BAHAYANYA MENCAMPURADUKKAN ISLAM DENGAN BUDAYA

Bahayanya Mencampuradukkan Islam dengan Budaya

Bahayanya Mencampuradukkan Islam dengan Budaya

Islam Sudah Sempurna

Islam agama yang telah sempurna dan mencakup segala aspek kehidupan, sehingga tidak diperlukan ide-ide dan inovasi baru untuk mengritik dan menyempurnakannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِينًا

“Pada hari ini Aku telah menyempurnakan agama kalian bagi kalian, menyempurnakan nikmat-Ku atas kalian, dan meridai Islam sebagai agama kalian.” (QS al-Ma’idah [5]: 3)

Penambahan atau pengurangan atau penyisipan atau perubahan—walau sedikit saja—baik dalam lafaيz atau makna hukumnya haram dan tertolak. Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

« مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ »

“Barang siapa membuat hal baru (muhdats) di dalam urusan kami (syariat) ini yang tidak ada ada asalnya darinya, maka hal itu tertolak.” (HR al-Bukhari: 2697 dan Muslim: 1718)

Maka tidaklah satu pun orang yang punya keahlian bahasa dan sastra mau menyusupkan satu kalimat, atau mau memalingkan makna Islam, pasti ketahuan. Dan pasti dibantah oleh pembela Sunah, karena Allah Ta’ala telah berjanji menjamin kemurnian Islam ini. Allah Ta’ala mengingatkan kepada hamba yang beriman agar hendaknya menjadikan Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam sebagai cermin kehidupannya.

Abdullah bin Ukaim menyebutkan bahwa Umar bin Khattab Radhiallahu’anhu pernah berkata: “Sesungguhnya ucapan yang paling benar adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan sesungguhnya sebaik-baik tuntunan adalah tuntunan Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam. Dan seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan. Ingatlah, bahwa semua yang diada-adakan adalah bid‘ah dan setiap kebid‘ahan adalah sesat dan kesesatan itu (tempatnya) di neraka.” (al-Lalika’i 1/84)

Islam Hanya Satu Untuk Seluruh Umat

Islam hanya satu, bersumber dari Alquran dan sunah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam dengan keterangan para sahabat dan pengikut mereka yang setia. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللهِ اْلإِسْلاَمُ وَمَااخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلاَّ مِن بَعْدِ مَاجَآءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ

“Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi al-Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka.” (QS Ali ‘Imran [3]: 19)

Penjelasan di atas membantah para pengusung dan pembela paham yang mengatakan bahwa Islam berpecah menjadi “Islam Timur Tengah”, “Islam Arab”, “Islam Nusantara”, “Islam Pribumi”, “Islam Jawa”, dan seterusnya. Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam menolak istilah bid‘ah tersebut semuanya, dengan sabdanya:

« يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَلَا إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ أَلَا لَا فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى أَعْجَمِيٍّ وَلَا لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ وَلَا لِأَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ وَلَا أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ إِلَّا بِالتَّقْوَى أَبَلَّغْتُ »

“Wahai sekalian manusia! Rabb kalian hanya satu dan ayah kalian satu. Ingat! Tidak ada kelebihan bagi orang Arab atas orang Ajam (non-Arab) dan bagi orang Ajam atas orang Arab. Tidak ada kelebihan bagi orang berkulit merah atas orang berkulit hitam, bagi orang berkulit hitam atas orang berkulit merah, kecuali dengan ketakwaan. Bukankah aku telah menyampaikannya?” (HR Ahmad no. 24204 disahihkan oleh Albani di dalam Silsilah al-Shahīhah no. 2700)

Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam menolak adanya agama selain yang beliau sampaikan. Beliau bersabda:

« وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ »

“Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya. Tidaklah seseorang dari umat ini, baik Yahudi dan Nasrani mendengar tentangku, kemudian dia meninggal dan tidak beriman dengan agama yang aku diutus dengannya, kecuali dia PASTI TERMASUK PENGHUNI NERAKA.” (HR Muslim no. 403)

Islam bukan untuk kepentingan suatu bangsa atau suku, melainkan rahmat untuk semua lapisan manusia,bahkan juga untuk kelompok jin yang beriman. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَآ أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّرَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS al-Anbiya’ [21]: 107)

Al-Hafizh Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini, “Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan Rasulullah Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam rahmat untuk alam semesta, maksudnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus beliau agar semua manusia mendapatkan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Siapa saja yang menerima rahmat dan mau mensyukuri nikmat ini, dia pasti bahagia hidupnya di dunia dan di Akhirat. Sebaliknya, barang siapa menolak nikmat ini dan mengingkarinya, dia pasti celaka di dunia dan di Akhiratnya.” (Tafsīr Ibn Katsīr 5/385)

Itulah makna rahmatan lil ‘alamīn. Maknanya bukan seperti penafsiran pengusung “Islam Nusantara” bahwa rahmatan lil ‘alamīn artinya Islam bisa menerima semua budaya daerah atau suku masing-masing, seperti Islam tidak perlu mempermasalahkan hari raya ketupat, takbir hari raya disertai alat musik; budaya pesta pernikahan wanita dicukur alisnya, memakai bulu mata palsu dan rambut palsu; pria mencukur jenggotnya; kedua mempelai didudukkan di kursi ditonton oleh pengunjung; belum lagi adat Minang, adat Sunda, dan adat lainnya. Jika perkara ini kita teliti dengan ilmu syar‘i, tentu banyak penyimpangannya, tidak bisa diterima oleh ajaran Islam karena melanggar syariat Allah.

Islam agama yang universal. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam untuk menyebarkan Islam kepada seluruh umat manusia. Karena sumbernya sama, ajaran Islam sedunia sama. Maka dari itu, ketika ada orang yang memiliki kerangka ajaran yang berbeda, berarti itu bukan Islam ajaran beliau. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَآأَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ كَآفَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَيَعْلَمُونَ

“Aku tidak mengutus kamu, melainkan untuk umat manusia seluruhnya, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (QS Saba’ [34]: 28)

Al-Hafizh Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini, bahwa Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam diutus untuk seluruh makhluk yang mukalaf, baik orang Arab maupun luar Arab. Hanya, yang paling mulia di antara mereka adalah yang paling taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. (Tafsīr Ibn Katsīr 6/518)

Islam Turun Untuk Menepis Budaya Jahiliah

Menurut asal, kita dilarang menghidupkan budaya jahiliah karena budaya mereka pada umumnya bersumber dari hawa nafsu, kecuali perkara yang ditetapkan oleh syariat Islam. Menghidupkan budaya jahiliah berarti mendukung hawa nafsu, menghidupkan kebodohan, kesesatan, dan kedzaliman. Seandainya budaya jahiliah banyak faidahnya dan tidak membahayakan umat, tentu sia-sia Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam dan menurunkan wahyu-Nya. Diutusnya utusan/rasul dan diturunkannya wahyu menunjukkan bahwa jahiliah itu hina dan berbahaya. Oleh karena itu, di antara isi khotbah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam pada waktu Haji Wada’, tatkala beliau di Arafah, beliau bersabda:

« أَلَا كُلُّ شَيْءٍ مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ تَحْتَ قَدَمَيَّ مَوْضُوعٌ وَدِمَاءُ الْجَاهِلِيَّةِ مَوْضُوعَةٌ »

“Ketahuilah, sesungguhnya segala perkara pada masa jahiliah dikubur di bawah kedua kakiku, darah pada masa jahiliah telah digugurkan.” (HR Muslim 4/39–43)

Itu salah suatu bukti, bagaimana upaya beliau menolak setiap budaya atau tradisi jahiliah yang BERTENTANGAN dengan wahyu.

Dari sini kita mendapat pelajaran, bahwa BUDAYA HARUS DISESUAIKAN DENGAN ISLAM, bukan Islam yang disesuaikan dengan budaya. Sering kita mendengar perkataan “Inilah budaya Islam”, “Inilah filsafat Islam”, inilah “filasafat iqra’”, “filsafat puasa”; maka orang yang mengilmui Alquran dan sunah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam tentu tidak membenarkan istilah ini, karena “Budaya” dan “Filsafat” bukan wahyu. Budaya hari raya ketupat, takbir hari raya bercampur dengan musik, pementasan kedua mempelai saat akad nikah, saling berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahramnya, bangga dengan kedudukan, mencela keturunan; itu adalah budaya yang menyebar di masyarakat. Tetapi Islam menolaknya karena hal itu melanggar larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Orang yang menghidupkan budaya jahiliah berhak dilaknat, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam:

أَبْغَضُ النَّاسِ إِلَى اللهِ ثَلَاثَةٌ مُلْحِدٌ فِي الْحَرَمِ وَمُبْتَغٍ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ وَمُطَّلِبُ دَمِ امْرِئٍ بِغَيْرِ حَقٍّ لِيُهَرِيقَ دَمَهُ

“Manusia yang paling dimurkai Allah ada tiga:

– Orang yang melakukan pelanggaran di Tanah Haram (Tanah Suci),

– Orang yang mencari-cari perilaku jahiliah padahal telah masuk Islam, dan

– Memburu darah seseorang tanpa alasan yang dibenarkan untuk menumpahkan darahnya.” (HR al-Bukhari no. 6374)

Ibnu Taimiah berkata: “Hadis ini (hadis tentang empat perkara termasuk jahiliah) menunjukkan semua perkara jahiliah dan perbuatan mereka tercela. Jika tidak, tentu kemungkaran mereka tidak dikatakan jahiliah.” (Baca Iqtidha’ al-Shirath al-Mustaqīm 1/69.)

