HAL-HAL YANG DIWAJIBKAN DAN DISUNAHKAN WUDHU DI DALAMNYA

HAL-HAL YANG DIWAJIBKAN DAN DISUNAHKAN WUDHU DI DALAMNYA

Oleh: Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi

Perkara Yang Mewajibkan Wudhu (Hal-Hal Yang Diharamkan Atas Orang Yang Berhadats):

  1. Sholat

Berdasarkan firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerja-kan sholat, maka basuhlah mukamu…” [Al-Maa-idah: 6]

Dan sabda Nabi Shalalllahu ‘alaihi wa sallam:

“لاَ يَقْبَلُ اللهُ صَلاَةً بِغَيْرِ طَهُوْرٍِ.”

“Allah tidak menerima sholat tanpa bersuci (wudhu)”.

  1. Thawaf di Baitullah

Berdasarkan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

اَلطَّوَافُ بِالْبَيْتِ صَلاَةٌ، إِلاَّ أَنَّ اللهَ أَحَلَّ فِيْهِ الْكَلاَمَ.

“Thawaf di Baitullah adalah sholat. Hanya saja Allah menghalalkan bicara di dalamnya.” [Shahih: [Shahiih al-Jaami’ush Shaghiir (no. 3954)] dan Sunan at-Tirmidzi (II/ 217 no. 967)].

 

Hal-Hal Yang Disunnahkan Wudhu Di Dalamnya:

 

  1. Berdzikir kepada Allah

Berdasarkan hadis al-Muhajir bin Qunfudz. Dia mengucapkan salam kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sedang berwudhu. Beliau tidak menjawab salamnya hingga menuntaskan wudhunya. Beliau lalu menjawabnya dan berkata:

إِنَّهُ لَمْ يَمْنَعْنِي أَنْ أَرُدَّ عَلَيْكَ إِلاَّ أَنِّي كَرِهْتُ أَنْ أَذْكُرَ اللهَ إِلاَّ عَلَى طَهَارَةٍ.

“Sesungguhnya tidak ada yang menghalangiku untuk menjawabmu. Hanya saja aku tidak suka menyebut nama Allah kecuali dalam keadaan suci.” [Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 280)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/34 no. 17), Sunan Ibni Majah (I/126 no. 350), dan Sunan an-Nasa-i (I/37), dengan riwayat yang tidak marfu’].

  1. Ketika Hendak Tidur

Dasarnya adalah apa yang diriwayatkan al-Barra’ bin ‘Azib Radhiyallahu anhu. Dia mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika engkau mendatangi tempat tidurmu, maka berwudhulah sebagaimana engkau berwudhu untuk sholat. Kemudian tidurlah di atas sisi kananmu, lalu ucapkan:

اَللّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ، وَوَجَّهْتُ وَجْهِيْ إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَى مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ، اَللّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ، وَنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ.

“Ya Allah, kuserahkan jiwaku pada-Mu, dan kuhadapkan wajahku pada-Mu. Kupasrahkan urusanku pada-Mu, dan ku-sandarkan punggungku pada-Mu, dengan harap dan cemas kapada-Mu. Tidak ada tempat bersandar dan berlindung dari-Mu kecuali kepada-Mu. Ya Allah, aku beriman kepada kitab-Mu yang Engkau turunkan. Dan Nabi-Mu yang Engkau utus.”

 

Jika engkau meninggal pada malam itu, maka engkau meninggal dalam keadaan fithrah. Jadikanlah ia akhir pembicaraanmu.” [Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (XI/109 no. 6311)] dan Shahiih Muslim (IV/2081 no. 2710)].

  1. Junub

Disunnahkan ketika hendak makan, minum, tidur, atau mengulang jima’.

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Jika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam junub dan ingin makan, minum, atau tidur, beliau berwudhu sebagaimana berwudhu untuk sholat.” [Shahih: [Mukhtasahar Shahiih Muslim (no. 162)], Shahiih Muslim (I/248 no. 305 (22)), Sunan an-Nasa-i (I/138), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/374 no. 221)].

Dan dari ‘Ammar bin Yasir Radhiyallahu anhu, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi keringanan bagi orang yang sedang junub jika ingin makan, minum, atau tidur untuk berwudhu sebagaimana berwudhu untuk sholat.” [Shahih: [Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/375 no. 222)].

Juga dari Abu Sa’id Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

 

إِذَا أَتَى أَحَدُكُمْ أَهْلَهُ ثُمَّ أَرَادَ أَنْ يَعُوْدَ فَلْيَتَوَضَّأْ.

 

“Jika salah seorang di antara kalian telah mendatangi isterinya (berjima’) dan ingin mengulangi, maka hendaklah ia berwudhu.” [Shahih: [Shahiih al-Jaami’ush Shaghiir (no. 263)], Shahiih Muslim (I/249 no. 308), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/371 no. 217), Sunan at-Tirmidzi (I/94 no. 141), Sunan an-Nasa-i (I/142), dan Sunan Ibni Majah (I/193 no. 587)].

