Posts

, ,

KEUTAMAAN MEMPERINGATKAN BAHAYA BIDAH

KEUTAMAAN MEMPERINGATKAN BAHAYA BIDAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
 
KEUTAMAAN MEMPERINGATKAN BAHAYA BIDAH
 
 
Asy-Syaikh Rabi’ bin Hady al-Madkhaly hafizhahullah berkata:
 
التحذير من البدع أفضل وأرقى درجات الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر.
 
“Memperingatkan bahaya (mentahdzir) bidah adalah tingkatan yang paling afdhal dan paling tinggi dalam amar ma’ruf nahi munkar.” [Marhaban Yaa Thalibal ‘Ilmi, hlm. 329]
 
 
 
 
 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

#mentahdzir #mentahzir #tahdzir #tahzir #bahayabidah #ahlibidah #ahlulbidah #tingkatantertinggi #amarmarufnahimungkar #keutamaan #fadhilah #keutamaanmemperingatkanbahayabidah #nasihatulama #petuahulama

, , , ,

BERMAJELIS DENGAN AHLI BIDAH DAN MENGATAKAN CUKUPLAH UMAT INI BERPECAH

BERMAJELIS DENGAN AHLI BIDAH DAN MENGATAKAN CUKUPLAH UMAT INI BERPECAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
BERMAJELIS DENGAN AHLI BIDAH DAN MENGATAKAN CUKUPLAH UMAT INI BERPECAH
 
Penanya:
 
طالب علم يجالس أهل السنة وأهل البدع، ويقول: كفى الأمة تفريقاً وأنا أجالس الجميع.
 
Seorang penuntut ilmu bermajelis kepada Ahlussunnah dan Ahli Bidah, dan ia mengatakan: “Cukuplah umat ini berpecah dan aku tetap bermajelis kepada semuanya.”
 
Jawaban Asy-Syaikh Al-Allamah Shaleh Bin Muhammad Al-Luhaidan hafizhahullah:
 
( هذا مبتدع )، من لم يفرق بين الحق والباطل ويدعي أن هذا لجمع الكلمة فهذا هو الابتداع، نسأل الله أن يهديه. نعم ).
 
“Orang ini Mubtadi. Barang siapa yang tidak membedakan antara Al-Haq dan Al-Bathil dan mengklaim bahwasanya ini untuk menyatukan kalimat, maka ini adalah bidah. Kita memohon kepada Allah memberikan kepadanya hidayah.” [Disadur dari kaset pelajaran bakda Shalat Fajar di Masjid Mabawi pada 23/10/1418 H]
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
 
#larangan #dilarang #bermajelisdenganahlulahlibidah #ahlulbidah #ahlibidah #bidah #mubtadi #alhaqalbathilbatil #harusbisabedakanalhaqkebenarandanalbathil #fatwaulama
, ,

JANGAN MENGAMBIL ILMU AGAMA DARI AHLI BIDAH

JANGAN MENGAMBIL ILMU AGAMA DARI AHLI BIDAH
 
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
 
JANGAN MENGAMBIL ILMU AGAMA DARI AHLI BIDAH
>> Perhatikanlah dari siapa kamu mengambil ilmu ini, karena sesungguhnya dia adalah agama
 
Orang yang berniat mencari ilmu yang haq harus memperhatikan dari siapa dia mengambil ilmu. Jangan sampai mengambil ilmu agama dari Ahli Bidah, karena mereka akan menyesatkan, baik disadari atau tanpa disadari, sehingga hal ini akan mengantarkannya kepada jurang kehancuran.
 
Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin rahimahullah menyatakan, bahwa untuk meraih ilmu ada dua jalan:
Pertama: Ilmu diambil dari kitab-kitab terpercaya yang ditulis oleh para ulama yang telah dikenal tingkat keilmuan mereka, amanah, dan akidah mereka bersih dari berbagai macam Bidah dan Khurafat (dongeng; kebodohan). Mengambil ilmu dari isi kitab-kitab, pasti seseorang akan sampai kepada derajat tertentu. Tetapi pada jalan ini ada dua halangan. Halangan pertama, membutuhkan waktu yang lama dan penderitaan yang berat. Halangan kedua, ilmunya lemah, karena tidak dibangun di atas kaidah-kaidah dan prinsip-prinsip.
 
Kedua: Ilmu diambil dari seorang guru yang terpercaya di dalam ilmunya dan agamanya. Jalan ini lebih cepat dan lebih kokoh untuk meraih ilmu. [Diringkas dari Kitabul Ilmi, karya Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin rahimahullah, hlm. 68-69]
 
Akan tetapi pantas disayangkan, pada zaman ini kita melihat fenomena pengambilan ilmu dari para Ahli Bidah marak di mana-mana. Padahal perbuatan tersebut sangat ditentang oleh para Ulama Salaf. Maka benarlah Rasulullah ﷺ yang telah memberitakan, bahwa hal itu merupakan salah satu di antara tanda-tanda dekatnya Kiamat. Beliau ﷺ bersabda:
 
إِنَّ مِنْ أَشْرِاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُلْتَمَسَ الْعِلْمُ عِنْدَ الْأَصَاغِرِ
 
“Sesungguhnya di antara tanda Hari Kiamat adalah ilmu diambil dari orang-orang kecil (yaitu Ahli Bidah)” [Riwayat Ibnul Mubarak, al Lalikai, dan al Khaththib al Baghdadi. Dishahihkan oleh Syaikh al Albani di dalam Shahih al Jami’ ash Shaghir, no. 2203, dan Syaikh Salim al Hilali dalam kitab Hilyatul ‘Alim, hlm. 81].
 
Imam Ibnul Mubarak rahimahullah ditanya: “Siapakah orang-orang kecil itu?”
Beliau menjawab: “Orang-orang yang berbicara dengan fikiran mereka. Adapun Shaghir (anak kecil) yang meriwayatkan dari kabir (orang tua, Ahlus Sunnah), maka dia bukan Shaghir (Ahli Bidah). [Lihat Jami’ Bayanil ‘ilmi, hlm. 246]
 
Di dalam riwayat lain, Imam Ibnul Mubarak juga mengatakan: “Orang-orang kecil dari kalangan Ahli Bidah”. [Riwayat al Lalikai, 1/85]
 
Syaikh Bakar Abu Zaid, seorang ulama Saudi anggota Komisi Fatwa Saudi Arabia berkata: “Waspadalah terhadap Abu Jahal (Bapak Kebodohan), yaitu Ahli Bidah yang tertimpa penyimpangan akidah, diselimuti oleh awan khurafat. Dia menjadikan hawa nafsu sebagai hakim (penentu keputusan) dengan menyebutnya dengan kata ‘akal’. Dia menyimpang dari nash (wahyu). Padahal bukankah akal itu hanya ada dalam nash? Dia memegangi yang dha’if (lemah) dan menjauhi yang shahih. Mereka juga dinamakan Ahlusy Syubuhat (Orang-orang yang memiliki dan menebar kerancauan pemikiran) dan Ahlul Ahwa’ (Orang-orang yang mengikuti kemauan hawa nafsu). Oleh karena itulah Ibnul Mubarak menamakan Ahli Bidah dengan ash Shaghir (anak-anak kecil). [Hilyah Thalibil ‘Ilmi, hlm. 39, karya Syaikh Bakar Abu Zaid]
 
Dan di antara tanda Hari Kiamat yaitu “Mengambil ilmu dari orang-orang kecil (yaitu Ahli Bidah)” pada zaman ini benar-benar sudah terjadi dan terus berjalan. Sungguh telah terbukti sabda Nabi ﷺ di atas. Bahkan sudah dan sedang terjadi sesuatu yang lebih besar dari itu, yaitu mengambil ilmu agama Islam dari orang-orang kafir, yakni para dosen yang mengajarkan pengetahuan tentang Islam di berbagai perguruan tinggi di negara Barat. Wallahul musta’an.
 
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata:
 
اُنْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ هَذَا الْعِلْمَ فَإِنَّمَا هُوَ دِينٌ
 
“Perhatikanlah dari siapa kamu mengambil ilmu ini, karena sesungguhnya dia adalah agama.” [Kifāyah, hlm. 121]
 
 
 
Dinukil dari tulisan yang berjudul: “JANGAN MENGAMBIL ILMU AGAMA DARI AHLI BIDAH” yang ditulis oleh: Ustadz Abu Isma’il Muslim al Atsari dengan pengubahan dan penambahan sekadarnya oleh Tim Redaksi Nasihat Sahabat
 
#AbuJahal #BapakKebodohan #lihatlahdarimanakamumengambililmu #perhatikandarisiapakamumengambililmu #karenailmuiniadalahagama #janganmengambililmuagamadariahlibidah #ahlibidah #laranganmengambililmudariahlibidah #tandaHariKiamat #ilmudiambildariahlibidah #adabmenuntutilmu #thalabulilmi #tholabulilmi #penuntutilmu #menuntutilmuagamasyari

BENARKAH BIDAH ADALAH MASALAH KHILAFIYAH?

BENARKAH-BIDAH-ADALAH-MASALAH-KHILAFIYAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
BENARKAH BIDAH ADALAH MASALAH KHILAFIYAH?
 
Pertanyaan:
Benarkah masalah bidah adalah masalah Khilafiyah? Seringkali mereka yang gemar mengada-ada mengatakan ini masalah khilafiyah. Bahkan mereka mencap orang yang berbicara masalah bidah di jaman sekarang norak.
 
Dan bagaimana tindakan kita terhadap orang awam, yang ketika kita ingin mendakwahkn tauhid maupun sunnah, akan tetapi mereka telah terkena syubhat masalah imam dan ulama yang tidak bisa lagi diambil perkataannya.
 
Jawaban Redaksi SalamDakwah
 
Jawaban terperinci untuk soal ini sebenarnya panjang karena membahas tiga perkara besar sekaligus:
1. Bidah
2. Khilaf atau perbedaan pendapat
3. Sikap menghadapinya
 
Tapi saya akan mencoba memberi jawaban pendek sesuai pertanyaan. Saya akan membagi jawaban menjadi beberapa poin:
 
Pertama:
– Ada perkara bidah yang bersumber dari masalah khilafiyah, seperti selalu melaksanakan Qunut Subuh,
– Ada yang mengatakan itu bidah karena dalil yang jadi sandaran amalan itu tidak bisa dijadikan hujjah,
– Ada yang mengatakan itu sunnah karena ada dalil yang menguatkan amalan itu
– Ada perkara bidah yang tidak bersumber dari masalah khilafiyah, bahkan perkara itu menyelisihi Ijma’ (Kesepakatan Ulama’), seperti sebagian orang Sufi berkeyakinan tidak boleh berdoa kepada Allah dalam masalah duniawi [Lihat: http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=4059]
 
Kedua:
Yang saya fahami dari pertanyaan Anda, bahwa orang yang Anda ajak bicara kelihatannya berdalih dengan ikhtilaf untuk pembolehan bidah (karena ini masalah ikhtilaf jadi tidak usah diingkari). Dan pemahaman seperti ini tidak benar.
 
Berkata Ibnu Abdil Bar:
“Sepengetahuanku, tidak ada seorang ahli fikih pun yang berpendapat, bahwa perbedaan pendapat adalah hujjah, kecuali bagi orang yang tidak punya ilmu pengetahuan, dan perkataan orang seperti ini bukanlah dalil. [Lihat Kitab Jami’ bayanil ilmi wa fadhlihi juz 2 hal. 922]
 
Perlu diketahui, bahwa ketika ada perbedaan pendapat ulama-ulama yang bertolakbelakang dan tidak bisa disatukan, maka kebenaran saat itu hanya satu dari beberapa pendapat tersebut. Dan seorang Muslim wajib menjalankan apa yang diyakininya sebagai pendapat yang benar.
 
Untuk mengetahui dalil-dalil dari Alquran, Sunnah, Ijma’ yang menyatakan, bahwa kebenaran itu hanya satu. [Lihat kitab Raudhatunnadhir oleh Ibnu Qudamah Juz 2 hal 357]
 
Jadi meskipun bidah itu bersumber dari masalah khilafiyah, maka kita tetap memilih pendapat yang benar, yang dalilnya kuat.
 
Ketiga:
Rasulullah ﷺ bersabda:
 
” وإياكم والأمور المحدثات, فإن كل بدعة ضلالة.” رواه ابن ماجه رقم 42, صححه الألباني
 
Berhati-hatilah kalian dari perkara-perkara yang baru. Sesungguhnya setiap bidah itu sesat.
Karena bidah itu kesesatan, dan kesesatan adalah perkara yang mungkar, maka kita harus menghilangkan kemungkaran itu dengan cara yang bijak dan tidak mendiamkannya.
 
Keempat:
Adapun masalah orang awam yang tidak mau menerima pandangan Ulama Sunnah seperti syaikh Bin Baz dan Albani, maka Anda bisa cukup membawakan dalil dari Alquran atau Sunnah dalam masalah tersebut. Kalau misalnya tidak ada dalil dari kitab atau sunnah dalam masalah tersebut, maka Anda bisa menghadirkan ulama sunnah yang dianggap di hampir semua kalangan orang Islam, seperti Imam Empat Madzhab, Ibnu Abdil Bar, Shon’ani, Syaukani dll
 
Wallahu a’lam bis showab
 
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#bedaantarakhilafiyahdanijtihadiyah #perbedaanantarakhilafiyahdanijtihadiyah #perbedaan #beda #khilafiyah #ijtihadiyah #khilafiyyah #ijtihadiyyah #ahlulbidah #ahlibidah, #bidah, #masalahkhilafiyah
, ,