Bahaya Mencampuradukkan Islam dengan Budaya

Jika orang menyakiti manusia berbahaya di dunia bahkan di Akhiratnya, maka bagaimana dengan orang yang merusak makna ayat dan sunah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam untuk kepentingan dunia? Tentu bahayanya lebih besar. Orang yang merusak ayat Allah Ta’ala dan sunah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam, seperti orang yang mencampuradukkan budaya dengan ajaran Islam, ia tergolong MENYAKITI Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَاْلأَخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُّهِينًا

“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah akan melaknatinya di dunia dan di Akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan.” (QS al-Ahzab [33]: 57)

Ibnu Katsir berkata: “Allah Ta’ala mengancam dengan adzab-Nya yang sangat pedih kepada orang yang menyakiti-Nya. Orang yang menyakiti Allah Ta’ala adalah orang yang menolak perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan terus-menerus melanggar larangan-Nya, mencela Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam dengan melecehkan sunahnya. Maka kita berlindung kepada Allah Ta’ala dari perbuatan yang tercela ini. Ikrimah berkata: ‘Orang yang menggambar makhluk yang benyawa juga termasuk menyakiti Allah Ta’ala.’” (Tafsīr Ibn Katsīr 6/480)

Orang yang mencampuradukkan budaya dengan Islam mendapatkan dosa yang berlipat ganda. Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

« وَمَنْ سَنَّ فِي الإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ »

“Dan barang siapa memulai kebiasaan buruk di dalam Islam, dia akan mendapatkan dosanya dan dosa orang yang mengikutinya tanpa dikurangi dosa mereka sedikit pun.” (HR Muslim no. 1017)

Mencampuradukkan Islam dengan Budaya Warisan Orang Yahudi

Islam tidak butuh kepada pemikiran dan pendapat manusia, karena Islam wahyu Allah Ta’ala. Hanya Allah Ta’ala yang paling benar perkataan-Nya, paling adil hukum dan hukuman-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berhak mengadili semua perkataan dan perbuatan hamba-Nya. Orang yang memiliki ilmu din (ilmu agama) yang cukup hendaknya menjadi contoh dan suri teladan yang baik, sehingga bisa menyinari umat ketika mereka dilanda kegelapan. Jangan menjadi yang sebaliknya, seperti ulama Yahudi, yang memiliki kebiasaan buruk mencampuradukkan yang hak dengan yang batil, karena kepentingan kedudukan dan mengambil harta manusia dengan cara yang haram.

Ibnu Katsir di dalam menafsirkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّ كَثِيرًا مِّنَ اْلأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ اللهِ

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah.” (QS al-Taubah [9]: 34)

(Kata Ibnu Katsir): “Sufyan bin Uyainah berkata: ‘Ulama umat ini sesat karena meniru orang Yahudi, dan ahli ibadah umat ini sesat karena meniru orang Nasrani.”

(Selanjutnya Ibnu Katsir berkata): “Kita dilarang meniru perkataan dan perbuatan orang Yahudi dan Nasrani. Allah Ta’ala menjelaskan sifat jelek mereka لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ‘mereka memakan harta orang dengan jalan yang batil’; maksudnya, mereka meraih kenikmatan dunia, pangkat, dan kedudukan dengan mengorbankan agamanya. Mereka mengambil harta manusia, seperti ulama Yahudi mengambil harta orang jahiliah dengan mengambil pajak dan upeti. Adapun makna firman Allahيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ اللهِ‘mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah’; mereka belum puas jika hanya makan dari hasil yang haram, tetapi mereka menghalangi manusia dari syariat Allah Ta’ala yang benar, dengan cara mencampuradukkan yang benar dengan yang batil. Mereka menilai orang yang mendakwakan syariat Islam adalah orang yang dungu dan bodoh. Mereka beranggapan bahwa dirinya yang mendakwakan kebenaran, padahal merekalah orang yang bodoh. Mereka itu mengajak manusia ke neraka sampai Hari Kiamat.” (Tafsīr Ibn Katsīr 2/461)

Fitnah Ulama Su’ (Jahat) Perusak Umat

Hidup pada zaman sekarang, kita—orang awam—harus waspada dan berhati hati. Banyak fitnah perusak agama yang muncul dari kalangan orang yang terpandang, tokoh umat atau ulama. Tidak semua ulama pasti jujur dan benar bicaranya dan tidak pula pasti istiqamah perbuatannya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiah menjelaskan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِيْ ءَاتَيْنَاهُ ءَايَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِيْنَ

“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi al-Kitab), kemudian dia melepaskan diri daripada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat”. (QS al-A‘raf [7]: 175)

(Syaikhul Islam berkata): “Inilah contohnya ulama su’ (jahat), ulama penyesat umat.” (Baca Majmu‘ al-Fatawa 7/625.)

Ibnul Jauzi berkata: “Jika kamu mengamati tingkah laku sebagian ulama, kamu akan tahu, mereka itu dikuasai oleh hawa nafsunya. Akibatnya, mereka menolak ajaran Islam. Mereka cenderung kepada yang haram. Mereka tidak mendapatkan manisnya bermuamalah dengan Allah Ta’ala. Perhatian mereka, yang penting berhasil dan terpenuhi keinginannya.” (Shaidul Khathir hlm. 315)

Diriwayatkan dari Ziyad bin Hudair, ia berkata: “Umar bin Khattab Radhiallahu’anhu pernah berkata kepadaku:

هَلْ تَعْرِفُ مَا يَهْدِمُ الإِسْلَامَ؟ قَالَ قُلْتُ: لَا. قَالَ: يَهْدِمُهُ زَلَّةُ الْعَالِمِ وَجِدَالُ الْمُنَافِقِ بِالْكِتَابِ وَحُكْمُ الأَئِمَّةِ الْمُضِلِّينَ

‘Tahukah engkau apa yang menghancurkan Islam?’” Ia (Ziyad) berkata: “Aku menjawab, ‘Tidak tahu.’ Umar Radhiallahu’anhu berkata: ‘Yang menghancurkan Islam adalah penyimpangan orang berilmu, bantahan orang munafik terhadap Alquran, dan hukum (keputusan) para pemimpin yang menyesatkan.’” (HR ad-Darimi no. 214 dan berkata Syaikh Albani, “Hadis ini sahih.” Lihat al-Misykat no. 269)

Ibnul Mubarak berkata:

وَهَلْ أَفْسَدَ الدِّينَ إِلَّا الْمُلُوكُ … وَأَحْبَارُ سُوءٍ وَرُهْبَانُهَا

“Tidaklah yang merusak agama Islam melainkan penguasa, ulama jahat, dan ahli ibadah Sufi yang tersesat.” (Baca Syarah Aqidah Thahawiyah 1/463.)

Imam Ibnu Abil Izzi berkata:

“Penguasa yang curang, mereka menolak syariat Islam karena kepentingan politik yang tersesat. Mereka mendahulukan undang-undang yang dibuat oleh manusia daripada berhukum dengan hukum Allah Ta’ala dan sunah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam.

Sementara itu, Ulama Su’ (Jelek/jahat) adalah ulama yang keluar dari syariat Allah Ta’ala karena memertahankan pendapat dan kias yang salah, menghalalkan yang diharamkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, dan mengharamkan yang dihalalkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Mereka menyuruh manusia kepada perkara yang batil dan sebaliknya, mereka melarang orang berpegang kepada yang benar. Mereka memutlakkan yang Muqayyad (dibatasi) dan sebaliknya, membatasi yang dimutlakkan. Dan seterusnya.

Sementara itu, rahib adalah kelompok Tasawuf yang menolak hakikat iman dan syariat Allah Ta’ala karena mereka mendahulukan perasaan, khayalan, penemuan, dan firasat. Mereka jadikan hal ini sebagai tatanan agama, padahal Allah Ta’ala membencinya. Mereka menolak syariat Allah Ta’ala yang disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam. Mereka menolak hakikat iman yang sebenarnya karena tertipu oleh setan dan hawa nafsunya.

Penguasa yang curang berkata: ‘Apabila kepentingan politik bertentangan dengan syariat Allah Ta’ala, maka kita mendahulukan kepentingan politik.’ Ulama su’ ( jahat) berkata: ‘Apabila dalil nas bertentangan dengan pendapat, maka kami mendahulukan pendapat.’ Rahib atau ahli tasawuf berkata: ‘Jika perasaan bertentangan dengan syariat Allah Ta’ala, maka kami mendahulukan perasaan.’” (Baca Syarah Aqidah Thahawiyah 1/4564.)

Begitu kejamnya tiga kelompok tersebut ketika mereka dikuasai oleh hawa nafsunya karena mereka ambisi dunia. Tidak ada yang selamat dari bahaya tiga golongan ini kapan saja dan di mana saja, melainkan orang yang berilmu din, yang dikaruniai oleh Allah Ta’ala hidayah dan taufik-Nya.

Penulis: Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron

 

Untuk lengkapnya: http://abiubaidah.com/pilih-Islam-yang-mananusantaraataukah-timur-tengah.html/

 

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *