بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
MATI SUUL KHATIMAH (AKHIR HIDUP YANG BURUK)
 
Sakaratul Maut Rumayso Sakaratul Maut Yang Paling Ringan Rumaysho Su Uul Khatimah Adalah Ulama Suul Khotimah Tanda Tanda Kematian Rumaysho
 
Setiap orang pasti menginginkan berada pada akhir kehidupan yang baik (Husnul Khatimah), BUKAN pada yang buruk (Suul Khatimah). Namun sudah sering kita saksikan ada beberapa orang yang mati dengan sangat tragis, sangat mengerikan, yang mungkin kita belum pernah melihat sebelumnya. Suul Khatimah inilah yang patut kita waspadai dan berusaha untuk tidak berada di ujung kehidupan semacam itu.
 
Perlu kiranya kita mengetahui, bahwa Suul Khatimah (mati dalam keadaan buruk) memiliki sebab yang seharusnya setiap orang menjauhinya. Sebab utama adalah karena berpaling dari agama Allah. Hal ini dapat berupa berpaling dari istiqamah, lemahnya iman, rusaknya i’tiqad (keyakinan), dan terus menerus dalam maksiat.
 
Beberapa Kisah Akhir Hidup yang Begitu Jelek
 
Ada suatu kisah yang menunjukkan seseorang yang terlalu sibuk dengan dunia, sehingga lupa akan Akhirat. Lihatlah bagaimanakah akhir hidupnya.
 
Ia seorang pedagang yang biasa menjual kain. Tatkala sakratul maut ia bukan menyebut kalimat yang mulia “Laa ilaaha illallah.” Nmun yang ia sebut adalah: “Ini kain baru, ini kain baru. Ini pas untukmu. Kain ini amat murah.” Akhirnya ia pun mati setelah mengucapkan kalimat semacam itu. Padahal kalimat terbaik yang diucapkan saat sakratul maut adalah kalimat Laa ilaaha illallah. Rasulullah ﷺ bersabda:
 
مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الجَنَّةَ
 
“Barang siapa yang akhir perkataannya adalah ‘Lailaha illallah’, maka dia akan masuk Surga.” [HR. Abu Daud. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Misykatul Mashobih no. 1621]
 
Ada juga orang yang kesehariannya sibuk bermain catur. Ketika sakratul maut, ia diperintahkan untuk menyebut kalimat “Laa ilaaha illallah”. Namun apa yang ia katakan kala maut menjemput? Ia malah mengucapkan: “Skak!” Lalu ia pun menghembuskan nafasnya yang terakhir. Mati bukan menyebut kalimat tahlil, namun menyebut kata “Skak”. Wallahul musta’an.
 
Ada pula orang yang kesehariannya biasa menegak arak (khomr). Ketika maut menjemput, ia ingin ditalqinkan (dituntun baca kalimat tahlil, Laa ilaaha illallah). Namun apa yang ia ucapkan? Ia malah berkata saat sakratul maut: “Mari tuangkan arak untukku, minumlah!” Lantas ia pun mati dalam keadaan seperti itu. Laa haula quwwata illa billah ‘aliyyil ‘azhim. [Kisah-kisah ini diperoleh dari risalah mungil yang berjudul ‘Alamaatu Husnul Khatimah wa Su’uha, terbitan Darul Qosim]
 
Pengaruh Teman Bergaul yang Buruk Semasa Hidup
 
Ulama tabi’in, Mujahid rahimahullah berkata: “Barang siapa mati, maka akan datang di hadapan dirinya orang yang satu majelis (setipe) dengannya. Jika ia biasa duduk di majelis orang yang selalu menghabiskan waktu dalam kesia-siaan, maka itulah yang akan menjadi teman dia tatkala sakratul maut. Sebaliknya jika di kehidupannya ia selalu duduk bersama Ahli Zikir (yang senantiasa mengingat Allah), maka itulah yang menjadi teman yang akan menemaninya saat sakratul maut.” [Tadzkiroh, Al Qurthubi, Asy Syamilah, 1/38]
 
Bukti dari perkataan Mujahid di atas terdapat pada kisah Abu Tholib berikut ini:
 
لَمَّا حَضَرَتْ أَبَا طَالِبٍ الْوَفَاةُ جَاءَهُ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَوَجَدَ عِنْدَهُ أَبَا جَهْلِ بْنَ هِشَامٍ ، وَعَبْدَ اللَّهِ بْنَ أَبِى أُمَيَّةَ بْنِ الْمُغِيرَةِ ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – لأَبِى طَالِبٍ « يَا عَمِّ ، قُلْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، كَلِمَةً أَشْهَدُ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ » . فَقَالَ أَبُو جَهْلٍ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِى أُمَيَّةَ يَا أَبَا طَالِبٍ ، أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَلَمْ يَزَلْ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَعْرِضُهَا عَلَيْهِ ، وَيَعُودَانِ بِتِلْكَ الْمَقَالَةِ ، حَتَّى قَالَ أَبُو طَالِبٍ آخِرَ مَا كَلَّمَهُمْ هُوَ عَلَى مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ ، وَأَبَى أَنْ يَقُولَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ
 
“Ketika menjelang wafatnya Abu Tholib, Rasulullah ﷺ mendatanginya dan ternyata sudah ada Abu Jahal bin Hisyam dan ‘Abdullah bin Abu Umayyah bin Al Mughirah. Maka Rasulullah ﷺ berkata kepada Abu Tholib: “Wahai pamanku, katakanlah Laa ilaaha illallah, suatu kalimat yang dengannya aku akan menjadi saksi atasmu di sisi Allah”. Maka berkata Abu Jahal dan ‘Abdullah bin Abu Umayyah: “Wahai Abu Thalib, apakah kamu akan meninggalkan agama ‘Abdul Muthalib?”. Rasulullah ﷺ terus menawarkan Kalimat Syahadat kepada Abu Tholib, dan bersamaan itu pula kedua orang itu mengulang pertanyaannya, yang berujung Abu Tholib pada akhir ucapannya tetap mengikuti agama ‘Abdul Muthalib, dan enggan untuk mengucapkan Laa ilaaha illallah.” [HR. Bukhari no. 1360 dan Muslim no. 24]
 
Akibat Maksiat dan Godaan Setan
 
Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Sesungguhnya dosa, maksiat, dan syahwat adalah sebab yang dapat menggelincirkan manusia saat kematiaanya. Ditambah lagi dengan godaan setan. Jika maksiat dan godaan setan terkumpul, ditambah lagi dengan lemahnya iman, maka sungguh amat mudah berada dalam Suul Khatimah (akhir hidup yang jelek).” [Al Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir, 9/184 (sesuai standar)]
 
Agar Selamat dari Suul Khatimah
 
Ibnu Katsir rahimahullah kembali melanjutkan penjelasannya:
 
“Suul Khatimah (akhir hidup yang jelek), semoga Allah melindungi kita darinya, tidaklah terjadi pada orang yang secara lahir dan batin itu baik dalam bermuamalah dengan Allah. Begitu pula tidak akan terjadi pada orang yang benar perkataan dan perbuatannya. Keadaan semacam ini tidak pernah didengar, bahwa orangnya mati dalam keadaan Suul Khatimah sebagaimana kata ‘Abdul Haq Al Isybili. Suul Khatimah akan mudah terjadi pada orang yang rusak batinnya dilihat dari i’tiqod (keyakinannya) dan rusak lahiriahnya yaitu pada amalnnya. Suul Khatimah lebih mudah terjadi pada orang yang terus menerus dalam dosa besar dan lebih menyukai maksiat. Akhirnya ia terus menerus dalam keadaan berlumuran dosa semacam tadi, sampai maut menjemput sebelum ia bertobat.” [Al Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir, 9/184 (sesuai standar)]
 
Jika telah mengetahui hal ini dan tidak ingin kehidupan kita berakhir buruk sebagaimana kisah-kisah yang telah diutarakan di atas, maka sudah sepantasnya kita menyegerakan tobat terhadap semua dosa yang kita perbuat, baik itu dosa kesyirikan, bid’ah, dosa besar dan maksiat. Begitu pula segeralah kita kembali taat pada Allah dengan mengawali segalanya dengan ilmu. Kita tidak tahu kapan nyawa kita diambil. Entah besok, entah lusa, entah minggu depan, boleh jadi lebih cepat dari yang kita kira. Yang tua dan muda sama saja, tidak ada yang tahu bahwa ia akan berumur panjang. Selagi masih diberi kesempatan, selagi masih diberi nafas, teruslah bertobat dan kembali taat pada-Nya. Lakukan kewajiban, sempurnakan dengan amalan sunnah. Jauhi maksiat dan berbagai hal yang makruh. Jangan sia-siakan waktu, teruslah isi dengan kebaikan.
 
Semoga Allah mematikan kita dalam keadaan Husnul Khatimah dan menjauhkan kita dari akhir hidup yang jelek, Suul Khatimah. Amin Yaa Mujibas Saailin.
 
 
 
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
[www.rumaysho.com]
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: https://nasihatsahabat.com/
Email: nasihatsahabatcom@gmail.com
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#su’ul, #khotimah, #khatimah, #chatimah, #chotimah, #suul, #mati, #meninggaldunia, #akhirhidup, #akhirayat, #husnul, #khusnul #chusnul #husnulkhatimah, #husnulkhotimah #akhirhidupyangjelek, #akhirhidupyangburuk, #akhirhidupyangbaik, #akhirhidupyangindah #suul khotimah, #suulkhatimah