بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah

KENANGAN INDAH ISTRI BERSAMA MENDIANG SUAMINYA

“Kehilangan itu jika ada rasa memiliki. Takkan kehilangan orang yang tidak memiliki”

Wanita sebagai istri memiliki sifat dasar (baik banyak maupun sedikit sifat dasar ini), yaitu mengingkari kebaikan suami. Dalam hadis dijelaskan, jika suaminya telah berbuat baik sepanjang tahun, kemudian ada sedikit saja “sesuatu” yang tidak disukai sang istri, maka istri tersebut akam berkata pada suaminya:

“Aku tidak melihat kebaikan sedikit pun padamu”.[1]

Ada salah satu tips agar para istri bisa mengurangi sifat dasar ini (namanya sifat dasar, sulit untuk dihilangkan total), yaitu jika bertemu dengan (maaf) seorang janda yang suaminya sudah meninggal, tanyalah bagaimana tentang suaminya dulu.

IA AKAN MENYEBUT BERIBU-RIBU KEBAIKAN MENDIANG SUAMINYA, BAHKAN TAK TERHINGGA

Ia akan mengambil kesimpulan, bahwa mendiang suaminya adalah salah satu manusia terbaik yang pernah mendampingi dan menyanyanginya.

Ketika teringat mendiang suaminya, bisa jadi mulai timbul penyesalan, mengapa ia menyia-nyiakan kebaikan suaminya. Mengapa ia sering mengomel tidak jelas, atau marah-marah pada suaminya.

Sebuah nasihat dari istri seorang ustadz (beliau guru kami yang telah berpulang):
“Bagi para istri yang masih memiliki suami, banyaklah bersyukur, masih merasakan kebaikan dan kehangatan suami. Masih ada partner dan teman untuk berbuat kebaikan dan mengayuh sampan bersama, berbahagia menuju Surga.”

Tanggung jawab suami sangat besar dan sudah selayaknya istri banyak meningat kebaikan suaminya dan bersyukur. Karena besarnya hak suami, seandainya makhluk boleh sujud pada sesama makhluk, Nabi ﷺ akan perintahkan istri sujud kepada suaminya.[2]

Akan tetapi istri jangan protes dulu dengan hadis tersebut. Beratnya tugas suami bukan hanya menghadapi kerasnya hidup mencari nafkah (istri juga bisa kalau hanya ini). Akan tetapi tugas terberat suami adalah menjaga istri dan keluarganya terbebas dari api Neraka.

Jika istri berbuat maksiat dan kesalahan, maka suami juga akan ditanya dan diminta pertanggungjawaban di Akhirat. Suami juga akan ikut dihukum akibat perbuatan istrinya, jika membiarkan dan tidak menasihati (tidak bertanggung jawab).[3]

Wahai para istri. Tugas inilah yang sangat berat bagi suami, yaitu tanggung jawab di Akhirat. Kalau sekadar mencari nafkah dan uang di dunia, para istri juga bisa. Tugas berat ini tidak sebanding dengan perintah agama, agar istri berkhidmad pada suaminya, yang berujung rasa sayang suami.

Dalam suatu hadis dijelaskan, bahwa sebaik-baik istri jika suaminya marah, maka ia akan mendatangi suaminya meminta maaf dan rida suaminya, dan tidak akan bisa tidur sebelum suaminya memaafkan.[4]

Tahukah Anda, mengapa sifat ini jadi sebaik-baik sifat istri? Karena umumnya istri gengsi meminta maaf duluan pada suaminya. Cenderung harus suamilah yang salah, meminta maaf dan merayu-rayu. Bagaimanapun suami harus yang paham dan istri yang ingin dimengerti (ini umumnya). Jika ada istri yang minta maaf duluan, inilah yang sangat terpuji.

