, , ,

JANGAN ASAL NGAJI, JANGAN TERTIPU DENGAN TAMPILAN LUAR SEPERTI SALAFI, PADAHAL HIZBI

JANGAN TERTIPU DENGAN TAMPILAN LUAR SEPERTI SALAFI, PADAHAL HIZBI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama

JANGAN ASAL NGAJI, JANGAN TERTIPU DENGAN TAMPILAN LUAR SEPERTI SALAFI, PADAHAL HIZBI

Menggapai Ilmu Sesuai Manhaj Ahlussunnah

Perjalanan Dakwah Salafiyah tentunya banyak cerita, penuh suka dan duka. Seiring berkembangnya Dakwah Salafiyah yang mubarakah ini, tidak lepas dari ujian dan cobaan, halangan, rintangan serta tantangan. Tidak sedikit problematika yang menerjang bahtera Dakwah Salafiyah, baik dari luar maupun dari dalam. Inilah sunnatullah yang berlaku di atas muka bumi yang fana ini. Allah berfirman:

الٓمٓ (١) أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتۡرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَنُونَ (٢) وَلَقَدۡ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ‌ۖ فَلَيَعۡلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْ وَلَيَعۡلَمَنَّ ٱلۡكَـٰذِبِينَ (٣)

“Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira, bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka. Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS.Al-Ankabut: 1-3)

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu berkata:

Allah mengabarkan tentang kesempurnaan hikmah-Nya. Dan hikmah-Nya tidak mendiamkan setiap orang yang mengatakan, bahwa dirinya beriman selamat dari ujian dan cobaan. Tidak dipaparkan kepadanya, apa yang mengganggu keimanan dan cabang-cabang keimanannya. Seandainya tidak ada ujian, maka tidak akan terbedakan antara yang jujur dan yang dusta, yang di atas kebenaran dan yang di atas kebatilan. Akan tetapi Sunnatullah dan kebiasaan-Nya terhadap orang-orang yang terdahulu dan terhadap umat ini, untuk Dia menguji manusia dengan kesenangan dan kesengsaraan, kesulitan dan kemudahan, rasa bersemangat dan rasa malas, kekayaan dan kemiskinan, dikuasai oleh musuh beberapa saat, berjuang melawan musuh dengan ucapan dan perbuatan, dan lain sebagianya dari berbagai macam bentuk fitnah yang bersumber kepada fitnah syubhat yang merusak akidah dan syahwat yang merusak niat.

Barang siapa yang ketika dihadang oleh syubhat, tetap kokoh keimanannya dan tidak goyah, serta dia memeranginya dengan kebenaran yang dia pegang erat. Dan ketika dia dihadang oleh syahwat yang menyerunya kepada perbuatan dosa dan maksiat, yang memalingkannya dari perintah Allah dan Rasul-Nya, lalu dia lawan dengan iman dan perangi syahwatnya, maka itu menunjukkan akan kebenaran dan kejujuran imannya.

Namun barang siapa yang ketika dihadang oleh syubhat, lalu syubhat tersebut memengaruhi hatinya dan membuat keraguan, dan ketika dihadang oleh syahwat yang menjerumuskannya ke dalam maksiat dan memalingkannya dari kewajiban, maka itu menunjukkan akan ketidak benaran dan ketidak jujuran keimanannya.

Manusia dalam hal ini bertingkat-tingkat, tidak ada yang bisa menghitungnya kecuali Allah. Ada yang tinggi dan ada yang rendah tingkatnya.

Semoga Allah mengokohkan kita dengan ucapan yang tsabit/kokoh di kehidupan dunia dan di Akhirat dan menguatkan hati kita di atas agama-Nya. Ujian dan cobaan bagi jiwa manusia itu seperti bara api yang memisahkan kotoran dari kebaikan [Taisir Al-Kariim Ar-Rahman hal. 734-735].

Di antara sekian banyak problematika yang dihadapi Dakwah Salafiyah adalah ke’jahil’an sebagian orang atau majelis taklim (MT) yang mengatasnamakan dirinya Salafi, tentang Manhaj Ahlussunnah dalam menggapai ilmu agama.

Mereka belajar agama dari semua golongan, tidak selektif dalam mencari guru agama, ustadz, pakar pendidikan agama atau yang semisalnya. Sebagian mereka mengganggap yang penting ustadznya berjenggot sudah dianggap Salafi yang layak diambil ilmunya.

  • Sebagian lagi menimba ilmu dari ustadz karena ketenarannya di media social, meskipun sang ustadz tidak paham tentang manhaj Salafi.
  • Sebagian lagi menimba ilmu, yang penting retorikanya indah, meski jahil tentang agama.
  • Sebagian lagi mengatakan kita ambil baiknya saja dari ustadz yang bukan Salafi.
  • Sebagian lagi mendatangkan ustadz Quthbiy (fans Sayyid Quthub dan Muhammad Quthub) karena dia ahli pendidikan, dan menganggap Dakwah Salafiyah tidak punya pakar pendidikan. Na’udzu billahi mindzalik.

Wahai Saudaraku, wahai thalibal ilmi, wahai Salafi, renungkanlah hal-hal berikut ini. Semoga kita selalu istiqamah di atas jalan Al-Firqah An-Najiyah (kelompok yang selamat) dengan taufik dari-Nya!

  1. Allah berfirman:

فَسۡـَٔلُوٓاْ أَهۡلَ ٱلذِّڪۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ

“Maka tanyakanlah olehmu, kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.” (QS.Al-Anbiya’: 7)

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu berkata:

Ketika Allah mengkhususkan untuk bertanya kepada Ahli Ilmu, maka di sini terdapat larangan untuk bertanya (menimba ilmu-pent) kepada orang yang dikenal akan kejahilannya alias tidak berilmu. Dan dilarang bagi orang yang jahil untuk dia menjabat sebagai orang alim [Taisir Al-Karim Ar-Rahman hal. 605].

  1. Rasulullah ﷺ bersabda:

إن الله لا يقبض العلم انتزاعا ينتزعه من العباد ولكن يقبض العلم بقبض العلماء حتى إذا لم ببق عالما اتحذ الناس رؤوسا جهالا فسئلوا فأفتوا بغير علم فضلوا وأضلوا

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu ini secara tiba-tiba dari hamba-hambaNya. Akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama hingga ketika tidak tersisa para ulama maka manusia menjadikan tokoh (agama) mereka dari orang-orang yang jahil. Ketika mereka ditanya maka mereka berfatwa tanpa ilmu hingga sesat dan menyesatkan.”  (HR.Bukhari)

  1. Rasulullah ﷺ bersabda:

إن من أشراط الساعة أن يلتمس العلم عند الأصاغر

“Sesungguhnya di antara tanda Hari Kiamat adalah diambilnya ilmu dari Al-Ashaghir (Jahil/Ahli Bid’ah).”

(HR.Ibnu Mubarak dalam Az-Zuhd) [Hadis ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahaadits Ash-Shahihah 2/316].

  1. Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata:

لا تجالسوا أهل الأهواء فإن مجالستهم ممرضة للقلوب

“Jangan kalian duduk menimba ilmu dari Ahli Bid’ah, karena duduk bersama mereka itu menularkan penyakit ke dalam hati.” [Diriwayatkan oleh Al-Ajurri dalam Asy-Syari’ah 1/453].

  1. Muhammad bin Siirin (seorang ulama tabi’in) rahimahullahu berkata:

إن هذا العلم دين فانظروا عمن تأخذون دينكم

“Sesungguhnya ilmu agama ini adalah agama itu sendiri. Maka perhatikanlah dari mana kalian mengambil ilmu agama kalian.”(HR.Muslim)

6. Imam Malik rahimahullahu berkata: Tidak boleh mengambil ilmu dari empat golongan manusia:

a. Orang bodoh yang nampak kebodohannya, meskipun dia banyak (hafal) riwayat hadis.

b. Ahli Bid’ah yang menyeru kepada kebid’ahannya.

c. Orang yang berdusta kepada manusia, meski tidak berdusta terhadap hadis Rasulullah ﷺ.

d. Orang saleh lagi ahli ibadah, akan tetapi tidak hafal apa yang dia ucapkan [Siyar A’laamin An-Nubalaa’ 4/472 oleh Imam Adz-Dzahabi].

7. Abu Qilabah rahimahullahu berkata: Jangan kalian duduk bersama (menimba ilmu dari) Ahli Bid’ah, dan berkumpul dengan mereka, karena aku kwatir mereka akan menjerumuskan kalian dalam kesesatan mereka, atau membuat kerancuan dalam ilmu kalian [Al-I’tisham 1/172 oleh Asy-Syathibi].

8. Ibrahim An-Nakha’i rahimahullahu berkata: Jangan kalian belajar dari Ahli Bid’ah, dan jangan berbicara dengan mereka, karena aku kwatir hati kalian akan berbalik ke belakang (murtad) [Al-I’tisham 1/172 oleh Asy-Syathibi].

9. Abu Zur’ah Ar-Rozi rahimahullahu pernah ditanya tentang Al-Harits Al-Muhaasibi dan kitab-kitabnya, maka beliau berkata: Jauhilah kitab-kitabnya. Ini adalah kitab-kitab Ahli Bid’ah dan sesat. Wajib bagi kalian berpegang teguh dengan atsar. Kemudian beliau ditanya: Di kitab-kitab itu ada ibrah/ kebaikannya. Abu Zur’ah berkata: Barang siapa yang tidak bisa mengambil ibrah dari Alquran, maka tidak ada ibrah baginya [Tarikh Baghdad 8/215 oleh Khatiib Al-Baghdaadi].

10. Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid rahimahullahu berkata: Jauhilah Ahli Bid’ah yang telah terkontaminasi dengan kotoran akidah dan telah berlumuran dengan khurafat. Dia berpegang teguh dengan hawa nafsunya yang dia namakan dengan logika dan dia berpaling dari nash. Tidaklah akal itu kecuali ada pada nash. Orang tersebut berpegang dengan (hadis) lemah dan menjauhi yang shahih. Merekalah Ahlu Syubhat dan Ahlu Al-Ahwa’. Oleh karena itulah Abdullah bin Mubarak rahimahullahu menamakan Ahli Bid’ah dengan Al-Ashaghir [Syarhu Kitab Hilyah thalib al-ilmi hal.107 oleh Syaikh Muhammad bin Saleh Al-Utsaimin].

11. Beliau juga berkata: Wahai penuntut ilmu agama, apabila engkau dalam keleluasaan dan memiliki pilihan, maka jangan engkau menimba ilmu dari Ahli Bid’ah: Syiah Rafidhah, Khawarij, Murjiah, Qadariyah, Quburiyah …, karena engkau tidak akan bisa menjadi Muslim sejati, yang benar akidahnya, kuat hubungannya dengan Allah, memiliki pemikiran yang baik, melainkan dengan menjauhi Ahli Bid’ah dan kebid’ahan mereka. Kitab-kitab biografi/sejarah (ulama) dan kitab-kitab sunnah penuh dengan ketegasan ahlusunnah terhadap bid’ah dan Ahli Bid’ah, serta memerintahkan untuk menjauhi mereka. [Syarhu Kitab Hilyah thalib al-ilmi hal. 110-111 oleh Syaikh Muhammad bin Saleh Al-Utsaimin]

12. Beliau juga berkata: Wahai penuntut ilmu, jadilah engkau Salafi sejati. Jauhilah Ahli Bid’ah, agar mereka tidak memfitnahmu [Syarhu Kitab Hilyah thalib al-ilmi hal. 114 oleh Syaikh Muhammad bin Saleh Al-Utsaimin]

13. Syaikh Muhammad bin Saleh Al-Utsaimin rahimahullah berkata ketika mensyarah ucapan Syaikh Bakr Abu Zaid (poin 7) di atas: Yang nampak dari ucapan Syaikh Bakr –semoga Allah memberi taufik kepada beliau- bahwasanya tidak boleh menimba ilmu dari Ahli Bid’ah sedikit pun, meskipun tidak berkaitan dengan bid’ahnya.

Sebagai contoh: Kita dapati seorang Ahli Bid’ah, tapi dia ahli bahasa Arab, baik Balaghoh, Nahwu dan Sharaf. Apakah boleh kita belajar kepadanya? Atau kita jauhi dia? Yang nampak dari ucapan Syaikh Bakr, bahwa kita tidak boleh belajar kepadanya, karena ini mengandung dua kerusakan:

  • Menjadikan Ahli Bid’ah tersebut besar kepala dan dia mengira di atas kebenaran.
  • Menjadikan manusia tertarik kepada Ahli Bid’ah tersebut, sehingga manusia dan para penuntut ilmu berbondong-bondong dan belajar ilmu kepadanya.

Dan orang awam tidak bisa membedakan antara Ilmu Nahwu dan Ilmu Akidah. Oleh karena itu kita berpendapat, bahwa kaum Muslimin DILARANG belajar dari Ahli Bid’ah dan Ahli Ahwa’ secara mutlak, meskipun tidak didapati ilmu bahasa Arab, Balaghoh dan Sharaf, kecuali hanya pada mereka. Allah akan jadikan dia lebih baik lagi. Karena kalau kita selalu datang kepada mereka, maka tidak diragukan lagi hal ini akan menyebabkan mereka besar kepala, dan manusia tertipu dengan mereka [Syarhu Kitab Hilyah thalib al-ilmi hal. 110-111 oleh Syaikh Muhammad bin Saleh Al-Utsaimin]

  1. Syaikh Saleh bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullahu berkata: Wajib bagi para pemuda untuk menjauhkan diri dari Ahli Bid’ah dan para pengikut pemikiran yang merusak dan menyesatkan.

Wajib bagi mereka untuk menjauhkan diri dari mereka dan dari kitab-kitab mereka. Wajib bagi para pemuda untuk mendekat kepada para ulama dan kepada para pengibar bendera Akidah Shahihah, serta menimba ilmu dari mereka, duduk bersama mereka dan bertanya kepada mereka. Adapun Ahli Bid’ah dan para pengikut pemikiran yang rusak, maka wajib bagi para pemuda untuk menjauhkan diri darinya. Karena mereka akan menyesatkannya, menenggelamkannya ke dalam akidah yang rusak, bid’ah dan khurafat. Hal ini karena seorang guru/ustadz memiliki pengaruh terhadap muridnya. Karena guru/ustadz yang sesat menyebabkan pemuda akan tersesat. Adapun guru/ustadz yang lurus (manhajnya), maka sang murid juga akan lurus (manhajnya). Guru/ustadz memiliki pengaruh yang signifikan. Maka tidak boleh kita meremehkan hal ini [Al-Ajwibah Al-Mufiidah ‘an as-ilah Al-Manaahij Al-Jadidah hal.97 oleh Syaikh Saleh bin Fauzan].

  1. Syaikh Abu Abdillah Jamaal bin Furaihan Al-Haritsi hafidzahullahu mengomentari ucapan Syaikh Saleh Al-Fauzan di atas: Semoga Allah memberikan balasan kepada guru kami dengan sebaik-baik balasan. Beliau telah menjelaskan Manhaj Salafi kepada para pemuda dalam bermuamalah dengan Ahli Bid’ah, yaitu menjauh dari mereka. Seandainya Syaikh Saleh berkata: Kita ambil kebaikan yang ada pada mereka dan kita tinggalkan kejelekan mereka, sebagaimana ini adalah kaidah kelompok Muwazanah di zaman ini, dan sebagaimana keadaan sebagian dai yang menyatakan: “Ambil kebaikannya dan tinggalkan kejelekannya”, maka para pemuda akan tersesat, akan luntur Manhaj Salafi dan akidah mereka akan berlumuran dengan kotoran.

Segala puji bagi Allah yang mengutus pada setiap tempat dan zaman, orang-orang yang membela Manhaj Salafi, serta menjelaskannya kepada umat, meski banyak yang membenci [Al-Ajwibah Al-Mufiidah ‘an as-ilah Al-Manaahij Al-Jadidah hal.97 oleh Syaikh Saleh bin Fauzan].

 

Sadarlah Wahai Salafi

Manhaj Salaf telusuri

Ahli Bid’ah jauhi

Jalan penuh duri

Inilah sunnah ilahi

Jangan engkau bersedih

Istiqomah terus jalani

Surga Allah menanti

 

 

Penulis: Al-Ustadz Abdurrahman Thoyyib, Lc hafizhahullah

 

Sumber: https://aslibumiayu.net/16364-jangan-asal-ngaji-jangan-tertipu-dengan-tampilan-luar-seperti-Salafi-padahal-hizbi.html

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *