MUSIBAH DATANG BOLEH JADI KARENA DOSA

/, Tazkiyatun Nufus/MUSIBAH DATANG BOLEH JADI KARENA DOSA
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
 
MUSIBAH DATANG BOLEH JADI KARENA DOSA
 
Ketika musibah dan bencana menghampiri kita, kadang yang dijadikan kambing hitam adalah alam. Artinya alam itu murka. Ketika sakit datang, yang disalahkan pula konsumsi makanan, kurang olah raga dan seterusnya. Ketika kita terzalimi oleh atasan atau majikan karena telat gaji bulanan, kadang yang jadi biang kesalahan adalah majikan atau bos yang dijuluki pelit atau bakhil. Walau memang sebab-sebab tadi bisa jadi benar sebagai penyebab, namun jarang ada yang merenungkan, bahwa karena dosa atau maksiat yang kita perbuat, akhirnya Allah mendatangkan musibah, menurunkan penyakit atau ada yang menzalimi kita. Coba kita renungkan ayat berikut ini:
 
Allah taala berfirman:
 
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ
 
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” [QS. Asy Syura: 30]
 
Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Wahai sekalian manusia ketahuilah, bahwa musibah yang menimpa kalian tidak lain adalah disebabkan karena dosa yang kalian dahulu perbuat. Dan Allah memaafkan kesalahan-kesalahan kalian tersebut. Dia bukan hanya tidak menyiksa kalian, namun Allah langsung memaafkan dosa yang kalian perbuat.” Karena memang Allah akan menyiksa seorang hamba karena dosa yang ia perbuat. Sebagaimana Allah taala berfirman:
 
وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِمَا كَسَبُوا مَا تَرَكَ عَلَى ظَهْرِهَا مِنْ دَابَّةٍ
 
“Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu mahluk yang melata pun” [QS. Fathir: 45]
 
Dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah, mereka mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
 
مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ وَصَبٍ وَلاَ نَصَبٍ وَلاَ سَقَمٍ وَلاَ حَزَنٍ حَتَّى الْهَمِّ يُهَمُّهُ إِلاَّ كُفِّرَ بِهِ مِنْ سَيِّئَاتِهِ
 
“Tidaklah seorang Mukmin tertimpa suatu musibah berupa rasa sakit (yang tidak kunjung sembuh), rasa capek, rasa sakit, rasa sedih, dan kekhawatiran yang menerpa, melainkan dosa-dosanya akan diampuni” [HR. Muslim no. 2573).
 
Dari Mu’awiyah, ia berkata bahwa ia mendengar sabda Rasulullah ﷺ:
 
مَا مِنْ شَىْءٍ يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ فِى جَسَدِهِ يُؤْذِيهِ إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ عَنْهُ بِهِ مِنْ سَيِّئَاتِه
 
“Tidaklah suatu musibah menimpa jasad seorang Mukmin dan itu menyakitinya, melainkan akan menghapuskan dosa-dosanya.” [HR. Ahmad 4: 98. Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata bahwa sanadnya shahih sesuai syarat Muslim]
 
Bisa jadi pula musibah itu datang menghampiri kita karena dosa orang tua. Abul Bilad berkata pada ‘Ala’ bin Badr mengenai ayat:
 
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ
 
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri”, dan sejak kecil aku sudah buta, bagaimana pendapatmu? ‘Ala’ berkata:
 
فبذنوب والديك
 
“Itu boleh jadi karena sebab orang tuamu.”
 
Seseorang bisa jadi mudah lupa terhadap ayat Alquran yang telah ia hafal karena sebab dosa yang ia perbuat. Adh Dhohak berkata:
 
ما نعلم أحدا حفظ القرآن ثم نسيه إلا بذنب
 
“Kami tidaklah mengetahui seseorang yang menghafal Alquran kemudian ia lupa, melaikan karena dosa.” Lantas Adh Dhohak membacakan surat Asy Syura yang kita bahas saat ini. Lalu ia berkata:
 
وأي مصيبة أعظم من نسيان القرآن.
 
“Musibah mana lagi yang lebih besar dari melupakan Alquran?”
 
Jadi boleh jadi bukan karena kesibukan kita, jadi biang kesalahan hafalan Alquran itu hilang. Boleh jadi karena tidak menjaga pandangan, terus menerus dalam maksiat, serta meremehkan dosa. Itulah sebab Allah memalingkan Alquran dari kita.
 
Demikian faidah yang kami peroleh dari tafsir Ibnu Katsir. Semoga Allah melepaskan berbagai musibah yang menimpa kita. Ayat ini adalah sebagai renungan bagi kita untuk selalu mengintrospeksi diri sebelum menyalahkan orang lain ketika kita terzalimi. Boleh jadi musibah itu datang karena dosa syirik, tidak ikhlas dalam amalan, amalan bid’ah, dosa besar atau meremehkan maksiat yang kita perbuat hari demi hari.
 
Ya Allah, ampunilah dosa dan terimalah tobat kami. Semoga hati, lisan dan badan ini bisa bersabar dalam menghadapi berbagai cobaan.
 
Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.
 
 
Referensi:
Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 12: 280-283, terbitan Muassasah Qurthubah.
 
 
 
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
[www.rumaysho.com]
 
 
#musibahsebagaipenggugurdosa #sakitpenghapusdosa #segalamusibahdatangnyadari Allah #dosabesar #setiapujianadalahakibattangankita #sakitgugurkandosa 
2018-01-23T23:18:04+00:00 23 January 2018|Alquran, Tazkiyatun Nufus|0 Comments

Leave A Comment