Semoga suami-istri dan keluarga kaum Muslimin diberikan anugrah kebahagiaan, keromantisan dan SAMARA (sakinah mawaddah wa rahmah). Aamiin

Kami tutup dengan hadis, Nabi ﷺ bersabda:

ﻻَ ﻳَﻨْﻈُﺮُ ﺍﻟﻠﻪُ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻣْﺮَﺃَﺓٍ ﻻَ ﺗَﺸْﻜُﺮُ ﻟِﺰَﻭْﺟِﻬَﺎ ﻭَﻫِﻲَ ﻻَ ﺗَﺴْﺘَﻐْﻨِﻲْ ﻋَﻨْﻪُ

“Allah tidak akan melihat seorang istri yang tidak mau berterima kasih atas kebaikan suaminya, padahal ia selalu butuh kepada suaminya”[5]

Penyusun: Raehanul Bahraen
[Artikel www.muslimafiyah.com]

 

 

Catatan kaki:

[1] Hadisnya adalah:

ﻟَﻮْ ﺃَﺣْﺴَﻨْﺖَ ﺇَﻟَﻰ ﺇِﺣْﺪَﺍﻫُﻦَّ ﺍﻟﺪَّﻫْﺮَ , ﺛُﻢَّ ﺭَﺃَﺕْ ﻣِﻨْﻚَ ﺷَﻴْﺌًﺎ, ﻗَﺎﻟَﺖْ : ﻣَﺎ ﺭَﺃَﻳْﺖُ ﻣِﻨْﻚَ ﺧَﻴْﺮﺍً ﻗَﻂُّ

“Sekiranya kalian (suami) senantiasa berbuat baik kepada salah seorang dari mereka SEPANJANG HIDUPNYA, lalu ia (istri) melihat sesuatu yang tidak berkenan, ia (istri durhaka itu) pasti berkata:
“Saya sama sekali TIDAK PERNAH melihat kebaikan pada dirimu”. (HR. Bukhari dan Muslim)

[2] Rasulullah ﷺ bersabda:

لَوْ كُنْتُ آمُرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَلأَحَدٍ لأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَلِزَوْجِهَا

“Sekiranya aku memerintahkan seseorang untuk sujud kepada lainnya, niscaya akan kuperintahkan seorang istri sujud kepada suaminya” . (HR. At-Tirmidziy , shahih Al-Irwa’ 1998)

[3] Rasulullah ﷺ bersabda:

كلكم راع، وكلكم مسئول عن رعيته، فالأمير راع، وهو مسئول عن رعيته، والرجل راع على أهل بيته، وهو مسئول عنهم

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang yang dipimpinnya. Pemimpin negara adalah pemimpin, dan ia akan ditanya tentang yang dipimpinnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya, dan ia akan ditanya tentang yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari 893 dan Muslim 1829)

[4] Rasulullah ﷺ bersabda:

أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِنِسَائِكُمْ فِي الْجَنَّةِ؟قُلْنَا بَلَى يَا رَسُوْلَ الله كُلُّ وَدُوْدٍ وَلُوْدٍ، إِذَا غَضِبَتْ أَوْ أُسِيْءَ إِلَيْهَا أَوْ غَضِبَ زَوْجُهَا، قَالَتْ: هَذِهِ يَدِيْ فِي يَدِكَ، لاَ أَكْتَحِلُ بِغَمْضٍ حَتَّى تَرْضَى

“Maukah kalian aku beritahu tentang istri-istri kalian di dalam Surga?” Mereka menjawab: “Tentu saja wahai Rasulullaah!” Nabi ﷺ menjawab: “Wanita yang penyayang lagi subur. Apabila ia marah, atau diperlakukan buruk atau suaminya marah kepadanya, ia berkata: “Ini tanganku di atas tanganmu, mataku tidak akan bisa terpejam hingga engkau rida.” (HR. Ath Thabarani dalam Al Ausath dan Ash Shaghir. Lihat Ash Shahihah hadits no. 3380)

[5] HR. An-Nasa’i, Ash-Shahihah 289