  1. Sebelum Mandi, Baik Mandi Wajib Maupun Sunnah

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Jika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi junub, beliau memulainya dengan membasuh kedua tangannya. Kemudian beliau kucurkan air dari tangan kanan ke tangan kirinya, lantas membasuh kemaluannya, lalu berwudhu sebagaimana berwudhu untuk sholat.” [Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 155)] dan Shahiih Muslim (I/253 no. 316)].

  1. Makan Makanan Yang Tersentuh Api

Berdasarkan hadis Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تَوَضَّؤُوْا مِمَّا مَسَّتِ النَّارُ.

“Berwudhulah karena memakan makanan yang tersentuh api’.” [Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 147)], Shahiih Muslim (I/272 no. 352), Sunan an-Nasa-i (I/105)].

Perintah ini mengandung makna sunnah. Berdasarkan hadis ‘Amr bin Umayyah adh-Dhamri, dia berkata, “Aku melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengiris paha kambing. Beliau kemudian makan sebagian darinya lalu mengumandangkan seruan untuk sholat. Beliau berdiri dan meletakkan pisau lantas sholat dan tidak berwudhu.” [Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 148)], Shahiih Muslim (I/274 no. 355 (93)), ini adalah lafazh darinya, Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/311 no. 208)].

  1. Setiap Sholat

Berdasarkan hadis Buraidah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Dulu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu pada tiap sholat. Ketika hari penaklukan (Makkah) beliau berwudhu dan mengusap sepatunya lalu melakukan semua sholat dengan satu wudhu.” ‘Umar berkata padanya, “Wahai Rasulullah, engkau melakukan sesuatu yang tidak pernah engkau lakukan.” Beliau berkata, “Aku sengaja melakukannya, hai ‘Umar.” [Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 142)], Shahiih Muslim (I/232 no. 277), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/292 no. 171), Sunan at-Tirmidzi (I/42 no. 61), dan Sunan an-Nasa-i (I/86].

  1. Tiap Kali Berhadats

Berdasarkan hadis Buraidah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Pada suatu pagi hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil Bilal dan berkata, ‘Wahai Bilal, dengan apa engkau mendahuluiku ke Surga? Kemarin malam aku masuk Surga dan kudengar suara gerakanmu di depanku’. Bilal berkata, “Wahai Rasulullah, tidaklah aku adzan kecuali aku sholat dua raka’at. Tidaklah aku berhadats melainkan aku berwudhu saat itu juga.’ Rasulullah j berkata, ‘Karena inilah’.” [Shahih: [Shahiih al-Jaami’ush Shaghiir (no. 7894)] dan Sunan at-Tirmidzi (V/ 282 no. 3772)].

 

  1. Muntah

Berdasarkan hadis Ma’dan bin Abi Thalhah dari Abu Darda’, dia menceritakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah muntah, kemudian berbuka dan berwudhu. Lalu kutemui Tsauban di masjid Damaskus dan kuceritakan hal ini kepadanya. Dia lalu berkata, “Benar. Akulah yang menuangkan air wudhu beliau’.” [Sanadnya Shahih: [Tamaamul Minnah, hal. 111], Sunan at-Tirmidzi (I/58 no. 87), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (VII/8 no. 2364), tanpa lafazh: “فَتَوَضَّأْ (maka berwudhulah)].

  1. Membawa Mayit

Berdasarkan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ غَسَّلَ مَيْتاً فَلْيَغْتَسِلْ، وَمَنْ حَمَلَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ.

“Barang siapa memandikan mayat, maka hendaklah ia mandi. Dan barang siapa membawanya, maka hendaklah berwudhu.” [Shahih: [Ahkaamul Janaa-iz (hal. 53)], Ahmad (al-Fat-hur Rabbaani) (II/145 no. 486), Shahiih Ibni Hibban (191/751), al-Baihaqi (I/300), dan Sunan at-Tirmidzi (II/231 no. 998), dengan maknanya.  Secara sepintas, perintah tersebut mengandung arti wajib. Hanya saja, kita tidak mengatakannya demikian karena adanya hadis Ibnu ‘Abbas, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian memandikan mayit kalian, maka tidak wajib bagi kalian untuk mandi. Karena mayit kalian tidaklah najis. Cukuplah kalian mem-basuh kedua tangan kalian.” Diriwayatkan dalam kitab Mustadrak al-Hakim (I/386), al-Baihaqi (III/398). Dinukil dengan pengubahan dari Ahkaamul Janaa-iz karya Syaikh al-Albani, hal. 53]

[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA – Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 – September 2007M]

http://almanhaj.or.id/content/725/slash/0/pembatal-pembatal-wudhu/

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *