Posts

KONDISI DI YAUMUL MIZAN

KONDISI DI YAUMUL MIZAN
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
KONDISI DI YAUMUL MIZAN
 
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
Kami akan meletakan timbangan-timbangan yang adil. Maka tidak seorang pun yang akan dizalimi oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Meskipun amalan mereka sebesar biji sawi, Kami akan datangkan dan cukup Kami yang akan menghisabnya. [QS Al Anbiya’: 47]
 
 
Sumber: Bimbingan Islam
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

#kondisidiyaumulmizan, #YaumulMizan, #timbangan, #Akhirat, #Akherat, #adil, #keadilan, #berattimbangan, #ringantimbangan

PUNDI AMAL DI AKHIRAT KELAK

PUNDI AMAL DI AKHIRAT KELAK
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
PUNDI AMAL DI AKHIRAT KELAK
 
Bismillah, alhamdulillah washalatu wasallam ‘ala Rasulillah
 
Allah taala berfirman (artinya):
“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan dan mengokohkan kaki-kaki kalian.” [QS. Muhammad: 7]
 
Dakwah Islam yang berkembang pesat di bumi Nusantara ini patut kita syukuri.. Berbagai kajian Islam ilmiah tersebar di seantero negeri.
 
Inginkah Anda ambil bagian dalam dakwah Islam yang mulia ini?
Bersegeralah sekarang juga, tunggu apa lagi.
Harta yang kita infaqkan di jalan Allah ta’ala, itulah harta yang sebenarnya kelak di Akhirat nanti.
 
AlhamduliLLah donasi Pelunasan Rumah untuk Markaz Dakwah & Studio Bimbingan Islam sampai dengan Rabu, 12 Safar 1439 H / 1 November 2017 terkumpul Rp 1.343.465.630 (53,74 % dari total kebutuhan dana Rp. 2.500.000.000,-)
 
Dari dana yang terkumpul sudah dibayarkan sebesar 1.300.000.000 (Satu Milyar Tiga Ratus Juta Rupiah)
 
Mari dukung dakwah Bimbingan Islam dan Yayasan Cinta Sedekah yang telah memiliki program-program unggulan yang sudah berjalan antara lain:
Group Bimbingan Islam (>100 ribu member)
Pembangunan & Pengembangan Rumah Tahfidz di Seluruh Indonesia
Pengembangan Pondok Pesantren Ahlussunnah Wal Jamaah & Kaderisasi Dai
Konsultasi Bimbingan Islam (BiasQA) & Bimbingan Muamalah Maaliyah (BMM)
Mahad Bimbingan Islam & Program Aishah (Akademi Shalihah)
Wisma Bimbingan Islam & Cinta Sedekah
Dakwah BiAS TV
Dakwah di Sosmed & Website bimbinganislam.com
Peduli Sahabat Bias (PSB)
 
Ke depannya, diharapkan banyak lagi program yang sangat bermanfaat untuk umat dan meluasnya dakwah Islam ini ke seluruh Indonesia.
 
Saat ini kekurangan kebutuhan dana Rp. 1.156.534.370,-. Kami masih membuka kesempatan kepada para muhsinin dan seluruh sahabat BiAS untuk ikut andil dan berkontribusi dalam program Investasi Akhirat Pelunasan Rumah untuk Markaz Dakwah & Studio Bimbingan Islam.
 
Donasi Markas Dakwah dapat disalurkan melalui:
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank: 451
| No. Rek: 710-3000-507
| A.N: YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer Via WA/SMS & Informasi: 0811-280-0606
Cantumkan Kode 25 di nominal transfer Anda
 
Jazaakumullahu khoyron.
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#pundiamal, #akhirat, #tabunganakhirat, #akherat, #investasiakhirat, #bimbinganIslam

POTRET AMBIGUITAS KITA

POTRET AMBIGUITAS KITA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#TazkiyatunNufus

POTRET AMBIGUITAS KITA
 
Bismillaah
 
Ambiguitas memang begitu abstrak, sulit untuk ditebak.
Sebagai gambaran, terkadang di satu sisi kita sering tidak siap dengan takdir Allah yang mengejutkan.
Namun di saat yang sama kita juga malah merasa aman dari makar-Nya.
Dengan kata lain, kita takut tentang kesudahan hidup nanti, namun kita tidak mau menabung kebajikan sebagai bekal diri.
 
Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:
“Orang yang cerdas adalah orang yang bisa mengendalikan hawa nafsunya dan berbuat untuk (kepentingan) masa setelah kematiannya. Sementara orang yang lemah adalah yang selalu mengikuti hawa nafsunya, dan berangan-angan pada (kemurahan) Allah” (HR Tirmidzi, dia berkata: Hadis ini Hasan)
 
Di sisa waktu yang ada…
Tinggalkan ambiguitas itu…
Tentukan pilihanmu kawan…
Hanya ada dua pilihan, menjadi orang cerdas atau orang lemah…
Jangan lengah…
Karena di ujung pilihan bijakmu ada janji yang tak teringkari…
 
”Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni Surga, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah 2 : 82)

 

Oleh: Ustadz Aan Chandra Thalib

,

DOA MOHON PERBAIKI URUSAN AGAMA, DUNIA DAN AKHIRAT

DOA MOHON PERBAIKI URUSAN AGAMA, DUNIA DAN AKHIRAT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir

DOA MOHON PERBAIKI URUSAN AGAMA, DUNIA DAN AKHIRAT

 

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِى دِينِىَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِى وَأَصْلِحْ لِى دُنْيَاىَ الَّتِى فِيهَا مَعَاشِى وَأَصْلِحْ لِى آخِرَتِى الَّتِى فِيهَا مَعَادِى وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِى فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لِى مِنْ كُلِّ شَرٍّ

Alloohumma ash-lih lii diiniilladzii huwa ‘ishmatu amrii, wa ash-lih lii dun-yaayallatii fiihaa ma’aasyii, wa ash-lih lii aakhirotiillatii fiihaa ma’aadii. Waj’alil hayaata ziyaadatan lii fii kulli khoirin, waj’alil mauta roohatan lii min kulli syarrin.

Artinya:

Ya Allah. Perbaikilah bagiku agamaku, yang merupakan benteng (penjaga) urusanku. Perbaikilah bagiku duniaku, yang menjadi tempat kehidupanku. Perbaikilah bagiku Akhiratku, yang menjadi tempat kembaliku. Jadikanlah kehidupan ini memunyai nilai tambah bagiku dalam segala kebaikan, dan jadikanlah kematianku sebagai pembebas dari segala keburukan

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu dia berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِى دِينِىَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِى وَأَصْلِحْ لِى دُنْيَاىَ الَّتِى فِيهَا مَعَاشِى وَأَصْلِحْ لِى آخِرَتِى الَّتِى فِيهَا مَعَادِى وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِى فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لِى مِنْ كُلِّ شَرٍّ »

“Rasulullah ﷺ pernah berdoa sebagai berikut:

Alloohumma ash-lih lii diiniilladzii huwa ‘ishmatu amrii, wa ash-lih lii dun-yaayallatii fiihaa ma’aasyii, wa ash-lih lii aakhirotiillatii fiihaa ma’aadii, waj’alil hayaata ziyaadatan lii fii kulli khoirin, waj’alil mauta roohatan lii min kulli syarrin.

Artinya:

Ya Allah. Perbaikilah bagiku agamaku, yang merupakan benteng (penjaga) urusanku. Perbaikilah bagiku duniaku, yang menjadi tempat kehidupanku. Perbaikilah bagiku Akhiratku, yang menjadi tempat kembaliku. Jadikanlah kehidupan ini memunyai nilai tambah bagiku dalam segala kebaikan, dan jadikanlah kematianku sebagai pembebas dari segala keburukan [HR. Muslim no. 2720].

An Nawawi membawakan hadis ini dalam bab “Berlindung dari Sesuatu yang Telah Diamalkan dan Apa-Apa Yang Belum Diamalkan”.

Faidah hadis:

  1. Islam adalah benteng yang melindungi seseorang agar tidak terjerumus dalam kesalahan dan ketergelinciran, serta menjaga dari kesesatan dan sekedar mengikuti hawa nafsu.
  2. Seorang Muslim beramal untuk dunianya, seaka-akan ia hidup selamanya. Dan dia beramal untuk Akhiratnya, seakan-akan ia akan mati besok.
  3. Seharusnya umur panjang seorang Muslim dijadikan sebagaimana sarana untuk menambah amalan kebaikan dan ketaatan.
  4. Kematian adalah kebebasan dari segala kejelekan. Maksudnya, boleh jadi seseorang di dunia hidup lama, namun hanya kerusakan yang ia perbuat. Oleh karenanya, kematian itulah yang menyebabkan ia terbebas dari banyak kejelekan.
  5. Karena hidup yang sementara dan kematian yang pasti datang, maka hendaklah setiap hamba memerbaiki ibadahnya, dan mengokohkan amalannya, bertawakal dan selalu meminta tolong pada Allah.

Sebagai renungan!

Dari Abu Bakroh, ia berkata:

أَنَّ رَجُلاً قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ خَيْرٌ قَالَ « مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ ». قَالَ فَأَىُّ النَّاسِ شَرٌّ قَالَ « مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ

Seseorang bertanya: “Wahai Rasulullah, siapa manusia yang baik?” Beliau ﷺmenjawab: “Orang yang panjang umurnya dan baik amalnya.” Ia bertanya lagi: “Lalu siapa manusia yang jelek?” Beliau ﷺ menjawab: “Orang yang panjang umurnya namun jelek amalnya” (HR. Tirmidzi no. 2330 dan Ad Darimi no. 2742, Shahih Lighoirihi)

Semoga yang sedikit ini bisa bermanfaat dan bisa diamalkan oleh kaum Muslimin sekalian.

Referensi:

  • Bahjatun Naazhirin Syarh Riyadhish Sholihin, Salim bin ‘Ied Al Hilali, cetakan Dar Ibnul Jauzi, jilid II, cetakan pertama, tahun 1430 H.
  • Syarh Riyadhish Sholihin, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, jilid IV, cetakan ketiga, tahun 1424 H

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/986-doa-untuk-memperbaiki-urusan-agama-dan-dunia.html

AMAT DISAYANGKAN, BANYAK SEDEKAH HANYA UNTUK MEMERLANCAR REZEKI

AMAT DISAYANGKAN, BANYAK SEDEKAH HANYA UNTUK MEMERLANCAR REZEKI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#AkidahTauhid

AMAT DISAYANGKAN, BANYAK SEDEKAH HANYA UNTUK MEMERLANCAR REZEKI

Alhamdullillahilladzi hamdan katsiron thoyyiban mubaarokan fiih kamaa yuhibbu Robbunaa wa yardho. Allahumma sholli ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala aalihi wa shohbihi wa sallam.

Itulah yang sering kita lihat pada umat Islam saat ini. Mereka memang gemar melakukan puasa sunnah (yaitu puasa Senin-Kamis dan lainnya), namun semata-mata hanya untuk menyehatkan badan, sebagaimana saran dari beberapa kalangan. Ada juga yang gemar sekali bersedekah, namun dengan tujuan untuk memerlancar rezeki dan karir. Begitu pula ada yang rajin bangun di tengah malam untuk bertahajud, namun tujuannya hanyalah ingin menguatkan badan. Semua yang dilakukan memang suatu amalan yang baik. Tetapi niat di dalam hati senyatanya tidak ikhlash karena Allah, namun hanya ingin mendapatkan tujuan-tujuan duniawi semata. Kalau memang demikian, mereka bisa termasuk orang-orang yang tercela, sebagaimana disebutkan dalam ayat berikut.

Dengan amalan saleh hanya mengharap keuntungan dunia, sungguh akan sangat merugi. Allah ta’ala berfirman:

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ (15) أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآَخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (16)

“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna, dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memeroleh di Akhirat, kecuali Neraka, dan lenyaplah di Akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia, dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud [11] : 15-16)

Yang dimaksud dengan “Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia” yaitu, barang siapa yang menginginkan kenikmatan dunia dengan melakukan amalan Akhirat.

Yang dimaksud “Perhiasan dunia” adalah harta dan anak.

Mereka yang beramal seperti ini: “Niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna, dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan”. Maksudnya adalah mereka akan diberikan dunia yang mereka inginkan. Ini semua diberikan bukan karena mereka telah berbuat baik, namun semata-mata akan membuat terlena dan terjerumus dalam kebinasaan karena rusaknya amalan mereka. Dan juga mereka tidak akan pernah yubkhosuun, yaitu dunia yang diberikan kepada mereka tidak akan dikurangi. Ini berarti mereka akan diberikan dunia yang mereka cari seutuhnya (sempurna).

Dunia mungkin saja mereka peroleh. Dengan banyak melakukan amalan saleh, boleh jadi seseorang akan bertambah sehat, rezeki semakin lancar dan karir terus meningkat.  Dan itu senyatanya yang mereka peroleh dan Allah pun tidak akan mengurangi hal tersebut sesuai yang Dia tetapkan. Namun apa yang mereka peroleh di Akhirat?

Lihatlah firman Allah selanjutnya (yang artinya): “Itulah orang-orang yang tidak memeroleh di Akhirat, kecuali Neraka”. Inilah akibat orang yang hanya beribadah untuk mendapat tujuan dunia saja. Mereka memang di dunia akan mendapatkan apa yang mereka inginkan. Adapun di Akhirat, mereka tidak akan memeroleh pahala, karena mereka dalam beramal tidak menginginkan Akhirat. Ingatlah, balasan Akhirat hanya akan diperoleh oleh orang yang mengharapkannya. Allah ta’ala berfirman:

وَمَنْ أَرَادَ الْآَخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا

“Dan barang siapa yang menghendaki kehidupan Akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah Mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (QS. Al Israa’: 19)

Orang-orang seperti ini juga dikatakan: “Lenyaplah di Akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia, dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan”. Ini semua dikarenakan mereka dahulu di dunia beramal tidak ikhlas untuk mengharapkan wajah Allah, sehingga ketika di Akhirat, sia-sialah amalan mereka. (Lihat penjelasan ayat ini di I’aanatul Mustafid, 2/92-93)

Sungguh betapa banyak orang yang melaksanakan shalat malam, puasa sunnah dan banyak sedekah, namun itu semua dilakukan hanya bertujuan untuk menggapai kekayaan dunia, memerlancar rezeki, umur panjang, dan lain sebagainya.

Ibnu ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhu- menafsirkan surat Hud ayat 15-16. Beliau –radhiyallahu ‘anhu- mengatakan: “Sesungguhnya orang yang riya’, mereka hanya ingin memeroleh balasan kebaikan yang telah mereka lakukan, namun mereka minta segera dibalas di dunia.”

Ibnu ‘Abbas juga mengatakan: “Barang siapa yang melakukan amalan puasa, shalat atau shalat malam namun hanya ingin mengharapkan dunia, maka balasan dari Allah: “Allah akan memberikan baginya dunia yang dia cari-cari. Namun amalannya akan sia-sia (lenyap) di Akhirat nanti, karena mereka hanya ingin mencari dunia. Di Akhirat mereka juga akan termasuk orang-orang yang merugi”.” Perkataan yang sama dengan Ibnu ‘Abbas ini juga dikatakan oleh Mujahid, Adh Dhohak dan selainnya.

Qotadah mengatakan: “Barang siapa yang dunia adalah tujuannya, dunia yang selalu dia cari-cari dengan amalan salehnya, maka Allah akan memberikan kebaikan kepadanya di dunia. Namun ketika di Akhirat, dia tidak akan memeroleh kebaikan apa-apa sebagai balasan untuknya. Adapun seorang Mukmin yang ikhlash dalam beribadah (yang hanya ingin mengharapkan wajah Allah), dia akan mendapatkan balasan di dunia, juga dia akan mendapatkan balasan di Akhirat.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, tafsir surat Hud ayat 15-16)

Hanya Beramal untuk Menggapai Dunia, Tidak Akan Dapat Satu Bagian Pun di Akhirat

Kenapa seseorang beribadah dan beramal hanya ingin menggapai dunia? Jika seseorang beramal untuk mencari dunia, maka dia memang akan diberi. Jika shalat tahajud, puasa Senin-Kamis yang dia lakukan hanya ingin meraih dunia, maka dunia memang akan dia peroleh dan tidak akan dikurangi. Namun apa akibatnya di Akhirat? Sungguh di Akhirat dia akan sangat merugi. Dia tidak akan memeroleh balasan di Akhirat disebabkan amalannya, yang hanya ingin mencari-cari dunia.

Namun bagaimana dengan orang yang beramal dengan ikhlash, hanya ingin mengharap wajah Allah? Di Akhirat dia akan memeroleh pahala yang berlipat ganda.

Allah ta’ala berfirman:

مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الآخِرَةِ نزدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ

“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di Akhirat, akan Kami tambah keuntungan itu baginya. Dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia, dan tidak ada baginya suatu bahagian pun di Akhirat.” (QS. Asy Syuraa: 20)

Ibnu Katsir –rahimahullah- menafsirkan ayat di atas: “Barang siapa yang mencari keuntungan di Akhirat, maka Kami akan menambahkan keuntungan itu baginya, yaitu Kami akan kuatkan, beri nikmat padanya, karena tujuan Akhirat yang dia harapkan. Kami pun akan menambahkan nikmat padanya, dengan Kami balas setiap kebaikan dengan sepuluh kebaikan hingga 700 kali lipat, hingga kelipatan yang begitu banyak sesuai dengan kehendak Allah. … Namun jika yang ingin dicapai adalah dunia dan dia tidak punya keinginan menggapai Akhirat sama sekali, maka balasan Akhirat tidak akan Allah beri, dan dunia pun akan diberi sesuai dengan yang Allah kehendaki. Dan jika Allah kehendaki, dunia dan Akhirat sekaligus tidak akan dia peroleh. Orang seperti ini hanya merasa senang dengan keinginannya saja, namun barangkali Akhirat dan dunia akan lenyap seluruhnya dari dirinya.”

Ats Tsauri berkata, dari Mughiroh, dari Abul ‘Aliyah, dari Ubay bin Ka’ab -radhiyallahu ‘anhu-, beliau mengatakan:

بشر هذه الأمة بالسناء والرفعة والدين والتمكين في الأرض فمن عمل منهم عمل الآخرة للدنيا لم يكن له في الآخرة من نصيب

“Umat ini diberi kabar gembira dengan kemuliaan, kedudukan, agama dan kekuatan di muka bumi. Barang siapa dari umat ini yang melakukan amalan Akhirat untuk meraih dunia, maka di Akhirat dia tidak mendapatkan satu bagian pun.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya, Al Hakim dan Al Baihaqi. Al Hakim mengatakan sanadnya Shahih. Syaikh Al Albani menshahihkan hadis ini dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib)

Terdapat pula riwayat dalam Al Baihaqi, Rasulullah ﷺ bersabda:

بشر هذه الأمة بالتيسير والسناء والرفعة بالدين والتمكين في البلاد والنصر فمن عمل منهم بعمل الآخرة للدنيا فليس له في الآخرة من نصيب

“Umat ini diberi kabar gembira dengan kemudahan, kedudukan dan kemulian dengan agama dan kekuatan di muka bumi, juga akan diberi pertolongan. Barang siapa yang melakukan amalan Akhirat untuk mencari dunia, maka dia tidak akan memeroleh satu bagian pun di Akhirat.”

Tanda Seseorang Beramal Untuk Tujuan Dunia

Al Bukhari membawakan hadis dalam Bab “Siapa Yang Menjaga Diri dari Fitnah Harta”.

Dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-, Rasulullah ﷺ bersabda:

تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ ، وَالدِّرْهَمِ ، وَالْقَطِيفَةِ ، وَالْخَمِيصَةِ ، إِنْ أُعْطِىَ رَضِىَ ، وَإِنْ لَمْ يُعْطَ لَمْ يَرْضَ تَعِسَ وَانْتَكَسَ

“Celakalah hamba Dinar, Dirham, Qothifah dan Khomishoh. Jika diberi, dia pun rida. Namun jika tidak diberi, dia tidak rida. Dia akan celaka, dan akan kembali binasa.” (HR. Bukhari).  Qothifah adalah sejenis pakaian yang memiliki beludru. Sedangkan khomishoh adalah pakaian yang berwarna hitam dan memiliki bintik-bintik merah. (I’aanatul Mustafid, 2/93)

Kenapa dinamakan hamba Dinar, Dirham dan pakaian yang mewah? Karena mereka yang disebutkan dalam hadis tersebut beramal untuk menggapai harta-harta tadi, bukan untuk mengharap wajah Allah. Demikianlah sehingga mereka disebut hamba Dinar, Dirham dan seterusnya. Adapun orang yang beramal karena ingin mengharap wajah Allah semata, mereka itulah yang disebut hamba Allah (sejati).

Di antara tanda bahwa mereka beramal untuk menggapai harta-harta tadi, atau ingin menggapai dunia disebutkan dalam sabda Nabi ﷺ selanjutnya: “Jika diberi, dia pun rida. Namun jika tidak diberi, dia pun tidak rida (murka). Dia akan celaka dan kembali binasa”. Hal ini juga yang dikatakan kepada orang-orang munafik, sebagaimana dalam firman Allah:

وَمِنْهُمْ مَنْ يَلْمِزُكَ فِي الصَّدَقَاتِ فَإِنْ أُعْطُوا مِنْهَا رَضُوا وَإِنْ لَمْ يُعْطَوْا مِنْهَا إِذَا هُمْ يَسْخَطُونَ

“Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (distribusi) zakat; jika mereka diberi sebahagian dari padanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebahagian dari padanya, dengan serta merta mereka menjadi marah.” (QS. At Taubah: 58)

Itulah tanda seseorang dalam beramal hanya ingin menggapai tujuan dunia. Jika dia diberi kenikmatan dunia, dia rida. Namun, jika kenikmatan dunia tersebut tidak kunjung datang, dia akan murka dan marah. Dalam hatinya seraya berujar: “Sudah sebulan saya merutinkan shalat malam, namun rezeki dan usaha belum juga lancar.” Inilah tanda orang yang selalu berharap dunia dengan amalan salehnya.

Adapun seorang Mukmin, jika diberi nikmat, dia akan bersyukur. Sebaliknya, jika tidak diberi, dia pun akan selalu sabar. Karena orang Mukmin, dia akan beramal bukan untuk mencapai tujuan dunia. Sebagian mereka bahkan tidak menginginkan mendapatkan dunia sama sekali. Diceritakan bahwa sebagian sahabat tidak rida jika mendapatkan dunia sedikit pun. Mereka pun tidak mencari-cari dunia, karena yang selalu mereka harapkan adalah negeri Akhirat. Semua ini mereka lakukan untuk senantiasa komitmen dalam amalan mereka, agar selalu timbul rasa harap pada kehidupan Akhirat. Mereka sama sekali tidak menyukai untuk disegerakan balasan terhadap kebaikan yang mereka lakukan di dunia.

Akan tetapi, barang siapa diberi dunia tanpa ada rasa keinginan sebelumnya, dan tanpa ada rasa tamak terhadap dunia, maka dia boleh mengambilnya. Sebagaimana hal ini terdapat dalam hadis dari ‘Umar bin Khottob:

قَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُعْطِينِى الْعَطَاءَ فَأَقُولُ أَعْطِهِ أَفْقَرَ إِلَيْهِ مِنِّى. حَتَّى أَعْطَانِى مَرَّةً مَالاً فَقُلْتُ أَعْطِهِ أَفْقَرَ إِلَيْهِ مِنِّى. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « خُذْهُ وَمَا جَاءَكَ مِنْ هَذَا الْمَالِ وَأَنْتَ غَيْرُ مُشْرِفٍ وَلاَ سَائِلٍ فَخُذْهُ وَمَا لاَ فَلاَ تُتْبِعْهُ نَفْسَكَ ».

“Rasulullah ﷺ memberikan suatu pemberian padaku.” Umar lantas mengatakan: “Berikan saja pemberian tersebut pada orang yang lebih butuh (lebih miskin) dariku. Sampai beberapa kali, beliau tetap memberikan harta tersebut padaku.” Umar pun tetap mengatakan: “Berikan saja pada orang yang lebih butuh (lebih miskin) dariku.” Rasulullah ﷺ pun bersabda: “Ambillah harta tersebut dan harta yang semisal dengan ini, di mana engkau tidak merasa mulia dengannya, dan sebelumnya engkau pun tidak meminta-mintanya. Ambillah harta tersebut. Selain harta semacam itu (yang di mana engkau punya keinginan sebelumnya padanya), maka biarkanlah, dan janganlah hatimu bergantung padanya.”  (HR. Bukhari dan Muslim).

Sekali lagi, begitulah orang beriman. Jika dia diberi nikmat atau pun tidak, amalan salehnya tidak akan pernah berkurang. Karena orang Mukmin sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya ﷺ. Adapun orang yang selalu mengharap dunia dengan amalan salehnya, dia akan bersikap berbeda. Jika dia diberi nikmat, baru dia rida. Namun, jika dia tidak diberi, dia akan murka dan marah. Dia rida karena mendapat kenikmatan dunia. Sebaliknya, dia murka karena kenikmatan dunia yang tidak kunjung menghampirinya, padahal dia sudah gemar melakukan amalan saleh. Itulah sebabnya orang-orang seperti ini disebut hamba dunia, hamba Dinar, hamba Dirham dan hamba pakaian.

Beragamnya Niat dan Amalan Untuk Menggapai Dunia

Niat seseorang ketika beramal ada beberapa macam:

[Pertama] Jika niatnya adalah murni untuk mendapatkan dunia ketika dia beramal, dan sama sekali tidak punya keinginan mengharap wajah Allah dan kehidupan Akhirat. Maka orang semacam ini di Akhirat tidak akan mendapatkan satu bagian nikmat pun. Perlu diketahui pula, bahwa amalan semacam ini tidaklah muncul dari seorang Mukmin. Orang Mukmin walaupun lemah imannya, dia pasti selalu mengharapkan wajah Allah dan negeri Akhirat.

[Kedua] Jika niat seseorang adalah untuk mengharap wajah Allah dan untuk mendapatkan dunia sekaligus, entah niatnya untuk kedua-duanya sama atau mendekati, maka semacam ini akan mengurangi tauhid dan keikhlasannya. Amalannya dinilai memiliki kekurangan karena keikhlasannya tidak sempurna.

[Ketiga] Adapun jika seseorang telah beramal dengan ikhlas, hanya ingin mengharap wajah Allah semata, akan tetapi di balik itu dia mendapatkan upah atau hasil yang dia ambil untuk membantunya dalam beramal (semacam mujahid yang berjihad lalu mendapatkan harta rampasan perang, para pengajar dan pekerja yang menyokong agama yang mendapatkan upah dari negara setiap bulannya), maka tidak mengapa mengambil upah tersebut. Hal ini juga tidak mengurangi keimanan dan ketauhidannya, karena semula dia tidak beramal untuk mendapatkan dunia. Sejak awal dia sudah berniat untuk beramal saleh dan menyokong agama ini, sedangkan upah yang dia dapatkan adalah di balik itu semua, yang nantinya akan menolong dia dalam beramal dan beragama. (Lihat Al Qoulus Sadiid, 132-133)

Adapun amalan yang seseorang lakukan untuk mendapatkan balasan dunia ada dua macam:

[Pertama] Amalan yang tidak disebutkan di dalamnya balasan dunia. Namun seseorang melakukan amalan tersebut untuk mengharapkan balasan dunia, maka semacam ini tidak diperbolehkan bahkan termasuk kesyirikan.

Misalnya: Seseorang melaksanakan shalat Tahajud. Dia berniat dalam hatinya bahwa pasti dengan melakukan shalat malam ini, anaknya yang akan lahir nanti adalah laki-laki. Ini tidak dibolehkan, karena tidak ada satu dalil pun yang menyebutkan, bahwa dengan melakukan shalat Tahajud akan mendapatkan anak laki-laki.

[Kedua] Amalan yang disebutkan di dalamnya balasan dunia. Contohnya adalah silaturrahim dan berbakti kepada kedua orang tua. Semisal silaturrahim, Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barang siapa senang untuk dilapangkan rezeki dan dipanjangkan umurnya, maka jalinlah tali silaturrahim (hubungan antar kerabat).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jika seseorang melakukan amalan semacam ini, namun hanya ingin mengharapkan balasan dunia saja dan tidak mengharapkan balasan Akhirat, maka orang yang melakukannya telah terjatuh dalam kesyirikan. Namun jika dia melakukannya tetap mengharapkan balasan Akhirat dan dunia sekaligus, juga dia melakukannya dengan ikhlas, maka ini tidak mengapa dan balasan dunia adalah sebagai tambahan nikmat untuknya, karena syariat telah menunjukkan adanya balasan dunia dalam amalan ini.

Perbedaan dan Kesamaan Beramal untuk Meraih Dunia dengan Riya’

Syaikh Muhammad At Tamimi –rahimahullah- membawakan pembahasan ini dalam Kitab Tauhid pada Bab “Termasuk Kesyirikan, Seseorang Beribadah Untuk Mencari Dunia”. Beliau –rahimahullah- membawakannya setelah membahas riya’. Kenapa demikian?

Riya’ dan beribadah untuk mencari dunia. Keduanya sama-sama adalah amalan hati dan terlihat begitu samar, karena tidak nampak di hadapan orang banyak. Namun keduanya termasuk amalan kepada selain Allah ta’ala. Ini berarti keduanya termasuk kesyirikan yaitu syirik khofi (syirik yang samar).  Keduanya memiliki perbedaan. Riya’ adalah beramal agar dilihat oleh orang lain, dan ingin tenar dengan amalannya. Sedangkan beramal untuk tujuan dunia adalah banyak melakukan amalan seperti shalat, puasa, sedekah dan amalan saleh lainnya, dengan tujuan untuk mendapatkan balasan segera di dunia, semacam mendapat rezeki yang lancar dan lainnya.

Tetapi perlu diketahui, para ulama mengatakan, bahwa amalan seseorang untuk mencari dunia lebih nampak hasilnya daripada riya’. Alasannya, kalau seseorang melakukan amalan dengan riya’, maka jelas dia tidak mendapatkan apa-apa. Namun, untuk amalan yang kedua, dia akan peroleh kemanfaatan di dunia. Akan tetapi keduanya tetap saja termasuk amalan yang membuat seseorang merugi di hadapan Allah ta’ala. Keduanya sama-sama bernilai syirik dalam niat maupun tujuan. Jadi kedua amalan ini memiliki kesamaan dari satu sisi dan memiliki perbedaan dari sisi yang lain.

Kenapa Engkau Tidak Ikhlas Saja dalam Beramal?

Sebenarnya jika seseorang memurnikan amalannya hanya untuk mengharap wajah Allah dan ikhlas kepada-Nya, niscaya dunia pun akan menghampirinya, tanpa mesti dia cari-cari. Namun jika seseorang mencari-cari dunia, dan dunia yang selalu menjadi tujuannya dalam beramal, memang benar dia akan mendapatkan dunia, tetapi sekadar yang Allah takdirkan saja. Ingatlah ini!!

Semoga sabda Nabi ﷺ bisa menjadi renungan bagi kita semua:

مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِى قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِىَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهَ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ

“Barang siapa yang niatnya adalah untuk menggapai Akhirat, maka Allah akan memberikan kecukupan dalam hatinya, Dia akan menyatukan keinginannya yang tercerai berai. Dunia pun akan dia peroleh dan tunduk hina padanya. Barang siapa yang niatnya adalah untuk menggapai dunia, maka Allah akan menjadikan dia tidak pernah merasa cukup, akan mencerai beraikan keinginannya, dunia pun tidak dia peroleh kecuali yang telah ditetapkan baginya.” (HR. Tirmidzi no. 2465. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih. Lihat penjelasan hadis ini di Tuhfatul Ahwadzi, 7/139)

Marilah kita ikhlaskan selalu niat kita ketika kita beramal. Murnikanlah semua amalan hanya untuk menggapai rida Allah. Janganlah niatkan setiap amalanmu hanya untuk meraih kenikmatan dunia semata. Ikhlaskanlah amalan tersebut pada Allah, niscaya dunia juga akan engkau raih. Yakinlah hal ini …!!

Semoga Allah selalu memerbaiki akidah dan setiap amalan kaum Muslimin. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah kepada mereka ke jalan yang lurus.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala wa alihi wa shohbihi wa sallam.

 

Rujukan:

  • Al Qoulus Sadiid Syarh Kitab At Tauhid, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, Wizarotusy syu’un Al Islamiyyah wal Awqof wad Da’wah wal Irsyad-Al Mamlakah Al ‘Arobiyah As Su’udiyah.
  • I’aanatul Mustafid bi Syarhi Kitabit Tauhid, Saleh bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan.
  • At Tamhid li Syarhi Kitabit Tauhid, Saleh bin ‘Abdul Aziz Alu Syaikh, Daar At Tauhid.
  • Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Abul Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir Al Qurosyi Ad Dimasyqi, Tahqiq: Saami bin Muhammad Salamah, Dar Thobi’ah Lin Nasyr wat Tauzi’.
  • Tuhfatul Ahwadzi bi Syarhi Jaami’it Tirmidzi, Muhammad ‘Abdurrahman bin ‘Abdirrahim Al Mubarakfuriy Abul ‘Alaa, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, Beirut.

 

 

****

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

[Artikel https://rumaysho.com]

 

Sumber: https://rumaysho.com/641-amat-disayangkan-banyak-sedekah-hanya-untuk-memerlancar-rezeki.html

,

AYO BAHAGIAKAN ORANG TUA KITA DI AKHIRAT

AYO BAHAGIAKAN ORANG TUA KITA DI AKHIRAT
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
#BirrulWalidain
AYO BAHAGIAKAN ORANG TUA KITA DI AKHIRAT
 
Setiap anak tentu ingin membahagiakan orang tuanya. Ingin menghajikan orang tuanya, memberi hadiah terbaik bagi orang tuanya.
Namun kita perlu ingat, kebahagiaan itu tidak hanya ada di dunia. Kebahagiaan yang paling berarti, ketika kebahagiaan itu didapatkan ketika di Akhirat.
 
Dalam hadis shahih riwayat Hakim, Nabi ﷺ bersabda:
 
من قرأ القرآن وتعلَّم وعمل به أُلبس والداه يوم القيامة تاجاً من نور ضوؤه مثل ضوء الشمس ، ويكسى والداه حلتين لا تقوم لهما الدنيا فيقولان : بم كسينا هذا ؟ فيقال : بأخذ ولدكما القرآن
 
“Siapa yang menghapal aAlquran, mengajinya dan mengamalkannya, maka Allah akan memberikan mahkota bagi kedua orang tuanya dari cahaya yang terangnya seperti matahari.
Karena terheran, kedua orang tuanya bertanya: “Ya Allah, mengapa saya sampai diberi pakaian indah semacam ini?” Lalu disampaikan kepadanya: “Disebabkan anakmu telah mengamalkan Alquran.”
 
Kita bisa bayangkan, betapa bahagianya mereka dengan penghargaan yang Allah berikan kepada mereka, disebabkan jasa anaknya yang rajin mendekat ke Alquran.
 
Menjadi Ahli Quran berlaku untuk semua usia. Kita bisa mulai sejak sekarang.
 
Jadilah Ahli Quran untuk membahagiakan orang tua kita ketika di Akhirat.

 

Penulis: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

,

HAKIKAT JILBAB

HAKIKAT JILBAB

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah
#KisahNyata

HAKIKAT JILBAB

>> Sebuah Kisah yang Sangat Perlu Dibaca Para Wanita

Kisah nyata ini berasal dari kawan saya bekerja. Semoga berguna bagi yang membacanya, terutama kaum hawa. Juga bagi yang punya istri, anak perempuan, adik perempuan, saudara perempuan, kakak perempuan, yang masih punya ibu, yang punya keponakan perempuan, dan lain lain.

Begini cerita sahabatku:

Ini cerita tentang adikku Nur Annisa, gadis yang baru beranjak dewasa, namun rada bengal dan tomboy. Pada saat umur adikku menginjak 17 tahun, perkembangan dari tingkah lakunya agak mengkhawatirkan ibuku. Banyak teman cowoknya yang datang ke rumah, dan hal itu tidak mengenakkan ibuku yang berprofesi sebagai seorang guru ngaji.

Untuk mengantisipasi hal itu, ibuku menyuruh adikku memakai jilbab, namun selalu ditolaknya. Hingga timbul pertengkaran pertengkaran kecil di antara mereka.

Pernah satu kali adikku berkata dengan suara yang agak keras: “Mama coba lihat deh, tetangga sebelah anaknya pakai jilbab, namun kelakuannya tidak ada bedanya sama kita-kita. Malah teman teman Ani yang di sekolah pakai jilbab dibawa om-om, sering jalan-jalan. Masih mending Ani, walaupun begini-gini, Ani tidak pernah ma, seperti itu.” Bila sudah seperti itu, ibuku hanya bisa mengelus dada. Kadangkala di akhir malam kulihat ibuku menangis, lirih terdengar doanya:

“Ya Allah, kenalkan Ani dengan hukum-Mu ya Allah“.

Pada satu hari, di dekat rumahku ada tetangga yang baru pindah. Satu keluarga dengan enam anak yang masih kecil-kecil. Suaminya bernama Abu Khoiri (entah nama aslinya siapa). Aku kenal dengannya waktu di masjid.

Setelah beberapa lama mereka pindah, timbul desas-desus mengenai istri Abu Khoiri yang tidak pernah keluar rumah, hingga dijuluki si buta, bisu dan tuli. Hal ini terdengar pula oleh adikku, dan dia bertanya kepadaku: “Kak, memang yang baru pindah itu istrinya buta, bisu dan tuli?

“Hus,” aku jawab sambil lalu. “Kalau kamu mau tahu, datang saja langsung ke rumahnya”.

Eehhh, adikku benar-benar datang ke rumah tetangga baru.

Sekembalinya dari rumah tetanggaku, kulihat perubahan yang drastis pada dirinya. Wajahnya yang biasanya cerah tidak pernah muram atau lesu, tiba-tiba berubah mejadi pucat pasi. Entah apa yang terjadi.

Namun tidak kusangka, selang dua hari kemudian dia meminta ibuku untuk membuatkannya jilbab yang panjang, rok panjang, lengan panjang.

Aku sendiri menjadi bingung. Aku tambah bingung bercampur syukur kepada Allah, karena kulihat perubahan yang ajaib. Yah kubilang ajaib, karena dia berubah total.

Tidak banyak lagi anak cowok atau teman-teman wanitanya yang datang ke rumah, untuk sekedar bicara yang tidak karuan.

Kulihat dia banyak merenung, banyak membaca-baca majalah Islam, yang biasanya dia suka beli. Majalah anak muda seperti majalah Gadis atau Femina berganti menjadi majalah-majalah Islam, dan kulihat ibadahnya pun melebihi aku.

Tak ketinggalan tahajudnya, baca Alqurannya, sholat sunnahnya. Dan yang lebih menakjubkan lagi, bila temanku datang, dia menundukkan pandangannya.

Segala puji bagi Engkau ya Allah, jerit hatiku.

Tidak berapa lama kemudian aku mendapat panggilan kerja di Kalimantan, untuk bekerja di satu perusahaan asing (PMA).

Dua bulan aku bekerja di sana, aku mendapat kabar, bahwa adikku sakit keras, hingga ibuku memanggilku untuk pulang ke rumah (rumahku di Madiun).

Di pesawat tak henti-hentinya aku berdoa kepada Allah, agar adikku diberikan kesembuhan. Namun aku hanya berusaha. Ketika aku tiba di rumah, di depan pintu sudah banyak orang. Tak dapat kutahan, aku lari masuk ke dalam rumah. Kulihat ibuku menangis. Aku langsung menghampiri dan memeluk ibuku. Sambil tersendat-sendat, ibuku berkata:

“Dhi, adikmu bisa ucapkan Dua Kalimat Syahadat di akhir hidupnya.“ Tak dapat kutahan air mata ini.

Setelah selesai acara penguburan dan lainnya, iseng-iseng aku masuk ke kamar adikku dan kulihat buku catatan harian di atas mejanya.

Buku catatan harian yang selalu dia tulis, tempat dia menghabiskan waktunya sebelum tidur, kala kulihat sewaktu adikku rahimahullah masih hidup. Kemudian kubuka selembar demi selembar, hingga tertuju pada satu halaman yang menguak misteri, dan pertanyaan yang selalu timbul di hatiku. Perubahan yang terjadi ketika adikku sehabis pulang dari rumah Abu Khoiri.

Di situ kulihat tanya jawab antara adikku dan istri dari tetanggaku, isinya seperti ini:

Tanya jawab (kulihat di lembaran itu banyak bekas tetesan air mata):

Annisa: Aku bergumam (wajah wanita ini cerah dan bersinar layaknya bidadari): “Ibu, wajah ibu sangat muda dan cantik.”

Istri Tetanggaku: “Alhamdulillah, sesungguhnya kecantikan itu datang dari lubuk hati.”

Annisa: “Ibu kan sudah punya anak enam, tapi masih kelihatan cantik.”

Istri Tetanggaku: “Subhanallah. Sesungguhnya keindahan itu milik Allah. Dan bila Allah  berkehendak, siapakah yang bisa menolaknya?”

Annisa: “Ibu, selama ini aku selalu disuruh memakai jilbab oleh ibuku, namun aku selalu menolak, karena aku pikir tidak masalah kalau aku tidak pakai jilbab, asalka aku tidak macam-macam. Dan kulihat banyak wanita memakai jilbab, namun kelakuannya melebihi kami yang tidak memakai jilbab, hingga aku tidak pernah mau untuk pakai jilbab. Menurut ibu bagaimana?”

Istri Tetanggaku: Duhai Annisa, sesungguhnya Allah menjadikan seluruh tubuh wanita ini perhiasan, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Segala sesuatu dari tubuh kita yang terlihat oleh bukan mahram kita, semuanya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Ta’ala di Akhirat nanti. Jilbab adalah hijab untuk wanita.”

Annisa: “Tapi yang kulihat banyak wanita yang memakai jilbab yang kelakuannya nggak enak, nggak karuan.”

Istri Tetanggaku: “Jilbab hanyalah kain. Namun hakikat atau arti dari jilbab itu sendiri yang harus kita pahami.”

Annisa: “Apa itu hakikat jilbab?”

Istri Tetanggaku: “Hakikat jilbab adalah hijab lahir batin.

  • Hijab matamu dari memandang lelaki yang bukan mahrammu.
  • Hijab lidahmu dari berghibah (gosip) dan kesia-siaan. Usahakan selalu berzikir kepada Allah.
  • Hijab telingamu dari mendengar perkara yang mengundang mudharat, baik untuk dirimu maupun masyarakat.
  • Hijab hidungmu dari mencium cium segala yang berbau busuk.
  • Hijab tangan-tanganmu dari berbuat yang tidak senonoh.
  • Hijab kakimu dari melangkah menuju maksiat.
  • Hijab pikiranmu dari berpikir yang mengundang setan untuk memerdayai nafsmu.
  • Hijab hatimu dari sesuatu selain Allah.

Bila kamu sudah bisa maka jilbab, yang kamu pakai akan menyinari hatimu, itulah hakikat jilbab.”

Annisa: “Ibu, sekarang jadi jelas buatku, arti jilbab. Mudah mudahan aku bisa pakai jilbab. Namun bagaimana aku bisa melaksanakan semuanya?”

Istri Tetanggaku: “Duhai Anisa. Bila kamu memakai jilbab, itulah karunia dan rahmat yang datang dari Allah Yang Maha Pemberi Rahmat, Yang Maha Penyayang. Bila kamu mensyukuri rahmat itu, kamu akan diberi kekuatan untuk melaksanakan amalan-amalan jilbab, hingga mencapai kesempurnaan yang diinginkan Allah.

  • Duhai Anisa, ingatlah akan satu hari, di mana seluruh manusia akan dibangkitkan dari kuburnya.
  • Ketika ditiup Sangkakala yang kedua kali, pada saat ruh-ruh manusia seperti anai-anai yang bertebaran dan dikumpulkan dalam satu padang yang tiada batas, yang tanahnya dari logam yang panas, tidak ada rumput maupun tumbuhan.
  • Ketika matahari didekatkan di atas kepala kita, namun keadaan gelap gulita.
  • Ketika seluruh Nabi ketakutan.
  • Ketika ibu tidak memerdulikan anaknya, anak tidak memerdulikan ibunya, sanak saudara tidak kenal satu sama lain lagi, kadang satu sama lain bisa menjadi musuh. Satu kebaikan lebih berharga dari segala sesuatu yang ada di alam ini.
  • Ketika manusia berbaris dengan barisan yang panjang, dan masing-masing hanya memerdulikan nasib dirinya. Dan pada saat itu ada yang berkeringat karena rasa takut yang luar biasa, hingga menenggelamkan dirinya. Dan rupa bentuk manusia bermacam-macam, tergantung dari amalannya. Ada yang melihat ketika hidupnya, namun buta ketika dibangkitkan. Ada yang berbentuk seperti hewan. Ada yang berbentuk seperti setan. Semuanya menangis. Menangis, karena hari itu Allah murka. Belum pernah Allah murka sebelum dan sesudah hari itu, hingga ribuan tahun manusia didiamkan Allah  di Padang Mahsyar yang panas membara, hingga Timbangan Mizan digelar. Itulah hari Yaumul Hisab.

Duhai Annisa, bila kita tidak berusaha untuk beramal di hari ini, entah dengan apa nanti kita menjawab, bila kita disidang oleh Yang Maha Perkasa, Yang Maha Besar, Yang Maha Kuat, Yang Maha Agung, Allah. Di Yaumul Hisab nanti! Di Hari Perhitungan nanti!!”

Sampai di sini aku baca buku catatan hariannya. Kulihat banyak tetesan air mata yang jatuh dari pelupuk matanya. Subhanallah, kubalik lembar berikutnya dan kulihat tulisan kecil di bawahnya: Buta, tuli dan bisu, wanita yang tidak pernah melihat lelaki selain mahramnya. Wanita yang tidak pernah mau mendengar perkara yang dapat mengundang murka Allah ta’ala. Wanita yang tidak pernah berbicara ghibah, gosip dan segala sesuatu yang mengundang dosa dan sia sia. Tak tahan air mata ini pun jatuh membasahi buku catatan harian itu.

Itulah yang dapat saya baca dari buku catatan hariannya. Semoga Allah menerima adikku di sisi-Nya. Aamiin.

Bapak-bapak, ibu-ibu, saudara-saudaraku, adik-adikku dan anak-anakku yang semoga dimuliakan Allah, khususnya kaum hawa.

Saya mengharap kisah nyata ini bisa menjadi iktibar, menjadi pelajaran bagi kita, bagi putri-putri kita semua. Semoga meresap di hati yang membacanya, dan semoga Allah ta’ala senantiasa memberi petunjuk, memberi rahmat, hidayah bagi yang membaca dan menghayatinya.

Semoga Allah  senantiasa memberikan kekuatan iman kita untuk menjalankan (memenuhi) segala perintah-Nya dan menjauhi segala apa-apa yang dilarang-Nya, dan mendapat derajat takwa yang tinggi, selamat di dunia sampai di Akhirat nanti, mendapat pertolongan dan syafaat di hari Yaumul Hisab dan mendapat Surga yang tinggi. Aamiin.

Wallaahu a’lam bish shawab, billaahi taufik wal hidayah.
Wassalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakatuh.

 

Sumber: FB Maktabah Ilmu (dengan sedikit perbaikan kata)

http://enkripsi.wordpress.com/2010/11/24/hakikat-jilbab/

https://aslibumiayu.net/2949-hakikat-jilbab-sebuah-kisah-yang-wajib-kamu-baca.html

PASTI DIGANTIKAN DENGAN YANG LEBIH BAIK

PASTI DIGANTIKAN DENGAN YANG LEBIH BAIK

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#TazkiyatunNufus

PASTI DIGANTIKAN DENGAN YANG LEBIH BAIK

Penulis: Ustadz Muhammad Yassir, Lc

Bekerja di tempat maksiat adalah haram hukumnya. Punya duit dari penghasilan haram adalah perbuatan tercela. Langkah berani yang harus kita lakukan bila masih berada di ruang lingkup pekerjaan haram adalah “Walk out”, keluar. Tidak ada kata lain.

Begitu pula anjuran kita pada orang lain, untuk keluar dari pekerjaan haram, mencari penghasilan yang halal.

Pernah kita mendengar, bahkan sering, ketika orang dinasihati untuk meninggalkan perbuatan haram atau pekerjaan yang haram, ia akan dijanjikan dengan hadis Rasulullah ﷺ yang berbunyi:

إنك لن تدع شيئا لله عز وجل إلا بدلك الله به ما هو خير لك منه “.

“Sungguh, jika kamu meninggalkan suatu hal karena Allah semata, maka Allah akan menggantikan untukmu yang lebih baik daripada itu.” [HR. Al Ashbahani dalam kitabnya At Targhib, Hadis dishahihkan oleh Al Bani]

Bahkan terkadang nasihat itu tidak berhenti hanya di situ saja, namun ikut menceritakan kisah-kisah orang lain. Seperti kisah temannya yang dulunya bekarja di bank, setelah dapat hidayah kemudian sadar hukumnya haram, ia pun keluar. Ternyata, kemudian ia bisa mendapatkan pekerjaan yang halal dengan penghasilan yang lebih besar.

Dan ditambah lagi kisah-kisah lainnya semisal dengan itu, yang mungkin kita sendiri pernah mendengarkannya.

Tapi, pernahkah terbayangkan jika orang yang anda nasihati tersebut ternyata setelah keluar dari pekerjaan haramnya, tetap tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih profit dari sebelumnya?

Kira-kira, apa komentar kita?

Perlu diketahui, bahwa di balik kisah-kisah yang kita ceritakan untuk menyemangati orang agar meninggalkan pekerjaan haram, ada satu poin yang harus terpatri di setiap dada orang Muslim:

  • Yaitu, harta halal walaupun secuil, jauh lebih baik dari pada segudang harta haram.
  • Berjalan di atas syariat Allah yang lurus, jauh lebih baik daripada bergelimangan dalam maksiat.

Maksudnya, memeroleh kembali pekerjaan halal dengan penghasilan lebih besar bukanlah suatu jaminan/kepastian yang akan di dapatkan oleh orang yang meninggalkan pekerjaan haram.

Contoh riil-nya adalah kisah seorang sahabat, Mush’ab bin Umair.

Kehidupan beliau di masa Jahiliyah penuh dengan kemewahan. Pakaian yang indah; bertaburkan minyak wangi harum semerbak; digemari oleh remaja putri Mekkah; ayah dan ibunya yang kaya raya siap memenuhi segala keinginannya.

Namun kita semua tahu bagaimana perubahan drastis terjadi dalam kehidupan beliau, setelah beliau memeluk agama Islam serta siap menerima syariat Allah dan Rasul-Nya ﷺ.

Terjadilah titik balik dari kehidupan dunianya. Bajunya berubah jadi compang-camping; penampilannya menjadi kumal bak seorang gelandangan.

Bahkan di akhir hayat beliau, saat mati syahid di Perang Badar, Rasulullah ﷺ menguburkan beliau sseraya berkata: “Dulu di Mekkah, tidak ada pemuda yang punya pakaian seindah dirimu, dan tidak ada yang berambut necis sepertimu. Namun sekarang engkau hanya dikuburkan dengan kain yang tidak cukup untuk menutupi sekujur tubuhmu”

Semua kegemerlapan dunia telah ditinggalkan Mush’ab bin Umair, karena kecintaannya kepada Allah dan Rasulullah ﷺ. Tidak ada yang indah menurut beliau, kecuali hanya kelezatan iman dalam dadanya.

Dari kisah ini, marilah kita bertanya:

Apakah Mush’ab bin Umair tidak memeroleh janji Rasulullah ﷺ, bahwa Allah akan mengganti yang lebih baik, jika meninggalkan sesuatu karena Allah semata??

Bukankah Mush’ab waktu ia masih kafir dalam kehidupan mewah dan kaya raya?? Kenapa ketika ia masuk Islam tidak bertambah kaya dan mewah??

Kira-kira apa jawaban kita terhadap pertanyaan tadi?

Saya akan membantu untuk menjawabnya dengan tegas:

  • “Mush’ab telah mendapatkan janji Rasulullah ﷺ.”
  • “Mush’ab telah memeroleh ganti yang lebih baik, yaitu Surga Allah.”
  • “Mush’ab telah meraih kemegahan yang lebih mewah, yaitu kemewahan lezatnya iman dalam dada.”
  • “Mush’ab telah memakai pakaian yang lebih baik, yaitu pakaian Surga.”
  • “Mush’ab telah disambut kerinduan yang lebih baik dari pada remaja Mekkah, yaitu kerinduan bidadari Surga.”

Kesimpulannya: “Mush’ab telah mendapatkan ganti yang lebih baik dari kehidupan dunianya, yaitu indahnya kehidupan abadi di Akhirat”

Apakah ada kehidupan yang lebih baik daripada Akhirat?? Tentu tidak ada sama sekali.

Maka, sudah semestinya, tujuan Akhiratlah yang menjadi sasaran utama setiap Muslim dan Mukmin. Balasan pertama yang diharapkan dari setiap amalannya adalah balasan di Akhirat, bukan balasan dunia semata. Walaupun tidak kita pungkiri, terkadang ada juga orang yang langsung mendapat balasan di dunia dengan segera.

Kalau keyakinan ini tertanam di setiap jiwa kaum Muslimin, maka tidak akan sulit mengubah pola hidup dari satu sudut ke sudut kehidupan lain, karena tujuan hidupnya bukan dunia tapi hidup Akhirat. Tidak akan banyak tuntutan balasan dan ganjaran dunia, karena pahala Akhirat harapan utamanya.

Bila ia disarankan untuk keluar dari pekerjaan haram, tidak akan ada selentingan pertanyaan: “Terus saya mau kerja apa?”

“Memang kalau saya keluar, saya bisa dapat penghasilan sebanyak ini lagi?”

Karena tujuan utama dia ketika meninggalkan pekerjaan haram adalah tidak mau bergelimangan dosa di dunia, agar tidak hidup sengsara di Akhirat kelak.

Katahuilah wahai saudaraku kaum Muslimin. Allah dan Rasul-Nya ﷺ telah memanggil kita ke negeri Akhirat. Sekarang tinggal sikap kita dalam menjawab panggilan ini. Kalau kita penuhi panggilan ini, kita gerakkan hati dan anggota tubuh kita untuk berangkat menuju negeri Akhirat, maka Allah akan menggantikan dunia kita dengan balasan kenikmatan seluas langit dan bumi, di Surga kelak.

, ,

KARENA DOA, UTANG JADI KEKAYAAN

KARENA DOA, UTANG JADI KEKAYAAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir #UtangPiutang #PinjamMeminjam #FikihMuamalah

KARENA DOA, UTANG JADI KEKAYAAN

Penulis: Ustadz Sufyan Baswedan

Pertanyaan:

Saya punya utang yang cukup banyak, salah satunya karena usaha yang gagal. Saya tidak berniat sedikit pun untuk lari dari utang. Saya takut kalau suatu saat saya meninggal, namun utang saya belum dilunasi.
Satu-satunya usaha yang sekarang sedang saya jalani ikut bisnis online. Pertimbangannya: sudah ada internet dan komputer.
Usia saya 45 tahun. Tentunya tidak memungkinkan melamar kerja, karena kerja di mana pun pasti usianya dibatasi, maksimal 30 tahunan.
Mau usaha dagang ini butuh modal yang tidak sedikit, dan butuh tempat. Ini juga tidak memungkinkan. Di samping itu tenaga saya juga lemah.
Kira-kira bagaimana solusinya ya Ustadz? Mohon doanya juga agar masalah saya cepat selesai.

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Dalam shahihnya, Imam Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin Zubeir radhiyallahu anhu, katanya:

“Di hari Perang Jamal, Zubeir sempat memanggilku. Setelah aku berdiri di sampingnya, ia berkata kepadaku: “Hai putraku, yang akan terbunuh hari ini hanyalah orang zalim atau yang terzalimi. Dan kurasa aku akan terbunuh hari ini sebagai pihak yang terzalimi. Akan tetapi beban pikiran terberatku di dunia ini ialah utangku. Apakah menurutmu, utang kita akan menyisakan harta kita walau sedikit?”

“Wahai putraku, jual-lah aset yang kita miliki untuk menutup utang-utangku,” kata Zubeir kepada Abdullah. Zubeir lalu berwasiat kepada anaknya agar sepersembilan hartanya yang tersisa diperuntukkan bagi anak-anak Abdullah, atau cucu-cucunya. Waktu itu ada dua anak Abdullah seusia dengan anak-anak Zubeir. Yakni Khubaib dan Abbad. Zubeir sendiri waktu itu meninggalkan sembilan anak laki-laki dan sembilan anak perempuan.

 

Kata Abdaullah, Zubeir berpesan kepadanya: “Hai putraku, jika engkau tak sanggup melakukan sesuatu demi melunasi utang ini, minta tolonglah kepada tuanku,” kata Zubeir.
“Demi Allah, aku tidak paham apa maksudnya. Maka aku bertanya kepadanya:” kata Abdullah bin Zubeir. “Wahai Ayah, siapakah tuanmu itu?”
“Allah,” jawab Zubeir.
“Sungguh demi Allah, setiap kali aku terhimpit musibah dalam melunasi utang tersebut, aku selalu berkata: “Wahai tuannya Zubeir, lunasilah utang-utangnya”… dan Allah pun melunasinya, kata Abdullah.
Tak lama berselang, Zubeir radhiyallahu ‘anhu terbunuh. Ia tak meninggalkan sekeping Dinar maupun Dirham. Peninggalannya hanyalah dua petak tanah, yang salah satunya ada di Ghabah (Madinah), 11 unit rumah di Madinah, dua unit rumah di Basrah, satu unit di Kufah, dan satu lagi di Mesir. Sedangkan utang-utangnya timbul karena Zubeir sering dititipi uang oleh orang-orang.
“Anggap saja ini sebagai utang, karena aku takut uang ini hilang,” kata Zubeir.
Zubeir tidak pernah menjabat sebagai gubernur maupun pengumpul zakat, atau yang lainnya. Ia hanya mendapat bagian dari perangnya bersama Rasulullah ﷺ, Abu Bakar, Umar bin Khattab atau Utsman bin Affan radhiyallaahu ‘anhum.
“Maka kuhitung total utang yang ditanggungnya, dan jumlahnya mencapai 2,2 juta Dirham!” Hakim bin Hizam pernah menemui Abdullah bin Zubeir dan bertanya: “Wahai putra saudaraku, berapa utang yang ditanggung saudaraku?”
Ibnu Zubeir merahasiakannya, dan hanya mengatakan “Seratus ribu.”
Hakim berkomentar: “Demi Allah, harta kalian takkan cukup untuk melunasinya menuruntuku.”
“Lantas bagaimana menurutmu jika utang tadi berjumlah 2,2 juta?!” tanya Ibnu Zubeir.
“Kalian takkan sanggup melunasinya. Dan jika kalian memang tidak sanggup, maka minta tolonglah kepadaku,” jawab Hakim.
Abdullah lantas mengumumkan: “Siapa yang pernah mengutangi Zubeir, silakan menemui kami di Ghabah.” Maka datanglah Abdullah bin Ja’far yang dahulu pernah mengutangi Zubeir sebesar 400 ribu Dirham.
Ibnu Ja’far berkata kepada Ibnu Zubeir, “Kalau kau setuju, utang itu untuk kalian saja.”
“Tidak”, jawab Ibnu Zubeir.
“Kalau begitu, biarlah ia utang yang paling akhir dilunasi,” kata Ibnu Ja’far.
“Jangan begitu,” jawab Ibnu Zubeir.
“Kalau begitu, berikan aku sekapling tanah dari yang kalian miliki,” pinta Ibnu Ja’far.
“Baiklah. Kau boleh mengambil kapling dari sini hingga sana,” kata Ibnu Zubeir.
Ibnu Ja’far lantas menjual bagiannya dan mendapat pelunasan atas utangnya. Sedangkan tanah tersebut masih tersisa 4,5 kapling. Ibnu Zubeir lantas menghadap Mu’awiyah yang kala itu sedang bermajelis dengan ‘Amru bin Utsman, Mundzir bin Zubeir, dan Ibnu Zam’ah.
Mu’awiyah bertanya: “Berapa harga yang kau berikan untuk tanah Ghabah?”
“Seratus ribu per kapling,” jawab Ibnu Zubeir.
“Berapa kapling yang tersisa?” tanya Mu’awiyah.
“Empat setengah kapling,” jawab Ibnu Zubeir.
‘Amru bin Utsman berkata: “Aku membeli satu kapling seharga seratus ribu.” Sedangkan Mundzir bin Zubeir dan Ibnu Zam’ah juga mengatakan yang sama. Mu’awiyah bertanya: “Berapa kapling yang tersisa?”
“Satu setengah kapling” jawab Ibnu Zubeir.
“Kubeli seharga 150 ribu,” kata Mu’awiyah.

Sebelumnya, Abdullah bin Ja’far menjual kaplingnya kepada Mu’awiyah seharga 600 ribu Dirham. Dan setelah Ibnu Zubeir selesai melunasi utang ayahnya. Datanglah anak-anak Zubeir kepadanya untuk minta jatah warisan. Tapi kata Ibnu Zubeir, “Tidak, demi Allah. Aku takkan membaginya kepada kalian, sampai kuumumkan selama empat tahun di musim haji, bahwa siapa saja yang pernah mengutangi Zubeir, hendaklah mendatangi kami agar kami lunasi.” Maka Ibnu Zubeir pun mengumumkannya selama empat tahun.

Setelah berlalu empat tahun, barulah Ibnu Zubeir membagi sisa warisannya. Ketika itu, Zubeir meninggalkan empat istri, dan setelah dikurangi sepertiganya, masing-masing istrinya mendapatkan 1,2 juta. Dan setelah ditotal, nilai total harta peninggalannya mencapai 50,2 juta! [HR. Bukhari No. 3129]

Sungguh luar biasa memang pengaruh doa. Tak hanya menolak musibah dan meringankan bencana. Namun doa membalik itu semua menjadi karunia yang tak terhingga. Walau secara matematis jumlah hartanya takkan cukup untuk melunasi 10% dari utangnya, tapi lewat doa, itu semua teratasi. Kalaulah Zubeir mengajarkan doa tersebut kepada putranya, doa apa kiranya yang harus kita baca agar bebas dari lilitan utang?

Dalam Sahih Muslim disebutkan, Rasulullah ﷺ mengajarkan agar kita membaca doa berikut setiap hendak tidur:

اللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَوَاتِ السَّبْعِ وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ مُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ أَنْتَ الْأَوَّلُ لَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الْآخِرُ لَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الظَّاهِرُ لَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الْبَاطِنُ لَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ وَأَغْنِنَا مِنْ الْفَقْرِ

Allahumma robbas-samaawaatis sab’i wa robbal ‘arsyil ‘azhiim, robbanaa wa robba kulli syai-in, faaliqol habbi wan-nawaa wa munzilat-tawrooti wal injiil wal furqoon. A’udzu bika min syarri kulli syai-in anta aakhidzum binaa-shiyatih. Allahumma antal awwalu falaysa qoblaka syai-un wa antal aakhiru falaysa ba’daka syai-un, wa antazh zhoohiru fa laysa fawqoka syai-un, wa antal baathinu falaysa duunaka syai-un, iqdhi ‘annad-dainaa wa aghninaa minal faqri.

Artinya:

“Ya Allah, Rabb yang menguasai langit yang tujuh, Rabb yang menguasai ‘Arsy yang agung, Rabb kami dan Rabb segala sesuatu. Rabb yang membelah butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah, Rabb yang menurunkan kitab Taurat, Injil dan Furqan (Alquran). Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan segala sesuatu yang Engkau memegang ubun-ubunnya (semua makhluk atas kuasa Allah). Ya Allah, Engkau-lah yang awal, sebelum-Mu tidak ada sesuatu. Engkaulah yang terakhir, setelah-Mu tidak ada sesuatu. Engkau-lah yang lahir, tidak ada sesuatu di atas-Mu. Engkau-lah yang batin, tidak ada sesuatu yang luput dari-Mu. Lunasilah utang kami, dan berilah kami kekayaan (kecukupan), hingga terlepas dari kefakiran.” [HR. Muslim no. 2713]

Tulisan di atas merupakan artikel yang ditulis oleh Ustadz Sufyan Fuad Baswedan, M.A. yang diterbitkan oleh Majalah Pengusaha Muslim edisi 33. Secara khusus, Ustadz Sufyan Fuad Baswedan, M.A. merupakan kolumnis Majalah Pengusaha Muslim untuk rubrik adab dan doa. Ada banyak hal baru yang bisa kita dapatkan dari tulisan beliau. Sederhana, namun sarat makna.

 

Sumber: https://konsultasisyariah.com/15787-karena-doa-utang-jadi-kekayaan.html

, ,

DOA MINTA KAYA DAN LEPAS DARI UTANG

DOA MINTA KAYA DAN LEPAS DARI UTANG

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir

DOA MINTA KAYA DAN LEPAS DARI UTANG

Beberapa doa berikut bisa diamalkan dan sangat manfaat, berisi permintaan kaya dan lepas dari utang. Namun tentu saja kaya yang penuh berkah, bukan sekedar perbanyak harta. Apalagi hakikat kaya adalah diri yang selalu merasa cukup.

[1] Doa Meminta Panjang Umur dan Banyak Harta

اللَّهُمَّ أكْثِرْ مَالِي، وَوَلَدِي، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أعْطَيْتَنِي وَأطِلْ حَيَاتِي عَلَى طَاعَتِكَ، وَأحْسِنْ عَمَلِي وَاغْفِرْ لِي

Allahumma ak-tsir maalii wa waladii, wa baarik lii fiimaa a’thoitanii wa athil hayaatii ‘ala tho’atik wa ahsin ‘amalii wagh-fir lii

Artinya:

Ya Allah perbanyaklah harta dan anakku, serta berkahilah karunia yang Engkau beri. Panjangkanlah umurku dalam ketaatan pada-Mu, dan baguskanlah amalku, serta ampunilah dosa-dosaku. [HR. Bukhari no. 6334 dan Muslim no. 2480]

[2] Doa Memohon Kemudahan

اللَّهُمَّ لاَ سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَأَنْتَ تَجْعَلُ الحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً

Allahumma laa sahla illa maa ja’altahu sahlaa, wa anta taj’alul hazna idza syi’ta sahlaa

Artinya:

Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau buat mudah. Dan Engkau menjadikan kesedihan (kesulitan), jika Engkau kehendaki, pasti akan menjadi mudah. [HR. Ibnu Hibban dalam Shahihnya 3: 255]

[3] Doa Agar Terlepas dari Sulitnya Utang

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ

Allahumma inni a’udzu bika minal ma’tsami wal maghrom

Artinya:

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari berbuat dosa dan sulitnya utang. [HR. Bukhari no. 2397 dan Muslim no. 5]

[4] Doa Agar Lepas dari Utang Sepenuh Gunung

اللَّهُمَّ اكْفِنِى بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِى بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

Allahumak-finii bi halaalika ‘an haroomik, wa agh-niniy bi fadhlika ‘amman siwaak

Artinya:

Ya Allah cukupkanlah aku dengan yang halal, dan jauhkanlah aku dari yang haram. Dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu, dari bergantung pada selain-Mu. [HR. Tirmidzi no. 3563, Hasan kata Syaikh Al Albani]

[5] Doa Dipermudah Urusan Dunia dan Akhirat

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِى دِينِىَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِى وَأَصْلِحْ لِى دُنْيَاىَ الَّتِى فِيهَا مَعَاشِى وَأَصْلِحْ لِى آخِرَتِى الَّتِى فِيهَا مَعَادِى وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِى فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لِى مِنْ كُلِّ شَرٍّ

Alloohumma ashlih lii diiniilladzii huwa ‘ishmatu amrii, wa ashlih lii dun-yaayallatii fiihaa ma’aasyii, wa ash-lih lii aakhirotiillatii fiihaa ma’aadii, waj’alil hayaata ziyaadatan lii fii kulli khoirin, waj’alil mauta roohatan lii min kulli syarrin

Artinya:

Ya Allah, perbaikilah bagiku agamaku sebagai benteng urusanku. Perbaikilah bagiku duniaku yang menjadi tempat kehidupanku. Perbaikilah bagiku Akhiratku yang menjadi tempat kembaliku! Jadikanlah -ya Allah- kehidupan ini memunyai nilai tambah bagiku dalam segala kebaikan, dan jadikanlah kematianku sebagai kebebasanku dari segala kejahatan. [HR. Muslim no. 2720]

Artikel di atas adalah salah satu bagian dari buku terbaru: Pesugihan, Biar Kaya Mendadak.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/10221-doa-minta-kaya-dan-lepas-dari-utang.html