompeten dalam melakukan praktik jual beli, yakni dia adalah seorang mukallaf (dikenai beban dan syariat) dan rasyid (memiliki kemampuan dalam mengatur uang). Sehingga tidak sah transaksi yang dilakukan oleh anak kecil yang tidak cakap, orang gila atau orang yang dipaksa (Fikih Ekonomi Keuangan Islam, hal. 92). Hal ini merupakan salah satu bukti keadilan agama ini yang berupaya melindungi hak milik manusia dari kezaliman. Karena seseorang yang gila, safiih (tidak cakap dalam bertransaksi) atau orang yang dipaksa, tidak mampu untuk membedakan transaksi mana yang baik dan buruk bagi dirinya, sehingga dirinya rentan dirugikan dalam transaksi yang dilakukannya. Wallahu a’lam.

Kedua: Persyaratan yang berkaitan dengan objek/barang yang diperjualbelikan. Syarat-syaratnya yaitu:

  • Objek jual beli (baik berupa barang jualan atau harganya/uang) merupakan barang yang suci dan bermanfaat, bukan barang najis atau barang yang haram. Karena barang yang secara zatnya haram, terlarang untuk diperjualbelikan.
  • Objek jual beli merupakan hak milik penuh. Seseorang bisa menjual barang yang bukan miliknya, apabila mendapat izin dari pemilik barang. Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا تَبِعْ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ

“Janganlah engkau menjual barang yang bukan milikmu.” (HR. Abu Dawud 3503, Tirmidzi 1232, An Nasaa’i VII/289, Ibnu Majah 2187, Ahmad III/402 dan 434; diShahihkan Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilaly)

Seseorang diperbolehkan melakukan transaksi terhadap barang yang bukan miliknya dengan syarat pemilik memberi izin atau ridho terhadap apa yang dilakukannya. Karena yang menjadi tolok ukur dalam perkara muamalah adalah ridho pemilik. (Lihat Fiqh wa Fatawal Buyu’ hal. 24). Hal ini ditunjukkan oleh persetujuan Nabi ﷺ terhadap perbuatan Urwah, tatkala beliau memerintahkannya untuk membeli kambing buat beliau. (HR. Bukhari bab 28 nomor 3642).

  • Objek jual beli dapat diserahterimakan, sehingga tidak sah menjual burung yang terbang di udara, menjual unta atau sejenisnya yang kabur dari kandang dan semisalnya. Transaksi yang mengandung objek jual beli seperti ini diharamkan karena mengandung gharar (spekulasi) dan menjual barang yang tidak dapat diserahkan.
  • Objek jual beli dan jumlah pembayarannya diketahui secara jelas oleh kedua belah pihak, sehingga terhindar dari gharar. Abu Hurairah berkata: “Rasulullah ﷺ melarang jual beli hashaath (jual beli dengan menggunakan kerikil yang dilemparkan untuk menentukan barang yang akan dijual) dan jual beli gharar.” (HR. Muslim: 1513)

Selain itu, tidak diperkenankan seseorang menyembunyikan cacat/aib suatu barang ketika melakukan jual beli. Rasulullah ﷺ bersabda:

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ بَاعَ مِنْ أَخِيهِ بَيْعًا فِيهِ عَيْبٌ إِلَّا بَيَّنَهُ لَهُ

“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain. Tidak halal bagi seorang Muslim menjual barang dagangan yang memiliki cacat kepada saudaranya sesama Muslim, melainkan ia harus menjelaskan cacat itu kepadanya” (HR. Ibnu Majah nomor 2246, Ahmad IV/158, Hakim II/8, Baihaqi V/320; diShahihkan Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali)

Beliau ﷺ juga bersabda:

مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا ، وَالْمَكْرُ وَالْخِدَاعُ فِي النَّارِ

“Barang siapa yang berlaku curang terhadap kami, maka ia bukan dari golongan kami. Perbuatan makar dan tipu daya tempatnya di Neraka” (HR. Ibnu Hibban 567, Thabrani dalam Mu’jamul Kabiir 10234, Abu Nu’aim dalam Al Hilyah IV/189; dihasankan Syaikh Salim Al Hilaly).

Wallahu ta’ala a’lam bish shawab.

Washshalatu was salamu ‘alaa nabiyyinal mushthafa. Wal hamdu lillahi rabbil ‘alamin.

***

Dinukil dari tulisan berjudul “Jual Beli dan Syarat-Syaratnya” oleh: Muhammad Nur Ichwan Muslim

[Artikel www.Muslim.or.id]

 

Sumber: http://Muslim.or.id/222-jual-beli-dan-syarat-syaratnya.html