, ,

MENJUAL AGAMA DENGAN TUJUAN DUNIA

MENJUAL AGAMA DENGAN TUJUAN DUNIA
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

MENJUAL AGAMA DENGAN TUJUAN DUNIA

 

Dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda:

بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

“Bersegeralah melakukan amalan saleh sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap gulita. Seseorang paginya beriman, namun sorenya menjadi kafir. Atau seseorang yang sorenya masih beriman, namun paginya telah kafir. Dia menjual agamanya dengan tujuan-tujuan dunia” [HR. Muslim no. 328]

Hadis ini berisi perintah untuk bersegera melakukan amalan saleh. Yang disebut amalan saleh adalah jika memenuhi dua syarat, yaitu ikhlas pada Allah dan mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ. Jika tidak memenuhi syarat ini, suatu amalan TIDAKLAH diterima di sisi Allah.

Dalam hadis ini dikabarkan bahwa akan datang fitnah seperti potongan malam. Artinya fitnah tersebut tidak terlihat. Ketika itu manusia tidak tahu ke manakah mesti berjalan. Ia tidak tahu di manakah tempat keluar.

Fitnah boleh jadi karena syubuhaat (racun pemikiran), boleh jadi timbul dari syahwat (dorongan hawa nafsu untuk bermaksiat).

Fitnah di atas itu diibaratkan dengan potongan malam yang gelap gulita, tidak terlihat. Sehingga seseorang di pagi hari dalam keadaan beriman, dan sore harinya dalam keadaan kafir. Dalam satu hari, bayangkanlah ada yang bisa demikian. Atau ia di sore hari dalam keadaan beriman, dan di pagi harinya kafir. Mereka bisa menjadi kafir karena menjual agamanya.

Bagaimanakah bisa menjual agama? Menjual agama yang dimaksud di sini adalah menukar agama dengan harta, kekuasaan, kedudukan atau bahkan dengen perempuan.

Pelajaran lainnya dari hadis ini:

1- Wajibnya berpegang teguh dengan agama.

2- Bersegera dalam amalan saleh sebelum datang cobaan yang mengubah keadaan.

3- Fitnah akhir zaman begitu menyesatkan. Satu fitnah datang dan akan berlanjut pada fitnah berikutnya.

4- Jika seseorang punya kesempatan untuk melakukan satu kebaikan, maka segeralah melakukannya, jangan menunda-nunda.

5- Jangan menukar agama dengan dunia yang murah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk bersegera dalam kebaikan dan terus menjaga agama kita.

Referensi:

Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhish Salehin, Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al Hilaliy, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1430 H, 1: 150.

Syarh Riyadhish Salehin, Syaikh Muhammad bin Saleh Al ‘Utsaimin, terbitan Madarul Wathon, cetakan tahun 1426 H, 2: 16-20.

 

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Sumber: https://rumaysho.com/3468-bersegeralah-beramal-sholeh-sebelum-datang-musibah.html

 

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
www.nasihatsahabat.com

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

#menjualagamadengantujuandunia #Segeralahberamalsebelumdatangnyafitnahfitnah #sepertipotonganpotonganmalamyanggelapgulita #Seseorangpaginyaberimannamunsorenyamenjadikafir

,

JALAN GOLONGAN YANG SELAMAT

JALAN GOLONGAN YANG SELAMAT
JALAN GOLONGAN YANG SELAMAT
>> Firqatun Najiyah
 
Istilah golongan yang selamat yang dalam bahasa Arab disebut dengan Al-Firqatu An-Najiyah ( الفرقة الناجية ) muncul berdasarkan hadis Nabi ﷺ yakni:
 
افترقت اليهود على إحدى و سبعين فرقة ، فواحدة في الجنة و سبعين في النار ، و افترقت النصارى على اثنين و سبعين فرقة فواحدة في الجنة و إحدى و سبعين في النار ، و الذي نفسي بيده لتفترقن أمتي على ثلاث و سبعين فرقة ، فواحدة في الجنة و ثنتين و سبعين في النار ، قيل يا رسول الله من هم ؟ قال : هم الجماعة
 
“Yahudi telah berpecah-belah menjadi 71 golongan, maka satu di Surga dan tujuh puluh di Neraka. Dan Nashara telah berpecah belah menjadi 72 golongan, maka satu di Surga dan tujuh puluh satu di Neraka. Dan demi yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh umatku akan berpecah belah menjadi 73 golongan, maka satu di Surga dan tujuh puluh dua di Neraka. Dikatakan “Wahai Rasul ALLAH, siapa mereka itu?” Beliau ﷺ berkata: “Mereka adalah al-Jamaah.”” [HR Ahmad, shahih]
 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