INILAH JALANNYA UNTUK KEBANGKITAN DAN KEMULIAAN ISLAM

INILAH JALANNYA UNTUK KEBANGKITAN DAN KEMULIAAN ISLAM
 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
INILAH JALANNYA UNTUK KEBANGKITAN DAN KEMULIAAN ISLAM
>> Kemuliaan hanya bisa dicapai dengan kembali kepada Manhaj Salaf
>> Renungkanlah wahai pelaku demonstrasi dan aksi turun ke jalan
 
Sesungguhnya kemuliaan yang didambakan oleh kaum Muslimin TIDAK AKAN PERNAH DIRAIH kecuali dengan menjunjung tinggi ajaran Alquran. Rasulullah ﷺ yang tidak berbicara dengan hawa nafsunya telah mengabarkan kepada kita:
“Sesungguhnya Allah akan mengangkat sebagian orang dengan sebab Kitab ini, dan akan merendahkan sebagian yang lain dengan sebab Kitab ini pula.” [HR. Muslim]
 
Barang siapa yang menyangka kebangkitan dan kemuliaan Islam akan bisa diraih dengan meninggalkan Alquran dan memecah belah kaum Muslimin menjadi bergolong-golongan serta membiarkan mereka hanyut dalam kebidahan, maka sungguh dia telah SALAH. Sebab Allah jalla wa ‘ala, yang ucapannya adalah ucapan paling jujur dan paling sesuai dengan realita telah berfirman (yang artinya):
“Barang siapa yang menentang rasul setelah jelas baginya petunjuk dan dia mengikuti jalan selain jalan orang-orang yang beriman, maka Kami akan membiarkan dia terombang-ambing dalam kesesatannya, dan Kami akan memasukkannya ke dalam Jahannam. Dan sesungguhnya Jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” [QS. an-Nisa’: 115]
 
Maka mengikuti jalan para sahabat, yang mereka itu adalah jajaran terdepan kaum Mukminin pengikut Nabi ﷺ, merupakan sebuah KENISCAYAAN. Inilah jembatan emas yang akan mengantarkan kaum Muslimin yang cinta kepada Allah dan Rasul-Nya ﷺ untuk meraih Surga di Akhirat dan kejayaan di dunia.
 
Sesungguhnya mengikuti jalan hidup para sahabat adalah perjuangan yang akan selalu digembosi oleh musuh-musuh Sunnah. Mereka tahu, bahwa apabila kaum Muslimin kembali kepada pemahaman para sahabat, maka makar mereka untuk memporak-porandakan barisan kaum Muslimin akan menjadi sia-sia. Tidakkah kita ingat ucapan emas dari Imam Malik rahimahullah:
“Tidak akan baik generasi akhir umat ini, kecuali dengan sesuatu yang memperbaiki generasi awalnya.”
 
Mereka, musuh-musuh Sunnah, sangat takut apabila kaum Muslimin kembali kepada Sunnah Nabi ﷺ dan Sunnah para sahabatnya. Mereka kira kaum Muslimin bisa ditipu dengan ucapan-ucapan batil mereka yang dipoles sedemikian rupa dengan kutipan ayat dan hadis. Mereka lupa, bahwa kaum Muslimin senantiasa mengingat pesan Nabi mereka ﷺ:
“Wajib bagi kalian untuk mengikuti Sunnahku dan Sunnah Khulafau’ur Rasyidin yang berada di atas petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya. Dan gigitlah ia dengan gigi geraham, dan jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan. Karena sesungguhnya setiap perkara yang diada-adakan itu adalah bidah. Dan setiap bidah pasti sesat.” [HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, disahihkan al-Albani dalam Shahih al-Jami’]
 
Oleh sebab itu mereka, musuh-musuh Sunnah, sangat gatal telinganya apabila kaum Muslimin senantiasa mendengungkan ucapan Imam Ahlus Sunnah wal Jamaah di masanya, Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah. Beliau berkata:
“Barang siapa yang menentang hadis Rasulullah ﷺ, maka sesungguhnya dia berada di tepi jurang kehancuran.”
 
Ucapan beliau ini didukung oleh Imam Nashir as-Sunnah/Sang pembela Sunnah asy-Syafi’i rahimahullah yang dengan tegas mengatakan:
“Kaum Muslimin telah sepakat, bahwa barang siapa yang telah jelas baginya Sunnah Rasulullah ﷺ, maka tidak halal baginya meninggalkan Sunnah itu hanya karena mengikuti perkataan seseorang.”
Mereka, musuh-musuh Sunnah, juga sangat geram apabila kaum Muslimin senantiasa mengingat nasihat Imam Syafi’i rahimahullah dalam ucapannya:
“Apabila suatu hadis itu Shahih, maka itulah madzhabku.”
 
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
“Tidaklah Anda temui seorang ahli bidah pun, kecuali dia pasti memendam rasa benci kepada sunnah yang tidak sesuai dengan bidahnya.”
 
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#ahlibidah #ahlulbidah #manhajsalaf #jalankemuliaan #jalankemenangan #kembalikepadamanhajsalaf #generasiawal #musuhmusuhSunnah #demonstrasi #aksiturunkejalan #aksibelaKhawarij #Khowarij #kemenanganIslam
,

PERINGATAN 40 HARI KEMATIAN ADALAH AJARAN FIRAUN

PERINGATAN 40 HARI KEMATIAN ADALAH AJARAN FIRAUN
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
PERINGATAN 40 HARI KEMATIAN ADALAH AJARAN FIRAUN
Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah mengatakan tentang memperingati 40 hari kematian:
“عادة فرعونية كانت لدى الفراعنة قبل الإسلام، ثم انتشرت عنهم وسرت في غيرهم، وهي بدعة منكرة لا أصل لها في الإسلام”
“Itu adalah kebiasaan Firaun yang telah ada sebelum kedatangan Islam. Kemudian dari mereka tersebar dan dilakukan oleh selain mereka, dan itu merupakan bid’ah mungkar yang TIDAK ada asalnya dalam Islam.” [Majmu’ul Fatawa, jilid 13 hal. 398-399]
Sumber:  @JakartaMengaji
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#peringatan, #perayaan, #40harikematian, #Yasinan, #Tahlilan, #bidah, #bid’ah, #ahlibidah, #ahlulbidah, #ajaranFiraun, #Firaun, #Firaun #tauhid, #tawheed #mati, #meninggal dunia, #wafat, #kematian

BOLEHKAH BELAJAR BAHASA ARAB KEPADA AHLUL BID’AH?

BOLEHKAH BELAJAR BAHASA ARAB KEPADA AHLUL BID’AH?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

BOLEHKAH BELAJAR BAHASA ARAB KEPADA AHLUL BID’AH?
 
Apabila ada seorang mubtadi’ namun dia menonjol/kuat dalam ilmu bahasa Arab, baik Balaghah, Nahwu, maupun Sharaf, bolehkah kita duduk dengannya dan mengambil ilmu darinya? Yakni ilmu yang dia menonjol di bidang tersebut. Ataukah kita tetap wajib meng-hajr-nya?
 
Jawaban asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah:
 
Kita TIDAK BOLEH duduk dengannya, karena hal itu akan memunculkan dua kerusakan:
 
Kerusakan Pertama: Dia (Ahlul Bid’ah tersebut) tertipu dengan dirinya sendiri. Dia mengira bahwa dirinya berada di atas al-Haq (kebenaran).
 
Kerusakan Kedua: Umat akan tertipu dengannya. Yaitu dengan berdatangannya para penuntut ilmu kepada dia dan mengambil ilmu darinya. Sementara orang awam tidak akan membedakan antara ilmu nahwu dengan ilmu akidah.
 
Oleh karena itu KAMI MEMANDANG UNTUK TIDAK BOLEH DUDUK DENGAN AHLUL BID’AH SECARA MUTLAK. Bahkan walaupun dia tidak mendapati ilmu bahasa Arab, ilmu Balaghah, dan ilmu Sharaf – misalnya, kecuali pada mereka. Allah akan menjadikan untuknya yang lebih bagi dari itu. Karena berdatangannya para penuntut ilmu kepada mereka (Ahlul Bid’ah) tidak diragukan akan menyebabkan mereka tertipu (dengan diri sendiri) dan menyebabkan umat tertipu dengan mereka.
 
Di sana ada masalah (lain), yaitu: Bolehkan mengambil ilmu Alquran (yaitu ilmu Qira’ah, Tajwid, dll, pen) dari seorang pengajar Ahlul Bid’ah?
 
Jawabannya: TIDAK BOLEH membaca kepada mereka (yakni tidak boleh mengambil ilmu Alquran dari mereka, pen).
 
– Selesai dengan sedikit perubahan –
 
Dari kaset: “Syarh Hilyah Thalibul ‘Ilmi”
Oleh al-’Allamah Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah
 

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

#FatwaUlama, #hukum, #hukummengambililmu, #ahlulbidah, #ahlibidah, #bidah, #bid’ah,