بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir

TERNYATA INI UCAPAN YANG BENAR, KETIKA ADA ORANG MENINGGAL/ TERTIMPA MUSIBAH

Pertanyaan:

  • Apa yang diucapkan bagi orang yang mendapat musibah, misalnya atas meninggalnya saudara atau orang yang dicintainya?
  • Apakah yang mendengar berita duka juga mengucapkan kalimat Istirja (Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un)? Bila tidak, apakah yang sebaiknya diucapkan kepada keluarga mayyit?

Jawaban:

Yang Diucapkan Oleh Orang Yang Tertimpa Musibah

  • Mengucapkan kalimat Istirja’, yaitu mengucapkan kalimat: Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Inilah yang diucapkan oleh orang yang tertimpa musibah dan BUKANNYA orang yang mendengar kabar musibah. Allah berfirman:

(Yaitu) orang-orang yang APABILA DITIMPA MUSIBAH mereka mengucapkan: Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.

Artinya:

Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali.” (QS. Al Baqoroh: 156)

  •  Kemudian setelah itu membaca doa yang diajarkan  oleh Nabi ﷺ:

 اللهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا

ALLAHUMMA AJIRNII FII MUSHIBATI KHOIRON WAA AKHLIFNII KHOIRON MINHA.

Artinya:

Ya Allah berilah pahala dalam musibahku ini, dan berilah ganti bagiku yang lebih baik daripadanya.” (HR. Muslim no. 918)

Shohabiyah Ummu Salamah menyebutkan sabda Nabi ﷺ:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيْبُهُ مُصِيْبَةٌ فَيَقُولُ مَا أَمَرَهُ اللهُ: إِنَّا لِلهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيْبَتِي وَاخْلُفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا؛ إِلاَّ أَخْلَفَ اللهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا

“Tiada seorang Muslim yang ditimpa musibah, lalu ia mengatakan apa yang diperintahkan Allah (yaitu): Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.  YaAllah, berilah aku pahala atas (musibah) yang menimpaku, dan berilah ganti bagiku yang lebih baik darinya’; kecuali Allah memberikan kepadanya yang lebih baik darinya.” (HR. Muslim no. 918)

  • Wajib baginya ridha dengan qadha dan ketetapan Allah.
  • Tidak mengapa menangis/bersedih dan berkata:

العين تدمع والقلب يحزن، ولا نقول إلا ما يرضي ربنا

AL-‘AINU TADMAGHU WAL QOLBU YAHZANU, WALAA NAQULU ILLA MAA YARDHA ROBBUNA.

Artinya:

Mata boleh jadi menangis dan hati bersedih, (akan tetapi) kami tidaklah berkata-kata, kecuali apa yang diridhai Rabb kami”

  • Hendaknya ia menjauhi diri dari memukul-mukul tubuh, berteriak-teriak, merobek baju dan mencabut (mengacak-acak) rambut dan lain-lain. Karena termasuk nihayah (meratapi) yang dilarang. Sebagaimana dalam hadis:

“Bukanlah termasuk golongan kami, mereka yang menampar pipi, merobek baju dan menyeru dengan seruan jahiliyah”

Yang Diucapkan Orang yang Datang Bertakziyah

Berdasarkan pendapat para ulama dalam masalah ini, bisa disimpulkan bahwa mereka tidak membatasi dan tidak menentukan bacaan-bacaan khusus yang harus diucapkan ketika bertakziyah.

Ibnu Qudamah berpendapat [Al Mughni (3/480).]: “Sepanjang yang kami ketahui, tidak ada ucapan tertentu yang khusus dalam takziyah. Namun diriwayatkan, bahwa Nabi ﷺ  sallam pernah melayat seseorang dan mengucapkan:

رَحِمَكَ اللهُ وَآجَرَكَ

Artinya:

Semoga Allah merahmatimu, dan memberimu pahala. [HR Tirmidzi, (4/60)].

Imam Nawawi berpendapat [Al Adzkar, hlm. 127], yang paling baik untuk diucapkan ketika takziyah, yaitu apa yang diucapkan oleh Nabi ﷺ kepada salah seorang utusan yang datang kepadanya untuk memberi kabar kematian sesorang. Beliau ﷺ  bersabda kepada utusan itu: Kembalilah kepadanya dan katakanlah kepadanya:

إِنَّ لِلَّهِ مَا أَخَذَ، وَلَهُ مَا أَعْطَى وَكُلُّ شَيْءٍ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمَّى…فَلْتَصْبِرْ وَلْتَحْتَسِبْ.

INNA LILLAAHI MAA AKHODZA, WA LAHU MAA A’THA, WA KULLU SYAI’IN ‘INDAHU BI AJALIN MUSAMMA … FALTASHBIR WALTAHTASIB

Artinya:

Sesungguhnya adalah milik Allah apa yang Dia ambil, dan akan kembali kepada-Nya apa yang Dia berikan. Segala sesuatu yang ada disisi-Nya ada jangka waktu tertentu (ada ajalnya). Maka hendaklah engkau bersabar dan memohon pahala dari Allah. [HR Muslim, 3/39].

Sebagian ulama menyunnahkan, agar ketika melayat orang Muslim yang ditinggal mati oleh orang Muslim, membaca:

أَعْظَمَ اللهُ أَجْرَكَ وَأَحْسَنَ عَزَاكَ وَرَحِمَ مَيِّتَكَ

Artinya:

Semoga Allah melipatkan pahalamu, memberimu pelipur lara yang baik, dan semoga Dia memberikan rahmat kepada si mayyit [Lihat Hasyiyah Radd al Mukhtar (1/604), al Mughni (3/486), al Inshaf (2/565)]

Menurut Mazhab Syafi’iyah, mendoakan orang yang dilayat atau yang tertimpa musibah dengan mengucapkan:

“Semoga Allah mengampuni si mayyit, melipatkan pahalamu, dan memberimu pelipur yang baik,”. Tetapi ada juga yang berpendapat berdoa dengan doa apa saja [Al Majmu’ (5/306).]

Baik juga jika didoakan dengan yang berikut:

أَعْظَمَ اللهُ أَجْرَكَ، وَأَحْسَنَ عَزَاءَكَ وَغَفَرَ لِمَيِّتِكَ.

A’ZHAMALLAHU AJROKA, WA AHSANA ‘AZAAKA, WA GHAFARO LIMAYYITIKA.

Artinya:

“Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memerbesar pahalamu, dan kamu bisa berkabung dengan baik serta mayatnya diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala“. (HR. Bukhari: 2/80, Muslim: 2/636. Lihat Al Azkar LinNawawi, hal. 126).

Atau dengan ucapan doa:

أحسن الله عزاك، وجبر مصابك، وغفر لميتك ورحمه وخلفه في عقبه بخير

AHSANALLAHU AZAAKA WA JABARO MUSHABAKA WA GHAFARO LIMAYYITIKA WA ROHIMAHU WA KHALAFAHU FII AQIBIHI BIKHOIR.

Artinya:

Semoga Allah memberimu pelipur lara yang baik, memberi kebaikan atas musibahmu, mengampuni si mayyit, melimpahkan rahmat, dan menggantikannya dengan yang lebih baik.”

Dan bisa juga berkata:

إن في الله عزاء من كل فائت، وخلفا من كل هالك، فبالله تقوا وإياه فارجوا فإن المصاب من حرم الثواب

“Sesungguhnya Allah akan memberi pelupur lara bagi segala yang telah hilang, dan memberi pengganti bagi semua yang musnah. Kepada Allah-lah bertakwa, kembalilah (kepada Allah), karena orang yang tertimpa musibah bisa dihalangi dari pahala.”

  • Kemudian memotivasi mereka agar bersabar dan ridha, karena setelahnya ada pahala yang melimpah dan pahala atas musibah.

 

Sumber:

https://muslimafiyah.com/ucapan-ucapan-yang-dikatakan-ketika-ada-orang-yang-meninggal.html

https://almanhaj.or.id/3067-fiqih-taziyah.html