#jalangolonganyangselamat #alfirqatunannajiyah #Umatkuberpecahbelah #menjadi73Golongan #73Golongan #72Golongan #71Golongan #Yahudi #Nashara #Nasharo #N

, , , ,

DEMI SEBUAH KURSI KEDUDUKAN

DEMI SEBUAH KURSI KEDUDUKAN
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
DEMI SEBUAH KURSI KEDUDUKAN
>> Nasihat yang sangat baik untuk mereka yang mengaku sedang memperjuangkan Islam, kepada mereka yang merasa sedang mengibarkan bendera Islam
>> Ambisi untuk memperoleh kedudukan dapat merusak agama seseorang
>> Benarkah jika kita tidak menduduki kursi-kursi penting, maka Islam akan diinjak-injak?
 
 
عَنِ ابْنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ الْأَنْصَارِيِّ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ :قَالَ رَسُولُ الله ِn: مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلاَ فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ
 
Dari Ka’ab bin Malik radhiallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidaklah dua ekor serigala yang lapar dilepas di tengah sekawanan kambing, lebih merusak daripada merusaknya seseorang terhadap agamanya, karena ambisinya untuk mendapatkan harta dan kedudukan.”
[HR At-Tirmidzi (no. 2482) Al-Imam Ahmad (3/456) Asy-Syaikh Muqbil di dalam Ash-Shahihul Musnad (2/178) dan Asy-Syaikh Al-Albani di dalam Shahihul Jami’ (no. 5620)]
 
Makna Hadis
 
Makna hadis ini, kerusakan yang ditimbulkan oleh dua ekor serigala lapar yang dibiarkan bebas di antara sekawanan kambing masih belum seberapa, apabila dibandingkan kerusakan yang muncul karena ambisi seseorang untuk mendapatkan kekayaan dan kedudukan. Karena ambisi untuk mendapatkan harta dan kedudukan akan mendorong seseorang untuk mengorbankan agamanya. Adapun harta, dikatakan merusak karena ia memiliki potensi untuk mendorongnya terjatuh dalam syahwat, serta mendorongnya untuk berlebihan dalam bersenang-senang dengan hal-hal mubah, sehingga akan menjadi kebiasaannya. Terkadang ia terikat dengan harta, lalu tidak dapat mencari dengan cara yang halal, akhirnya ia terjatuh dalam perkara syubhat. Ditambah lagi, harta akan melalaikan seseorang dari zikrullah. Hal-hal seperti ini tidak akan terlepas dari siapa pun.
 
Adapun kedudukan, cukuplah sebagai bukti kerusakannya, bahwa harta dikorbankan untuk meraih kedudukan. Sementara kedudukan tidak mungkin dikorbankan hanya untuk mendapatkan harta. Inilah yang dimaksud dengan syirik khafi (syirik yang tersamar). Dia tenggelam di dalam sikap oportunis, merelakan prinsipnya hilang, kenifakan, dan seluruh akhlak tercela. Maka ambisi terhadap kedudukan lebih merusak dan lebih merusak. [Tuhfatul Ahwadzi Syarah Sunan At-Tirmidzi]
 
Al-Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah berkata:
“Nabi Muhammad ﷺ (di dalam hadis ini) mengabarkan, bahwa ambisi untuk memperoleh kedudukan dapat merusak agama seseorang. Kerusakannya tidak kurang dari kerusakan yang ditimbulkan oleh dua ekor serigala terhadap sekawanan kambing. Agama seorang hamba tidak akan selamat bila ia memiliki ambisi untuk memperoleh harta dan kedudukan. Hanya sedikit yang dapat selamat. Perumpamaan yang teramat agung ini memberikan pesan untuk benar-benar waspada dari keburukan ambisi untuk memperoleh harta dan kedudukan di dunia.”
 
Beliau rahimahullah juga berkata:
“Ambisi seseorang terhadap kedudukan tentu lebih berbahaya dibandingkan ambisinya terhadap harta. Karena usaha untuk mendapatkan kedudukan duniawi, derajat tinggi, kekuasaan atas orang lain, dan kepemimpinan di atas muka bumi, lebih besar mudaratnya dibandingkan usaha mencari harta. Sungguh besar mudaratnya. Bersikap zuhud dalam hal ini begitu sulit.” [Syarh Ibnu Rajab]
 
Menjaga Agama adalah Cita-cita Mulia
 
Di dalam hadis ini terdapat faidah yang mengingatkan kita, bahwa perkara yang terpenting bagi seorang hamba adalah menjaga agamanya. Serta merasa rugi apabila muncul kekurangan di dalam menjalankan agama. Cinta seorang hamba terhadap harta dan kedudukan, upaya yang ia tempuh untuk mendapatkannya, ambisi untuk meraih harta dan kedudukan, serta kerelaan bersusah-payah untuk mengalahkan, hanya akan menyebabkan kehancuran agama dan runtuhnya sendi-sendi agamanya. Simbol-simbol agama akan terhapus. Bangunan-bangunan agamanya pun akan roboh. Ditambah lagi bahaya yang akan ia hadapi karena menempuh sebab-sebab kebinasaan.
 
Kepada mereka yang mengaku sedang memperjuangkan Islam, kepada mereka yang merasa sedang mengibarkan bendera Islam, apakah mereka lebih baik dari Salaf, generasi pertama umat Islam? Perhatikanlah sabda Rasulullah ﷺ kepada Abdurrahman bin Samurah radhiyallahu ‘anhu dalam Riwayat Muslim:
 
يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ، لاَ تَسْأَلِ الْإِمَارَةَ فَإِنَّكَ إِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا وَإِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا
 
“Wahai Abdurrahman, janganlah engkau meminta kepemimpinan. Karena sesungguhnya bila engkau memperoleh kepemimpinan karena permintaanmu, maka engkau akan dibiarkan. Dan jika engkau memperolehnya tanpa dasar permintaan, engkau akan dibantu.” [Silakan merujuk majalah Asy Syariah Vol I/No. 06/Maret 2004/Muharram 1425 untuk keterangan lebih lengkap tentang hadis ini, dengan tema Hukum Meminta Jabatan]
 
Maka, apakah mereka yang berebut kursi dan mencari suara terbanyak dapat dikatakan sedang memperjuangkan Islam? Dusta dan sungguh dusta lisan mereka. Mungkin terbersit dalam benak, jika kita tidak menduduki kursi-kursi penting, maka Islam akan diinjak-injak? Maka, jawabnya ada pada pendirian seorang Imam Ahlus Sunnah Ahmad bin Hanbal rahimahullahu ta’ala. Disebutkan dalam Mihnatul Imam Ahmad (hal. 70-72) beliau berkata: ”Sungguh, sekali-kali tidak mungkin hal itu akan terjadi! Sesungguhnya Allah taala pasti akan membela agama-Nya. Sesungguhnya ajaran Islam ini memilki Rabb yang akan menolongnya. Dan sesungguhnya dienul Islam ini sangat kuat dan kokoh.”
 
Jadilah orang-orang yang tidak menginginkan kekuasaan dan kerusakan di atas muka bumi. Padahal mereka lebih mulia kedudukannya dibanding yang lain. Allah taala berfirman:
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” [QS. Ali Imran: 139]
Alangkah banyak orang yang mengharapkan kekuasaan padahal justru membuat dirinya semakin terhina. Betapa banyak orang yang diangkat kedudukannya, padahal dirinya tidak berharap kekuasaan dan kerusakan. [As-Siyasah Asy-Syar’iyyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu ta’ala]
 
Wallahu a’lam.
 
 
 
Dinukil dari tulisan yang berjudul: “Demi Sebuah Kursi Kedudukan
yang ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

 

#rakushartadankedudukan #gilajabatan #hukummemintajabatan #duaserigalalapar #berebutkursi, #mencarisuaraterbanyak #demokstrasi #pemilu #pilkada #ambisiterhadapjabatanlebihberbahayadaripadaharta #merusakagamaseseorang #dilepasditengahsekawanankambing

MENJELASKAN PENYIMPANGAN DAI-DAI SESAT DAN MENYESATKAN ADALAH BAGIAN DARI JIHAD YANG PALING UTAMA

MENJELASKAN PENYIMPANGAN DAI-DAI SESAT DAN MENYESATKAN ADALAH BAGIAN DARI JIHAD YANG PALING UTAMA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

MENJELASKAN PENYIMPANGAN DAI-DAI SESAT DAN MENYESATKAN ADALAH BAGIAN DARI JIHAD YANG PALING UTAMA

Kesehatan itu diukur dengan kecocokannya terhadap dalil Alquran dan Hadis dengan pemahaman Salafus Shalih. Yang tidak sehat adalah yang mengikuti hawa nafsu dan logika semata, TANPA petunjuk dari Alquran dan As-Sunnah.
Mengkritik pemerintah secara terang-terangan JELAS KEHARAMANNYA dalam Alquran dan Hadis. Tentunya banyak hikmah di balik larangan tersebut.
Adapun menjelaskan penyimpangan dai-dai yang menyimpang adalah bagian dari jihad yang PALING UTAMA, karena akan menyelamatkan agama kaum Muslimin.
 
