بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#AdabAkhlak
#DanPenuhilahJanji
PARA SALAF DALAM MENEPATI JANJI
Allah ﷻ berfirman:

وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُوْلاً

“Dan penuhilah janji. Sesungguhnya janji itu pasti dimintai pertanggungjawabannya.” (Al-Isra`: 34)
Dahulu ada seorang sahabat Nabi ﷺ bernama Anas bin An-Nadhr radhiyallahu ‘anhu. Dia amat menyesal, karena tidak ikut perang Badr bersama Rasulullah ﷺ. Dia berjanji, jika Allah ﷻ memerlihatkan kepadanya medan pertempuran bersama Rasulullah ﷺ, niscaya Allah ﷻ akan melihat pengorbanan yang dilakukannya.
Ketika berkobar perang Uhud, dia berangkat bersama Rasulullah ﷺ. Dalam perang ini kaum Muslimin terpukul mundur, dan sebagian lari dari medan pertempuran. Di sinilah terbukti janji Anas. Dia terus maju menerobos barisan musuh sehingga terbunuh. Ketika perang telah usai dan kaum Muslimin mencari para syuhada Uhud, didapati pada tubuh Anas bin An-Nadhr ada 80 lebih tusukan pedang, tombak, dan panah, sehingga tidak ada yang bisa mengenalinya kecuali saudarinya. Lalu turunlah ayat Alquran:

مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيْلاً

“Di antara orang-orang Mukmin itu ada orang-orang yang menepati, apa yang telah mereka janjikan kepada Allah, Maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu, dan mereka sedikit pun tidak mengubah (janjinya).” (Al-Ahzab: 23) [Lihat Tafsir Ibnu Katsir, Surat Al-Ahzab, 3/484 dan Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 3200]
Diriwayatkan dari ‘Auf bin Malik Al-Asyja’i radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Dahulu kami, berjumlah tujuh, atau delapan, atau sembilan orang di sisi Nabi ﷺ. Maka beliau ﷺ bersabda: “Tidakkah kalian berbai’at kepada Rasulullah?” Maka kami bentangkan tangan kami. Lantas ada yang berkata: “Kami telah berbaiat kepadamu wahai Rasulullah ﷺ, lalu atas apa kami membaiat Anda?” Nabi ﷺ bersabda:

أَنْ تَعْبُدُوا اللهَ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَتُقِيْمُوا الصَّلَوَاتِ الْخَمْسَ وَتَسْمَعُوا وَتُطِيْعُوا – وَأَسَرَّ كَلِمَةً خَفِيَّةً – وَلاَ تَسْأَلُوا النَّاسَ شَيْئًا

“Kalian menyembah Allah dan tidak memersekutukan-Nya sedikit pun. Kalian menegakkan shalat lima waktu, mendengar dan taat (kepada penguasa), dan Nabi ﷺ mengucapkan kalimat yang samar, (lalu berkata), dan kalian tidak meminta sesuatu pun kepada manusia.”
‘Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: “Sungguh aku melihat cambuk sebagian orang-orang itu jatuh, namun mereka tidak meminta kepada seorang pun untuk mengambilkannya.” (Shahih Sunan Ibnu Majah no. 2334)
Seperti itulah besarnya permasalahan MENEPATI JANJI di mata generasi terbaik umat ini. Karena mereka yakin, bahwa janji itu akan dimintai pertanggungjawabannya di sisi Allah ﷻ. Dan tiada kalimat yang terucap, kecuali di sisinya ada malaikat pencatat. Intinya, keimanan yang benar itulah yang akan mewariskan segala tingkah laku dan perangai terpuji.’
Hal ini sangat berbeda dengan orang yang hanya bisa memberi janji-janji manis yang tidak pernah ada kenyataannya. Tidakkah mereka takut kepada adzab Allah ﷻ karena ingkar janji? Tidakkah mereka tahu bahwa ingkar janji adalah akhlak Iblis dan para munafikin? Ya. Seruan ini mungkin bisa didengar. Tetapi bagaimana bisa mendengar orang yang telah mati hatinya dan dikuasai oleh setannya?
 
Dinukil dari tulisan berjudul: “DAN PENUHILAH JANJI, SESUNGGUHNYA JANJI ITU PASTI DIMINTAI PERTANGGUNGJAWABANNYA” yang ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Mu’thi, Lc. hafizhahullah
Sumber: http://hijrahdarisyirikdanbidah.blogspot.co.id/2011/10/dan-penuhilah-janji-sesungguhnya-janji.html