بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
 
LIMA PERKARA PERUSAK HATI
 

Hati adalah bagian terpenting dalam diri kita, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

“Ingatlah, bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung).” [HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599]

Hati adalah pengendali. Jika ia baik, baik pula perbuatannya. Jika ia rusak, rusak pula perbuatannya. Maka menjaga hati dari kerusakan adalah niscaya dan wajib.
 
Tentang perusak hati, Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan ada lima perkara:
1) Bergaul dengan banyak kalangan (baik dan buruk),
2) Larut dalam angan-angan kosong,
3) Bergantung kepada selain Allah,
4) Kekenyangan, dan
5) Banyak tidur.”
 
1. Bergaul dengan Banyak Kalangan
 
Pergaulan adalah perlu, tapi tidak asal bergaul dan banyak teman. Pergaulan yang salah akan menimbulkan masalah. Teman-teman yang buruk lambat laun akan menghitamkan hati, melemahkan dan menghilangkan rasa nurani, akan membuat yang bersangkutan larut dalam memenuhi berbagai keinginan mereka yang negatif.
 
Dalam tataran riel, kita sering menyaksikan orang yang hancur hidup dan kehidupannya gara-gara pergaulan. Biasanya out put semacam ini, karena motivasi bergaulnya untuk dunia. Dan memang, kehancuran manusia lebih banyak disebabkan oleh sesama manusia. Karena itu, kelak di Akhirat banyak yang menyesal berat, karena salah pergaulan.
 
Allah ﷻ berfirman:
 
وَيَوْمَ يَعَضُّ ٱلظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَٰلَيْتَنِى ٱتَّخَذْتُ مَعَ ٱلرَّسُولِ سَبِيلً
يَٰوَيْلَتَىٰ لَيْتَنِى لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا
 لَّقَدْ أَضَلَّنِى عَنِ ٱلذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَآءَنِى ۗ وَكَانَ ٱلشَّيْطَٰنُ لِلْإِنسَٰنِ خَذُولً
 
“Dan (ingatlah) hari (ketika itu), orang yang zalim menggigit dua tangannya seraya berkata: “Aduhai (dulu) kiranya aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si Fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Alquran, ketika Alquran itu telah datang kepadaku.” [QS. Al-Furqan: 27-29]
 
الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ
 
“Teman-teman akrab pada hari itu, sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.” [QS. Az-Zukhruf: 67]
 
وَقَالَ إِنَّمَا اتَّخَذْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْثَانًا مَوَدَّةَ بَيْنِكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ثُمَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُ بَعْضُكُمْ بِبَعْضٍ وَيَلْعَنُ بَعْضُكُمْ بَعْضًا وَمَأْوَاكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ نَاصِرِينَ
 
“Dan berkata Ibrahim: “Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu sembah selain Allah adalah untuk menciptakan perasaan kasih sayang di antara kamu dalam kehidupan dunia ini. Kemudian di Hari Kiamat, sebagian kamu mengingkari sebagian (yang lain), dan sebagian kamu melaknati sebagian (yang lain). Dan tempat kembalimu ialah Neraka. Dan sekali- kali tidak ada bagimu para penolong pun.” [QS. Al ‘Ankabut: 25]
 
Inilah pergaulan yang didasari oleh kesamaan tujuan duniawi. Mereka saling mencintai dan saling membantu, jika ada hasil duniawi yang diingini. Jika telah lenyap kepentingan tersebut, maka pertemanan itu akan melahirkan duka dan penyesalan. Cinta berubah menjadi saling membenci dan melaknat.
 
Karena itu dalam bergaul, berteman, dan berkumpul, hendaknya ukuran yang dipakai adalah kebaikan. Lebih tinggi lagi tingkatannya, jika motivasi pertemanan itu untuk mendapatkan kecintaan dan rida Allah.
 
2. Larut dalam Angan-Angan Kosong
 
Angan-angan kosong adalah lautan tak bertepi. Ia adalah lautan tempat berlayarnya orang-orang bangkrut. Bahkan dikatakan, angan-angan adalah modal orang-orang bangkrut. Ombak angan-angan terus mengombang-ambingkannya, khayalan-khayalan dusta senantiasa memermainkannya, laksana anjing yang sedang memermainkan bangkai.
 
Angan-angan kosong adalah kebiasaan orang yang berjiwa kerdil dan rendah. Masing-masing sesuai dengan yang diangankannya. Ada yang mengangankan menjadi raja atau ratu. Ada yang ingin keliling dunia. ada yang ingin mendapatkan harta kekayaan melimpah, atau istri yang cantik jelita. Tapi itu hanya angan-angan belaka.
 
Adapun orang yang memiliki cita-cita tinggi dan mulia, maka cita-citanya adalah seputar ilmu, iman, dan amal saleh yang mendekatkan dirinya kepada Allah. Dan ini adalah cita-cita terpuji. Adapun angan-angan kosong ia adalah tipu daya belaka. Nabi ﷺ memuji orang yang bercita-cita terhadap kebaikan.
 
3. Bergantung kepada Selain Allah
 
Ini adalah faktor terbesar perusak hati. Tidak ada sesuatu yang lebih berbahaya dari bertawakal dan bergantung kepada selain Allah.
 
Jika seseorang bertawakal kepada selain Allah, maka Allah akan menyerahkan urusan orang tersebut kepada sesuatu yang ia bergantung kepadanya. Allah akan menghinakannya, dan menjadikan perbuatannya sia-sia. Ia tidak akan mendapatkan sesuatu pun dari Allah, juga tidak dari makhluk yang ia bergantung kepadanya. Allah ﷻ berfirman:
 
(وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ آلِهَةً لِيَكُونُوا لَهُمْ عِزًّا كَلَّا ۚ سَيَكْفُرُونَ بِعِبَادَتِهِمْ وَيَكُونُونَ عَلَيْهِمْ ضِدًّا)
 
“Dan mereka telah mengambil Sembahan-sembahan selain Allah, agar Sembahan -sembahan itu menjadi pelindung bagi mereka. Sekali-kali tidak. Kelak mereka (Sembahan -sembahan) itu akan mengingkari penyembahan (pengikut-pengikutnya) terhadapnya, dan mereka (Sembahan -sembahan) itu akan menjadi musuh bagi mereka.” [QS. Maryam: 81-82]
 
وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ آَلِهَةً لَعَلَّهُمْ يُنْصَرُونَ (74)
لَا يَسْتَطِيعُونَ نَصْرَهُمْ وَهُمْ لَهُمْ جُنْدٌ مُحْضَرُونَ (75)
 
“Mereka mengambil Sembahan -sembahan selain Allah, agar mereka mendapat pertolongan. Berhala-berhala itu tidak dapat menolong mereka, padahal berhala-berhala itu menjadi tentara yang disiapkan untuk menjaga mereka.” [QS. Yasin: 74-75]
 
Maka orang yang paling hina adalah yang bergantung kepada selain Allah. Ia seperti orang yang berteduh dari panas dan hujan, di bawah rumah laba-laba. Dan rumah laba-laba adalah rumah yang paling lemah dan rapuh. Lebih dari itu, secara umum, asal dan pangkal syirik adalah dibangun di atas ketergantungan kepada selain Allah. Orang yang melakukannya adalah orang hina dan nista. Allah ﷻ berfirman:
 
(لَا تَجْعَلْ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ فَتَقْعُدَ مَذْمُومًا مَخْذُولًا)
 
“Janganlah kamu adakan Tuhan lain selain Allah, agar kamu tidak menjadi tercela dan tidak ditinggalkan (Allah).” [QS. Al-Isra: 22]
 
Terkadang keadaan sebagian manusia tertindas tapi terpuji, seperti mereka yang dipaksa dengan kebatilan. Sebagian lagi terkadang tercela tapi menang, seperti mereka yang berkuasa secara batil. Sebagian lagi terpuji dan menang, seperti mereka yang berkuasa dan berada dalam kebenaran. Adapun orang yang bergantung kepada selain Allah (musyrik), maka dia mendapatkan keadaan yang paling buruk dari empat keadaan manusia, yakni tidak terpuji dan tidak ada yang menolong.
 
4. Makanan
 
Makanan perusak ada dua macam:
 
Pertama: Merusak karena zat/materinya, dan ia terbagi menjadi dua macam:
a) Yang diharamkan karena hak Allah, seperti bangkai, darah, anjing, binatang buas yang bertaring, dan burung yang berkuku tajam.
b) Yang diharamkan karena hak hamba, seperti barang curian, rampasan, dan sesuatu yang diambil tanpa kerelaan pemiliknya, baik karena paksaan, malu, atau takut terhina.
 
Kedua: Merusak karena melampaui ukuran dan takarannya. Seperti berlebihan dalam hal yang halal, kekenyangan kelewat batas. Sebab yang demikian itu membuatnya malas mengerjakan ketaatan, sibuk terus-menerus dengan urusan perut untuk memenuhi hawa nafsunya. Jika telah kekenyangan, maka ia merasa berat, dan karenanya ia mudah mengikuti komando setan. Setan masuk ke dalam diri manusia melalui aliran darah. Puasa memersempit aliran darah dan menyumbat jalannya setan. Sedangkan kekenyangan memerluas aliran darah dan membuat setan betah tinggal berlama-lama. Barang siapa banyak makan dan minum, niscaya akan banyak tidur dan banyak merugi.
 
Dalam sebuah hadis masyhur disebutkan:
 
“مَا مَلأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنِهِ حَسْبُ ابْنِ آدَمَ لُقَيْمَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ لَمْ يَفْعَلْ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ.”
 
“Tidak ada bejana yang diisi oleh manusia (dengan makanan dan minuman -pent), yang lebih buruk dari perutnya. Cukuplah baginya memakan beberapa suapan, sekadar dapat menegakkan tulang punggungnya (memberikan tenaga). Jika harus dilakukan, maka ia dapat memenuhi perutnya dengan sepertiga makanan, sepertiga minuman, dan sepertiga lagi untuk nafasnya.” [HR. At-Tirmidzi, Ahmad dan Hakim, disahihkan oleh Al-Albani]
 
5. Kebanyakan Tidur
 
Banyak tidur mematikan hati, memenatkan badan, menghabiskan waktu, dan membuat lupa serta malas. Di antara tidur itu ada yang sangat dibenci, ada yang berbahaya dan sama sekali tidak bermanfaat. Sedangkan tidur yang paling bermanfaat adalah tidur saat sangat dibutuhkan.
 
Segera tidur pada malam hari lebih baik dari tidur ketika sudah larut malam. Tidur pada tengah hari (tidur siang), lebih baik daripada tidur di pagi atau sore hari. Bahkan tidur pada sore dan pagi hari lebih banyak madharatnya daripada manfaatnya.
 
Di antara tidur yang dibenci adalah tidur antara Salat Subuh dengan terbitnya matahari, sebab ia adalah waktu yang sangat strategis. Karena itu, meskipun para ahli ibadah telah melewatkan sepanjang malamnya untuk ibadah, mereka tidak mau tidur pada waktu tersebut hingga matahari terbit. Sebab waktu itu adalah awal dan pintu siang, saat diturunkan dan dibagi-bagikannya rezeki, saat diberikannya berkah. Maka masa itu adalah masa yang strategis dan sangat menentukan masa-masa setelahnya. Karenanya, tidur pada waktu itu hendaknya karena benar-benar sangat terpaksa.
 
Secara umum, saat tidur yang paling tepat dan bermanfaat adalah pada pertengahan pertama dari malam, serta pada seperenam bagian akhir malam, atau sekitar delapan jam. Dan itulah tidur yang baik menurut pada dokter. Jika lebih atau kurang daripadanya, maka akan berpengaruh pada kebiasaan baiknya. Termasuk tidur yang tidak bermanfaat adalah tidur pada awal malam hari, setelah tenggelamnya matahari. Dan ia termasuk tidur yang dibenci Rasulullah ﷺ.
 
 
Disadur dari Mufsidaatul Qalbi Al-Khamsah, min Kalami Ibni Qayyim Al-Jauziyyah
Oleh: Abu Okasha Ainul Haris
 
Catatan Tambahan:

LIMA PERKARA PERUSAK HATI

Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

“مُفسِدات القلب خمسة:

كثرة الخُلطة،

والإسراف في الطعام،

وكثرة النوم،

والتَّعَلُّق بغير الله،

والتَّمَنِّي

“Hal-hal yang dapat merusak hati ada lima:

  • Banyak bergaul dengan sembarang orang,
  • Berlebih-lebihan dalam hal makanan,
  • Banyak tidur (yang membuatnya malas melaksanakan perintah Allah)
  • Bergantung kepada selain Allah,
  • Senang berangan-angan (dengan perkara yang tidak bermanfaat untuk Akhiratnya).”

[Madarijus Salikin Libnil Qayyim 1/451]

 

‏🎓 قال ‎ابن القيم -رحمه الله-:

“مُفسِدات القلب خمسة:

كثرة الخُلطة،

والإسراف في الطعام،

وكثرة النوم،

والتَّعَلُّق بغير الله،

والتَّمَنِّي”.

 مدارج السالكين لابن القيم (1/451)

 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: https://nasihatsahabat.com/
Twitter: @NasihatSalaf
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
Baca juga:
LIMA PERKARA PERUSAK HATI