Supaya lebih jelas:
  • Demo itu Sunnahnya kaum Khawarij
  • Mengkritik pemerintah secara terang-terangan DIHARAMKAN oleh syariat Islam.
  • JUSTRU menjelaskan penyimpangan dai-dai sesat dan menyesatkan adalah disyariatkan oleh agama ini dalam rangka menyelamatkan agama kaum Muslimin. Dan JUSTRU hal ini merupakan JIHAD yang PALING UTAMA
 
Semoga bisa lebih paham. Aamiin.
Hanya Allah yang memberikan taufik dan hidayah-Nya.
Penulis: Al-Ustadz Abdullah Sya’roni hafizhahullah

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

#demonstrasi #demo #bidah #menjelaskanpenyimpangandaiustadz #sesat, #bagianjihadpalingutama #Khawarij #Khowarij #dalil #AlqurandanSunnah, #AlQurandanHadis

, ,

LEBURLAH DOSA DENGAN TOBAT YANG TULUS

LEBURLAH DOSA DENGAN TOBAT YANG TULUS
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
LEBURLAH DOSA DENGAN TOBAT YANG TULUS
 
Allah taala berfirman:
 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا
 
“Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobatan nasuhaa (tobat yang semurni-murninya).” [QS. At Tahrim: 8]
 
Dijelaskan oleh Ibnu Katsir rahimahullah, bahwa makna tobat yang tulus (Tobatan Nashuhah) sebagaimana kata para ulama adalah:
“Menghindari dosa untuk saat ini. Menyesali dosa yang telah lalu. Bertekad tidak melakukannya lagi di masa akan datang. Lalu jika dosa tersebut berkaitan dengan hak sesama manusia, maka ia harus menyelesaikannya/ mengembalikannya.” [Tafsir Alquran Al ‘Azhim, 14/61]
 
Penuhilah Syarat Diterimanya Tobat
 
Berdasarkan penjelasan Ibnu Katsir di atas, syarat tobat yang mesti dipenuhi oleh seseorang yang ingin bertobat dapat dirinci secara lebih lengkap sebagai berikut:
 
1. Tobat dilakukan dengan ikhlas, bukan karena makhluk atau untuk tujuan duniawi.
 
2. Menyesali dosa yang telah dilakukan dahulu, sehingga ia pun tidak ingin mengulanginya kembali. Sebagaimana dikatakan oleh Malik bin Dinar: “Menangisi dosa-dosa itu akan menghapuskan dosa-dosa, sebagaimana angin mengeringkan daun yang basah.” [Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hambali, hal. 203, Darul Muayyid, cetakan pertama, 1424 H] ‘Umar, ‘Ali dan Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa tobat adalah dengan menyesal. [Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, hal. 206]
 
3. Tidak terus menerus dalam berbuat dosa saat ini. Maksudnya, apabila ia melakukan keharaman, maka ia segera tinggalkan. Dan apabila ia meninggalkan suatu yang wajib, maka ia kembali menunaikannya. Dan jika berkaitan dengan hak manusia, maka ia segera menunaikannya atau meminta maaf.
 
4. Bertekad untuk tidak mengulangi dosa tersebut di masa akan datang. Karena jika seseorang masih bertekad untuk mengulanginya, maka itu pertanda, bahwa ia tidak benci pada maksiat. Hal ini sebagaimana tafsiran sebagian ulama yang menafsirkan tobat adalah bertekad untuk tidak mengulanginya lagi. [Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, hal. 206]
 
5. Tobat dilakukan pada waktu diterimanya tobat, yaitu sebelum datang ajal atau sebelum matahari terbit dari arah Barat. Jika dilakukan setelah itu, maka tobat tersebut tidak lagi diterima. [Kami sarikan syarat tobat ini dari penjelasan Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin dalam Syarh Riyadhus Sholihin]
 
Bacalah Doa Ampunan Versi Abu Bakr
 
Doa yang bisa diamalkan adalah doa meminta ampunan yang diajarkan oleh Nabi ﷺ pada Abu Bakr Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Dari Abu Bakr Ash Shiddiq, beliau berkata kepada Rasulullah ﷺ:
 
عَلِّمْنِى دُعَاءً أَدْعُو بِهِ فِى صَلاَتِى . قَالَ « قُلِ :اللَّهُمَّ إِنِّى ظَلَمْتُ نَفْسِى ظُلْمًا كَثِيرًا وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ ، فَاغْفِرْ لِى مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ ، وَارْحَمْنِى إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ »
 
“Ajarkanlah aku suatu doa yang bisa aku panjatkan saat shalat!” Maka beliau ﷺ pun berkata: “Bacalah:
 
ALLAHUMMA INNII ZHOLAMTU NAFSII ZHULMAN KATSIIRON WA LAA YAGHFIRUDZ DZUNUUBA ILLAA ANTA FAGHFIRLII MAGHFIROTAN MIN ‘INDIKA WARHAMNII INNAKA ANTAL GHOFUURUR ROHIIM
 
Artinya:
Ya Allah, sungguh aku telah menzhalimi diriku sendiri dengan kezhaliman yang banyak, sedangkan tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau. Maka itu ampunilah aku dengan suatu pengampunan dari sisi-Mu, dan rahmatilah aku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [HR. Bukhari no. 834 dan Muslim no. 2705]
 
 

 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

 

#tobat #taubat #syaratsyarattobat, #persyaratantobat, #syaratditerimanyatobat, #menyesalidosayanglalu, #sesalidosayanglalu #doazikir, #doaAbuBakar, #doaAbuBakr  #doamohonampunan #bertaubat #bertobat #syaratditerimanyatobat

, ,

MEMBANTAH KESESATAN TUGAS MULIA ORANG YANG BERILMU, BUKAN YANG BARU BELAJAR SUNNAH

Bantah Syubhat Sesat Tugas Orang Ilmu Bukan Baru Belajar Sunnah

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

MEMBANTAH KESESATAN TUGAS MULIA ORANG YANG BERILMU, BUKAN YANG BARU BELAJAR SUNNAH
Para pendekar medsos bermunculan, melakukan aksi pembelaan terhadap Sunnah dan membantah kesesatan. Namun sayang masih banyak yang belum memahami kadar dirinya, yang berani berbicara mendahului orang-orang yang berilmu, membantah hanya bermodal semangat, tapi kurang ilmu.
Maka tersebarlah dari mereka bantahan-bantahan yang tidak ilmiah dan rapuh. Masih pun dibumbui dengan kata-kata kasar dan tidak hikmah, bahkan menghina pribadi. Bukannya mematahkan syubhat dan membungkam penyebar kesesatan, justru memberi angin kepada Ahlul Batil untuk membantah balik. Entahlah, apakah niat mereka murni membela Sunnah dan membantah kesesatan karena Allah ﷻ, ataukah ada penyusup di tengah-tengah Ahlus Sunnah untuk memperburuk wajah dakwah Ahlus Sunnah di negeri tercinta ini?
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:
“Sesungguhnya membantah kesesatan dengan cacian dan ancaman, maka semua orang bisa melakukannya. Padahal jika seseorang membantah kaum musyrikin dan Ahlul Kitab, maka wajib baginya menyebutkan hujjah (argumentasi ilmiah) yang dapat menjelaskan kebenaran Islam, dan membantah kebatilan mereka (bukan dengan cacian dan ancaman).” [Al-Fatawa, 4/186-187]
Asy-Syaikh Prof. DR. Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata:
“Bantahan yang berasal dari Ahlul Ilmi yang memiliki pengetahuan dan bashiroh (hujjah yang terang) untuk menjelaskan kebenaran dan menghilangkan kebatilan, maka ini bermanfaat dan harus dilakukan.
Adapun bantahan yang berasal dari orang-orang bodoh dan para penuntut ilmu yang belum memiliki kemampuan, atau bantahan yang berasal dari hawa nafsu dan kepentingan-kepentingan, maka tidak boleh. Karena bantahan-bantahan mereka hanya memudaratkan dan tidak bermanfaat.
Dan bantahan-bantahan yang benar yang datang dari Ahlul Ilmi yang tegak di atas prinsip menjelaskan kebenaran bukan di atas hawa nafsu, maka harus dilakukan.
Karena tidak boleh diam saja membiarkan orang-orang yang sesat menyebarkan kesesatan mereka, dan menipu umat serta menipu para pemuda umat.” [Transkrip Syarh Manzhumah Adab, Kaset no. 33]
Saudaraku yang baru belajar Sunnah yang merasa masih jahil berhentilah. Jangan membantah tanpa ilmu, jangan pula dengan cacian, hinaan dan ancaman.
Tugas Anda adalah mempelajari ilmu-ilmu yang lebih mendasar, agar Anda memiliki kaki yang lebih kuat pijakan ilmiahnya.
Serahkan urusan membantah kesesatan kepada orang-orang yang berilmu, karena itu memang tugas mulia mereka. Dan boleh bagi Anda membantu penyebarannya. Jangan ditambah-tambahi dengan cacian dan hinaan, apalagi menjatuhkan pribadi. Rasulullah ﷺ bersabda:
يَحْمِلُ هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلْفٍ عُدُولُهُ , يَنْفُونَ عَنْهُ تَحْرِيفَ الْغَالِينَ , وَانْتِحَالَ الْمُبْطِلِينَ , وَتَأْوِيلَ الْجَاهِلِينَ
 “Yang membawa ilmu agama ini pada setiap zaman adalah orang-orang terbaiknya. Mereka menolak penyimpangan orang-orang yang berlebihan dalam agama, membantah kedustaan Ahlul Batil, dan meluruskan takwil orang-orang jahil.” [HR. Al-Baihaqi dari Ibrahim bin AbdirRahman Al-‘Udzri, Al-Misykah: 248]
Al-‘Allamah Ali Al-Qoori rahimahullah berkata:
“Bahwa mereka (orang-orang yang berilmu) melindungi syariat dan teks-teks riwayat hadis dari penyelewengan orang-orang yang berlebihan dalam agama. Mereka juga melindungi sanad-sanad hadis dari pemutarbalikan dan kedustaan, dan membantah syubhat-syubhat akibat takwil Ahlul Bidah yang sesat, yaitu dengan menukil nash-nash yang jelas, agar yang belum jelas dipahami dengan yang sudah jelas.” [Al-Mirqoh: 248]
Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah
Sumber: https://web.facebook.com/sofyanruray.info/posts/918808284935321
, ,

MENOLONG YANG SUSAH HINGGA FAIDAH MENUNTUT ILMU

MENOLONG YANG SUSAH HINGGA FAIDAH MENUNTUT ILMU
MENOLONG YANG SUSAH HINGGA FAIDAH MENUNTUT ILMU
 
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
  • “Siapa yang meringankan kesusahan dunia saudaranya, Allah akan mengangkat kesulitannya pada Hari Kiamat.
  • Siapa yang memberikan kemudahan bagi orang yang susah, Allah akan memberikan kemudahan baginya di dunia dan Akhirat.
  • Siapa yang menutup aib saudaranya, Allah akan menutup aibnya di dunia dan di Akhirat.
  • Allah senantiasa akan menolong hamba, selama ia menolong saudaranya.
  • Siapa yang menempuh jalan menuntut ilmu, Allah akan memberikan ia kemudahan menuju Surga.
  • Tidaklah suatu kaum berkumpul di rumah Allah, lalu ia membaca Kitab Allah, lalu ia mengajarkan satu dan lainnya, melainkan akan turun kepadanya ketenangan, akan dinaungi rahmat, akan dikelilingi malaikat, Allah akan senantiasa menyebutnya di sisi makhluk-Nya yang mulia.
  • Siapa yang lambat amalnya, maka kedudukan nasabnya yang mulia tidak bisa mengejar lambatnya amalnya tadi.” [HR. Muslim]
Faidah Hadis
 
• Hadis di atas menunjukkan keutamaan bagi orang yang membantu hajat kaum Muslimin dengan ilmu, harta, pertolongan, memberikan maslahat hingga nasihat.
• Menunjukkan keutamaan berjalan untuk menuntut ilmu dengan syarat mengharap wajah Allah. Karenanya hendaklah ada waktu kita yang disibukkan dengan belajar ilmu syari.
• Berkumpul di rumah Allah untuk belajar agama juga punya keutamaan mendapatkan ketenangan, naungan rahmat, dikelilingi malaikat, hingga disanjung oleh Allah di sisi makhluk-Nya yang mulia.
• Jangan bergantung pada bagusnya nasab, sedangkan amalan begitu kurang.
 
 
Referensi:
Al-Ajru Al-Kabir ‘ala Al-‘Amal Al-Yasir. Cetakan pertama, Tahun 1415 H. Muhammad Khair Ramdhan Yusuf. Penerbit Dar Ibnu Hazm. hlm. 72.
 
 
 
 
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#mutiarasunnah, #hadits, #hadist # adhilah, #keutamaan #menuntutilmu #tholabulilmi, #thalabulilmi #menutupiaibsaudaranya #meringankankesusahansaudaranya #memberikankemudahanbagisaudaranya, #menolonghamba #mudahkanjalanmenujuSurga
,

TAHUN BARU PERAYAAN JAHILIYAH

TAHUN BARU PERAYAAN JAHILIYAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
TAHUN BARU PERAYAAN JAHILIYAH
 
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, dahulu orang-orang Jahiliyyah memiliki dua hari di setiap tahun, yang mana mereka biasa bersenang-senang ketika itu. Ketika Nabi ﷺ datang ke kota Madinah, beliau ﷺ bersabda:
“Dahulu kalian memiliki dua hari di mana kalian bersenang-senang ketika itu. Sekarang Allah telah menggantikan untuk kalian dengan dua hari besar yang lebih baik, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.” [HR. Abu Daud no. 1134; An-Nasa’i no. 1556. Sanad hadis ini Shahih menurut Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam, 4: 142]
 
Yakin masih ingin merayakan Tahun Baru?
  • Yang menyalakan kembang api seperti kaum Majusi,
  • Meniup terompet seperti kaum Yahudi,
  • Bernyanyi layaknya kaum Nasrani, dst.
 
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
‘Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka” [HR Abu Dawud]
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#tahunbaru #bidah #NewYear #perayaantahunbaru, #tahunbarujahiliyah, #jahiliyyah, #jahiliyah, #tahunbarujahiliyah #Yahudi, #Majusi, #Nasrani, #Nashrani, #Nasharoh #duahariIed, #IdulFitri, #IdulFithri, #IdulAdha #bersenangsenang #bermainmain
,

SEMAKIN DEKATNYA HARI KIAMAT

SEMAKIN DEKATNYA HARI KIAMAT
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
SEMAKIN DEKATNYA HARI KIAMAT
 
Nabi ﷺ bersabda:
 
بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ، وَيُشِيْرُ بِإِصْبَعَيْهِ فَيَمُدُّ بِهِمَا.
 
“Jarak diutusnya aku dan Hari Kiamat seperti dua (jari) ini.” Beliau ﷺ berisyarat dengan kedua jarinya (jari telunjuk dan jari tengah), lalu merenggangkannya.” [Shahiih al-Bukhari, kitab ar-Riqaaq bab Qaulin Nabiyyi ﷺ Bu’itstu Ana was Saa’atu ka Haataini dari Sahl z (XI/347, al-Fat-h)]
 
Dan beliau ﷺ bersabda:
بُعِثْتُ فيِ نَسْمِ السَّاعَةِ.
 
“Aku diutus pada awal hembusan angin Kiamat.” [Al-Albani berkata, “Hadis ini diriwayatkan oleh ad-Daulabi dalam al-Kuna’ (I/23), Ibnu Mandah dalam al-Ma’rifah (II/234/2) dari Abi Hazim dari Abi Jabirah secara Marfu’, ini adalah sanad yang Shahih dan semua rijalnya (rawi) tsiqah (dipercaya), ada perbedaan pendapat tentang Abu Jabirah, apakah dia seorang Sahabat? Sementara al-Hafizh dalam at-Taqriib mentarjih (menguatkan), bahwa beliau adalah seorang Sahabat. (Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah) (II/467, no. 808). Dan lihat Tahdziibut Tahdziib (XII/52-53/al-Kuna), cet. Majlis Da-irah al-Ma’arif, India, cet. I th. 1327 H dan Taqriibut Tahdziib (II/405), tahqiq ‘Abdul Wahhab ‘Abdul Lathif, cet. Darul Ma’rifah, cet. II th. 1395 H]
 
Dan beliau ﷺ bersabda:
 
إِنَّمَا أَجَلُكُمْ -فِي أَجَلِ مَنْ خَلاَ مِنَ اْلأُمَمِ- مَا بَيْنَ صَلاَةِ الْعَصْرِ إِلَى مَغْرِبِ الشَّمْسِ.
 
“Sesungguhnya ajal kalian jika dibandingkan dengan ajal umat terdahulu adalah seperti jarak antara shalat Ashar dan Maghrib.” [Shahiih al-Bukhari, kitab Ahaadiitsul Anbiyaa’, bab Maa Dzukira ‘an Banii Israa-iil (VI/495, al-Fat-h)]
 
Dan diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, beliau berkata:
 
كُنَّا جُلُوسًا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالشَّمْسُ عَلَـى قُعَيْقِعَـانَ بَعْدَ الْعَصْرِ، فَقَالَ: مَا أَعْمَارُكُمْ فِي أَعْمَارِ مَنْ مَضَى إِلاَّ كَمَا بَقِيَ مِنَ النَّهَارِ فِيمَا مَضَى مِنْهُ.
 
“Kami pernah duduk-duduk bersama Nabi ﷺ sementara matahari berada di atas gunung Qu’aiqa’aan setelah waktu Ashar. [(قُعَيْقِعَـانَ)
dengan didhammahkan qaf yang pertama, dan dikasrahkan yang kedua, dengan lafal Tashghir, “Sebuah gunung di sebelah Selatan Makkah sejauh dua belas mil. Dinamakan Qu’aiqa’aan karena ketika Kabilah Jurhum melakukan peperangan di sana terdengar banyak gemerincing senjata. Dan jelas bahwasanya perkataan Nabi ﷺ ini terjadi pada haji Wada atau pada peperangan Fat-hu Makkah, dan waktu itu Ibnu ‘Umar mengikutinya beserta para Sahabat. Lihat an-Nihaayah, karya Ibnul Atsir (IV/88) dan Syarh Musnad Ahmad (VIII/ 176), karya Ahmad Syakir]
 
Lalu beliau ﷺ bersabda: ‘Tidaklah umur-umur kalian dibandingkan dengan umur orang yang telah berlalu kecuali bagaikan sisa hari (ini) dibandingkan dengan waktu siang yang telah berlalu.’” [Musnad Ahmad (VIII/176, no. 5966) syarah Ahmad Syakir, dan beliau berkata: “Isnadnya shahih.” Ibnu Katsir berkata: “Isnad ini hasan la ba’-sa bihi.” (An-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/194)). Dan Ibnu Hajar berkata: “Hasan,” (Fat-hul Baari XI/350)]
 
Hadis ini menunjukkan, bahwa waktu yang tersisa sangat sedikit jika dibandingkan dengan waktu yang telah berlalu. Akan tetapi waktu yang telah berlalu tidak ada yang mengetahui kecuali Allah taala. Belum pernah ada satu riwayat pun dengan sanad yang Shahih dari Rasulullah ﷺ yang menerangkan batasan waktu dunia, sehingga bisa dijadikan sebagai rujukan agar diketahui sisa waktu yang ada. Tentunya waktu sisa ini sangat sedikit jika dibandingkan dengan waktu yang telah berlalu. [An-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/195) tahqiq Dr. Thaha Zaini]
 
Tidak ada sebuah ungkapan yang lebih jelas tentang dekatnya Hari Kiamat daripada sabda beliau ﷺ:
 
بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ جَمِيعًا إِنْ كَادَتْ لَتَسْبِقُنِي.
 
“Jarak diutusnya aku dan Hari Kiamat secara bersamaan. Hampir saja dia mendahuluiku.” [Musnad Ahmad (V/348, Muntakhabul Kanzi), dan Taariikhul Umam wal Muluuk (I/8), karya ath-Thabrani]
 
Ini adalah isyarat SANGAT DEKATNYA Hari Kiamat dengan waktu diutusnya Nabi ﷺ, sehingga beliau ﷺ takut jika Kiamat itu mendahului beliau karena sangat dekatnya.
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#kiamatsemakindekat #tandatandabesar #dekatnyaKiamat #ciriciri #harikiamat #semakindekat
,

AGAMA INI TELAH SEMPURNA (TIDAK BUTUH TAMBAHAN)

AGAMA INI TELAH SEMPURNA (TIDAK BUTUH TAMBAHAN)
 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
AGAMA INI TELAH SEMPURNA (TIDAK BUTUH TAMBAHAN)
 
Agama ini telah sempurna.
Ibarat pengisian gelas, maka sudah terisi penuh hingga ujungnya.
Maka jika ditambah oleh amalan-amalan baru yang tidak dicontohkan oleh Nabi ﷺ, justru akan membuat air dalam gelas tumpah, dan akan mengurangi isi air murni di dalamnya.
 
Allah ﷻ berfirman:
 
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا
“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” [QS. Al-Maidah : 3]
 
Imam Malik rahimahullah berkata:
فما لم يكن يومئذ دينا فلا يكون اليوم دينا
“Maka apa saja yang pada hari itu (tatkala surat al-Maidah ayat 3 diturunkan -pen.) BUKAN merupakan bagian dari agama, maka begitu pula pada hari ini (sekarang ini), bukan menjadi bagian dari agama.” [Al-I’tisham, Asy-Syathibi, 1: 49]
 
Penyusun | Abdullah bin Suyitno (عبدالله بن صيتن)
 
 
#sunnah #bidah #amal #amalan #tauhid #amalan #nasehat #salaf #manhajsalaf #syirik #hakekat #makrifat #tasawuf #adat #tradisi #syariat #tauhid #iman #ittiba #sufi #nasihat #itiba #QSAlMaidahayat3