بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
 
KIAT MENDAPATKAN SYAFAAT NABI MUHAMMAD
 
Di dalam Alquran al Karim, Allah ﷻ menafikan (meniadakan) syafaat dan menetapkan adanya syafaat.
 
Syafaat yang bagaimanakah yang dinafikan?
Dan syafaat yang bagaimanakah yang ditetapkan?
 
Syafaat yang dinafikan oleh Allah adalah Syafaat Syirkiah (Syafaat Syirik) yang diyakini oleh orang-orang musyrik, yang mengklaim bahwa Tuhan-tuhan mereka nantinya akan memberi syafaat di sisi Allah ﷻ. Mereka mengandalkan syafaat yang demikian ini, dan meninggalkan Asbab (Hukum Kausalita), yang telah dijadikan oleh Allah ﷻ sebagai sarana untuk mencapai maksud demi kebaikan dunia dan Akhirat.
 
Di antara hal yang merugikan diri, yaitu adanya sekelompok orang yang menyandarkan kepada keislaman, lalu mengikuti orang-orang musyrik dalam keyakinan ini. Sehingga mereka mengklaim bahwa guru, kyai, habib, dan orang-orang yang dianggap wali, dapat memberi syafaat kepada mereka di sisi Allah, dan menyelamatkan mereka dari api Neraka, apa pun perbuatan yang telah mereka lakukan, selama mereka masih sangat dicintai oleh para guru, kyai, habib, dan orang-orang yang dianggap wali tersebut. Sehingga mereka membayar ‘pajak’ syafaat kepada guru dan habib itu setiap tahun, atau setiap bulan, atau setiap diminta.
 
Keyakinan ini menurut Allah adalah kesyirikan. Allah ﷻ mengingkari keyakinan dan perbuatan orang-orang musyrik di dalam Kitab-Nya yang mulia. Allah membatalkan dan menafikannya. Allah juga mengabarkan bahwa syafaat adalah milik-Nya secara keseluruhan. TIDAK ADA seorang pun dari sisi-Nya memberi syafaat, melainkan dengan izin-Nya, dan untuk orang yang diridai ucapan dan perbuatannya. Firman Allah ﷻ dalam Surat Saba’ ayat 22-23 menyebutkan:
 
قُلِ ادْعُوا الَّذِيْنَ زَعَمْتُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِۚ لَا يَمْلِكُوْنَ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ فِى السَّمٰوٰتِ وَلَا فِى الْاَرْضِ وَمَا لَهُمْ فِيْهِمَا مِنْ شِرْكٍ وَّمَا لَهٗ مِنْهُمْ مِّنْ ظَهِيْرٍ –وَلَا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ عِنْدَهٗٓ اِلَّا لِمَنْ اَذِنَ لَهٗ
 
“Katakanlah: “Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai Tuhan) selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarrah pun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu saham pun dalam (penciptaan) langit dan bumi, dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya. Dan tiadalah berguna syafaat di sisi Allah, melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya memeroleh syafaat itu…”
 
Ibnu Qayyim rahimahullah dalam mengupas ayat-ayat ini mengatakan:
“Allah telah memutuskan semua faktor yang dijadikan oleh orang-orang musyrik untuk bertopang. Orang musyrik menganggap Sesembahannya bisa memberi manfaat padanya. Padahal tidak ada manfaat, kecuali dari yang memiliki salah satu dari empat hal, yaitu:
• Maha memiliki apa yang diharapkan oleh hambanya.
• Jika bukan yang memiliki itu, setidaknya ia sekutunya.
• Jika bukan sekutunya, mestinya ia penolong atau pembantunya.
• Jika bukan penolong dan pembantunya, mestinya ia pemberi syafaat darinya.”
 
Allah ﷻ MENYANGKAL keempat hal ini secara urut, dirinci dari atas ke bawah. Allah ﷻ MENYANGKAL kepemilikan, persekutuan, pertolongan dan pemberian syafaat yang dimintakan oleh orang musyrik. Allah ﷻ menetapkan suatu syafaat tidak ada bagian bagi orang musyrik untuk mendapatkannya, yaitu syafaat yang dengan izin-Nya. Cukuplah ayat ini sebagai pelita dan petunjuk untuk memurnikan tauhid kepada-Nya, dan menjadi penolak dasar-dasar kesyirikan dan unsur-unsurnya bagi yang memahaminya. [Lihat Madaarijus Salikin, I/372-373]
 
Di antara Kiat untuk Mendapatkan Syafaat Nabi Muhammad ﷺ
 
Setiap Muslim mendambakan syafaat Nabi Muhammad ﷺ, karena pada Hari Kiamat nanti tidak ada yang menolong seorang hamba, kecuali Allah ﷻ, kemudian amal-amal saleh yang dikerjakan seorang hamba, serta syafaat Nabi Muhammad ﷺ.
 
Adapun kiat-kiat seorang Muslim untuk mendapatkan syafaat yaitu:
 
1. Tauhid dan mengikhlaskan ibadah kepada Allah serta ittiba’ kepada Rasulullah ﷺ.
 
Tidak diragukan lagi, bahwa tauhid sebagai penyebab yang paling besar untuk mendapatkan syafaat pada Hari Kiamat.
 
Nabi ﷺ pernah ditanya: “Siapakah orang yang paling bahagia dengan syafaatmu pada Hari Kiamat?”
 
Nabi ﷺ menjawab:
 
أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ
 
“Yang paling bahagia dengan syafaatku pada Hari Kiamat adalah orang yang mengucapkan Laa ilaahaa illallaah dengan ikhlas dari hatinya atau dirinya.“ [HR Bukhari, no. 99]
 
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:
”Syafaat sebabnya adalah tauhid kepada Allah, dan mengikhlaskan agama dan ibadah dengan segala macamnya kepada Allah. Semakin kuat keikhlasan seseorang, maka dia berhak mendapatkan syafaat, sebagaimana dia juga berhak mendapatkan segala macam rahmat. Sesungguhnya syafaat adalah salah satu sebab kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Dan yang paling berhak dengan rahmat-Nya adalah Ahlut Tauhid dan orang-orang yang ikhlas kepada-Nya. Setiap yang paling sempurna dalam mewujudkan kalimat ikhlas (Laa ilaahaa illallaah) dengan ilmu, keyakinan, amal, dan berlepas diri dari berbagai bentuk kesyirikan, loyal kepada kalimat tauhid, memusuhi orang yang menolak kalimat ini, maka dia yang paling berhak dengan rahmat Allah.” [Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, XIV/414 dengan ringkas]
 
2. Membaca Alquran.
 
Dari Abi Umamah, bahwasannya dia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ
 
“Bacalah Alquran. Sesungguhnya Alquran akan datang pada Hari Kiamat sebagai pemberi syafaat bagi sahabatnya…” [HR Muslim, no.804]
 
Yang dimaksud para sahabat Alquran, mereka adalah orang-orang yang membacanya, menadabburinya, dan mengamalkan isinya.
 
3. Puasa
 
Rasulullah ﷺ bersabda:
 
الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ الصِّيَامُ أَيْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ وَيَقُولُ الْقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ قَالَ فَيُشَفَّعَانِ
 
“Puasa dan Alquran akan memberi syafaat kepada seorang hamba pada Hari Kiamat kelak. Puasa akan berkata: “Wahai, Rabb-ku. Aku telah menahannya dari makan pada siang hari dan nafsu syahwat. Karenanya, perkenankan aku untuk memberi syafaat kepadanya”. Sedangkan Alquran berkata: “Aku telah melarangnya dari tidur pada malam hari. Karenanya, perkenankan aku untuk memberi syafaat kepadanya”. Maka keduanya pun memberi syafaat.“ [HR Ahmad, II/174; al Hakim, I/554; dari Abdullah bin ‘Amr. Sanad hadis ini hasan. Hadis ini disahihkan oleh al Hakim dan disetujui oleh Imam adz Dzahabi. Kata Imam al Haitsami, diriwayatkan oleh Ahmad dan Thabrani dalam Mu’jam Kabir. Rijal hadis ini rijal sahih. Lihat Majma’uz Zawaid III/181. Disahihkan oleh al Albani dalam Tamamul Minnah, hlm. 394]
 
4. Doa setelah azan
 
Rasulullah ﷺ bersabda:
 
مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ
 
“Barang siapa yang membaca ketika mendengar azan ‘Ya Allah, Rabb pemilik panggilan yang sempurna ini dan salat (wajib) yang didirikan. Berilah al wasilah (derajat di Surga), dan keutamaan kepada Muhammad ﷺ, Dan bangkitkan beliau, sehingga bisa menempati maqam terpuji yang engkau janjikan’. Maka dia berhak mendapatkan syafaatku pada Hari Kiamat.“ [HR Bukhari no.614, dari Jabir bin Abdillah]
 
5. Tinggal di Madinah, sabar tehadap cobaannya, dan mati di sana.
 
Abu Sa’id pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
 
لَا يَصْبِرُ أَحَدٌ عَلَى لَأْوَائِهَا فَيَمُوتَ إِلَّا كُنْتُ لَهُ شَفِيعًا أَوْ شَهِيدًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا كَانَ مُسْلِمًا
 
“Tidaklah seseorang sabar terhadap kesusahannya (Madinah) kemudian dia mati, kecuali aku akan memberikan syafaat padanya, atau menjadi saksi baginya pada Hari Kiamat, jika dia seorang Muslim.” [HR Muslim, no.1374, 477; dari Abu Sa’id al Khudri]
 
لَا يَصْبِرُ عَلَى لَأْوَاءِ الْمَدِينَةِ وَشِدَّتِهَا أَحَدٌ مِنْ أُمَّتِي إِلَّا كُنْتُ لَهُ شَفِيعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَوْ شَهِيدًا
 
“Tidaklah seseorang dari umatku sabar terhadap cobaan Madinah dan kesusahannya, kecuali aku akan memberikan syafaat padanya, atau menjadi saksi baginya pada Hari Kiamat.“ [HR Muslim, no.1378, 484; dari Abu Hurairah]
 
مَنْ اسْتَطَاعَ أَنْ يَمُوتَ بِالْمَدِينَةِ فَلْيَمُتْ بِهَا فَإِنِّي أَشْفَعُ لِمَنْ يَمُوتُ بِهَا
 
“Barang siapa yang ingin mati di Madinah, maka matilah di sana. Sesungguhnya aku akan memberi syafaat bagi orang yang mati di sana.“ [HR Ahmad, II/74,104; Tirmidzi, no.3917; Ibnu Majah, no.3112; Ibnu Hibban, no. 3741, dari Ibnu Umar. Tirmidzi berkata: “Hadis ini Hasan Sahih”]
 
6. Selawat kepada Nabi Muhammad ﷺ.
 
Dari Ibnu Mas’ud, bahwasannya Rasulullah ﷺ bersabda:
 
أَوْلَى النَّاسِ بِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَكْثَرُهُمْ عَلَيَّ صَلَاةً
 
“Orang yang paling berhak mendapatkan syafaatku pada Hari Kiamat adalah yang paling banyak Selawat kepadaku.” [HR Tirmidzi, no.484, Hasan]
 
7. Salatnya sekelompok orang Muslim terhadap mayit Muslim.
 
Rasulullah ﷺ bersabda:
 
مَا مِنْ مَيِّتٍ تُصَلِّي عَلَيْهِ أُمَّةٌ مِنْ الْمُسْلِمِينَ يَبْلُغُونَ مِائَةً كُلُّهُمْ يَشْفَعُونَ لَهُ إِلَّا شُفِّعُوا فِيهِ
 
“Tidaklah seorang mayit disalatkan oleh sekelompok orang Islam yang jumlah mereka mencapai seratus, semuanya memintakan syafaat untuknya, melainkan syafaat itu akan diberikan pada dirinya.“ [HR Muslim, no. 947, 58]
 
مَا مِنْ رَجُلٍ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فَيَقُومُ عَلَى جَنَازَتِهِ أَرْبَعُونَ رَجُلًا لَا يُشْرِكُونَ بِاللَّهِ شَيْئًا إِلَّا شَفَّعَهُمْ اللَّهُ فِيهِ
 
“Tidaklah seorang Muslim meninggal dunia lalu jenazahnya disalatkan oleh empat puluh orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, melainkan Allah akan memberikan syafaat kepadanya.“ [HR Muslim, no.948, 59]
 
8. Membanyakkan sujud.
 
Dari Rabi’ah bin Ka’ab al Aslami, dia berkata:
 
“Aku pernah bermalam bersama Rasulullah ﷺ, lalu aku mendatangi beliau sambil membawa air untuk wudhu’ beliau.
 
Kemudian beliau berkata kepadaku: ‘Mintalah.’
Aku berkata: ’Aku minta untuk dapat menemanimu di Surga.’
Kemudian beliau ﷺ berkata: ‘Atau selain itu?’
Aku berkata:’Itu saja.’
Lalu beliau ﷺ bersabda:
 
فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ
 
“Tolonglah aku atas dirimu dengan banyak bersujud.“ [HR Muslim, no.489, 226]
 
Demikianlah delapan faktor yang bisa menjadi penyebab seseorang mendapatkan syafaat Nabi Muhammad ﷺ.
Mudah-mudahan kita termasuk orang yang mendapatkan syafaat Nabi Muhammad pada Hari Kiamat, bila kita mengikhlaskan ibadah semata-mata karena Allah dan ittiba’, mengikuti contoh Rasulullah ﷺ. Adapun pendapat sebagian orang, bahwa di antara sebab-sebab untuk bisa mendapatkan syafaat adalah dengan ziarah ke kubur Nabi Muhammad ﷺ, mereka berdalil dengan hadis-hadis yang palsu, dan sama sekali tidak ada asalnya dari Nabi ﷺ. Seperti hadis, barang siapa yang ziarah ke kuburku, maka dia berhak mendapatkan syafaatku. Dan masih banyak lagi yang lain. Jadi ziarah kubur Nabi Muhammad ﷺ TIDAK termasuk menjadi faktor yang bisa menyebabkan seseorang untuk mendapatkan syafaat, karena tidak adanya dalil-dalil yang sahih tentang masalah tersebut.
 
 
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: https://nasihatsahabat.com/
Twitter: @NasihatSalaf
Facebook:
https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
Baca juga:
KIAT MENDAPATKAN SYAFAAT NABI MUHAMMAD